Oleh: pondokquranhadis | Desember 31, 2010

HUKUM PERKAWINAN I II III

AL-QURAN BERBICARA TENTANG HUKUM PERKAWINAN O L E H IMAM MUCHLAS ABSTRAKS Di dalam menciptakan manusia, Allah itu mengetahui apa yang diperlukan oleh manusia untuk hidup dan hidup terus serta hidup yang lebih baik lagi bahkan lebih dari itu bagaimana caranya supaya manusia dapat hidup bahagia di dunia dan bahagia di akhirat. Allah telah memberikan petunjuk ke arah itu, tersimpan di dalam Kitab Suci Al-Quran. Berhubung dengan banyaknya hamba Allah yang tidak mempunyai kesempatan menikmati pendalaman isi Al-Quran tersebut maka sangat diperlukan usaha pembinaan masyarakat dan mempersiapkan sarana atau prasarana yang bisa menghidup-suburkan semangat menjuju kesana. Dalam bidang pembinaan hukum khususnya Hukum Islam di Indonesia, maka bisa dikemukakan ada dua teori, yaitu: 1)Teori Van den Berg bahwa pembinaan hukum Islam itu dimulai dari atas. Maksudnya bahwa oleh karena masyarakat Indonesia itu mayoritas beragama Islam maka hukum yang berlaku disitu ialah hukum Islam. Sehingga perundang-undangan yang didasarkan atas Hukum Islam ditetapkan dari atas disertai berbagai macam sanksi atas pelanggarnya. 2) Teori van Vollenhoven bahwa pembinaan hukum Islam itu harus dimulai dari bawah, yaitu bahwa hukum Islam tersebut lebih dahulu > harus diresapi dan dibudayakan oleh masyarakat sehingga menjadi Hukum Adat Masyarakat. Buku Al-Quran Berbicara tentang Hukum Perkawinan ini, merupakan suatu bahasan yang berusaha mengemukakan petunjuk Al-Quran tentang bagaimana hidup berkeluarga bagi kaum muslimin dan umat yang beriman untuk mencapai cita-cita mendirikan rumah tangga yang sejahtera bahagia dalam rangka pembinaan Hukum Nasional yang berangkat dari perorangan, yang hendak berkeluarga, membentuk keturunan dan anak bangsa yang Islami, yang mendambakan kesejahteraan dan kebahagiaan yang abadi di dunia sampai di akhirat. Pembahasan dalam buku ini mencakup dasar cita-cita untuk berkeluarga, mulai dari memilih jodoh, kedudukan wali, kedudukan anggota rumah tangga, yang satu terhadap yang lain, suami dengan isteri dan sebaliknyaa, antara bapak dengan anak atau ibu dengan anak dan sebaliknya, sampai kepada pemecahan masalah jika ditengah perjalanan hidup timbul masalah yang dikawatirkan akan menghambat atau mungkin akan membawa kerusakan rumah tangga itu dan mungkin juga akan terjadi bagaimana jika kelak suatu hari datang kematian kepada salah satu dari dua orang suami isteri itu. Jika kebetulan terjadi kematian salah seorang dalam rumah tangga ini maka timbullah masalah yang berkenaan dengan harta warisan, oleh karena itulah dalam buku ini dikemukakan pula ketentuan Al-Quran tentang Hukum Waris. Adapun sistem penafsiran dalam penulisan ini ialah dengan Metode penafsiran Al-Quran Tematis Permasalahan. Metode penafsiran Al-Quran tematis permasalahan ialah suatu metode penafsiran Al-Quran yang berangkat dari judul dari suatu ayat Al-Quran, dari ayat diambil tema dan sari tilawah, kemudian dianalisa dan dikembangkan melalui permasalahan yang berwujud pertanyaan yang diambil dari tema dan sari tilawah, pertanyaan dibatasi 2 – 3 soal yang lebih menukik kepada judul. Selanjutnya penafsiran terhadap ayat pokok dilakukan dengan cara menjawab pertanyaan tersebut. Sesuai dengan pedoman penafsiran Al-Quran, maka dalam usaha penafsiran ayat-ayat tentang perkawinan ini dilakukan dengan mengambil tafsiran dari Al-Quran sendiri dan dari hadis-hadis Rasul Saw. yang termuat di dalam kitab-kitab tafsir kemudian dilengkapi dengan pendapat para ulama berkaitan dengan masalah yang dibicarakan dan dimana perlu dikutip pula pendapat atau teori para pakar dari cabang disiplin ilmu yang terkait. Buku yang ada di tangan pembaca ini merupakan tulisan bersambung dari penulis yang dimuat dalam berkala bulanan Majalah Pembangunan Agama atau MPA Departemen Agama Propinsi Jawa Timur (khususnya mulai Agustus 1998 sampai Maret 2002), sehingga uraiannya disesuaikan dengan ruang atau halaman dari majalah tersebut, kepada peminat yang ingin memperdalam lebih jauh dipersilahkan menelusurinya ke rujukan dalam daftar kepustakaan di belakang. PENDAHU>LU>AN 1.NABI MUHAMMAD NABI PENUTUP (Kha>>tamul Anbiya>` wal Murali>n) Junjungan kita Nabi Besar Muhammad Saw. adalah Nabi Penutup dan Penghabisan para rasul (S.33 Al-Ah}za>>b 40). Dengan demikian maka kitab Suci Al-Quran yang dibawanya itupun juga menjadi Kitab Suci terakhir, sehingga kitab itu berlaku abadi bahkan bersifat universal atas seluruh umat manusia kapan saja dan dimanapun juga mereka berada, sebagaimana kita faham dari S.21 Al-Anbiya>` 107 , bahwa Rasulullah Saw. merupakan rahmat bagi seluruh alam. Sampai abad 21 ini umat Islam di dunia jumlahnya tidak kurang dari 1,2 milyar orang, yang terdiri dari berbagai macam suku bangsa, bahasa dan budaya yang tidak sama dengan bangsa, bahasa maupun budaya Arab terutama ketika Al-Quran itu diturunkan dijaman peralihan dari jaman Jahiliyah ke jaman Islam awal abad vii Masehi dahulu itu. Namun kita yakin sebebar-benarnya mengenai keunggulan mukjizat Al-Quran yang tidak mungkin dikalahkan oleh agama manapun juga, khususnya masalah bahasa Arab- yang dipakai oleh Al-Quran. 2. Al-Quran mukjizat universal Bahasa Arab Al-Quran itu sampai sekarang masih hidup, masih segar, mudah difaham dan sangat berbeda sekali dengan bahasa-bahasa Kitab suci agama selain Islam, bahasa asli dari kitab suci agama non Islam itu sudah mati dan tidak dipakai oleh umat manusia lagi. Prof. Hendon dari Yale University sangat iri kepada keunggulan bahasa Arab Al-Quran yang sangat ajaib itu. Prof. Hendon itu berkata kepada HAMKA ketika beliau bulan Oktober 1952 yang lalu datang diundang ke kampus di New Haven itu. Prof Hendon berkata: “Untung bagi tuan, Al-Quran mempunyai bahasa kitab suci yang asli dan tetap”. Ketika itu Prof. Hendon sebagai ketua panitia dari 40 gereja, baru saja selesai menterjemahkan Kitab Suci Bibel yang menggunakan bahasa Inggris abad 17 jaman King James 1612M bahasa yang dipakai dalam kitab Bibel tadi sudah mati, bahasa Inggris yang sudah tidak dipakai lagi oleh masyarakat, sehingga harus diterjemahkan ke bahasa Inggris 1952 itu (Hamka 1981:164). Perlu kita renungkan bagaimana Bibel diterjemahkan dari bahasa Inggris ke dalam bahasa Inggris itu sendiri, dan kelak akan diterjemahkan lagi ke sekian kalinya ke bahasa Inggris lagi, demikian semua bahasa yang dipakai oleh Bibel di seluruh dunia??? Menurut keyakinan kita Al-Quran itu ialah lafal Arab yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. yang dinukil secara Mutawa>tir yang termaktub di dalam mushaf dari surat Al-Fa>tih}ah sampai surat An-Na>s yang membacanya adalah ibadah (Madku>r 1976:95). Dengan definisi ini maka apa yang diluar batasan ini bukanlah Al-Quran. Sehingga seluruh terjemah Al-Quran ke bahasa non Arab (‘ajam) bukan Al-Quran dan isi terjemah tadi sepenuhnya tanggung jawab penterjemah sendiri. Dengan dasar itu pula maka para ulama mewajibkan penulisan naskah Arab asli disamping terjemahnya bagi siapa saja yang membuat terjemah Al-Quran, untuk menguji kebenaran terjemahan itu. Az-Zarqa>ni> dalam Mana>hilul ‘Irfa>n (1988:2 \ 107) mencatat bahwa Al-Quran sudah diterjemahkan ke dalam 120 bahasa, tahun 1143M diterjemah pertama kali ke bahasa Latin oleh Petrus Toltly sedangkan terjemah ke bahasa Ingrris sesudah itu oleh George Sale kini sudah mengalami 34 kali cetak ulang. Oleh karena jaman beredar, jarum jam berputar, sehingga bahasa dan budaya serta suku bangsa umat Muhammad Saw. sekarang ini banyak berbeda dibandingkan dengan bahasa dan budaya suku bangsa Arab waktu Al-Quran diturunkan dahulu sebagaimana terurai diatas, maka terbukalah timbulnya kesulitan dan kemusykilan dalam memahami serta menghayati kitab suci Al-Quran itu. Maka dari itu para ulama dituntut segera berusaha melakukan pengadaan buku tafsir yang lebih praktis, pragmatis dan kontekstual serta usaha mewujudkan prasarana untuk membantu kaum muslimin mengatasi kesulitan maupun memecahkan kemusykilan dalam mempelajari serta menghayati Al-Quran itu dalam nuansa yang sesuai dengan bahasa dan budaya masyarakat Islam khususnya masyarakat Indonesia. 3.Metode penafsiran Al-Quran Al-Quran menggunakan bahasa Arab, sebab Nabi Muhammad Saw. dan masyarakat yang dihadapinya adalah orang Arab yang dalam sehari-harinya berbicara dalam bahasa Arab. ‘Umar Farru>kh (1984:79) menyatakan bahwa bahasa Arab yang berlaku pada masa turunnya Al-Quran itu adalah bahasa Arab dari jaman Jahiliyah, yaitu suatu tenggang waktu dari ratusan tahun sebelum Nabi Muhammad Saw. dilahirkan sampai beliau dibangkitkan menjadi nabi sehingga Nabi Muhammad Saw. hijrah ke Madinah. Sedangkan jaman sesudah Nabi Saw.hijrah ke Madinah bukan lagi dinamakan jaman Jahiliyah, tetapi jaman Islam. Bahasa Arab yang dipergunakan sebagai bahasa kitab suci ialah bahasa Arab jaman Jahiliyah dan jaman Islam ini. Suatu mukjizat yang tidak mungkin ditandingi ialah bahwa bahasa Arab yang dipakai oleh Al-Quran itu sampai sekarang masih hidup, masih segar, masih mudah difahami secara umum. Lebih jauh lagi maka bahasa Arab dalam Al-Quran dapat dibagi dua, yaitu bagian yang Muh}kam dan bagian yang Mutasya>bih. Bagian yang Muh}kam ialah bagian yang isinya mudah difaham, maknanya jelas dan tegas bahkan tidak bisa diartikan lain. Sebaliknya bagian yang Mutasya>bih ialah bagian yang isinya tidak jelas, lebih sulit difaham karena mengandung makna lebih dari satu. Sudah barang tentu bagian yang maknanya kurang jelas, sulit difahami ini usaha untuk memahaminya harus melalui bagian yang lebih jelas dan tegas tadi. 4. Orang yang berwenang menfasirkan Al-Quran Adapun orang nomer satu yang paling berwenang menafsirkan Al-Quran ialah Rasulullah Saw. dan tafsirannya adalah paling benar sebab belaiulah orang yang mendapat tugas khusus untuk menjelaskan seluruh kandungan Al-Quran itu kepada umatnya (S.16 An-Nah}l 44). Sedangkan orang kedua yang berwenang menafsirkan Al-Quran ialah para sahabat dan tafsiran yang paling mendekati kebenaran sesudah Rasul Saw. ialah para sahabat ini. Para sahabat merupakan orang yang kedua setelah Rasul Saw. sebab para sahabat itulah orang yang paling mengetahui Al-Quran, di mana suatu ayat Al-Quran diturunkan, kapan diturunkan, dalam situasi dan kondisi yang bagaimana waktu itu suatu ayat Al-Quran diturunkan, sampai kepada siapa saja orang yang terlibat di dalam peristiwa saat ayat-ayat Al-Quran itu diturunkan. Dan para sahabat merupakan orang-orang yang langsung mendapat bimbingan dan asuhan dari Nabi Saw. jika dirasa kuang jelas mereka ini langsung menanyakan kepada Rasul Saw. dan secepatnya beliau jawab. Menurut Adz-Dzahabi> (1961:1 \ 54) Rasulullah Saw. sudah menjelaskan Al-Quran yang cukup untuk umat di jaman itu tetapi juga menjadi dasar landasan penafsiran bagi para ulama di jaman-jaman sesudah beliau. Jelas bagi kita bahwa bahasa dan budaya dari bangsa-bangsa pemeluk agama Islam sekarang di luar jazirah Arab sangatlah berbeda dengan suku bangsa, bahasa dan budaya umat Islam di jaman Rasulullah Saw. maupun jaman sahabat di atas. 5.Perkembangan tafsir dan penafsiran Al-Quran Secara alami, para ulama giat berusaha menafsirkan Al-Quran senada dengan bahasa dan budaya masyarakat di mana para ulama itu hidup. Dari usaha penafsiran para ulama ini ditinjau dari asas landasan, metode analisa serta corak kecenderungan hati ulama tafsir itu terbagi kepada beberapa metode berikut: A. Asas landasan penafsiran Dilihat dari sumber pokok penafsiran, maka metode penafsiran Al-Quran itu ada 3, Bil-Ma`tsu>r, Bir-Ra`yi dan Bil-Isya>rah. Tafsir Bil- Ma`tsu>r ialah usaha penafsiran Al-Quran yang sumber pokok untuk menafsirkannya itu mengambil dari Al-Quran sendiri atau dan hadis dengan tidak berdasarkan atas akal kecuali sedikit saja. Tafsir Bir-Ra`yi, yaitu usaha untuk menafsirkan Al-Quran berdasarkan penafsiran Al-Quran Bil-Ma`tsu>r kemudian dikembangakannya dengan ijtihad akal setelah ulama tersebut memenuhi syarat sebagai mufassir. Tafsir Isya>ri>, yaitu usaha menafsirkan Al-Quran berdasarkan isyarat gaib yang diterima oleh ulama tafsir bersangkutan hasil dari keahlian dan kemampuan gaib yang dimilikinya secara sufi. An-Nuqra>syi> (1986:69) membagi metode ini hanya menjadi dua saja, yaitu: 1) Tafsir Al-Ma`tsu>r atau Tafsir Ar-Riwa>yah atau Tafsir An-Naqli>>. 2) Tafsir Ar-Ra`yi atau Tafsir Ad-Dira>yah atau Tafsir Al-’Aqli>. Prof. DR. Abdul Jalal (1990:68) menyebut 3 macam, tetapi yang nomer 3 ialah Bil-Izdiwa>j, maksudnya ialah usaha menafsirkan Al-Quran dengan dasar campuran dari penafsiran Bil-Ma`tsu>r dengan Bir-Ra`yi. B. Metode analisa Diperhatikan dari cara melakukan analisa maka Al-Farma>wi> (1977:22) membagi cara para ulama menafsirkan Al-Quran itu menjadi 4 matode, yaitu Tah}li>li>, Ijma>li>, Muqa>rin dan Maudhu>‘i>. 1.Metode Tah}li>li>, yaitu usaha menafsirkan Al-Quran dengan tertib mengikuti tertib urutan Mushh}af ‘Utsma>ni> ayat demi ayat surat demi surat dan dianalisa dengan pendekatan dari berbagai macam cabang disiplin ilmu, contohnya seperti Tafsir Rawa>i’ul Baya>n oleh Ash-Sha>bu>ni>. 2.Metode Ijma>li>, yaitu usaha menafsirkan Al-Quran dengan mengemukakan banyak-banyak ayat atau suatu surat sesuai dengan tertib Mushh}af ‘Utsma>ni> kemudian ditafsirkan dengan pandangan global menyeluruh, contohnya seperti tafsir Fi> Zhila>lil Qura>n oleh Sayyid Quthub. 3.Metode Muqa>rin, yaitu usaha menfasirkan Al-Quran dengan cara mengemukakan berbagai macam pendapat para ulama tafsir, lalu dianalisa dan ditetapkan tafsiran yang mana yang dinilai lebih mendekati kebenaran, contohnya seperti tafsir Al-Qurthubi>. 4.Metode Maudhu>‘i>, yaitu usaha menfasirkan Al-Quran yang berangkat dari suatu judul dari Al-Quran, judul itu dibagi kedalam bab, sub-bab, pasal atau bagian yang lebih kecil lagi, lalu mencari ayat yang bisa diletakkan di bawah judul, sub judul, pasal atau rinciannya tadi, kemudian dianalisa dan ditafsirkan, contohnya seperti Ad-Dira>sa>t fit Tafsi>ril Maudhu>‘i> oleh Al-Alma>‘i>. C, Corak warna tafsir dan kecenderungan mufassir Setiap orang tidak terlepas dari pengaruh lingkungan ditempat dia dibesarkan, maka para ulama tafsir itupun sangat terpengaruh oleh situasi dan kondisi lingkungan yang membesarkan dia. Dari modal yang diterimanya dari masyarakat lingkungannya maka ulama tadi lalu membuat model atau pola tertentu dan kitab mereka juga dapat dikelompokkan ke dalam kecenderungan diri ulama tersebut kepada apa yang sangat mempengaruhi dirinya bidang keilmuan, aliran madzhab atau hobi-kesukaannya, yaitu: 1) Kecenderungan kepada keilmuan Ulama tafsir sebenarnya termasuk kelompok pakar yang menguasai keahlian beberapa cabang disiplin ilmu, tetapi karena ilmu itu sendiri juga mencakup bidang yang terlalu banyak, maka para ulama itupun dapat dibagi kepada bidang-bidang tertentu; Sehingga kitab tafsirnya juga dapat dikelompokkan kedalam bidang-bidang tertentu, yaitu: (1) Sastra. (2) Sosial kemasyarakatan. (3) Filsafat. (4) Tasawuf. (5) Sciens atau keilmuan. a) Tafsir Al-Adabi> atau tafsir Sastra, bahwa sebagian ulama tafsir ada yang sangat ahli dalam bidang sastra, sehingga tafsirnya lebih didominasi ilmu bahasa dan sastra, misalnya Al-Kasysysa>f susunan Zamakhsyari>>. b) Tafsir Sosial kemasyarakatan atau Al-Ijtima>‘i>, ulama tafsir yang ahli dalam ilmu sosiologi maka kitab tafsirnya akan lebih banyak membahas ilmu sosiologi, misalnya tafsir Fi> Zhila>lil Qura>n susunan Sayid Quthub atau Al-Mana>r susunan Rasyi>d Ridha> tafsiran dari Muh}ammamd ‘Abduh. c). Tafsir Al-Falsafi>, ulama tafsir yang ahli dalam ilmu filsafat maka kitab tafsirnya akan banyak banyak membahas masalah filsafat, misalnya Tafsir Al-Kabi>r susunan Ar-Ra>zi>. d) Tafsir Ash-Shu>fi>, yaitu tafsir yang disusun oleh ulama ahli tasawuf, suatu tafsir yang didalamnya banyak memuat teori-teori tasawuf, misalnya seperti tafsir Al-Futu>h}a>tul Makkiyyah susunan Muh}yiddi>n ibnu ‘Arabi>. 2) Kecenderungan, kesukaan dan fanatisme Kecenderungan bisa meningkat menjadi kesukaan dan puncaknya ialah fanatisme. Oleh karena para ulama tafsir itu memang dibesarkan menurut lingkungannya, maka para ulama tafsir banyak yang cenderung mengikuti suatu aliran madzhab, sebagian lagi ada yang membela madzhab cukup keras, baik madzhab dalam Ilmu Kalam atau madzhab dalam Ilmu Fiqh: a) Aliran madzhab Ilmu Kalam: Ahlus Sunnah, Mu’tazilah, Syi’ah, Murjiah, Khawa>rij. Ulama dari masing-masing madzhab itu sedikit atau banyak mereka akan mengemukakan pendapat madzhab dia sendiri dan mengabaikan pendapat madzhab aliran lain. b) Aliran madzhab Ilmu Fiqh, yaitu madzhab-madzhab H}anafi>, Ma>liki, Sya>fi’i>, H}anbali>, Zha>hiri>. Para ulama tafsir dari suatu madzhab akan mewarnai tulisan dalam tafsirnya dengan corak warna yang sesuai dengan madzhab alirannya. Terhadap penafsiran itu semua, Muh}ammad ‘Abduh (tth: 49) memberikan peringatan, bahwa Al-Quran adalah awal segala sumber syari’at Islam, Al-Quran adalah pangkal pijakan penetapan hukum dari hukum apapun juga. Sistem ini tergambar jelas dalam hadis jawaban Mu’a>dz atas pertanyaan Rasulullah Saw. suatu jawaban yang membuat beliau sangat puas bahwa Al-Quran adalah sumber pertama, jika tidak ada maka sumber kedua ialah Sunnah Rasul Saw. jika tidak ada maka sumber ketiga ialah Ijtihad akal. Maka dari itu sangat terlarang mendahulukan madzhab sebagai sumber pertama dan membuat Al-Quran yang nomer kedua. Dari itu pula maka tidak dibenarkan sama sekali perbuatan untuk memperkosa Al-Quran diarahkan dan ditundukkan ke bawah suatu madzhab. D. Tafsir Tematis permasalahan Di dalam masyarakat Islam sudah tersebar banyak-banyak kitab tafsir khususnya tafsir sistem konvensional yang menggunakan metode metode Tah}li>li>, Ijma>li> atau Muqa>rin. Akan tetapi garis besar kurikulum atau silabi pelajaran Al-Quran yang diajarkan pada lembaga-lembaga pendidikan di mana saja pada semua peringkat dari Taman Kanak-Kanak sampai Perguruan Tinggi, semua mengacu kepada materi atau judul tertentu. Oleh karena itulah buku yang ada di tangan pembaca ini mengikuti metode Al-Maudhu>‘i>, yaitu penafsiran Al-Quran menurut klasifikasi judul dan lebih khusus lagi ialah Metode Penafsiran Al-Quran Tematis Permasalahan. Adapun judul atau masalah untuk buku ini ialah Hukum Perkawinan dan Hukum Waris. Jadi penafsiran dalam buku ini menggunakan metode yang diawali dengan memilih judul, kemudian mencari ayat yang diduga sesuai dengan judul yang sedang dibahas, selanjutnya dilakukan penafsiran, melalui pertanyaan yang bersumber dari tema dan sari tilawah ayat tersebut, sedangkan penafsirannya sendiri berupa jawaban atas pertanyaan tadi, dengan menelusuri Al-Quran ayat mana yang diduga bisa menjawab masalah dan atau mencari hadis untuk lebih melengkapi jawaban itu kemudian mencari sumber lain jika jawaban tadi belum memuaskan. -o0o- (Catatan I) AL-QURAN BERBICARA TENTANG HUKUM PERKAWINAN Buku yang berjudul : Al-Quran berbicara tentang Hukum Perkawinan ini ditulis oleh Prof DR.H.Imam Muchlas,MA staf pengajar Ilmu Tafsir Fakultas Syari’ah IAIN Sunan Ampel Surabaya. Mata kuliah Ilmu Tafsir yang dibinanya sejak tahun 1977, sedangkan mata kuliah tafsir Al-Quran tentang Hukum Perkawinan dibinanya cukup lama, sekali-sekali Hukum Waris dan Hukum tentang ibadah maupun cabang mata kuliah Ilmu Tafsir yang lain. Imam Muchlas lahir di Tempurejo, suatu pusat kegiatan Islam di daerah Ngawi sejak 1930-an. Lulus dari SR 6th melengkapinya dengan ijazah Madrasah Diniyah 6th , maka th.1950 penulis melanjutkan kep PGAP Madiun, 1954 ke PHIN, menjadi pegawai KUA di Ambon 1957, di KUA Prop.Nusa Tenggara di Singaraja 1959, kemudian 1960 tugas belajar IAIN Jogyakarta, 1971 Kepala Dinas Urusan Agama lalu Kepala Kantor Departemen Agama Kabupaten Ponorogo, 1977 Dosen Fakultas Syari’ah IAIN Sunan Ampel Surabaya, 1982-1990 tugas belajar S.2-S.3 di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta lulus 1990. Tesis S.2 IAIN Jakarta berjudul Waris mewaris dalam masyarakat Islam, studi kasus di desa Banyubiru. Judul Disertasi S3 IAIN Jakarta: Hubungan Sebab antara Turunnya Al-Quran dan Adat Kebiasaan dalam Tradisi Kebudayaan Arab Jahiliyah. Dan sejak lulus th.1990 langsung menulis rubrik tafsir Maudhu>‘i >dalam majalah bulanan Mimbar Pembangunan Agama (MPA) Departemen Agama Ppropinsi Jawa Timur bersambung sampai sekarang kira-kira sudah mencapai 132 judul atau lebih tafsir Maudhu>‘i>. Khusus tentang Hukum Perkawinan ini dimuat mulai 1 Agustus 1998 sampai 1 Maret 2002. Di samping menulis di Republika, Jawa Pos, Surya, Majalah Suara Muhammadiyah, Tabloit Jum’at, penulis juga menyusun buku-buku terbitan Fakultas Syari’ah IAIN Surabaya yang bersifat tafsir-oriented, Pandangan Al-Quran terhadap agama Kristen diterbitkan oleh Al-Ihsan 1981, Al-Quran Berbicara dan Kajian Kontekstual Beragam Persoalan diterbitkan Progressip 1996, Al-Quran Berbicara tentang Kristen diterbitkan oleh Pustaka Da’i cetakan ke-2 Oktober 2001. ——-0——— (Catatan II) Banyak pembaca majalah Mimbar Pembangunan Agama (MPA) yang mengharapkan diterbitkannya tulisan Tafsir Maudhu>‘i> dalam Majalah MPA itu dapat diterbitkan. Dan untuk memenuhi harapan para pembaca inilah maka buku Al-Quran Berbicara tenang Hukum Perkawinan ini diterbitkan. Sehingga dengan diterbitkannya buku ini, maka seluruh karyawan Departemen Agama se Jawa Timur pelanggan majalah MPA yang oplagnya tidak kurang dari 35. 000 itu dapat menikmatinya isi tafsir tersebut dalam satu buku. Tafsir Maudhu>‘i> ini juga akan menjadi buku rujukan sekunder mahasiswa S.1-S.2 IAIN dan PTAIS di mana saja, bahkan akan sangat membantu para muballigh atau juru dakwah dalam ceramah-ceramah umum atau khutbah-nikah dan sebagainya. Buku-buku tentang Hukum Perkawinan memang sudah banyak diterbitkan, akan tetapi bentuk buku dengan metode tafsir tematis permasalahan ini belum dikenal orang banyak. Memang metode penafsiran Al-Quran tematis permasalahan ini sengaja dikembangkan oleh penulis untuk para peminat studi Al-Quran dan ulama para penulis buku-buku tafsir Al-Quran. ——0—— DAFTAR ISI. No .! No.Surat, no. ayat! Judul !Halaman (1) ! S.16 An-Nah}}l 72 !Berkeluarga dan berketurunan ! 14 (2)- ! S.30 Ar-Ru>m 20-21 !Memadu kasih dengan perkawinan ! 26 (3) ! S.5 Al-Ma>idah 87-88!Hukum Perkawinan ! 34 (4) ! S.2 Al-Baqarah 221 ! Mencari dan Memilih Jodoh ! 44 (5) !S.2 Al-Baqarah 235 !Melamar dan Berpacaran ! 50 (6) ! S. 24 An-Nu>r 32 !Tugas dan kedudukan wali dalam perkawinan ! 58 (7) !S.33 Al-Ah}za>b 53 !Pelaksanaan dan Perayaan Perkawinan ! 65 (8) !S.4 An-Nisa>’ 34 !Kedudukan Hukum Suami dan Isteri ! 73 (9) S.2 Al-Baqarah 233 !Hukum antara Bapak, Ibu dan Anak ! 81 (10) S. 4 An-Nisa>’ 3 ! Hukum Poligami ! 89 (11) S.4 An-Nisa>’ 32 !Harta suami dan karya jasa suami isteri ! 101 (12) S.4 An-Nisa>’ 19 ! Pembinaan ikatan perkawinan yang ideal ! 115 (13) S.4 An-Nisa>’ 128 ! Gejala-gejala keretakan rumah tangga ! 127 (14)S.4An-Nisa>` 35 !Badan Penasehatan, Pembinaan dan Pelestarian! ! Perkawinan ! 134 (15) S. 2 Al-Baqarah 229 !Putusnya perkawinan ! 142 (16)S.2Al-Baqarah226-227!Perceraian karena Sumpah Ila>` ! 161 (17) S.24 Al-Ma>idah 5-10 ! Perceraian karena sumpah Li’a>n ! 169 (18) S.2Al-Baqarah 228 ! Dampak dan akibat putusnya perkawinan ! 181 (19) S. 65 Ath-Thala>q 5-6 !Hak isteri yang diceraikan ! 197 (20) S.2 Al-Baqarah 230 !Rujuk kembali ! 208 (21) S.2 Al-Baqarah 234 !Berkabung ! 220 (22) S.2 Al-Baqarah 233 ! Hak-hak anak ! 226 (23) S.2 Al-Baqarah 180 !Wasiat ! 243 (24) S. 4 An-Nisa>` 9 !Generasi unggulan yang ideal ! 256 (25) S.4 An-Nisa>’ 7 !Hak mewaris antara lk-lk dan perempuan ! 270 (26) S.8 Al-Anfa>l 72-75 !Waris mewaris ! 283 (27) S.4 An-Nisa>` 33 ! Hak cucu dan tolan seperjanjian ! 299 (28) S.33 Al-Ah}za>b 4-5 ! Adopsi-anak angkat ! 311 (29) S. 4 An-Nisa>’ 128 ! Tasha>luh} atau Perdamaian ! 322 (30) S.4 An-Nisa>’ 11-12 ! Angka-angka warisan ! 333 ——————————(1)——————————- BERKELUARGA DAN BERKETURUNAN I. S.16 An-Nah}l 72 وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَجَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ بَنِينَ وَحَفَدَةً وَرَزَقَكُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ أَفَبِالْبَاطِلِ يُؤْمِنُونَ وَبِنِعْمَةِ اللَّهِ هُمْ يَكْفُرُونَ (النحل 72) II. Artinya: “Allah menjadikan bagi kamu isteri-isteri dari jenis kamu sendiri dan menjadikan bagimu dari isteri-isteri kamu itu, anak anak dan cucu-cucu, dan memberimu rezki dari yang baik-baik. Maka mengapakah mereka beriman kepada yang bathil dan mengingkari ni`mat Allah?”(S.16 An-Nah}l 72). III. Tafsir dan analisa A. Pengertian kata-kataَ = مِنْ أَنْفُسِكُمْ Dari diri-diri kalian maksudnya dari jenis kalian = أَزْوَاجًا Isteri-isteri = حَفَدَةً Anak-cucu َ الطَّيِّبَات = Yang baik, maksudnya yang lezat dan halal = الْبَاطِلِ Yang tidak sah, maksudnya berhala-berhala B.Tema dan sari tilawah Tema pokok yang menjadi acuan untuk mempertajam analisa dapat dikemukakan sebaga berikut: 1. Allah menciptakan manusia supaya hidup berkeluarga dan berketurunan. 2. Allah telah menciptakan jodoh untuk masing-masing mereka. 3. Allah juga telah mencipatakan sistem kelahiran keturunan dari pasangan suami isteri. 4. Untuk semua itu Allah telah menyediakan bekal kehidupan dan rejeki yang baik bagi masing-masing. 5. Sebagian manusia memilih yang bathil dan tidak mengakui bahwa semua rejeki yang dinikamtinya itu dari Allah Ta’ala. C. Masalah dan analisa Untuk mempertajam pemahaman kita terhadap S.l6 An-Nah}l 72 di atas perlu kita mencari jawaban atas masalah yang timbul, terutama melalui pertanyaan-pertanyaan berikut: 1. Faktor apa yang menyebabkan seseorang belum atau tidak kawin? 2. Bagaimanakah cara dan sikap suatu pasangan suami isteri supaya dikaruniai anak keturunan? 3. Apa sebab sebagian manusia ada yang memilih jalan yang bathil dan tidak mengakui bahwa rejeki itu datang dari Allah Ta’ala? C, Tinjauan dan pemikiran Dalam kuliah Akademi Metafisika Yogyakarta, dr Paryana mencatat bahwa dorongan ingin berkeluarga dan keinginan untuk mempunyai anak dalam diri manusia itu telah ada dari asalnya sejak sebelum lahir. Menurut Dr.Th.V. Wimmersma Greidanus ada 4 macam instink atau nafsu-nafsu yang dimiliki mnusia, yaitu nafsu-nafsu harta, tahta, wanita dan agama. Maka nafsu wanita ( Sexueel-Instink atau nafsu Eros ) inilah yang sangat erat terkait dengan makna yang terkandung dalam Al-Quran S.16An-Nah}l 72 di atas. Jadi nafsu ingin berkeluarga dan keinginan untuk mempunyai anak ini sudah menjadi ketentuan Allah Ta’ala dari awal kejadian manusia. Disebabkan karena sesuatu faktor menyebabkan mereka menjadi singgel alias tidak mempunyai jodoh tidak dalam keadaan kawin. 1. Sebab-sebab mengapa seseorang membujang Banyak faktor yang menyebabkan mengapa seseorang tidak kawin atau tidak segera kawin alias membujang, namun yang lebih banyak terutama disebabkan karena masalah pertanggung jawaban dan kesesuaian cita, yaitu sebagai berikut: a. Struktur pertanggungjawaban kepemimpinan Dalam suatu unit kelompok sosial tidak mungkin terdapat dua pucuk pimpinan. Jika ada suatu unit yang didalamnya terdapat dua pucuk pimpinan pasti akan timbul perebutan kekuasaan baik dalam waktu yang singkat jika perlu sampai masa yang lama, sehingga akhirnya akan tinggal satu saja pimpinan yang kekuatannya mengalahkan saingannya. Hal ini berlaku untuk unit yang paling kecil sampai unit yang paling tinggi. Allah berfirman dalam Al-Quran: لَوْكَانَ فِيهِمَا ءَالِهَةٌ إِلَّا اللَّهُ لَفَسَدَتَا فَسُبْحَانَ اللَّهِ رَبِّ الْعَرْشِ عَمَّا يَصِفُونَ (الانبياء 22) Artinya: Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai `Arsy daripada apa yang mereka sifatkan”(S.21 Al-Anbiya>’ 22). Maka dari itu Allah sendiri menetapkan bahwa suamilah yang ditunjuk untuk menjadi kepala rumah rangga, sebab Allah juga telah memberikan beberapa kelebihan kepada kaum laki-laki sebagaimana yang ditentukan dalam Al-Quran berikut: الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ وَاللَّاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا(النساء 34) Artinya: “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang ta`at kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan Nusyu>znya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka menta`atimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar(S.4 An-Nisa>’ 34). Ash-Sha>bu>ni> dalam Rawa>i’ul Baya>n (tth: 1 / 467) menafsirkan S.4 An-Nisa>`34 ini menggambarkan struktur pertanggung-jawaban rumah tangga muslim itu bagaikan sebuah tubuh, suami sebagai kepala sedangkan isteri sebagai badannya. Dalam pada itu tidak boleh masing-masing menyombongkan diri terhadap yang lain, sebab masing-masing bagian betul-betul saling memerlukan bagian yang satu kepada yang lain dan masing-masing bagian mempunyai tugas kewajiban serta tanggung jawab di bidangnya sendiri yang tidak mungkin dapat dikerjakan oleh yang lain. b.Memilih jodoh Upaya-upaya untuk membangun rumah tangga yang bahagia yang penuh tanggung jawab sebagai yang didambakan oleh setiap pasangan suami isteri terurai di atas harus dimulai dari sejak memilih jodoh. Idealnya memilih jodoh itu harus mengutamakan nilai dan kwalitas jiwa agama dan kemampuan bertanggung jawab sebagaimana dianjurkan oleh Sunnah Rasul Saw. yaitu: 4700 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِي اللَّهم عَنْهم عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ (رواه البخاري ومسلم 2661)* Artinya: “ Dari Abu> Hurairah R.A.dari Nabi Saw. beliau bersabda: “Wanita itu dinikah karena 4 faktor, karena harta, karena nasab keturunan, karena kecantikan dan karena agamanya. Maka utamakanlah ciri agamanya pasti anda bahagia” (HR.Bukha>ri>> no.4700 dan Muslim hadis no.2661-Ad-Durr 1983: 1 / 616). Soal agama ini Allah sangat keras membatasinya, maka oleh karena itu orang Islam di larang keras kawin dengan orang kafr, sebab orang kafir itu akan menyeret orang Islam ke dalam neraka kesengsaraan. Allah berfirman: وَلَا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّى يُؤْمِنَّ وَلَأَمَةٌ مُؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ وَلَا تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِينَ حَتَّى يُؤْمِنُوا وَلَعَبْدٌ مُؤْمِنٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكٍ وَلَوْ أَعْجَبَكُمْ أُولَئِكَ يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِإِذْنِهِ وَيُبَيِّنُ ءَايَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ (البقرة 221) Artinya: “Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mu’min lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mu’min) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mu’min lebih baik dari orang musyrik walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran”(S.2 Al-Baqarah 221). c.Kemampuan beranggung jawab Kemampuan bertanggung jawab merupakan faktor yang sangat penting dalam mendirikan rumah tangga yang bahagia. Rasulullah Saw. bersabda: 4678 عَنْ عَبْدِاللَّه قَالَ لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ (رواه البخاري ومسلم2485 )* Artinya: “Dari ‘Abdulla>h ibnu Mas’u>d dia berkata bahwa Nabi Saw. bersabda: “Wahai kawula muda, barangsiapa yang sudah mampu bertanggung jawab, maka kawinlah, sebab pekawinan itu lebih mampu menundukkan pandangan, lebih dapat menjaga kehormatan.Barang siapa yang belum mampu maka dia harus berpuasa, karena puasa itu mempunyai daya tahan yang kuat”( HR. Bukha>ri> no.4678 dan Muslim no. 2485). Kepada mereka yang belum mampu atau belum ada kessuaian hati Rasulullah Saw. menganjurkan agar mereka itu berpuasa dan bersabar . Insya Allah Tuhan akan memberi modal kemampuan yang cukup sebagaimana dijanjikannya di dalam Al-Quran yaitu: وَأَنْكِحُوا الْأَيَامَى مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ(32)وَلْيَسْتَعْفِفِ الَّذِينَ لَا يَجِدُونَ نِكَاحًا حَتَّى يُغْنِيَهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَالَّذِينَ يَبْتَغُونَ الْكِتَابَ مِمَّا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ فَكَاتِبُوهُمْ إِنْ عَلِمْتُمْ فِيهِمْ خَيْرًا وَءَاتُوهُمْ مِنْ مَالِ اللَّهِ الَّذِي ءَاتَاكُمْ وَلَا تُكْرِهُوا فَتَيَاتِكُمْ عَلَى الْبِغَاءِ إِنْ أَرَدْنَ تَحَصُّنًا لِتَبْتَغُوا عَرَضَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَاوَمَنْ يُكْرِهُّنَّ فَإِنَّ اللَّهَ مِنْ بَعْدِ إِكْرَاهِهِنَّ غَفُورٌ رَحِيمٌ (ألنور33) Artinya: “Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.Dan orang-orang yang tidak mampu kawin hendaklah menjaga kesucian (diri) nya, sehingga Allah memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan budak-budak yang kamu miliki yang menginginkan perjanjian, hendaklah kamu buat perjanjian dengan mereka, jika kamu mengetahui ada kebaikan pada mereka, dan berikanlah kepada mereka sebahagian dari harta Allah yang dikaruniakan-Nya kepadamu. Dan janganlah kamu paksa budak-budak wanitamu untuk melakukan pelacuran, sedang mereka sendiri mengingini kesucian, karena kamu hendak mencari keuntungan duniawi. Dan barangsiapa yang memaksa mereka, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (kepada mereka) sesudah mereka dipaksa (itu)”(S.24 An-Nu>r 32-33) 2.Keluarga yang belum mendapat anak keturunan a. Tugas manusia sebagai khalifah Tuhan di bumi Salah satu tugas manusia di bumi sebagai khalifah Tuhan di bumi ialah membuat sejarah dan riwayat hidup diri dan anak keturunannya serta meramaikan bumi. Rasulullah Saw. bersabda dalam hadis berikut: 3175 عَنْ مَعْقِلِ بْنِ يَسَارٍ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ إِنِّي أَصَبْتُ امْرَأَةً ذَاتَ حَسَبٍ وَمَنْصِبٍ إِلَّا أَنَّهَا لَا تَلِدُ أَفَأَتَزَوَّجُهَا فَنَهَاهُ ثُمَّ أَتَاهُ الثَّانِيَةَ فَنَهَاهُ ثُمَّ أَتَاهُ الثَّالِثَةَ فَنَهَاهُ فَقَالَ تَزَوَّجُوا الْوَلُودَ الْوَدُودَ فَإِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمْ(وراه النسائ وابوداود1754) * Artinya:“Dari Ma’qil ibnu Yasa>r, dia berkata: “Seorang laki-laki datang nenghadap kepada Rasullah Saw. lalu berkata:“Aku bertemu dengan seorang wanita yang mempunyai kedudukan dan terhormat, tetapi dia tidak mempunyai anak. Bolehkah aku menikah dengan dia, ya Rasulullah?”. Rasulullah Sa. Mencegahnya. Lalu laki-laki itu datang lagi untuk kedua kalinya, namun beliau melarang dia. Datang lagi laki-laki itu untuk ketiga kalinya maka beliau melarangnya kemudia beliau bersabda: “Kawinlah kalian dengan wanita yang banyak anak penuh cinta, maka sungguh aku menjadi bangga atas kalian semua”(HR.An-Nasa`>i> > no.3175 dan Abu> Da>wu>d no.1754- Misyka>t 1979: 2 / 929). Allah menciptakan manusia di bumi ini untuk menjadi khalifah –Nya dengan tugas mengabdi kepada Allah dan menggali kekayaan alam ini demi untuk sebesar-besar kemakmuran bagi umat manusia. Allah berfirman di dalam Al-Quran قَالَ يَاقَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ هُوَ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا فَاسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ إِنَّ رَبِّي قَرِيبٌ مُجِيبٌ (هود 61) Artinya: “Shaleh berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (do`a hamba-Nya)”(S.11 Hu>d 61). b.Kemandulan Kemandulan itu memang takdir Tuhan, tetapi Tuhan juga Maha Kuasa untuk memberi anugerah anak kepada siapa yang dikehendaki, bahkan Allah Maha Kuasa memberi anugerah anak kepada seorang perempuan yang tampaknya mandul sedangkan suaminya sudah sangat tua sekalipun, seperti yang tercatat dan termaktub di dalam Al-Quran dalam kisah Nabi Ibrahim maupun Nabi Zakariya: وَامْرَأَتُهُ قَائِمَةٌ فَضَحِكَتْ فَبَشَّرْنَاهَا بِإِسْحَاقَ وَمِنْ وَرَاءِ إِسْحَاقَ يَعْقُوبَ(71)قَالَتْ يَاوَيْلَتَى ءَأَلِدُ وَأَنَا عَجُوزٌ وَهَذَا بَعْلِي شَيْخًا إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ عَجِيبٌ(72) قَالُوا أَتَعْجَبِينَ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ رَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الْبَيْتِ إِنَّهُ حَمِيدٌ مَجِيدٌ(73) (هود 71-73) Artinya: “Dan isterinya berdiri (dibalik tirai) lalu dia tersenyum. Maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang (kelahiran) Ish}a>q dan dari Ishak (akan lahir puteranya) Ya`qub. Isterinya berkata: “Sungguh mengherankan, apakah aku akan melahirkan anak padahal aku adalah seorang perempuan tua, dan ini suamikupun dalam keadaan yang sudah tua pula? Sesungguhnya ini benar-benar suatu yang sangat aneh. Para malaikat itu berkata: “Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, hai ahlulbait! Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah.”(S.11 Hu>d 71-73). هُنَالِكَ دَعَا زَكَرِيَّا رَبَّهُ قَالَ رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ(38)فَنَادَتْهُ الْمَلَائِكَةُ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي فِي الْمِحْرَابِ أَنَّ اللَّهَ يُبَشِّرُكَ بِيَحْيَى مُصَدِّقًا بِكَلِمَةٍ مِنَ اللَّهِ وَسَيِّدًا وَحَصُورًا وَنَبِيًّا مِنَ الصَّالِحِينَ(39)قَالَ رَبِّ أَنَّى يَكُونُ لِي غُلَامٌ وَقَدْ بَلَغَنِيَ الْكِبَرُ وَامْرَأَتِي عَاقِرٌ قَالَ كَذَلِكَ اللَّهُ يَفْعَلُ مَا يَشَاءُ (ال عمران 38-40) Artinya: “Di sanalah Zakariya mendo`a kepada Tuhannya seraya berkata: “Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar do`a”. Kemudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakariya, sedang ia tengah berdiri melakukan shalat di mihrab (katanya): “Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran (seorang puteramu) Yahya, yang membenarkan kalimat (yang datang) dari Allah, menjadi ikutan, menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang Nabi termasuk keturunan orang-orang saleh.” Zakariya berkata: “Ya Tuhanku, bagaimana aku bisa mendapat anak sedang aku telah sangat tua dan isterikupun seorang yang mandul?” Berfirman Allah: “Demikianlah, Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya”(S.3 A

  • n 38-40). Kisah yang sama termaktub dalam S.19 Maryam 5-8 يَازَكَرِيَّا إِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلَامٍ اسْمُهُ يَحْيَى لَمْ نَجْعَلْ لَهُ مِنْ قَبْلُ سَمِيًّا(7)قَالَ رَبِّ أَنَّى يَكُونُ لِي غُلَامٌ وَكَانَتِ امْرَأَتِي عَاقِرًا وَقَدْ بَلَغْتُ مِنَ الْكِبَرِ عِتِيًّا(8)قَالَ كَذَلِكَ قَالَ رَبُّكَ هُوَ عَلَيَّ هَيِّنٌ وَقَدْ خَلَقْتُكَ مِنْ قَبْلُ وَلَمْ تَكُ شَيْئًا (مريم 7-9) Artinya: “Hai Zakariya, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan (beroleh) seorang anak yang namanya Yahya, yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan dia. Zakariya berkata: “Ya Tuhanku, bagaimana akan ada anak bagiku, padahal isteriku adalah seorang yang mandul dan aku (sendiri) sesungguhnya sudah mencapai umur yang sangat tua”. Tuhan berfirman: “Demikianlah”. Tuhan berfirman: “Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan sesungguhnya telah Aku ciptakan kamu sebelum itu, padahal kamu (di waktu itu) belum ada sama sekali”(S.19 Maryam 7-9). Oleh karena itu pasangan suami isteri yang belum mendapat karunia anak keturunan hendaklah berusaha dan memeriksakan diri kepada dokter ahli spesialis, sehingga diperoleh kemungkinan untuk bisa memproleh anak itu. c.Bayi Tabung Bayi Tabung ialah anak bayi hasil dari usaha rekayasa mempertemukan sperma atau benih dari laki-laki dengan ovum atau sel-telor perempuan di dalam sebuah tabung, hasil ini kemudian dipindahkannya ke dalam rahim seorang perempuan untuk dibesarkan sampai melahirkannya menjadi seorang bayi. Husein Yu>suf dalam Muktamar Tarji>h} XXI (1980:64) berpendapat bahwa usaha untuk memperoleh anak keturunan melalui sistem Bayi Tabung itu dibolehkan oleh Syari’at Islam asal memenuhi 3 syarat, yaitu: 1) Sperma dan ovum itu dari suami-isteri sendiri.2) Rela-sama rela antara suami dengan isteri tersebut. 3) Adanya bukti kuat bahwa suami isiteri itu tidak bisa mempunyai anak keturunan dengan cara-cara biasa. Husein Yu>suf membolehkannya dengan kaidah Ushul-Fiqh: اَْلَاَحْكَامُ تَدُوْرُ مَعَ مَصَالِحِ الْعِبَادِ فَحَيْثُمَا وُجِدَتِ الْمَصْلَحَةُ فَثَمَّ حُكْمُ اللهِ Artinya: “Hukum itu terkait dengan kemaslahatan hamba, jika memang terdapat maslahah itu, maka disitulah hukum Allah ditetapkan”. d. Anak asuh Jika jalan tersebut di atas tidak dapat memenuhi hasrat kedua orang suami isteri, maka jalan ketiga yang mungkin dapat mengobati kesedihan dan dapat menampung cinta kasih suami isteri kepada anak yang bisa ditempuh ialah dengan mengambil ANAK ASUH. Sistem mengambil anak asuh merupakan cara mengangkat anak yang tidak bertentangan dengan syari’at Islam. Sistem Anak-Asuh merupakan cara untuk menumpahkan cinta kasih keluarga atau pasangan suami isteri yang tidak mempunyai anak keturunan. Dengan adanya anak asuh maka suatu pasangan suami isteri dapat menumpahkan kasih sayangnya kepada anak asuh persis seperti anak sendiri. Tetapi disebabkan karena namanya saja sudah diawali dengan nama anak asuh, maka kedudukan anak asuh jelas tidak sama dengan anak angkat. Program Anak-Asuh sudah ada pengertian khusus bahwa cara ini tidak mengaitkannya dengan Hukum Perkawinan maupun Hukum Waris. Adopsi atau mengangkat anak yang dikaitkan kebawah Hukum Perkawinan dan Hukum Waris seperti ini maka dilarang keras oleh Allah melalui Al-Quran S.33 Al-Ah}za>b 4-5: مَاجَعَلَ اللَّهُ لِرَجُلٍ مِنْ قَلْبَيْنِ فِي جَوْفِهِ وَمَا جَعَلَ أَزْوَاجَكُمُ اللَّائِي تُظَاهِرُونَ مِنْهُنَّ أُمَّهَاتِكُمْ وَمَا جَعَلَ أَدْعِيَاءَكُمْ أَبْنَاءَكُمْ ذَلِكُمْ قَوْلُكُمْ بِأَفْوَاهِكُمْ وَاللَّهُ يَقُولُ الْحَقَّ وَهُوَ يَهْدِي السَّبِيلَ(4)ادْعُوهُمْ لِآبَائِهِمْ هُوَ أَقْسَطُ عِنْدَ اللَّهِ فَإِنْ لَمْ تَعْلَمُوا ءَابَاءَهُمْ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ وَمَوَالِيكُمْ وَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ فِيمَا أَخْطَأْتُمْ بِهِ وَلَكِنْ مَا تَعَمَّدَتْ قُلُوبُكُمْ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا(الاحزاب 4-5) Artinya: “Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya; dan Dia tidak menjadikan isteri-isterimu yang kamu Zhiha>r itu sebagai ibumu, dan Dia tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak kandungmu (sendiri). Yang demikian itu hanyalah perkataanmu di mulutmu saja. Dan Allah mengatakan yang sebenarnya dan Dia menunjukkan jalan (yang benar). Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang lebih adil pada sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggillah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan Maula>>-Maula>>-mu. Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”(S.33 Al-Ah}za>b 4-5). Mengambil anak yatim dalam program Anak-Asuh akan mendapat derajat yang sangat tinggi di hadapan Allah, senada dengan ayat yang demikian banyak yang menghasung kaum muslimin untuk menyantuni anak yatim. 3. Kecenderungan hati manusia untuk menyukai yang bathil Pada asalnya manusia itu diciptakan Tuhan dalam fitrah yang suci, suci dari dosa, seperti yang ditekankan oleh Allah dalam Al-Quran berikut: فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ (الروم 30) Artinya: “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”(S.30 Ar-Ru>m 30). Manusia itu terdiri dari dua bagian, yaitu roh dan jasmani atau badan halus dan badan kasar. Roh itu suci dan setelah bersenyawa dengan badan jasmani maka jin , syaitan dan alam materi memberikan pengaruh yang sangat besar kepada roh dan mengotorinya. Menurut Al-Qa>simi> dalam tafsirnya Mah}a>sinut Ta`wi>l (1957: 17 / 5086) bahwa yang membelokkan jiwa manusia kepada jalan yang bathil itu sebabnya ialah karena godaan syaitan, nafsu birahinya atau karena bodohnya. Namun jika kita teliti sebab-sebab tersebut di dalam Al-Quran, paling sedikit ada tiga faktor yang menyebabkan manusia cenderung menyukai yang bathil, yaitu: Godaan syaitan, godaan kehidupan dunia dan desakan hawa nafsu. Yaitu disebut di dalam ayat-ayat berikut: (1) Godaan syaitan يَاأَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِين ٌ (البقرة 168) Artinya: “Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu(S.2 Al-Baqarah 168) (Lihat juga:S.2Al-Baqarah208;S.6 Al-An’a>m 142; S.24 An-Nu>r 21; S.17 Al-Isra>` 64). Nabi Saw. bersabda dalam suatu hadis: 5109 عَنْ عِيَاضِ بْنِ حِمَارٍ الْمُجَاشِعِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ ذَاتَ يَوْمٍ فِي خُطْبَتِهِ أَلَا إِنَّ رَبِّي قَالَ إِنِّي خَلَقْتُ عِبَادِي حُنَفَاءَ كُلَّهُمْ وَإِنَّهُمْ أَتَتْهُمُ الشَّيَاطِينُ فَاجْتَالَتْهُمْ عَنْ دِينِهِمْ (رواه مسلم وابوداود 4250 ابن كثير 1966: 2 ص396)* Artinya: “Dari ‘Iyadh ibnu Himar al-Mujasyi’i>, bahwa Rasulullah aw. Bersabda pada suatu hari dalam khutbah beliau bahwa Tuhan berfirman: “Aku menciptakan hamba-Ku itu berjiwa agama semuanya. Dan datanglah syaitan kepada mereka lalu membelokkan mereka menyimpang dari agamanya”(HR.Muslim no.5109. Abu> Da>wu>d 4250, Ibnu Katsi>r 1966, juz2,h.396). (2) Godaan kehidupan dunia Allah berfirman dalam Al-Quran: ذَلِكُمْ بِأَنَّكُمُ اتَّخَذْتُمْ ءَايَاتِ اللَّهِ هُزُوًا وَغَرَّتْكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا فَالْيَوْمَ لَا يُخْرَجُونَ مِنْهَا وَلَا هُمْ يُسْتَعْتَبُونَ (الجاثية 35) Artinya: “ang demikian itu, karena sesungguhnya kamu menjadikan ayat-ayat Allah sebagai olok-olokan dan kamu telah ditipu oleh kehidupan dunia, maka pada hari ini mereka tidak dikeluarkan dari neraka dan tidak pula mereka diberi kesempatan untuk bertaubat”(S.46 Al-Jatsiyah 35) (Lihat juga S.6 Al-An’a>m70;S.6 Al-An’a>m 130;S.3 A
  • n 185) (3) Desakan dari hawa nafsu Allah berfirman di dala Al-Quran sebagai berikut: أَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ أَفَأَنْتَ تَكُونُ عَلَيْهِ وَكِيلًا (الفرقان 43) Artinya: “Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?”(S.25 Al-Furqa>n 43)(Lihat juga; S.28 Al-Qashash 50; S.2 Al-Baqarah 145; S.13 Ar-Ra’du37) وَلَوِ اتَّبَعَ الْحَقُّ أَهْوَاءَهُمْ لَفَسَدَتِ السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ بَلْ أَتَيْنَاهُمْ بِذِكْرِهِمْ فَهُمْ عَنْ ذِكْرِهِمْ مُعْرِضُونَ (المؤمنون 71) Artinya: “Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan mereka tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu”S.23 Al-Mu’minu>n 71) Rasulullah Saw. pernah bersabda dalam suatu hadis, bahwa pengaruh lingkungan, terutama dari orang tuanya, disebut dalam hadis berikut: أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِي اللَّهم عَنْهم قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ وَيُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ (رواه البخاري ومسلم 4803) Artinya: Sungguh Abu> Hurairah r.a. bahwa Rasulullah Saw. bersabda: “Seluruh bayi itu dilahirkan menurut fitrah, maka orang tuanyalah yang menjadikan dia Yahudi , Nasrani atau Majusi”(HR Bukhari dan Muslim 4803) Bisa juga ditambahkan disini apa sebab manusia cenderung menyukai yang bathil itu disebabkan karena sifatnya tergesa-gesa seperti yang disinggung Al-Quran S.76 Al-Insa>n 27 berikut: إِنَّ هَؤُلَاءِ يُحِبُّونَ الْعَاجِلَةَ وَيَذَرُونَ وَرَاءَهُمْ يَوْمًا ثَقِيلًا (الانسان 27) Artinya: “Sesungguhnya mereka (orang kafir) menyukai kehidupan dunia dan mereka tidak memperdulikan kesudahan mereka, pada hari yang berat (hari akhirat)”(S.76 Al-Insa>n 27). ————–(2)————- HUKUM NIKAH I. S.5 Al-Ma>idah 87-88 يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا تُحَرِّمُوا طَيِّبَاتِ مَا أَحَلَّ اللَّهُ لَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ(87) وَكُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ حَلَالًا طَيِّبًا وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي أَنْتُمْ بِهِ مُؤْمِنُونَ (الماءدة 87 -88) II Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezkikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya”(S.5 Al-Ma>idah 87-88). III Tafsir dan analisa A. Pengertian kata-kata = لَا تُحَرِّمُوا Janganlah kalian mengahramkan, maksudnya janganlah kamu mencegah diri memenuhi keinginan hawa nafsu = طَيِّبَاتِ Yang baik, maksudnya yang baik untuk diri, yang lezat dan halal = أَحَلَّ Dia telah menghalalkan, maksudnya apa saja yang halal لَا تَعْتَدُوا = Janganlah kalian melanggar, maksudnya jangan kalian melampaui batas Allah antara yang halal dengan yang haram B.Latar belakang turunnya ayat Para ulama tafsir mencatat banyak-banyak hadis dikaitkan dengan Al-Quran S.5 Al-Ma>idah 87-88 di atas yang diduga sebagai riwayat Sabab Nuzu>l dari ayat di atas dan dispekulasikan ada relevansinya dengan ayat dimaksud. Tafsir Al-Mana>r (tth: 7 / 21) mencatat tidak kurang dari 15 hadis diantaranya telah di-shah}i>h}-kan oleh Bukha>ri>, Muslim atau oleh An-Nasa>i>, Turmudzi>>>, Abu> Da>wu>d, Ibnu Abi> H}a>tim, Ibnu Jari>r. Di antara riwayat itu ialah hadis berikut: 4675 عَنْ أَنَسٍ يَقُولُ جَاءَ ثَلَاثَةُ رَهْطٍ إِلَى بُيُوتِ أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْأَلُونَ عَنْ عِبَادَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا أُخْبِرُوا كَأَنَّهُمْ تَقَالُّوهَا فَقَالُوا وَأَيْنَ نَحْنُ مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ قَالَ أَحَدُهُمْ أَمَّا أَنَا فَإِنِّي أُصَلِّي اللَّيْلَ أَبَدًا وَقَالَ آخَرُ أَنَا أَصُومُ الدَّهْرَ وَلَا أُفْطِرُ وَقَالَ آخَرُ أَنَا أَعْتَزِلُ النِّسَاءَ فَلَا أَتَزَوَّجُ أَبَدًا فَجَاءَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَيْهِمْ فَقَالَ أَنْتُمُ الَّذِينَ قُلْتُمْ كَذَا وَكَذَا أَمَا وَاللَّهِ إِنِّي لَأَخْشَاكُمْ لِلَّهِ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ لَكِنِّي أَصُومُ وَأُفْطِرُ وَأُصَلِّي وَأَرْقُدُ وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي (وراه البخاري ومسلم 2487 والنسائ 3165واحمد 13045)* Artinya: “Ada tiga orang sahabat mendatangi rumah Nabi Saw. mereka mempertanyakan tentang ibadah Nabi Saw. Setelah dijelaskan, mereka bercakap-cakap. Kemudian mereka berkata: “Bagaimanakah diri kita ini dibanding Nabi Saw. padahal beliau itu sudah dijamin diampunani dosanya yang telah lampau dan yang akan datang. Maka salah seorang dari mereka berkata: “Kalau begitu maka aku akan shalat malam terus–menerus” . Yang lain berkata: “Aku akan berpuasa tahunan tidak akan berbuka” . Yang lain lagi berkata: “Aku akan menjauhi wanita dan tidak akan kawin selama-lamanya. Maka datanglah Rasulullah Saw. kepada mereka dan bertanya: “ Kalian yang berkata begini dan begitu? Sedangkan aku adalah orang yang paling takut dan paling takwa kepada Allah di atas kalian, akan tetapi akupun berpuasa namun juga tidak puasa terus, aku juga shalat tetapi aku juga tidur, aku juga mengawini wanita. Barang siapa yang tidak suka kepada sunnah-ku maka dia itu tidak masuk umatku”(HR Bukha>ri> no.4675, Muslim no.2487, Nasa>`i> no.3165 dan Ah}mad no.13045). Hampir bersamaan dengan situasi dan kondisi tersebut di atas, maka suatu hari H}aula>` isteri ‘Utsma>n mengahadap kepada Rasulullah Saw. dan kebetulan di sana sudah ada ibu-ibu yang lain. Kemudian ‘A` tentang sebab mengapa H}aula>` dirinya tampak kusut dan murung, tidak mau berdandan. Pertanyaan ‘A>isyah itu dijawab oleh H}aula>` bahwa suaminya yaitu ‘Utsma>n sudah tidak mau lagi memberikan nafkah batin kepada dirinya sebagai isteri dan dia tidak diperlukan lagi oleh suaminya itu, sehingga sudah tidak ada gunanya lagi dia bersolek. Jawaban ini menimbulkan gelak ketawa ‘A` itu kepada Rasulullah Saw. Oleh karena itulah maka Rasulullah Saw. segera memanggil ‘Utsma>n ibnu Mazh’u>n suami H}aula>` itu, demikian juga mereka yang saling mengucapkan janji akan melakukan pantangan-pantangan tersebut sekaligus menegaskan bahwa beliau adalah hamba Allah yang paling takwa, tetapi beliau tetap memenuhi semua kebutuhan hidup sebagai manusia biasa. Ditambahkannya bahwa badan jasmani itu mempunyai hak yang harus dipenuhi, isteri-pun mempunyai hak yang harus dipenuhi juga oleh suami, mata juga mempunyai hak yang harus dipenuhi demikian juga Tuhan mempunyai hak, semua itu wajib dipenuhi oleh para hamba. Tidak lama berselang H}aula>` datang lagi menghadap ‘A>isyah dengan berhias sangat cantik, lalu ‘A>isyah menyapa dia dan dijawabnya ‘A>isyah itu bahwa suaminya si ‘Utsma>n sudah memenuhi hak dia dan sudah memberi kepuasan kepada dirinya. Peristiwa ini kemudian ditambahkan oleh Rasulullah Saw. masalah mereka yang melakukan macam-macam pantangan, mengharamkan diri kawin, makan atau tidur, padahal beliau sebagai manusia biasa berpuasa terkadang juga tidak berpuasa, beliau juga menikah dengan wanita dan juga tidur. Maka barang siapa yang tidak mengikuti sunnah beliau, dia itu bukan umat Muhammad. Dari serangkaian peristiwa itu turunlah Al-Quran S.5 Al-Ma>idah 87-88 (Ad-Durrul Mantsu>r 1983:3 / 139, Ibnu Katsi>r 1966:2 / 626). C.Tema dan sari tilawah Memperhatikan uraian pengertian kata-kata dan latar belakang turunnya ayat di atas, maka dapat digali tema dan kandungan makna ayat di atas sebagai berikut: 1. Allah telah menetapkan hukum halal dan haram bagi umat manusia 2. Apa yang dihalalkan Allah itu akan menjamin kebutuhan hidup manusia secara universal, salah satunya ialah perkawinan 3. Manusia dilarang menetapkan hukum yang bertantangan dengan hukum-hukum Allah 4. Rezeki yang dihalalkan Allah hendaklah dinikmati sebagaimana mestinya 5. Orang-orang yang beriman wajib bertakwa kepada Allah dan dilarang melanggar batas-batas hukum Allah 6. Allah tidak suka kepada orang yang melanggar batas. D. Masalah dan analisa Memperhatikan beberapa tema tersebut diatas timbul beberapa masalah yang penting yang perlu dicari jawabannya guna usaha untuk mempertajam pemahaman kita atas Al-Quran S.5 Al-Ma>idah 87-88 di muka, yaitu: 1.Apa saja kebutuhan hidup manusia secara universal dikaitkan dengan apa yang disebut-sebut oleh Rasulullah Saw. dalam hadis riwayat Sababun Nuzu>l itu? 2.Apa dampak dan akibatnya jika kebutuhan hidup manusia dimaksud tidak dipenuhi 3. Bagaimanakah hukum perkawinan dan batas-batas yang dihalalkan oleh Allah itu? E.Tinjauan dan pemikiran Berpijak atas riwayat latar belakang turunnya ayat terurai di atas maka kedua ayat S.5 Al-Ma>idah 87-88 wajarlah bahwa kedua ayat ini dijadikan dasar pemikiran Hukum Nikah atau Hukum Perkawinan dalam wacana judul di muka. Dengan demikian perlu segera kita telusuri bagaimana jawaban dari masalah-masalah tersebut diatas ini. 1. Kebutuhan hidup manusia secara universal Abu>> Zahrah menulis di dalam kitab Ushul Fiqh-nya (tth:289) menyatakan bahwa proyek yang dikehendaki oleh syari’at Islam itu ada tiga, yaitu: a.Menciptakan manusia sebagai sumber amal soleh, penuh karya dan jasa b.Menegakkan kebenaran dan keadilan bagi seluruh umat manusia c.Menyelenggarakan kehidupan masyarakat yang penuh maslahah yang hakiki dalam istilah asing disebut Human needs. Kehidupan masyarakat yang penuh maslahah yang hakiki ialah suatu masyarakat yang di dalamnya seluruh masyarakat mendapat kecukupan dan kesejahteraan semua kebutuhan hidupnya. Sedangkan kebutuhan hidup manusia menurut ulama dan mutjtahidin ada 5 macam, semua bersumber dari firman Allah dalam Al-Quran dalam berbagai macam surat dan ayat, yaitu: 1) Terjaminnya hak untuk mengabdi&menyembah kepada Tuhan( حفظ الدين) 2) Terjaminnya hak untuk hidup dan keselamatan jiwanya(حفظ النفس) 3) Terjaminnya hak pemilikan atas harta kekayaan (حفظ المال) 4) Terjaminnya hak pengembangan akal yang sehat(حفظ العقل) 5) Terjaminnya hak untuk pengembangan jenis, anak keturunan (حفظ النسل) Kelima kebutuhan hidup manusia di atas inilah yang dinamakan dengan Maqa>shidusy Syari>‘ah. Dari sisi lain semua dapat disebut juga Hak Asasi Manusia (HAM) yang diperjuangkan LSM-LSM diseluruh dunia. Asy-Sya>thibi> dalam kitabnya Muwa>faqa>t (tth:2 / 8) menyatakan bahwa semua kewajiban syari’at Islam itu kembali kepada tercapainya tujuan syari’ai itu sendiri yang disebut dengan Maqa>shidusy-Syari>’ah bagi seluruh makhluk. Tujuan Syari’at Islam dirumuskan para ulama ada 5 prinsip dan kelima prinsip ini juga disebut: Adh-Dharu>riya>tul Khamsah. Kebutuhan hidup manusia atau Human needs menurut Ralph Piddington dalam bukunya An introduction to social anthropology (1950:221) maka kebutuhan hidup manusia secara unversal itu ada 3 macam, yaitu: i. Kebutuhan primer Kebutuhan primer ialah suatu kebutuhan hidup yang sama antara manusia dengan hewan, seperti makan, minum, istirahat, kesehatan, nafsu seks. ii. Kebutuhan skunder Kebutuhan skunder atau kebutuhan sosial, ialah suatu kebutuhan hidup manusia untuk hidup bermasyarakat, seperti keinginan hidup dengan sesama, pengembangan pemikiran akal, kebanggaan atas kelompok, kebutuhan pemilikan atas hara kekayaan iii.Kebutuhan integratip Kebutuhan integratip ialah kebutuhan manusia untuk hidup terus dan hidup yang lebih baik lagi terutama yang berkaitan dengan perasaan moral, kepercayaan dan kesempurnaan jiwa, mencakup 3 bidang, yaitu a)Semua yang berkaitan dengan ritual keagamaan atau Medico religious system b)Hiburan, permainan, kepuasan atas rasa seni dan keindahan atau Realisation, play,aesthetic stisfaction. Kebutuhan hidup manusia secara universal menurut Abraham Maslow dalam bukunya Motivation and Personality (1954:15) ada 5 jenis, yaitu: (1) Dasar kebutuhan jasmani atau Basic physiological needs. (2) Ketertiban dan keamanan atau Safety and scurity (3) Rasa sosial dam kegiatan bersama atau Sence of belonging and social activity (4) Kehormatan dan penhargaan atau Esteem, status (5) Puncak kepuasan dan kesempurnaan atau Self realisation, fulfillment. Dari teori-teori terurai di atas maka kebutuhan manusia secara universal Ad-Dlaruriyatul-khamsah, Maqa>shidusy Syari>‘ah, human needs yang semuanya bisa dimasukkan sebagai hak setiap diri umat manusia atau hak asasi manusia(HAM). Maka dari itu seluruh umat manusia tidak boleh tidak harus memenuhinya dengan sebaik-baiknya dan tepat sesuai dengan ukurannya yang benar. 2. Dampak akibat tidak dipenuhinya kebutuhan hidup manusia secara universal Dari teori Adh-Dharu>riya>tul-Khamasah atau Human needs, maka lima macam kebutuhan hidup manusia secara universal tersebut merupakan bekal manusia untuk hidup di dunia ini. Sehingga barang siapa yang tidak memenuhi kebutuhan hidup yang lima ini, maka orang ini tidak dapat hidup atau tidak dapat hidup yang wajar. Barang siapa ingin hidup dan hidup yang lebih baik lagi tidak boleh tidak harus memenuhi kebutuhan hidup seperti yang dikemukakan oleh As-Syathibi, Abu> Zahrah atau Ralph Piddington dengan Abraham Maslow di atas. Namun dari 5 macama Adh-Dharu>riya>tul Khamsah atau kebutuhan primer, skunder dan integratip di atas, maka terpenuhinya jaminan untuk hidup atau nyawa merupakan inti dari kelima kebutuhan tersebut. Sebab jika seseorang tidak ada nyawanya berarti mati dan dengan mati maka seluruh kehidupan sudah tidak ada apa-apanya lagi sama sekali. Al-Quran sangat keras melarang melakukan pembunuhan atau perbuatan untuk menghilangkan nyawa seorang manusia, kecuali karena alasan hukum dan larangan membunuh itu berlaku atas nyawa bayi yang masih dalam kandungan, hamil muda sekalipun, sebagaimana perluasan makna apa yang dimaksud dengan وأد البنات (Wa`dul-banat), seperti mengubur bayi hidup-hidup. Allah berfirman (S.17 Al-Isra>“13, S.81 At-Takwi>r 8-9) وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلَاقٍ نَحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُمْ إِنَّ قَتْلَهُمْ كَانَ خِطْئًا كَبِيرًا (الاسراء31) Artinya: “Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rezki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar”(S.17 Al-Isra>` 31). وَإِذَا الْمَوْءُودَةُ سُئِلَتْ(8)بِأَيِّ ذَنْبٍ قُتِلَتْ (التكوير8-9) Artinya: “apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena dosa apakah dia dibunuh”(S.81 At-Takwi>r 8-9). Jika mengubur bayi hidup-hidup ini dilarang keras apa lagi membunuh orang dewasa atau orang tua. Yang dilarang bukan hanya membunuh atau mengubur bayi hidup-hidup, bahkan perbuatan hanya Al’Azlu ( العزل ) ) inipun juga dicegah oleh Rasulullah Saw. sebagaimana disinggung-singgung dalam hadis berikut: 2613عَنْ خُدَامَةَ بِنْتِ وَهْبٍ قَالَتْ حَضَرْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي أُنَاسٍ ثُمَّ سَأَلُوهُ عَنِ الْعَزْلِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَلِكَ الْوَأْدُ الْخَفِيُّ (رواه مسلم وابن ماجه 2001) Artinya: “Dari Khuda>mah binti Wahab, dia berkata: “Aku menghadap kepada Rasulullah Saw. ditengah-tengah orang banyak, kemudiam mereka bertanya kepada beliau masalah Al-‘Azlu, maka Rasulullah Saw. menjawab: “Al-‘Azlu itu membunuh calon anak secara rahasia”(HR Muslim hadis no.2613 dan Ibnu Ma>jah no.2001, Ad-Durr 1983:8 / 430, Ibnu Katsi>r 1966: 7 / 225). Kembali kepada masalah kebutuhan hidup, maka dengan tidak dipenuhinya kebutuhan hidup tersebut dimuka, maka seluruh selera untuk hidup hilang sama sekali. Orang bersangkutan tidak dapat hidup, tidak dapat menyembah Allah, tidak dapat berpikir, tidak dapat kawin, tidak mempunyai anak keturunan, tidak dapat membuat sejarah hidup dirinya. Sedangkan Allah menciptakan manusia itu dimaksudkan untuk menjadi khalilfah Tuhan di bumi, untuk memakmurkan bumi. Menggali kekayaan alam untuk sebesar-besar kesejahteraan umat manusia (S.11 Hu>d 61). Jika manusia tidak memenuhi kebutuhan hidupnya maka tidak ada lagi anak, tidak ada keturunan mausia, secara ekstrem bumi ini akan sunyi senyap tidak ada manusianya mungkin ada manusia yang hidup tetapi tidak wajar hidupnya, sehingga tidak tumbuh seni dan budaya, tidak ada kebudayaan tidak ada peradaban. 2. Hukum perkawinan Kita sebagai orang beriman sangat yakin bahwa Allah Ta’ala itu Maha Mengetahui apa yang diperlukan oleh manusia untuk hidup, bagaimana manusia seharusnya memanfaatkan sarana prasrana yang disediakan oleh Allah untuk hidupnya. Oleh karena itulah Allah Ta’ala membuat resep atau peraturan perundang-undangan bagi manusia, dengan maksud agar manusia dapat hidup di dnunia ini hidup yang serba kecukupan apa yang diperlukan, hidup dan hidup terus , bahkan hidup yang lebih baik, hidup yang selamat, sejahtera, bahagia lahir batin , jasmani rohani, selama-lamanya dunia akhirat. Resep itu tidak lain adalah HUKUM PERKAWINAN suatu hukum perundang-undangan yang bersumber dari wahyu Ilahi yaitu Al-Quran yang diperkaya lebih rinci melalui Sunnah Rasul Saw. kemudian diperjelas melalui ijtihad para ulama mujtahidin, generasi demi generasi sepanjang jaman. ————————–(3)————————- MEMADU KASIH DENGAN PERKAWINAN I. S.30 Ar-Ru>m 20-21 وَمِنْ ءَايَاتِهِ أَنْ خَلَقَكُمْ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ إِذَا أَنْتُمْ بَشَرٌ تَنْتَشِرُونَ(20)وَمِنْ ءَايَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُو (الروم 21-20) II. Artinya: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan kamu dari tanah, kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) manusia yang berkembang biak. Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”(S.30 Ar-Ru>m 20-21). III. Tafsir dan anlisa A. Penegrtian kata-kata = ءَايَاتِهِ Ayat-ayat-Nya, maksudnya bukti-bukti sifat Maha Kuasa Allah = خَلَقَكُمْ Dia telah menciptakan kalian. Menciptakan artinya suatu penciptaan yang tidak ada contoh sebelumnya = تُرَابٍ Debu atau tanah yang kering ثُمَّ إِذَا = Kemudian tiba-tiba = بَشَرٌ Manusia = تَنْتَشِرُونَ Kalian tersebar = مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا Isteri-isteri dari diri-diri kalian, maksudnya bahwa Allah menciptakan Hawa dari tulang rusuk Adam = لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا Agar supaya kalian cenderung dan mencintai dia (isteri) = مَوَدَّةً Kecintaan = وَرَحْمَةً Kasih sayang = يَتَفَكَّرُون Mereka memikirkan, berpikir sampai menemukan hikmahnya B. Tema dan sari tilawah Dari pengertian kata-kata dan terjemah terurai di atas, kiranya dapat diambil tema dan kandungan makna ayat yang bisa menjadi acuan masalah, yaitu: Allah adalah Tuhan yang mempunyai sifat yang serba Maha Sifat-sifat yang serba Maha itu ada di mana, yaitu: 1. Allah menciptakan manusia dari tanah 2. Allah menciptakan jodoh seseorang dari jenisnya sendiri 3. Allah menciptakan dari pasangan keduanya itu berkembang biak terus mewujudkan seluruh umat manusia 4. Jodoh sebagai pusat memadu kasih pasangan suami isteri merupakan ayat Allah dan sebagai bukti Maha Kuasa Allah. Kita semua dituntut untuk merenungkan bukti dan semua ayat Allah itu. C.Masalah dan analisa Dari isi tema dan kandungan makna terurai di atas ada beberapa masalah yang menuntut kita untuk menelusuri bagaimana jawabannya dan juga untuk mempertajam pemahaman atas Al-Quran S. 30 Ar-Ru>m 20-21 dia atas, terutama ialah masalah berikut: 1. Bagaimana analisanya bahwa manusia itu diciptakan dari tanah? 2. Apakah tugas kewajiban manusia dalam menghadapi perkembangan hidup dan kehidupan ini? 3. Bagaimanakah cara menumbuh suburkan cinta kasih dalam kehidupan perkawinan itu? D.Tinjauan dan pemikiran Al-Quran S.30 Ar-Ru>m 20-21 merupakan ayat-ayat yang menyinggung asal-usul manusia dan perkembangan hidup dan kehidupannya. Selanjutnya sejarah dan proses asal usul manusia maupun perkembangannya ini merupakan ayat-ayat Allah yang harus kita renungkan dengan seksama, terutama melalui judul-judul di bawah ini: 1. Allah menciptakan manusia dari tanah Sebelum Allah menciptakan manusia dari tanah, maka sudah tentu Allah lebih dahulu > menciptakan tanah itu sendiri, padahal tanah dimaksud tidak lain adalah bumi. Jadi sebelum Allah menciptakan manusia maka Allah menciptakan bumi dan dalam menciptakan bumi ini Allah menciptakannya tidaklah hanya bumi sendiri saja, tetapi Allah mnciptakannya sekaligus seluruh alam semesta semuanya, dalam satu proses besar luar biasa. Ah}mad Baiquni, Professor Ahli Atom Pertama Indonesia dalam bukunya Al-Quran dan Ilmu Pengetahuan&Tehnologi (1994:14), mengaitkan Al-Quran S.21 Al-Anbiya>` 30 dengan S.51 Adz-Dzariya>t 47 menjelaskan bahwa pada awalnya kira-kira 15 milyar tahun yang lalu, alam semesta ini terjadi dari PADUAN RUANG DAN MATERI dalam satu titik singularitas fisis yang berisi calon seluruh materi isi jagad raya ini, dan melalui suatu ledakan yang maha dahsyat (Big bang) terlemparlah 100 milyar galaksi yang masing-masing berisi 100 milyar bintang. Di antaranya mewujudkan suatu susunan tata surya matahari dan bumi kita ini. Bumi sendiri pada mulanya panas luar biasa, kemudian berangsur-angsur semakin menjadi dingin. Dengan prosesnya menjadi dingin ini terbentuklah tanah. Barulah sesudah itu Tuhan menciptakan manusia dari tanah. Allah berfirman: أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ (الانبياء 30) Artinya: “Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahU>lu> adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?”(S.21 Al-Anbiya>` 30) وَالسَّمَاءَ بَنَيْنَاهَا بِأَيْدٍ وَإِنَّا لَمُوسِعُونَ(47)وَالْأَرْضَ فَرَشْنَاهَا فَنِعْمَ الْمَاهِدُونَ (الذاريات 47-48) Artinya: “Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya. Dan bumi itu Kami hamparkan; maka sebaik-baik yang menghamparkan (adalah Kami)”(S.51 Adz-Dza>riya>t 4748) Maurice Boucaille dalam bukunya Asal usul manusia (1992:202) mengutip Al-Quran S.20 Tha>ha> 55 dan menafsirkannya yang lebih dahulu mengaitkannya dengan S.71 Nu>h} 17 yairu sebagai berikut: مِنْهَا خَلَقْنَاكُمْ وَفِيهَا نُعِيدُكُمْ وَمِنْهَا نُخْرِجُكُمْ تَارَةً أُخْرَى(طه 55) Artinya: “Dari bumi (tanah) itulah Kami menjadikan kamu dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu dan daripadanya Kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang lain”(S.20 Tha>ha> 55). Bahwa lafal “خلقنا (Khalaqna>) ialah mmbentuk sesuatu ke dalam proporsi tertentu,membentuk dalam proporsi tertentu melalui proses berikut: (1)Menumbuhkan وَاللَّهُ أَنْبَتَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ نَبَاتًا ((نوح 17) “Dan Allah menumbuhkan kamu dari tanah dengan sebaik-baiknya”(S.71 Nu>h}17) (2)Menyebabkan kamu tumbuh “. هُوَ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الْأَرْض (هود 61) ” Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah)”(S 11 Hu>d 61) (3) Dari sari pati tanah liat (lempung) وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ طِين (المؤمنون 12) Artinya: “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah” (S.23 Al-Mu`minu>n 12) (4) Tanah gemuk S. 22 Al-H}ajji 5 وَتَرَى الْأَرْضَ هَامِدَةً فَإِذَا أَنْزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَاءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ وَأَنْبَتَتْ مِنْ كُلِّ زَوْجٍ بَهِيج(الحج 5) Artinya: “Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah”(S.22 Al-H}ajji 5). (5) Lempung yang pekat إِنَّا خَلَقْنَاهُمْ مِنْ طِينٍ لَازِبٍ (الصافات 11) Artinya: “Sesungguhnya Kami telah menciptakan mereka dari tanah liat” (S.37 Ash-Sha>ffa>t 11) (6) Tanah hitam yang kering وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ صَلْصَالٍ مِنْ حَمَإٍ مَسْنُونٍ (الحجر26 ) Artinya:“Dan sesungguhnya Kami telah meciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk”(S.15 Al-H}ijr 26). Proses penciptaan manusia dari tanah ini diperselisihkan oleh ara ulama, terutama jika dikaitkan Al-Quran S.30 Ar-Ru>m 30 di atas dengan ayat lain. Diterangkan dalam berbagai surat dan ayat bahwa Adam diciptakan Allah dalam beberapa istilah dan dispekulasikan sebagai sebuah proses penciptaan Adam, yaitu sebagai sebagai berikut: i. Allah menciptakan Adam dari debu (Tura>b = تراب )termaktub dalam S.3 A
  • n 59; S.18 Al-Kahfi 37; S.22 Al-H}ajji 5; S.30 Ar-Ru>m 20; S.35 Fa>thir 11; S.40 Al-Mu`min 67; إِنَّ مَثَلَ عِيسَى عِنْدَ اللَّهِ كَمَثَلِ ءَادَمَ خَلَقَهُ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهُ كُنْ فَيَكُون ُ(ال عمران59) Artinya: “Sesungguhnya misal (penciptaan) `Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: “Jadilah” (seorang manusia), maka jadilah dia”(S.3 A
  • n 59). ii. Allah mnciptakan Adam dari tanah liat (Thi>n= طين) termaktub dalam S.32 AsSajdah 7; S.7 Al-A’ra>f 12; S.38 Sha>d 75-76); قَالَ يَاإِبْلِيسُ مَا مَنَعَكَ أَنْ تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ أَسْتَكْبَرْتَ أَمْ كُنْتَ مِنَ الْعَالِينَ(75)قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ (ص 75-76) Artinya::“Allah berfirman: “Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi? Iblis berkata: “Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah” (S.38 Sha>d 75-76). iii. Allah menciptakan Adam dari tanah hitam kering berbentuk (H{ama`in masnu>n = (صلصال من– حمأ مسنون termaktub dalam S.15 Al-H}ijr 26, 28, 33. وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ صَلْصَالٍ مِنْ حَمَإٍ مَسْنُونٍ(26)وَالْجَانَّ خَلَقْنَاهُ مِنْ قَبْلُ مِنْ نَارِ السَّمُومِ (الحجر 26-27) Artinya: “Dan sesungguhnya Kami telah meciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentukDan Kami telah menciptakan jin sebelum(Adam)dari api yang sangat panas”(S.15 Al-H}ijr 26-27). Disisi lain dijelaskan bahwa Allah menciptakan anak keturunan Adam itu dari variasi dan proses sebagai berikut: Allah menciptakan manusia dari suatu sari-pati melalui suatu proses dari tanah, termaktub dalam S.23 Al-Mu`minu>n 12; وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ طِينٍ(12)ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَكِينٍ(13)ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا ءَاخَرَ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ (المؤمنون 14) Artinya: “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik” (S.23 Al-Mu`minu>n 12-14). Allah menciptakan manusia dari suatu proses panjang bermula dari air, termaktub di dalam S.32 As-Sajdah 8; ثُمَّ جَعَلَ نَسْلَهُ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ مَاءٍ مَهِينٍ (السجدة 8) Artinya: “Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina yaitu air mani(S.32 As-Sajdah 8) Allah menciptakan manusia dari air mani (Nuthfah =نطفة ) termaktub dalam S.25 Al-Furqa>n 54; S.77 Al-Mursala>t 20; S.86 AAth-Tha>riq 6; S.18 Al-Kahfi 37; S.76 Al-Insa>n 2; S.36 Ya>si>n 77; وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ مِنَ الْمَاءِ بَشَرًا فَجَعَلَهُ نَسَبًا وَصِهْرًا وَكَانَ رَبُّكَ قَدِيرًا (الفرقان 54) Artinya: “Dan Dia (pula) yang menciptakan manusia dari air, lalu Dia jadikan manusia itu (punya) keturunan dan mushaharah dan adalah Tuhanmu Maha Kuasa” (S.25 Al-Furqa>n 54) Allah menciptakan manusia melalui serangkaian proses dari darah kental ( ‘Alaqah = علقة) kemudian segumpal daging (Mudl-ghah = مضغة) termaktub dalam S.22 Al-H}ajji 5; S.23 Al-Mu`minu>n 12-15; S.96 Al-‘Alaq 2; S.40 Al-Mu`min 67; S.75 Al-Qiya>mah 38; يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِنَ الْبَعْثِ فَإِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ مِنْ مُضْغَةٍ مُخَلَّقَةٍ وَغَيْرِ مُخَلَّقَةٍ لِنُبَيِّنَ لَكُمْ وَنُقِرُّ فِي الْأَرْحَامِ مَا نَشَاءُ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى ثُمَّ نُخْرِجُكُمْ طِفْلًا ثُمَّ لِتَبْلُغُوا أَشُدَّكُمْ وَمِنْكُمْ مَنْ يُتَوَفَّى وَمِنْكُمْ مَنْ يُرَدُّ إِلَى أَرْذَلِ الْعُمُرِ لِكَيْلَا يَعْلَمَ مِنْ بَعْدِ عِلْمٍ شَيْئًا وَتَرَى الْأَرْضَ هَامِدَةً فَإِذَا أَنْزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَاءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ وَأَنْبَتَتْ مِنْ كُلِّ زَوْجٍ بَهِيجٍ (الحج 5) Artinya: “Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (ada pula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahU>lu>nya telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah”(S.22 Al-H}ajji 5). 2.Hidup itu wajib berjuang Para ahli sosiologi-antropologi menyatakan sudah menjadi Hukum Alam, bahwa manusia itu harus berusaha memenuhi kebutuhan hidupnya, mulai dari kebutuhan primer, skunder sampai kebutuhan yang integratip, agar supaya dia hidup, dan hidup terus bahkan hidup yang lebih baik lagi sampai yang paling sempurna, mencakup kehormatan, penghargaan dan kebahagiaan. Keharusan manusia untuk berjuang khususnya berjuang untuk hidup ini bisa diperkeras lebih kejam lagi menurut teori Charles Darwin ialah bahwa di dunia ini terus menerus terjadi perlombaan yang dinamakan dengan SELEKSI-ALAM. Maurice Bucaille (1992:45) mengutip teori Darwin itu mencatat bahwa setiap makhluk hidup harus berjuang mati-matian untuk mempertahankan hidupnya agar supaya mampu untuk hidup dan hidup terus melawan musuh yang mengancam perjalanan hidupnya. Dalam perlombaan hidup ini secara alami mengakibatkan adanya seleksi alam, yaitu bahwa siapa yang kuat akan mengalahkan yang lemah, mereka yang lemah akan tergilas oleh yang kuat. Dan proses selanjutnya ialah bahwa mereka yang lemah akan terpinggirkan bahkan akhirnya tidak dapat mempertahankan hidupnya lagi alias mati. Lenyapnya semua makhluk hidup jaman purba merupakan akibat dari kekalahan total dalam perlombaan hidup, tergilas oleh seleksi alam, tidak mampu memenangkan perebutan sarana dan lahan prasarana hidup. Sebaliknya mereka yang mempunyai kekuatan dan kelebihan maka dia akan mempunyai kesempatan besar untuk memenangkan perlombaan perebutan lahan hidup ini, selanjutnya akan mengembangkan jenis anak keturunan yang juga mungkin memiliki berbagai macam kelebihan yang juga akan memenangkan perlombaan perebutan lahan untuk hidup ini. Oleh karena itulah maka manusia wajib berjuang untuk mempertahankan hidupnya dengan memenuhi apa yang menjadi hak bagi jasmani dan rohaninya, kebutuhan primer, skunder, integratip atau Adl-Dlaruriyatul-Khamsah seperti teori yang dikemukakan oleh para sosiolog-antropologi dan para ulama mujtahidin ahli dalam masalah Maqa>shidusy—Syari>’ah di muka, salah satunya ialah hidup berkeluarga, berketurunan, beranak cucu, melalui Hukum Perkawinan. Di alam ini manusia akan selalu menghadapi tantangan hidup dan mungkin tantangan yang sangat kejam, dapat juga dinamakan cobaan atau ujian, yang harus dijawab harus diatasi jika dia itu musuh harus dikalahkan. Rasulullah Saw. pernah bersabda: 4925 عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ وَإِنَّ اللَّهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ فَاتَّقُوا الدُّنْيَا (رواه مسلم والترمذي 2117)* Artinya: “Dari Abu Sa’id al Khudriyyi dari Nabi Saw. beliau bersabda: “Sungguh dunia itu merupakan suatu hiburan yang sangat menyenangkan hati dan Allah telah mengangkat kalian menjadi penguasa di sana, coba lihat apa yang akan kalian perbuat. Berhati-hatilah kalian menghadapinya”(HR.Muslim no.4925, Ibnu Katsi>r 1966:3 / 1942) Allah memperingatkan kita sekalian untuk siap berjuang, tidak malas, tidak lemah semangat, jangan menjadi seorang yang pengecut: قَالَ رَجُلَانِ مِنَ الَّذِينَ يَخَافُونَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمَا ادْخُلُوا عَلَيْهِمُ الْبَابَ فَإِذَا دَخَلْتُمُوهُ فَإِنَّكُمْ غَالِبُونَ وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ(23)قَالُوا يَامُوسَى إِنَّا لَنْ نَدْخُلَهَا أَبَدًا مَا دَامُوا فِيهَا فَاذْهَبْ أَنْتَ وَرَبُّكَ فَقَاتِلَا إِنَّا هَاهُنَا قَاعِدُونَ(الماءدة 23-24) Artinya: “Berkatalah dua orang di antara orang-orang yang takut (kepada Allah) yang Allah telah memberi ni`mat atas keduanya: “Serbulah mereka dengan melalui pintu gerbang (kota) itu, maka bila kamu memasukinya niscaya kamu akan menang. Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman. Mereka berkata: “Hai Musa, kami sekali-sekali tidak akan memasukinya selama-lamanya, selagi mereka ada di dalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja”(S.5 Al-Ma>idah 23-24). Bisa dibandingkan dengan Bibel, Kitab Bilangan13: 1-33, 14:1-45. 3. Membina perkawinan yang penuh mesra dan bahagia Sebagai hamba yang beriman kepada Allah, maka ikhtiar untuk membina perkawinan dan keluarga yang penuh mesra dan bahagia, tidak lain kecuali harus mengikuti petunjuk Allah dan mentaati aturan Allah, mengikuti hukum-hukum Allah. Penyusun Al-Mana>r (tth: 1 / 62), mencatat membagi petunjuk Allah kepada manusia itu menjadi 4 saluran, yaitu: a) Instink; b) Perasaan indra; c) Akal; d) Agama. Melalui 4 saluran ini Allah telah memberi petunjuk kepada manusia bagaimana seharusnya hidup didunia, hidup terus dan hidup yang lebih baik lagi bahkan hidup yang sangat bahagia. Allah telah memberi petunjuk jalan bagi manusia mana jalan yang menuju ke kebahagiaan dan mana jalan yang mengakibatkan diri jatuh ke dalam kecelakaan dan derita أَلَمْ نَجْعَلْ لَهُ عَيْنَيْنِ(8)وَلِسَانًا وَشَفَتَيْنِ(9)وَهَدَيْنَاهُ النَّجْدَيْنِ(البلد 8-10) Artinya: “Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata, lidah dan dua buah bibir. Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan”(S.90 Al-Balad 8-10). Allah telah memberi ilham kepada manusia manakah jalan menuju kepada hati yang takwa dan manakah jalan yang menjerumuskan diri ke dalam kedurhakaan وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا(7)فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا(8)قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا(9)وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا (الشمس 7-10) Artinya: “dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya”(S.91 Asy-Syamsi 7-10). Tetapi manusia tergoda sehingga memilih jalan yang buruk dan jahat وَأَمَّا ثَمُودُ فَهَدَيْنَاهُمْ فَاسْتَحَبُّوا الْعَمَى عَلَى الْهُدَى( فصلت 17) Artinya: “Dan adapun kaum Tsamud maka mereka telah Kami beri petunjuk tetapi mereka lebih menyukai buta (kesesatan) dari petunjuk itu”(S.41 Fushshilat 17) Disamping instnk dan indra manusia di beri akal dan akal ini mempunyai potensi dan kekuatan yang luar biasa, karena ketinggian akal inilah maka para Malaikat sujud-salut kepada makhluk manusia yang bernama Adam (S. 2 Al-Baqarah 31-33). Jika instink dan akal ini banyak-banyak diberikan peran dalam proses pemilihan antara salah dan benar antara yang baik dengan yang buruk, maka dia akan menjadi sebuah pisau analisa yang sangat tajam manakah sesuatu itu benar mana yang salah atau mana yang baik mana yang buruk tadi. Kemudian di dalam hidup berkeluarga dalam suatu perkawinan itu tidak mungkin cenderung mengarah kepada hidup individualistis. Misalnya: Mati aku mati kowe, mati kowe mati kaku artinya jika suami mati maka isteri sangat sedih setengah mati, sedangkan jika istri meninggal, maka suami begembira ria. Hidup bahagia suatu pasangan suami ialah jika seia sekata sehidup semati, suka dinikmati bersama dan duka ditanggung bersama. Filosofis pengertian tentang BENAR bahwa yang dinamakan benar ialah suatu kenyataan yang tidak berobah, diakui oleh siapapun juga, dimana saja tempatnya selama-lamanya pada jaman awal sampai sekarang, sampai akhir zaman. Demikian juga yang disebut BAIK ialah sesuatu yang memberi kenikmatan dan kesenangan kepada siapapun juga, di mana saja berada dan jaman kapanpun mereka itu hidup, sejak zaman awal, sekarang sampai akhir zaman. Demikian pendapat Harold H.Titus dalam bukunya Living Issues in Philosophy (1984:149). Dalam hal pasangan suami isteri dalam hidup perkawinan, maka rumah tangga yang bahagia ialah bahwa suami maupun isteri sama-sama menikmati kesenangan dan kebahagiaan itu bersama. Masing-masing selalu berusaha keras untuk berbuat yang baik dan benar guna mencari kebahagiaan yang dapat dinikmati bersama, dalam waktu selama-lamanya, dimana saja berada, kebahagiaan lahir dan batin jasmani maupun rohani. Semua ini tidak lain keculai harus mengikuti petunjuk dari Allah dan Rasulullah Saw. —————(4)————- MENCARI DAN MEMILIH JODOH I. S.2 Al-Baqarah 221 I. وَلَا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّى يُؤْمِنَّ وَلَأَمَةٌ مُؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ وَلَا تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِينَ حَتَّى يُؤْمِنُوا وَلَعَبْدٌ مُؤْمِنٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكٍ وَلَوْ أَعْجَبَكُمْ أُولَئِكَ يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِإِذْنِهِ وَيُبَيِّنُ ءَايَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُون َ (البقرة 221) II. Artinya “Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik sebelum mereka beriman. Sungguh wanita budak yang mu`min lebih baik dari wanita yang musyrik walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mu`min) sebelum mereka beriman. Sungguh budak laki-laki yang mu`min lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Mereka itu mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan ijin-Nya. Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran”(S.2 Al-Baqarah 221). III. Tafsir dan analisa A. Pengertian kata-kata = َلا تَنْكِحُوا Janganlah kalian mengawini = الْمُشْرِكَاتُPerempuan-peremuan musyrik = لَاَمَةٌ Benar-benar seorang budak perempuan = مُؤْمِنَةٌ Seorang perempuan beriman = مُشْرِكَةٍ Seorang perempuan musyrik = وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ Walaupun dia menakjubkan kalian = َلَا تُنْكِحُوا Janganlah kalian menikahkan = لَعَبْدٌ Benar-benar seorang budak laki-laki = يَدْعُونَ Mereka mengajak = إِلَى النَّارِ Ke neraka B.Latar belakang turunnya ayat Ayat di atas ini sangat erat terkait dengan suatu peristiwa bahwa suatu hari ketika Mirtsad al-Ghanawi> diutus Rasulullah Saw. ke Makkah untuk mengawal kaum muslimin yang akan hijrah ke Madinah, dia dirayu oleh `Annaq seorang wanita cantik minta dikawin. Mirtsad menyanggupinya jika diijinkan oleh Rasul Saw. Kemudian turun ayat di atas (HR.Ibnu Abi> H}a>>tim). Ada lagi suatu riwayat bahwa ‘Abdulla>h ibnu Ruwa>h}ah setelah menempeleng budak perempuan hitam miliknya maka dia merasa sangat menyesal, lalu menghadap Rasulullah Saw. dengan maksud akan memerdekakan dan dinikahinya. Maka orang banyak mengejeknya karena menikah budak. Lalu turun ayat di atas (HR.Ibnu Jari>r). C.. Tema dan sari tilawah Tema pokok dan kandungan ayat 221 Al-Baqarah diatas dapat diutarakan sbb.: l. Kita orang yang beriman haram hukumnya kawin dengan orang musyrik : a).Laki-laki mu`min haram kawin dengan wanita musyrik. b). Perempuan mu`min haram kawin dengan laki-laki musyrik 2..Budak yang mu`min lebih baik dari pada orang yang bukan budak yang musyrik, laki -laki maupun – perempuan 3. Orang musyrik itu berusaha menarik orang untuk masuk ke neraka dan kesengsaraan 4. Allah itu memberi taufik dan hidayah jalan ke surga penuh ampunan-Nya 5. Allah melalui Al-Quran menenerangkan ayat-ayat itu untuk direnungkan. C.Masalah dan analisa Untuk mempertajam pemahaman atas ayat 221 Al-Baqarah di atas maka perlu ditelusuri jawaban permasalahan melalui pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut: 1.Bagaimanakah kriteria sifat dan ciri dari jodoh yang ideal bagi seorang mu`min? 2.Bagaimanakah sifat orang yang beriman yang lebih mendalam dan bagaimana pula sifat musyrik yang haram dikawin oleh orang yang beriman itu? 3.Bagaimanakah dampak akibat dari perkawinan antara orang mu`min dengan orang musyrik.Bagaimana pula keutamaan perkawinan yang sesuai dengan apa yang diridloi oleh Allah? D.Tinjauan dan pemikiran Kita berusaha dengan maksimal untuk mencari jawaban dari permasalahan di atas dari sumber yang kita dambakan bersama yaitu sebagai terurai di bawah ini; l. Jodoh idaman yang ideal. Mencari atau memilih jodoh yang ideal bagi seorang yang beriman wajib mendasarkan diri kepada aturan Allah disamping S.2 Al-Baqarah 221 diatas ialah S.4 An-Nisa>` 34 disamping ayat-ayat yang lain dilengkapi dengan Sunnah Rasulullah Saw. dan komentar para ulama, terutama ahli tafsir, yaitu: Pertama: Calon suami yang ideal bagi seorang wanita mu`min ialah: l) Beragama Islam. 2) Mempunyai komitmen penuh sebagai penanggung jawab rumah tangga yang akan dibangun kelak. 3) Baik budi kepada isteri. Dalam salah satu hadis, Rasulullah Saw bersabda: 3830عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي (رواه الترمذي- مشكات المصابيح 3252)* Artinya: “Dari ‘A>isyah r.a. bahwa Rasulullah Saw. bersabda: Suami yang paling baik ialah suami yang paling baik kepada isterinya, dan akulah orang yang paling baik di antara kamu terhadap isteri” (HR.Turmudzi>>> no.3830,Misyka>tul Masha>bih} no.3252). Penyusun tafsir Al-Mana>r (tth.5/67) menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan lafal “Qawwa>mu>na” (Penanggung jawab penuh) dalam S.4 An-Nisa>` 34 ialah bertanggung jawab penuh dalam 6 macam hal berikut: l) Sebagai pembela (Al-H}ima>yah); 2) Sebagai pengawas (Ar-Ri`a>yah); 3) Sebagai pengayom (Al-Wila>yah); 4) Sebagai penanggung jawab memenuhi cukupnya kebutuhan (Al-Kifa>yah); 5) Sebagai pemimpin (Ar-Riya>sah); 6) Sebagai kepala (Al-Ima>mah) rumah tangga Mengenai masalah apa sebab orang laki-laki atau suami harus menjadi kepala rumah tangga dan menjadi penanggung jawab dalam kehidupan rumah tangga suatu keluarga, maka Az-Zamakhsyari> dalam Al-Kasysya>f (tth:l/523) menafsirkan lafal Qawwahu dari S.4 An-Nisa>` 34 mencatat bahwa Allah telah memberi beberapa kelebihan kepada kaum pria bukan sebagai orang yang menang dan bukan sebagai orang yang berkuasa atas wanita, maka sebabnya ialah bahwa laki-laki itu mempunyai kelebihan berupa sistem penggunaan akal, ketegasan dalam mengambil keputusan, mempunayi tekad yang kuat dan keperkasaan tenaga. Oleh karena itulah maka Allah menunjuk orang laki-laki untuk menjadi nabi atau rasul, demikian pula Sunnah Rasul menetapkan kaum laki-laki untuk menjadi imam shalat, komandan angkatan perang, muazzin, khatib, saksi dalam perkara tuduhan zina atau jarimah H}udu>d atau Qisha>sh, wali nikah dan sebagai tali nasab atau keturunan semua ini harus orang laki-laki. Sedangkan kaum wanita memang telah dibekali oleh Allah dengan sifat-sifat yang sangat emosional penuh perasaan yang sensitif sekali yang sangat besar guna dan manfaatnya untuk mengemban tugas-tugas khusus sebagai isteri yang harus mengembangkan anak keturunan mulai dari proses pendahuluan di pelaminan sampai hamil, melahirkan dan mengasuh anak sampai menjadi besar. Tugas khusus ini tidak mungkin dipikul oleh kaum pria. Kedua:Calon isteri yang ideal bagi seorang mu`min ialah orang yang memiliki sifat-sifat seperti yang disebut-sebut dalam nas Al-Quran dan hadis Nabi Saw. yaitu: l) Beragama Islam. 2) Mempunyai komitmen penuh untuk taat kepada suami . 3).Tunduk taat kepada hukum Allah tentang perkawinan mencakup tugas kewajibannya sebagai ratu rumah tangga, sebagai isteri, sebagai ibu yang harus mengandung, melahirkan, mengasuh anak dan semua yang terkait padanya. Di bawah ini ada beberapa petunjuk dari Sunnah Rasul Saw. tentang ciri-ciri calon isteri, yaitu *.Dalam sebuah hadis disebutkan sebagai berikut: 4700 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِي اللَّهم عَنْهم عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ (رواه البخري ومسلم 2661)* Artinya: “Dari Abu> Hurairah bahwa Rasulullah Saw. bersabda: “Wanita itu dinikah karena 4 ciri-ciri, yaitu: Karena kekayaannya, karena nasab keturunannya, karena kecantikannya dan karena agamanya. Maka pilihlah yang agamanya plus, Insya Allah anda akan mendapat barokah” (HR. Bukha>ri>, CD no.4700, Muslim no.2661, Ad-Durr l983:l/616) * Dalam hadis lain dicatat pula sebagai berikut: 13080 عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْمُرُ بِالْبَاءَةِ وَيَنْهَى عَنِ التَّبَتُّلِ نَهْيًا شَدِيدًا وَيَقُولُ تَزَوَّجُوا الْوَدُودَ الْوَلُودَ إِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمُ الْأَنْبِيَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ (رواه احمد والنسائ 3175 وابوداود 1754)* Artinya: “Dari Anas r.a. dia berkata:”Rasulullah Saw. memerintahkan kepada kami untuk kawin dan melarang keras tidak kawin (membujang), dan beliau bersabda: “Kawinlah kalian (carilah) calon isteri yang penuh cinta pandai beranak. Sungguh aku berbangga hati akan banyaknya umatku dihadapan para nabi kelak di hari kiamat” (HR.Ah}mad 13080, Nasa>`i < no.3175, Abu> Da>wu>d no.1754, Ad-Durr l983:3/148, Ibnu Katsi>r l966:5/94). 3)عَنْ اَبىِْ هُرَيْرَةَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلم: خَيْرُالنِّسَاءِ اَلَّتِىْ اِذَا نَظَرْتَ اِلَيْهَا سَرَّتْكَ وَاِذَا اَمَرْتَهَا اَطَا عَتْكَ وَاِذَا غِبْتَ عَنْهَا حَفِظَتْكَ ِفىْ مَالِكَ وَنَفْسِهَا ثُمَّ قَرَاَ رَسُوْلُ اللهِ صلم “اَلرِّجَالُ قَوَّامُوْنَ عَلَى النساء (النِّسَاءُ 34)(رواه ابن اابى حاتم والحاكم وابن جرير-الدر ج 2 ص514) Artinya:”Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Isteri yang paling baik ialah jika suami melihat kepadanya dia sangat menyenangkannya, jika suami menyuruhnya dia taati, jika suami tidak dirumah dia menjaga harta suami dan menjaga kehormatannya , lalu Rasul Saw membaca ayat 34 surat An-Nisa>` yang artinya: “ Suami itu penanggung jawab penuh atas isteri” (HR.Ibnu Abi> H}a>tim, Al-H}a>kim,, Ibnu Jari>r-Ad-Durr l983:2\514). 2.Makna yang hakiki tentang mu`min dan musyrik a. Orang mu`min. Dalam Al-Quran S.8 Al-Anfa>l 2-4 dan 74, S.24 An-Nu>r 62 atau S.49 Al-Hujura>t l5 disebut tentang siapa-siapa orang yang termasuk mu`min yang sungguh-sungguh, ciri-cirinya ialah : l) Orang yang jika disebut nama Allah tersentaklah hatinya, imannya makin mendalam, makin tekun shalat dan menunaikan zakatnya, selalu siap berjihad Fi> Sabi>lilla>h juga membantu sepenuhnya kaum muhajirin (S.8 Al-Anfa>l 2-4 dan 74). 2) Yang sangat erat terikat hatinya dalam jamaah Rasulullah Saw.(S.24 An-Nu>r 62). 3) Yang sangat yakin imannya sehingga tidak ada keraguan sama sekali dan berjuang atau Jihad fi> Sabi>lilla>h siap berkorban dengan harta ataupun nyawa (S.49 Al-Hujura>t l5). Namun sifat orang mu`min yang paling ideal ialah orang yang mempunyai sifat-sifat seperti apa yang dibayangkan oleh DR.Ah}mad Mah}mu>d Shubh}i> dalam kitabnya Al-Falsafatul Akhla>qiyah (l969:289),yaitu orang yang seluruh hati dan pikiran serta jati dirinya dibaktikan hanya kepada Allah saja betul-betul suci niatnya Lillahi Ta`ala bersih dari apapun jua selain Allah Ta`ala. b. Apakah Ahlul Kitab itu musyrik? Ulama jumhur membolehkan seorang laki-laki Islam kawin dengan wanita Ahli kitab berdasarkan dalil Al-Quran S.5 Al-Ma>idah 5, S.2 Al-Baqarah l05 dan S.98 Al-Bayyinah 1, sedangkan Al-Baqarah tidak mungkin menghapus hukum S.5 Al-Ma>idah sebab Al-Baqarah itu turun lebih dahulu S.Al-Ma>idah turun belakangan, demikian pula adanya fakta bahwa sahabat H}udzaifah kawin dengan seorang perempuan Yahudi dan Thalh}ah kawin dengan seorang perempuan Nasrani. Kompilasi Hukum Islam Bab IB pasala 40(c) melarang laki-laki Islam menikah dengan seorang perempuan non Muslim. Tetapi Ibnu ‘Umar melihat bahwa orang yang menyembah N.’Isa itu hukumnya adalah musyrik yang paling berat, maka hukumnya haram kawin dengan orang Nasrani. ‘Umar ibnul Khaththa>b melarang orang Islam kawin dengan Ahli kitab tetapi tidak haram. Ash-Sha>bu>ni> dalam tafsirnya (tth:i/287) memuji kebijaksanaan politik Umar tersebut. Kaum Muhammadiyah sependapat dengan politik ini. 3.Dampak akibat perkawinan antara orang mu`min dengan orang musyrik Az-Zuh}aili> dalam Al-Fiqhul Isla>mi> (l989:7 / 233) menyatakan bahwa memang sangat logis bahwa untuk membina rumah tangga yang bahagia pasti harus ada kesesuaian antara mereka berdua yang disebut ”KUFU>’’, sehingga tanpa KUFU>> ini rumah tangga akan sangat rawan untuk berselisih. Dan makna KUFU>> menurut ulama jumhur ialah adanya kesamaan agama, nasab, status sosial dan kekaryaan. Ulama H}anafi> dan H}anbali> menambah lagi dengan kesesuaian kekayaan. Sebaliknya perkawinan yang mengikuti hukum Allah maka Allah sendiri yang menjamin perkawinan itu akan mencapai bahagia sorga penuh maghfiroh-Nya. —————-(5)———— MELAMAR DAN BERPACARAN I.S.2 Al-Baqarah 235 وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا عَرَّضْتُمْ بِهِ مِنْ خِطْبَةِ النِّسَاءِ أَوْ أَكْنَنتُمْ فِي أَنفُسِكُمْ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ سَتَذْكُرُونَهُنَّ وَلَكِنْ لَا تُوَاعِدُوهُنَّ سِرًّا إِلَّا أَنْ تَقُولُوا قَوْلًا مَعْرُوفًا وَلَا تَعْزِمُوا عُقْدَةَ النِّكَاحِ حَتَّى يَبْلُغَ الْكِتَابُ أَجَلَهُ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي أَنفُسِكُمْ فَاحْذَرُوهُ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَفُورٌ حَلِيمٌ(البقرة 235) II. Artinya: “Dan tidak ada dosa bagi kamu meminang wanita-wanita itu dengan sindiran atau kamu menyembunyikan (keinginan untuk mengawini mereka) dalam hatimu. Allah mengetahui bahwa kamu akan menyebut-nyebut mereka, dalam pada itu janganlah kamu mengadakan janji kawin dengan mereka secara rahasia, kecuali sekedar mengucapkan (kepada mereka) perkataan yang ma`ruf. Dan janganlah kamu berketetapan hati untuk berakad nikah sebelum habis iddahnya. Dan ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu, maka takutlah kepada-Nya dan ketahuilah bahwasanya Allah itu Maha Pengampun lagi Maha Penyantun”(S.2 Al-Baqarah 235) III Tafsir dan analisa A.Penegrtian kata-kata = لَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ Tidak ada dosa atas kalian = عَرَّضْتُمْ Kalian kemukakan, maksudnya menyampaikan maksud hati = خِطْبَةِ Lamaran, maksudnya melamar untuk dikawin أَكْنَنتُمْ = Kalian merahasiakan maksud yang pokok bahwa kalian tidak menyebutkan maksudnya untuk menikah فِي أَنفُسِكُمْ = di dalam diri kalian artinya di dalam hati kalian = سَتَذْكُرُونَهُنَّ Kalian akan menyebutnya, artinya kalian tidak sabar lagi, sehingga menyebut-nyebut mereka = لَا تُوَاعِدُوهُنَّ Jangan kalian menjanjikan maksud dan janji akan mengawini dia = سِرًّا Rahasia = مَعْرُوفًا Baik, artinya sesuatu yang diakui baik oleh orang banyak dan oleh Allah = وَلَا تَعْزِمُوا Dan jangan kalian menetapkan, artinya jangan menetapkan tekad yang kuat = عُقْدَةَ النِّكَاحِ Ikatan perkawinan = حَتَّى يَبْلُغَ الْكِتَابُ أَجَلَهُ Sampai tiba akhir waktu yang ditetapkan Al-Kitab, maksudnya sampai habis iddah = مَا فِي أَنفُسِكُمْ Apa yang ada di dalam diri kalian, maksudnya ialah tekad mnikah = فَاحْذَرُوهُ Maka berhati-hatilah kalian atas soal itu = حَلِيمٌ Santun artinya menunda hukuman atas kekeliruan itu B. Tema pokok dan sari tilawah Isi kandungan makna Al-Quran S.2 Al-Baqarah 235 tersebut diatas kiranya dapat dirangkum sebagai berikut, yaitu: .l.Seorang laki-laki dibolehkan melamar secara sindirian atau isyarat tertentu atas seorang perempuan yang masih dalam iddah-wafat karena kematian suaminya dan dibolehkan juga laki-laki tersebut untuk menyembunyikan maksud akan menikahinya. 2.Seseorang dilarang membuat perjanjian rahasia hal-hal yang tidak senonoh dengan seorang janda- yang masih dalam keadaan iddah-wafat karena kematian suaminya. 3.Dilarang keras seseorang melakukan akad nikah dengan janda dalam keadaan iddah wafat halam hal ini karena kematian suaminya 4.Jika iddah tersebut sudah habis maka laki-laki tersebut dibolehkan melaksanakan akad-nikah mereka 5.Kita semua harus berhati-hati betul, karena Allah itu sangat mengetahui apa yang kita rahasiakan di dalam hati kita. C. Masalah dan analisa Dari tema dan kandungan isi ayat 235 Al-Baqarah diatas terdapat beberapa hal yang masih memerlukan pendalaman lebih lanjut, terutama melalui pertanyaan-pertanyaan berikut: l.Bagaimanakah aturan hukum melamar itu? Dan bagaimana pula aturan hukum yang berlaku terhadap seorang laki-laki dengan seorang perempuan yang bermaksud menjalin ikatan perkawinan itu? 2.Bagaimanakah status hukum seorang perempuan yang sedang menjalani masa iddah itu? 3.Bagaimanakah aturan hukum tentang tata hubungan antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan yang bukan mahram ? D.Tinjauan dan pemikiran l. Melamar dan berpacaran a. Melamar Lafal “Khithbah” dalam ayat tersebut diatas maknanya ialah melahirkan maksud oleh seorang lelaki untuk mengawini seorang perempuan yang diinginkannya. Lafal ini tidak dapat dilepaskan dari lafal عَرَّضْتُمْ بِهِ (`Arradh-tum bihi) yang artinya ialah tidak secara terang-terangan alias samar-samar alias sindiran. Para ulama tafsir memberikan beberapa contoh ucapan-ucapan sindiran ini, misalnya Al-Mana>r (tth.2/426) sangat mirip dengan Al-Kasysya>f (tth:l/373) kira-kira sebagai berikut: “Jeng ! Aku kesini ini ingin menyerahkan diri padamu dan ingin memandang wajahmu yang sangat ayu”. Al-Qa>simi> (l957:3/6l5) memberi contoh kira-kira sebagai berikut: “Aduh kau ini ayu dan cantik sekali”. Dan Al-Qurthubi> (l967:3/l88) memberi 8 macam contoh bahkan mencatat riwayat hadis Daraquthni mengenai sabda Rasulullah Saw. kepada Ummu Salamah mengenai pinangan Abu Ja`far. Jika lamaran itu diterima maka hukum pelamaran akan berlaku atas kedua pihak yang saling berjanji untuk mentaati perjanjian pelamaran itu, yaitu pihak laki-laki wajib memenuhi janjinya untuk mengawini dan perempuan yang sudah menerima lamaran itu haram untuk dilamar oleh laki-laki yang lain, kecuali dengan perkenan laki-laki yang pertama tadi. Dengan adanya lamaran itu diharapkan timbul adanya alasan untuk melakukan berbagai macam permusyawaratan untuk melakukan proses perencanaan perkawinan. Proses mulai dari pelamaran sampai jawaban penerimaan lamaran seringkali memerlukan waktu yang cukup alot, karena mungkin antara kedua pihak sama sekali belum mengenal, belum mengenal lebih mendalam atau masing-masing masih memerlukan pemikiran mengenai materi tawar-menawar dalam pelamaran tadi.. Difahamkan dari teks nash “حَتَّى يَبْلُغَ الْكِتَابُ أَجَلَه” dapat dispekulasikan bahwa di sana terdapat tenggang waktu antara dibolehkannya melakukan maksud-maksud untuk melamar secara samar-samar atau sindirian sampai kepada waktu habisnya iddah sehingga dibolehkan untuk melamar oleh si lelaki tadi kepada perempuan tersebut secara terang-terangan. Jika seandainya spekulasi ini dapat diterima maka tenggang waktu tersebut cenderung dapat dikategorikan sebagai tenggang waktu untuk bepacaran. Jika lamaran sudah diterima dan telah dibuat perjanjian penerimaan lamaran, maka upacara ini menurut hukum diluar Islam disebut pertunangan. Dalam hukum Islam dan dalam kitab-kitab fiqh sulit sekali atau tidak kita jumpai hukum pertunangan ini. Dan pacaran inipun juga tidak kita jumpai di sana, di sini hanya penulis sebut sebagai proses tenggang waktu untuk saling memupuk paduan kasih dan pendekatan diri dari hati ke hati untuk upacara lamaran secara terang-terangan. b. Berpacaran Pacaran itu sendiri tidak dikenal dalam hukum Islam, tidak diketemukan judul-judul tentang pacaran itu dalam kitab-kitab fiqh, di sana mungkin hanya dapat kita temukan pembahasan masalah-masalah tentang proses sebelum melamar ,waktu melamar sampai terjadinya perkawinan sesudah itu Maka dibawah ini kita perhatikan aturan hukum atau nash Al-Quran dan Sunnah tentang pelamaran dan perkembangannya yaitu sebagai berikut: (l) Dilarang seorang lelaki melamar seorang perempuan yang sedang dalam lamaran orang lain 4746 عَنَّ ابْنَ عُمَرَ رَضِي اللَّهم عَنْهمَا كَانَ يَقُولُ لَا يَخْطُبَ الرَّجُلُ عَلَى خِطْبَةِ أَخِيهِ حَتَّى يَتْرُكَ الْخَاطِبُ قَبْلَهُ أَوْ يَأْذَنَ لَهُ الْخَاطِبُ (رواه البخاري ومسلم 2531-نيل الاوطار ج6ص235) Artinya: “Dari Ibnu ‘Umar bahwa sungguh Rasulullah Saw bersabda: “Tidak boleh seseorang melamar terhadap perempuan yang sedang dilamar oleh lelaki lain, sehingga pelamar pertama ini meningalkannya atau dia telah mengijinkannya kepada pelamar kedua itu”(HR.Bukha>ri no.4746>, Muslim 2531, Nailul Autha>r j.6 h.235). (2).Laki-laki yang melamar dibenarkan untuk melihat perempuan yang dipinang (nontoni),Rasulullah Saw. bersabda: 1007 عَنِ الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ أَنَّهُ خَطَبَ امْرَأَةً فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ انْظُرْ إِلَيْهَا فَإِنَّهُ أَحْرَى أَنْ يُؤْدَمَ بَيْنَكُمَا (رواه الخمسة الا ابا داود واللفظ البخاري-نيل الاوطار ج6ص239) Artinya: “Hadis dari Mughi>rah ibnu Syu`bah bahwa saat dia akan meminang seorang perempuan maka Rasulullah Saw. bersabda: “Coba lihatlah dia, sebab dengan melihat tersebut akan lebih baik untuk dikekalkan kerukunan antara kamu berdua”(HR. Imam yang lima selain Abu> Da>wu>d, Redaksi dari Bukha>ri> no.1007; Lih.Nailul Autha>r j.6 h.239). (3) Perempuan yang boleh dilamar ialah mereka yang halal artinya tidak haram untuk dinikah baik yang haram selama-lamanya (muabbadah) ataupun yang sementara . Perempuan yang diharamkan selama-lamanya misalnya saudara perempuan atau bibi (saudara perempuan ayah atau saudara perempuan ibu); yang diharamkan untuk sementara misalnya saudara perempuan isteri atau karena sebab-sebab lain. (4) Kedudukan perempuan yang dilamar adalah Ajnabiyah artinya orang di luar keluarga, dia belum halal, walaupun lamaran itu sudah diterima dan telah dibuat perjanjian pertunangannya. Sehingga Az-Zuh}aili> dalam Al-Fiqhul Isla>mi> (l989:7/l0) menyatakan haram hukumnya atas mereka untuk bersenang-senang, bersepi-sepi berduaan dan dalam usaha untuk melakukan suatu pembicaraan antar keduanya wajib disaksikan oleh mahramnya. Dasarnya ialah sabda RasU>lu>llah Saw. berikut: 2784 عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِي اللَّهم عَنْهممَا أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَا يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ وَلَا تُسَافِرَنَّ امْرَأَةٌ إِلَّا وَمَعَهَا مَحْرَمٌ (رواه البخاري ومسلم 2391)* Artinya: “Dari Ibnu ‘Abba>s r.a.bahwa dia mendengar Nabi Saw. bersdabda: “Betul-betul janganlah seseorang bersepi-sepi dengan seorang perempuan dan sungguh janganlah kalian bepergian dengan seorang perempuan kecuali disertai mahramnya” (HR Bukha>ri> no.2784, Muslim 2391). ~ Turmudzi>>> No.2091 meriwayatkan dengan tambahan bahwa mereka yang berduan laki dengan perempuan maka keduanya dikuntit oleh syaitan sebagai pihak yang ketiga. Di dalam bab yang lain Sunan Turmudzi>>> dari ‘Uqbah (CD.no.1091) tercatat penjelasan bahwa saudara laki-laki suami juga termasuk yang dilarang bersepi-sepi berduaan tersebut(Lihat juga Nailul Autha>r j.6/ 240). (5) Melihat perempuan yang dilamar oleh pelamar waktu nontoni sangat dibatasi oleh para ulama. Jumhur ulama membolehkannya terbatas hanya wajah dan telapak tangan saja, menurut catatan Az-Zuh}aili> dalam Al-Fiqhul Isla>mi> (l998:7/23) maka ulama H}ana>bilah membolehkan lebih longgar lagi dan yang paling longgar ialah pendapat Imam Auza>`i>. (6) Setiap orang yang beriman (termasuk kedua lelaki perempuan yang telah bertunangan dan belum akad nikah) diingatkan oleh Allah Swt dalam Al-Quran S.24 An-Nu>r 30-3l untuk menjaga martabat dan kehormatan dirinya dengan menundukkan pandangan matanya supaya tidak melihat suatu media atau perantara yang dapat mengakibatkan perbuatan zina (Lihat juga S.l7 Al-Isra`32). Sehingga orang yang beriman dilarang keras main mata antara pria dengan wanita, sebab cara ini merupakan suatu media yang dimafaatkan oleh syaitan iblis untuk merontokkan iman seseorang, maka kita harus betul-betul menjaga benteng iman dan takwa kita dengan sangat ketat dalam masalah ini. Rasulullah Saw. bersabda dalam sebuah hadis: اَلنَّظْرَةُ سَهْمٌُ مِنْ سِهَامِ اِبْلِيْسَ مَسْمُوْمَةٍ فَمَنْ تَرَكَهَا مِنْ خَوْفِ اللهِ اَثَابَهُ اِيْمَانًا يَجِدْ حَلَاوَتَهُ ِفيْ قَلْبِهِ(رواه الحاكم-ألدرالمنثور ج 6ص178) Artinya : “Pandangan mata itu merupakan panah Iblis yang berbisa, siapa yang dapat mencegahnya atas dasar takwa kepada Allah , maka Tuhan akan memberi pahala kepadanya dengan suatu nikmat iman dalam hatinya”(HR.Al-H}a>kim-Ad-Durr l983:Juz 6, h l78). Suatu kecelakaan itu terjadi sudah hamil sebelum nikah alias ZINA. Perbuatan zina ini dimulai dari adanya pandangan yang diulang-ulang, lalu berbisik-bisik, kemudian senggol-senggolan, selanjutnya berdua-duaan, disusul dengan meningkatnya tegangan nafsu birahi yang sukar dihentikan akhirnya jatuh ke bawah nafsu syaitan …na`uzhu billah. Bukha>ri> dan Muslim mecatat sebuah hadis sabda Rasulullah Saw. sbb: 5774 عَنِ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ حَظَّهُ مِنَ الزِّنَا أَدْرَكَ ذَلِكَ لَا مَحَالَةَ فَزِنَا الْعَيْنِ النَّظَرُ وَزِنَا اللِّسَانِ الْمَنْطِقُ وَالنَّفْسُ تَمَنَّى وَتَشْتَهِي وَالْفَرْجُ يُصَدِّقُ ذَلِكَ كُلَّهُ وَيُكَذِّبُهُ (رواه البخاري)* Artinya:“Dari Abu> Hurairah dari Nabi Saw. beliau bersabda bahwa sungguh Allah telah menetapkan hukum di dalam kitab bahwa anak cucu Adam ada bagian dari zina, dia terjatuh ke sana sulit sekali menghindarinya: Zina mata ialah memandang, zina lidah ialah bicara-bicara, zina telinga ialah mendengarkan, zina tangan dengan meraba-raba, zina kaki ialah melangkah, kemudian pikirannya mengkhayal penuh nafsu keinginan, selanjutnya alat vital atau farjinya membuktikan, jadi atau tidak berbuat zina itu” (HR.Bukha>ri no.5774>, Ibnu Katsi>r 1966: j.5 h.87) . Oleh karena itulah pandangan mata yang pertama itu harus segera kita waspadai dengan ketat, sesuai dengan pesan Rasulullah Saw.kepada Sayyidina Ali berikut: 2701 عَنِ ابْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ رَفَعَهُ قَالَ يَا عَلِيُّ لَا تُتْبِعِ النَّظْرَةَ النَّظْرَةَ فَإِنَّ لَكَ الْأُولَى وَلَيْسَتْ لَكَ الْآخِرَةُ (رواه الترمذي وابو داود 1837-الدر ج 6 ص 177)* Artinya: “Dari Ibnu Buraidah dari ayahnya dari Nabi Saw.beliau bersabda: “Wahai ‘Ali janganlah kamu turuti pandangan pertama itu dengan pandangan kedua. sungguh tidak mengapalah pandangan pertama itu bagimu, sedang pandangan yang kemudian itu kamu tidak berhak atasnya”(HR. Turmudzi>>> no.2701 dan Abu> Da>wu>d no.1837; Lih. Ad-Durr J.6 h.177). Adapun aurat perempuan diluar shalat, menurut para ulama ialah seluruh tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangan, dasarnya ialah Al-Quran S24 An-Nu>r 30-3l di atas dengan S.33 Al-Ah}za>b 59. Maka dari itu mereka harus memakai kerudung خمرهن )khumurihinna) yang menutup kepala sampai dada dan memakai jilbab yang menutup seluruh tubuhnya (Lih.Al-Qurthubi> l967:Juz l2, h.230 dan Juz l4, h.234): 2. Kedudukan seorang perempuan yang masih dalam keadaan iddah Iddah seorang perempuan ada beberapa macam, yaitu:(l) Iddah talak Raj`i, yakni iddah perempuan yang masih boleh dirujuk oleh lelaki yang menceraikannya. (2) Iddah talak Bain, yaitu iddah perempuan yang dicerai oleh suaminya dengan talak tiga atau sebab lain, sehingga si suami haram untuk merujuk kembali bekas isterinya itu. Seorang perempuan yang sedang dalam iddah talak Raj`i hukumnya haram dilamar lelaki lain, sebab perempuan tersebut dalam batas-batas tertentu masih berada dalam pengayoman suami yang mencerainya dan sewaktu-waktu masih dapat dirujuk lagi olehnya.. Az-Zuh}aili> dalam Al-Muni>r (l99l:Juz 2, h.378) mencatat bahwa perempuan tersebut haram dilamar secara terang-terangan maupun secara samar-samar. Sedangkan terhadap perempuan yang dalam iddah talak Bain atau iddah-ditinggal wafat suaminya maka dia haram dilamar secara terang-terangan, tetapi boleh lamaran itu dilakukan secara menyindir. 3. Tata hubungan antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan yang bukan mahram Berdasarkan nash Al-Quran dan Sunnah seperti yang tersebut di atas maupun dalil yang lainnya maka Az-Zuh}aili> dalam Al-Fiqhul Isla>mi> (l989:7/21) mencatat pendapat ulama madzhab H}anbali> jika terdapat suatu kepentingan yang sangat mendesak, maka seorang lelaki dibolehkan melihat perempuan yang bukan mahramnya terbatas hanya wajah dan kedua telapak tangan baik untuk melamar ataupun urusan muamalah, perdagangan, persaksian, belajar mengajar, pengobatan, berbagai macam pelayanan sosial, usaha penyelamatan dari mara bahaya dan apa saja keperluan dalam kehidupan. Namun ditekankan bahwa dalam hal yang rawan dosa harus disertai oleh suami atau mahramnya. ——————(6) —————— TUGAS DAN KEDUDUKAN WALI DALAM PERKAWINAN I.S.24 An-Nu>r 32 وَأَنْكِحُوا الْأَيَامَى مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ ( النور 32) II.Artinya: “Dan kawinkanlah orang-orang yang masih sendirian dianrara kamu dan orang-orang yang layak kawin dari hamba-hambamu yang lelaki dan hamba-hambamu yang perempuan. Dan jika mereka itu miskin, maka Allah akan memampukan mereka dengan anugerah-Nya. Dan Allah itu Maha luas karunia-Nya lagi Maha Mengetahui”(S.24 An-Nu>r 32). III. Tafsir dan analisa A. Pengertian kata-kata = أَنْكِحُوا Kawinkanlah olehmu = الْأَيَامَى Lafal Al-Aya>ma> merupakan jamak dari lafal Ayimun artinya orang yang dalam keadaan bujang atau tidak dalam keadaan kawin, belum kawin atau duda والصَّالِحِينَ = Dan laki-laki yang baik-baik = عِبَادِكُمْ Laki-laki hamba milik kalian = َإِمَائِكُمْ Wanita-wanita hamba milik kalian = فُقَرَاءَ Kata-kata Fuqara>` jamak dari lafal Faqi>run,artinya tidak mempunyai harta = يُغْنِهِمُ اللَّهُ Allah akan mencukupi mereka artinya memberi bekal biaya kawin = مِنْ فَضْلِهِ Dari anugerah-Nya B.Tema pokok dan sari tilawah Dari bunyi dan arti ayat tersebut di atas dapat diungkap beberapa tema pokok dan sari tilawah sebagai berikut: l. Dalam kehidupan bermasyarakat di samping terdapat adanya orang-orang yang telah kawin dan berkeluarga, di sana juga terdapat anggota masyarakat yang belum kawin dari berbagai macam tingkat strata sosial. 2. Allah memerintahkan kepada para orang tua atau wali dari orang-orang yang masih sendirian tersebut, supaya mengawinkan mereka untuk berkeluarga. 3. Kesulitan atas biaya kawin janganlah menjadi penghalang terhadap mereka untuk melangsungkan perkawinan itu.. 4. Kepada yang sekiranya belum memiliki modal perkawinan tersebut dengan cukup maka Allah akan mengaruniakan anugerah-Nya. 5. Anugerah Allah itu sangat luas cukup untuk memenuhi segala keperluan para hamba dan Allah itu Maha Mengetahui apapun juga dari hamba-hamba-Nya. C. Masalah dan analisa Yang perlu kita pertajam pemahaman lebih lanjut dari isi kandungan ayat tersebut di dalam rubrik ini ialah bagaimana menjawab pertanyaan berikut: l. Apa saja tugas orang tua dan bagaimanakah kedudukan mereka yang menjadi wali untuk orang atau anak yang menjadi tanggung jawab di pundaknya? 2. Apa saja sarana dan prasarana persiapan yang harus dipenuhi oleh seorang laki-laki dan perempuan untuk membina rumah tangga? 3. Bagaimanakah kemungkinan adanya anugerah Allah untuk mereka yang melangsungkan perkawinan dan membina kebahagian rumah tangga mereka ? D.. Tinjauan dan pemikiran Para ulama tafsir menyatakan bahwa khithab yang dituju ayat ini ialah orang tua atau wali. Dan untuk mengetahui lebih mendalam tentang kaitan wali dalam perkawinan orang yang ada di bawah perwaliannya, maka di bawah ini dicoba untuk mencari jawaban masalah tersebut melalui pertanyaan di atas, yaitu sebagai berikut: l. Wali , Tugas dan Kewajibannya Sesuai dengan tema dan judul rubrik disini maka perlu difahami lebih dahulu apa dan siapa wali itu lalu dikaitkan dengan hukum perkawinan, yaitu sebagai berikut: a. Apa dan siapa wali Wali itu ialah orang yang memegang kekuasaan dan bertanggung jawab terhadap suatu tugas. Dan wali dalam hukum perkawinan ialah seorang yang bertanggung jawab untuk mengasuh, mendidik, membesarkan dan mendewasakan anak serta mengawinkannya menjadi keluarga yang dapat hidup mandiri. Para ulama membagi wali itu menjadi dua ,yaitu wali mujbir dan wali ghairu mujbir. ~ Wali mujbir ialah wali yang berhak mengawinkan anak gadisnya tidak dengan persetujuan dia dengan beberapa syarat. Hak ijbar yang sangat menentukan ini terhapus setelah anak gadis sudah pernah kawin atau menjadi janda. Az-Zuh}aili> mencatat dalam Al-Fiqhul Isla>mi> (l984:7/205) bahwa orang yang berhak menjadi wali mujbir ini ialah salah satu ayah atau kakek dan seterusnya ke atas jika wali yang lebih dekat tidak ada. ~Wali ghairu mujbir ialah wali yang tidak memiliki hak seperti wali mujbir di atas. Untuk ini wali yang lebih dekat memiliki hak menempati sekala prioritas pertama , selanjutnya hak itu bergeser kepada nomer kedua lalu bergeser ketiga dan seterusnya bergeser ke nomer berikutnya jika wali yang lebih dekat tidak ada. Adapun wali ghairu mujbir ini berturut-turut dari yang lebih dekat kepada yang lebih jauh melalui kategori. Kompilasi Hukum Islam Bab IV pasal 20 membagi wali itu menjadi dua, yaittu: Wali Nasab dab Walui Hakim. Wali Nasab ialah: :l) Bapak ke atas. 2) Saudara laki-laki sekandung, se ayah dan dan keturunannya ke bawah. 4). Saudara laki-laki ayah sekandung, seayah dan keturunannya kebawah. Saudara laki-laki kaakek sekandung, seayah dan keturunnannya. Wali yang lebih dekat didahulukam mengalahkan waki yang lebih jauh dan yang sekandung didahuluka mengalahkan yang se- ayah. Jika diantara wali terdapat lebih dari satu dan mempunyai tingkatan atau derajat yang sama, maka dipilih yang lebih tua didahulukan mengalahkan yang lebih muda.Dan seterusnya seperti dalam hak mewaris ashabah, terakhir kemudian wali hakim. @ Wali Hakim ialah Wali yang yang ditetapkan oleh Pengadilan Agama . b. .Tugas dan kedudukan wali 1).Tugas kewajiban wali Wali atau ayah, berkewajiban mengasuh, mendidik, membesarkan, mendewasakan dan membina anak, sehingga dia mampu hidup mandiri, dengan menikahkannya sampai dia bisa membuat sejarah hidupnya sendiri. Ibnu H}amzah al H}usaini dalam kitabnya Al-Baya>n wat-Ta`ri>f fi> Asba>bi Wuru>dil Hadi>ts (l973:2/279) mencatat jawaban Rasulullah Saw. kepada Abu>Rafi>` tentang kewajiban orang tua kepada anak , beliau menjawab sebagai berikut: حَقُّ الْوَلَدِ عَلَي الْوَالِدِ اَنْ يُعَلِّمَهُ الْكِتَابضةَ وَالسِّبَاحَةَ وِالِّرمَايَةَ وَاَلَّايَرْزُقَهُ اِلِّا طَيّيِاً(رواه الترمذي والبيهقي) Artinya: “Hak anak yang harus ditanggung orang tua ialah mengajar tulis menulis, olah raga dan ketangkasan berjuang serta tidak memberi kebutuhannya kecuali rejeki yang halal”(HR.Turmudzi>>> dan Baihaqi> dan Ibnu H}ajar menilai hadis ini dla`if Al-H}usaini> 1973 juz 2, h.279). Khusus dalam masalah perkawinan anak, maka orang tua wajib meneliti segala sesuatunya, yaitu: a) Dalam bidang aturan hukum harus diteliti mengenai halal haramnya calon jodoh; b)Dalam bidang ilmu pendidikan harus diteliti tentang sampai dimana kemampuan calon jodoh itu mengasuh anaknya dan membuat sejarah hidup anak keturunannya kelak; Dalam bidang ekonomi harus diteliti bagaimana bekal rejeki yang diharapkan dapat memenuhi kebutuhan dia berumah tangga nanti. Memilih dan menilai wanita calon isteri, yaitu: (l) Adapun wanita yang haram dinikah disebut dalam Al-Quran S.4 An-Nisa>`23 dan dalam Kompilasi Hukum Islam (Pasal.39) ditegaskan karena sebab-sebab berikut karena nasab yang dekat, karena persemendaan, karena pertalian sesusuan dan karena keadaan tertentu. (2)Dalam hal pendidikan ukurannya ialah mampu mendekati cita-cita pendidikan Islam yang ideal (S.31 Luqma>n l3-l9 dan yang lainnya.); Sedangkan untuk bekal berumah tangga pada hakikatnya terletak pada potensi yang tersimpan dalam jiwa dan ruh Islami sebagaimana yang ditekankan oleh Rasul Saw supaya kita . memilih yang jiwa agamanya betul-betul mendalam. 2).Kedudukan wali dalam perkawinan Sesuai dengan pandangan Imam Sya>fi’i> dan Ma>lik maka Kompilasi Hukum Islam (pasal.l9) mensyaratkan adanya wali untuk sahnya perkawinan. Jika wali enggan atau tidak dapat dihadirkan maka wali itu dapat digantikan dengan wali hakim melalui putusan pengadilan (pasal.23). Dasar keharusan adanya wali untuk sahnya perkawinan ialah Al-Quran S.2 Al-Baqarah 231-232 dan hadis-hadis berikut: 1020عَنْ أَبِي مُوسَى قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا نِكَاحَ إِلَّا بِوَلِيٍّ (رواه الترمذي وابو داود 1785) * Artinya: “Dari Abu> Mu>sa>, dia berkata: “Rasulullah Saw. bersabda: “Tidak sah suatu perkawinan kecuali dengan wali”(HR.Turmudzi>>> no.l020,Abu> Da>wu>d no.l785,Ah}mad no.l8697). 1872 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تُزَوِّجُ الْمَرْأَةُ الْمَرْأَةَ وَلَا تُزَوِّجُ الْمَرْأَةُ نَفْسَهَا فَإِنَّ الزَّانِيَةَ هِيَ الَّتِي تُزَوِّجُ نَفْسَهَا (رواه ابن ماجة )* Artinya:“Dari Abu> Hurairah dia berkata bahwa Rasulullah Saw.bersabda: “Perempuan tidak sah untuk mengawinkan perempuan dan perempuan tidak mengawinkan dirinya sendiri, sungguh zina itu ialah seorang perempuan yang mengawinkan dirinya sendiri”(HR.Ibnu Ma>jah no.l872) 1021 عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَيُّمَا امْرَأَةٍ نَكَحَتْ بِغَيْرِ إِذْنِ وَلِيِّهَا فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ فَإِنْ دَخَلَ بِهَا فَلَهَا الْمَهْرُ بِمَا اسْتَحَلَّ مِنْ فَرْجِهَا فَإِنِ اشْتَجَرُوا فَالسُّلْطَانُ وَلِيُّ مَنْ لَا وَلِيَّ لَهُ(حَدِيثٌ حَسَنٌ رواه الترمذي وابوداود 1784) Artinya:“Dari ‘A>isyah bahwa Rasulullah Saw. bersabda: “Siapa saja perempuan yang kawin tanpa ijin walinya, maka nikahnya itu batal (diulang 3 kali) jika telah dukhu>l maka dia berhak mendapat mahar atas kehalalan farjinya, jika walinya enggan maka sultanlah yang menjadi wali orang yang tidak mendapatkan wali nikah”(HR.Turmudzi>>> No.l021, Abu> Da>wu>d no.1784, hadis H}asan). Ibnu Rusyd dalam Bida>yah (l950:2/9) mencatat bahwa Imam H}anafi> dan Abu> Yu>suf berpendapat bahwa seorang perempuan boleh menikah tanpa dengan walinya dan sah dengan syarat tertentu. Dasarnya ialah Al-Quran S.2 Al-Baqarah 230 dan 234 dan Hadis berikut: 2545 عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْأَيِّمُ أَحَقُّ بِنَفْسِهَا مِنْ وَلِيِّهَا وَالْبِكْرُ تُسْتَأْذَنُ فِي نَفْسِهَا وَإِذْنُهَا صُمَاتُهَا (رواه مسلم) * Artinya: “Dari Ibnu ‘Abba>s bahwa Rasulullah Saw. bersabda: “Janda itu lebih berhak dari pada walinya sedangkan perawan dimintai pendapat tentang dirinya, persetujuan dia ialah sikap diamnya” (HR.Muslm no.2545,Turmudzi>>> no.l026, no..Nasa< `i> 3208). Persiapan perkawinan di samping meneliti persyaratan terurai tersebut di atas maka wali harus melengkapi lagi persyaratan pelaksanaan nikah termasuk dua orang saksi yang memenuhi syarat dan syarat-syarat administratif sesuai dengan U.U.no.l th.l974 dan Instruksi Pres. no.l th.l99l ttg. Kompilasi Hukum Islam. 2.Persiapan dan bekal perkawinan Seseorang yang bermaksud untuk kawin harus mempersiapkan diri dan melengkapi bekal untuk perkawinannya persiapan mental dan material, ilmu dan kecakapan sesuai dengan makna hadis Nabi Saw. berikut: 4677 عَنْ عَلْقَمَةَ قَالَ لَنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ (رواه البخاري ومسلم 2485)* Artinya: “Wahai kawula muda , siapa saja diantara anda yang sudah mampu kawin, maka kawinlah, sebab perkawinan itu lebih cenderung untuk menundukkan pandangan dan cenderung lebih terjaga nafsu birahinya. Tetapi siapa yang belum mampu hendaklah dia berpuasa, sebab puasa itu merupakan daya penahan yang kuat”(Bukha>ri>-Muslim-Nailul Autha>r 1984: 6 / 225) Lafal Ba>`ata (الْبَاءَ ةَ ) dalam matan hadis di atas ini menurut Nailul Autha>r (l989:6/228) dan Subulus Sala>m (l960:3/l06), kata ini maknanya ialah suatu kemampuan untuk menjamin nafkah tanggungannya, nafkah lahir maupun nafkah batin (mu`natun). Berdasarkan makna ini maka seseorang yang akan kawin harus siap sepenuhnya untuk menjamin kesejahteraan dan kebahagiaan pasangan hidupnya sebagaimana yang telah dibahas sangat rinci dalam kitab-kitab hadis dan kitab fiqh. Khusus untuk seorang laki-laki dia harus mampu memikul tanggung jawab memenuhi kewajibannya bagi perempuan sebagai jodohnya dengan menyenangkan. Kesenangan batin tidak mungkin lepas dari kesenangan lahir dan sebaliknya kesejahteraan yang bersifat materi tidak bisa dipisah dari kebahagiaan rohani. Namun yang lebih cepat bangkit ialah tuntutan akan terpenuhinya kebutuhan hidup yang bersifat materi kasarnya ialah uang belanja keperluan makan. Maka dari itu seorang pria yang akan kawin harus siap dengan segala perencanaan, yaitu mempunyai pekerjaan yang mapan, mempunyai penghasilan untuk uang belanja keperluan rumah tangganya, mempunyai rumah tempat tinggal yang jelas dan apa saja yang terkait. 3.Anugerah Allah kepada orang yang berkeluarga Dalam Al-Quran S.24 An-Nu>r 32 di atas Allah Ta`ala menjanjikan akan melimpahkan anugerah kepada orang-orang yang berkeluarga menurut syari`at Islam. Ikhtiar untuk memahami ayat seperti ini memang sangat sulit, lebih-lebih bagi mereka yang biasa berpikir materialis. Maka pendekatannya harus melalui pendekatan atas kepercayaan yang agamis,yaitu: Rasulullah Saw. telah menetapkan bahwa prioritas nomer satu dalam memilih jodoh itu harus orang yang jiwa agamanya sangat kuat bukan yang lain, sebagaimana yang disebut dalam hadis Bukha>ri> Muslim meriwayatkan dari Abu> Hurairah (Ad-Durrul Mantsu>r l983:l/6l6). Suatu bahtera rumah tangga yang didirikan atas dasar landasan jiwa yang agamis pasti akan mampu menghadapi badai dan ombak dalam arung samodra kehidupan. Makna yang sangat mendalam dari anugerah Allah dalam ayat di atas itu harus juga difahamkan melalui sabda Rasulullah Saw. berikut: 5965 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ(رواه البخاري) * Artinya: “Dari Abu> Hurairah bahwa Nabi Saw. bersabda: “Sesungguhnya yang disebut kaya itu bukanlah melihat banyaknya harta, tetapi yang disebut kaya itu ialah kaya hati”(HR.Bukha>ri> no.5965 ). Yang disebut kaya itu ialah sikap tidak memerlukan sesuatu, kita teringat akan istilah Prof Hamka: kaya budi, maksudnya ialah hati tidak lengket dengan harta bahkan apa yang ditangan selalu siap diri untuk menyedekahkannya kepada siapa yang memerlukan. —————————————(7)—————————————————— PELAKSANAAN DAN PERAYAAN PERKAWINAN I. S.33 Al-Ah}za>b 53 يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا تَدْخُلُوا بُيُوتَ النَّبِيِّ إِلَّا أَنْ يُؤْذَنَ لَكُمْ إِلَى طَعَامٍ غَيْرَ نَاظِرِينَ إِنَاهُ وَلَكِنْ إِذَا دُعِيتُمْ فَادْخُلُوا فَإِذَا طَعِمْتُمْ فَانْتَشِرُوا وَلَا مُسْتَأْنِسِينَ لِحَدِيثٍ إِنَّ ذَلِكُمْ كَانَ يُؤْذِي النَّبِيَّ فَيَسْتَحْيِي مِنْكُمْ وَاللَّهُ لَا يَسْتَحْيِي مِنَ الْحَقِّ وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوهُنَّ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ ذَلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ وَمَا كَانَ لَكُمْ أَنْ تُؤْذُوا رَسُولَ اللَّهِ وَلَا أَنْ تَنْكِحُوا أَزْوَاجَهُ مِنْ بَعْدِهِ أَبَدًاإِنَّ ذَلِكُمْ كَانَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمًا(الاحزاب 53) II. Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu masuk ke rumah rumah Nabi, kecuali bila kamu diijinkan untuk makan dengan tidak menunggu-nunggu waktu masak (makannya); tetapi bila kamu diundang maka masuklah dan jika kamu selesai makan keluarlah kamu tanpa asyik memperpanjang percakapan. Sesungguhnya yang demikian itu akan mengganggu Nabi lalu Nabi malu kepadamu (untuk menyuruh kamu keluar), dan Allah tidak malu (menerangkan) yang benar. Bila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri-isteri Nabi) maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka. Dan tidak boleh kamu menyakiti hati RasU>lu>llah dan tidak (pula) mengawini isteri-isterinya sesudah wafat selama-lamanya . Sesungguhnya perbuatan itu adalah amat besar (dosanya)di sisi Allah”(S.33 Al-Ah}za>b 53). III. Tafsir dan analisa A. Pengertian kata-kata: = لَا تَدْخُلُوا Janganlah kalian masuk = بُيُوتَ النَّبِيِّ Rumah Nabi Saw. يُؤْذَنَ لَكُمْ = Dia diijinkan untuk kalian غَيْرَ نَاظِرِينَ = Tidak menunggu-nunggu إِنَاهُ = Tenggang waktu menunggu دُعِيتُمْ = Kalian dipanggil فَادْخُلُوا= Masuklah kalian طَعِمْتُمْ = Kalian sudah makan = فَانْتَشِرُوا Maka bersebar dan pergilah وَلَا مُسْتَأْنِسِينَ لِحَدِيث َ =Tidak enak-enak bercakap-cakap = يُؤْذِيDia menyakiti, artinya membuat dia merasa tidak enak فَيَسْتَحْيِي مِنْكُمْ = Lalu dia malu dimuka kalian الْحَقِّ = Yang benar ِ سَأَلْتُمُوهُنَّ = Kalian bertanya kepada para wanita مَتَاعًا = Barang-barang فَاسْأَلُوهُنَّ = َ Maka tanyakanlah kepada mereka مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ = Dari balik tabir أَطْهَرُ = Lebih bersih لِقُلُوبِكُمْ = Untuk hati kalian تُؤْذُوا= Kalian menyakiti, maksudnya kalian membuat hati dia tidak enak = وَ لَا أَنْ تَنْكِحُوا Dan kalian tidak bermaksud untuk menikah أَزْوَاجَهُ = Isteri-isterinya عَظِيمًا = Sangat besar B. Latar belakang turunnya ayat Ibnu Katsi>r (l966:5/489), As-Suyu>thi> dalam Ad-Durr (l983:6:640) dan Al-Wa>h}idi> (l984:377) atau yang lain mencatat beberapa riwayat latar belakang turunnya ayat di atas yang pada pokoknya ialah bahwa Rasulullah Saw. berhubung karena pernikahan beliau dengan Zainab, maka beliau merayakannya dan menyelenggarakan walimahan dengan memotong kambing untuk itu dan sajian lainnya. Sahabat Anas mendapat tugas mengundang orang banyak sampai tidak ada yang ketinggalan. Kemudian para tamu ganti berganti saling berdatangan dan menikmati hidangan yang disajikan beliau, lalu para tamu meninggalkan upacara tersebut, namun ada 3 orang tamu yang masih berlama-lama berbicara di ruang dalam sampai Rasulullah Saw. merasa risau (kewuhan =Jawa ), tetapi tidak sampai hati untuk meminta mereka keluar. Ketika Anas akan masuk ke ruang dalam maka Rasulullah Saw.memasang tabir antara isteri beliau dengan Anas. Berkenaan dengan serangkaian peristiwa ini turun ayat Al-Quran S.33 Al-Ah}za>b 53 di atas(HR Bukha>ri>, Muslim, Ibnu Jari>r, Ibnu Abi> H}a>tim, Ah}mad) C. Tema pokok dan sari tilawah Usaha untuk memahami kandungan makna S.33 Al-Ah}za>b 53 di atas tidak boleh lepas dari ayat 36-37 sebelumnya, sehingga jika ayat-ayat itu dirangkum bersama dengan riwayat latar belakang turunnya ayat, maka dapatlah disusun tema pokoknya sebagai berikut: l. Allah menikahkan Rasulu>llah Muhammad Saw. dengan Zainab binti Jahsyin setelah dia diceraikan oleh Zaid ibnu Hari>tsah dan sesudah melalui beberapa proses hukum sebelumnya. 2. Rasulullah Saw. merayakan perkawinan itu dengan membuat walimahan di rumah beliau dengan memotong kambing untuk itu dan sajian-sajian lezat lainnya. 3. Dalam walimahan ini Rasul Saw. mengundang para sahabat banyak-banyak untuk menikmati hidangan yang disajikannya. 4. Setelah para tamu bubaran, ada tiga orang sahabat yang duduk berlama-lama dalam rumah beliau, sehingga Rasul Saw. merasa risau tetapi tidak sampai hati memperingatkannya. 5. Ketika sahabat Anas akan masuk ke dalam rumah, maka Rasulullah Saw. memasang tabir pemisah antara isteri beliau dengan orang laki-laki lain. 6. Jika terdapat suatu kepentingan maka pembicaraannya bisa dilakukan dari balik tabir agar lebih ketat menjaga kesucian untuk semua pihak. 7. Untuk selama-lamnya haram atas umat Islam mengawini janda Rasulullah Saw. siapa yang melanggarnya berarti dosa yang sangat besar di hdapan Allah. D.Masalah dan analisa Dari tema pokok di atas ini timbul banyak sekali permasalahan itu, tetapi untuk kali ini ada 4 masalah yang penting yaitu sebagai berikut: l. Bagaimanakah kisah menjelang pelaksanaan dan perayaan walimah Rasul Saw. tersebut? 2. Bagaimana dan apa saja aturan hukum yang harus dipenuhi oleh seorang Islam yang akan melaksanakan upacara perkawinannya? 3. Bagaimanakah tuntunan Rasulullah Saw dalam melaksanakan upacara walimahan perkawinan itu? 4. Bagaimanakah hikmah rahasia upacara walimahan perkawinan Islam itu? E. Tinjauan dan pemikiran Usaha untuk meninjau masalah tersebut di atas perlu kita mencari ayat atau hadis yang relevan yaitu sebagai terurai di bawah ini: l. Kisah riwayat menjelang perayaan walimahan Rasul Saw. Kisah riwayat menjelang pernikahan Rasul Saw.yang tercatat dalam latar belakang turunnya S.33 Al-Ah}za>b 36-37 sebagaimana hadis Ibnu Jari>r, Ibnu Abi> H}a>tim dalam Luba>bun Nuqu>l (tth:l78) bahwa Zainab tidak sepenuh hati menerima Zaid, anak angkat bekas hamba sahaya Rasul Saw.ini sebagai suami yang dipilihkan sendiri oleh Rasul Saw.; Akhirnya terjadilah perceraian antara keduanya. Dan seperti tercatat dalam riwayat Muslim, Ah}mad dan Nasa>` i> bahwa setelah Zainab habis iddahnya maka Allah Ta`ala menikahkan Rasul Saw. dengan Zainab (S.33 Al-Ah}za>b 37).. Perkawinan antara Rasul Saw. dengan Zainab bekas isteri anak angkat beliau itu memang dikehendaki oleh Allah untuk menghapus adat Jahiliyah yang mengharamkan seseorang mengawini bekas isteri anak angkat. Menurut hukum Allah bahwa adopsi atau pengangkatan anak itu tidak menimbulkan akibat hukum perkawinan dalam Islam, sehingga boleh-boleh saja seorang Islam mengawini bekas isteri anak angkat itu (S.33 Al-Ah}za>b 4-5). 2.Syarat rukun untuk melaksanakan perkawinan Persiapan untuk melaksanakan perkawinan ialah terpenuhinya syarat dan rukun nikah. Rukun merupakan bagian yang berada di dalam bentuk yang hendak diwujudkan, sedangkan syarat itu merupakan bagian untuk mewujudkan apa yang dimaksud namun berada di luar bentuk tersebut. Agar lebih memudahkan kaum muslimin untuk memenuhinya maka para ulama menghimpun seluruh nash Al-Quran dan hadis yang menjadi asas landasan hukum perkawinan, mereka menyusun syarat rukun perkawinan ini dalam berbagai macam kitab fiqh dan untuk kaum muslimin di Indonesia ketentuan ini telah menjadi aturan perundang-undangan negara, yaitu UU no.l Th.l974 dan Instruksi Presiden no.l th l99l tentang Kompilasi Hukum Islam disarikan dari 38 kitab Fiqh dari berbagai macam madzhab. Dalam Kitab Kompilasi Hukum Islam itu ditetapkan bahwa untuk melaksanakan perkawinan harus ada calon suami, calon isteri, wali, dua saksi dan ijab qabul(psl.14). Calon mempelai harus berumur dewasa (minimal l9 th yang laki-laki dan l6 th bagi yang perempuan), saling setuju, tidak ada faktor penghalang yang mengharamkannya (psl.l5-l8). Yang dimaksud dengan faktor yang dapat menghalangi pelaksanaan perkawinan ialah hal-hal yang hukumnya haram, yaitu haram karena antara kedua calon mempelai ada hubungan nasab, hubungan kerabat semenda, hubungan persesusuan (psl.39). Atau yang wanitanya tidak beragama Islam, atau karena dia masih terikat dalam perkawinan dengan pria lain, atau karena masih dalam iddah atau karena dia tidak beragama Islam atau juga dia akan dimadu dengan saudara sedarah atau sesusuan, demikian juga haram untuk dijadikan isteri dalam poligami yang lebih dari 4 orang isteri (psl.40-42).Dalam pasal 43-44 diharamkan pula calon mempelai perempuan yang sudah ditalak 3, atau yang terkena sumpah Li`an dan haram pula seorang perempuan Islam kawin dengan laki-laki yang tidak beragama Islam. Wali yang lebih dekat atau yang lebih berhak harus didahulukan dari pada yang lebih jauh (psl.l9-23). Dua orang saksi dalam pelaksanaan perkawinan itu harus laki-laki, muslim, baligh, sehat akal, tidak tuna rungu (psl.24-26). Ijab kabul antara wali dengan mempelai laki-laki harus jelas, beruntun tidak terselang waktu (psl.28-29). Calon mempelai pria wajib membayar mahar kepada calon mempelai wanita dalam ketentuan yang disepakati(psl. 30-34). 3.Hukum pelaksanaan dan perayaan perkawinan Setelah syarat rukun terpenuhi maka pelaksanaannya ialah upacara ijab kabul dari wali mempelai perempuan kepada mempelai laki-laki. Dan berdasarkan bunyi :”Zawwajtukaha>” dalam Al-Quran S.33 Al-Ah}za>b 37 dan bunyi “Nakah}a>” dalam S.4 An-Nisa>` 22 atau ayat lain, maka para ulama menetapkan bunyi redaksi shighat Ijab kabul itu harus dengan bunyi ini atau terjemahnya, biasanya dengan bunyi:” اَنْكَحْتُكَ وَزَوَّجْتُكَ بِنْتِيْ = Aku nikahkan saudara dengan anak saya Fula>nah. Kemudian mempelai laki-laki mengucapkan َقبِلْتُ نِكَاحَهَا = Aku terima nikahku dengan putri bapak bernama Fula>nah. Biasanya dilengkapi dengan basmalah,shalawat dan do`a Ada beberapa tuntunan Rasulullah Saw. mengenai upacara pelaksanaan perayaan walimahan perkawinan itu yaitu sebagai kandungan hadis-hadis berikut: a. Menyiarkan kepada umum adanya perkawinan dimaksud: عَنْ عَائِشَةَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَعْلِنُوا هَذَا النِّكَاحَ وَاضْرِبُوا عَلَيْهِ بِالْغِرْبَالِ (رواه ابن ماجه)* Artinya:“:Dari ’A>isyah dari Nabi Saw. beliau bersabda:“Siarkanlah perkawinan ini dan tabuhlah rebana untuk itu”!(HR.Ibnu Ma>jah no.l885). b. Menyelenggarakan walimahan oleh fihak laki-laki. عَنْ عَبْدِ الْعَزِيزِ بْنِ صُهَيْبٍ قَالَ سَمِعْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ يَقُولُا مَا أَوْلَمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى امْرَأَةٍ مِنْ نِسَائِهِ أَكْثَرَ أَوْ أَفْضَلَ مِمَّا أَوْلَمَ عَلَى زَيْنَبَ(رواه مسلم) Artinya: “Dari ‘Abdul ‘Azi>z ibnu Shuh}aib dia berkata: “Aku mendengarAnas dan Ma>lik berkata: “Rasulullah Saw.tidak membuat walimahan perkawinan beliau dengan isteri-isterinya lebih besar dan meriah mengalahkan walimahan yang beliau buat untuk perkawinannya dengan Zainab”(HR.Muslim-no.2569) c.Khutbah nikah 1387 عَنْ عَبْدِ اللَّهِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ عَلَّمَنَا خُطْبَةَالْحَاجَةِ: الْحَمْدُ لِلَّهِ نَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ ثُمَّ يَقْرَأُ ثَلَاثَ آيَاتٍ ( يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ ) ( يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمِ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهوَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا ) ( يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا)(روالنساءى) Artinya: “Dari ‘Abdulla>h dia berkata : “Nabi Saw. mengajarkan kepada kami khutbah untuk hajatan:…(seperti tertera di atas lalu ditambah dengan 3 ayat Al-Quran S.3 A
  • n l02, S.4 An-Nisa>“i,> S.33 Al-Ah}za>b 70), yang artinya ialah sebagai berikut: “Segala puji bagi Allah, kepada-Nya kami memohon pertolongan, kami memohon ampunan dan kepada-Nya kami berlindung dari kejelekan diri kami dan buruknya perbuatan kami. Barang siapa yang diberi hidayah Allah maka tidak ada siapapun yang dapat menyesatkannya sebaliknya siapa yang sesat maka tidak ada siapapun yang dapat memberi hidayah baginya.. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu hamba dan utusan Allah.Wahai orang-orang yang beriman bertakwalah kamu kepada Allah dengan betul-betul takwa, sungguh janganlah kamu mati kecuali mati dalam Islam (QS.33 Al02). Wahai sekalian manusia bertakwalah kamu kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri dan menciptakan isteriya dari padanya. Dan dari keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain dan (peliharalah) hubungan silaturrahmi. Sungguh Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu”(QS 4 An-Nisa>` l). Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan berkatalah kamu perkataan yang benar”(HR.An-Nasa>`i`>no.l387). d. Doa dan ucapan selamat kepada mempelai 1011عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا رَفَّأَ الْإِنْسَانَ إِذَا تَزَوَّجَ قَالَ بَارَكَ اللَّهُ لَكَ وَبَارَكَ عَلَيْكَ وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِي الْخَيْرِ (رواه الترمذىحَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ ) Artinya: “Dari Abu> Hurairah bahwa sungguh Nabi Saw.jika mengucapkan selamat kepada siapa saja yang kawin beliau berdoa: (doa di atas yang artinya): “Moga-moga Allah memberikan barokah kepadamu dan moga-moga Allah memberi serba selamat padamu serta moga-moga Allah mengumpulkan kamu berdua dalam kebaikan”(HR.Turmudzi>>>,hadis H}asan shah}i>h}, no.l0ll). 4.Hikmah rahasia perayaan walimahan perkawinan Dalam perayaan walimahan perkawinan terjadi dua macam peristiwa, yaitu: a) Perbuatan hukum nikah. b) Perbuatan sosial. Perbuatan hukum berupa kegiatan untuk menepati syarat rukun hukum perkawinan yang bersumber dari Hukum Allah. Dan perbuatan sosial ialah aktivitas untuk menjalin kemesraan antara sesama manusia, keduanya disebut dengan istilah Allah dalam Al-Quran S.3 A
  • n ll2 : حَبْلُ مِنَ اللهِ وَحَبْلٌ مٍنَالنَّاسِ =Tali hubungan dengan Allah dan tali kasih dengan sesama manusia. Dengan terpenuhinya kedua hubungan tersebut, maka akan tercapailah kebahagiaan hidup manusia di dunia dan di akhirat. Tepat sekali apa yang telah menjadi ketetapan MPR-no.II/MPR/l993 -Bab II no.C/5 tentang azaz Pembangunan Nasional, maka prinsip pokok yang harus dipegang teguh dalam perencanaan dan pelaksanaan pembangunan nasional ialah asas keseimbangan, keserasaian, keselarasan antara kepentingan dunia dan akhirat, materiil dan spiritual, jiwa dan raga,individu, masyarakat dan negara, nasional dan internasional. Itulah sebenarnya hikmah rahasia Al-Quran S.3 A
  • n ll2 hakikat asas tali hubungan manusia dengan Allah dan tali hubungan dengan sesama manusia menuju peri kehidupan masyarakat yang aman damai, tenteram dan bahagia lahir batin. —————(8)———– HUKUM ANTARA BAPAK. IBU DAN ANAK I.S4 An-Nisa>` 34 الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ وَاللَّاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا(النساء 34) II. Artinya: “Kaum lelaki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, kerena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita) dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebahagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang soleh itu ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika tidak hadirnya suami, karena Allah telah memelihara mereka. .Wanita-wanita yang kamu kawatirkan Nusyu>znya maka nasihatilah mereka, dan pisahkanlah diri dari tempat tidur mereka dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaati kamu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar”(S.4 An-Nisa>` 34). III. Tafsir dan analisa A.Pengertian kata-kata = الرِّجَالُ Para laki-laki, maksudnya ialah para suami = قَوَّامُونَ Suatu bentuk Mubalaghah dari lafal Qa>`imun ((قائم artinya tegak,teguh, tidak goyah sedikitpun juga, maksudnya sangat maksimal bertanggung jawab = النِّسَاءِ para wanita, maksudnya ialah isteri-isteri فَضَّلَ اللَّهُ =Allah telah melebihkan = أَنْفَقُوا Mereka telah menafkahkan = أَمْوَالِهِمْ Harta-harta mereka = الصَّالِحَاتُperempuan-perempuan yang baik, maksudnya ialah isteri-isteri yang baik = قَانِتَاتٌ Perempuan-perempuan yang taat, maksudnya taat kepada suami = حَافِظَاتٌ Perempuan-perempuan yang menjaga, maksudnya menjaga diri dan memelihara aturan Allah = لِلْغَيْبِ Untuk yang gaib, maksudnya menjaga amanat waktu suami pergi = تَخَافُونَ Kalian kawatir = نُشُوزَهُنَّ Kedurhakaan mereka, asal artinya Nasyaza = bangkit berdiri فَعِظُوهُنَّ = Maka nasihatilah mereka, peringatkanlah mereka untuk mentaati kewajiban dari ketetapan Allah taat dan berbakti kepada suimi = اهْجُرُوهُنَّ Tinggalkanlah mereka = الْمَضَاجِعِ Tempat tidur = اضْرِبُوهُنَّ Pukullah mereka = أَطَعْنَكُمْ Mereka taat kepada kalian, maaksudmya isteri taat kepada suami = فَلَا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ Maka janganlah kalian mencar-cari alasan menyiksa mereka = عَلِيًّا Tinggi, sifat Allah Maha Tinggi B. Latar belakang turunnya ayat Ash-Sha>bu>ni> dalam Rawa>i`ul Baya>n (tth:l/466) mencatat bahwa ayat di atas ini turun berkaitan dengan peristiwa Sa`d ibnu Rabi>` bersama H}abi>bah isterinya. Suatu hari Sa`ad yang termasuk tokoh ini menempeleng isterinya karena dinilai sebagai Nusyu>z. Kemudian H}abi>bah diantar oleh bapaknya mengadukan hal itu kepada Nabi Saw. lalu beliau menyuruh mereka supaya membalas kepada Sa`ad. Ketika keduanya itu berpaling maka Nabi Saw. memanggil kembali dan bersabda bahwa Jibril menurunkan wahyu QS.4 An-Nisa>`34, beliau tambahkan : “Kita mempunyai kemauan dan Allah juga mempunyai kehendak,maka yang dikehendaki Allah itu lebih baik”(HR.Ibnu Jari>r). C. Tema pokok dan sari tilawah Dari sari tilawah ayat Al-Quran S.4 An-Nisa>` 34 dengan latar belakang turunnya ayat tersebut di atas kiranya dapat dirangkum tema pokok da sari tilawah sebagai berikut: l. Perkawinan itu suatu unit persatuan yang terdiri dari seorang laki-laki sebagai suami dan perempuan sebagai isterinya. 2. Suami itu bertanggung jawab penuh atas kebutuhan hidup isteri 3.Tanggung jawab itu wajib dipikul oleh suami sebab Allah telah menganugerahkan suatu kelebihan kepada jenis laki-laki, maka dia harus memberi nafkah kepada isterinya. 4. Isteri yang baik (Shalihat) ialah isteri yang taat dan ketat menjaga rahasia kehidupan rumah tangga menurut hukum Allah . 5. Jika isteri berbuat Nusyu>z aturan hukumnya ialah dia harus diberi nasehat, jika belum kembali baik-baik maka dilakukan pisah ranjang , jika belum juga kembali baik baru diambil tindakan fisik. 6. Jika isteri sudah baik kembali dia harus diperlakukan sebagaimana mestinya. 7. Allah itu Maha Luhur dan Maha Agung. D. Masalah dan analisa Dari tema pokok dan kandungan ayat tersebut di atas sebenarnya banyak sekali terkandung masalah yang mestinya harus dicermati, namun yang perlu didahulukan dalam kesempatan ini ialah sebagai berikut: l. Bagaimanakah kedudukan hukum suami dan apa saja tugas kewajiban suami itu? 2. Bagaimanakah kedudukan hukum isteri dan apa saja tugas kewajiban isteri itu? 3. Apakah faktor yang menyebabkan timbulnya masalah Nusyu>z dalam suatu perkawinan dan bagaiamanakah usaha menanggulanginya? E. Tinjauan dan pemikiran Suami isteri sering diistilahkan dalam bahasa Jawa dengan “garwo”, maksudnya ialah sigaranne nyowo yaitu belahan nyawa, jadi isteri itu belahan nyawa suami dan suami adalah belahan nyawa isteri. Pengertian ini sangat mirip dengan pengertian dalam Ilmu Fiqh, bahwa nikah ialah suatu persatuan antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan melalui perjanjian yang tulus untuk mentaati perintah Allah yang diyakininya sebagai ibadah. Kompilasi Hukum Islam pasal 77-84 merangkum kewajiban pokok suami isteri dan kewajiban suami serta kewajiban isteri masing-masing kepada yang lain, yaitu sebagai berikut: Suami isteri wajib menegakkan rumah tangga yang Saki>nah, mawaddah dan warahmah yang masalah ini memang menjadi sendi dasar susunan masyarakat. Suami isteri wajib saling cinta mencintai, hormat menghormati, setia dan siap membantu antara yang satu dengan yang lain secara lahir batin (Lih.QS.30 Ar-Ru>m 21).Suami isteri itu wajib memelihara kehormatannya di samping itu mereka harus memikul kewajiban untuk mengasuh dan memelihara anak-anak mereka mulai dari pertumbuhan jasmani, rohani, mengembangkan kecerdasan akal pikiran mereka sampai kepada pendidikan agamanya (Lih.QS.20 Tha>ha> l32). Dalam perkawinan Islam suami itu menduduki tempat sebagai kepala keluarga dan isteri itu sebagai ibu rumah tangga. Adapun hak dan kedudukan isteri dalam rumah tangga itu seimbang dengan beratnya tugas kewajibannya dan seimbang pula kedudukannya dengan kedudukan suami dalam kehidupan rumah tangga dan untuk pergaulan hidup bersama dalam masyarakat masing-masing mempunyai hak untuk melakukan perbuatan hukum(Lih.QS.2 Al-Baqarah 228). Perlu diperhatikan bahwa mengapa suami itu menempati kedudukan sebagai kepala keluarga ? Suami berkedudukan sebagai kepala keluarga, sebabnya ialah bahwa dalam suatu unit bagaimanapun tinggi ataupun rendahnya tidak mungkin mempunyai ketua lebih dari satu, pimpinan yang tertinggi pasti hanya satu. Dalam suatu negara tidak mungkin terdapat presiden lebih dari satu orang, jika lebih dari satu dia hanyalah wakilnya Di alam semesta inipun hanya satu Tuhan Yang Maha Kuasa tidak mungkin ada dua Tuhan (QS 21 AL-ANBIYA>` 22).. Oleh karena itulah di dalam suatu rumah tangga orang yang berhak menjadi kepalanya hanya satu orang dan Allah sendiri yang menentukan bahwa suami-lah orang yang diangkat oleh Allah untuk menjadi kepala rumah tangga itu karena Allah telah memberi anugerah tertentu kepada jenis laki-laki yang tidak dipunyai oleh kaum perempuan. Adapun hak dan kewajiban masing-masing merupakan sesuatu yang saling memberi dan menerima, artinya kewajiban suami itu merupakan hak bagi isteri,sedangkan kewajiban isteri merupakan hak bagi suami. l. Kewajiban suami-istetri ~ Kuajiban suami Suami bertanggung jawab dan memikul kewajiban-kewajiban sebagai berikut: a. Suami adalah pembimbing isteri dan rumah tangganya, namun dalam hal-hal yang sangat penting harus diputuskan bersama-sama. b. Suami wajib melindung isteri dan memnuhi keperluan rumah tangga sesuai dengan kemampuannya Secara umum Rasulullah Saw. menyebutkannya, tercatat dalam suatau riwayat yang panjang, untuk ini ialah: عن عَبْدُاللَّهِ بْنُ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ رَضِي اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ دَخَلَ عَلَيَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَ الْحَدِيثَ يَعْنِي إِنَّ لِزَوْرِكَ عَلَيْكَ حَقًّا وَإِنَّ لِزَوْجِكَ عَلَيْكَ حَقًّا —-الخ (رواه البخارى) Artinya: “Dari ’Abdulla>h ibnu `Amr ibnul `Ash r.a. dia berkata: “Rasulullah Saw.masuk ke rumahku, lalu menceriterakan suatu masalah bahwa : “Sungguh akal pikiranmu itu memiliki hak yang harus kamu penuhi dan sungguh isterimu itupun juga mempunyai hak yang harus kamu penuhi pula” (HR.Bukha>ri> no.l838). c. Suami wajib memberi pendidikan agama kepada isteri dan memberi kesempatan belajar ilmu pengetahuan yang berguna serta bermanfaat bagi agama dan masyarakat (QS.33 Al-Ah}za>b 28&59). d. Sesuai dengan penghasilannya suami menanggung nafkah, rumah, biaya rumah tangga, biaya perawatan kesehatan dan pengobatan isteri maupun anak serta biaya pendidikan anak (QS.2Al-Baqarah 233). Di bawah ini tercatat hadis Rasul Saw.yang menjawab suatu pertanyaan sekitar bagaimana tugas kewajiban suami yang berarti menjadi hak bagi isterinya: مَا حَقُّ امْرَأَتِي عَلَيَّ قَالَ تُطْعِمُهَا إِذَا طَعِمْتَ وَتَكْسُوهَا إِذَا اكْتَسَيْتَ وَلَا تَضْرِبِ الْوَجْهَ وَلَا تَهْجُرْ إِلَّا فِي الْبَيْتِ (رواه احمد) Artinya: ”Apa saja hak isteriku yang harus aku penuhi?” Beliau menjawab: “Kamu beri dia makan jika kamu makan dan kamu beri pakaian jika kamu berpakaian maka janganlah kamu memukul wajah dan janganlah kamu tinggalkan dia melainkan di rumah saja”(HR.Ah}mad, no.l9174). Hak tersebut dapat dituntut oleh isteri namun harus dengan cara yang baik hal ini disebut dalam suatu hadis sebagai berikut: 4940 أَنَّ عَائِشَةَ رَضِي اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ جَاءَتْ هِنْدٌ بِنْتُ عُتْبَةَ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أَبَا سُفْيَانَ رَجُلٌ مِسِّيكٌ فَهَلْ عَلَيَّ حَرَجٌ أَنْ أُطْعِمَ مِنِ الَّذِي لَهُ عِيَالَنَا قَالَ لَا إِلَّا بِالْمَعْرُوفِ (رواه البخاري)0 Artinya:`’A>isyah berkata: “Hindun binti `Utbah datang dan bertanya: “Wahai Rasulullah sungguh Abu Sufyan itu seorang yang pelit. Bolehkah aku ke sana mengambil bahan pangan dari milik dia yang harus dia jaminkan untuk kami dan keluarga dia?”. Beliau menjawab: “ Ya tidak boleh, kecuali kalau dengan cara yang baik-baik”(HR.Bukha>ri> no. 4940). Perlu dicatat bahwa bila isteri berbuat Nusyu>z maka kewajiban itu menjadi gugur. ~ Kewajiban isteri Sesuai dengan hukum Allah maka isteri berkewajiban sebagai berikut: a. Isteri wajib berbakti lahir batin kepada suami dalam batas-batas yang dibenarkan oleh hukum Islam. Rasulullah Saw.bersabda dalam suatu hadis, yaitu sbb: 3179 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ النِّسَاءِ خَيْرٌ قَالَ الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ (رواه النسائ) Artinya:”Dari Abu> Hurairah dia berkata: “Telah ditanyakan kepada Rasulullah Saw.:”Isteri yang baik itu yang bagaimana?” Maka Rasulullah Saw. menjawab: “Isteri yang baik ialah isteri yang menyenangkan suami jika ia memandangnya dan menurut jika disuruh oleh suaminya dan tidak menyelisihi suami tentang diri dan harta yang tidak menyenangkan suami” (HR.Nasa< i> no.3179). 1079 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لِأَحَدٍ لَأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا الخ (رواه التررمذي)* Artinya:”Dari Abu> Hurairah dari Nabi Saw. beliau bersabda: “Jika seandainya aku boleh memerintah seseorang untuk menyembah kepada orang lain maka betul-betul aku akan memerintahkan kepada para isteri untuk sujud kepada suaminya”(HR.Turmudzi>>>, no.l079) Masing-masing suami -isteri harus berusaha untuk memperhias diri cantik dan bagus sebagaimana diatur dalam hadis Rasul Saw. berikut: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْوَلِيدِ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ سَيَّارٍ عَنِ الشَّعْبِيِّ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِاللَّهِ رَضِي اللَّهم عَنْهممَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا دَخَلْتَ لَيْلًا فَلَا تَدْخُلْ عَلَى أَهْلِكَ حَتَّى تَسْتَحِدَّ الْمُغِيبَةُ وَتَمْتَشِطَ الشَّعِثَةُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَعَلَيْكَ بِالْكَيْسِ (رواهالبخاري 4845 ومسلم 1168)* Artinya:“Dari Ja>bir ibnu `’Abdilla>h r.a.bahwa Nabi Saw.telah bersabda: “Jika anda itu pulang malam, janganlah kamu tergesa-gesa masuk ke kamar sampai isteri yang ditinggal itu berhias dan menyisir rambutnya yang kusut” Ja>bir menambahkan bahwa Rasul Saw. bersabda: “Dan andapun harus memperelok diri”(HR.Bukha>ri> no.4845 dan Muslim no.1168). b. Isteri wajib menyelenggarakan dan mengatur keperluan rumah tangga sehari-hari dengan sebaik-baiknya. 3. Kemungkinan timbulnya perbuatan Nusyu>z Allah berfirman dalam Al-Quran S.l8 Al-Kahfi 84-85 bahwa segala sesuatu itu tidak terlepas dari sebab-sebab sebelumnya. Sehingga dalam masalah timbulnya perbuatan Nusyu>z maupun masalah apa saja perlu ditelusuri sebab-sebab sebelumnya. Secara sederhana pangkal timbulnya perbuatan Nusyu>z dapat diteliti sebabnya ialah pada sistem penilaian masalah, pihak yang pertama menilai masalah tersebut tidak penting sedangkan pihak yang kedua menilainya sangat penting. Berhubung dengan sistem penilaian bagi setiap orang itu tidak sama, maka sistem penilaian itu harus dicari standar yang dapat diterima oleh kedua belah pihak dan makin banyak pihak yang menyetujui sistem ini maka sistem tersebut akan lebih tinggi nilainya karena akan lebih banyak pihak yang membelanya. Sehingga sistem dimaksud akan lebih luas berlakunya, dan makin banyak pembelanya, dari perseorangan meningkat ke tingkat lokal, ke tingkat regional, ke tingkat nasional bahkan meningkat dan dipatuhi semua orang secara internasional. Sistem yang berlaku secara internasional bahkan universal dunia akhirat ialah sistem penilaian dari Allah Swt. Berdasarkan pemikiran ini maka nilai penting-tidak penting, benar-tidak benar, baik-tidak baik itu harus diukur dengan sistem penilaian yang sifat jangkauannya universal yang berlaku atas semua orang, kapan saja dan di manapun juga ialah sistem penilaian oleh Allah, terutama apa yang diatur dalam hukum Al-Quran Salah satu dari pasal yang mengatur hal ini ialah S.49 Al-H}ujura>t 13, bahwa orang yang paling baik yang termulia di sisi Allah itu ialah orang yang paling taqwa kepada Allah Dan di dalam kehidupan perkawinan jika timbul perbuatan Nusyu>z maka sorotan dan pernilaiannya harus diukur dengan standar pernilaian Allah dan sunnah Rasul Saw. Penelusuran atau penelitian tentang kemungkinan pangkal tumbuhnya perbuatan Nusyu>z dapat ditelusuri sejak timbulnya gejala-gejala Nusyu>z jika perlu sampai periode atau waktu-waktu sebelum itu, misalnya saat-saat waktu memilih jodoh, baik oleh sang jejaka maupun oleh perawan. Untuk ini kita bisa kembali kepada sunnah Rasul Saw. berikut: 4700 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِي اللَّهم عَنْهم عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ (رواه البخاري ومسلم 2661)* Artinya: “Dari Abu> Hurairah r.a.dari Nabi Saw, belaiu bersabda: “Perempuan itu dipilih-dinikah dengan 4 alasan, karena harta, karena nasab, karena kecantikan dan karena jiwa agamanya. Berhubungan dengan itu maka pilihlah dia yang berjiwa agamis, pasti anda akan diberkahi oleh Allah”(HR.Bukha>ri> no.4700, Muslim no.2661).Takwa itu menjamin kebahagiaan hidup berumah tangga. ——————-(9)—————- HUKUM ANTARA BAPAK, IBU DAN ANAK I. S.2 Al-Baqarah 233 وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلَادَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يُتِمَّ الرَّضَاعَةَ وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ لَا تُكَلَّفُ نَفْسٌ إِلَّا وُسْعَهَا لَا تُضَارَّ وَالِدَةٌ بِوَلَدِهَا وَلَا مَوْلُودٌ لَهُ بِوَلَدِهِ وَعَلَى الْوَارِثِ مِثْلُ ذَلِكَ فَإِنْ أَرَادَا فِصَالًا عَنْ تَرَاضٍ مِنْهُمَا وَتَشَاوُرٍ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا وَإِنْ أَرَدْتُمْ أَنْ تَسْتَرْضِعُوا أَوْلَادَكُمْ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ إِذَا سَلَّمْتُمْ مَا ءَاتَيْتُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ(البقرة233) II. Artinya: “Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan . Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma`ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya dan warispun berkewajiban demikan . Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan dengan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosanya bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan”(S.2 Al-Baqarah 233). III Tafsir dan analisa A.Pengertian kata-kata = َالْوَالِدَاتُ Wanita-wanita yang melahirkan, maksudnya ibu-ibu = يُرْضِعْنَ Mereka atau ibu-ibu memberi air susunya = أَوْلَادَهُنَّ Anak-anak mereka = حَوْلَيْنِ Dua tahun = كَامِلَيْنِ Sempurna 2 tahun itu = يُتِمَّ الرَّضَاعَةَ Dia menyempurnakan susuan itu = الْمَوْلُودِ لَهُ Orang yang mempunyai anak, maksudnya ayah = رِزْقُهُنَّ Rezeki mereka, maksudnya ayah harus memberi nafkah ibu si bayi = َكِسْوَتُهُنَّ Pakaian mereka = بِالْمَعْرُوفِ Dengan baik-baik, maksudnya baik menurut manusia dan Allah = تُكَلَّفُ Dia dibebani, maksudnya dia diminta pertanggung jawabannya = إِلَّا وُسْعَهَا Kecuali usahanya, maksudnya hanya menurut kemampuannya = لَا تُضَارَّ Dia tidak diberati, maksudnya tidak dibebani derita atau kesulitan = وَالِدَةٌ Perempuan yang melahirkan, maksudnya ialah ibu = بِوَلَدِهَا Karena anaknya = مَوْلُودٌ Laki-laki yang mempunyai anak, maksudnya ialah bapaknya = بِوَلَدِهِ Karena anaknya عَلَى الْوَارِثِ = Kepada ahli waris, artinya ahli waris menanggung مِثْلُ ذَلِكَ = Seperti demikian, maksudnya bahwa ahli waris ikut bertanggung jawab sama dengan pertanggung jawaban ibu bapak terhadap anak = فِصَالًا Memutus pemberian air susu atau nyapih (Jawa) = عَنْ تَرَاضٍ Dari kerelaan, artinya sama-sama rela = تَشَاوُرٍ Permusyawaratan, maksudnya hasil rembugan baik-baik = فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا Maka tidak ada dosa atas keduanya artinya boleh = تَسْتَرْضِعُوا Meminta perempuan lain untuk memberi tetek air susu = سَلَّمْتُمْ Kalian serahkan, artinya kalian beri upahnya = مَا ءَاتَيْتُمْ Apa yang kalian berikan = بَصِيرٌ Maha mengawasi B. Tema dan sari tilawah Tema pokok dan kandumgan makna ayat di atas kiranya dapat dirangkum sebagai berikut: l. Kejadian laki-laki itu berbeda dari kejadian perempuan, sehingga karena adanya perbedaan itu maka tugas kewajibannya-pun juga berbeda. 2. Ibu wajib memberi air susu kepada anak bayinya, sempurnanya ialah selama dua tahun. 3. Bapak wajib menanggung biaya kebutuhan hidup ibu dan bayinya secara baik . 4. Tugas kewajiban tidak dibebankan kepada manusia diluar ukuran kemampuannya. 5. Manusia harus mencari ikhtiar dan usaha jangan sampai berbuat sesuatu yang menyebabkan kesengsaraan kepada diri sendiri ataupun kepada orang lain siapapun. 6. Ibu jangan sampai menderita kesengsaraan yang ditimbulkan oleh soal anak 7. Bapak jangan sampai menderita kesengsaraan yang ditimbulkan oleh masalah anak. 8. Hukum tersebut di atas berlaku juga terhadap ahli waris mereka.. 9. Menyapih, menghentikan pemberian air susu kepada anak bayi mereka boleh dilakukan sebelum dua tahun usia anak dengan musyawarah berdua kedua orang tua itu. 10. Pemberian air susu kepada bayi boleh dimintakan bantuan kepada seorang ibu susuan lain dengan pemberian balas jasa secara baik-baik. 11. Kita semua harus bertakwa kepada Allah karena Allah itu Maha Mengetahui lagi sangat Awas. C. Masalah dan anlisa Dari sejumlah masalah yang timbul dari tema dan kandungan makna ayat tersebut di atas yang sangat mendesak untuk ditelusuri jawabannya ialah pertanyaan-pertanyaan berikut; 1. Bagaimanakah hak dan kewajiabn bapak, bagaimanakah hak dan kewajiban ibu dan bagaimana pula aturan hukum anak terhadap bapak-ibu? 2. Bagaimanakah hukumnya jika seandainya bapak tidak mampu dan bagaimana pula jika seandainya ibu tidak mampu memenuhi kewajiban yang harus ditanggungnya itu? 3. Sampai sebatas manakah tanggung jawab ahli waris untuk memikul tugas kewjiban mereka terhadap keluarga dan rumah tangga tersebut diatas ? D.. Tinjauan dan pemikiran Salah satu dari tujuan perkawinan ialah harapan akan mendapatkan karunia anak keturunan yang akan meneruskan sejarah riwayat hidup seseorang maupun harapan untuk membina suatu generasi yang memiliki swadaya masyarakat (SDM) yang maksimal yang akan menjadi Muja>hid Fi> Sabi>lilla>h yang militan di medan juang kehidupan ini. Oleh karena itu sesuatu yang sangat wajar sekali bahwa bila suatu pasangan perkawinan sesudah berlangsungnya perkawinan, maka suami isteri itu segera saling memikul tugas-kewajiban dan menuntut hak memenuhi kebutuhan hidup suami-isteri dalam perkawinan itu. Sehingga tidak lama setelah itu datanglah saat-saat kelahiran anak-keturunan yang sangat didambakan bersama suami isteri ini. Dari proses perkawinan sampai lahirnya anak-keturunan ini timbullah masalah-masalah hukum yang harus dipatuhi oleh masing-masing suami isteri yang statusnya berganti menjadi bapak-ibu dan anak, diantaranya ialah masalah-masalah berikut. 1. Tugas orang tua a. Tugas kewajiban ibu Ibu sebagai orang tua dari anaknya dia mempunyai tugas mengasuh anak bayinya , secara khusus disebut dengan Al-H}adha>natu(الحضانة ). Adapun Al-H}adha>natu ini mencakup periode anak dalam kandungan sampai lahir, memberikan air susu kepadanya sampai umur dua tahun bahkan sampai remaja (Al-Quran S.2 Al-Baqarah 233 , S 45 Al-Ah}qa>f l5, S.3l Luqma>n l4), sehingga tugas kewajiban ibu dengan Al-H}adha>natu ini mencakup pekerjaan -pekerjaan sebagai berikut: 1) Mengasuh anak yang masih belum mampu mengurus masalah-masalah diri sendiri. 2) Mencegah apa saja yang bisa membahayakan dia seperti kisah keluarga Imran berebut untuk menjadi pengasuh dan menjaga Maryam ibu N.Isa (S.3 A
  • n 37 dan 44 3) Mengatasi urusan, untuk kepentingannya. 4) Melayani masalah makan-minum, tidur, mandi, berpakaian, mencuci pakaian sekaligus menumpahkan cinta dan kasih sayang kepada anak. Perlu kita renungkan baik-baik bagaimana rasa pilu hati ibu N.Musa berpisah dan bagaimana iba hatinya saat dia berjumpa kembali dengan anak bayinya (S.28 Al-Qashash l0 & l3 dan S20 Tha>ha> 39-40). 5) Mendidik anak. Khusus untuk ibu tugas ini sangat erat mengikat dia ialah .pada umur dan periode sebelum mumayyiz. Kompilasi Hukum Islam pasal l05 (a) menetapkan umur mumayyiz anak ialah 12 tahun. 418 عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ (رواه ابو داود واحمد 6402) Artinya: “Dari ‘Amr ibnu Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya bahwa Rasul Saw. bersabda: Perintahkanlah kepada anak-anakmu untuk shalat pada usia 7 th dan pukullah mereka jika sampai 10 tah (belum shalat) juga pisahkanlah tempai tidur bagi mereka”(HR Abu Dawud no.418 dan Ahmad no.6402)(Lihat juga QS 20 Thaha 132). Az-Zuh}aili> dalam Al-Fiqhul Isla>mi> (l989:7/718) menyatakan bahwa hak untuk mengasuh anak (Al-H}adha>nah) ini melekat kepada 3 orang, yaitu: anak, ibu dan bapak. Untuk anak sudah jelas, dia mempunyai hak penuh untuk dirawat, sedangkan bapak dan ibu akan terlihat jelas bahagimana haknya untuk mengasuh anak, ketika terjadi perceraian dari perkawinan itu maka hak dan kewajiban untuk mengasuh anak akan menjadi masalah yang sangat serius. Jika anak telah menjadi besar maka anakpun dapat menuntut biaya apa saja yang menjadi haknya itu. Dan biaya untuk ini semua baik untuk si ibu maupunn untuk anak wajib ditanggung oleh bapak sebagai kepala keluarga. Dalam hal h}adla>nah maka terdapat tugas kewajiban yang terpadu menjadi tugas kewajiban bersama-sama si ibu maupun bapak itu. Di bawah ini tercatat bagaimana hubungan tugas kewajiban ibu untuk anak terikat erat dengan penuh kasih yang sangat mesra: 6271 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِي اللَّهم عَنْهم أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كَانَتِ امْرَأَتَانِ مَعَهُمَا ابْنَاهُمَا جَاءَ الذِّئْبُ فَذَهَبَ بِابْنِ إِحْدَاهُمَا فَقَالَتْ لِصَاحِبَتِهَا إِنَّمَا ذَهَبَ بِابْنِكِ وَقَالَتِ الْأُخْرَى إِنَّمَا ذَهَبَ بِابْنِكِ فَتَحَاكَمَتَا إِلَى دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَام فَقَضَى بِهِ لِلْكُبْرَى فَخَرَجَتَا عَلَى سُلَيْمَانَ بْنِ دَاوُدَ عَلَيْهِمَا السَّلَام فَأَخْبَرَتَاهُ فَقَالَ ائْتُونِي بِالسِّكِّينِ أَشُقُّهُ بَيْنَهُمَا فَقَالَتِ الصُّغْرَى لَا تَفْعَلْ يَرْحَمُكَ اللَّهُ هُوَ ابْنُهَا فَقَضَى بِهِ لِلصُّغْرَى (رواه البخاري ومسلم 3245)* Artinya:“Dari Abu> Hurairah r.a. bahwa Rasul Saw. berkata: “Ada dua orang ibu membawa bayinya, tiba-tiba datang serigala dan membawa lari salah satu dari bayi mereka, maka seorang ibu mengklaim mengatakan kerpada ibu yang satunya : “Serigala itu membawa bayimu!!!” Ibu yang satu menyanggahnya mengatakan: “Serigala tadi membawa bayimu!!!!” .Lalu keduanya meminta keputusan hukum kepada N.Da>wu>d a.s., maka N.Da>wu>d memutuskan yang memenangkan si ibu yang lebih tua. Kemudian keduanya keluar menghadap kepada N.Sulaiman putra N.Da>wu>d a.s. mereka menceriterakan perkara keduanya kepada N.Sulaiman. Selanjutnya beliau meminta: “Berikan kepadaku sebilah pisau akan aku belah bayi itu dibagi dua antara mereka”. Segera si ibu yang muda menentang keras “Jangan tuan!!!” moga-moga Allah memberi rahmat kepada tuan, bayi itu anak ibu tadi (ibu yang tua). Akhirnya N.Sulaiman memutuskan dan memenangkan si ibu yang muda mengalahkan ibu yang tua” (HR.Bukha>ri> no.6271,Muslim no.3245). Bahwa ibu yang asli ialah ibu yang sangat peka sekali perasaannya dengan nasib anak bayinya, mulai sakit yang sangat ringan apa lagi sampai matinya, tidak mungkin dia sampai hati membiarkannya. b). Tugas bapak Tugas kewajiban bapak itu persis seperti apa yang menjadi tugas-kewajiban suami sebagaimana terurai dalam tafsir ayat S.4 An-Nisa>`34 di pembahasan yang terdahulu dan karena mereka kemudian sudah berkeluarga mempunyai anak satu dua dan seterusnya maka tugas kewajiban itu bertambah-tambah terus senada dengan situasi dan kondisi yang berkembang, yaitu: Bapak sebagai kepala keluarga dituntut menanggung jawab masalah berikut: a) Mampu mengatasi ujian atas tanggungannya berupa anak maupun isteri (Lihat QS.3 A
  • n l4, S8 Al-Anfa>l 28, S.29 Al-`Ankabu>>t 85, S.l8 Al-Kahfi 45, S.61 Al-Muna>fiqu>n9 dan S.64 At-Tagha>bun l5). b) Anak merupakan anugerah dan rahmat Allah,maka harus disayangi dan dicintai tidak boleh ada rasa tidak suka kepada anak (Lih.QS.l2 Yu>suf l3, 64, 67, 84-85). c) Anak sebagai penyambung sejarah dan riwayat hidup diri dia harus dido`akan untuk memperoleh keberkahan dan rahmat Allah (Lih.QS.l9 Maryam 6;S.25 Al-Furqa>n 74;S.46 Al-Ah}qa>f l5). d) Berusaha keras mendidiknya agar anak itu kelak akan membawa harum nama orang tua (Lih.QS.l8 Al-Kahfi 82) e) Bersikap adil atas semua anak tidak boleh menganak-tirikan yang satu dari yang lain (S.12 Yu>suf 8). f) Memberi nasehat masalah-masalah yang sangat penting kepada anak(Lih.QS.2 Al-Baqarah l32-l33; S.ll Hu>d 42-43). g) Memberikan pendidikan Islam yang ideal(Lih.QS.31 Luqma>n l3; l7-l8-l9). h) Memberikan pelatihan kecakapan mengatasi segala macam masalah (S.21 Al-Anbiya>`78-79); dan pelajaran ibadah (S.2 Al-Baqarah l32-l33; S.31 Luqma>n 13 dan S.66 At-Tah}ri>m 6; S.20 Tha>ha> l32). Az-Zuh}aili> dalam Al-Fiqhul Isla>mi> (l989:7/7l8) memberikan rincian yang senada bahwa tugas kewajiban bapak menanggung sepenuhnya kebutuhan keluarga meliputi masalah-masalah berikut: (l).. Menentukan kebijakan mengatur rumah tangga (2) Sangat peduli, amper dan kritis atas tanggung jawabnya. (3). Penuh perhatian atas masalah rumah tangganya. (4) Teguh hati, panntang mundur. (5).Menciptakan suasana dan nuansa yang mengutamakan Al-Akhla>qul- kari>mah. Para ulama hadis melengkapinya dengan hadis-hadis Nabi Saw.riwayat Ah}mad dan Abu> Da>wu>d tentang bagaimana praktik mewujudkan tugas kewajiban itu, seperti di bawah ini: 10246 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ كُنَّا نُصَلِّي مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْعِشَاءَ فَإِذَا سَجَدَ وَثَبَ الْحَسَنُ وَالْحُسَيْنُ عَلَى ظَهْرِهِ فَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ أَخَذَهُمَا بِيَدِهِ مِنْ خَلْفِهِ أَخْذًا رَفِيقًا وَيَضَعُهُمَا عَلَى الْأَرْضِ فَإِذَا عَادَ عَادَا حَتَّى إِذَا قَضَى صَلَاتَهُ أَقْعَدَهُمَا عَلَى فَخِذَيْهِ (رواه احمد)* Artinya: “Dari Abu> Hurairah r.a. dia berkata: “Kami shalat `Isya` bersama Rasulullah Saw., lalu ketika beliau sujud tiba-tiba H}asan dan H}usain (cucu beliau) menduduki punggung beliau, waktu beliau akan bangun dari sujud maka beliau turunkan keduanya dari punggung beliau dengan penuh sayang lalu beliau letakkan di bawah. dan berulang-ulang kedua cucu itu melakukannya saat belaiu sujud. Setelah beliau me nyelesaikan shalat itu kedua cucu ini lalu didudukkannya di pangkuan beliau “(HR Ah}mad no.l0246). 418 عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ (رواه ابوداود واحمد 6402) Artinya:”Dari `Amr ibnu Syu`aib dari ayahnya dari kakeknya dia berkata: “Rasulullah Saw. bersabda: “Perintahkanlah anak-anakmu untuk shalat pada umur 7 th dan pukullah dia untuk itu ketika dia berusia l0 th serta pisahkanlah tempat tidur di antara mereka itu”(HR.Abu> Da>wu>d no.4l8). —————–(10)————— HUKUM POLIGAMI S.4 An-Nisa>` 3 وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَى فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَى وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ذَلِكَ أَدْنَى أَلَّا تَعُولُوا ( النساء 3) II. Artinya: “Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya”(S.4 An-Nisa>` 3). III. Tafsir dan analisa A. Pengertian kata-kata = َإِنْ خِفْتُمْ Jika kalian kawatir = أَلَّا تُقْسِطُوا Bahwa kalian tidak berlaku adil = فِي الْيَتَامَى Dalam hal anak yatim = فَانْكِحُوا Maka kawinilah olehmu = مَا طَابَ لَكُمْ Mana yang baik bagi kalian = مَثْنَى وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ Dua-dua, tiga-tiga, empat-empat = أَلَّا تَعْدِلُوا Bahwa kalian tidak berlaku adil = مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ Apa yang tangan kanan kalian miliki, maksudnya ialah budak = َ أَدْنَى Lebih dekat = أَلَّا تَعُولُوا Untuk tidak berbuat dosa B. Latar belakang turunnya ayat Suatu hari ‘Urwah ibnuz-Zubair bertanya kepada ‘A>isyah masalah Al-Quran S.4 An-Nisa<` 3, maka ‘A>isyah menceriterakan bahwa ada seorang anak perempuan yatim yang berada dibawah asuhan seorang wali. Si wali itu sangat tertarik oleh kecatinkan wajah maupun harta anak itu dan ingin menikahinya dengan tidak mau membayar maskawin bagi anak perempuan tadi sebagaimana mestinya. Maka Al-Quran melarang siapa saja mengawini anak dengan cara seperti itu kecuali jika didasarkan atas sifat yang adil dan dia sudah berumur dewasa. Jika tidak didasarkan atas sifat adil maka laki-laki itu harus mencari calon isteri yang lain dua, atau tiga atau empat orang. Sesudah itu orang-orang meminta fatwa kepada Rasulullah Saw.masalah wanita, maka turunlah Al-Quran S.4 An-Nisa>`127(HR. Bukha>ri> 4208 dan Muslim 5335). Ash-Sha>bu>ni> (tth.juz-1,h.420).memasukkan riwayat ini sebagai Sababun Nuzu>l Ayat. C. Tema dan sari tilawah Dari pengertian kata-kata dan latar belakang turunnya ayat, maka dapat disusun tema sekaligus sari tilawah ayat itu sebagai acuan masalah, yaitu: 1. Di dalam rumah tangga banyak variasi anggota yang bermacam-macam 2. Diantara anggota rumah tangga itu mungkin ada anak-anak perempuan yatim yang cantik dan memiliki harta 3. Wali yang mengasuhnya sangat tertarik kepada anak yatim tersebut untuk mengawininya dengn cara yang tidak jujur, enggan memberi maskawin, bahkan bermaksud untuk menguasai harta milik anak yatim itu 4. Allah melarang cara-cara tersebut dan dipersilahkan yang bersangkutan supaya mencari perempuan lain untuk dikawin, boleh dua, boleh tiga dan boleh empat orang sebagai isteri 5. Terhadap mereka yang takut tidak bisa berbuat adil kepada isteri-isterinya, maka hendaklah kawin monogami satu isteri saja, tidak boleh kawin poligami 6. Kawin monogami itu lebih terhormat. D. Masalah dan analisa Dari tema dan kandungan makna ayat tersebut maka timbul beberapa masalah, terutama 3 pertanyaan berikut: 1. Bagaimanakah sebenarnya Hukum Poligami itu? 2. Apa saja syarat-syarat dibolehkannya seseorang laki kawin poligami? 3. Bagaimanakah hikmah rahasia dibolehkannya poligami itu? E Tinjauan dan pemikiran Al-Quran S.4 An-Nisa>`3 sangat erat kaitannya dengan ayat-ayat sebelum dan sesudahnya, walaupun hubungan itu hanya samar-samar. Hanya saja tidak semua ulama tafsir mengaitkannya, maka penulis Al-Mana>r, Ibnu Katsi>r dan tafsir Al-Mi>za>n yang mengelompokkannya menjadi satu rangkaian tasfiran. Kitab Al-Mana>r dan Ibnu Katsi>r merakit ayat 2-3 dan 4 menjadi satu bahasan, sedangkan Thaba>thaba>`i> merangkaikan ayat 2-3-4-5-6 menjadi satu bahasan. Masing-masing mereka mempunyai fokus perhatian dan pisau analisanya sendiri-sendiri. Ayat ke-2 menekankan kepada kita sekalian untuk menjunjung tinggi amanat Allah dalam mengurus anak yatim dengan harta mliknya. Kita dilarang keras membuat rekayasa, mencampur adukkan harta anak yatim dengan harta kita atau menukarnya dengan sesuatu yang mutu dan harganya lebih rendah dari pada harta anak yatim itu. Ayat yang ke-4 menyuruh pengantin laki-laki supaya membayar maaskawin yang menjadi hak pribadi pengantin perempuan, baik dia seorang perempuan biasa, lebih-lebih yang asalnya dari anak yatim. Ayat ke-5 menyatakan bahwa harta itu merupakan sarana untuk mencukupi kebutuhan hidup umat manusia termasuk orang-orang yang serba tuna, tuna akal, seperti dungu, orang yang tidak mampu mengurus harta. Terhadap para pernderita tuna akal ini kita harus bijak, jangan sampai mereka mengurus harta, tetapi cukupilah kebutuhan mereka sebaik-baiknya. Ayat ke-6 menekankan lagi masalah anak yatim bahwa kita wajib mengasuh, mendidik dan melatih anak-anak yatim serta membesarkan mereka sampai berumah tangga, kemudian jika mereka telah mahir lalu kita serahkan harta yang menjadi hak mereka dengan sejujur-jujurnya jangan sampai berlaku curang atas amanat Tuhan ini. Adapun ayat ke-3 yang sedang kita bahas inilah ayat yang menyebut-nyebut masalah poligami atau beristeri lebih dari satu. Walaupun latar belakang turunnya ayat ini terkait dengan masalah perwalian atas anak yatim, tetapi hukum yang ada di dalamnya mencakup seluruh orang laki-laki, baik yang menjadi waii maupun yang tidak cmenjadi wali anak yatim. Dan lafal yang menjadi pokok pangkal pembicaraan masalah poligami itu ialah kata-kata: مثني وثلاث ورباع (Matsna> wa tsula>tsa wa ruba>‘a ) yang maksudnya ialah bahwa kepada mereka yang memenuhi syaratnya maka seorang laki-laki dibolehkan untuk melakukan kawin poligami, dua isteri, tiga isteri atau empat isteri. Ayat-ayat tersebut di atas ditujukan kepada seluruh umat manusia dicakup oleh makna ayat yang pertama yang berbunyi sebagai berikut: يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا(النساء 1) Artinya: Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu”(S.4 An-Nisa>` 1). Walaupun demikian penyusun Al-Mana>r (tth:4 / 323) mencatat bahwa yang benar ialah bahwa ayat itu ditujukan kepada manusia penanggung jawab amanat Tuhan, yaitu para Mukallaf lebih-lebih mereka yang menjadi wali anak yatim. Seperti sudah diuraikan berkali-kali, dalam Ilmu Antropologi sosial, maka kawin itu merupakan salah satu kebutuhan hidup mansusia secara universal, sehingga siapa saja yang bernama manusia, di manapun juga bahkan kapanpun juga pasti memerlukan pemenuhan kebutuhan ini. Kebutuhan hidup manusia secara universal atau yang disebut Human needs itu ada tiga pokok, yaitu kebutuhan primer, skunder dan integratip. ~ Kebutuhan primer ialah suatu kebutuhan yang tidak mungkin ditinggalkan, seperti makan, minum, tidur, pemuasan nafsu seks. ~ Kebutuhan skunder ialah suatu kebutuhan manusia untuk hidup berkawan atau hidup bermasyarakat, misalnya seperti perasaan bangga atas kelompoknya, bangsa atau aliran madzhab yang dianutnya. ~ Kebutuhan integratip ialah kebutuhan manusia untuk hidup yang lebih baik lagi, lebih sempurna dan lebih bahagia mencakup kebutuhan manusia untuk menyembah Tuhan yang Maha Kuasa. Para ulama ahli Hukum Islam berpendapat bahwa kkebutuhan hidup manusia secara universal itu ada 5, yaitu: (1) Terjaminnya kebutuhan untuk menyembah Tuhan. (2) Terjaminnya hak untuk hidup dan hidup terus serta hidup yang lebih baik lagi. (3) Terjaminnya perlindungan dan perkembangan akal yang sehat. (4) Terjaminnya kebutuhan hak pemilikan atas harta. (5) Terjaminnya kebutuhan untuk pengembangan jenis dan anak keturunan. 1. Hukum poligami Ada beberapa catatan berkaitan dengan lafal مثني-وثلاث-ورباع (Matsna>- wa Tsula>tsa- wa Ruba>’a), yaitu sebagai berikut: ~ Lafal Matsna>, Tsula>tsa dan Ruba>‘a adalah kata-kata yang mengikuti wazan Maf’alun dan Fu’a>la مفعل— فعالmempunyai arti berulang, yaitu dua-dua, tiga-tiga dan empat-empat (Lih.Al-Qurthubi> 1967: 5 / 15). Ada dua masalah yang penting: i. Huruf ‘Athaf atau kata penghubung ketiga lafal tersebut menggunakan huruf Wawu (وا و) artinya DAN, bukan Alif dan wawu الف + واو)) (auw artinya ATAU), maka Az-Az-Zamakhsyari> dalam Al-Kasysya>f (tth:1 / 497), Al-Qa>simi> (1957:5 / 1105), Al-Mana>r (tth:4 / 340 ), menyatakan bahwa kata penghubung atau huruf Wawu (yang artinya DAN), maka kata-kata مثني و ثلاث و رباع (Matsna> wa tsula>tsa wa ruba>‘a ) maknanya ialah bahwa poligami itu boleh dua isteri, boleh tiga isteri, boleh empat isteri. ii. Jika kata penghubungnya menggunakan huruf ‘Athaf Alif dan Wawu Aw او) ) artinya ATAU, maka ayat itu memberi pengertian bahwa seseorang boleh melakukan poliami itu dua-dua ATAU tiga-tiga ATAU empat-empat. Jika demikian maka pemilihan itu hanya jatuh kepada salah satu dari 3 alternatip tadi, bukan jumlah semua angka. Jika menggunakan kata penghubung DAN (Wawu), maka adalah sbb: a) Sebagian orang ada yang dibolehkan berpoligami dua orang; b) Ada sebagian orang lagi boleh berpoligami tiga orang; c) Dan sebagian yang lain lagi dibolehkan berpoligami empat orang isteri. Untuk lebih jelasnya para ulama memberi contoh dengan kalimat sebagai berikut: Contoh I “Bagi-bagikanlah uang 1000 dinar ini; Dua dinar-dua dinar DAN tiga dinar-tiga dinar DAN empat dinar-empat dinar” Ini artinya adalah sebagai berikut: Sejumlah orang ang memperoleh bagian dua dinar Sebagian orang lagi menerima bagian tiga dinar-tiga dinar Sisanya beberapa orang mendapat bagian empat dinar-empat dinar Contoh II “Ada 1000 orang, mereka datang dua-dua DAN tiga-tiga DAN empat empat” Ini maksudnya ialah sebagai berikut: Sebagian dari 1000 orang itu datangnya dua-dua Sejumlah orang dari 1000 orang tadi datangnya tiga-tiga Sisanya lagi dari 1000 orang tersebut datangnya empat-empat Jika seandainya kalimat di atas menggunakan kata penghubung ATAU, yaitu dua-dua ATAU tiga-tiga ATAU empat-empat Ini artinya ialah bahwa seluruhnya 1000 orang itu harus seragam SATU CARA tidak boleh menggunakan tiga cara, yaitu: @ Semuanya harus datang DUA-DUA tidak boleh tiga-tiga. @ Jika datang tiga-tiga maka tidak boleh datang dengan cara dua-dua, tidak boleh datang empat-empat. @ Jika datang dua-dua maka tidak boleh datang dengan cara empat-empat. Dengan contoh ini pula maka jelas sekali bahwa lafal مثني و ثلاث و رباع (Matsna> wa tsula>tsa wa ruba>‘a) tidak mungkin ditfsirkan menjadi sebagai berikut: Dibolehkan poligami lebih dari angka 4 (Empat) (1) Dengan cara menjumlah 2+3+4 = 9 (berpoligami 9 isteri) (2) Dengan cara perkalian kuardrat 2×2 + 3×3 + 4×4 =18 (berpoligami 18 isteri). Penafsiran angka-angka menjadi 9 isteri atau 18 isteri ini sangat bertentangan dengan hadis Nabi Saw. dan ijmak ulama. Ibnul ‘Arabi> (1988:1 / 409) mengutip hadis Nabi Saw. 1047 عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ غَيْلَانَ بْنَ سَلَمَةَ الثَّقَفِيَّ أَسْلَمَ وَلَهُ عَشْرُ نِسْوَةٍ فِي الْجَاهِلِيَّةِ فَأَسْلَمْنَ مَعَهُ فَأَمَرَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَتَخَيَّرَ أَرْبَعًا مِنْهُنَّ (رواه الترمذي وابن ماجه 1943)* Artinya: “Dari Ibnu ‘Umar dia berkata: “Ghailan ibnu Salamah masuk Isalam dengan isterinya sepuluh rang, maka Nabi Saw. bersabda keadanya: “Ambillah dari 10 (sepuluh) orang isteri itu empat orang”(HR. Turmudzi>>> no.1047 dan Ibnu Ma>jah no.1943). 1942 عَنْ قَيْسِ بْنِ الْحَارِثِ قَالَ أَسْلَمْتُ وَعِنْدِي ثَمَانِ نِسْوَةٍ فَأَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ ذَلِكَ لَهُ فَقَالَ اخْتَرْ مِنْهُنَّ أَرْبَعًا (رواه ابن ماجه ولبو داود 1914)* Artinya: “Dari Qais ibnul Harits, dia berkata: “Aku masuk Islam sedang isteriku delapan orang. Lalu aku menghadap Nabi Saw. maka aku kemukakan halku itu kepada beliau. Lalu beliau bersabda: “Pilihlah 4(empat) orang dari isteri-isterimu itu”(HR. Ibnu Ma>jah no.1942 dan Abu> Da>wu>d no.1914, Lihat juga Al-Qurthubi> 1967: 5 / 17). Adapun poligami itu hukumnya sangat terkait dengan situasi dan kondisi individu atau masyarakat manusia itu sendiri. Thaba`>thaba`>i> dalam Al-Mi>za>n (1974: 4 / 191) mnyatakan bahwa Allah tidak mewajibkan manusia untuk melakukan poligami. Namun jika individu dan masyarakat manusia, disebabkan karena situasi dan kondisi memang betul-betul memerlukannya, maka poligami itu dibolehkannya khusus bagi mereka yang memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan Allah. Penyusun Tafsir Al-Mana>r (tth:4 / 349) menyatakan bahwa diperbolehkannya poligami itu merupakan suatu ijin yang benar-benar dibatasi sangat ketat sekali, yaitu suatu jalan yang betul-betul darurat khusus untuk orang yang memang sangat memerlukannya dengan keyakinan penuh dia akan mampu berbuat adil dan tidak berbuat dosa. 2. Syarat-syarat poligami Para ulama berpendapat bahwa syarat diperbolehkannya seseorang melakukan poligami itu ialah kemampuan orang yang bersangkutan untuk berlaku ADIL, berdasarkan nash yang berbunyi: فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ذَلِكَ أَدْنَى أَلَّا تَعُولُوا(النساء 3) Artinya: “Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya”(S.4 An-Nisa>` 3). Berdasarkan atas nash ini pula maka menurut Thaba`>thaba`>i> (1974:4 /169) maka asas landasan Hukum Perkawinan Islam itu ada 3, yaitu: (1) Asas keadilan (2) Mencegah perbuatan dosa (3) Jalan untuk memperahankan hak individu supaya tidak diterlantarkan. Ketiga-tiganya tersimpan di dalam nash: الااقسطوا-الاتعدلوا- الاتعولوا (An la> tuqsithu>- an la> ta’dilu> – an la> ta’u>lu>). @ الااقسطوا (An la> tuqsithu>), asal katanya ialah Al-Qisthu (القسط) artinya ialah bagian yang adil, ini dapat difaham dari firman Allah berikut; يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَى أَنْفُسِكُمْ أَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ (النساء 135) Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu”(S.4 An-Nisa>` 135). Kata kerja dari Al-Qisthu ialah Aqsatha artinya berlaku adil, isim fa>’il-nya ialah Al-Muqsithu artinya orang yang berlaku adil, seperti yang dimaksud firman Allah berikut: فَإِنْ فَاءَتْ فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا بِالْعَدْلِ وَأَقْسِطُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ (الحجرات 9) Artinya: “Jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil dan berlaku adillah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil”(S.49 Al-H}ujura>t 9) Namun jika lafal ini dibentuk dengan bunyi “Qasatha” (قسط). Maka artinya ialah berbuat dosa atau berbuat zalim. Lafal Al-Qasithu (اَلْقَاسِطُ) artinya ialah orang yang berbuat dosa, berlaku zalim, menyimpang dari kebenaran, difaham dari firman berikut: وَأَمَّا الْقَاسِطُونَ فَكَانُوا لِجَهَنَّمَ حَطَبًا (الجن 15) Artinya: “Adapun orang-orang yang menyimpang dari kebenaran, maka mereka menjadi kayu api neraka Jahannam”(S.72 Al-Jin 15)(Menyimpang dari kebenrana = zalim). الاتعدلوا @ ( An la> ta’dilu> ) artinya tidak berlaku adil. Lafal ini dikaitkan dengan خِفْتُمْ (Khiftum) artinya kawatir, mencakup rasa ragu-ragu dan samar-samar. Dalam keraguan atau takut dan kawatir tidak yakin untuk bisa berlaku adil, maka telarang untuk melakukan perkawinan poligami. – الاتعولوا @An la> ta’u>lu> ), asalnya dari ) عال-يعول-عولا ‘Ala>- Ya’u>lu-‘Aulan ) artinya cenderung berbuat dosa, misalnya: عال الحاكم في حكمه Artinya: “Hakim itu berbuat dosa dalam penetaapan hukumnya”(Al-Kasysya>f tth:1 / 497). Dalam hal poligami maka sifat adil itu harus mencakup seluruh aspek, pembagian waktu, nafkah lahir, nafkah batin, tempat, pakaian, rasa cinta, keakraban dan seluruh keadaan (Al-Qurthubi> 1967:5 / 407). Adil yang seperti ini memang terlalu sulit diwujudkan, sampai Rasulullah Saw. sendiri mengeluh kesulitan untuk ini, maka dari itu beliau berdo’a sebagai berikut: 1059 عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقْسِمُ بَيْنَ نِسَائِهِ فَيَعْدِلُ وَيَقُولُ اللَّهُمَّ هَذِهِ قِسْمَتِي فِيمَا أَمْلِكُ فَلَا تَلُمْنِي فِيمَا تَمْلِكُ وَلَا أَمْلِكُ (رواه الترمذي والنسائ 3882) Artinya: “Dari ‘A>> no.1059, An-Nasa>’i> no.3882). Disebabkan karena beratnya syarat adil untuk melakukan poligami inilah maka penyusun tafsir Al-Mana>r (tth:4 / 349) cenderung melawan poligami atau anti poligami. Lebih-lebih jika dikaitkan dengan ayat berikut: وَلَنْ تَسْتَطِيعُوا أَنْ تَعْدِلُوا بَيْنَ النِّسَاءِ وَلَوْ حَرَصْتُمْ فَلَا تَمِيلُوا كُلَّ الْمَيْلِ فَتَذَرُوهَا كَالْمُعَلَّقَةِ وَإِنْ تُصْلِحُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا (النساء 129) Artinya: “Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri- isteri (mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”(S.4 An-Nisa> `129). Sikap di atas ini diperkuat dengan kenyataan bahwa praktik poligami itu sekarang lebih mudah dilihat faktor negatipnya dari ada nilai positipnya. Al-Mana>r mengemukakan bahwa suatu rumah tangga yang berpoligami pasti tersimpan dalam hati para isteri-isteri itu perasaan iri dan lebih-lebih benci bahkan bisa tumbuh permusuhan yang penuh dendam kesumat antar isteri-isteri tersebut yang satu terhadap yang lain. Dan akan sangat berbahaya sekali jika sentimen ini berkembang dari isteri-isteri tadi ke dalam hati anak masing-masing isteri. Dari mereka ini berkembang tarik menarik ke dalam kalangan yang lebih luas lagi, yaitu masyarakat dengan sifat-sifat negatip, seperi bromocorah, molimo, penipuan, kecurangan, pengkhianatan, pembunuhan dan sebagainya. Sistem perundang-undangan Indonesia mengatur masalah poligami ini di dalam Kompilasi Hukum Islam dalam passal 55 dan 82 jo. PP. No. 9 tahun 1975 Bab VIII, jo UU no. 1 tahun 1974 pasal 5, yang singkatnya menentukan bahwa poligami paling banyak 4 (empat) orang isteri, syaratnya harus adil, dilampiri ijin dari Pengadiln Agama , dengan alasan bahwa isteri tidak dapat memenuhi kewajibannya sebagai isteri, terdapat pada dirinya cacat atau dia mandul. Dan isteri memang mengijinkan, kemudian suami memang mampu mencukupi kebutuhan hidup para isteri dengan anak-anak mereka. 3. Hikmah dan rahasia Hukum Poligami Al-Quran sebagai sumber hukum Islam, bukannya mendorong atau memerintahkan umat Islam untuk melakukan poligami. Tetapi Al-Quran hanya membolehkan cara poligami itu sebagai jalan keluar untuk mengatasi masalah sosial. Bahkan sebenarnya hukum poligami ini merupakan suatu jalan yang bersifat darurat yang sangat terpaksa dibolehkan seperti terurai di atas. Thaba`>thaba`>i> dalam Al-Mi>za>n (1974:4 / 182) dalam menggali hikmah dan rahasia diperbolehkannya poligami, mencatat kesan-kesan sebagai berikut: ~ Sebenarnya kebutuhan untuk kawin antara laki-laki dengan perempuan itu secara alami adalah sama saja. Tetapi secara biologis periode datangnya desakan libido seksualis dan selera ingin kawin ini ternyata lebih cepat terjadi pada diri anak perempuan dari pada diri anak laki-laki. Menurut catatan penyusun tafsir Al-Mi>za>n itu, maka datangnya desakan keinginan untuk kawin itu kepada anak perempuan ialah usia sekitar 7 tahun, sedangkan pada diri anak laki-laki ialah pada umur 16 tahun. Perbedaan umur datangnya libido seksualis dan keinginan untuk kawin antara anak perempuan dengan anak laki-laki ini membawa dampak yang banyak, seperti jumlah yang lebih banyak jenis perempuan yang memerlukan jodoh dari pada kaum laki-laki. ~ Masa subur untuk menurunkan anak keturunan kaum laki-laki jauh lebih lama di atas masa subur kaum perempuan. Dapat dicatat di sini bahwa kaum Adam masa suburnya sampai umur 80 tahun, sedangkan masa subur kaum Hawa hanya sampai umur kurang lebih 40 tahun. Dampak yang timbul ialah bahwa kaum laki-laki memerlukan pasangan yang melayaninya untuk periode yang demikian lama tenggang waktu guna memenuhi kebutuhan nafsu seksual mereka, sehingga diperlukan pasangan alternatif kedua atau ketiga dan seterusnya. Suatu hal yang mungkin terjadi ialah bahwa kaum laki-laki lebih anyak menjadi korban dalam menjalankan tugas-tugas terutama dalam bidang pertahanan dan keamanan, baik dalam peperangan, penumpasan pembrontakan ataupun kekerasan lainnya. Akibat dari macam-macam peristiwa itu bisa ngrunyam kepada perbandingan jumlah kaum Adam jauh besar di atas jumlah kaum Hawa. Tafsir Al-Mana>r (tth:4 / 355) mencatat bahwa kaum laki-laki itu bersifat agressip, sedangkan kaum perempuan itu bersifat pasif. Ditambah lagi bahwa kaum laki-laki mempunyai kesempatan yang luas dalam kehidupan rumah tangga, sebaliknya kaum perempuan secara alami mengalami keadaan yang tidak mungkin menunaikan tugas kewajiban melayani hak kaum laki-laki sebagai suami, khususnya pada saat-saat isteri sedang mengalami datang bulan (menstruasi), hamil, melahirkan bayinya atau halangan tetap, mandul dan sebab-sebab lain. Murtadha al-Muthahhari> dalam kitabnya Huqu>qul Mar`ah fi>l Isla>m (1985:262) mencatat hasil penelitian dan pendapat spesialis Barat seperti Montesqui, Weil Durant, Bertrun Russel, Gustav le Bon, Smith ternyata sangat miirip dengan apa yang terurai diatas dan menambahkannya bahwa Agma Islam-lah yang berjasa besar mengangkat derajat kaum wanita , bukan agama Nasrani. Al-Muthahhari> menambahkannya lagi bahwa pelanggaran kesusilaan, pelecehan seksual, perzinaan, pergundian dan pelacuran semakin tidak dapat dibendung lagi jumlahnya bagaikan hitungan deret ukur berlipat-lipat. Pernyataan Al-Muthahhari> itu lebih ngeri lagi bila kita menyaksikan pemberitaan dalam mass media, bahwa penyakit AIDS suatu penyakit yang lebih banyak disebabkan karena hubungan seks bebas alias zina, yang belum diketemukan obatnya, bahkan Dr, Dadang Hawari menamakannya sebagai azab Allah untuk mengurangi jumlah manusia secara misterius. Perlu diketahui bahwa penyakit AIDS ini akan menggrogoti nyawa manusia secara pelan-pelan dari 5 tahun sampai 10 maka si penderita akan mati. Dan penyebaran terjangkitnya penderita baru persis sama dengan hitungan deret ukur, yaitu: 2×2=4; 4×4=16; 16×16=256; 256×256=65.536. Satu hal yang harus diperhatikan ialah bahwa pelacuran, seks bebas, gundik, wil, pelecehan seks dan semacam ini, yang ada di seluruh dunia yang jumlahnya tidak dapat dihitung ini benar-benar menjadi bukti batalnya teori ANTI-POLIGAMI sekaligus membuktikan kebenartan perlunya HUKUM POLIGAN‎MI. Perbuatan zina, pergundikan, hubungan seks bebas, WIL semua ini merupakan bukti bahwa yang bersangkutan memang tidak cukup monogami tidak cukup hanya SATU ISTERI. Bagaimanapun juga Allah adalah Maha Mengetahui secara mutlak apa saja yang diperlukan oleh manusia dalam hidupnya, khususnya soal-soal suami isteri, oleh karena itulah Allah menetapkan adanya Hukum Poligami atas umat manusia yang memenuhi syarat-syaratnya.. ——– —-(11)————— HARTA SUAMI ISTERI DAN KARYA JASA MASING-MASING I. S.4 An-Nisa>` 32 وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ لِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبُوا وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبْنَ وَاسْأَلُوا اللَّهَ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا( النساء32) II. Artinya: “Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian daripada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”(S.4 An-Nisa>` 32) III. Tafsir dan analisa A. Pengertian kata-kata وَلَاتَتَمَنَّوا = Janganlah kamu mengangan-angan (nikmat orang lain) فَضَّلَ الله = Allah memberi kelebihan نَصِيْبٌ = Bagian = اِكْتَسَبُوا Berusaha mencari sesuatu yang berguna untuk diri mereka (orang laki-laki) اِكْتَسَبْنَ = Berusaha mencari sesuatu yang berguna untuk diri mereka (orang perempuan).Usaha, karya, jasa yang kalian kerjakan Penyusun kitab tafsir Al-Mana>r (tth:5/60-61) menekankan arti kata-kata ini sebagai berikut: اِنَّ صِيْغَةَ الْاِكْتِسَابِ تَدُلُّ عَلَي الْمُبَالَغَةِ وَالتَّكَلُّفِ—فِيْ طَلَبِ المْاَلِ وَالْجَاهِ وَكُلِّ مَا بَتَفَاضَلُ فِيْهِ النَّاسُ بِاَعْمَالِهِمْ بشَرْطُ اِلْتِزَامِ الْحَقِّ Artinya: “Bentuk kata ini menunjukkan makna mubalaghah dan usaha keras. Maksudnya ialah bahwa lafal ini mempunyai arti sungguh=sungguh bekerja keras dengan mengerahkan tenaga lebih dari kebiasaannya., mencari tambahan harta, kedudukan dan apa saja yang mengunggulkan seseorang dari orang lain dengan bekerja sesuai dengan logika kebenaran( Dalam bahasa Jawa bisa di artikan dengan “Ngoyo“) Tim penyusun Mu’jam Alfa>zhil Qura>n al Kari>m (1970:kaf / 498) memberikan makna lafal “Iktasaba“ ini sebagai berikut: اِكْتَسَبَ الشَّئَ حَصَلَهُ بِشَئْ ٍمِن الْعَنَاءِ وَالْمَشَقَّةِ وَبَذْلِ الْجُهْدِ-يُقَالُ اِكْتَسَبَ اْلمَالَ -اِكْتَسَبَ الْعِلْمَ Artinya:“Mencari sesuatu dan mengahsilkannya dengan perhatian penuh melalui segala kesulitan serta pengerahan tenaga, misalnya bekerja keras mencari harta, bekerja keras mencari ilmu“ اٍسْاَلُوْا = Mintalah kamu, berdo`alah kamu memohon kepada Allah. B. Latar belakang turunnya ayat As-Suyu>thi> meriwayatkan bahwa Ummu Sala>mah mengucap iri kepada kaum pria, yaitu kaum pria bertugas maju perang, kaum wanita tidak, kaum pria mendapat warisan dua kali bagian kaum wanita, maka turunlah Al-Quran S.4 An-Nisa>` 32. Muja>hid mempeingatkan bahwa dalam pada itu turun juga S.33 Al-Ah}za>b 35, Turmudzi>>> no.2948, Ah}mad No/25511, Al-H}a>kim dan ‘Abdurrazza>q (Durrul Mantsu>r 1983:2/507)). Dalam halaman yang sama As-Suyu>thi> menukil riwayat bahwa para wanita tersebut bersedia maju perang dan menuntut pahala yang sama. Maka turunnya ayat tersebut menjawab bahwa mereka disuruh berdoa memohon anugerah Allah. Al-Qa>simi> dalam Mah}a>sinut Ta`wi>l (1957:5/1209) mencatat bahwa Al-H}a>kim meriwayatkan dalam Al-Mustadrak satu tambahan, yaitu dalam peristiwa itu turun Al-Quran S.3 A
  • n 195 yang isinya ialah Allah tidak melupakan amal seseorang siapapun juga tidak membeda-bedakan kaum pria dengan kaum wanita. Tafsir Ad Durrul Mantsu>r l983:2/507). Surat An-Nisa>`32 menyatakan bahwa masing-masing laki-laki maupun perempuan berhak atas hasil karya mereka dan surat Al-Ah}za>b 35 menyatakan bahwa kaum perempuan sepenuhnya sama haknya dengan kaum laki-laki dalam soal pahala dari Allah. C. Tema dan sari tilawah Difaham dari isi ayat dan latar belakang turunnya dapat diambil tema pokok dan kandungan ayat tersebut di atas sebagai berikut: l. Kita tidak boleh iri hati atas kelebihan yang ada di tangan orang lain 2.Setiap orang berhak menerima bagian sedikit atau banyak dari hasil jerih payah usahanya. 3. Kaum wanita dan kaum laki-laki sama-sama berhak atas hasil karya dan jasa mereka masing-masing. 4. Kita semua disuruh memohon kepada Allah tambahan anugerah-Nya 5. Allah sangat mengetahui segala-galanya. D. Masalah dan analisa Dari tema pokok dan kandungan ayat tersebut di atas timbul berbagai macam pertanyaan, namun yang lebih dahulu perlu digali jawabannya ialah masalah berikut: l. Apakah kaum wanita itu mempunyai hak untuk memiliki harta kekayaan? Kemudian apakah seorang isteri mempunyai hak untuk memiliki harta sendiri di samping harta suami? 2. Bolehkah seorang isteri bekerja mencari harta kekayaan atau kedudukan di luar rumah tangga? 3. Bagaimanakah kedudukan harta yang diperoleh dari usaha suami atau isteri dalam kehidupan perkawinan ? 4. Bagaimanakah kedudukan harta suami isteri selama perkawinan tersebut jika kemungkinan suatu ketika terjadi perpisahan? E. Tinjauan dan pemikiran Para ulama tafsir menyendirikan hanya satu ayat 32 An-Nisa>` saja dalam satu pembahasan tafsirnya tetapi penyusun tafsir Al-Mi>za>n (l974:4/335) menghimpun 4 ayat, yaitu ayat 32, 33, 34 dan 35 Surat An-Nisa>` ditafsirkannya dalam satu bahasan seakan-akan 4 buah ayat ini merupakan serangkaian satu unit yang tidak terpisahkan antara satu dari yang lain. Bila teori ini bisa diterima maka ayat 32 surat An-Nisa>` ini dapat diduga memang mempunyai kaitan yang sangat erat dengan ayat 33, 34 da 35 tersebut di atas khusunya ayat 34 dan 35, yaitu bahwa yang dimaksud dengan perempuan dan laki-laki dalam ayat 32 itu mencakup suami dan isteri dalam suatu perkawinan. Kemudian jika ayat 32 itu bisa ditafsirkan sebagai mencakup masalah suami isteri, maka usaha untuk menggali jawaban soal dalam masalah tersebut di atas kiranya sedikit terbuka, yaitu sebagai berikut: 1. Kaum perempuan dan isteri mempunyai hak untuk memiliki harta kekayaan Para ulama tafsir mengutip hadis-hadis riwayat Sababun Nuzu>l ayat-ayat dari surat 4 An-Nisa>` ayat 4, 7, 12, 19, 32 demikian juga Sababun Nuzu>l S.33 Al-Ah}za>b 35 yang mengandung aturan hukum berkaitan dengan hak kaum wanita atau hak-hak isteri, yang perlu kita perhatikan adalah sebagai berikut: a-Bahwa pada jaman Jahili wali dari seorang perempuan mengambil dan menguasai maskawin pengantin perempuan tersebut waktu kawinnya, maka turunlah Al-Quran S.4 An-Nisa>` 4 itu bahwa maskawin itu adalah hak yang menjadi milik pengantin perempuan. Hadis Riwayat Ibnu Jari>r, Ibnu Abi> H}a>tim, Ibnul Mundzir dari Abu> Sha>lih} (Lih. As-Suyu>thi>-Ad-Durr l983:2/431). b- Ketika Aus ibnu Tsa>bit meninggal dan meninggalkan seorang isteri bernama Ummu H}ujjah dengan tiga orang anak perempuan, tiba-tiba dua orang laki-laki anak paman si mayit (namanya: Suwaid dan ‘Arfajah) mengambil semua harta warisan Aus dan tidak memberi bagian sama sekali kepada isteri dan 3 orang anak perempuan tersebut juga tidak diberi bagian warisan, mengikuti Hukum Adat Jahiliyah. Setelah Ummu Kuh}h}ah mengadukan hal itu kepada Nabi Saw. maka turun Al-Quran S.4 An-Nisa>` 7 bahwa isteri dan anak perempuan juga mempunyai hak atas harta warisan dari keluarga dekatnya (Al-Wa>h}idi> l984:137). Berdasarkan nas Al-Quran S.4 An-Nisa>`4 dan 7 dengan riwayat latar belakang turunnya ayat itu menurut Hukum Islam maka kaum wanita itu mempunyai hak pemilikan atas harta. Yang menjadi pertanyaan selanjutnya ialah: Sejauh mana hak pemilikan atas harta oleh seorang wanita jika dia kawin? Wanita yang telah kawin menjadi seorang isteri dari suaminya, maka hak pemilikan atas harta tersebut tidak hilang dan tidak berubah kecuali karena sebab-sebab tertentu, misalnya pihak pengantin perempuan mengajukan perjanjian khusus dan diterima serta disetujui oleh calon suaminya yang tertulis dalam perjanjian perkawinan atau karena sebab lain yaitu sebab karena kebaikan hati si isteri dengan suka rela harta miliknya itu dia sediakan untuk dinikmati bersama berdua suami isteri sesuai dengan firman Allah dalam Al-Quran فَإِنْ طِبْنَ لَكُمْ عَنْ شَيْءٍ مِنْهُ نَفْسًا فَكُلُوهُ هَنِيئًا مَرِيئًا ألنساء 4) Artinya: “ Jika mereka (isteri-isteri) menyerahkan sebagian dari pada (harta milik)nya kepada kamu dengan senang hati maka makanlah dengan sedap dan enak” (S.4 An-Nisa>` 4). 2. Kemungkinan bagi isteri berusaha dan meniti karir Ar-Ra>ghib dalam Mufrada>t (tth:447) menjelaskan bahwa “Al-Kasbu” artinya ialah usaha manusia yang dinilai dapat memberi manfaat dan menghasilkan perolehan, harta atau kedudukan. Penyusun Al-Mana>r (tth:5/60) menafsirkan lafal atau kata-kata ini sebagai berikut: :الكسب اكتسب-اكتسبوا-اكتسبن (Al-Kasbu, Iktasaba, dan Iktasabu> serta Iktasabna) bahwa “Al-Kasbu” mempunyai arti lebih umum, sedangkan “Iktasaba, Iktasabu> , Iktasabna” mengandung pengertian usaha yang sungguh-sungguh dan lebih banyak mengerahkan tenaga guna mencari tambahan harta maupun kedudukan. Namun harus selalu berpegang teguh kepada kebenaran, persiapan, kerja sama dan berdasarkan Al-Quran dan Sunnah. Dari bunyi nash “Iktasabu dan Iktasabna” dalam S.4 An-Nisa>` 32 maka penyusun Al-Mana>r juga menegaskan bahwa Allah telah mensyariatkan untuk “BEKERJA dan BERUSAHA” ini kepada kaum pria maupun kaum wanita. Dan isteripun juga dibenarkan untuk bekerja dan berusaha (Termasukdi luar rumah). Di zaman Nabi Saw. banyak aktifitas-kegiatan yang dikerjakan bersama dan kerja sama antara kaum pria dengan kaum wanita diantaranya ialah dalam acara bai’at yang diabadikan dalam Al-Quran S,60 Al-Mumtah}anah 12 bahwa kaum wanita ikut mengucapkan bai’at untuk taat melakukan apa yang baik dan tidak akan berbuat maksiat. Bahkan sering Rasulullah Saw. mengajak isteri beliau untuk maju ke medan perang, misalnya dalam perang Bani> Musthaliq tahun 6 H dan ‘A, l967:12/198). Isteri dibenarkan melakukan aktifitas-kegiatan di luar rumah urusan rumah tangga dengan catatan bahwa usaha tersebut tidak mengurangi pelaksanaan kewajibannya sebagai isteri dan harus minta ijin suaminya berdasarkan hukum Allah (Al-Quran S.4 An-Nisa> 34). Demikian juga dengan bekerjanya isteri mencari anugerah fadlilah dari Allah sama sekali tidak berarti suami berkurang tugas kewajiban dan tanggung jawabnya terhadap nafkah dan kebutuhan hidup isteri. Tercatat dalam tarikh bahwa Khadijah isteri Rasulullah Saw. adalah pengusaha besar dan tidak berhenti berdagang sesudah menjadi isteri Rasululla Saw. Dan banyak nama-nama wanita yang mempunyai kemampuan yang hebat dan kesohor ke seluruh dunia, bukan hanya menjadi pengusaha atau pedagang besar, tetapi bahkan menjadi kepala pemerintahan atau ahli taktik dan strategi politik negara. Fathi>mah Mernisi menulis buku Ratu-ratu Islam, setebal 311 halaman (terjemah Rahmani Astuti), yang perlu kita perhatikan di antara ratu-ratu Islam dalam tulisan Fatimah ini ialah: (l) Sultanah Ra>dhiyah(634H=1235M) anak seorang bekas budak, naik tahta kesultanan Delhi, namanya dicetak pada mata uang, dia memerintah sebagai penguasa mutlak selama 4 tahun, siap sebagai panglima, mahir menunggang kuda lengkap dengan senjata busur dan panah untuk perang, namun dekat dengan rakyat di samping itu dia memiliki kecakapan tinggi sebagai administrator pemerintahan dia diangkat dalam jabatan itu oleh ayahnya sendiri Sultan Iltutmisy. Suaminya ialah Jama>luddi>n Yaqu>t. (2) Syajaratu d-Dur (648H=1250M) isteri dari Ma>likush Sha>lih}Najmuddi>n Ayyu>b seorang sultan perempuan yang mempunyai kelebihan yang mennonjol dalam kecantikan dan kecerdasan yang mempunyai hobi membaca dan menulis, menjabat kepala pemerintahan yang ke-8 Dinasti Ayyu>biyah (Mamlu>k) di Mesir yang wilayahnya meluas dari Mesir sampai ke India, sempat mengalahkan tentara Salib dan berhasil menawan Louis XI dari Prancis namanya diabadikan dengan dicetak di atas mata uang. (3) Asma>` (480H=1087M), kepala pemerintahan Dinasti Sulaih}y di San’a>` Yaman, akhir abad 11 Masehi, suaminya ialah ‘Ali> ibnu Muh}ammad Ash-Shulaih}i>, namanya disebut dalam setiap khutbah, mendapat gelar :”Al-H}urrah” artnya tidak tunduk kepada segala kekuasaan luar manapun, orang membandingkan dan mengkonotasikan Asma dengan Kepala Negara Saba` yaitu Ratu Bilqis yang kemudian ditaklukkan oleh Nabi Sulaiman yang disebut-sebut dalam Al-Quran S.27 An-Naml 22. (4) ‘Arwah, kepala pemerintahan Dinasti Shulaih}i> di Shan’a>`, Yaman dari tahun 485H/1091M sampai 532H/1138M, mempunyai gelar As-Sayyidat al-H}urrah artinya Ratu yang tidak tunduk kepada kekuasaan superior luar manapun juga, namanya dibaca di setiap khutbah di semua masjid, dia juga seorang administrator, pemimpin spiritual (Syi’ah), besar perhatiannya kepada seni dan budaya serta menggiatkan semangat kemajuan ilmu pengetahuan, sangat dicintai rakyatnya, wafat dalam keadaan wajar pada usia lanjut. (5) Zainab an-Nafzawiyyah, seorang kepala pemerintahan berbagi kekuasaan dengan suaminya(Yu>suf ibnu Tasyfi>n) menjadi penguasa Dinasti Mura>bithu>n (500H=ll07M) dengan wilayah Afrika Utara sampai Sepanyol. Zainab mendapat gelar “Ma>likah” artinya ratu. Ada beberapa wanita politikus, berjasa besar pada levelnya masing-masing dalam taktik strategi militer dan pemerintahan dengan gelar Al-H}urrah, Sitt al-Mulki, Al-Ma>likah dan gelar-gelart lainnya, yaitu: (6) ‘A>isyah al-H}urrah suaminya bernama ‘Ali> Abu>l H}asan dari Dinasti Banul Ahmar, penguasa terakhir Granada (896H=1492M) dengan istana Alhambra. (7) Sayyidah al-H}urrah penguasa Tatwan-Maroko, asli dari Andalusia, memerintah di Tatwan selama 30 tahun dari 916H=1510M sampai 949H=1542M belakangan kawin dengan raja Ah}mad al-Watta>si>. (8) Sitt al-Mulk salah seorang ratu dari Dinasti Fathimiyah-Mesir menjabat kekuasaan pemerintahan tahun 411H=l020M sampai 415H=1024M, atas nama Azh-Zha>hir putra mahkota yang masih kanak-kanak.. (9) Gha>liyah al-Wahabiyah dengan gelar Ami>rah, memiliki keahlian ilmu kemiliteran, sebagai Ami>rah (panglima perempuan Wahabi>) dari Tha>if yang berhasil mempertahanan wilayah Makkah dari musuh asing abad l8 yang ingin mengambil alih kekuasaan di sana. (l0) Turka>n Kha>tun isteri Ma>liksyah sultan Saljuk asal Turki yang menjabat dari 465H=1072M sampai 485H=l092M, Turkan Khatun memegang kekuasaan pemerintahan setelah wafat suaminya, sedang putra mahkota masih kecil usia 4 tahun (ll) Ta>jul ‘An Sya>h Ratu Imperium Aceh (Indonesia) memerintah tahun 1641-1675M (12) Nu>r ‘A>lam Naqiyyatuddi>n Sya>h memrintah Iimperium Aceh tahun1675-1678M. (13) ‘Ina>yah Sya>h Zakiyyatuddi>n Sya>h memrintah Imperium Aceh tahun 1678-1688M (14) Kama>lat Sya>h memerintah Imperium Aceh tahun l688-1699M Secara nyata keempat ratu-ratu Aceh ini telah memonopoli kekuasaan politik negara. (15) Khaiyzura>n isteri dari Khali>fah Al-Mahdi telah berkuasa , memerintah dan mengatur Imperium Daulat Abbasiyah tiga periode, masa Al-Mahdi, Al-Ha>di> dan Ha>ru>n Ar-Rasyi>d mulai 158H=775 sampai169H=785M, sehingga menjadi kabur apakah dia ini selir (isteri asal dari budak) ataukah dia itu menjadi kepala negara? Para wanita-wanita yang telah mengukir sejarah gemilang bangsanya yaitu kaum Hawa secara nyata telah berkuasa, memerintah dan mengatur taktik strategi politik pemerintahan negaranya masing-masing, namun semuanya tidak mendapat restu legalitas sebagai kepala negara yang sah dari Khalifah Umat Islam yang secara tradisional berabad-abad lamanya dipegang teguh oleh kekhalifahan Abbasiyah di Bagdad, kemudian oleh kekhalifahan Turki ‘Utsma>ni di Istanbul. Dan pada tahun l924 Turki sendiri berubah menjadi Republik sehingga tidak ada lagi sistem khalifah ataupun restu-restuan itu. Menurut Al-Quran S.4 An-Nisa>` 34 dan hadis-hadis Nabi Saw.diantaranya hadis-hadis dalam Sunan Nasa< no.3179 dan Sunan Turmudzi>>> no.1079 dan 4045 (Tafsir MPA.no.150 Maret l999), secara singkat tugas suami ialah mempertahankan kehidupan perkawinan, membela kebenaran dan menyelesaikan masalah-masalah yang berat. Sedang tugas isteri ialah mengurus rumah tangga, memelihara dan mengasuh serta membesarkan anak keturunan untuk menciptakan anak bangsa penyambung sejarah dan riwayat hidup keluarga dalam rangka menatap masa depan bangsa. 3. Kedudukan harta dalam perkawinan Sebelum acara ini masuk ke dalam pembahasan harta dalam perkawinan, perlu diperhatikan kembali nash Al-Quran S.4 An-Nisa>` 34 bahwa Allah sendiri yang menunjuk atau mengangkat suamilah yang menjadi kepala keluarga . Sebagaimana dimaklumi bahwa bagaimanapun juga unit manusia dari himpunan yang paling kecil lebih-lebih yang paling besar harus ada pucuk pimpinannya, pucuk atau puncak itu tidak mungkin lebih dari satu, jadi pimpinan tertinggi itu hanya satu. Suami sebagai kepala dan penanggung jawab penuh keluarga sedang isteri adalah sebagai ratu rumah tangga. Ash-Sha>bu>ni> dalam Rawa>i’ul Baya>n (tth:l/467) mencatat bahwa: Mengapa suami atau orang laki-laki itu menjadi kepala keluarga? Sebabnya karena orang laki-laki itu pada dasarnya lebih banyak menggunakan rasio akalnya, mempunyai keteguhan hati pantang mundur, mempunyai kekuatan jasmani yang tangguh. Oleh karena itu Allah memilih orang laki-lakilah yang sah menjadi nabi, imam shalat, panglima perang, tukang azan, wali nikah dan ikatan nasab anak keturunan. Kita memang dilarang menaruh iri-hati kepada nikmat yang ada di tangan orang lain. Tetapi perlu kita renungkan apa yang ditulis oleh penyusun tafsir Al-Mana>r (tth:5/59) dalam masalah iri hati ini sebagai berikut: Allah Ta’ala telah memberikan anugerah kelebihan kepada sebagian orang diatas orang lain dengan kategori di bawah ini, yaitu: a) Sebagian orang laki-laki mempunyai kelebihan di atas orang laki-laki yang lain. b) Sebagian orang perempuan mempunyai kelebihan di atas orang perempuan yang lain. c) Kaum pria mempunyai kelebihan mengalahkan kaum wanita. d) Kaum wanita mempunyai keistimewaan yang tidak dimiliki oleh kaum pria. e) Sebagian kaum pria mempunyai kelebihan melebihi sebagian kaum wanita. f) Sebagian kaum wanita mempunyai kelebihan mengalahkan sebagian kaum pria. Tetapi macam-macam kelebihan dari masing-masing mereka itupun harus direnungkan lagi dari sudut pandang berikut: (1) Ada suatu kelebihan yang asli semacam sudah menjadi takdir Allah Ta’ala, sehingga memang tidak mungkin diraih dengan kekuatan oleh makhluk manusia. Bahkan orang yang memiliki kelebihan ini tidak perlu dipuji demikian pula orang yang tidak mempunyai kelebihan ini juga tidak harus diolok-olok. Misalnya jenis laki-laki dibanding perempuan, kemahiran dalam ilmu eksak dibanding ahli seni-sastra, kulit hitam dibanding kulit putih dan sebagainya. (2) Ada suatu kelebihan yang berada di bawah ikhtiar dan usaha makhluk manusia, yaitu semua kecakapan, ketrampilan, keahlian atau disiplin ilmu yang ilmiah. Dalam bidang ini Al-Mana>r menyatakan bahwa Allah Ta’ala tidak rela jika orang Islam menjadi malas, putus asa atau lemah semangat untuk meraih kelebihan-kelebihan bidang ini. Berbeda sedikit dari penulis Al-Mana>r, maka Ibnu Katsi>r (l966:2/270) menerangkan bahwa iri hati itu ada dua macam, yaitu iri hati yang dibolehkan dan iri hati yang tidak dibolehkan oleh Allah sesuai dengan hadis Nabi Saw. berikut: 6691 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَحَاسُدَ إِلَّا فِي اثْنَتَيْنِ رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ الْقُرْآنَ فَهُوَ يَتْلُوهُ آنَاءَ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ يَقُولُ لَوْ أُوتِيتُ مِثْلَ مَا أُوتِيَ هَذَا لَفَعَلْتُ كَمَا يَفْعَلُ وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالًا يُنْفِقُهُ فِي حَقِّهِ فَيَقُولُ لَوْ أُوتِيتُ مِثْلَ مَا أُوتِيَ لَفَعَلْتُ كَمَا يَفْعَلُ (رواه البخاري واحمد 9874-ابن كثير 1966 ج2ص270)* Artinya:“Dari Abu> Hurairah dia berkata bahwa Rasulullah Saw. bersabda: “Tidak ada iri hati (yang dibolehkan) kecuali hanya dalam dua macam saja, yaitu: l) Seseorang yang mendapat Al-Quran dari Allah, dia baca Al-Quran itu tengah malam maupun di siang bolong. Lalu orang (boleh iri) berkata: “Alangkah senangku jika seandainya aku bisa mempunyai semangat seperti dia, pasti aku akan mengerjakan seperti dia itu. 2) Seseorang mendapat anugerah harta dari Allah lalu dia infaqkan menurut yang semestinya. Maka orang (boleh iri) berkata: “Alangkah senangku jika seandainya aku mendapat anugerah harta seperti dia pasti aku akan infaqkannya seperti orang tersebut”(HR. Bukha>ri> No.6691, Ah}mad No.9824, Ibnu Katsi>r, Tafsir l966:2/270). . Jelas terurai dalam masalah no.1 dan no.2 di atas bahwa Allah telah memberikan hak kepada kaum wanita dan isteri untuk menguasai suatu harta atau kekayaan demikian juga isteri boleh bekerja dan berusaha mencari harta atau kedudukan .Namun yang menjadi pertanyaan ialah: a) Bagaimanakah cara mengatur hak atas harta di dalam suatu rumah tangga? b) Bagaimanakah mengatur hak milik isteri dan bagaimana hak milik suami? c) Kemudian sampai di mana hak-hak bersama suami isteri dalam suatu perkawinan? Agar supaya masing-masing hak di atas tidak saling bertabrakan maka para ulama mengemukakan teori bahwa untuk mengatur hak-hak tersebut di atas diatur dalam program yang disebut dengan Perjanjian Perkawinan. Di antara kitab fiqh yang membahas masalah perjanjian perkawinan tersebut ialah Al-Fiqhul Isla>mi> susunan Az-Zuh}aili> (l989:7/414-424) bahwa menurut H}anafi>, Ma>liki dan Sya>fi’i> sebelum perkawinan calon suami dan isteri dibolehkan membuat perjanjian perkawinan yang di dalamnya dibenarkan bahwa suami menyerahkan hak cerai itu kepada isteri jika suami tidak menepati isi perjanjian itu. Tetapi keputusan perceraian tersebut harus diajukan dan diputuskan oleh pengadilan. Perlu diperhatikan pula bahwa seluruh perjanjian atau perdamaian itu tidak boleh bertentangan dengan syariat Islam. Untuk hal ini Allah berfirman dalam Al-Quran sebagai berikut:. وَإِنِ امْرَأَةٌ خَافَتْ مِنْ بَعْلِهَا نُشُوزًا أَوْ إِعْرَاضًا فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا أَنْ يُصْلِحَا بَيْنَهُمَا صُلْحًا وَالصُّلْحُ خَيْرٌ وَأُحْضِرَتِ الْأَنْفُسُ الشُّحَّ وَإِنْ تُحْسِنُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا(النساء 128) Artinya:“Dan jika seorang wanita khawatir akan Nusyu>z atau sikap tidak acuh dari suaminya, maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya, dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka) walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir, Dan jika kamu bergaul dengan isterimu secara baik dan memelihara dirimu (dari Nusyu>z dan sikap tak acuh), maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”(S.4 An-Nisa>` 128). Al-Qurthubi> dalam tafsirnya (l967:5/405) menyatakan bahwa perjanjian antara suami isteri berdasarkan S.4 An-Nisa>` 128 ini cukup luas mencakup tawar menawar berkaitan dengan hak masing-masing suami dan isteri. Untuk itu Rasulu0llah Saw. telah memperjelas dan membuat pembatasan dalam tawar menawar tersebut yaitu sebagaimana diterangkan dalam hadis beliau berikut: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الصُّلْحُ جَائِزٌ بَيْنَ الْمُسْلِمِينَ إِلَّا صُلْحًا حَرَّمَ حَلَالًا أَوْ أَحَلَّ حَرَامًا وَالْمُسْلِمُونَ عَلَى شُرُوطِهِمْ إِلَّا شَرْطًا حَرَّمَ حَلَالًا أَوْ أَحَلَّ حَرَامًا( رواه الترمذىو قَالَ هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ) * Artinya:“Sungguh Rasulullah Saw. bersabda: “Perdamaian (perjanjian) itu di-perbolehkan diantara kaum muslimin kecuali perjanjian yang mengharamkan apa-apa yang halal atau menghalalkan apa-apa yang haram. Dan kaum muslimin itu wajib menepati syarat-syarat (perjanjiannya) kecuali syarat-syarat yang mengharamkan apa-apa yang halal atau menghalalkan apa-apa yang haram”(HR.Turmudzi>>> No.1272 dan Al-H}a>kim, Tafsir Ad-Durr l983:Juz2 h. 712). Para ulama Indonesia telah menyusun himpunan aturan hukum Islam dan melalui instruksi Prersiden no.l tahun l99l tgl.10-1-l99l maka himpunan aturan hukum ini ditetapkan menjadi pedoman hukum hakim-hakim Pengadilan dalam membuat keputusan hukum, yaitu yang disebut dengan Kompilasi Hukum Islam (KHI) yang berisi hukum perkawinan, hukum waris dan hukum wakaf. Dan KHI ini merupakan representatif sari dari kitab-kitab fiqh yang sangat baku hasil pemahaman para ulama Sunni dengan seluruh madzhab-madzhabnya. Dan hukum Perjanjian Perkawinan diatur dalam Bab VII pasal 45 sampai 52 KHI dan pasal-pasal itu menentukan bahwa perjanjian perkawinan bisa berbentuk Taklik talak atau perjanjian yang menyangkut harta perkawinan, sehingga jika perjanjian ini tidak ditepati oleh suami, maka isteri bisa mengajukan gugat cerai ke Pengadilan Agama. Dalam perjanjian perkawinan itu, segala sesuatunya dapat diatur mencakup berbagai macam masalah, yaitu: 1)Harta bawaan. 2) Pemisahan harta isteri dari harta suami. 3) Harta bersama. 4) Masalah-masalah yang dianggap penting untuk dimasukkan dalam perjanjian perkawinan. Pasal 48 KHI menegaskan bahwa perjanjian perkawinan itu tidak mengurangi kewajiban suami menanggung kebutuhan rumah tangga (isteri dan anak-anak). Hukum Perjanjian Perkawinan dalam Kitab Undang-undang Hukum Perdata diatur dalam Bab VI-VII pasal 119-186 ditentukan dengan sangat rinci dan mendetail sekali. 4. Kedudukan harta perkawinan saat terjadi perpisahan Perpisahan suatu perkawinan bisa terjadi karena perpisahan hidup dan bisa juga karena perpisahan sebab meninggal salah satu dari keduanya. Jika terjadi perpisahan karena pisah hidup yaitu pisah karena perceraian maka kedudukan harta dalam perkawinan harus ditempatkan pada kedudukan yang sesuai dengan perjanjian perkawinan yang telah mereka buat. Jika tidak ada perjanjian perkawinan maka harta perkawinan dianggap sebagai satu kesatuan sehingga dapat disebut sebagai harta gono gini dan tidak ada pemisahan harta kemudian jika terjadi perpisahan (perceraian) maka pembagian harta perkawinan model seperti ini dibagi menurut aturan Hukum Adat yang berlaku di wilayah di mana mereka berdomisili. Hukum Adat menurut istilah Ushul-fiqh ialah :”Al’Urfu” dan yang disebut Al-’Urfu ialah suatu hukum yang dinilai baik oleh suatu masyarakat manusia yang tidak bertentangan dengan syariat Tuhan. Imam Ah}mad meriwayatkan hadis sebagai berikut: 3416 فَمَا رَأَى الْمُسْلِمُونَ حَسَنًا فَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ حَسَنٌ وَمَا رَأَوْا سَيِّئًا فَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ سَيِّئٌ (رواه احمد)* Artinya:“Apa yang dipandang baik oleh kaum muslimin sebagai baik, maka menurut Allah juga dinilai baik, apa yang dinilai jelek oleh kaum muslimin maka menurut Allah juga jelek” (HR. Ah}mad no3416)(Al-Qardha>wi>, ‘Awa>milus Sa’ati wal-Muru>nah, l985:33). Para ulama membagi sumber hukum Islam ada yang mengatakan empat, ada yang mengatakan tiga, ada yang mengatakan dua bahkan ada yang mengatakan hanya satu. Jika kita memperhatikan bahwa sumber hukum Islam itu tiga, lalu manakah tiga itu? Jawabannya ialah: 1) Al-Quran. 2) Hadis. 3) Ijtihad oleh akal. Dan Hukum Adat merupakan salah satu rincian dari sumber yang ketiga, yaitu Ijtihad. Dalilnya ialah hadis Mu’a>dz ibnu Jabal. 3119 أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا أَرَادَ أَنْ يَبْعَثَ مُعَاذًا إِلَى الْيَمَنِ قَالَ كَيْفَ تَقْضِي إِذَا عَرَضَ لَكَ قَضَاءٌ قَالَ أَقْضِي بِكِتَابِ اللَّهِ قَالَ فَإِنْ لَمْ تَجِدْ فِي كِتَابِ اللَّهِ قَالَ فَبِسُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فَإِنْ لَمْ تَجِدْ فِي سُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَا فِي كِتَابِ اللَّهِ قَالَ أَجْتَهِدُ رَأْيِي وَلَا آلُو فَضَرَبَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَدْرَهُ وَقَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَفَّقَ رَسُولَ رَسُولِ اللَّهِ لِمَا يُرْضِي رَسُولَ اللَّهِ(رواه ابوداود) Artinya:”Ketika Rasulullah Saw. mengutus Mu’a>dz ibnu Jabal ke Yaman, beliau bertanya: “Bagaimana jika disodorkan kepadamu suatu perkara?” Mu’a>dz menjawab: “Aku memutuskan perkara dengan Al-Quran”. Rasul Saw. bertanya: “Bagaimana jika di dalam Al-Quran tidak kau dapatkan?” Mu’a>dz menjawab: “Aku putuskan dengan Sunnah Rasulullah”. Beliau bertanya: “Jika tidak kau temukan (putusannya) dalam Sunnah dan tidak terdapat putusannya dalam Al-Quran?” Mu’a>dz menjawab: “Aku ijtihad dengan akalku dan tidak aku tunda-tunda”. Maka Rasul Saw. menepuk dadanya sambil bersabda: “Segala puji bagi Allah, yang telah memberi taufik kepada utusan Rasulullah yang memuaskan hati Rasulullah”(HR.Abu> Da>wu>d No,3119, Turmudzi>>>>>>>>>>>>>>> No.1249, Ah}mad no.21049) Jika tidak ada ketentuan lain, maka harta suami isteri yang menjadi harta bersama, bilamana terjadi perpisahan antara keduanya baik pisah hidup ataupun pisah mati, maka harta bersama itu dibagi antara mereka persis seperti yang ditetapkan dalam Al-Quran S.4 An-Nisa>`32, yaitu: “Bagi orang laki-laki adalah bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita adalah bagian yang mereka usahakan” Inilah ayat Al-Quran yang menjadi pokok pembahasan sekarang ini. Perbandingan pembagian hak ini yaitu sesuai dengan besar kecilnya jasa masing-masing suami atau isteri dalam kehidupan rumah tangga selama perkawinan itu.. Dalam Hukum Adat di Jawa, harta bersama yang diperoleh suami isteri selama perkawinan disebut dengan harta Gono-gini. Dalam hal ini jika terjadi perpisahan maka harta gono-gini ini dibagi dua dengan perbandingan 1:1 (Putusan Mahkamah Agung tg.25-2-l959 no.387/K/Sip/l958). Menurut penelitian Prof.Moh.Koesnoe di Aceh ialah bahwa isteri itu walaupun hanya mengurusi rumah tangga mereka ini dianggap mempunyai andil atau jasa yang besar dalam proses pengumpulan harta bersama (gono-gini). Oleh karena itulah jika terjadi perpisahan maka harta bersama ini dibagi dua menurut besar kecilnya jasa tersebut. Dan untuk daerah-daerah di Aceh, perbandingan itu tidak seragam, sebagian daerah harta itu dibagi dua (l:l)tetapi di suatu tempat yang lain dibagi dua dengan perbandingan dua banding satu (2:l) untuk suami dua kali bagian isteri. ——————–(12)——————— PEMBINAAN IKATAN PERKAI\WINAN YANG IDEAL I. S.4 An-Nisa>` 19 يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا يَحِلُّ لَكُمْ أَنْ تَرِثُوا النِّسَاءَ كَرْهًا وَلَا تَعْضُلُوهُنَّ لِتَذْهَبُوا بِبَعْضِ مَا ءَاتَيْتُمُوهُنَّ إِلَّا أَنْ يَأْتِينَ بِفَاحِشَةٍ مُبَيِّنَةٍ وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَ يْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا (النساء 19 ) II. Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata. Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak”(S.4 An-Nisa>` 19). III. Tafsir dan analisa A. Pengertian kata-kata: لاَيَحِلُّ = Tidak halal. Asalnya dari H}alla-Yah}illu-H}ala>lan artinya ialah melepaskan, misalnya melepaskan buhul ikatan, melepaskan bundelan tali لاَتَعْضُلُوْهُنَّ = Janganlah kalian menghalang-halangi perempuan-perempuan itu, maksudnya suami tidak boleh mempersulit permintaan cerai isteri dengan maksud untuk menyiksa isteri, sehingga isteri betul-betul sangat menderita lahir batin, فَاحِشَةً = Sesuatu yang terlalu jelek berupa perbuatan atau perkataan. Disebabkan karena terlalu jeleknya itu maka lafal ini sering diartikan dengan arti zina. عَاشِرُوْهُنَّ = Kalian bergaullah dengan perempuan-perempuan itu. Asal dari lafal ‘Asyratun artinya sepuluh, lalu dibentuk menjadi kata kerja: ‘Asyara artinya ialah dia menjadi pelengkap supaya jumlahnya menjadi sepulu>h. Jumlah sepuluh ini kemudian bergeser arti menjadi anggota jamaah atau anggota keluarga. Lalu dibentuk menjadi kata perintah Bina` musyarakah ‘A artinya ialah saling berbuat aktif menjadi anggota keluarga dengan tingkah laku yang positif. Diistilahkan dalam bahasa Jawa dengan hakikat makna yang sangat tepat yaitu: menjadi garwo, artinya sigarane nyowo atau belahan jiwa, berpadu sangat mesra. اَلْمَعْرُوْفُ = Yang baik, asal katanya dari ’Arafa artinya mengenal. Isim Maf’u>l-nya ialah Ma’ru>f>un artinya sesuatu yang dikenal atau yang diakui. Lafal Ma’ru>f>f artinya apa saja yang diakui baik oleh orang banyak.Menurut istilah syara’ lafal Ma’ru>f> itu artinya ialah sesuatu yang kebaikannya diakui oleh akal yang sehat, oleh orang banyak dan oleh syari’at Islam. Lawan katanya ialah “Munkar”, lafal ini mempunyai arti sesuatu yang diingkari, yaitu bahwa orang banyak tidak mengakui dia itu baik. Dengan kata lain munkar artinya ialah sesuatu yang jelek dan buruk. عَسَى = Sangat berharap. Jika dari sisi Allah lafal ‘Asa> ini maknanya ialah agar supaya seseorang itu menjadi tamak penuh harapan. B. Latar belakang turunnya ayat Pada waktu Abu Qais ibnul Aslat meninggal, maka anaknya yang bernama Qais ibnu Abil Qais mengambil dan mengawini Kubaisyah ibu tirinya, yaitu salah seorang isteri atau janda almarhum bapaknya sendiri. Ibu tiri atau isteri bapak yang meninggal diyakini sebagai harta warisan dari almarhum ayahnya. Tetapi Qais ini telah menterlantarkan Kubaisyah dan tidak memberinya apa-apa yang menjadi haknya. Lalu Kubaisyah mengadu kepada Rasul>llah Saw. Kepercayaan bahwa ibu tiri merupakan harta warisan bagi anak almarhum ayah seperti ini telah menjadi hukum adat dalam masyarakat Arab di jaman Jahiliyah. Tidak lama kemudian turunlah Al-Quran S.4 An-Nisa>>`19 bahwa adat tersebut dilarang oleh Allah (HR.Ibnu Jari>r, Ad-Durrul Mantsu>r l983:2/462, Al-Wa>h}idi> l984:138). Dalam riwayat Abu> Da>wu>d disebutkan bahwa jika seorang laki-laki meninggal, maka isteri atau janda almarhum dijadikan sebagai warisan atau ditahan oleh ahli waris almarhum sampai dia menebus dirinya dengan tebusan yang mahal. C. Tema pokok dan sari tilawah Tema pokok S.4 An-Nisa>`19 dengan memperhatikan latar belakang turunnya yang terurai diatas dapat difaham sebagai berikut: 1. Wanita itu adalah manusia yang terhormat. 2. Ahli waris haram mengambil janda atau isteri seseorang yang meninggal dunia dan menganggap dia sebagai harta warisan. 3. Anak haram mengawini ibu tiri yaitu janda almarhum ayahnya. 4. Haram menzalimi atau menyiksa isteri agar menderita sengsara kecuali karena kesalahan yang sangat berat. 5. Suami wajib berbuat santun, berpadu dengan baik dan sebaliknya isteri kepada suami juga wajib berbuat hal yang sama. Apapun yang tampak dan bagaimana juga keadaan dari apa yang kita senangi atau kita benci, sesungguhnya tersimpan hikmah rahasia yang sangat luhur. D. Masalah dan analisa Memperhatikan tema dan isi kandungan ayat tersebut di atas, timbul beberapa persoalan yang memerlukan pemecahan atau jawaban, dan yang lebih mendesak dalam rubrik ini ialah pertanyaan-pertanyaan berikut: l.Bagaimanakah sebenarnya proses perkembangan budaya dan pemikiran terhadap kedudukan kaum wanita dalam kehidupan ini? 2.Alasan yang bagaimanakah yang membolehkan suami mengusir isteri dari tempat tinggalnya? 3.Bagaimanakah makna “Wa’Ahunna bil Ma’ru>f>” artinya santun dalam kebersamaan hidup berumah tangga itu? 4.Bagaimanakah ikhtiar kita untuk mengekalkan kemesraan hidup perkawinan yang idial itu? E. Tinjauan dan pemikiran Masalah yang timbul dari tema pokok tercantum di atas cukup berat, sehingga usaha untuk menelusuri mencari jawaban atau jawabannya tidaklah mudah, namun demikian dalam halaman yang sangat terbatas ini akan diusahakan dengan maksimal kemampuan. Perkembangan budaya pemikiran tentang kedudukan kaum wanita a. Masyarakat non Arab Murtadha> al Muthahhari> dalam bukunya Huqu>qul mar`ati fi>l Isla>m (l985:115) mencatat masalah hak-hak wanita di Barat sebagai berikut: Pelopor dan ahli pikir Eropa yang merintis perjuangan persamaan hak dalam rangka hak asasi manusia tercatat nama-nama Jean Jack Rousseau dan Montesqui. Perjuangan ini bangkit dalam masyarakat Inggris sekitar tahun l688M. Kemudian berhasil lebih maju lagi di Amerika bersamaan dengan perang kemerdekaan melawan Inggris. Maka pada tahun 1776 di Philadelfia oleh konggres gerakan mereka dideklarasikan bahwa setiap pribadi manusia mempunyai hak yang sama sejak lahir. Yang pertama kali mengakui persamaan hak kaum wanita sama dengan kaum pria ialah Inggris abad 20, Amerika th.1920 memberikan hak yang sama kaum wanita dengan pria dalam bidang politik, Prancis sesudah itu dan PBB tahun 1948 pasca Perang Dunia II. b. Masyarakat Arab Jahiliyah Jazirah Arab bagian terbesarnya bewujud padang pasir yang sangat panas dan sangat dingin luar biasa di malam hari pada waktu musim dingin, air benar-benar sangat langka, sukar sekali ditemukan. Dari tantangan alam yang sangat kejam itulah terbentuk watak dan sikap masyarakat Arab menjadi pemberani, hidup sangat sederhana, perebutan lahan hidup dan ladang penggembalaan ternak sangat mudah menimbulkan peperangan antar suku. Kehidupan yang seperti ini menciptakan adat -adat kebiasaan yang salah satunya ialah suka berperang dan suku bangsa yang kalah dijadikan budak belian, hartanya dirampas. Kemudian timbul pandangan bahwa suatu suku sangat memerlukan pahlawan-pahlawan pembela dan pengayom suku dan ini tidak lain harus orang laki-laki yang kuat dan tangkas untuk menjadi tentara untuk perang membela sukunya. Akhirnya timbul pandangan yang menganggap rendah kepada anak perempuan dan mengunggulkan anak laki-laki. Suatu keluarga akan sangat malu jika perempuan mereka melahirkan anak perempuan, bayi perempuan ditengarahi sebagai suatu alamat kesengsaraan, sebab perempuan akan membuat musuh lebih berani dan lebih bersemangat untuk memperebutkan kemenangan dalam peperangan. Dari pandangan inilah kemudian timbul adat kebiasaan yang dinamai ’Wa`dul bana>t” artinya mengubur hidup-hidup bayi perempuan. Adat mengubur hidup-hidup bayi ini lalu berkembang menjadi mengubur bayi baik perempuan maupun laki-laki, sebab takut mati kelaparan. Adat kebiasaan mengubur hidup-hidup bayi yang baru lahir ini mendapat peringatan keras dari Allah dalam Al-Quran S.81 At-Takwi>>>r 8-9, S.17 Al-Isra>` `31,S.6 Al-An’a>m 51, S.16An-Nah}l 58 dan S.22 Al-H}ajji 11. Dalam kehidupan keluarga seorang laki-laki sebagai kepala keluarga mempunyai kekuasaan yang sangat besar, demikian besarnya sampai jika perlu suami dapat menyerahkan isteri dan anak kepada musuh, sebagai sandra atau sebagai jaminan politik tertentu, sebagaimana dicatat oleh “Umar Farru>kh dalam Ta>ri>khul Ja>hiliyyah (l984:155) apa yang terjadi di dalam peperangan Da>h}is wal Ghabra>` suatu peperangan yang terlama di jaman Jahiliyyah, yaitu selama 40 tahun. Inilah salah satu dari adat kebiasaan Jahiliyah yang memandang sangat rendah kepada kaum wanita. Adat kebiasaan yang sangat merendahkan martabat kaum wanita ini telah ditentang oleh Allah, dilarang keras untuk dilestarikan berlakunya. Dan hukum ini berlaku universal terhadap siapa saja, kapanpun juga dan dimana pula mereka berada. Al-Quran menegaskan bahwa kaum wanita mempunyai hak yang benar-benar sama dengan kaum pria khususnya dalam hal pahala, ditentukan dalam Al-Quran S.33 Al-Ah}za>b 35 dikaitkan dengan latar belakang turunnya ayat itu yang dicatat oleh Muqabbal al-Wa>di’i> dalam Ash-Shah}i>h}ul Musnad fi> Asba>bin Nuzu>l (1405:120). Sedangkan dalam masalah keduniaan kaum wanita mempunyai hak dan kewajiban sesuai dengan kodrat watak dan sifat khusus bagi kaum wanita ditetapkan Allah dalamAl-Quran S.2 Al-Baqarah 228 dan S.4 An-Nisa>` 32 dikaitkan dengan riwayat latar belakang turunnya ayat ini yang dicatat oleh Al-Wa>h}idi> (1984:143). 2. Perbuatan isteri yang sangat tercela Seorang isteri yang dicerai bagi talak yang Raj’i atau talak Ba`in, maka dia mempunyai hak untuk mendapat tempat tinggal dan nafkah sampai habis iddahnya. Akan tetapi isteri yang berbuat suatu perbuatan yang sangat merendahkan derajat maupun kehormatan dapat diusir dari tempat tinggalnya. Larangan Allah mengusir isteri disebutkan dalam S.65 Ath-Thala>q 1. Namun ayat inipun juga menetapkan bahwa isteri yang melakukan perbuatan yang tidak senonoh itu dapat diusir dari tempat tinggalnya, yang disebut dalam ayat ini dengan lafal “Fa>h}isyatin mubayyinatin” . Para ulama tafsir seperti Az-Zuh}aili>, Ibnu Katsi>r dan Al-Qurthubi> menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan lafal “Fa>h}isyatin mubayyinatin” ini ialah beberapa perbuatan yang sangat mengganggu kehidupan rumah tangga, yaitu: l) Zina 2) Ucapan atau perbuatan yang sangat menyakitkan suami dan keluarga. 3) Berbuat maksiat atau durhaka kepada Allah. 4). Mogok atau Nusyu>z. Jika isteri berbuat seperti tersebut di atas ini maka suami dibolehkan mengusir isteri dari tempat dia tinggal. Apa sebab demikian? Dalam tuntunan syari’at Islam suami itu menjadi kepala keluarga, sehingga suami berhak untuk mengambil tindakan yang demikian. Al-Qa>simi> dalam tafsirnya Mah}a>sinut Ta`wi>l (l957:5/1157) mengaitkan tindakan suami yang demikian harus didasarkan atas prinsip demi menjunjung tinggi hukum Allah seperti apa yang ditentukanAllah dalam Al-Quran S.2 Al-Baqarah 229.Al-Qa>simi> dalam halaman yang lain (Juz 16 halaman 5830) juga mengaitkannya lagi dengan ketentuan Allah dalam S.65 Ath-Thala>q l, bahwa barang siapa melanggar hukum Allah dia adalah orang yang menyiksa diri (zalim). 3. Membina kemesraan dalam perkawinan Perkawinan itu menurut hukum Islam adalah suatu ikatan yang sangat seriusdisebut dalam Al-Quran S.4 An-Nisa>` 21 dengan istilah “Mi>tsa>qan ghali>zhan”, yaitu suatu perjanjian yang sangat berat bertujuan untuk mentaati perintah Allah dan Rasulullah Saw. bahkan perkawinan itu pada hakikatnya adalah suatu perbuatan ibadah sebagaimana disebut-sebut dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI) pasal 2. Allah berfirman dalam Al-Quran sbb: وَكَيْفَ تَأْخُذُونَهُ وَقَدْ أَفْضَى بَعْضُكُمْ إِلَى بَعْضٍ وَأَخَذْنَ مِنْكُمْ مِيثَاقًا غَلِيظًا (النساء 21) Artinya “Bagaimana kamu akan mengambilnya, padahal sebagian kamu telah bergaul (bercampur) dengan yang lain sebagai suami-isteri. Dan mereka (isteri-isterimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat”(S.4 An-Nisa>` 21). RasU>lu>llah Saw. bersabda dalam salah satu hadis sbb: 4675 وَاللَّهِ إِنِّي لَأَخْشَاكُمْ لِلَّهِ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ لَكِنِّي أَصُومُ وَأُفْطِرُ وَأُصَلِّي وَأَرْقُدُ وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي(رواه البخارىومسلم) * Artinya: “Demi Allah, sungguh aku ini adalah orang yang paling takut kepada Allah dan yang paling takwa di antara kalian, tetapi aku ini ya puasa dan juga kadang tidak berpuasa, aku ya shalat dan juga suka tidur, akupun juga mengawini wanita. Maka barang siapa tidak suka kepada sunnahku dia itu bukan umatku”(HR.Bukha>ri> no.4675). ِ 1836 عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ النِّكَاحُ مِنْ سُنَّتِي فَمَنْ لَمْ يَعْمَلْ بِسُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي وَتَزَوَّجُوا فَإِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمُ الْأُمَمَ وَمَنْ كَانَ ذَا طَوْلٍ فَلْيَنْكِحْ وَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَعَلَيْهِ بِالصِّيَامِ فَإِنَّ الصَّوْمَ لَهُ وِجَاءٌ (رواه ابودود)* Artinya: “Dari’A Da>wu>d 1836). Jadi itba’ Nabi Saw. itu termasuk ibadah, sebab mengikuti dan mentaati sunnah Nabi Saw. itu sama dengan mentaati Allah. Dan Allah sendiri yang menyatakan bahwa mentaati Nabi Saw.itu berarti mentaati Allah yaitu sbb: قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ(31) Artinya: “Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(S.3. A>li ‘Imra>n 31). Kemudian pasal 3 Kompilasi Hukum Islam (KHI) menetapkan bahwa tujuan perkawinan itu ialah berusaha untuk mewujudkan kehidupan rumah tangga yang Saki>nah, mawadah dan rahmah. Artinya ialah bahwa perkawinan itu harus dibina, diarahkan kepada tujuannya. Tujuan perkawinan ialah mewujudkan suatu keluarga umat manusia melalui rumah tangga yang aman damai, sejahtera bahagia, penuh kasih mesra yang sebenar-benarnya. Untuk mencapai ini semua tidak mungkin dilakukan hanya oleh satu pihak saja tidak mungkin diwujudkan oleh suami saja atau isteri doang dengan kata lain tidak bisa suami atau isteri bertepuk sebelah tangan tetapi harus diikhtiarkan dan diusahakan sungguh-sungguh, baik oleh suami maupun oleh isteri bersama-sama.. Penyusun tafsir Al-Mana>r (tth:4/457) mengaitkan nash “Wa’a>syiru>hunna” ini dengan S.30 Ar-Ru>m 21 dan menafsirkannya bahwa inisiatif kemauan maupun gerak kegiatan itu harus dilakukan oleh kedua belah pihak. Sebab lafal “Ahunna” itu Bina>`-nya Musya>rakah, maksudnya ialah bahwa suami harus aktif membina kemesraan itu kepada isteri, sebaliknya isteripun juga harus menyambung kebaikan suami itu dengan penuh kemesraan pula. Secara yuridis suami itu mempunyai hak yang harus ditunaikan oleh isteri demikian pula isteri itu mempunyai hak yang harus dipenuhi oleh suami. Hak dan kewajiban antara suami isteri ini ditetapkan oleh Allah dalam Al-Quran S.4 An-Nisa>` 34 juga dalam s.2 Al-Baqarah 228 sebagai berikut: “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang ta`at kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). (S.4 An-Niss>` 34). “Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma`ru>f. Akan tetapi para suami mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (S.2 Al-Baqarah228). Dalam hal ini Rasulullah Saw. telah memberikan contoh dan bersabda sbb: 1967 عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي (رواه ابن ماجه) Artinya: “ Dari Ibnu Abbas dari Nabi Saw. beliau bersabda: ”Orang yang paling baik diantara kamu ialah orang yang berlaku baik kepada isterinya dan akulah orang yang terbaik diantara kamu sekalian dalam berlaku baik kepada isteri”(HR Ibnu Ma>jah no.1967). Dalam salah satu hadis Mauqu>f diriwayatkan bahwa Ibnu ‘Umar juga menyatakan bahwa dia berhias untuk isterinya sebagaiamana isterinya berhias untuk dia. Semua itu tidak bisa lepas dari situasi dan kondisi lingkungan yang menurut istilah dalam S.4 An-Ni Nisa>`19 di atas disebut dengan “Al-Ma’ru>f>f” . Bagaimanakah pengertian Al-Ma’ru>f>f itu? “Al-Ma’ru>f>” merupakan isim Maf’u>l dari lafal ‘Arafa-Ya’rifu-’Urfan yang artinya mengenal atau mengakui dan isim maf’u>l dari lafal itu berbunyi Ma’ru>f>un artinya yang diakui atau yang dikenal. Maksudnya ialah sesuatu yang diakui baik. Menurut pengertian syara’ Ma’ru>f> itu ialah sesuatu yang diakui dan dinilai baik oleh akal sehat, oleh orang banyak dan oleh syari’at Islam. Dari kata-kata ini timbul istilah dalam Ushul Fiqh istilah “Al’Urfu”. Dan Al-’Urfu juga disebut dengan Al-’Ad, No.3418,Lihat juga Al-Asyba>h wan Nazha>`ir – As-Suyu>thi> tth:63). Mohammad Abu>> Zahrah dalam kitabnya Ushu>lul Fiqh (l958:217) mengatakan bahwa suatu adat istiadat kaum muslimin bisa dinilai sebagai suatu ijmak bahkan ijmak yang terkuat, sebab kebiasaan tersebut telah disepakati bukan hanya oleh para mujtahid akan tetapi juga dinilai baik oleh seluruh kaum msulimin. Barangkali kalau dicari contohnya di Indonesia ialah seperti adat kebiasaan Halal bihalal dalam masyarakat kita itu. Dalam kaitannya dengan judul di atas maka adat kebiasaan kaum muslimin yang mendukung usaha pembinaan kemesraan hidup dalam perkawinan akan diakui benar selama tidak bertentangan dengan syari’at Islam. Dalam adat istiadat masyarakat Jawa di waktu yang lalu, paduan kemesraan hidup berumah tangga antara suami dengan isteri cenderung banyak merujuk kepada ajaran agama Islam. Diantara panji-panji kehidupan berumah tangga itu, di sana terdapat istilah “garwo”. Kata-kata “Garwo” yang artinya belahan nyawa adalah suatu perwujudan atau realisasi dari butir-butir ajaran Al-Quran “Mawaddah wa rah}mah” artinya cinta kasih yang sangat mesra yang termaktub dalam S.30 Ar-Ru>m 21 yang terkenal itu. Dalam pada itu hormat sang isteri kepada suami sedikitpun tidak berkurang. Adat seperti ini masih banyak kita jumpai di mana-mana sebagaimana tergambar dalam drama-drama dalam seni pewayangan atau seni kethoprak, maka sang isteri dalam Hukum Adat Jawa pasti selalu hormat kepada suami dan ketika berbicara kepada suami bagaimanapun situasi ceriteranya pasti isteri menggunakan bahasa kromo, paling tidak diselingi banyak-banyak dengan istilah-istilah kromo, seperti: panjenengan (anda), saree (tidur), dhahar (makan), siram (mandi), tindak (pergi) dan istilah-istilah dalam bahasa kromo yang lain. Bahasa kromo ialah bahasa pergaulan dalam masyarakat Jawa untuk kalangan orang-orang terhormat. Sedangkan suami menggunakan bahasa “ngoko” kepada isteri, tetapi untuk beberapa istilah tetap menggunakan istilah-istilah kromo seperti halnya isteri kepada suami. Bahasa Ngoko adalah suatu bahasa yang berlaku dalam kalangan masyarakat awam. Adat kesusilaan seperti ini sangat tepat merujuk kepada tata hidup dalam rangka pembinaan kemesraan dalam berumah tangga “Mu’asyarah bil Ma’ru>f>” dalam Al-Quran S.4 An-Nisa>`34. 4. Pembinaan ikatan tali kemesraan perkawinan yang ideal Allah berfirman dalam Al-Quran S.65 Ath-Thala>q 1 bahwa seseorang tidak mengetahui adanya kemungkinan barangkali Allah akan memberikan rahmat anugerah di waktu yang akan datang setelah orang itu mengalami pengalaman yang sangat pahit dalam kehidupan perkawinannya . Buku atau ajaran yang paling luhur di dunia ini tidak ada yang mampu mengalahkan Kitab Suci Al-Quran. Oleh karena itulah kita wajib selalu merujuk dan mengembalikan masalah apa saja kepada Al-Quran. Dalam hal yang kita masalahkan sekarang ini ialah bagaimana usaha kita mempertahankan kokohnya paduan kemesraan hidup dalam perkawinan kita,lebih-lebih di saat-saat tertimpa musibah ujian dari Allah. Untuk ini perlu kita merenungkan kisah Nabi Ayub ‘Alaihis salam ketika menghadapi ujian dari Allah dan bagaimana pula menghadapi godaan syaitan melalui isteri beliau. Kisah ini dicatat oleh Muh}ammad Ah}mad Jad al-Maula>> dalam kitabnya Qishashul Qura>n (l988:164) bersumber dari Al-Quran S. 38 Sha>d 41-44, 21 Al-Anbiya>` 83-84 dan S.6 Al-An’a>m 84. Dikisahkan oleh Al-Maula>>> bahwa Nabi Ayub telah mendapat kekayaan sebagai anugerah Allah, berupa ribuan ekor kambing dan onta, ratusan sapi dan keledai, hamba sahaya laki-laki dan perempuan, tanah yang sangat luas lagi subur. Kemudian Iblis berusaha keras untuk menggoda Nabi Ayub dengan segala cara, dengan menyamar diri sebagai manusia maupun dengan cara-cara yang lain sekaligus menjadi batu ujian kepada Nabi Ayub,yaitu ketika Nabi Ayub jatuh sakit yang sangat berat dan harta kekayaan beliau makin lama makin berkurang bahkan akhirnya habis. Handai tolan atau sanak kerabatnya mulai menjauhi beliau bahkan sakitnya Nabi Ayub bertambah lama makin serius. Derita ini berlangsung tidak kurang dari 7 tahun sebagian ulama mengatakan ada 18 tahun lamanya.. Iblis terus menerus menggoda Nabi Ayub dan setiap kali menggoda beliau maka Iblis selalu gagal, Nabi Ayub tetap tidak tergoyahkan kesabarannya menghadapi ujian Allah ini. Setelah terjadi kegagalan demi kegagalan, kemudian Iblis menggoda Nabi Ayub melalui isteri beliau. Maka Iblis menawarkan adanya obat yang sangat mujarrab tetapi dengan syarat harus percaya bahwa obat inilah yang dapat menyembuhkan sakitnya itu bukan dari Allah. Maka Nabi Ayub bagaimanapun juga imannya tidak dapat diubah, bahkan Nabi Ayub menyatakan kelak jika dia sudah sembuh akan memukul isterinya itu 100 kali pukulan. Al-Qurthubi> dalam tafsirnya (l967:15/212) mencatat beberapa pertimbangan mengapa Nabi Ayub mengancam isterinya dengan pukulan 100 kali, diantaranya yaitu bahwa isterinya telah membantu Iblis. Derita Nabi Ayub betul-betul sudah terlalu berat dan setelah mencapai puncaknya Nabi Ayub mengaduh dan menjerit hatinya kepada Allah, dicatat Al-Quran sbb: وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَى رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ(83)فَاسْتَجَبْنَا لَهُ فَكَشَفْنَا مَا بِهِ مِنْ ضُرٍّ وَءَاتَيْنَاهُ أَهْلَهُ وَمِثْلَهُمْ مَعَهُمْ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا وَذِكْرَى لِلْعَابِدِينَ (الانبياء84) Artinya:“Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya: “(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang” Maka Kamipun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah” (S.21.Al-Anbiya>` 83-84)(Lih. S.38 Sha>d 41) Kemudian Allah memerintahkan kepada N.Ayub supaya menyentakkan kakinya ke tanah maka segera tanah itu akan mengeluarkan air, selanjutnya hendaklah Ayub meminum air tersebut dan mandi sekali dengan air itu pasti dia sembuh dari sakitnya. Kemudian setelah perintah Allah tersebut dilaksanakan tiba-tiba Nabi Ayub menjadi sembuh betul-betul. Namun Allah tetap menuntut agar Nabi Ayub menepati kaul-ucapannya untuk memukul isteri yang dicurigainya sebagai isteri yang telah dikuasai oleh Iblis. Allah brfirman dalam Al-Quran yang artinya sbb: “Dan ambillah dengan tanganmu seikat (rumput), maka pukullah dengan itu dan janganlah kamu melanggar sumpah. Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat ta`at (kepada Tuhannya)”(S.38 Sha>d 44). Sesuai dengan firman Allah ini maka N.Ayub jadi memukul isterinya walaupun hanya dengan seikat rumput 100 lidi dan diduga pukulannya tidak keras malah mungkin tidak sejumlah seratus kali. Kisah Nabi Ayub memberikan pelajaran kepada kita bahwa suami harus tetap bersabar walaupun derita sudah di luar ukuran sampai diri tidak mampu menanggungnya lagi tidak boleh ada niat untuk bercerai karena isteri telah tergiur oleh rayuan syaitan. Pelajaran untuk isteri ialah bahwa isteri harus tetap setia kepada suami walaupun suami sudah jatuh ke dalam derita nestapa yang terlalu berat dan sudah tidak ada apa-apa lagi yang diharapkan sama sekali dari suaminya itu. Bagaimanakah jika seandainya pengalaman yang terlalu pahit itu menimpa kita??? Jika seandainya derita ini menimpa diri kita maka disamping ikhtiar dan berusaha keras menanggulanginya, maka kita harus berdo’a setulus-tulusnya dengan do’a Thalut ketika adu kekuatan melawan raja Jalut: رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ (البقرة 250ا) Artinya: “Tatkala mereka nampak oleh Jalut dan tentaranya, merekapun (Thalut dan tentaranya) berdo`a: “Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir”(S.2 Al-Baqarah 125). —————(13)————– GEJALA-GEJALA KERETAKAN RUMAH TANGGA S.4 An-Nisa>` 128 وَإِنِ امْرَأَةٌ خَافَتْ مِنْ بَعْلِهَا نُشُوزًا أَوْ إِعْرَاضًا فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا أَنْ يُصْلِحَا بَيْنَهُمَا صُلْحًا وَالصُّلْحُ خَيْرٌ وَأُحْضِرَتِ الْأَنْفُسُ الشُّحَّ وَإِنْ تُحْسِنُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا(النساء 128) II. Artinya: “Dan jika seorang wanita khawatir akan Nusyu>z atau sikap tidak acuh dari suaminya, maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya, dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka) walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir, Dan jika kamu bergaul dengan isterimu secara baik dan memelihara dirimu (dari Nusyu>z dan sikap tak acuh), maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”(S.4 An-Nisa>` 128). Tafsir dan analisa A.Pengertian kata-kata خَافَتْ = Kawatir, maksudnya ialah bahwa isteri melihat gejala-gejala yang mengawatirkan. نُشُوْزًا = Keengganan, arti aslinya ialah bangun dari duduk maksudnya ialah bahwa suami tampak tidak acuh kepada isteri, enggan dan berpaling, maksudnya yaitu bahwa suami menampakkan tanda-tanda yang dapat diduga bermaksud akan menceraikan isteri. يُصْلِحَا = dua orang berdamai, maksudnya suami isteri berunding tawar-menawar tentang hak dan kewajiban masing-masing terhadap lainnya اَلشُّحُّ = Sangat kikir, tidak mau mengalah, tidak mau berkorban B, Latar belakang turunnya ayat Salah seorang isteri Rasulullah Saw. bernama Saudah, dia kawatir akan diceraikan oleh Rasulullah Saw. Maka Saudah memohon kepada Rasul Saw. agar supaya beliau tidak menceraikan dirinya dan sebagai imbalannya ialah bahwa hari-hari yang menjadi haknya dia serahkan kepada ‘A>isyah. Tawaran Saudah ini diterima oleh Rasulllah Saw. Kemudian turun Al-Quran S.4 An-Nisa>` 128 bahwa suami isteri boleh berdamai untuk mencegah akan terjadinya perceraian antar keduanya (HR.Turmudzi>>> no.2966) C. Tema dan sari tilawah Dispekulasikan dari pemahaman terhadap ayat di atas dengan latar belakang turunnya seperti terurai itu dapat diambil tema pokok yang menjadi acuan masalah, yaitu sebagai berikut: 1 Suatu perkawinan dalam kehidupan rumah tangganya tidak selalu bisa menikmati ketenangan dan kedamaian secara terus menerus. 2. Di sana akan selalu ada kemungkinan timbulnya pergeseran situasi dan kondisi yang tiba-tiba terjadi yang benar-benar sangat mempengaruhi kedamaian hidup rumah tangga. 3. Suatu ketika mungkin pada diri suami terlihat gejala-gejala yang dapat dinilai sebagai benih retaknya kehidupan rumah tangga perkawinan dia. 4. Jika di sana timbul gejala-gejala yang dapat diduga bahwa si suami berubah pandangan dan ingin menceraikan isterinya, maka kedua belah pihak suami isteri wajib segera mengadakan perdamaian untuk kerukunan perkawinannya. 5. Perdamaian itu sarat dan penuh hikmah rahasia. 6. Suatu perdamaian memang sangat sulit dilaksanakan, sebab tiap jiwa manusia mempunyai bawaan yang sama yaitu kikir dan sangat keberatan untuk mengikhlaskan suatu pengorbanan. 7. Allah itu Maha Mengetahui apa saja yang kita perbuat. D. Masalah dan analisa Dari tema pokok dan sari tilawah Al-Quran S.4 An-Nisa>` 128 di atas, maka timbul beberapa pertanyaan dan untuk kali ini pertanyaan yang menuntut segera mendapat pemecahan dan jawabannya ialah sebagai berikut: 1. Bagaimanakah jalan pemecahan yang akan ditempuh jika yang dikawatirkan akan menumbuhkan benih perpecahan rumah tangga itu timbul dari pihak isteri? 2. Masalah apa saja yang boleh dirundingkan dalam usaha perdamaian tersebut? 3. Bagaimanakah caranya usaha yang dispekulasikan dapat mengurangi kerasnya watak kikir dalam diri seseorang dalam kaitannya dengan ikatan perkawinan? E. Tinjauan dan pemikiran Perkawinan itu merupakan salah satu kebutuhan hidup manusia secara universal, maka langkah dan tindakan untuk memenuhi kebutuhan ini memang bersifat sangat pribadi sehingga pencapaiannya tergantung kepada manusianya sendiri. Allah melalui Al-Quran dan Rasul utusan-Nya telah memberikan tuntunan dan aturan hukum terhadap pelaksanaan usaha pemenuhan kebutuhan hidup ini, termasuk kebutuhan hidup berumah tangga dalam perkawinan.. Disebabkan karena selera untuk memenuhi kebutuhan hidup itu bersifat sangat pribadi, maka antara suami dengan isteri tidak mungkin seluruh keinginan atau seleranya persis sama terhadap segala masalah selama dalam hidup perkawinan. Jelas suatu ketika dalam hidupnya sangat mungkin terjadi perbedaan keinginan atau selera dalam menghadapi suatu masalah. Perbedaan ini mungkin kecil-kecil saja, tetapi pasti kadang-kadang sangat besar bahkan terlalu berat. Jika antara suami isteri itu terjadi perbedaan pendapat dan gejala-gejalanya sudah mulai terasa, bagaimanakah cara mengatasi dan bagaimana pula jalan keluarnya? 1. Nusyu>z atau mokong Nusyu>z dalam kaitannya dengan perkawinan mengandung makna adanya kebencian suami kepada isteri atau sebaliknya kebencian isteri kepada suami, sehingga ketaatan kepada hukum perkawinan berkurang atau sama sekali tidak ditaatinya. Ada dua kemungkinan timbulnya Nusyu>z, yaitu: a. Nusyu>z dari suami terhadap isteri. Al-Quran S.4 An-Nisa>` 128 tersebut di atas mengatur jalan penyelesaian atas Nusyu>z yang datang dari suami terhadap isteri, caranya yaitu musyawarah tawar menawar terhadap hak dan kewajiban antara suami dengan isteri. Dalam hal ini Al-Quran memandang bahwa yang mempunyai hak mencerai itu suami maka soalnya ialah apakah si isteri bersedia dicerai atau tidak mau dicerai.Jika si isteri bersedia dicerai maka jalan penyelesaiannya ialah cerai, habis perkara. Jika si isteri tidak mau dicerai maka materi yang menjadi bahan tawar menawar itu tinggallah seberapa besar hak yang diserahkan oleh isteri kepada suami, sebab suami sudah menawarkan kemungkinan putusnya perkawinan alias cerai, jika tidak bersedia dicerai maka si isteri harus berkorban merelakan atau mengurangi haknya untuk diserahkan kepada suaminya.Hasil dari musyawarah itulah yang menjadi pegangan dalam menyelesaikan Nusyu>z yang datangnya dari suami. Contoh penyelesaian musyawarah damai antara suami dan isteri dapat dilihat dari beberapa riwayat, sebagaimana yang tercatat dalam latar belakang turunnya ayat itu, yang Indonesianya sebagai berikut: 2966عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ خَشِيَتْ سَوْدَةُ أَنْ يُطَلِّقَهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ لَا تُطَلِّقْنِي وَأَمْسِكْنِي وَاجْعَلْ يَوْمِي لِعَائِشَةَ فَفَعَلَ فَنَزَلَتْ ( فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا أَنْ يُصْلِحَا بَيْنَهُمَا صُلْحًا وَالصُّلْحُ خَيْرٌ ) (رواه الترمذي) (1.)“Dari Ibnu ‘Abba>s dia berkata: “Saudah merasa sedih kawatir akan diceraikan oleh Nabi Saw. Maka Saudah lalu memohon kepada beliau.: “ Janganlah tuan mencerai aku dan tahanlah aku tetap menjadi isteri tuan (dan sebagai imbalannya) jadikanlah hari-hari bagianku untuk ‘A>> No.2966). (2) Dari ‘A ` 28 ini berkenaan dengan seorang laki-laki dengan seorang isteri yang sudah cukup telah memberikan banyak anak. Lalu suaminya ingin mencari isteri baru dan menceraikan isteri tersebut. Maka isteri tersebut menyatakan tidak mau dicerai sebagai gantinya dirinya rela melepaskan hari-hari gilirannya”(HR.H}a>kim,As-Suyu>thi>, dalamLuba>b, tth.81). As-Suyu>thi> dalam Luba>bun Nuqu>l mencatat 4 buah riwayat yang isinya senada yaitu bahwa isteri bersedia merelakan hari-hari gilirannya kepada isteri barunya asal dia tidak diceraikan. b.. Nusyu>z dari pihak isteri terhadap suami Jika Nusyu>z itu dilakukan oleh isteri terhadap suami maka penyeleiannya telah diatur oleh Allah dalam Al-Quran S.4 An-Nisa>`34, yaitu sebagai berikut: وَاللَّاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا(النساء 34) Artinya: “ Wanita-wanita yang kamu khawatirkan Nusyu>z- nya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka menta`atimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar”(S.4 An-Nisa>` 34). Jika seorang isteri melakukan Nusyu>z (tidak taat, melengos, ngambeg,purik,mokong), maka jalan penyelesaiannya ada tiga tahap, yaitu: 1) Penasehatan, yaitu supaya isteri diberi pengertian dan disadarkan sampai dia kembali kepada aturan yang benar dari Allah. Penasehatan ini dilakukan, di saat timbul gejala-gejala yang dikawatirkan akan terjadi keretakan ikatan perkawinan itu. 2) Jika seandainya usaha penyadaran itu sudah dilakukan dengan semestinya tetapi tidak berhasil menyadarkan si isteri maka tahap kedua ialah dilakukan pisah ranjang, pisah tidur. 3) Jika seandainya dengan cara pisah tidur masih tetap tidak dapat berhasil menyadarkan isteri dia tetap tidak dapat ditahan lagi Nusyu>z-nya maka usaha terakhir ialah dengan menimpakan hukuman fisik, yaitu dipukul, tetapi pukulan yang tidak menyakitkan. Rasulullah Saw. bersabda: 3012 أَلَا وَاسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا فَإِنَّمَا هُنَّ عَوَانٍ عِنْدَكُمْ لَيْسَ تَمْلِكُونَ مِنْهُنَّ شَيْئًا غَيْرَ ذَلِكَ إِلَّا أَنْ يَأْتِينَ بِفَاحِشَةٍ مُبَيِّنَةٍ فَإِنْ فَعَلْنَ فَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ ضَرْبًا غَيْرَ مُبَرِّحٍ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا أَلَا إِنَّ لَكُمْ عَلَى نِسَائِكُمْ حَقًّا وَلِنِسَائِكُمْ عَلَيْكُمْ حَقًّا فَأَمَّا حَقُّكُمْ عَلَى نِسَائِكُمْ فَلَا يُوطِئْنَ فُرُشَكُمْ مَنْ تَكْرَهُونَ وَلَا يَأْذَنَّ فِي بُيُوتِكُمْ لِمَنْ تَكْرَهُونَ أَلَا وَإِنَّ حَقَّهُنَّ عَلَيْكُمْ أَنْ تُحْسِنُوا إِلَيْهِنَّ فِي كِسْوَتِهِنَّ وَطَعَامِهِنَّ (رواه الترمذى)* Artinya : “Perhatikanlah , berikan nasehat kepada isteri nasehat yang baik, mereka itu sangat membantu kalian apa yang kamu tidak memiliki sedikitpun juga dari mereka di luar itu, kecuali jika perempuan-perempuan itu melakukan perbuatan serong terang-terangan. Jika seandaianya mereka itu melakukan perbuatan serong demikian maka harus dipisah ranjang dan pukullah mereka namun pukulan yang tidak menyakitkan. Jika mereka sudah taat kepada kalian maka kalian tidak berhak mencari-cari jalan untuk menzalimi mereka. Kalian memang mempunyai hak yang harus ditunaikan oleh isteri-isteri itu demikian pula isteri-isteri itupun meiliki hak yang harus kalian tepati . Adapun hak kalian yang harus mereka jaga ialah bahwa mereka tidak boleh memasukkan orang yang kalian benci ke tempat tidur kalian dan sungguh benar-benar janganlah isteri-isteri itu mengijikan masuk ke rumah kalian laki-laki lain yang tidak kalian senangi. Sedangkan hak isteri-isteri atas kalian ialah bahwa kalian harus melayani mereka sebaik-baiknya pakaian dan pangan mereka“ (HR. Turmudzi>>> no.3012 atau 1083, Ibnu Ma>jah no. 1841). Dari ketentuan diatas timbul tanda tanya: Mengapa cara penyelesaian atas Nusyu>z yang berasal dari suami berbeda dengan penyelesaian Nusyu>z yang timbul dari isteri? Metode dan cara penyelesaian terhadap kasus antara Nusyu>z yang diperbuat oleh suami melalui S.4 An-Nisa>` 128, yaitu dengan musyawarah damai dan tawar menawar, berbeda dibandingkan dengan cara mengatasi Nusyu>z yang berasal dari isteri lewat S.4 An-Nisa>` 34 yaitu melalui penasehatan, pisah ranjang dan hukuman fisik, maka dalam masalah ini faktor yang harus diperhatikan betul-betul ialah adanya perbedaan kondisi dan jiwa masing-masing suami atau isteri. Az-Az-Zamakhsyari> dalam Al-Kasysya>f (tth:1/253) demikian juga Ash-Sha>bu>ni> dalam Rawa>i’ul Baya>n (tth:1/467) mencatat adanya watak atau jiwa serta kondisi fisik kaum perempuan itu sangat berbeda dengan kaum laki-laki. Sehingga suatu tugas yang mestinya dipikul oleh kaum wanita yang memiliki watak, sifat dan kondisi khusus tidak mungkin bisa digantikan oleh kaum laki-laki yang memiliki watak, sifat dan kondisi yang sangat berbeda itu, misalnya tugas untuk hamil, meneteki bayi dan sebagainya. Itulah sebabnya penyelesaian masalah Nusyu>z oleh orang laki-laki tidak sama dengan penyelesaian Nusyu>z oleh kaum perempuan. 2.Islah atau perdamaian antara pihak suami dengan pihak isteri Ada 2 faktor yang sangat mempengaruhi proses berhasilnya musyawarah damai, yaitu: a) Di dunia ini tidak mungkin ada dua orang yang mempunyai persamaan dalam seluruh selera dan keinginannya. Jelas setiap hidung pasti mempunyai selera dan keinginan yang tidak persis sama dengan selera dan keinginan orang lain. b) Tidak mungkin ada seorangpun manusia bisa hidup sendirian betul-betul di luar campur tangan atau bantuan orang lain sama sekali. Dalam dongeng diceriterakan bahwa Tarzan memang hidup sendirian, tetapi Tarzan hidup di tengah hutan itupun dibantu banyak-banyak oleh kera-kera pengganti orang tuanya atau manusia yang lain. Suatu acara yang tidak dapat dikerjakan oleh hanya seorang diri, tetapi harus dikerjakan oleh dua orang atau lebih maka pelaksanaan acara itu tidak mungkin dapat terlaksana kecuali jika orang yang bertugas itu mendapat bantuan orang lain. Orang lain yang bersedia membantu itu sudah tentu harus diminta kesediaannya untuk bermusyawarah dengan kata lain harus dicari kesepakatan damai, sehingga orang lain itu setuju dan sepekat untuk melaksanakan acara tersebut. Khusus program acara antara suami isteri dalam perkawinannya tidak mungkin bisa diselesaikan oleh suami sendiri atau oleh isteri sendirian, misalnya bagaimana proses asal usul lahirnya anak sampai mendewasakannya menjadi orang yang mandiri. Jalan keluarnya tidak lain kecuali masing-masing suami isteri harus melakukan islah atau perdamaian, yaitu tawar menawar atas hak dan kewajiban masing-masing pihak saling melepaskan pengorbanan kepada pihak lain. Adapun soal apa saja yang boleh diperdamaikan, maka jawabnya ialah bahwa masalah yang dijadikan tawar menawar dalam perdamian itu ialah hak Adami bukan hak Allah. Lebih jelasnya lagi ialah bahwa yang diperdamaikan itu tidak boleh menghalalkan larangan yang diharamkan oleh Allah dan tidak boleh mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Allah. Untuk ini Rasulullah Saw. bersabda sebagai berikut: 2530 قَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى الْمِنْبَرِ فَقَالَ مَا بَالُ أَقْوَامٍ يَشْتَرِطُونَ شُرُوطًا لَيْسَتْ فِي كِتَابِ اللَّهِ مَنِ اشْتَرَطَ شَرْطًا لَيْسَ فِي كِتَابِ اللَّهِ فَلَيْسَ لَهُ وَإِنِ اشْتَرَطَ مِائَةَ شَرْطٍ (رواه البخارى)* Artinya: “Rasulullah Saw. berdiri di mimbar lalu bersabda: “Bagaimana itu kaum-kaum membuat syarat-syarat yang di luar Kitab Allah. Barang siapa membuat syarat-syarat di luar Kitabullah adalah tidak ada manfaat walaupun dia membuat syarat seratus macam”(HR.Bukha>ri> no.2530, Muslim no.4385). 1272 أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الصُّلْحُ جَائِزٌ بَيْنَ الْمُسْلِمِينَ إِلَّا صُلْحًا حَرَّمَ حَلَالًا أَوْ أَحَلَّ حَرَامًا وَالْمُسْلِمُونَ عَلَى شُرُوطِهِمْ إِلَّا شَرْطًا حَرَّمَ حَلَالًا أَوْ أَحَلَّ حَرَامًا (رواه الترمذى)* Artinya: “Sungguh Rasulullah Saw. bersabda: “Sesungguhnya perdamaian itu dibolehkan bagi kaum muslimin kecuali suatu perdamaian yang mengharamkan apa yang halal atau menghalalkan apa yang haram”(HR.Turmudzi>>> no.1272, Ibnu Ma>jah no.2344). 3. Kikir dan keras kepala Allah melalui Al-Quran dan Rasul utusan-Nya telah membuat tatanan hukum perkawinan mulai memilih jodoh, peminangan, pelaksanaan akad nikah dan seterusnya, misalnya memilih jodoh disebut dalam Al-Quran S.2 Al-Baqarah 221, peminangan disebut dalam S.2 Al-Baqarah 235 dan seterusnya. Dapat diulangi disini tuntunan Rasul Saw. dalam hadis-hadis sebagai berikut 4700 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِي اللَّهم عَنْهم عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ(رواه البخارى) * Artinya “Dari Abu> Hurairah dari Nabi Saw. beliau bersabda: “Wanita itu dinikahi karena ada empat sebab, yaitu karena harta, karena nasab keturunan, karena kecantikan dan karena agamanya. Maka pilihlah pilihan yang didasarkan atas jiwa agamanya, nanti kalian akan mendapat berkah Allah”(HR.Bukha>ri> no.4700 dan Muslim no.2661). 1849 عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَزَوَّجُوا النِّسَاءَ لِحُسْنِهِنَّ فَعَسَى حُسْنُهُنَّ أَنْ يُرْدِيَهُنَّ وَلَا تَزَوَّجُوهُنَّ لِأَمْوَالِهِنَّ فَعَسَى أَمْوَالُهُنَّ أَنْ تُطْغِيَهُنَّ وَلَكِنْ تَزَوَّجُوهُنَّ عَلَى الدِّينِ وَلَأَمَةٌ خَرْمَاءُ سَوْدَاءُ ذَاتُ دِينٍ أَفْضَلُ (رواه ابن ماجه)* Artinya: “Dari ‘Abdulla>h ibnu ‘Amr dia berkata, Rasulullah Saw. bersabda: “Janganlah kalian menikahi perempuan karena kecantikannya mungkin kecantikannya itu akan menjadikannya terhina, janganlah kalian menikahi perempuan karena harta kekayaannya mungkin kekayaannya itu akan menjerumuskannya, tetapi nikahilah perempuan itu atas dasar agamanya. Sungguh seorang budak perempuan yang sobek telinganya namun berjiwa agama itulah yang lebih afdol”(Ibnu Ma>jah no.1849). 1004 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا خَطَبَ إِلَيْكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ دِينَهُ وَخُلُقَهُ فَزَوِّجُوهُ إِلَّا تَفْعَلُوا تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الْأَرْضِ وَفَسَادٌ عَرِيضٌ (رواه الترمذى) * Artinya:“Dari Abu> Hurairah dia berkata bahwa Rasulullah Saw. bersabda: “Jika seseorang yang kalian sukai agama dan akhlaknya meminang maka terimalah lamarannya dan kawinkanlah. Jika tidak segera dikawinkan sangat boleh jadi akan menimbulkan fitnah kekacauan yang menghadang(HR.Turmudzi>>> No.1004). Jadi jiwa agamalah yang paling kuat dapat mengurangi watak kikir, tidak mau berkorban untuk keperluan pihak lain itu. Dan secara sosiologis caranya mengurangi watak kikir itu ialah dengan penyadaran sebagaimana uraian nomer dua diatas itu. ———————(14)—————— BADAN PENASEHATAN, PEMBINAAN DAN PELESTARIAN PERKAWINAN (BP4) I. S.4 An-Nisa>` 3 وَإِنْ خِفْتُمْ شِقَاقَ بَيْنِهِمَا فَابْعَثُوا حَكَمًا مِنْ أَهْلِهِ وَحَكَمًا مِنْ أَهْلِهَا إِنْ يُرِيدَا إِصْلَاحًا يُوَفِّقِ اللَّهُ بَيْنَهُمَا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا خَبِيرًا(النساة 35) II. Artinya: “Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang H}akam dari keluarga laki-laki dan seorang H}akam dari keluarga perempuan. Jika kedua orang H}akam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-isteri itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”(S.4 An-Nisa>` 35). III Tafsir dan anlisa A. Pengertian kata-kata خِفْتُمْ = Kalian kawatir. Maksudnya kalian melihat gejala-gejala yang mengawatirkan شِقَاقٌ = Perpecahan, percekcokan, perselisihan atau perbedaan. Maksudnya ialah gejala-gejala akan terjadi perceraian. اِبْعَثُوْا = kirimkanlah utusan, yaitu utusan dari fihak suami dan dari fihak isteri. حَكَمًا = Utusan atau wakil, maksudnya orang yang diutus oleh masing-masing fihak yang mampu dipercaya dapat mengambil hukum apakah cerai atau tetap berlangsungnya perkawinan yang juga berperan untuk mencari jalan penyelesaian dan berusaha keras untuk mempertahankan keutuhan dan kelanggengan ikatan perkawinan mereka. اَهْلِهِ – اَهْلِهَا = Keluarga suami/keluarga isteri اِصْلَاحًا = Perdamaian maksudnya usaha mencari jalan yang terbaik dalam mengatasi percekcokan atau niat untuk bercerai. يُوَفِّقْ = Dia akan mencocokkan sesuatu khusus dalam rangkaian yang baik, maksdunya Allah akan memberi taufik dan hidayah kepada mereka yang berkehendak untuk pedamaian. Taufiq artinya kecocokan, kesesuaian, keselarasan, keserasaian sedangkan hidayah ialah petunjuk. B. Tema pokok dan sari tilawah Sebagian ulama tafsir memisahkan ayat 35 Surat An-Nisa>` ini dari ayat 34, namun Ash-Sha>bu>ni>, penyusun Al-Mana>r dan Wahbah Az-Zuh}aili> dalam tafsirnya menyatukan kedua ayat 34 dan 35 ini dalam satu pembahasan. Dan mereka mencatat Sababun-Nuzu>l dari ayat 34 Surat An-Nisa>>`di sana. Jika metode ini diikuti maka perlu diingat disini bagaimana latar belakang turunnya ayat 34 itu agar dapat mendukung pemahaman atas ayat 35 Surat An-Nisa>` di atas. Ash-Sha>bu>ni> dalam Rawa>i’ul Baya>n (tth:1/466) mencatat riwayat Sababun-Nuzu>l ayat 34 An-Nisa>` itu ialah bahwa seseorang yang bernama H}abi>bah, disebabkan karena suatu masalah dia telah ditempeleng oleh suaminya yang bernama Sa’ad ibnur Rabi>’. Lalu H}abi>bah diantar oleh ayahnya mengadukan hal itu kepada Rasulullah Saw. kemudian turunlah ayat 34 Surat An-Nisa>` ini (HR.Ibnu Jari>r). Dalam MPA nomor yang lalu telah diuraikan permasalahan Nusyu>z yang timbul dari suami dan Nusyu>z yang timbul dari isteri. Maka untuk Al-Quran S.4 An-Nisa>` 35 sekarang ini persoalannya ialah bahwa kedua belah pihak suami dan isteri sama-sama cenderung berbuat suatu perbuatan yang mengarah kepada perceraian. Maka tema dan kandungan makna ayat 35 di atas dapat disusun sebagai berikut: l. Suatu kehidupan berumah tangga mungkin sekali suatu ketika timbul perbuatan atau gejala-gejala yang mengarah kepada perceraian yang timbul dari pihak suami maupun dari pihak isteri terhadap perkawinan mereka. 2. Jika gejala-gejala itu sudah menjadi-jadi sampai situasinya sudah mengawatirkan maka harus segera diusahakan adaya suatu perdamaian. 3. Caranya ialah masing-masing pihak mengirim utusan untuk melakukan tawar menawar dalam perdamaian guna mengatasi krisis rumah tangga mereka berdua. 4. Niat untuk mencari kebaikan pasti akan mendapat taufik dan hidayah dari Allah. 5. Allah itu memang Maha Mengetahui, Maha Waspada. C.Masalah dan analisa Dari tema pokok tersebut di atas ada beberapa hal yang memerlukan pendalaman pemahaman yang lebih tajam lagi, yaitu: l. Siapakah subyek yang dituju oleh ayat 35 An-Nisa>` itu, sehingga akan jelas siapakah orang yang harus mengurus dan mengatasi persoalan percekcokan antara suami dengan isteri dalam suatu perkawinan? 2. Bagaimanakah sebenarnya apa yang dimaksud dengan H}akam dalam ayat itu? 3. Sampai seberapa jauh hak wewenang H}akam dalam tatap muka perdamaian di sana? D. Tinjauan dan pemikiran Menurut ilmu bahasa lafal nikah itu artinya persatuan dan saling menyatu dan menurut istilah nikah itu ialah aqad perjanjian untuk menyatukan diri dalam suatu ikatan perkawinan. Berhubung dengan makna hakiki yang seperti itu maka sebenarnya perceraian itu merupakan tindakan yang bertentangan dengan hakikat nikah itu sendiri. Sehingga jika suatu rumah tangga sedang digoyang oleh krisis seharusnyalah segera diusahakan untuk mengembalikannya kepada hakikat nikah itu sendiri, yaitu kerukunan dan kesatuan. Jika masalahnya lebih berat bersumber dari isteri maka penyelesaiannya harus merujuk kepada Al-Quran S.4 An-Nisa>` 34, jika masalahnya lebih berat bersumber dari suami maka jalan pemecahannya harus merujuk S.4 An-Nisa>` 128 dan jika masalahnya bersumber dari kedua-duanya baik isteri maupun dari suami maka jalan keluarnya harus merujuk kepada Al-Quran S.4 An-Nisa>` 35 di atas ini. Untuk ini perlu diperhatikan hal-hal berikut: 1. Badan Penasehat Perkawinan & Penyelesaian Perceraian Menurut Ibnul ‘Arabi> dalam kitabnya Tafsirul Ah}ka>m (1988:1/538) bahwa khithab yang dituju oleh Al-Quran S.4 An-Nisa>` 35 ini ialah Sultan (Penguasa), menurut Imam Ma>lik bahwa orang yang dituju oleh ayat itu ialah wali kedua suami isteri. Kemudian menurut Az-Zuh}aili> dalam Al-Muni>r (l99l:5/58) khithab yang dituju ayat ini ialah para hakim dan suami isteri. Namun yang lebih tepat ialah menurut pendapat penyusun tafsir Al-Mana>r (tth:5/76) bahwa perintah dalam ayat ini ditujukan kepada orang-orang mukmin yang menyadari dan merasa ikut menanggung jawab kepada orang yang sedang bermasalah “Al-Mu`mini>n al mutakafili>n”. Orang-orang yang diberi sifat Al-Mu`mini>n al mutakafili>n dalam kaitannya dengan perkawinan seperti ini adalah orang-orang yang sangat memperhatikan dan memperjuangkan terwujudnya 3 pilar utama perkawinan yaitu ketenteraman, cinta dan kasih sayang (Saki>nah, mawaddah wa rah}mah) bagaimana maslahah dan keberuntungan untuk pasangan-pasangan suami-isteri dalam masyarakat kaum muslimin. Jika ciri-ciri diatas ini boleh dikiaskan maka di Indonesia telah berdiri apa yang disebut dengan Badan Penasehatan Perkawinan & Penyelesaian Perceraian (BP4). BP4 ialah suatu badan yang berdiri di Bandung th.1954, di Jakarta P5 (Panitia Penasehat Perkawinan dan Penyelesaian Perceraian), di Jogyakarta BKRT (Badan Kesejateraan Rumah Tangga) kemudian dimasukkan ke dalam lingkup dinas Departemen Agama dengan SK Menteri Agama no.85-Th.1961. Dan dengan SK Menteri Agama No.30 Th.1977 diubah menjadi Badan Penasehat Perkawinan, Perselisihan dan Perceraian. Dan tg.30 Juli l998 diubah namanya menjadi:Badan Penasehatan, Pembinaan, Pelestarian Perkawinan disingkat menjadi (BP4). BP4 dalam psl.7 bab IV dibentuk dari tingkat pusat sampai tingkat kecamatan dan kelurahan. Lembaga BP4 dalam Muqaddimahnya berangkat dari Al-Quran S.30 Ar-Ru>m 21, namun dari sejarah pertumbuhannya maka sebenarnya tata kerja BP4 yang lebih penting ialah menerapkan makna Al-Quran S.4 An-Nisa>` 34-35 dan 128 di atas. Dan dalam AD-BP4 pasal 8 ayat 8 ditetapkan bahwa angggota pengurus yang lain terdiri dari Organisasi Wanita,LSM dan Tokoh Agama dan Cendekiawan dari berbagai macam disiplin ilmu dan professi yang terkait. Sudah tentu ahli ilmu jiwa, sosiologi atau ilmu jiwa sosial harus masuk kedalamnya. Walaupun demikian banyak kesesuaian BP4 dengan tafsiran Al-Mana>r di atas namun tidaklah sepenuhnya tepat untuk menempatkan khithab (orang yang diperintah oleh ayat) Al-Quran S.4 An-Nisa>` 35 yang kita biacarakan ini ialah BP4. Persesuaian BP4 dengan tafsiran Al-Mana>r yang lebih tepat ialah dalam inspirasi dan aspirasinya untuk menampung makna yang lebih dalam dari inti kandungan ayat 35 surat An-Nisa>` di atas. BP4 merupakan badan kepengurusan yang di dalamnya terdapat tenaga yang bisa langsung dapat dinilai sebagai orang yang menduduki jabatan H}akam. Tetapi BP4 di dalam kerjanya bisa mencari informasi melalui kedua pasangan suami atau isteri maupun lewat wali serta anggota-anggota keluarga yang memahami betul-betul situasi dan kondisi suami atau isteri itu. BP4 bertugas mencari informasi sampai dianggap cukup lengkap datanya, sehingga dalam sidangnya BP4 dapat mengambil keputusan yang tepat, cerai atau bersatu kembali. 2. H}akam dan kedudukannya a-Pengertian H}akam Lafal H}akam menurut kamus artinya ialah juru damai atau penengah. Menurut Ar-Ra>ghib dalam Mufarada>t (tth:126) lafal H}akam maksudnya ialah seorang atau dewan hakim yang memberikan suatu keputusan yang benar di antara sesama. Az-Az-Zamakhsyari> dalam Al-Kasysya>f (tth:1/525) menerangkan bahwa H}akam itu orang yang penuh simpati, melegakan, layak mengemban tata hukum keadilan dan perdamaian. Al-Mana>r memberikan ciri-ciri H}akam itu ialah orang yang berhak menetapkan hukum dan menentukan keputusan terhadap dua pihak yang berperkara dan sayogyanya dicarikan orang yang sudah tua yang cenderung mempunyai pengalaman dan wawasan yang luas. Untuk S.4 An-Nisa>` 35 ialah orang mengurus dan menyelesaikan perkara perselisihan dan perceraian antara suami dengan isteri. b-Kedudukan H}akam Disana terdapat variasi pendapat para ulama tentang bagaimana kedudukan H}akam dan menurut penyusun Al-Mana>r (tth:5/79) ada dua pendapat, yaitu sebagai berikut: 1. H}akam itu berperan sebagai wakil dari kedua orang suami dan isteri. 2. H}akam itu berperan sebagai hakim atas kedua orang suami isteri. Para ulama melakukan pembahasan berkaitan dengan diri pribadi orang yang ditunjuk sebagai h}akam. Apakah H}akam yang diutus itu harus dipilih dari anggota keluarga suami dengan keluarga isteri, ataukah H}akam itu boleh juga dipilih dari orang yang statusnya bukan keluarga mereka? Perlu diingat bahwa H}akam ini peran dan kedudukannya sangat menentukan nasib kedua orang suami isteri yang sedang dalam perselisihan itu. Dalam ayat 35 An-Nisa>` di atas yang tampak ialah bahwa keputusan cerai dan tidak cerai itu tergantung kepada kedua orang H}akam. Meskipun kata-kata perintah dalam ayat itu mewajibkan kaum muslimin untuk memilih utusan itu harus dari anggota keluarga, tetapi menurut catatan Ash-Sha>bu>ni> (tth:1/471) para ulama memahami ayat itu bahwa hukumnya sebagai sunat dan membolehkan bahwa utusan itu diambil dari luar keluarga, sebab yang penting ialah siapa orang yang lebih faham dan lebih menghayati kondisi dan situasi masing-masing kedua orang suami isteri itu, sehingga H}akam itu dapat menghasilkan usaha perdamaian yang paling tepat. Dan menurut Al-Qurthubi> dalam tafsirnya (1967:5/175) bahwa utusan itu harus diutamakan diambil dari anggota keluarga, sebab mereka inilah orang yang lebih mendekati rasa keadilan, pandangan dan perasaan yang lebih jeli berkaitan dengan diri suami atau isteri. Tetapi jika diantara anggota keluarga mereka tidak didapatkan maka boleh H}akam itu diambilkan orang dari luar anggota keluarga. Suatu riwayat yang lebih mendekati gambaran H}akam dan tugas H}akam ataupun kedudukannya dapat difaham dari hadis Rasul Saw. berikut: 4875 عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ زَوْجَ بَرِيرَةَ كَانَ عَبْدًا يُقَالُ لَهُ مُغِيثٌ كَأَنِّي أَنْظُرُ إِلَيْهِ يَطُوفُ خَلْفَهَا يَبْكِي وَدُمُوعُهُ تَسِيلُ عَلَى لِحْيَتِهِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِعبَّاسٍ يَا عَبَّاسُ أَلَا تَعْجَبُ مِنْ حُبِّ مُغِيثٍ بَرِيرَةَ وَمِنْ بُغْضِ بَرِيرَةَ مُغِيثًا فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَوْ رَاجَعْتِهِ قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ تَأْمُرُنِي قَالَ إِنَّمَا أَنَا أَشْفَعُ قَالَتْ لَا حَاجَةَ لِي فِيهِ (رواه البخارى)* Artinya: “(Sumber) dari Ibnu’Abba>s bahwa suami Bari>rah itu seorang hamba namanya Mughi>ts. Kata Ibnu ‘Abba>s: “Sepertinya aku melihat dia terus mengikuti Bari>rah di belakangnya sambil menangis, air matanya meleleh sampai janggut. Lalu Nabi Saw, bersabda kepada ‘Abba>s: “Wahai ‘Abba>s apakah anda tidak terheran melihat bagaimana cinta kasihnya Mughi>ts kepada Bari>rah sebaliknya bagaimana bencinya Bari>rah kepada suaminya Mughi>ts itu”. – Maka Nabi Saw. bersabda kepada Bari>rah: “Alangkah baiknya jika engkau rukun kembali dengan Mughi>ts” + Kemudian Bari>rah menjawab: “Wahai Rasul tuan menyuruh saya?” – Beliau bersabda: “Sungguh aku hanya membantu saja” . +Lalu Bari>rah menjawab lagi: “Aku tidak perlu kepada dia”(HR.Bukha>ri> No.4875). Dalam riwayat di atas dapat difaham sebagai berikut: Mughi>ts dan Bari>rah sebagai suami isteri yang bersengketa. RasU>lu>llah Saw. dapat diibaratkan sebagai H}akam yang berusaha mendamaikan kedua pasangan itu. Tanya jawab beliau dengan Bari>rah sebagai usaha perdamaian. Keputusan Rasul Saw, menghasilkan perceraian walaupun Mughi>ts suaminya masih ingin bersatu kembali, sebagai kesimpulan atas usaha perdamaian antara Bari>rah dengan suaminya. Namun dalam riwayat ini ternyata yang kita nilai sebagai H}akam itu hanya satu orang dan diambil dari luar anggota keluarga. Kita sekalian berspekulasi bahwa BP4 kiranya dapat menempati kedudukan seperti H}akam dalam Al-Quran An-Nisa>` 35 atau mengikuti Rasulullah Saw. dalam hadis Bukha>ri> diatas yang berusaha mendamaikan kedua orang suami isteri yang sedang berada dipinggir jurang perceraian atau mencari jalan penyelesaian. 3. Kedudukan H}akam dan wewenangnya Masalah perkawinan ini secara luas sungguh sangat besar urgensi dan pentingnya bagi pembinaan masyarakat khususnya bagi msyarakat Islam. Berhubung demikian besar pentingnya perkawinan itu bagi pembinaan anak bangsa maka di Indonesia dibentuklah badan yang disebut dengan BP4 di atas. Dari dua macam pandangan tentang kedudukan H}akam apakah sebagai wakil ataukah sebagai hakim tersebut diatas maka masing-masing kedudukan H}akam seperti itu mengandung akibat hukum yang berbeda yang cukup riskan. Dan menurut Ash-Sha>bu>ni> dalam Rawa>i’ul Baya>n (tth:l/472) dampak akibat hukum kedudukan itu sebagai berikut: a) Menurut Abu> H}ani>fah dan Ah}mad sesuai dengan pandangan Al-H}asan al Bishri, Qatalik, sesuai dengan pendapat Asy-Sya’bi>, Ibnu ‘Abba>s dan ‘Ali> menyatakan bahwa H}akam itu kedudukannya adalah sebagai hakim maka dia berwenang untuk memutuskan cerai atau rujuk kembali tidak perlu minta ijin atau persetujuan dari suami maupun isteri jika yang menjadi dasar utama dalam keputusannya ialah maslahah untuk kedua orang suami-isteri. Jika kita perhatikan program dari BP4 yang ada di dinas-dinas Departemen Agama itu maka kiranya telah tertampunglah pandangan dari Imam Sya>fi’i> dalam nukilan Ash-Sha>bu>ni> di atas bahwa yang tetap harus menjadi pertimbangan ialah wewenang H}akam itu adalah sebagai wakil sekaligus menjadi hakim yang menyelesaikan masalah perselisihan antar suami dengan isteri. ——————-(15)———————– PUTUSNYA PERKAWINAN I.S.2 Al-Baqarah 229 الطَّلَاقُ مَرَّتَانِ فَإِمْسَاكٌ بِمَعْرُوفٍ أَوْ تَسْرِيحٌ بِإِحْسَانٍ وَلَا يَحِلُّ لَكُمْ أَنْ تَأْخُذُوا مِمَّا ءَاتَيْتُمُوهُنَّ شَيْئًا إِلَّا أَنْ يَخَافَا أَلَّا يُقِيمَا حُدُودَ اللَّهِ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا يُقِيمَا حُدُودَ اللَّهِ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا فِيمَا افْتَدَتْ بِهِ تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَعْتَدُوهَا وَمَنْ يَتَعَدَّ حُدُودَ اللَّهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ (البقرة 229) II. Artinya “Talak (yang dapat dirujuki) dua kali. Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma`ruf atau menceraikan dengan cara yang baik. Tidak halal bagi kamu mengambil kembali dari sesuatu yang telah kamu berikan kepada mereka, kecuali kalau keduanya khawatir tidak akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami isteri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh isteri untuk menebus dirinya. Itulah hukum-hukum Allah, maka janganlah kamu melanggarnya. Barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah mereka itulah orang-orang yang zalim”(S.2 Al-Baqarah 229). III. Tafsir dan analisa A. Pengertian kata-kata = الطَّلَاقُ Melepaskan ikatan, maksudnya melepaskanikatanperkawinan = إِمْسَاكٌ Menahan, memegang, maksudnya suami tetap mempertahankan perkawinannya, tidak menceraikan isterinya = بِمَعْرُوفٍ Dengan baik-baik; Lafal Ma’ru>fh adalah lawan dari lafal munkar ; Kata Ma’ru>f>f artinya sesuatu yang diakui baik, maksudnya diakui baik oleh manusia dan oleh Allah. Lafal Munkar artinya tidak diakui, maksudnya tidak diakui baik tetapi diakui sebagai jelek تَسْرِيحٌ = Pelepasan, maksudnya ialah suami menceraikan isterinya, khususnya dalam ayat ini suami menjatuhkan talak yang ketiga = بِإِحْسَانٍ Dengan baik, maksudnya bahw suami menjatuhkan talak itu dengan baik-baik, tidak menumbuhkan noda dosa sesudahnya = يَخَافَا Keduanya kawatir = حُدُودَ اللَّهِ Batas-batas Allah, maksudnya ialah hukum aturan Allah dalam hal ini ialah hukum perkawinan = افْتَدَتْ بِه Dia menebusnya, maksudnya isteri meminta cerai dengan membayar semacam tebusan yang disepakati = فَلَا تَعْتَدُوهَا Maka janganlah kalian melanggarnya maksudnya melanggar agama = يَتَعَدَّ Dia melanggar maksudnya melanggara hukum perkawinan = الظَّالِمُونَ Zalim, zalim ialah menempatka sesuatu tidak pada tempatnya, dalam bahasa Inggris lafal ini diterjemahkan menjadi “Do wrong” B. Latar belakang turunnya ayat عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ النَّاسُ وَالرَّجُلُ يُطَلِّقُ امْرَأَتَهُ مَا شَاءَ أَنْ يُطَلِّقَهَا وَهِيَ امْرَأَتُهُ إِذَا ارْتَجَعَهَا وَهِي َ فِي الْعِدَّةِ وَإِنْ طَلَّقَهَا مِائَةَ مَرَّةٍ أَوْ أَكْثَرَ حَتَّى قَالَ رَجُلٌ لِامْرَأَتِهِ وَاللَّهِ لَا أُطَلِّقُكِ فَتَبِينِي مِنِّي وَلَا آوِيكِ أَبَدًا قَالَتْ وَكَيْفَ ذَاكَ قَالَ أُطَلِّقُكِ فَكُلَّمَا هَمَّتْ عِدَّتُكِ أَنْ تَنْقَضِيَ رَاجَعْتُكِ فَذَهَبَتِ الْمَرْأَةُ حَتَّى دَخَلَتْ عَلَى عَائِشَةَ فَأَخْبَرَتْهَا فَسَكَتَتْ عَائِشَةُ حَتَّى جَاءَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَخْبَرَتْهُ فَسَكَتَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى نَزَلَ الْقُرْآنُ ( الطَّلَاقُ مَرَّتَانِ فَإِمْسَاكٌ بِمَعْرُوفٍ أَوْ تَسْرِيحٌ بِإِحْسَانٍ ) (رواه الترمذي1113)* Artinya: “Dari ‘A>> no.1113). 4867 عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ امْرَأَةَ ثَابِتِ بْنِ قَيْسٍ أَتَتِ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ ثَابِتُ بْنُ قَيْسٍ مَا أَعْتِبُ عَلَيْهِ فِي خُلُقٍ وَلَا دِينٍ وَلَكِنِّي أَكْرَهُ الْكُفْرَ فِي الْإِسْلَامِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَتَرُدِّينَ عَلَيْهِ حَدِيقَتَهُ قَالَتْ نَعَمْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اقْبَلِ الْحَدِيقَةَ وَطَلِّقْهَا تَطْلِيقَةً(رواه البخاري والنسائ 3409 وابن ماجه 2046- الزحيلي-المنير 1991: 2 \ 332 ) Artinya: “Dari Ibnu ‘Abba>s bahwa Jamilah isteri Tsa>bit ibnu Qais menghadap keepada Nabi Saw. dia berkata: “Aku tidak mencela suamiku kelakuannya atau agamanya, akan tetapi aku benci kekufuran dalam Islam”. Lalu Rasulullah Saw. bertanya: “Maukah kamu mengembalikan tanah Tsa>bit ibnu Qais itu?” jamilah menjawab: “Ya. Mau!!!” Rasulullah Saw. bersabda (Kepada suami itu): Terimalah kembali tanah itu dan ceraikanlah isterimu satu talak!” (HR. Bukha>ri> no.4867, Nasa< i> no.3400, Ibnu Ma>jah no.2046, Tafsir Al-Muni>r 1991:2 \ 332). C. Tema dan sari tilawah Allah telah menetapkan ketentuan di dalam Al-Quran bahwa kedua pasangan suami isteri harus segera melakukan usaha antisipasi-penanggulangan, jika tiba-tiba timbul gejala-gejala yang dapat diduga akan menimbulkan gangguan kehidupan rumah tangga, yaitu di dalam Al-Quran S.4 An-Nisa>`34-35 dan 128. الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ وَاللَّاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا(34)وَإِنْ خِفْتُمْ شِقَاقَ بَيْنِهِمَا فَابْعَثُوا حَكَمًا مِنْ أَهْلِهِ وَحَكَمًا مِنْ أَهْلِهَا إِنْ يُرِيدَا إِصْلَاحًا يُوَفِّقِ اللَّهُ بَيْنَهُمَا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا خَبِيرًا (النساء 34-35) Artinya: “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang ta`at kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan Nusyu>z-nya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka menta`atimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang H}akam dari keluarga laki-laki dan seorang H}akam dari keluarga perempuan. Jika kedua orang H}akam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-isteri itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”(S.4 An-Nisa>` 34-35) وَإِنِ امْرَأَةٌ خَافَتْ مِنْ بَعْلِهَا نُشُوزًا أَوْ إِعْرَاضًا فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا أَنْ يُصْلِحَا بَيْنَهُمَا صُلْحًا وَالصُّلْحُ خَيْرٌ وَأُحْضِرَتِ الْأَنْفُسُ الشُّحَّ وَإِنْ تُحْسِنُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا( النساء128) Artinya: “Dan jika seorang wanita khawatir akan Nusyu>z atau sikap tidak acuh dari suaminya, maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya, dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka) walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir, Dan jika kamu bergaul dengan isterimu secara baik dan memelihara dirimu (dari Nusyu>z dan sikap tak acuh), maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”(S.4 An-Nisa>` 128). Tetapi jika usaha antisipasi melalui pasal-pasal tersebut ternyata tidak dapat membuahkan hasil mempertahankan kerukunan dan kesatuan ikatan perkawinan dan tinggallah satu-satunya jalan yang dapat ditempuh terpaksa harus bercerai dan putusnya ikatan perkawinan, maka jalan yang ditempuh bergeser dari ayat-ayat tersebut diatas kepada ketetapan Allah di dalam S.2 Al-Baqarah 229 dengan dalil yang lain yang terkait. Difaham dari pengertian yang terkandung di dalam ayat 229 Al-Baqarah dengan latar belakang turunnya ayat, rasanya dapat diambil tema dan kandungan makna ayat, yaitu sebagai berikut: 1. Sebenarnya perceraian itu bertentangan dengan makna dari perkawinan itu sendiri, sehingga jika terjadi perceraian, maka sangat wajar sekali jika seandainya mereka yang bercerai ini bersedia untuk rukun dan rujuk kembali menyusun kesatuan ikatan perkawinan mereka lagi. 2. Perceraian yang dibolehkan rujuk kembali itu hanya dua kali, yaitu talak ke-satu dan talak ke-dua saja. Oleh karena itu terhadap talak ke-tiga tidak ada rujuk lagi, kecuali seelah dipenuhinya persyaratan khusus untuk ini. 3. Syarat atas kedua orang suami-isteri yang bercerai dengan talak-tiga, untuk bisa melakukan rujuk kembali itu di dalam ayat 230, lanjutan dari ayat 229 surat Al-Baqarah yang menjadi pokok pembahasan ini. 4. Jika terjadi perceraian, maka suami dilarang mengambil harta yang pernah diberikan kepad aisterinya yang dicerai itu, kecuali atas dassar alasalan yang kuat 5. Jika isteri mempunyai alasan syari’at yang kuat maka dapat dibenarkan isteri meminta cerai dengan cara khU>lu>’, yaitu suatu perceraian dengan pembayaran tebusan oleh isteri kepada suami. 6. Allah sudah mengatur segala sesuatunya, termasuk masalah perkawinan dan hubungannya dengan berbagai macam masalah yang terkait. 7. Barang siapa melenggar hukum Allah, sebenarnya dia itu bahkan menyiksa diri sendiri dengan perbuatan zalim. D. Masalah dan analisa Ada beberapa masalah yang masih menghadang yang perlu kejelasan, sekaligus untuk mempertajam pemahaman kita terhadap S.2 Al-Baqarah 229 di atas, yaitu: 1.Bagaimanakah sebenarnya Hukum Talak itu? 2.Apa sebab talak tiga sudah tidak boleh rujuk lagi? 3.Bagaimana kemungkinan suami akan merujuk lagi isterinya yang sudah ditalak-tiga itu? 4. Apakah isteri tidak mempunyai hak untuk memutuskan ikatan perkawinan? E. Tinjauan dan pemikiran Murtadha al-Muthahhari> dalam kitabnya Nizha>m H}uqu>qil Mar`ah fi>l Isla>m (1985: 216) mencata ada 5 teori pandangan manusia terhadap perceraian, yaitu sebagai berikut: i. Acuh tak acuh-skularistis Penganut teori ini berpendapat tidak erlu ada aturan yang membatasi kehidupan kaum laki-laki dengan kaum perempuan, yang penting ialah yang enak bagaimana. ii. Perkawinan itu adalah suatu ikatan suci yang harus diabadikan selama-lamanya, bahkan haram untuk bercerai, kecuali cerai mati. iii.Perceraian itu dibolehkan dan wewenang mencerai hanyalah di tangan kaum laki-laki. iv. Perkainan dan percewraian adalah hak bersama dan kaum perempuan mempunyai hak yang sama dengan kaum laki-laki. Kaum emansipasionis, ini berpendapat bahwa perceraian itu dimungkinkan hanya berdasarkan atas kepentingan bersama berdua. v. Perkawinan itu suatu ikatan yang suci dan luhur, sedangkan perceraian itu dibolehkan tetapi sangat tercela. Teori yang ke-ii dianut kaum Katholik, terutama di Italia dan Spanyol. Pandangan ini banyak mendapat sanggahan yang dituduhnya sebagai suatu teori yang mengarah kepada sistem perbudakan oleh kaum laki-laki atas kaum perempuan seperti yang ditulis oleh Daily Express beberapa waktu yang lalu. Sayyid Sa>biq menulis dalam Fiqhus Sunnah (1969:2 / 245) bahwa dalam kalangan kaum Masehi ada dua macam pandangan terhadap masalah perceraian ini, yaitu: (1)Kaum Katholik mengharamkan perceraian itu sama sekali, walaupun dengan alasan yang paling berat sekali. Pendapat ini didasarkan atas Kitab Injil: “Lalu keduanya itu menjadi sedarah daging, sehingga mereka itu bukannya lagi dua orang melainkan sedaging itu juga adanya. Sebab itu baranng yang telah dijodohkan oleh Allah, jangan diceraikan oleh manusia (Matius 10 ayat 8-9). (2) Kaum Orthodox dan Protestan membolehkan perceraian jika ada alasan yang kuat, tetapi mengharamkan atas kedua orang duda dan janda ini untuk kawin setelah bercerai tadi. Dasarnya ialah sabda Yesus dalam kitab Injil Markus, yaitu sebagai berikut: “Barang siapa menceraikan bininya, lalu berbinikan orang lain, ialah berbuat zinah terjhadap bininya yang dahulu itu. Dan jika seorang perempuan menceraikan lakinya lalu berlakian orang lain, iapun berbuat zina”(Injil Markus 10 ayat 11-12). Teori yang kelima tercantum di atas itulah teori yang diajarkan oleh syari’at Islam. Lebih lanjut dapat diperhatikan dalam uraian berikut: 1.Hukum talak a. Pernilaian terhadap perbuatan talak Allah menciptakan manusia di dunia ini menghendaki dan mengangkatnya menjadi khalifah Allah di bumi, ditetapkan Allah dalam Al-Quran( S.2 Al-Baqarah 30). Sebagai khalifah Tuhan di bumi manusia memikul tugas melaksnakan apa yang diinginkan oleh Dzat yang mengangkatnya menjadui khalifah itu. Salah satu tugas manusia di bumi ini ialah memakmurkan bumi (Hu>d 61), yaitu mengembangkan jenis, anak keturunan, berkeluarga, beranak cucu, membuat sejarah dan menciptkana peradaban umat manusia yang luhur dan ideal (S.49 Al-H}ujura>t 13). Oleh karena itu barang siapa melakukan perceraian berarti dia telah menyimpang dari apa yang diinginkan oleh Allah Ta’ala, sehingga Allah sangat murka kepada kepada siapa saja yang melakukan perceraian. (1) Manusia sebagai khalifah Tuhan di bumi وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ (البقرة 30) Artinya: “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”(S.2 Al-Baqarah 30). (2) Tugas khalifah Tuhan di bumi ialah memakmurkan bumi قَالَ يَاقَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ هُوَ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا فَاسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ إِنَّ رَبِّي قَرِيبٌ مُجِيبٌ(هود 61) Artinya: “Shaleh berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (do`a hamba-Nya).”(S.11 Hu>d 61). (3) Salin hormat-menghormati sesama penuh taqwa يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ(الحجرات 13) Artinya: “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”(S.49 Al-H}ujura>t 13). (4) Talak itu sangat dibenci Tuhan Rasulullah Saw. bersabda dalam salah satu hadis, yaitu: 1863 عَنِ ابْنِ عُمَرَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَبْغَضُ الْحَلَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى الطَّلَاقُ (رواه ابو داود وابن ماجه 2008)* Artinya: “ Dari Ibnu ‘Umar dari nabi Saw. beliau bersabda; “ Sesuatu yang halal yang paling dibenci Allah ialah talak”(HR Abu> Da>wu>d no.186 dan Ibnu Ma>jah no.2008- Al-Qurthubi> 1967: 3 / 126). (5) Disebut-sebut dalam hadis lain barang siapa mengajak cerai tanpa alasan, maka haram mausk sorga: 1108 عَنْ ثَوْبَانَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَيُّمَا امْرَأَةٍ سَأَلَتْ زَوْجَهَا طَلَاقًا مِنْ غَيْرِ بَأْسٍ فَحَرَامٌ عَلَيْهَا رَائِحَةُ الْجَنَّةِ حَدِيثٌ حَسَنٌ (رواه الترمذي وابن ماجه 1899)* Artinya: “ Dari Tsauban, bahwa RasU>lu>llah Saw. bersabda: “Perempuan mana saja yang meminta kepada suaminya untuk cerai tanpa ada alasan apa-apa, maka haram atas dia baunya sorga”(HR Turmudzi> no.1108 dan Ibnu Ma>jah no.1899)”. Jelas bahwa perceraian itu dibolehkan oleh syari’at Islam terbatas hanya dalam jalan yang sudah tidak ada cara lain lagi untuk mengatasi kemelut kehidupan rumah tingga muslim. b. Macam-macam talak Perceaian itu ada dua macam, yaitu cerai mati dan cerai hidup Cerai hidup ada beberapa macam: 1) Talak, diatur dalam S.2 Al-Baqarah 229 dan yang terkait 2) Khulu’ diatur dalam ayat itu dan juga dalam S.2 Al-Baqarah 229 3) Sumpah Ila< ` diatur dalam S.2Al-Baqarah 226 4) Syiqaq diatur dalam S.4 An-Nisa>` 35 5) Sumpah Li’a>n diatur dalam S.24 An-Nu>r 6-7 6) Zhiha>r diatur dalam S.58 Al-Muja>dalah 1-2 7) Fasakh, yaitu suatu perceraian yang dibatalkan oleh Pengadilan Agama, disebabkan karena yang bersangkutan tidak memenuhi atau bertentangan dengan syarat-syarat yang ditetapkanoleh syari’at Islam, Dengan berlakunya UU no.1 th 1974 dan Kompilasi Hukum Islam (KHI) Impres no.1 tahun 1991, maka semua perceraian di Indonesia yang tunduk di bawah Hukum Islam diurus dan selesaikan melalui Pengadilan Agama. Sesuai dengan aturan hukum tersebut maka percweraian dibagi menjadi beberapa macam, yaitu: a. Ditinjau dari Sunnah dan Bid’ah, maka talak itu dibagi dua, yaitu:Talak Sunni dan Talak Bid’i (1)Talak Sunni ialah talak yang mengikuti sunnah Nabi Saw. yaitu talak yang dijatuhkan kepada isteri ketika isteri sedang suci yang belum dicampuri (2)Talak Bid’i ialah talak yang dijatuhkan kepada isteri, ketika isteri sedng haid atau ketika isteri sedang suci yang sudah dicampuri. b. Ditinjau dari segi kemungkinan bisa rujuk tidaknya maka talak dibagi dua, yaitu: Talak Raj’i dan talak Ba`in. (1)Talak Raj’i, ialah talak yang bisa dirujuk lagi tanpa akad nikah baru, yakni rujuknya ketika isteri masih dalam iddahnya belum habis (2) Talak Ba`in ialah suatu talak yang tidak bisa dirujuk kecuali dengan akad nikah baru. Dan talak Ba`in dibagi dua yaitui: Talak Ba`in Sughra dan Talak Ba`in Kubra ~Talak Ba`in Sughra ada 3 macam, yaitu (1) Talak atas isteri yang belum pernah dicampuri sebelum cereai; (2) Talak dengan tebusan atau Khulu’. (3) Talak yang dijatuhkan atas putusan Hakim. ~Talak Ba`in Kubra dibagi dua, yaitu: (1)Talak yang disebabkan krena terjadinya sumpah Li’a>n. Mereka terlibat sumpah Li’a>n ini haram melakukan rujuk untuk selama-lamanya. (2) Talak yang ke-tiga. Mereka yang terlibat talak tiga ini haram untuk rujuk lagi selama-lamanya kecuali dengan syarat. Syaratnya ialah bahwa isteri yang ditalak tiga ini sudah kawin lagi dengan laki-laki lain dan sudah dicerai serta sudah habis iddahnya. Dengan catatan bahwa perkawinannya dengan laki-laki baru tersebut merupakan perkawinan yang wajar tidak ada rekayasa dibuat-buat. Jika terbukti ada rekayasa maka hukumnya tetap haram. Talak Ba`in Kubra diatur di dalam Al-Quran berikut: فَإِنْ طَلَّقَهَا فَلَا تَحِلُّ لَهُ مِنْ بَعْدُ حَتَّى تَنْكِحَ زَوْجًا غَيْرَهُ فَإِنْ طَلَّقَهَا فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا أَنْ يَتَرَاجَعَا إِنْ ظَنَّا أَنْ يُقِيمَا حُدُودَ اللَّهِ وَتِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ يُبَيِّنُهَا لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ(230)(البقرة) Artinya: “Kemudian jika si suami mentalaknya (sesudah talak yang kedua), maka perempuan itu tidak halal lagi baginya hingga dia kawin dengan suami yang lain. Kemudian jika suami yang lain itu menceraikannya, maka tidak ada dosa bagi keduanya (bekas suami pertama dan isteri) untuk kawin kembali jika keduanya berpendapat akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Itulah hukum-hukum Allah, diterangkan-Nya kepada kaum yang (mau) mengetahui”(S.2 Al-Baqarah 230). Suatu syarat yang sangat menentukan dibolehkannya rujuk kembali dalam hal ini diatur dalam hadis berikut: 2445 عَنْ عَائِشَةَ رَضِي اللَّهم عَنْهَا جَاءَتِ امْرَأَةُ رِفاعَةَ الْقُرَظِيِّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ كُنْتُ عِنْدَ رِفَاعَةَ فَطَلَّقَنِي فَأَبَتَّ طَلَاقِي فَتَزَوَّجْتُ عَبْدَالرَّحْمَنِ بْنَ الزَّبِيرِ إِنَّمَا مَعَهُ مِثْلُ هُدْبَةِ الثَّوْبِ فَقَالَ أَتُرِيدِينَ أَنْ تَرْجِعِي إِلَى رِفَاعَةَ لَا حَتَّى تَذُوقِي عُسَيْلَتَهُ وَيَذُوقَ عُسَيْلَتَكِ وَأَبُو بَكْرٍ جَالِسٌ عِنْدَهُ وَخَالِدُ بْنُ سَعِيدِ بْنِ الْعَاصِ بِالْبَابِ يَنْتَظِرُ أَنْ يُؤْذَنَ لَهُ فَقَالَ يَا أَبَا بَكْرٍ أَلَا تَسْمَعُ إِلَى هَذِهِ مَا تَجْهَرُ بِهِ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (رواه البخاري ومسلم 2587)* Artinya: “Dari ‘A‘ah al-Qurazhi> datang menghadap kepada Nabi Saw. Dia berkata: “Ya Rasulullah sungguh Rifa>‘ah telah mencerai aku maka perceraianku itu menjadi tetap. Dan aku menikah dengan ‘Abdurraha>mn ibnuz Zubair al Qurazhi>. Namun aku bagaikan rumbai tergantung terkatung-katung” Rasulullah Saw. bertanya: “Apakah kau ingin kembali kepada Rifa>‘ah? Tidak boleh, sampai kau merasakan madunya dan dia menikmati madumu”(HR Bukha>ri> no.4856 dan Muslim No.2587-Subulus Sala>m 1960: 3 / 128). Mengenai orang yang menjatuhkan talak-tiga sekaligus satu ucapan, maka menurut Ash-Shan’a>ni> dalam Subulus Sala>m (1960: 3 / 173)bahwa perbuatan itu adalah suatu bid’ah dan mendapat murka Rasulullah Saw. dalam hadis di bawah ini, sehingga para sahabat menyatakan bahwa perbuatan ini hukumnya haram(Al-Mana>>r tth:2 / 382). 3348 عَنِ ابْنِ وَهْبٍ قَالَ سَمِعْتُ مَحْمُودَ بْنَ لَبِيدٍ قَالَ أُخْبِرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ رَجُلٍ طَلَّقَ امْرَأَتَهُ ثَلَاثَ تَطْلِيقَاتٍ جَمِيعًا فَقَامَ غَضْبَانًا ثُمَّ قَالَ أَيُلْعَبُ بِكِتَابِ اللَّهِ وَأَنَا بَيْنَ أَظْهُرِكُمْ حَتَّى قَامَ رَجُلٌ وَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلَا أَقْتُلُهُ(رواه النسائ) * Artinya: “Dari Ibnu Wahab, dia berkata: “Rasulullah Saw. bahwa seorang laki-laki mencerai isterinya talak tiga sekaligus semuanya. Maka beliau marah lalu bersabda: “Apakah dia mempermainkan Kitabullah, padahal aku berada diantara kalian, sampai laki-laki itu berkata: “Ya Rasulullah apakah tidak aku bunuh saja dia itu?”(HR Nasa< i> no.3348)-. Tafsir Al-Muni>r (1991:2 / 331) mencatat bahwa sejak zaman Nabi Saw. Abu> Bakar sampai dua tahun masa pemerintahan Umar bahwa talak tiga sekaligus satu ucapan itu jatuh satu saja. Sesudah itu Umar menetapkan bahwa talak tiga sekaligus dala satu ucapan itu jatuh tiga, seperti tercatat dalam hadis berikut: 2689 عَنِ ابْنِ طَاوُسٍ عَنْ أَبِيهِ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ كَانَ الطَّلَاقُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبِي بَكْرٍ وَسَنَتَيْنِ مِنْ خِلَافَةِ عُمَرَ طَلَاقُ الثَّلَاثِ وَاحِدَةً فَقَالَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ إِنَّ النَّاسَ قَدِ اسْتَعْجَلُوا فِي أَمْرٍ قَدْ كَانَتْ لَهُمْ فِيهِ أَنَاةٌ فَلَوْ أَمْضَيْنَاهُ عَلَيْهِمْ فَأَمْضَاهُ عَلَيْهِمْ (رواه مسلم والنسائ 3353)* Artinya: “Dari Ibnu Abba>s, dia berkata: “Talak itu dizaman Nabi Saw., Abu> Bakar dan dua tahun masa pemerintahan ‘Umar talak tiga itu jatuh satu. Maka ‘Umar ibnul Khaththa>b berkata: “Sungguh orang banyak minta dipercepat masalahnya, di sana mereka mempunyai kesabaran, jika aku lewatkan maka aku lewatkan atas mereka”(HR Muslim no.2689 dan Nasa< i>> no.3353). Pemerintah Mesir menetapkan bahwa ucapan talak tiga sekali ucapan itu jatuh hanya satu talak bukan tiga. Pemerintah Indonesia menyerahkannya kepada kebijaksanaan hakim Pengadilan Agama. @ MASALAH NIKAH MUH}ALLIL Suatu pasangan suami isteri yang telah bercerai dengan talak tiga, maka haram hukumnya kedua orang ini untuk rujuk kembali, kecuali jika si isteri telah kawin dengan laki-laki lain dan sudah dicerai serta sudah habis iddahnya, melalui suatu proses yang sangat wajar tanpa ada rekayasa sama sekali . Jika seandainya ada seorang laki-laki yang mengawini perempuan yang sudah dicerai dengan talak tiga tadi , melalui suatu rekayasa atau suatu perencanaan tertentu supaya nantinya kedua janda dan duda tadi dapat rujuk kembali atau dengan perjanjian tertentu dengan bekas suami yang mencerainya dengan talak tiga tersebut , tidak memenuhi persyaratan seperti yang ditetapkan oleh Rasulullah Saw. di atas maka perkawinan itu hukumnya haram . Jika terjadi perkawinan seperti ini maka laki-laki yang kedua dinamakan Muh}allil dan laki-laki yang mencerai isteri dengan talak tiga itu dinamakan Muh}allal lahu. Kedua orang Muh}allil dan Muh}allal lahu yang melakukan perbuatan rekayasa ini benar-benar sangat tercela dan dilaknat oleh Allah bahkan dalam hadis disamakannya dengan seekor kambing hutan pinjaman. 1926 قَال عُقْبَةُ بْنُ عَامِرٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِالتَّيْسِ الْمُسْتَعَارِ قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ هُوَ الْمُحَلِّلُ لَعَنَ اللَّهُ الْمُحَلِّلَ وَالْمُحَلَّلَ لَهُ (رواه ابن ماجه المنير 1991ج2ص331)* Artinya: “ ‘Uqbah ibnu ‘Amir berkata bahwa Rasulullah Saw. bersabda: “Maukah kalian aku beritahu soal kambing liar pinjaman?”. Mereka menjawab: “Baik ya Rasulullah”. Beliau bersabda: “(Kambing liar pinjaman) dia itu ialah laki-laki Muh}allil . Allah melaknat kedua laki-laki Muh}allil dan Muh}allal lahu “(HR Ibnu Ma>jah no.1926-Tafsi>r Al-Muni>r 1991:2 / 331). Dalam adat istiadat Arab Jahiliyyah suami memiliki kekuasaan yang sangat berlebihan terhadap isteri dan keluarganya. Jika dia pandang penting seperti dalam rangka penyelesaian peperangan maka suami dapat saja dengan semena-mena menyerahkan isteri maupun anaknya sekalian diserahkan kepada musuh untuk menjadi sandra atau jaminan politik, sebagaimana pernah terjadi di dalam perang Da>h}is wal Ghabra>` atau perang Fija>r dan Basu>s yang dicatat oleh Maula>>> Bek dalam bukunya Ayya>mul ‘Arab fi>l Ja>hiliyyah (1961:164). Demikian pula dalam soal rumah tangga masyarakat Jahiliyah, maka suami dengan seenaknya sendiri mencerai isteri dan merujuk dia dengan semau-maunya tanpa batas, kalau perlu sampai seratus kali jika dia maui, seperti yang tercatat di dalam riwayat Sababun Nuzu>l Al-Quran S.2 Al-Baqarah 229 di atas. Oleh karena itulah maka Allah berfirman bahwa apakah adat demikian ini akan diteruskan? أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ (الماءدة 50) Artinya: “Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?”(S.5 Al-Ma>idah 50). Menurut Sayyid Quthub dalam kitabnya Jahiliyyatul Qarnil ‘Isyri>n (1078:20) bahwa ayang disebut Jahiliyah itu ialah suatu sikap yang tidak mengenal Allah dan mereka menjauhi petunjuk Allah. Lebih jauh dinyatakan bahwa Jahiliyah itu tidak dibatasi pada suatu bangsa tertentu atau waktu tertentu, sehingga Jahiliyah itu bukan hanya Jahiliyah Arab jaman dahulu, tetapi Jahiliyah itu di mana saja dan kapanpun juga berkembang dalam masyarakat manusia. Oleh karena itu maka adat kebiasaan yang bertentangan dengan Hak Asasi Manusia ini harus dihapus. Berkaitan dengan adat kebiasaan yang demikian inilah maka turunlah Al-Quran S.2 Al-Baqarah 229 di atas yang menetapkan bahwa talak yang dapat dirujuk hanya dua kali saja, sehingga talak yang ke-tiga tidak dapat dirujuk lagi. Ash-Sha>bu>ni> dalam tafsirnya Rawa>i’ul Baya>n (1391H:1 / 325) mencatat bahwa seorang suami atau isteri selama hidup bersama dalam waktu tidak bercerai, maka mereka tidak bisa membayangkan bagaimana susahnya hidup jika suami atau isteri bercerai kemudian hidup sendirian. Maka saat bercerai itulah mereka bisa merasakan benar-benar pengalaman bagaimana susah dan sedih serta sulitnya nasib seorang suami ditinggalkan isteri persis sepertti itu pula bagaimana hidup tanpa suami. Oleh karena itulah maka Allah menurunkan syari’at adanya rujuk, setelah suatu pasangan suami isteri terpaksa mengalami peristiwa percewraian. Alangkah indahnya ajaran Islam itu telah mengatur dan memberi jalan yang sangat didambakan oleh manusia yang sangat manusiawi, sebaliknya di dalam agama lain HARAM rujuk kembali? Dalam situasi bercerai suami dan isteri merupakan suatu pasangan yang ideal akan mengenang dan mengingat terus suka duka yang dahulu dipikul bersama. Tetapi dalam tenggang waktu ketika mereka bercerai, maka kesedihan akan ditanggung sendirian, sehingga hati sangat rindu untuk sesegera mungkin mereka dapat rujuk kembali. Dalam tafsirnya (Juz I: 344) Ash-Sha>bu>ni> menyatakan bahwa dengan rujuk kembali itu berarti ikatan keluarga akan erat mengikat dan menyatu kembali. Untuk ini Allah menetapkan rujuk dua kali saja. Jika terjadi perceraian lagi sesudah rujuk dua kali yaitu talak yang ketiga kalinya, maka Allah melarang keras dan tidak dibolehkan lagi rujuk antara keduanya. Adapun motivasi, mengapa rujuk hanya dibolehkannya dua kali saja, maka menurut Az-Zuh}aili> (1991:2 /334) terkandung suatu rahasia yang sngat dalam, katanya: هُوَ اِعْطَاءُ الْفُرْصَةِ لِاِصْلَاحٍِلِكُلِّ مِنَ الزَّوْجَيْنِ حَالَهُ -لِاَنَّ الْاَوْضَاعَ تُعْرَفُ بِاِضْدَادِهَا فَلَا يَجِدْ اِلْمَرْءِ مِقْدَارَ النِّعْمَةِ وَلَذَّتِهَا حَتَّي يَذُوْقَ طَعْمَ النِّقْمَةِ وَيَشْعُرَ بِمُرَّاتِهَا (المنير 2ص334) Artinya: “(Hikmah adanya talak dan rujuk itu) ialah adanya pemberian kesempatan mawas diri bagaimana perbaikan bagi masing-masing dari suami dan isteri itu. Sebab masalahnya sesuatu tidak dapat dimengerti tanpa membandingkan lawannya. Seseorang tidak dapat mengukur suatu nikmat dan lezatnya suatu hal sebelum dia merasakan sakit dan berulangnya pedih itu”(Al-Muni>r 1991 juz 2 halaman 334). Dalam tenggang waktu antara dua talak dengan dua rujuk, kedua suami-isteri itu diberi kesempatan untuk mawas diri, merenungkan bahwa sesungguhnya seseorang tidak dapat merasakan nikmatnya sesuatu jika tidak dibandingkan dengan rasa sakit dan pedihnya kesusahan dan kesulitan di balik nikmat tadi di sisi lain. Demikian berlaku untuk semua masalah lain yang sifatnya antagonis, seperti: ~ Panasnya air akan terasa oleh seseorang setelah dia merasakan dinginnya air yang dimaksud ~ Suatu jarak yang jauh baru terasa sesudah seserang merasakannya dalam jarak dekat itu ~ Tidak enak akan jelas terasa setelah merasakan enak ~ Nikmatnya kesehatan baru terasa setelah seseorang mengalami sakit ~ Kemudahan akan terasa oleh seseorang sesudah merasakan adanya kesulitan ~ Demikian seterusnya… 2. Kemungkinan rujuk antar suami dengan isteri setelah cerai dari talak tiga Al-Quran S.2 Al-Baqaah 228 menetapkan bahwa suami pertama memang lebih berhak untuk merujuk kembali mantan isterinya itu, yaitu: وَبُعُولَتُهُنَّ أَحَقُّ بِرَدِّهِنَّ فِي ذَلِكَ إِنْ أَرَادُوا إِصْلَاحًا (البقرة 228) Artinya: “Dan suami-suaminya berhak merujukinya dalam masa menanti itu, jika mereka (para suami) itu menghendaki Ishla>h}”(S.2 Al-Baqarah 228) Al-Quran S.2 Al-Baqarah 228 di atas hanya berlaku bagi suami-isteri yang dalam status cerai talak satu dan dua saja, sedangkan khusus untuk talak tiga harus tunduk dibawah hukum ayat 230 Al-Baqarah. Ayat ini menentukan secara singkat menyatakan tidak halal atas suami isteri yang sudah cerai dengan talak tiga. Dan jika isteri kawin dengan laki-laki lain lalu bercerai, maka suami pertama boleh merujuk kembali isterinya tadi. Ketentuan Al-Quran dalam S.2 Al-Baqarah 230 ini lalu diperkuat oleh hadis Nabi Saw. riwayat Bukha>ri> no.4856 di muka. Salah satu syarat untuk dbolehkannya rujuk kembali itu ialah bahwa keduanya harus benar-benar sudah menikmati kelezatan yang paling indah dan bahagianya kehidupan suami isteri dalam kehidupan rumah tangga mereka. Ibnu Katsi>r dalam tafsirnya (1966:1 / 494) menyatakan bahwa suami yang baru atau yang kedua untuk mengawini janda dimaksud itu syaratnya harus didasarkan atas niat yang suci, dengan cinta kasih untuk perkawinan yang sungguh-sungguh untuk selama-lamanya, sebagaimana niat kawin oleh semua orang. Imam Ma>lik menambahkan syarat-syarat bahwa kedua suami isteri baru ini harus sudah bercampur hubungan intim dalam hukum mubah, tidak ketika keadaan haram, tidak saat berpuasa, tidak dalam melakukan iktikaf, tidak dalam keadaan haid atau nifas, tidak waktu ibadah ihram haji atau umrah. Penyusun tafsir Al-Mana>r (tth:1 / 394) menyatakan bahwa Al-Quran S.2 Al-Baqarah 230 tersebut menetapkan dengan jelas bahwa perkawinan janda dengan suami yang baru tadi harus merupakan perkawinan yang sah dan barang siapa yang main-main dengan hukum Allah melalui rekayasa dengan tujuan untuk mengahlalkan janda tersebut bagi suaminya pertama, maka terlaknatlah dia. Rekayasa untuk menghalalkan janda yang diharamkan bagi suami pertama demikian Al-Mana>r menyamakan perbuatan itu persis seperti mencuci darah dengan air kencing, mencuci najisnya darah dengan cairan najisnya kencing. Az-Zuh}aili> dalam kitabnya Al-Fiqhul Isla>mi> (1989:7 / 474) mencatat ada tiga syarat untuk diperbolehkannya suami pertama merujuk kembali isteri yang dicerai dengan talak tiga, yaitu: Isteri itu halal dikawin oleh suami baru itu Nikahnya suami kedua ini harus nikah yang sah, memenuhi segala syarat-syarat, tidak Fa>sid, bukan nikah syubahat, habis iddahnya dengan semourna Suami yang baru ini sudah bersanggama dengan isteri ini sampai puncak klimaksnya. 3. Putusnya perkawinan dengan tebusan Pada dasarnya dalam kehidupan perkawinan, suami maupun isteri harus berusaha bersama-sama menumbuhkan sikap saling melayani masing-masing kepada pasangannya sesuai dengan petunjuk Allah dalam AlQuran: وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا (النساء19 ) Artinya: “Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak”(S.4 An-Nisa>`19). Idealnya suami isteri itu bagaikan pakaian dan perhiasan oleh masing-masing bagi pasangannya itu. Dalam hal Allah berfirman: أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُونَ أَنْفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْ فَالْآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ(البقرة 187) Artinya: “Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan Puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka itu adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi ma`af kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu …”(S.2 Al-Baqarah 187). Manusia itu berbeda dari malaikat, malaikat itu tidak mempunyai nafsu, pekerjaannya tidak lain kecuali melaksanakan perintah Allah. Manusia bukan hanya mempunyai hawa nafsu, bahkan manusia itu cenderung bersifat kikir, pelit, berat sekali merelakan hak miliknya untuk orang lain yang sangat memerlukannya. Allah berfirman di dalam Al-Quran: وَأُحْضِرَتِ الْأَنْفُسُ الشُّحَّ وَإِنْ تُحْسِنُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا (النساء 128) Artinya: “Manusia itu menurut tabiatnya kikir, Dan jika kamu bergaul dengan isterimu secara baik dan memelihara dirimu (dari Nusyu>z dan sikap tak acuh), maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”(S.4 An-Nisa>` 128). Sifat kikir itu mudah menimbulkan kebencian, sedangkan kebencian yang tidak segera mendapat pengobatan, maka dia akan menumbuhkan berbagai macam kesulitan yang makin sulit diatasi. Jika sudah terlalu berat dirasakan oleh salah seorang dari pasangan suami isteri, maka akhirnya yang bersangkutan menuntut putusnya ikatan perkawinan, Jika yang tidak mampu meredam keresahan itu dari pihak suami dan suami memang mempunyai hak mencerai, maka suami tinggal menjatuhkan talak-cerai. Tetapi jika yang tidak kuat menahan perasaan dan ketidak-puasan itu adalah isteri, maka Sayyid Sa>biq dalam kitabnya Fiqhus Sunnah (1969:2 / 294) menyatakan bahwa isteri dibenarkan untuk meminta cerai melalui cara khulu’ sebagai salah satu jalan penyelesaian kepada kesulitan dan kemusykilan yang diderita oleh kaum wanita. Khulu’ ialah suatu cara untuk memutuskan ikatan perkawinan atas permintaan isteri dengan pembayaran tebusan, sebagaimana difaham dari Al-Quran S.2 Al-Baqarah 229 dan hadis Nabi Saw. riwyata Bukhari n0.4868 dalam bab di muka yaitu sebagai berikut (Indonesianya): “Dari Ibnu ‘Abba>s dia berkata: “Isteri Tsa>bit ibnu Qais menghadap Rasulullah Saw. dan berkata: “Wahai Rasulullah sebenarnya aku tidak mencela Tsa>bit agama maupun kelakuannya, tetapi aku tidak kuat menahan kebencianku kepadanya”. Lalu Rasulullah Saw. bertanya: ”Kalau demikian kembalikan kebun itu kepadanya”. Lalu isteri Tsa>bit menjawab: “Baiklah!”(HR Bukha>ri> no.4868) Dan dalam riwayat lain No.4869 tercatat: Lalu Rasulullah Saw. memutuskan ikatan perkawinan antar keduanya. Kata-kata Khulu’ sendiri artinya melepas, di dalam kaitan dengan perceraian ini makna Khulu>’ artinya ialah melepas pakaian yang disebut-sebut dalam Al-Quran S.2 Al-Baqarah 187 bahwa suami itu pakaian bagi isteri dan isteri itu pakaian suami, terurai dimuka. Dengan melepaskan pakaian itu berarti suami bukan pakaian isteri, dan isteri bukanpakaian suami. Para ulama mengaitkan tebusan tu dengan soal maskawin yang dibayar oleh suami kepada isteri, sehingga seakan-akan tebusan itu semacam pengembalian maskawin oleh isteri kepada suami. Lebih dari itu para ulama memperpanjang masalah ini bagaimanakah kedudukan hukumnya jika jumlah tebusan itu lebih besar melebihi nilai atau harga maskawin yang diterima isteri waktu ijab-kabul dahulu>. Walaupun demikian Jumhur ulama membolehkannya. Allah menjelaskan dalam Al-Quran S.2 Al-Baqarah 229, bahwa suami dilarang keras mengambil harta yang pernah diberikan kepada isteri. Sebenarnya mengambil kembali harta itu diperbolehkan dengan syarat bahwa mereka berdua yakin benar-benar akan mentaati hukum-hukum Allah dan tidak akan melanggarnya. Maka suami diperbolehkan menerima kembali harta itu sebagai tebusan untuk menetapak kedudukan hukum putusnya tali ikatan perkawinan mereka berdua. Jadi faktor keyakinan akan lebih mampu mentaati aturan hukum Allah inilah yang menjadi jaminan dipebolehkannya khulu’ itu. Khulu>’ tidak boleh dilakukan rekayasa oleh suami, maka haram hukumnya bagi suami untuk menzalimi isteri dengan maksud agar supaya isterinya menuntut khulu’ dengan membayar tebusan. Allah melarang perbuatan rekayasa ini disebut dalam Al-Quran: يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا يَحِلُّ لَكُمْ أَنْ تَرِثُوا النِّسَاءَ كَرْهًا وَلَا تَعْضُلُوهُنَّ لِتَذْهَبُوا بِبَعْضِ مَا ءَاتَيْتُمُوهُنَّ إِلَّا أَنْ يَأْتِينَ بِفَاحِشَةٍ مُبَيِّنَةٍ وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا (19)وَإِنْ أَرَدْتُمُ اسْتِبْدَالَ زَوْجٍ مَكَانَ زَوْجٍ وَءَاتَيْتُمْ إِحْدَاهُنَّ قِنْطَارًا فَلَا تَأْخُذُوا مِنْهُ شَيْئًا أَتَأْخُذُونَهُ بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا (النساء 19-20) Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata. Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak. Dan jika kamu ingin mengganti isterimu dengan isteri yang lain, sedang kamu telah memberikan kepada seseorang di antara mereka harta yang banyak, maka janganlah kamu mengambil kembali daripadanya barang sedikitpun. Apakah kamu akan mengambilnya kembali dengan jalan tuduhan yang dusta dan dengan (menanggung) dosa yang nyata?”(S.4 An-Nisa>` 19-20). Dengan khulu’ maka Jumhur ulama menyatakan bahwa isteri memperoleh kebebasan menentukan keputusan yang sangat penting bagi dirinya karena dia telah membayar tebusan untuk kebebasan itu. Perlu dicatat disini bahwa difaham dari ayat 229 surat Al-Baqarah di atas, maka khulu’ itu boleh dilakukan waktu isteri ini waktu dalam keadaan suci maupun pada saat dia masih berlangsungnya haid (Sayyid Sa>biq 1969:2 / 300). Lebih mendalam lagi para ulama berbeda pendapat tentang kedudukan hukum khulu’, yaitu: Apakah khulu’ itu statusnya sebagai talak ataukah sebagai fasakh? – Jika khulu’ itu statusnya sebagai talak, maka berlakulah pasal-pasal dalam Hukum Talak atas suami dan isteri, lebih-lebih bagi suami isteri yang sebelumnya sudah pernah cerai dengan talak dua, yaitu: Mereka ini haram melakukan rujuk sesudah khulu’ mereka. Demikian juga masalah iddahnya, yaitu tiga kali haid atau tiga kali suci. (1) Selanjutnya mereka berpendapat bahwa status khulu’ itu termasuk talak dengan alasan bahwa wewenang mencerai itu merupakan hak suami, bukan di tangan isteri. Jika isteri membayar tebusan kemudian masih boleh dirujuk kembali, lalu bagaimana kedudukan tebusan tadi. Maka dari itu status khulu’ itu adalah talak. Demikian catatan Ash-Shan’a>ni> dalam Subulus-Sala>m (1960: 3 / 167). Alasannya ialah hadis Bukha>ri> no. 4967, dari Ibnu ‘Abba>s bahwa Rasulullah Saw. menerima tuntutan isteri Rifa>‘ah dan menetapkan untuk memutuskan ikatan perkawinan dia dari Rifa>‘ah suaminya, sesudah dia mengembalikan kebun pemberian suaminya itu. Jumhur ulama menyatakan bahwa khulu’ itu setatusnya adalah talak dan iddah perempuan itu tiga kali haid. (2) Ibnul Qayyim menyatakan bahwa khulu’ itu bukan talak, sebab dalam khulu’ tidak boleh ada rujuk dan iddah perempuan itu hanya satu kali haid sesuai dengan hadis berikut: 1105 عَنِ الرُّبَيِّعِ بِنْتِ مُعَوِّذِ بْنِ عَفْرَاءَ أَنَّهَا اخْتَلَعَتْ عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَمَرَهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ أُمِرَتْ أَنْ تَعْتَدَّ بِحَيْضَةٍ (رواه الترمذي والنسائ 3441) * Artinya: “Dari Ar-Rabi>’ binti Mu’awwidz ibnu’Afra>` bahwa dia menuntut khulu’ di masa Nabi Saw. Maka Nabi Saw. menyuruh dia (dia disuruh) menjalani iddahnya satu haid saja”(HR Turmudzi>>> CD hadis no. 1105dan Nasa< i> CD No.3441). Ibnu Taimiyah mendukung pendapat bahwa khulu’ itu bukan talak dan iddahnya satu kali haid, yang telah menjadi ijmak para sahabat- sebagaimana dicatat oleh Abu> Ja’far an-Nah}h}a>s dalam kitabnya An-Na>sikh wal Mansu>kh, sejalan dengan pendapat ‘Utsma>n, Ibnu ‘Abba>s, Ah}mad, Ish}a>q ibnu Rahawaih dan Ibnu ‘Umar (Sayyid Sa>biq 1969:2 / 304). ————(16)——— PUTUSNYA PERKAWINAN KARENA SUMPAH ILA><` I. S.2 Al-Baqarah 226-227 لِلَّذِينَ يُؤْلُونَ مِنْ نِسَائِهِمْ تَرَبُّصُ أَرْبَعَةِ أَشْهُرٍ فَإِنْ فَاءُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ(226)وَإِنْ عَزَمُوا الطَّلَاقَ فَإِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ (البقرة 226-227) II. Artinya: “Kepada orang-orang yang meng- Ila>’ isterinya diberi tangguh empat bulan (lamanya). Kemudian jika mereka kembali (kepada isterinya), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan jika mereka ber`azam (bertetap hati untuk) talak, maka sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”(S.2 Al-Baqarah 226-227). III. Tafsir dan analisa A. Pengertian kata-kata = يُؤْلُونَ Mereka bersumpah, maksudnya suami bersumpah tidak akan mendekati isteri dalam jangka waktu selama 4 bulan atau lebih. Cara ini merupakan salah satu adat istiadat masyarakat Arab Jahiliyah = تَرَبُّصُ Masa menunggu, maksudnya ialah supaya suami berpikir-pikir selama masih dalam waktu 4 bulan itu. Jika sebelum habis 4 bulan suami kembali kepada isterinya artinya melanggar sumpahnya, dia wajib membayar tebusan. Jika 4 bulan sudah habis dia tidak mau kembali kepada isterinya, maka terputuslah ikatan perkawinan antar kedua suami isteri tersebut = فَاءُ وا Mereka telah kembali, maksudnya suami kembali kepada isterinya عَزَمُوا = Mereka berniat, maksudnya suami bertekad untuk mencerai isterinya B. Tema dan sari tilawah Sari tilawah atau tema dan kandungan makna ayat 226-227 Al-Baqarah di atas dapat diusun sebagai berikut: 1. Masing-masing suami-isteri wajarlah mempunyai macam-macam perasaan yang tidak terasakan oleh pasangannya. Suami mempunyai perasaan yang tidak dirasakan oleh isterinya. Demikian juga isteripun wajar mempunyai perasaan yang tidak terasakan oleh suami. 2. Perbedaan perasaan ini sering memanas dan memuncak sangat serius nyaris mengganggu kedamaian kehidupan rumah tangga pasangan suami isteri. 3. Disebabkan karena tajamnya perbedaan perasaan itu seringkali timbul sumpah serapah, bahkan mungkin suami bersumpah sangat serius yaitu Sumpah Ila<` bahwa suami tidak sudi lagi mendekati isterinya dalam jangka waktu cukup lama. 4. Kepada suami yang mengucapkan sumpah Sumpah Ila<`, dia diberi kesempatan untuk berpikir dalam-dalam atas sumpahnya itu selama 4 (empat) bulan, pilih kembali atau pilih bercerai. 5. Jika suami memilih kembali lagi rukun dengan isterinya Allah akan mengampuni dia. 6. Jika suami memang bermaksud untuk menceraikan isterinya maka Allah itu Maha Mendengar dan Maha Mengerti. C.Masalah dan analisa Banyak masalah yang muncul dari tema dan kandungan makna ayat di atas, namun yang mendesak untuk ditelusuri pemecahannya ialah sebagai berikut: 1. Bagaimanakah hukum tentang sumpah itu? 2. Bagaimanakah hukum tentang Sumpah Ila<` itu? 3. Bagaimana perbandingan antara talak dengan Fasakh? D. Tinjauan dan pemikiran Al-Quran itu turun dan diterima oleh Rasulullah Saw. ditengah-tengah kaumnya bangsa Arab yang mempunyai adat istiadat kebiasaan Jahiliyah. Dan asalah satu adat kebiasaan masyarakat Arab Jahiliyah itu ialah kesukaan orang laki-laki mengucapkan Sumpah Ila<` terhadap isterinya. Biasanya Sumpah Ila<` ini menurut catatan Al-Qurthubi> (1967:3 / 103), memang dimaksud untuk menyiksa isterinya, sehingga Sumpah Ila<` ini biasanya untuk jangka waktu selama 2 (dua) tahun. Mereka beniat menyiksa itu dengan sungguh-sungguh sampai dengan sumpah agar supaya lebih kuat. Diperhatikan dari sisi sumpahnya itu sendiri, terkesan sangat serius dan akibatnya sangat berat. Olehkarena itu perlu kita telusuri bagaimanakah sesungguhnya Sumpah Ila<` itu. 1.Sumpah dan akibat hukumnya Sumpah ialah suatu kata-kata tertentu yang diucapkan dengan maksud untuk memperkuat suatu pernyataan. Dalam bahasa Arab ada tiga lafal yang menunjukkan arti sumpah, Al-H}ilfu, Al-Qasamu , Al-Yami>n(الحلف-القسم-اليمين) Bagi orang Islam, jika bersumpah harus menggunakan nama Allah, barang siapa yang bersumpah menggunakan selain nama Allah maka dia hukumnya adalah kafir atau musyrik, sebagaimana yang telah ditegaskan oleh Rasulullah Saw. dalam hadis berikut: 3549 عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِي اللَّهم عَنْهمَا عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَلَا مَنْ كَانَ حَالِفًا فَلَا يَحْلِفْ إِلَّا بِاللَّهِ فَكَانَتْ قُرَيْشٌ تَحْلِفُ بِآبَائِهَا فَقَالَ لَا تَحْلِفُوا بِآبَائِكُمْ (رواه البخاري ومسلم 3106)* Artinya: “Dari Ibnu Umar dari Nabi Saw. beliau bersabda: “Awas barang siapa yang bersumpah, maka janganlah dia bersumpah macam-macam kecuali bersumpah dengan nama Allah. Orang-orang Quraisy dulu bersumpah dengan nenk moyangnya. Oleh karena itu janganlah kalian bersumpah dengan nama nenk moyang kalian”(HR Bukha>ri> no.3549 danMuslim no.3106). 1455 عَنْ سَعْدِ بْنِ عُبَيْدَةَ أَنَّ ابْنَ عُمَرَ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ اللَّهِ فَقَدْ كَفَرَ أَوْ أَشْرَكَ (رواه الترمذي وابو داود 2829)* Artinya: “Dari Sa’ad ibnu ‘Ubaidah bahwa Ibnu Umar berkata: “Aku mendengar Rasulullah Saw. bersabda: “Barang siapa bersumpah dengan selain Allah, maka benar-benar dia telah kafir atau musyrik”(HR Turmudzi>>> no.1455 dan Abu> Da>wu>d no.2829). Dalam bait nyanyian-nyanyian orang banyak kita dengar sumpah orang yang tidak beragama Islam mereka bersumpah dengan dewa dan benda-benda di alam, misalnya seperti: “Demi buana dan isinya” “Hong wilaheng sekaring bawono seisi alam menjadi saksi sehidup semati selama-lamanya!!!” Al-Qurthubi> dalam tafsirnya (1967:3 / 103) menyatakan bahwa orang Islam yang bersumpah dengan tidak menyebut nama Allah, maka kedudukannya tidak dinamakan sumpah. Menurut Al-Quran, S.5 Al-Ma>idah 89 barang siapa yang berani melanggar sumpah, maka dia wajib membayar tebusan atau kafa>rat. Tebusan atas pelanggaran sumpah ialah: Memberi makan 10 (sepuluh) orang miskin atau memberi pakaian 10 orang miskin atau memerdekakan seorang budak belian. Jika dia tidak mampu memenuhi tebusan tersebut maka wajib dia berpuasa tiga hari. Hukuman ditetapkan oleh Allah dalam Al-Quran berikut: لَا يُؤَاخِذُكُمُ اللَّهُ بِاللَّغْوِ فِي أَيْمَانِكُمْ وَلَكِنْ يُؤَاخِذُكُمْ بِمَا عَقَّدْتُمُ الْأَيْمَانَ فَكَفَّارَتُهُ إِطْعَامُ عَشَرَةِ مَسَاكِينَ مِنْ أَوْسَطِ مَا تُطْعِمُونَ أَهْلِيكُمْ أَوْ كِسْوَتُهُمْ أَوْ تَحْرِيرُ رَقَبَةٍ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ ذَلِكَ كَفَّارَةُ أَيْمَانِكُمْ إِذَا حَلَفْتُمْ وَاحْفَظُوا أَيْمَانَكُمْ كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ ءَايَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ(الماءدة 89) Artinya: “Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja, maka kaffa>rat (Tebusan pelanggaran) sumpah itu, ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak. Barangsiapa tidak sanggup melakukan yang demikian, maka kaffa>rat-nya puasa selama tiga hari. Yang demikian itu adalah kaffa>rat sumpah-sumpahmu bila kamu bersumpah (dan kamu langgar). Dan jagalah sumpahmu. Demikianlah Allah menerangkan kepadamu hukum-hukum-Nya agar kamu bersyukur (kepada-Nya)(S.5 Al-Ma>idah 89). Di ayat lain Allah melarang keras orang Islam bersumpah dengan nama Allah untuk menipu, yaitu: وَلَا تَتَّخِذُوا أَيْمَانَكُمْ دَخَلًا بَيْنَكُمْ فَتَزِلَّ قَدَمٌ بَعْدَ ثُبُوتِهَا وَتَذُوقُوا السُّوءَ بِمَا صَدَدْتُمْ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَلَكُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ(94)وَلَا تَشْتَرُوا بِعَهْدِ اللَّهِ ثَمَنًا قَلِيلًا إِنَّمَا عِنْدَ اللَّهِ هُوَ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ(النحل 94-95) Artinya: “Dan janganlah kamu jadikan sumpah-sumpahmu sebagai alat penipu di antaramu, yang menyebabkan tergelincir kaki (mu) sesudah kokoh tegaknya, dan kamu rasakan kemelaratan (di dunia) karena kamu menghalangi (manusia) dari jalan Allah: dan bagimu azab yang besar. Dan janganlah kamu tukar perjanjianmu dengan Allah dengan harga yang sedikit (murah), sesungguhnya apa yang ada di sisi Allah, itulah yang lebih baik bagimu jika kamu mengetahui”(S.16 An-Nah}l 94-95). 2.Hukum sumpah Ila<` Sumpah Ila<` ialah sumpah suami bahwa dia tidak akan mendekati isterinya untuk waktu empat bulan atau lebih. Umpamanya seorang suami mengucapkan sumpah kepada isterinya sebagai berikut: “Demi Allah aku tidak akan mendekati kamu” (Ash-Sha>bu>ni> tth:1 / 312) Dalam pepatah Jawa terdapat pameo: Dhadhiyo setan ra doyan dhadhiyo demit ora ndulit. Artinya: Jika isteri menjadi setan maka suami tidak mau menerima, jika menjadi jin-jahat suami tidak akan menyentuh. Jika seorang suami menucapkan sumpah tidak akan menggauli isterinya, maka dipersilahkan kepada isteri untuk menunggu sampai 4 bulan. Jika tenggang waktu 4 bulan itu sudah habis, suami harus memilih kembali kepada isterinya atau menjatuhkan talak cerai atas isterinya. Jika suami tidak mau kembali kepada isterinya, maka dia bisa menuntut kepada hakim untuk memutuskan ikatan perkawinan mereka dengan fasakh. (1) Imam Ma>lik, Sya>fi’i> dan Ah}mad menyatakan bahwa sebenarnya putusnya perkawinan tidak cukup hanya dengan habisnya waktu 4 bulan itu saja. Oleh karena itu suami dipersilahkan untuk mengambil satu alternatif memilih kembali kepada isteri ataukah bercerai dengan cara talak. Jika suami menolak untuk menjatuhkan talak, maka hakim pegadilan menetapkan putusnya perkawinan tersebut (Ash-Sha>bu>ni> tth:1 / 313). Bunyi ayat: “wa in ‘azamu>th thala>qa وان عزموا الطلاق) ) maknanya ialah suami harus menyatakan talak itu dengan suatu ucapan. Dan penetapan putusnya perkawinan oleh hakim bukan dari suami, maka hukumnya adalah Fasakh, bukan talak. (2) Abu> H}ani>fah menyatakan bahwa lewatnya tenggang waktu 4 bulan itu sendiri sudah menjadi batas berakhir dan putusnya perkawinan yang secara otomatis talak itu jatuh dari suami atas isteri. Alasannya ialah bahwa lewatnya batas waktu 4 bulan itu sudah cukup menjadi batas yang otomatis menjadi faktor jatuhnya talak suami terhadap isteri. Soalnya ialah bahwa sikap penolakan suami dan tidak sudi merujuk kembali isterinya itu sendiri membuktikan bahwa suami sudah berniat menjatuhkan talaknya dan bisa dimasukkan ke dalam makna bunyi nash عزموا الطلاق (‘Azamu>th thala>qa) artinya mereka sudah bertekad atau berniat, yaitu berniat untuk mencerai. Soal tenggang waktu 4 bulan, maka menurut Az-Zuh}aili>, Al-Qurthubi>, Al-Qa>simi>, Ash-Sha>bu>ni>, Ibnu Katsi>r semua mencatat dan menunjuk hadis riwayat Muwaththa` dari Abdulla>h ibnu Dina>r tentang tanya jawab ‘Umar dengan putrinya, masalahnya ialah: Berapa lama seorang isteri kuat menahan kesabaran kerinduannya jika ditinggal suami? Maka H}afshah menjawab bahwa kemampuan isteri kuat menahan kerinduannya jika ditinggal suami maksimal ialah 4 (empat) bulan saja. 3. Perbedaan hukum talak dengan fasakh Jika suatu perkawinan terjadi dengan cara tidak wajar, sehingga timbul hal-hal yang bertentangan dengan aturan hukum, maka pihak yang dirugikan berhak mengajukan tuntutan fasakh atau pembatalan perkawinan antar kedua pasangan tersebut kepada Pengadilan, dalam hal ini oleh Pengadilan Agama. Tuntutan fasakh atau pembatalan perkawinan dapat diajukan terhadap suatu perkawinan yang tidak wajar dalam arti tidak memenuhi syarat-rukunnya nikah. Perkawinan yang tidak memenuhi syarat-syarat aturna hukum Al-Quran, hadis ketentuan hasil ijtihad para ulama, maka nikah itu disebut dengan nikah Fa>sid artinya perkawinan itu rusak. Sayyid Sa>biq dalam kitabnya Fiqhus Sunnah (1969:2 / 315) mencatat ada dua macam nikah Fa>sid itu, yakni: Nikah Fa>sid yang pembatalannya memerlukan keputusan Pengadilan, yaitu suatu perkawinan Fa>sid yang bukti tidak dipenuhinya syarat pernikahan itu tidak jelas, sehingga diperlukan pembuktian itu melalui sidang pengadilan. Nikah Fa>sid yang pembatalannya tidak memerlukan keputusan pengadilan, yaitu suatu nikah Fa>sid yang bukti tidak terpenuhinya syarat-rukun nikah tersebut sudah jelas, misalnya perkawinan antar saudara sendiri, kakak beradik. Pembatalan terhadap perkawinan mereka berdua itu cukup mereka sendiri membubarkan diri saja, sesudah jelas buktinya. Az-Zuh}aili> dalam Al-Fiqhul Isla>mi> (1989:7 / 109) menguraikan masalah nikah Fa>sid ini dengan sangat rinci dari masing-masing aliran madzhab H}anafi>, Ma>liki, Sya>fi’I dan H}anbali>, yaitu nikah Fa>sid dan atau nikah yang batal ialah: (1) Nikah tanpa saksi. (2) Nikah sementara. (3) Kawin dengan lima isteri dalam satu waktu (satu periode). (4) Nikah bermadu dua orang bersaudara kakak beradik. (5) Nikah bermadu dua perempuan keponakan dengan bibinya (saudara bapak atau saudara ibunya). (6) Nikah dengan seorang perempuan yang masih dalam keadaan bersuami. (7) Nikah dengan seorang perempuan yang haram dinikah. (8) Nikah Syigha>r. (9) Nikah Mut’ah (10) Nikah Muh}allil (11) Nikah dengan seorang permpuan yang sedang dalam keadaan iddah cerai (12) Nikah dengan seorang perempuan kafir atau murtad (13) Nikah dengan seorang perempuan yang sedang dilamar laki-laki lain (14) Nikah tanpa wali No.1-14 di atas adalah pernikahan yang tidak memenuhi syarat-rukun nikah dalam peraturan perundang-undangan syari’at Islam. Adapun perbedaan antara talak dengan fasakh, dapat diamati sebagai berikut: No. ! Permasalahan ! Talak ! Fasakh . 1. ! Pengertian ! Menghentikan akad nikah ! Nikah tidak sah sejak awalnya 2. ! Hukum halal ! Hukum halal tidak hilang ! Tidak halal sudak sejak awal ! !(kecuali talak III&T.Ba`in) ! 3. ! Penyebab !Niat untuk perbaikan hidup ! Sebab ada yang datang tiba-2 ! ! ! ada sebab sebelum nikah 4 !Akibathukum !Mengurangi haktalaksuami !Tidak mengurangi juml. Talak ! !Dalam iddah ia bisa ditalak !Tak dpt dijatuhi talak saat itu ! !Belum campur dpt.1/2mahar!Blm campur tidak dpt. mahar 5. !Lainlain !Talak itu datang dari suami ! Fasakh dari tuntutan isteri ! !Tegas-tegas dengan ucapan !Sebabnya karena nikah Fa>sid ! ! !Sebabnya Sumpah Ila> li’a>>n, ! ! !suami cacat , Ada beberapa perbedaan antara talak dengan fasakh, yaitu : A. Talak 1.Talak adalah suatu perbuatan hukum memutus ikatan perkawinan 2.Hukum halal tidak hilang sebelum jatuhnya talak tiga atau talak ba`in kubra 3.Talak dijatuhkan karena pihak yang yang dirugikan sudah tidak mampu menahan kesabarannya, sehingga perlu dijatuhkan talak demi untuk mencari kehidupan yang lebih baik lagi 4.Talak itu mengurangi hak suami atas jumlah talak dan jika sudah talak-tiga, maka suami sudah tidak mungkin merujuk kembali isteri 5. Dalam masa iddah maka suami bisa menjatuhkan talak 6. Jika talak dijatuhkan dalam keadaan belum campur, maka isteri berhak atas separuh maskawin 7. Talak itu adalah hak suami 8. Talak harus ducapkan dengan kata-kata dengan istilah tertentu B. Fasakh 1. Fasakh itu sudah batal dan tidak sah sejak awal 2. Tidak halalnya perkawinan itu sudah ada sebelum perkawinan(kecuali murtad) 3. Fasakh itu mungkin bisa terjadi karena dua sebab: a) Sebab sudah ada jak awal. b) Sebab itu mungkin juga datang tiba-tiba, misalnya: ~ Suami atau isteri murtad keluar dari agama Islam, sehingga timbul hukumnya perkawinan itu haram ~Cacat hukum yang dapat menyebabkan tidak dapat dipatuhinya hukum perkawinan, terungkapnya gubungan darah terlalu dekat dan cacat lain 4. Fasakh tidak mengurangi hak suami untuk menjatuhkan talak 5. Dalam masa iddah isteri tidak dapat dijatuhi talak 6..Sebelum bercampur, dengan fasakh isteri tidak brhak atas mahar 7.Fasakh adalah putusnya perkawinan atas dasar tuntutan dari isteri 8.Menurut Sya>fi’i> fasakh itu sebabnya karena timbulnya masalah dari suami lemah, suami berpoligami dua saudara kakak beradik, isteri lebih dari empat, dekatnya hubungan darah yang mengharamkan kawin tersebut 9.Imam Ah}mad mengatakan bahwa fasakh itu karena terjadinya Sumpah Ila>`, sumpah Li’a>n atau cacat. Di dalam pasal 113-162 Kompilasi Hukum Islam-Impres no.1 th.1991 ditetapkan bahwa semua usaha untuk memutuskan ikatan perkawinan baik oleh suami maupun oleh isteri harus diajukan ke sidang Pengadilan dalam hal ini Pengadilan Agama. —————–(17)——————- PUTUSNYA PERKAWINAN KARENA SUMPAH LI’A>>N I. S.24 An-Nu>r 5-10 وَالَّذِينَ يَرْمُونَ أَزْوَاجَهُمْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُمْ شُهَدَاءُ إِلَّا أَنْفُسُهُمْ فَشَهَادَةُ أَحَدِهِمْ أَرْبَعُ شَهَادَاتٍ بِاللَّهِ إِنَّهُ لَمِنَ الصَّادِقِينَ(6)وَالْخَامِسَةُ أَنَّ لَعْنَةَ اللَّهِ عَلَيْهِ إِنْ كَانَ مِنَ الْكَاذِبِينَ(7)وَيَدْرَأُ عَنْهَا الْعَذَابَ أَنْ تَشْهَدَ أَرْبَعَ شَهَادَاتٍ بِاللَّهِ إِنَّهُ لَمِنَ الْكَاذِبِينَ(8)وَالْخَامِسَةَ أَنَّ غَضَبَ اللَّهِ عَلَيْهَا إِنْ كَانَ مِنَ الصَّادِقِينَ(9)وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ وَأَنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ حَكِيمٌ (النور 10) II. Artinya: “Dan orang-orang yang menuduh isterinya (berzina), padahal mereka tidak ada mempunyai saksi-saksi selain diri mereka sendiri, maka persaksian orang itu ialah empat kali bersumpah dengan nama Allah, sesungguhnya dia adalah termasuk orang-orang yang benar”(6) “Dan (sumpah) yang kelima: bahwa la`nat Allah atasnya, jika dia termasuk orang-orang yang berdusta”(7) Isterinya itu dihindarkan dari hukuman oleh sumpahnya empat kali atas nama Allah sesungguhnya suaminya itu benar-benar termasuk orang-orang yang dusta, dan (sumpah) yang kelima: bahwa la`nat Allah atasnya jika suaminya itu termasuk orang-orang yang benar”(8) “ Dan andaikata tidak ada kurnia Allah dan rahmat-Nya atas dirimu dan”(9). (andaikata) Allah bukan Penerima Taubat lagi Maha Bijaksana, (niscaya kamu akan mengalami kesulitan-kesulitan)” (S.24 An-Nu>r 6-10). III. Tafsir dan analisa A. Pengertian kata-kata = يَرْمُونَ Mereka menuduh, maksudnya mereka menuduh zina = أَزْوَاجَهُمْ Isteri-isteri mereka, maksudnya mereka menuduh isterinya berzina = شُهَدَاءُ Para saksi, menurut Ar-Ra>ghib dalam Mufarada>t (tth:275) asal kata lafal ini dari Syahida شهد-يشهد (Syahida-Yasyhadu) memiliki arti hadir sekaligus menyaksikan. Dalam bahasa Indonesia saksi itu mengandung makna bahwa orang yang menjadi saksi itu berani disumpah dimuka sidang pengadilan. = إِلَّا أَنْفُسُهُمْ Kecuali diri-diri mereka, maksudnya suami menyaksikan sendiri, tidak ada saksi lain = شَهَادَاتٍ Persaksian, maksudnya ialah sumpah sebanyak empat kali sebagai ganti dari 4 orang yang menjadi saksi = ‎ الصَّادِقِين Orang-orang yang jujur, maksudnya ucapannya betul tidak palsu = لَعْنَةَ اللَّهِ عَلَيْهِ nat Allah atasnya, maksudnya ialah memperkuat kebenaran pernyataan dirinya = يَدْرَأُ عَنْهَا menahan diri dari sesuatu atau menolak sesuatu, maksudnya isteri bisa menolak tuduhan atas dirinya sekaligus menyelamatkan diri dari hukuman zina berupa hukum cambuk dan rajam. Lafal ذرأ-يذرؤ (Dzara`a- Yadzra`u) artinya ialah cenderung. Jika dikaitkkan dengan ‘Anha> ( عنها) artinya menolak atau mermpertahankan diri dari tuduhan zina atas dirinya. غَضَبَ اللَّهِ = Murka Allah, = فَضْلُ اللَّهِ Anugerah, keutamaan atau kelebihan dari Allah B. Latar belakang turunnya ayat Pada suatu hari Hila>l ibnu Umayyah mengadukan kepada Nabi saw. bahwa isterinya berzina dengan seorang laki-laki Syuraik ibnu Samha>` namanya. Maka beliau mengancam Hila>l akan menerapkan hukum cambuk atau jilid aias dirinya jika dia tidak membawa bukti. Hila>l menyatakan tidak mungkin membawa saksi untuk tuduhannya itu walaupun dia sangat yakin kebnenaran tuduhannya itu. Maka dia memohon agar supaya Allah memberikan keputusan yang dapat menyelamatkan dirinya dari hukuman jilid itu. Kemudiaan turunlah Al-Quran S.24 An-Nu>r 6-10 di atas bahwa saksi dimaksud dapat diganti dengan 4 kali sumpah, yaitu sumpah Li’a>n (HR. Bukha>ri> hadis no.4378- Ash-Sha>bu>ni> tth:2 / 81). Dalam riwayat Bukha>ri> yang lain tercatat dalam no.4377, dijelaskan bahwa ada seseorang telah bertanya kepada Rasulullah Saw. mengenai perkara seorang suami melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa isterinya ditiduri laki-laki lain,ditanyakan bolehkah laki-laki yang meniduri isterinya itu dibunuh atau tindakan apa yang harus dilakukan. Kemudian turun Al-Quran S. 24 An-Nu>r 6-10 bahwa dia wajib bersumpah Li’a>n. Sedangkan pihak isteri bisa menolak tuduhan atau hukuman rajam dengan mengucapkan sumpah Li’a>n. Selanjutnya kedua orang suami isteri tadi harus cerai. Adapun anak yang lahir kemudian, maka dia dinasabkan kepad ibunya. Demikian juga antara anak dengan ibunya berlaku hukum waris, ibu dan anak saling mewaris, lepas sama sekali dan tidak ada hubungan sama sekali antara anak dengan suami yang sudah mengucapkan sumpah Li’a>n tersebut. Menurut riwayat Ah}mad (hadis no.2024) Hila>l melihat sendiri dengan mata kepala dan mendengar dengan telinganya terhadap perbuatan zina isterinya itu dan Rasulullah Saw. menerapkan sumpah Li’a>n terhadap Hila>l yang menuduh isterinya dan isterinya yang dituduh berzina. Kemudian beliau memutuskan cerai antar keduanya. Sesudah itu beliau melarang keras siapa saja bermudah-mudah menuduh zina kepada siapa saja, terhadap si ibu sebagai pezina dan anak sebagai anak zina. Beliau mengancam siapa saja yang berani menuduh seseorang berzina maka dia akan dihukum jilid sesuai dengan hukum Al-Quran terusebut di atas. Sesudah itu ternyata bayi yang lahir dari kandungan si isteri tadi tampak rupanya sangat mirip dengan Syuraik, jauh berbeda dari Hila>l. Riwayat yang senada dikutip oleh As-Suyu>thi> dalam Ad-Durrul Mantsu>r riwayat Ibnu Abi> H}a>tim (1983:6 / 137-138). C. Tema dan sari tilawah Tema dan kandungan makna S.24 An-Nu>r 6-10 tersebut di atas dapat dirangkum sebagai berikut: 1. Orang yang menuduh orang lain berzina maka dia wajib mendatangkan 4 (empat) orang saksi. 2. Seorang suami yang menuduh isterinya berzina maka wajib dia mendatangkan 4 orang saksi juga 3. Jika suami menuduh isterinya berzina, tetapi tidak mendatangkan 4 orang saksi maka dia wajib mengucapkan sumpah Li’a>n, sebagai gantinya 4 orang saksi 4. Sumpah Li’a>n yaitu ucapan sumpah sebanyak 4 kali bahwa tuduhannya itu memang benar. Lalu memohon laknat Allah jika tuduhannya itu tidak benar 5. Seorang isteri yang dituduh berzina dapat menolak tuduhan zina itu dengan mengucapkan sumpah Li’a>n juga yang menyatakan bahwa tuduhan suaminya itu tidak benar. Lalu berdo’a memohon murka Allah jika tuduhan suaminya itu benar 6. Allah itu Maha besar kurnia dan rahmat, Maha Bijaksana D. Masalah dan analisa Dari tema dan kandungan makna ayat tersebut di atas sebenarnya banyak masalah yang perlu mendapat perhatian, bagaimana jawaban atau pemecahannya. Untuk sementara masalah yang mendesak ialah soal berikut 1. Bagaimanakah syarat-syarat saksi dalam perkara tuduh-menuduh zinaitu? 2. Bagaimanakah rincian hukum sumpah Li’a>n itu 3. Bagaimana akibat hukum dari sumpah Li’a>n? E. Tinjauan dan pemikiran Seluruh agama di dunia ini jelas melarang perbuatan zina. Hukum peradaban manusia menganggap perkawinan itu harus dilakukan dengan adab yang sopan. Dan manusia yang mempunyai kebudayaan yang tinggi menentang keras dan melaknat perbuatan zina itu. Oleh karena itu maka soal zina menjadi sangat sensitip sekali dan orang yang beradab perasaannya akan sangat peka, yang bersangkutan akan sangat mudah sekali tersinggung perasaannya jika dia dikait-kaitkan dengan perkara zina ini. Berhubung dengan sangat jeleknya maka Allah menetapkan hukuman yang benar-benar sangat berat terhadap pelaku zina itu, menurut Al-Quran S.24 An-Nu>r 2, yaitu: @ Untuk pelaku zina bujangan,dihukum 100 jilid. @ Untuk pelaku yang bukan bujangan, yaitu pelaku yang sudah kawin hukumannya dirajam dengan lemparan batu sampai mati (menurut Al-Quran S.24 An-Nu>r 2 dan hadis Muslim hadis no.3199). @ Terhadap orang yang menuduh zina tetapi tidak membawa 4 orang saksi, maka dia dihukum 80 jilid (S.24 An-Nu>r 4). Bagi mereka yang terlibat perkara zina ini hatinya sangat tersiksa, tetapi untuk melaksanakan hukuman zina ini sangat sulit, sebab di sana masih memerlukan syarat-syarat yang sangat sulit untuk dipenuhi, termasuk apa yang dimaksud dengan definisi zina, subyek pelaku zina, saksi-saksi yang dapat membuktikan terjadinya perbuatan zina ini. 1. Syarat-syarat dalam jarimah menuduh zina a. Pengertian zina ~Al-Qurthubi> dalam Al-Ja>mi’ li Ah}ka>mil Qura>n (1967:12 / 159) menyatakan bahwa yang dinamakan zina itu ialah memasukkan zakar atau penis ke dalam farji atau vagina yang haram menurut syara’. ~Dalam hadis riwayat Abu> Da>wu>d no.3843 tercatat pertanyaan Rasulullah Saw. kepada Ma>‘iz ibnu Ma>lik al-Aslami: “Tahukah kamu apa yang disebut zina itu?” Jawab Ma>>’iz: “Zina itu ialah perbuatan haram terhadap seorang perempuan seperti apa yang halal bagi suami isteri. ~ Ibnu Rusyd dalam Bida>yatul Mujtahid (1950: 2 / 433) menyatakan definisi zina yang telah disepakati para ulama ialah: Zina ialah jimak di luar nikah yang sah dan bukan nikah syubhat serta bukan oleh tuan terhadap budaknya. Hukuman atas pelaku zina ataupun orang yang menuduh zina itu terlalu berat, maka untuk melakukan proses atau hukum acara peradilan untuk penerapan hukum perkara inipun sangat ketat sekali. Oleh karena soal aksi itu sangat menentukan putusan hukum atas orang yang dituduh atau orang yang menuduh, maka diperlukan syarat-syarat saksi yang betul-betul meyakinkan. Ash-Sha>bu>ni> dalam Rawa>i’ul Baya>n (tth:2 / 46) mencatat soal syarat-syarat saksi itu ialah sebagai berikut: 1) Saksi itu harus 4 orang (S.4 An-Nisa>` 15) 2) Saksi itu orang laki-laki (S,24 An-Nu>r 4) 3) Saksi itu sangat tepercaya (‘adil) (S.65 Ath-Thala>q 2). Jika perlu sasi itu diuji lebih dahulu (S.49 Al-H}ujura>t 6). 4) Saksi itu beragama Islam, telah dewasa dan berakal sehat 5) Saksi itu benar-benar sangat yakin sekali bahwa penis atau zakar laki-laki pezina itu memang sudah masuk ke dalam farji atau vagina pereempuan pezina tersebut, persis seperti timba masuk kedalam air sumur atau fulpen masuk kedalam botol tinta. 6) Anggota sidang peradilan sepakat bahwa 4 orang saksi itu cocok persis atas apa yang mereka saksikan yang terjadi pada saat yang sama atas obyek sasaran yang sama. Jika di dalam sidang itu terdapat perbedaan atau ketidak-sesuaian atas persaksian tersebut maka kesaksian mereka itu tertolak dan putusan tidak dapat dijatuhkan atas terdakwa. Ketentuan diatas didasarkan atas nash Al-Quran dan hadis berikut: وَاللَّاتِي يَأْتِينَ الْفَاحِشَةَ مِنْ نِسَائِكُمْ فَاسْتَشْهِدُوا عَلَيْهِنَّ أَرْبَعَةً مِنْكُمْ فَإِنْ شَهِدُوا فَأَمْسِكُوهُنَّ فِي الْبُيُوتِ حَتَّى يَتَوَفَّاهُنَّ الْمَوْتُ أَوْ يَجْعَلَ اللَّهُ لَهُنَّ سَبِيلًا(النساء 15) Artinya: “Dan (terhadap) para wanita yang mengerjakan perbuatan keji, hendaklah ada empat orang saksi diantara kamu (yang menyaksikannya). Kemudian apabila mereka telah memberi persaksian, maka kurunglah mereka (wanita-wanita itu) dalam rumah sampai mereka menemui ajalnya, atau sampai Allah memberi jalan yang lain kepadanya”(S.4 An-Nisa>` 15) وَالَّذِينَ يَرْمُونَ الْمُحْصَنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَأْتُوا بِأَرْبَعَةِ شُهَدَاءَ فَاجْلِدُوهُمْ ثَمَانِينَ جَلْدَةً وَلَا تَقْبَلُوا لَهُمْ شَهَادَةً أَبَدًا وَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ (النور 4) Artinya: “Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik”(S.24 An-Nu>r 4). فإِذَا بَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَأَمْسِكُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ أَوْ فَارِقُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ وَأَشْهِدُوا ذَوَيْ عَدْلٍ مِنْكُمْ وَأَقِيمُوا الشَّهَادَةَ لِلَّهِ ذَلِكُمْ يُوعَظُ بِهِ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا(الطلاق2) Artinya: “Apabila mereka telah mendekati akhir iddahnya, maka rujukilah mereka dengan baik atau lepaskanlah mereka dengan baik dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu dan hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu karena Allah. Demikianlah diberi pengajaran dengan itu orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat. Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar”(S.65 Ath-Thala>q 2) يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَأٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ (الحجرات 6) Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”(S.49 Al-H}ujura>t 6) 1344 عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ادْرَءُوا الْحُدُودَ عَنِ الْمُسْلِمِينَ مَا اسْتَطَعْتُمْ فَإِنْ كَانَ لَهُ مَخْرَجٌ فَخَلُّوا سَبِيلَهُ فَإِنَّ الْإِمَامَ أَنْ يُخْطِئَ فِي الْعَفْوِ خَيْرٌ مِنْ أَنْ يُخْطِئَ فِي الْعُقُوبَةِ (رواه الترمذي)* Artinya: “Dari ‘A>isyah dia berkata: “Rasulullah Saw. bersabda: “bebaskan hukuman H}udu>d dari kaum muslimin sedapat-dapatnya. Jika di sana ada jalan keluar maka berikanlah kesempatan itu. Sungguh kelirunya pimpinan dalam memberi maaf itu adalah lebih baik dari pada keliru dalam penetapan hukuman” (HR Turmudzi>>> no.1344) 189 حَدَّثَنَا الْأَوْزَاعِيُّ قَالَ أُنْبِئْتُ أَنَّهُ كَانَ يُقَالُ وَيْلٌ لِلْمُتَفَقِّهِينَ لِغَيْرِ الْعِبَادَةِ وَالْمُسْتَحِلِّينَ لِلْحُرُمَاتِ بِالشُّبُهَاتِ (رواه الدارمي) * Artinya: “Al-Auza>‘i> memberitakan kepada kita berkata: “Aku diberitahu bahwa ada pameo: Celakalah orang yang memperdalam sesuatu di luar ibadah dan orang-orang menghalalkan barang haram karena syubhat”(Da>rimi> no.189). Lebih rinci lagi Az-Zuh}aili> menulis dalam Al-Fiqhul Isla>mi> (1989:6 / 47) bahwa khusus untuk pradilan perkara perzinaan saksi itu harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: 1) Jumlahnya 4 (empat) orang (S.4 An-Nisa>` 15, S.24 An-Nu>r 6 dan 13) 2) Mampu bertanggung jawab, yaitu balig dan berakal sehat 3) Jenis kelamin laki-laki dan wanita tidak dapat menjadi saksi perkara zina 4) Tepercaya (“adil” dalam istilah Ilmu Hadis). Orang fasik tidak dapat mejadi saksi. Orang yang tidak jelas identitasnya tidak bisa menjadi saksi 5) Orang merdeka sedangkan budak belian tidak dapat menjadi saksi 6) Beragama Islam 7) Data dari sumber primer langsung tanpa perantara melihat atau sangat yakin bahwa penis laki-laki pezina itu memang masuk ke dalam vagina perempuan pezina 8) Para saksi bersatu pendapat atas satu fakta, satu tempat, satu waktu dalam persaksian di muka sidang pengadilan 9) Saksi hadir bersama-sama dalam satu kesaksian di Pengadilan 10)Saksi tidak berubah daya kemampuannya sampai saat terlaksananya vonis hukuman. Syarat 4 orang saksi tersebut di atas dapat ditutup atau dicukupi oleh pengakuan terdakwa melalui suatu pernyataan yang memenuhi syarat dapat dipercaya, sesuai dengan kisah Ma>’iz al-Aslami> dan Ghami>diyah berikut: 3208 حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ مَاعِزَ بْنَ مَالِكٍ الْأَسْلَمِيَّ أَتَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي قَدْ ظَلَمْتُ نَفْسِي وَزَنَيْتُ وَإِنِّي أُرِيدُ أَنْ تُطَهِّرَنِي فَرَدَّهُ فَلَمَّا كَانَ مِنَ الْغَدِ أَتَاهُ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي قَدْ زَنَيْتُ فَرَدَّهُ الثَّانِيَةَ فَأَرْسَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى قَوْمِهِ فَقَالَ أَتَعْلَمُونَ بِعَقْلِهِ بَأْسًا تُنْكِرُونَ مِنْهُ شَيْئًا فَقَالُوا مَا نَعْلَمُهُ إِلَّا وَفِيَّ الْعَقْلِ مِنْ صَالِحِينَا فِيمَا نُرَى فَأَتَاهُ الثَّالِثَةَ فَأَرْسَلَ إِلَيْهِمْ أَيْضًا فَسَأَلَ عَنْهُ فَأَخْبَرُوهُ أَنَّهُ لَا بَأْسَ بِهِ وَلَا بِعَقْلِهِ فَلَمَّا كَانَ الرَّابِعَةَ حَفَرَ لَهُ حُفْرَةً ثُمَّ أَمَرَ بِهِ فَرُجِمَ قَالَ فَجَاءَتِ الْغَامِدِيَّةُ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي قَدْ زَنَيْتُ فَطَهِّرْنِي وَإِنَّهُ رَدَّهَا فَلَمَّا كَانَ الْغَدُ قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ لِمَ تَرُدُّنِي لَعَلَّكَ أَنْ تَرُدَّنِي كَمَا رَدَدْتَ مَاعِزًا فَوَاللَّهِ إِنِّي لَحُبْلَى قَالَ إِمَّا لَا فَاذْهَبِي حَتَّى تَلِدِي فَلَمَّا وَلَدَتْ أَتَتْهُ بِالصَّبِيِّ فِي خِرْقَةٍ قَالَتْ هَذَا قَدْ وَلَدْتُهُ قَالَ اذْهَبِي فَأَرْضِعِيهِ حَتَّى تَفْطِمِيهِ فَلَمَّا فَطَمَتْهُ أَتَتْهُ بِالصَّبِيِّ فِي يَدِهِ كِسْرَةُ خُبْزٍ فَقَالَتْ هَذَا يَا نَبِيَّ اللَّهِ قَدْ فَطَمْتُهُ وَقَدْ أَكَلَ الطَّعَامَ فَدَفَعَ الصَّبِيَّ إِلَى رَجُلٍ مِنَ الْمُسْلِمِينَ ثُمَّ أَمَرَ بِهَا فَحُفِرَ لَهَا إِلَى صَدْرِهَا وَأَمَرَ النَّاسَ فَرَجَمُوهَا فَيُقْبِلُ خَالِدُ بْنُ الْوَلِيدِ بِحَجَرٍ فَرَمَى رَأْسَهَا فَتَنَضَّحَ الدَّمُ عَلَى وَجْهِ خَالِدٍ فَسَبَّهَا فَسَمِعَ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَبَّهُ إِيَّاهَا فَقَالَ مَهْلًا يَا خَالِدُ فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَقَدْ تَابَتْ تَوْبَةً لَوْ تَابَهَا صَاحِبُ مَكْسٍ لَغُفِرَ لَهُ ثُمَّ أَمَرَ بِهَا فَصَلَّى عَلَيْهَا وَدُفِنَتْ (رواه مسلم وابوداود 3853)* Artinya: “Dari ‘Abdulla>h ibnu Buraidah dari bapaknya dia mengatakan bahwa Ma>‘iz ibnu Ma>lik al Aslami> datang menghadap Rasulullah Saw. dia berkata: “Ya Rasulullah aku telah menganiaya diriku, aku telah berzina; Dan aku ingin tuan membersihkan diriku” Namun beliau menolaknya. Pada hari esoknya, Ma>‘iz datang menghadap lagi kepada Rasulullah Saw. dan berkata: “Ya Rasulullah aku telah berzina” Maka beliau menolak Ma>‘iz itu lagi yang kedua kalinya. Kemudian Rasulu>llah Saw. mengirim utusan kepada orang-orangnya Ma>‘iz untuk, mempermasalahkan apakah ada sesuatu yang musykil atas akal Ma>‘iz. Mereka menyatakan “Tidak ada masalah tentang Ma>‘iz, bahkan dia adalah orang yang sangat baik akal logikanya di antara kami sepanjang yang kami ketahui” . Lalu Ma>‘iz datang lagi menhadap Rasulullah Saw. yang ketiga kalinya. Dan beliau mengutus lagi utusan untuk mempersoalkan dia. Dan beliaupun mempertanyakan soal Ma>‘iz dan beliau dijawab bahwa tidak ada masalah tentang diri Ma>‘iz dan akalnya. Ketika dia menghadap yang ke-empat kalinya, maka digalilah suatu lubang, lalu beliau perintahkan dan dia dirajam. Kemudian datang pula Ghami>diyah menghadap dan berkata: “Ya Rasulullah sungguh aku telah berzina, maka bersihkanlah aku” Dia mengulang-ulangnya. Pada pagi esoknya perempuan itu bertanya: “Apa sebab tuan menolak ucapanku. Kiranya tuan menolak aku seperti halnya tuan menolak Ma>‘iz. Demi Allah aku ini hamil”. Beliau bersabda: “Jika tidak silahkan datang ke sini lagi, sehingga dia melahirkan. Ketika dia sudah melahirkan, maka Ghami>diyah datang lagi menghadap Rasulullah Saw. membawa bayinya dalam sebuah kain mengatakan: “Inilah bayi yang aku telah melahirkannya. Beliau bersabda: “Pergilah berilah dia air susu sampai kamu sapih dia. Waktu sesudah Ghami>diyah menyapih anaknya lalu datang lagi menghadap Rasulullah Saw.membawa anaknya itu dan secuil roti di tangannya. Kemudian dia berkata: “Inilah ya Nabiyullah, aku telah menyapih dia dan dia sudah memakan roti”. Lalu dia berikan anak itu kepada seseorang kaum muslimin. Lalu Rasulullah Saw. memerintahkan Ghami>diyah untuk itu, selanjutnya Ghami>diyah dimasukkan ke dalam lubang sampai dadanya seterusnya beliau perintahkan orang banyak untuk merajam dia. Lalu Kha>lid ibnu Wa>lid melempar Ghami>diyah dengan sebuah batu tepat mengenai kepalanya maka darahnya memencar ke wajah Kha>lid, sehingga Kha>lid mengomelnya. Maka Nabi Saw. mendengar omelan Khalid kepada Ghami>diyah itu. Lalu beliau bersabda: “Bersabarlah wahai Khalid, demi Allah dia sungguh benar-benar sudah bertobat, suatu tobat yang jika dilakukan oleh seorang tukang pemungut pajak pasti dia diampuni”, Selanjutnya beliau perintahkan pengurusan dia lalu beliau shalat jenazah untuk Ghami>diyah kemudian dimakamkan”(HR. Muslim no.3208, Abu> Da>wu>d no.3853). 2.Hukum Sumpah Li’a>n a. Benteng ketahanan keluarga Benteng yang paling tangguh untuk membina rumah tangga yang bahagia itu adalah iman dan takwa kepada Allah, mentaati apa yang telah diatur oleh Allah, khususnya dalam masalah rumah tangga, bahwa suami bertanggung jawab atas keluarga dan isteri taat kepada suami. Tetapi teori ini sangat berat diterapkan karena suami dan isteri sebagai manusia telah dibekali dengan akal dan perasaan yang tidak sepenuhnya selalu sama masing-masing pribadi dengan pribadi pasangannya, sehingga akal dan perasaan suami sering tidak sejalan dengan akal perasaan isteri. Akibatnya maka timbul macam-macam peyimpangan dan penyelewengan yang paling berat ialah perbuatan zina. Perbuatan zina merupakan malapetaka dunia akhirat sekaligus menjadi suatu bencana yang menghancurkan ikatan perkawinan dan segala kaitannya. Rambu-rambu dan pagar untuk melindungi kerukunan rumah tangga dalam suatu perkawinan diatur oleh Allah dan Rasulullah Saw. yaitu: 1) Menjaga diri dari pangkal tumbuhnya dosa (S.24 An-Nu>r 30-31) 2) Pandangan yang mengandung dosa yang tidak sengaja sekalipun harus dicegah dan ditanggulngi secara cepat segera mengalihkan pandangan itu ke arah yang lain (HR Turmudzi>> no.2701). 3) Larangan atas seorang laki-laki dengan seorang perempuan bukan mahramnya bepergian atau bersepi-sepi berduaan saja (HR Bukha>ri> no.4832 dan 2784, Muslim no.2391). 4) Mereka yang melanggar ketentuan itu akan dihukum dan hukuman rajam inilah hukuman yang paling berat tidak ada bandingnya. 2701 عَنِ ابْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ رَفَعَهُ قَالَ يَا عَلِيُّ لَا تُتْبِعِ النَّظْرَةَ النَّظْرَةَ فَإِنَّ لَكَ الْأُولَى وَلَيْسَتْ لَكَ الْآخِرَةُ قَالَ أَبمو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ لَا نَعْرِفُهُ إِلَّا مِنْ حَدِيثِ شَرِيكٍ (رواه الترمذي وابو داود 1837-ألدر المنثورج6 ص 177)* Artinya: “Dari Ibnu Buraidah dari ayahnya bahwa Rasulullah Saw. bersabda: “Wahai ‘Ali> janganlah kamu mengulang pandangan atas suatu pandangan. Pandangan mata yang pertama itu untukmu, sedangkan pandangan yang kedua itu kamu tidak berhak”(HR.Turmudzi>>> no.2701, Abu> Da>wu>d no.1837-Ad-Durrul Mantsu>r 1983:6 / 177). 4832 عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلَّا مَعَ ذِي مَحْرَمٍ فَقَامَ رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ امْرَأَتِي خَرَجَتْ حَاجَّةً وَاكْتُتِبْتُ فِي غَزْوَةِ كَذَا وَكَذَا قَالَ ارْجِعْ فَحُجَّ مَعَ امْرَأَتِكَ (رواه البخاري ومسلم 2391)* Artinya: “Dari Ibnu ‘Abba>s bahwa Nabi Saw. bersabda: “Benar-benar janganlah seorang laki-laki bersepi-sepi berduaan dengan seorang perempuan kecuali disertai mahramnya. Maka seorang laki-laki berdiri berkata: “Ya Rasul isteriku pergi naik haji, sedang aku wajib berperang kesana kemari”. Beliau bersabda: “Pulanglah kamu behajilah kamu bersama isterimu”(HR Bukha>ri> no.4832, Muslim no.2391). Disebabkan karena lemahnya pertahanan iman dalam dada dan kerasnya desakan bahwa nafsu serta beratnya godaan syaitan, maka terjadilah pelanggaran atas larangan Allah dan Rasul-Nya, terjadilah pelecehan seksual, bahkan mereka terjebak ke dalam perbuatan zina laknatullah. b. Definisi Sumpah Li’a>n Sumpah Li’a>n itu mengandung 3 perkara hukum, yaitu: 1) Hukum tentang zina. 2) Hukum tentang tuduh menuduh zina. 3) Hukum tentang tuduh menuduh zina antar suami-isteri ad.1 Pelaku jarimah atau pidana zina dihukum 100 kali jilid (S.24 An-Nu>r 2). Terhadap pezina yang berstatus kawin, maka hukumannya hukuman rajam, yaitu dilempari batu sampai mati (HR. Muslim no.3219). ad.2 Penuduh zina yang tidak membawa 4 orang saksi denagn segala syaratnya , dia dihukum 80 kali jilid (S.24 An-Nu>r 4). Jika dia membawa 4 orang saksi yang memenuhi syarat-syaratnya maka tertuduh dihukum sebagai pelaku perbuatan zina seperti ketentuan di atas (S.24 An-Nu>r 2) ad 3 Jika seorang suami menuduh isterinya berzina dan tidak membawa 4 orang saksi dengan syarat yang membuktikannya, maka 4 orang saksi itu dapat diganti dengan sumpah Li’a>n. Isteri yang dituduh berbuat zina diputus dengan hukuman rajam. Tetapi isteri yang dituduh berbuat zina ini bisa dibebaskan dari hukuman rajam dengan mengucapkan sumpah Li’a>n (S.24 An-Nu>r 6). Ada dua macam perbuatan yang dapat dikategorikan kedalam hukum menuduh isteri berbuat zina, yaitu: i . Ucapan yang jelas ataupun dengan menyindir menuduh zina ii. Pernyataan bahwa calon bayi dalam kandungan isterinya itu bukan berasal dari suami yang menuduh zina ini (Ash-Sha>bu>ni> tth:2 / 47) . 3.Dampak dan akibat hukum sesudah sumpah Li’an Sesudah kedua orang suami isteri itu mengucapkan sumpah Li’an di hadapan sidang Pengadilan yang berwenang untuk itu, maka kedua orang itu harus menanggung akibat hukum sebagai berikut: i.Keselamatan bagi yang bersangkutan dari hukuman tuduh-menuduh zina maupun hukuman jarimah zina ii.Lepasnya ikatan nasab anak bayi dalam kandungan itu dari sumai iii.Ikatan nasab bayi dalam kandungan digantungkan kepada ibunya demikian juga hukum waris mewaris hanya dikaitkan kepada ibu itu iv.Putusnya ikatan perkawinan antara si isteri yang tertuduh dari suaminya yang mnenuduh zina v.Haram hukumnya pernikahan antara kedua orang exs suami-isteri untuk selama-lamanya vi.Jika si isteri tidak mengucapkan sumpah Li’an, maka hukuman rajam diterapkan atas dia. Para ulama sepakat bawa perkawinan kedua orang tersebut menjadi putus untuk selama-lamanya. Namun para ulama itu berbeda pendapat mengenai titik waktu sejaka kapan hukum haran itu berlaku, yaitu: One) Imam Sya>fi’i> menyatakan bahwa putusnya perkawinan itu ialah sejaka sumpah Li’an itu diucapkan, ucapan sumpah Li’an ini dinilai sama dengan ucapan talak. Dan ucapan sumpah Li’an isteri hanya terkait dengan terbebasnya hukuman itu atas dirinya. Two) Imam H}anafi> menyatakan bahwa putusnya ikatan perkawinan itu ialah sejak diputuskannya vonis oleh hakim Pengadilan. Alasannya ialah bahwa Rasulullah Saw. memutuskan ikatan perkawinan kedua orang yang saling tuduh menuduh zina dan saling mengucapkan sumpah Li’an yang dicatat oleh Bukha>ri> sebagai berikut: 6251 عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِي اللَّهم عَنْهممَا أَنَّ رَجُلًا لَاعَنَ امْرَأَتَهُ فِي زَمَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَانْتَفَى مِنْ وَلَدِهَا فَفَرَّقَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَهُمَا وَأَلْحَقَ الْوَلَدَ بِالْمَرْأَةِ (رواه البخاري ومسلم 2742)* Artinya: “ Dari Ibnu ‘Umar bahwa di jaman Nabi Saw ada seseorang yang bersumpah Li’an terhadap isterinya dan tidak mengakui anak (dalam kandungan isteri itu), maka Nabi Saw. memisahkan ikatan perkawinan antar kedua orang itu, lalu anak bayinya beliau kaitkan nasabnya dengan kepada perempuan yang melahirkan dia” (HR Bukha>ri> CD no.6251 dan Muslim no.2762-Ash-Sha>bu>ni> tth:2 / 93). ———(18)—– Dampak dan akibat peceraian I. S.2 Al-Baqarah 228 وَالْمُطَلَّقَاتُ يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ ثَلَاثَةَ قُرُوءٍ وَلَا يَحِلُّ لَهُنَّ أَنْ يَكْتُمْنَ مَا خَلَقَ اللَّهُ فِي أَرْحَامِهِنَّ إِنْ كُنَّ يُؤْمِنَّ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَبُعُولَتُهُنَّ أَحَقُّ بِرَدِّهِنَّ فِي ذَلِكَ إِنْ أَرَادُوا إِصْلَاحًا وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ (البقرة 228) II. Artinya: “Wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri (menunggu) tiga kali Quru>. Tidak boleh mereka menyembunyikan apa yang diciptakan Allah dalam rahimnya, jika mereka beriman kepada Allah dan hari akhirat. Dan suami-suaminya berhak merujukinya dalam masa menanti itu, jika mereka (para suami) itu menghendaki ishlah. Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma`ruf. Akan tetapi para suami mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”(S.2 Al-Baqarah228). III. Tafsir dan Analisa A. Pengertian ka-kata =الْمُطَلَّقَاتُ Perempuan-perempuan yang dicerai, maksudnya isteri-isteri yang dicerai secara talak sunni, yaitu talak yang dijatuhkan waktu dia dalam keadaan suci, yang sudah dicampuri dan bukan perempuan yang tidak bulanan (tidak menstruasi). Dalam hal ini diatur dalam nash tersendiri di dalam Al-Quran = يَتَرَبَّصْنَ Mereka menunggu, maksudnya bahwa para isteri yang dicerai itu diwajibkan menjalani iddah sebelum melakukan nikah baru = قُرُوءٍ Lafal ini jamak dari lafal القرء (Al-Qur`u) huruf Qaf bisa dibacam fat-hah atau dlammah , artinya haid atau suci atau waktu-waktu periodik bagi wanita subur atau tidak untuk melahirkan keturunan = لَا يَحِلُّ لَهُنَّ Tidak halal atas perempuan-perempuan itu, maksudnya haram = يَكْتُمْنَ Dia menyembunyikan, maksudnya bahwa para isteri yang dicerai itu dilarang merahasiakan atau menyembunyikan = مَا خَلَقَ اللَّهُ Apa yang Allah telah ciptakan, maksudnya janin = فِي أَرْحَامِهِنَّ Di dalam rahim mereka, maksudnya ialah janin yang ada di dalam kandungan mereka = وَبُعُولَتُهُنَّ Kata-kata ini jamak dari lafal ( Ba’lun=بَعْلٌ ) artinya suami-suami mereka, maksudnya suami-suami yang menceraikan isterinya itu = أَحَقُّ Lebih berhak, maksudnya bahwa suami yang menceraikannya mempunyai hak = رَدِّهِنَّ Pengembalian mereka, maksudnya bahwa suaminya itu mempunyai hak lebih dahulu untuk merujuk kembali isteri tersebut ke dalam ikatan perkawiannya yang dahulu lagi, lelaki yang baru dikalahkan = إِنْ أَرَادُوا Jika mereka menghendaki, maksudnya ialah sama-sama mengherndaki rujuk kembali = إِصْلَاحًا Perbaikan, asal katanya ialah Shalah}a-Yashluh}u-Shala>han-Shulh}an صلح- يصلح- صلاحا –صلحا) ) artinya baik. Di dalam Al-Quran dihadapkan lawan katanya “Fasa>d” artinya rusak atau jelek. Adapun lafal “Ashlah}}a- Yushlih}u-Ishla>h}an” wazan Af’ala-Yuf’ilu-If’a>lan, mengubah artinya dengan menambah awalan “Me” dan akhiran “kan”, sehingga artinya menjadi “Membaikkan” maknanya Memperbaiki. Dari pengertian ini maka lafal “Ishla>h}” maksudnya ialah perdamaian antara suami isteri tersebut dengan memperbaiki apa yang kurang baik atau mengubah yang jelek menjadi lebih baik lagi. = لَهُنَّ Bagi mereka, maksudnya bahwa isteri-isteri itu mempunyai hak = مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ Seperti yang wajib atas mereka, maksudnya bahwa para isteri menanggung banyak kewajiban yang harus mereka pikul = بِالْمَعْرُوفِ Dengan baik, maksudnya ialah apa yang dinilai baik oleh manusia dan oleh Allah. Lawan katanya ialah Munkar, dalam bahasa Indonesia-nya ialah orang yang mengingkari, yaitu tidak mengakui baik, alias mengakui dia itu jelek. = لِلرِّجَالِ Bagi orang laki-laki, maksudnya orang laki-laki itu mempunyai hak = عَزِيزٌ Maha Perkasa, makasdudnya bahwa Allah itu tidak bisa dikalahkan = حَكِيمٌ Maha Bijaksana, yaitu tidak pernah salah, pasti persis dan tepat sekali B. Latar belakang turunnya ayat Di masa Nabi Saw. Asmaa>` binti Yazi>d ibnus Sakan al-Ansha>ri> dicerai oleh suaminya sedangkan waktu itu tidak ada batas iddah. Maka Allah ‘Azza wa Jalla menurunkan ayat Al-Quran S.2 Al-Baqarah 228 di atas tepat ketika Asma>’ itu dicerai dengan iddah talak. Jadi dia adalah orang yang pertama kali dituju oleh ayat yang mengatur masalah iddah atas para isteri-isteri yang dicerai (HR. Abu> Da>wu>d no. 1941). C. Tema dan kandungan makna ayat Memperhatikan pengertian kata-kata dan latar belakang turunnya ayat, maka dapat diambil tema dan sari tilawah ayat, yaitu sebagai berikut: 1.Perkawinan merupakan suatu lembaga untuk pengembangan jenis dan anak keturunan manusia. 2.Perkawinan juga merupakan suatu lembaga untuk mencapai cita-cita penciptaan suatu masyarakat yang ideal, dengan sistem ikatan keturunan darah ang bersih dan luhur. 3. Oleh karena itu jika seandainya timbul suatu masalah lalu terjadi perceraian dan putusnya ikatan perkawinan, maka tali ikatan garis keturunan darah itu harus diperjelas dan dipisah serta diputus dengan jelas dan tegas bagaimana hubungan darah antara laki-laki atau suami yang lama dari calon suami yang baru dalam kaitannya dengan bayi yang mungkin akan lahir dari seorang isteri. 4. Untuk membuktikan putusnya hubungan darah keturunan tersebut, maka isteri yang dicerai itu, dia wajib menjalani masa iddah atau masa tunggu putusnya hubungan darah tadi. 5. Masa tunggu atau iddah seorang isteri yang dicerai ialah tiga kali “Quru>`” 6. Perempuan yang beriman dilarang keras menyembunyikan kehamilan yang ada di dalam rahimnya yang berasal dari benih suaminya yang menceraikan 7. Suami yang menceraikan dia itu lebih berhak utuk merujuk kembali isterinya dari pada laki-laki lain yang akan mengawini dia. 8. Seorang isteri mempunyai hak yang harus di penuhi suami seimbang dengan beratnya tugas isteri kepada suami sebagai haknya. 9.Namun suami itu mempunyai suatu hak lebih tinggi yang tidak dimiliki isteri 10.Allah itu tidak dapat dikalahkan oleh siapapun juga, Allah Maha Bijaksana. D. Masalah dan analisa Sebenarnya banyak masalah yang tersimpan dalam tema dan kandungan makna ayat di atas, namun yang perlu didahulukan sekarang uialah beberapa soal berikut: 1.Sebenarnya apakah yang dimaksud dengan “Tsala>tsata Quru>>` “ itu? 2.Bagaimanakah gambaran perbandingan antara kewajiban isteri dibanding dengan haknya? 3.Bagaimanakah jalan pemecahannya jika isteri mempunyai suatu kelebihan atau kedudukan melebihi kemampuan dan kedudukan suami? E.Tinjauan dan pemikiran Allah Ta’ala telah memberikan tuntunan bagaimana usaha seseorang untuk berkeluarga yang bahagia: ~Bagaimana mencapai kesejahteraan dan kemesraan hidup berkeluarga, tercantum di dalam Al-Quran S.4 An-Nisa>` 19. ~Bagaimana mewaspadai gejala-gejala timbulnya keretaan persatuan dan kesatuan hidup berumah tangga sebagaimana diterangkan Allah dalam Al-Quran S.4 An-Nisa>` 128 ~ Bagaimana keharuan Lembaga Swadaya Masyarakat untuk ikut membantu usaha pembinaan kelestarian ikatan perkawinan, seperti usaha-usaha BP4 dan lembaga lain yang seperti itu seperti yang ditetapkan Allah dalam Al-Quran S.4 An-Nisa>` 35. Akan tetapi perasaan atau emosi suami dan isteri suatu ketika mungkin merasa terlalu berat sehingga tidak mampu menahan amarah, sehingga memaksa mereka melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan tuntunan Allah dalam Al-Quran tersebut. Maka oleh karena itulah para ulama mrasa terpanggil untuk mengatur dan menertibkan prosedur maupun cara mengatasi masalah atau perkara yang timbul bahkan perceaian sekalipun. Adapun prosedur penyelesaian perceaian tersebut diatur dalam suatu peraturan perundang-undangan yang mempunyai kekuatan hukum, sehingga dapat menyeret mereka yang terlibat dalam perkara itu untuk mempertanggung jawabkan dampak akibat perceraian yang harus mereka pikul. Himpunan aturan perundang-undangan itu ditetapkan melalui penelitian atas 38 kitab fiqh klasik dari semua aliran madzhab fiqh oleh 124 ulama Indonesia dari berbagai macam organisasi keagamaan dan akademisi dari 7 IAIN di Indonesia, sementara Departemen Agama dan Mahkamah Agung menjadi fasilitatornya. Hasil dari penelitian ini lalu ditetapkan dan dilembagakan menjadi suatu kodifikasi atau himpunan aturan hukum menjadi apa yang dinamakan Kompilasi Hukum Islam (KHI) yang kemudian dijadikan pedoman penetapan putusan hukum oleh hakim-hakim Pengadilan Agama di Indonesia melalui Instruksi Presiden No.1 tahun 1991. Pasal 116 Kompilasi Hukum Islam menetapkan ada 8 alasan untuk mengajukan gugat cerai, putusnya ikatan perkawinan. Alasan untuk mengajukan gugat memutuskan ikatan perkawiann itu ialah jika dalam diri suami atau isteri terdapat noda atau kesalahan sebagai berikut: a. Berbuat zina atau sebagai pemabuk atau penjudi atau pemadat b. Pergi selama dua tahun tanpa alasan dan tanpa ijin pasangannya c. Terhukum masuk penjara selama 5 tahun atau lebih d .Menganiaya atau berbuat kejam yang membahayakan jiwa pasangannya e. Mempunyai cacat yang dapat menghambat pelaksanaan tugas kewajiban sebagai suami untuk isteri atau sebaliknya tugas kewajiban isteri untuk suami f. Terus menerus bertengkar sampai yang tidak memberikan harapan kearah kerukunan hidup berkeluarga g. Salah satu dari pasangan itu urtad atau pindah agama h. Suami melanggar Ta’liq thala>q Pasal 129-148 mengatur proses tata cara mengajukan gugat cerai putusnya perkawinan. Pasal 149 menetapkan ada tiga macam hal akibat hukum dari perceraian atau putusnya perkawinan, yaitu: Bekas suami harus membayar beberapa kewajiban, yaiyu: a) Mut’ah; b)Nafkah isteri selama dalam iddah; c)Mahar yang belum terbayar atau kurang; d) Biaya hadlanah anak yang di bawah umur 21 tahun e)Bekas isteri harus menjalani iddah, menjaga diri, tidak menerima pinangan dan tidak melakukan pernikahan dengan pria baru selama dalam iddah. Kembali kepada pokok pembahasan tafsir Al-Quran S.2 Al-Baqarah 228 sekarang ini, maka disana ada beberapa persoalan yang menuntut pemecahan dan penyelesaian maupun jawabannya, yaitu sebagai berikut: 1. Tenggang waktu iddah Pangkal tolak pembahasan masalah masa tunggu atau iddah ini bersumber dari lafal ثلاثة قروء (Tsala>tsata qurru>`in). Lafal Quru>>` jamak dari al-qar`u . Sedangkan lafal Al-Qur`u (Huruf Qaf dibaca fath}ah atau dlammah) merupakan lafal Musytarak, yaitu satu lafal mempunyai dua buah arti asli yang bertentangan sama kuatnya, yaitu: a) Artinya suci. b)Artinya haid. Disebabkan karena sama kuatnya inilah maka para ulama berbeda pendapat mengenai maksud yang sebenarnya dari lafal Tsalatsata Quru>`in, yaitu: 1) Quru>` artinya suci; 2) Quru>` artinya haid Ad 1 Quru>>` artinya suci Imam Sya>fi’i> sesuai dengan pendapat ’A<`isyah, Ibnu ‘Umar, Zaid memilih arti yang pertama, yaitu SUCI. Pendapat ini didasarkan atas alasan sebagai berikut: -Huruf Ta` dalam kata bilangan Tsalatsata( ثلاثة) merupakan tanda jenis betina atau Mu`annats (مؤنث) Menurut ilmu tata bahasa Arab sehingga jika kata bilangan itu berbentuk betina atau Mu`annats maka kata bendanya (isim) adalah Mudzakkar, yaitu bahwa lafal Quru>`in juga Mudzakkar sehingga artinya adalah suci. -Menurut ‘A` ( الاقراء ) itu artinya ialah suci, persis seperti yang dimaksud oleh hadis berikut: 1054 عَنْ عَائِشَة قَالَتْ صَدَقَ عُرْوَةُ وَقَدْ جَادَلَهَا فِي ذَلِكَ نَاسٌ فَقَالُوا إِنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَقُولُ فِي كِتَابِهِ ( ثَلَاثَةَ قُرُوءٍ ) فَقَالَتْ عَائِشَةُ صَدَقْتُمْ تَدْرُونَ مَا الْأَقْرَاءُ إِنَّمَا الْأَقْرَاءُ الْأَطْهَارُ (رواه مالك) Artinya: “Dari ‘Atsata Qurru>` in”. Maka ‘A` ialah suci” (HR Ma>lik no.1054)(Ash-Sha>bu>ni> tth.Juz1,h.328). Berkaitan dengan larangan waktu menjatuhkan talak Al-Quran S.65 Ath-Thala>q 1 memberikan petunjuk bahwa seorang suami dilarang mnjatuhkan talaknya saat isteri sedang dalam keadaan haid: فَطَلِّقُوهُنَّ لِعِدَّتِهِنَّ Artinya: “Ceraikanlah mereka buat menghadapi iddahnya” Dari ketentuan ini maka yang dimaksud dengan lafal: “Tsala>tsata Quru>`in” dimuka ialah suci, yaitu ceraikanlah ketika isteri sedang suci. Ad 2 Quru>>` artinya haid Imam H}anafi> dan Imam Ah}mad, senada dengan pendapat Umar, ‘Ali>, Ibnu Mas’u>d, Abu> Mu>sa>, Muja>hid, Qata>dah, Dlahha>k, ‘Ikrimah,As-Suddi>, maka Ah}mad memilih arti yang kedua, yaitu HAID bukan suci, dengan alasan sebagai berikut: Iddah itu disyari’atkan oleh Allah untuk mengetahui bersihnya rahim isteri dan sebagai tanda bukti bersihnya rahim ialah keluarnya darah haid itu. ~Perlu dicatat disini bahwa Imam Ah}mad pada mulanya mengartikan lafal Quru>` dengan arti suci, tetapi kemudian berubah mengartikannya haid. ~Rasulullah Saw. melarang perempuan yang sedang dalam keadaan haid, tercatat dalam hadis berikut: 314 عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ أَبِي حُبَيْشٍ سَأَلَتِ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ إِنِّي أُسْتَحَاضُ فَلَا أَطْهُرُ أَفَأَدَعُ الصَّلَاةَ فَقَالَ لَا إِنَّ ذَلِكِ عِرْقٌ وَلَكِنْ دَعِي الصَّلَاةَ قَدْرَ الْأَيَّامِ الَّتِي كُنْتِ تَحِيضِينَ فِيهَا ثُمَّ اغْتَسِلِي وَصَلِّي(رواه البخاري ومسلم 501) * Artinya: “Dari ‘Athimah binti Abi> Hubaisy bertanya kepada Nabi Saw.: “Sungguh aku sedang tidak suci sebab dalam keadaan mustah}a>dhah, apakah aku harus meninggalkan shalat?” Beliau menjawab: “Tidak, itu tadi kotoran, tetapi tinggalkanlah shalat seperti jika anda mengalami darah haid, kemudian mandilah lalu shalatlah!!!”(HR Bukha>ri> no.314, Muslim no.501-Ash-Sha>bu>ni> tth juz 1, halaman 329) ~Rasulullah Saw. melarang laki-laki menggauli seorang perempuan budak yang dalam tawanan ketika sedang hamil sampai selesai melahirkan bayi dari kandungannya. Demikian juga Rasulullah Saw. melarang laki-laki menggauli perempuan yang tidak dalam keadaan hamil, kecuali sesudah habis dari haidnya dengan bersih, tercatat dalam hadis berikut: 1843عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ وَرَفَعَهُ أَنَّهُ قَالَ فِي سَبَايَا أَوْطَاسَ لَا تُوطَأُ حَامِلٌ حَتَّى تَضَعَ وَلَا غَيْرُ ذَاتِ حَمْلٍ حَتَّى تَحِيضَ حَيْضَةً (رواه ابو داود واحمد 11168))* Artinya: “Dari Abu> Sa’id al-Khudriyyi> dia mengatakan hadis dari Nabi saw.beliau bersabda pada tawanan perang di Autha>s: “Perempuan yang sedang hamil tidak boleh dikumpuli sampai dia melahirkan kandungan dan perempuan yang tidak hamil tidak boleh ikumpuli sampai dia haid satu kali”(HR. Abu Da>wu>d no.1843 dan Ah}mad no.11168). Para ulama sepakat bahwa Istibra>` atau sucinya rahim perempuan budak itu satu kali haid, maka oleh karena itulah iddah perempuan itu ialah HAID dan kata-kata Quru>>`n itu artinya beberapa kali haid. Iddah bagi perempuan yang sudah tidak haid ialah bulanan Al-Quran menetapkan bahwa tenggang waktu tiga bulan merupakan ganti dari haid untuk menghitung iddah. Oleh dari itulah haid sebagai arti dari lafal Quru>>` merupakan penegasan tenggang waktu iddah, bukan masalah suci untuk menghitung iddah, yaitu sebagai berikut: S.65 Ath-Thala>q 4- Ibnul ‘Arabi> 1988:1 / 252. Kemudian pertanyaan yang timbul ialah: “Bagaimanakah iddah seorang perempuan yang hamil sekaligus ditinggal wafat suaminya?” Ada dua pendapat para ulama dalam masalah ini, yaitu: (1) Jumhur berpendapat bahwa seorang isteri yang ditinggal wafat suaminya dalam keadaan hamil, maka iddahnya ialah akhir kehamilan dan lahirnya bayi dari kandungannya. Dasar pemikirannya ialah hadis berikut: 3691 عَنِ سُبَيْعَةَ بِنْتِ الْحَارِثِ الْأَسْلَمِيَّةِ أَنَّهَا كَانَتْ تَحْتَ سَعْدِ بْنِ خَوْلَةَ فَتُوُفِّيَ عَنْهَا فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ وَهِيَ حَامِلٌ فَقَالَ لَهَا وَاللَّهِ مَا أَنْتِ بِنَاكِحٍ حَتَّى تَمُرَّ عَلَيْكِ أَرْبَعَةُ أَشْهُرٍ وَعَشْرٌ قَالَتْ سُبَيْعَةُ فَلَمَّا قَالَ لِي ذَلِكَ جَمَعْتُ عَلَيَّ ثِيَابِي حِينَ أَمْسَيْتُ وَأَتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَأَلْتُهُ عَنْ ذَلِكَ فَأَفْتَانِي بِأَنِّي قَدْ حَلَلْتُ حِينَ وَضَعْتُ حَمْلِي وَأَمَرَنِي بِالتَّزَوُّجِ إِنْ بَدَا لِي (رواه البخاري ومسلم 2728)* Artinya: “Dari Subai’ah bintil H}a>rits isteri Sa’ad ibnu Khaulah yang wafat psadahal isteri sedang hamil, maka Rasulullah Saw. bersabda kepadanya: “Demi Allah, anda tidak boleh kawin sampai lewat masa 4 bulan 10 hari. Lalu sesudah beliau bersabda demikian Subai’ah berkata: Aku kumpulkan pakaianku petang hari, lalu aku menghadap Rasulullah Saw., aku tanyakan kepada beliau soal iddah itu, sehingga memberi fatwa padaku bahwa aku sudah bebas dan halal saat aku sudah melahirkan bayiku dan beliau menyuruh aku untuk kawin lagi jika memang sudah jelas bagiku”(HR.Bukha>ri> no. 3691 dan Muslim no.2728). As-Suyu>thi> dalam Ad-Durrul Mantsu>r (1983 juz 8, h.205) mengutip hadis riwayat Ibnu Abi> Syaibah, Ibnu Mardawaih, ‘Abdurrazza>q dan ‘Abdu ibnu H}umaid, bahwa Subai’ah melahirkan bayinya itu hanya selang 25 hari setelah wafat suaminya itu, sehingga Subai’ah menanyakannya kepada Rasulullah Saw. dan beliau mengijinkan bahkan menyuruh kawin. (2) ‘Ali> ibnu Abi> Tha>lib dan Ibnu ‘Abba>s berpendapat bahwa seorang isteri yang dalam keadaan hamil, ditinggal wafat suaminya, maka iddahnya ialah tenggang waktu yang mana yang lebih lama dari dua macam iddah, yaitu iddah hamil sampai lahirnya bayi dalam kandungan atau iddah wafat 4 bulan 10 hari. Al-Qurthubi> dalam tafsirnya (1967:3 / 174) mengutip alasan mereka ini, yaitu mengkompromikan atau Al-Jam’u antara nash S.2 Al-Baqarah 234 dengan S.65 Ath-Thala>q 4. Menurut kelompok kedua ini maka metode Al-Jam’ harus didahulukan mengalahkan metode Tarji>h} yaitu mengadu kekuatan dalil; Sehingga tidak boleh seorang isteri melaksanakan iddahnya dengan metode kelahiran bayi yang dikandungnya, sekaligus melengahkan metode iddah wafat 4 bulan 10 hari itu. Sehingga memilih tenggang waktu yang lebih lama itulah metode yang lebih sempurna dan benar. @ Kompilasi Hukum Islam sebuah lembaga perunda-undangan yang dispekulasikan sebagai keputusan hukum hasil ijmak ulama Indonesia, maka dalam pasal 153 menetapkan ketentuan tentang iddah wanita yang mengalami putusnya perkawinan, yaitu sebagai berikut: (1)Iddah 130 hari (4 bulan 10 hari) bagi isteri yang ditinggal wafat suami, walau Qablad-dukhu>l (2)Iddah 3x suci, minimal 90 hari bagi isteri yang masih haid dalam cerai hidup (3)Iddah 90 hari bagi isteri yang sudah tidak mengalami haid lagi (4)Sampai melahirkan bayinya, jika isteri itu hamil saat dia diceraikan (5)Sampai melahirkan bayinya jika isteri hamil ditinggal wafat suaminya (6)Tidak ada iddah bagi isteri yang dalam keadaan Qablad-dukhu>l,cerai hidup Masalah apa sebab suami lebih berhak merujuk kembali bekas isterinya dari pada orang lain yang ingin mengawini dia. Suaminya lebih berhak merujuk kembali mantan isteri tersebut, sebabnya ada beberapa faktor, yaitu: ~Suami tersebut itu lebih mengetahui segala sesuatunya berkaitan dengan mantan isteri tadi ~Suami itu lebih banyak merasakan sendiri suka duka bersama iseri di atas ~Suami tadi lebih berpengalaman bagaimana cara melayani keinginan isteri ~Suami ini lebih banyak mengetahui cara bagaimana cara mengatasi berbagai macam kesulitan hidup berdua susami-isteri tersebut. ~Kedua orang ex suami-isteri itu lebih besar kemungkinan akan mampu untuk berusaha untuk menjalin kembali tali kasih yang terputus dan terutama sekali jika mereka telah terikat dengan tali yang tidak mungkin diputuskan yaitu jika mereka sudah melahirkan anak-keturunan mereka. Suami itu lebih berhak untuk merujuk kembali mantan isteri ini khususnya selama dia masih berada di dalam masa iddah, dengan syarat jika mereka berdua mendambakan kerukunan dan perdamaian kembali. Kembali kepada asas landasan nikah, yaitu menyatu dan berpadu mereka berdua inilah faktor yang sangat wajar. Sebaliknya bahwa suami tidak berhak apa-apa bahkan hukumnya bisa haram merujuk kembali jika suami itu bermaksud jahat, misalnya ingin menzalimi isteri. 2. Besarnya hak dan beratnya tugas isteri Hak isteri sesungguhnya sangat besar jika dibandingkan dengan beratnya tugas yang harus dipikulnya. Beratnya tugas kewajiban isteri itu dapat dibayangkan dari Al-Quran dan riwayat hadis berikut: الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ (النساء 34) Artinya: “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang ta`at kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka)(S.4 An-Nisa>` 34). Dalam rangka pelaksanaan ketaatan isteri kepada suami yang ditetapkan di dalam firman Allah diatas maka Rasulullah Saw. menjelaskan bahwa perintah Allah itu benar-benar wajib dilaksanakan betul-betul oleh isteri dengan tunduk patuh yang maksimal, yaitu: 1079عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لِأَحَدٍ لَأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا (رواه الترمذي)* Artinya: “Dari Abu> Hurairah dari Nabi Saw. beliau bersabda: “Jika seandainya aku disuruh memerintahkan seseorang untuk sujud kepada orang lain, sungguh aku akan perintahkan seorang isteri untuk sujud kepada suaminya”(HR Turmudzi> no.1079) As-Suyu>thi> dalam Ad-Durrul Mantsu>r (1983:2 / 517) mencatat hadis yang sama bersumber dari Mu’a>dz riwayat Imam Ah}mad, dari Buraidah riwayat Al-H}a>kim dari ‘Ajah. Tugas kewajiban isteri itu dilukiskan oleh Rasulullah Saw. pokoknya ialah segala gerak gerik dan tingkah laku yang bagaimana sehingga serba menyenangkan hati suami, dapat difaham dari hadis Nabi Saw. berikut: 3179عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ النِّسَاءِ خَيْرٌ قَالَ الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ (رواه النسائ)* Artinya: “Dari Abu> Hurairah dia berkata: “Telah ditanyakan kepada Rasulu>llah Saw.: “Isteri yang manakah yang paling baik itu?” Beliau menjawab: “Isteri yang paling baik ialah isteri yang menyenangkan jika dipandang suami, taat jika disuruh, tidak menyelisihi suami dalam hati dan hartanya soal apa yang tidak disukai suami”{HR Nasa<’i> no.3179) As-Suyu>thi> di dalam tafsirnya Ad-Durrul Mantsu>r (1983:2 / 514), mencatat hadis yang senada riwayat dari Ibnu Jari>r, Ibnul Mundzir, Al-H}a>kim dan Baihaqi>. Perlu ditekankan di sini bahwa tugas isteri itu benar-benar sangat berat, sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah Saw. berikut: 4794 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِي اللَّهم عَنْهم عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا دَعَا الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ إِلَى فِرَاشِهِ فَأَبَتْ أَنْ تَجِيءَ لَعَنَتْهَا الْمَلَائِكَةُ حَتَّى تُصْبِحَ (رواهالبخاري ومسلم 2594)* Artinya: “Dari Abu> Hurairah dari Nabi Saw. beliau bersabda: “Jika suami mengajak isteri ke tempat tidur lalu isteri menolak memenuhinya, maka dia dilaknat oleh para malaikat sampai subuh”(HR Nasa>`i> no.4794). Berhubung dengan beratnya tugas kewajiban isteri seperti tersebut di atas, maka alangkah besarnya hak isteri yang harus dipenuhi suami, persis seperti firman Allah dalam S.2 Al-Baqarah 228: وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ= Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma`ruf. Rasulullah Saw. menerangkan bagaimana hak isteri itu, tercatat dalam hadis berikut: 1839 حَدَّثَنِا عَبْدُاللَّهِ بْنُ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ رَضِي اللَّهم عَنْهمَا قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا عَبْدَاللَّهِ أَلَمْ أُخْبَرْ أَنَّكَ تَصُومُ النَّهَارَ وَتَقُومُ اللَّيْلَ فَقُلْتُ بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ فَلَا تَفْعَلْ صُمْ وَأَفْطِرْ وَقُمْ وَنَمْ فَإِنَّ لِجَسَدِكَ عَلَيْكَ حَقًّا وَإِنَّ لِعَيْنِكَ عَلَيْكَ حَقًّا وَإِنَّ لِزَوْجِكَ عَلَيْكَ حَقًّا وَإِنَّ لِزَوْرِكَ عَلَيْكَ حَقًّا (رواه البخاري ومسلم 1963) Artinya: “’Abdulla>hh ibnu ‘Amr ibnul ‘Ash menerangkan kepada kita bahwa Rasulullah Saw. bersabda kepadanya: “Wahai ‘‘Abdulla>hh bukankah sudah terdengar bahwa anda itu berpuasa siang hari, shalat malam?” ‘Abdulla>hh mengatakan: “Betul ya Rasul” Beliau bersabda: “”Janganlah berbuat begitu, berpuasalah, tetapi juga berbukalah, shalatlah tetapi juga tidurlah, sungguh jasmanimu itu mempunyai hak yang harus kau penuhi, penglihatanmu itu mempunyai hak yang harus kau penuhi dan isterimu itu juga mempunyai hak yang harus kau penuhi, demikian juga atasanmu itu juga mempunyai hak yang harus kau penuhi”(HR Bukha>ri> no.1839, Muslim no.1963). Dalam Bukha>>ri> No. 1832 tercatat dengan bunyi berikut: 1832 إِنَّ لِرَبِّكَ عَلَيْكَ حَقًّا وَلِنَفْسِكَ عَلَيْكَ حَقًّا وَلِأَهْلِكَ عَلَيْكَ حَقًّا فَأَعْطِ كُلَّ ذِي حَقٍّ حَقَّهُ (رواه البخاري) Artinya: “Sungguh untuk Tuhanmu ada hak yang harus kau penuhi, untuk jiwamu ada hak yang harus kau penuhi, untu keluargamu ada hak yang harus kau penuhi maka penuhilah haknya siapa saja yang mempunyai hak”(HR Bukha>ri> no.1832). Suami wajib memenuhi hak para isteri yang demikian berat, isteri wajib melayani suami sampai segalanya harus serba menyenangkan, wajib mengasuh anak yang masih kecil, bahkan isteri ikut membantu suami bekerja keras di tempat lain tanpa memperhitugkan waktu, tenaga dan perasaan. 3. Bila karir isteri lebih tinggi dari pada suami Az-Zakhsyari> dalam tafsirnya Al-Kasysya>f (tth: 1 / 532) menafsirkan lafal ‘Qawwa>mu>na ‘ala>n nisa<`” (قوامون علي النساء ) dalam S.4 An-Nisa>` 34 dengn tafsiran bahwa memang Allah Ta’ala telah memberi anugerah fadhilah atau kelebihan kepada kaum laki-laki melebihi kaum perempuan. Namun menurut Zamakhsyari> kelebihan itu tidak mengandung arti kaum laki-laki mengalahkan kaum perempuan dan berbuat memaksa mereka. Menurut Az-Zamakhsyari> kelebihan atau anugerah yang diberikan Allah kepada kaum laki-laki tidak diberikan kepada kaum perempuan itu mengandung 4 faktor yang sumbernya ialah bahwa kaum laki-laki itu lebih mengunggulkan logika akal, yaitu: a) Logika akal; b) Keteguhann dan tekad hati; c) Kecakapan tertentu; d) Semangat untuk perang Dari realitas jati diri kaum laki-laki yang bersifat alamiah inilah maka Allah dan masyarakat manusia memilih gender laki-laki untuk menduduki jabatan-jabatan yang dikehendaki Allah, yaitu jabatan-jabatan keagamaan ataupun jabatan keduniaan sebagaimana terulang-ulang dalam beberapa bab di muka, yaitu sebagai berikut: a) Jabatan Nabi atau Rasul. b) Kyai atau ulama. c) Imam Besar Negari. d) Panglima Perang. e) Muadzin atau Bilal. f) Khatib Hari Raya atau Hari Jum’h. g) Pimpinan Takbir Hari Raya. h) Saksi untuk Jarimah H}udu>d atau perkara zina. i) Pembalasan qishash laki-laki diganti laki-laki, tidak bisa diganti dengan perempuan. j) Dalam Hukum Waris, laki-laki mendapat dua kali bagian perempuan. k) Wali nikah. l) Hak menjatuhkan talaq dan merujuk kembali. m) Hak poligami, beristeri lebih dari satu n) Pokok jalur pertalian nasab dan keturunan. Semua jabatan dan kedudukan di atas merupakan hak-kedudukan laki-laki, sedangkan kaum perempuan itu lebih menggunakan perasaanya. Ash-Sha>bu>ni> dalam tafsirnya Rawa>i’ul Baya>n (tth: 1 / 467) menafsirkan lafal: بما فضل الله بعضهم علي بعض وبما انفقوا (1)(Bima> fadh dhalalla>hu ba’dhahum ‘ala> ba’dhin wa bima> anfaqu>) Artinya: “…oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka” (S.4 An-Nisa>`34) Tidak menggunakan lafal di bawah ini: بما فضلهم عليهن بفضيلهم عليهن (2) Bima> fadh-dhala>hum ‘alaihinna> bi fadh>I>tihim ‘alaihinna) Artinya: “Karena Allah telah memberi kelebihan kepada kaum laki-laki atas kaum perempuan, sebab kelebihan kaum laki-laki atas kaum perempuan” Mengapa Allah Ta’ala menggunakan kalimat pertama. tidak menggunakan kalimat yang kedua, sebabnya ialah bahwa penggunaan susunan kalimat yang pertama itu, dimaksudkan untuk menyelipkan hikmah yang sangat tinggi yaitu bahwa suami dan isteri itu ibarat satu badan jasmani yang menyatu dan padu, dengan susunan bahwa suami itu sebagai kepala dengan otaknya; sedangkan isteri itu bagaikan badannya dengan hati yang ada di dalam dadanya. Dengan susunan yang demikian memberikan kedudukan bahwa tidak ada hak sama sekali untuk bagian suatu tubuh untuk menyombong dan takabur terhadap bagian yang lain dari badan ini. Sebab tiap-tiap bagian dari tubuh tersebut mempunyai tugas kewajiban khusus, yang tidak mungklin digantikan oleh bagian tubuh yang lainnya. Tugas kewajiban telinga tidak mungkin digantikan oleh mata, tugas kewajiban tangan tidak mungkin digantikan oleh kaki, Selanjutnya tidak mungkin suami menggantikan tugas kewajiban isteri untuk mengandung, memberi air susu dari teteknya. Dan perlu dicatat bahwa penggunaan kalimat yang pertama di atas menekankan bahwa kedudukan ini tidak berlaku secara integral menyeluruh kaum laki-laki seluruhnya, sebab sebagian kaum perempuan atau isteri ada yang berhasil mengejar karir bahkan sampai mengalahkan karir kaum laki-laki atau suami. Allah telah menciptakan manusia dan memberi ciri-ciri atau keistimewaan khusus kepada masing-masing mereka yang tidak suatu kelebihan yang tidak diberikan kepada jenis manusia yang lain. Dalam hal ini Allah berfirman dalam Al-Quran, yaitu: وَمِنْ ءَايَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ(21)وَمِنْ ءَايَاتِهِ خَلْقُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافُ أَلْسِنَتِكُمْ وَأَلْوَانِكُمْ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِلْعَالِمِينَ ( الروم 22) Artinya: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui”S.30 Ar-Ru>m 21-22). Bahwa Allah telah memberikan anugerah kelebihan kepada setiap pribadi baik laki-laki maupun kaum perempuan sesuatu yang tidak dimiliki oleh pribadi yang lain, dalam hal ini suami mendapat suatu anugerah yang tidak diberikan kepada isteri atyau sebaliknya Allah memberikan suatu keistimewaan kepada isteri yang tidak dianugerahkan kepada suami. Keistimewaan ini dapat berwujud kelebihan dalam ilmu tertentu seperti ilmu bahasa atau kelebihan dalam bentuk tubuh seperti wajah yang sangat mempesona, demikian juga warna kulit. Bahkan mungkin Allah memberikan anugerah berupa kedudukan yang dan derajat yang luhur, diberikan kepada suami atau juga mungkin isteri di atas pasangannya. Allah berfirman dalam maslah semacam ini, yaitu: أَهُمْ يَقْسِمُونَ رَحْمَةَ رَبِّكَ نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَعِيشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِيَتَّخِذَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا سُخْرِيًّا وَرَحْمَةُ رَبِّكَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ (الزحرف 32) Artinya: “Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebahagian yang lain beberapa derajat, agar sebahagian mereka dapat mempergunakan sebahagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”(S.43 Az-Zuh}ruf 32) Kepada siapa saja yang mendapat anugerah suatu kelebihan atau keistimewaan diwajibkan tidak lain kecuali harus menyumbangkan jasa dan karya dengan kelebihan yang dimilikinya itu dibaktikan kepada orang lain yang memang memerlukannya, bantu-membantu, bahu membahu, tolong menolong, kerja sama yang harmonis. Siapa yang mempunyai kelebihan dalam suatu bidang maka dia wajib menyumbangkannya kepada orang lain yang kekurangan. Dan jelas setiap orang disamping mempunyai kelebihan dalam suatu bidang, maka pasti dia itu mempunyai kekurangan dalam bidang diluarnya. Jadi setiap orang pasti mempunyai kekurangan dalam suatu hal yang dimiliki orang lain, sekaligus dia memiliki kelebihan dalam hal yang lain lagi mengalahkan orang yang lain lagi. Misalnya seseorang sarjana mempunyai kelebihan sebagai spesialis ahli dalam bahasa Prancis, ternyata dia tidak tahu apa-apa tentang ilmu bahsa Arab. Seorang spesialis ahli bedah tulang, dia bodoh dalam ilmu kesehatan mental. Seorang petinju-boxing yang paling hebat jelas dia mempunyai kekurangan dalam bidang di luar keahliannya itu. Dan seterusnya seorang gadis yang sangat cantik sekalipun pasti dia mempunyai kekurangan dalam ilmu tertentu. Khusus untuk suami isteri, maka masing-masing pasti mempunyai kelebihan kelebihan sekaligus juga kekurangan dibanding pasangannya. Bahkan dengan pemilikan suatu kelebihan itulah maka dia wajib membaktikan kelebihannya untuk menutup kekurangan yang ada pada pasangannya. Sehingga jika seandainya si isteri memiliki keahlian ataupun kedudukan yang mengalahkan keahlian dan kedudukan suami, bagaimanapun hebatnya, maka dia wajib membaktikan kelebihannya itu untuk melaksanakan tugas kewajiban karena kelebihannya dan mutlak atas isteri untuk mengabdi kepada suami sesuati dengan perintah Allah dan Rasul terurai dimuka. ——-(19)—— HAK ISTERI YANG DICERAIKAN I.S.65 Ath-Thala>q 5-6 أَسْكِنُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ سَكَنْتُمْ مِنْ وُجْدِكُمْ وَلَا تُضَارُّوهُنَّ لِتُضَيِّقُوا عَلَيْهِنَّ وَإِنْ كُنَّ أُولَاتِ حَمْلٍ فَأَنْفِقُوا عَلَيْهِنَّ حَتَّى يَضَعْنَ حَمْلَهُنَّ فَإِنْ أَرْضَعْنَ لَكُمْ فَآتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ وَأْتَمِرُوا بَيْنَكُمْ بِمَعْرُوفٍ وَإِنْ تَعَاسَرْتُمْ فَسَتُرْضِعُ لَهُ أُخْرَى(6)لِيُنْفِقْ ذُو سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنْفِقْ مِمَّا ءَاتَاهُ اللَّهُ لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا مَا ءَاتَاهَا سَيَجْعَلُ اللَّهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُسْرًا (الطلاق 6-7 ) II.Artinya “Tempatkanlah mereka (para isteri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka. Dan jika mereka (isteri-isteri yang sudah ditalak) itu sedang hamil, maka berikanlah kepada mereka nafkahnya hingga mereka bersalin, kemudian jika mereka menyusukan (anak-anak) mu untukmu, maka berikanlah kepada mereka upahnya; dan musyawarahkanlah di antara kamu (segala sesuatu), dengan baik; dan jika kamu menemui kesulitan maka perempuan lain boleh menyusukan (anak itu) untuknya” (S.65 Ath-Thala>q 6-7). III.Tafsir dan analisa A.Pengertian kata-kata أَسْكِنُوهُنَّ = Berilah mereka rumah tinggal مِنْ حَيْثُ سَكَنْتُمْ = Sebagaimana rumah kamu tinggal مِنْ وُجْدِكُمْ = Dari yang telah kamu dapatkan وَلَا تُضَارُّوهُنَّ = Dan janganlah kamu menyengsarakan mereka لِتُضَيِّقُوا عَلَيْهِنَّ = Untuk mempersulit mereka وَإِنْ كُنَّ أُولَاتِ حَمْلٍ=Dan jika mereka mempunyai kandungan فَأَنْفِقُوا عَلَيْهِنَّ = Maka berikan nafkah kepada mereka حَتَّى يَضَعْنَ حَمْلَهُنَّ =Sampai mereka melahirkan kandungan mereka فَإِنْ أَرْضَعْنَ لَكُمْ فَآتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ =Maka jika mereka menyusui bayi untuk kamu, berikanlah upahnya وَأْتَمِرُوا بَيْنَكُمْ بِمَعْرُوفٍ = Dan rundingkanlah di antara kamu dengan baik-baik وَإِنْ تَعَاسَرْتُمْ = Dan jika kamu merasa kesulitan فَسَتُرْضِعُ لَهُ أُخْرَى = Maka perempuan lain bisa menyusui kepadanya لِيُنْفِقْ ذُو سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ =Mereka yang memiliki sautu kelonggaran spaya memberikan sebagian dari kelebuhannya وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ = Dan siapa yang kesulitan rejekinya فَلْيُنْفِقْ مِمَّا ءَاتَاهُ اللَّهُ = Maka supaya dia memberi nafkah sekadar yang telah diberikan Allah لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا مَا ءَاتَاهَا =Allah tidak memberikan beban seseorang kecuali menurut apa yang Allah telah berikan kepadanya سَيَجْعَلُ اللَّهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُسْرًا =Allah akan membuat kemudahan setelah kesulitan B. Tema dan sari tilawah Dari apa yang terurai di dalam ayat dan pengertian kata-kata di atas kiranya dapat diambil tema dan sari tilawah ayat itu sebagai berkut: 1. Seorang isteri yang dicerai oleh suaminya, disamping dia harus menunaikan tugas kewajiban hukum, maka dia mempunyai hak-hak yang harus dipenuhi oleh suami 2. Isteri yang dicerai wajib menjalani iddah menurut aturan hukum yang terkait 3. Isteri yang dicerai memiliki hak atas nafkah dan rumah tinggal atau hak yang lain menurut status kedudukan hukumnya. 4. Besarnya pemberian hak atas nafkah dan rumah tinggal tersebut di atas dimusyawarahkan dan seimbang dengan kemampuan suami 5. Suami dilarang keras menzalimi dan mempersulit ataupun menyengsarakan isteri itu 6. Jika isteri tersebut diceraikan dalam keadaan hamil suami wajib memberi nafkah kepadanya sampai dia melahirkan kandungannya 7..Isteri atau seorang ibu lain yang menyusui bayi tadi berhak mendapat upah atas jasa pemberian susunya yang harus dibayar oleh suami yaitu ayah bayi 8 .Jika suami dalam kesulitan,dia harus diberi kesempatan/keringanan membayarnya 9. Kewajiban agama diukur menurut kemampuan dan tidak lebih dari kekuatan manusia 10.Allah akan memberikan anugerah kemudahan setelah derita kesulitan atas hamba-Nya C.Masalah dan analisa Dari tema dan sari tilawah terurai di atas sebenarnya banyak masalah yang timbul yang harus digali pemecahannya, namun yang pelu didahulukan ialah sebagai berikut: 1.Hak apa saja yang dimiliki isteri yang dicerai yang harus dipenuhi oleh bekas suami? 2.Bagaimana nasib anak-anak jika terjadi perceraian antara pasangan suami isteri? 3.Bagaimana jalan pemecahannya jika tidak diperoleh kesesuaian antara suami-isteri? D.Tinjauan dan pemikiran Allah telah menetapkan bahwa suami wajib menanggung sepenuhnya keperluan isteri berupa nafkah maupun keperluan sehari-hari yang lain kepada isteri dan keluarganya sebagaimana ditentukan dalam Al-Quran s.4 An-Nisa>` 34. Pemenuhan kebutuhan hidup ini tetap berlaku sampai isteri yang telah dicerai sekalipun dia tetap berhak mendapat nafkah itu dengan beberapa catatan. Az-Zuh}aili> dalam Al-Fiqhul Isla>mi> (l989:7/765) memberikan pengertian bahwa nafkah tersebut mencakup sandang, pangan dan papan dan secara sosiologis berupa bahan makan dan minuman serta pakaian dengan semua kelengkapannya bahkan untuk kondisi tertentu mencakup pembantu di rumah itu suami harus memenuhi kebutuhan isterinya itu. 1. Hak atas nafkah Sayyid Sa>biq dalam Fiqhus Sunnah (1969,J.2,h.169) memberikan makna nafkah lebih lengkap lagi, yaitu meliputi semua kebutuhan isteri, sandang pangan, papan dan kesehatan, walaupun si isteri itu cukup kaya. Para ulama sepakat terhadap tiga hak isteri dalam tiga hal selama dia berada dalam hukum iddah, yaitu: – Isteri yang ditalak Raj’i berhak atas nafkah dan rumah tinggal. – Isteri yang berada dalam keadaan hamil berhak mendapat nafkah dan rumah tinggal tersebut sampai dia nelahirkan. – Dalam cerai wafat, cerai dari nikah Syubhat dan nikah Fa>sid maka isteri tersebut tidak berhak mendapat nafkah . Senada dengan kesepakatan di atas. maka Ibnu Rusyd dalam Bida>yatul Mujtahid (1950 J.2,h.85) mencatat bahwa para ulama memahami Al-Quran S.65 Ath-Thala>q 6, sepakat menetapkan hak bagi isteri yang sedang menjalani iddah talak Raj’i dan isteri yang ditinggal wafat suaminya memperoleh hak dua macam, yaitu; a) Nafkah. b) Rumah tinggal. Para ulama berbeda pendapat dalam masalah berhak tidaknya atas nafkah dan rumah tinggal bagi isteri yang dicerai dengan talak tiga yang tidak hamil, yaitu: ~ Ulama Kufah berpendapat bahwa isteri yang dicerai dengan talak tiga dan tidak hamil, mereka ini berhak penuh atas nafkah dan rumah tinggal. Alasan ulama Kufah ialah bahwa S.65 Ath-Thala>q 6 bahwa isteri tersebut wajib diberi rumah tinggal mencakup nafkah, yaitu sebagai berikut: وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلَادَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يُتِمَّ الرَّضَاعَةَ وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ لَا تُكَلَّفُ نَفْسٌ إِلَّا وُسْعَهَا لَا تُضَارَّ وَالِدَةٌ بِوَلَدِهَا وَلَا مَوْلُودٌ لَهُ بِوَلَدِهِ وَعَلَى الْوَارِثِ مِثْلُ ذَلِكَ فَإِنْ أَرَادَا فِصَالًا عَنْ تَرَاضٍ مِنْهُمَا وَتَشَاوُرٍ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا وَإِنْ أَرَدْتُمْ أَنْ تَسْتَرْضِعُوا أَوْلَادَكُمْ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ إِذَا سَلَّمْتُمْ مَا ءَاتَيْتُمْ بِالْمَعْرُوفِوَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ (البقرة 233) Artinya; “Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma`ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan juga seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian.. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan”(s.2 al-Baqarah 233) ~ Ah}mad, Da>wu>d, Abu> Tsaur dan Ish}a>q berpendapat bahwa isteri yang ditalak tiga demikian tidak berhak atas nafkah dan rumah tinggal, mereka ini berdalil hadis Bukha>ri> berikut: 4910 ِ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّهَا قَالَتْ مَا لِفَاطِمَةَ أَلَا تَتَّقِي اللَّهَ يَعْنِي فِي قَوْلِهَا لَا سُكْنَى وَلَا نَفَقَةَ (رواه البخاري ومسلم 2725)* Artinya:“Dari ‘Athimah, apakah dia tidak takut kepada Allah tentang ucapannya: “Tidak berhak atas rumah tinggal tidak pula nafkah”(HR.Bukha>ri> no.4910 dan Muslim 2715) ~ Imam Ma>lik dan Sya>fi’i> berpendapat bahwa isteri yang dicerai talak tiga disebutkan di atas hanya berhak atas rumah tinggal tetapi tidak berhak atas nafkah berdalil atas hadis riwayat Turmudzi> berikut: 1100عَنِ الشَّعْبِيِّ قَالَ قَالَتْ فَاطِمَةُ بِنْتُ قَيْسٍ طَلَّقَنِي زَوْجِي ثَلَاثًا عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا سُكْنَى لَكِ وَلَا نَفَقَةَ (رواه الترمذي) Artinya: “Dari Sya’bi dia berkata bahwa Fa>thimah binti Qais berkata: “Suamiku mencraikan aku talak tiga di jaman Nabi Saw. masih hidup, maka beliau bersabda: “Kau tidak mendapat hak rumah tinggal dan juga tidak berhak nafkah bagimu”(HR. Turmudzi> no.1100). ~ ‘Umar tidak percaya kepada riwayat Fa>thimah binti Qais , sehingga ‘Umar menetapkan bahwa isteri yang dicerai dengan talak tiga itu tetap mendapat nafkah rumah tinggal, kemudian pendapat ‘Umar ini diikuti oleh Sufya>n ats-Tsauri>. @ Pasal 149 Kompilasi Hukum Islam menetapkan bahwa dengan putusnya perkawinan maka suami wajib membayar empat macam kewajiban, yaitu: a- Mut’ah untuk isteri, kecuali isteri yang Qablad dukhu>l. b- Sandang, pangan dan papan untuk isteri selama dalam iddah, kecuali isteri yang nusyu>z, atau talak Ba’in yang tidak hamil. c- Melunasi mahar yang belum lunas, jika Qablad dukhu>l cukup membayar separuh. d- Membayar H}adha>nah anak sampai umur 21 tahun. @ Hak atas Mut’ah Mut’ah ialah pemberian sesuatu yang berharga oleh suami kepada isterinya yang dicerai sebagai tambahan atas maskawin untuk menghibur isteri dari kesedihan karena perceraiannya. Az-Zuh}aili>> dalam tafsirnya Al-Muni>r (1991:J.2,h.384) mencatat bahwa para ulama memahami S.2 Al-Baqarah 241, S.65 Ath-Thala>q 1 dan S.33 Al-Ah}za>b 49 maupun hadi terkait, mereka berbeda pendapat tentang hukum Mut’ah, yaitu: ~Ulama Zha>hiri> mewajib pembayaran Mut’ah dalam semua perceraian. ~Ulama H}anafiyah memahami Al-Quran S.2 Al-Baqarah 236 menyatakan bahwa Mut’ah itu hukumnya wajib jika si isteri dicerai :Qablad dukhu>l dan belum menetapkan besarnya maskawin. ~Ulama Sya>fi’i>yah menyatakan bahwa Mut’ah itu hukumnya wajib atas semua perceraian yang inisiatip dan niat itu berasal dari suami kecuali jika suami telah menetapkan besarnya maskawin sebelumnya. -Jumhur menyatakan tidak wajib pembayaran Mut’ah untuk semua perceraian. -Ulama Ma>likiyah menetapkan hukum pembayaran Mut’ah itu mandub atau sunat @Ulama yang mewajibkan pembayaran tersebut tidak untuk semua perceraian, mereka berselisih pendapat, yaitu: Ulama Ma>likiyah memahami S.2 Al-Baqarah 236, mereka memperhatikan kepada penutup ayat yang berbunyi H}aqqan ‘ala>l muttaqi>n yang menekankan terutama kepada mereka yang takwa. Ayat dan hadis yang terkait dengan masalah pembayaran Mut’ah, yaitu: وَالَّذِينَ يُتَوَفَّوْنَ مِنْكُمْ وَيَذَرُونَ أَزْوَاجًا وَصِيَّةً لِأَزْوَاجِهِمْ مَتَاعًا إِلَى الْحَوْلِ غَيْرَ إِخْرَاجٍ ( البقرة 240 ) Artinya: “Dan orang-orang yang akan meninggal dunia di antaramu dan meninggalkan isteri, hendaklah berwasiat untuk isteri-isterinya, (yaitu) diberi nafkah hingga setahun lamanya dengan tidak disuruh pindah (dari rumahnya)” (S.2 Al-Baqarah 240) لَا تُخْرِجُوهُنَّ مِنْ بُيُوتِهِنَّ وَلَا يَخْرُجْنَ إِلَّا أَنْ يَأْتِينَ بِفَاحِشَةٍ مُبَيِّنَةٍ (الطلاق 1) Artinya: “Janganlah kamu keluarkan mereka dari rumah mereka dan janganlah mereka (diizinkan) ke luar kecuali kalau mereka mengerjakan perbuatan keji yang terang”(S65 Ath-Thala>q 1) لاجُنَاحَ عَلَيْكُمْ إِنْ طَلَّقْتُمُ النِّسَاءَ مَا لَمْ تَمَسُّوهُنَّ أَوْ تَفْرِضُوا لَهُنَّ فَرِيضَةً وَمَتِّعُوهُنَّ عَلَى الْمُوسِعِ قَدَرُهُ وَعَلَى الْمُقْتِرِ قَدَرُهُ مَتَاعًا بِالْمَعْرُوفِ حَقًّا عَلَى الْمُحْسِنِينَ (البقرة 236) Artinya: “Tidak ada kewajiban membayar (mahar) atas kamu, jika kamu menceraikan isteri-isterimu sebelum kamu bercampur dengan mereka dan sebelum kamu menentukan maharnya. Dan hendaklah kamu berikan suatu mut`ah (pemberian) kepada mereka. Orang yang mampu menurut kemampuannya dan orang yang miskin menurut kemampuannya (pula), yaitu pemberian menurut yang patut. Yang demikian itu merupakan ketentuan bagi orang-orang yang berbuat kebajikan”(S.2 Al-Baqarah 236) وَلِلْمُطَلَّقَاتِ مَتَاعٌ بِالْمَعْرُوفِ حَقًّا عَلَى الْمُتَّقِينَ (البقرة 241) Artinya: “Kepada wanita-wanita yang diceraikan (hendaklah diberikan oleh suaminya) mut`ah menurut yang ma`ruf, sebagai suatu kewajiban bagi orang-orang yang takwa”(S.2 Al-Baqarah 241) يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِذَا نَكَحْتُمُ الْمُؤْمِنَاتِ ثُمَّ طَلَّقْتُمُوهُنَّ مِنْ قَبْلِ أَنْ تَمَسُّوهُنَّ فَمَا لَكُمْ عَلَيْهِنَّ مِنْ عِدَّةٍ تَعْتَدُّونَهَا فَمَتِّعُوهُنَّ وَسَرِّحُوهُنَّ سَرَاحًا جَمِيلًا(الاحزاب49) Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu menikahi perempuan-perempuan yang beriman, kemudian kamu ceraikan mereka sebelum kamu mencampurinya maka sekali-kali tidak wajib atas mereka `iddah bagimu yang kamu minta menyempurnakannya, Maka berilah mereka mut`ah dan lepaskanlah mereka itu dengan cara yang sebaik-baiknya”(S.33 Al-Ah}za>b 49) 1045 عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ لِكُلِّ مُطَلَّقَةٍ مُتْعَةٌ إِلَّا الَّتِي تُطَلَّقُ وَقَدْ فُرِضَ لَهَا صَدَاقٌ وَلَمْ تُمْسَسْ فَحَسْبُهَا نِصْفُ مَا فُرِضَ لَهَا (رواه مالك)* Artinya:“Dari ‘Abdulla>hh ibnu ‘Umar sungguh dia berkata: “ Setiap isteri yang dicerai berhak atas mut’ah, kecuali isteri yang dicerai yang memang telah ditetapkan baginya maskawin dan belum disentuh sama sekali, maka dia ini setengah dari maskawin yang ditetapkan itu”(HR.Ma>lik no.1045). 2.Hak anak dari orang tuanya a.Air susu bagi anak-bayi Para ulama sepakat bahwa pemberian air susu anak, maka hukumnya wajib atas ibu si anak baik dalam kedudukan bersuami maupun dalam keadaan cerai dari suaminya bahkan waktu setelah habis iddah dari perceraiannya. Para ulama berbeda pendapat terhadap masalah pemberian air susu tersebut jika perceraiannya itu didasarkan atas putusan hakim, yaitu: 1) Ash-Sha>bu>ni> (tth:jI,h353) mencatat bahwa Ulama Ma>likiyah, memahami Al-Quran S.2 Al-Baqarah 233 dan S.65 Ath-Thala>q 6, berpendapat bahwa tidak wajib atas si ibu utuk memberi susu dari teteknya kecuali jika memang si isteri itu berkehendak menyusuinya, dia lebih berhak. Masing-masing pihak tidak terlepas dari ayat-ayat tertera di bawah ini: وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلَادَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يُتِمَّ الرَّضَاعَةَ وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ لَا تُكَلَّفُ نَفْسٌ إِلَّا وُسْعَهَا لَا تُضَارَّ وَالِدَةٌ بِوَلَدِهَا وَلَا مَوْلُودٌ لَهُ بِوَلَدِهِ وَعَلَى الْوَارِثِ مِثْلُ ذَلِكَ فَإِنْ أَرَادَا فِصَالًا عَنْ تَرَاضٍ مِنْهُمَا وَتَشَاوُرٍ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا وَإِنْ أَرَدْتُمْ أَنْ تَسْتَرْضِعُوا أَوْلَادَكُمْ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ إِذَا سَلَّمْتُمْ مَا ءَاتَيْتُمْ بِالْمَعْرُوفِوَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ(البقرة233) Artinya: Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma`ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan juga seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan”(S.2 Al-Baqarah 233). وَإِنْ كُنَّ أُولَاتِ حَمْلٍ فَأَنْفِقُوا عَلَيْهِنَّ حَتَّى يَضَعْنَ حَمْلَهُنَّ فَإِنْ أَرْضَعْنَ لَكُمْ فَآتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ وَأْتَمِرُوا بَيْنَكُمْ بِمَعْرُوفٍ وَإِنْ تَعَاسَرْتُمْ فَسَتُرْضِعُ لَهُ أُخْرَى(الطلاق6) Artinya: “Dan jika mereka (isteri-isteri yang sudah ditalak) itu sedang hamil, maka berikanlah kepada mereka nafkahnya hingga mereka bersalin, kemudian jika mereka menyusukan (anak-anak) mu untuk kamu, maka berikanlah kepada mereka upahnya; dan musyawarahkanlah di antara kamu (segala sesuatu), dengan baik; dan jika kamu menemui kesulitan maka perempuan lain boleh menyusukan (anak itu) untuknya”(S.65 Ath-Thala>q 6). 2) Jumhur memahami Al-Quran S.65 Ath-Thala>q 6 ini bukan mewajibkan dan memaksa, tetapi sunat hukumnya atas si ibu tersebut untuk memberi susu dari tetek dia bagi bayinya dari suami yang terjadi perceraian dengan putusan hakim. Dan berdasarkan S.65 Ath-Thala>q 6 jika mereka menjumpai kesulitan untuk itu, maka kelompok Jumhur membolehkan menyusukan anak kepada seorang ibu yang diupah,. b.Menyantuni, mengasuh dan membesarkan Menyantuni anak, mengasuh dan membesarkan anak hukumnya wajib atas orang tua si anak. Hak >, menyantuni, mengasuh dan membesarkan anak ini merupakan hak bersama antara anak, ibu dan bapak orang tua dari si anak.Dan hak si ibu ini tetap melekat padanya bahkan sampai sesudah terjadi perceraian.sekalipun, asal dia belum kawin dengan suami baru, sesuai dengan hadis Rasul Saw.berikut: 1938عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو أَنَّ امْرَأَةً قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ ابْنِي هَذَا كَانَ بَطْنِي لَهُ وِعَاءً وَثَدْيِي لَهُ سِقَاءً وَحِجْرِي لَهُ حِوَاءً وَإِنَّ أَبَاهُ طَلَّقَنِي وَأَرَادَ أَنْ يَنْتَزِعَهُ مِنِّي فَقَالَ لَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْتِ أَحَقُّ بِهِ مَا لَمْ تَنْكِحِي(رواه ابو داود واحمد 6429) * Artinya: “Dari ‘‘Abdulla>h ibnu ‘Amr dia berkata bahwa seorang perempuan menghadap Rasulullah saw. dan berkata: “Ya Rasul anak ini anakku, rahimku tempat dia, kepada tetekkulah dia menetek, rumahku itulah tempat dia, namun bapaknya mencerai aku dan berusaha memisahkan dia dari padaku. Maka Rasulullah Saw. bersabda: “Engkau lebih berhak atas anak itu selama engkau belum kawin lagi” (HR Abu> Da>wu>d no.1938 dan Ah}mad no.6420). 9395 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ جَاءَتِ امْرَأَةٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ طَلَّقَهَا زَوْجُهَا فَأَرَادَتْ أَنْ تَأْخُذَ وَلَدَهَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَهِمَا فِيهِ فَقَالَ الرَّجُلُ مَنْ يَحُولُ بَيْنِي وَبَيْنَ ابْنِي فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِلِابْنِ اخْتَرْ أَيَّهُمَا شِئْتَ فَاخْتَارَ أُمَّهُ فَذَهَبَتْ بِهِ (رواه احمد)* Artinya: “Dari Abu> Hurairah bahwa seorangperempuan telah diceraikan oleh suaminya lalu dia ingin mengambil anaknya. Maka Rasulullah Saw. bersabda: “Ambillah bagian kamu berdua di dalamnya”. Kemudian laki-laki itu berkata: “Siapakah yang menghalangi aku dengan anakku?”. Maka Rasulullah Saw. bersabda kepada anak itu: “Pilihlah manakah di antara bapak-ibumu yang kamu senangi?”. Kemudian anak itu memilih ikut ibunya maka ibunya membawa anak iotu”(HR.Ah}mad no.9395). Para ulama sepakat bahwa kewajiban menyantuni, mengasuh dan membesarkan anak itu sejak lahir sampai umur mumayyiz yaitu kira-kira umur 7 th.. Namun para ulama tidak sependapat mengenai hak-kewajiban itu waktu anak sesudah umur mumayyiz. ~Ulama H}anafi> membatasi hak itu sampai anak bisa lepas dari santunan seorang ibu, yaitu bisa berdiri sendiri dalam makan, minum, berpakaian dan mensucikan diri dari najis.. ~Ulama Ma>liki> mewajibkannya sampai umur dewasa si anak. ~Ulama Sya>fi’i>yah sesuai dengan hadis Turmudzi> dari Abu> Hurairah bahwa tenggang waktunya ialah sampai anak tadi mampu memilih ikut bapak atau ikut ibu. ~Ulama H}anbali> senada dengan ulama Sya>fi’i>yah, yaitu sampai anak mampu memilih ikut bapak atau ibu(Az-Zuh}aili> l989:7/742). 3.Pengadilan Agama Untuk menjamin ketertiban hukum dan kehidupan hidup bermasyarakat, maka perkawinan dengan seluruh masalahnya diurus oleh negara, melalui aturan perundang-undangan mulai dari UU no.22 tahun l946,UU no.32 tahun l954, UU no.1 thaun l974, PP no.9 tahun1975 dan UU no.7 tahun 1989 serta Kompilasi Hukum Islam Inpres No.1 tahun l991.. Dalam peraturan perundang-undangan ini diatur pekawinan umat Islam itu sejak mulai dari persiapan perkawinan sampai putusnya perkawinan beserta akibat-akibatnya bahkan sampai hukum waris dan wakaf.Dan khususnya dalam masalah perceraian harus mentaati aturan perundang-undangan tersebut melalui Pengadilan Agama. Maka pasal 115 Kompilasi Hukum Islam senada dengan pasal 39 ayat1 UU no.1 tahun 1974 dan pasal 65 UU no.7 Tahun 1989 ditetapkan bahwa perceraian hanya dapat diakui sah jika dilakukan di hadapan Sidang Pengadilan Agama setelah Ketua Pengadilan Agama tidak berhasil mendamaikan antar kedua orang suami yang sedang berperkara. Mengenai akibat putusnya perkawinan pasal 149 dan seterusnya, senada dengan pasal 39 PP no.9 tahun l975 disitu diatur juga masalah pemberian mut’ah, nafkah, maskawin yang bermasalah dan biaya asuh anak atau hadlanah anak sampai usia 21 tahun. Semua aturan perundang-undangan tersebut di atas dirancang dan disahkan berasaskan hukum Islam. Dan khusus dalam penyelesaian perbedaan pendapat harus diselesaiakan melalui peradilan berdasarkan hukum Allah dan Rasul itu, persis sejalan dengan firman Allah dalam Al-Quran berikut: يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا( النساء 59 ) Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, ta`atilah Allah dan ta`atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”(S.4 An-Nisa>` 59). —–(20)—— RUJUK-KEMBALI I. S.2 Al-Baqarah 230 فَإِنْ طَلَّقَهَا فَلَا تَحِلُّ لَهُ مِنْ بَعْدُ حَتَّى تَنْكِحَ زَوْجًا غَيْرَهُ فَإِنْ طَلَّقَهَا فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا أَنْ يَتَرَاجَعَا إِنْ ظَنَّا أَنْ يُقِيمَا حُدُودَ اللَّهِ وَتِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ يُبَيِّنُهَا لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ (البقرة 230) II.Artinya: “Kemudian jika si suami mentalaknya (sesudah talak yang kedua), maka perempuan itu tidak halal lagi baginya hingga dia kawin dengan suami yang lain. Kemudian jika suami yang lain itu menceraikannya, maka tidak ada dosa bagi keduanya (bekas suami pertama dan isteri) untuk kawin kembali jika keduanya berpendapat akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Itulah hukum-hukum Allah, diterangkan-Nya kepada kaum yang (mau) mengetahui (S.2 Al-Baqarah230) III.Tafsir dan analisa A.Pengertian kata-kata فَإِنْ طَلَّقَهَا = Maka jika dia telah menceraikannya, maksudnya suami telah menceraikan isterinya itu yang ketiga setelah rujuk yang kedua فَلَا تَحِلُّ لَهُ= Maka dia tidak halal baginya, maksudnya isteri yang telah dicerai dengan talak tiga maka haram dirujuk kembali oleh bekas suaminya itu. حَتَّى تَنْكِحَ زَوْجًا غَيْرَهُ= Sehingga dia kawin dengan suami lain, maksudnya bahwa isteri yang telah ditalak tiga itu telah kawin dengan suami baru dengan perkawinan yang sebenar-benarnya فَإِنْ طَلَّقَهَا = Maka jika dia telah menceraikannya, maksudnya suami baru ini telah mencerai perempuan yang pernah dicerai dengan talak tiga oleh suami pertamanya أَنْ يَتَرَاجَعَا = Untuk rujuk kembali berdua, maksudnya bahwa perempuan yang telah dicerai dengan talak tiga itu dikawin lagi oleh suami pertama yang telah mencerai dengan talak tiga إِنْ ظَنَّا أَنْ يُقِيمَا حُدُودَ اللَّهِ = Jika keduanya mengira dapat menetapi hukum Allah, maksudnya bahwa keduanya yakin akan mampu mentaati aturan hukum Allah. B.Latar belakang turunnya ayat ‘A>isyah binti ‘Abdurrah}ma>n isteri Rifa>‘ah ibnu ‘Atik telah dicerai oleh suaminya dengan talak Ba`in atau talak tiga. Kemudian ‘A>isyah ini dikawin oleh ‘Abdurrah}ma>n ibnuz-Zubair al Qurazhi>. Tetapi perkawinan ini tidak berlangsung terus, maka terjadilah perceraian antara keduanya, bahkan belum terjadi apa-apa, belum terjadi dukhul antara keduanya,‘A>isyah ini dicerai oleh ‘Abdurrah}ma>n.. Berhubung dengan cerainya itu maka ‘A>isyah memohon fatwa kepada Rasulullah Saw. Tetapi Nabi Saw. menegaskan bahwa ‘A>isyah itu tidak boleh dirujuk kembali oleh Rifa>‘ah suaminya yang pertama, sebelum ‘A>isyah ini merasakan nikmatnya hubungan intim dengan suaminya yang kedua yakni ‘Abdurrah}ma>n ibnuz Zubair. Diriwayatkan oleh Ibnul Mundzir bahwa turunnya Al-Quran S.2 Al-Baqarah 230 berkaitan dengan peristiwa di atas ini (Az-Zuh}aili> l99l:2/333). Menurut catatan As-Suyu>thi> dalam Ad-Durrul Mantsu>r (1983:1/677), ‘A>isyah binti ‘Abdurrah}ma>n tersebut, sesudah Rasulllah Saw. wafat dia memohon ijin kepada khalifah Abu Bakar untuk dibolehkannya rujuk kembali dengan suaminya yang terdahulu tetapi ditolak oleh Abu Bakar, setelah Abu Bakar meninggal ‘A>isyah ini kembali mengulangi permohonannya dia memohon ijin kepada khalifah ‘Umar untuk dibolehkannya rujuk kembali dengan Rifa>‘ah ibnu Wahab suaminya yang pertama dahulu itu. Maka ‘Umar-pun tidak hanya menolak permohonannya tetapi bahkan ‘Umar mengancam akan menerapkan hukum rajam atas diri ‘A>isyah ini jika dia nekad akan rujuk kembali kepada Rifa>‘ah, suaminya yang lama itu, sebab sudah jelas ada keputusan larangan itu dari Rasulullah Saw. maupun dari Abu Bakar. Di dalam halaman-halaman itu juga As-Suyu>thi> mencatat 16 riwayat hadis yang isinya senada dan semakna namun yang mengaitkannya sebagai Sababun Nuzu>l hanya satu yaitu riwayat dari Ibnul Mundzir saja. Dalam Compack Disk (CD) hadis terbitan Shakhar, di sana dapat kita baca banyaknya riwayat hadis dalam masalah tersebut, yaitu Bukha>ri> terdapat 4 riwayat, Muslim 2 riwayat, Turmudzi> satu riwayat, Nas>a`i >6 riwayat, Ibnu Majah 2 riwayat dan Ah}mad lebih banyak lagi. Semua tidak mengaitkannya sebagai Sabab Nuzu>l Al-Quran S.2 Al-Baqarah 230 terurai dalam pokok bahasan ini. Dan salah satu riwayat Bukha>ri> dapat dibaca dalam kutipan di bawah ini, yaitu sbb: ِ4860 عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ طَلَّقَ رَجُلٌ امْرَأَتَهُ فَتَزَوَّجَتْ زَوْجًا غَيْرَهُ فَطَلَّقَهَا وَكَانَتْ مَعَهُ مِثْلُ الْهُدْبَةِ فَلَمْ تَصِلْ مِنْهُ إِلَى شَيْءٍ تُرِيدُهُ فَلَمْ يَلْبَثْ أَنْ طَلَّقَهَا فَأَتَتِ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ زَوْجِي طَلَّقَنِي وَإِنِّي تَزَوَّجْتُ زَوْجًا غَيْرَهُ فَدَخَلَ بِي وَلَمْ يَكُنْ مَعَهُ إِلَّا مِثْلُ الْهُدْبَةِ فَلَمْ يَقْرَبْنِي إِلَّا هَنَةً وَاحِدَةً لَمْ يَصِلْ مِنِّي إِلَى شَيْءٍ فَأَحِلُّ لِزَوْجِي الْأَوَّلِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَحِلِّينَ لِزَوْجِكِ الْأَوَّلِ حَتَّى يَذُوقَ الْآخَرُ عُسَيْلَتَكِ وَتَذُوقِي عُسَيْلَتَهُ (رواه البخاري) Artinya: “Dari ‘Ari> hadis no.4960) (*)Hudbah artinya ujung baju, maksudnya ialah lemah. Asyauka>ni> mencatat dalam Nailul Autha>r (tth: 7/45) bahwa yang dimaksud dengan Hudbah ialah bahwa penis atau zakar itu lemah (impoten) C.Tema dan sari tilawah Kandungan makna Al-Quran S.2 Al-Baqarah 230 di atas tidak dapat dipisahkan dari ayat-ayat sebelumnya, yaitu ayat 229 bahkan lebih terikat lagi kaitannya dengan ayat 228. Oleh karena itu untuk memahami dan mengambil tema sebagai acuan masalah ayat 230 surat Al-Baqarah tersebut harus dihubungkan satu sama lain, khususnya berkenaan dengan soal rujuk kembalinya dua orang bekas suami isteri yang sedang bercerai, yaitu sebagai berikut: ~Pada prinsipnya perkawinan itu merupakan kesatu-paduan dua orang laki-laki dan perempuan sebagai suami isteri yang merupakan suatu paduan yang wajib dijaga dan dibina dalam suatu ikatan yang kokoh antar keduanya untuk selama-lamanya. ~Jika seandainya paduan ini memang betul-betul tidak dapat dipertahankan, sebab jika diteruskan maka akan timbul banyak masalah yang dosanya lebih besar dari pada manfaatnya maka Islam membolehkan terjadinya perceraian. Jika seandainya setelah terjadi perceraian terasa penyesalan yang mendorong untuk rujuk kembali, maka terjadinya rujuk kembali dan berdamai kembali itu merupakan suatu langkah yang sangat terpuji. Suami pertama yang telah menceraikannya memang benar lebih berhak dibanding laki-laki lain untuk merujuk kembali untuk mengawini bekas isteri itu jika mereka betul-betul mempunyai tujuan yang benar. Jika seandainya dugaan dan angan-angan sebelum rujuk kembali tadi ternyata tidak sepenuhnya terwujud setelah terjadi rujuk ini, kemudian terjadi lagi perceraian talak yang kedua, maka Islam masih memberikan kesempatan sekali lagi kepada keduanya untuk rujuk kembali demi untuk membina kesatuan yang padu rumah tangganya yang penah goyang dan gonjang ganjing itu. Jika dalam rujuk kembali yang kedua itu terpaksa terjadi lagi suatu perceraian maka dalam perceraian atau talak yang ketiga kalinya inilah Allah melarang keras mereka rujuk kembali. Kemungkinan rujuk kembali antara kedua bekas suami isteri yang menderita kawin cerai berulang-ulang ini oleh Allah sebenarnya juga masih diijinkan lagi untuk mengulangi kehidupan bersama dalam perkawinan mereka lagi dengan syarat yang benar-benar sangat langka, yaitu sebagai berikut: (a).Isteri dimaksud telah dinikah oleh laki-laki lain melalui cara-cara dan proses hukum perkawinan yang wajar dan sungguh-sungguh, dengan niat yang tulus sebagaimana makna suatu perkawinan antara jejaka dengan gadis dan jauh dari niat-niat lain. (b).Perkawinan antara isteri ini dengan suami baru telah terjadi kemesraan hidup sebagai suami isteri, masing-masing suami-isteri telah memperoleh madunya kenikmatan hubungan intim antar keduanya. (c).Telah terjadi perceraian yang sabab-musababnyapun timbul secara wajar dan alami, di luar faktor pengaruh orang lain. (d).Dari perceraian ini telah berlangsung iddah dan sudah habis iddahnya sesuai dengan peraturan perundang-undangan syariat Islam (e).Satu syarat lagi yang sangat penting ialah adanya keyakinan oleh kedua orang yang akan rujuk kembali yang ketiga kali setelah talak tiga ini bahwa nantinya setelah rujuk kembali mereka yakin akan tunduk taat betul-betul kepada aturan hukum Allah. Itulah hukum Allah dan sebenarnya orang yang berpikir ilmiah akan mudah menerima makna yang sangat dalam dari hukum-hukum Allah yang jelas itu. D.Masalah dan analisa Dari kandungan makna dan acuan masalah terurai di atas maka ada berbagai macam masalah tersembunyi di dalamnya yang perlu ditelusuri lebih jauh, khususnya tentang acara rujuk kembali, yaitu: 1.Ada berapa macam bentuk putusnya perkawinan dan perceraian itu? 2.Bentuk perceraian atau putusnya perkawinan yang bagaimana yang dimungkinkan adanya rujuk kembali ? Dan bentuk perceraian atau putusnya perkawinan yang mana tidak dibolehkan adanya rujuk kembali? 3.Syarat-syarat apa saja dan bagaimanakah cara melakukan rujuk kembali bekas suami isteri yang pernah putus perkawinannya itu? E.Tinjauan dan pemikiran. Sudah terurai dalam beberapa bahasan judul-judul tafsir Maudhu>‘i> pada bab-bab di muk sebelum ini bagaimana proses usaha pembentukan keluarga Saki>nah, rumah tangga yang bahagia, mulai dari proses yang paling awal sampai usaha-usaha mewaspadai gejala-gejala yang mungkin dapat menghambat perjalanan yang dapat menggoyang kerukunan hidup berumah tangga, sampai kepada suatu kesimpulan wajibnya kita lebih mentaati petunjuk Allah dari pada hanyut terbuai oleh desakan hawa nafsu yang akibatnya terjadi apa yang sangat dibenci oleh Allah yaitu putusnya perkawinan. Akan tetapi manusia itu memang bukan malaikat yang tidak mempunyai hawa nafsu sama sekali itu, jadi lebih banyak manusia yang lebih mendewa-dewakan hawa nafsunya, salah satunya ialah suka melakukan penyelewengan dalam perkawinan sehingga terjadi banyak perceraian atau putusnya perkawinan. Perkawinan antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan sewaktu-waktu dapat terjadi putus ikatan perkawinannya alias bukan lagi mejadi suami isteri bahkan sudah menjadi orang yang haram berdekatan secara fisik satu sama lain, baik disebabkan karena perceraian maupun akibat dari sebab-sebab khusus yang mengubah kedudukan hukumnya dari suami isteri menjadi bukan suami isteri lagi dia harus taat dan tunduk kebawah hukum haram berhubungan intim berdua. 1. Bentuk-bentuk putusnya perkawinan Adapun bentuk putusnya perkawinan itu ada beberapa macam tergantung dari mana memandangnya. Para ulama Indonesia melalui Kompilasi Hukum Islam pasal 113 menetapkan bahwa putusnya perkawinan itu disebabkan karena 3 masalah, yaitu: a)Kematian. b) Perceraian. c) Putusan Pengadilan. Dalam pasal 114-115-116 ditetapkan bahwa putusnya perkawinan yang disebabkan karena perceraian dapat terjadi karena talak atau karena gugat perceraian dari isteri. Dan perceraian tidak lain kecuali hanya perceraian yang dilakukan di muka sidang Pengadilan Agama jika sudah tidak dapat didamaikan lagi. Az-Zuh}aili>(1989:7/348) membagi bentuk-bentuk putusnya perkawinan itu adalah sebagai berikut: Putusnya perkawinan itu disebabkan oleh dua sebab, yaitu.a). Fasakh. b) Talak. Fasakh itu ada dua macam, yaitu: (1) Fasakh dengan suka rela suami dan isteri bentuk ini disebut dengan Khulu’. (2) Fasakh karena vonis hakim pengadilan. Az-Zuh}aili> dalam Al-Fiqhul Isla>mi> (1989:7/509) menulis bahwa dalam masalah di atas ini ada 10 macam dasar alasan fasakh oleh hakim, yaitu: (1) Kesulitan nafkah.(2) Cacat badan.(3) Madlorot antar suami-isteri.(4)Talak yang keliru. (5) Hilangnya suami.(6) Suami terhukum dalam penjara. (7) Sumpah Ila< `. (8) Sumpah Li’a>n.(9) Zhiha>r. (10) Murtad oleh orang yang bersangkutan. @Firman Allah yang berkaitan dengan putusnya perkawinan dan kemungkinannya untuk rujuk kembali Ayat-ayat Al-Quran yang bertalian dengan putusnya perkawinan terdapat di beberapa tempat, yaitu sebagai berikut: a).Talak, yaitu perceraian yang umum berlaku dan inisiatip datang dari pihak suami.Ayat-ayat yang terkait dengan masalah ini ialah: S.2 Al-Baqarah 227,229,230,232,236;241; S. 4 An-Nisa>`130;S.33 Al-Ah}za>b 28 dan 49 dan S.65 Ath-Thala>q 1-2 b)..Khulu’, yakni putusnya perkawinan yang inisiatip atau kehendak berpisah itu datang dari pihak isteri dan isteri membayar tebusan. Masalah ini di bahas di dalam Al-Quiran S.2 Al-Baqarah 229, 231-232; S.4 An-Nisa>`4,19-20,128; S.65 Ath-Thala>q1. c).Li’a>n, yaitu putusnya perkawinan dengan pengucapan sumpah saling laknat melaknat dari suami kepada isteri dan oleh isteri terhadap suami, yang didahului oleh tuduh menuduh zina di antara mereka, dijelaskan Allah di dalam Al-Quran S.24 An-Nu>r 6-9; S.11 Hu>d 18. d). Ila<`, yakni putusnya suatu perkawinan yang disebabkan oleh suatu sumpah yang di ucapkan oleh seorang suami bahwa dirinya tidak akan mendekati isterinya sama sekali untuk jangka waktu empat bulan atau lebih. Hal ini diterangkan Allah dalam Al-Quran S.2 Al-Baqarah 226 e).Wafatnya salah seorang dari suami isteri, ini dapat disebut dengan cerai mati, sebagaimana diuraikan Allah di dalam Al-Quran S.2 Al-Baqarah 234 dan ayat 240 f) Murtad atau berpindah agama oleh salah seorang dari suami isteri dijelaskan Allah dalam Al-Quran S.60 Al-Mumtah}anah10-11 g) Zhiha>r, yaitu suatu model perceraian jaman Jahiliyah, bahwa suami mengucapkan kata-kata bahwa isterinya itu sama dengan punggung ibunya sendiri dan memang berniat mencerai. Diterangkan Allah dalam Al-Quran dalam S.33 Al-Ah}za>b 4; S.58 Al-Muja>dalah 1-2-3-4. 2.Macam-macam talak ditinjau dari sisi kemungkinan rujuk kembali dan tidaknya Sebelum memasuki soal talak, lebih dahulu harus dicatat bahwa yang dimaksud rujuk kembali itu ialah suatu langkah untuk menyatukan kembali ikatan perkawinan yang dilaksanakan di dalam tenggang waktu ketika isteri masih dalam keadaan menjalani iddah dan iddahnya belum habis. Jika iddahnya sudah habis maka kerukunan kembali mereka berdua kedalam ikatan perkawinan itu bukan rujuk,tetapi namanya kawin baru walaupun suami isteri sama itu-itu juga. Talak itu dapat dibagi dari dua sisi, yaitu: a) Sunni dengan Bid’i. b) Raj’i dengaan Ba`in. a).Talak Sunni Talak Sunni ialah talak yang dilakukan sesuai dengan Al-Quran dan sunnah Rasulullah Saw., yaitu dilaksanakan pada saat isteri dalam keadaan suci yang tidak digauli dan talaknya belum sampai talak yang ke tiga. Dasarnya ialah Al-Quran S.2 Al-Baqarah 229 dan S.65 Ath-Thala>q 1 dan hadis berikut: 4850 عَنْ عَبْدِاللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِي اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّهُ طَلَّقَ امْرَأَتَهُ وَهِيَ حَائِضٌ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَأَلَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ ذَلِكَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُرْهُ فَلْيُرَاجِعْهَا ثُمَّ لِيُمْسِكْهَا حَتَّى تَطْهُرَ ثُمَّ تَحِيضَ ثُمَّ تَطْهُرَ ثُمَّ إِنْ شَاءَ أَمْسَكَ بَعْدُ وَإِنْ شَاءَ طَلَّقَ قَبْلَ أَنْ يَمَسَّ فَتِلْكَ الْعِدَّةُ الَّتِي أَمَرَ اللَّهُ أَنْ تُطَلَّقَ لَهَا النِّسَاءُ(رواه البخاري ) Artinya: “Dari ‘‘Abdulla>h ibnu ‘Umar, bahwa di jaman Rasulullah Saw Ibnu ‘Umar itu mencerai isterinya, saat itu isterinya dalam keadaan haid, maka ‘Umar mempertanyakan hal itu . Kemudian Rasulullah Saw. bersabda: “Perintahkan dia merujuk kembali isterinya lalu dia tahan sampai isterinya itu suci lalu haid lalu suci lagi, selanjutnya jika sesudah itu Ibnu ‘Umar supaya mempertahankannya tetap sebagai isteri dan jika ingin menceraikan supaya sebelum dia menggaulinya (masih suci). Maka itulah iddah yang diperintahkan oleh Allah soal cara bagi isteri untuk diceraikan (HR.Bukha>ri> no.4850 dan Muslim no.2675). b. Talak Bid’i Talak Bid’i (menurut KHI pasal 122) ialah talak yang dilarang oleh syariat Islam, talak yang dilarang yaitu talak yang didijatuhkan pada saat isteri dalam keadaan haid ataupun talak yang dujatuhkam ketika isteri dalam keadaan suci yang sudah digauli pada waktu suci itu Menurut Az-Zuh}aili> dalam Al-Fiqhul Isla>mi> (l989:7/426),bahwa talak Bid’i ialah 2 atau 3 talak dengan satu ucapan demikian juga talak tiga dalam satu tenggang waktu satu keadaan suci. Hukumnya adalah haram dan pelakunya dinilai berdosa. (Sa>biq 1969:2/265). Menurut Jumhur ulama talak Bid’i ini jatuh tiga, namun sebagian lagi menyatakan tidak berlaku demikian sesuai dengan dasar alasan masing-masing  Talak dibagi menjadi talak Raj’i dan talak Ba`in Ad 1 Talak Raj’i Talak Raj’i ialah talak yang terjadi sesudah dukhul bagi talak kesatu dan atau yang kedua, dan isteri masih dalam keadaan iddahnya belum habis, juga talak tersebut bukan talak tebusan (Khulu’). Dasarnya ialah firman Allah dalam Al-Quran S.2 Al-Baqarah 228 bahwa suaminya lebih berhak untuk merujuk kembali isterinya dari pada orang lain untuk menikah dia. Dasar dari hadis ialah hadis Bukha>ri> no.4850 di atas. Jika rujuk dilaksanakan sesudah habis iddahnya namanya talak Ba>`in Sughra>. Ad 2 Talak Ba>`in Talak Ba`in itu di bagi dua, yaitu:a)Talak Ba`in Sughra. b) Talak Ba>`in Kubra>: (a)Talak Ba>`in Sughra>. Menurut Kompilasi Hukum Islam pasal 119 dan 120 ditetapkan bahwa Talak Ba`in Sughra ialah talak yang ciri-cirinya ada 3, yaitu: (1)Belum dukhul. (2) Pembayaran tebusan untuk putusnya perkawinan oleh isteri dan ini dinamai Khulu’ (3) Talak yang dijatuhkan oleh Pengadilan Agama. (Az-Zuh}aili> menambahkannya menjadi 4. Yang satu ialah suatu talak yang diucapkan oleh suami dengan secara samar-samar atau kiasan). ~ad 1. Ciri yang kesatu, yaitu belum dukhul, maka dasarnya ialah Al-Quran S.33 Al-Ah}za>b 49 bahwa isteri yang dicerai sebelum dukhul itu tidak mempunyai iddah. Jika rujuk itu dilakukan sesudah iddah maka namanya bukan talak Raj’i. Oleh karena itu jika suami ingin melakukan rujuk kembali dia harus melalui akad nikah baru dengan segala persyaratannya. ~ad 2. Ciri kedua tentang putusnya perkawinan yang disebabkan karena tuntutan isteri dengan pembayaran tebusan dan diterima oleh suami, maka dengan kesediaan suami ini berarti dia telah memberikan kebebasan hak dirinya bukan lagi berada dibawah kekuasaan suami lagi berpedoman kepada Al-Quran S.2 Al-Baqarah 229. Sehingga suami jika ingin melakukan rujuk kembali harus melalui kesediaan isteri dan dengan akad nikah baru. Perlu diingat bahwa isteri yang sudah habis iddahnya mempunyai kebebsan hak akan dirinya kembali, berarti dia sudah orang lain, bahkan dia tidak lagi mempunyai hak waris mewaris antar keduanya. ~ad 3. Menurut Az-Zuh}aili> (h.435) putusnya perkawinan yang dijatuhkan oleh Pengadilan atau Qadli dasar alasannya ialah (1) Cacat jasmani suami.(2) Syiqaq.(3) Penderitaan isteri sebab suami pergi tanpa alamat. (4) Karena suami dipenjara. (Dasar alasannya bukan karena ketidak mampuan suami membayar nafkah dan bukan karena Sumpah Ila>`) (b) Talak Ba>`in Kubra> Talak Ba>in Kubra> ialah talak tiga. Dengan talak tiga ini maka suami isteri hukumnya haram untuk rujuk kembali ataupun nikah baru. Walaupun demikian Allah masih memberi pintu kemungkinan rujuk kembali atau nikah kembali bagi keduanya dengan syarat sebagaimana terurai dalam bab Tema dan kandungan makna ayat di atas. Talak Ba>`in Kubra> termuat dalam banyak riwayat sebagaimana tercatat dalam bab Latar belakang turunnya ayat terurai dipermulaan judul ini. Kompilasi Hukum Islam pasal 125 menetapkan bahwa sumpah Li’a>n menyebabkan putusnya perkawinan antara suami isteri untuk selama-lamanya artinya tidak ada rujuk kembali antar mereka berdua. Khusus bagi talak Talak Raj’i pelaksanaan rujuk kembali bisa dilakukan dengan suatu ucapan kata-kata dan dapat pula dilakukan dengan perbuatan langsung berhubungan intim berdua. Sedangkan untuk rujuk kembali bagi talak Ba>`in Kubra> harus melalui syarat yang sangat berat atau kemungkinannya sangat kecil sekali terwujud kecuali dengan rekayasa. Rujuk kembali orang yang sudah talak Ba>`in Kubra> dengan rekayasa dalam semua kitab dinamakan Nikah Muh}allil 3.Syarat-syarat rujuk kembali dalam Talak Raj’i Adapun syarat-syarat rujuk dalam Talak Raja’i ialah sebagai berikut: 1. Yang bersangkutan memenuhi syarat suatu perbuatan hukum, yaitu sudah baligh dan berakal sehat (khususnya menurut madzhab Ma>liki, Sya>fi’i> dan H}anbali>). 2. Sifat talak mereka adalah talak Raja’i. Bukan talak Ba`in, bukan Khulu’ . KhlU>lu>’ ialah putusnya perkawinan yang dimintakan oleh isteri dengan membayar tebusan. 3. Saat dilakukannya rujuk tersebut iddah isteri belum habis 4. Isteri tersebut memang dari perkawinan yang betul-betul isteri menurut hukum yang sudah berlaku tetap, yaitu: a.) Tidak dapat ragukan atas kedudukannya sebagai isteri. b.) Sudah pernah dukhul. c.) Nikahnya dulu adalah nikah yang sahih. d.) Isteri itu dalam keadaan halal, bukan termasuk perempuan yang haram dikawin. f.) Putusnya perkawinan bukan Fasakh, yang diputuskan oleh pengadilan g.) Bukan orang yang telah murtad dari agama Islam 5. Sifat rujuk yang dilakukannya bernilai hukum yang tetap: a) Tidak dikaitkan dengan waktu yang terbatas. b) Tidak disyaratkan berlakunya untuk waktu yang akan datang (hari, bulan atau tahun). c) Tidak dikaitkan dengan sesuatu syarat apa-apa sama sekali. @Hal-hal yang tidak menjadi syarat dalam soal rujuk: (1) Untuk melakukan rujuk kembali tidak disyaratkan atau tidak harus diadakan hal-hal beriukut, yaitu: Kemauan atau kesediaan isteri untuk dirujuk kembali. dasarnya ialah Al-Quran S.2 Al-Baqarah 228 dan 231 serta S.65 Ath-Thala>q 2 وَبُعُولَتُهُنَّ أَحَقُّ بِرَدِّهِنَّ فِي ذَلِكَ إِنْ أَرَادُوا إِصْلَاحًا (البقرة 228) Artinya: Dan suami-suaminya berhak merujukinya dalam masa menanti itu, jika mereka (para suami) itu menghendaki Ishla>h} (S.2 Al-Baqarah 228). فَأَمْسِكُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ (البقرة 231 -الطلاق 2) Artinya: “maka rujukilah mereka dengan baik atau lepaskanlah mereka dengan “ (S.2 Al-Baqarah 231 dan S.65 Ath-Thala>q 2) Perbuatan rujuk saat isteri dalam iddah yang belum habis tersebut dinilai kedudukannya masih seperti dalam perkawinan, maksudnya ialah bahwa suami wajib bertanggung jawab penuh atas istertinya..Demikian pendapat para ulama (Asy-Syauka>ni> tth:7/42). Tetapi Kompilasi Hukum Islam menetapkan dalam pasal 164 bahwa seorang wanita dalam iddah talak Raj’i berhak mengajukan keberatan atas kehendak rujuk kembali suaminya diajukan ke hadapan Pegawai Pencatat Nikah dengan saksi dua orang. (2)Pengumuman atau penyiaran peristiwa rujuk hukumnya tidak perlu. Namun sayogyanya orang lain mengetahui rujuk mereka berdua itu. (3)Kesaksian atas rujuk juga tidak diperlukan terutama menurut imam-imam madzhab H}anafi>, Ma>liki, Sya>fi’i> dalam Qaul Jadi>d dan Ah}mad serta mazhab Syi’ah Imammiyah.. Sedangkan meurut para imam 4 madzhab tadi dianjurkan sayogyanya ada saksi gunanya untuk menghindari hal-hal yang mungkin timbul yang tidak diinginkan dan hukumnya tidak wajib.Dasar alasannya ialah sebagai berikut: ~Al-Quran S.2 Al-Baqarah 228 dan 231, S.65 Ath-Thala>q 2 ~Riwayat tentang perintah Rasulullah Saw. kepada ‘Umar supaya Ibnu ‘Umar menarik kembali talaknya seperti yang tercatat dalam hadis Bukha>ri> no.4850 termaktub di atas, tercatat beliau tidak menyuruh mencari saksi. ~Tidak ada riwayat dari para sahabat bahwa rujuk itu wajib ada saksi, walaupun banyak peristiwa tentang perbuatan rujuk oleh para sahabat di jaman Nabi Saw. Tetapi menurut madzhab Zhahiriyah persaksian atas rujuk itu hukumnya wajib, sebab rujuk itu termasuk usaha untuk melestarikan ikatan perkawinan dan saksi merupakan syarat perkawinan ditambah lagi bahwa perintah dalam ayat tersebut dinilai wajib, sehingga saksi dalam pelaksanaan rujuk menurut mereka ini hukumnya wajib sesuai dengan firman Allah S.65 Ath-Thala>q 2 Artinya: “Apabila mereka telah mendekati akhir iddahnya, maka rujukilah mereka dengan baik atau lepaskanlah mereka dengan baik dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu dan hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu karena Allah” )Thala>q 2) Perlu diperhatikan bahwa Kompilasi Hukum Islam pasal 167 (ayat 4) menetapkan bahwa rujuk harus membawa saksi Adapun pelaksanaan rujuk kembali yang dilakukan sesudah habisnya iddah isteri, maka diperlukan syarat-syarat perkawinan baru, yaitu: 1) Persetujuan isteri (2) Pemberian maskawin. (3) Wali nikah. Sedangkan dalam rujuk itu sendiripun juga diperlukan syarat- syarat tertentu dan syarat-syarat rujuk itu sejalan dengan syarat-syarat nikah, sebab rujuk itu senada dengan nikah. maka syarat-syaratnya ialah: Baligh, berakal, tidak dipaksa, tidak murtad dari Islam. Oleh karena itu orang yang belum dewasa, orang gila, orang yang dipaksa, orang yang mabuk atau sejenisnya tidak bisa melakukan rujuk yang mana saja(Az-Zuh}aili> 1989:7/464). *Syarat untuk isteri yang dirujuk Syarat untuk isteri yang dirujuk ialah:(1)Isteri itu sudah pernah dukhul (hubungan intim). (2) Talaknya harus Talak Raj’i, sebab talak Ba`in jelas tidak boleh rujuk.(3) Isteri tersebut dalam kedudukan halal, bukan yang haram.(4).Tidak murtad dari agama Islam. Sebab rang yang murtad dari agama Islam, haram kawin dengan orang Islam. (5).Jumlah talak belum sampai tiga. (6). Iddah perempuan tadi belum habis. Sebab jika iddahnya sudah habis maka namanya ialah Talak Ba`in, untuk talak Ba`in ini mereka terlarang rujuk kembali kecuali dengan syarat-syarat tertentu..(7). Nikah dalam iddahnya itu sah. Nikah yang Fa>sid atau nikah yang tidak sah maka pernikahannya dibubarkan oleh Pengadilan. Dan untuk pernikahan ini tidak boleh ada rujuk kembali. ———–(21)——- BERKABUNG I. S.2 Al-Baqarah 234 وَالَّذِينَ يُتَوَفَّوْنَ مِنْكُمْ وَيَذَرُونَ أَزْوَاجًا يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ وَعَشْرًا فَإِذَا بَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا فَعَلْنَ فِي أَنْفُسِهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ (البقرة 34) II. Artinya: “Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan isteri-isteri (hendaklah para isteri itu) menangguhkan dirinya (ber`iddah) empat bulan sepuluh hari. Kemudian apabila telah habis `iddahnya, maka tiada dosa bagimu (para wali) membiarkan mereka berbuat terhadap diri mereka menurut yang patut. Allah mengetahui apa yang kamu perbuat(S.2 Al-Baqarah 234) III. Tafsir dan analisa A. Pengertian kata-kata:. الَّذِينَ يُتَوَفَّوْنَ = Orang-orang yang diwafatkan maksudnya mereka yang meninggal = ََيَذَرُونَ Mereka meninggalkan yaitu meninggalkan keluarganya yang masih hidup = أَزْوَاجًا Jdoh-jodoh, para mufassir mengartikannya isteri-isteri = يَتَرَبَّصْنَ Hendaklah mereka menunggu, supaya isteri-isteri itu menjalani iddahnya = بِالْمَعْرُوفِ Dengan baik, suatu adat kebiasaan yang dinilai baik oleh orang Islam B. Tema dan sari tilawah Dari ayat dan pengertian kata-katanya maka dapat diambil tema dan sari tilawah ayat itu sebagai berikut: 1.Tidak semua perkawinan membuahkan kebahagiaan yang berlangsung lama 2.Diantara sekian banyak pasangan perkawinan ada yang suami atau isteri wafat di tengah perjalanan hidupnya 3.Jika terjadi kematian oleh salah satu suami atau isteri, maka pihak yang masih hidup, wajib berkabung 4. Isteri yang ditinggal wafat suami, maka dia wajib berkabung selama dalam masa iddah yaitu 4 bulan 10 hari 5. Jika isteri dalam keadaan hamil masa berkabungnya sampai dia melahirkan bayinya 6. Jika masa berkabung sudah habis maka yang bersangkutan boleh melepaskan masa berkabung itu. 7. Allah itu sangat awas kepada apa yang dilakukan oleh makhluk. C.Masalah dan analisa Dari tema dan kandungan makna ayat tersebut di atas terdapat banyak masalah yang timbul, tetapi untuk kesempatan ini dibatasi hanya 3 soal saja yaitu sebagai berikut: 1.Bagaimanakah sikap seorang suami jika seandainya dia kematian isteri? 2.Apa saja yang boleh dilakukan dan apa saja yang tidak boleh dilakukan oleh seorang isteri yang kematian suami dan bagaimana pula jika suami kematian isteri? 3.Alasan apa yang dapat dibenarkan oleh syara’ bagi suami atau isteri untuk kawin lagi setelah kematian pasangannya? D. Tinjauan dan analisa Lafal احداد -حداد = Ih}da>d atau H}adda>d artinya ialah tidak berhias. Menurut istilah Ih}dad itu maknanya ialah berkabung, tidak melakukan sikap atau perbuatan berwangi-wangi, berhias, bercelak mata, berminyak wangi ataupun tidak wangi, khususnya mengenai hiasan badan. Sedangkan yang berkaitan dengan selain badan tidaklah termasuk di dalamnya, misalnya: mempercantik tempat tidur, karpet, korden dan peralatan rumah tangga yang lain boleh saja. Seorang isteri disyari’atkan untuk mengerjakan Ih}dad terhadap kematian suaminya selama 4 bulan 10 hari dan Ih}dad untuk selain suami tidak boleh lebih dari tiga hari.Pertanyaannya ialah bagaimanakah sikap suami atas kematian isteri? 1. Suami berkabung atas kematian isteri Lafal اَزْوَاجًا جمْعُ زَوْجٍ artinya ialah pasangan atau jodoh atau dalam bahasa Jawanya ialah bojo. Menurut Al-Mana>r (tth:2/418) lafal zauj itu mempunyai makna untuk laki-laki dan perempuan dua individu yang menyatu. Lafal Zauj merupakan lafal Musytarak yaitu satu kata mempunyai dua arti yang sama kuat yaitu seorang laki-laki dengan isterinya demikian juga seorang perempuan dengan suaminya. Penyusun kitab Mu’jamu Alfa>zhil Quran (1970:Z/545) menerangkan bahwa lafal Zauj artinya ialah suatu unit bisa berwujud jika didampingi oleh pasangannya yang menyertai dia dalam rangka pengembangan jenis-reproduksi, singkatnya Zauj itu suami Zauj itu juga isteri. Makna ini dapat dibandingkan dengan lafal yang senada dalam S.2Al-Baqarah 240;S.13 Ar-Ra’du 38; S.15 Al-H}ijru 88; S.20 Tha>ha> 131; S.35 Fa>thir 11. Berdasarkan makna yang demikian ini maka sebenarnya kandungan hukum ayat 234 Al-Baqarah tersebut dapat dispekulasikan berlaku juga terhadap suami. Nash ayat dan hadis berikut dapat menjadi pertimbangan untuk makna itu. وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا (النساء19) Artinya:“Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamut idak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak”(S.4An-Nisa>`19) Dalam salah satu hadis Rasulullah Saw. bersabda: 3830 عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي (رواه الترمذي)* Artinya; “Dari ‘A no,3830) Masalah ini perlu dikaitkan lagi dengan S.2 Al-Baqarah 228, yaitu bahwa isteri itu mempunyai hak seimbang dengan kewajibannya. Sehingga jika isteri wajib berkabung atas kematian suami maka suamipun juga harus berbuat yang sama ketika masih sama-sama hidup sampai menjelang datangnya kematian itu bahkan sampai masa berkabungnya yaitu 4 bulan 10 hari, jika perempuan tersebut sedang hamil maka tenggang waktunya sampai dia melahirkan. Senada dengan makna terurai diatas maka penyusun Al-Mana>r ((tth:4/457) menafsirkan S.4 An-Nisa>` 19 di atas ini harus dikaitkan dengan S.30 Ar-Ru>m 21, bahwa lafal Wa’a>syiru>hunna merupakan suatu bentuk kata dengan Bnn>` musya>rakah. Maksudnya ialah bahwa inisiatip untuk pelayanan dengan baik itu tidak cukup bertepuk sebelah tangan, tetapi suami ataupun isteri harus saling melakukan insiatip untuk membina kemesraan itu. Perkawinan yang benar itu ialah perkawinan yang di dalamnya itu pihak-pihak yang terkait giat berusaha untuk mencapai tujuannya. Dan tujuan perkawinan ialah membentuk rumah tangga yang saki>nah, mawaddah dan rah}mah. Isi Al-Quran S.30 Ar-Ru>m 21 ini dalam masyarakat Jawa diterjemah kedalam bahasa Jawa dengan suatu istilah yang sangat tepat yaitu “ Garwo” artinya Sigaranne Nyowo yaitu belahan nyawa, yang mencakup makna bahwa SATU NYAWA suami itu belahan nyawa isteri dan isteri itu belahan nyawa suami. Sehingga hati suami dan hati isteri itu satu kesatuan, satu nyawa, sejiwa, seia-sekata, sehidup, semati. Idialnya ialah jika salah seorang hidup senang, maka belahannya itupun senang sekali, satu perasaan. Sebaliknya jika sebelah nyawa itu menderita, maka belahan nyawa satunya juga merasa sedih sekali sama dengan perasaan yang sebelah. Jika suami wafat maka isteri wajib berkabung setengah mati. Jika isteri wafat, maka suami harus berkabung setengah mati sama dengan perasaan isteri tersebut. Oleh karena kenyataannya sebelahnya itu masih hidup, maka dia pun juga merasa setengah mati atau setengah hidup dalam masa berkabungnya itu. Secara tekstual sulit diperoleh hadis Rasulullah Saw. yang menetapkan bagaimana sikap atau perilaku seorang suami terhadap kematian isterinya, tetapi dengan cara menghayati dan mrenungkan nash Al-Quran dan hadis lain yang mendekati makna yang mengarah kesana kiranya cukup untuk memberikan gambaran bagaimana sikap dan perilaku seorang suami jika kematian isterinya. Jika seorang suami ditinggalkan mati isterinya maka dia secara moral dia harus berkabung, paling sedikit secara lahiriyah sama dengan kewajiban berkabung seorang isteri yang ditinggal mati suami. Dia harus berkabung selama 4 bulan 10 hari, tidak melakukan sikap perilaku yang dapat dituduh sebagai suami yang tidak mempunyai perasaan sebagaimana perasaan seorang isteri ditinggal mati suami. 2. Adat kesusilaan seorang isteri kematian suami atau suami kematian isteri Al-Quran S.2 Al-Baqarah 234 di atas jelas menentukan bagaimana kewajban seorang isteri yang kematian suaminya , yaitu dia harus berkabung selama 4 bulan 10 hari dan jika dia sedang hamil maka masa berkabungnya ialah sampai lahirnya bayi dari kandungannya. Adat kesusilaan berkabung menurut para fuqaha (Az-Zuh}aili> 1989:7/661) ialah bersikap dan berperilaku hal-hal sebagai berikut: 1) Tidak berhias; 2) Tidak berwangi-wangian di badan, di baju atau di rambut; 3) Tidak becelak-mata; 4) Tidak memakai baju dengan warna yang menyala; 5) Tidak keluar rumah, kecuali terpaksa.. Dasarnya dari pemahaman para ulama atas beberapa sabda Rasulullah Saw. diantaranya ialah sbb: 2732 قَالَتْ زَيْنَبُ سَمِعْتُ أُمِّي أُمَّ سَلَمَةَ تَقُولُ جَاءَتِ امْرَأَةٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ ابْنَتِي تُوُفِّيَ عَنْهَا زَوْجُهَا وَقَدِ اشْتَكَتْ عَيْنُهَا أَفَنَكْحُلُهَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلَاثًا كُلَّ ذَلِكَ يَقُولُ لَا ثُمَّ قَالَ إِنَّمَا هِيَ أَرْبَعَةُ أَشْهُرٍ وَعَشْرٌ (رواه البخاري ومسلم2732)* Artinya:”Zainab berkata: “Aku mendengar ibuku Ummu Salamah berkata: “Telah datang seseorang kepada Rasulullah Saw. bertanya: “Ya Rasulullah anakku kematian suaminya, matanya sakit, bolehkah aku beri dia celak? Beliau menjawab: “Tidak boleh dua-tiga kali, ini berlaku sampai 4 bulan 10 hari”(HR.Bukha>ri> no.4920, Muslim no.2732)(Mata sakit menangisi kematian suaminya). Tafsir Al-Muni>r (Az-Zuh}aili> 1991:2/370) mencatat bahwa ketika Asma` binti ‘Umais kematian suaminya maka Rasul Saw. menyuruh dia memakai baju berkabung warnanya hitam (Tasallabi>=pakailah baju hitam). Tetapi dalam hadis Ah}mad no.26196 berbunyi : اِلْبَسِيْ ثَوْبَ الْحَدَّادِ =Pakailah baju berkabung. Demikian adat sopan santun bagi isteri yang kematian suami. Dan para ulama melakukan pembahasan sangat rinci, misalnya hukum ini tidak berlaku atas perkawinan yang tidak benar atau syubhat, perempuan budak ataupun ThaLa>q Ba>in. Singkatya berkabung itu perwujudan dari kesedihan dan tidak melakukan kegiatan yang mengarah kepada perkawinan yang baru dalam tenggang waktu itu. Mereka dilarang keras melakukan kegiatan perencanaan perkawinan dengan pelamaran atau dilamar, melakukan sikap dan perilaku yang mengarah ke suatu perkawinan saja dilarang apa lagi melakukan pelamaran jelas lebih tidak boleh lagi. Namun setelah habis tenggang waktu tersebut maka Allah sendiri mempersilahkan mereka untuk melakukan pemikiran atas nasib kelaknya sebagaimana ditentukan dalam S.2 Al-Baqarah 235 ayat sesudah itu.. Adapun suami yang kematian isteri adatnya supaya menyesuaikan diri, sesuai dengan adat kebiasaan yang dipandang baik oleh adat masyarakat muslim setempat. Berkabung dalam masyarakat Hindu maka isteri itu ikut masuk kedalam bara api bersama suami yang tubuhnya sedang dibakar sebagai kepercyaan yang mereka anut. Tetapi oleh Pemerintah Inggris kepercayaan ini dilarang dan sangat bertentangan dengan syari’at Islam. 3. Perkawinan sesudah kematian teman hidup Para ulama sudah membuat penelitian tentang bagaimana hukum bagi seseorang untuk melakukan perkawinan, bahwa kawin itu disyari’atkan oleh Allah Ta’ala. Dasar pokoknya ialah firman Allah S.4 An-Nisa>`3 dan S.24 An-Nu>r 32 ditambah hadis-hadis terkait. Salah satunya ialah hadis Bukha>ri>-Muslim sbb. 1772 عَنْ عَلْقَمَةَ قَالَ كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ مَنِ اسْتَطَاعَ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ (رواه البخاري ومسلم2485)* Artinya: “Dari ‘Alqamah dia berkata:” Kami bersama Nabi Saw. beliau bersabda: “Wahai para muda siapa yang mampu kawin maka kawinlah kamu. Kawin itu lebih mampu menjaga pandangan mata, dia lebih mampu membentengi nafsu birahi. Siapa yang belum mampu supaya dia berpuasa, puasa itu mempunyai daya tahan yang kuat”(HR.Bukha>ri> no.1772, Muslim 2485). Dari pemahaman mereka atas nash Al-Quran dan hadis terkait, maka hukum melakukan perkawinan dan dalam hal ini bagi mereka yang kematian pasangan hidupnya, baik suami kematian isteri atau isteri kematian suami, jika diterapkan atas individu, orang seorang maka hukumnya akan sangat tergantung kepada situasi dan kosndisi masing-masing yang menderitanya, yaitu: i. Wajib, jika dikawatirkan akan berbuat zina ii. Haram, jika akan menimbulkan kezaliman dan banyak dosa iii.Makruh, jika dia kawatir kemungkinan akan timbul perbuatan zalim dan dosa iv.Sunat, jika tidak kawatir apa-apa dengan keyakinan bahwa kebaikannya lebih besar dari madlorotnya. Sebagai kunci pertimbangannya ialah rasa taqwa dan menurut hadis shahih Muslim no. 4650-Ah}mad no.7402 kata Rasulullah Saw. taqwa itu tersembunyi dalam hati, siapa yang bertaqwa akan lebih berhati-hati, siapa yang tidak bertaqwa akan mempermudah melanggar larangaran Allah minimal yang tingkat makruh. ————————————–(22)—————————————— HAK-HAK ANAK I. S.2 Al-Baqarah 233 وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلَادَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يُتِمَّ الرَّضَاعَةَ وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ لَا تُكَلَّفُ نَفْسٌ إِلَّا وُسْعَهَا لَا تُضَارَّ وَالِدَةٌ بِوَلَدِهَا وَلَا مَوْلُودٌ لَهُ بِوَلَدِهِ وَعَلَى الْوَارِثِ مِثْلُ ذَلِكَ فَإِنْ أَرَادَا فِصَالًا عَنْ تَرَاضٍ مِنْهُمَا وَتَشَاوُرٍ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا وَإِنْ أَرَدْتُمْ أَنْ تَسْتَرْضِعُوا أَوْلَادَكُمْ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ إِذَا سَلَّمْتُمْ مَا ءَاتَيْتُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ(البقرة 233) II. Artinya: “Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma`ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan juga seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan” (S.2 Al-Baqarah 233). III. Tafsir dan anlisa A. Pengertian kata-kata = وَالْوَالِدَاتُ Perempuan-perempuan yang melahirkan anak, maksudnya ibu-ibu yang baru saja melahirkan anak bayinya = يُرْضِعْنَ Mereka memberi air susu, maksudnya ialah ibu-ibu yang baru melahirkan bayinya itu wajib memberi air susu dia untuk anak bayinya = حَوْلَيْنِ كَامِلَيْن Dua tahun sempurna, yang dimaksud tahun disini ialah tahun hijriyah, demikian juga semua perhitungan waktu-waktu ibadah harus didasarkan atas perhitungan tahun hijriyah = يُتِمَّ الرَّضَاعةَ Dia menyempurnakan susuan itu, maksudnya ialah bahwa siapa yang bermaksud memberikan air susu si ibu itu sendiri yang sempurna dan ideal = َعلَى الْمَوْلُودِ لَه Terhadap laki-laki yang memiliki anak yang dilahirkan itu, maksudnya bapak dari bayi yang dilahirkan di atas = رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ Rejeki dan pakaian mereka, maksudnya segala biaya kebutuhan hidup si ibu dengan anak bayinya itu = بِالْمَعْرُوفِ Dengan baik, yang dimaksud baik di sini ialah baik yang diakui oleh masyarakat dan diakui baik oleh Allah = لَا تُكَلَّفُ نَفْسٌ إِلَّا وُسْعَهَاSatu jiwa tidak dibebani kecuali menurut kemampuannya, maksudnya bahwa Allah tidak mewajibkan seeorang memikul tugas kewajiban yang melebihi kekuatan atau maksimal kemampuan maupun ilmu kecakapannya = لَا تُضَارَّ وَالِدَةٌ بِوَلَدِهَا وَلَا مَوْلُودٌ لَهُ بِوَلَدِهِ Seorang ibu tidak diberati derita karena anak bayinya dan seorang bapak tidak diberati derita sebab anaknya, maksudnya ialah bahwa hak dan kewajiban yang timbul sebagai dampak dari kelahiran seorang bayi harus dipecahkan secara wajar, logis, seimbang dengan kondisi pihak-pihak yang terkait sehingga tidak menimbulkan penderitaan baik terhadap ibu si bayi maupun bapaknya = وَعَلَى الْوَارِثِ مِثْلُ ذَلِكَ Dan kepada ahli warisnya juga demikian, maksudnya bahwa ahli waris dari bapak, ibu dan bayi tersebut memikul tugas kewajiban merawat bayi, walaupun dengan catatan jangan sampai menimbulkan penderitaan فِصَالًا= Masa memutus pemberian air susu, maksudnya waktu menghentikan pemberian air susu oleh ibu kepada anak bayinya = جُنَاحَ Condong, tidak tegak, tidak lurus, maksudnya cenderung kepada sesuatu yang tidak benar atau tidak diridloi Allah yaitu dosa = تَسْتَرْضِعُوا Kalian meminta susuan anak, maksudnya kalian menyuruh seorang ibu untuk menyusui bayi kalian atau kalian meminta perempuan lain untuk merawat dan memberi susu dari tetek ibu itu untuk anak bayinya dengan diberi upah B. Tema dan sari tilawah Dari ayat dan pengertian kata-kata terurai di atas dapatlah diambil tema dan kandungan makna ayat tersebut di atas, yaitu sebagai berikut: 1.Bapak dan ibu wajib mengasuh anak-anak mereka 2.Pemberian air susu kepada bayinya oleh seorang ibu sempurnanya ialah dua tahun penuh 3.Ayah atau suami wajib menanggung jawab biaya hidup ibu atau isteri yang mengasuh anak bayinya itu 4. Wujud pemberian nafkah oleh ayah kepada si ibu disesuaikan dengan adat sopan santun masyarakat yang baik 5.Seseorang tidak diberi beban kewajiban di luar kemampuan dirinya 6.Anak tidak boleh menjadi sebab sehingga mengakibatkan derita hidup bapak dan ibunya 7.Ahli waris menanggung kewajiban yang sama dengan ayah ibu dari anak tersebut 8.Menyapih atau memutus pemberian air susu ibu kepada anak sebelum usia dua tahun dapat dimusyawarahkan antara bapak ibu berdua 9.Tidak ada salahnya jika pemberian air susu bayi itu diupahkan kepada susu seorang perempuan bukan ibu bayi tersebut 10.Rembugan untuk pemberian susu oleh perempuan yang diupah itu supaya mengikuti adat sopan santun masyarakat yang baik 11.Semua hamba wajib bertakwa kepada Allah yang Maha Awas atas semua makhluk. C. Masalah dan analisa Sebenarnya banyak masalah yang timbul dari tema dan kandungan makna ayat tersebut di atas, namun masalahnya untuk sementara ini sebagai berikut: 1. Apa saja hak anak yang menjadi tanggung jawab ayah ibunya? 2.Bagaimanakah aturan hukum Islam terhadap keluarga berencana ? 3.Bagaimana akibat hukum jika seorang ibu menyusui anak orang lain dari teteknya? 4.Siapa saja orang yang menanggung jawab tugas kewajibannya jika ayah dan ibu sebagai orang tua anak mereka tidak dapat menunaikan tugas kewajibannya? D.Tinjauan dan pemikiran Sungguh sangat menyedihkan sekali nasib seorang anak, khususnya anak-anak yang belum mampu mandiri baik dalam situasi orang tua yang rukun-rukun saja, maupun ketika mereka bercerai hidup bahkan telah wafat. Oleh karena itu terhadap masalah ini kita harus berusaha mencari pemecahan dan jalan keluar, bagaimana nasibnya kelak bayi yang lahir dari seorang laki-laki dengan seorang perempuan sebagai orang tua anak itu. 1. Hak-hak anak dan kewajiban orang tua untuk anaknya Masalah hak dan kewajiban antar anak dengan orang tua dapat dilihat dari dua sisi, yaitu; (1) Jangka panjang; (2) Jangka pendek. Ad 1 Untuk jangka panjang Hak anak sekaligus sebagai kewajiban orang tua maka orang tua wajib mengasuh anaknya agar dia dapat hidup dan hidup yang lebih baik lagi, selamat, sejahtera, bahagia di dunia sampai akhirat. Dalam hal ini Allah menetapkannya dalam Al-Quran S.66 At-Tah}rim 6: يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ( التحريم 6) Artinya:”Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”(S66 At-Tah}ri>m 6) Dalam hal ini para ulama lebih menekankan bahwa hak anak dan wajib dipenuhi oleh orang tua itu ialah untuk mengasuh akidah kepercayaan anak supaya beragama tauhid dan melaksanakan amal ibadah dengan baik. Dalam tafsirnya Al-Qurthubi> (1967:18/194), demikian pula penyusun tafsir Al-Muni>r (1991:28/317) menambahkan bahwa tugas kewajiban orang tua di antaranya ialah memberikan peringatan-peringatan kepada keluarga dekat dia,dasarnya ialah: وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ(الشعراء 214) Artinya:“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat “ (S.26 Asy-Syu’ara>` 214) Tugas kewajiban untuk memenuhi hak keluarga dalam ayat ini dan merupakan tanggung jawab orang tua bagi mereka maka kelak akan disidangkan dan dipertanyakan oleh Allah di hari kiamat nanti. Berkaitan dengan hal ini maka Rasul Saw. bersabda sebagai berikut: 844 أَنَّ عَبْدَاللَّهِ بْنَ عُمَرَ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ الْإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا وَمَسْئُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا وَالْخَادِمُ رَاعٍ فِي مَالِ سَيِّدِهِ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ (رواه البخاري ومسلم)* Artinya: “Sungguh ‘Abdulla>hh ibu Umar berkata bahwa dia mendengar Rasulullah Saw. bersabda.: “Kalian itu penanggung jawab dan kalian itu akan ditanya soal pertangung jawabannya, pimpinan adalah penanggung jawab dan akan ditanya soal pertanggung jawabannya, laki-laki itu adalah penanggung jawab atas keluarganya dan akan ditanya soal pertanggung-jawabannya, perempuan itu adalah penanggung jawab dalam rumah tangga suaminya dan akan ditanya soal pertanggung-jawabannya, pemantu atau khadim adalah penanggung jawab atas harta majikannya dan akan ditanya soal pertangung-jawabannya”(HR.Bukha>ri> no.844, Muslim no.3408 ). Sebagai peringatan orang tua atas anaknya ialah soal ibadah dan shalatnya harus sangat diutamakan dengan ketat, jika perlu peringatan itu dengan pukulan seperti yang terkandung dalam aturan hukum dalam nash Al-Quran dan hadis bawah ini: وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا نَحْنُ نَرْزُقُكَ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى(طه 132) Artinya:“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezki kepadamu, Kamilah yang memberi rezki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.”(S.20 Tha>ha> 132) 418 عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ (رواه ابو داود)* Artinya: “Dari ‘Amru ibnu Syu’aib dari ayahnya dan kakeknya bahwa Rasulullah Saw. bersabda: “Perintahkan anak-anakmu untuk Perintahkan anak-anakmu untuk shalat dalam usmur 7 tahun dan pukullah dia dalam umur 10 tahun untuk maksud ini serta pisahkanlah tempat tidur mereka “(HR.Abu> Da>wu>d no.418). Ad 2 Hak-hak anak untuk jangka pendek Al-Quran S.2 Al-Baqarah 233 di atas menunjuk langsung hak anak yang masih bayi, yaitu: (1) Hak untuk hidup; (2) Hak untuk mendapat perawatan bagi dirinya untuk hidup yang lebih baik lagi. Keduanya diwujudkan berupa pemberian air susu dari ibunya sendiri selama dua tahun dan perawatannya sampai dewasa. Ash-Sha>bu>ni> dalam Rawa>i’ul Baya>n (tth:1/353) mencatat bahwa Allah menetapkan hak anak dan tugas kewajiban seorang ibu untuk memberi air susunya serta merawat anak bayinya sebagaimana yang ditentukan Allah dalam Al-Quran S.2 Al-Baqarah 233 di atas, maka kewajiban ibu tersebut tetap berlaku baik saat si ibu masih dalam ikatan perkawinan maupun ketika si ibu telah bercerai dari suaminya. Dari sisi lain penulis Al-Mana>r (tth:2/409) memperkeras tuntutan kepada sang ibu untuk memberi air susunya sendiri kepada anaknya sebab air susu ibu itu jauh lebih hebat dari pada susu yang lain. Jika terdapat alasan yang kuat maka boleh saja si ibu tadi menyusukan anaknya kepada seorang perempuan yang lain. As-Suyu>thi> dalam Ad-Durrul Mantsu>r (1983:4/88) mengutip riwayat yang bersumber dari Abi> Ra>fi’ berkaitan dengan hak anak yang harus dipikul oleh ayahnya, yaitu: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلم حَقُّ الْوَلَدِ عَلَي الْوَالِدِ اَنْ يُعَلِّمَهُ الْكِتَابَةَ وَالسِّبَاحَةَ وَالرِمَايَةَ(رواه ابن ابي الدنيا والبيهقي في شعب اليمان الدر المنثور 1983 جزء 4 ص88) Artinya: “Rasulullah Saw. bersabda: “Hak anak atas bapak ialah mengajari dia ilmu menulis, ilmu berenang dan ilmu panah memanah”(HR.Al-Baihaqi dan Ibnu ‘Abi>d Dunya>, Addurr l983:4/88). Al-Qurthubi> dalam Al-Ja>mi’ li Ah}ka>mil Qur `a>n (1967:18/195) meriwayatkannya dengan redaksi berikut: حَقُّ الْوَلَدِ عَلَي الْوَالِدِ اَنْ يُحْسِنَ اِسْمَهُ وَيُعَلِّمَهُ الْكِتَابَةَ وَيُزَوِّجَهُ اِذَا بَلَغَ (الجامع لاحكام القران-للقرطبي 1967:جزء 18ص 195) Artinya: “Hak anak atas bapak itu ialah memberi nama yang baik, mengajari dia ilmu tulis menulis dan mengawinkannya jika dia telah dewasa”(Al-Qurthubi> 1967:18/195). Lebih rinci lagi Az-Zuh}aili> dalam Al-Fiqhul Isla>mi> ( 1989:7/671) mencatat ada 5 macam hak anak sekaligus menjadi kewajiban bapak ibunya, yaitu: 1) Hak atas ikatan nasab Hak atas ikatan nasab atau asal usul garis keturunan ke atas, suatu faktor yang sangat menentukan soal siapa orang yang bertanggung jawab merawat anak. Garis keturunan atau tali ikatan nasab itu benar-benar sangat serius tidak boleh seseorang mengakukan dirinya kepada keturunan yang bukan aslinya. Allah sendiri yang mengatur garis keturunan dan asal usul setiap bayi. Allah berfirman dalam Al-Quran S.25 Al-Furqa>n 54: وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ مِنَ الْمَاءِ بَشَرًا فَجَعَلَهُ نَسَبًا وَصِهْرًا وَكَانَ رَبُّكَ قَدِيرًا (الفرقان54) Artinya:“Dan Dia (pula) yang menciptakan manusia dari air, lalu Dia jadikan manusia itu (punya) keturunan dan mushaharah dan adalah Tuhanmu Maha Kuasa”(S.25 Al-Furqa>n 54) Dan barang siapa mengaku dirinya anak keturunan bukan aslinya maka dia haram masuk surga, Rasul Saw. bersabda dalam soal ini sebagai berikut: 2433 عَنْ إِبْرَاهِيمَ التَّيْمِيِّ عَنْ أَبِيهِ قَالَ خَطَبَنَا عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ فَقَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنِ ادَّعَى إِلَى غَيْرِ أَبِيهِ أَوِ انْتَمَى إِلَى غَيْرِ مَوَالِيهِ فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللَّهِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ (رواه مسلم)* Artinya: “Dari Ibra>hi>m at-Taimi> dari bapaknya dia berkata: ‘Ali> ibnu Abi >Tha>lib memberi nasehat kepada kami dia berkata: Nabi Saw. bersabda: Barang siapa mengakukan diri atau menasabkan diri sebagai anak kepada bukan bapaknya sendiri, maka dia menanggung laknat Allah, laknat malaikat dan laknat seluruh manusia”(HR.Muslim no.2433) Yang menjadi pertanyaan sekarang ialah: Bagaimanakah aturannya jika seseorang tidak diketemukan siapa ayahnya? Untuk ini Allah menetapkan sebagai berikut: فَإِنْ لَمْ تَعْلَمُوا ءَابَاءَهُمْ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ وَمَوَالِيكُمْ وَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ فِيمَا أَخْطَأْتُمْ بِهِ وَلَكِنْ مَا تَعَمَّدَتْ قُلُوبُكُمْ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا(الاحزاب 5) Artinya:“Dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggillah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan Maula>-Maula>mu. Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”(S.33 Al-Ah}za>b 5) 2) Hak untuk mendapat susuan Hak untuk mendapat susuan dari ibunya sendiri dan susuan ini sangat penting untuk menjadi sarana pertama untuk hidup. Dalam Al-Quran (S.2 Al-Baqarah 233 di atas Allah menetapkan tenggang waktu untuk memberi air susu ibu dua tahun dimaksudkan agar supaya pertumbuhan jiwa dan aga anak itu menjadi sempurna. Ketentuan ini diperkuat lagi dengan ayat lain, yaitu: وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ (لقمان 14) Artinya: “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu” (S.31 Luqma>n 14) وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْرًا حَتَّى إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ (الاحقاف 15) Artinya:“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tigapuluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdo`a: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri ni`mat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri” (S.46 Al-Ah}qaf 15). 3) Hak mendapat santunan (H}adha>nah) Hak mendapat santunan yang disebut H}adha>nah, yaitu hak anak untuk membentuk kepribadian diri anak selama dia masih dalam keadaan lemah dan masih kanak-kanak mencakup membesarkan, menyuapi makan, memakaikan baju, menidurkan, membersihkan atau memandikan, menyucikan pakaian anak tersebut sampai dia mencapai usia memungkinkan kemampuan untuk mengurus dirinya sendiri tadi. Menurut ulama Ma>likiyah sampai dewasa, menurut ulama Sya>fi’i>yah sampai usia 7 tahun. Hak H}adha>nah ini bisa menjadi ajang perebutan, khususnya jika kedua orang tua anak itu bercerai. Untuk itu Az-Zuh}aili> dalam Al-Fiqul Isla>mi> (1989:719) untuk pemecahan masalah atas perkara ini ialah bahwa hak h>}adha>>nah itu merupakan hak tiga pihak, yaitu: (1) Perempuan yang mengasuh; (2) Anak yang diasuh; (3) Bapak atau wali pengganti bapak, maka ketiga-tiganya harus ada kesepakatan. 4) Hak Perwalian Hak Perwalian anak untuk pelaksanaan perbuatan hukum mengenai diri dan hak-hak kebendaan. Dengan hak perwalian ini maka anak akan mendapat bantuan dan perlindungan untuk mengurus masalah pendidikan kelanjutan usaha pengembangan pendidikan, pemeliharaan kesehatan, pertimbuhan jasmani, pengembangan ilmu dan kebutuhan hidupnya sehari-hari untuk kedewasaannya menjelang masa perkawinannya. 5) Hak nafkah Hak nafkah, yaitu hak atas seluruh biaya hidup yang diperlukan olehnya, mulai dari kebutuhan makan, minum, pakaian, perawatan sampai membesarkan anak sampai dewasa sehingga dapat mandiri mampu mencukupi kebutuhan hidupnya sendiri. Yang perlu dicatat disini ialah bahwa 5 macam hak tersebut di atas harus ditambah lagi dengan suatu hak yang berlaku sebelum anak dimaksud lahir ke duania, maka sebenarnya anak dalam kandungan itu sudah mempunyai hak asasi, yaitu hak untuk hidup menurut para ahli ilmu biologi berlaku mulai saat bertemunya ovum perempuan dengan sperma laki-laki yaitu sejak dia menjadi makhluk hidup yang berkembang membesarkan diri. Namun sebagian ulama menentukan permulaan berlakunya hak itu ialah setelah janin berumur 120 hari berdasarkan hadis Bukha>ri> hadis no.2969 dan Muslim no.4781 bersumber dari Ibnu Mas’u>d, bahwa penciptaan manusia dihimpun dalam kandungan ibu 40 hari dalam proses, 40 hari sebagai darah kental, 40 hari sebagai segumpal daging lalu dihembuskan roh kepadanya. Sejak benih dari laki-laki menyatu dengan indung telur perempuan ini (menurut pendapat ahli biologi) maka hak asasi segera melekat pada calon janin bayi yang harus dihormati oleh siapapun juga. Haram merampas hak asasi yang dimilikinya, yaitu hak untuk hidup dan hidup yang lebih baik lagi. Pendapat ahli biologi ini harus dipegang teguh untuk lebih berhati-hati menjauhi perbuatan dosa sejauh-jauhnya melanggar larangan agama membunuh anak dan terkenal dengan nama aborsi atau pengguguran, mengingat firman dalam Al-Quran berikut: وَإِذَا الْمَوْءُودَةُ سُئِلَتْ – بِأَيِّ ذَنْبٍ قُتِلَتْ(التكوير 8-9) Artinya:“ Apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena dosa apakah dia dibunuh” (S.81 At-Takwi>r 8-9) وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ مِنْ إِمْلَاقٍ نَحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ وَلَا تَقْرَبُوا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَلَا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ (الانعام 151) Artinya: “dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rezki kepadamu dan kepada mereka; dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar”. Demikian itu yang diperintahkan oleh Tuhanmu kepadamu supaya kamu memahami (nya)”(S.6 Al-An’a>m 151) Aborsi itu ialah membunuh anak sebelum lahir dan pelaksanaannya dilakuakan dengan sembunyi-sembunyi bahkan sangat rahasia, yang merupakan suatu perbuatan yang sangat terkutuk persis seperti apa yang disinggung oleh firman Allah dalam ayat di atas ini. Mereka yang terlibat dalam perbuatan aborsi akan ditanya oleh Allah di hari kiamat disebutkan Allah dalam Al-Quran di atas. Ayat itu mengancam kepada mereka yang menanam hidup-hidup bayi yang baru dilahirkan, mencakup siapa saja yang melakukan aborsi baik bayi yang masih dalam kandungan hamil muda maupun yang sudah lahir. 2. Hukum Keluarga Berencana Secara sepintas program keluarga berencana itu tidak mengandung banyak masalah. Tetapi jika kita masuk ke dalam soal tujuan, cara, sarana, penerapan program-program timbul banyak menyerempet-nyrempet bahaya berhadapan dengan hukum Islam. a) Masalah rencana Melihat jauh dekatnya, maka rencana itu dapat dibagi menjadi beberapa istilah, yaitu: (1) Utopia ialah suatu rencana yang terlalu jauh dan terlalu tinggi bahkan tidak mungkin direalisasikan untuk menjadi kenyataan. (2) Angan-angan yaitu suatu gambaran yang ada dalam akal pikiran yang ingin direalisasikan kedalam kenyataan oleh orang yang berangan-angan. Untuk ini masih ada kemungkinan untuk direalisasikan. (3) Cita-cita ialah suatu gambaran dalam akal pikiran yang sudah diperhitungkan dengan secukupnya, sehingga cita-cita itu lebih mendekati kemungkinan untuk bisa diwujudkan ke dalam kenyataan atau dicapai. (4) Program perencanaan, yaitu suatu gambaran kehidupan yang ditetapkan untuk dicapai dan diwujudkan dalam kenyataan dengan sungguh-sungguh. (5) Target, yaitu bagian dari program perencanaan. Memang program perencanaan itu harus dibagi-bagi ke dalam target, demikian pula cita-cita itupun seharusnya juga dibagi-bagi ke dalam target. Target itu bisa dibuat untuk dicapai dalam jangka waktu yang mungkin saja sangat panjang, namun target ini sendiri harus dibagi-bagi lagi kedalam jangka waktu yang lebih pendek, makin pendek sampai ke dalam jangka waktu yang sangat pendek. Kita sebagai orang yang beriman diperintahkan oleh Allah untuk membuat perencanaan program untuk jangka pendek maupun jangka panjang bahkan untuk sesuatu yang paling utopis, yaitu angan-angan yang paling tinggi luar biasa, tidak lain ialah cita-cita untuk hidup bahagia di dunia dan akhirat. Ini adalah perintah Allah. يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ (الحشر18) Artinya:“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”(S.59 Al-H}asyr 18) Setiap hamba Allah yang beriman wajib membuat program perencanaan dirinya untuk dapat hidup dan hidup yang lebih baik lagi. Program ini harus didasarkan atas kondisi pribadi masing-masing, dengan perhitungan yang sangat teliti dan seksama dengan maksimalisasi modal, daya dan kemampuan diri. Program dan cita-cita itu hendaknya dibagi ke dalam jangka panjang dan jangka pendek, 10 tahun, 5 tahun, setahun, satu semester, sebulan, seminggu sampai hari demi hari. Mulai dari cita-cita kesarjanaan, job atau pekerjaan, mendirikan rumah, kawin atau berkeluarga, merencanakan anak sampai kepada cita-cita anak bahkan pembangunan nasional anak-anak bangsa, menuju negara aman damai adil makmur sejahtera bahagia. Dalam hal keluarga berencana bagi orang yang beriman, maka tujuan dan pelaksanaannya tidak boleh lain kecuali harus mentaati aturan Allah dan Rasulullah Saw. yang garis besarnya terkandung dalam Al-Quran dan hadis kemudian telah dipermudah dengan sangat rinci ditulis oleh para ulama dalam kitab-kitab fiqih. Salah satu kitab fiqh yang dilengkapi dengan dalil Al-Quran dan hadis Rasul Saw. ialah Fiqhus Sunnah yang ditulis oleh Sayyid Sabiq, suatu kitab yang membawa wawasan luas untuk dijadikan pedoman hidup. Tujuan, cara, sarana, pelaksanaan program perencanaan untuk menyusun keluarga yang bahagia diatur dalam seluruh kitab-kitab fiqih dalam Bab Perkawinan. Dalam bab perkawinan telah diatur semua masalah secara keseluruhan menuju kepada cita-cita Keluarga Bahagia yang abadi dunia akhirat mulai dari dasar landasan perkawinan, memilih jodoh, syarat rukun nikah, hubungan suami isteri yang paling rinci sampai nasib masa depan anak cucu. b) Keluarga Berencana Berkaitan dengan masalah Program Nasional Keluarga Berencara, maka orang yang beriman wajib menjaga diri dengan ketat jangan sampai berani menabrak atau bertentangan dengan ketentuan Al-Quran dan hadis. Landasan atau tujuan keluarga berencana tidak boleh didasarkan atas alasan karena tidak bisa memberi makan anak-anak. Allah berfirman dalam Al-Quran: وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلَاقٍ نَحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُمْ إِنَّ قَتْلَهُمْ كَانَ خِطْئًا كَبِيرًا (الاسراء31) Artinya:“Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rezki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar.”(S.17 Al-Isra\\\\\\\\\\\\>` 31)(Kandungan makna yang senada disebut dalam S.6 Al-An’a>m 151) Tentang alat dan cara melaksanakan Program Keluarga Berencana maka hamba Allah yang beriman wajib berpedoman atas ayat Al-Quran hadis Rasul Saw menjaga aurat dengan ketat juga tidak boleh merusak anggota tubuh dan lain-lain. Salah satu nash Al-Quran yang perlu kita ingat ialah berikut: وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ وَأَحْسِنُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (البقرة195) Artinya: ” ….dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik”(S.2 Al-Baqarah 195). Jika ayat ini dipegang teguh maka program fasektomi dan tubektumi akan berbenturan dan nyaris melawan Al-Quran, misalnya jika cara fasektomi dan tubektomi ini tidak memungkinkan melahirkan anak lagi bagi mereka yang menginginkan anak lagi maka cara itu bertentangan dengan ketetapan Al-Quran, sebab sering terjadi suatu musibah kematian anak menimpa atas suatu pasangan suami isteri, sehingga mereka ingin mempunyai anak lagi maka fasektomi atau tubektomi menutup rapat kemungkinan seseorang untuk mempunyai anak. Adapun cara yang paling terhormat dan mendapat ridlo Allah paling besar ialah mengikuti sabda Rasulullah Saw.berikut : 1772 يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ الْبَاءَ ةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَم يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ (رواه البخاري ومسلم2485 َ)* Artinya:“Wahai anak muda siapa dari kalian yang sudah mampu kawinlah, sungguh kawin itu lebih menjaga pandangan mata dan lebih menjaga syahwat. Sedangkan bagi siapa yang belum mampu maka dia harus berpuasa sebab puasa itu merupakan benteng dia”(HR.Bukha>ri> no. 1772, Muslim no.2485 ) Berdasarkan sabda Rasullah Saw. di atas ini, maka keluarga berencana itu disyari’atkan untuk dilakukan dengan cara berpuasa yaitu menahan nafsu serta mengatur penyalurannya didasarkan atas teori Ilmu biologi atau Ilmu kedokteran. 3. Dampak dan akibat hukum terhadap anak dengan ibu susuan Seseorang atau bayi yang meminum susu dari tetek seorang ibu, bisa menyebabkan haramnya perkawinan sebagaimana haramnya kawin karena hubungan nasab. Dengan kata lain haramnya perkawinan karena nasab berlaku atas orang yang mempunyai hubungan karena susuan, yaitu haram perkawinan antara ibu susuan dengan anak ssusan, seseorang haram kawin dengan saudara sesusuan demikian seterusnya. Berikut ketentuan Allah dalam Al-Quran dan hadis Rasul Saw. dalam masalah haram perkawinan sebab karena susuan tersebut : (حرمت عليكم) — وَأُمَّهَاتُكُمُ اللَّاتِي أَرْضَعْنَكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ مِنَ الرَّضَاعَةِ(النساء 23) Artinya:“(Diharamkan atas kamu)ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan’(S.4 An-Nisa>`23) 2616 عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَحْرُمُ مِنَ الرَّضَاعَةِ مَا يَحْرُمُ مِنَ الْوِلَادَةِ (رواه مسلم)* Artinya:“Dari ‘Alik no.1111 bahwa tidak menyebabkan haram kecuali waktu masih dalam ayunan serta yang menumbuhkan daging dan darah). Untuk hati-hatinya maka susuan yang hanya sedikitpun bisa menyebabkan haramnya perkawinan itu, sebab perbuatan ini sudah menyrempet-nyrempet bahaya. 4.Pengganti bapak-ibu dalam menanggung hak anak Dekatnya hubungan antara penanggung jawab dengan ahli waris untuk memenuhi hak-hak anak dan merawat anak atau bayi yang disinggung dalam S.2 Al-Baqarah 233 di atas menurut Hukum Waris, Hukum Perkawinan dan nash terkait adalah sebagai berikut: a) Menurut Hukum Waris Jika sekala prioritas dekat atau jauhnya hubungan antara seseorang dengan keluarga itu didasarkan atas Al-Quran S.4 An-Nisa>`11-12 dan ayat-ayat yang ada kaitannya dengan hukum waris, maka ukurannya adalah sebagai berikut: (1) Anak dan keturunan ke bawah; (2) Orang tua dan asal usulnya ke atas; (3)Saudara dan anak keturunannya ke bawah; (4) Saudara ayah dan anak keturunannya; (5) Saudara kakek dan anak keturunannya;(6) Susul menyusul lebih atas lagi. b) Menurut Hukum Perkawinan Jika ukuran dekat tidaknya hubungan seseorang dengan keluarganya tersebutdidasarkan atas Al-Quran S.4 An-Nisa>`23, maka orang-orang yang menempati kedudukan untuk menanggung jawab merawat dan memenuhi hak anak jika bapak ibunya tidak mampu untuk itu ialah: (1) Ibu; (2) Anak perempuan; (3) Saudara perempuan; (4) Bibi, saudara bapak; 5) Bibi saudara ibu; 6) Keponakan perempuan melalui saudara laki-laki; 7) Ibu susuan; 8) Saudari sesusuan; 9) Mertua perempuan; 10) Anak perempuan isteri; 11) Menantu perempuan. c) Menurut nash Al-Quran dan hadis Dalam beberapa nash Al-Quran dan hadis dapat diperhatikan soal siapakah orang yang wajib menanggung jawab merawat atau memenuhi hak anak, tertib urutannya ialah sebagai berikut: (1) Ibu; (2) Bapak; (3) Saudara perempuan; (4) Saudara laki-laki, dan seterusnya yang lebih jauh dari mereka ini, yaitu sebagai berikut: 16018 عَنْ رَجُلٍ مِنْ بَنِي يَرْبُوعٍ قَالَ أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَمِعْتُهُ وَهُوَ يُكَلِّمُ النَّاسَ يَقُولُ يَدُ الْمُعْطِي الْعُلْيَا أُمَّكَ وَأَبَاكَ وَأُخْتَكَ وَأَخَاكَ ثُمَّ أَدْنَاكَ فَأَدْنَاكَ (رواه احمد)* Artinya:“Dari seorang Bani Yarbu’ dia berkata: “Aku datang kepada Nabi Saw. lalu aku mendengar beliau membicarakan perihal manusia beliau bersabda: “Tangan pemberi yang mulia ialah memberi kepada ibu, bapak, saudara perempuan, saudara laki-laki kamu kemudian yang lebih rendah, lebih rendah lagi dari keluargamu itu”(HR.Ah}mad hadis no.16018). وَءَاتِ ذَا الْقُرْبَى حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا (الاسراء 26) Artinya:“Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros”(S.17 Al-Isra>` 26) Az-Zamakhsyari> dalam Al-Kasysya>f (tth:2/446) menafsirkan S.17 Al-Isra>` 26 di sana bahwa kewajiban menanggung nafkah itu hanya berlaku antara anak dengan orang tua. Adapun yang lebih jauh lagi kewajibannya hanyalah hubungan cinta kasih, keakraban, kehalusan budi dalam senang maupun dalam keadaan susah. وَلَا يَأْتَلِ أُولُو الْفَضْلِ مِنْكُمْ وَالسَّعَةِ أَنْ يُؤْتُوا أُولِي الْقُرْبَى وَالْمَسَاكِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ (النور22) Artinya:“Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat (nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka mema`afkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”(S.24 An-Nu>r 22). Dari ketentuan-ketentuan di atas hak orang yang wajib menanggung jawab memenuhi hak anak yang lebih dekat dispekulasikan ialah skala prioritas sebagaimana diatur dalam hukum waris di atas. —–(23)—– WASIAT I. S.2 Al-Baqarah 180 كُتِبَ عَلَيْكُمْ إِذَا حَضَرَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ إِنْ تَرَكَ خَيْرًا الْوَصِيَّةُ لِلْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ بِالْمَعْرُوفِ حَقًّا عَلَى الْمُتَّقِينَ (البقرة180) II. Artinya: “Diwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk ibu-bapa dan karib kerabatnya secara ma`ruf, (ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertakwa (S.2 Al-Baqarah 180). III. Tafsir dan analisa A. Pengertian kata-kata = كُتِبَ عَلَيْكُمْ Diwajibkan atas kamu sekalian = إذَا حَضَرَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ Jika kematian datang atas seseorang dari kamu sekalian = اِنْ تَرَكَ Jika dia meninggalkan, maksudnya meninggalkan harta warisan = خَيْرًا Harta, para ulama tafsir mengatakan bahwa yang dimaksud harta disini ialah harta yang banyak,sebab jika hanya sedikit tidak bisa disebutخيرا(khairan). ‘Abdulla>hh Yusuf Ali dalam The Holy Qur`an (1992:72) menterjemahkan kalimat ini: “… if he leaves any goods …” Jadi lafal “Khairan” itu dalam bahasa Inggrisnya ialah “Goods” =baik? = لِلْوَالِدَيْنِ Untuk dua orang tua, yaitu bapak ibu = وَالْأَقْرَبِينَ Dan keluarga dekat = بِالْمَعْرُوفِ Dengan baik, maksudnya tidak mengandung unsur zalim di dalamnya (Sa>biq 1971:3/584) = حَقًّا عَلَى الْمُتَّقِينَ Suatu hal yang wajib atas orang-orang yang bertakwa B. Tema dan sari tilawah Dari ayat wasiat dan uraian tersebut di atas maka dapat diambil tema dan sari tilawah sebagai berikut: 1. Kematian itu pasti akan menimpa siapa saja dari umat manusia 2. Wajarlah setiap orang mempunyai harta benda dan kekayaan 3.Jika seseorang merasa sudah dekat saat kematiannya maka dia harus berwasiat soal harta yang akan ditinggalkannya 4. Wasiat itu diberikan untuk bapak ibu dan keluarga dekat 5. Wasiat itu harus yang baik. 6. Orang yang bertakwa wajib melaksanakan ketentuan wasiat ini. C. Masalah dan analisa Dari tema dan kandungan makna ayat di atas banyak masalah yang timbul, tetapi sesuai dengan kondisi keadaan maka ada tiga soal yang mendesak yang perlu mendapat pemecahan atau jawaban penyelesaian lebih dahulu, yaitu sebagai berikut: 1. Bagaimanakah hukum yang mengatur wasiat itu? 2. Bagaimana pengertian Al-Ma’ru>f> atau BAIK dalam ayat itu? D. Tinjauan dan pemikiran Seluruh makhluk pasti tidak lepas dari pembatasan waktu, dia timbul awal waktu dan lenyap saat waktu dia sudah habis. Seluruh ciptaan Allah di alam ini semuanya mempunyai batas waktu eksistensi atau keberadaannya. Lebih-lebih ciptaan Allah yang bersifat materi, sejak ciptaan Allah yang paling kecil dari atom misalnya sampai makhluk yang terbesar yaitu jagad raya ini, semuanya dibatasi oleh umur. Makin lemah fisiknya makin pendek umurnya dan makin besar kemampuan atau kekuatannya makin panjang umurnya. Prof. Ah}mad Baiquni dalam bukunya Al-Quran dan Iptek (1994:12) mencatat bahwa 15 milyar tahun yang lalu alam semesta ini belum ada atau dengan kata lain alam semesta ini paling sedikit sudah berumur 15 milyar tahun. Kelak sesudah habis umurnya maka alam ini pun juga akan binasa. Allah memperingatkan dalam S.81 At-Takwir ayat 1 bahwa nanti suatu saat matahari akan redup, sinarnya akan habis, semacam lampu kehabisan bahan bakarnya, sehingga alam semesta ini kelak akan menjadi gelap gulita sebab matahari tidak bersinar lagi maka terjadilah kiamat. 1Hukum wasiat Masing-masing manusia pasti akan mati yaitu batas akhir umur hidupnya di dunia ini.Jika seseorang merasa ajal sudah dekat, maka hendaklah dia membuat wasiat terhadap harta yang sudah berhasil dia himpun itu. Allah menetapkan hukum wasiat ini di dalam Al-Quran S.2 Al-Baqarah 180 di atas, S.4 An-Nisa>` 11-12 dan S.5 Al-Ma>idah 106. Namun yang lebih tepat dibahas disini ialah yang ada di dalam S.2 Al-Baqarah 180 di atas. @ Nasakh-mansu>kh Para ulama berbeda pendapat tentang kedudukan ayat wasiat S.2 Al-Baqarah 180 dihadapkan dengan ayat mawa>rits s.4 An-Nisa>` 11-12. Az-Zuh}aili> dalam Al-Muni>r (1991:2/121) mencatat beberapa pendapat sebagai berikut: 1) Pendapat pertama Ibnu ‘Abba>s, Al-H}asan, Tha>wus, Masru>q diikuti oleh Ath-Thabari> menyatakan bahwa ayat wasiat S.2 Al-Baqarah 180 yang isinya memberi wasiat untuk ibu-bapak dan kerabat yang menerima warisan maka ayat itu di-mansu>kh oleh ayat mawa>rits dan oleh hadis Nabi Saw. berikut: 2046 عَنْ أَبِي أُمَامَةَ الْبَاهِلِيِّ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ فِي خُطْبَتِهِ عَامَ حَجَّةِ الْوَدَاعِ إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَعْطَى لِكُلِّ ذِي حَقٍّ حَقَّهُ فَلَا وَصِيَّةَ لِوَارِثٍ (رواه الترمذي وابوداودوابن ماجه) Artinya:“Dari Abu> Uma>mah al Ba>hili> dia berkata: “Aku mendengar Rasulullah Saw. bersabda dalam khutbahnya pada waktu haji Wada’: “Sesungguhnya Allah benar-benar telah memberikan hak bagian kepada setiap pemilik hak sesuai dengan haknya, maka tidak ada wasiat untuk ahli waris” (HR.Turmudzi> no.2046, Abu> Da>wu>d dan Ibnu Ma>jah). Namun memberi wasiat untuk mereka yang tidak mendapat warisan hukumnya tetap wajib. Ulama mutaakhirin menyebutnya bukan mansu>kh tetapi takhshii>sh Kemudian Al-Qurthubi> (1967:2/263) mencatat hal yang sama dengan menambah bahwa pendapat ini diterima dan menjadi pegangan Imam Sya>fi’i> dan orang-orang madzhab Ma>liki. 2) Pendapat kedua: Ibnu ‘Umar, Abu> Mu>sa>, Sa’i>d ibnul Musayyab menyatakan bahwa ayat wasiat tersebut di-mansu>kh secara menyeluruh oleh ayat mawa>rits, baik yang menerima warisan maupun yang tidak menerimanya. Alasannya ialah hadis berikut: 3154 عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ أَنَّ رَجُلًا أَعْتَقَ سِتَّةَ مَمْلُوكِينَ لَهُ عِنْدَ مَوْتِهِ لَمْ يَكُنْ لَهُ مَالٌ غَيْرَهُمْ فَدَعَا بِهِمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَجَزَّأَهُمْ أَثْلَاثًا ثُمَّ أَقْرَعَ بَيْنَهُمْ فَأَعْتَقَ اثْنَيْنِ وَأَرَقَّ أَرْبَعَةً (رواه مسلم)* Artinya: “Dari ‘Imra>n ibnu H}ushin bahwa seseorang menjelang meninggalnya memerdekakan enam budak milik dia, sedang dia tidak mempunyai apa-apa selain budak-budak itu. Maka Rasulullah Saw. memanggil mereka lalu membagi mereka menjadi tiga kemudian beliau melotrenya selanjutnya memerdekakan dua orang budak dan menetapkan sebagai budak yang empat orang”(HR.Muslim no.3154) Jika seandainya wasiat itu untuk diberikan kepada kerabat dan batal untuk yang lain, maka apa sebab Nabi Saw. memerdekakan dua hamba dan menetapkan sebagai budak empat yang lain, sebab memerdekan kedua hamba itu merupakan wasiat untuk keduanya, padahal keduanya bukanlah kerabat. Bahwa ayat wasiat dimansu>kh oleh ayat mawa>rits S.4 An-Nisa>`11 dan hadis Abu> Uma>>mah, maka pendapat ini mendapat kritik tajam dari penyusun Al-Mana>r (tth:2/136) terutama dalam tiga hal berikut: (a) Ayat mawa>rits itu sifatnya mutlak wajib melaksanakan wasiat sebelum pembagian warisan.(b).Hadis Abu> Uma>mah di atas nilainya Ad, tidak mungkin bisa menasakh Al-Quran yang nilainya Mutawa>tir. (c)Tidak ada bukti bahwa ayat mawa>rits turun sesudah ayat wasiat Oleh karena itu maka sangat dimungkinkan bahwa kedua ayat itu dapat dikompromikan, yaitu bahwa ayat wasiat itu khusus untuk bapak ibu yang tidak menerima warisan. Dan sebagai pertimbangan ialah bahwa anak wajib berbuat baik kepada bapak ibu bahkan yang kafir sekalipun seperti yang ditekankan Al-Quran S.31 Luqma>n 15 dan S.8 Al-Anfa>l 29. Perlu diperhatikan bahwa sebagian ulama membolehkan wasiat untuk sebagian ahli waris yang benar-benar sangat memerlukan wasiat itu. Penulis Al-Mana>r itu menambahkan bahwa tidak mungkin ada nasakh kecuali jika sudah tidak dapat dikompromikan lagi antar kedua ayat yang dipermasalahkan itu. @ Lalu bagaimana wasiat yang diberikan kepada seseorang yang bukan kerabat? Terhadap hadis Abu> Uma>>mah bahwa bukan kerabat boleh diberi wasiat, telah diperselisihkan para ulama dicatat oleh Ibnu Rusyd dalam Bida>yatul Mujtahid (1950:2334), yaitu:(a) Jumhur ulama membolehkan wasiat kepada bukan kerabat walaupun hukumnya makruh. Dasarnya ialah hadis dari Abu> Umamah itu. (b) Al-H}asan dan Tha>wu>s menyatakan bahwa huruf Alif –Lam di dalam kalimat لِلْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ dalam ayat wasiat itu menunjukkan batasan (Al-hashr), maka wasiat itu dikembalikan kepada kerelaan kerabat atau ahli waris. Jika ahli waris tidak menyetujui wasiat kepada seseorang yang bukan kerabat para ulama sepakat membolehkannya, tetapi jika kerabat tidak membolehkannya maka terjadi lagi dua pemahaman, yaitu:(1) Jumhur membolehkan wasiat kepada bukan kerabat (2) Madzhab Zha>hiri> menolak keabsahan itu. 3)Pendapat ketiga: Ar-Ra>zi> mencatat pendapat Abu> Muslim al-Asfiha>ni> bahwa ayat wasiat ini bersifat Muh}kam, menduduki status hukum yang tetap, tetapi ditafsirkan oleh ayat mawa>rits S.4 An-Nisa>` 11. Tidak ada penghapusan antar keduanya, sehingga wasiat untuk kerabat dekat dan hak mewaris tetap atas ahli waris, sebab wasiat itu pemberian oleh almarhum pemberi wasiat sedangkan warisan adalah anugerah dari Allah Ta’ala, maka ahli waris mandapat hak wasiat dan warisan melalui dua buah ayat S.2 Al-Baqarah 180 dan S.4 An-Nisa>`11. Dipandang dari sisi lain maka dimungkinkan ayat wasiat (S2A180) merupakan takhshii>sh terhadap ayat wasiat (S4A11). Artinya ayat wasiat untuk kerabat yang tidak mendapat warisan sebab karena kafir atau Mah}ju>b ataupun karena termasuk Dzawi> l Arh}a>m, demikianlah pendapat Thawus dan para pendukungnya (Az-Zuh}aili> 1991:2/121) Ibnu Umar, Ibnu Zaid, Asy-Sya’bi> dan An-Nakha’i> demikian juga Imam Ma>lik berpendapat bahwa ayat wasiat tersebut adalah mansu>kh, sehingga hukumnya menjadi mandub atau sunat. Agar supaya lebih bersifat operasional maka di bawah ini dijabarkan bagimana aturan hukum tentang wasiat dan masalah yang terungkap di dalam sub bab di muka, yaitu sebagai berikut. a.Dasar-dasar landasan hukum wasiat Hukum wasiat ditetapkan melalui Al-Quran, hadis dan ijmak, yaitu: : – S.2 Al-Baqarah 180 di atas; S.4 An-Nisa>` 11; S.5 Al-Ma>idah 106 dan hadis sbb.: Artinya: “…(Pembagian-pembagian tersebut di atas) sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya” (S.4 An-Nisa>` 11-12). Artinya:“Hai orang-orang yang beriman, apabila salah seorang kamu menghadapi kematian, sedang dia akan berwasiat, maka hendaklah (wasiat itu) disaksikan oleh dua orang yang adil di antara kamu …”(S.5 Al-Ma>idah 106) b. Sunnah Nabi Saw.: 2533 عَنْ عَبْدِاللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِي اللَّهم عَنْهممَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا حَقُّ امْرِئٍ مُسْلِمٍ لَهُ شَيْءٌ يُوصِي فِيهِ يَبِيتُ لَيْلَتَيْنِ إِلَّا وَوَصِيَّتُهُ مَكْتُوبَةٌ عِنْدَهُ (واه البخاري ومسلم)* Artinya:“Dari ‘Abdulla>h Ibnu ‘Umar RA bahwa Rasulullah Saw. bersabda: “Tidak ada hak atas seorang muslim berwasiat dua malam dari sisa hidupnya selain wasiat itu tertulis dihadapannya”(HR.Bukha>ri> no,2533 dan Muslim) 2700 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ تَصَدَّقَ عَلَيْكُمْ عِنْدَ وَفَاتِكُمْ بِثُلُثِ أَمْوَالِكُمْ زِيَادَةً لَكُمْ فِي أَعْمَالِكُمْ (رواه ابن ماجه)* Artinya:“Dari Abu> Hurairah bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Allah memberikan sedekah kepada kamu sekalian saat menjelang meninggalmu dengan sepertiga hartamu, sebagai tambahanmu untuk amalan kamu”(HR. Ibnu Ma>jah No.2700). 2692عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ مَاتَ عَلَى وَصِيَّةٍ مَاتَ عَلَى سَبِيلٍ وَسُنَّةٍ وَمَاتَ عَلَى تُقًى وَشَهَادَةٍ وَمَاتَ مَغْفُورًا لَهُ (رواه الترمذي وابن ماجه)* Artinya: “Dari Ja>bir ibnu ‘Abdilla>h dia berkata bahwa Rasulullah Saw. bersabda: “Barang siapa meninggal dia sudah berwasiat, maka dia meninggal dengan jalan yang benar dan mengikuti sunnah, maka dia itu meninggal dalam takwa dan mempunyai saksi bahkan dia meninggal dengan penuh ampunan”(HR.Turmudzi> no.2692 dan Ibnu Ma>jah). Di samping nas Al-Quran dan hadis tersebut maka wasiat itu telah disepakati sebagai ijmak para ulama. c. Status hukum wasiat Wajib tidaknya hukum wasiat tidak sepenuhnya disepakati oleh para ulama, menurut catatan Sayyid Sa>biq dalam Fiqhus Sunnah (1971:3/588) adalah sebagai berikut: 1) Wajib hukumnya seseorang membuat wasiat menjelang meninggalnya baik dia mempunyai harta banyak ataupun sedikit berdasarkan Al-Quran S.2 Al-Baqarah 180 terurai di atas, khususnya yang berbunyi “H}aqqan” artinya wajib. 2) Sebagian ulama berpendapat bahwa wasiat itu hukumnya wajib diberikan kepada bapak, ibu dan kerabat dekat yang tidak mendapat hak warisan 3) Ulama madzhab empat, H}anafi>, Ma>liki, Sya>fi’i>, H}anbali> dan Zaidiyah berpendapat bahwa status hukum wasiat itu tidak wajib seperti dua pendapat tersebut di atas, tetapi wasiat itu hukumnya sangat tergantung kepada situasi dan kondisi masing-masing orang. Hukum wasiat itu adalah sebagai terurai di bawah ini: a) Wajib, jika yang bersangkutan mempunyai tugas kewajiban syara’ dan takut akan terlengahkan nantinya, misalnya zakat, titipan amanat, hutang-hutang lainnya. b) Mandu>b atau sunat, wasiat sesuatu untuk kerabat, orang fakir dan obyek amal-saleh ~ Al-Qurthubi> (1967:2/267) menjelaskan bahwa lafal “H}aqqan” itu menunjukkan wajib, tetapi dengan adanya lafal “‘ala>l muttaqi>n” hukumnya menjadi mandu>b atau sunnat Para ulama mengatakan bahwa wasiat itu hukumnya tidak wajib dengan dua alasan :(1)Tidak diketemukan riwayat dari para sahabat tentang wajibnya wasiat (2) Wasiat itu adalah pemberian yang sifatnya suka rela dan tidak wajib yang berlaku atas orang yang masih hidup, maka dari itu wasiat juga tidak wajib atas orang yang akan meninggal. ~ Az-Zuh}aili> dalam Al-Fiqhul Isla>mi> (1989:8/12) mengatakan bahwa yang lebih afdlol ialah wasiat itu diberikan kepada kerabat yang tidak menerima warisan mengingat Al-Quran S.17Al-Isra>` 26, S.2 Al-Baqarah 177dan S.33 Al-Ah}za>b 6 berkaitan dengan sedekah kepada kerabat dekat atau hak mereka.. c) Haram, jika wasiat itu akan membawa kesengsaraan atau dosa ahli waris d) Makruh, jika harta peninggalan yang bersangkutan hanya sedikit dan sangat diperlukan oleh ahli warisnya sendiri. e) Mubah, jika yang bersangkutan dalam keadaan tidak seperti di atas sampai hukumnya menjadi makruh bahkan haram, jika harta itu hanya sedikit atau wasiat itu akan mengakibatkan ahli waris jatuh ke dalam kesengsaraan. @ Batas sedikit banyaknya harta yang ditiinggalkan Berapakah batas sedikit atau banyaknya harta yang akan ditinggalkan oleh pemberi wasiat itu? Al-Qurthubi> dalam tafsirnya (1967:2/259) mencatat beberapa pendapat tentang ukuran banyak sedikitnya harta berkaitan dengan wasiat in, yasitu:1) Menurut Ali, ‘As harta yang dimaksud ialah jika jumlahnya minimal 700 dinar. 2) Menurut Al-H}asan jumlahnya ialah 1000 dinar ke atas 3) Menurut Asy-Sya’bi> jumlahnya ialah di antara 500 sampai 1000 dinar *) *) Nishab emas 20 dinar = 93,6 gram emas, nishab perak=200 dirham=624gr perak) Menurut Al-Mana>r (tth:2/135) jenis itu dirham bukan dinar, sedangkan yang tepat bukanlah angka, tetapi situasi dan kondisi masyarakat yang bersangkutan(Dalam hal ini perlu rubrik tersendiri). @ Syarat-syarat wasiat Berlakunya suatu wasiat diperlukan beberapa syarat baik bagi pemberi wasiat, penerima wasiat maupun materi apa yang diwasiatkan. Menurut ulama fiqh syarat-syarat untuk masing-masing itu ialah sebagai berikut: 1) Pemberi wasiat: a) Berakal sehat. b) Dewasa. c) Merdeka. d) Kemauan bebas. e) Tidak dalam status di bawah perwalian. [Sayyid Sa>biq dalam Fiqhus Sunnah (1971:3/594) mencatat bahwa Imam Ma>lik membolehkan pemberi wasiat oleh orang yang lemah akal atau kurang umur]. 2) Penerima wasiat: a) Bukan ahli waris. b) Dapat diwujudkannya dengan nyata apa yang diwasiatkan. c) Bukan sebagai pembunuh almarhum. 3) Materi yang diwasiatkan:(a)Tidak melampaui sepertiga warisan, sesuaidengan hadis Bukha>ri> Muslim ( Bukha>ri> No. 2537, Muslim 3076,3078) (b) Dapat dilaksanaan realisasi hak pemilikan @ Batalnya wasiat Wasiat menjadi batal jika terjadi hal-hal sebagai berikut: 1) Pemberi wasiat menjadi gila sampai meninggal 2) Penerima wasiat meninggal mendahului pemberi wasiat 3) Materi benda yang diwasiatkan hancur sebelum diserah-terimakan kepada penerima wasiat 2. Makna Al-Ma’ru>f> dan hakikat apa yang disebut baik Kata-kata Al-Ma’ru>f> merupakan isim Maf’u>l dari lafal ‘arafa artinya mengenal, sehingga dengan bentuk isim Maf’u>l arti kata-kata ini menurut bahasa ialah hal yang dikenal atau diakui, tetapi makna yang lebih mendalam ialah bahwa sesuatu itu dikenal dan diakui sebagai sesuatu yang baik.” Dalam istilah “Al-Ma’ru>f>” dengan bentuk isim Maf’u>l sama artinya dengan “Al-‘Urfu” dalam bentuk isim mashdar artinya kata benda dari mengenal yaitu pengakuan atau pengenalan. Lafal Al-Ma’ru>f> disebut dalam Al-Quran dalam 26 tempat seperti S.2 Al-Baqarah 180, 241 serta yang lainnya. Al-‘Urfu menjadi sangat penting sebab istilah Al-‘Urfu telah dibakukan menjadi salah satu sumber hukum Islam. ‘Abdul Wahha>b dalam kitabnya ‘Ilmu Ushu>lul Fiqh (1956:91) memberikan definisi Al’Urfu itu ialah suatu ucapan dan pantangan yang diakui baik oleh orang banyak dan meereka terus menerus melakukannya. ‘Abdul ‘Azi>z al-Khayya>th dalam kitabnya Nazhariyatul ‘Urfi (1977:29) membuat definisi Al-‘Urfu sebagai berikut: اَلْعُرْفُ مَا اسْتَقَرَّتْ عَلَيْهِ النُّفُوْسُ بِشَهَادَةِ الْعُقُوْلِ وَتَلَقَّاهُ الطَّبَاعُ بِاْلقَبُوْلِ Artinya: “Al-‘Urfu ialah sesuatu yang diterima oleh hati berdasarkan pemikiran akal dan sesuai dengan watak manusia ” Dalam wacana Hukum Islam maka Al-‘Urfu itu sama dengan Al-‘Adatu. Ibnul Manzhur dalam Lisanul Arab (tth:3/311) memberikan definisi Al’Adat sebagai berikut :اَلْعَادَةُ الدَّيْدَنُ يُعَادُ اِلَيْهِ مَعْرُوْفَةً Artinya:: “Adat ialah kebiasaan yang diulang-ulang karena dianggap baik” Menurut Van Vollenhoven yang dicatat oleh Moh.Koesnoe dalam Pengantar ke dalam Hukum Adat Indonesia (1971:10), bahwa Hukum Adat itu ialah tatanan hidup masyarakat yang bersumber dari rasa susilanya yang jelas sanksi hukumannya atas pelanggar tatanan hidup itu. Lebih jauh terbentuknya Hukum Adat dapat dijelaskan bahwa Hukum Adat itu berasal dari Adat yang dipercayai wajibnya dilakukan. Bahkan di dalam masyarakat Arab Jahiliyah bahwa Adat yang sudah terlalu kuat berlangsungnya dalam masyarakat, seluruh anggota masyarakat meyakininya sebagai AGAMA. Akibatnya barang siapa melanggar Adat tersebut dihukum berat oleh tokoh adat masyarakat. Ah}mad Ibra>hi>m asy-Syari>f (tth:62) mencatat bahwa adat Arab Jahiliyah yang sudah terlalu kuat dipercaya sebagai perintah agama. Oleh karena itulah Allah memperingatkan kepercayaan yang salah ini, yaitu: وَإِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً قَالُوا وَجَدْنَا عَلَيْهَا ءَابَاءَنَا وَاللَّهُ أَمَرَنَا بِهَا قُلْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاءِ أَتَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ (الاعراف (28) Artinya: “Dan apabila mereka melakukan perbuatan keji, mereka berkata: “Kami mendapati nenek moyang kami mengerjakan yang demikian itu, dan Allah menyuruh kami mengerjakannya. Katakanlah: “Sesungguhnya Allah tidak menyuruh (mengerjakan) perbuatan yang keji.” Mengapa kamu mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?’(S.7 AlA’raf 28). Adat sendiri dapat dispekulasikan sebagai suatu kebiasaan seseorang atau Adat yang belum meningkat ke peringkat Hukum, jika ada seseorang melanggar Adat ini maka orang yang melanggarnya dia tidak dikenakan ancaman hukuman. Adat sendiri berasal dari kebiasaan orang seorang, yaitu jika suatu tingkah laku hanya dilakukan oleh sekelompok kecil masyarakat maka dia belum bisa dinamakan ADAT. Demikian juga tingkah laku yang hanya dilakukan oleh seseorang belum dapat disebut kebiasaan. Tingkah laku seseorang itu sendiri, dapat diduga berasal dari suatu hal yang mendadak timbul tanpa dipikir tanpa dasar apa-apa, juga mungkin berasal dari suatu pemikiran akal yang sehat. Pokoknya jika seseorang melakukan suatu tingkah laku dan diulang-ulang terus menerus, ini dinamakan kebiasaan. Jika kebiasaan seseorang itu ditiru dan dilakukan oleh orang banyak dan dilakukan oleh orang lain .demikian banyaknya bahkan terus-menerus, maka kebiasaan ini meningkat menjadi adat.. Akhirnya jika adat ini sudah diikuti oleh seluruh anggota suatu masyarakat dan mereka lakukan terus-menerus sampai mereka sangat takut meninggalkannya, sampai siapa yang melanggar diancam suatu hukuman tertentu, maka adat ini meningkat kedudukannya menjadi HUKUM ADAT. Dalam definisi ahli Hukum Islam maupun definisi dari ahli Hukum Adat terurat di atas terdapat persamaan dasar bahwa Al-‘Urfu maupun Hukum Adat terkandung unsur apa yang dinilai sebagai BAIK yang diakui oleh orang banyak, akan tetapi sumber yang menilai BAIk itu ialah manusia. Oleh karena itulah menurut Abdul Wahha>b Khalla>f ulama ahli Hukum Islam “Al-‘Urfu” itu dibagi dua, yaitu: (1) Ash-Shah}i>h}, yaitu adat yang tidak bertentangan dengan syari’at Islam. (2) Al-Fa>sidu, yaitu adat yang bertentangan dengan syari’at Islam. Yang kedua ini harus ditolak oleh kaum muslimin. Menurut Muh}ammad Abu> Zahrah dalam kitabnya Ushu>lul Fiqh (1958:217) Al-Urfu menurut Hukum Islam itu dibagi dua, yaitu: (1) Al-‘Urful ‘A Zahrah adat ini bisa menjadi suatu ijmak yang tertinggi klasnya diatas semua Ijmak yang lain, karena adat tersebut telah disepakati oleh seluruh umat Islam yang mujtahid maupun orang awam. Sebagian ulama mengaitkan Adat ini dengan hadis berikut: 3418 مَا رَأَى الْمُسْلِمُونَ حَسَنًا فَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ حَسَنٌ وَمَا رَأَوْا سَيِّئًا فَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ سَيِّئٌ(رواه احمد موقوفا عن ابن مسعود)* Artinya: “Apa yang dinilai baik oleh kaum muslimin maka di sisi Allah dia dinilai baik dan apa yang dinilai oleh kaum muslimin buruk maka disisi Allah dinilai buruk”(HR. Ah}mad no.3418 hadis dari Ibnu Mas‘u>d) Para ahli hukum Islam menerima hadis ini dan dijadikan sebagai landasan Al-‘Urfu, menjadi salah satu sumber Hukum Islam. (2) Al-Urful Kha>shsh, yaitu adat yang wilayah berlakunya terbatas, maksudnya ialah bahwa adat tersebut berlaku dan dianut oleh suatu masyarakat tertentu saja, kurang meluas. Roger Garaudy dalam bukunya Janji-janji Islam (1982:35) mencatat bahwa adat kebiasaan khususnya adat kebiasaan Arab Jahiliyah itu memang merupakan sesuatu yang dianggap “baik”oleh masyarakat Jahiliyah waktu itu. Ini dapat diperhatikan dari sanjungan-sanjungan para penyair Jahili dalam pendahuluan syair-syairnya terhadap hal-hal yang hidup dalam adat kebiasan mereka yaitu Adat Kebiasaan Arab Jahiliyah. Oleh karena itu Adat Kebiasaan merupakan tingkah laku yang diciptakan oleh suatu masyarakat manusia hasil dari pemahamannya untuk mengadaptasi diri dengan alam yang dihadapinya. Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa adat kebiasaan itu adalah sesuatu yang dianggap baik dan tepat oleh suatu masyarakat untuk dapat hidup dan hidup yang lebih baik lagi. Para ahli pikir bertikai pendapat mengenai ukuran terhadap apa yang disebut “baik” itu dan yang banyak dianut ialah filosuf aliran berikut: John Stuart Mill (1873) dari aliran Utilitarianisme menyatakan bahwa yang disebut baik itu ialah sesuatu yang mmbawa kepada kenikmatan dan kebahagiaan, yang disebut buruk itu ialah sesuuatu yang membawa kepada kesengsaraan dan penderitaan. Menurut Mill yang baik secara maksimal ialah sesuatu yang tertinggi mutu nikmatnya dan yang terbesar jumlah orang yang ikut menikmatinya (The greatest happiness of the greatest number). Bahkan Mill menambahkannya dengan kebahagiaan jasmani maupun rohani. Rasulullah Saw. (wafat Senen tg.7 Juni 632H=12 Rabi’ulawal 11 H) bersabda berkenaan apa yang dinamakan baik itu sebagai berikut: 1867 عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَيْرُ الْأَصْحَابِ عِنْدَ اللَّهِ خَيْرُهُمْ لِصَاحِبِهِ وَخَيْرُ الْجِيرَانِ عِنْدَ اللَّهِ خَيْرُهُمْ لِجَارِهِ (رواه الترمذي)* Artinya: “Dari ‘Abdulla>h ibnu ‘Amr bahwa Rasulullah Saw.bersabda: “ Sebaik-baik-baik teman menurut Allah ialah orang terbaik terhadap temannya dan sebaik-baik tetangga disisi Allah ialah orang terbaik terhadap tetangganya”(HR. Turmudzi> no.1867). خَيْرُ النَّاسِ اَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ (القضاعي عن جابر-جامع الصغير للسيوطي 1966ص148) Artinya: “Sebaik-baik manusia ialah orang yang paling besar jasanya terhadap umat manusi” (HR.Al-Qudha>‘i> dari Ja>bir-As-Suyu>thi> dalam Ja>mi’ush-Shaghi>r l966:148). Ibnu Abi> Ha>syim tokoh madzhab Muktazilah sefaham dengan aliran Utilitarianisme di atas, dengan catatan bahwa manusia dengan akalnya tidak mampu mengetahui baik dan buruk itu secara rinci mendetail. Muhammad ‘Abduh dalam Risa>latut Tauh}i>d (1965:101) menyatakan bahwa akal saja tidak cukup untuk mengetahui perbuatan yang mana akan membawa kepada kebahagiaan tanpa petunjuk dari wahyu dari Tuhan. Oleh karena itulah maka Al-Ghaza>li> (1111M) kira-kira 762 tahun sebelum Mill menyatakan bahwa yang baik itu ikut Allah, yang disebut BAIK itu ialah apa yang dipandang baik oleh Allah dan yang dinamakan buruk itu ialah apa yang dikatakan buruk oleh Allah (Muba>rak l924:123). Jadi makna Al-Ma’ru>f>f dalam Al-Quran S.2 Al-Baqarah 180 yang kita bahas sekarang harus kita kembalikan kepada teori dari Al-Ghaza>li>, Muh}ammad ‘Abduh, Ibnu Abi> Ha>syim dan diperkuat oleh para filosuf John Stuart Mill dan yang sefaham dengan mereka ini. Secara khusus untuk ayat S.2 Al-Baqarah 180 maka pemberian wasiat harus menuju kepada sasaran yang membawa ke kesejehteraan dan kebahagiaan maksimal untuk keluarga almarhum pemberi wasiat. Maka dari itu wasiat tidak boleh melampaui sepertiga harta warisan, sebagaimana tercantum dalam hadis Nabi Saw. riwayat.Muslim no. 3078,Al-Qurthubi> 1967:2/267) tercatum di atas. Allah menegaskan dalam ayat 182 S.2 Al-Baqarah itu juga bahwa yang dimaksud dengan Al-Ma’ru>f>f ialah semua usaha yang menuju kepada makna BAIK secara hakiki maka wasiat itu tidak boleh mengandung unsur dosa, sehingga wasiat itu harus diubah sampai bersih tidak mengandung unsur dosa, yaitu: : “(Akan tetapi) barang siapa khawatir terhadap orang yang berwasiat itu, berlaku berat sebelah atau berbuat dosa, lalu ia mendamaikan antara mereka, maka tidaklah ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”(S.2 Al-Baqarah 182) Akhirnya timbul pertanyaan sebagai berikut: Bagaimanakah penyelesaian harta seseorang jika dia tidak membuat wasiat saat menjelang wafatnya? Jika seandaianya almarhum tidak membuat wasiat maka berlakulah Hukum Waris yang di dalamnya tidak ada wasiat yang harus didahulukan sebelum pembagian harta warisan, sebagai acara utuk memulai pembagian warisan. ———–(24)————– GENERASI UNGGULAN I. S.4 An-Nisa>` 9-10 وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا(9)إِنَّ الَّذِينَ يَأْكُلُونَ أَمْوَالَ الْيَتَامَى ظُلْمًا إِنَّمَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ نَارًا وَسَيَصْلَوْنَ سَعِيرًا (النساء 9-10 ) II. Artinya: “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar. .Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka)”(S.4 An-Nisa>` 9-10). III. Tafsir dan analisa. A. Pengertian kata-kata = وَلْيَخْشَ Dan hendaklah dia prihatin atau merasa sedih dan kawatir = مِنْ خَلْفِهِمْ Di belakang mereka atau sesudah mereka = ذُرِّيَّةً Suatu keturunan, anak cucu = ضِعَافًا Lemah = خَافُوا عَلَيْهِمْ Mereka mengawatirkan dirinya, mereka merasa pesimis = سَدِيْدًا Benar, jujur, tepat = بُطُونِهِمْ Perut-perut mereka = سَيَصْلَوْنَ Mereka akan masuk = سَعِيرًا Neraka yang menyala B.Tema dan sari tilawah Dari uraian tersebut di atas dapat diambil tema dan sari tilawah Al-Quran S.4 An-Nisa>` 9-10 itu sebagai berikut: 1.Kita sekalian harus prihatin dan menatap masa depan dengan aktif berusaha penuh semangat 2.Kita harus membangun generasi baru yang bernilai plus, generasi unggulan 3. Kita tidak boleh meninggalkan generasi baru yang lemah dan pesimis 4. Kita harus bertakwa, berkata yang benar dan pasti 5. Kita dilarang berbuat zalim, lebih-lebih kepada anak yatim 6.Orang yang memakan harta anak yatim dengan lalim akan mendapat azab neraka C. Masalah dan analisa Tema dan sari tilawah ayat tersebut di atas menyimpan pertanyaan yang cukup banyak, namun pertanyaan yang perlu didahU>lu>kan dalam kesempatan ini adalah sebagai berkut: 1. a. Generasi yang bagaimanakah yang bernilai plus atau unggulan itu? b. Bagaimanakah generasi yang lemah itu? 2. Sayogyanya bagaimana cara menyantuni anak yatim itu? D. Tinjauan dan pemikiran Kemiskinan itu ada yang disebut dengan kemiskinan struktural, yaitu suatu kemiskinan yang seakan-akan sudah mapan tidak mau diubah atau betul-betul sangat sulit diubah disebabkan karena budaya yang sudah berlaku sangat lama. Suatu contoh seperti kuatnya faham terhadap sistem kasta, bahwa nasib kaum PARIYA, kaum bawahan atau kaum lemah itu memang sudah ketentuan dari langit, sudah nasib. Demikian juga adanya suatu masyarakat terpencil yang sebagian besar anggotanya adalah kaum lemah, melarat, terbelakang, sulit sekali diberi pengertian baru dan sangat sukar untuk diajak maju. Kemiskinan juga bisa disebabkan oleh faktor-faktor tertentu, seperti korban serangan Narkotika atau korban bencana alam, korban akibat kerusuhan dan amuk masa akhir-akhir ini. Menurut catatan Polda Jatim, sampai Mei 2001 jumlah mahasiswa penderita korban Narkoba tidak kurang dari 33.000 orang. Serangan Narkoba ini sudah merambat masuk ke lembaga-lembaga pendidikan, bahkan lembaga-lembaga pendidikan Islam sekalipun. Perlu dimaklumi bahwa seseorang makin banyak mencicipi benda terkutuk itu dia akan lebih lengket dengan barang haram, ganja, sabu-sabu, morfin dan sejenisnya itu. Jika yang bersangkutan ini sudah tidak dapat berpisah dari benda ini, maka si penderita akan menjual harta miliknya jauh di bawah harga asal mendapatkan barang haram itu. Akibatnya ialah bahwa duka nistapa akan segera menghimpit keluarga yang bersangkutan, kehidupan keluarga akan ditimpa kesedihan, kesulitan dan harta kekayaaan segera dihabiskan demi untuk mengatasinya. Para pengedar barang haram tersebut giat sekali mencari korbannya, mulai dari bujuk-rayu sampai memaksa dengan keras dan tidak bermoral. Serangan sindikat Narkoba ini sungguh benar-benar sangat berbahaya terhadap nasib generasi kita mendatang. Sedangkan penyembuhan atas korban akibat serangan Narkoba ini betul-betul sangat sulit; Salah satu lembaga sosial yang menyantuni mereka ini ialah Pondok-Pesantren Suryalaya-Bandung. Di antara cara penyembuhannya ialah dengan mandi besar jam 2.3o dini hari, shalat Tahajjuj, zikir dan berdo’a dibawah asuhan kyai,langsung di bawah bimbingan seperti Abah Anom. Di sisi lain, dari pemerintah daerah Jawa Timur diperoleh catatan bahwa pengungsi Sampit di Madura waktu yang lalu jumlahnya mencapai 75 000 orang. Kondisinya sangat menyedihkan, mereka tersebar di banyak tempat menumpang di rumah-rumah keluarga di desa-desa yang sukar sekali dijangkau. Sehingga untuk mengantarkan bantuan itu sangat sulit sekali untuk bisa sampai kepada pengungsi yang menanti. Disebabkan karena telah kehabisan dana dan daya, maka ada keluarga yang menampung itu sendiri bahkan ganti mengungsi meninggalkan para pengungsi itu sendiri dalam keadaan terlantar. Disamping derita kelaparan maka dari beberapa saksi ternyata banyak sekali para pengungsi itu yang tidak dapat membaca kalimat syahadat walaupun mereka mengaku beragama Islam. Dengan kata lain mereka ini tidak mempunyai apa-apa sama sekali baik materi bahan makanan bahkan ajaran agamapun nol besar. Allah sebenarnya telah memberikan peringatan kepada kita dalam Al-Quran berkaitan dengan minum minuman keras atau khamer, yaitu tahap demi tahap mulai dari S.16 An-Nah}l 67, S.2 Al-Baqarah 219, S.4 An-Nisa>` 43, sampai S.5 Al-Ma>idah 90, 91, 93 dan 100. Khusus mengenai perencanaan dan peningkatan sumber daya manusia, maka Al-Quran melalui S.4 An-Nisa>` 9-10 di atas, memerintahkan kepada kita supaya benar-benar berusaha membangun anak bangsa ini menjadi generasi unggulan yang sangat membanggakan. Berdasarkan atas besarnya bahaya yang sudah sangat keras mengancam di atas itu maka hukumnya wajib atas kita semua untuk bekerja keras menentang dan memerangi bahaya Narkoba yang sedang mengancam generasi muda kita sekarang ini. Yang perlu kita perhatikan ialah bahwa kebanyakan ulama dalam menafsirkan S.4 An-Nisa>`9-10 itu mereka tidak langsung mengarahkan tafsiran mereka kepada keharusan membangun generasi unggulan. ~ Al-Mana>r (tth.4/399) menyatakan bahwa khitha>b atau orang yang diperintah oleh ayat itu dimungkinkan terarah kepada 4 subyek, yaitu: (1) Pemilik harta penerima warisan. (2) Pengampu atau wali dari anak yatim. (3) Ahli waris. (4) Seluruh umat Islam. ~ Al-Qa>simi> dalam tafsirnya Mah}a>sinut Ta`wi>l (1957:5/1133) menyebut 4 subyek yang dispekulasikan mendapat perintah Allah ini, yaitu: (1) Orang-orang yang sedang membagi harta warisan. (2) Orang yang sedang mengunjungi penderita sakit menjelang wafat. (3) Ahli waris yang sedang menerima harta warisan. (4) Orang yang sedang menghadapi malaikatul maut yang akan membuat wasiat. ~ Para ulama tafsir mengarahkan tafsirannya bahwa mereka yang mendapat perintah tersebut di atas hendaklah memprihatinkan kaum yang lemah, baik orang-orang miskin, orang fakir, yatim piatu dan peminta-minta. Dalam tafsiran tersebut di atas Al-Qa>simi> mencatat kesan yang sangat penting, yaitu: وَفِيْ الْايَةِ اِشَارَةٌ اِلَي اِرْشَادِ الْابَاءِ الَّذِيْنَ يَخْشَوْنَ تَرَكَ ذُرِّيَّتَهُمْ ضِعَافًا بِالتَّقْوَي فِيْ سَائِرِشُئُوْنِهِمْ حَتَّي تُحْفَظُ اَبْنَاءُهُمْ وَتُغَاثُ بِالْعِنَايَةِ مِنَ اللهِ تَعَالَي Artinya:“Dalam ayat ini terdapat isyarat kepada para ayah yang kawatir akan meninggalkan anak cucu yang lemah, hendaklah bertakwa dalam seluruh keadaan sampai terjagalah anak-anak mereka dan mendapat curahan rahmat pertolongan Allah Ta’ala” (Al-Qa>simi> 1975:5/1133). Perlu diingat bahwa yang disebut dengan takwa itu menurut Ar-Ra>ghib dalam Al-Mufrada>t (tth:568) ialah berhati-hati jangan sampai diri sakit, menderita atau berbuat dosa. Maka orang tidak hati-hati dari ketiga soal itu dia tidak takwa. Ath-Thaba`>thaba`>i> dalam tafsirnya Al-Mi>za>n (1412H:5/200) menyatakan sangat keras lagi, yaitu: مَنْ خَافَ الذًُّلَّ وَالْاِمْتِهَانِ فَلْيَشْتَغِلْ بِالْكَسْبِ Artinya: “Barangsiapa takut kepada kehinaan dan dilecehkan orang maka hendaklah dia bekerja keras” Dari berbagai macam soal yang timbul dari tema dan sari tilawah ayat di atas, maka di bawah ini dicoba dilakukan suatu analisa terhadap masalah tersebut, yaitu sebagai berikut: 1. Generasi unggulan bukan generasi yang serba lemah Para ulama tafsir lebih banyak mengaitkan Al-Quran S.4 An-Nisa>` 9-10 di atas dengan hukum waris. Misalnya : ~ Penyusun Al-Mana>r (tth:4/499) menyatakan bahwa orang yang mendapat perintah Allah tersebut disyari’atkan agar supaya mereka itu memperhatikan dan menyantuni anak yatim atau keluarga dekat serta orang-orang yang lemah yang mendatangi panitya pembagian harta warisan,. ~ Al-Qurthubi> dalam Al-Ja>mi’li Ah}ka>mil Qura>n (1967:5/52) dan juga Ibnu Katsi>r dalam Tafsi>rul Qura>nil ‘Azhi>m (1966:2/210 ), menafsirkan ayat tadi dikaitkan dengan hadis Bukha>ri>-Muslim berikut: 1213 عَنْ عَامِرِ بْنِ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ عَنْ أَبِيهِ رَضِي اللَّهم عَنْهم قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعُودُنِي عَامَ حَجَّةِ الْوَدَاعِ مِنْ وَجَعٍ اشْتَدَّ بِي فَقُلْتُ إِنِّي قَدْ بَلَغَ بِي مِنَ الْوَجَعِ وَأَنَا ذُو مَالٍ وَلَا يَرِثُنِي إِلَّا ابْنَةٌ أَفَأَتَصَدَّقُ بِثُلُثَيْ مَالِي قَالَ لَا فَقُلْتُ بِالشَّطْرِ فَقَالَ لَا ثُمَّ قَالَ الثُّلُثُ وَالثُّلُثُ كَبِيرٌ أَوْ كَثِيرٌ إِنَّكَ أَنْ تَذَرَ وَرَثَتَكَ أَغْنِيَاءَ خَيْرٌ مِنْ أَنْ تَذَرَهُمْ عَالَةً يَتَكَفَّفُونَ النَّاسَ (رواه البخاري ومسلم3076) * Artinya:“Dari ‘A>mir ibnu Sa’ad ibnu Abi> Waqqa>sh dari ayahnya dia berkata: “Rasulullah Saw. mengunjungi aku masa haji Wada>’ saat aku terserang penyakit yng berat, aku berkata: “Aku telah terserang penyakit, sedangkan aku mempunyai harta dan tidak ada yang mewarisinya kecuali hanya seorang anak perempuan. Bolehkah aku menyedekahkan hartaku dua pertiga hartaku?” Beliau menjawab: “Tidak boleh” Aku bertanya: “Apakah separuhnya?” Beliau menjawab: “Tidak! Lalu beliau bersabda lagi: “Sepertiga! Dan sepertiga itu besar atau sudah banyak. Sungguh kalian jika meninggalkan anak-anak yang kaya itu lebih utama dari pada kalian meninggalkan mereka melarat mengemis dengan merengek-rengek kepada orang banyak”(HR.Bukha>ri> no.1213,Muslim no.3076). Maksud ayat Al-Quran dan hadis di atas ini ialah bahwa setiap generasi dari orang-orang yang beriman itu harus mempersiapkan generasi berikutnya suatu generasi yang memiliki sifat-sifat berikut: (1)Militan; (2)Optimis; (3)Pemberani; (4) Berdikari; (5) Banyak karya dan jasa; Sama sekali bukan yang lemah, pesimis, menjadi pengemis yang meminta-minta dan merengek-rengek kepada orang banyak. Berikut beberapa ayat Al-Quran yang mengacu kita ke sana, yaitu: 1) Bermental baja dan tabah dalam derita-kesulitan serta militan dalam perjuangan: وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ أُولَئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ(177) Artinya:“…dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa”(S.2 Al-Baqarah 177) 2) Optimis dan dinamis مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَىوَلَلْآخِرَةُ خَيْرٌ لَكَ مِنَ الْأُولَىوَلَسَوْفَ يُعْطِيكَ رَبُّكَ فَتَرْضَىأَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيمًا فَآوَىوَوَجَدَكَ ضَالًّا فَهَدَى(7)وَوَجَدَكَ عَائِلًا فَأَغْنَى (ألضحي 3-8) Artinya:“Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu, dan sesungguhnya akhir itu lebih baik bagimu dari permulaan. Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas. Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan”(S.93 Adh-Dhuh}a> 3-8). 3) Pemberani قَالَا رَبَّنَا إِنَّنَا نَخَافُ أَنْ يَفْرُطَ عَلَيْنَا أَوْ أَنْ يَطْغَى(45)قَالَ لَا تَخَافَا إِنَّنِي مَعَكُمَا أَسْمَعُ وَأَرَى (طه 46) Artinya: “Berkatalah mereka berdua: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami khawatir bahwa ia segera menyiksa kami atau akan bertambah melampaui batas. Allah berfirman: “Janganlah kamu berdua khawatir, sesungguhnya Aku beserta kamu berdua, Aku mendengar dan melihat”.(S.20 Tha>ha> 45-46). وَلَقَدْ أَوْحَيْنَا إِلَى مُوسَى أَنْ أَسْرِ بِعِبَادِي فَاضْرِبْ لَهُمْ طَرِيقًا فِي الْبَحْرِ يَبَسًا لَا تَخَافُ دَرَكًا وَلَا تَخْشَى(طه77) Artinya:“Dan sesungguhnya telah Kami wahyukan kepada Musa: “Pergilah kamu dengan hamba-hamba-Ku (Bani Israil) di malam hari, maka buatlah untuk mereka jalan yang kering di laut itu, kamu tak usah khawatir akan tersusul dan tidak usah takut (akan tenggelam)”.(S.20 Tha>ha> 77). الْيَوْمَ يَئِسَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ دِينِكُمْ فَلَا تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِ(الماءدة 3) Artinya:“Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku”(S.5 Al-Ma>idah 3). 4) Mandiri Rasulullah Saw. bersabda: إِنَّكَ أَنْ تَذَرَ وَرَثَتَكَ أَغْنِيَاءَ خَيْرٌ مِنْ أَنْ تَذَرَهُمْ عَالَةً يَتَكَفَّفُونَ النَّاسَ (رواه البخاري ومسلم3076) * Artinya:“Sungguh kalian jika meninggalkan anak-anak yang kaya itu lebih utama dari pada kalian meninggalkan mereka melarat mengemis dengan merengek-rengek kepada orang banyak”(HR.Bukha>ri> no.1213,Muslim no.3076). Al-Quran sangat mencela golongan yang membangga-banggakan jumlah atau kuantitas yang isinya hanya dipenuhi oleh orang-orang yang menderita sifat-sifat berikut: (1) Tidak suka menggunakan akal; (2) Bodoh; (3) Tidak beriman; (4) Tidak mau bersyukur kepada Allah. Yu>suf Al-Qardha>wi> dalam kitabnya Fi Fiqhil-Aulawiyya>t atau Fiqh Prioritas, Terjemah Bahruddin (1996:41) mencatat ciri-ciri seseorang atau kelompok unggulan yang disarikan dari Al-Quran dan hadis yaitu sebagai berikut: Kita sekalian harus mendahulukan kualitas dan mutu sekaligus menomorduakan kuantitas atau jumlah. Pribadi atau kelompok unggulan ialah kelompok yang memiliki cici-ciri berikuit: (1) Berpikir logis; (2) Ahli; (3) Beriman; (4) Bersyukur. Sebaliknya Allah sangat mencela kelompok jumlah yang besar, tetapi didominasi orang-orang yang tidak mau menggunakan akal, bodoh dan tidak beriman serta tidak mau bersyukur. Lebih rincinya seperti di bawah ini: 1) Tidak suka menggunakan akal: “Segala puji bagi Allah”, tetapi kebanyakan mereka tidak memahami (nya)”(S.29 Al-’Ankabu>t 63). 2) Tidak berilmu “ …tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”.(S.7 Al-A’ra>f 187) 3) Tidak beriman “ …tetapi kebanyakan manusia tidak beriman”(S.11 Hu>d 17) 4) Tidak mau bersyukur “ …tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur”(S.2 Al-Baqarah 243) Jumlah orang yang banyak tetapi tidak benar, maka golongan ini akan menyesatkan orang banyak kejalan yang mencelakakan: وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ(الانعام 116) Artinya:“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)”(S.6 Al-An’a>m 116). Allah memuji kelompok orang-orang yang beriman, kaya jasa dan karya, suka beribadah dan bertaubat serta penuh syukur. Tetapi sulit sekali mencari hamba Allah yang demikian ini, sangat langka karena terlalu sedikit. وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ الْخُلَطَاءِ لَيَبْغِي بَعْضُهُمْ عَلَى بَعْضٍ إِلَّا الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَقَلِيلٌ مَا هُمْ وَظَنَّ دَاوُدُ أَنَّمَا فَتَنَّاهُ فَاسْتَغْفَرَ رَبَّهُ وَخَرَّ رَاكِعًا وَأَنَابَ(ص 24) Artinya:“Dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu sebahagian mereka berbuat zalim kepada sebahagian yang lain, kecuali orang orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh; dan amat sedikitlah mereka ini”. Dan Daud mengetahui bahwa Kami mengujinya; maka ia meminta ampun kepada Tuhannya lalu menyungkur sujud dan bertaubat”(S.38 Sha>d 24). اعْمَلُوا ءَالَ دَاوُدَ شُكْرًا وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ(سباء 13) Artinya:“Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang berterima kasih”(S.34 Saba` 13) وَاذْكُرُوا إِذْ أَنْتُمْ قَلِيلٌ مُسْتَضْعَفُونَ فِي الْأَرْضِ تَخَافُونَ أَنْ يَتَخَطَّفَكُمُ النَّاسُ فَآوَاكُمْ وَأَيَّدَكُمْ بِنَصْرِهِ وَرَزَقَكُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ(الانفال 26) Artinya:“Dan ingatlah (hai para muhajirin) ketika kamu masih berjumlah sedikit, lagi tertindas di muka bumi (Mekah), kamu takut orang-orang (Mekah) akan menculik kamu, maka Allah memberi kamu tempat menetap (Madinah) dan dijadikan-Nya kamu kuat dengan pertolongan-Nya dan diberi-Nya kamu rezki dari yang baik-baik agar kamu bersyukur”(S8 Al-Anfa>l 26) فَلَوْلَا كَانَ مِنَ الْقُرُونِ مِنْ قَبْلِكُمْ أُولُو بَقِيَّةٍ يَنْهَوْنَ عَنِ الْفَسَادِ فِي الْأَرْضِ إِلَّا قَلِيلًا مِمَّنْ أَنْجَيْنَا مِنْهُمْ وَاتَّبَعَ الَّذِينَ ظَلَمُوا مَا أُتْرِفُوا فِيهِ وَكَانُوا مُجْرِمِينَ (هود 116) Artinya:“Maka mengapa tidak ada dari umat-umat yang sebelum kamu orang-orang yang mempunyai keutamaan yang melarang daripada (mengerjakan) kerusakan di muka bumi, kecuali sebahagian kecil di antara orang-orang yang telah Kami selamatkan di antara mereka, dan orang-orang yang zalim hanya mementingkan kenikmatan yang mewah yang ada pada mereka, dan mereka adalah orang-orang yang berdosa”(S.11 Hu>d 116). Jumlah yang sedikit tetapi penuh iman dan militan akan mampu mengalahkan jumlah yang banyak yang tidak beriman bahkan kafir قَالَ الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُمْ مُلَاقُو اللَّهِ كَمْ مِنْ فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللَّهِ وَاللَّهُ مَعَ الصَّابِرِينَ( البقرة 249) Artinya: “Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata: “Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar”(S.2 Al-Baqarah 249) لَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ فِي مَوَاطِنَ كَثِيرَةٍ وَيَوْمَ حُنَيْنٍ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنْكُمْ شَيْئًا وَضَاقَتْ عَلَيْكُمُ الْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُمْ مُدْبِرِينَ (التوبة 25) Artinya:“Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para mu’minin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan H}unain, yaitu di waktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlahmu, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfa`at kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari ke belakang dengan bercerai-berai”(S.9 At-Taubat 25). يَاأَيُّهَا النَّبِيُّ حَرِّضِ الْمُؤْمِنِينَ عَلَى الْقِتَالِ إِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ عِشْرُونَ صَابِرُونَ يَغْلِبُوا مِائَتَيْنِ وَإِنْ يَكُن مِنْكُمْ مِائَةٌ يَغْلِبُوا أَلْفًا مِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَفْقَهُونَ(65)الْآنَ خَفَّفَ اللَّهُ عَنْكُمْ وَعَلِمَ أَنَّ فِيكُمْ ضَعْفًا فَإِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ مِائَةٌ صَابِرَةٌ يَغْلِبُوا مِائَتَيْنِ وَإِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ أَلْفٌ يَغْلِبُوا أَلْفَيْنِ بِإِذْنِ اللَّهِ وَاللَّهُ مَعَ الصَّابِرِينَ (الانفال 66) Artinya:“Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mu’min itu untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar di antara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang (yang sabar) di antaramu, mereka dapat mengalahkan seribu daripada orang-orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti. Sekarang Allah telah meringankan kepadamu dan Dia telah mengetahui bahwa padamu ada kelemahan. Maka jika ada di antaramu seratus orang yang sabar, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang; dan jika di antaramu ada seribu orang (yang sabar), niscaya mereka dapat mengalahkan dua ribu orang dengan seizin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar”(S.8 Al-Anfa>l 65-66). Jumlah yang banyak tetapi tidak bermutu yang tidak memiliki sifat-sifat yang ditentukan oleh Allah dan Rasul Saw. maka ibaratnya seperti buih yang tidak ada isinya alias kosong mlompong. 3745عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُوشِكُ الْأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الْأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا فَقَالَ قَائِلٌ وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ قَالَ بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزَعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمُ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِي قُلُوبِكُمُ الْوَهْنَ فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْوَهْنُ قَالَ حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيةُ الْمَوْتِ (رواه ابودود واحمد 21363)* Artinya:“Dari Tsauban dia berkata bahwa Rasulullah Saw. bersabda: “Banyak pihak akan menyerang kalian seperti orang yang kelaparan memperebutkan makanan. Lalu seseorang bertanya: “Apakah karena kami saat itu hanya sedikit?” Beliau bersabda: “(Tidak) Bahkan kalian waktu itu banyak, akan tetapi kalian persis seperti buih, buah dari air banjir yang mengalir. Dan benar-benar Allah akan menghilangkan rasa takutnya dari hati musuh-musuh kalian dan Allah akan menanamkan rasa WAHNUN dalam hati kalian” Seseorang bertanya: “Ya Rasulullah apakah yang disebut dengan Al-Wahnu itu?” Beliau menjawab: “Al-Wahnu ialah cinta dunia dan takut mati” (HR.Abu> Da>wu>d No.3745,Ah}}}}}}}}}mad no.21363) 4816 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ (رواه مسلم وابن ماجه4158)* Artinya:“Dari Abu> Hurairah dia berkata bahwa Rasulullah Saw. bersabda: “Orang beriman yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah dari pada orang beriman yang lemah”(HR. Muslim no.4816 dan Ibnu Ma>jah no.4158) 4651 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ (رواه مسلم)* Artinya: “Dari Abu> Hurairah dia berkata bahwa Rasulullah Saw. bersabda: “Sungguh Allah tidak melihat kepada gambarmu dan hartamu, tetapi Allah akan melihat kepada hati dan amal kamu sekalian”(HR. Muslim no.4651). ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ (النحل 125) Artinya:“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”(S.16 An-Nah}l 125). وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ (فصلت 34) Artinya: “Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia”(S.41 Fushshilat34) Alangkah indahnya jika kita dapat melahirkan generasi unggulan persis ciri-cirinya seperti yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul Saw. itu. 2. Santunan kepada anak yatim Allah telah memperingatkan kaum muslimin agar supaya memperhatikan betul-betul terhadap anak yatim. Al-Farmawi> dalam kitabnya Al-Bida>yah fit Tafsi>ril Maudhu>‘i> (1977:81) menyusun ayat-ayat Al-Quran tentang bagaimana menyantuni anak yatim, yaitu sebagai berikut: Al-Quran telah memberikan perhatian kepada nasib anak yatim ini sejak awal-awal turunnya Al-Quran sampai menjelang akhir turun selengkapnya. Ayat-ayat tersebut dapat dibagi ke dalam Makkiyyah yaitu ayat-ayat yang turunnya dalam periode Makkah, peringatan masalah anak yatim dalam periode ini tidak kurang dari 5 buah ayat. Dan Madaniyyah, yaitu ayat-ayat yang turunnya dalam masa Madinah, peringatan atas masalah itu paling sedikit ada 15 buah ayat. Ditinjau dari maksudnya maka ayat-ayat itu dapat dikategorisasikan kepada dua arah, yaitu: (1) Perlindungan atas hak milik anak yatim.(2) Santunan untuk pengembangan mental dan pendidikan mereka. ~Ad-1 Kita tidak boleh mencampuri urusan harta anak yatim kecuali dengan niat yang baik. Artinya kita harus menjaga keselamatan harta anak yatim itu sampai mereka tumbuh menjadi dewasa, sehingga mereka mampu mengurus dan mengembangkan hartanya sendiri. Allah berfirman dalam beberapa tempat, salah satunya ialah ayat berikut : وَلَا تَقْرَبُوا مَالَ الْيَتِيمِ إِلَّا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ حَتَّى يَبْلُغَ أَشُدَّهُ وَأَوْفُوا بِالْعَهْدِ إِنَّ الْعَهْدَ كَانَ مَسْئُولًا (الاسراء 34) Artinya:“Dan janganlah kamu mendekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih baik (bermanfa`at) sampai ia dewasa dan penuhilah janji; sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungan jawabnya”(S.17 Al-Isra>` 34). ~Ad-2 Santunan dari sisi kepribadian dan pengembangan mental-pendidikannya ialah bahwa kita harus memberikan tempat kepada anak-anak yatim itu pada tempat yang terhormat (S.89 Al-Fajri 17), tidak boleh kia membentak-bentak atau berlaku kasar kepada mereka (S.93 Adh-Dhuh}a> 9), kita harus tenggang rasa penuh sayang dan kita bayangkan bagaimana jika seandainya kita sendiri menjadi anak yatim (S.93 Adh-Dhuh}a> 6). Rasulullah Saw. sangat mendambakan kaum muslimin suka mengasuh anak yatim, beliau bersabda dalam sebuah hadis sebagai berikut: 5296 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَافِلُ الْيَتِيمِ لَهُ أَوْ لِغَيْرِهِ أَنَا وَهُوَ كَهَاتَيْنِ فِي الْجَنَّةِ وَأَشَارَ مَالِكٌ بِالسَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى (رواه مسلم )* Artinya:“Dari Abu> Hurairah dia bekata bahwa Rasulullah Saw. bersabda: “Pengasuh anak yatim, baik dari keluarganya atau bukan, maka aku dan dia itu persis seperti dua ini didalam surga, dan beliau menunjuk dua jari-jari telunjuk dengan jari tengah”(HR.Muslim no.5296). Ayat dan hadis tersebut di atas ini semua turun dalam periode Makkah. Mereka berhak mendapat pelatihan dan pendidikan untuk suatu keahlian atau professi dalam suatu disiplin ilmu ( S.4 An-Nisa>`6) dan memberikan didikan akhlak yang baik(S.2 Al-Baqarah 83; S.4 An-Nisa>` 36). Ayat-ayat ini turun di dalam periode Madinah. Pada ayat-ayat yang turun dalam periode Madinah juga masih menekankan lagi agar kita semua berhati-hati betul menjaga harta anak yatim ini, kita tidak boleh memakan atau mencampur adukkan, maupun menukar yang baik dari harta mereka diganti yang jelek dari harta kita atau harta orang lain (S.4 An-Nisa>` 2; 6; 10). Dan Allah Maha mengetahui siapa-siapa yang mempunyai maksud-maksud yang tidak baik. Pada waktunya yang tepat harta mereka wajib diserahkan kepada mereka sepenuhnya. Allah berfirman sebagai beikut: وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْيَتَامَى قُلْ إِصْلَاحٌ لَهُمْ خَيْرٌ وَإِنْ تُخَالِطُوهُمْ فَإِخْوَانُكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ الْمُفْسِدَ مِنَ الْمُصْلِحِ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَأَعْنَتَكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ (البقرة 220) Artinya: ”Dan mereka bertanya kepadamu tentang anak yatim, katakanlah: “Mengurus urusan mereka secara patut adalah baik, dan jika kamu menggauli mereka, maka mereka adalah saudaramu dan Allah mengetahui siapa yang membuat kerusakan dari yang mengadakan perbaikan. Dan jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia dapat mendatangkan kesulitan kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”(S.2 Al-Baqarah 220) Anak-anak yatim itu memiliki hak untuk memperoleh santunan atau bantuan dalam bentuk materi, seperti harta infaq (S.76 Al-Insa>n 8), sedekah (S.2Al-Baqarah 215; S.4 An-Nisa> 8 dan 36), harta Ghani>mah dan Fai`(S.8 Al-Anfa>l 41 dan S.59 Al-H}asyr 7) demi untuk peningkatan sumber daya angkatan baru terutama untuk mempersiapkan generasi unggulan yang salah satunya melalui program santunan atas anak-anak yatim ini. Mengasuh anak yatim dengan cara program anak asuh dan dikeluargakan ke dalam keluarga yang baik-baik merupakan suatu jalan yang sangat terpuji. Al-Mana>r (tth:2/343) menyatakan: اَنْ تُعَامِلُوْهُمْ مُعَامَلَةً لِاِخْوَةٍ فِيْ ذلِكَ فَيَكُوْنَ الْيَتِيْمِ فِيْ الْبَيْتِ كَالْاَخِ الصَّغِيْرِ Artinya:“Hendaklah kamu mengasuh mereka seperti menyantuni saudara sendiri dalam hal itu, sehingga anak yatim tersebut persis seperti adik sendiri dalam rumah itu”(Al-Mana>r tth:2/343). Dengan sistem dikeluargakan maka hubungan keluarga antara keluarga pengasuh dengan anak-anak yatim sangat mesra mirip dengan perlakuan seseorang dengan anak angkat, segalanya serba bersama. Semua difaham dari Al-Quran S.2 Al-Baqarah 220. Anak asuh sistem asrama walaupun mempnyai nilai positif dalam beberapa segi, namun ada kekurangannya, salah satunya ialah kemesraan hubungan kekeluargaan seperti kemesraan yang diperoleh dalam sistem asuh anak yatim yang dikeluargaan ———(25)———- HAK MEWARIS ANTARA LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN I.S.4 Ani-Nisa>` 7 لِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِمَّا تَرَكَ الْوَالِدَانِ وَالْأَقْرَبُونَ وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِمَّا تَرَكَ الْوَالِدَانِ وَالْأَقْرَبُونَ مِمَّا قَلَّ مِنْهُ أَوْ كَثُرَ نَصِيبًا مَفْرُوضًا(النساء7) II. Artinya “Bagi laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu-bapa dan kerabatnya, dan bagi wanita ada hak bagian (pula) dari harta peninggalan ibu-bapa dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut bahagian yang telah ditetapkan” (s.4 An-Nisa>` 7).. III. Tafsir dan analisa A.Pengertia kata-kata = لِلرِّجَالِ Bagi laki-laki, maksudnya ahli waris laki-laki = نَصِيبٌ Bagian, maksudnya hak mewaris = مِمَّا تَرَكَ Apa-apa yang dia tinggalkan, maksudnya ialah harta warisan = الْوَالِدَان Dua orang ayah, maksudnya ibu dan bapak = وَالْأَقْرَبُونَ Kerabat dekat, maksudnya ialah pewaris = لِلنِّسَاء Bagi perempuan, maksudnya ialah anggota ahli waris perempuan = مَفْرُوضًا Tertentu, ditetapkan, yaitu oleh Allah B. Latar belakang turunnya ayat Ketika Aus ibnu Tsa>bit wafat, dia meninggalkan dua anak putri dan satu anak laki-laki yang belum dewasa. Menurut Hukum Adat Arab Jahiliyah kaum wanita dan anak-anak tidak berhak atas harta warisan. Maka datanglah Kha>lid dan ‘Arfathah dua anak paman almarhum mengambil semua harta warisan almarhum. Oleh karena itulah maka isteri Aus menghadap Rasulullah Saw. mempersoalkan hak anak-anak almarhum atas harta warisan suaminya. Maka turunlah Al-Quran S.4 An-Nisa>` 7 bahwa kaum wanita dan pria itu sama-sama mempunyai hak atas harta warisan orang tuanya maupun kerabat dekatnya”(HR. Abu> Syaikh, Ad-Durrul Mantsu>r 1983:2/438). C. Tema dan sari tilawah Dari apa yang terurai dari ayat, pengertian kata-kata dan latar belakang turunnya ayat di atas kiranya dapat diambil tema dan sari tilawah ayat 7 surat An-Nisa>` itu sebagai berikut: 1. Allah telah menetapkan Hukum Waris bagi para hamba 2. Kaum wanita dan pria sama-sama mempunyai hak mewaris harta warian 3. Jumlah bagiannya bisa banyak bisa sedikit menurut keadaan komposisi ahli waris mereka 4. Perbandingan dan jumlah bagian itu ditetapkan oleh Allah. D. Masalah dan analisa Dari tema dan sari tilawah ayat terurai di atas terdapat beberapa masalah dan yang perlu segera mendapat pemecahan ialah pertanyaan berikut: 1. Bagaimanakah sebenarnya kedudukan wanita di dalam ajaran Islam itu? 2.Apakah seorang isteri mempunyai hak untuk memisahkan harta miliknya dari harta bersama dalam perkawinan? 3. Bagaimanakah cara membaginya, jika terjadi perpisahan perkawinan pisah hidup atau pisah mati, jika terjadi paduan harta hasil karya bersama suami isteri dalam perkawinan? 4.Perhitungan apa saja yang harus dilakukan sebelum pelaksanaan pewarisan? E. Tinjauan dan pemikian 1.Kedudukan wanita dalam ajaran Islam Masalah wanita telah menjadi pembahasan para ahli pikir jamanYunani Romawi, Persi, para tokoh Yahudi, Nasrani, Arab bahkan sampai sekarang. Masalah yang dibicarakan terutama mengenai asal-usul kejadian wanita sehubungan dengan kedudukannya, kemudian masalah hak dan kewajiban kaum wanita, yaitu: a) Di jaman Romawi orang menilai kaum wanita itu terlalu rendah persis seperti kedudukan seorang budak sampai dibenarkan sang suami membunuh isterinya. b) Di Jaman Persi lama nasib kaum wanita tidak berbeda dari keadaan pada bangsa Romawi tersebut di atas. c) Dalam agama Yahudi dan Nasrani kaum wanita diyakini sebagai sumber bencana dan kejelekan didasarkan atas kepercayaan kepada Kitab Perjanjian Lama bahwa Siti Hawa itulah yang melanggar larangan Tuhan, yaitu memakan buah Kuldi lalu mengajak Adam memakan buah itu. Maka kaum wanita itu dipandang seperti budak bagi laki-laki. d) Adat masyarakat Arab Jahiliyah memandang wanita itu hampir mirip seperti bukan manusia bahkan seperti harta, diantaranya ialah:1) Kaum wanita tidak mendapat harta warisan; 2) Kadangkala wanita dapat menjadi harta warisan; 3)Laki-laki sebagai kepala rumah tangga dapat menyerahkan isteri dan anak kepada musuh sebagai sandera politik; 4) Bayi perempuan dikubur hidup-hidup untuk menutup rasa malu mereka, demikian seterusnya hal-hal semacam ini. Lebih mendalam lagi dapat diterangkan bahwa Kitab Perjanjian Lama merupakan Kitab Suci kaum Yahudi dan Nasrani, dalam masalah kedudukan wanita maka Kitab Kejadian pasal 3 ayat 1 dst. telah mnimbulkan suatu kepercayaan agama yang sangat rawan. Di sana dipercaya bahwa oknum yang menggoda Adam, yang menurut umat Islam namanya Iblis, maka dalam Kitab Kejadian 3 ayat 1-14 bahwa yang menggoda Adam untuk memakan buah Kuldi itu ialah ular. Dalam ayat lain tercatat bahwa Iblis itu masuk ke tempat Adam dan Hawa dengan cara bersembunyi di dalam mulut ular. Dan yang digoda ialah Siti Hawa, setelah dia tergoda maka Hawa meminta Adam suka memakan buah Kuldi tadi yang akhirnya keduanya mendapat hukuman dari Allah. Dalam Al-Quran S.20 Tha>ha> 120 diterangkan bahwa yang digoda oleh Iblis ialah Adam bukan Siti Hawa dan S.7 Al-A’ra>f 23 menjelaskan bahwa Adam dan Hawa setelah mendapat hukuman akibat memakan buah Kuldi itu kedua-duanya segera bertobat mohon ampun kepada Allah. Kemudian S.2 Al-Baqarah 37 menyatakan bahwa do’a Adam dan Hawa diterima oleh Allah, sehingga mereka berdua sudah bersih dari segala dosa dan tidak ada dosa yang diwariskan kepada anak cucu yaitu seluruh umat manusia. Kemudian berdasarkan S.20 Tha>ha> 122 Allah telah memilih Adam untuk menjadi Nabi, sehingga sebagai nabi beliau itu ma’sum artinya suci dari dosa sebelum wafatnya. Oleh karena itu tidak ada sedikitpun dosa tidak ada noda yang diwariskan kepada anak cucu. Senada dengan hal ini Allah menegaskan dalam S.6 Al-An’a>m 164 dan 4 buah ayat lagi bahwa dosa itu tidak dapat diwariskan kepada orang lain dan dosa seseorang itu tidak mungkin dipikul oleh orang lain. Oleh karena itu seluruh bayi dan seluruh kaum wanita dalam ajaran Islam tidak mungkin ikut memikul dosa Adam dan Hawa yang memang suci dari dosa, tidak ada dosa yang dibagi-bagi itu. Di bawah ini dapat diperhatikan ayat-ayat yang menegaskan kedudukan kaum wanita menurut ajaran Al-Quran atau hadis, yaitu: 1) S.4 An-Nisa>` 1 menjelaskan bahwa seluruh umat manusia itu mempunyai asal usul yang sama, baik laki-laki maupun perempuan berasal dari satu jiwa . 2) Perempuan itu saudara dari laki-laki ditegaskan oleh Rasulullah Saw. dalam hadis riwayat Turmudzi>> no.105 bersumber dari ‘A>isyah: إِنَّ النِّسَاءَ شَقَائِقُ الرِّجَالِ (وراه الترمذي) =Kaum wanita itu saudara kandung kaum pria 3) S.4 An-Nisa>`> 32 di awal judul ini menetapkan bahwa kaum perempuan itu sama dengan kaum pria sama-sama mempunyai hak mewaris dalam Hukum Waris. 4) S.16 An-Nah}l -97 menegaskan bahwa kaum perempuan akan mendapat pahala amal yang mereka kerjakan persis sama dengan hak kaum lelaki. 5) S.40 Al-Mu’min 40, S.4 An-Nisa>` 124 mencatat bahwa kaum perempuan yang beramal soleh akan masuk sorga sama seperti laki-laki yang beramal soleh. 6) S.43 Az-Zuh}ruf 68-70 menerangkan bahwa Allah menyuruh laki-laki masuk kedalam sorga dengan isteri-isterinya, artinya perempuan mempunyai hak yang sama dengan laki-laki. 7) S.66 At-Tah}ri>m 11 dan S.66 At-Tah}ri>m 12 menjelaskan bahwa ‘A`19 berisi larangan keras Allah atas kaum muslimin mengangap wanita sebagai harta yang diperebutkan sebagai warisan. 9) S.81 At-Takwi>r 8-9 dan S.16 An-Nah}l 59 menjelaskan bahwa Allah akan menuntut pertanggung jawaban kepada mereka yang membunuh atau mengubur hidup-hidup anak bayi perempuan. 10) Rasulullah Saw. menetapkan bahwa seseorang wajib berbakti, menjunjung dan menghormat sang ibu tiga kali lipat dibandingkan baktinya kepada bapak. Artinya kaum wanita harus diangkat ketingkat yang sangat terhormat bahkan lebih tinggi dari kaum pria, disebut dalam hadis riwayat Bukha>ri> dan Muslim berikut: 5514 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِي اللَّهم عَنْهم قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي قَالَ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أَبُوكَ (رواه البخاري ومسلم 4621( Artinya: “Dari Abu> Hurairah dia berkata: “Seseorang datang menghadap Rasulullah Saw. dia berkata: “Wahai Rasulullah siapakah orang yang paling berhak aku layani yang paling utama?” Beliau bersabda: “Ibumu”. Laki-laki itu bertanya lagi: “Kemudian siapa?” Beliau menjawab: “ Ibumu” Dia bertanya lagi: “Setelah itu siiapa?” Beliau menjawab: “Ibmu” Dia bertanya lagi : ‘` Selanjutnya siapa?” Beliau menjawab: “Bapakmu”(HR. Bukha>ri> no.5514, Muslim No.4621). RENUNGAN DAN PEMIKIRAN Budaya baru manusia menimbulkan berbagai macam masalah, di antaranya ialah masalah gender, tuntutan persamaan hak antara wanita dengan pria dengan gerakan emansipasinya dan melengahkan soal agama dalam perkawinan berkaitan dengan Hak Asasi Manusia (HAM) versi PBB. Sementara dalam Hukum Waris, Hukum Perkawinan, Hukum Pidana Islam, wanita ditempatkan satu tingkat di bawah kedudukan kaum pria. Soal-soal ini menuntut jawaban dengan segera oleh para Pakar Ilmu Keislaman. DR.Tsurayya dalam makalahnya 8\-7\-2001, mencatat bahwa dalam bidang ibadah Mah}dhah&Ta’abbudi> seluruh ulama sepakat tidak boleh ada perubahan hukum sama sekali, tidak boleh akal ikut berperan mengatur mengatur di sana. Namun dalam bidang mu’amalat, khususnya masalah yang tidak diketemukan nash yang jelas dan tegas yang dapat menjawab soal yang timbul, maka di sana terdapat beberapa corak pemikiran, melalui metode kajian hermeneutik dengan 3 unsur; 1) Teks; 2) Pribadi penafsir; 3) Realitas hidup yang sedang dihadapi, yaitu sebagai berikut: Ada tiga tipe penafsiran, yaitu: (1) Tipologi konservatif atau tradisional, yaitu menafsirkan nash secara harfiyah, menjauhi peranan akal didalamnya dan mengikuti metode pemikiran Baya>ni>. Dalam Ilmu Tafsir ialah metode Tafsi>r Bil -Ma`tsu>r (2) Tipologi transisi, yaitu yang membagi nash kepada dua bagian: nash yang harus ditafsirkan secara harfiyah dan nash yang perlu di lakukan ta’wil berdasarkan atas penalaran, mengikuti metode pemikiran paduan Bayani dan Burha>ni> (3) Tipologi liberal-radikal, yaitu yang lebih mengandalkan kepada penalaran akal, yang hanya melihat pesan moral dari Maqa>shidusy Syari>‘ah. Aliran ini mengikuti metode pemikiran Burha>ni> . Mereka meyakini bahwa Al-Quran itu kitab petunjuk, bersifat fleksibel, elastis, dinamis, bisa diterapkan kapan saja, di manapun juga, sesuai dengan jaman dan kebutuhan manusia. Nurcholis Madjid dan Munawir Sadzali kiranya cenderung ke sana. Mereka ini merujuk dan mengacu kepada fiqh Umar yang pernah menghapus hukum potong tangan atas pencuri onta, demikian juga membagi seperlima ghanimah-jarahan perang kepada penduduk Syam, Iraq dan Persia tidak sesuai dengan penerapan hukum jaman Abu> Bakar dan jaman Rasul Saw. Tipologi yang liberal-radikal ini terbagi ke dalam 3 corak pemikiran, yaitu: i- Liberal Syari’ah, mereka ini mengambil makna yang tersirat bukan yang tersurat didasarkan atas asas kondisional, transformatif dan longgar, mengarah kepada asas keadilan, persamaan hak, egaliterian, demokratisasi, penghormatan kepada hak asasi manusia (HAM). Moh.Arkoun, Fazl al-Rahma>n, Ali Abdurra>ziq cenderung kepada aliran ini. ii- Silence Syari’ah, tipe ini berpendapat bahwa jika di dalam nash tidak diketemukan jawabannya maka mereka langsung mengambil dari manapun juga bahkan dari negara komunis sekalipun asal tidak bertentangan dengan syari’at Islam. Tipe ini merujuk kepada qa’idah Ushul: اَلْاَصْلُ فِي الْاَشْيَاءِ الْاِبَاحَةُ Artinya: “Pada dasarnya segala sesuatu itu dibolehkan, kecuali yang dilarang. Musthafa Kamal Attaturk dari aliran ini melakukan pembaharuan hukum yang memberikan kepada kaum perempuan hak yang sama dengan laki-laki dalam hukum perkawinan, kewarisan dan larangan laki-laki berpoligami. iii. Interpreted Syari’ah, suatu aliran yang berusaha menafsirkan nash secara filosofis dan memadukan makna yang tersurat-eksplisit dengan yang tersirat-implisit, sehingga nash dapat diterapkan di setiap jaman yang berubah-ubah. Munawir Sadzali memberi kemungkinan hak mewaris perempuan dua kali bagian laki-laki, sebab yang laki-laki sudah disekolahkan sampai tingkat yang sangat tinggi, sedangkan yang perempuan tidak demikian. Dispekulasikan bahwa untuk menghadapi jaman globalisasi, modernisasi, mendunia tanpa batas ini diusulkan kepada ahli pikir Muslim untuk menganut tipologi pemikiran Liberal-Radikal, melalui paduan nalar Burha>ni> dengan kontrol ketat oleh nalar ‘Irfa>ni> yang intuitip sufistis. Dari usulan dan rekomendasi ini diharapkan tidak terjadi marginalisasi ajaran Islam dalam perjalanan sejarah dunia jaman yang tanpa batas ini, mencakup kedudukan wanita dalam ajaran Islam yang dapat diterima oleh seluruh strata masyarakat dunia internasional. 2. Hak isteri untuk pemisahan harta dari harta perkawinan Kaum wanita atau isteri itu menurut Al-Quran mempunyai hak untuk memiliki harta kekayaan sendiri, dasarnya ialah sebagai berikut: 1) Al-Quran S.4 An-Nisa>` 4 melalui riwayat Sababun Nuzu>l-nya riwayat Ibnu Abi> H}a>tim dari Abu> Sha>lih} seperti yang dicatat oleh As-Suyu>thi> dalam Ad-Durrul Mantsu>r (1963:2/431) bahwa di jaman Jahiliyah wali pengantin perempuan mengambil dan menguasai maskawin pemberian pengantin laki-laki, maka turunlah Al-Quran S.4 An-Nisa>` 4 yang melarang para wali mengambil dan menguasai maskawin perkawinan pemberian suami kepada isrteri, tetapi maskawin tersebut harus diserahkan kepada pengantin perempuan(HR. Ibnu Jari>r dan Ibnu Abi> H}a>tim dari Abu> Sha>lih}). 2). Sabab Nuzu>l S.4 An-Nisa>` 7 sebagaimana tercatat dalam riwayat As-Suyu>thi> di muka ialah bahwa di dalam Hukum Adat Arab Jahiliyah, maka kaum wanita tidak mempunyai hak atas harta peninggalan orang tuanya atau pewaris lainnya. Maka turunlah Al-Quran S. 4 An-Nisa>`7 bahwa kaum wanita itu juga mempunyai hak untuk menerima harta warisan tidak ada bedanya dengan kaum pria. Al-Wa>h}idi> dalam Asbabun Nuzu>l (1984:137) meriwayatkan bahwa anak yang ditinggal mati oleh Aus ibnu Tsa>bit itu 3 orang perempuan semua tidak mendapat warisan menurut Hukum Adat Arab Jahiliyah. Maskawin pemberian suami ini boleh dimakan bersama dengan suami, tetapi harus didasarkan atas ksenangan hati dan kerelaan sang istei. Ketentuan ini dapat diperluas pemahamannya bahwa isteri itu mempunyai hak sepenuhnya atas harta miliknya. Lebih dari itu maka isteri mempnyai hak untuk memisahkan hak miliknya dari harta perkawinan. 3) S.4 An-Nisa>` 20-21 melarang keras suami mengambil harta milik isteri yang telah diberikan kepadanya, waktu terjadi perceraian. 4) Al-Quran S.4 An-Nisa>` 32 menetapkan bahwa seorang perempuan mempunyai hak atas hasil dari jerih payah karya-jasanya sendiri. Dan perlu diperhatikan bahwa masing-masing suami isteri itu memiliki hak yang harus dipenuhi oleh fihak belahan hatinya, jadi isteri mempunyai hak yang harus dipenuhi oleh suamiya dalam hidup perkawianan suamipun mempunyai hak yang harus dipenuhi oleh isteri. Tetapi berhubung dalam masalah hak isteri atas pemilikan harta terutama dalam hidup perkawinan ini kabur hampir hilang, maka perlu adanya kepastian hukum untuk memantapkan hak isteri atas pemilikan harta itu, jika memang si isteri itu menghendakinya. Az-Zuh}aili> dalam Al-Fiqhul Isla>mi> (1989:7/59) mencatat bahwa ulama H}anafi>yah, Ma>likiyah, H}ana>bilah sepakat diabsahkannya pembuatan PERJANJIAN PEKAWINAN jika isi perjanjian itu untuk memantapkan perkawinan itu sendiri. Sebaliknya mereka sepakat pula atas batalnya suatu perjanjian yang melenyapkan tujuan perkawinan. اِنَّ الْفُقَهَاءَ اِتَّفَقُوْا عَلَي صِحَّةِ الشُّرُوْطِ الَّتِيْ تُلَائِمُ مُقْتَضَي الْعَقْدِ وَعَلَي بُطْلَانِ الشُّرُوْطِ الَّتِي تُنَافِي الْمَقْصُوْدِ اَوْ تخُاَلِفُ اَحْكَامِ الشَّرِيْعَةِ (الزهيلي 1989: 7\59) Artinya: “Para ulama fiqh sepakat mengesahkan syarat-syarat yang sesuai dengan maksud tujuan ikatan perkawina, mereka sekaligus menganggap batalnya syarat-syarat yang melenyapkan maksud perkawinan atau bertentangan dengan syarai’at Islam (Az-Zuh}aili> l989:7/59). Al-Qurthubi> dalam tafsirnya (1967:5/405) menjelaskan bahwa perjanjian perkawinan antara suami isteri yang didasarkan atas Al-Quran S.4 An-Nisa>` 128 di sana itu cukup luas mencakup soal tawar menawar yang menyangkut hak suami isteri. Batas mana yang dibolehkan dan mana yang tidak dibolehkan telah ditegaskan oleh Rasulullah Saw. dalam sebuah hadis, yaitu: 1272أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الصُّلْحُ جَائِزٌ بَيْنَ الْمُسْلِمِينَ إِلَّا صُلْحًا حَرَّمَ حَلَالًا أَوْ أَحَلَّ حَرَامًا وَالْمُسْلِمُونَ عَلَى شُرُوطِهِمْ إِلَّا شَرْطًا حَرَّمَ حَلَالًا أَوْ أَحَلَّ حَرَامًا (رواه الترمذي-الدرالمنثورج2ص712)* Artinya: “Sungguh Rasulullah Saw. bersabda: “Perdamaian itu dibolehkan diantara kaum muslimin kecuali perjanjian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. Orang Islam itu wajib menepati syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram”(HR.Turmudzi>>> no.1272-Ad-Durrul Mantsu>r 1983:2/712). 2703 عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ دَخَلَ أَبُو بَكْرٍ يَسْتَأْذِنُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَوَجَدَ النَّاسَ جُلُوسًا بِبَابِهِ لَمْ يُؤْذَنْ لِأَحَدٍ مِنْهُمْ قَالَ فَأُذِنَ لِأَبِي بَكْرٍ فَدَخَلَ ثُمَّ أَقْبَلَ عُمَرُ فَاسْتَأْذَنَ فَأُذِنَ لَهُ فَوَجَدَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَالِسًا حَوْلَهُ نِسَاؤُهُ وَاجِمًا سَاكِتًا قَالَ فَقَالَ لَأَقُولَنَّ شَيْئًا أُضْحِكُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَوْ رَأَيْتَ بِنْتَ خَارِجَةَ سَأَلَتْنِي النَّفَقَةَ فَقُمْتُ إِلَيْهَا فَوَجَأْتُ عُنُقَهَا فَضَحِكَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ هُنَّ حَوْلِي كَمَا تَرَى يَسْأَلْنَنِي النَّفَقَةَ فَقَامَ أَبُو بَكْرٍ إِلَى عَائِشَةَ يَجَأُ عُنُقَهَا فَقَامَ عُمَرُ إِلَى حَفْصَةَ يَجَأُ عُنُقَهَا كِلَاهُمَا يَقُولُ تَسْأَلْنَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا لَيْسَ عِنْدَهُ فَقُلْنَ وَاللَّهِ لَا نَسْأَلُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَيْئًا أَبَدًا لَيْسَ عِنْدَهُ ثُمَّ اعْتَزَلَهُنَّ شَهْرًا أَوْ تِسْعًا وَعِشْرِينَ ثُمَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِ هَذِهِ الْآيَةُ ( يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ ) حَتَّى بَلَغَ ( لِلْمُحْسِنَاتِ مِنْكُنَّ أَجْرًا عَظِيمًا ) قَالَ فَبَدَأَ بِعَائِشَةَ فَقَالَ يَا عَائِشَةُ إِنِّي أُرِيدُ أَنْ أَعْرِضَ عَلَيْكِ أَمْرًا أُحِبُّ أَنْ لَا تَعْجَلِي فِيهِ حَتَّى تَسْتَشِيرِي أَبَوَيْكِ قَالَتْ وَمَا هُوَ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَتَلَا عَلَيْهَا الْآيَةَ قَالَتْ أَفِيكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَسْتَشِيرُ أَبَوَيَّ بَلْ أَخْتَارُ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالدَّارَ الْآخِرَةَ وَأَسْأَلُكَ أَنْ لَا تُخْبِرَ امْرَأَةً مِنْ نِسَائِكَ بِالَّذِي قُلْتُ قَالَ لَا تَسْأَلُنِي امْرَأَةٌ مِنْهُنَّ إِلَّا أَخْبَرْتُهَا إِنَّ اللَّهَ لَمْ يَبْعَثْنِي مُعَنِّتًا وَلَا مُتَعَنِّتًا وَلَكِنْ بَعَثَنِي مُعَلِّمًا مُيَسِّرًا (رواه مسلم)* Artinya: “Dari Ja>bir ibnu ‘Abdilla>h dia bekata: “ Abu> Bakar minta ijin kepada RasU>lu>llah Saw., maka dia lihat di sana bnyak orang duduk di muka pintu beliau tidak diberi ijin masuk seorangpun dari mereka, namun Abu> Bakar diijinkannya lalu masuk, kemudian Umar maju minta ijin dan diijnkan, dia lihat Rasulullah Saw. duduk terdiam sedih, di kelilingi oleh isteri-isteri beliau (dia berkata): “ Umar berkata: “Demi Allah aku akan mengatakan sesuatu yang membuat Nabi Saw. tertawa, katanya: “Ya Rasul jika seandaianya anda melihat anak gadis Kharijah (isteriku) meminta belanja kepadaku pasti aku bangkit aku penggal lehernya” Jadilah maka Rasulullah Saw tertawa dan bersabda: “Mereka mengelilingi aku ini meminta nafkah kepadaku”. Lalu bangkitlah Abu> Bakar mendekati ‘A Bakar dan Umar bertanya: “Engkau meminta sesuatu kepada Rasul Saw. yang beliau tidak mempunyainya?” Mereka menjawab: “Demi Allah kami selamanya tidak meminta kepada Rasul Saw. yang tidak dipunyai beliau. “Selanjutnya beliau meninggalkan mereka satu bulan atau 29 hari. Maka turunlah Al-Quran S.33 Al-Ah}za>b 28-35. (kemudian terjadi tanya jawab) Beliau memulai dari ‘A>isyah dan beliau bersabda: “Wahai ‘A>isyah aku akan mengemukakan suatu masalah dan aku ingin janganlah kau tergesa-gesa dalam hal ini sebelum kau berunding dengan kedua orang tuamu“ ‘A>isyah bertanya “Bagaimana masalahnya ya Rasul?` Beliau lalu membacakan Al-Quran S.33 Al-Ah}za>b 28 tersebut diatas. ‘A>isyah bertanya: “Apakah dalam soal tuan aku harus berunding dengan kedua orang tuaku? Padahal aku telah memilih Allah dan Rasul-Nya serta pahala akhirat dan aku mohon beritaku ini jangan diberitakan kepada isteri-isteri tuan seorangpun jangan“ Beliau menjawab: “Jangan meminta demikian bahkan aku akan memberitahukannya, Allah tidak mengutus aku untuk kesulitan dan tidak diutus untuk memempersulit orang, tetapi Allah mengutus aku untu mengajar dan memudahkan“(HR. Muslim no.2703-Az-Zuh}aili> 1991: 21/289). Al-Qurthubi> dalam tafsirnya (1967:14/170) menyimpulkan bahwa memilih dan membuat syarat dalam TA’LIh} dan harus dilaksanakan“ 3135 عَنْ أُمِّ عُمَارَةَ الْأَنْصَارِيَّةِ أَنَّهَا أَتَتِ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ مَا أَرَى كُلَّ شَيْءٍ إِلَّا لِلرِّجَالِ وَمَا أَرَى النِّسَاءَ يُذْكَرْنَ بِشَيْءٍ فَنَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَةَ ( إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ (رواه الترمذي)* Artinya: “Dari Ummi `Umama>rah al-Ansha>riyah dia menghadap Nabi Saw. lalu berkata: “Aku tidak melihat sesuatu kecuali hanya untuk kaum pria saja dan aku melihat kaum wanita tidak disebut-sebut sama sekali“ maka turumlah Al-Quran S.33 Al-Ah}za>b 35 bahwa semua janji Allah itu berlaku sama atas pria dan wanita”(HR.Turmudzi>>> hadis no.3135- Ad-Durr l983:6/608)) Az-Zuh}aili> dalam Al-Fiqhul Isla>mi> (1989:7/414) menyatakan bahwa suami di pandang syah mewakilkan putusan cerai itu kepada orang lain bahkan kepada isterinya yaitu sebagai berikut: وَالرَّجُلُ كَمَا يَمْلِكُ الطَّلَاقَ يِنَفْسِهِ يَمْلِكُ اِنَابَةَ غَيْرِهِ فِيْهِ وَيَجُوْزُ تَفْوِيْضُ الطَّلَاقَ للزَّوْجَةِ بِلْاِجْمَاعِ Artinya: “Laki-laki sesuai dengan haknya memiliki wewenang menjatuhkan thalaq, maka diapun berhak menyerahkan putusan thalaq itu kepada isteri, ini ijmak ulama”(Az-Zuh}aili> 1989:7/414).(Catatan: Menyerahkan kepada isteri bukan mewakilkan) Kompilasi Hukum Islam pasal 45 membolehkan pembuatan PERJANJIAN PERKAWINAN, yang isinya boleh dikaitkan dengan perceraian yaitu Ta’lik talak. Dan boleh juga berkaitan dengan masalah lain mencakup soal pemisahan harta dalam perkawinan, yaitu KHI pasal 47. Dalam Taklik Talak, jika suami melanggar perjanjian tersebut maka isteri berhak memutuskan ikatan perkawinan tetapi harus melalui putusan hakim pengadilan. Dan jika tidak dibuat perjanjian perkawinan tentang pemisahan harta, maka dianggap tidak ada pemisahan harta perkawinan, jadi harta disatukan. Kitab Hukum Perdata yang berlaku atas warga Timur Asing dan non muslim Bab IX pasal 186-198 menentukan bahwa pemisahan harta isteri dari harta perkawinan harus melalui putusan hakim. 3. Pembagian harta bersama jika terjadi perpisahan perkawinan Perpisahan perkawinan dapat terjadi karena cerai mati, yaitu jika salah seorang dari suami isteri meninggal demikian maka putusnya perkawinan bisa juga terjadi karena cerai hidup. Yang menjadi pertanyaan ialah: Bagaimanakah cara membagi harta campuran suami isteri dalam perkawinan itu jika terjadi perpisahan perkawinan? a)Dalam Hukum Adat Indonesia terdapat pasal Gono-gini, yaitu harta hasil karya dan jasa suami bersama isteri selama perkawinan. Jika terjadi perpisahan perkawinan, maka harta gono gini ini dibagi dengan perbandingan yang bervariasi, sesuai dengan Hukum Adat masing-masing tempat. Pada umunya pembagian itu menggunakan perbandingan 2:1 atau sepikul se-gendhongan, yaitu untuk suami dua kali bagian isteri. Dan di beberapa daerah menggunakan perbandingan 1:1, artinya bagian suami sama dengan bagian isteri. b) Prof.DR.Moh.Koesnoe SH dalam penelitiannya di Aceh juga menjumpai adanya variasi yang berbeda-beda di sana. Sebagian menggunakan perbandingan 1:1 dengan alasan bahwa isteri di Aceh juga merupakan faktor penentu yang tidak kalah pentingnya dari pada peranan suami, sebab suami tidak mungkin dapat bekerja jika rumah tangga amburadul. c) Putusan Mahkamah Agung beberapa waktu yang lalu, lebih banyak menggunakan perbandingan 1:1 hak antara suami dengan isteri. d) Sebagian ulama dapat menerima penggunaan perbandingan 1:1 didasarkan atas pemahaman mereka terhadap Al-Quran S.4 An-Nisa>` 32, bahwa pria dan wanita itu akan menerima panenan dari hasil karya dirinya masing-masing, artinya sesuai dengan besar-kecilnya jasa dirinya, mungkin 1:1, mungkin lain, yaitu: وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ لِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبُوا وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبْنَ وَاسْأَلُوا اللَّهَ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا ( النساء 32) Artinya: “Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian daripada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu“(S.4 An-Nisa>` 32). 4. Persiapan dan perhitungan sebelum pelaksanaan pewarisan Harta warisan atau harta peninggalan dalam istilah fiqh disebut tirkah. Jumhur ulama Ma>liki>, Sya>fi’i> dan H}anbali> menyatakan bahwa tirkah itu mencakup segala apa yang ditinggalkan oleh almarhum termasuk hak-hak. Salah satu sumber hukum dalam Ilmu Ushul Fiqh ialah Al-‘Urfu atau Al-‘Al 72-75 الَّذِينَ ءَامَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ ءَاوَوْا وَنَصَرُوا أُولَئِكَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَالَّذِينَ ءَامَنُوا وَلَمْ يُهَاجِرُوا مَا لَكُمْ مِنْ وَلَايَتِهِمْ مِنْ شَيْءٍ حَتَّى يُهَاجِرُوا وَإِنِ اسْتَنْصَرُوكُمْ فِي الدِّينِ فَعَلَيْكُمُ النَّصْرُ إِلَّا عَلَى قَوْمٍ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُمْ مِيثَاقٌ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ(72)وَالَّذِينَ كَفَرُوا بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ إِلَّا تَفْعَلُوهُ تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الْأَرْضِ وَفَسَادٌ كَبِيرٌ(73)وَالَّذِينَ ءَامَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ ءَاوَوْا وَنَصَرُوا أُولَئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ(74)وَالَّذِينَ ءَامَنُوا مِنْ بَعْدُ وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا مَعَكُمْ فَأُولَئِكَ مِنْكُمْ وَأُولُو الْأَرْحَامِ بَعْضُهُمْ أَوْلَى بِبَعْضٍ فِي كِتَابِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ ( الانفال 75) II. Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itu satu sama lain lindung-melindungi. Dan (terhadap) orang-orang yang beriman, tetapi belum berhijrah, maka tidak ada kewajiban sedikitpun atasmu melindungi mereka, sebelum mereka berhijrah. (Akan tetapi) jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang telah ada perjanjian antara kamu dengan mereka. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan(72). Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar(73). Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezki (ni`mat) yang mulia(74). Dan orang-orang yang beriman sesudah itu, kemudian berhijrah dan berjihad bersamamu maka orang-orang itu termasuk golonganmu (juga). Orang-orang yang mempunyai hubungan itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya (daripada yang kerabat) di dalam kitab Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu“(S.8 Al-Anfa>l 72-75) III. Tafsir dan analisa A. Pengertian kata-kata = هَاجَرُوا Mereka telah berhijrah, maksudnya bahwa orang-orang Makkah yang telah masuk Islam hijrah ke Madinah, selanjutnya mereka ini dinamai kaum Muhajirin = جَاهَدُوا Mereka telah berjuang, maksudnya mereka telah berusaha keras dan berpayah-payah mempertahankan agama Islam bersama Rasul Saw. = ءَاوَوْاMereka telah melindungi, maksudnya bahwa orang-orang Madinah yang bergama Islam telah menerima dan menampung serta melindungi kaum Muhajirin dan mereka sendiri disebut kaum Anshar أَوْلِيَاءُ = Lafal ( (أَوْلِيَاءُini jamak dari waliyyun asal kata dari Wala>-Yali> artinya dekat baik tempatnya, nasabnya ataupun dekat apa saja. Waliyyun mempunyai beberapa macam arti yaitu: 1) Kekasih; 2) Penanggung jawab; 3) Pewaris; 4) Pelindung; 5) Penjamin; 6) Tuan; 7) Ketua. Ar-Raghib (tth:570) mencatat bahwa lafal Al-Waliyyu dan Maula> sama-sama digunakan dalam kedudukan sebagai Isim Fa>’il yang memberikan arti yang melindungi, yang mencintai dan juga sebagai Isim Maf’u>l yang berarti yang dilindungi, yang dicintai. (a) Lafal Waliyyun dalam S.2 Al-Baqarah 257 dan S.7 Al-A’raf 196 demikian juga lafal Al-Maula> dalam S.3 A
  • n 68, S.47 Muhammad 11 dan S.22 Al-Hajji 78 maknanya ialah Allah. (b) Dan lafal Waliyyun atau Auliya>>>` dalam S.62 Al-Jum`at 6, maknanya ialah hamba, sedangkan lafal Maula> dalam S.66 At-Tah}ri>m 4 artinya ialah Allah وَلَايَتِهِمْ = Daerah, kedudukan, tugas wewenang atau kekuasaan dari Al-waliyyu, hak kekuasaan seorang tuan, kedudukan kekasih dan seterusnya.. اسْتَنْصَرُوا = Minta pertolongan = نَصَرُوا Mereka telah menolong, maksudnya kaum Anshar tersebut telah menolong kaum Muhajirin مِيثَاقٌ = Suatu janji yang sangat kuat أُولُو الْأَرْحَامِ = Lafal “ U>lu> “ = mempunyai, Arh}a>m lafal jamak dari Rahimun artinya rahim ibu, maksudnya keluarga sedarah, khususnya orang-orang yang termasuk ahli waris dalam hukum waris = بَعْضُهُمْ أَوْلَى بِبَعْضٍ Sebagian lebih utama dari pada sebagiannya, maksudnya bahwa ahli waris itu mempunyai hak mewaris lebih utama mengalahkan orang yang tidak mempunyai hubungan darah sama sekali, seperti halnya kaum Anshar tidak mempunyai hubungan darah dengan kaum Muhajirin B. Latar Belakang Turunnya Ayat Ada peristiwa dekat dengan waktu turunnya ayat-ayat tersebut di atas, yaitu: 2532 عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِي اللَّهم عَنْهممَا قَالَ ( وَالَّذِينَ عَاقَدَتْ أَيْمَانُكُمْ فَآتُوهُمْ نَصِيبَهُمْ ) كَانَ الرَّجُلُ يُحَالِفُ الرَّجُلَ لَيْسَ بَيْنَهُمَا نَسَبٌ فَيَرِثُ أَحَدُهُمَا الْآخَرَ فَنَسَخَ ذَلِكَ الْأَنْفَالُ فَقَالَ تَعَالَى ( وَأُولُو الْأَرْحَامِ بَعْضُهُمْ أَوْلَى بِبَعْضٍ )(رواه ابوداود) * Artinya: “Dari Ibnu ‘Abba>s RA. dia berkata: “Berkaitan dengan Al-Quran S.4 An-Nisa>` 33 ( (وَالَّذِينَ عَاقَدَتْ أَيْمَانُكُمْ ) ada seseorang menggantikan diri atas nama orang lain yang tidak ada hubungan nasab antar keduanya kemudian saling waris-mewaris yang satu dengan yang seorang tadi, maka S.4 An-Nisa>` 33 ini dimaknsukh dengan وَأُولُو الْأَرْحَامِ بَعْضُهُمْ أَوْلَى بِبَعْضٍ ( S.8 Al-Anfa>l 72)(HR. Abu> Da>wu>d no.2532).(Bukha>ri> no.2128 meriwayatkan hal yang senada dengan redaksi sedikit berbeda dari riwayat itu) Az-Zuh}aili> dalam Al-Muni>r (1991:10/78) mengutip riwayat hadis Ibnu Jarir dari Ibnuz Zubair dan riwayat Ibnu Sa`ad dari `Urwah yang senada dengan hadis di atas yang di dalamnya menggunakan istilah “Fa nazalat“, sehingga riwayat ini dinilainya sebagai Sabab Nuzu>l dari S.8 Al-Anfa>l 75 di atas ini, sementara dalam riwayat Bukha>ri> dan Abu> Da>wu>d tidak ada istilah Fanazalat itu. Walaupun demikian dalam uraian ini penulis cenderung kepada pendapat bahwa latar belakang turunnya ayat itu sangat terkait dengan kandungan makna ayat itu. C. Tema dan sari tilawah Az-Zuh}aili> mengambil empat ayat 72-75 menjadi satu bahasan, Al-Qurthubi> (1967:8/55) dan Al-Mana>r (tth:103) juga membahas dengan cara yang sama, sedangkan tafsir Ibnu Katsi>r, Durrul Mantsu>r dan Al-Qa>simi> membahasnya satu ayat, satu ayat. Memperhatikan keempat ayat dengan hadis Sabab Nuzu>l tersebut di atas maka dapat diambil tema dan kandungan makna ayat 72-75 itu sebagai berikut: 1. Kaum muslimin dalam konfrontasinya dengan kaum kafir ada 4 kelompok,yaitu: ~Kesatu, kaum Muhajirin yaitu orang-orang yang hijrah dari Makkah ke Madinah, terutama yang hijrah sebelum perang Badar sampai jaman Perjanjian Perdamaian H}udaibiyah ~Kedua, kaum Anshar, yaitu kaum muslimin asal Madinah ~Kaum muslimin yang tidak ikut hijrah dari Makkah ke Madinah ~kaum muslimin yang hijrah dari Makkah ke Madinah sesudah Perjanjian Perdamaian H}udaibiyah 2. Keistimewaan kaum Muhajirin yang hijrah sebelum perang Badar sampai masa Perjanjian Perdamaian H}udaibiyah itu ialah bahwa mereka ini memiliki 4 sifat, yaitu: a) Iman kepada Allah, Malaikat, Kitab, Rusul, Hari Akhir; b) Berhijrah dari Makkah ke Madinah; c) Berjihad fi> Sabi>lilla>h; d.Mengunggulkan hijrah di atas segalanya yang lain. 3. Kaum Muhajirin dan kaum Anshar adalah suatu jamaah yang sangat terpuji karena memiliki sifat-sifat, iman, hijrah, jihad dan pengayom serta penolong, saling cinta mencintai, kasih mengasihi satu sama lain setulus-tulusnya. 4. Kaum Muhajirin yang hijrah periode pertama benar-benar sangat luhur nilainya dibanding mereka yang hijrah sesudah itu, sebab hijrah yang pertama itu bahaya yang harus ditanggung sungguh sangat mengerikanu. Sedangkan mereka yang hijrah sesudah Perjanjian Perdamaian Hudaibiyah atau sesudah Bai`at Ridlwan itu, merupakan suatu hijrah yang sudah ada supremasi hukum sudah ada perjanjian perjanjian dengan musuh, keadaan sudah aman, Makkah sudah ditaklukkan oleh kaum muslimin bahkan sudah ada ketentuan darti Nabi Saw. لاَهِجْرَةَ بَعْدَ الْفَتْحِ =Tidak ada hijrah sesudah penaklukan Makkah. 5. Rasa kesatuan dan persatuan antara kaum Muhajirin dan kaum Anshar seia sekata benar-benar sangat kuat sekali diikat-erat dengan tali iman dan takwa, sehingga apapun milik kepunyaannya mereka serahkan sepenuhnya untuk kebutuhan bersama, bahkan jika terjadi kematian maka siapa yang masih hidup berhak penuh atas harta warisan yang ditinggalkannya.Cara mewaris ini dihapus sejak turunnya ayat di atas, sehingga ahli waris sedarah didahulukan mewaris mengalahkan orang yang tidak mempunyai hubungan darah. D. Masalah dan analisa Dari tema dan sari tilawah ayat terurai diatas sebetulnya banyak pertanyaan yang timbul, namun yang mendesak untuk ditelusuri jawaban pemecahannya adalah sebagai berikut: 1. Amal ibadah apa saja yang derajatnya menyamai amalan hijrah ? 2.Manakah perjanjian atau sumpah setia yang dibolehkan dan yang mana dilarang? 3.Apa sebab sumpah setia persahabatan waris mewaris itu terlarang? 4. Bagaimana Allah mengatur hukum waris bagi para hamba yang beriman itu? E. Tinjauan dan pemikiran 1. Amal ibadah yang paling tinggi derajatnya Suatu amal tidak akan ada nilainya tanpa adanya iman kepada Allah dan Hari akhir dan dengan dasar inilah suatu amal akan diperbandingkan manakah yang lebih afdlol mana yang kurang. Pernah para sahabat membahas amal yang lebih afdol yang satu dibanding yang lain, sebagaimana diceritakan dalam hadis di bawah ini, yaitu: 3491 حَدَّث النُّعْمَانُ بْنُ بَشِيرٍ قَالَ كُنْتُ عِنْدَ مِنْبَرِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ رَجُلٌ مَا أُبَالِي أَنْ لَا أَعْمَلَ عَمَلًا بَعْدَ الْإِسْلَامِ إِلَّا أَنْ أُسْقِيَ الْحَاجَّ وَقَالَ آخَرُ مَا أُبَالِي أَنْ لَا أَعْمَلَ عَمَلًا بَعْدَ الْإِسْلَامِ إِلَّا أَنْ أَعْمُرَ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ وَقَالَ آخَرُ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَفْضَلُ مِمَّا قُلْتُمْ فَزَجَرَهُمْ عُمَرُ وَقَالَ لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ عِنْدَ مِنْبَرِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَوْمُ الْجُمُعَةِ وَلَكِنْ إِذَا صَلَّيْتُ الْجُمُعَةَ دَخَلْتُ فَاسْتَفْتَيْتُهُ فِيمَا اخْتَلَفْتُمْ فِيهِ فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ (أَجَعَلْتُمْ سِقَايَةَ الْحَاجِّ وَعِمَارَةَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ كَمَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ) الْآيَةَ إِلَى آخِرِهَا (رواه مسلم)* Artinya: “Nu`ma>n ibnu Basyi>r bercerita: “Aku sedang di dekat mimbar Rasulullah Saw., maka seseorang berkata: “Aku tidak ingin berbuat amal sesudah masuk Islam ini kecuali akan memberi minum jamaah haji“ Seorang yang lain berkata: “Aku tidak akan berbuat amal setelah masuk Islam ini kecuali akan memakmurkan Masjid Haram“. Yang lain berkata: “Jihad Fi> Sabi>lilla>h adalah yang paling afdol di atas apa yang kalian katakan itu“. Lalu Umar melerai mereka dan berkata:“Jangan keras-keras suaramu didekat mimbar Rasulullah Saw. saat hari Jum`at, tetapi nanti jika telah selesai aku shalat Jum`at maka aku akan meminta fatwa beliau atas masalah yang kalian perdebatkan itu“ Kemudian turun Al-Quran S.9 at-Taubat 19 bahwa beiman kepada Allah dan Hari Akhir serta Jihad Fi> Sabi>lilla>h itu tidak bisa disamai oleh amalan memberi minum jamaah haji dan memakmurkan Masjidil Haram“(HR.Muslim no.3491). Adapun kaum Muhajirin yang hijrah sebelum perang Badar yaitu tahun ke-2 Hijriyah sampai masa Perjanjian Perdamaian Hudaibiyah tahun 6 Hijriyah mereka itu adalah orang-orang yang telah merasakan duka lara dan mereka telah mengalami derita yang benar-benar sangat berat bersama Rasulullah Saw. Mereka ini mempunyai iman yang sangat mendalam kepada Allah dengan segala konskwensinya, mereka merelakan diri ikut hijrah dari Makkah ke Madinah dengan ikhlas meninggalkan apa saja yang sangat mereka cintai mungkin dalam jumlah yang sangat besar. Merekapun telah menumpahkan segala kekuatan untuk berjihad membela Rasulullah Saw.dan ajaran beliau. Dari dasar inilah maka mereka ini mendapat kedudukan yang sangat tinggi di hadapan Allah, suatu kedudukan yang tidak dapat ditandingi siapa saja sesudah lewat peristiwa yang mereka alami selama itu. Bahkan Rasulullah Saw. bersabda bahwa sesudah penaklukan Makkah oleh umat Islam maka sudah tidak mungkin lagi ada amal yang lebih tinggi nilainya mengalahkan amalan hijrah itu, beliau bersabda dalam sebuah hadis berikut: 2575 عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِي اللَّهم عَنْهمَا قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا هِجْرَةَ بَعْدَ الْفَتْحِ وَلَكِنْ جِهَادٌ وَنِيَّةٌ وَإِذَا اسْتُنْفِرْتُمْ فَانْفِرُوا (رواه البخاري ومسلم)* Artinya: “Dari Ibnu ‘Abba>s RA. Dia berkata: “Rasul Saw. bersabda: “Tidak ada hijrah tetapi sekarang yang ada hanyalah jihad dan niat jika kalian diminta berangkat maka berangkatlah kalian“(HR.Bukha>ri> no.2575 dan Muslim no.2412). Maksudnya ialah bahwa amalan hijrah itu tidak mungkin ada lagi. Yang tinggal sekarang ialah jihad dan tekad yang sangat keras membaja untuk jihad. Masalahnya sekarang ialah: Amalan apakah yang menyamai nilai kedudukan hijrah itu? Dari hadis Bukha>ri> no.2575 di atas ini dapat dispekulasikan bahwa amal perbuatan yang kedudukannya mendekati derajat hijrah ialah: JIHAD. Kemudian bakti kepada kedua ibu bapak, menyusul selanjutanya ialah haji yang mabrur, seterusnya shalat tepat pada waktunya. Semua ini dapat diperkuat oleh hadis-hadis berikut: 1422 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِي اللَّهم عَنْهم قَالَ سُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْأَعْمَالِ أَفْضَلُ قَالَ إِيمَانٌ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ قِيلَ ثُمَّ مَاذَا قَالَ جِهَادٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ قِيلَ ثُمَّ مَاذَا قَالَ حَجٌّ مَبْرُورٌ (رواه البخاري مسلم 118) Artinya: “Dari Abu> Hurairah RA dia berkata:“Nabi Saw. ditanya: “Amal apakah yang paling afdlol? Beliau bersabda: “Beriman kepada Allah dan Rasul-Nya“ beliau ditanya lagi: `Kemudian apa? Beliau menjawab: Jiha>d Fi> Sabi>lilla>h“ Beliau ditanya lagi: “Selanjutnya apa lagi? Beliau menjawab : “Haji yang mabrur“(HR.Bukha>ri> no.1422, Muslim no.118) 2574 قَالَ عَبْدُاللَّهِ بْنُ مَسْعُودٍ رَضِي اللَّهم عَنْهم سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ الْعَمَلِ أَفْضَلُ قَالَ الصَّلَاةُ عَلَى مِيقَاتِهَا قُلْتُ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ ثُمَّ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ قُلْتُ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَسَكَتُّ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَوِ اسْتَزَدْتُهُ لَزَادَنِي (رواه البخاري)* Artinya: “’Abdulla>h ibnu Mas`u>d RA.berkata: “Aku bertanya kepada Rasulullah Saw.: “Ya Rasul amal yang manakah yang paling afdlol? Beliau bersabda: “Shalat pada waktunya“ Aku bertanya: “Lalu apa? Beliau menjawab: “Jiha>d fi> Sabi>lilla>h“ Lalu aku berdiam tidak bertanya lagi kepada Rasul Saw. dan jika aku bertanya lagi pasti beliau akan menambahkannya padaku“(HR.Bukha>ri> no.2574). 2578 أَنَّ أَبَا سَعِيدٍ الْخُدْرِيَّ رَضِي اللَّهم عَنْهم حَدَّثَهُ قَالَ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ النَّاسِ أَفْضَلُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُؤْمِنٌ يُجَاهِدُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ قَالُوا ثُمَّ مَنْ قَالَ مُؤْمِنٌ فِي شِعْبٍ مِنَ الشِّعَابِ يَتَّقِي اللَّهَ وَيَدَعُ النَّاسَ مِنْ شَرِّهِ (رواه البخاري)* Artinya: “Sungguh Abu> Sai>d al-Khudriyyi RA.berkata: “Ditanyakan kepada Rasul Saw. ;“Siapakah manusia yang paling afdlol ya Rasullullah“ Lalu beliau bersabda: “Orang yang paling afdlol ialah seorang mukmin yang ber- Jihad fi> Sabi>lilla>h dengan jiwa dan hartanya“ Mereka bertanya lagi: “ Kemudian siapa?“ Beliau menjawab: “Seorang mukmin dari suatu daerah yang bertakwa kepada Allah dan meninggalkan sifat yang jelek diri manusia“(HR. Bukha>ri> no.2578). 1574 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ مَرَّ رَجُلٌ مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِشِعْبٍ فِيهِ عُيَيْنَةٌ مِنْ مَاءٍ عَذْبَةٌ فَأَعْجَبَتْهُ لِطِيبِهَا فَقَالَ لَوِ اعْتَزَلْتُ النَّاسَ فَأَقَمْتُ فِي هَذَا الشِّعْبِ وَلَنْ أَفْعَلَ حَتَّى أَسْتَأْذِنَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَ ذَلِكَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ لَا تَفْعَلْ فَإِنَّ مُقَامَ أَحَدِكُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَفْضَلُ مِنْ صَلَاتِهِ فِي بَيْتِهِ سَبْعِينَ عَامًا أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ وَيُدْخِلَكُمُ الْجَنَّةَ اغْزُو فِي سَبِيلِ اللَّهِ مَنْ قَاتَلَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَوَاقَ نَاقَةٍ وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ قَالَ أَبمو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ (رواه الترمذي) Artinya: “Dari Abu> Hurairah dia berkata: “Seorang sahabat Rasul Saw. dari daerah `Uyainah yang airnya tawar sangat menarik karena enaknya. Dia berkata: “Alangkah indahnya jika aku turun dan mukim di daerah ini, tetapi aku tidak melakukan sebelum aku memohon ijin Rasul Saw. Lalu dia menyatakannya kepada Rasul Saw.“ Rasul Saw. bersabda: “Janganlah anda lakukan karena sungguh kedudukan anda di jalan Allah itu lebih afdlol dari pada shalat di rumah 70 tahun. Tidak sukakah anda jika Allah memberi ampunan padamu dan memasukkan anda ke dalam surga. Berperanglah kalian di jalan Allah. Barang siapa Jiha>d fi> Sabi>lilla>h dengan menyingsingkan lengan bajunya maka pasti dia masuk ke dalam surga“(HR.Turmudzi>>> no.1574) Yu>suf Al-Qardha>wi> dalam kitabnya `Awa>milus sa`ati wal muru>nah (1985:86) memahamkan berbeda-bedanya redaksi hadis tentang lebih afdlolnya amal diatas bahwa jawaban Rasul Saw. dalam hadis-hadis tersebut sangat bergantung kepada siapa yang bertanya. Oleh karena Jihad disebut-sebut dalam ketiga hadis di atas ini maka dapat diduga bahwa Jihad fi> Sabi>lilla>h merupakan suatu amal yang paling afdlol secara umum, sedangkan haji yang mabru>r, bakti kepada kedua orang tua bapak-ibu serta shalat tepat pada waktunya adalah amal ibadah yang sangat terpuji yang keutamaannya di bawah peringkat Jiha>d fi> Sabi>lilla>h, kemudian menyusul amal-amal ibadah yang lain. 2. Perjanjian persahabatan Sistem kekeluargaan yang berwujud suku atau kabilah bisa menumbuhkan adat dan tingkah laku yang bervariasi, disebabkan oleh perasaan yang sama, maka masing-masing anggota suku itu saling membanggakan kehormatan kelompoknya, saling membela yang satu dengan yang lain. Sebaliknya merekapun rela berkorban untuk mempertahankan kelompok mereka dari serangan pihak lain bahkan jika dipandang perlu mereka itu juga siap melakukan serangan kepada kelompok lawan demi untuk menjaga kehormatan kelompoknya. Sebagai usaha untuk mempertahankan kehormatan dan kebanggaan kelompok ini maka suatu kelompok selalu mencari pendukung atau sekutu agar supaya kelompoknya memiliki kekuatan yang semakin besar lagi lebih maksimal. Maka dibuatlah suatu perjanjian persahabatan antar kelompok bahkan suatu perjanjian yang sekuat-kuatnya yang dibuktikan dengan sumpah setia persahabatan. Dan untuk bangsa Arab di jaman Jahiliyah perjanjian persahabatan seperti ini disebut dengan Al-H}ilfu . Pembuatan perjanjian atau sumpah setia persahabatan ini juga banyak dibuat oleh orang perorang seperti halnya perjanjian antar suku ini. Dalam sejarah bangsa Arab menjelang turunnya Al-Quran tercatat beberapa perjanjian persahabatan seperti ini, dicatat oleh ‘Umar Farru>kh dalam Ta>ri>khul Ja>hiliyyah (1984:120) ada 2 macam perjanjian yang sangat penting, yaitu: 1) H}ilful Muthayyibi>n, yaitu bahwa kira-kira tahun 503 Masehi 70 tahun sebelum kelahiran junjungan kita Nabi Besar Muhammad Saw. Disana telah disepakati suatu perjanjian anatara Banu> Mana>f dengan suku-suku lain suatu perjanjian untuk memelihara dan mengamankan Ka’bah maupun penyelenggaraan ibadah haji di Masjidil H}aram. 2) H}ilful Fudhu>l, dalam hal ini Ibnul Atsi>r dalam bukunya Al-Ka>mil fit-Ta>ri>kh (1965:2/41) mencatat bahwa pada tahun 590M terjadi perjanjian persahabatan antara Banu> Ha>syim dengan Banu> Muththalib, Banu> Asad, Banu> Zuhrah, Banu> Taim, yaitu suatu perjajian untuk tidak berbuat zalim dan tidak berbuat dosa di tanah suci Makkah. Di dalam membuat perjanjian perdamaian kaum muslimin dibolehkan membuat perjanjian itu dengan siapa saja bahkan dengan orang kafir sekalipun dengan syarat bahwa perjanjian itu tidak akan memerangi agama Islam ataupun membantu kekuatan untuk menghacurkan Islam sebagaimana yang ditentukan dalam Al-Quran S.60 Al-Mumtah}anah 8. Tetapi dalam hal perjanjian persahabatan, maka kaum muslimin dilarang keras mengambil sahabat dan kekasih yang akan dicintai dan ditaati secara keterlaluan, larangan ini disebut dalam Al-Quran paling sedikit 4 kali, yaitu: (1) S.5 Al-Ma>idah 51; (2)S.5 Al-Ma>idah 57, (3) S.4 An-Nisa>` 144; (4)S.3 A
  • n28: لَا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللَّهِ فِي شَيْءٍ إِلَّا أَنْ تَتَّقُوا مِنْهُمْ تُقَاةً وَيُحَذِّرُكُمُ اللَّهُ نَفْسَهُ وَإِلَى اللَّهِ الْمَصِيرُ (ال عمران 28) Artinya: “Janganlah orang-orang mu’min mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mu’min. Barangsiapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa) Nya. Dan hanya kepada Allah kembali (mu)“ (S.3An28) Hukum terhadap masalah perjanjian persahabatan ini dapat mengikuti hukum pejanjian perdamaian yang sudah dibahas dalam bahasan-bahasan yang lalu, yaitu bahwa perjanjian itu dibolehkan selama tidak bertentangan dengan syariat Islam dan dengan syarat tidak menghalalkan yang haram, tidak mengharamkan yang halal berdasarkan ketentuan Rasul Saw.berikut ini : 1272 أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الصُّلْحُ جَائِزٌ بَيْنَ الْمُسْلِمِينَ إِلَّا صُلْحًا حَرَّمَ حَلَالًا أَوْ أَحَلَّ حَرَامًا وَالْمُسْلِمُونَ عَلَى شُرُوطِهِمْ إِلَّا شَرْطًا حَرَّمَ حَلَالًا أَوْ أَحَلَّ حَرَامًا (رواه الترمذي وابن ماجه)* Artinya: “Sungguh Rasul Saw. bersabda: “Perdamaian itu dibolehkan diantara kaum muslimin kecuali perjanjian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. Orang Islam itu wajib menepati syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram”(HR.Turmudzi>>> hadis no.1272-Ad-Durrul Mantsu>r 1983:2/712). Pada awal kehadiran kaum Muhajirin di Madinah, Rasul Saw. telah mempersaudarakan sahabat Muhajirin dengan kaum Anshar. Persaudaraan ini demikian kuatnya sehingga mereka berjanji untuk saling waris mewaris jika terjadi kematian seseorang dari mereka yang berjanji itu. Perjanjian waris mewaris ini lalu dibatalkan oleh Al-Quran S.8 Al-Anfa>l 75 di atas. Tetapi menurut penyusun Al-Mana>r (tth:10/116) bahwa pembatalan perjanjian waris-mewaris dimaksud bukanlah melenyapkan hak mereka sama sekali, namun hanya menentukan skala prioritasnya saja, bahwa siapa yang lebih dekat mempunyai hak didahulukan mengalahkan orang yang lebih jauh, katanya: هَذِهِ الْاَوْلَوِيَةُ لَاتَقْتَضِيْ عَدَمَ التَّوَارُثِ الْعَارِضِ بَيْنِ الْمُهَاجِرِيْنَ وَالْاَنْصَارِ وَالْمُتَعَاقِدِيْنَ عَلَي اَنْ يَرِثَ كُلٌّ مِنْهُمَا الْاَخَرَكَمَا تَفْعَلُ الْعَرَبُ-وَاِذَا وُجِدَ قَرِيْبٌ وَِبَعِيْدٌ يَسْتَحِقِّانِ الْبِرُّ وَالصِّلَةُ فَالْقَرِيْبُ مُقَدَّمٌ Artinya: “Skala prioritas ini tidak mnghapus hak mewaris antara kaum Muhajirin dan Anshar serta ikatan perjanjian mewaris masing-masing antar mereka seperti yang berlaku di Arab. Jika di sana ada yang lebih dekat dan ada yang jauh maka keduanya sama-sama berhak atas hak kasih sayang tetapi yang dekat itulah yang didahulukan” (Al-Mana>r tth:10 \ 116). Tinjauan terhadap dekat dan jauhnya hak tersebut dapat diperhatikan dari beberapa petunjuk dalam Al-Quran atau hadis di bawah ini: @ Dalam hal sedekah ialah sebagai berikut: عَنْ جَابِرٍ قَالَ أَعْتَقَ رَجُلٌ مِنْ بَنِي عُذْرَةَ عَبْدًا لَهُ عَنْ دُبُرٍ فَبَلَغَ ذَلِكَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَلَكَ مَالٌ غَيْرُهُ فَقَالَ لَا فَقَالَ مَنْ يَشْتَرِيهِ مِنِّي فَاشْتَرَاهُ نُعَيْمُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْعَدَوِيُّ بِثَمَانِ مِائَةِ دِرْهَمٍ فَجَاءَ بِهَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَدَفَعَهَا إِلَيْهِ ثُمَّ قَالَ ابْدَأْ بِنَفْسِكَ فَتَصَدَّقْ عَلَيْهَا فَإِنْ فَضَلَ شَيْءٌ فَلِأَهْلِكَ فَإِنْ فَضَلَ عَنْ أَهْلِكَ شَيْءٌ فَلِذِي قَرَابَتِكَ فَإِنْ فَضَلَ عَنْ ذِي قَرَابَتِكَ شَيْءٌ فَهَكَذَا وَهَكَذَا يَقُولُ فَبَيْنَ يَدَيْكَ وَعَنْ يَمِينِكَ وَعَنْ شِمَالِكَ (رواه مسلم)* Artinya: “Dari Ja>bir dia berkata: “Seseorang dari Bani ‘Udzrah memerdekakan seorang budak miliknya. Berita itu terdengar oleh Rasul Saw. maka beliau bertanya: “ Apakah anda mempunyai harta yang lain?” Dia menjwab: “Tidak “ Lalu beliau menawarkan budak itu: “Siapakah dari kalian yang bersedia membeli budak ini dariku?” Kemudian Nu’aim ibnu ‘Abdilla>h al-‘Adawi> membeli dia dengan 800 dirham, dia bawa dan membayarkannya kepada Rasul Saw. Maka Rasul Saw. bersabda: “Dahulukan dirimu sendiri lalu sedekahkanlah uang itu. Jika terdapat kelebihan berikan untuk keluargamu. Jika ada kelebihan sesudah kebutuhan keluargamu maka berikanlah kepada kerabat dekatmu. Jika masih ada sisa kelebihan setelah tepenuhinya kebutuhan kerabat dekatmu, maka berikanlah kepada yang lain urut dan tertib” Beliau bersabda: “ Siapa-siapa yang ada di depanmu, yang ada disebelah kanamu dan sebelah kirimu” (HR. Muslim no.1663 dan Bukha>ri> hadis no. 22) @Dalam hukum waris ukuran dekat dan jauh itu disebut dalam S.4 An-Nisa>` 11-12 yang singkatnya ialah:I)Ashh}a>bul Furu>dh; 2) `Ashabah; 3) Dzawi>l Arh}a>m. @Hak atas sikap dan bakti kita kepada seseorang, ukuran dekat dan jauh urutannya ialah seperti berikut: 1) Kedua orang ibu-bapak; 2) Kerabat dekat; 3)Anak yatim; 4) Orang miskin; 5) Tetangga dekat; 6) Tetangga jauh; 7) Teman sejawat; 8) Ibnu Sabil; 9) Budak. Hal ini dapat dipelajari dari ketentuan di dalam Al-Quran ayat beriku: وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا (النساء 36) Artinya:“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri’ (S.4 An-Nisa>` 36) Ibnu Katsi>r dalam tafsirnya (1966:4/298) demikian juga Al-Mara>ghi> (tth:15/34) menyatakan bahwa nikmat yang paling besar diterima oleh manusia ialah nikmat dari Allah, kemudian nikmat dari kedua orang tua ibu dan bapak, katanya: اِنَّهُ لَانِعْمَةَ تَصِلُ اِلَي الْاِنْسَانِ اَكْثَرُ مِنْ نِعْمَةِ الْخَالِقِ عَلَيْهِ ثُمَّ نِعْمَةِ الْوَالِدَيْنِ Artinya: “Sesungguhnya tidak ada nikmat yang diterima oleh manusia yang melebihi nikmat dari Allah kemudian nikmat dari kedua orang ibu bapak “ @ Hubungan yang paling dekat antar seseorang dengan orang lain dari segala segi ialah ibu dan bapak, dasarnya ialah hadis berikut: 4622 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ الصُّحْبَةِ قَالَ أُمُّكَ ثُمَّ أُمُّكَ ثُمَّ أُمُّكَ ثُمَّ أَبُوكَ ثُمَّ أَدْنَاكَ أَدْنَاكَ (رواه البخاري ن 5514 -و مسلم واللفط لمسلم)* Artinya: “Dari Abu> Hurairah dia berkata: “Seorang laki-laki bertanya kepada Rasul Saw.: “Siapakah orang yang paling berhak atas baiknya baktiku?“ Beliau menjawab: “Ibumu lalu ibumu kemudian ibumu (tiga kali) selanjutnya bapakmu, sesudah itu berturut-turut yang lebih rendah lagi dari sisimu“(HR.Bukha>ri> no. 5514, lafal ini menurut Muslim no. 4622) Hubungan keluarga berdasarkan nasab dan keturunan tidak mungkin dapat disamai oleh ikatan apapun juga. Sebab hubungan bapak dengan anak keturunan itu bagaikan cuwilan daging orang tua bagi anak keturunannya. Rasul Saw. sendiri pernah bersabda dalam suatu hadis, yaitu: 3437 عَنِ الْمِسْوَرِ بْنِ مَخْرَمَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فَاطِمَةُ بَضْعَةٌ مِنِّي فَمَنْ أَغْضَبَهَا أَغْضَبَنِي (رواه اليبخاري ولمسلم 4483 )* Artinya: “Dari Al-Miswa>r ibnu Mah}}}}}}ramah bahwa sungguh Rasul Saw.bersabda: “Fa>thimah itu cuwilan dagingku, siapa yang membikin dia marah sama dengan membikin aku marah”(HR.Bukha>ri> .no.3437 dan Muslim no.4483) Dari nash Al-Quran dan hadis di atas dapat difahami bahwa hubungan waris mewaris harus didasarkan atas hubungan nasab atau keluarga sedarah. 4.Hukum waris Salah satu ketentuan Allah yang sangat tegas dan rinci didalam Al-Quran ialah aturan Hukum Waris, sehingga para ulama menyatakan hukum waris Islam itu bersifat Ijba>ri> maksudnya ialah wajib ditaati jika tidak ada nash yang lain yang menunjukkan tidak wajib. Allah telah menetapkan aturan hukum waris dari berbagai macam seginya sampai angka-angka yang sangat rinci. Allah menetapkan aturan hukum waris itu di dalam Al-Quran dengan beberapa istilah, yaitu sebagai berikut: a) Mafru>dhan = tertentu, maksudnya telah ditentukan oleh Allah (S.4 An-Nisa>`7) b)Yu>shi>kumulla>h=Dia memberi wasiat kepadamu, maksudnya Allah mensyari`atkan atas kamu (4 An-Nisa>` 11) c)Fi> Kita>billa>h = Di dalam kitab Allah, maksudnya Allah telah menetapkannya (S.8 Al-Anfa>l 75) d)Washiyyatan minalla>hi = Wasiat dari Allah, maksudnya ketetapan dari Allah (S.4 An-Nisa>` 12) e)Fari>dlatan minalla>hi = Ketentuan dari Allah maksudnya Allah telah menetapkan (S.4 An-Nisa>` 11) Rasul Saw. juga telah menetapkan hukum waris Islam sebagai berikut: 3030 عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اقْسِمُوا الْمَالَ بَيْنَ أَهْلِ الْفَرَائِضِ عَلَى كِتَابِ اللَّهِ فَمَا تَرَكَتِ الْفَرَائِضُ فَلِأَوْلَى رَجُلٍ ذَكَرٍ (رواه مسلم وابوداود)* Artinya: “Dari Ibnu ‘Abba>s dia berkata: “Rasul Saw. bersabda: “Bagilah harta warisan itu di antara ahli waris yang telah ditentukan oleh Kitab Suci (Al-Quran) kelebihannya diberikan kepada laki-laki yang lebih dekat“(HR. Muslim no.3030). 6234 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِي اللَّهم عَنْهم عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَنَا أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ فَمَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ دَيْنٌ وَلَمْ يَتْرُكْ وَفَاءً فَعَلَيْنَا قَضَاؤُهُ وَمَنْ تَرَكَ مَالًا فَلِوَرَثَتِهِ (رواه البخاري ومسلم3040)* Artinya: “Dari Abu> Hurairah RA. dari Nabi Saw. beliau bersabda: “Akulah yang paling utama dari orang-orang yang beriman di atas diri-diri mereka. Sehingga siapa yang mati dengan meninggalkankan hutang sedangkan dia tidak mewariskan harta untuk membayarnya, maka akulah yang membayarnya. Dan siapa yang mati meninggalkan harta warisan maka harta itu harus dibagi untuk ahli warisnya“ (HR.Bukha>ri> no.6234, Muslim no.3040). Jika tidak ada alasan yang kuat, siapa yang tidak mengikuti aturan Allah, maka dia nyaris terancam oleh hukuman Allah dengan hukuman yang berat, yaitu: وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَتَعَدَّ حُدُودَهُ يُدْخِلْهُ نَارًا خَالِدًا فِيهَا وَلَهُ عَذَابٌ مُهِينٌ (النساء 14) Artinya: “Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan“(S.4 An-Nisa>`14) @ Ciri-ciri khusus aturan hukum waris Islam Aturan hukum waris Islam mempunyai beberapa ciri dan keistimewaan tertentu dibandingkan dengan aturan hukum waris yang lain, yaitu: 1) Pewaris tidak mutlak mempunyai hak sepenuhnya atas seluruh harta yang akan ditinggalkannya, tetapi dia dibenarkan membuat wasiat sebelum meninggal itu untuk mewasiatkan hartanya itu asal tidak lebih dari sepertiganya saja (S.2 Al-Baqarah 180-182, Hadis Bukha>ri> no.2537) 2) Laki-laki, perempuan, kakek atau bapak, anak, cucu semua termasuk ahli waris yang sama-sama mempunyai hak mewaris, bersama atau berdiri sendiri(S.4 An-Nisa>` 7). 3) Tidak mengunggulkan satu macam ahli waris, anak tertua atau semacamnya. 4) Tidak menghilangkan hak kaum wanita atau kanak-kanak di bawah umur untuk mewaris (S.4 An-Nisa>` 7). 5) Adopsi dan perjanjian atau sumpah setia persahabatan tidak berhak atas harta warisan selama masih ada wali waris yang sedarah(S.33 Al-Ah}za>b 4-6). 6) Pelaksanaan pembagian harta warisan harus disegerakan, untuk menghindari dosa besar yang mungkin timbul, karena termakannya harta suatu ahli waris oleh ahli waris lain, lebih-lebih harta anak yatim(S.4 An-Nisa>` 10). @ Syarat rukun hukum waris mewaris Islam Sebelum Hukum Waris itu dilaksanakan, maka harus dilakukan penelitian terhadap masalah berikut: (1)Pewaris( اَلْمُوَارِثُ)yaitu orang mati dan meninggalkan harta warisan. (2)Ahli waris( َالْوَارِثُ). (3) Harta warisan اَلْمَوْرُوْثُ)) Ad 1.Pewaris atau Muwa>rits. Untuk melaksanakan hukum waris, maka harus jelas matinya pewaris. Namun dalam Ilmu Waris masalah matinya Muwarrits ini dibagi dua yaitu: Mati H}aqi>qi> dan Mati H}ukmi ~ Mati Haqiqi ialah mati sungguh-sungguh sesuai dengan Ilmu Kedokteran. ~Mati Hukmi ialah kematian yang diputuskan oleh Majelis Hakim, walaupun mungkin yang bnersangkutan belum mati sungguh-sungguh. Perlu diingat bahwa pembagian harta dari orang yang sudah meninggal itu hukumnnya adalah pewarisan, tetapi jika pembagian harta itu dilakukan ketika pewaris tersebut itu masih hidup, maka namanya bukan pewarisan, tetapi hukumnya hibah. Ad 2 Ahli waris atau Wa>ritsun. Adapun faktor yang memungkinkan seseorang mempunyai hak untuk memperoleh warisan ada tiga macam, yaitu: 1)Perkawinan. 2) Kekerabatan. 3) Wala>` ,yang berjasa memerdekakan budak. Syarat bagi ahli waris untuk memiliki hak mewaris itu ialah dia harus masih dalam keadaan hidup pada detik-detik saat pewaris (Muwarrits) meninggal dunia walaupun mungkin meninggalnya hampir bersamaan waktu.Dalam hal itu disyaratkan pula atas ahli waris tersebut bahwa tidak ada halangan yang menghapus hak dia mewaris. Adapun halangan yang dapat menghapus hak mewaris itu ialah: (1) Perbudakan; (2) Pembunuhan (3) Berbeda agama antara pewaris dengan ahli waris. (4) Perbedaan negara yang mengarah kepada kesulitan pewarisan. Ad 3 Harta warisan, harta peninggalan atau Mauru>ts. Harta warisan disebut juga Tirkah atau Tura>ts. Memang sebelum dilakukan pembagian harta warisan, harta ini lebih dahulu harus dipotong dengan biaya perawatan almarhum, pembayaran hutang-hutang dan pelaksanaan wasiat. Sesudah terbayar semua ini maka baru dilakukan pembagian harta warisan sisa dari pembayaran dimaksud. ——-(27)——— HAK CUCU DAN TOLAN SEPERJANJI AN I S.4 An-Nisa>` 33 وَلِكُلٍّ جَعَلْنَا مَوَالِيَ مِمَّا تَرَكَ الْوَالِدَانِ وَالْأَقْرَبُونَ وَالَّذِينَ عَقَدَتْ أَيْمَانُكُمْ فَآتُوهُمْ نَصِيبَهُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدًا ( النساء 33 ) II. Artinya; “Bagi tiap-tiap harta peninggalan dari harta yang ditinggalkan ibu bapak dan karib kerabat, Kami jadikan pewaris-pewarisnya. Dan (jika ada) orang-orang yang kamu telah bersumpah setia dengan mereka, maka berilah kepada mereka bahagiannya.Sesungguhnya Allah menyaksikan segala sesuatu”(S,4 An-Nisa>` 33) III. Tafsir dan analisa A. Pengertian kata-kata وَلِكُلٍّ = Dan bagi masing-masing atau tiap bagian, maksudnya ialah bagi tiap orang atau tiap harta جَعَلْنَا مَوَالِيَ = Kami telah membuat “Mawa>li>”, Louwis Ma’lu>f dalam Al-Munjid (tth:1021) menjelaskan bahwa arti lafal Mawa>li> jamak dari Maula>> ini ialah: raja, tuan, hamba, orang yang memerdekakan, budak yang dimerdekakan, orang yang diberi nikmat, orang yang mengasihi, teman, orang yang bersumpah, tetangga, tamu, serikat, anak paman, semenda atau orang yang dekat. Maksudnya ialah orang-orang yang berhak memeperoleh harta warisan dari harta peninggalan pewaris, bapak-ibu atau kerabat dekat mereka. = مِمَّا تَرَكَ الْوَالِدَانِ وَالْأَقْرَبُونَ Dari apa yang ditinggalkan oleh kedua orang tua dan kerabat dekatnya = وَالَّذِينَ عَقَدَتْ أَيْمَانُكُمْ Dan orang-orang yang kamu telah bersumpah setia dengan mereka فَآتُوهُمْ نَصِيبَهُمْ = Maka berikanlah kepada mereka bagiannya إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدًا = Sungguh Allah Maha menyaksikan segala sesuatu B. Latar belakang turunnya ayat Dalam Hukum Adat masyarakat Arab Jahiliyah dahulu, terdapat hukum perjanjian sumpah setia persahabatan dengan bermacam-macam janji mencakup perjanjian saling waris mewaris. Dalam hal ini Ibnu Jari>r mencatat riwayat bersumber dari Ibnu ‘Abba>s, bahwa Al-Quran S.4 An-Nisa>` 33 tersebut turun terkait dengan keadaan tersebut, kemudian sesudah itu turun S.8 Al-Anfa>l 75 (Ad-Durrul Mantsu>r 1983:2/510). Meurut riwayat Ath-Thabra>ni> ialah bahwa pada waktu Rasulullah Saw. hijrah ke Madinah beliau mempersaudarakan kaum Muhajirin dengan kaum Anshar yang isinya mencakup saling waris mewaris. Dari peristiwa ini maka turunlah Al-Quran S.8 Al-Anfa>l 75 yang menyatakan bahwa anggota ahli waris yang sedarah lebih berhak atas harta warisan dari pada tolan seperjanjian (HR. Ath-Thabra>ni>, dari Ibnu ‘Abba>s, Ad-Durrul-Mantsu>r 1984:4/118) . Al-Wa>h}idi> dalam Asbabu Nuzu>lil Quran (1984:144) meriwayatkan hadis bahwa Al-Quran S.4 An-Nisa>` 33 turun berkaitan dengan orang-orang yang mengangkat anak dari anak orang lain lalu diberi bagian warisan. Maka Allah menurunkan ayat itu supaya mereka diberi bagian melalui wasiat dan mengembalikan warisan itu kepada Mawa>li> dari ahli waris Dzawi> l Arh}a>m dan Ashabah. Ath-Thabari> dalam tafsirnya (1954:10/57) meriwayatkan hadis bahwa RasU>lu>llah Saw. dalam mempersaudarakan kaum Muhajirin dengan kaum Anshar tersebut, salah satunya ialah Zubair ibnu ‘Awwa>m dengan Ka’ab ibnu Ma>lik sehingga mereka berjanji untuk saling mewaris, kemudian turunlah Al-Quran S.8 Al-Anfa>l 75, yang menetapkan bahwa keluarga sedarah lebih berhak mengalahkan siapa saja yang tidak termasuk sedarah, Riwayat ini disahihkan oleh Al-H}a>kim dan Al-Haitsami (Al-Wa>di’i> 1405:75; Ad-Durr 1983:4/117). C. Tema dan sari tilawah Sebelum kita memahami tema dan kandungan makna ayat perlu ditelusuri lebih dahulu apa yang dimaksud istilah-istilah daalam ayat tersebut di atas, yaitu: ~ Mawa>li> adalah kata jamak dari lafal Maula>> artinya tuan, budak, kekasih, pelindung dan sebagainya. Maksud Mawa>li> dalam ayat ini ialah ahli waris. ~ Al-Aqrabun artinya orang-orang yang lebih dekat, maksudnya orang-orang yang ada hubungan darah yang dekat yang mempunyai kemungkinan hak untuk melakukan waris mewaris antar masing-masing anggota ~ U>lu>l Qurba> artinya orang-orang yang masih mempunyai hubungan darah antar masing-masing, tetapi tidak bisa memperoleh hak mewaris, sebab ada anggota ahli waris yang mempunyai hubungan darah yang lebih dekat dari pada anggota U>lu>l Qurba> tadi. Maka dari ayat dan pengertian kata maupun istilah serta latar belakang turunnya ayat di atas dapatlah disusun tema dan sari tilawah ayat itu sebagai berikut: 1. Tiap orang mempunyai ahli waris yang berhak untuk memperoleh harta warisan peninggalan kedua orang tua atau kerabat dekatnya 2. Ahli waris dan orang yang berhak memperoleh harta peninggalan telah ditetapkan oleh Allah dalam Al-Quran S.4 An-Nisa `> 7,11-12 dan 176 3. Melalui S.4 An-Nisa>`> 8 dan ayat 33, maka seseorang yang tidak termasuk dalam hukum dalam S.4 An-Nisa`> 7, 11-12 dan 176 disebabkan karena meninggalnya anak, orang tua, saudara dan yang lain dimungkinkan untuk memperoleh hak waris mewaris 4. Orang-orang yang telah membuat sumpah perjanjian kesetiaan dapat memperoleh hak mewaris atas harta warisan dengan beberapa persyaratan. D.Masalah dan analisa Dari tema dan sari tilawah tersebut di atas terdapat beberapa masalah yang perlu mendapat jawaban penyelesaian, terutama masalah berikut: 1.Bagaimana hak dan kedudukan cucu dalam hukum waris Islam ? 2.Bagaimana fatwa para ulama soal pemberian hak bagian warisan bagi cucu? 3.Bagaimanakah sebenarnya hukum bersumpah setia persahabatan itu? E. Tinjauan dan pemikiran Upaya memahami masalah hak dan kedudukan cucu haruslah melihat walau sekilas hak-hak ahli waris khususnya hak dan kedudukan anak berikut: Az-Zuh}aili> dalam Al-Fiqhul Isla>mi> (1989:8/279) membagi ahli waris itu menjadi tiga, yaitu: (1) Dzawi> l Furu>dh. (2) ‘Ashabah.(3) Dzawi> l Arh}a>m. ~Dzawi>l Furu>dh ialah mereka yang sudah ditetapkan besar-kecilnya bagian mereka. ~Sedangkan ‘Ashabah ialah mereka yang tidak ada ketentuan berapa besar-kecilnya hak bagian mereka. ~Dzawi>l Arh}a>m ialah keluarga yang tidak termasuk dalam kelompok Dzawi>l Furu>dh dan bukan kelompok ‘Ashabah. Dalam soal ini para ulama berbeda pendapat, yaitu sebagai di bawah ini: a) Menurut ulama H}anafi>yah dan H}ana>bilah, maka Dzawi> >l Arh}a>m ini bisa menerima hak mewaris jika tidak ada ‘Ashabah dan Dzawi> l Furu>dh . b) Menurut ulama Sya>fi’i>yah dan Ma>likiyah, maka Dzawi> l Arh}a>m tidak mendapat apa-apa. Jika seandainya ada kelebihan dari pembagian warisan maka Rod itu tidak diberikan kepada Dzawi> l Arh}a>m dan tidak kepada Dzawi> l Furu>dh, tetapi ke Baitulma>l. Adapun tertib urutan hak didahulukan perhitungannya untuk menerima hak mewaris ialah: Pertama Dzawi>l Furu>dh ; Kedua ‘Ashabah; Ketiga Dzawi> >l Arh}a>m (menurut golongan H}anafi> dan H}anbali>); Keempat.Tuan yang memerdekakan; Kelima. Penerima wasiat; Keenam Baitulma>l. Kompilasi Hukum Islam, hasil ijtihad dan Ijmak ulama Indonesia, dalam kietetapannya pasal 174 membagi ahli waris itu menjadi dua, yaitu: Ahli waris karena hubungan darah, ~Yang laki-laki ialah:1) Ayah;2) Anak laki-laki;3) Saudara laki-laki;4)Paman; 5)Kakek ~Yang perempuan ialah:1) Ibu;2) Anak perempuan;3) Saudara perempuan; 4)Nenek. Ahli waris karena hubungan perkawinan ialah: (1) Duda; (2) Janda. Jika 9 nomer di atas ada semua maka yang berhak mendapat warisan ialah: (1)Anak; (2) Ayah; (3) Ibu; (4) Janda atau duda. 1. Hak dan kedudukan cucu dalam hukum waris Islam Al-Quran tidak secara tegas menyebut cucu, kedudukan dan hak bagiannya, tetapi kedudukan cucu dapat ditafsirkan dari hak dan kedudukan ahli waris yang telah ditegaskan di dalam S.4 An-Nisa>` 11-12 melalui pemahaman terhadap S.4 An-Nisa>` 33 dan 176 maupun beberapa nash yang lain sehingga cucu tercakup dalam hak dan kedudukan mewaris yang disebut anak keturunan almarhum atau Far’ul Wa>rits Adapun hak dan kedudukan anak ditentukan dalam S.4 An-Nisa>` 11 dan beberapa hadis; Ayat 11 S.4 An-Nisa>` ini memuat beberapa ketentuan sebagai berikut: ~ Bagian anak laki-laki satu orang sama dengan dua bagian anak perempuan ~ Jika anak itu hanya perempuan, jika jumlahnya lebih dari satu bagiannya 2/3 ~Jika anak perempuan itu hanya satu orang maka bagiannya separuh dari harta warisan ~Jika pewaris meninggalkan anak, maka bapak dan Ibu masing-masing mendapat1/6 ~Jika pewaris tidak mempunyai anak dan tidak ada saudara, maka ibu 1/3 ~Jika pewaris tidak mempunyai anak tetapi meninggalkan saudara sedangkan bapak-ibu ikut menjadi ahli waris maka si ibu mendapat 1/6 Hak dan kedudukan cucu secara tegas ditetapkan para ulama dalam Kompilasi Hukum Islam pasal 185 sebagai berikut: Ahli waris yang meninggal lebih dahulu> dari pada si pewaris maka kedudukannya dapat digantikan oleh anaknya, kecuali mereka yang disebut dalam pasal 173 (Mengenai halangan menerima warisan). Bagian ahli waris pengganti tidak boleh melebihi bagian ahli waris yang sederajat dengan yang diganti. Pasal 185 KHI ini dapat diterjemahkan bahwa cucu mendapat bagian warisan dari hak almarhum orang tuanya yang dia gantikan. Kemudian jika seandainya cucu itu lebih dari satu maka bagian tersebut harus dibagi-bagi antara mereka. Jika di antara mereka ini terdiri dari laki-laki dan perempuan maka berlaku ketentuan Al-Quran S.4 An-Nisa>` 11 bahwa bagian laki-laki dua kali bagian perempuan. 2. Penafsiran ulama atas S.4 An-Nsa` 33 tentang hak kedudukan cucu Di bawah ini dicoba menyelami penafsiran oleh para ulama terhadap S.4 An-Nisa>` 33, yaitu sebagai berikut: a.Al-Qurthubi> dalam tafsirnya (1967:5/165) menerangkan bahwa maksud S.4 An-Nisa>` 33 itu ialah bahwa setiap manusia mempunyai ahli waris dan Mawa>li>, maka hendaklah mereka memanfaatkan ketentuan Allah atas pembagian warisan itu dengan tidak mengangan-angan harta yang bukan haknya. b.‘Ali> as-Sa>yis dalam Tafsi>r A>ya>til Ah}ka>m (1953:2//92) menjelaskan bahwa lafal Mawa>li> itu jamak dari Maula>> artinya ialah tuan, hamba, pemenang, ‘ashabah atau orang yang bersumpah setia. Dan arti ‘Ashabah adalah yang paling tepat. c.Al-Mana>r (tth:5/64) membahas ayat itu menerangkan ayat Mawa>li> itu bahwa Allah telah membuat orang yang berkuasa atas harta warisan, mereka itu adalah kedua orang tua, kerabat dekat, dan tolan seperjanjian mencakup semua ahli waris ke atas, ke bawah dan ke samping serta isteri atau suami, mereka yang berhak harus dibayar hak bagiannya. d.Az-Zuh}aili> dalam Al-Muni>r (1991:5/47) menerangkannya bahwa terhadap tiap-tiap harta itu Allah membuat ahli waris dan Mawa>li> yang berwenang mengelolanya. Lebih lanjut Az-Zuh}aili> menjelaskan bahwa ahli waris menurut ketetapan Allah dalam S.4 An-Nisa>` 11-12 dan 176 itu adalah ahli waris Dzawi> l Furu>dh dan ‘Ashabah saja, yaitu keluarga sedarah ke atas, ke bawah, ke samping dan suami atau isteri. Adapun orang-orang diluar daftar tersebut, maka tidak termasuk ahli waris. Tetapi tidak dilarang untuk diberi wasiat harta untuk mereka, baik karena tolan seperjanjian atau karena adopsi artinya pengangkatan anak. e.Ath-Thabari> dalam Jami’ul Bayan (1954:5/50) menyatakan bahwa lafal Mawa>li> artinya ialah: (1) Ahli waris; (2) Pewaris. Maksud ahli waris ialah orang yang menerima harta warisan sedangkan pewaris ialah orang yang meninggal dunia meninggalkan harta, sehingga hartanya dibagi-bagikan kepada ahli waris. Jika teori Ath-Thabari> ini dapat diterima maka melalui istilah Mawa>li> dalam Al-Quran S.4 An-Nisa>` 33 tersebut dapatlah dimungkinkan Mawa>li> itu berwujud satu orang yang dia itu adalah ahli waris yang mempunyai hak atas harta warisan dan sekaligus dia adalah pewaris karena dia sudah meninggal maka diapun menjadi pewaris dimana hak bagian warisan yang harus dia terima itu langsung diwariskan dan dibagi-bagikan kepada ahli waris dia. Tafsiran Ath-Thabari> ini jika kita padukan dengan tafsiran Az-Zuh}aili>, maka dapat dispekulasikan sebagai berikut: Bagian harta warisan yang seharusnya diterima oleh mendiang seorang ahli waris (anak), disebabkan dia meninggal mendahului pewaris (ayah atau ibu), maka bagian itu diserah-terimakan kepada waris pengganti (dalam hal ini anak dari mendiang anak sebagai cucu dari pewaris yaitu kakeknya). Bagannya adalah sebagai berikut: Bapak = B Pewaris Anak =A A a A A Ahli waris Cucu=C C C C Waris pengganti Keterangan:B=Bapak atau kakek; A=Anak; a=anak meninggal lebih dahulu; C=Cucu f.-Hazairin Guru Besar Hukum Adat UI dalam bukunya Hukum Kewarisan Bilateral Menurut Quran dan Hadis (1982:27) membuat catatan analisa terhadap Al-Quiran S.4 An-Nisa>` 33 dan kaitannya dikaitkan dengan hak dan kedudukan cucu untuk waris mewaris, yaitu sebagai berikut: (1) Al-Quran S.4 An-Nisa>` 33 itu merupakan rahmat yang sangat besar dari Allah yang telah memberikan dasar pemberian hak kewarisan kepada keluarga dekat seperti: paman, bibik, datuk, nenek, cucu dan piut,yang tidak disebut di dalam ayat-ayat kewarisan, Dalam buku itu (1982:18) Hazairin mengartikan Mawali adalah ahli waris pengganti. Sedangkan lafal Likullin ialah seorang ahli waris yang telah meninggal mendahului si pewaris. Sehingga lebih mudahnya S.4 An-Nisa>` 33 itu ditafsirkan dengan bunyi sebagai berikut: وَلِكُلِّ فُلَانٍ جَعَلَ اللهُ مَوَالِيَ مِمَّا تَرَكَ الْوَالِدَانِ وَالْاَقْرَبُوْنَ وَالَّذِيْنَ عَقَدَتْ اَيْمَانُكُمْ فَآتُوْهُمْ نَصِيْبَهُمْ Artinya: “Dan untuk setiap orang Allah telah membuat Mawali bagi harta peninggalan ayah dan ibu bagi harta peninggalan keluaga dekat demikan juga harta peninggalan bagi tolan seperjanjianmu, karena itu berikanlah bagian warisannya” @Jika diringkas kalimat itu menjadi berbunyi sebagai berikut: “Bagi mendiang anak dan bagi mendiang keluarga dekat Allah mengadakan Mawali untuk harta peninggalan orang tua dan keluarga dekat itu”. Dengan kata lain : Bahwa untuk setiap orang maka Allah sudah membuat Mawali untuk menerima harta warisan dari orang tua dan keluarga dekatnya”. Lebih ekstrem lagi ialah bahwa seorang yang telah meninggal maka tempat kedudukannya bisa diganti oleh Mawali-nya. Umpamanya seperti anak yang sudah mati tempatnya dapat digantikan oleh cucu. Menurut Hazairin ayat 33 S.4 An-Nisa>` tersebut di atas merupakan landasan hukum PENGGANTIAN WARIS, sehingga hak penggantian ini dimungkinkan berlaku menurut garis ke bawah maupun garis ke atas bahkan ke samping. (2) Hazairin dalam bukunya Hukum Kewarisan Bilateral Menurut Al-Quran membagi ahli Waris itu menjadi 3, yaitu: 1) Dzawul-Faraidl; 2) Dzawul-Qarabat; 3)Mawali. Dasar pembagian ini ialah Al-Quran S.4 An-Nisa>`11-12; 33 dan S.33 Al-Ah}za>b 4-5 ataupun nash yang lain. Di dalam S.4 An-Nisa>` 11 Allah menyebut; “Fi auladikum”((في اولادكم dan “Wa li Abawaihi” (ولابويه )serta“Wa waritsahu abawa>hu” (وورثه ابواه ) bahwa semua istilah ini berlaku untuk laki-laki dan perempuan. Berdasarkan istilah ini maka beberapa lafal “A< `ukum wa Abna< `ukum” (اباءكم وابناءكم) dalam ayat-ayat Mawaris harus diartikan bapak maupun ibu dan anak laki-laki maupun anak perempuan tidak khusus laki-laki saja. (3) Perlu direnungkan lagi masalah anak angkat dalam surat Al-Ah}za>b berikut: وَمَا جَعَلَ أَدْعِيَاءَكُمْ أَبْنَاءَكُمْ ذَلِكُمْ قَوْلُكُمْ بِأَفْوَاهِكُمْ (4)ادْعُوهُمْ لِآبَائِهِمْ هُوَ أَقْسَطُ عِنْدَ اللَّهِ فَإِنْ لَمْ تَعْلَمُوا فَإِنْ لَمْ تَعْلَمُوا ءَابَاءَهُمْ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ وَمَوَالِيكُمْ (الاحزاب 5) Artinya: “…dan Dia tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak kandungmu (sendiri). Yang demikian itu hanyalah perkataanmu di mU>lu>tmu saja” “Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang lebih adil pada sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggillah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan mawali-mu” (S.33 Al-Ah}za>b 4-5). Pada alaman 42 dalam bukunya Hukum Kewarisan menurut Al-Quran dan Hadis, Hazairin berkata: “Quran bukan diturunkan untuk orang Arab saja, tetapi juga untuk orang Minangkabau yang sistem kekeluargaannya Matrilineal ataupun orang Jawa yang sistem kekeluargaannya Bilateral, bahkan masyarakat manapun juga”. Sehingga masyarakat yang matrilinealis jika mengangkat anak lebih suka mengadopsi anak perempuan dan untuk masyarakat Bilateralis akan mengadopsi anak menurut selera orang yang mengangkat dan tidak harus laki-laki, mungkin juga mengadopsi anak perempuan. Keduanya tidak sesuai dengan masyarakat Arab Jahiliyah yang patrilinealistis itu. (4) Demikian pula istilah “ Ikhwanukum” maksudnya persis sama arti lafal “Ikhwatun, Ikhwatu-kum” yaitu bukan anak laki-laki saja tetapi mencakup anak perempuan seperti yang ditegaskan oleh Allah dalam S.4 An-Nisa>` 176 lafal Ikhwatun artinya saudara laki-laki ataupun saudara perempuan, yaitu: وَإِنْ كَانُوا إِخْوَةً رِجَالًا وَنِسَاءً فَلِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الْأُنْثَيَيْنِ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ أَنْ تَضِلُّوا وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ (ِالنساء176) Artinya: “Dan jika mereka (ahli waris itu terdiri dari) saudara-saudara laki dan perempuan, maka bahagian seorang saudara laki-laki sebanyak bahagian dua orang saudara perempuan. Allah menerangkan (hukum ini) kepadamu, supaya kamu tidak sesat. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”(S.4 Nisa` 176) Maka dari itulah Hazairin menyatakan bahwa Hukum Waris Islam itu bersifat Bilateral, artinya kaum wanita mendapat hak seimbang dengan kaum laki, artinya Hukum Waris Islam tidak mengunggulkan jender laki-laki. (5) Masalah hadis Ibnu ‘Abba>>s (halaman 94) 6235 عنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِي اللَّهم عَنْهمَا عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَلْحِقُوا الْفَرَائِضَ بِأَهْلِهَا فَمَا بَقِيَ فَهُوَ لِأَوْلَى رَجُلٍ ذَكَرٍ (رواه البخاري ومسلم ( Artinya: “Dari Ibnu Abbas dari Nabi Saw. bahwa beliau bersabda: “Bayarkanlah bagian yang sudah pasti itu kepada yang berhak,sisa dari padanya untuk laki-laki yang lebih utama” (HR Bukha>ri> no.6235, Mulsim no.3028). Terhadap isi hadis ini Hazairin memberi catatan bahwa hadis ini tidak bisa diterapkan kepada ‘Ashabah laki-laki yang jumlahnya banyak dan ‘Ashabah yang di dalamnya terdapat laki-laki bersama-sama perempuan yang sederajat masuk di dalamnya. Dengan demikian maka hadis Ibnu ‘Abba>s ini tidak bisa dijadikan dasar hukum kewarisan yang patrilinealis. (6) Masalah hadis Ibnu Mas’u>d (h. 106) قَالَ زَيْدٌ وَلَدُ الْأَبْنَاءِ بِمَنْزِلَةِ الْوَلَدِ إِذَا لَمْ يَكُنْ دُونَهُمْ وَلَدٌ ذَكَرُهُمْ كَذَكَرِهِمْ وَأُنْثَاهُمْ كَأُنْثَاهُمْ يَرِثُونَ كَمَا يَرِثُونَ وَيَحْجُبُونَ كَمَا يَحْجُبُونَ وَلَا يَرِثُ وَلَدُ الِابْنِ مَعَ الِابْنِ (رواه البخاري)* Artinya: “ Zaid ibnu Tsabit berkata: “Cucu atau anak dari anak laki-laki menempati kedudukan anak jika tidak ada anak laki-laki, yang laki-laki seperti kedudukan anak laki-laki, yang perempuan seperti kedudukan anak perempuan. .Cucu mewaris persis seperi anak mewaris. Dan cucu menghalangi atau meng-hijab seperti anak meng-hijab. Anak dari anak laki-laki tidak mewaris jika ada anak laki-laki” (HR Riwayat Bukha>ri> tanpa nomer). Hadis ini menentukan bahwa jika anak laki-laki tidak ada, maka cucu yang lahir dari anak laki-laki dapat menggantikan hak dan kedudukan anak laki-laki, yang perempuan seperti anak perempuan, mewaris dan meng-hijab artinya menutup hak orang lain untuk mewaris. Hazairin mencatat sebagai berikut ~Hadis ini adalah ucapan Zaid bukan Sunnah Rasul Saw. ~Hadis itu bertentangan dengan sifat bilateral hukum waris menurut AlQuran seperti analisa di muka, yaitu Al-Quran tidak membedakan cucu dari anak perempuan dari pada cucu dari anak laki-laki. Dan cucu yang kematian orang tuanya yang laki-laki maupun cucu yang perempuan dapat menerima warisan melalui sistem Mawali. *Wasiat wajibah* Para ahli hukum Islam di Mesir dan beberapa negara di Timur Tengah, menetapkan pemberian hak cucu untuk mewaris melalui lembaga yang disebut dengan wasiat wajibah . Wasiat wajibah ialah suatu wasiat yang wajib dilaksanakan oleh pelaku yang membagi warisan, yaitu memberi hak mewaris bagi cucu yang orang tuanya telah meninggal mendahului datuknya. Hak itu sesuai dengan bagian mendiang orang tuanya jika dia masih hidup dan maksimal sepertiga warisan. Teori wasiat wajibah ini didasarkan atas Al-Quran S.2 Al-Baqarah 180 dan pendapat Ibnu Hazmin bahwa seorang hakim berwenang menetapkan apa yang menjadi kemantapan hati atau wasiat yang berasal dari dirinya sendiri: اَنْ يَنْفُذَ الْقَاضِي بَعْضَ الْوَصَايَا مِنْ تِلْقَاءِ نَفْسِهِ ( ابو زهرة -التركة والموارث 1963 ص 278) Artinya”Hakim hendaklah melaksanakan sementara wasiat dari dirinya sendiri”(Abu> Zahrah-At-Tirkatu wal mawa>rits, 1963 h.278). Pemerintah Mesir menetapkan hukum Wasiat Wajibah ini dengan aturan perundang-undangan no.71 tgl.1 Agustus 1946. Selanjutnya di sisi lain Hukum Patah Titi dalam Hukum Adat Indosenia, mengatur hukum penggantian waris, khususnya cucu bahwa cucu itu berhak mewaris atas hak bagian mendiang orang tuanya yang meninggal mendahului pewaris yang dalam hal ini ialah kakek si cucu. Hazairin (1982:57) berpendapat bahwa tidak ada ayat Al-Quran yang dimansukh, dengan mengingat persyaratan: In taraka khairan ان ترك خيرا ) ) dan Bil-Ma’ru>f (بالمعروف) maka wasiat yang ditentukan Allah dalam Al-Quran S.2 Al-Baqarah 180 itu dimaksudkan untuk hal-hal yang khusus mengenai ayah, ibu, anak, saudara yang mungkin sakit lumpuh atau terlantar sangat menderita, mungkin ada anak yang berbakat dan sangat brilian dalam suatu disiplin ilmu, genius, perlu biaya ekstra, masing-masing perlu diberikan wasiat, maksimal 1/3 warisan. 3. Tolan seperjanjian Sumpah setia perasahabatan sudah menjadi adat kebiasaan masyarakat Arab di jaman Jahiliyyah. Pada mulanya sumpah ini dibuat untuk memperkuat pertahanan suatu kelompok masyarakat dalam menghadapi lawan yang mungkin akan mengganggu atau memeranginya. Ah}mad Ibra>hi>m Syari>f dalam kitabnya Makkatu wal Madi>natu fi>l Ja>hiliyyati wa ‘Ahdir Rasu>>>l Saw.(tth:59) mencatat bahwa sumpah setia ini dilakukan oleh masyarakat Arab antar suku dan kabilah, bahkan antar suku-suku Arab dengan orang Yahudi. Dari sumpah setia antar suku kemudian juga berkembang ke sumpah perjanjian persahabatan antar individu-orang perorang. Lembaga sumpah ini juga disinggung-singgung oleh Al-Quran dalam beberapa tempat, yaitu: S.8 Al-Anfa>l 75; S.33 Al-Ah}za>b 22; S.59 Al-Hasyr 11; S.9 At-Taubat 14; S.3 A
  • n 28. Sumpah setia persahabatan, mereka buat bukan hanya untuk kepetingan konfrontasi politik dan peperangan, tetapi sumpah setia juga dibuat demi untuk perbuatan kebajikan umum. Umar A.Farru>>>kh dalam bukunya Ta>ri>khul Ja>hiliyyah (1984:133) mencatat bahwa dijaman dahulu telah dibuat sumpah setia yang disebut dengan H}ilful Muthayyibi>n antara Banu> Abdu Mana>f dengan kabilah yang lain mereka bersumpah untuk sungguh-sungguh menjaga Ka’bah dan upacara ibadah haji. Kemudian H}ilful Fudlu>l, disana terdapat. 5 kabilah, mereka bersumpah untuk tidak melakukan kezaliman di tanah suci Makkah oleh yang kuat kepada yang lemah. Kedua sumpah perjanjian ini dibuat sebelum kerasulan Nabi Muhammad Saw. kira-kira sekitar tahun 515M. Ketika Rasul Saw. datang di Madinah beliau mempersaudarakan golongan Muhajirin dengan Anshar, sampai memberikan hak saling mewaris antar mereka. Tetapi setelah turun Al-Quran S.4 An-Nisa>` 33 dan S.8 Al-Anfa>l 75, waris mewaris cara ini dilarang (HR.Bukha>ri> hadis no.6235) Al-Wahidi dalam kitabnya Sababun Nuzu>l (1984:144) sebagaimana tercatat dalam Latar belakang turunnya ayat tercantum dimuka, mencatat bahwa tolan seperjanjian tidak berhak menerima warisan, namun disebutkan di sana untuk mereka boleh diberi wasiat. KHI-Pasal 172 menetapkan adanya persyaratan untuk mewaris ialah harus beragama Islam, artinya ialah bahwa ahli waris non muslim tidak dapat menerima warisan, sedangkan pasal 173 menetapkan bahwa anak yang membunuh atau menfitnah almarhum orang tuanya dia terhalang untuk menerima warisan. Berdasarkan hadis Bukha>ri> no. 6250 di atas maka kepada tolan seperjanjian tidak diberi bagian dari warisan tetapi dapat diberi bagian melalui wasiat dan menurut hadis Bukha>ri> no. 2537 maka wasiat itu maksimal 1/3 harta warisan. KHI pasal 209 ayat (1) menetapkan bahwa harta peninggalan anak angkat dibagi berdasarkan pasal 176-193 yaitu hukum waris umum, sedangkan kepada orang tua angkat yang tidak menerima wasiat, maka dia diberi wasiat wajibah maksimal 1/3 warisan dari anak angkat. Ayat (2) Anak angkat yang tidak menerima wasiat, maka dia diberi wasiat wajibah dari harta warisan orang tua angkat maksimal 1/3 harta warisan. Kesimpulannya ialah bahwa kepada mereka yang termasuk dalam ahli waris sedarah atau terhalang haknya, maka kepada mereka ini dapat diberi wasiat maksimal sepertiga warisan. Tercakup dalam kelompok ini ialah: Anak angkat; 2) Tolan seperjanjian; 3) Yang berbeda agama; 4) Yang menfitnah pewaris atau berusaha membunuh. Yang terakhir ini mungkin sudah bertobat. ——–(28)— —- ANAK ANGKAT I. S.33 AL-AH}ZA>>B 4-5 مَا جَعَلَ اللَّهُ لِرَجُلٍ مِنْ قَلْبَيْنِ فِي جَوْفِهِ وَمَا جَعَلَ أَزْوَاجَكُمُ اللَّائِي تُظَاهِرُونَ مِنْهُنَّ أُمَّهَاتِكُمْ وَمَا جَعَلَ أَدْعِيَاءَكُمْ أَبْنَاءَكُمْ ذَلِكُمْ قَوْلُكُمْ بِأَفْوَاهِكُمْ وَاللَّهُ يَقُولُ الْحَقَّ وَهُوَ يَهْدِي السَّبِيلَ(4)ادْعُوهُمْ لِآبَائِهِمْ هُوَ أَقْسَطُ عِنْدَ اللَّهِ فَإِنْ لَمْ تَعْلَمُوا ءَابَاءَهُمْ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ وَمَوَالِيكُمْ وَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ فِيمَا أَخْطَأْتُمْ بِهِ وَلَكِنْ مَا تَعَمَّدَتْ قُلُوبُكُمْ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا( الاحزاب 4-5) II.Artinya: “Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya; dan Dia tidak menjadikan isteri-isterimu yang kamu Zhiha>r itu sebagai ibumu, dan Dia tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak kandungmu (sendiri). Yang demikian itu hanyalah perkataanmu di mU>lu>tmu saja. Dan Allah mengatakan yang sebenarnya dan Dia menunjukkan jalan (yang benar) Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang lebih adil pada sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggillah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan Maula>>-Maula>>mu. Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yangdisengaja oleh hatimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”(S.33Al-Ah}za>b 4-5) III. Tafsir dan analisa A. Pengertian kata-kata = قَلْبَيْن Dua buah hati = فِي جَوْفِه Di dalam rongga perutnya = تُظَاهِرُونَ Kamu mengucapkan Zhiha>r. Yang dinamakan Zhiha>r ialah ucapan suami yang maksudnya mengharamkan hubungan dia dengan isterinya sendiri dengan menyamakan isteri sendiri sama dengan ibunya suami, maksudnya haram seperti haramnya mengawini ibu sendiri = أَدْعِيَاءَكُمْ Kata-kata ini jamak dari lafal da’iyyun, artinya seorang bocah yang diangkat dan dipanggil sebagai anak seperti anaknya sendiri = بِأَفْوَاهِكُمDengan mulut-mulut kalian, maksudnya ialah akal manusia لِآبَائِهِمْ Untuk bapak-bapak mereka, maksudnya jangan mengaitkan anak kepada seseorang yang bukan bapak anak itu, tetapi kita harus mengaitkan nasabnya seorang anak kepada bapak anak itu semdiri = أَقْسَطُ Lebih adil, maksudnya cara yang lebih mendekati kebenaran فَإِخْوَانُكُم = Maka dia itu menjadi saudaramu, maksudnya ialah saudara seagama, sama-sama beragama Islam = مَوَالِيكُمْ Kata-kata Mawa>li> jamak dari lafal Maula>>, artinya bisa budak, bisa tuan atau kekasih. Maksudnya ialah orang tersebut dapat menjadi ahli waris جُنَاحٌ = Dosa = أَخْطَأْتُمْ Kalian bersalah = تَعَمَّدَتْ Sengaja = قُلُوبُكُمْ Oleh hati kalian B. Latar belakang turunnya ayat 3699 عَنْ عَائِشَةَ رَضِي اللَّهم عَنْهَا زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ أَبَا حُذَيْفَةَ وَكَانَ مِمَّنْ شَهِدَ بَدْرًا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَبَنَّى سَالِمًا وَأَنْكَحَهُ بِنْتَ أَخِيهِ هِنْدَ بِنْتَ الْوَلِيدِ بْنِ عُتْبَةَ وَهُوَ مَوْلًى لِامْرَأَةٍ مِنَ الْأَنْصَارِ كَمَا تَبَنَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَيْدًا وَكَانَ مَنْ تَبَنَّى رَجُلًا فِي الْجَاهِلِيَّةِ دَعَاهُ النَّاسُ إِلَيْهِ وَوَرِثَ مِنْ مِيرَاثِهِ حَتَّى أَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى ( ادْعُوهُمْ لِآبَائِهِمْ ) (رواه البخاري ) Artinya: Dari ‘A H}uzaifah ibnu ‘Utbah salah seorang yang ikut perang Badar bersama dengan Rasul Saw. dia mengangkat anak namanya Sa>lim. Dia dinikahkan dengan anak dari anak perempuan saudara laki-lakinya namanya Hindun bintil Wa>lid. Dia itu Maula>> seorang dari seorang Anshar . Peristiwanya sama dengan Nabi Saw. mengangkat anak bernama Zaid . Di jaman Jahili orang yang mengangkat anak maka orang-orang memanggilnya dikaitkan dengan bapak angkatnya dan dia mendapat warisan. Demikian berlaku sampai Allah menurunkan S.33 Al-Ah}za>b 5 bahwa anak angkat harus dipanggil dan dikaitkan dengan nama bapak aslinya’(HR. Bukha>ri> hadis no.3699) C. Tema dan sari tilawah Dari pengertian kata dan latar belakang turunnya ayat terurai di atas maka dapat disusun tema dan sari tilawah S.33 Al-Ah}za>b 4-5 di atas sebagai berikut: 1.Tiap kelompok masyarakat tentu mempunyai dasar pemikiran tentang tujuan hidup. Dasar pemikiran itu membentuk langkah dan tindakan yang diduga sebagai langkah dan tindakan yang benar dan paling baik. Dari langkah dan tindakan ini terbentuklah adat kebiasaan dan berkembang menjadi tradisi sampai kepada kebudayaan kelompok masyarakat 2.Masyarakat Arab Jahiliyah mempunyai sejumlah adat kebiasaan dari tradisi kebudayaan mereka yang berlaku sejak jaman yang lama sampai ketika Al-Quran diturunkan Sebagian dari adat kebiasaan itu ialah adat Zhiha>r dan mengangkat anak a) Zhiha>r ialah ucapan suami mengharamkan diri berhubungan dengan isterinya melalui ucapan yang menyamakan isteri sama dengan ibunya suami b) Mengangkat anak (adopsi), yaitu mengakui seorang anak dari luar diaku sebagai anaknya sendiri dan mengaitkan hukum perkawinan dan hukum waris bagi anak yang diangkat ini 3.Al-Quran memberikan peringatan kepada para pemangku adat kebiaaan itu, bahwa Zhiha>r dan pengangkatan anak tidak dapat dibenarkan oleh Allah, sehingga harus dihentikan 4.Adat kebiasaan tersebut merupakan suatu ucapan yang tidak benar tetapi kata-kata yang benar ialah firman Allah 5.Untuk pengangkatan anak harus dinisbatkan kepada bapak aslinya, jika bapaknya tidak diketahui maka dia adalah saudara orang-orang yang beriman dan menjadi Mawa>li> dari orang yang beriman 6.Kekeliruan perbuatan yang timbul karena khilaf atau keliru tidak akan dituntut oleh Allah, tetapi kekeliruan yang memang disengaja akan mendapat hukuman atas pebuatannya 7.Allah itu Maha pengampun Maha pengasih D. Masalah dan analisa Dari tema dan sari tilawah ayat 4-5 Al-Ah}za>b di atas terkandung banyak masalah yang perlu dilakukan pendalaman lebih lanjut, maka masalah itu harus ditelusuri bagaimana jawaban atau penyelesaiannya. Adapun masalah- masalah itu adalah sebagai berikut: 1.Apakah tujuan hidup manusia dan apakah dengan akal saja manusia dapat mencapai apa yang disebut baik dan benar? 2.Apa saja adat kebiasaan, tradisi kebudayaan Arab Jahiliyah itu? 3.Bagaimana peringatan Al-Quran terhadap berbagai macam adat-kebiasaan tradisi kebudayaan Arab Jahiliyah dahulu itu? 4.Bagaimanakah hukum Zhiha>r itu dan bagaimana pula hukum tentang pengangkatan anak itu menurut hukum Islam ? 5.Bagaimanakah jalan keluar mengatasi soal keinginan suatu keluarga untuk ikut menikmati kemesraan atas adanya anak keturunan ? E. Tinjauan dan pemikiran Kelima persoalan di atas memang cukup sulit pemecahannya, namun di sini perlu ditelusuri dengan usaha sungguh-sungguh, yaitu: 1. Tujuan hidup dan potensi akal manusia ~ Secara sosiologis tujuan hidup manusia ialah memelihara hidup diri agar supaya hidup dan hidup terus bahkan ingin hidup yang lebih baik lagi. ~ Secara Islami maka tujuan hidup manusia tidak lain kecuali untuk mengabdi kepada Allah (S.51 Adz-Dza>riya>t 56) Allah telah memberi bekal kepada manusia berupa akal yang penuh dengan potensi yang sangat besar dan karena kecerdasan akal ini maka N.Adam lebih terhormat sedang para malaikat mendapat perintah Allah untuk sujud kepada Adam (S.2 Al-Baqarah 34). Akan tetapi selama akal itu dikaitkan dengan manusia maka hasil pemikiran akal itu tetap bersifat spekulatip-hipotetis ditambah lagi dengan sifatnya sebagai makhluk, maka manusia itu mempunyai sifat kalah sempurna dibanding dengan sifat Maha Sempurna Tuhan. Oleh karena itu bagaimanapun juga hebatnya kemampuan akal, namun suatu ketika manusia akan menghadapi sesuatu yang ada di luar kekuatan akal manusia. Sehingga pada saat akal manusia tidak mampu dan tidak dapat mengatasi kemusykilan-kemusykilan itu maka akal manusia harus berlindung di bawah wahyu dari Tuhan. Demikian pendapat para ulama Islam dari yang Jabariyah bahkan sampai para ulama Mu’tazilah, termasuk Muh}ammad ‘Abduh sendiri ( ‘Abduh 1965:101). 2. Adat kebiasaan dan tradisi kebudayaan masyarakat Arab Jahiliyah Perlu difahamkan lebih dahulu apa yang disebut adat kebiasaan, tradisi dan kebudayaan dengan berbagai kaitannya, sebagai berikut: a. Adat kebiasaan, tradisi dan kebudayaan Setiap saat tiap manusia pasti selalu akan menghadapi tantangan dan ujian. Pada waktu inilah manusia dipaksa untuk mengambil langkah dan tindakan untuk mengatasi tantangan dan menjawab soal ujian yang sedang menghadangnya. Dasar pemikiran yang bergolak dalam benak otaknya ialah masalah berikut: (1)Bagaimana langkah dan tindakannya untuk mempertahankan hidupnya jangan sampai mati? (2)Bagaimana memilih langkah dan tindakan untuk bisa hidup dan tetap hidup terus? (3)Bagaimana memilih langkah dan tindakan untuk memelihara hidupnya dan hidup terus bahkan hidup yang lebih baik lagi? Melalui modal yang ada di dalam dirinya terutama dari kecerdasan akalnya, dalam usaha mengatasi masalah dan menjawab ujian-ujian hidup itu pilihan oleh manusia tidak semuanya didasarkan atas pikiran yang sehat, tetapi pilihan ini timbul ari salah satu dari tiga kemungkinan di bawah ini: -Pertama pemilihan ini memang didasarkan atas logika dan kecerdasan akalnya dipikir dengan serius dipilih serta ditetapkan langkah dan tindakan yang benar dan paling baik -Kedua karena kebetulan yang mendadak tanpa disengaja sama sekali dia bertindak di luar rencana -Ketiga tidak setiap manusia memanfaatkan kecerdasan akalnya, sebagian adalah pemalas, sehingga pemilihan langkah dan tindakan ini hanya didasarkan atas pemikiran yang ngawur tidak dipikirkan dengan serius dengan akal yang sehat atau logika yang lurus. Jika langkah dan tindakan ini berkembang menjadi adat atau hukum adat maka adat yang baik ialah yang nomer pertama. Bagian kedua dan ketiga tidak dapat dijadikan suatu tatanan hidup untuk dilestarikan oleh manusia. Jika seandainya langkah dan perbuatan yang dipilih itu ternyata membawa diri yang bersangkutan menjadi selamat, beruntung dan dipuji menyenangkan, maka langkah dan perbuatan ini lalu diulang-ulang, lalu langkah perbuaan ini dinamakan kebiasaan. Jika kebiasaan ini diikuti oleh orang lain bahkan diikuti pula oleh orang banyak dan diulang-ulang terus menerus oleh orang banyak ini maka kebiasaan ini dinamakan adat. Ibnul Manzhu>r dalam Lisa>nul ’Arab (tth:3 / 311) menyatakan bahwa adat ialah kebiasaan yang diakui baik dan diulang-ulang.Menurut Al-Ghaza>li>, Abdul Wahha>b Khalla>f mengatakan bahwa lafal Al-‘Aghib dalam Mufarada>t (tth:343) mencatat bahwa lafal Al’Urfu itu artinya ialah Al-Ma’ru>f maknanya ialah sesuatu yang dinilai baik oleh manusia. Dan dalam pandangan hukum Islam Al-Ma’ru>f ialah sesuatu yang diakui baik menurut akal manusia dan menurut Tuhan. Moh.Korsnoe dalam bukunya Pengantar ke dalam Hukum Adat Indonesia (1971:4 dan 10) mencatat bahwa Adat ialah tatanan hidup yang bersumber dari rasa susila mereka yang melakukannya. Hukum Adat ialah adat yang jelas sanksi hukuman atas pelanggar tatanan hidup itu. Jika adat ini dilakukan terus menerus dan tidak pernah ditinggalkan bahkan siapa yang menyelisihi atau tidak melaksanakannya akan mendapat hukuman oleh masyarakat, maka adat istiadat ini disebut Hukum Adat. Jika Hukum Adat ini diwariskan dan diwarisi oleh suatu masyarakat generasi demi generasi mereka, maka lalu dinamakan Tradisi. Sejumlah tradisi yang sudah meluas menjadi milik suatu bangsa dinamakan Kebudayaan. Berbagai macam kebudayaan dari berbagai macam bangsa yang berlaku di seluruh dunia dalam suatu jaman dinamakan Peradaban. b. Adat kebiasaan masyarakat Arab Jahiliyah Pada jaman Jahiliyah bangsa Arab mempunyai berbagai macam adat kebiasaan dan sebagian sudah diyakini sebagai Hukum Adat, yaitu: 1)Suka berperang; 2) Pebudakan; 3) Hukum Patrilineal; 4) Menguburkan bayi wanita; 5)Menyembah berhala; 6)Minum khamr dan berjudi; 7)Hutang nyawa dibalas nyawa; 8)Takhayul dan khurafat; 9)Sumpah janji persahabatan; 10)Riba; 11) Thawaf dan Haji; 12)Menhormati bulan-bulan suci; 13)Kepercayaan tauhid; 14)Zhiha>r; 15) Mengangkat anak laki-laki. Dan masih banyak lagi. 3.. Peringatan Al-Quran terhadap adat kebiasaan Jahiliyah Ada tiga macam peringatan Al-Quran terhadap adat-kebiasaan Arab Jahiliyah ini, yaitu: a) Ditolak mutlak misalnya adat menyembah berhala, minum khamr dan berjudi, takhayul dan khurafat. b) Diterima setelah dibersihkan unsur-unsur negatipnya, misalnya: Sumpah janji persahabatan, thawaf dan haji, c) Diterima sepenuhnya misalnya: kepercayaan tauhid, kepercayaan adanya bulan-bulan suci. Sebagian dari adat kebiasaan Arab Jahiliyah itu ialah adat Zhiha>r dan adat mengangkat anak. Oleh karena adat kebiasaan Zhiha>r dan mengangkat anak ini tidak bisa diterapkan secara universal, tidak dapat diberlakukan atas seluruh umat manusia untuk segala bangsa bagi semua jaman, maka kedua adat kebiasaan ini ditolak oleh Allah melalui Al-Quran S.33 Al-Ah}za>b 4-5 dan untuk adat Zhiha>r disinggung juga dalam S.58 Al-Muja>dalah1-6. 4. Hukum Zhiha>r dan pengangkatan anak a.Hukum Zhiha>r Zhiha>r ialah sumpah suami tidak akan menggauli isterinya, maka hukumnya haram, disebut dalam S.58 Al-Muja>dalah 2 . Kepada mereka yang melanggar sumpahnya sendiri yaitu kembali rukun dan menggauli isteri maka dia wajib membayar Kifa>rat atau tebusan yaitu memerdekakan budak atau berpuasa dua bulan berturut-turut atau memberi makan 60 orang miskin. Tebusan ini tidak bisa dipilih, tetapi harus urut dari noner pertama, jika tidak bisa lalu menebus sumpah melalui tebusan yang kedua. Jika yang kedua tidak bisa maka tebusan yang ketiga tidak boleh memilih b. Hukum mengangkat anak Mengangkat anak yang dimaksud disini ialah mengangkat seorang anak dan mengaitkan nasab anak itu kepada bapak angkat dan menerapkan hukum perkawinan maupun hukum waris kepada anak ini. Mengangkat anak seperti ini hukumnya haram.Yang diharamkan oleh Al-Quran berkaitan dengan pengangkatan anak tersebut ialah mengaitkan nasab seseorang kepada orang lain yang bukan bapak aslinya. Dalam hal ini ada beberapa hadis Rasul Saw. yaitu sbb: 3246عَنْ أَبِي ذَرٍّ رَضِي اللَّهم عَنْهم أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَيْسَ مِنْ رَجُلٍ ادَّعَى لِغَيْرِ أَبِيهِ وَهُوَ يَعْلَمُهُ إِلَّا كَفَرَ وَمَنِ ادَّعَى قَوْمًا لَيْسَ لَهُ فِيهِمْ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ (رواه البخاري ومسلم 92)* Artinya: “Dari Abu> Dzarr R.A bahwa dia mendengar Nabi Saw. bersabda: “Sungguh kafir-lah orang yang mengaku anak dari seorang laki-laki padahal dia tahu memang orang itu bukan bapaknya. Dan barang siapa mengaku anggota suatu kelompok padahal sebetulnya bukan dari kelompok ini, maka siapkan pantatnya di neraka”(HR.Bukha>ri> CD no. 3246 dan Muslim CD no.92). 2433عَنْ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ َمَنِ ادَّعَى إِلَى غَيْرِ أَبِيهِ أَوِ انْتَمَى إِلَى غَيْرِ مَوَالِيهِ فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللَّهِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ لَا يَقْبَلُ اللَّهُ مِنْهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ صَرْفًا وَلَا عَدْلًا (رواه مسلم )* Artinya: “Dari ‘Ali> ibnu Abi> Tha>lib bahwa Nabi Saw. bersabda: “Barang siapa mengaku dirinya anak dari seseorang yang bukan bapaknya sendiri atau mengaku Maula>> dari orang yang bukan mantan tuannya, maka dia mendapat laknat dari Allah, dari malaikat dan semua orang. Allah tidak menerima usulan dan tidak menerima tebusan untuk dia di hari kiamat” (HR Muslim CD no. 2433; Abu> Da>wu>d 4451) @ Anak angkat dalam kaitannya dengan Hukum Waris Dalam Hukum Islam anak angkat tidak termasuk ahli waris, sehingga dia tidak berhak menerima warisan.Surat Al-Anfa>l 75 menegaskan bahwa ahli waris sedarah lebih berhak mengalahkan orang-orang yang tidak mempunyai hubungan darah dengan almarhum pewaris. وَالَّذِينَ ءَامَنُوا مِنْ بَعْدُ وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا مَعَكُمْ فَأُولَئِكَ مِنْكُمْ وَأُولُو الْأَرْحَامِ بَعْضُهُمْ أَوْلَى بِبَعْضٍ فِي كِتَابِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ (الانفال75) Artinya: “Dan orang-orang yang beriman sesudah itu, kemudian berhijrah dan berjihad bersamamu maka orang-orang itu termasuk golonganmu (juga). Orang-orang yang mempunyai hubungan itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya (daripada yang kerabat) di dalam kitab Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”(S.8 Al-Anfa>l 75) Walaupun demikian Al-Quran tidak menutup pintu terlalu rapat, kepada mereka itu dimungkinkan bisa mendapat bagian warisan melalui kandungan Al-Quran berikut: النَّبِيُّ أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ وَأَزْوَاجُهُ أُمَّهَاتُهُمْ وَأُولُو الْأَرْحَامِ بَعْضُهُمْ أَوْلَى بِبَعْضٍ فِي كِتَابِ اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ إِلَّا أَنْ تَفْعَلُوا إِلَى أَوْلِيَائِكُمْ مَعْرُوفًا كَانَ ذَلِكَ فِي الْكِتَابِ مَسْطُورًا (الاحزاب 6) Artinya: “Dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah satu sama lain lebih berhak (waris mewarisi) di dalam Kitab Allah daripada orang-orang mukmin dan orang-orang Muhajirin, kecuali kalau kamu mau berbuat baik kepada saudara-saudaramu (seagama). Adalah yang demikian itu telah tertulis di dalam Kitab (Allah).”(S.33 Al-Ah}za>b 6). Dalam Hukum Adat Indonesia dibedakan jenis-jenis anak angkat, yaitu: Anak panutan, anak pupon, anak pungut, anak piara, anak titip dan anak angkat. Jika anak tersebut sudah diresmikan sesuai dengan Hukum Adat yang berlaku maka dalam Hukum Adat anak angkat itu mempunyai hak atas harta warisan dari orang tua angkatnya. Dalam catatan Hilman Hadikusumo dalam bukunya Hukum Waris Adat (1980:90) maka di Jawa anak angkat itu dikatakan Ngangsu soko sumur loro, maksudnya ialah bahwa anak angkat itu mendapat warisan dari orang tua angkat dan orang tua asli. Namun menurut Keputusan Mahkamah Agung tgl.18 Maret 1959, no.37/k/Sip/1959, anak angkat hanya dapat menerima warisan dari harta Gono-gini yaitu harta hasil pencaharian saja dan tidak berhak atas harta asal. Hilman Hadikusumo juga mencatat bahwa telah menjadi adat bahwa orang tua angkat melakukan wasiat atau hibah untuk anak angkat sebelum dia meninggal, karena dalam Hukum Waris Islam anak angkat tidak mendapat hak mewasris. Adat pengangkatan anak ini sangat marak dalam masyarakat dari berbagai macam bangsa di mana-mana, seperti dalam masyarakat Arab sendiri. Demikian juga di Indonesia misalnya di Minahasa mengangkat anak ini dinamai Ngaranan dan di Bali disebut dengan Makehidang raga. Khusus di Indonesia, maka sidang seminar Departemen Agama RI tanggal 5 s/d 9 April 1983 memutuskan untuk memberikan bagian harta warisan kepada anak angkat melalui dasar landasan Al-Quran berikut: وَلِكُلٍّ جَعَلْنَا مَوَالِيَ مِمَّا تَرَكَ الْوَالِدَانِ وَالْأَقْرَبُونَ وَالَّذِينَ عَقَدَتْ أَيْمَانُكُمْ فَآتُوهُمْ نَصِيبَهُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدًا( النساء 33) Artinya: Bagi tiap-tiap harta peninggalan dari harta yang ditinggalkan ibu bapak dan karib kerabat, Kami jadikan pewaris-pewarisnya. Dan (jika ada) orang-orang yang kamu telah bersumpah setia dengan mereka, maka berilah kepada mereka bahagiannya. Sesungguhnya Allah menyaksikan segala sesuatu”(S.4 An-Nisa>` 33). Berdasarkan bunyi lafal وَالَّذِينَ عَقَدَتْ أَيْمَانُكُمْ (Walladzi>na ‘aqadat aima>nukum) maksudnya ialah bahwa melalui lembaga yang disebut Al-H}ilfu yaitu suatu sumpah setia persahabatan antar orang seorang atau suatu kelompok dengan kelompok lain yang bersumpah setia menjunjung tinggi persaudaraan yang sangat erat sampai bahkan saling waris mewaris. Para ahli hukum Islam memasukkan lembaga adopsi atau pengangkatan anak ini ke dalam lingkungan Sumpah Setia Persahabatan yang disebut-sebut Allah dalam Al-Quran S.4 An-Nisa>` 33 ini. Sidang seminar ini memberikan hak bagian warisan kepada anak angkat asal dalam pembagian warisan itu si pewaris (orang tua angkat) tidak meninggalkan ahli waris yang menghabiskan harta warisan. Hazairin dalam bukunya Hukum Kewarisan Bilateral Menurut Al-Quran dan Hadith (1982:43) bahwa orang yang mengikat Perjanjian Pertolanan tersebut haruslah seseorang yang tidak mempunyai ahli waris U>lu>l-Arh}a>m sama sekali, jika di sana masih ada ahli waris U>lu>l-Arh}a>m, maka pewarisan yang didasarkan atas Pejanjian Pertolanan itu tidak boleh lebih dari sepertiga warisan identik dengan hukum wasiat. (Persahabatan menurut istilah Hazairin Pertolanan). Secara kritis faktor yang menimbulkan adanya adat pengangkatan anak ini ada dua masalah, yaitu: Pengangkatan anak dapat dinilai sebagai suatu jalan menyalurkan rasa kasih sayang dan cinta kasih seseorang kepada seorang anak, dengan cara mengasuh, mendidik dan membantu memenuhi segala keperluan pertumbuhannya serta mendewasakan diri sama sekali bukan dimaksud untuk memasukkan dia ke dalam wangsa keluarganya. Santunan ini benar-benar sangat terpujidan sangat digalakkan oleh Allah dalam Al-Quran dalam banyak surat dan ayat. Adapun pengangkatan anak dengan maksud seperti adat kebiasaan masyarakat Arab Jahiliyyah dengan memasukkan si anak itu ke dalam wangsa bapak angkat bahkan dia dipanggil dikaitkan kepada nama bapak angkatnya sampai memberlakukan hukum perkawinan maupun hukum waris kepadanya, maka pengangkatan anak seperti inilah yang diharamkan oleh Allah melalui Al-Quran S.33 Al-Ah}za>b 4, 5 dan 6 terurai diatas. 5. Anak Asuh & Anak Yatim Kata-kata Yatim asal dari bahasa Arab yang sudah masuk menjadi bahasa Indonesia. Asal katanya dari Al-Yatmu atau Al-Yutmu ( (اليتم – اليتم artinya sedih atau sendirian dan menurut Ar-Raghib (tth:575) lafal Al-Yatmu ini artinya terputus. Lafal Al-Yati>mu اليتيم ) ) artinya anak yang terputus dari bapaknya, yaitu bahwa sebelum dia meningkat dewasa bapaknya meninggal. Pengertian ini difaham dari Al-Quran S.93 Adh-Dhuh}a> 3, Al-Yati>m jamaknya Al-Yata>ma>( اليتامي) Kita semua benar-benar wajib berhati-hati menjaga harta milik anak yatim karena haram hukumnya memakan harta anak yatim atau mencampur harta anak yatim masuk ke dalam harta kita itu terlarang. Allah memperingatkan hal ini di dalam Al-Quran S.4 An-Nisa>` 10, S.17 Al-Isra>` 4. Orang yang beriman dilarang keras membuat reka yasa dengan niat untuk menggrogoti harta anak yatim S.4 An-Nisa>` 3 dan 127. Kita semua wajib menyantuni anak yatim tidak cukup hanya dengan menjaga hartanya saja, tetapi juga harus bersikap yang santun, ramah dan tidak boleh menggertak dan harus berbuat ihsan kepada mereka, mengingat Al-Quran S.93 Adh-Dhuh}a> 9;S.89 Al-Fajri 17;S.2 Al-Baqarah 83; S.4 An-Nisa>` 36. Cara menyantuni anak yatim itu mencakup pemberian bantuan materi, bingkisan hadiah, uang jaminan, bantuan dana terutama pendidikannya sebagaimana disinggung-singgung di dalam Al-Quran S.90 Al-Balad 15-19; S.76 Al-Insa>n 8; S.8 Al-Anfa>l 41; S.59 Al-H}asyr 7. Rasulullah Saw. sangat bangga kepada para pengasuh anak yatim dan menyatakan sebagai berikut: 5296 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَافِلُ الْيَتِيمِ لَهُ أَوْ لِغَيْرِهِ أَنَا وَهُوَكَهَاتَيْنِ فِي الْجَنَّةِ وَأَشَارَ مَالِكٌ بِالسَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى (رواه مسلم)* Artinya: “Orang yang menanggung anak yatim baik dari keluarganya sendiri atau dari orang lain, maka aku dengan dia itu persis seperti dua jari ii kelak di dalam surga. Beliau memberi isyarat memperlihatkan jari telunjuk dengan jari tengah”(HR.Muslim). Menyantuni anak yatim dengan model anak asuh atau dikeluargakan cara ini merupakan jalan yang sangat tepat, sesuai dengan penafsiran penulis Al-Mana>r terhadap S.2 Al-Baqarah 220 lafal yang berbunyi : وَانْ تُخَالِطُوْهُمْ فَاِخْوَانُكُمْ (القرة 220)= “Jika kamu campur mereka (di rumah) maka mereka itu adalah saudaramu”. Ditafsirkannya sebagai berikut: اَنْ تُعَامِلُوْهُمْ مُعَامَلَةً لِاِخْوَةٍ فِيْ ذَالِكَ فَيَكُوْنَ الْيَتِيْمُ فِيْ الْبَيْتِ كَالْاَخِ الصَّغِيْرِ (المنار ج2ص343) Artinya: “Hendaklah kalian menyantuni mereka itu seperti mnyantuni saudara sendiri dalam hal ini sehingga anak yatim tersebut persis seperti adiknya sendiri yang kecil”(Al-Mana>r tth:Juz 2 /..343). Mengasuh anak dengan dikeluargakan maksudnya ialah menyantuni anak kecil dengan cara dimasukkan sebagai keluarga sendiri tinggal serumah dengan menganggap mereka sebagai kelauarga sendiri, makan minum bersama dengan santunan seluruh kebutuhan pertumbuhannya persis seperti anak sendiri. Alangkah indahnya jika seandainya sistem pengangkatan anak atau sistem adopsi ini mengambil anak yatim dengan sistem anak yatim yang dikeluargakan menurut teori Muh}ammmad ‘Abduh tersebut dia atas. Sebab mengasuh anak yatim merupakan suatu amal yang sangat mulia yang digalakkan diserukan dengan sanjungan dan pahala yang sangat besar. —————————(29)——————————- TASHA>LUH} (Perdamaian) I.S. An-Nisa>` 128 وَإِنِ امْرَأَةٌ خَافَتْ مِنْ بَعْلِهَا نُشُوزًا أَوْ إِعْرَاضًا فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا أَنْ يُصْلِحَا بَيْنَهُمَا صُلْحًا وَالصُّلْحُ خَيْرٌ وَأُحْضِرَتِ الْأَنْفُسُ الشُّحَّ وَإِنْ تُحْسِنُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا(128) II. Atinya “Dan jika seorang wanita khawatir akan Nusyu>z atau sikap tidak acuh dari suaminya, maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya, dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka) walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir, Dan jika kamu bergaul dengan isterimu secara baik dan memelihara dirimu (dari Nusyu>z dan sikap tak acuh), maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” ( S.4 An-Nisa>`128). III. Tafsir dan analisa A. Pengertian kata-kata خَافَتْ = Dia kawatir, maksudnya ialah bahwa isteri melihat gejala-gejala yang mengawatirkan akan tertikaian . نُشُوْزًا =Keengganan, arti aslinya ialah bangun dari duduk maksudnya ialah bahwa suami tampak tidak acuh kepada isteri, enggan dan berpaling, maksudnya yaitu bahwa suami menampakkan tanda-tanda yang dapat diduga bermaksud akan menceraikan isteri. يُصْلِحَا = Dua orang berdamai, maksudnya suami isteri berunding tawar-menawar (take and give) tentang hak dan kewajiban masing-masing terhadap lainnya اَلشٌّحُّ = Sangat kikir, maksudnya tidak mau mengalah, tidak mau berkorban B. Latar belakang turunnya ayat Salah seorang isteri Rasul Saw. bernama Saudah, dia merasa kawatir akan diceraikan oleh Rasul Saw. Maka Saudah memohon kepada Rasul Saw. agar supaya beliau tidak menceraikan dirinya dan sebagai imbalannya ialah bahwa hari-hari yang menjadi haknya dia serahkan kepada ‘‘A>isyah. Tawaran Saudah ini diterima oleh Rasulllah Saw. Kemudian turun Al-Quram S.4 An-Nisa>` 128 bahwa suami isteri boleh berdamai untuk mencegah akan terjadinya perceraian antar keduanya (HR.Turmudzi>> CD hadis no. 2966) C. Tema dan sari tilawah Dispekulasikan dari terjemah dan pengertian ayat di atas dengan riwayat Sababun Nuzu>l atau latar-belakang turunnya ayat seperti terurai ini dapat diambil tema pokok yang menjadi acuan masalah, yaitu sebagai berikut: 1. Suatu perkawinan dalam kehidupan rumah tangganya tidak selalu menikmati ketenangan dan kedamaian secara terus menerus. 2. Di sana akan selalu ada kemungkinan timbulnya pergeseran situasi dan kondisi yang tiba-tiba terjadi yang sangat mempengaruhi kedamaian hidup rumah tangga. 3. Suatu ketika mungkin pada diri suami terlihat gejala-gejala yang dapat dinilai sebagai benih retaknya kehidupan rumah tangga dan perkawinan itu. 4. Jika seandainya di sana timbul gejala-gejala yang dapat diduga bahwa si suami berubah pandangan dan ingin menceraikan isterinya, maka kedua belah pihak suami isteri harus segera mengadakan perdamaian untuk kerukunan perkawinannya. 5. Perdamaian itu sarat dan penuh hikmah rahasia. 6. Suatu perdamaian memang sangat sulit dilaksanakan, sebab tiap jiwa manusia mempunyai watak bawaan yang bermacam-macam, salah satunya ialah kikir dan sangat keberatan untuk mengorbankan kesenangannya. 7. Allah itu Maha Mengetahui apa saja yang kita perbuat. D. Masalah dan analisa Masyarakat itu dapat diklasifikasikan kepada beberapa tingkat, yaitu masyarakat manusia, masyarakat dunia, masyarakat suatu negara, masyarakat kota, masyarakat desa dan unit masyarakat yang pailng kecil yaitu keluarga. Al-Quran S.4 An-Nisa>` 128 dengan Sabab Nuzu>l-nya terurai di atas menggambarkan situasi dan kondisi maupun suka duka kehidupan suatu rumah tangga. Dan rumah tangga atau keluarga, adalah bagian yang terkecil dari masyarakat manusia dengan peringkat besar kecilnya seperti fakta di atas. S.4 An-Nisa>` 128 di atas memberikan tuntunan bahwa jika seandainya terasa gejala-gejala akan timbulnya pertikaian antar bagian-bagian suatu unit masyarakat satu pihak terhadap yang lain, masyarakat dalam skala yang paling kecil sampai massa yang paling besar, yaitu masyarakat manusia, maka diserukan kepada mereka sayogyanya segera dilakukan pendekatan dan usaha perdamaian. Perlu diingat bahwa usaha membuat suatu perdamaian itu sangat sulit, sebab pada dasarnya manusia itu mempunyai macam-macam tabiat salah satunya ialah kikir. Kikir disini maksudnya ialah bahwa manusia ingin sekali mempertahankan hak atas apa yang dimilikinya lebih ekstrem lagi ialah bahwa manusia itu sangat kikir dan tidak bersedia melepaskan hak dia untuk dikorbankannya guna memenuhi kebutuhan dan kesenangan orang lain. Dari tema dan uraian-isi kandungan Al-Quran S.4 An-Nisa>` 128 di atas, maka timbul beberapa pertanyaan dan untuk kali ini pertanyaan yang perlu mendapat perhatian untuk mendapat jawaban segera dan memperoleh pemecahannya, yaitu sebagai berikut: 1.Apa sebab timbul pertikaian dan konfrontasi antar berbagai macam unit masyarakat itu? 2.Bagaimana dan apa kunci usaha mencapai perdamaian dan kerukunan? 3, Bolehkah dilakukan perdamaian di dalam pembagian warisan? 4. Bagaimanakah pelaksanaan perdaimaian di dalam membagi harta warisan? E. Tinjauan dan analisa 1. Faktor penyebab timbulnya pertikaian Istilah pertikaian itu mempunyai beberapa sinonim kata, yaitu: perbedaan, perselisihan, pertentangan, pertengkaran, perkelaian, konfrontasi dan yang lebih berat ialah perang. Secara logika manusia tidak mungkin diciptakan Allah dalam persamaan yang menyeluruh, sehingga pada sepasang anak kembar sekalipun, di samping mempunyau banyak-banyak persamaan, maka pasti terdapat unsur-unsur perbedaan dari yang seorang terhadap yang lain, lebih-lebih pada anak manusia yang bukan berasal dari bapak-ibu yang sama, dan bukan dari anak yang lahir kembar, jelas di sana terdapat perbedaan yang demikian banyak. Perbedaan ini bisa dilihat dari bentuk jasmani, juga dapat diperhatikan dari rahasia rohaninya sedangkan rohani sendiri terlalu luas bidang-bidangnya, sehingga jika pada suatu bidang, terdapat adanya persamaan, maka di luar itu jelas ada perbedaan yang sangat banyak. Perbedaan pendapat pendapat di antara manusia sebetulnya sudah ada sejak jaman Nabi Adam, perselisihan itu terjadi antara putera N.Adam yang bernama Qa>bil melawan Ha>bil, termaktub dalam Al-Quran surat Al-Ma>idah 27 dst: وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ ابْنَيْ ءَادَمَ بِالْحَقِّ إِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنْ أَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الْآخَرِ قَالَ لَأَقْتُلَنَّكَ قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ (الماءدة 27) Artinya: “Ceriterakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Ha>bil dan Qa>bil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Ha>bil) dan tidak diterima dari yang lain (Qa>bil). Ia berkata (Qa>bil): “Aku pasti membunuhmu!” Berkata Ha>bil: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa”(S.5 Al-Ma>idah 27). Faktor yang menimbulkan pertikaian tersebut dicatat oleh penulis Az-Az-Zamakhsyari> dalam Al-Kasysya>f (tth: 1 / 606) bahwa Adam mendapat perintah Allah untuk menjodohkan perempuan kembaran puteranya dengan perempuan kembaran puteranya yang lain secara bersilang. Wajah Iqlima, perempuan kembaran Qa>bil parasnya lebih cantik, sehingga Qabil berusaha untuk memperisterikan pasangannya sendiri saja melawan kehendak Adam yang akan memperisterikan Qabil dengan pasangan kembaran dari Ha>bil. Jalan penyelesaian Nabi atas prtikaian antar keduanya itu ialah melalui korban persembahan masing-masing dari Qa>bil dan Ha>bil. Ternyata korban Qa>bil ditolak oleh Tuhan dan korban Ha>bil diterima karena takwanya. Tiba-tiba Qa>bil tersentak hatinya dan berbuat jahat ingin membunuh Ha>bil. Maka memang tiap manusia itu mempunyai banyak potensi untuk berbeda pendapat dari pihak yang satu terhadap kelompok yang lain Al-Baghda>di> dalam kitabnya Al-Farqu bainal Fira>q (tth:11) mencatat kronologis sejarah perselisihan pendapat yang berkembang di kalangan umat Islam sejak Rasul Saw. wafat, berkenaan dengan macam-macam perkara mereka, yaitu: ~ Soal wafat Rasul Saw. bahwa sebagian umat Islam mempunyai kepercayaan bahwa Rasul utusan Allah itu tidak wafat dan menyamakan Nabi Muhammad Saw. dengan Nabi ‘Isa A.s. Pendapat ini disanggah oleh kaum muslimin yang lain bahwa Nabi Muhammad Saw. sudah wafat, sebagaimana ditegaskan di dalam Al-Quran S.39 Az-Zumar 30. إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُمْ مَيِّتُونَ(30)ثُمَّ إِنَّكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عِنْدَ رَبِّكُمْ تَخْتَصِمُونَ(31) Artinya: “Sesungguhnya kamu (Muhammad) akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati (pula). Kemudian sesungguhnya kamu pada hari kiamat akan berbantah-bantah di hadapan Tuhanmu”(S.39 Az-Zumar 30-31) ~Soal tempat untuk pemakaman Rasul Saw.? Di Makkah, di Madinah ataukah di Baitul Maqadis? ~Masalah siapakah khalifah yang menggantikan kepemimpinan Rasul Saw? Dari wangsa Quraisy, kaum Muhajirin atau Anshar ataukah dari Ahlul Bait? Dan seterusnya tumbuh berkembang perbedaan pendapat yang lebih luas, bahkan nrunyam masuk ke dalam bidang politik, masalah akidah ataupun masalah ilmu hukum. Sehingga timbul madzhab-madzhab dalam Ilmu Kalam, madzhab dalam Ilmu Fiqh dan soal-soal kehidupan kaum muslimin. Al-Baghda>di> memulai pembahasannya dengan mengutip hadis-hadis tentang akan datangnya suatu jaman dan timbulnya perpecahan di antara kaum muslimin menjadi 73 aliran, yaitu: Artinya: “ Dari ‘Abdulla>h ibnu ‘Amr dia berkata bahwa Rasul Saw. bersabda: “ Kaum Bani Israil berpecah menjadi 72 golongan agama dan umatku akan berpcah menjadi 73 golongan agama semuanya masuk neraka kecuali yang satu”. Mereka bertanya siapakah dia itu ya Rasul?” Beliau menjawab: “Orang yang ciri-cirinya sama dengan aku dan para sahabatku” (HR. Turmudzi>>>, hadis H}asan Ghari>b). Pangkal perbedaan pandangan politik yang paling serius terjadi masa 6 tahun setelah perjalanan pemerintahan khalifah ‘Utsma>n. Disebabkan karena perbedaan pendapat tentang jalannya pemerintahan ‘Utsma>n, maka timbullah gerakan perlawanan terhadap khalifah bahkan berakibat terbunuhnya khalifah ‘Utsma>n dan terjadilah perang saudara antar umat Islam dengan umat Islam sendiri, yaitu antara pendukung Mu’a>wiyah melawan kekhalifahan ‘‘Ali> ibnu Abi> Tha>lib terkenal dengan perang Shiffain. Dari gambaran di atas, terbaca bahwa masalah politik atau kekuasaan sangat besar pengaruhnya terhadap membengkaknya perselisihan pendapat yang dapat mengobarkan api permusuhan bunuh membunuh. Menurut Al-Mara>ghi> (tth: 2 / 97) dalam menafsirkan Al-Quran S.5 Al-Mar (tth:6/340) mencatat bahwa perbedaan ilmu, pendapat dan perasaan tiap masnusia itu memang telah menjadi hukum alam atau Sunnatulla>h. Oleh karena itulah maka dibuat hukum yang mengatur seluruh hubungan aktifitas gerak masing-masing perseorangan berkaitan dengan manusia yang lain. 2. Jalan mencari perdamaian Dari S.5 Al-Mahi Ta’a>la>. 1417 عَنِ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ رَفَعَهُ قَالَ لَا يُضَحَّى بِالْعَرْجَاءِ بَيِّنٌ ظَلَعُهَا وَلَا بِالْعَوْرَاءِ بَيِّنٌ عَوَرُهَا وَلَا بِالْمَرِيضَةِ بَيِّنٌ مَرَضُهَا وَلَا بِالْعَجْفَاءِ الَّتِي لَا تُنْقِي (رواه الترمذي) Artinya: “ Dari Al-Barra>>>>>>>>` ibnu ‘A>> hadis no.1417, Marfu>‘ dan diriwayatkan pula oleh Al-H}a>kim Baihaqi>, Nawa>wi>-Nailul Autha>r, tth: 5 / 205 ) Dilihat dari kebutuhan hidup manusia, berhubung 4 macam instink harta, tahta, wanita dan agama tersebut di atas itu merupakan kebutuhan hidup manusia secara universal dan sudah menjadi bawaan setiap manusia sejak sebelum lahir, maka nafsu-nafsu tersebut harus dipelihara dan kebutuhannya tidak boleh tidak harus dipenuhi secara serasi, seimbang dan dengan ukuran yang benar. Rasul Saw. sudah mermberi peringatan khusus masalah ini, yang disebut-sebut di dalam hadis berikut: 1085 عَنْ عَبْدَاللَّهِ بْنَ عَمْرٍو رَضِي اللَّهم عَنْهمَا قَالَ لِيَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَلَمْ أُخْبَرْأَنَّكَ تَقُومُ اللَّيْلَ وَتَصُومُ النَّهَارَ قُلْتُ إِنِّي أَفْعَلُ ذَلِكَ قَالَ فَإِنَّكَ إِذَا فَعَلْتَ ذَلِكَ هَجَمَتْ عَيْنُكَ وَنَفِهَتْ نَفْسُكَ وَإِنَّ لِنَفْسِكَ حَقًّا وَلِأَهْلِكَ حَقًّا فَصُمْ وَأَفْطِرْ وَقُمْ وَنَمْ (رواه البخاري ومسلم 1968) Artinya: “Dari ‘Abdulla>h ibnu ‘Amr, dia berkata: “Nabi Saw. bersabda kepadaku: “Bukankah aku telah diberitahu, bahwa anda suka bangun malam, berpuasa di siang harinya?” Aku menjawab: “Aku melaksanakan amalan tersebut” Nabi Saw. bersabda: “Sungguh anda jika melakukan amalan itu, akan membinasakan mata anda dan akan melemahkan diri anda. Padahal sesungguhnya diri anda itu mempunyai hak, isteri anda itu mempunyai hak . Oleh karena itu maka berpuasalah anda tetapi juga berbuka dan bangkitlah anda shalat malam tetapi juga hendaklah tidur juga” (HR. Bukha>ri> CD hadis 1085 dan Muslim no.1968). Maksud Rasul Saw. dalam hadis ini ialah bahwa semua nafsu-nafsu atau instink sekaligus seluruh kebutuhan hidup manusia itu wajib dipenuhi. Dan dalam memenuhi kebutuhan hidup ini caranya harus seimbang, serasi dan menurut ukuran yang benar. Maka dari itu seluruh nafsu-nafsu tersebut harus dipenuhi kebutuhannya berdasarkan hukum biologi atau hukum kehidupan, tiap-tiap nafsu tidak boleh dikurangi haknya dan tidak terlalu mengunggulkan yang satu mengalahkan nafsu yang lain. Dan instink agama atau nafsu mutmainnah-itulah yang menjadi kendali yang mengatur ketertiban, keserasaian dan keseimbangan kehidupan ini. Dan dalam hal pembahasan judul dimuka sekarang ini maka agama memerintahkan manusia untuk mengorbankan sesuatu yang dicintainya untuk diserahkan kepada pihak yang sangat memerlukannya, dalam rangka mengsukseskan usaha perdamaian antara pihak-pihak yang bertikai harus ada beri-terima arau give and take. Landasan perundingan perdamaian dasarnya ialah, kesediaan untuk berkorban menyerahkan suatu pengorbanan dengan tulus iklas Lilla>hi Ta’a>la>, diambil dari apa yang paling dicintainya. Dengan kata lain maka orang yang memberi sesuatu yang dia sendiri sudah tidak memerlukan atau bahkan sangat benci, maka pemberian ini sama sekali tidak mempunyai arti pengorbanan, baik yang yang berharga mahal lebih-lebih yang sudah tidak ada harganya sama sekali. 3. Perdamaian di dalam membagi warisan Kebanyakan ulama tafsir tidak mengaitkan S.4 An-Nisa>` 128 ini dengan Ilmu Faraid, namun banyak ulama fiqh yang mengandalkan S.4 An-Nisa>` 128 itu sebagai dalil mereka untuk membolehkan para ahli waris dalam membagi harta waisannya melalui metode PERDAMAIAN atau Tasha>luh} ini. Di samping S.4 An-Nisa>` 128 para fuqaha juga menggunakan dasar-dalil yang lain lagi yaitu S.4 An-Nisa>`114 dan hadis Rasul Saw. serta kisah-riwayat Tuma>dhir berikut: لَا خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِنْ نَجْوَاهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلَاحٍ بَيْنَ النَّاسِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ مَرْضَاةِ اللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا (النساء 114) 1) Artinya: “Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma`ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keredhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar” (S.4 An-Nisa>` 114). 1272 حَدَّثَنَا كَثِيرُعَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الصُّلْحُ جَائِزٌ بَيْنَ الْمُسْلِمِينَ إِلَّا صُلْحًا حَرَّمَ حَلَالًا أَوْ أَحَلَّ حَرَامًا وَالْمُسْلِمُونَ عَلَى شُرُوطِهِمْ إِلَّا شَرْطًا حَرَّمَ حَلَالًا أَوْ أَحَلَّ حَرَامًا (وراه الترمذي وابن ماجة 2344حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ )* 2) Artinya: “Katsi>r ibnu ‘Abdilla>h menerima cerita dari ayahnya dari kakeknya bahwa Rasul Saw. bersabda: “Perdamaian antara kaum muslimin itu dibolehkan kecuali suatu perdamaian yang menharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. Dan kaum muslimin itu konsekwen untuk menepati syarat-syarat mereka, kecuali suatu syarat yang menharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram”(HR Turmudzi>>> no.1272 dan Ibnu Ma>jah no.2344 Hadis H}asan Shah}i>h}). 3) Ah}mad Ka>mil Khudha>ri> dalam kitabnya Al-Mawa>rits al-Isla>miyyah (1966:67) mengutip riwayat peristiwa sakit dan wafatnya ‘Abdurrah}ma>n ibnu‘Auf (Indonesianya) sebagai berikut: “Di jaman khalifah ‘Utsma>n, sahabat ‘Abdurrah}ma>n ibnu ‘Auf mnceraikan isterinya bernama Tuma>dhir ketika ‘Abdurrah}ma>n sakit menjelang meninggal yang kemudian meninggal dunia juga, dan saat itu Tuma>dhir sedang dalam iddahnya. Khalifah ‘Utsma>n menetapkan putusan bahwa Tuma>dhir mendapatkan warisan bersama-sama dengan isteri-isteri ‘Abdurrah}ma>n yang lain. Kemudian terjadilah musyawarah damai tawar-menawar terhadap bagian warisan Tuma>dhir dari seperdelapan bagian semua isteri itu. Akhirnya disepakati bahwa Tuma>dhir bersedia menerima imbalan bagiannya sebesar 83.000 dirham” Lebih jelasnya ialah bahwa ‘Abdurrah}ma>n ibnu ‘Auf mempunyai empat orang isteri. Salah satu isterinya yang bernama Tuma>dhir diceraikan saat ‘Abdurrah}ma>n sedang sakit yang tidak lama lalu meninggal dunia, waktu itu Tuma>dhir masih dalam iddah dari perceraian dari almarhum suaminya tadi. Pembagian harta warisannya telah mendapat keputusan dari khalifah ‘Utsma>n bahwa Tuma>dhir masih mendapat bagian seperempat dari seperdelapan harta warisan. Kemudian 3 orang isteri yang lain berunding dengan Tuma>dhir, agar supaya Tuma>dhir mengundurkan diri, tetapi mendapat ganti rugi sebesar 83.000 dirham. Semua isteri ‘Abdurrah}ma>n 4 orang itu menyepakati permusyawaratan damai itu dengan segala kerelaan. Perbuatan mengundurkan diri dari pembagian warisan ini dinamakan Takha>ruj. Dibolehkannya cara Takha>ruj seperti ini di benarkan oleh para ulama, yaitu: 1) Sayid Sa>biq dalam Fiqhus Sunnah (1971: 3 / 658) menyatakan bahwa pembagian warisan dengan cara Takha>ruj ini hukumnya boleh (Ja>`iz). Alasannya ialah adanya rasa saling rela merelakan atas hasil musyawarah damai ini. 2) Muh}ammad Abu> Zahrah dalam At-Tirkatu wal Mi>ra>ts fi>l Isla>m (1967:374), membolehkannya disamakan dengan ijab kabul jual beli. Pendapat ini didukung pula oleh ‘Abdul ‘Azhi>m Syarifuddi>n dalam kitabnya Ah}ka>mul Mi>ra>ts fi>sy-Syari>’atil Isla>miyah. 3) T.M.Hasbi ash-Shiddieqy dalam Fiqhul Mawaris (1973:284) menyatakan bahwa hukum Takha>ruj ini dibolehkan berdasarkan hukum tukar menukar harta antar ahli waris. 4) Amir Syarifuddin dalam disertasinya Pelaksanaan Hukum Kewarisan Islam (1982:326) membolehkannya cara Takha>ruj ini demi mencari kemaslahatan tidak berniat meninggalkan syari’at Islam. 5) Undang-undang Kewarisan Mesir pasal 48 juga membolehkan cara Takha>ruj 4. Pelaksanaan pembagian warisan melalui perdamaian Amir Syarifuddin dalam disertasinya itu menjelaskan bahwa pembagian warisan melalui perdamaian ini ada dua cara, yaitu; 1) Takha>>>>ruj . 2) Tasha>luh}. Ad 1. Takha>ruj , ialah usaha bahwa salah satu atau sebagian anggota ahli waris menyatakan mundur dan tidak meminta bagian warisan. Cara ini dimungkinkan anggota yang mengundurkan diri ini mendapat ganti rugi dari ahli waris yang lain. Sesudah itu harta warisan dibagi menurut Hukum Faraid. Seperti pembagian yang dilakukan oleh isteri-isteri ‘Abdurrah}ma>n ibnu ‘Auf terurai di atas. Dalam pelaksanaannya Takha>ruj ini juga dapat dilakukan dengan dua kali sidang: Pertama: Sidang membagi warisan tepat persis menurut Hukum Faraid. Sesudah anggota mengetahui angka-angka bagian masing-masing kemudian mereka berunding untuk melakukan sidang kedua berdasarkan musyawarah damai. Kedua: Sidang kedua ialah musyawarah damai untuk membagi warisan itu yang memang akan dilaksanakan, sesuai dengan angka-angka yang disepakati bersama semua anggota ahli waris. Dalam hal ini jelas angka-angkanya tidak sama dengan pembagian menurut Hukum Faraid, karena sebagian ahli waris ada yang merelakan bagiannya sedikit atau seluruhnya diterima oleh yang lain. Cara ini banyak dilakukan masyarakat Islam Indonesia sebagaimana hasil penelitian Imam Muchlas (penulis) dengan judul Waris Mewaris dalam Islam, Tesis S-2 IAIN Jakarta (1996:138). Ad 2 Tasha>luh}, yaitu pembagian warisan berdasarkan musyawarah damai sebelum atau sesudah pembagian menurut Hukum Faraid. Dan hasil musyawarah damai ini jelas tidak sama dengan angka-angka pembagian menurut Faraid. Istilah Takha>ruj dan Tasha>luh} tidak banyak dikenal dalam masyarakat Indonesia. Dan perlu diingat bahwa sedikit perbedaan antara kedua istilah tersebut, yaitu: Bahwa dalam Takha>ruj pembagian warisan melalui Hukum Faraid sebelum atau sesudah pembagian melalui musyawarah damai. Dalam Tasha>luh} pembagian warisan itu langsung membagi angka-angka bagian warisan dan Hukum Faraid tidak menjadi unsur yang sangat penting. Kedua istilah ini menjadi jumbuh dan banyak dilaksanakan di dalam sidang-sidang Pengadilan Agama di Indonesia, melalui Hukum Faraid lebih dahU>lu> atau langsung perdamaian fatwa waris antar anggota ahli waris dalam berperkara di muka sidang Pengadilan Agama sebagaimana hasil penelitian para mahasiswa seperti Munhadatul Ummah IAIN Surabaya (1980), Sam’un IAIN Suarabaya 1982, Mawi dkk.Unej 1975, Saleh Hadiwinoto Unpaj 1974, Harun Arrosyid IAIN Surabaya1983. Jadi jika seandainya sebagian ahli waris menghendaki perbandingan prosentasi bagiannya tidak seperti angka-angka prosentasi Hukum Fara>idh, menurut para ulama di atas dapat dibenarkan jika mereka membuat angka-angka prosentasi bagian yang disepakati di dalam musyawarah damai oleh seluruh ahli waris dengan syarat demi untuk kemaslahatan, tidak berniat menentang syari’at Islam. Jika seandainya tidak dicapai kesepakatan damai maka Pengadilan Agama dapat menetapkannya sesuai dengan perundng-undangan yang berlaku. ——————(30)—————- ANGKA PERBANDINGAN BAGIAN WARISAN I. S.4 An-Nisa>` 11-12 يُوصِيكُمُ اللَّهُ فِي أَوْلَادِكُمْ لِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الْأُنْثَيَيْنِ فَإِنْ كُنَّ نِسَاءً فَوْقَ اثْنَتَيْنِ فَلَهُنَّ ثُلُثَا مَا تَرَكَ وَإِنْ كَانَتْ وَاحِدَةً فَلَهَا النِّصْفُ وَلِأَبَوَيْهِ لِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا السُّدُسُ مِمَّا تَرَكَ إِنْ كَانَ لَهُ وَلَدٌ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ وَلَدٌ وَوَرِثَهُ أَبَوَاهُ فَلِأُمِّهِ الثُّلُثُ فَإِنْ كَانَ لَهُ إِخْوَةٌ فَلِأُمِّهِ السُّدُسُ مِنْ بَعْدِ وَصِيَّةٍ يُوصِي بِهَا أَوْ دَيْنٍ ءَابَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ لَا تَدْرُونَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ لَكُمْ نَفْعًا فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا(11) وَلَكُمْ نِصْفُ مَا تَرَكَ أَزْوَاجُكُمْ إِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُنَّ وَلَدٌ فَإِنْ كَانَ لَهُنَّ وَلَدٌ فَلَكُمُ الرُّبُعُ مِمَّا تَرَكْنَ مِنْ بَعْدِ وَصِيَّةٍ يُوصِينَ بِهَا أَوْ دَيْنٍ وَلَهُنَّ الرُّبُعُ مِمَّا تَرَكْتُمْ إِنْ لَمْ يَكُنْ لَكُمْ وَلَدٌ فَإِنْ كَانَ لَكُمْ وَلَدٌ فَلَهُنَّ الثُّمُنُ مِمَّا تَرَكْتُمْ مِنْ بَعْدِ وَصِيَّةٍ تُوصُونَ بِهَا أَوْ دَيْنٍ وَإِنْ كَانَ رَجُلٌ يُورَثُ كَلَالَةً أَوِ امْرَأَةٌ وَلَهُ أَخٌ أَوْ أُخْتٌ فَلِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا السُّدُسُ فَإِنْ كَانُوا أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ فَهُمْ شُرَكَاءُ فِي الثُّلُثِمِنْ بَعْدِ وَصِيَّةٍ يُوصَى بِهَا أَوْ دَيْنٍ غَيْرَ مُضَارٍّ وَصِيَّةً مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَلِيمٌ (النساء 11-12) II. Artinya: “Allah mensyari`atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu: bahagian seorang anak lelaki sama dengan bahagian dua orang anak perempuan; dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua, maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan; jika anak perempuan itu seorang saja, maka ia memperoleh separo harta. Dan untuk dua orang ibu-bapa, bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak; jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapanya (saja), maka ibunya mendapat sepertiga; jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara, maka ibunya mendapat seperenam. (Pembagian-pembagian tersebut di atas) sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya. (Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat (banyak) manfa`atnya bagimu. Ini adalah ketetapan dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”. “Dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh isteri-isterimu, jika mereka tidak mempunyai anak. Jika isteri-isterimu itu mempunyai anak, maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya. Para isteri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. Jika kamu mempunyai anak, maka para isteri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar hutang-hutangmu. Jika seseorang mati, baik laki-laki maupun perempuan yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak, tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja), maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta. Tetapi jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang, maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu, sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sesudah dibayar hutangnya dengan tidak memberi mudharat (kepada ahli waris). (Allah menetapkan yang demikian itu sebagai) syari`at yang benar-benar dari Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Penyantun” (S.4 An-Nisa>` 11-12). II. Tafsir dan analisa A.Pengertian = يُوصِيكُمُ Dia memberi wasiat, maksudnya Allah menetapkan aturasn Hukum Waris atas orang-orang yang beriman = أَوْلَادِكُمْ Anak-anak kalian, maksudnya anak-anak kalian laki-laki dan anak perempuan. Kata-kata itu jamak dari lafal “Waladun” (ولد) = لِلذَّكَرِ Untuk laki-laki, maksudnya untuk anak kalian yang laki-laki = حَظِّ Bagian, maksudmnya angka-angka bagian harta warisan = الْأُنْثَيَيْنِ Dua perempuan, makdusnya anak-anak kalian jika yang perempuan ada dua orang = نِسَاءً Perempuan, Ar-Ra>ghib dalam Mufarada>t (tth:513) mencatat bahwa kata-kata Nisa>` – Niswatun dan Niswan ini jamak dari lafal Mar`atu, jamak bukan dari lafal aslinya. = فَوْقَ اثْنَتَيْنِ Di atas dua, maksudnya jumlah anak perempuan itu di atas dua orang anak = مَا تَرَكَ Apa yang telah dia tinggalkan, maksudnya harta warisan = أَبَوَيْهِ – أَبَوَاهُ Dua bapak, maksudnya ialah bapak ibu. Lafal itu jika dibaca marfu>’ maka bunyinya ialah“Abawa>>>hu” tanda rafa’ ialah alif sesudah wawu. Jika dibaca jar maka bunyinya “Abawaihi” tanda jar ialah ya` sesudah huruf wawu = إِخْوَةٌ Saudara-saudara lelaki, kata-kata ini lafal jamak dari “Akhun”(اخ) artinya saudara laki-laki, Tatsniah-nya ialah “Ukhtun”(اخت) artinya saudara perempuan = لَا تَدْرُونَ Kalian tidak mengatahui = أَزْوَاجُكُمْ Isteri-isteri kalian, maksudnya almarhum isteri = يُورَثُ Diwarisi, maksudnya jika seseorang meninggal, maka hartanya dibagi-bagikan kepada ahli waris = كَلَالَةً Punah, yaitu jika seseorang meninggal tidak mempunyai anak keturunan dan orang tua sudah tidak ada. = شُرَكَاءُ Bersekutu, maksudnya ialah bersatu dalam satu bagian, berbagi bersama dengan bagian yang sama = غَيْرَ مُضَارٍّ Tanpa memberi derita = حَلِيمٌ Maha penyantun B.Latar belakang turunnya ayat “Dari Ja>bir ibnu ‘Abdilla>h dia berkata: “Isteri Sa’ad ibnur Rabi’ datang menghadap Rasulullah Saw. membawa dua anak perempuan hasil perkawinan dia dengan Sa’ad, dia berkata: “Ya Rasulullah dua anak ini adalah anak SA’ad ibnur Rabi’ yang gugur mati syahid dalam Perang Uh}u>d bersama tuan. Kemudian pamannya mengambil seluruh harta warisannya, sama sekali tidak menyisakan sedikitpun juga harta untuk kedua anak ini, padahal keduanya tidak mungkin dapat kawin kecuali jika keduanya memiliki harta”. Beliau bersabda: “Allah telah menetapkan untuk masalah itu. Maka turunlah ayat warisan. Lalu Rasul Saw. mengutus kepada paman kedua anak tadi, beliau bersabda: Berikankan kepada kedua anak Sa’ad itu duapertiga dan berikan kepada ibu dua anak ini seperdelapan, sisanya untuk anda”(HR. Turmudzi>> CD no.2018, Abu> Da>wu>d no.2505, Ibnu Ma>jah no.2711, Ah}mad,Ibnu H}ibba>n, Baihaqi>-Ad-Durr 1983 juz 2 hal 445). C.Tema dan sari tilawah Dari pengertian kata-kata maupun latar belakang turunnya ayat di atas kiranya dapat disusun tema dan sari tilawah ayat-ayat Mawaris di atas, yaitu sebagai berikut: 1. Allah telah menetapkan aturan hukum bagi orang-orang yang beriman, salah satunya ialah hukum waris. 2. Anak laki-laki mendapat dua kali bagian anak perempuan. 3. a. Jika anak perempuan jumlahnya di atas dua, maka mereka mendapat dua pertiga bagian harta warisan. b. Jika anak perempuan itu hanya satu orang maka dia mendapat seperdua bagian harta warisan. 4.Jika diamping anak itu ada bapak-ibu almarhum, maka bapak dan ibu masing-masing mendapat seperenam bagian. 5. Jika almarhum tidak meninggalkan anak, maka untuk si ibu mendapat sepertiga bagian. 6.Jika almarhum tidak meninggalkan anak, tetapi meninggalkan saudara dan bapak serta ibu, maka ibu tersebut mendapat seperenam bagian. a. Jika isteri wafat tidak meninggalkan anak, maka suami mendapat seperdua bagian harta warisan isterinya. b.Jika almarhumah (isteri) meninggalkan anak, maka suami mendapat seperempat bagian. 7.a. Jika suami wafat tidak meninggalkan anak, maka isteri mendapat seperempat bagian harta warisan. b. Jika suami wafat meninggalkan anak, maka isteri mendapat seperdelapan bagian 8. Jika seorang laki-laki atau perempuan mati dan tidak meninggalkan anak, yang ada ialah satu orang saudara laki-laki dan satu orang saudara perempuan, maka dua orang saudara tersebut masing-masing mendapat seperenam bagian harta warisan. 9. Jika jumlah saudara tadi lebih banyak lagi maka mereka berbagi bersama dalam bagian sepertiga. 10. Pembagian warisan itu dapat dilaksanakan jika wasiat dan hutang-hutang almarhum atau almarhumah sudah dibayar lunas 11. Kita semua tidak mengetahui siapa yang lebih besar perannya, bapak apa anak 12. Pelaksanaan pembagian warisan tidak boleh merugikan atau membawa derita 13.Semua itu telah menjadi keputusan Allah dan Allah itu Maha Mengetahui serta Maha Bijaksana D.Masalah dan analisa Dari tema dan sari tilawah tersebut di atas maka muncullah demikian banyak pertanyaan, namun ada beberapa masalah yang memerlukan pemecahan dan jawaban yang harus didahulukan, yaitu: 1. Sebenarnya apa yang dimaksud dengan anak di dalam ayat di atas? a.Apakah tidak ada perkecualian dalam hal anak disini? b.Jika ada perkecualian dan larangan, maka bagaimana analisa lebih jauh? 2. Apa yang dimaksud dengan “Fauqa itsnataini” فوق اثنتين)) dalam ayat itu? Apakah arti lafal “Fauqa” dan bagaimana komentar para ulama atasnya? 3. Berapa bagian dua orang anak perempuan, seperdua atau dua pertiga? 4. Bagaimana hak dan kedudukan ahli waris pengganti? 5. Bagaimana sistem penyusunan skala prioritas hak dan kedudukan ahli waris dengan penggantinya? 6. Siapa-siapa orang yang menjadi ahli waris kelompok prioritas pertama, kedua dan seterusnya? E.Tinjauan dan pemikiran 1. Makna Auladikum Para ulama tafsir memberikan catatan soal lafal “Auladikum” (اولادكم ) ini dengan beberapa variasi pendapat, yaitu: As-Suyu>thi> menyatakan bahwa lafal “Aula>dikum“ itu mencakup anak keturunan, namun para ulama membedakan anak keturunan yang melalui anak laki-laki dengan anak keturunan melalui anak perempuan(Al-Qa>simi> 1957:5 / 1139). ~Ibnul Arabi dalam Ahkamul Quran (1988:1 / 433) mencatat bahwa lafal Aula>dikum = Anak-anakmu, ini mencakup semua anak-keturunan dekat ataupun jauh, anak yang sudah lahir , anak yang masih dalam kandungan, anak laki-laki, anak perempuan, bahkan yang banci sekalipun. ~Al-Qurthubi> (1967:5 / 59) mencatat bahwa Imam Sya>fi’i> mengartikan lafal “Aula>dikum“ adalah anak kandung, adapun masuknya cucu atau anaknya anak masuk kedalam lafal “Aula>dikum” maka tafsiran ini adalah tafsiran secara Maja>zi> artinya bukan makna yang hakiki. ~Imam H}anafi> menyatakan bahwa lafal tersebut mencakup cucu ke bawah, jika almarhum tidak mempunyai anak kandung(Al-Mana>r tth:4 / 405). @ Penghalang dan larangan mewaris Sebetulnya lafal “Aula>dikum“ itu mencakup semua anak atau dan cucu, akan tetapi di dalam hukum waris terdapat penghalang dan larangan hak anggota untuk mewaris, tidak berhak mendapat warisan termasuk di dalamnya ialah anak-anak (Auladikum) ini jika tercakup dalam pengertian di bawah ini: Pertama: Orang yang tidak beragama Islam, mereka tidak berhak mendapat warisan berdasarkan nash Al-Quran S.11 Hu>d 45-46, S.4 An-Nisa>` 141 dan hadis berikut: وَنَادَى نُوحٌ رَبَّهُ فَقَالَ رَبِّ إِنَّ ابْنِي مِنْ أَهْلِي وَإِنَّ وَعْدَكَ الْحَقُّ وَأَنْتَ أَحْكَمُ الْحَاكِمِينَ(45)قَالَ يَانُوحُ إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ إِنَّهُ عَمَلٌ غَيْرُ صَالِحٍ فَلَا تَسْأَلْنِ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنِّي أَعِظُكَ أَنْ تَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ (هود 45-46) Artinya: “Dan Nuh berseru kepada Tuhannya sambil berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku, termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya.” Allah berfirman: “Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya (perbuatannya) perbuatan yang tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakekat) nya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan.”(S.11 Hu>d 45-46). وَلَنْ يَجْعَلَ اللَّهُ لِلْكَافِرِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيلًا (النساء 141) Artinya: “Dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman”(S.4 An-Nisa>`141). 6267 عَنْ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ رَضِي اللَّهم عَنْهمَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَرِثُ الْمُسْلِمُ الْكَافِرَ وَلَا الْكَافِرُ الْمُسْلِمَ (رواه البخاري ومسلم 3027)* Artinya: “Dari Usa>mah ibnu Zaid, bahwa Nabi Saw. bersabda: “Orang Islam tidak mewaris orang kafir dan orang kafir tidak mewaris orang Islam”(HR Bukha>ri> no.6267, Muslim no.3027). 2034عَنْ جَابِرٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَتَوَارَثُ أَهْلُ مِلَّتَيْنِ (رواه الترمذي)* Artinya: “Dari Ja>bir dari Nabi Saw. beliau bersabda: “Tidak berlaku waris mewaris antara dua orang penganut agama yang berbeda”(RH Turmudzi>>> no. 2034). Kedua: Orang yang membunuh almarhum si mayit tidak berhak mendapat warisan, 2636 عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَيْسَ لِقَاتِلٍ مِيرَاثٌ (رواه ابن ماجه)* Artinya: “Dari ‘Amr ibnu Syu’aib dia berkata: “Aku mendengar Rasulullah Saw. bersabda: “Pembunuh itu tidak berhak atas warisan”(HR Ibnu Ma>jah no.2636) Ketiga:Nabi Saw. tidak masuk dalam hukum waris dimaksud di atas, dengan pengertian bahwa Nabi Saw. itu tidak boleh diwarisi, beliau bersabda: 6230 عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا نُورَثُ مَا تَرَكْنَا صَدَقَةٌ (رواه البخاري)* Artinya: “Dari ‘A>isyah bahwa Nabi Saw. bersabda: “Kami tidak diwaris, apa yang kami tinggalkan itu adalah Sha>daqah”(HR Bukha>ri> CD no.6230). 2. Masalah dua anak perempuan Para ulama tidak sepakat dalam memahami ayat 11 An-Nisa>` di atas khusunya yang berbunyi : فَإِنْ كُنَّ نِسَاءً فَوْقَ اثْنَتَيْنِ فَلَهُنَّ ثُلُثَا مَا تَرَكَ وَإِنْ كَانَتْ وَاحِدَةً فَلَهَا النِّصْفُ Artinya: “Jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua, maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan; jika anak perempuan itu seorang saja, maka ia memperoleh separo harta”(S.4 An-Nisa>` 11). ~Jumhur berpendapat jika si mayit meninggalkan anak perempuan semuanya tidak ada yang laki-laki jumlahnya dua orang, maka dua orang anak perempuan ini mendapat dua pertiga bagian. Jumhur mengajukan alasan bahwa dua orang anak perempuan itu dikiaskan kepada ketetapan terhadap dua orang saudara (S.4 An-Nisa>` 176) di sana dijelaskan bahwa bagian mereka ialah duapertiga; Ketentuan ini memberi isyarat bahwa dua anak perempuan itu mendapat dua pertiga bagian. يَسْتَفْتُونَكَ قُلِ اللَّهُ يُفْتِيكُمْ فِي الْكَلَالَةِ إِنِ امْرُؤٌ هَلَكَ لَيْسَ لَهُ وَلَدٌ وَلَهُ أُخْتٌ فَلَهَا نِصْفُ مَا تَرَكَ وَهُوَ يَرِثُهَا إِنْ لَمْ يَكُنْ لَهَا وَلَدٌ فَإِنْ كَانَتَا اثْنَتَيْنِ فَلَهُمَا الثُّلُثَانِ مِمَّا تَرَكَ وَإِنْ كَانُوا إِخْوَةً رِجَالًا وَنِسَاءً فَلِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الْأُنْثَيَيْنِ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ أَنْ تَضِلُّوا وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ(النساء 176) Artinya: “Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang Kala>lah). Katakanlah: “Allah memberi fatwa kepadamu tentang Kala>lah (yaitu): jika seorang meninggal dunia, dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan, maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya, dan saudaranya yang laki-laki mempusakai (seluruh harta saudara perempuan), jika ia tidak mempunyai anak; tetapi jika saudara perempuan itu dua orang, maka bagi keduanya dua pertiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal. Dan jika mereka (ahli waris itu terdiri dari) saudara-saudara laki dan perempuan, maka bahagian seorang saudara laki-laki sebanyak bahagian dua orang saudara perempuan. Allah menerangkan (hukum ini) kepadamu, supaya kamu tidak sesat. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”(S.4 An-Nisa>` 176). Demikian juga bunyi nash وَإِنْ كَانَتْ وَاحِدَةً فَلَهَا النِّصْفُ = Jika anak perempuan itu seorang saja, maka ia memperoleh separo harta. ~Bunyi ini memberi isyarat bahwa jika lebih dari satu orang maka bagiannya ialah dua pertiga bukan seperdua(Al-Qa>simi> 1957:5 / 1140). ~ Lafal “Fauqa” adalah Za>idah jadi bisa dilengahkan, sehingga artinya ialah: jika anak perempuan itu dua orang (tidak ada pengertian seperti di atas) bagi mereka ini dua pertiga. ~ Selanjutnya masih ada dalil yang memperkuat makna, bahwa mereka mendapat dua pertiga ini dapat difaham dari riwayat Sababun Nuzu>l tersebut di atas, yaitu: 2018 فَبَعَثَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى عَمِّهِمَا فَقَالَ أَعْطِ ابْنَتَيْ سَعْدٍ الثُّلُثَيْنِ (رواه ااترمذي وابو داود2505 وبن ماجه 2711) Artinya: “Lalu Rasul Saw. mengutus kepada paman kedua anak tadi, beliau bersabda: “Berikankanlah kepada kedua anak Sa’ad itu duapertiga”(HR Turmudzi1 2018, Lih. Ad-Durr 1983:ii\445). ~Ibnu ‘Abba>s berpendapat bahwa dua orang anak perempuan tersebut mendapat bagian seperdua bagian harta warisan, karena bagian ini merupakan dasar hak perempuan. *) Dalam bahasa Inggris dua itu sudah berlaku hukum jamak 3. Skala prioritas kelompok ahli waris Yang dimaksud dengan skala prioritas kelompok ahli waris disini ialah peringkat dari yang paling kuat yang harus dimenangkan lebih dahulu, berturut-turut kebawah sampai yang paling lemah yang harus dikalahkan haknya dia bisa menerima pada antrian urutan yang terakhir, seperti antrian membeli karcis kereta api, kebetulan antri pada tempat yang paling belakang. A. Sebagai perbandingan, maka menurut Hukum Adat Indonesia, terutama pada bentuk kekeluargaan yang bersifat individual-patrilineal pada umumnya skala prioritas hak menerima warisan itu disusun sebagai berikut: i. Prioritas pertama ialah: Anak keturunan ke bawah yang masih hidup saat si pewaris meninggal. Jika kelompok pertama ini punah, tidak ada seorangpun keturunan yang masih hidup, sehingga kosong, maka kelompok kedua maju masuk kedalam lingkaran pembagian. ii.Prioritas kedua ialah: Orang tua atau bapak dan ibu. Jika bapak ibu tidak ada, karena sudah meninggal, maka tampillah kelompok ketiga ke dalam pembagian. iii. Prioritas ketiga ialah saudara-saudara dengan keturunannya. Jika kelompok ketiga ini kosong maka masuklah kelompok berikutnya. iv. Prioritas keempat ialah orang tua dari orang tua pewaris, kakek-nenek. Jika ini kosong juga maka tempatnya diduduki oleh anggota keturunan orang yang bersangkutan, demikian seterusnya. B. Adapun skala prioritas kelompok ahli waris menurut Al-Quran dan Sunnah Rasul Saw. menurut analisa penulis buku Hukum Kewarisan Bilateral menurut Al-Quran dan Hadis (Hazairin 1964;37) adalah sebagai berikut: i. Prioritas pertama 1~Anak (laki-laki atau anak perempuan), sabagai Dzawi> l-Furu>dh atau sebagai Dzawi> >l Qaraba>t beserta Mawa>li> mereka (S.4 An-Nisa 11 dan S.4 An-Nisa>`33). 2.~Orang tua (ayah, ibu) sebagai Dzawi> >l Furu>dh (S.4 An-Nisa>` 11). 3 ~Janda-duda sebagai Dzawi> Furu>dh (S.4 An-Nisa>` 12). Ketiganya maju bersama atau siapa yang ada dari pada mereka. Jika semua kosong maka bergeser ke lapisan ke-dua. ii. Prioritas kedua 1.Saudara laki-laki atau perempuan, sebagai Dzawi> l Furu>dh atau Dzawi> >l Qaraba>t beserta Mawa>li> mereka ketika dalam keadaan Kala>lah, yaitu tidak ada anak tidak ada orang tua (S.4 An-Nisa>`12;S.4 An-Nisa>` 176;S.4 An-Nisa>`33 ). 2.Ibu sebagai Dzawi> l Furu>dh (S.4 An-Nisa>` 11-12 dan 176). 3.Ayah sebagai Dzawi> >l Qaraba>t dalam keadaan Kala>lah (S.4 An-Nisa>`12). 4.Janda atau duda sebagai Dzawi> l Furu>dh (S.4 An-Nisa>` 12). Semua maju bersama atau siapa yang ada dari mereka ini. Jika semua kosong maka bergeser ke lapisan ke-tiga. iii.Prioritas ketiga 1.Ibu sebagai Dzawi> l Furu>dh (S.4 An-Nisa>` 11) 2.Ayah sebagai Dzawi> >l Qaraba>t (S.4 An-Nisa>` 11) 3.Janda atau duda sebagai Dzawi> l Furu>dh (S.4 An-Nisa>` 12) Semua maju bersama atau siapa yang ada dari mereka ini. Jika semua kosong maka bergeser kelapisan ke-empat. iv.Prioritas keempat 1.Janda atau duda sebagai Dzawi> l Furu>dh (S.4 An-Nisa>` 12) 2.Mawa>li> ibu (S.4 An-Nisa>` 11) 3.Mawa>li> ayah (S.4 An-Nisa>` 11) Semua maju bersama atau siapa yang ada dari mereka ini. @ Masalah Dzawi> l furu>dh, Dzawi> >l Qaraba>t dan Mawa>li> Pertama, Dzwil Furu>dh ialah anggota ahli waris yang bagiannya sudah pasti tidak berubah-ubah menurut pasangannya, dibayarkan setelah warisan dipotong untuk melaksanakan wasiat dan membayar hutang serta biaya pemakaman jenazah. Ahli waris Dzawi> l Furu>dh akan selalu mendapat hak bagian warisan. Kedua, Dzawi>>l Qaraba>t ialah ahli waris yang haknya berubah-ubah tergantung kepada kasusnya, pemberiannya dilakukan setelah warisan itu diambil bagian ahli waris Dzawi>l Furu>dh di atas, termasuk pembayaran wasiat, pelunasan hutang dan biaya pemakaman. Mereka ini ialah: ~Anak laki-laki; ~ Anak perempuan yang digandeng oleh anak laki-laki; @ Ayah dalam hal ini jika pewaris (almarhum) tidak meninggalkan anak keturunan. Saudara laki-laki atau saudara perempuan jika digandeng oleh saudara laki-laki, ketika almarhum atau si mayit tidak mempunyai anak keturunan dan tidak mempunyai ayah lagi. @ Keterangan penjelasan Kedudukan Dawil qarabat itu menjadi ahli waris dengan hak bagian yang tidak pasti dan baru mendapat hak bagiannya setelah harta warisan itu diambil bagian hak diri Dzawi> l Furu>dh yang sudah pasti itu. Disebabkan karena hak mewarisnya itu akan terwujud jika warisan sudah dipotong untuk bagian Dzawi>l Furu>dh, maka kelompok ini juga dinamakan Ashabah. ‘Ashabah sendiri arti asalnya ialah kerabat seseorang yang kaitannya melalui jalur ayah. Menurut istilah, maka ‘Ashabah itu ialah ahli waris yang hak bagiannya tidak pasti. Kelompok ahli waris ‘Ashabah itu ada dua macam, yaitu: i. Sababiyah yaitu menjadi Ashabah itu karena suatu sebab, umpamanya tuan yang memerdekakan seorang budak, maka dia itu menjadi Ashabah budaknya. ii.Nasabiyah, yaitu kelompok Ashabah yang terkait melalui jalur hubungan darah-keturunan. Dan Ashabah Nasabiyah ini dibagi tiga, yaitu:(1)Ashabah bin-Nafsi,(2)Ashabah bil-Ghair.(3)Ashabah ma’al Ghair. Pertama: Ashabah bin Nafsi Ashabah bin Nafsi yaitu bahwa pertalian orang yang bersangkutan dengan pewaris atau si mayit itu adalah langsung, sehingga dia menjadi Ashabah itu tidak melalui perantara sama sekali atau dapat juga melalui perantara, tetapi perantara itu laki-laki bukan melalui perantara perempuan, misalnya anak laki-laki dari anak laki-laki, bukan anak –laki-laki dari anak perempuan. Ashabah bin-Nafsi dibagi empat, yaitu: (a) Al-Far’u; (b) Al-Ushu>l; (c) Al-H}awa>syi> yang dekat; (d) Al-H}awa>syi> yang jauh. Dari dasar ketentuan hak bagi kelompok Ashabah ini maka akan terjadi dua kemungkinan, yaitu: 1) Ahli waris Ashabah mungkin menerima seluruh harta, jika tidak ada Ashh}abul Furu>dh sama sekali. 2) Ahli waris Ashabah tidak mendapat bagian warisan sama sekali, jika warisan itu habis terbagi kepada Ashh}abul Furu>dh. Jika Ashh}abah itu hanya satu orang saja, maka tidak ada masalah. Tetapi jika Ashh}abah itu lebih dari satu orang dan terdiri dari bermacam-macam variasi, maka harus dilakukan seleksi atau pemilihan dengan skala prioritas bertingkat. Artinya semua ashabah dikelompokkan ke dalam kategori kelompok yang bertingkat-tingkat, manakah kelompk yang lebih didahulukan pertama kedua dan seterusnya mengalahkan kelompok peringkat di bawahnya, yaitu sebagai berikut: i. Keturunan ke bawah atau Bunuwwah , yaitu anak cucu, cicit ke bawah ii. Keturunan ke atas atau Ubuwwah , bapak, kakek, buyut ke atas iii.Ke samping dekat atau Ukhuwwah, yaitu saudara, kakak-kaka atau adik-adik. iv.Ke samping jauh ‘Umumah, saudara bapak atau paman, saudara kakek dan seterusnya. Az-Zuh}aili> dalam Al-Fiqhul Isla>mi> (1989:8 / 335) mencatat bahwa dari pengelompokan ini terdapat tiga metode pemilihan prioritas hak untuk didahulukan mengalahkan kelompok lain, yaitu: 1) Tarji>h} bil-Jiha>t; 2) Tarji>h} bid-Daraja>t; 3) Tarji>h} bi quwwatil qara>bat. Ad 1 Tarji>h} bil-Jiha>t Tarji>h} bil-Jiha>t, yaitu penetapan kelompok yang berhak didahulukan mengalahkan kelompok lain melalui tali hubungan darah mereka dengan almarhum si mayit. Sehingga keputusannya ialah sebagai berikut: ~Kelompok tingkat ke-I, yaitu Bunuwwah yang berwujud anak keturunan mempunyai hak didahulukan mengalahkan semua kelompok tingkat ke-II-Ubuwwah, ke-III Ukhuwwah dan ‎ ke-IV ‘Umumah atau penggantinya . ~Tingkat ke-ii, yaitu bapak, mempunyai hak didahulukan mengalahkan kelompok tingkat ke-iii, dan ke iv . ~Tingkat ke-iii, yaitu saudara mempunyai hak didahulukan mengalahkan kelompok tingkat ke-iv yaitu paman atau saudaranya kakek . Ad 2 Tarji>h} bid-Daraja>t Jika kelompok tersebut mempunyai peringkat yang sama, maka seleksinya dilakukan melalui cara Bid-Daraja>t, yaitu kelompok yang lebih dekat hubungan darah yang lebih dekat berhak didahulukan mengalahkan kelompok lebih jauh: ~ Bahwa anak didahulukan mengalahkan cucu, cicit kebawah ~ Bahwa bapak berhak didahulukan mengalahkan kakek ke atas ~ Bahwa paman berhak didahulukan mengalahkan anak paman Ad 3 Tarji>h} bi Quwwatil-Qara>bat Jika mereka menempati posisi derajat yang sama, maka diterapkan metode faktor yang menguatkan, yaitu: ~ Saudara sekandung, seibu-seayah lebih berhak didahulukan mengalahkan saudara seayah saja. ~ Anak saudara sekandung lebih berhak didahulukan mengalahkan anak saudara se-ayah saja. Kedua, ‘Ashabah bil-ghair ‘Ashabah bil-ghair, ialah ahli waris perempuan yang sudah memiliki bagian tertentu bersama-sama dengan ahli waris laki-laki yang sederajat, maka perempuan ini menjadi ahli waris ‘ashabah buil ghair. Ketiga ‘Ashabah ma’al ghair Ashabah ma’al ghair, yaitu karena semua ahli waris perempuan masuk menjadi ‘Ashabah jika dia disertai bersama dengan ahli waris perempuan, maka dalam hal ini ada dua keadaanaa, yaituaaaa; ~ Jika saudara perempuan sekandung bersama dengan anak perempuan atau cucu perempuan dari anak laki-laki ~ Jika saudara perempuan se-ayah bersama dengan anak perempuan atau cucu perempuan dari anak laki-laki @ Soal kakek bersama dengan saudara Para ulama berbeda pendapat soal kakek jika mewaris bersama-sama dengan saudara (sekandung atau seyah), yaitu sebagai berikut: i. Abu> H}ani>fah berpendapat bahwa kedudukan kakek itu sama dengan ayah, sehingga kakek itu menutup (menghijab) hak saudara, sehingga saudara tidak mendapat hak mewaris jika ada kakek. Dasarnya ialah bahwa Al-Quran yang banyak menyebut ayah, maksudnya ialah kakek atau nenek moyang, yaitu: يَابَنِي ءَادَمَ لَا يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ كَمَا أَخْرَجَ أَبَوَيْكُمْ مِنَ الْجَنَّةِ (الاعراف 27) Artinya: “Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga” (S.7 Al-A’ra>f 27) وَاتَّبَعْتُ مِلَّةَ ءَابَائِي إِبْرَاهِيمَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ (يوسف 38) Artinya: “Dan aku mengikut agama bapak-bapakku yaitu Ibrahim, Ishak dan Ya`qub” (S.12 Yu>suf 38) . Demikian pula pengertian lafal Rajulin dzakarin dalam hadis berikut: 6235 عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِي اللَّهم عَنْهممَا عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَلْحِقُوا الْفَرَائِضَ بِأَهْلِهَا فَمَا بَقِيَ فَهُوَ لِأَوْلَى رَجُلٍ ذَكَرٍ(رواه البخاري ومسلم 3028) * Artinya: “Dari Ibnu ‘Abba>s dari Nabi Saw.beliau bersabda: “Serahkan bagian-bagian itu kepada yang berhak, Sisanya maka dia untuk laki-laki yang lebih utama”(HR Bukha>ri> CD no.6235). Yang dimaksud dengan Aula> rajulin dzakarin di dalam hadis itu ialah kakek, bukan saudara. Sebab prioritas Ukbuwwah = Garis keturunan ayah ke atas lebih kuat dari pada Ukhuwah hubungan darah ke samping saudara dan sebagainya. ii. Soal MUQA>SAMAH: Jumhur ulama Ma>liSya>fi’i>, H}anbali> dan UUD Mesir, sejalan dengan pendapat Ali, Ibnu Mas’u>d dan Zaid ibnu Tsa>bit. memberikan hak kepada kakek dan juga kepada bersama-sama, menjadi apa yang disebut Muqa>samah, dasarnya ialah: ~ Bahwa hak bagian saudara itu ditetapkan dengan jelas oleh Al-Quran (S.4 An-Nisa>` 12 ) sedangkan kakek tidak disebut-sebut di sana. ~ Penghubung kakek dengan si mayit itu sama dan satu derajat dengan penghubung saudara dengan si mayit, yaitu ayah. ~ Bahwa lafal Abun di dalam Al-Quran berarti kakek hanya arti Majazi. Artinya tidak mutlak, tidak tegas, samar-samar. Ibnu Rusyd dalam kitabnya Bida>yatul Mujtahid (1950:2 / 346) menyatakan bahwa Qiyas dari kedua kelompok diatas yang lebih kuat ialah kelompok yang menyamakan kakek dengan saudara, sehingga keduanya sama-sama berhak mendapat warisan bersama-sama. Jika ternyata mereka mempunyai kategori yang persis sama, maka masing-masing mempunyai hak yang sama. iii.Mawa>li> ialah anggota ahli waris pengganti, yaitu jika penghubung langsung dia dengan almarhum si mayit itu kosong atau sudah meninggal lebih dahulu sebelum almarhum pewaris meninggal, waris pengganti itu segera masuk ke dalam kelompok pembagian, misalnya anak yang meninggal lebih dahulu dari pewaris maka cucu dapat menggantikan kedudukan anak. Dan Mawa>li> itu haknya bukan sebagai Dzawi>l furu>dh, tetapi haknya adalah sebesar hak bagian ahli waris yang digantikannya dan berbagi bersama-sama dengan sesama Mawa>li> jika jumlahnya lebih dri satu. h- bari Ath-Thabari>>> dalam tafsirnya (1954:5 / 50) menyatakan makna Mawa>li> itu ialah ahli waris yang juga bisa menjadi pewaris. Tafsiran ini dapat dibayangkan jika seseorang menjadi ahli waris yang menerima warisan dari si mayit. Tetapi dia mungkin karena suatu sebab dia menjadi pewaris yang hartanya dibagi-bagi kepada ahli waris. Al-Qurthubi>(1967:5 / 166) mencatat makna Mawa>li itu bisa bergeser ke atas bukan ke keturunan ke bawah saja. Senada dengan penafsiran Ath-Thabari> itu, maka Hazairin (1982:27) menyatakan bahwa “Likullin” (S.4 An-Nisa>` 33) berikut: “Dan untuk setiap orang itu Aku Allah telah mengadakan Mawa>li> bagi harta peninggalan ayah atau mak(ibu) dan bagi harta peninggalan keluarga dekat, demikian juga harta peninggalan bagi tolan seperjanjianmu karena itu berikanlah bagian-bagian kewarisannya”. Maksudnya ialah anak yang telah meninggal mendahului pewaris (si mayit). Dalan lafal “Mawa>li>” maknanya ialah keturunan, sebab “likullin” tidak termasuk dalam Mawa>li> dan bukan Al-Wa>lida>ni, sedangkan ahli waris yang masih hidup sudah ditetapkan bagiannya masing-masing dengan rinci dalam S.4 An-Nisa>` 11-12. …—====ooo000XXXXXXX0XXXXXX000ooo===- Daftar Pustaka ‘Abduh, Muh}}ammad, Risa>latut Tauh}i>d, Makatabah ‘Ali >Shabi>h}, Kairo, 1965 ————– Tafsi>r AL-Mana>r, Da>rul Fikri, Kairo , tth. ‘Ali>>>, ‘Abdulla>h Yu>>suf, The Holly Qur` `a>n, Maryland, 1991 Abu>> Da>wu>d, Sunan Abu> Da>wu>d, Compact Disk, Shakhar, Bairut Abu>> Zahrah, Ushu>lul Fiqh, Da>>rul Fikri, Bairut, 1958 Ah}}mad Al-Musnad, Compact Disk, Shakhar, Bairut Baghda>>di>(Al), ‘Abdul Qa>hir, AlFarqu bainal Fira>q, Muhammad ‘Ali> Shabih>, Kairo Baiquni, Ahmad, Al-Qur an, Ilmu Pengetahuan dan Tehnologi, Dana Bakti Wakaf, Yogyakartta, 1994 Bek, Ja>>d Maula> Cs, Ayya>mul ‘Arab, Da>rul Fikri, Bairut, tth Bucaille, Maurice Asal Usul Manusia, Terj. Rahmani Astuti, Mizan, Bandung, 1992 ——————– Bibel, Quran dan Sains Modern, Bulan Bintang, Jakarta, 1978 Bukha>>ri>, Abu> ‘Abdilla>h Muh}ammad Shahi>>h}ul Bukha>ri>, Al-Mathba’atul Mishriyyah, Kairo, 1343H Departemen Agama Al-Quran dan Terjemahnya, Proyek Pengadaan Kitab Suci, Depag, Jakarta, 1974 Farru>rkh, ‘Umar Ta>rikhul Ja>hiliyyah, Da>>rul ‘Ilmi lil Mala>>yi>ni, Bairu>t, 1984 Garaudy, Roger Janji-janji Islam,, Terj. HM Rasyidi, Bulan Bintang, Jakarta,1982 H}}a>>kim (Al) Al-Mustadrak, Al-Maktabatul Mishriyyatul H}adi>>tsah, Riya>dh, 1968 Hasbi Ash-Shiddieqy Fiqh Mawaris, Bulan Bintang, Jakarta, 1973 Hazairin, Hukum Kewarisan Bilateral Menurut Al-Quran dan Hadis, Bulan Bintang, Jakarta, 1982 Ibnu H>}ajar al-‘Asqala>ni> Subulus-Sala>m, Al-H}}aramain, Singapura, 1960 Ibnu H}}amzah Al-Baya>n wat Ta’ri>f, ………… 1973 Ibnu Jari>r , Ath-Thabari>> Ja>mi’ul Baya>n, Mushthafa>> l-Ba>bi> l-H}}alabi>, Kairo, 1968 Ibnu Katsi>>r, Abu> l-Fida>“ Tafsi>r Ibnu Katsi>r, Da>>rul Andalu>si>, Bairu>t, 1966 Ibnu Ma>>jah, Abu> ‘Abdilla>h Muh}ammad Sunanu Ibnu Ma>jah, ‘I>sa> l-ba>l H}alabi>, Kairo, tth. Ibnu Rusyd, Abu>>l Wali>d Bida>yatul Mujtahid, Mushthafa>>> l-Ba>bi> l-H}alabi>, Kairo, 1982 Ibnul ‘Arabi>>, Abu> Bakar Muh}ammad Ah}ka>mul Qur` a>n, Da>>rul Kutubil ‘Ilmiyyah, Bairu>t, 1988 Ibnul Manzhu>>r, Lisa>nul ‘Arab, Ad-Da>>rul Mishriyyah, Kairo, tth. Khalla>>f, ‘Abdul Wahha>b ‘Ilmu Ushu>lil Fiqh, Majlisul A’la> l-Induni>sia li Da’watil Isla>miyah, Jakarta, 1972 Khu>dha>ri,> Ah}mad Kamil Al-Mawa>ritsul Isla>miyah, Al-Majlisul A’la> lisy-Syu `u>nil Islamiyah , Kairo, 1966 Koesnoe, Mohammad Membagi Harta Pusaka Menurut Hukum Adat di Kab.Aceh Besar, Kuliah Umum,Universitas Syah Kuala,(Tidak diterbitkan), 1979. ————– Pengantar Kedalam Hukum Adat Indonesia, Katholieke Universiteit, Nijmegen, 1971 Lembaga Al-Kitab Indonesia Bibel, Lembaga Alkitab Indonesia, Jakarta, 1965 Majma’ul Lughatil ‘Arabiyyah Mu’jamul Alfa>zhil Qur a>n, Haiatul Mishriyyatil‘Am>mah, Kairo, 1970 Mahkamah Agun R.I. Himpunan Yurisprudensi M.A.Indonesia, Proyek Yurisprodensi Mahkamah Agung Indonesia, 1977 —————— Jakarta,1977 Penelitian Hukum tentang tanah dan Warisan di Wilayah Hukum Pengadilan Tinggi di Semarang, Proyek Yurisprodensi MA, Mara>ghi>>(al), Ah}mad Mushthafa> Tafsi>r Al-Mara>ghi>>, Da>rul Fikri, Bairut, tth. Maslow, Abraham Motivition and Personality,Herper and Row Publisher,NewYork,1954 Mawi dkk Laporan Penelitian Akibat Hukum Perkawinan Suku Madura Ex Karesidenan Besuki (Tidak diterbitkan), Unej, Jember, 1975 Mernisi, Fathimah Ratu-ratu Islam, Terj. Rahmani Astuti, Mizan, Bandung, 1994 Mohammad Koesnoe Membagi Harta Pusaka Menurut Hukum Adat di Kab.Aceh Besar, Kuliah Umum,Universitas Syah Kuala,(Tidak diterbitkan), 1979. ——————- Pengantar Kedalam Hukum Adat Indonesia, Katholieke Universiteit, Nijmegen, 1971 Kanwil Departemen Agama Jatim Surabaya Mimbar Pembangunan Agama (MPA), Majalah bulanan, Departemen Agama Jawa Timur, Surabaya Muba>>>rak, Zaki> Al-Akhla>q ‘Indal Ghaza>li>, Al-Mathba’atur Rahma>>niyah,Kairo,1924 Munhadatul Ummah, Kecenderungan Masyarakat Islam Membagi Warisan, Laporan Riset, Tidak diterbitkan, IAIN Sunan Ampel Surabaya, 1980 Muslim Shah}ih}ul Muslim bi Syarh}in Nawa>wi>,Maktabatul Mishriyyah wa Maktabatuha>>, Kairo, tth. Nasa>`>` `i>(an) As-Sunan, Maktabatut Tija><, Kairo, tth. Paryana Suryadipura Nafsu-nafsu (Tidak diterbitkan), Kuliah Akademi Metafisika Yogyakarta, 1960 Piddington, Ralph An Introduction to Social Anthropology, Oliver and Boyd, London, 1950 Qa>>simi> (Al-), Muh}ammad Jama>luddi>n Mah}asinut Ta1wi>l, ‘I><>>sa> l-Ba>bi>l H}alabi>, Kairo, 1957 Qardha>wi>> (Al) Muh}ammad Yu>suf ‘Awa>milus Sa’ati wal Muru>nati, Da>>rush Shah}wati lin Nasyr, Kairo,1985 Qurthubi> (Al), Muh}ammad Ibnu Ah}mad Al-Ja>mi’u li Ah}ka>mil Qur‘a>n, Da>rul Kita>bil ‘Arabi>, Kairo, 1967 Ra>>ghib (Ar) al-Ashfiha>ni> Mufrada>tu Alfa>zhil Qur a>n, Da>>rul Fikri, Bairu>t, tth. Ridha>>,Rasyi>d dan Muh}ammad ‘Abduh Tafsi>r Al-Mana>r, Da>rul Fikri, Bairu>t, tth. Sa>biq, Sayyid, Fiqhus Sunnah, Da>>rul Kita>bil ‘Arabi>, Kairo, 1971 Sam’un, Sistem Pembagian Warisan Desa Jatirenggo, Lamongan, Laporan riset (Tidak diterbitkan), IAIN Sunan Ampel, Surabaya 1982 Sha>>bu>ni>(ash), Muh}ammad ‘Ali> Rawai’ul Baya>n, Da>rul Fikri, Bairu>t, 1953 Shan’a>>ni>(Ash),Muh}ammad Isma>>’il Subulus Sala>m, Al-H}aramain, Singapura, 1960 Shubh}i>, Ah}}mad Mah}mud Al-Falsafatul Akhla>qiyah fil Fikril Isla>mi, Da>rul Ma’ a>rif bi Mishra, Kairo, 1969 Saleh Hadi Wiyoto Laporan Penelitian Hukum Hukum Keluraga Keluarga Adat dan Waris Krawang Jawa Barat (Tidak diterbitkan),Universitas Pejajaran, Bandung,1974 Suyu>>>thi(as)>, Jama>luddi>n Ja>mi’ush Shaghi>r, Da>>rul Ka>tibil ‘Arabi>, Kairo, 1967 ———————— Al-Asyba>h wan Nazha>ir, Syarakatu Nu>rits Tsaqa>>fah, Jakarta, tth. ———————– Ad-Durrul Mantsu>>r, Da>rul Fikri, Bairu>t, 1983 ——————— Asba>bu Wuru>dil H}adi>ts, Da>rul Kita>bil ‘Ilmiyyah, Bairu>t, 1984 Sya>>thibi> (Asy) Al-Muwa>faqa>t, Al-Makatabatut Tija>>riyatul Kubra>, Kairo, tth. Syalabi>>. Ra “u>f Al-Mujtama’tul ‘Arab qablal Isla>m, Da>>rul Kutubil ‘Arabiyyah, Kairo1977 Syauka>>ni> (Asy), Muh}ammad ibnu ‘Ali> Nailul Autha>r, Da>rul Fikri, Bairu>t, 1989 Thaba>`thaba> `i>> (Ath), Sayyid Muh}ammad H}usain Al-Mi>za>n fi Tafsi>ril Qura>n, Mu`assasatu Isma>’i>liya>h, Isma>’I>liyah, 1371H Thabari>> (Ath), Ibnu Jari>r Ja>mi’ul Baya>n, Mushthafa>l Ba>>bil H}alabi>, Kairo , 1968> Titus, Smith, Nolan Living Issues in Philosophy, Van Nastrand Company, London, 1979 ——————– Pesoalan-persoalan Filsafat, Terj. HM Rasyidi, Bulan Bintang, Jakarta,1984 Turmudzi>>>> (at) As-Sunan, Compac Disk, Shakhar li Bara>mijil H}a>sib, Bairut, 1991 Wa>>h}idi> (al) Abu>l H}asan Asba>bu Nuzu>lil Qura>n, Da>>rul Qiblati, Riya>dh, 1984 Wa>dhi’i>, Muqabbal Ash-Shah}i>h}ul Musnad, Da>>run Nu>r, Wurselen, 1405H Yusuf, Husen Makalah Muktamar Majelis Tarji>h} XXI (Tidak diterbitkan) , Yogyakarta, 1980 Az-Zamakhsyari>>> (Az), Ja>>rulla>h Al-Kasysya>f, Intisya>>ra>t, Teheran, tth. Zuh}}}aili>> (Az) At-Tafsi>r al-Muni>r, Da>>rul Fikri, Bairu.t, 1991 ——————– Al-Fiqhul Isla>miyyu wa adillatuhu, Da>>rul Fikri, Bairut>, DAFTAR AYAT, JUDUL DAN MASALAH (1) ! S16A72!Berkeluarga dan berketurunan 1.Faktor apa yang menyebabkan seseorang belum atau tidak kawin? 2.Bagaimanakah cara dan sikap suatu pasangan suami isteri yang belum dikaruniai anak keturunan? 3.Apa sebab sebagian manusia ada yang memilih jalan yang bathil dan tidak mengakui bahwa rejeki itu datang dari Allah Ta’ala? (2)! S30A20-21!Memadu kasih dengan perkawinan 1.Bagaimana analisanya bahwa manusia itu diciptakan dari tanah? 2.Apakah tugas kewajiban manusia dalam menghadapi perkembangan hidup dan kehidupan ini? 3.Bagaimana cara menumbuh suburkan cinta kasih dalam kehidupan perkawinan itu? (3)- ! S.5 A.87-88! Hukum Perkawinan 1. Apa saja kebutuhan hidup manusia secara universal dikaitkan dengan apa yang disebut-sebut oleh Rasulullah Saw. dalam hadis riwayat Sabab Nuzul itu? 2. Apa dampak dan akibatnya jika kebutuhan hidup manusia dimaksud tidak dipenuhi? 3. Bagaimanakah hukum perkawinan itu? 4. Bagimanakah batas-batas yang dihalalkan oleh Allah itu? (4) S.2 Al-Baqarah 221 Mencari dan Memilih Jodoh 1.Bagaimanakah kriteria sifat dan ciri jodoh yang ideal bagi seorang yang beriman ? 2.Bagaimanakah sifat orang beriman itu yang sebenar-benarnya dan bagaimanakah sifat musyrik yang haram dikawin oleh orang yang beriman itu? 3. Bagaimanakah dampak akibat dari perkawinan antara seorang beriman dengan seorang musyrik? Bagaimana pula keutamaan perkawinan yang sesuai dengan apa yang diridloi oleh Allah? (5)!S.2 Al-Baqarah 235- Melamar dan Berpacaran l.Bagaimanakah aturan hukum melamar itu? Dan bagaimana pula aturan hukum yang berlaku terhadap seorang laki-laki dengan seorang perempuan yang bermaksud menjalin ikatan perkawinan itu? 2.Bagaimanakah hukum tentang seorang perempuan yang sedang menjalani masa iddah itu? 3.Bagaimanakah aturan hukum tentang tata hubungan antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan yang bukan mahram ? (6) ! S24A32 !Tugas dan kedudukan wali dalam perkawinan l. Apa saja tugas orang tua dan bagaimanakah kedudukan mereka yang menjadi wali untuk orang atau anak yang menjadi tanggung jawab di pundaknya? 2. Apa saja sarana dan prasarana persiapan yang harus dipenuhi oleh seorang laki-laki dan perempuan untuk membina rumah tangganya? 3. Bagaimanakah kemungkinan adanya anugerah Allah untuk mereka yang melangsungkan perkawinan dan membina kebahagian rumah tangga mereka (7) S.33 Al-Ahzab 53 Pelaksanaan dan Perayaan Perkawinan l. Bagaimanakah kisah menjelang pelaksanaan dan perayaan walimah Rasul Saw. tersebut? 2. Bagaimana dan apa saja aturan hukum yang harus dipenuhi oleh seorang Islam yang akan melaksanakan upacara perkawinannya? 3. Bagaimanakah tuntunan Rasulullah Saw dalam melaksanakan upacara walimahan perkawinan itu? 4. Bagaimana hikmah rashasia upacara walimahan perkawinan Islam itu? (8).S.4 An-Nisa` 34Kedudukan Hukum Suami dan Isteri l. Bagaimanakah kedudukan hukum suami dan apa saja tugas kewajiban suami itu? 2. Bagaimanakah kedudukan hukum isteri dan apa saja tugas kewajiban isteri itu? 3. Apakah faktor yang menyebabkan timbulnya masalah nusyuz dalam suatu perkawinan dan bagaiamanakah usaha menanggulanginya? (9) S.2 Al-Baqarah 233 Hukum antara Bapak, Ibu dan Anak 1. Bagaimanakah hak dan kewajiabn bapak, bagaimanakah hak dan kewajiban ibu dan bagaimana pula aturan hukum anak terhadap bapak-ibu? 2. Bagaimanakah hukumnya jika seandainya bapak tidak mampu dan bagaimana pula jika seandainya ibu tidak mampu memenuhi kewajiban yang harus ditanggungnya itu? 3. Sampai sebatas manakah tanggung jawab ahli waris untuk memikul tugas kewjiban mereka terhadap keluarga dan rumah tangga tersebut diatas ? (10) S4A3 ! Hukum Poligami 1. Bagaimanakah sebenarnya Hukum Poligami itu? 2. Apa saja syarat-syarat dibolehkannya seseorang laki kawin poligami? 3. Bagaimanakah hikmah rahasia dibolehkannya poligami itu? (11) S4A32 !Harta suami dan karya jasa suami isteri l. Apakah seorang isteri mempunyai hak untuk memiliki harta sendiri di samping harta suami? 2. Bolehkah seorang isteri bekerja mencari harta kekayaan atau kedudukan di luar rumah tangga? 3. Bagaimanakah kedudukan harta yang diperoleh dari usaha suami atau isteri dalam kehidupan perkawinan ? 4. Bagaimanakah kedudukan harta suami isteri selama perkawinan tersebut jika kemungkinan suatu ketika terjadi perpisahan? (12) S4A19 ! Pembinaan ikatan perkawinan yang idial l.Bagaimanakah sebenarnya proses perkembangan budaya dan pemikiran terhadap kedudukan kaum wanita dalam kehidupan ini? 2.Alasan yang bagaimanakah yang membolehkan suami mengusir isteri dari tempat tinggalnya? 3.Bagaimanakah makna “Wa’Asyiruhunna bil Ma’ruf” artinya santun dalam kebersamaan hidup berumah tangga itu? 4.Bagaimanakah ikhtiar kita untuk mengekalkan kemesraan hidup perkawinan yang idial itu? (13)S.4 An-Nisa` 128 Gejala-gejala keretakan rumah tangga 1.Bagaimanakah jalan pemecahan yang akan ditempuh jika yang dikawatirkan akan menumbuhkan benih perpecahan rumah tangga itu timbul dari pihak isteri? 2.Masalah apa saja yang boleh dirundingkan dalam usaha perdamaian tersebut? 3.Bagaimanakah caranya usaha yang dispekulasikan dapat mengurangi kerasnya watak kikir dalam diri seseorang dalam kaitannya dengan ikatan perkawinan? (14)S4An-Nisa`35-Badan Penasehatan, Pembinaan dan PelestarianPerkawinan (BP4) l. Siapakah subyek yang dituju oleh ayat 35 An-Nisa` itu, sehingga akan jelas siapakah orang yang harus mengurus dan mengatasi persoalan percekcokan antara suami dengan isteri dalam suatu perkawinan? 2. Bagaimanakah sebenarnya apa yang dimaksud dengan hakam dalam ayat itu? 3. Sampai seberapa jauh hak wewenang hakam dalam tatap muka perdamaian di sana? (15) S2A229 !Putusnya perkawinan 1. Bagaimanakah sebenarnya Hukum Talak itu? 2. Apa sebab talak tiga sudah tidak boleh rujuk lagi? 3. Bagaimana kemungkinan suami akan merujuk lagi isterinya yang sudah dtalak-tiga itu? 4. Apakah isteri tidak mempunyai hak untuk memutuskan katan perkawinan? (16) S2A226-227 !Perceraian karena sumpah Ila` 1. Bagaimanakah hukum tentang sumpah itu? 2. Bagaimanakah hukum tentang sumpah Ila` itu? 3. Bagaimana perbandingan antara talak dengan fasakh? (17) S24A5-10 ! Perceraian karena sumpah Li’an 1. Bagaimanakah syarat-syarat saksi dalam perkara tuduh-menuduh zina itu? 2. Bagaimanakah rincian hukum sumpak Li’an itu 3. Bagaimana akibat hukum dari sumpah Li’an? (18) S2A228! Dampak dan akibat putusnya perkawinan 1.Sebenarnya apakah yang dimaksud dengan “Tsalatsata Quru` “ itu? 2.Bagaimanakah gambaran perbandingan antara kewajiban isteri dibanding dengan haknya? 3.Bagaimanakah jalan pemecahannya jika isteri mempunyai suatu kelebihan atau kedudukan melebihi kemampuan dan kedudukan suami? (19) S65a5-6!Hak isteri yang diceraikan 1.Hak apa saja yang dimiliki isteri yang dicerai yang harus dipenuhi oleh bekas suami? 2.Bagaimana nasib anak-anak jika terjadi perceaian antara pasangan suami isteri? 3.Bagaimana jalan pemecahannya jika tidak diperoleh kesesuaian antara suami-isteri (20) S.2 A.230!Rujuk kembali 1.Ada berapa macam bentuk putusnya perkawinan dan perceraian itu? 2.Bentuk perceraian atau putusnya perkawinan yang bagaimana yang dimungkinkan adanya rujuk kembali ? Dan bentuk perceraian atau putusnya perkawinan yang mana tidak dibolehkan adanya rujuk kembali? 3.Syarat-syarat apa saja dan bagaimanakah cara melakukan rujuk kembali bekas suami isteri yang pernah putus perkawinannya itu? (21) S2A234!Berkabung 1 .Bagaimanakah sikap seorang suami jika seandainya dia kematian isteri? 2. Apa saja yang boleh dilakukan dan apa saja yang tidak boleh dilakukan oleh seorang isteri yang kematian suami dan bagaimana pula jika suami kematian isteri? 3.Alasan apa yang dapat dibenarkan oleh syara’ bagi suami atau isteri untuk kawin lagi setelah kematian pasangannya? (22) S2A233 ! Hak-hak anak 1. Apa saja hak anak yang menjadi tanggung jawab ayah ibunya? 2.Bagaimanakah aturan hukum Islam terhadap keluarga berencana ? 3.Bagaimana akibat hukum jika seorang ibu menyusui anak orang lain dari teteknya? 4.Siapa saja orang yang menanggung jawab tugas kewajibannya jika ayah dan ibu sebagai orang tua anak mereka tidak dapat menunaikan tugas kewajibannya? (23) S2A180 !Wasiat 1. Bagaimanakah hukum yang mengatur wasiat itu? 2. Bagaimana pengertian Al-Ma’ruf atau BAIK dalam ayat itu? (24) S4A9!Generasi unggulan yang ideal 1. a. Generasi yang bagaimanakah yang bernilai plus atau unggulan itu? b. Bagaimanakah generasi yang lemah itu? 2. Sayogyanya bagaimana cara menyantuni anak yatim itu? (25) S.4 A7!Hak mewaris antara lk-lk dan perempuan 1. Bagaimanakah sebenarnya kedudukan wanita di dalam ajaran Islam itu? 2.Apakah seorang isteri mempunyai hak untuk memisahkan harta miliknya dari harta bersama dalam perkawinan? 3. Bagaimanakah cara membaginya, jika terjadi perpisahan perkawinan pisah hidup atau pisah mati, jika terjadi paduan harta hasil karya bersama suami isteri dalam perkawinan? 4.Perhitungan apa saja yang harus dilakukan sebelum pelaksanaan pewarisan? (26) S.8A72-75!Waris mewaris 1. Apakah amal ibadah yang derajatnya menyamai amalan hijrah? 2.Manakah perjanjian atau sumpah setia yang dibolehkan, yang mana dilarang? 3. Apa sebab sumpah setia persahabatan waris mewaris itu terlarang? 4. Bagaimana Allah mengatur hukum waris bagi para hamba yang beriman itu? (27) S.4A33 ! Hak cucu dan tolan seperjanjian 1. Bagaimana hak dan kedudukan cucu dalam hukum waris Islam ? 2. Bagaimana fatwa para ulama soal pemberian hak bagian warisan bagi cucu? 3. Bagaimanakah sebenarnya hukum bersumpah setia persahabatan itu? (28) S.33 A4-5! Adopsi-anak angkat 1. Apakah tujuan hidup manusia itu? 2. Apakah dengan akal saja manusia dapat mencapai apa yang disebut baik dan benar? 3. Apa saja adat kebiasaan, tradisi kebudayaan Arab Jahiliyah itu? 4. Bagaimana peringatan Al-Quran terhadap berbagai macam adat-kebiasaan tradisi kebudayaan Arab Jahiliyah dahulu itu? 5. Bagaimanakah hukum Zhihar itu dan bagaimana pula hukum tentang pengangkatan anak itu menurut hukum Islam ? 6. Bagaimanakah jalan keluar mengatasi soal keinginan suatu keluarga untuk ikut menikmati kemesraan atas adanya anak keturunan ? (29) S4A128 Tashaluh atau Perdamaian 1. Apa sebab timbul pertikaian dan konfrontasi antar berbagai macam unit masyarakat itu? 2. Bagaimana dan apa kunci tercapainya perdamaian dan kerukunan? 3, Bolehkah dilakukan perdamaian di dalam pembagian warisan? 4. Bagaimanakah pelaksanaan perdaimaian di dalam membagi harta warisan? (30) S.4 A11-12 Angka-angka warisan 1. Sebenarnya apa yang dimaksud dengan anak di dalam ayat di atas? a.Apakah tidak ada perkecualian dalam hal anak disini? b.Jika ada perkecualian dan larangan, maka bagaimana analisa lebih jauh ? 2. Apa yang dimaksud dengan “Fauqa itsnataini” فوق اثنتين)) dalam ayat itu? a. Apakah arti lafal “Fauqa” dan bagaimana komentar para ulama atasnya? b.Berapa bagian anak perempuan dua orang, seperdua atau dua pertiga? 3. Bagaimana hak dan kedudukan ahli waris pengganti? 4. Bagaimana sistem penyusunan skala prioritas hak dan kedudukan ahli waris dengan penggantinya? 5. Bagaimana sistem penyusunan skala prioritas hak dan kedudukan ahli waris dengan penggantinya? 6. Siapa-siapa orang yang menjadi ahli waris kelompok prioritas pertama, kedua dan seterusnya? Catatan khusus: Al-Quran S.2 al-Baqarah 233 dan S.4 An-Nisa>` 128 ditafsirkan ulang, namun sesuai dengan judulnya maka masalah dan analisanya tidaklah sama. —–ooo000ooo—- Pengantar Segala sesuatu karena nama Allah yang mempunyai sifat serba Maha dan absolut Maha serta terpuji di atas seluruh makhluk. Oleh karena itulah hamba mengucapkan puji syukur Al-Hamdu lillah karena dari anugerah limpahan rahmat Allah itulah maka penulis dapat mempersembahkan untaian uraian dalam buku ini.Rahmat dan salam semoga tercurahkan kepada Rasul junjungan kita Nabi Besar Muhammad Saw. yang telah menyampaikan kepada kita ajaran kebenaran Ilahi wahyu dari Allah Ta’ala lengkap dengan metodologi, teori dan praktik hidayah Allah untuk kita orang-orang yang beriman. Semua itu dapat sampai kepada kita melalui ketekunan, ketelitian para sahabat, tabi’in, tabi’it tabi’in wal mujtahidin, semoga semua mendapat ridho-Nya. Buku ini merupakan himpunan tulisan dalam rubrik Tafsir Maudhu’i bersambung dalam Majalah Mimbar Pembangunan Agama Departemen Agama Propinsi Jawa Timur terutama antara bulan Agustus 1998 sampai Maret 2002. Naskah pertama buku ini sebenarnya sudah diterima oleh suatu penerbit terkenal di Surabaya mandeg sangat lama dan sudah 4 surat kemudian dua kali penulis mendatangi penerbit itu untuk meminta pengembalian naskah jawabannya ialah naskah itu hilang Berkat rahmat Allah maka dari arsip yang masih tinggal penulis berusaha melakukan perbaikan dan pengaturan kembali naskah yang lama. Penulis sangat bersyukur dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada penerbit yang sekarang ini yang sudah berjasa besar untuk menyebarkan sumbangan pikiran penulis kepada para pembaca, semoga semua semua yang berjasa dalam penyebaran pemikiran dalam buku ini termasuk himpunan hamba Allah yang mendapat anugerah rahmat baroka-Nya sebagai amal jariyah mereka Amin. Walaupun penulis sudah berusaha maksimal untuk memperbaiki naskah dan isi kandungannya, namun tentu masih banyak kekurang dan tidak memuaskan para pembaca sekalian, oleh karen itulah maka penulis memohon tegur sapa dan mohon maaf yang sebanyak-banyaknya. Sidoarjo 15 Maret 2006 Penulis (Imam Muchlas) ooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooo

  • Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s

    Kategori

    Ikuti

    Get every new post delivered to your Inbox.

    %d bloggers like this: