Oleh: pondokquranhadis | Oktober 5, 2010

NABI SULAIMAN YANG BIJAKSANA

010-9-14                                                                                        Tafsir Tematis Kontemporer

Putusan  N.Sulaiman yang Bijaksana

Pengantar

Beberapa  waktu yang lalu Majelis Ulama  Indonesia melalui Musyawarah Nasional di Padang menetapkan beberapa keputusan, maka  dua keputusan dari keputusan-keputusan yang lain telah mendapat sanggahan beberapa kelompok masyarakat, yaitu haramnya rokok dan haramnya Golput.

@ Haramnya rokok telah mendapat sanggahan  dari PB NU Hasyim Muzadi, Ketua PP Muhammadiyah Din Syamsuddin, Sekr Wapres Bidang Kesra Azyumardi Azra, Ketua DPD Kudus Asyrofi, Majelis Ulama Jember, karena masyarakat sudah terbelenggu oleh godaan rokok mereka tidak sefaham dengan  keputusan MUI Pusat tentang  haramnya rokok itu. Sebetulnya para ulama Nahdhiyyin  sudah cukup lama  menetapkan bahwa rokok itu hukumnya makruh sedangkan para pakar kesehatan menyatakan bahwa rokok itu sangat membahayakan pengidap rokok dan orang-orang di sekitar peminum rokok itu.

@ Haramnya Golput dalam Pemilu  mendapat sanggahan sebagian dari  tokoh di atas dan mereka  yang cenderung kearah faham kebebasan dan mengunggulkan Hak Asasi Manusia. Dalam Islam  kebebasan mutlak itu tidak ada  sebaliknya kebenaran dan keadilan Tuhan-lah wajib ditaati dan dibela secara maksimal.

@ Berikut merupakan uraian pendalaman  masalah bagaimana metode pencegahan dan pembrantasan  adat kebiasaan masyarakat yang dinilai tidak benar dan tidak baik menurut ukuran Allah.

Ada dua masalah yang harus dialkukan dengan sangat hati-hati penuh bijaksana menurut kacamata Al-Quran dan hadis, yaitu:

  1. Keputusan yang bijaksana
  2. Haramnya Rokok

1.Keputusan  yang  Bijaksana

S.21 Al-Anbiya`78-79

وَدَاوُدَ وَسُلَيْمَانَ إِذْ يَحْكُمَانِ فِي الْحَرْثِ إِذْ نَفَشَتْ فِيهِ غَنَمُ الْقَوْمِ وَكُنَّا لِحُكْمِهِمْ شَاهِدِينَ()فَفَهَّمْنَاهَا سُلَيْمَانَ وَكُلًّا ءَاتَيْنَا حُكْمًا وَعِلْمًا وَسَخَّرْنَا مَعَ دَاوُدَ الْجِبَالَ يُسَبِّحْنَ وَالطَّيْرَ وَكُنَّا فَاعِلِينَ (الانبياء 78-79)

Dan (ingatlah kisah) Daud dan Sulaiman, di waktu keduanya memberikan keputusan mengenai tanaman, karena tanaman itu dirusak oleh kambing-kambing kepunyaan kaumnya. Dan adalah Kami menyaksikan keputusan yang diberikan oleh mereka itu, maka Kami telah memberikan pengertian kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat); dan kepada masing-masing mereka telah Kami berikan hikmah dan ilmu dan telah Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung, semua bertasbih bersama Daud. Dan Kamilah yang melakukannya”(S.21 Al-AQnbiya` 78-79)\

Tema dan Sari tilawah

  1. 1. Dawud dan Sulaiman adalah kepala negara  sekaligus Nabi
  2. 2. Sebagai kepala negara bertugas juga melaksanakan hukum dan perundang-undangan
  3. 3. Sebagai pejabat pengambil keputusan maka seseorang wajib berlaku adil dan bijaksana dalam menetapkan  keputusan hukum.
  4. 4. Ada kasus  masalah kambing dan masalah perebutan anak bayi oleh dua orang perempuan yang meminta keadilan kepada Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman.
  5. 5. Keputusan Nabi Sulaiman atas mereka sangat bijaksana dan penuh keadilan.

Masalah dan analisa jawaban

1. Bagaimana skala  prioritas wewenang hukum menurut ajaran Islam?  Jawaban: Tertib urutan skala prioritas kekuasaan dan sumber hukum dalam Islam yang tertinggi ialah Al-Quran lalu hadis kemudian ijtihad ulama mujtahid.

2.Bagaimana metode pengambilan keputusan untuk membrantas adat kebiasaan yang sudah lengket menjadi adat yang sangat sukar untuk dibrantas tetapi  bertentangan dengan aturan hukum Allah? Kebenaran wajib dijunjung tinggi dan tehnis pelaksanaannya harus melalui kebijaksanaan yang taktis metodik dedaktis sampai berhasil sukses dalam hal ini ialah masalah :

a) Judi. b) Minuman keras-Khamr. c) Rokok.

3. Persyaratan apa saja agar supaya seorang pemimpin dapat mengambil keputuan yang bijaksana itu? Seorang pejabat pengambil keputusan harus mempunyai wawasan yang luas, ilmu yang lengkap, sehingga  keputusannya  sangat  tepat.

Pendalaman dan penelitian

BAB  SATU

Peringkat wewenang dan sumber hukum

Masalah ke-1: Bagaimana skala  prioritas wewenang hukum menurut ajaran Islam?  Jawaban: Tertib urutan skala prioritas kekuasaan dan sumber hukum dalam Islam yang tertinggi ialah Al-Quran lalu hadis kemudian ijtihad ulama.

@ Peringkat sumber

Sebagai umat yang beriman  kita yakin kepada adanya  Al-Khaliq Tuhan Maha Pencipta makhluk dan manusia adalah sebagian dari makhluk ciptaan Tuhan. Tuhan itu Maha Sempurna Mutlak  Maha sedangkan “makhluk” itu serba kurang sempurna, manusia itu tempat salah dan lupa. Dan diantara makhluk ciptaan Allah itu ialah makhluk manusia, kemudian diantara manusia itu ada manusia yang dipilih oleh Tuhan untuk dijadikan perantara antara Tuhan dengan makhluk untuk  menerima ilmu Tuhan, perantara itu ialah para nabi dan rasul. Dalam agama Islam nabi dan rasul itu ada 25 orang. Nabi Muhammad Saw. adalah nabi dan rasul terakhir yang dipilih oleh Allah untuk  menerima ilmu Allah yaitu wahyu yang kemudian dihimpun menjadi kitab suci Al-Quran.

Nabi dan rasul memang benar-benar berada di bawah tuntunan dan pengawas       yang sangat ketat  langsung dari Allah, jika dia tidak tahu akan diberi tahu oleh Allah, jika dia bertanya pasti dijawab oleh Allah. Maka dari itu nabi dan rasul adalah Ma’sum artinya suci dari dosa, jauh dari kekeliruan jika dia keliru maka  oleh Allah diluruskan  dan diarahkan kepada yang benar.

Khusus untuk  Nabi Muhammad Saw. seluruh ucapan, perbuatan dan gerak gerik maupun sikap Nabi Saw. ini dinamakan hadis atau sunnah.

Diteliti dari peringkat kebenaran, maka kebenaran dari Allah mengalahkan kebenaran yang sumbernya dari makhluk manusia. Rasul sebagai manusia yang Ma’shum,  mendapat wahyu dari Allah, yang secara ketat dijaga oleh Allah dari dosa dan  kekeliruan, maka  kebenarannya  mengalahkan akal manusia yang tidak diberi wahyu, yang tidak dibimbing oleh Allah yang tidak dijaga  oleh Allah dari kekeliruannya.

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا( النساء 59)

Hai orang-orang yang beriman, ta`atilah Allah dan ta`atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”(S.4 An-Nisa` 39).

Dan secara sederhana, maka peringkat kebenaran ditinjau dari sisi sumbernya adalah sebagai berikut:

  1. i. Kebenaran wahyu Al-Quran tidak dapat dikalahkan  oleh dalil dari manapun juga.
  2. ii. Kebenaran hadis Nabi dibawah tingkat wahyu  tetapi mengalahkan  ijtihad akal manusia yang bukan nabi.
    1. iii. Kebenaran hasil ijtihad akal manusia biasa dikalahkan oleh wahyu dan hadis.

BAB  DUA

Metodis, sistematis, bijaksana

Masalah ke-2: Bagaimana metode pengambilan keputusan untuk membrantas adat kebiasaan yang sudah lengket menjadi adat yang sangat sukar untuk dibrantas yang bertentangan dengan hukum Allah? Kebenaran itu wajib dijunjung tinggi dan tehnis pelaksanaannya harus melalui kebijaksanaan yang taktis metodik dedaktis sampai berhasil sukses.

Salah satu adat istiadat yang bertentangan dengan hukum Allah ialah adat minum khamr dan berjudi. Minum khamr dan berjudi merupakan suatu adat istiadat masyarakat Arab Jahiliyah yang sudah lengket sangat sukar sekali  dibrantas, sehingga cara untuk membrantasnya memerlukan taktik-strategi dan metode yang diduga  sebagai cara yang sangat tepat.

Sekarang timbul masalah yaitu bagaimana hukumnya rokok itu. Para pakar kesehatan menyatakan bahwa rokok  itu satu kelompok  dengan  narkotika, sabu-sabu, minuman keras dan mereka menyatakan bahwa rokok itu membahayakan bukan hanya kepada pelakunya saja tetapi juga membayakan orang di dekatnya. Seluruh spanduk, brosur, iklan rokok semua mencantumkan bahwa rokok itu dapat membahayakan kesehatan.

Kemudian minum minuman keras itu sangat erat terkait dengan perjudian maupun ramal meramal, maka dari itu Allah dalam mengharamkan judi ini dibarengkan dengan larangan minum khamr. Dibawah ini dikemukakan tahap-tahap turunnya Al-Qura>n yang melarang adat berjudi dan ramal-meramal, yaitu sebagai berikut:

I. Berjudi dan  bertaruh

Adat kebiasaan bertaruh sebagai cara   berjudi memang sudah begitu melekat pada adat masyarakat, sampai Abu Bakar-pun juga ikut melakukan taruhan dan memperoleh kemenangan menerima 100 ekor onta dari lawannya, sebagaimana dikisahkan dalam riwayat berikut:

Ibnu Ibnu Masu>d memberitakan bahwa pada waktu kerajaan Persi berhasil  mengalahkan kerajaan Romawi kaum musyrikin mengajak Abu> Bakar untuk bertaruh.  Waktu itu Al-Qura>n S.30 Ar-Ru>ma 1-3 turun bahwa kerajaan Romawi akan dikalahkan oleh Persi dan tidak lama lagi Romawi akan mengalahkan Persi;  Maka Abu> Bakar meramalkan bahwa Kerajaan Romawi akan mengalahkan  kerajaan Persi tidak lebih dari 8 tahun bahkan bisa kurang dari 8 tahun. Tiba-tiba pada tahun ke-7 sesudah peristiwa ramal-meramal antara kaum musyrikin dengan Abu> Bakar itu terjadi betul-betul tentara Romawi dapat mengalahkan pasukan Persi, yaitu pada tahun 2H.. Kemudian turun al-Qura>n S.30 Ar-Ru>m 4-5, yaitu:

Periode Makkah

a.- Sebelum terjadi taruhan dan meramal ini  turun Al-Qura>n S.30 Ar-Rum 1-2:

“Alif Laam Miim. Telah dikalahkan bangsa Rumawi, di negeri yang terdekat dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang, dalam beberapa tahun (lagi). Bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang)(HR.Ibnu Abi> H}a>tim ).

b. Pada tahun 2H atau  tahun ke-7 setelah ramal-meramal mereka turun Al-Quran :

“ … dalam beberapa tahun (lagi). Bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang). Dan di hari (kemenangan bangsa Rumawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman”, Dan di hari (kemenangan bangsa Rumawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman, karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang”( (S.30 Ar-Rum 3-4) (HR.Ibnu Abi> H}a>tim).

Catatan:

*) Al-Qurthubi>> (1967:14 \ 2) dan  Ibnu Katsi>r (1966:5 \ 344) mencatat bahwa setelah turun S.30 Ar-Ru>m 1-3, maka Ubay ibnu Khalaf, Abu> Sufya>n dan Umayyah dari kaum musyrikin  menantang dan mengajak kaum muslimin untuk bertaruh  meramalkan tentang kapan kerajaan Romawi dapat mengalahkan kerajaan Persi. Tantangan itu dijawab oleh Abu>  Bakar ketika judi atau bertaruh itu  belum diharamkan. Saat itu Abu>  Bakar bertaruh 6 tahun dengan 10 ekor onta. Ternyata Abu>  Bakar kalah, sehingga dia harus membayar 10 ekor onta kepada kaum musyrikin. Kemudian Abu>  Bakar bertaruh bahwa 2 tahun lagi Romawi akan mengalahkan Persi dengan taruhan 100 ekor onta. Ternyata sebelum 2 tahun habis pasukan Romawi berhasil mengalahkan tentara Persi, sehingga Abu>  Bakar menang dan memperoleh 100 ekor onta dan oleh Nabi Saw. disarankan untuk  menyedekahkan onta-onta itu dan ditaati oleh Abu>  Bakar.

Berjudi sangat erat kaitannya dengan minum minuman keras, sehingga Allah memberikan peringatan akan  adanya bahaya dan dampak sosial karena judi dan minuman keras  itu sekaligus bersama-sama, seperti yang sudah disebut dimuka, sebagai berikut:

Meramal, berjudi atau bertaruh merupakan suatu cara mencari penghidupan atau cara menggantungkan nasib yang samar-samar tidak dapat diharapkan dengan suatu perhitungan yang pasti bahkan tidak masuk akal maka oleh Allah disebut dengan pebuatan kotor ajaran syaitan yang harus dijauhi.

@ Hobi  minum khamr

Adat main judi dan minum minuman keras merupakan suatu adat masyarakat Arab Ja>hili>yah yang paling sukar dihilangkan.  Adat berjudi dan minum khamr ini sudah belangsung demikian lama, sampai para pujangga dan penyair Ja>hili> menggubah syair-syairnya diselingi dengan adat  berjudi dan minum minuman keras ini, seperti yang digambarkan oleh penyusun syair-syair Arab Ja>hili berikut:

Tharafah salah seorang penyair Al-Muallaqa>t membangga-banggakna dirinya  ketika bersenang-senang di sebuah warung minuman, terlukis dalam bait syairnya baris ke 46, 52-53 berikut:

Artinya:

“Maka jika engkau mencari aku di balai kaum itu pasti kau temukan aku(*)Dan jika kau mencari aku di kedai minuman keras pasti kau temukan aku”(No.46)(Az-Zauza>ni> 1958:57)

Artinya:

no.52.”Minumanku selalu minuman keras,aku sibuk bersenang-senang  (*)Menjual barang-barang berharga yang baru dan lama dan aku belanjakan.

No.53.Sampai seluruh keluarga menjauhi aku (*)Dan aku dipencilkan seperti onta yang dijinakkan “(Thaba>nah 1958:128; Az-Zauza>ni> 1958:59)

‘Amru ibnu Kaltsu>m dalam gubahan syairnya baris ke:1-2

Artinya:

“Hai bangkitlah kau dengan tempat minuman kerasmu berilah kami pagi-pagi(*)Jangan kau sisakan minuman buatan Andarina

Tercampur seperti berkilau di dalamnya(*)Jika seandainya air itu bercampur maka dia panas “(Thaba>nah 1958:270;Az-Zaizani 1958:118)

Lebih jauh dapat dibaca dalam syair-syair Ja>hili dari gubahan ‘Amru  bait ke-86; ‘Antarah bait ke-22, 42,42, 45; Labid pada bait ke-57-62; Imriil Qais bait ke-85; syair-syair ini  telah diuraikan oleh Badawi> Thabanh dalam kitabnya Muallaqa>til ‘Arab (1958:268-274)..

Oleh karena minuman keras itu mengandung bahaya terhadap kehidupan manusia, maka oleh Allah manusia diperingatkan untuk  menjauhi dan meninggalkan adat minum minuman keras ini. Peringatan itu melalui turunnya Al-Qura>n dan tercatat di dalam hadis-hadis riwayat Sababun Nuzu>l berikut:

Periode Madinah(1)

‘Umar ibnul Khaththa>b memberitakan  bahwa dia bersama dengan Mua>dz ibnu Jabal serta beberapa orang kaum Anshar menghadap dan bertanya kepada Nabi Saw. mengenai hukumnya minum minuman keras. Kemuidan turun Al-Qura>n S.2 Al-Baqarah 219, yaitu:

“Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: “Pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfa`at bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfa`atnya”. Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: “Yang lebih dari keperluan.” Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir”   ( Hadis  ini diriwyatkan oleh Al-H}a>kim).

@@@@S@ya’ba>n Muh}ammad Isma>‘i>l (1985:58) menganalisa proses penghapusan adat bermabuk-mabuk minum minuman keras ini, dia menyimpulkan ada tiga tahap, yaitu:

1)Tahap pertama turun Al-Quran  S.2 Al-Baqarah 219 bahwa khamr itu ada manfaatnya dan ada dosanya, tetapi dosanya lebih besar dari pada manfaatnya.

2) Tahap kedua turun Al-Quran  S. 4 An-Nisa>‘ 43 bahwa orang yang sedang mabuk dilarang melakukan  shalat.

3) Tahap  ketiga turun Al-Quran  S.5 Al-Ma>idah 90 bahwa semua orang beriman dilarang keras sebab minum khamri itu perbuatan setan harus dijauhi.

@ Muh}ammadH}asan al-H}ujwi> (1396H:132) menambahkannya menjadi 4 tahap, dengan menambah satu tahap:

i. Tahab ke-1 merupakan  pendahuluan persiapan  sebeluum mengarah ke bentuk larangan yaitu: turunnya S.16 An-Nah}l 67 bahwa dari anggur dapat dibuat minuman keras yang memabukkan dan juga menjadi  minuman yang sangat lezat.

“Dan dari buah korma dan anggur, kamu buat minuman yang memabukkan dan rezki yang baik. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang memikirkan”(S.16 An-Nah}l 67.

ii.Tahap ke-2 ‘Ali ibnu Abi> Tha>lib memberitakan bahwa suatu hari ‘Abdurrah}ma>n ibnu ‘Auf menyelenggarakan pesta, makan-makan, minum-minum khamr. Ketika datang waktu maghrib, ‘Ali> ditunjuk menjadi imamnya. Disebabkan karena minum khamr maka ‘Ali dalam membaca surat Al-Ka>firu>n terjadi  keliru yang serius:

قُلْ يَاأَيُّهَا الْكَافِرُونَ()لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ()وَنحن نعْبُدُ مَا نتعْبُدُونَ (الكافرون1-2)

Katakanlah: “Hai orang-orang yang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kami menyembah  yang kamu sembah. ….

iii. Tahap ke-3 turun Al-Qura>n S.4 An-Nisa>‘ 43, yaitu:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan”(HR.Al-H}a>kim ).

Periode Madi>nah (2)

iv. Tahap ke-4  dikisahkan sebagai berikut:

Sa’ad ibnu Abi>  Waqqa>sh memberitakan bahwa orang-orang Muhajirin dan orang-orang Anshar suatu hari beramai-ramai pesta makan-makan berbagai macam hidangan yang lezat,  kambing panggang dan minum minuman keras. Tiba-tiba timbul percekcokan dan perkelaian orang banyak dengan dia (Sa’ad). Setelah Sa’ad melapor kepada Rasulullah Saw. kemudian turun Al-Qura>n S.5 Al-Ma>idah 90-91, yaitu:

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan”(Hadis ini diriwayatkan oleh Bukha>ri>-Muslim).

v. Tahap ke-5 dikisahkan bahwa  Anas memberitakan ketika dia melayani tamu-tamu dalam suatu pesta di rumah  Abu> Thalh}ah, dia disuruh menyajikan minuman keras untuk  para tamu. Tiba-tiba seseorang meneriakkan bahwa minuman keras itu hukumnya haram. Lalu sebagian sahabat menyanggahnya dan mengatakan bahwa  banyak sahabat yang meninggal padahal dalam perutnya  terbawa minuman keras  yang mereka  minum ketika masih hidup. Maka turun Al-Qura>n s.5 Al-Ma>idah 93, yaitu:

“Tidak ada dosa bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan yang saleh karena memakan makanan yang telah mereka makan dahulu, apabila mereka bertakwa serta beriman, dan mengerjakan amalan-amalan yang saleh, kemudian mereka tetap bertakwa dan beriman, kemudian mereka (tetap juga) bertakwa dan berbuat kebajikan. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan”(HR. Bukhai-Muslim).

v. Tahap ke-6 dinyatakan  Ja>bir memberitakan bahwa Rasulullah Saw. menyatakan bahwa  Allah mengharamkan penyembahan kepada berhala, memalsu garis nasab keturunan dan minuman keras. Terhadap minuman minuman keras maka Allah melaknat  orang yang minum, yang memeras, orang yang menghidangkannya, yang menjual,  yang memakan  dari uang hasil perusahaan atau pabrik  minuman keras. Kemudian seseorang mempertanyakan tentang amal-sedekah  hasil dari perusahaan atau pabrik minuman keras. Kemudian turun Al-Qura>n S.5 Al-Ma>idah 100, yaitu:

Katakanlah: “Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik H}a>timu, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan”(HR-Al-Wa>h}idi).

  1. Hukum rokok

Bagaiana hukum  rokok dan yang terkait dengan rokok itu? Para pakar kesehatan menyatakan bahwa rokok itu sangat membahayakan peminum dan orang  yang didekatnya. Rokok itu mengandung unsur yang  sama dengan khamr.

Semua iklan reklame  rokok seluruhnya  dilampiri catatan bahwa rokok  itu berbahaya dapat menimbulkan beberapa macam penyakit yang ringan sampai kanker  yang berat. Dan para pakar kesehatan menyatakan bahwa  rokok itu tercakup dalam golongan Narkotika-Narkoba, sabu-sabu, pil gedeg dan korbannya tidak hanya menimbulkan bahaya kepada pengidap rokok tetapi juga memberi  bahaya kepada orang yang  berada dekat dengan pengidap rokok itu. Jelasnya maka rokok itu mengandung  unsur yang memabukkan mirip dengan khamr atau minuman keras.

Hukum khamr atau minuman keras sudah dijelaskan dalam nomer di atas, maka hukum rokok sangat mirip dengan hukum minuman keras, jadi hukumnya haram, minimal adalah hampir haram dan yang paling ringan hukumnya ialah sebagaimana diputusan oleh Syuriyah  Nahdhatul Ulama  bahwa rokok  itu hukumnya makruh.

Jika rokok itu di dalamnya terkandung unsur memabukkan walaupun  prosentasinya sangat rendah maka hukumnya sama dengan khamr atau minuman keras. Sehingga dalil yang dapat  dihadapkan kepada rokok ialah hadis:

ِ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا أَسْكَرَ كَثِيرُهُ فَقَلِيلُهُ حَرَامٌ(رواه الترمذي 1788 وابوداود3196)

Artinya: “Dari Jabir bin ‘Abdullah bahwa Rasulullah Saw bersabda:”Sesuatu yang jika jumlahnya banyak memabukkan, maka sedikitpun juga haram hukumnya”(HR Turmudzi No.1788 dan Abu Dawud  no. 3196 ).

Pada jaman beberapa waktu yang lalu Ayatullah Khumaini  mengumumkan bahwa rokok hukumnya HARAM, maka seluruh pabrik rokok di Negara Iran  hancur semua, tidak ada warga Iran yang berani menentang keputusan haram rokok oleh Khuaini, Orang Islam Indonesia  suka menentang ulama khususnya haramnya rokok ini, walaupun sesama Islam bahkan sebagiannya para tokoh Islam sekalipun.

@ Allah itu Maha Bijaksana

Untuk mengubah adat kebiasaan Arab Jahiliyah yang sudah terlalu  lengket membelenggu masyarakat khususnya  kesukaan meminum minuman keras atau khamr dan berjudi, maka Allah menurunkan Al-Quran memperingatkan mereka itu sampai 6 phase, melalui S.16 An-Nahl 67, S.2 Al-Baqarah 219, S.4 An-Nisa` 43, S.5 Al-Maidah 90, S.5 Al-Maidah 93 dan S.5 Al-Maidah 100. Melalui 6 tahap ini maka hobi masyarakat  minum khamr berubah menjadi  bersih jauh dari adat minum khamr dan mentaati hokum haramnya minuman keras dan berjudi ini.

Inilah contoh metode usaha mengubah adat kebiasaan yang sudah terlalu membelenggu masyarakat  dan menggantinya dengan adat yang  diridhoi Allah ialah senada dengan metode, taktik dan strategi mengubah adat kebiasaan minum  khamr, paling sedikit   tahap demi tahap seperti terurai di atas.

Sebagai penguat dalil keharusan berhati-hatinya pengambil keputusan dan harus bertindak bijaksana telah diterangkan oleh ‘Aisyah dalam shahih Bukhari berikut:

4609  قَالََ يُوسُفُ بْنُ مَاهَكٍَ إِنِّي عِنْدَ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ رَضِي اللَّهم عَنْهَا  قَالَتْ  إِنَّمَا نَزَلَ أَوَّلَ مَا نَزَلَ مِنْهُ سُورَةٌ مِنَ الْمُفَصَّلِ فِيهَا ذِكْرُ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ حَتَّى إِذَا ثَابَ النَّاسُ إِلَى الْإِسْلَامِ نَزَلَ الْحَلَالُ وَالْحَرَامُ وَلَوْ نَزَلَ أَوَّلَ شَيْءٍ لَا تَشْرَبُوا الْخَمْرَ لَقَالُوا لَا نَدَعُ الْخَمْرَ أَبَدًا وَلَوْ نَزَلَ لَا تَزْنُوا لَقَالُوا لَا نَدَعُ الزِّنَا أَبَدًا (رواه البخاري)*

Artinya: “Yusuf ibnu Mahak, aku berada didekat A<isyah Ummul Mu`mini>n R.a.beliau berabda: “Sungguh-sungguh surat-surat Al-Qura>n yang turun pertama kali hanyalah surat yang didalamnya menyebut-nyebut surga dan neraka, sampai ketika orang banyak telah terpikat  kepada agama Islam, maka turun Al-Qura>n soal halal dan haram. Jika seandainya yang turun pertama kali itu berisi: “Jangan kamu sekalian meminum khamr!!!” pasti mereka akan menjawab: “Kami tidak akan meninggalkan meminum khamr selama-lamanya” . Jika seandainya surat yang pertam kali turun itu berbunyi: “Janganlah kamu sekalian berzina!!!” pasti mereka akan menjawab: “Kami tidak akan meninggalkan zina selama-lamanya?(HR, Bukha>ri>  hadis no.4609).

Dapat kita bayangkan bagaimana jika seseorang yang sudah menyantap makanan yang paling lezat sampai kenyang lalu diberi  makan dan dipaksakan untuk makan atau seseorang yang baru saja minum sampai puas kemudian disuruh minum terus, mungkin orang tadi akan muntah, perutnya menolak makanan itu. Sebaliknya seseorang yang sangat lapar sangat haus betul-betul sangat memerlukan makanan dan minuman tiba-tiba ada orang yang memberi makan ataupun minum walaupun  harga murahan, maka orang yang lapar ini akan sangat berterima kasih kepada si pemberi  bahkan penerima  sedekah itu akan mengenang selama-lamanya ingat terus menerus kebaikan hati orang yang memberi makan dan minum tadi

Perlu kita renungkan bagaimana situasi kritis, penuh keresahan dan kesedihan sangat serius cukup menegngkan sekali, tiba-tiba mendapat rahmat anugerah Allah turun wahyu Al-Quran.           Tercatat  dalam riwayat  sebab turun Al-Quran S.24 An-Nur 26. bahwa keluarga Nabi Saw dan keluarga Abu Bakar berlama-lama menderita kesedihan yang terlalu dalam, sebab ‘Aisyah puteri Abu Bakar menjadi isteri Nabi Saw. dituduh berbuat serong dengan seorang sahabat bernama  Shafwan.

Sekitar satu bulan rumah tangga  Nabi Saw dan rumah tangga Abu Bakar dirundung malang kesedihan itu sampai tibalah puncaknya  maka turunlah Al-Quran bahwa Allah menyatakan  bahwa ‘Aisyah adalah  orang  yang suci bersih dari tuduhan serong itu dan orang-orang yang terlibat dalam tuduh-menuduh ‘Aisyah  adalah berdosa sangat besar. Kisahnya  termaktub dalam Al-Quran  dari ayat 11 sampai ayat 26 surat An-Nur.

Ibnu Jarir meriwayatkan hadis bahwa Aisyah menceritakan, “Aku dituduh (berbuat zina) sedangkan aku dalam keadaan lalai. Kemudian berita mengenai hal ini sampai kepadaku. Ketika Rasulullah saw. sedang berada di rumahku, tiba-tiba turunlah wahyu kepada beliau. Setelah itu beliau mengusap mukanya dan duduk dengan tegak, seraya bersabda, “Hai Aisyah bergembiralah engkau”. Aku menjawab, dengan memuji kepada Allah, bukan memujimu”. Rasulullah saw. pun membacakan firman-Nya: “Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik, (yang lengah) beriman ( menuduhnya berbuat zina)… dan seterusnya……, ‘Mereka yang dituduh itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu)’…” (Q.s, 24 An Nur, 26) (HR.Ibnu Abu Hatim dari Ibnu Abbas),

Bahwa ketika orang-orang mempergunjingkan Aisyah r.a. maka utusan Rasulullah Saw itu mengatakan, “Hai Aisyah! Apakah yang sedang dibicarakan oleh orang-orang itu?” Aisyah r.a. menjawab, “Aku tidak akan mengemukakan suatu alasan-pun hingga turun alasanku dari langit”. Maka Allah menurunkan firman-Nya sebanyak lima belas ayat di dalam surah An Nur mengenai diri Aisyah r.a. Selanjutnya Hakam ibnu Utaibah membacakannya hingga sampai ayat 26.., “Wanita-wanita yang kotor adalah untuk laki-laki yang kotor………” (Q.S. An Nur,26)(.HR. Thabrani melalui Abdurrahman ibnu Zaid ibnu Aslam). Turunnya ayat 11-26 ini merupakan obat  atas situasi yang sangat menegangkan itu.

@ Nabi Sulaiman sangat bijaksana

Putusan hukum yang dijatuhkan oleh Nabi Sulaiman kepada dua orang ibu yang bertengkar rebutan bayi  yang dilahirkannya, memang sangat menakjubkan, memang Nabi Sulaiman  betul-betul sangat  bijak dan sangat arif.  Kisahnya adalah sebagai berikut:

Ada dua orang ibu yang baru saja melahirkan bayinya, lalu dalam waktu yang bersamaan berada dalam  suatu tempat  dan bayinya ditaruh berjajar di tempat yang sangat berdekatan.  Maka datang sekonyong-konyong seekor serigala sangat buas mencuri  salah satu bayi mereka. Kemudian kedua orang  ibu ini bertengkar rebutan bayi yang masih tinggal, dengan menuduh masing-masing lawannya bahwa bayi yang dimakan serigala itu milik lawannya. Pertengkaran bertambah seru  tidak dapat  mereka selesaikan. Kemudian mereka sepakat meminta hukum kepada Nabi Sulaiman dan oleh Nabi Sulaiman mereka diminta untuk mengaku dengan sejujur-jujurnya, tetapi tidak ada yang bersedia mengalah masing-masing  menuntut bayi itu milik dia. Akhirnya Nabi Sulaiman mengambil putusan bahwa bayi itu harus dibelah dua dibagi dua masing-masing  separuhnya. Dengan putusan ini salah satu ibu tadi (A) menangis sangat memilukan mohon  sungguh-sungguh agar supaya  bayi itu tidak dibelah dua. Dia rela menyerahkan bayi  itu diberikan kepada  ibu lawannya (B).  Tetapi Nabi Sulaiamn bahkan yakin bahwa bayi itu anak ibu yang (A) lalu bayi diserahkan kepada ibu (A) karena diyakini ibu inlah sebenarnya ibu bayi yang betul-betul terbukti hubungan tali kasih cinta yang terlalu kuat tidak  berbuat dusta.

Kisah ini  tersimpan dalam  Shahih Bukhari dan Shahih Musli:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِي اللَّهم عَنْهم أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كَانَتِ امْرَأَتَانِ مَعَهُمَا ابْنَاهُمَا جَاءَ الذِّئْبُ فَذَهَبَ بِابْنِ إِحْدَاهُمَا فَقَالَتْ لِصَاحِبَتِهَا إِنَّمَا ذَهَبَ بِابْنِكِ وَقَالَتِ الْأُخْرَى إِنَّمَا ذَهَبَ بِابْنِكِ فَتَحَاكَمَتَا إِلَى دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَام فَقَضَى بِهِ لِلْكُبْرَى فَخَرَجَتَا عَلَى سُلَيْمَانَ بْنِ دَاوُدَ عَلَيْهِمَا السَّلَام فَأَخْبَرَتَاهُ فَقَالَ ائْتُونِي بِالسِّكِّينِ أَشُقُّهُ بَيْنَهُمَا فَقَالَتِ الصُّغْرَى لَا تَفْعَلْ يَرْحَمُكَ اللَّهُ هُوَ ابْنُهَا فَقَضَى بِهِ لِلصُّغْرَىرواه البخاري 6271  ومسلم 3245)*

Artinya:

“Dari AbuHurairah r.a. bahwa Rasulullah Saw. bersabda: “Ada dua orang wanita masing-masing  membawa bayinya. Tiba-tiba datang seekor serigala mencuri salah satu bayi dari dua wanita itu. Maka salah satu dar kedua  wanita itu berkata  kepada  wanita  kedua dengan berteriak: “Serigala tadi membawa bayimu!!! Dibalas oleh lawannya: “Serigala tadi membawa lari anakmu!!! Kemudian mereka meminta hokum kepada Nabi Dawud a.s. Oleh Nabi Dawud maka bayi itu diserahkan kepada wanita yang lebih tua. Mereka berpindah meminta vonis hokum kepada Nabi Sulaiman s.a. . Setelah keduanya mengisahkan peristiwa itu maka Nabi Sulaiman meminta pisau untuk membelah bayi itu. Lalu wanita yang lebih muda berseru: “(Duhai Nabi Sulaiman) mohon jangan  tuan lakukan semoga rahmat Allah dicurahkan kepada  tuan, bayi itu bayi si tua” Tetapi Sulaiman memutuskan bayi itu milik wanita yang lebih muda”(HR Bukhari no.6271 dan Muslim no.3245).

Demikian cerdas dan bijaknya Nabi Sulaiman karena ilmunya yang cukup mendalam bagaimana masalah yang sebenarnya.

BAB  TIGA

Ruhul-Jihad  wal-Ijtihad

Masalah ke-3:. Bagaimana ikhtiar kita agar supaya dapat mengambil keputusan yang bijaksana itu? Seorang yang menjadi pejabat pengambil keputusan harus mempunyai wawasan yang luas, ilmu yang lengkap, sehingga  dengan jihad dan ijtihad keputusannya  tepat sekali.

@ Jihad artinya perjuangan untuk mencari kebenaran dan keadilan Ilahi.

Ijtihad ialah maksimalisasi pengerahan daya kemampuan untuk mencari kebenaran dan keadilan yang diridhoi Allah.

Untuk mengambil keputusan yang bijaksana para ulama menetapkan syarat-syarat  seseorang untuk dapat diangkat menjadi  pimpinan umat atau  sebagai pengambil keputusan yang  akan diikuti orang lain sebagai  berikut:

@ Kitab Al-Asybah wan Nazhair (1h426) mencatat syarat-syarat calon pimpinan umat, dilihat dari  dua sisi, yang disepakati dan yang diperselisihkan, yaitu:

i. Persyaratan yang disepakati oleh para ulama ada 8, yaitu:

(1) Pakar ahli hukum Syar’i

(2) Cakap menyelesaiakn urusan sipil dan militer

(3) Kuat fisik dan psikis, jasmani dan rohani

(4) Mampu membrantas perbudakan

(5) Mampu menghilangkan kezaliman

(6) Mempunyai tekad baja dalam menegakkan keadilan

(7) Perwiro (zuhud) tidak mengunggulkan diri

(8) Laki-laki dewasa merdeka cakap berwibawa disegani oleh semua pihak.

ii. Yang diperselisihkan

1) Dari suku Quraisy

2) Dari  kabilah Hasyimiyah

3) Berdarah biru atau suci (Ma’shum)

4) Tokoh nomer paling atas.

Syarat-syarat ini cenderung  berlaku untuk masyarakat Timur Tengah khususnya no.1 dan nomer 2 di atas.

@Tafsir Al-Qurthubi (1h270) menyatakan bahwa seseorang untuk dapat diangkat menjadi Imam umat Islam ada 11, yaitu:

1) Asal dari suku Quraisy. (2) Ahli Hukum (Qadhi). (3)Ahli taktik strategi pertahanan dan perang. (4) Tegas keras,menegakkan hukum. (5) Merdeka. (6) Islam. (7) Laki-laki (Wanita tertolak). (8)Tampan ngganteng tidak invalid,. (9) Dewasa. (10) Cerdas. (11) Adil, paling dalam ilmunya, tidak fasik.

Ibnu Katsir (1h600) menambahkan no.(12), yaitu: Tidak bernafsu-tahta, gila pangkat atau egois, tamak meminta kursi jabatan. Pernyataan ini didasarkan atas  firman Allah .

قَالَ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَاهُ عَلَيْكُمْ وَزَادَهُ بَسْطَةً فِي الْعِلْمِ وَالْجِسْمِ (البقرة 247 )

(Nabi mereka) berkata: “Sesungguhnya Allah telah memilihnya menjadi rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa.”(S.2al-Baqarah 247).

Al-Quran S2a247 ini merasakan pemahaman yang mengutamakan akal dari pada okol. Tetapi yang terakhir ini tidak mengandung arti beberapa keharusan  berikut, yaitu:

a) Tidak harus  Ma’shum suci dari kesalahan,

b) Tidak harus Ahli ilmu gaib,

c) Tidak juga orang yang paling berani,

d) Bukan berarti asal dari Bani Hasyim-Quraisy saja sebab Abu Bakar dan ‘Umar  bukan Bani Hasyim.

No. (13) Bahwa seseorang yang bukan paling tinggi nilainya sehingga orang peringkat no.2 boleh dipilih bukan rangking no.1 boleh dipilih jika ada alasan dikawatirkan akan timbul fitnah atau kurang istiqamah. Memang pimpinan itu fungsi-tugasnya melawan musuh, melindungi kaum lemah, menutup celah, menepati hak warga, pelaksana hukum, pemelihara harta perbendaharaan negara, membelanjakannya dengan tepat.

(14) Pimpinan yang fasik dapat digugurkan termasuk jika berubah menjadi kufur keterlaluan mengingat hadis  berikut:

عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ قَالَ دَعَانَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبَايَعْنَاهُ فَقَالَ فِيمَا أَخَذَ عَلَيْنَا أَنْ بَايَعَنَا عَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ فِي مَنْشَطِنَا وَمَكْرَهِنَا وَعُسْرِنَا وَيُسْرِنَا وَأَثَرَةً عَلَيْنَا وَأَنْ لَا نُنَازِعَ الْأَمْرَ أَهْلَهُ إِلَّا أَنْ تَرَوْا كُفْرًا بَوَاحًا عِنْدَكُمْ مِنْ اللَّهِ فِيهِ بُرْهَانٌ (رواه البخاري  3427 ومسلم6532)

“Dari ‘Ubadah bin Shamit bahwa Nabi Saw  menyuruh kami melakukan bai’at, lalu kami lakukannya ditambahkannya kami melakukan bai’at untuk apa yang diwajibkan atas kami yaitu: Berbakti sungguh-sungguh taat dalam nuansa penuh semangat maupun dalam suasana keterpaksaan dan dalam suasana yang sulit maupun dalam kemudahan ataupun di bawah suatu pengaruh atas kami serta tidak melawan urusan yang memang sudah sangat tepat. Kecuali jika kalian melihat kekufuran yang terang-terangan disisi kalian ada bukti menurut Allah disitu”(HR Bukhari no.3427 dan Muslim 6532).

Semua persyaratan di atas harus ditambah dengan keahlian  dalam Ilmu Managemen dan Leadership kepemimpinan terutama para pimpinan  perusahaan atau pabrik yang membina pekerja atau tenaga yang sangat banyak jumlahnya.

Silahkan buka internet situs : http://pondoquranhadis.wordpress.com

Kirimkan naskah ke Email:pondokilmu7@gmail.com Tlp:o318963843


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: