Oleh: pondokquranhadis | September 30, 2010

PAILIT DAN BANGKRUT

010-9-21                                                                                                    Tafsir Tematis Kontemporer

PAILIT

(Bangkrut)

S.5 Al-Maidah 27-31

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ ابْنَيْ ءَادَمَ بِالْحَقِّ إِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنْ أَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الْآخَرِ قَالَ لَأَقْتُلَنَّكَ قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ(27)لَئِنْ بَسَطْتَ إِلَيَّ يَدَكَ لِتَقْتُلَنِي مَا أَنَا بِبَاسِطٍ يَدِيَ إِلَيْكَ لِأَقْتُلَكَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ رَبَّ الْعَالَمِينَ(28)إِنِّي أُرِيدُ أَنْ تَبُوءَ بِإِثْمِي وَإِثْمِكَ فَتَكُونَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ وَذَلِكَ جَزَاءُ الظَّالِمِينَ(29)فَطَوَّعَتْ لَهُ نَفْسُهُ قَتْلَ أَخِيهِ فَقَتَلَهُ فَأَصْبَحَ مِنَ الْخَاسِرِينَ(30)(المائدة 27-30)

Artinya

“Ceriterakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): “Aku pasti membunuhmu!” Berkata Habil: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa”.”Sungguh kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam.” “Sesungguhnya aku ingin agar kamu kembali dengan (membawa) dosaku dan dosamu sendiri, maka kamu akan menjadi penghuni neraka, dan yang demikian itulah pembalasan bagi orang-orang yang zalim.” Maka hawa nafsu Qabil menjadikannya menganggap mudah membunuh saudaranya, sebab itu dibunuhnyalah, maka jadilah ia seorang di antara orang-orang yang merugi. Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak  menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepadanya (Qabil yang  bagaimana dia seharusnya “(S.5 Al-Maidah 27-1)

Tema dan sari tilawah

  1. 1. Qabil dan Habil putera Nabi Adam melaksanakan Qurban
  2. 2. Qurban Habil diterim Allah, Qurban Qabil ditolak oleh Allah.
  3. 3. Qabil marah dan menantang membunuh, tetapi Habil  pasrah dan takut kepada Allah.tidak melayani Qabil.
  4. 4. Habil memperingatkan bahwa Qabil  akan memikul dosa  Habil  dan dosanya sendiri yang akan membawa diri ke neraka.
  5. 5. Qabil nekad membunuh Habil kemudian menyesal rugi.

Masalah dan analisa jawaban

1. Bagaimana hukum tentang Qurban itu? Jawaban sementara: Qurban itu  sikap mental melepaskan hak pribadi mencakup semua hak yang paling sederhana sampai harta bahkan nyawa demi untuk mendekatkan diri kepada  Allah.

2. Apa dan bagaimana syarat-syarat Qurban yang diterima Allah itu? Jawaban sementara: Syarat  diterimanya Qurban ialah tulus ikhlas melepaskan hak pribadi tersebut  betul-betul Lillah Ta’ala. Adapun  khusus untuk  Qurban ternak di Hari Raya Besar syaratnya ialah beberapa unsur agar hewan tersebut tidak ada cacat yang dapat mengurangi nilai.

3. Bagaimana masalahnya jika seorang pembunuh mempunyai amal ibadah secara Islami? Jawaban sementara: Orang  Islam yang melakukan perbuatan dosa kepada orang Islam, maka  pahala amal-ibadahnya  dipotong untuk  menebus dosa dia diberikan kepada orang yang dirugikan, kecuali jika penderita tersebut memaafkan..

Pendalaman dan penelitian

BAB  SATU

Hukum Qurban

Masalah ke-1: Bagaimana hukum tentang Qurban itu? Jawaban sementara: Qurban itu  sikap mental melepaskan hak pribadi mencakup semua hak yang paling sederhana sampai harta bahkan nyawa demi untuk mendekatkan diri kepada  Allah.

Istilh Kurban asal dari bahasa Arab, Qurban maksudnya ialah sesuatu yang dijadikan sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada yang di atas. Pada awalnya Qurban itu hanya digunakan untuk pengertian sesuatu yang dijadikan alat untuk mendekatkan  diri seorang  hamba kepada Allah.

Istilah Kurban berasal dari bahasa Arab Qurban maksudnya ialah sesuatu yang dijadikan sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada  yang di atas. Pada asalnya Qurban itu hanya dipergunakan  untuk sesuatu yang dijadikan alat untuk mendekatkan diri  seorang hamba kepada Allh sesuai dengan  sebagaimana kisah Qabil dan Habil putera Nabi Adam dalam Al-Quran S.5 Al-Maidah 27-30 yang tercatat di pokok bahasan di atas dan kisah Nabi Ibrahim dalam melaksanakan Qurban yang termaktub  dalam Al-Quran S.37 Ash-Shaffat  102-105  berikut:

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَابُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَاأَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ(102)فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ(103)وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَاإِبْرَاهِيمُ(104)قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ(105))الصافات 102-105)

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar. Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis (nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis (nya), (nyatalah kesabaran keduanya)” sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu”, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik”(S.37 Ash-Shaffat 102-105).

@ Tafsir  Ath-Thabari (10h203) dalam membahas Al-Quran s5a27-31 mencatat bahwa Habil memilih kurban yang dipersembahkan kepada Allah itu dipilihkan ternak yang paling bagus yang diharap akan mendapat Ridho Allah. Tetapi Qabil memilih benda kurbannya dipilihkan dari hasil bumi yang jelek dan tidak  ada keinginan  mengharap kepada Ridho Allah.

@Tafsir Ibnu Katsir (7h25) dalam membahas Qs37a90-91, mencatat bahwa rakyat Kerajaan Babilonia di bawah Raja Namrud mempersembahkan  kurban untuk berhala-berhala mereka  berupa hidangan makanan, maka Nabi Ibrahim bertanya kepada berhala-berhala itu: “Mengapa kamu tidak mau makan?” Mengapa kamu tidak mau menjawab?. Jadi di jaman purba manusia dalam menyembah berhala tuhan-tuhan mereka  dengan mempersembahkan kurban bewujud makanan.

@Tafsir Al-Qurthubi (1h304) menulis bahwa Kurban itu maksudnya ialah sarana untuk mendekatkan diri kepada yang di atas.

Kisah Nabi Ibrahim mengorbankan dan melepaskan  cintanya kepada Ismail ini menjadi  asas-dasar  hukum ibadah Qurban.  Sehingga yang dinamakan Qurban ialah merelakan  cinta seserang kepada apa yang dicintainya dilepaskan demi untuk mendekatkan diri kepada Allah, bahwa cinta kepada Allah harus dimenangkan sekaligus mengalahkan cinta seseorang kepada dan harta ataupun seluruh makhluk selain Allah.

Kemudian istilah ini berkembang masuk  dalam bahasa Indonesia  menjadi salah kaprah bahwa yang dinamakan korban itu ialah  sesuatu  yang dijadikan obyek atau penderita sebagai sasaran  perbuatan negatip dari orang lain, misalnya menjadi korban, dikorbankan dan sebagainya.

Qurban itu harus berwujud  sesuatu yang berharga mahal yang sangat  dicintainya. Sehingga dalam  melaksanakan ibadah Qurban  di Hari Raya 10 Dzulhijjah  itu harus dipilih yang sangat berharga  tidak boleh ada cacat atau cela yang dapat mengurangi harga hewan qurban. Dalam hal ini Rasulullah Saw bersabda:

عَنْ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ رَفَعَهُ قَالَ لَا يُضَحَّى بِالْعَرْجَاءِ بَيِّنٌ ظَلَعُهَا وَلَا بِالْعَوْرَاءِ بَيِّنٌ عَوَرُهَا وَلَا بِالْمَرِيضَةِ بَيِّنٌ مَرَضُهَا وَلَا بِالْعَجْفَاءِ الَّتِي لَا تُنْقِي (رواه الترمذي 1417)

” Dari Al Bara`  bin ‘Azib ia memarfu’kannya kepada Nabi Saw, beliau bersabda: “Tidak boleh berkurban dengan kambing pincang dan jelas kepincangannya, atau kambing yang buta sebelah dan jelas butanya, atau kambing yang sakit dan jelas sakitnya, atau kurus yang tidak bersumsum (tidak berdaging)”(HR Turmudzi no.1417 dishahihkan oleh Ibnu Hibban dan Al-Hakim).

BAB  DUA

Syarat-syarat Qurban

Masalah ke-2: Apa dan bagaimana syarat-syarat Qurban yang diterima oleh Allah itu? Jawaban sementara: Syarat  amalan  Qurban ialah niat dengan  tulus ikhlas melepaskan hak pribadi atas sesuatu yang sangat dicintainya itu  betul-betul Lillah Ta’ala. Adapun  khusus untuk  Qurban ternak di Hari Raya Besar syaratnya ialah unsur-unsur agar hewan tersebut tidak ada cacat yang dapat mengurangi nilai.

Adapun syarat agar supaya Qurban itu diterim oleh Allah maka salah satu  dasar hukumnya dapat diambil dari  kisah Qabil dan Habil putera Nabi Adam ketika keduanya melakukan Qurban yang dipersembahkan kepada Allah, bahwa Qurbn yang diterima Allah ialah Qurban yang didasarkan atas rasa Taqwa kepada Allah, Habil memilih Qurbannya dipilih ternak yang paling bagus, paling gemuk, sehingga qurban Habil diterima oleh Allah  tetapi qurban dari Qabil ditolak oleh Allah sebab Qabil tidak taqwa dia memilih benda qurbannya dipilihkan yang  tidak disukai Allah difahamkan dari firman Allah dalam  Al-Quran S.37 Ash-Shaffat 27-30 di atas.

Adapun  ibadah kurban dengan menyembelih  ternak pada hari Raya ‘Idul Ad-ha bahkan seluruh amalan Qurban dalam semua bidang apapun juga, maka syarat untuk dapat diterimanya suatu pengorbanan kepada Allah itu ialah: (1) Sesuatu yang memang sangat dicintai. (2) Sungguh-sungguh tulus ikhlas  Lillahi Ta’ala.

Ad 1. Sesuatu yang sangat dicintainya.

Dalam hal hewan yang dipilih untuk menjadi ternak kurban ini juga harus dipilihkan yang  sangat dicintai  oleh orang yang akan melakukan ibadah kurban kalau dapat meniru persis atau mirip mendekati contoh kepasrahan Nabi Ibrahim melepaskan cintanya kepada  Isma’il putera beliau, atau mengikuti  firman Allah dalam Al-Quran:

لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ ( ال عمران 92)

“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya”(S.3 Ali ‘Imran 92)

Orang mukmin yang imannya sangat mendalam maka  cintanya kepada Allah mengalahkan cintanya kepada apapun juga selain Allah, mentaati firman Allah dalam Al-Quran:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ ءَامَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُوا إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا وَأَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ(البقرة 165)

“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman lebih cinta kepada Allah” (S.2 Al-Baqarah 165).

وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ نَفَقَةٍ أَوْ نَذَرْتُمْ مِنْ نَذْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُهُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ(270)إِنْ تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَيُكَفِّرُ عَنْكُمْ مِنْ سَيِّئَاتِكُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ(271)

“Apa saja yang kamu nafkahkan atau apa saja yang kamu nazarkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya. Orang-orang yang berbuat zalim tidak ada seorang penolongpun baginya. Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”(S.2 Al-Baqarah 270-271).

Dalam melakukan ibadah Qurban, bahkan berbuat amal apa saja  jangan dipilihkan yang paling jelek yang pemiliknya sendiri  tidak mau melihatnya. Secara umum berlaku atas semua amalan kurban ataupun  darma bakti  perjuangan Jihad fi Sabilillah manapun juga, Allah meminta kepada kita:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَنْفِقُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَلَا تَيَمَّمُوا الْخَبِيثَ مِنْهُ تُنْفِقُونَ وَلَسْتُمْ بِآخِذِيهِ إِلَّا أَنْ تُغْمِضُوا فِيهِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ( البقرة 267)

“Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu nafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji”(S.2 Al-Barah 267).

Ad.2Mempersembahkan Qurban harus ikhlas Lillah Ta’ala

Rasa tulus ikhlas dalam berkurban dapat kita perhatikan contoh sebagai berikut:

Tafsir Ath-Thabari (8h221) dalam menganalisa Qs4a29 mengaitkannya dengan hadis Bukhari no.620 bahwa ada 7 hamba Allah yang akan mendapat perlindungan Allah sebab karena salah satu cirinya ialah rasa tulis ikhlas Lillahi Ta’ala yang sangat mendalam.

Ada 7 macam orang yang sangat  berbahagia di hadapan Allah mendapat pengayoman Allah di hari kiamat, sebab karena  tulus ikhalasnya  Lilahi Ta’ala dengan sungguh-sungguh, yang disebut dalam hadis Rasul Saw berikut:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ الْإِمَامُ الْعَادِلُ وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ رَبِّهِ وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ وَرَجُلٌ طَلَبَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ أَخْفَى حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ (رواه البخاري 620 ومسلم 1712)

Dari Abu Hurairah bahwa  Nabi Saw  bersabda: “Ada tujuh golongan manusia yang akan mendapat naungan Allah pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya; pemimpin yang adil, seorang pemuda yang menyibukkan dirinya dengan ‘ibadah kepada Tuhan-nya, seorang laki-laki yang hatinya terikat lengket  dengan masjid, dua orang laki-laki yang saling mencintai karena Allah; mereka tidak bertemu kecuali karena Allah dan berpisah karena Allah, seorang laki-laki yang diajak berbuat maksiat oleh seorang wanita kaya lagi cantik lalu dia berkata, “Aku takut kepada Allah”, dan seorang yang bersedekah dengan menyembunyikannya hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya, serta seorang laki-laki yang berdzikir kepada Allah dengan mengasingkan diri hingga kedua matanya basah karena menangis”(HR Bukhari no.620 dan Muslim no.1712.)

@ Tafsir Ibnu Katsir (1h702) menekankan bahwa  rasa tulus ikhlas Lillahi Ta’la  itu harus mengikuti Al-Quran s2a270-271 dikaitkan dengan hadis Turmudzi 3291 bahwa rasa tulus ikhlas  Lillahi Ta’ala  itu mempunyai kekuatan yang luar biasa mengalahkan kekuatan yang ada di alam ini:

وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ نَفَقَةٍ أَوْ نَذَرْتُمْ مِنْ نَذْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُهُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ()إِنْ تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَيُكَفِّرُ عَنْكُمْ مِنْ سَيِّئَاتِكُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ(البقرة 270-271)

“Apa saja yang kamu nafkahkan atau apa saja yang kamu nazarkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya. Orang-orang yang berbuat zalim tidak ada seorang penolongpun baginya. Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”(S.2 Al-Baqarah 270-271).

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَمَّا خَلَقَ اللَّهُ الْأَرْضَ جَعَلَتْ تَمِيدُ فَخَلَقَ الْجِبَالَ فَعَادَ بِهَا عَلَيْهَا فَاسْتَقَرَّتْ فَعَجِبَتْ الْمَلَائِكَةُ مِنْ شِدَّةِ الْجِبَالِ قَالُوا يَا رَبِّ هَلْ مِنْ خَلْقِكَ شَيْءٌ أَشَدُّ مِنْ الْجِبَالِ قَالَ نَعَمْ الْحَدِيدُ قَالُوا يَا رَبِّ فَهَلْ مِنْ خَلْقِكَ شَيْءٌ أَشَدُّ مِنْ الْحَدِيدِ قَالَ نَعَمْ النَّارُ فَقَالُوا يَا رَبِّ فَهَلْ مِنْ خَلْقِكَ شَيْءٌ أَشَدُّ مِنْ النَّارِ قَالَ نَعَمْ الْمَاءُ قَالُوا يَا رَبِّ فَهَلْ مِنْ خَلْقِكَ شَيْءٌ أَشَدُّ مِنْ الْمَاءِ قَالَ نَعَمْ الرِّيحُ قَالُوا يَا رَبِّ فَهَلْ مِنْ خَلْقِكَ شَيْءٌ أَشَدُّ مِنْ الرِّيحِ قَالَ نَعَمْ ابْنُ آدَمَ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ بِيَمِينِهِ يُخْفِيهَا مِنْ شِمَالِهِ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ لَا نَعْرِفُهُ مَرْفُوعًا إِلَّا مِنْ هَذَا الْوَجْه(ِرواه الترمذي 3291)

“Dari Anas bin Malik dari Nabi Saw bahwa beliau bersabda: “Tatkala Allah menciptakan bumi, maka bumi bergoncang, kemudian Allah menciptakan gunung lalu meletakkannya di atas bumi tersebut sehingga bumi menjadi tenang. Dan para malaikat merasa kagum terhadap kerasnya gunung-gunung tersebut. Mereka berkata; “Wahai Tuhanku, apakah diantara makhlukmu terdapat sesuatu yang lebih keras daripada gunung? Allah berfirman: “Ya, api.” Kemudian mereka berkata; “Wahai Tuhanku, apakah diantara makhlukMu terdapat sesuatu yang lebih keras daripada api? Allah berfirman: “Ya, air” Mereka berkata; “Wahai Tuhanku, apakah diantara makhlukMu terdapat sesuatu yang lebih keras daripada air? Allah berfirman: “Ya, angin”. Mereka berkata; “Wahai Tuhanku, apakah diantara makhlukMu terdapat sesuatu yang lebih keras daripada angin? Allah berfirman: “Ya, anak Adam. Ia bersedekah dengan sebuah sedekah dengan tangan kanannya dan menyembunyikannya dari tangan kirinya” (HR Turmudzi no. 3291).

Jadi  hati yang tulus  ihklas Lillahi Ta’ala itu mengalahkan kekuatan angin, air, api, besi sampai kekuatan gunung. Demikian juga sodaqoh yang dirahasiakan itu menghilangkan murka Allah, kemudian Ibnu Katsir mengaitkannya juga dengan kedermawanan ‘Umar yang membayar infaq dalam persiapan Perang Tabuk dengan separuh hartanya, Abu Bakar seluruh harta.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الصَّدَقَةَ لَتُطْفِئُ غَضَبَ الرَّبِّ وَتَدْفَعُ عَنْ مِيتَةِ السُّوءِ (رواه الترمذي 600)

“Dari Anas bin Malik dia berkata, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya shadaqah itu menghindarkan dari murka Allah dan menghindarkan seseorang dari meninggal dalam kedaan yang buruk (su’ul khatimah) “(HR Turmudzi  no.600).

عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ عَنْ أَبِيهِ قَال سَمِعْتُ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ يَقُولُ أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ نَتَصَدَّقَ فَوَافَقَ ذَلِكَ عِنْدِي مَالًا فَقُلْتُ الْيَوْمَ أَسْبِقُ أَبَا بَكْرٍ إِنْ سَبَقْتُهُ يَوْمًا قَالَ فَجِئْتُ بِنِصْفِ مَالِي فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا أَبْقَيْتَ لِأَهْلِكَ قُلْتُ مِثْلَهُ وَأَتَى أَبُو بَكْرٍ بِكُلِّ مَا عِنْدَهُ فَقَالَ يَا أَبَا بَكْرٍ مَا أَبْقَيْتَ لِأَهْلِكَ قَالَ أَبْقَيْتُ لَهُمْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ قُلْتُ وَاللَّهِ لَا أَسْبِقُهُ إِلَى شَيْءٍ أَبَدًا (رواه الترمذي 308 وابو داود 1429)

“Dari Zaid bin Aslam dari ayahnya dia berkata; saya mendengar Umar bin Khattab berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kepada kami untuk bersedekah, bertepatan dengan itu, aku mempunyai harta, aku berkata (dalam hati); “pada hari ini, aku lebih unggul dari pada Abu Bakar, jika aku lebih dulu, Umar berkata; lalu aku datang dengan setengah dari hartaku.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apa yang kamu sisakan buat keluargamu?”, jawabku; “Sepertinya itu.” Lalu Abu Bakar datang dengan membawa seluruh yang ia punyai. beliau bertanya: “Apa yang kamu sisakan buat keluargamu?” Dia menjawab; “Aku sisakan untuk mereka Allah dan Rasul-Nya.” Maka aku berkata; “Demi Allah. aku tidak pernah bisa mengunggulinya terhadap sesuatupun selamanya.” (HR Turmudzi no.3608 dan Abu Dawud no.1429)

Pokoknya Qurban itu tidak hanya dalam rangka Hari Raya Qurban tetapi  mencakup  semua Qurban untuk mendekatkan diri hamba kepada Allah  adalah sesuatu yang nilainya tinggi  sekali dan   sangat dicintai kemudian diserahkan kepada Allah dengan tulus ikhlas Lillahi Ta’ala. Lawannya ialah   melepaskan sesuatu yang tidak berharga bagi pemilik, sesuatu yang tidak disukai  atau  melepaskannya merasa terpksa dan tidak rela  maka  namanya BUKAN Qurban, hampir sama dengan membuang kotoran  atau membuang sampah.

BAB  TIGA

Pailit  alias  bangkrut

Masalah ke-3: Bagaimana masalahnya jika seorang pembunuh mempunyai amal ibadah secara Islami? Jawaban sementara: Orang  Islam yang melakukan perbuatan dosa kepada orang Islam, maka  pahala amal-ibadahnya  dipotong untuk  menebus dosa dia kepada orang yang dirugikan, kecuali jika penderita tersebut memaafkannya.

Para ahli pikir dari jaman purba sampai jaman mutaakhir, dari jaman Epicuros-Yunani sampai Muhaqmmad ‘Abduh (1905M) berpendapat bahwa yng dinamakan BAIK itu ialah sesuatu yang membawa kepada kebahagiaan, sebaliknya yang dinamakan BURUK itu ialah sesuatu yang membawa kepada tidak enak atau derita sengsara. Dengan kata lain yang dinamakan  baik itu ialah suatu  amal soleh  yang menyenangkan sebaliknya yang jelek itu ialah perbuatan  maksiat, durhaka kepada Allah, amal soleh itu persis  dengan tabungan sebaliknya perbuatan maksiat itu menyakitkan hati orang banyak persis seperti hutang atau pinjaman, amal soleh itu akan membawa hamba  naik ke surga, sebaliknya  perbuatan maksiat itu akan menyeret  manusia ke dalam neraka.

Perbandingan

Yang  BAIK Yang BURUK
1 Yang baik itu Amal soleh 1 Yang buruk=Jahat,zalim,
2 Enak, membahagiakan 2 Serba derita,menyakitkan
3 Menyenangkan,mnyehatkan 3 Tidak menyenangkan
4 Nilainya positip 4 Nilainya negatip
5 Nilainya Plus 5 Nilainya negatip
6 Dapat dianggap tabungan 6 Sama dengan hutang(bon)
7 Derajatnya tinggi (luhur) 7 Derajatnya rendah (Asor)
8 Bisa mengangkat ke surga 8 Menyeret masukkeneraka

Dalam Rukun Iman diajarkan bahwa kelak manusia akan menghadap kepada Tuhan melalui pemeriksan dan perhitungan amal soleh ditimbang dengan perbuatan maksiat. Amal soleh itu ialah apa yang tercakup dalam Rukun Iman, Rukun Islam, Akhlaqul Karimah, lawannya ialah kafir, maksiat dan durhaka atau  zalim alias jahat.

Kafir dan maksiat atau durhaka itu urusan Allah, tetapi akhlaq itu sangat terikat dengan hubungan antar manusia dengan manusia.

Perbuatan buruk kepada Allah atau dosa kepada Allah masih ada celah, mungkin Allah akan mengampuni hamba (kecuali musyrik) untuk mendapat  anugerah rahmat Allah. Tetapi dosa karena perbuatan buruk, zalim, jahat, menyakitkan orang lain maka Allah tidak berkehendak mengampuni, sehingga pelaku perbuatan buruk, jahat, zalim  kepada sesama manusia harus meminta maaf kepada manusia yang disalahi dan orang  yang dizalimi. Jika penderitanya sudah memberi maaf maka pelaku zalim  tadi lepas dari azab dosanya kepada penderita, jika penderita atau orang yang dizalimi  itu tidak memaafkan atau pelaku belum meminta maaf kepada penderita kezalimannya maka dari pelaku akan diambil  pahala amalnya (Jika dia  mempunyai amal soleh) dipotong lalu dibayarkan kepada penderita sasaran kezaliman dia.

Dengan kata lain  uang untuk membeli karcis masuk surga pelaku zalim tadi:

~ Dipotong dibayarkan kepada penderita kezalimannya;

~Jika uangnya kurang diambilkan dari tabungannya di rumah atau di Bank  dipotong  lalu dibayarkan kepada penderita kezaliman dia:

~Jika  tabungannya  hanya sedikit diambil semua dibayarkan kepada  semua penderita kezalimannya:

~Jika tidak mempunyai  tabungan  maka harta kekayaannya dibeslah, dirampas untuk membayar hutang-hutangnya kepada siapa saja yang dizalimi:

~Jika semua tabungan dan seluruh  harta sudah habis padahal hutangnya masih banyak sekali maka   dosa-dosa  semua orang yang dizalimi dikumpulkan  untuk dipikulkan kepada pelaku perbuatan zalim tadi  sehingga dia memikul dosa semua orang yang dizalimi diwaktu  hidup di dunia., kemdian dia dilemparkan ke dalam neraka.

Inilah gambaran  kita dalam memahami hadis Rasul Saw yang telah diteliti oleh Muslim dalam kitab shahihnya:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ فَقَالَ إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ(رواه مسلم 4678)

“Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Saw pernah bertanya kepada para sahabat:

“Tahukah kalian, siapakah orang yang bangkrut itu?”

+Para sahabat menjawab; ‘Menurut kami, orang yang bangkrut diantara kami adalah orang yang tidak memiliki uang dan harta kekayaan.

-Rasulullah Saw  bersabda: ‘Sesungguhnya umatku yang bangkrut adalah orang yang pada hari kiamat datang dengan shalat, puasa, dan zakat, tetapi ia selalu mencaci-maki, menuduh, dan makan harta orang lain serta membunuh dan menyakiti orang lain. Setelah itu, pahalanya diambil untuk diberikan kepada setiap orang dari mereka hingga pahalanya habis, sementara tuntutan mereka banyak yang belum terpenuhi. Selanjutnya, sebagian dosa dari setiap orang dari mereka diambil untuk dibebankan kepada orang tersebut, hingga akhirnya ia dilemparkan ke neraka.'(HR Muslim 4678).

Kisah  Qabil yang membunuh Habil yang  termaktub dalam Al-Quran s5a28,  diterangkan di sana  bahwa Qabil harus memikul  dosa Habil  yang dia bunuh itu.

Tercatat dalam beberapa kitab Tafsir Al-Quran  sebagai berikut:

@Tafsir Al-Bahrul Madid (2h54) mencatat bahwa  Habil menyatakan jika Qabil membunuh maka Habil tidak akan membalas. Maka Qabil menanggung dosa telah menyakiti terbunuh (penderita kezaliman) se))bagaimana sabda Rasulullah Saw dalam shahih  Muslim no.4678. Ulama Tafsir ini memahami Al-Quran s5a28 tersebut bahwa  dosa Habil yang terbunuh dipikul oleh Qabil pembunuh: { وذلك جزاء الظالمين }

@Tafsir Haqqi, Al-Qurthubi, Ibnu Katsir, Al-Baghawi dalam menfasirkan Al-Quran s5a28 pun juga mengaitkannya dengan hadis Muslim  no.4678  di atas.

Rasulullah Saw  menegaskan bahwa  siapa saja yang melakukan kezaliman kepada orang lain seperti:

  1. Mencaci-maki, mengucapkan kata-kata yang kotor ;
  2. Menuduh zina, mencuri, menipu atau menuduh jelek ;
  3. Suka memakan harta orang lain, ngenthit, doyanan, korupsi, curang, mengurangi timbangan dan ukuran;
  4. Membunuh, menjadi otak pembunuhan, membunuh karakter, membunuh hak usaha&hak asasi manusi;
  5. Menyakiti orang lain, menyakitkan hati, menusuk perasaan, menyinggung kehorhatan orang lain

Maka hendaklah pelaku  perbuatan ini segera meminta maaf sampai  lego-lilo (Halal-bihalal) dengan orang yang dizalimi itu. Rasulullah Saw bersabda dalam sebuah  hadis:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لِأَخِيهِ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ شَيْءٍ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ الْيَوْمَ قَبْلَ أَنْ لَا يَكُونَ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِ مَظْلَمَتِهِ وَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ (رواه البخاري 2269) وفيي لفظ ((وَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ حَمَّلُوا عَلَيْهِ مِنْ سَيِّئَاتِهِمْ ))و الترمذي 2343)

“Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah Saw  bersabda: “Siapa yang pernah berbuat aniaya (zhalim) terhadap kehormatan saudaranya atau sesuatu apapun hendaklah dia meminta kehalalannya (maaf) pada hari ini (di dunia) sebelum datang hari yang ketika itu tidak bermanfaat dinar dan dirham. Jika dia tidak lakukan, maka (nanti pada hari qiyamat) bila dia memiliki amal shalih akan diambil darinya sebanyak kezholimannya. Apabila dia tidak memiliki kebaikan lagi maka dosa (keburukan) saudaranya yang dizholiminya itu akan diambil lalu disemprotkan kepadanya”(HR Bukhari no.2269). Turmudzi meriwayatkan dengan bunyi yang artinya: “Jika pahala amal baiknya sudah habis maka dosa kesalahan  orang banyak yang dizalimi diambil lalu dipikulkan kepada dia tadi” (Turmudzi2343).

Jika orang yang dizalimi memberi maaf maka hukuman atau azab menjadi terhapus bahkan dosa membunuh sekalipun jika keluarga yang terbunuh  memaafkan maka  azab atau hukuman atas dia dihapus.

Allah berfirman dalam Al-Quran:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِصَاصُ فِي الْقَتْلَى الْحُرُّ بِالْحُرِّ وَالْعَبْدُ بِالْعَبْدِ وَالْأُنْثَى بِالْأُنْثَى فَمَنْ عُفِيَ لَهُ مِنْ أَخِيهِ شَيْءٌ فَاتِّبَاعٌ بِالْمَعْرُوفِ وَأَدَاءٌ إِلَيْهِ بِإِحْسَانٍ ذَلِكَ تَخْفِيفٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَرَحْمَةٌ فَمَنِ اعْتَدَى بَعْدَ ذَلِكَ فَلَهُ عَذَابٌ أَلِيمٌ( البقرة 178)

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishaash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba dan wanita dengan wanita. Maka barangsiapa yang mendapat suatu pema`afan dari saudaranya, hendaklah (yang mema`afkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi ma`af) membayar (diat) kepada yang memberi ma`af dengan cara yang baik (pula). Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Tuhan kamu dan suatu rahmat. Barangsiapa yang melampaui batas sesudah itu, maka baginya siksa yang sangat pedih”(.2 Al-Baqarah 178)

Natijah: Al-Quran S.5 Al-Maidah 27-30 dan S.37 Ash-Shaffat 102-105 memberikan petunjuk  masalah Qurban, Qurban yang diterima Allah dan dalam kaitannya dengan hadis Muslim no.4678 maka disimpulkan sebagai berikut:

1. Qurban itu harus sesuatu yang nilainya sangat tinggi.

2. Qurban itu harus  tulus ikhlas Lillahi Ta’ala.

3. Siapa saja yang berbuat zalim maka dia akan memikul dan menanggung dosanya orang yang dizalimi, kecuali jika  penderitanya memberi maaf, sehingga pelaku perbuatan zalim wajib meminta maaf kepada semua orang yang dizalimi itu.

Taqabbala Allah minna wa minkum

Silahkan buka internet situs : http://pondoquranhadis.wordpress.com

Kirimkan naskah ke Email::pondokilmu7@gmail.com-Tlp:0318963843


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: