Oleh: pondokquranhadis | Juli 27, 2010

SHALAT TASBIH

SHALAT  TASBIH

Oleh: Imam  Muchlas

a

I. S.33 Al-Ahzab 41-42

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا()وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا (الاحزاب 41-42)

II. Artinya:

“Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang”(S.33 Al-Ahzab 41-42).

III. Tema dan sari Tilawah

  1. Allah memerintahkan kepada orang yang beriman untuk dzikir yang sebanyak-banyaknya.
  2. Allah memerintah kepada orang beriman supaya bertasbih pagi dan sore.

IV. Masalah dan analisa

  1. Bagaimna pengertian dzikir dan pengamalannya? Dzikir itu ialah mengingat Allah dan dzikir yang sebanyak-banyaknya itu ialah terus menerus ingat kepada  Allah .
  2. Bagaimana pengertian Tasbih kepada Allah itu? Tasbih itu ialah meyakinkan diri bahwa Allah itu Maha Suci dari sifat dan apa saja yang tidak sesuai dengan Allah Tuhan yang Maha Esa.
  3. Bagaimanakah sesungguhnya Shalat Tasbih itu?  Shalat Tasbih itu  termaktub dalam  hadis Nabi Saw. yang bersumber dari  Ibnu ‘Abbas dan sahabat yang lain. Banyak  ulama hadis menilai hadis ini shahih tetapi ada beberapa ulama menilainya dha’if.

V. Pendalaman dan penelitian

BAB SATU

Dzikir kepada Allah

Masalah pertama: Bagaimna pengertian dzikir dan pengamalannya? Jawabnya: Dzikir itu ialah mengingat Allah dan dzikir yang sebanyak-banyaknya itu ialah dzikir yang  terus menerus.

TM Hasbi mengutip pernyataan Fat hul Bari al-Hafizh  bahwa dzikir itu ialah  segala lafal yang diucapkan sebagai jalan untuk mengingat dan mengenang Allah. Maka Hasbi melengkapinya bahwa dzikir itu menyebut  Allah dengan membaca Tasbih, Tahlil, Tahmid, Taqdis, Takbir, Hauqalah, Hasbalah, Basmalah, Al-Quran atau Do’a yang Ma`tsur dari Rasulullah Saw.

# Al-Baidhawi dalam tafsirnya (1h378) mencatat bahwa dzikir dalam Al-Quran s33a41 di atas ialah ucapan Taqdis, Tahmid dan Tahlil. Abus Su’ud (I7h106) dalam menafsirkan Qs33a41  mencatat bahwa dzikir disitu ialah Tahlil, Tahmid, Tamjid, Taqdis dalam segala situasi dan kondisi tidak terbatas.  Tafsir Ad-Durrul Mantsur terbitan Darul Fikri (1993:6/619) dalam menganalisa Qs33a41 men atat bahwa Dzikirdalam ayat itu  dilakukan baik dalam berdiri, duduk, berbaring, siang-malam, di darat di laut dalam pelayaran, dalam perjalanan, di rumah, waktu kaya, ketika melarat, saat sehat, di dalam sakit, secara rahasia dan terang-terangn dan dalam seluruh keadaan. Tafsir Fat hul Qadir (4h408) dalam hal ini  mencatat bahwa dzikir tersebut berupa bacaan Tahlil, Tahmid, Tamjid, Tasbih, Takbir dan shalat. Tafsir Al-Baghawi (1h359) dalam soal ini  mencatat bahwa  dzikir itu dilakukan siang, malam, di darat, di laut, waktu sehat, saat sakit, diam, keras terang-terangan.

Dzikir yang sesungguhnya bukan hanya dengan ucapan  lisan, tetapi dzikir mengingat Allah dalam seluruh keadaan, dimana saja dan dalam kondisi badan bagaimanapun juga berdasarkan. Sabda Rasulullah Saw. dalam hadis berikut:

(1) عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ أَيُّ الْعِبَادِ أَفْضَلُ دَرَجَةً عِنْدَ اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ قَالَ الذَّاكِرُونَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتُ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمِنْ الْغَازِي فِي سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ لَوْ ضَرَبَ بِسَيْفِهِ فِي الْكُفَّارِ وَالْمُشْرِكِينَ حَتَّى يَنْكَسِرَ وَيَخْتَضِبَ دَمًا لَكَانَ الذَّاكِرُونَ اللَّهَ أَفْضَلَ مِنْهُ دَرَجَة (رواه الترمذي 3298 واحمد 11295)

Artinya: “Dari Abu Sa’id  al-Khudriyyi bahwa Rasulullah Saw.ditanya tentang siapa hamba yang paling afdhol disisi Allah di hari kiama kelakt. Beliau   bersabda: “Orang laki-laki maupun perempuan yang dzikir kepada Allah banyak-banyak” Aku bertanya: “Ya Rasulullah bagaimana dzikir orang yang dalam Perang Sabil?” Beliau menjawab: “Jika memenggal orang kafir dan orang musyrik dengan pedangnya sampai babak belur memerah penuh darah dan ini betul-betul orang yang dzikir tingkat-derajatnya yang paling luhur”(HR Turmudzi no.3298 dan Ahmad no.11295)

(2) عَنْ سَهْلِ بْنِ مُعَاذٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ رَجُلًا سَأَلَهُ فَقَالَ أَيُّ الْجِهَادِ أَعْظَمُ أَجْرًا قَالَ أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى ذِكْرًا قَالَ فَأَيُّ الصَّائِمِينَ أَعْظَمُ أَجْرًا قَالَ أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى ذِكْرًا ثُمَّ ذَكَرَ لَنَا الصَّلَاةَ وَالزَّكَاةَ وَالْحَجَّ وَالصَّدَقَةَ كُلُّ ذَلِكَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى ذِكْرًا فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ لِعُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ يَا أَبَا حَفْصٍ ذَهَبَ الذَّاكِرُونَ بِكُلِّ خَيْرٍ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجَلْ(رواه احمد 15061)

Artinya: “Dari Sahl bin Mu’adz dari ayahnya bahwa seseorang bertanya kepaa   Rasulullah Saw. : “Manakah jihad yang paling besar pahalany” Beliau menjawab: “Ialah orang yang paling banyak dzikir kpada Allah Maha Berkah Maha Tinggi” Dia bertanya lagi: “Puasa yang manakah yang besar pahalanya  menurut Allah Maha Berkah Maha Tinggi?  Beliau  bersabda: ” Ialah orang yang paling banyak dzikir kpada Allah Maha Berkah Maha Tinggi” Lalu Rasulullah Saw. bersabda kepada kami:Shalat, Zakat, Haji, Shadaqah,  semua itu  ialah orang yang paling banyak dzikir kpada Allah Maha Berkah Maha Tinggi”. Kemudian Abu Bakar berkata kepada ‘Umar” “Wahai ayahnya Hafsh: “Orang yang dzikir itu berangkat kepada seluruh kebajikan” Rasulullah bersabda menymbung: Betul sekali” (HR. Ahmad no. 15061).

Dalam pengertian  pertama dzikir  itu ialah ucapan Tasbih, Tahlil, Tahmid, Taqdis, Takbir, Tamjid, Hauqalah, Hasbalah, Basmalah, Al-Quran atau Do’a yang Ma`tsur dari Rasulullah Saw.

Ucapan Tasbih ialah mengucapkan Subhana Allah (=Allah Maha Suci), Tahlil ialah mengucapkan La ilaha illa Allah (=Tidak ada Tuhan kecuali Allah), Tahmid ialah mengucapkan Alhamdu lillah (=Segala puji bagi Allah), Taqdis ialah mengucapkan Al-Quddus (=Allah Maha Bersih), Takbir ialah mengucapkan Allahu Akbar (=Allah itu Maha Besar), Tamjid ialah mengucapkan Al-Majid (=Allah Maha Mulia), Hauqalah ialah mengucapkan La haula wala quwwata  illah billahil ‘Aliyyil ‘Azhim (=Tidak ada daya tidak ada kekuatan kecuali dengan daya kekuatan Allah yang Maha Tinggi Maha Agung) , Basmalah ialah mengucapakan Bismillahir Rahmanir Rahim (= Dengan nama Allah yang Maha Murah Maha Pengasih), sedangkan Al-Quran ialah membaca bagian  Al-Quran mana saja dan do’a yang Ma`tsur ialah do’a yang diajarkan oleh Rasulullah Saw.

عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدَبٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحَبُّ الْكَلَامِ إِلَى اللَّهِ أَرْبَعٌ سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ لَا يَضُرُّكَ بِأَيِّهِنَّ بَدَأْتَ (رواه مسلم 3985 واحمد 19248)

Artinya: “Dari Samurah bin Jundub bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Kalimat yang paling disenangi Allah ada 4, yaitu:Maha Suci Allah, Segala puji bagi Allah, Tidak ada Tuhan kecuali Allah, Allah Maha Besar, maka tidak akan mempersulit kalian dengan lafal yang mana saja dari ke-4 kalimat itu”(HR Muslim no.3985 dan Ahmad no.19248).

Bacaan Tasbih, Tahmid, Tahlil, Takbir dan Hauqalah  terkumpul  menjadi satu berbunyi:

سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ لاحَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ

Dzikir yang paling afdhol

Dzikir yang paling afdhol ialah membaca kalimah Thayyibah “La ilah illa Allah. Raulullah Saw. bersabda dalam hadis beliau:

3305 حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِبْرَاهِيمَ بْنِ كَثِيرٍ الْأَنْصَارِيُّ قَال سَمِعْتُ طَلْحَةَ بْنَ خِرَاشٍ قَال سَمِعْتُ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ رَضِي اللَّهم عَنْهممَا يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ أَفْضَلُ الذِّكْرِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَفْضَلُ الدُّعَاءِ الْحَمْدُ لِلَّهِ (رواه الترمذيابن ماجه 3790)*

Artinya: “Musa bin Ibrahim bin Katsir al-Anshari mengatakanbahwa Thalhah  bin Khirasy mendengar Jabir bahwa Rasulullah Saw.bersabda: “Dzikir yang paling afdhol ialah La ialaha illa Allah; Do’a yang paling afdhol ialah Alhamdu lillah”(HR Turmudzi no.3305 dan Ibnu Majah no.3790).

Tempat, situasi dan kondisi yang  dapat mnambah syahdunya      nuansa   dzikir

Tempat yang dapat mendorong do’a angat syahdu  ialah:

1.Di bukit Shafa-Marwah (Hadis Nasa`i no.2924).

2.Di padang ‘Arafah (Hadis Bukhari no.4159)’.

3.Di waktu thawaf (Hadis Nasa`i no.2865).

4.Tanggal 10 Dzulhijjah (Hadis Ahmad no.5189).

5. Dzikir  itu sodaqah  dan  mendapat pahala(HR.Muslim 1181;1674)

6. Dalam malam yang gelap gulita, tidak ada suara, tidak ada cahaya,tak     dilihat oleh siapapun juga, seperti ketika Nabi Saw. ‘uzlah di guwa      Khira`    selama 6 bulan menjelang menerima wahyu yang pertama atau ketika Nabi Saw istirahat dalam guwa sebelum hijrah ke Madinah dikejar orang kafir.

#Dzikir atau wirid dengan  membaca Al-Quran

Berdasarkan firman Allah  dalam Al-Quran s4a59 bahwa skala prioritas panutan dan ketaatan itu yang teritnggi ialah taat kepada Allah, lalu taat kepada Rasulullah Saw, kemudian kepada ulama mujtahidin, baru lebih rendah, lebih rendah lagi.

Dengan demikian maka bacaan lafal yang paling tinggi nilainya ialah Al-Quran lalu Hadis Rasul Saw, kemudian  tulisan para ulama mujtahidin baru setelah itu tulisan dan pendapat tokoh agama Islam  dibawahnya.

Dzikir kepada Allah dengan membaca Al-Quran dan merenungkan isinya diamalkan dengan membaca Al-Quran sebelum, sesudah atau di luar  shalat dan di rumah atau saat I’tikaf di dalam masjid. Silahkan para pencinta memilihnya sesuai dengan maksud ayat yang cocok dengan situasi dan kondisi  kita sendiri, menurut sempit dan longgarnya waktu, dengan mengingat pernyataan Rasulullah Saw.dalam hadis-hadis beliau sebagai berikut:

(1) Surat Al-Fatihah dan S.2 Al-Baqarah 285-286, do’a  membaca  ayat- ayat tersebut dijanjikan terkabul   (Lih. Bukhari  no.1339);

(2) Surat Al-Falaq dan An-Nas, isinya luar biasa (Lih.Bukhari  no.2827, Muslim 1348);

(3) Surat Al-Ikhlash nilainya sama dengan 1/3 Al-Quran(Lih. Bukhari  no.6826;

(4) Surat   An-Nashr sama dengan ¼ AlQuran; (Lih. Turmudzi no. 2820).

(5) Surat Al-Kafirun sama dengan ¼ Al-Quran; (Lih. Turmudzi  no.2820).

(6) Surat  Zulzilat  sama dengan  ¼  Al-Quran (Lih. Turmudzi no.2820).

(7) S.2 al-Baqarah 255(Ayat Kursi), sebagai do’a mengusir syeitan(Lih. Bukhari   no. 3033).

(8) Membaca S.18 Al-Kahfi ayat 1-10, bisa terjauh dari godaan      Dajjal (Lih.Muslim  hadis no.1342); Surat al-Kahfi membawa ketenteraman (Lih.Bukhari  no.3345, Muslim 1325)

(9) S.9 At-Taubat 129 dibaca 9 kali Allah akan mencukupi keperluan dia (Lih.Abu Daud  no. 4418)

(10) S.59 al-Hasyr 22-23-24 diulang 3 kali, maka dia dido’akan oleh banyak sekali malakat (Lih.Turmudzi  no.2846 dan Ahmad  no.19419)

(11) Surat Hud, Al-Waqi’ah, Walmursalat, ‘Amma Yatasaalun dan At-Takwir (Lih.Turmudzi  no.3219). Walmursaalat dibaca waktu Maghrib (Lih.Bukhari  no.721 dan Muslim  no.704)

(12) Surat Yasin dibacakan kepada   orang mati (Lih.Abu Dawud  no.2714dan Ibnu Majah  no.1438)

(13) Surat Al-Fat hu paling disukai Nabi Saw. (Lih.Bukhari CD no.3859)

(14) Membaca surat Al-Jum’at dan Al-Munafiqun saat shalat Jum’at (Lih.Muslim  no. 1451)

(15) Surat Yasin nilainya sama dengan 1/10 Al-Quran(Lih.Turnudzi  no.2812)

(13) Surat-surat Musabbihat lebih baik dari bacaan 1000   ayat disunatkan dibaca sebelum tidur (Lih.Turmudzi  n.2845, Abu Dawud  no.4398).(Surat-surat Musabbihat ialah Al-Isra`, Al-Hadid, Al-Hasyr, Ash-Shaf, Al-Jum’at, At-Taghabun dan Al-A’la

(14) S.2 Al-Baqarah 255 (Ayat Kursi) dan s.40 Al-Ghafir 1-3 dijaga oleh malaikat (Lih.Turmudzi  no.2804 dan Darimi  no.3252)

(15) S.30 Ar-Rum 13 menutup amalan yang tertinggal (Lih.Abu Dawud  no.4414)

(18) Setiap malam Nabi Saw.membaca surat Al-Isra` dan Az-Zumar, (Lih Ahmad  no.24380)

(19) Surat Al-Isra`, Al-Kahfi dan Maryam, merupakan harta simpanan  dan pembebas (Lih.Bukhari  no.5339).

(21) Surat Qaf,dibaca tiap  Jum’at (Lih.Muslim  no.1440)

@ Al-Quran itu menjadi penolong hamba di Hari Kiamat (Lih.Muslim  no.1337)

@ Orang yang membaca Al-Quran didampingi oleh  para malaikat (HR.Bukhari   no.4556 dan Muslim 1329)

@ Jamaah  yang membaca dan merenungkan isi Al-Quran akan diliputi rahmat Allah dan dijaga para malaikat (HR.Muslim no.4867)

@ Bacaan Al-Quran 10; 100 atau 1000 ayat Al-Quran mengandung anugerah Allah yang sangat besar (HR. Abu Dawud  no1190 dan Darimi  no.3326).

@ Yang membaca 1000 ayat Al-Quran , dia akan bersanding dengan para nabi, orang2 shiddiq, syuhada` dan shalihin(HR Ahmad  no.15058)

@ Yang sibuk dzikir dan membaca Al-Quran akan dianugerahi sesuatu yang paling afdhol (Lih.Turmudzi  no.2850 dan Darimi no.3222).

@ Surat Al-Fatihah itu surat yang paling istimewa (Lih.Bukhari  no.4280);

@ Surat Al-Baqarah, dapat mengusir syeitan(Lih.Muslim   no.1300);

@ Surat Al-Baqarah dan Ali ‘Imran penuh barokah(Lih. Muslim no. 1337);

Dzikir dengan  membaca do’a

Sesuai dengan  dasar landasan diatas bahwa bacaan dszikir dan do’a yang paling tinggi nilainya ialah ayat dan do’a dari Al-Quran lalu dari hadis Rasul Saw, kemudian  tulisan para ulama mujtahidin baru setelah itu tulisan dan pendapat tokoh agama Islam  dibawahnya. Maka dzikir dengan membaca do’a diamalkan dengan cara sebagai berikut:

# Tata tertib  dalam berdo’a

1. Merendah diri-Andap asor (Lih.Qs7a205;s6a63;s7a55)

2. Tidak mendesak keras meminta  segera terkabul      (Lih.Bukhari no.5865)

3.  Barpakaian yang sopan dan suci (Lih.Qs7a31)

4. Taqarrub=dedepe, pasrah bongkokan kepada Allah secara maksimal (lih.Q. 96a19; S40a44;Bukhari  no.6021 )

5.  Dengan suara yang sopan penuh hormat (Lih.Bukhari  no.5905).

6. Dalam sujud (Lih.Muslim  no.4733;Nasai  no.1125;Abu Dawud  no. 741;Ahmad  no. 9083)

7. Tidak berhenti dari Taqarrub kepada Allah  (Lih. Q.s33a41; s2a152; Muslim     no.558; Abu Dawud   . no.17) .

8.  Berdo’a dengan do’a para nabi dan orang ‘alim soleh di dalam Al-Quran, yaitu Al-Quran nomer surat (s) dan nomer ayat (a)  berikut:

(a) Do’a N.Adam:s7a23;

(b)Do’a N.Nuh:s71a28;

IDo’a N.Ibrahim:s6a79;s26a83-85;s2a126-127;s14a35-38;a40-41; s37 a 100;

(d)Do’a N.Luth:s26a169;

(e)Do’a N.Yusuf :s12a101;

(f)Do’a N.Musa s28a21-22; s28a24;  s7a151; s7a155-156; s20a25-35;

(g)N.Dawud dan Do’a N.Sulaiman:s27a15;

(h)Do’a N.Sulaiman: s27a19;

(i)Do’a N.Yunus: s21a87;

(j)Do’a Ashabulkahfi: s18a10;

(k)Do’a Nabi  Muhammad-Saw:  s17a80; s23a118; s23a97-98; s21a112;

(l)Do’a para ’Alim-soleh: s2a201; s3a8; s3a147; s25a65-66; s25a74; s59a10.

Ad 3  Dzikir dengan berdo’a

Dzikir  yang paling syahdu, nikmatnya masuk ke relung-relung kalbu ialah di malam yang sangat gelap sekali, ketika  kita mengajukan do’a permohonan  yang sangat pribadi, mencurahkan seluruh isi hati, mengadukan segala derita dan kekurangan, mengingat dosa dan kekeliruan kita kepada Allah, lalu memohon ampun, kemudian memohon taufik dan hidayah-Nya bagaimana menghadapi ujian hidup ini.

Semua makhluk tidak ada yang sempurna, yang Maha Sempurna hanyalah Allah sendiri. Sebagai makhluk yang tidak sempurna, manusia mempunyai kekurangan masing-masing, kemudian   disebabkan karena  adanya kekurangan itu maka manusia memerlukan pertolongan Allah untuk memenuhi kekurangannya itu. Manusia harus berusaha sungguh-sungguh untuk memperoleh pertolongan guna memenuhi keperluannya, caranya ialah dengan kerja keras secara lahiriyah, riil-konkrit dan usaha secara rohaniyah yaitu dengan berdo’a memohon kepada Allah yang mempunyai kelebihan dan yang Maha Sempurna yang Maha Kuasa. Permohonan atau do’a kita itu akan terkabul jika kita itu mempunyai hubungan yang sangat dekat dengan yang memiliki segala kelebihan, yaitu Allah ‘Azza wa Jalla. Usaha mencari hubungan yang sangat dekat dengan Allah itu disebut TAQARRUB.

Adapun usaha bagaimana agar supaya kita dapat  menjadi hamba yang mempunyai hubungan yang dekat dengan  Allah caranya ialah dengan melakukan amalan yang sangat disukai dan diridhoi oleh Allah, jika kita berusaha keras untuk  selalu melakukan apa yang disukai Allah dengan sebenar-benarnya terutama saat-saat sujud dalam shalat, maka  Allah akan menaruh belas kasih bahkan jatuh cinta kepada kita. Rasul Saw. Bersabda dalam hadis berikut:

744 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ (رواه مسلم )

Artinya: “Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Saw. Bersabda: “Kesempatan yang paling dekat antara hamba dengan Tuhannya ialah saat hamba itu sedang sujud, maka banyak-banyaklah kalian berdo’a”(HR. Muslim no.744).

3293 عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الدُّعَاءُ مُخُّ الْعِبَادَةِ (رواه الترمذي)

Artinya: “Dari Anas ibnu Malik dari Nabi Saw. Beliau bersabda: “Do’a itu sungsumnya ibadah”(HR Turmudzi no.3293).

Alangkah indahnya jika kita suka shalat malam dan menupahkan isi hati setulus-tulusnya dalam sujud dan menghaturkan do’a permohonan sebanyak mungkin sehingga sampai puncaknya ialah suatu waktu Allah  jatuh kasihan sampai jatuh cinta kepada kita. Jika Allah sudah jatuh cinta maka apa saja yang kita mohon pasti dikabulkan bahkan sampai Allah akan memanjakan kita. Kemungkinan ini bukan omong kosong sebab  Allah sendiri yang berjanji untuk ini seperti yang  diterangkan oleh Nabi Saw. Dalam  hadis Qudsi berikut:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ قَالَ مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ (وراه البخاري)*

Artinya: “Dari Abu Hurairah dia berkata: “Rasulullah  bersabda: “Sungguh  Allah berfirman: “Barang siapa memusuhi  kekasih-Ku maka benar-benar Aku umumkan perang kepadanya. Ada hamba-Ku yang taqarrub-mendekatkan diri kepada-Ku dengan suatu amalan yang menyenangkan Aku lebh dari apa yang Aku tentukan untuk dia. Ada hamba-Ku yang tidak henti-hentinya taqarrub-mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunat, sehingga Aku mencintai dia, jika Aku sudah mencintai dia, maka Aku menjadi pendengarannya dia mendengar dengan pendengaran itu, Aku menjadi pengelihatannya dia melihat dengan pengelihatan itu, aku menjadi tangannya dia berbuat dengan tangan itu, Aku menjadi kakinya, dia berjalan dengan kaki itu. Sungguh jika dia memohon kepada-Ku pasti Aku kabulkan, jika dia memohonan perlindungan-Ku maka dia pasti Aku lindungi”(HR Bukhari no.6021).

# Adab tata susila berdo’a

Bagaimana usaha kita agar supaya do’a kita itu dikabulkan Allah, sudah tentu harus mengikuti tata cara yang  disukai Allah melalui penjelasan dari Rasul Saw.utusan Allah, yaitu:

A.. Asas   dasarnya

Asas yang sangat mendasar agar do’a kita  dikabulkan  Allah  ialah:

1.Tidak menyimpang dari apa yang diridhoi Allah maupun petunjuk Rasul Saw ,  sesuai dengan peringatan Allah dalam S.5 al-Maidah 72, S.18 al-Khafi 110.

2.Tidak durhaka dan tidak maksiyat kepada Allah, sesuai dengan firman Allah S.49 Al-Hujurat 7; S.11 Hud 63.

3.Berniat melulu mencari ridho Allah semata, Allah memperingatkan hal ini di dalam  S.48 Al-Fat-hu 29;  S.98 Al-Bayyinah 8;  S.27 An-Naml 19;  S.92 Al-Lail 29-21; S.89 Al-Fajri 27-30; S.2 Al-Baqarah 207; S.4 An-Nisa` 114; S.6 Al-An’am 52 .

4.Dengan tulus ikhlas Lillahi Ta’ala menjiwai seluruh kehidupan, Allah memperingatkan kita di dalam  S.40 Ghafir 65; S.98 Al-Bayyinah 5  S.39 Az-Zumar 11-14; S.7 Al-A’raf 29.

B. Persiapan sebelumnya

Beberapa waktu sebelumnya harus disiapkan  beberapa amalan berikut:

~Tidak  mengkonsumsi makanan yang haram, sesuai dengan petunjuk      Rasul Saw. dalam hadis Muslim no.1686

~Berpuasa 3 hari, tanggal 13-14-15 bulan Qomariyah, Senin-Kamis atau Puasa Dawud, sehari puasa sehari tidak berpuasa mengikuti petunjuk Rasul Saw. dalam hadis shahih Bukhari no.1842 dan Muslim no.1962.

~Tawashul melalui perbuatan amal soleh, sedekah dan  beramal  banyak-banyak oleh kita yang berdo’a dan tidak boleh menerima upah  berdo’a atau tanda jasa apapun juga karena do’anya, demikian petunjuk dari Rasul Saw. dalam hadis Bukhari no.2063 dan Mulim no.4962.

C. Waktu yang paling afdhol untuk berdo’a

Walaupun ada beberapa  waktu yang lebih afdhol untuk berdo’a akan tetapi  yang paling adhol ialah pada waktu malam ketika sujud, sebagaimana  firman Allah dan sabda Nabi Saw.  berikut:

وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَى أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودً (الاسراء 19)

Artinya: “Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu: mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji”(s.17 Al-Isra` 79).

744 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ (رواه مسلم والنسائ 1125)

Artinya: “ Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Saw. besabda: “Jarak yang paling dekat seorang hamba dengan Tuhannya ialah saat ketika dia di dalam sujud, maka banyak-banyaklah kalian memohon”(HR. Muslim  no.744,Nasai  no.1125)

Sesuai dengan janji Allah dan Rasul Saw. tersebut dalam uraian di atas, sebenarnya semua  do’a  kita itu akan dikabulkan Allah, hanya saja Allah Maha Mengetahui  dan Maha Bijaksana, apakah diberikan seketika  kontan apa yang kita mohon ataukah materi apa yang paling tepat untuk diberikan sehingga tidak persis seperti apa yang kita sebut dalam do’a, bahkan Allah Maha Mengetahui waktu yang paling tepat kapan harus diberikan diganti dengan yang lebih afdhol materi atau waktunya (Turmudzi no.3531, Ahmad no.19709).

D. Memulai do’a

Dalam mengajukan do’a permohonan maka harus kita dahului dengan puji-pujian kepada Allah sebagai berikut:

1.. Membaca surat Al-Fatihah lebih dahulu(Bukhari no.4280, Muslim no.1339)

2. Shalawat kepada Nabi Saw.(Lihat Al-Quran s3356,Turmudzi no.448)

3. Membaca Hamdalah, puji-pujian kepada Allah(Turmudzi 3398,Nasai no.1267)

4.Bertaubat mohon ampun kepada Allah(Lihat Al-Quran 7a23; s66a8)

5.. Membaca Asma`ul Husna (Lihat Al-Quran:s17a110;s20a8 dan Hadis Bukhari CD no.3429)

6.. Membaca tasbih dan Takbir(Lihat.Al-Quran.s87a1-3 )

F..Isi do’a

Permohonan yang sangat disukai Allah ialah do’a yang isinya sebagai berikut:

1 Tidak mengandung dosa (Lihat Al-Quran:s60a12;s49a7;s85a9-Bukhari  no.5865;Muslim  no. 4916)

Demi kebaikan bukan  keburukan(s47a22);

Tidak memutuskan tali silaturahim dengan siapa saja(Lihat Al-Quran:s47a22-Ahmad no.10709)

G.. Do’a sederhana

اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ الْحَلِيمُ الْكَرِيمُ سُبْحَانَ اللَّهِ رَبِّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ الْحَمْدُ   لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ أَسْأَلُكَ مُوجِبَاتِ رَحْمَتِكَ وَعَزَائِمَ مَغْفِرَتِكَ وَالْغَنِيمَةَ مِنْ كُلِّ بِرٍّ وَالسَّلَامَةَ مِنْ كُلِّ إِثْمٍ لَا تَدَعْ لِي ذَنْبًا إِلَّا غَفَرْتَهُ وَلَا هَمًّا إِلَّا فَرَّجْتَهُ وَلَا حَاجَةً هِيَ لَكَ رِضًا إِلَّا قَضَيْتَهَا يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ

(4) وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا اصْرِفْ عَنَّا عَذَابَ جَهَنَّمَ إِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًا()إِنَّهَا سَاءَتْ مُسْتَقَرًّا وَمُقَامًا

(5) وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

(6) (7) رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ  ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ

(8) رَبَّنَا ءَاتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

(9) سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ()وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ()وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Arti bacaan do’a no.1-10 di atas

(1) Ya Allah Engkaulah Tuhanku. Tidak ada Tuhan kecuali Engkau, Engkau telah menciptakan aku dan aku adalah hamba-Mu yang senantiasa dalam genggaman-Mu serta dalam ketetapan-Mu tidak ada kemampuan bagiku. Aku mengadu kepada-Mu dengan nikmat-Mu atas aku. Dan aku mengadu kepada Engkau dengan dosaku, maka ampunilah aku, karena tidak ada yang dapat mengampuni dosa kecuali Engkau, aku berlindung pada-Mu dari kejahatan yang telah aku perbuat (HR Bukhari no.5842 dan Muslim no.1288).

(2) “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi”(S.2 Al-Baqarah 201)

(3) Tidak ada Tuhan kecuali Allah yang Penyantun yang Maha Mulia, Maha Suci Allah Tuhan Pemilik ‘Arsy  yang  agung. Segala puji kepunyaan Allah seru sekalian alam. Aku mohon rahmat-Mu yang sudah Engkau tetapkan, hasrat kuat  aku memohon   ampunan-Mu dan kebagusan banyak-banyak serta keselamatan dari seluruh dosa,  Janganlah Engkau membiarkan  dosa tetap padaku melainkan  engkau ampuninya, janganlah Engkau membiarkan  kesusahan  tetap padaku melainkan Engkau lenyapkannya Dan janganlah ada keinginan yang Engkau ridhoi melainkan Engkau tetapkan padaku, wahai Tuhan yang Maha Kasih Sayang” (Turmudzi no.441, Ibnu Majah no. 1374).

(4) “Ya Tuhan kami, jauhkan azab Jahannam dari kami, sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal”.Sesungguhnya Jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman”(S.25 Al-Furqan 65)

(5) “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati kami, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa” (S.25 Al-Furqan 74)

(6)(7) “Wahai Tuhanku, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapakku kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil dan ampunilah sekalian orang-orang mu’min pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)”.

(8) “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka” (S.2 Al-Baqarah 201)

(9) Maha Suci Tuhanmu Yang mempunyai keperkasaan dari apa yang mereka katakan. Dan kesejahteraan dilimpahkan atas para rasul. Dan segala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian alam (S 37 Ash-Shaffat 180-182)

“Ya Allah ampunilah  dosa-dosa kami semua  yang masih hidup dan yang sudah mati, yang ada disini dan yang tidak hadir, yang  kecil dan yang besar, yang laki-laki dan yang perempuan dari kami”          -(Turmudzi no.945, Nasai )

BAB  DUA

Pengertian Tasbih dan masalahnya

Masalah kedua:Bagaimana pengertian Tasbih kepada Allah itu? Tasbih itu ialah meyakinkan diri bahwa Allah itu Maha Suci dari sifat dan apa saja yang tidak sesuai dengan Allah Tuhan yang Maha Esa. Lebih mendalam adalah uraian berikut:

@ Kitab Al-Adzkar yang ditulis oleh Imam An-Nawawi (1h412) mencatat bahwa hadis shalat Tasbih yang jalur sanadnya  melalui Abu Rafi’ oleh Turmudzi dinyatakan Gharib, hanya satu jalur, tidak ada jalur lain.

@ Nailu Authar (12h504) mencatat bahwa yang dimaksud dengan Tasbih  ialah semua lafal zikir, namun  suatu shalat karena banyaknya bacaan Tasbih maka shalat ini dinamakan  shalat Tasbih, kemudian salah satu dari hikmahnya Tasbih ialah bahwa siapa yang suka membaca  Tasbih dan Tahmid 100 kali sehari maka yang bersangkutan akan  diampuni Allah walau sebanyak buih semua lautan.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ قَالَ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ فِي يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ حُطَّتْ خَطَايَاهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ(رواه البخاري 5936)

Artinya: “Dari Abu Hurairah r.a. sungguh Raqsulullah Saw.bersabda: “Barang siapa membaca Tasbih-Tahmid 100 kali sehari maka dia dihapus dosa-dosanya walaupun sebanyak buih semua lautan”(HR Bukhari no.5936)(Dalama shahih Muslim terdapat isi hadis lafal:

لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Lafal Tasbih  dengan Taqdis  sangat sulit dibedakan artinya, kedua lafal ini mempunyai makna bahwa Allah itu Maha Suci, sebagaimana yang dijelaskan oleh ulama ahli bahasa berikut:

~ Pengertian Taqdis (Al-Quddus menurut Ibnul Manzhur dalam Kitab Lisanul ‘Arab (2h470) maka makna Al-Quddus ialah:

@Tasbih ialah meyakinkan diri bahwa Allah itu Maha Suci,  suci dari teman, dari anak bahkan seluruh apa yang tidak layak untuk Allah.

#Kitab Tajul ‘Arus (1h406) mencatat lafal Taqdis(Al-Quddus) artinya ialah suci bersih dari cacat atau kekurangan dan  Maha Berkah.

# Ibn ul Atsir dalam Kitab An-Nihayah (4h42) mencatat bahwa lafal Al-Quddus artinya sangat suci, bersih dari cacat. Dan lafal Tasbih itu mencakup semua dzikir, Tahmid, Tamjid, segala puji bagi Allah. Berdo’a dengan membaca nama-nama Allah maka betul-betul dia sudah taat, memuji, akan mendapat pahala dari Allah.

BAB  TIGA

Shalat  Tasbih

Masalah ketiga: Bagaimanakah sesungguhnya Shalat Tasbih itu?   Untuk membahas masalah ini lebih dahulu harus diperhatikan landasan dasar pengamalan atau dzikir dan shalat Tasbih, yaitu:

عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدَبٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحَبُّ الْكَلَامِ إِلَى اللَّهِ أَرْبَعٌ سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ لَا يَضُرُّكَ بِأَيِّهِنَّ بَدَأْتَ (رواه مسلم 3985 واحمد 19248)

Artinya: “Dari Samurah bin Jundub bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Kalimat yang paling disenangi Allah ada 4, yaitu:Maha Suci Allah, Segala puji bagi Allah, Tidak ada Tuhan kecuali Allah, Allah Maha Besar, maka tidak akan mempersulit kalian dengan lafal yang mana saja dari ke-4 kalimat itu”(HR Muslim no.3985 dan Ahmad no.19248).

Dasar yang sangat kuat  untuk  ber-Tasbih sebagai  bacaan dzikir ialah:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ثَقِيلَتَانِ فِي الْمِيزَانِ حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ( رواه البخاري 5927 ومسلم 6870 والترمذي3389وابن ماجه3796و احمد6870)

Artinya: “Dari Abu Hurairah bahwa Nabi Saw bersabda: “Dua kalimat yang sangat ringan diucapkan lisan yang sangat berat dalam timbangan yang sangat disukai Allah  yang Maha Pemurah  ialah lafal:

سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ=Maha Suci Allah dengan Maha Agung, Maha Suci Allah dengan pujian”(HR Bukhari no.5927, Muslim no.6870, Turmudzi 3389, Ibnu Majah no.3796 dan Ahmad no.6870). Dengan bacaan ini hamba akan mencapai kebajikan dan kemuliaan dan Al-Asmaul husna merupakan sifat Allah yang rahmat-Nya sangat  luas sekali. Sebab  begitu ringannya diucapkan tetapi pahalanya terlalu besar, sebab lafal itu mengandung Maha Sucinya Allah Maha Terpuji dan Maha Agung Allah.

@ Tinjauan kritis

Hadis  yang  dijadikan dasar pokok Shalat Tasbih dipermasalahkan oleh beberapa ulama, banyak ulama menilainya Shahih namun ada beberapa ulama menganggapnya Dha’if. Lebih mendalam adalah sebagai berikut:

# Kitab Shahih Ibnu Hibban (3h123) mencatat hadis sbb:

عَنْ أَبِي مَالِكٍ الْأَشْعَرِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الطُّهُورُ شَطْرُ الْإِيمَانِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ تَمْلَأُ الْمِيزَانَ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ تَمْلَآَنِ أَوْ تَمْلَأُ مَا بَيْنَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالصَّلَاةُ نُورٌ وَالصَّدَقَةُ بُرْهَانٌ وَالصَّبْرُ ضِيَاءٌ وَالْقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ كُلُّ النَّاسِ يَغْدُو فَبَايِعٌ نَفْسَهُ فَمُعْتِقُهَا أَوْ مُوبِقُهَا (رواه مسلم 328 والترمذي 439 وابن ماجه 276 واحمد21828) وابن حبان (3ص123)

Artinya: “Dari Abu Malik al-Asy’ari bahwa Rasulullah Saw berabda: “Suci itu separuh iman, Alhamdulillah itu memenuhi timbangan (Al-Mizan), Subhanallah walhamdu lillahmemnuhi timbangan (memenuhi langit dan bumi, shalat itu nur-cahaya, shadaqah itu bukti, sabar itu cahaya, Alquran itu alasan(hujjah)kalian dan pembela kalian”(HR Muslim no.328, Turmudzi no.439, Ibnu Majah 276, Ahmad no.218128 dan Ibnu Hibban j2h123).

# Kitab Tuhfatul Ahwadzi  syarah Sunan Turmudzi (2h150) mencatat hadis cara shalat Tasbih dengan catatan bahwa  sebagian ulama menyatakan bahwa lafal   Tasbih tersebut dibaca sesudah shalat bukan di dalam shalat. Abu Thayyib al-Madani mencatat bahwa Tasbih bisa dilakukan di luar dan di dalam shalat.

#Tafsir Ath-Thabari (12h374) dalam membahas Al-Quran s73a2-4 dan s76a26 mencatat bahwa yang dimaksud dengan لَيْلًا طَوِيلًا “Bagian yang panjang di malam hari” itu ialah Shalat dan Tasbih ketika sujud membaca tasbih  berlama-lama sepanjang   malam.

قُمِِ اللَّيْلَ إِلَّا قَلِيلًا(2)نِصْفَهُ أَوِ انْقُصْ مِنْهُ قَلِيلًا(3)أَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْءَانَ تَرْتِيلًا(4) [ المزمل : 2 - 4 ]

Artin ya: “bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikitt atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al Qur’an itu dengan perlahan-lahan.”(S.73 Al-Muzammil 2-4)

وَمِنَ اللَّيْلِ فَاسْجُدْ لَهُ وَسَبِّحْهُ لَيْلًا طَوِيلًا(الانسان (الانسان 26)

Artinya: “Dan pada sebagian dari malam, maka sujudlah kepada-Nya dan bertasbihlah kepada-Nya pada bagian yang panjang di malam hari”(S.76 Al-Insan 26).

# Kitab Al-Adzkar oleh Suyuthi (1h412) menukil hadis Tasbih melalui Abu Rafi’, maka dicatat oleh Turmudzi sebagai hadis gharib artinya hanya satu jalur, tidak ada jalur lain.

عَنْ أَبِي رَافِعٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِلْعَبَّاسِ يَا عَمِّ أَلَا أَصِلُكَ أَلَا أَحْبُوكَ أَلَا أَنْفَعُكَ قَالَ بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ يَا عَمِّ صَلِّ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ تَقْرَأُ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَسُورَةٍ فَإِذَا انْقَضَتْ الْقِرَاءَةُ فَقُلْ اللَّهُ أَكْبَرُ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ خَمْسَ عَشْرَةَ مَرَّةً قَبْلَ أَنْ تَرْكَعَ ثُمَّ ارْكَعْ فَقُلْهَا عَشْرًا ثُمَّ ارْفَعْ رَأْسَكَ فَقُلْهَا عَشْرًا ثُمَّ اسْجُدْ فَقُلْهَا عَشْرًا ثُمَّ ارْفَعْ رَأْسَكَ فَقُلْهَا عَشْرًا ثُمَّ اسْجُدْ الثَّانِيَةَ فَقُلْهَا عَشْرًا ثُمَّ ارْفَعْ رَأْسَكَ فَقُلْهَا عَشْرًا قَبْلَ أَنْ تَقُومَ فَتِلْكَ خَمْسٌ وَسَبْعُونَ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ هِيَ ثَلَاثُ مِائَةٍ فِي أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ فَلَوْ كَانَتْ ذُنُوبُكَ مِثْلَ رَمْلِ عَالِجٍ لَغَفَرَهَا اللَّهُ لَكَ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَنْ يَسْتَطِيعُ أَنْ يَقُولَهَا فِي كُلِّ يَوْمٍ قَالَ فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ أَنْ تَقُولَهَا فِي كُلِّ يَوْمٍ فَقُلْهَا فِي جُمْعَةٍ فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ أَنْ تَقُولَهَا فِي جُمُعَةٍ فَقُلْهَا فِي شَهْرٍ فَلَمْ يَزَلْ يَقُولُ لَهُ حَتَّى قَالَ فَقُلْهَا فِي سَنَةٍ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ مِنْ حَدِيثِ أَبِي رَافِعٍ( رواه الترمذي(( 444 وابن ماجه 1376)) – 471

Ibnul ‘Arabi menyatakan bahwa hadis dengan jalur Abu Rafi’ itu dha’if, Ibnul Mubarak menilainya tidak dapat dijadikan hujjah; Al’Uqaili mengatakan tidak ada hadis yang shahih tentang shalat Tasbih, Ibnul Jauzi mengatakan hadis shalat Tasbih itu dha’if semua.

#@## Kitab Al-Adzkar oleh Suyuthi (1h412) mencatat bahwa  Daraquthni menyatakan amalan yang paling  afdhol ialah  shalat Tasbih.

# Al-Baghawi menyebutkan  pernyataan para ulama bahwa shalat Tasbih itu mustahab.

# Abu Dawud, Turmudzi, Ibnu Majah, Al-Hakim, Adz-Dzahabi menyatakan hadis shalat Tasbih itu shahih, tidak dha’if karena adanya Musyahid  yang cukup banyak lengkap dengan bunyi lafal yang dibaca, yaitu:.

$#@Kitab Majma’uz Zawaid (10h113) makna Subhanallah ialah Allah itu Maha Suci dari seluruh kejelekan.

$#@ Kitab Kanzul ‘Ummal (7h1400) meriwayatkan hadis shalat Tasbih yang dari Ibnu ‘Abbas menilainya shahih menunjuk kitab ‘Aunul Ma’bud dan Ibnu Huzaimah menilai shahih.

@#$ Kitab Talkhishul Khabir (2h7) menyatakan bahwa hadis dari Ibnu ‘Abbas dishahihkan Daraquthni, Abu Dawud, Ibnu Sakan, Al-Hakim, An-Nasa`i mencatat ada Mutabi’ lewat Ishaq bin Abi Israil dari Musa. (Adz-Dzahabi=Tawaquf) dengan bunyi lafal Tasbih :

سبحان الله والحمد لله ولا إله إلا الله والله أكبر

@ Ibnu Taimiyah dan Al-Mazi menilainya dha’if, yang melalui Ibnu ‘Abbas  dapat dinilai Hasan tetpi Syadz.

Kitab Talkhishul Habir (2h8) mencatat hadis shalat Tasbih itu Hasan, An-nawawi menilainya sebagai Mustahab diamalkan.

A. Dasar hukum shalat Tasbih (Jam o3.oo WIB)

Hadis yang bersumber dari Anas ibnu Malik, bahwa Ummu Sulaim pagi-pagi menghadap   kepada Nabi Saw. bertanya mengenai bacaan apa yang diucapkan di dalam shalat(Tasbih) (HR.Turmudzi Cd no443-444, Ibnu Majah CD no.1376-1377). Dan hadis bersumber dari Abu Rafi’ bahwa Nabi Saw. mengajari bacaan tasbih di dalam shalat-Tasbih  kepada Al-‘Abbas(HR. (HR. Abu Dawud CD no.1105, Ibnu Majah CD no.1376, Turmudzi CD no.443-444, An-Nasa`i CD no.1282, Ibnu Khuzaimah, Ath-Thabrani, dishahihkan oleh para ulama).

—===ooo0ooo===—


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: