Oleh: pondokquranhadis | Agustus 22, 2010

BEKAS PENGHUNI NERAKA JAHANAM

010/4/9                                                                                                      Tafsir Tematis Kontemporer

BEKAS PENGHUNI NERAKA JAHANAM

(Imam  Muchlas)

S.39 Az-Zumar 71-72

وَسِيقَ الَّذِينَ كَفَرُوا إِلَى جَهَنَّمَ زُمَرًا حَتَّى إِذَا جَاءُوهَا فُتِحَتْ أَبْوَابُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا أَلَمْ يَأْتِكُمْ رُسُلٌ مِنْكُمْ يَتْلُونَ عَلَيْكُمْ ءَايَاتِ رَبِّكُمْ وَيُنْذِرُونَكُمْ لِقَاءَ يَوْمِكُمْ هَذَا قَالُوا بَلَى وَلَكِنْ حَقَّتْ كَلِمَةُ الْعَذَابِ عَلَى الْكَافِرِينَ(71)قِيلَ ادْخُلُوا أَبْوَابَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا فَبِئْسَ مَثْوَى الْمُتَكَبِّرِينَ( الزمر72)

“Orang-orang kafir dibawa ke neraka Jahannam berombong-rombongan. Sehingga apabila mereka sampai ke neraka itu dibukakanlah pintu-pintunya dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: “Apakah belum pernah datang kepadamu rasul-rasul di antaramu yang membacakan kepadamu ayat-ayat Tuhanmu dan memperingatkan kepadamu akan pertemuan dengan hari ini?” Mereka menjawab: “Benar (telah datang)”. Tetapi telah pasti berlaku ketetapan azab terhadap orang-orang yang kafir. Dikatakan (kepada mereka): “Masukilah pintu-pintu neraka Jahannam itu, sedang kamu kekal di dalamnya”. Maka neraka Jahannam itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri”(s.39 Az-Zumar 71-72)

Tema dan sari tilawah

1. Manusia dapat dibagi dua, yaitu orang beriman dan orang  kafir. Orang beriman ialah orang yang yang meyakini Rukun Iman , orang kafir ialah  orang yang tidak percaya dan melawan Rukun Iman itu.

2. Orang yang beriman kelak akan masuk surga, orang kafir akan masuk neraka.

3. Orang kafir akan masuk neraka  Jahanam .bergelombang berkelompok-kelompok.

4. Penjaga  neraka Jahanam membukakan pintunya  lalu  bertanya  soal apakah mereka belum pernah mendengar utusan Allah yang membacakan  Kitab Suci kepada mereka dan memperingatkan akan datangnya hari Kiamat hari pertemuan  para hamba  dengan Allah.

5. Orang yang kafir menjawab bahwa mereka mengakui adanya rasul utusan Allah, tetapi mereka tergoda oleh godaan setan maka neraka Jahanam adalah hukuman atas orang kafir..

Masalah dan analisa jawaban

1. Apa sebab  manusia itu beriman dan apa sebab ada manusia itu kafir? Jawaban sementara: Iman atau kepercayaan adanya Tuhan itu sudah  menjadi  fitrah  bawaan manusia sebelum lahir, tetapi  disebabkan karena  godaan kenikmatan dunia dan godaan setan maka manusia menjadi kafir.

2. Sebenarnya bagaimana  Allah mengukur  iman  dan  bagaimana mengukur maksiat perbuatan kufur itu?  Jawaban sementara: Iman itu diukur melalui  catatan amal soleh sedangkan  kekufuran diukur dengan catatn perbuatan  maksiat-durhaka kepada Allah.

3. Bagaimana nasib manusia yang beriman tetapi juga berbuat maksiat durhaka kepada Allah? Jawaban sementara: Orang yang  beriman, tetapi durhaka atau maksiat kepada Allah maka kepada Allah makaeka akan masuk neraka dahulu kemudian mendapat rahmat Allah diangkat dinaikkan ke surga, mereka ini dinamakan Jahanamiyun.

Pendalaman dan penelitian

BAB  SATU

Fitrah yang suci

Masalah ke-1: Apa sebab  manusia itu beriman dan apa sebab ada manusia itu kafir? Jawaban sementara: Iman atau kepercayaan adanya Tuhan itu sudah  menjadi  fitrah  bawaan manusia sebelum lahir, tetapi  disebabkan karena  godaan kenikmatan dunia dan setan maka manusia menjadi kafir.

Menurut fitrahnya manusia  itu berjiwa agama, gejala-gejala  ini terlihat dalam kehidupan sehari-hari pada masyarakat manusia di mana-mana, misalnya seperti gejala-gejala yang terlihat dalam masyarakat diberbagai belahan dunia.seperti: Masyarakat Kalahari Afrika Selatan,  Suku bangsa  Negrito sekitar rimba raya Kamerun, Afrika Tengah,. penduduk, kepulauan Andamanen, Irian Timur atau bangsa ,Hotentot-Afrik Selatan.

Koentjaraningrat dalam bukunya Metode Penelitian Masyarakat (1985:228) mengutip catatan dari A.Lang dalam The Making of Religion, dia menyatakan bahwa kepercayaan kepada adanya Zat yang tertinggi merupakan suatu kepercayaan  dan bentuk  religi yang paling tua. Para ahli Antropologi Budaya menyatakan bahwa faktor yang menyebabkan manusia percaya kepada Tuhan itu karena 6 faktor, yaitu:

1) Manusia sadar adanya jiwa;  2) Adanya gejala-gejala yang tidak dapat diterangkan dengan akal; 3) Dijumpainya berbagai kesulitan yang terlalu berat; 4) Adanya peristiwa yang luar biasa; 5) Adanya getaran  jiwa dan emosi yang timbul dari hati; 6) Adanya instink-panggilan Tuhan; Demikian catatan  Koentjarangningrat (1985:221).

Mah}mu>d ibnu Syari>f dalam kitabnya Al-Adya>n fi>l Qura>n (1984:6) mencatat bahwa suku Hotentot di Afrika yang suka memakan orang di jaman dahulu itu, mereka itupun percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa yang mempunyai kekuasaan di atas semua dewa. Semua itu  merupakan gejala pemahaman akal manusia dalam menyalurkan instink religios naluri agama ini  secara alami  tanpa bimbingan dan tuntunan sehingga  mereka tersesat ke lembah  bujukan setan, menyembah kayu, batu, berhala, kuburan, dewa dan manusia yang didewa-dewakan bahkan wali dipercaya keterlaluan sehingga seseorang yang lebih aneh lebih durhaka kepada Allah  dinilai sebagai wali  betul-betul, misalnya apa yang diperbuat oleh kaum Syi’ah–Ghulat bahwa   imam yang tertinggi mereka sudah berbuat keterlaluan sampai mengawini  bintang film paling kesohor di Eropa itu dan meninggalkan syariat Tuhan malah dijunjung lebih tinggi lagi, kewaliannya.

Al-Qura>n  memberikan peringatan bahwa manusia itu sebelum lahirnya dahulu  mereka sudah membuat  ikrar dan berjanji akan bertuhan hanya kepada Allah yang Maha Esa, seperti yang termaktub dalam S.7 Al-A’ra>f 172-173. Dan  S.30 Ar-Ru>m 30 menyatakan bahwa memang manusia itu pada dasarnya berjiwa agama  dengan fitrah yang  suci.    Mengenai fitrah yang suci ini juga dicatat dalam hadis Bukha>ri> (1343H:4 / 89) bahwa semua bayi itu terlahir menurut fitrah yang suci, yaitu suatu jiwa yang agamis, tetapi disebabkan karena orang tuanya itulah maka anak kemudian menjadi Yahudi atau Nasrani atau Majusi.

Dari Abu Hurairah r’a bahwa Nabi Sawbersabda: “Tidak ada seorang anakpun yang terlahir kecuali dia dilahirkan dalam keadaan fithrah. Maka kemudian kedua orang tuanyalah yang akan menjadikan anak itu menjadi Yahudi, Nashrani atau Majusi sebagaimana binatang ternak yang melahirkan binatang ternak dengan sempurna. Apakah kalian melihat ada cacat padanya?”. Kemudian Abu Hurairah radliallahu ‘anhu berkata, (mengutip firman Allah QS Ar-Ruum: 30 yang artinya: (‘Sebagai fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu”(HR. Bukhari no.1270). Penyebutan fitrah yang suci ini  terdapat cukup banyak  dalam  kitab-kitab Shahih, Sunan atau Musnad:  Bukhari ditemukan 17 hadis; Muslim 12 hadis; Abu Dawud 14 hadis, Tirmidzi 10 hadis; Nasai 23 hadis; Ibnu Majah 10 hadis; Malik 7 hadis; Darimi 8 Hadis.

Konsep fitrah manusia menurut ajaran Islam berbeda dengan ajaran Kristen. Menurut Bibel, Rum 5 ayat 12, maka dosa Adam itu turun  menurun kepada seluruh umat manusia, sebagai dosa warisan dan semua bayi itu lahir  memikul dosa warisan Nabi Adam yang  bisa disucikan hanya dengan beriman kepada Salib Yesus sang penebus dosa umat manusia (Rum 3 ayat 24).

Menurut Islam Nabi Adam memakan buah Khuldi itu tidak mempunyai niat untuk melanggar ketentuan Allah (Al-Quran S.20 Tha>ha> 115),.ketika itu pula  Nabi Adam segera menyadarinya dan bertobat memohon ampun kepada Allah (QS.7 Al-Ara>f 23). Do’anya diterima Allah dan diampuninya (S.2 Al-Baqarah 37). Seperti dimaklumi bahwa semua nabi itu mashu>m artinya suci dari noda dan dosa, sehingga sebagai nabi maka Nabi Adam itu  juga mashu>m suci dari noda dan dari dosa. Dengan demikian maka semua bayi yang lahir di dunia dalam Islam adalah  suci dari dosa. Lebih lanjut Allah menegaskan di dalam Al-Quran bahwa seseorang tidak  memikul dosa orang lain (S.6 Al-Ana>m 164; S.17 Al-Isra>‘ 15; S.35 Fa>thir 18).

Memang Allah  menciptakan manusia itu tidak lain kecuali agar supaya mengabdi kepada Allah (S.51 Adz-Dza>riya>t 56). Untuk itu Allah memberi petunjuk jalan, yaitu jalan takwa dan jalan ke lembah dosa.  Siapa yang hidup di atas   jalan takwa akan bahagia sebaliknya celaka sekali orang yang memilih jalan dosa (S.91 Asy-Syamsi 7-10). Terserah kepada manusia  ingin kafir silahkan  ingin beriman juga dipersilahkan (S.18 Al-Kahfi 29).

Manusia diciptakan Allah untuk menjadi khalifah Tuhan di bumi agar melaksanakan amanat Tuhan (S.2 Al-Baqarah 30). Sebagai khalifah Allah, maka  manusia tidak boleh memuja hawa nafsu (S.38 Shad 26) tidak boleh meyembah setan dan  berhala (S.36 Ya>si>n 60).

Seluruh umat manusia sudah dibekali Allah dengan 4 macam Instink, yaitu: Egocentros, Polemos, Eros dan Religios.

i Instink  Egosentros atau Nafsu Harta

Nafsu yang mendesak manusia untuk mencari harta disebutkan dalam Al-Quran pada ayat-ayat berikut:

Artinya: “Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya, dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya”(S.104 Al-Humazah 1-3).

Artinya: “dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta”(S.100 Al-’Adiyat 8).

ii.Instink Polemos  atau Nafsu Kekuasaan

.  Instink Polemos  kerjanya ialah mendesak manusia untuk memenuhi  Nafsu Kuasa atau mencari dan mempertahankan kekuasaan  termaktub dalam AlQuran dicontohkan dalam kisah Raja Fir’aun karena nafsu kuasanya terlalu  dimanjakan bahkan dia mengaku menjadi tuhan dengan segala kekeuasaannya,  Namrud Raja  Babilonia menampakkan kesombongan dirinya  sebagai penguasa  yang keterlaluan memerintahkan bawahannya untuk membakar  Nabi Ibrahim  dibakar hidup-hidup,  kedua kisah ini termaktub dalam Al-Quran berikut:

Artinya: “Tetapi Fir’aun mendustakan dan mendurhakai. Kemudian dia berpaling seraya berusaha menantang (Musa). Maka dia mengumpulkan (pembesar-pembesarnya) lalu berseru memanggil kaumnya. (Seraya) berkata: “Akulah tuhanmu yang paling tinggi”(S.79 An-Nazi’at 21-24).

Artinya: “Dan berkata Fir`aun: “Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku. Maka bakarlah hai Haman untukku tanah liat, kemudian buatkanlah untukku bangunan yang tinggi supaya aku dapat naik melihat Tuhan Musa, dan sesungguhnya aku benar-benar yakin bahwa dia termasuk orang-orang pendusta”(S,28 Al-Qashash 38).

Artinya: “Ah (celakalah) kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah. Maka apakah kamu tidak memahami? Mereka berkata: “Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak”(S.21 Al-Anbiya’ 67-68).

iii. Instink Eros, Nafsu Birahi atau Nafsu Seks

Instink Eros atau nafsu birahi itu mendorong manusia untuk memenuhi Nafsu Birahi disebut dalam Al-Quran pada ayat berikut

Artinya: “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)”(S.3 Ali ‘Imran 14).

Artinya: “ Dialah Yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan daripadanya Dia menciptakan isterinya, agar dia merasa senang kepadanya. Maka setelah dicampurinya, isterinya itu mengandung kandungan yang ringan, dan teruslah dia merasa ringan (beberapa waktu). Kemudian tatkala dia merasa berat, keduanya (suami isteri) bermohon kepada Allah, Tuhannya seraya berkata: “Sesungguhnya jika Engkau memberi kami anak yang sempurna, tentulah kami termasuk orang-orang yang bersyukur”(S.7 Al-A’raf 189).

Lebih jauh lagi dapat diperhatian dalam Al-Quran ayat-ayat berikut s26a166; s16a72; s75a36-39.

iv. Instink Religios atau Nafsu Agama

Semua manusia pasti mempunyai instink religios atau nafsu untuk mencari dan menyembah kepada  kekuatan gaib yang paling tinggi yang dapat difaham sebagai nafsu agama.  Dan sebagian ulama  membagi nafsu  agama  menjadi beberapa  tingkat, Radhiyah, Mardhiyah, Kamilah, Muthmainnah  atau  nama-nama yang lain lagi. Di dalam Al-Quran tercatat ayat-ayat yang menyebut nafsu keagamaan ini dalam beberapa ayat, yaitu:

Artinya: “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”(S.7 Al-A’raf 172).

Artinya: “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”(S.30 Ar-Rum 30)

Artinya: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”(S.51 Adz-Dzariyat 56)

Artinya: “dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya”(S.91 Asy-Syamsi 7-10).

Artinya: “Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah Dia-lah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji”(S.35 Fathir 15).

Artinya: “Dan apabila mereka diamuk oleh ombak yang besar seperti gunung, mereka menyeru Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai di daratan, lalu sebagian mereka tetap menempuh jalan yang lurus. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami selain orang-orang yang tidak setia lagi ingkar”(S.31 Luqman 32).

Artinya: “Dialah Yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan daripadanya Dia menciptakan isterinya, agar dia merasa senang kepadanya. Maka setelah dicampurinya, isterinya itu mengandung kandungan yang ringan, dan teruslah dia merasa ringan (beberapa waktu). Kemudian tatkala dia merasa berat, keduanya (suami isteri) bermohon kepada Allah, Tuhannya seraya berkata: “Sesungguhnya jika Engkau memberi kami anak yang sempurna, tentulah kami termasuk orang-orang yang bersyukur”(S.7 Al-A’raf 189).

Akan tetapi manusia terhanyut oleh tipu daya kehidupan dunia (S.6 Al-Ana>m130). Manusia yang pertama kali    durhaka kepada Allah  ialah Qabil yaitu membunuh Habil (S.27 Al-Ma>idah 30).

Iman kepada Allah sebagai fitrah yang suci, bukan hanya tumbuh pada kondisi masyarakat yang cenderung kepada nuansa keagamaan, tetapi jiwa agama itupun juga tumbuh dan bertahan kuat ditengah-tengah istana Fira’un sang raja diraja paling angkuh bahkan mengaku sebagai Tuhan itu (S.79 An-Na>zia>at 24), maka ternyata isteri Fir’aun sendiri adalah salah seorang manusia yang berjiwa  suci rasa agama tertanam sangat dalam di hatinya (S.66 At-Tah}ri>m 11).

Memang wajar dan alami, bahwa manusia itu  bisa tergelincir kedalam kesalahan (S. Al-Baqarah 36). Manusiapun mungkin juga dapat terlupa (S.20 Tha>ha> 115);Untuk ini maka manusia diserukan untuk bertaubat kepada Allah(S.7 Al-Ara>f 23)

Manusia pertama yang terperosok ke dalam kesalahan langkah dan perbuatannya ialah Adam dan Hawa, disebabkan karena tipu daya Iblis maka keduanya tergelincir sehingga melanggar  larangan Allah. Keduanya memakan buah Khuldi (S.2 Al-Baqarah 35-36). Akan tetapi Adam dan Hawa ketika itu dalam keadaan lupa dan tidak sengaja(S.20 Tha>ha> 115). Seketika itu juga Adam dan Hawa sadar  maka cepat-cepat Adam bertaubat kepada Allah memohon ampun atas  kesalahannya itu (S.2 Al-Baqarah 37, S.7 Al-Ara>f 23). Allah menerima taubatnya lalu Allah  mengangkat Adam menjadi nabi (S.20 Tha>ha> 122). Seperti dimaklumi bahwa   semua nabi itu adalah mashu>m, artinya suci dari dosa, maka Nabi Adam itupun juga  suci  dari dosa. Sehingga tidak ada dosa yang akan diwariskan kepada anak cucu Adam!!!

Sepeninggal Nabi Adam maka Allah selalu  mengirim nabi atau rasul. Dan semua umat telah mendapat bimbingan oleh nabinya masing-masing(S.16 An-Nah}l 36;S.10 Yu>nus 47). Semua nabi dan rasul mendapat tugas dari Allah supaya  berdakwah mengajak manusia untuk beragama Tauhid (S.7 Al-Ara>f 59, 65, 73, 85).  Sebagian  umat ada yang mendapat bimbingan dari 2 atau 3 orang  nabi (S. 10 Yu>nus 47).

@ Nasib bangsa-bangsa manusia sepeninggal para nabi dan rasul

Dimanapun juga semua nabi selalu mendapat perlawanan dari kaumnya yang tidak mau  percaya kepada nabi dan rasul mereka. Dan kaum yang tidak mau beriman itu selalu  dihukum oleh Allah dengan azab yang sangat berat, seperti kaum nabi Nuh yang tidak mau  percaya dihukum Allah  dengan banjir yang terlalu  besar(S.7 Al-Ara>f 64). Kaum A<d yang kafir kepada Nabi Hud dihukum Allah dengan angin yang sangat mengerikan selama 7  malam 8 hari(S.51 Adz-Dza>riya>t 41-42, S.7 Al-Ara>f 72). Kaum Nabi Lu>th yang melakukan Homoseksual dihukum Allah dengan Hujan batu (S.7 Al-Ara>f 78).  Kepada kaum Tsamud yang melawan  Nabi Sha>lih} dihukum dengan gempa bumi (S.7 Al-Ara>f  84). Dan kaum dari Nabi Syu’aib yang kufur kepadanya dihukum Allah dengan azab yang berupa gempa bumi yang sangat dahsyat (S.7 Al-Ara>f 91).

1) Kaum Bani Israil

Kesesatan dan kekufuran tersebut bukan hanya melanda bangsa Arab saja, tetapi kaum Bani Israil atau kaum Yahudi-pun juga melakukan penyelewengan dari ajaran nabi-nabi mereka. Kaum Yahudi itu telah berbuat keterlaluan,  seperti mengubah ayat-ayat kitab suci Taurat (S.2 Al-Baqarah 75; S.3 Ali Imra>n 78). Bahkan kaum Yahudi itu mengangkat ‘Uzair sebagai Anak Allah (S.9 At-Taubat 30). Mereka ini juga mendewa-dewakan para imam dan pendetanya, sehingga  Al-Qura>n menilai kaum Yahudi itu sudah mengambil imam dan pendetanya sebagai Tuhan selain Allah dan ‘Isa al-Masih (S.9 At-Taubat 31). Mereka sudah berani memlintir ayat-ayat kitab suci dengan berdusta atas nama Allah (S.3 Ali Imra>n 78), mereka suka memakan harta haram (S9 At-Taubat 34).

2) Kaum Nasrani

Menurut kepercayaan Islam agama Nasrani itu asalnya adalah agama yang dibawa oleh Nabi ‘Isa A.s. yang mengajarkan agama Tauhid, bahwa Tuhan itu Maha Esa. Menurut Al-Qura>n Nabi ‘Isa itu mengajak kaumnya untuk menyembah Allah tidak menyembah yang lain (S.19 Maryam 36; S.5 Al-Ma>idah 117). Akan tetapi berhubung dengan kuatnya perlawanan kaumnya yang kafir, maka ajaran Nabi Isa itu tidak bisa berkembang dengan baik,  sehingga  ajaran Nabi Isa itu  tercampur dengan ajaran-ajaran kafir, bahkan diubah sama sekali menjadi agama politeis, menyembah banyak Tuhan (musyrik).  Agama dari Nabi ‘Isa itu diambil oper dan diubah dari menyembah hanya kepada Allah diganti bertuhan kepada N.’Isa, mereka  mengangkat Nabi ‘Isa menjadi Tuhan dengan lambang kepercayaan kepada  Tritunggal, yaitu menyembah Tuhan Bapa, Tuhan Anak dan Tuhan Roh Kudus ( S.5 Al-Ma>idah 72-73).

Ada beberapa persamaan antara kaum Yahudi dengan kaum Nasrani, bahwa kaum Nasrani  mengangkat Nabbi ‘Isa sebagai Tuhan atau Anak Tuhan (S.9 At-Taubat 30) dan kaum Yahudi mendewa-dewakan para rahib dan pendeta sampai mirip  seolah-olah menyembah Tuhan (S.9 At-Taubat 31),  mereka memakan harta dengan cara yang haram (S.9At-Taubat 34) menyembunyikan  dan mengubah ayat-ayat kitab suci (S.5 Al-Ma>idah 14-15, S.3 Ali Imra>n 78).

3) Masyarakat Arab Ja>hili>yah

Bangsa Arab merupakan suatu kelompok bangsa Semit, yaitu suatu bangsa keturunan Nabi Nuh melalui puteranya yang bernama Sam, yang kemudian bertambah dengan  keturunan  Nabi Ibra>hi<m melalui Nabi Isma>i>l.

Disebabkan karena  lewatnya waktu yang cukup lama ditinggal  nabi mereka, maka ajaran para nabi atau rasul itu menderita rembesan faham-faham syirk, sehingga banyak manusia yang tersesat dari agama Allah dan manusia menyeleweng sesudah ditinggalkan wafat nabinya (S.19 Maryam 59, S.5 Al-Ma>idah 77; S2 Al-Baqarah75).   Orang-orang Arab Ja>hili>yah mestinya beragama  menurut  agama Ibra>hi<m, kemudian terjadi kekosongan dari tuntunan nabi dalam waktu yang  lama sebagaimana  yang disebut Al-Qura>n sebagai Fatratun minar rusul (فَترَةً مِنَ الرُّسُلِ) maka masyarakat Arab Ja>hili>yah itu menjadi musyrik penyembah berhala (S.5 Al-Ma>idah 19).

‘Umar Farru>kh dalam kitabnya Ta>ri>khul Ja>hiliyyah (1984:159) mencatat bahwa  karena pengaruh dari bangsa-bangsa negara tetangga, maka bangsa Arab itu  kemudian  menjadi penyembah berhala.  Rauf Syalabi>  di dalam  Al-Mujtama’ul Arab Qablal Isla>m (1977:38) menyatakan  bahwa pada umumnya bangsa Arab  itu menyembah berhala, masing-masing kabilah mempunyai berhala khusus di samping ada pula  berhala pujaan bersama semua kabilah,   seperti: Al-La>ta, Mana>t, Al-Uzza>>, Suwa>a dan Nasr seperti yang  tercatat di  dalam Al-Qura>n S.71 Nu>h} 23.

Pada dasarnya bangsa Arab itu percaya adanya Tuhan Allah, sebagaimana tergambar di  dalam syair yang dinukil oleh Az-Zauza>ni> dalam kitabnya Syarh}ul Muallaqa>tis  Sab’i (1958:81):

فَلَا تَكْتُمُنَّ اللهَ مَا فِيْ نُفُوْسِكُمْ  # لِيَخْفَي  وَمَهْمَا يُكْتَمِ  الله يَعْلَمْ

Artinya: “Benar-benar janganlah kamu rahasiakan apa yang ada di dalam H}a>timu  terhadap Allah #   agar tersembunyi padahal apapun yang kamu sembunyikan maka Allah mengetahuinya.

Walau bagaimanapun juga selama orang menyembah berhala atau makhluk apa saja maka tetap termasuk dalam golongan musyrik, menyekutukan Allah.

Al-Qura>n S.39 Az-Zumar 3 mencatat bahwa alasan  masyarakat Arab Ja>hili>yah itu menyembah berhala karena ingin  mendekatkan diri kepada  Allah lebih dekat lagi. Mereka percaya  bahwa kelak di hari kiamat maka  berhala-berhala itu akan dapat memberi syafaat kepada mereka, demikian caatatan Al-Qurthubi>>> (1967:7\43). Menurut catatan Ath-Thabari> (1954:25\84). mereka ini  mempersamakan berhala itu  dengan Nabi ‘Isa yang disembah oleh kaum Nasrani kelak akan memberi syafaat kepada penyembahnya

Orang-orang Arab itu dinamakan Ja>hili>yah bukan disebabkan karena bodoh, akan tetapi mereka disebut Ja>hili>yah  disebabkan karena perbuatannya persis seperti orang yang bodoh dan tidak tolerans tidak ada rasa tasamuh tidak mau  berlapang dada,  mereka melakukan suatu langkah dan tindakan lebih didasarkan atas sentimen dan emosi, mereka suka membangga-banggakan diri, suka menghina, lekas marah dan suka bermusuhan, demikian menurut catatan Ah}mad Ami>n: (1975: 59).

BAB  DUA

Jihad dan pegorban

Masalah ke-2: Sebenarnya bagaimana  Allah mengukur  iman  dan  bagaimana mengukur maksiat perbuatan kufur itu?  Jawaban sementara: Iman itu diukur melalui  catatan amal soleh sedangkan  kekufuran diukur dengan catatan perbuatan  maksiat-durhaka kepada Allah.

Allah itu tidak membuat langsung hasil budaya manusia, Allah tidak membuat kursi, rumah, gedung bertingkat 100, gedung WTC, Allah tidak membuat radio, computer, internet, pesawat ruang angkasa…. Semua ini yang membuat ialah manusia. Sehingga jika suatu saat alat-alat itu rusak yang salah ialah manusia dan yang harus memperbaiki barang yang rusak itu ialah manusia. Allah secara langsung dapat  memberi ampunan, rahmah, barokah, pertolongan, kemudahan, nasib untung dan rugi, sakit, sembuh dari penyakit, keselamatan dari bahaya gempa, Lumpur Lapindo,petir, banjir, Allah memberi semua ini kepada hamban-Nya secara langsung sehingga terkadang terkesan aneh sekali dan  LUAR BIASA.   Allah berfirman:

لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلَا مَرَدَّ لَهُ وَمَا لَهُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَالٍ (  الرعد11)

“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia”(S13 Ar-Ra’du 11)

Hamba dipersilahkan berdo’a memohon kepada Allah apa saja tetapi do’a memohon barang yang bersifat materi-indrawi, akan sangat langka terkabul tidak masuk akal  hanya berdo’a saja dapat memperoleh sesuatu yang diminta terutama barang-barang  yang bersifat indrawi ini, Hal-hal yang gaib, yang tidak terjangkau oleh akal itu memang dari Allah, apa saja yang luar biasa itu buatan Allah.

Sebuah hadis Ibnu ‘Umar  yang cukup terkenal dicatat oleh Ibnul ‘Arabi dalam kitab Ahkamul Quran (6h263) menyerukan kepada kita semua untuk bekerja keras mengejar kekayaan dunia sebesar-besarnya dan dalam detik-detik itu juga sekaligus mencari pahala akhirat semaksimal mungkin seolah-olah malaikatul maut cepat segera datang  mencabut nyawa yaitu sebagai berikut:

قَالَ ابْنُ عُمَرَ :  اُحْرُثْ لِدُنْيَاك كَأَنَّك تَعِيشُ أَبَدًا ، وَاعْمَلْ لِآخِرَتِك كَأَنَّك تَمُوتُ غَدًا (رواه  القرطبي 13ص314وابن العربي6ص263) .

Artinya: “Ibnu ‘Umar mengatakan: “Tanamlah(modal) untuk mencari keduniaan kalian seakan-akan kalian akan hidup selama-lamanya dan beramallah kalian seolah-olah akan mati besuk pagi”(HR Al-Qurthubi 13h314 dan Ibnul ‘Arabi 6h263); Al-Qurthubi mengaitkan hadis ini dengan Al-Quran s2a205, s28a77, s42a20 dan s43a32.

Secara  sederhana  dapat difaham bahwa manusia  wajib berusaha, berbuat, bekerja, berikhtiar, bekerja keras dan berjuang mati-matian bahkan JIHAD FI SABILILLAH, berkorban harta ataupun nyawa. Maka kerja keras, ikhtiar yang sungguh sungguh  sampai yang JIHAD ,Perang-Sabil   itulah yang dinilai Allah dan akan mendapat balasan pahala yang paling besar dari Allah. Orang yang malas, enggan bekerja, emoh berusaha, segan bejuang, tidak mau berbuat amal soleh, maka  dia tidak mempunyai nilai, tidak mempunyai prestasi, tidak mempunyai jasa-karya kepada sesama maka Allah tidak akan memberi pahala kepadanya. Sebaliknya Allah akan memberi pahala kepada mereka yang beramal, soleh, berjuang bahkan nilai tertinggi dan pahala  yang sangat besar sekali  akan diberikan kepada mereka yang berjasa, beramal soleh berjuang, berkorban harta  sanpai nyawa melayang , maka  nilainya sangat tinggi sekali. Allah berfirman:

لَا يَسْتَوِي الْقَاعِدُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ غَيْرُ أُولِي الضَّرَرِ وَالْمُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فَضَّلَ اللَّهُ الْمُجَاهِدِينَ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ عَلَى الْقَاعِدِينَ دَرَجَةً وَكُلًّا وَعَدَ اللَّهُ الْحُسْنَى وَفَضَّلَ اللَّهُ الْمُجَاهِدِينَ عَلَى الْقَاعِدِينَ أَجْرًا عَظِيمًا ( النساء95)

“Tidaklah sama antara mu’min yang duduk (yang tidak turut berperang) yang tidak mempunyai uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar”(S.4 An-Nisa` 95).

(1) Orang yang nilai rapotnya baik akan  masuk surga

Orang beriman kelak dibagi tiga, yaitu:

  1. i. Orang yang beriman yang nilai karya-jasanya  kepada kemanusiaan, amal solehnya sangat terpuji, maka yang nilainya terlalu baik, dia akan masuk surga  tidak perlu melalui tes atau Hisab.
  2. ii. Sebagian yang jasa dan amal solehnya cukup baik akan  diperiksa melalui Hisab  dengan mudah.
  3. iii. Sisanya yaitu yang nilai rapotnya banyak yang merah atau sangat buruk harus menjalani pemeriksaan sangat lama dan terlalu  rumit, baru masuk surga., seperti yang dicatat oleh para ulama berikut:

# Tafsir Al-Lubab (13h195) dalam menganalisa Al-Quran s35a27-38 fokusnya ayat 32 mencatat hadis Nabi Saw:

Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan di antara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar”(S.35 Fathir 32).

Tafsir ini mengaitkannya dengan hadis Rasulullah Saw berikut:

عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ وَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ فَأَمَّا الَّذِينَ سَبَقُوا بِالْخَيْرَاتِ فَأُولَئِكَ الَّذِينَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ بِغَيْرِ حِسَابٍ وَأَمَّا الَّذِينَ اقْتَصَدُوا فَأُولَئِكَ يُحَاسَبُونَ حِسَابًا يَسِيرًا وَأَمَّا الَّذِينَ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ فَأُولَئِكَ الَّذِينَ يُحْبَسُونَ فِي طُولِ الْمَحْشَرِ ثُمَّ هُمْ الَّذِينَ تَلَافَاهُمْ اللَّهُ بِرَحْمَتِهِ فَهُمْ الَّذِينَ يَقُولُونَ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَذْهَبَ عَنَّا الْحَزَنَ إِنَّ رَبَّنَا لَغَفُورٌ شَكُورٌ إِلخ (رواه احمد 20734).

“Abu Darda` mendengar Rasulullah Saw  membaca Al-Quran s35a32 (termaktub di atas) lalu bersabda: “Orang yang duluan dalam amal kebajikan maka dia masuk surga tanpa pemeriksaan (Hisab) orang yang  tengah-tengah akan diperiksa dengan hisab yang mudah; Adapun orang yang zalim atas dirinya maka dia akan tertahan selama di Makhsyar kemudian  Allah mengubah nasib mereka dengan rahmat-Nya(memasukkannya  ke dalam surga) mereka itulah orang-orang yang berdo’a dengan membaca Al-Quran 35 Fathir 34- 35

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَذْهَبَ عَنَّا الْحَزَنَ إِنَّ رَبَّنَا لَغَفُورٌ شَكُورٌ()الَّذِي أَحَلَّنَا دَارَ الْمُقَامَةِ مِنْ فَضْلِهِ لَا يَمَسُّنَا فِيهَا نَصَبٌ وَلَا يَمَسُّنَا فِيهَا لُغُوبٌ()

= “Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan duka cita dari kami. Sesungguhnya Tuhan kami benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Menerima syukur. Yang menempatkan kami dalam tempat yang kekal (surga) dari karunia-Nya; di dalamnya kami tiada merasa lelah dan tiada pula merasa lesu”(S.35 Fahir 34-35)  (Tafsir Al-Lubab 13h195).

@ Berkaitan dengan hadis tentang akan masuknya 70.000 umat Muhammad ke surga tanpa diperiksa ( tanpa Hisab) ditulis oleh para ulama didasarkan atas Al-Quran  surat dan ayat yang sangat banyak:

~ Paling sedikit ada 14 kitab tafsir telah mencatat hadis tentang 70.000 orang umat Muhammad akan masuk surga tanpa diperiksa (tidak di-Hisab), termasuk kitab-kitab tafsir Ibnu Abi Hatim yang sangat kuno, Kitab Tafsir Ar-Razi yang ilmiah-filosofis itu.

~ Para ulama yang menulis kitab tafsir itu menunjuk ayat-ayat Al-Quran yang memberi isyarat yang menjadi sumber  pernyataan dalam hadis  itu tidak kurang dari 102 ayat dari 28 macam surat  yang sangat erat  terkait dengan hadis itu.

~ Hadis itu sendiri sudah diteliti sangat jeli sekali  oleh sekitar 20 ulama hadis dan   dinilai shahih bukan hanya oleh Al-Hakim, Ibnu Hibban, Ibnu Abi Hatim, tetapi juga oleh Bukhari dan Muslim.

Ini berarti bahwa Allah betul-betul menjanjikan kepada kita semua umat Muhammad bahwa  ada diantara kita ini yang kelak di hari kiamat akan masuk surga tanpa test, tidak melalui Hisab, tidak perlu merasakan azab Allah asalkan  berhasil meraih juara satu dalam menyembah dan mengabdi kepada Allah Swt. Wajar jika kita  pinjam istilah anak-anak yang masuk perguruan tinggi lewat jalur PMDK  yaitu para siswa  yang nilai rapotnya terlalu baik tidak ada merahnya sama sekali mulai dari klas satu   sampai klas terakhir.

Dari janji Allah dalam hadis tersebut, maka kita wajib  berlomba mengejar  jalur PMDK mencari kunci pintu masuk surga dengan mentaati aturan main yang disebut dalam Al-Quran dan hadis.

Memang  Allah  sudah memerintahkan kepada kita semua untuk berlomba dalam kebajikan yang disebut dalam Al-Quran Fastabiqul-Khairat S.5 Al-Maidah 48. yang isi maksudnya ialah supaya kita semua mengejar nilai yang paling baik menurut Allah.  Menurut logika yang dinamakan baik itu ialah sesuatu yang menyenangkan sebaliknya yang disebut buruk itu ialah sesuatu yang tidak menyenangkan.

Menurut Imam Al-Ghazali (1059M) yang baik itu ialah yang dinilai baik oleh Allah dan yang buruk itu ialah yang dinilai buruk oleh Allah sebab pengertian “baik” yang hakiki ialah yang sangat manyenangkan secara universal menyenangkan semua orang segala tempat dan seluruh jaman mulai dari jaman Nabi Adam sampai akhir zaman bahkan sampai akhirat.

Jadi Allah itu memerintahkan kepada kita untuk berlomba mempersembahkan apa yang sangat menyenangkan sekali  secara maksimal semua orang ikut menikmati kelezatan dan kebahagiaan yang tertinggi di dunia sampai akhirat. Caranya ialah berlomba untuk beramal soleh, mentaati aturan hukum Allah, tekun mengikuti hidayah Allah  taqarrub kepada Allah dengan penuh ketaatan.

Jelas Allah dan Rasulullah Saw. mendorong kita umat Muhammad untuk mengejar nilai bukan hanya nilai “terbaik” tetapi nomer satu yang “paling afdhol“, yaitu nilai paling tinggi menurut pandangan Allah dan Rasul Saw. Di bawah ini kita renungkan sabda Rasulullah Saw. tentang siapa saja orang  yang paling afdhol itu:

أَنَّ أَبَا سَعِيدٍ الْخُدْرِيَّ رَضِي اللَّهم عَنْهم قَالَ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ النَّاسِ أَفْضَلُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُؤْمِنٌ يُجَاهِدُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ قَالُوا ثُمَّ مَنْ قَالَ مُؤْمِنٌ فِي شِعْبٍ مِنَ الشِّعَابِ يَتَّقِي اللَّهَ وَيَدَعُ النَّاسَ مِنْ شَرِّهِ (رواه البخاري2578 ومسلم 3501)

Artinya: “Sungguh Abu Sa’id al-Khudriyyi r.a. berkata: “Ditanyakan kepada Rasulullah Saw.:”Siapakah manusia yang paling afdhol? Beliau bersabda: “Orang mu’min yang berjihad fi Sabilillah dengan jiwa dan hartanya” Mereka bertanya: “Kemudian siapa lagi? Beliau menjawab: “Orang mu’min yang hidup bermasyarakat dalam kelompok yang bertaqwa kepada Allah dan tidak berbuat kejahatan kepada orang banyak”(HR Bukhari 2578, Muslim 3501).

~Kitab Fatawa-Ibnu Taimiyah (J7h5) menukil hadis Rasulullah Saw tentang beragama Islam yang paling afdhol dan iman yang paling afdhol yaitu  menjadi hamba Allah yang sangat ideal sekali:

16413 عَنْ عَمْرِو بْنِ عَبَسَةَ قَالَ قَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الْإِسْلَامُ قَالَ أَنْ يُسْلِمَ قَلْبُكَ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَأَنْ يَسْلَمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِكَ وَيَدِكَ قَالَ فَأَيُّ الْإِسْلَامِ أَفْضَلُ قَالَ الْإِيمَانُ قَالَ وَمَا الْإِيمَانُ قَالَ تُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْبَعْثِ بَعْدَ الْمَوْتِ قَالَ فَأَيُّ الْإِيمَانِ أَفْضَلُ قَالَ الْهِجْرَةُ قَالَ فَمَا الْهِجْرَةُ قَالَ تَهْجُرُ السُّوءَ قَالَ فَأَيُّ الْهِجْرَةِ أَفْضَلُ قَالَ الْجِهَادُ قَالَ وَمَا الْجِهَادُ قَالَ أَنْ تُقَاتِلَ الْكُفَّارَ إِذَا لَقِيتَهُمْ قَالَ فَأَيُّ الْجِهَادِ أَفْضَلُ قَالَ مَنْ عُقِرَ جَوَادُهُ وَأُهْرِيقَ دَمُهُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ عَمَلَانِ هُمَا أَفْضَلُ الْأَعْمَالِ إِلَّا مَنْ عَمِلَ بِمِثْلِهِمَا حَجَّةٌ مَبْرُورَةٌ أَوْ عُمْرَةٌ (رواه احمد)

Artinya: “Dari ‘Amru bin ‘Abasah bahwa seseorang bertanya: “Ya Rasulullah apakah Islam itu? Beliau bersabda: “Islam ialah hatimu menyerah kepada Allah ‘Azza wa Jalla, lidah dan tanganmu membawa keselamatan kepada orang Islam”

- Dia bertanya: “Yang bagaimanakah Islam yang afdhol itu? Beliau menjawab: “IMAN”

-Dia bertanya Apakah iman itu? Beliau menjawab: “” Percaya kepada Allah, Malaikat, Kitab, Rasul dan hari kebangkitan sesudah mati”

-Dia bertanya lagi: “Yang bagaimanakah iman yang paling afdhol? Beliau menjawab: “Hijrah”

-Dia bertanya: “Apakah hijrah itu? Beliau menjawab: “Hendaklah kamu meninggalkan kejelekan”

-Dia bertanya: “Hijrah yang bagaimanakah hijrah yang paling  afdhol itu? Beliau menjawab: “Jihad”

-Dia bertanya: Apakah jihad itu? Beliau menjawab: “Jihad itu ialah “Berjuang, menyerang orang kafir jika kamu ketemu”

-Dia bertanya: “Jihad yang mana yang paling afdhol? Beliau menjawab: “Jihad yang paling afdhol ialah jihad yang kedermawanannya tercurah dan juga tercurah darahnya”

Kemudian Rasulullah Saw. bersabda: “Ada dua amalan yang paling afdhol, kecuali jika ada yang menyamainya, yaitu haji mabrur atau ‘umrah” (HR Ahmad no.16413)(Lihat juga Al-Fatawa-Ibnu Taimiyah: Juz7,halaman 5).

@ Ajak banyak-banyak orang masuk surga jangan sendirian

#Yang terbaik paling afdhol

(1) Para filosuf-moral terutama J.Bentham (1832M) menyatakan bahwa secara logika yang disebut “Baik” itu ialah sesuatu yang memberi kebahagiaan yang terbesar kepada jumlah yang terbesar (The greatest happiness of the greatest number).

(2) Hadis Ahmad no.16413-yang dikutip Ibnu Taimiyah (7h5) di atas menyatakan bahwa Jihad yang paling afdhol ialah mencurahkan kedermawanan artinya membagi kebahagiaan kepada orang sebanyak mungkin, benar-benar jangan masuk surga sendirian, sedngkan orang lain masuk neraka semua.

(3) Hadis Ahmad no.22 yang dikutip Ibnu Katsir (2h95) terurai di atas bahwa Rasulullah Saw sudah berdo’a mohon banyak-banyak umat Islam masuk surga tanpa test dikabulkan oleh Allah  70.000 X 70.000  hamba Allah akan masuk surga tanpa test.

(4) Allah berfirman:

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ (ال عمران 110)

” Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah yang munkar, dan beriman kepada Allah”(S.3 Ali ‘Imran 110).

Rasulullah Saw bersabda:

عَنْ أَبِي مُوسَى رَضِي اللَّهم عَنْهم قَالَ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ الْإِسْلَامِ أَفْضَلُ قَالَ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ (رواه البخاري10 ومسلم 59)

Artinya: “Dari Abu Musa bahwa orang-orang bertanya: “Ya Rasulullah beragama Islam yang bagaimanakah yang paling afdhol? Beliau menjawab: “Yang paling afdhol ialah yang memberi keselamatan orang Islam melalui lisan dan tangannya” (HR Bukhari no.10 danMuslim no.59).

25 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ أَيُّ الْعَمَلِ أَفْضَلُ فَقَالَ إِيمَانٌ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ قِيلَ ثُمَّ مَاذَا قَالَ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ قِيلَ ثُمَّ مَاذَا قَالَ حَجٌّ مَبْرُورٌ (رواه البخاري ومسلم 118)

Artinya: “Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Saw. ditanya: “Manakah amal yang paling afdhol? Beliau menjawab: “Beriman kepada Allah dan Rasul-Nya” Beliau ditanya lagi: “Kemudian yang mana ? Beliau menjawab: “Jihad fi Sabilillah” Beliau ditanya lagi: Kemudian yang mana? Beliau menjawab: “Haji yang mabrur”(HR Bukhari no.25, Muslim no118).

Kitab Musnad Kitab Musnad Ahmad  mencatat hadis itu pada no.18264 terjemahnya sebagai berikut:

“Khuraimin bin Fatik memberitakan bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Amal itu ada 6 macam, yaitu: Dua macam yang pasti pembalasannya, lalu amal kebajikan dibalas lipat 10 kali, kemudian  kebajikan yang dibalas dengan 700 kali lipat. (1) Dua yang dipastikan, ialah: Siapa yang mati tidak musyrik tidak menyekutukan Allah sedikitpun juga dia masuk surga. (2) Barang siapa mati musyrik-menyekutukan Allah dia akan masuk neraka. (3)Yang amalnya dibalas dengan jumlah yang sama yaitu: Jika seseorang berniat akan beramal kebajikan sampai dia rasakan dalam hatinya, lalu Allah ‘Azza wa Jalla mengetahui niat dia itu maka kepada niatnya  dicatat untuk dia satu amal kebajikaqn. (4) Siapa yang berbuat maksiat perbuatan jelek dibalas  satu balasan. (5) Siapa yang berbuat amal soleh maka dia dibalas 10 kali lipat. (6) Siapa yang sedekah suatu infaq fi Sabilillah  maka satu amal soleh akan dibalas 700 kali lipat.

Manusia itu ada 4 macam, yaitu :  1)Orang yang dianugerahi Allah kekayaan di dunia maka dia akan disempitkan hidupnya di akhirat.2) Orang yang dimanjakan Allah di akhirat maka dia sedikit hartanya di dunia. 3) Orang yang dianugerahi kekayaan di dunia dan kejayaan di akhirat. 4)  Orang yang menderita kesempitan  di dunia dan  akhirat”(HR Ahmad 19264).

(4)  Membaca  La ilaha illa Allah

Ketentuan ini sudah terurai dalam bab-bab yang lain, Ibnu Jarir juga meriwayatkan hadis  seperti itu bahwa Abu Dzarr mohon diajari Nabi Saw. tentang amal yang dapat  mendorong seseorang masuk sorga dan selamat  dari api neraka , maka beliau menyatakan  bahwa perbuatan jelek  harus segera disusul  dengan amal soleh sebab  amal soleh pahalanya akan dilipat-gandakan 10 kali. Ditanyakan oleh Abu Dzar soal pahala bacaan La ilaha illa Allah beliau menjawab bahwa  kalimah Thoyyibah itu adalah amalan yang paling tinggi pahalanya (Hadis  Ibnu Jarir no.14292)

@ Pahala amal baik  akan dilipat gandakan  1.000.000  kali

#Tafsir Ad-Durrul Mantsur  (3h125) dalam menganalisa Al-Quran s4a40 mencatat hadis Ahmad bahwa siapa berbuat suatu amal maka pahalanya dapat dilipat gandakan satu juta kali berdasarkan  Al-Quran itu:

مَنْ عَمِلَ سَيِّئَةً فَلَا يُجْزَى إِلَّا مِثْلَهَا وَمَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ يُرْزَقُونَ فِيهَا بِغَيْرِ حِسَابٍ( غافر40)

Barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka dia tidak akan dibalas melainkan sebanding dengan kejahatan itu. Dan barangsiapa mengerjakan amal yang saleh baik laki-laki maupun perempuan sedang ia dalam keadaan beriman, maka mereka akan masuk surga, mereka diberi rezki di dalamnya tanpa hisab”(S.40 Ghafir 40)

Kitab tafsir itu mengaitkannya dengan hadis Rasulullah Saw yang bersabda dalam hadis  berikut:

عَنْ أَبِي عُثْمَانَ النَّهْدِيِّ قَالَ أَتَيْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ فَقُلْتُ لَهُ إِنَّهُ بَلَغَنِي أَنَّكَ تَقُولُ إِنَّ الْحَسَنَةَ تُضَاعَفُ أَلْفَ أَلْفِ حَسَنَةٍ قَالَ وَمَا أَعْجَبَكَ مِنْ ذَلِكَ فَوَاللَّهِ لَقَدْ سَمِعْتُهُ يَعْنِي النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَذَا قَالَ أَبِي يَقُولُ إِنَّ اللَّهَ لَيُضَاعِفُ الْحَسَنَةَ أَلْفَيْ أَلْفِ حَسَنَة(رواه احمد 7604)

“Abu ‘Utsman an-Nahdi datang bertanya  kepada Abu Hurairah “Aku mendengar anda mengatakan bahwa amal baik itu pahalanya akan dilipatkan  sampai 1.000.000  kali”. Abu Hurairah menjawab: “Apa yang membuat anda taajub dari padanya? Maka  demi Allah sungguh benar-benar  aku telah  mendengar dari Nabi Saw beliau bersabda demikian. Maka Ayahku mengatatakan: “Sungguh Allah akan melipat-gandakan pahala amal kebajikan dua juta kali lipat”(HR Ahmad no.7604).

BAB  TIGA

Kaum Jahanamiyun  bekas penghuni neraka Jahanam

Masalah ke-3: Bagaimana nasib manusia yang beriman tetapi juga berbuat maksiat durhaka kepada Allah? Jawaban sementara: Orang yang  durhaka atau maksiat akan masuk neraka kemudian mendapat rahmat Allah diangkat dinaikkan ke surga, mereka ini dinamakan Jahanamiyun.

(1) Amal baik ditimbang dengan perbuatan maksiat

Hampir seluruh  umat manusia itu pasti melakukan kesalahan atau dosa, sehingga  jika seseorang meninggal dunia maka dia  akan dihitung atau di-hisab berapa besar kesalahan dan dosanya dibanding dengan  amal perbuatannya yang baik, besuk di hari kebangkitan akan diperiksa dan ditimbang berat ringannya  amal atau  dosanya.

#     Kitab Subulus Salam  (7h299) mencatat bahwa amal manusia itu di hari  Kiamat akan dipersonifkasikan atau diwujudkan dalam bentuk pribadi berdiri sendiri  maka hadis Jabir yang marfu’ mengatakan di hari Kiamat kelak amal itu ditimbang sebelah menyebelah dengan perbuatan maksiat, jika amal-solehnya lebih berat dari maksiatnya dia dimasukkan ke dalam surga sebaliknya jika  maksiatnya lebih berat dia dimasukkan ke dalam neraka. Dan jika  amal solehnya sama berat dengan maksiatnya dia didudukkan ditengah-tengah surga dan neraka  disebut Ashabul A’raf, waktu melihat neraka merasa bahagia ketika melihat surga menyesali dirinya, diriwayatkan oleh   Al-Khaitsamah.

(2) Antri masuk surga#

Tafsir Ibnu Katsir (7h120) dalam menganalisa Al-Quran s39a73-74 “Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya dibawa ke dalam surga berombong-rombongan (pula). Sehingga apabila mereka sampai ke surga itu sedang pintu-pintunya telah terbuka dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: “Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu, berbahagialah kamu! maka masukilah surga ini, sedang kamu kekal di dalamnya”.Dan mereka mengucapkan: “Segala puji bagi Allah yang telah memenuhi janji-Nya kepada kami dan telah (memberi) kepada kami tempat ini sedang kami (diperkenankan) menempati tempat dalam surga di mana saja yang kami kehendaki.” Maka surga itulah sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang beramal”(S.39 az-Zumar 73-74). Kitab itu mencatat hadis  berikut:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوَّلُ زُمْرَةٍ تَلِجُ الْجَنَّةَ صُورَتُهُمْ عَلَى صُورَةِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ ا(رواه البخاري 3006 ومسلم 5063)

“Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah Saw bersabda: Kelompok yang pertama kali masuk surga wajahnya berseri-seri cemerlang bagaikan bulan purnama”(HR Bukhari no.3006 dan Muslim no.5063)

# Tafsir Ath-Thabari  (12h279) menganalisa  Al-Quran s6a160

“Barangsiapa membawa amal yang baik maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan yang jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan)”(S.6 Al-An’am 160).

Ath-Thabari dalam menganalisa s6a160 ini mencatat hadis bahwa Nabi Saw. menyatakan ada 6 amal, positif dan negatif, yaitu:

i.  Orang yang yakin bahwa  Allah itu Maha Esa dia tidak musyrik sedikitpun juga maka  dia masuk surga.

ii. Orang yang musyrik maka dia akan masuk neraka.

iii.Orang yang beramal soleh maka pahalanya akan dilipat-gandakan sampai  700 kali lipat.

iv. Pemberian nafkah  untuk menjamin anak  keluarga pahalanya akan dilipatkan 10 kali.

v. Orang yang paling sedikit pahalanya ialah orang yang niat beramal soleh tetapi tidak berhasil mengamalkannya maka  dia dicatat akan mendapat satu  pahala.

vi. Jika berniat jahat lalu dilaksanakan maka dia akan  disiksa satu  azab  tidak dilipatkan (HR. Ibnu Jarir no. 14291).

Kitab Musnad Ahmad  mencatat hadis itu pada  no.18264.bahwa pahala amal soleh akan dilipat-gandakan sebanyak-banyaknya.

(3). Penghuni neraka Jahanam  dipilih dinaikkan ke surga

Orang yang beriman tetapi juga berbuat maksiat, maka dia akan menjalani pemeriksaan,  amal baiknya ditimbang dengan dosa maksiatnya, jika dosa maksiatnya lebih berat dari pada amal baiknya maka dia dimasukkan ke neraka, sesuai dengan besar kecilnya dosa setelah merasakan panasnya  api neraka, sampai gosong menjadi arang dipanggil lalu diangkat dan dicelup atau dimandikan  dengan air Hayat kemudian dia dinaikkkan ke  surga, sebagaimana disabdakan oleh  Nabi Saw dalam hadis  berikut:

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَدْخُلُ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ وَأَهْلُ النَّارِ النَّارَ ثُمَّ يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى أَخْرِجُوا مِنْ النَّارِ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ مِنْ إِيمَانٍ فَيُخْرَجُونَ مِنْهَا قَدْ اسْوَدُّوا فَيُلْقَوْنَ فِي نَهَرِ الْحَيَا (أَوْ الْحَيَاةِ) فَيَنْبُتُونَ كَمَا تَنْبُتُ الْحِبَّةُ فِي جَانِبِ السَّيْلِ أَلَمْ تَرَ أَنَّهَا تَخْرُجُ صَفْرَاءَ مُلْتَوِيَةً (رواه لبخاري 21)

“Dari Abu Sa’id  r.a. bahwa Nabi Saw bersabda: “Yang berhak masuk surga akan masuk surga, yang harus masuk neraka akan masuk neraka. Lalu Allah Ta’ala berfirman: “Keluarkanlah mereka yang mempunyi iman walaupun hanya seberat satu biji benih sawi!!! Maka mereka keluar dari neraka dan benar-benar mereka itu sudah gosong hitam pekat kemudian mereka ini  dicelup ke dalam sungai Hayat, lalu dia tumbuh seperti benih diujung aliran air, tahukah anda dia keluar kuning cerah melingkar”(HR Bukhari no.21).

عَنْ قَتَادَةَ حَدَّثَنَا أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَخْرُجُ قَوْمٌ مِنْ النَّارِ بَعْدَ مَا مَسَّهُمْ مِنْهَا سَفْعٌ فَيَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ فَيُسَمِّيهِمْ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَهَنَّمِيِّينَ (رواه البخاري 6074)

“Dari Qatadah dari Anas bin Malik bahwa Nabi Saw bersabda: “Suatu kaum akan keluar dari neraka sesudah menderita  kulitnya berubah hitam  terbakar api  neraka kemudian mereka ini masuk surga mereka ini dinamakan penduduk surga  AL-JAHANAMIYUN”(HR Bukhari no.6074 dan Ahmad no.11913).

#Tafsir Ibnu Katsir (2h306) mencatat bahwa orang musyrik tidak akan dikeluarkan dari neraka selama-lamanya.

ِ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِي اللَّهم عَنْهم أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا دَخَلَ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ وَأَهْلُ النَّارِ النَّارَ يَقُولُ اللَّهُ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ مِنْ إِيمَانٍ فَأَخْرِجُوهُ فَيَخْرُجُونَ قَدِ امْتُحِشُوا وَعَادُوا حُمَمًا فَيُلْقَوْنَ فِي نَهَرِ الْحَيَاةِ فَيَنْبُتُونَ كَمَا تَنْبُتُ الْحِبَّةُ فِي حَمِيلِ السَّيْلِ أَوْ قَالَ حَمِيَّةِ السَّيْلِ وَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَلَمْ تَرَوْا أَنَّهَا تَنْبُتُ صَفْرَاءَ مُلْتَوِيَةً (رواه البخاري 6075)

Dari Abu Sa’id al-Khudriyyi r.a.bahwa Nabi Saw besabda: “Jika  ahli surga masuk surga dan ahli neraka masuk neraka lalu Allah berfirman: “Barang siapa dalam hatinya terdapat  “ iman” walaupun hanya sebesar satu biji benih sawi maka keluarkanlah” lalu mereka keluar dari neraka dan benar-benar mereka sudah terbakar berubah menjadi arang, kemudian  mereka diceburkan ke sungai “Hayat” terus mereka tumbuh seperti tumbuhnya biji-bijian yang terbawa oleh  sungai atau ujung bah dan Nabi Saw bersabda: “Tahukah kalian biji itu tumbuh kuning melingkar”(HR Bukhari no.6075)

ِ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَدْخُلُ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ وَأَهْلُ النَّارِ النَّارَ ثُمَّ يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى أَخْرِجُوا مِنْ النَّارِ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ مِنْ إِيمَانٍ فَيُخْرَجُونَ مِنْهَا قَدْ اسْوَدُّوا فَيُلْقَوْنَ فِي نَهَرِ الْحَيَا أَوْ الْحَيَاةِ شَكَّ مَالِكٌ فَيَنْبُتُونَ كَمَا تَنْبُتُ الْحِبَّةُ فِي جَانِبِ السَّيْلِ أَلَمْ تَرَ أَنَّهَا تَخْرُجُ صَفْرَاءَ مُلْتَوِيَةً قَالَ وُهَيْبٌ حَدَّثَنَا عَمْرٌو الْحَيَاةِ وَقَالَ خَرْدَلٍ مِنْ خَيْرٍ(رواه البخاري 21)

“”Dari Abu Sa’id Al Khudri dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Ahlu surga telah masuk ke surga dan Ahlu neraka telah masuk neraka. Lalu Allah Ta’ala berfirman: “Keluarkan dari neraka siapa yang didalam hatinya ada iman sebesar biji sawi”. Maka mereka keluar dari neraka dalam kondisi yang telah menghitam gosong kemudian dimasukkan kedalam sungai hidup atau kehidupan. -Malik ragu. – Lalu mereka tumbuh bersemi seperti tumbuhnya benih di tepi aliran sungai. Tidakkah kamu perhatikan bagaimana dia keluar dengan warna kekuningan”(HR Bukhari no.21).

عَنْ أَنَسٍ رَضِي اللَّهم عَنْهم عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَيُصِيبَنَّ أَقْوَامًا سَفْعٌ مِنَ النَّارِ بِذُنُوبٍ أَصَابُوهَا عُقُوبَةً ثُمَّ يُدْخِلُهُمُ اللَّهُ الْجَنَّةَ بِفَضْلِ رَحْمَتِهِ يُقَالُ لَهُمُ الْجَهَنَّمِيُّونَ وَقَالَ هَمَّامٌ حَدَّثَنَا قَتَادَةُ حَدَّثَنَا أَنَسٌ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (رواه مسلم6896 )*

“Dari Anas r.a. bahwa Nabi Saw bersabda: “Akan ada beberapa kaumtampak sangat hitam dari api neraka, karena dosa-dosa yang pernah mereka lakukan sebagai hukuman atas mereka, kemudian Allah memasukkan mereka ke dalam surga dengan kurnia rahmat-Nya, mereka itulah yang dinamakan jahannamiyun (mantan penghuni neraka jahannam)” (HR  Muslim No.6896)

عَنْ عِمْرَانُ بْنُ حُصَيْنٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَخْرُجُ قَوْمٌ مِنْ النَّارِ بِشَفَاعَةِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ يُسَمَّوْنَ الْجَهَنَّمِيِّينَ(رواه البخاري 6081 والترمذي 2525)

“Dari Imran bin Husain r.a, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Ada sekelompok kaum yang keluar dari neraka karena syafaat Muhammad Shallallahu’alaihiwasallam, lantas mereka masuk surga dan mereka diberi julukan ‘jahannamiyun (mantan penghuni neraka jahannam).”(HR Bukhari no.6081, Turmudzi 2525)

Analisa dan catatan  para ulama :

@Tafsir Ad-Durrul Mantsur (8h590) mencatat bahwa di dahinya tertulis cap Jahanamiyun, lalu malaikat membasuh cap ini setelah masuk surga. @Tafsir Ibnu Katsir (4h525) mencatat bahwa behala-berhala (Lata-‘Uzza) bertanya kepada mereka yang mengucapkan “La ilaha illa Allah” di dunia mengapa masuk neraka, apakah tidak cukup dengan ucapan ((Lailaha illa Allah)) tadi tetapi juga masuk neraka. Maka Allah  segera memerintahkan malaikat untuk mengangkat mereka keluar dari neraka diceburkan lebih dahulu ke sungai ((AL-Hayat)) lalu dinaikkan ke dalam surga mereka dinamakan Al-Jahanamiyun.@Tafsir Al-Khazin (3h253) mencatat bahwa setelah dibakar dalam api neraka sebab dosanya, lalu mereka dinaikkan ke dalam surga sebab rahmat dan anugerah Allah, mereka itu dinamakan kaum Jahanamiyun@Tafsir As-Sirajul Munir (3h468) mencatat ada sekelompok manusia  setelah dibakar dalam api neraka sampai menjadi arang hitam pekat  lalu diangkat dinaikkan  ke surga, karena rahmat Allah.@Tafsir Ath-Thabari (15h482) mencatat hal yang sama.@ Kitab Ma’aniyil Quran-An-Nahhas (4h8) mencatat bahwa kaum musyrikin sangat menyesali diri mengapa dahulu tidak mau  masuk Islam.@ Tafsir Bahrul ‘Ulum-As-Samarqandi (2h325) mencatat bahwa  sebagian kaum Jahanamiyun itu dapat masuk surga karena syfaat Nabi Muhammad Saw.@Tafsir An-Nassafi (2h173) mencatat bahwa sebagian penduduk neraka itu ada yang tidak kekal abadi di dalam neraka, sebagian mereka mendapat rahmat anugerah Allah diangkat naik ke surga mereka dinmakan kaum Jahanamiyun..

Semoga kita semua minimal termasuk golongan Jahanamiyun ini, tetapi jangan terlalu lama berada di dalam neraka, karena iman kita, sebab amal soleh,  dari ibadah kita, dan dzikir-wirid kita, oleh karena  do’a kita dan semua gerak kita yang kita niatkan sebagai amal ibadah kita kepada Allah. Jika bisa kita termasuk golongan kedua harus menghadapi pemeriksaan (Hiasb) kalau bisa pemeriksaan yang mudah.

Oleh karena itu kita semua harus berusaha, berikhtiar, bekerja memeras keringat, memutar otak, berjuang  mati-matian, berkorban waktu/tenaga/pikiran/harta kekayaan bahkan nyawa dalam Perang-Sabil,  JIHAD FI SABILILLAH  mempelajari, memperdalam, menghayati, menyiarkan, membela, mempertahankan menegakkan kalimatillah hiyal ‘ulya agama Allah  Islam  secara universal, semua orang, segala tempat seluruh jaman. Amin,

Taqabbal Allah lana  wa lakum, taqabbal ya karim.

Silahkan buka internet situs : http://pondoquranhadis.wordpress.com

Kirimkan naskah ke Email:pondokilmu7@gmail.com Tlp:o318963843


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: