Oleh: pondokquranhadis | Agustus 28, 2010

ANAK ANGKAT

ANAK  ANGKAT

I. S.33 AL-AHZAB   4-5

مَا جَعَلَ اللَّهُ لِرَجُلٍ مِنْ قَلْبَيْنِ فِي جَوْفِهِ وَمَا جَعَلَ أَزْوَاجَكُمُ اللَّائِي تُظَاهِرُونَ مِنْهُنَّ أُمَّهَاتِكُمْ وَمَا جَعَلَ أَدْعِيَاءَكُمْ أَبْنَاءَكُمْ ذَلِكُمْ قَوْلُكُمْ بِأَفْوَاهِكُمْ وَاللَّهُ يَقُولُ الْحَقَّ وَهُوَ يَهْدِي السَّبِيلَ(4)ادْعُوهُمْ لِآبَائِهِمْ هُوَ أَقْسَطُ عِنْدَ اللَّهِ فَإِنْ لَمْ تَعْلَمُوا ءَابَاءَهُمْ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ وَمَوَالِيكُمْ وَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ فِيمَا أَخْطَأْتُمْ بِهِ وَلَكِنْ مَا تَعَمَّدَتْ قُلُوبُكُمْ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا( الاحزاب 4-5)

  1. II. Artinya:

“Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya; dan Dia tidak menjadikan isteri-isterimu yang kamu zhihar itu sebagai ibumu, dan Dia tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak kandungmu (sendiri). Yang demikian itu hanyalah perkataanmu di mulutmu saja. Dan Allah mengatakan yang sebenarnya dan Dia menunjukkan jalan (yang benar) Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang lebih adil pada sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggillah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu.  Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yangdisengaja oleh hatimu.             Dan adalah  Allah  Maha  Pengampun  lagi  Maha  Penyayang.” (S.33 Al-Ahzab 4-5)

  1. III. Tafsir dan analisa
  2. A. Latar belakang turunnya ayat

Artinya:  Dari ‘Aisyah RA. Bahwa Abu Hudzaifah  ibnu ‘Utbah salah seorang yang ikut perang Badar bersama dengan Rasulullah Saw. dia mengangkat anak namanya Salim. Dia dinikahkan dengan anak dari anak perempuan saudara laki-lakinya namanya Hindun bintil  Walid. Dia itu maula seorang dari Anshar . Peristiwanya sama dengan Nabi Saw. mengangkat anak bernama  Zaid . Di jaman Jahili orang yang mengangkat anak maka orang-orang memanggilnya  dikaitkan dengan bapak angkatnya dan dia mendapat warisan. Demikian berlaku sampai Allah menurunkan  S.33 Al-Ahzab  5 bahwa anak angkat harus dipanggil dan dikaitkan dengan nama bapak aslinya’(HR. Bukhari CD  hadis no.3699)

  1. B. Tema dan kandungan makna ayat

Dari pengertian kata dan latar belakang turunnya ayat terurai di atas maka dapat disusun tema dan kandungan makna S.33 Al-Ahzab 4-5 di atas sebagai berikut:

  1. 1. Tiap kelompok masyarakat tentu mempunyai dasar pemikiran tentang tujuan hidup. Dasar pemikiran itu  membentuk langkah dan tindakan yang diduga sebagai langkah dan tindakan yang benar dan paling baik.  Dari langkah dan tindakan ini terbentuklah adat kebiasaan dan berkembang menjadi tradisi sampai kepada  kebudayaan kelompok masyarakat
  2. 2. Masyarakat Arab  Jahiliyah mempunyai sejumlah adat kebiasaan dari tradisi kebudayaan  mereka yang berlaku sejak jaman yang lama  sampai ketika   Al-Quran diturunkan
  3. 3. Sebagian dari adat kebiasaan itu ialah adat Zhihar dan mengangkat anak

a) Zhihar ialah ucapan suami mengharamkan diri berhubungan dengan isterinya melalui ucapan yang menyamakan isteri sama dengan ibunya suami

b) Mengangkat anak (adopsi), yaitu mengakui seorang anak dari luar diaku sebagai anaknya sendiri dan mengaitkan hukum perkawinan dan hukum waris bagi anak yang diangkat ini

  1. 4. Al-Quran memberikan peringatan kepada  para pemangku adat kebiaaan itu, bahwa Zhihar dan pengangkatan anak tidak dapat dibenarkan oleh Allah, sehingga harus dihentikan
  2. 5. Adat kebiasaan tersebut merupakan suatu ucapan yang tidak benar tetapi kata-kata yang benar ialah firman Allah
  3. 6. Untuk pengangkatan anak harus dinisbatkan kepada bapak aslinya, jika bapaknya tidak diketahui maka dia adalah saudara orang-orang yang beriman dan menjadi Mawali dari orang yang beriman
  4. 7. Kekeliruan perbuatan yang timbul karena khilaf atau keliru tidak akan dituntut oleh Allah, tetapi kekeliruan yang memang disengaja akan mendapat hukuman atas pebuatannya
  5. 8. Allah itu Maha pengampun  Maha pengasih
  6. C. Masalah dan analisa

Dari tema dan kandungan makna ayat 4-5 Al-Ahzab di atas terkandung banyak masalah yang perlu dilakukan pendalaman lebih lanjut, maka masalah itu harus ditelusuri bagaimana jawaban atau penyelesaiannya. Adapun masalah- masalah itu adalah sebagai berikut:

  1. 1. Apakah  tujuan hidup manusia itu?
  2. 2. Apakah dengan akal saja manusia dapat mencapai apa yang disebut baik dan benar?
  3. 3. Apa saja adat kebiasaan, tradisi kebudayaan Arab Jahiliyah itu?
  4. 4. Bagaimana peringatan Al-Quran terhadap berbagai macam adat-kebiasaan tradisi kebudayaan Arab Jahiliyah dahulu itu?
  5. 5. Bagaimanakah hukum Zhihar itu dan bagaimana pula hukum tentang pengangkatan anak itu menurut hukum Islam ?
  6. 6. Bagaimanakah jalan keluar mengatasi soal keinginan suatu keluarga untuk ikut menikmati kemesraan atas adanya anak keturunan ?
  7. D. Tinjauan dan penelitian
  8. 1. Tujuan hidup

~ Secara sosiologis tujuan hidup manusia ialah memelihara  hidup  diri agar supaya hidup dan hidup terus  bahkan ingin hidup yang lebih baik lagi.

~ Secara Islami maka tujuan hidup manusia tidak lain kecuali untuk mengabdi kepada  Allah (S.51 Adz-Dzariyat 56)

  1. 2. Potensi akal manusia

Allah telah memberi bekal kepada manusia berupa akal yang penuh dengan potensi yang sangat besar dan karena kecerdasan akal ini maka N.Adam  lebih terhormat sedang para malaikat mendapat perintah Allah untuk sujud kepada Adam (S.2 Al-Baqarah 34). Akan tetapi selama akal itu dikaitkan dengan manusia maka hasil pemikiran akal itu tetap bersifat spekulatip-hipotetis ditambah lagi dengan sifatnya sebagai makhluk, maka  manusia itu mempunyai sifat kalah sempurna dibanding dengan sifat  Maha Sempurna Tuhan. Oleh karena itu bagaimanapun juga hebatnya kemampuan akal, namun suatu ketika manusia akan menghadapi sesuatu yang ada di luar kekuatan  akal manusia. ‎Sehingga  pada saat  akal manusia tidak mampu  dan tidak dapat mengatasi kemusykilan-kemusykilan itu maka akal manusia harus berlindung di bawah wahyu dari Tuhan. Demikian pendapat para ulama Islam dari  yang Jabariyah bahkan sampai para ulama  Muktazilah, termasuk Muhammad ‘Abduh  sendiri( ‘Abduh 1965:101)

  1. 3. Adat kebiasaan dan tradisi kebudayaan masyarakat Arab Jahiliyah

a. Adat kebiasaan, tradisi dan  kebudayaan

Setiap saat tiap manusia pasti selalu akan menghadapi  tantangan dan ujian. Pada waktu inilah manusia dipaksa untuk mengambil langkah dan tindakan untuk mengatasi tantangan dan menjawab soal ujian yang sedang menghadangnya. Dasar pemikiran yang bergolak dalam benak otaknya ialah masalah berikut:

(1) Bagaimana langkah dan tindakannya untuk mempertahankan hidupnya jangan sampai mati

(2) Bagaimana memilih langkah dan tindakan untuk bisa hidup  dan tetap hidup

terus

(3) Bagaimana memilih langkah dan tindakan untuk memelihara hidupnya dan    hidup terus bahkan  hidup yang lebih baik lagi

Melalui modal yang ada di dalam dirinya terutama dari kecerdasan akalnya, dalam usaha mengatasi masalah dan menjawab ujian-ujian hidup itu pilihan oleh manusia  tidak semuanya didasarkan atas pikiran yang sehat, tetapi pilihan ini  timbul ari salah satu dari tiga kemungkinan di bawah ini:

- Pertama pemilihan ini memang didasarkan atas logika dan kecerdasan akalnya dipikir dengan serius dipilih serta  ditetapkan langkah dan tindakan yang benar dan paling  baik

- Kedua  karena kebetulan yang mendadak tanpa disengaja sama sekali dia bertindak di luar rencana

-Ketiga tidak setiap manusia memanfaatkan kecerdasan akalnya, sebagian adalah pemalas, sehingga pemilihan langkah dan tindakan ini  hanya didasarkan atas pemikiran  yang ngawur tidak dipikirkan dengan serius dengan  akal yang sehat atau logika yang lurus.

Jika langkah dan tindakanini berkembang menjadi adat atau hukum adat maka adat yang baik ialah yang nomer pertama. Bagian kedua dan ketiga tidak dapat dijadikan suatu tatanan hidup untuk dilestarikan oleh manusia.

Jika seandainya langkah dan perbuatan yang dipilih itu ternyata membawa diri yang bersangkutan menjadi selamat, beruntung dan dipuji menyenangkan, maka langkah dan perbuatan ini  lalu  diulang-ulang, lalu  langkah perbuaan ini dinamakan kebiasaan. Jika kebiasaan ini diikuti oleh orang lain bahkan diikuti pula oleh  orang banyak dan diulang-ulang terus menerus oleh orang banyak ini maka kebiasaan ini  dinamakan adat.

Ibnul Manzhur dalam Lisanul Arab (tth:3 / 311) menyatakan bahwa adat ialah kebiasaan yang diakui baik dan diulang-ulang.Menurut Al-Ghazali, Abdul Wahhab Khallaf mengatakan bahwa lafal  Al-‘Adat itu sama dengan Al’Urfu, sedangkan Ar-Raghib dalam Mufradat (tth:343) mencatat bahwa lafal Al’Urfu itu artinya  ialah Al-Ma’ruf maknanya ialah sesuatu yang dinilai baik oleh manusia. Dan dalam pandangan hukum Islam Al-Ma’ruf ialah sesuatu yang diakui baik menurut akal manusia dan menurut Tuhan. Moh.Korsnoe dalam bukunya Pengantar ke dalam Hukum Adat Indonesia (1971:4 dan 10) mencatat bahwa Adat ialah tatanan hidup yang bersumber dari rasa susila mereka yang melakukannya. Hukum Adat ialah adat yang jelas sanksi hukuman atas pelanggar tatanan hidup itu.

Jika adat  ini dilakukan terus menerus dan tidak pernah ditinggalkan bahkan siapa yang menyelisihi atau tidak melaksanakannya akan mendapat hukuman oleh masyarakat, maka adat istiadat ini disebut Hukum Adat. Jika Hukum Adat ini diwariskan dan diwarisi oleh suatu masyarakat generasi demi generasi mereka, maka lalu  dinamakan Tradisi. Sejumlah tradisi yang sudah meluas menjadi milik suatu bangsa dinamakan Kebudayaan. Berbagai macam kebudayaan dari berbagai macam bangsa yang berlaku di seluruh dunia dalam suatu jaman dinamakan Peradaban.

b. Adat kebiasaan masyarakat Arab Jahiliyah

Pada jaman Jahiliyah bangsa Arab mempunyai berbagai macam adat kebiasaan dan sebagian sudah  diyakini sebagai Hukum Adat, yaitu: 1)Suka berperang; 2) Pebudakan; 3) Hukum Patrilineal; 4) Menguburkan bayi wanita; 5)Menyembah berhala; 6)Minum khamr dan berjudi; 7)Hutang nyawa dibalas nyawa; 8)Takhayul dan khurafat; 9)Sumpah janji persahabatan; 10)Riba; 11) Thawaf dan Haji; 12)Menhormati bulan-bulan suci; 13)Kepercayaan tauhid; 14)Zhihar; 15) Mengangkat anak laki-laki. Dan masih banyak lagi.

4.  Peringatan Al-Quran terhadap adat kebiasaan Jahiliyah

Ada tiga macam peringatan Al-Quran terhadap adat-kebiasaan Arab Jahiliyah ini, yaitu: a) Ditolak mutlak misalnya adat menyembah berhala, minum khamr dan berjudi, takhayul dan khurafat.  b) Diterima setelah dibersihkan unsur-unsur negatipnya, misalnya: Sumpah janji persahabatan, thawaf dan haji, c) Diterima sepenuhnya misalnya: kepercayaan tauhid, kepercayaan adanya bulan-bulan suci.

Sebagian dari adat kebiasqaan Arab Jahiliyah itu ialah adat  Zhihar dan adat mengangkat anak. Oleh karena adat kebiasaan Zhihar dan mengangkat anak ini tidak bisa diterapkan secara universal, tidak dapat diberlakukan atas seluruh umat manusia untuk segala bangsa bagi semua jaman, maka kedua adat kebiasaan ini ditolak oleh Allah melalui  Al-Quran S.33 Al-Ahzab 4-5 dan untuk adat Zhihar disinggung juga dalam S.58 Al-Mujadalah1-6.

5.  Hukum Zhihar dan pengangkatan anak

a.Hukum Zhihar

Zhihar ialah sumpah suami tidak akan menggauli isterinya, maka hukumnya haram, disebut dalam S.58 Al-Mujadalah 2 . Kepada mereka yang melanggar sumpahnya sendiri yaitu rukun dan menggauli isteri maka dia wajib membayar kifarat atau tebusan yaitu memerdekakan budak atau berpuasa dua bulan berturut-turut atau memberi makan 60 orang miskin. Tebusan ini tidak bisa dipilih, tetapi harus urut dari noner  pertama, jika tidak bisa lalu menebus sumpah me;a;ui tebusan yang kedua. Jika yang kedua tidak bisa  maka  tebusan yang ketiga  tidak boleh memilih

b.  Hukum mengangkat anak

Mengangkat anak  yang dimaksud disini ialah mengangkat seorang anak dan mengaitkan nasab anak itu kepada bapak angkat dan menerapkan hukum perkawinan maupun hukum waris kepada anak ini. Mengangkat anak seperti ini hukumnya haram.Yang diharamkan oleh Al-Quran berkaitan dengan pengangkatan anak tersebut ialah mengaitkan nasab seseorang kepada orang lain yang bukan bapak aslinya. Dalam hal ini ada beberapa hadis Rasul Saw. yaitu sbb:

عَنْ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ  قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ َمَنِ ادَّعَى إِلَى غَيْرِ أَبِيهِ أَوِ انْتَمَى إِلَى غَيْرِ مَوَالِيهِ فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللَّهِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ لَا يَقْبَلُ اللَّهُ مِنْهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ صَرْفًا وَلَا عَدْلًا (رواه مسلم 2433)*

Artinya: “Dari Ali ibnu Abi Thalib bahwa Nabi Saw. bersabda: “Barang siapa  mengaku dirinya anak dari seseorang yang bukan bapaknya sendiri atau  mengaku  maula dari orang yang bukan mantan tuannya, maka dia mendapat laknat dari Allah, dari malaikat dan semua orang. Allah tidak menerima usulan dan tidak menerima tebusan untuk dia di hari kiamat (HR Muslim CD no. 2433)

Anak angkat dalam kaitannya dengan Hukum Waris

Dalam Hukum Islam anak angkat tidak termasuk ahli waris, sehingga dia tidak berhak menerima warisan.Surat Al-Anfal 75 menegaskan bahwa ahli waris sedarah lebih berhak mengalahkan orang-orang yang tidak mempunyai hubungan darah dengan almarhum pewaris.

وَالَّذِينَ ءَامَنُوا مِنْ بَعْدُ وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا مَعَكُمْ فَأُولَئِكَ مِنْكُمْ وَأُولُو الْأَرْحَامِ بَعْضُهُمْ أَوْلَى بِبَعْضٍ فِي كِتَابِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ (الانفال75)

Artinya: “Dan orang-orang yang beriman sesudah itu, kemudian berhijrah dan berjihad bersamamu maka orang-orang itu termasuk golonganmu (juga). Orang-orang yang mempunyai hubungan itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya (daripada yang kerabat) di dalam kitab Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”(S.8 Al-Anfal 75)

Walaupun demikian Al-Quran tidak menutup pintu terlalu rapat, kepada mereka itu  dimungkinkan bisa mendapat bagian warisan melalui muatan Al-Quran berikut:

النَّبِيُّ أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ وَأَزْوَاجُهُ أُمَّهَاتُهُمْ وَأُولُو الْأَرْحَامِ بَعْضُهُمْ أَوْلَى بِبَعْضٍ فِي كِتَابِ اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ إِلَّا أَنْ تَفْعَلُوا إِلَى أَوْلِيَائِكُمْ مَعْرُوفًا كَانَ ذَلِكَ فِي الْكِتَابِ مَسْطُورًا (الاحزاب 6)

Artinya:  “Dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah satu sama lain lebih berhak (waris mewarisi) di dalam Kitab Allah daripada orang-orang mukmin dan orang-orang Muhajirin, kecuali kalau kamu mau berbuat baik kepada saudara-saudaramu (seagama). Adalah yang demikian itu telah tertulis di dalam Kitab (Allah).”(S.33 Al-Ahzab 6).

Dalam Hukum Adat Indonesia dibedakan jenis-jenis anak angkat, yaitu: Anak panutan, anak pupon, anak pungut, anak piara, anak titip dan anak angkat. Jika anak tersebut sudah diresmikan sesuai dengan Hukum Adat yang berlaku maka dalam Hukum Adat anak angkat itu mempunyai hak atas harta warisan dari orang tua angkatnya.  Dalam catatan Hilman Hadikusumo dalam bukunya Hukum Waris Adat (1980:90) maka di Jawa anak angkat itu dikatakan Ngangsu soko sumur loro, maksudnya ialah bahwa anak angkat itu mendapat warisan dari orang tua angkat dan orang tua asli. Namun menurut Keputusan Mahkamah  Agung tgl.18 Maret 1959, no.37/k/Sip/1959, anak angkat hanya dapat menerima  warisan  dari harta Gono-gini yaitu harta hasil pencaharian saja dan  tidak berhak atas harta asal. Hilman  Hadikusumo juga mencatat bahwa telah menjadi adat bahwa orang tua angkat melakukan wasiat atau hibah untuk anak angkat sebelum dia meninggal, karena dalam Hukum Waris Islam  anak angkat tidak mendapat hak mewasris.

Adat pengangkatan anak ini sangat marak dalam masyarakat  dari berbagai macam bangsa di mana-mana,  seperti dalam masyarakat Arab sendiri. Demikian juga di Indonesia misalnya di Minahasa mengangkat anak ini dinamai Ngaranan dan di Bali  disebut dengan Makehidang raga. Khusus di Indonesia, maka sidang  seminar Departemen Agama RI tanggal 5 s/d 9 April 1983 memutuskan untuk memberikan bagian harta warisan  kepada anak angkat  melalui dasar landasan Al-Quran berikut:

وَلِكُلٍّ جَعَلْنَا مَوَالِيَ مِمَّا تَرَكَ الْوَالِدَانِ وَالْأَقْرَبُونَ وَالَّذِينَ عَقَدَتْ أَيْمَانُكُمْ فَآتُوهُمْ نَصِيبَهُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدًا( النساء 33)

Artinya: Bagi tiap-tiap harta peninggalan dari harta yang ditinggalkan ibu bapak dan karib kerabat, Kami jadikan pewaris-pewarisnya. Dan (jika ada) orang-orang yang kamu telah bersumpah setia dengan mereka, maka berilah kepada mereka bahagiannya. Sesungguhnya Allah menyaksikan segala sesuatu”(S.4 An-Nisa` 33).

Berdasarkan bunyi lafalوالذين عقدت ايمانكم    (Walladzina ‘aqadat aimanukum) maksudnya ialah bahwa melalui lembaga yang disebut Al-Hilfu yaitu suatu sumpah setia persahabatan antar orang seorang  atau suatu kelompok dengan kelompok lain yang bersumpah setia menjunjung tinggi persaudaraan yang sangat erat sampai bahkan saling waris mewaris. Para ahli hukum Islam  memasukkan lembaga adopsi atau pengangkatan anak ini ke dalam lingkungan Sumpah Setia Persahabatan yang disebut-sebut Allah dalam Al-Quran S.4 An-Nisa` 33 ini.

Sidang seminar ini memberikan hak bagian warisan kepada anak angkat asal dalam pembagian warisan itu si pewaris (orang tua angkat) tidak meninggalkan ahli waris yang menghabiskan harta warisan.

Hazairin dalam bukunya Hukum Kewarisan Bilateral Menurut Al-Quran dan Hadith (1982:43) bahwa orang yang mengikat Perjanjian Pertolanan tersebut haruslah seseorang yang tidak mempunyai ahli  waris Ulul-arham sama sekali, jika di sana masih  ada ahli waris Ulul-arham, maka pewarisan yang didasarkan atas Pejanjian Pertolanan itu tidak boleh lebih  dari sepertiga warisan identik dengan hukum wasiat. (Persahabatan menurut istilah Hazairin Pertolanan).

Secara kritis faktor yang  menimbulkan adanya adat pengangkatan anak ini ada   dua  masalah, yaitu:

  1. a. Pengangkatan anak dapat dinilai sebagai suatu jalan menyalurkan rasa  kasih sayang dan cinta kasih seseorang kepada seorang anak, dengan cara mengasuh, mendidik dan membantu memenuhi segala keperluan pertumbuhannya serta mendewasakan diri sama sekali bukan dimaksud untuk memasukkan dia ke dalam wangsa keluarganya. Santunan ini  benar-benar sangat terpujidan sangat digalakkan oleh Allah dalam Al-Quran dalam banyak surat dan ayat.
  2. b. Adapun pengangkatan anak dengan maksud  seperti adat kebiasaan masyarakat Arab Jahiliyyah  dengan memasukkan  si anak itu ke dalam wangsa bapak angkat bahkan dia dipanggil  dikaitkan kepada nama bapak angkatnya sampai memberlakukan hukum perkawinan maupun hukum waris kepadanya, maka pengangkatan anak seperti inilah yang diharamkan oleh Allah melalui  Al-Quran S.33 Al-Ahzab 4, 5 dan 6 terurai  diatas.

6. Anak Asuh – Anak Yatim

Kata-kata Yatim asal dari bahasa Arab yang sudah masuk menjadi bahasa Indonesia. Asal katanya dari Al-Yatmu atau Al-Yutmu ( (اليتم – اليتم artinya sedih atau sendirian dan menurut Ar-Raghib (tth:575) lafal Al-Yatmu ini artinya terputus.  Lafal Al-Yatimu اليتيم ) ) artinya anak yang terputus dari bapaknya, yaitu bahwa sebelum dia meningkat dewasa bapaknya meninggal. Pengertian ini difaham dari  Al-Quran S.93 Adl-Dluha 3, Al-Yatim jamaknya Al-Yatama( اليتامي)    .

Kita semua benar-benar wajib berhati-hati menjaga harta milik anak yatim karena haram hukumnya  memakan harta anak yatim atau  mencampur  harta anak yatim masuk ke dalam  harta kita itu terlarang. Allah memperingatkan hal ini di dalam Al-Quran  S.4 An-Nisa` 10, S.17 Al-Isra`34. Orang yang beriman dilarang keras membuat reka yasa dengan niat untuk menggrogoti harta anak yatim S.4 An-Nisa` 3 dan   127.

Kita semua wajib menyantuni anak yatim tidak cukup hanya dengan menjaga hartanya saja, tetapi juga  harus bersikap yang santun, ramah dan tidak boleh menggertak dan harus berbuat ihsan  kepada mereka, mengingat Al-Quran S.93 Adl-Dluha 9; S.89 Al-Fajri 17; S.2 Al-Baqarah 83; S.4 An-Nisa` 36.

Cara menyantuni anak yatim itu mencakup pemberian bantuan materi, bingkisan hadiah, uang jaminan, bantuan dana terutama pendidikannya sebagaimana disinggung-singgung di dalam Al-Quran S.90 Al-Balad 15-19; S.76 Al-Insan 8; S.8 Al-Anfal 41; S.59 Al-Hasyr 7.

Rasulullah Saw. sangat bangga kepada para pengasuh anak yatim dan menyatakan sebagai  berikut:

5296  عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَافِلُ الْيَتِيمِ لَهُ أَوْ لِغَيْرِهِ أَنَا وَهُوَكَهَاتَيْنِ  فِي الْجَنَّةِ وَأَشَارَ مَالِكٌ بِالسَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى (رواه مسلم)*

Artinya:  “Orang yang menanggung anak yatim baik dari keluarganya sendiri atau dari orang lain, mak aku dengan dia itu persisi seperti  dua jari ii kelak di dalam surga. Beliau  memberi isyarat memperlihatkan jari telunjuk dengan jari tengah”(HR.Muslim).

Menyantuni anak yatim dengan model anak asuh atau dikeluargakan cara ini  merupakan jalan yang sangat tepat, sesuai dengan penafsiran penulis Al-Manar terhadap S.2 Al-Baqarah 220 lafal yang berbunyi :

وان تخالطوهم فاخوانكم (القرة 220)=Jika kamu campur mereka (di rumah) maka mereka itu adalah saudaramu. Ditafsirkannya sebagai berikut:

ان تعاملوهم معاملة لاخوة في ذلك فيكون اليتيم في البيت كالاخ الصغير (المنار ج2ص343)

Artinya:  “Hendaklah kalian menyantuni mereka  itu seperti mnyantuni  saudara sendiri  dalam hal ini sehingga anak yatim tersebut  persis seperti  adiknya sendiri yang kecil”(Al-Manar tth:Juz 2 /..343).

Mengasuh  anak dengan dikeluargakan maksudnya ialah menyantuni  anak kecil dengan cara dimasukkan sebagai keluarga sendiri tinggal serumah dengan menganggap mereka sebagai kelauarga sendiri,  makan minum bersama dengan santunan seluruh kebutuhan pertumbuhannya persis seperti anak sendiri.

Alangkah indahnya jika seandainya sistem pengangkatan anak atau sistem adopsi ini  mengambil anak yatim dengan sistem  anak yatim yang dikeluargakan menurut teori Muhammmad ‘Abduh tersebut dia atas. Sebab mengasuh  anak yatim merupakan suatu amal yang sangat mulia yang digalakkan diserukan dengan sanjungan dan pahala yang sangat besar.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: