Oleh: pondokquranhadis | Juli 26, 2010

ILMU ALLAH DAN AKAL MANUSIA

ANTARA  AKAL  DAN  ILMU  ALLAH

Oleh: Imam  Muchlas

I. S.37 Ash-Shaffat 91-98

فَرَاغَ إِلَى ءَالِهَتِهِمْ فَقَالَ أَلَا تَأْكُلُونَ(91)مَا لَكُمْ لَا تَنْطِقُونَ(92)فَرَاغَ عَلَيْهِمْ ضَرْبًا بِالْيَمِينِ(93)فَأَقْبَلُوا إِلَيْهِ يَزِفُّونَ(94)قَالَ أَتَعْبُدُونَ مَا تَنْحِتُونَ(95)وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ(96)قَالُوا ابْنُوا لَهُ بُنْيَانًا فَأَلْقُوهُ فِي الْجَحِيمِ(97)فَأَرَادُوا بِهِ كَيْدًا فَجَعَلْنَاهُمُ الْأَسْفَلِينَ(98)(الصافات)

II. Artinya

“Kemudian ia pergi dengan diam-diam kepada berhala-berhala mereka; lalu ia berkata: “Apakah kamu tidak makan? Kenapa kamu tidak menjawab?” Lalu dihadapinya berhala-berhala itu sambil memukulnya dengan tangan kanannya (dengan kuat). Kemudian kaumnya datang kepadanya dengan bergegas. Ibrahim berkata: “Apakah kamu menyembah patung-patung yang kamu pahat itu? Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu”.Mereka berkata: “Dirikanlah suatu bangunan untuk (membakar) Ibrahim; lalu lemparkanlah dia ke dalam api yang menyala-nyala itu”.Mereka hendak melakukan tipu muslihat kepadanya, maka Kami jadikan mereka orang-orang yang hina”(S.37 Ash-Shaffat 91-98)

III. Tema dan sari Tilawah

1. Ibrahim membrantas agama paganisme-penyembahan berhala kaumnya

2. Ibrahim mempersoalkan berhala yang  tidak ngomong dan tidak makan

3. Ibrahim menghancurkan  berhala-berhala itu dan tidak melawan.

4. Kaumnya marah dan berusaha membakar Ibrahim ke dalam api

5. Ibrahim menyanggah mereka membuat sendiri patung lalu disembahnya

6. Padahal Allah yang menciptakan manusia dan perbuatan manusia

7. Allah membuat hina para penyembah berhala itu.

IV. Masalah dan analisa jawaban

1. Apa bedanya Tuhan dari berhala? (B) Allah itu absolut Maha sedangkan berhala benda mati dan manusia itu serba spekulatif dan hipotetsik

2  Sampai dimana potensi kekuatan akal manusia terhadap alam dunia?

Potensi akal manusia itu hebat tetapi dibatasi oleh Ilmu Allah

3  Kecelakaan itu buatan manusia ataukah ciptaan Allah? (B) Apa yang sudah lewat itu takdir Allah dan yang belum terjadi itu harus dipikir manusia.

V. Pendalaman dan renungan

Bab I  Antara Khaliq dengan makhluq

Allah itu absolut Maha dalam 20 sifat dan 99 nama dari Al-Asma`ul Husna, bahkan menurut ulama Mu’tazilah Allah itu hanya mempunyai satu sifat saja yaitu Maha Esa. Allah berfirman dalam Al-Quran:

ِ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ(11)(الشوري)

Artinya: “(Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat”(S.42 Asy-Syura 11).

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ(1)اللَّهُ الصَّمَدُ(2)لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ(3)وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ(4)(الاخلاص)

Artinya: “Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa, Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia”(S.112 Al-Ikhlash 1-4).

يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُخَفِّفَ عَنْكُمْ وَخُلِقَ الْإِنْسَانُ ضَعِيفًا(28)(النساء)

Artinya: “Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah”(S.4 An-Nisa` 28).

قُلِ ادْعُوا اللَّهَ أَوِ ادْعُوا الرَّحْمَنَ أَيًّا مَا تَدْعُوا فَلَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى وَلَا تَجْهَرْ بِصَلَاتِكَ وَلَا تُخَافِتْ بِهَا  وَابْتَغِ بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيلًا(110)(الاسراء)

Artinya: “Katakanlah: “Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang terbaik) dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu”(s.17 Al-Isra` 110),

2.Keterbatasan akal manusia diakui oleh para pakar sosiologi dan filosuf.

Dari penelitiannya Koencaraningrat (1985:228) menyatakan bahwa masyarakat primitif di Kalahari Afsel,suku Negrito, Andamanen, Irian Timur, Mahmud Ibnu Syarif (198:4) pada suku Hotentot mereka percaya akan adanya Zat yang paling Tinggi dan bentuk religi yang paling tua. Semua ini cocok dengan firman Allah dalam Al-Quran S.7 Al-A’raf 172-173 dan S.30 Ar-Rum 30.

Alam  gaib tidak dapat dijangkau oleh akal, lebih-lebih alam Tuhan yang Maha Gaib,seperti teori Ontologi-Anselm, teori kausalitas-Thomas Aquinas dan teori-Mathew yang dicatat oleh H.Titus Terj HM Rasyidi dalam buku Persoalan-persoalan Filsafat (1984:450.

Allah berfirman dalam masalah ini sebagai berikut:

ذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ فَأَنَّى تُؤْفَكُونَ(62)(المؤمن)*

Artinya: ‘Yang demikian itu adalah Allah, Tuhanmu, Pencipta segala sesuatu, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia; maka bagaimanakah kamu dapat dipalingkan?(S.40 Al-Mu`min 62).

قُلْ مَنْ رَبُّ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ قُلِ اللَّهُ قُلْ أَفَاتَّخَذْتُمْ مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ لَا يَمْلِكُونَ لِأَنْفُسِهِمْ نَفْعًا وَلَا ضَرًّا قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الْأَعْمَى وَالْبَصِيرُ أَمْ هَلْ تَسْتَوِي الظُّلُمَاتُ وَالنُّورُ أَمْ جَعَلُوا لِلَّهِ شُرَكَاءَ خَلَقُوا كَخَلْقِهِ فَتَشَابَهَ الْخَلْقُ عَلَيْهِمْ قُلِ اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ(16) أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَسَالَتْ أَوْدِيَةٌ بِقَدَرِهَا فَاحْتَمَلَ السَّيْلُ زَبَدًا رَابِيًا وَمِمَّا يُوقِدُونَ عَلَيْهِ فِي النَّارِ ابْتِغَاءَ حِلْيَةٍ أَوْ مَتَاعٍ زَبَدٌ مِثْلُهُ كَذَلِكَ يَضْرِبُ اللَّهُ الْحَقَّ وَالْبَاطِلَ فَأَمَّا الزَّبَدُ فَيَذْهَبُ جُفَاءً وَأَمَّا مَا يَنْفَعُ النَّاسَ فَيَمْكُثُ فِي الْأَرْضِ كَذَلِكَ يَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ(17) (الرعد)

Artinya: “Katakanlah: “Siapakah Tuhan langit dan bumi?” Jawabnya: “Allah.” Katakanlah: “Maka patutkah kamu mengambil pelindung-pelindungmu dari selain Allah, padahal mereka tidak menguasai kemanfaatan dan tidak (pula) kemudharatan bagi diri mereka sendiri?”. Katakanlah: “Adakah sama orang buta dan yang dapat melihat, atau samakah gelap gulita dan terang benderang; apakah mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah yang dapat menciptakan seperti ciptaan-Nya sehingga kedua ciptaan itu serupa menurut pandangan mereka?” Katakanlah: “Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dia-lah Tuhan Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa”.Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengembang. Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti buih arus itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang bathil. Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan”(S.13 Ar-Ra’du 16-17).

بَدِيعُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ أَنَّى يَكُونُ لَهُ وَلَدٌ وَلَمْ تَكُنْ لَهُ صَاحِبَةٌ وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ(101)ذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ فَاعْبُدُوهُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيلٌ(102)لَا تُدْرِكُهُ الْأَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الْأَبْصَارَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ(103)قَدْ جَاءَكُمْ بَصَائِرُ مِنْ رَبِّكُمْ فَمَنْ أَبْصَرَ فَلِنَفْسِهِ وَمَنْ عَمِيَ فَعَلَيْهَا وَمَا أَنَا عَلَيْكُمْ بِحَفِيظٍ(104)(الانعام)

Artinya: “Dia Pencipta langit dan bumi. Bagaimana Dia mempunyai anak padahal Dia tidak mempunyai isteri. Dia menciptakan segala sesuatu; dan Dia mengetahui segala sesuatu. (Yang memiliki sifat-sifat yang) demikian itu ialah Allah Tuhan kamu; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia; Pencipta segala sesuatu, maka sembahlah Dia; dan Dia adalah Pemelihara segala sesuatu. Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui. Sesungguhnya telah datang dari Tuhanmu bukti-bukti yang terang; maka barangsiapa melihat (kebenaran itu), maka (manfa`atnya) bagi dirinya sendiri; dan barangsiapa buta (tidak melihat kebenaran itu), maka kemudharatannya kembali kepadanya. Dan aku (Muhammad) sekali-kali bukanlah pemelihara (mu)”(S.6 Al-An’am 101-104).

Bab  II Potensi kekuatan akal

Perbedaan manusia dari hewan

1  .Arestoteles (322SM) menyatakan bahwa manusia adalah hewan yang berakal sehat, mengeluarkan pendapat dan berbicara  dengan akalnya.

2.  Ibnu Sina membuat analisa perbedaan manusia dari makhluk lain ialah:

Nama  jenis Makan Tumbuh Berkembang!Pengamat !Bergerak!Tahu!Berpendapat !
Manusia ya ya Ya         !      ya      !     ya       !  ya      !      ya   !
Hewan ya Ya Ya        !      ya       !     ya        !   tidak !  tidak!
Tumbuh-2an ya ya Ya        !   Tidak    !    tidak    !   tidak !  tidak!
Benda mati tidak tidak Tidak          !  tidak      !    tidak    !  tidak  !  tidak!

Al-Maraghi mencatat bahwa perbedaan manusia dari hewan dilihat dari segi hidayah, maka manusia mendapat hidayah 5 macam, ayitu (1) Instink atau gharizah, (2) Pnaca indra atau Al-Hawas.(3) Akal atau Al’Aqli. (4) Agama atau Al-Adyan. (5) At-Taufiq.  Makhluq hewan hanya mendapat hidayah Instink dan Pancaindra.J.Verkuyl dalam Etika Kristen & Kebudayaan menyatakan bahwa yang membedakan manusia dari hewan ialahbahwa manusia itu mampu menciptakan kebudayaan, selian manusia tidak dapatmembuat kebudayaan.

Jadi yang membedakan manusia dari hewan ialah bahwa  manusia mempunyai  akal-budi dan dengan akal-budi itu maka manusia suka bertanya dan mencari kebenaran.

Secara operasional, usaha mencari kebenaran itu dinamakan Epistimologi  yaitu mencari tahu, dari mana sumber pengetahuan, hakikat pengetahuan dan nilai benar tidaknya apa yang diketahui itu. Ada tiga ukuran untuk menguji pengetahuan itu benar atau salah, yaitu: 1) Korespondensi, cocok tidaknya pernyataan dengan fakta; 2) Konsistensi cocok tidaknya pernyataan baru itu  dengan fakta yang sudah diakui benar; 3) Pragmatik ada gunanya apakah tidak.

Secara filosufis usaha mencari kebenaran itu dilakukan dengan cara dialektika, yaitu berpikir yang benar, menggunakan akal yang sehat dengan argumen yang kuat, berpegang teguh kepada prinsip universal, penelitian atas sumber dan kebenaran sumber.

Secara pragmatis, akal-pikiran manusia sudah menghasilkan segala macam fasilitas sarana dan prasrana kehidupan dari yang sederhana sampai yang paling canggih paling modern, misalnya pengambilan foto melalui satelit terhadap bumi bahkan apa yang ada di dalam perut bumi sampai pengambilan foto planet angkasa luar yang jauhnya  tidak kurang dari dua milyar kilo meter demikian juga dapat meramalkan angka  volume besarnya jagad raya yang  10 milyar tahun sinar.

Walau bagimanpun juga kekuatan akal manusia itu ada batasnya,lebih-lebih apa yang belum diketahui dan semua yang gaib, maka manusia hanya diberi ilmu yang sedikit. Allah berfirman:

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا(85)(الاسراء)

Artinya: “Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: “Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit”(S.17 Al-Isra` 85)(Lih.S.6 Al-A’am 59).

BAB  TIGA

Perbuatan Allah dan perbuatan manusia

Pembahasan tentang perbuatan Allah dan perbuatan manusia (العمل بين الله والانسان ) ini tidak lepas dari dasar pemikiran  orang tentang persoalan sifat kesempurnaan Allah, yaitu sebagai berikut:

i. Aliran  Jabariyah

Kaum Jabariyah, kelompok dari  Jaham ibnu Shafwan menyatakan bahwa Allah sudah menetapkan perbuatan manusia itu di jaman azali yaitu jaman awal penciptaan makhluk, sehingga manusia itu tidak bebas berbuat apa-apa sama sekali dan Allah itu mutlak Maha Kuasa.

Kaum Jabariyah tersebut berpendapat bahwa manusia itu  sama sekali tidak mempunyai            daya kemampuan untuk berbuat.  Alur pikir seperti  ini menyamakan perbuatan manusia itu persis seperti  gerak reflek atau gerak otomatis  listrik.  Dapat juga kita bayangkan  menurut  kaum Jabariyah tadi manusia itu persis seperti wayang kulit  suatu cabang kesenian dan  budaya Jawa, maka yang namanya Gathutkoco itu dapat terbang di awang-awang saat dimainkan oleh dalang, jika tidak dimainkan olehnya maka Gathutkoco itu di dalam kotak tidak bisa bergerak sama sekali.

Doktrin predestinasi atau fatalisme di atas ini juga terdapat didalam pemikiran kaum agama Yahudi dan juga  Nasrani. Jonathan Edward (1758M) penganut faham Calvinisme menyatakan bahwa keselamatan seseorang tidak tergantung kepada amalnya, orang yang selamat  itu tergantung  sepenuhnya secara mutlak kepada Tuhan dalam segala-galanya. Fatalisme ialah kepercayaan bahwa semua kejadian di alam semesta ini  sudah ditetapkan Tuhan dan tidak dapat diubah oleh  manusia. Dan segala kejadian di alam maupun kehidupan manusia ini sudah ditetapkan Tuhan pada permulaan zaman (Titus-Rasyidi, 1984: 101).

ii. Aliran Ahlus Sunnah

Kaum Ahlus Sunnah atau Asy’ariyah, membagi perbuatan manusia itu ada dua macam, yaitu: 1) Perbuatan yang tmbul dengan sendirinya misalnya gerak reflek; 2) Perbuatan timbul karena ada kemauan. Dalam perbuatan yang timbul dari kemauan, maka manusia mempunyai perasaan sanggup mewujudkan perbuatan itu dan perasaan sanggup ini adalah daya kekuatan yang dimiliki manusia, sehingga merasa sanggup inilah yang disebut dengan Al-Kasbu. Allah menciptakan Al-Kasbu dan manusia mengembangkan Al-Kasbu yang dapat dispekulasikan sebagai alat untuk kemudian manusia dapat mewujudkan perbuatan itu  karena tergabungnya  alat  itu dengan  pertolongan Allah.

Kelompok Ahlus Sunnah berpendapat bahwa ilmu Allah itu Maha luas mencakup  segala sesuatu dan kehendak-Iradat Allah itu mencakup seluruh keadaan, demikian juga kekuasaan Allah itupun meliputi semua daya kekuatan termasuk daya manusia, yang baik ataupun yang buruk. Dengan demikian maka tidak ada  suatu perbuatan apapun juga yang ada di luar kekuasaan dan kehendak Allah, sekaligus tidak ada suatu  daya kemampuan yang menandingi kekuasaan dan kehendak Allah (Qudrat-Iradat Alah).

Aliran Asy’ariyah berpendapat bahwa Allah itu Maha Kuasa atas segala sesuatu, yang baik ataupun yang buruk, yang bagus maupun yang tercela. Adapun dalil yang  menjadi dasar pemikiran mereka  itu ialah:

S.39 Az-Zumar 62 bahwa Allah itu adalah Pencipta segala sesuatu;

S.13 Ar-Ra’du 16 bahwa orang musyrik menyembah selain Allah katanya dapat mencipta sesuatu seperti Allah, padahal yang menciptakan segala suatu itu hanyalah Allah sendiri. Jadi selain Allah itu tidak bisa membuat apa-apa.

S.37 Ash-Shaffat  95-96 bahwa N.Ibrahim  bertanya kepada orang-orang musyrik: “Apakah kamu menyembah berhala yang kamu pahat sendiri dengan tanganmu itu? Padahal Allah adalah Dzat yang menciptakan kamu dan apa yang kamu buat itu” ;

S.80 Al-Balad 24-27 bahwa yang menurunkan hujan, membuat gemburnya tanah, yang menumbuhkan tanaman, yang membuat tanaman berbuah semua itu yang membuat atau menciptakannya ialah Allah;

S.6 Al-An’am 149 bahwa jika  seandainya Allah menghendaki dapat saja Allah memberi hidayah kepada semua makhluk;

S3 Ali ‘Imran 123-126 bahwa hancurnya tentara  kafir dan kemenangan kaum muslimin dalam perang Badar memang dari Allah;

S.6 Al-An’am 112  bahwa Allah itu yang membuat lawan atau musub kepada setiap nabi;

S.6 Al-An’a, 123 bahwa Allah itu yang membuat aktif  pelaku dosa untuk membuat keresahan atau keonaran di  suatu daerah;

S.14  Ibrahim 35 bahwa N.Ibrahim berdo’a mohon agar supaya diri dan anak-cucunya dijauhkan dari penyembahan kepada berhala;

(10)S.81 At-Takwir 29 dan S.76 Al-Insan 30,  bahwa apa yang dikehendaki manusia itu tidak akan terwujud, kecuali jika Allah menghendakinya.

اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيلٌ()لَهُ مَقَالِيدُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ (الزمر 62-63)

Artinya: “Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu. Kepunyaan-Nyalah kunci-kunci (perbendaharaan) langit dan bumi”(s.39 Az-Zumar 62-63)

Secara umum ayat-ayat itu menunjukkan bahwa Allah itu Maha Kuasa menentukan seluruh perbuatan manusia, sedangkan manusia tidak dapat berbuat apa-apa diluar kekuasaan dan kehendak Allah.

Perlu direnungkan lebih jauh peristiwa yang terjadi  secara riil yang dicatat oleh ahli sejarah berikut:

Az-Zuhaili menulis dalam tafsirnya (1991-j.9\279) mencatat  beberapa  peristiwa besar yang menunjukkan bahwa perbuatan manusia telah menghasilkan suatu kejadian yang luar biasa, yang wajarnya  mereka tidak mempunyai kekuatan untuk menghasilkan apa yang terjadi  itu dan terkesan memang  Allah yang melakukan perbuatan itu jika pelaku perbuatan tersebut memenuhi kehendak Allah, berupa  iman, sabar dan keyakinan yang  maksimal,  sehingga Allah menolong sepenuhnya terwujudnya keberhasilan mereka, sebagaimana yang dijanjikan oleh Allah di dalam Al-Quran berikut:

وَإِنَّ جُنْدَنَا لَهُمُ الْغَالِبُونَ (الصافات (173)

Artinya”Dan sesungguhnya  tentara Kami itulah yang pasti menang”(S.37 Ash-Shaffat 173).

وَمَنْ يَتَوَلَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالَّذِينَ ءَامَنُوا فَإِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْغَالِبُونَ (الماءدة 56)

Artinya: “Dan barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang”(S.5 Al-Maidah 56).

اسْتَحْوَذَ عَلَيْهِمُ الشَّيْطَانُ فَأَنْسَاهُمْ ذِكْرَ اللَّهِ أُولَئِكَ حِزْبُ الشَّيْطَانِ أَلَا إِنَّ حِزْبَ الشَّيْطَانِ هُمُ الْخَاسِرُونَ (المجادلة 19)

Artinya: “Syaitan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah; mereka itulah golongan syaitan. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan syaitan itulah golongan yang merugi”(s.58 Al-Mujadalah 119).

Contoh peristiwa-peristiwa besar itu :

a. Pada perang Muktah tentara Islam hanya 3000 personil dapat mengalahkan   200.000 orang gabungan tentara kafir Romawi dan Arab;

Pada perang di Andalusia tahun 93 H, 1700 personil tentara  Islam dibawah pimpinan Thariq maula Musa ibnu Nashir dan mengalahkan 70.000 orang tentara Salib di bawah jendral Lotherik.

iii. Qadariyah

Qadariyah, kelompok Ma’bad al-Juhani percaya bahwa  manusia itu mempunyai   kebebasan berbuat menurut kemauannya, sedangkan Allah tidak menentukan perbuatan manusia dan perbuatan manusia ini tidak masuk ke dalam Qudrat-Iradat Allah, sehingga Allah tidak mengetahui apa-apa kecuali apa yang sudah terjadi.

~ Demikian juga kaum Mu’tazilah berpendapat bahwa Allah mengetahui segala sesuatu dan sudah mentakdirkannya di jaman azali. Allah juga telah menyerahkan kebebasan berbuat kepada manusia .Kaum Mu’tazilah berpendapat bahwa perbuatan manusia itu diciptakan oleh manusia sendiri. Dengan kata lain ialah bahwa manusia itu bebas berbuat atau tidak berbuat dan Allah tidak menciptakan perbuatan manusia bahkan Allah tidak mempunyai daya kekuatan untuk  menciptakan perbuatan manusia. Karena Allah sudah membatasi kekuasaannya.  Dasar pendapat itu ialah teori “Adil” yang menjadi sila pertama dari 5 sila kepercayaan aliran Mu’tazilah.

Kaum Mu’tazilah berpegang teguh  kepada 5 sila, yaitu:

(1) At-Tauhid, bahwa Allah itu Maha Esa mutlak; (2) Al-‘Ad-lu, bahwa Allah itu Maha Adil, maksudnya Allah itu tidak berbuat zalim sama sekali. Maka balasan Allah itu sesuai dengan amal perbuatan manusia. (3) Al-Wa’du wal Wa’id, bahwa dari sifat adil itu Allah berjanji akan  memberi balasan pelaku perbuatan yang baik mendapat pahala  dan memberi peringatan kepada yang berbuat jelek mendapat hukuman. (4) Al-Manzilah bainal manzilatain, bahwa di akhirat nanti yang tersedia hanya sorga dan neraka. Dan iman menurut Mu’tazilah itu kepercayaan di dalam hati dan amal perbuatan nyata. Oleh orang yang berbuat dosa besar itu tidak termasuk ke dalam golongan orang yang beriman tetapi juga tidak bisa dikelompokkan ke dalam golongan kafir, maka mereka mendapat tempat di antara dua tempat kedudukan sorga dengan neraka tersebut. (5)  Al-Amru bil ma’ruf wan-nahyu ‘anil munkar, bahwa orang Islam itu wajib mengajak orang lain untuk  berbuat baik  dan mencegah perbuatan yang tidak baik.

Orang  dapat digolongkan ke dalam kelompok Mu’tazilah jika dia berpegang teguh kepada Ushulul Khamsah atau 5 sila tersebut di atas selengkapnya, sehingga orang yang memegang sila itu tidak lengkap 5 sila, maka dia tidak dapat diterima sebagai kelompok  Mu’tazilah ini.

Khusus untuk prinsip yang ke-ii bahwa Allah itu Maha Adil, tidak mungkin Allah itu memberi balasan kecuali  kebajikan  yang  dikerjakan oleh manusia atau tidak memberi hukuman kecuali karena perbuatan jelek  yang  dia perbuat, sehingga  pahala dan hukuman itu tidak ada hubungannya  sama sekali dengan  qudrat-kekuasaan Allah, sebab  semua kebaikan dan kejelekan itu sepenuhnya berasal dari amal perbuatan  manusia, mereka  bebas  untuk  berbuat dan seluruhnya di bawah usaha manusia sendiri.

@ Kejelekan itu dari perbuatan manusia

مَا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللَّهِ وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ وَأَرْسَلْنَاكَ لِلنَّاسِ رَسُولًا وَكَفَى بِاللَّهِ شَهِيدًا(79)(النساء)

Artinya: “Apa saja ni`mat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi”(S.4 An-Nisa` 79).

Alasan faham kaum  Mu’tazilah tersebut didasarkan atas pemahaman mereka terhadap ayat-ayat Al-Quran berkut:

1) S.6 Al-An’am 104 bahwa Allah sudah memberikan bukti dan kebenaran,  barang siapa yang mau memperhatikan kebenaran itu maka dia akan mendapat kebahagiaan, barang siapa yang tidak mau melihat kepadanya maka akibatnya akan ditanggungnya, jadi manusia itu bebas memilih perbuatannya sendiri.

2) S.66 At-Tahrim 8, bahwa Allah menyuruh manusia yang beriman supaya bertaubat kepada Allah dengan taubat Nashuha atau taubat yang setulus-tulusnya. Jika perbuatan manusia itu diciptakan oleh Allah maka perintah taubat ini sangat sulit difaham, sebaliknya perbuatan manusia itu diciptakan oleh manusia sendiri maka dia lalu memohon agar taubatnya diterima oleh Allah.

3) S.6 Al-An’am 148 bahwa orang-orang musyrik berkata jika  seandainya Qudrat dan Iradat Allah itu menciptakan perbuatan manusia maka mereka tidak mungkin menjadi musyrik menghalalkan segala cara. Difaham dari  Al-Quran maka sebenarnya manusia itu bebas menciptakan perbuatannya sendiri.

4) S.3 Ali ‘Imran 165  menurut Ar-Rumani tokoh Mu’tazilah bahwa pukulan pasukan kafir yang dapat memporak porandakan  pasukan  Islam tersebut disebabkan karena kesalahan pasukan Islam sendiri dengan kata lain bahwa manusia sendirilah yang menciptakan perbuatannya.

5) S.3 Ali ‘Imran 108 bahwa Allah tidak ingin berbuat zalim kepada makhluk di alam ini.  Al-Jubba`i salah seorang tokoh Mu’tazilah berkata bahwa Allah itu tidak menghendaki keburukan sama sekali.

6) S.4 An-Nisa` 60, S.7 Al-A’raf 27, S.28 Al-Qashash 15 dan S.14 Ibrahim 22,  bahwa yang membuat dan menggoda manusia menjadi  sesat itu ialah syaitan, bukan Allah dan hal itu tidak  terwujud melalui kehendak-iradat Allah;            (Lih.Yusuf Musa, Al-Quran wal falsafah 1966,h.98-120).

7) S.18 Al-Kahfi 29 bahwa manusia memiliki kebebasan berbuat, terserah dia mau beriman atau kafir kepada   Allah itu dia bebas memilih perbuatannya mau beriman silahkan, ingin kafir terserah:

وَقُلِ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكُمْ فَمَنْ شَاءَ فَلْيُؤْمِنْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيَكْفُرْ (الكهف 29)

Artinya: “Dan katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir”(s.118 Al-Kahfi 29).

فَلَمْ تَقْتُلُوهُمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ قَتَلَهُمْ وَمَا رَمَيْتَ إِذْ رَمَيْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ رَمَى وَلِيُبْلِيَ الْمُؤْمِنِينَ مِنْهُ بَلَاءً حَسَنًا إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ – ذَلِكُمْ وَأَنَّ اللَّهَ مُوهِنُ كَيْدِ الْكَافِرِينَ-إِنْ تَسْتَفْتِحُوا فَقَدْ جَاءَكُمُ الْفَتْحُ وَإِنْ تَنْتَهُوا فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَإِنْ تَعُودُوا نَعُدْ وَلَنْ تُغْنِيَ عَنْكُمْ فِئَتُكُمْ شَيْئًا وَلَوْ كَثُرَتْ وَأَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُؤْمِنِينَ (الانفال17-19 )

Artinya:   “Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allahlah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mu’min, dengan kemenangan yang baik. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui Itulah (karunia Allah yang dilimpahkan kepadamu), dan sesungguhnya Allah melemahkan tipu daya orang-orang yang kafir. Jika kamu (orang-orang musyrikin) mencari keputusan, maka telah datang keputusan kepadamu; dan jika kamu berhenti; maka itulah yang lebih baik bagimu; dan jika kamu kembali, niscaya Kami kembali (pula); dan angkatan perangmu sekali-kali tidak akan dapat menolak dari kamu sesuatu bahayapun, biarpun dia banyak dan sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang beriman.”(S.8 Al-Anfaal 17)..

@ Masalah perbuatan Allah dan perbuatan manusia itu mencakup seluruh segi kehidupan dan semua peristiwa di jagad raya ini. Secara mudah dapat kita saksikan pada tayangan TV setiap saat, misalnya  tuntutan dari  pihak-pihak yang mengaku sudah berjasa memenangkan  suatu perjuangan, masing-masing bersikukuh mengaku paling berjasa dalam perjuangan tersebut, khususnya perjuangan perebutan kursi kekuasaan. Jika seseorang sudah berhasil  meraih kursi kekuasaan di tangannya, muncullah  beberapa  individu mengaku sudah berjasa mengerahkan daya dan tenaga, kemudian menuntut  balas-jasanya. Demikian juga  seperti yang terjadi di dalam suatu keberhasilan di dalam proyek-proyek besar, maka seseorang menyombongkan diri mengaku sebagai orang yang paling besar jasanya atau bahkan dia mengaku sebagai  satu-satu pemegang kunci kemenangan dan keberhasilan  dalam peristiwa besar yang terjadi itu. Semua ini persis seperti latar belakang turunnya Al-Quran S.8 Al-Anfal 17-19 tersebut diatas, masing-masing mengaku sudah melakukan perbuatan yang luar biasa:”Aku sudah membunuh si dia” “Akulah satu-satunya orang yang menjadi pembuka kunci  suksesi itu!!!!”.

~       Az-Zamakhsyari di dalam tafsirnya Al-Kasysyaf (tth.juz iv,h.149) mencatat bahwa ketika orang-orang Quaisy menyombongkan diri telah berhasil memporak porandakan pasukan Islam, maka Nabi Saw. berdo’a memohon pertolongan untuk memenangkan peperangan itu, lalu Jibril  menyampaikan wahyu supaya Nabi Saw. mengambil debu dan menaburkannya kepada musuh, yang akhirnya wajah dan mata pasukan kaum  musyrikin itu terkotori debu oleh Nabi Saw. sehingga mereka tidak dapat melihat dengan demikian maka  mudah untuk  dibunuh. Memperhatikan peristiwa ini maka Zamakhsyari membagi  kenyataan itu menjadi dua, yaitu: 1) Secara indrawi perbuatan itu merupakan perbuatan manusia; 2) Hakikat yang sebenarnya peritiwa sukses-keberhasilan membunuh musuh tersebut adalah  perbuatan Allah.

Pada dasarnya masing-masing aliran berusaha keras untuk menjunjung tinggi sifat mutlak Allah sampai semaksimal mungkin melalui pemahaman atas dalil yang dipegang masing-masing kelompok.

@ Tinjauan Qurani

Para  ulama sepakat bahwa Al-Quran itu mengandung nash yang bersifat Muhkam dan Mutasyabih. Nash yang Muhkam ialah nash  yang pokok tempat berlindung  segala masalah, sedangkan   nash  yang   Mutasyabih, maka pemecahan masalah dan kesulitan memahami maknanya harus merujuk dan berlindung di bawah nash yang Muhkam. Oleh karena itulah segala kemusykilan dalam memahami nash-nash yang ada di dalam Al-Quran wajib dikembalikan atau berlindung di bawah nash yang Muhkam itu, di dalam Ilmu Ushulul Fiqh istilah Muhkam disebut Qath’i sedangkan Mutasyabih disebut dengan Zhanni.  Hanya saja para ulama berbeda pendirian secara rinci mendetail mengenai  nash-nash yang mana yang bersifat Muhkam dan nash yang mana bersifat Mutasyabih..

@. Beberapa teori dan analisa

Menghadapi perbedaaan pendapat masalah perbuatan Tuhan dan perbuatan manusia  di atas maka  Muhammad ‘Abduh  memberikan  pemecahan atas  kemusykilan tersebut menyatakan bahwa Allah sudah membuat aturan yang sudah tetap abadi selama-lamanya yang dinamakan dengan Sunnatullah, yang  di dalamnya tercakup Hukum Kausalitas atau Hukum Sebab Akibat. Jika seandainya ada seorang hamba memperoleh suatu keberuntungan atau suatu derita, prosesnya ialah Allah memberikan “sebab” kepada siapa yang dikehendaki  itu sehingga dari “sebab” tersebut orang itu memperoleh “akibat”, apakah akibat yang baik atau akibat yang buruk(Nasution 1987,h.77).

Dalam filsafat Barat (Nasrani) kita kenal teori Self determinism yaitu jalan tengah antara faham determinisme dengan kebebasan  (antara Jabariyah dengan Qaraiyah) bahwa manusia itu tidak hanya terikat oleh lingkungan saja tetapi manusia juga menciptakan perubahan lingkungannya, sebab manusia bisa menjadi pelaku penyebab dalam teori Hukum Kausalitas dan manusia mempunyai kebebasan untuk memilih perbuatannya. Menurut  aliran ini  Tuhan yang benar ialah Tuhan yang tekun  dan jeli dalam mengatur alam.                         ~ Yusuf Musa dalam kitabnya Al-Quran wal falsafah (1966:133) menulis bahwa sebenarnya Tuhan itu sudah menetapkan suatu hukum kebijaksanaan sejak jaman azali untuk  mengatur seluruh jagad raya ini termasuk perbuatan  manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan dengan hukum yang abadi dan  universal, sehingga perbuatan manusia itu dibatasi oleh hukum, yaitu Hukum Alam atau Sunnatullah. Dan Tuhan yang hakiki ialah Tuhan yang membatasi kudrat-iradat-Nya  oleh Tuhan sendiri sesuai dengan sifat bijaksana Tuhan dan Ilmu Tuhan untuk  memberi  hidayah atau dhalalah kepada manusia sesuai dengan situasi dan kondisi mereka. Sehingga dengan demikian tidak ada unsur luar yang membatasi  sifat  kudrat, iradat,  adilnya Tuhan.

~   Ar-Razi seorang tokoh Ahlus Sunnah menyatakan bahwa perbuatan manusia itu terwujud melalui  pertolongan Allah. Dan manusia merasa bahwa terwujudnya sesuatu itu hasil dari  perbuatannya, akan tetapi yang menciptakan kemampuan  dalam diri manusia itu adalah Allah.

~   Ibnu Rusyd menyatakan bahwa kebebasan mutlak dan paksaan terhadap manusia  seperti yang dianut oleh kaum Mu’tazilah dan Jabariyah  itu sebenarnya tidak muungkin, karena di samping ada perbuatan reflek dalam diri manusia masih ada sebab-sebab yang ada di luar dirinya. Hanya karena  adanya daya untuk  memilih  itulah  maka Allah menyediakan pahala  dan siksa.

~ Kelompok Maturidi berpendapat bahwa  manusia itu  mempunyai daya kekuatan untuk  berbuat, namun berhasilnya perbuatan itu dapat dilakukan sangat tergantung kepada adanya kemauan. Sehingga  pertanggung jawaban manusia  itu terletak pada kemauan untuk memilih perbuatan.      Walaupun begitu  kemauan manusia itu  sangat tergantung lagi  kepada Iradat Allah. Disisi lain perbuatan yang dipilih oleh manusia ini ada  dua kemungkinan, yaitu  ada perbuatan yang diridhoi Allah dan  ada perbuatan yang tidak diridhoi-Nya, yang baik dirdhoi Allah dan yang jelek tidak diridhoi-Nya(Nasution 1986,h.113).

@Analisa akhir

Dispekulasikan disini bahwa   menurut penulis,  teori KEMAUAN  antara Iradat Allah dan kemauan manusia dapat diibaratkan persis seperti permainan “Perlombaan Tarik Tambang” pada peringatan Hari Besar Nasional. Keinginan atau kemauan manusia dapat dikiaskan seperti  seorang peminta-peminta yang merengek-rengek memohon belas kasih sang tuan. Kemauan Tuhan atau belas kasih Allah itu dapat diumpamakan seperti sang tuan. Maka terjadilah adu kekuatan tarik menarik antara do’a permohonan hamba dengan belas kasih Tuhan. Jika permohonan si hamba itu kuat maka belas kasih Tuhan akan tertarik  kepada  keinginan hamba. Sebaliknya jika do’a permohonan hamba kurang kuat maka belas kasih Tuhan itu tidak dapat ditarik oleh kemauan hamba, sehingga yang terwujud dan yang terlaksana ialah iradat Allah. Akan tetapi do’a permohonan hamba yang dapat meneteskan belas kasih Allah  tersebut  sama sekali tidak mengurangi Qudrat-Iradat Allah, sebab terwujudnya perbuatan manusia ini berhasil disebabkan karena belas kasih Allah. Adu kekuatan  tarik menarik antara Qudrat-Iradat Allah  dengan kekuatan do’a-taqarrub hamba kepada Allah, sehingga hamba sangat dimanjakan oleh Allah, jelas sekali tergambar di dalam hadis Bukhari berikut:

6021  عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ قَالَ مَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ وَمَا تَرَدَّدْتُ عَنْ شَيْءٍ أَنَا فَاعِلُهُ تَرَدُّدِي عَنْ نَفْسِ الْمُؤْمِنِ يَكْرَهُ الْمَوْتَ وَأَنَا أَكْرَهُ مَسَاءَتَهُ (رواه البخاري)*

Artinya: “Dari Abu Hurairah dia berkata: “Rasulullah  bersabda: “Sungguh  Allah berfirman: “Ada hamba-Ku yang tidak henti-hentinya taqarrub-mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunat, sehingga Aku mencintai dia, jika Aku sudah mencintai dia, maka Aku menjadi pendengarannya dia mendengar dengan pendengaran itu, Aku menjadi pengelihatannya dia melihat dengan pengelihatan itu, aku menjadi tangannya dia berbuat dengan tangan itu, Aku menjadi kakinya, dia berjalan dengan kaki itu. Sungguh jika dia memohon kepada-Ku pasti Aku kabulkan, jika dia memohonan perlindungan-Ku maka dia pasti Aku lindungi”(HR Bukhari  Hadis Kutubuit –Tis’ah no.6021).

Barangkali inilah yang terjadi pada beberapa peristiwa kemenangan pasukan Islam melawan tentara kafir dalam Perang Badar, Uhud, Hunain dan beberapa Perang-Sabil dalam sejarah Islam itu. Secara indrawi yang tampak ialah PERBUATAN MANUSIA  padahal hakikatnya adalah PERBUATAN ALLAH.

@Hikmah

Perbuatan Allah dan perbuatan manusia ini dipermasalahkan, karena terkandung hikmah rahasia yang sangat tinggi, seperti apa yang diutarakan oleh Az-Zuhaili di dalam tafsir Al-Munir (1991:277) beliau menyatakan bahwa ayat itu mengandung hikmah rahasia sangat penting yang memperingatkan kepada manusia khususnya orang-orang yang beriman untuk tidak takabur menyombongkan diri; Misalnya mengucapkan kata-kata: “Aku yang membunuh si A”; “Aku yang telah menggagalkan rekayasa si B;  “ Jika tidak ada aku pasti si D itu mati, karena jasaku maka dia selamat” Demikian sering kali kita mendengar ucapan-ucapan seperti itu.  Padahal  hakikatnya yang membunuh, yang menyelamatkan dia, yang mengatur pemilihan kepala negara atau pejabat pemerintahan, yang mengatur jagad raya, yang menjadi dalang alam semesta ini adalah Allah Dzat yang Maha Kuasa. Barang siapa yang takabur menyombongkan diri walaupun terlalu kecil kesombongannya itu maka orang itu tidak bisa  masuk sorga, Rasulullah Saw. bersaabda:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ (رواه مسلم131)*

Artinya: “Dari Abdullah ibnu Mas’ud dari Nabi Saw. beliau bersabda: “Tidak masuk sorga siapa yang di dalamnya  hatinya terdapat  rasa sombong walaupun hanya sebesar biji sawi”(HR Muslim CD no. 131).

Wallahu a’lam bish-shawab


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: