Oleh: pondokquranhadis | September 2, 2011

CARA YANG IDEAL PENYELESAIAN PERSELISIHAN

011(8)4                                                   Tafsir Tematis Kontemporer

 

Penyelesaian Perselisihan

Yang ideal

Al-Quran S.4 An-Nisa` 59

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا( النساء 59)

Artinya

“Hai orang-orang yang beriman, ta`atilah Allah dan ta`atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”(.,4 An-Nisa` 59).

Tema dan sari tilawah

1.Skala priortias ketaatan orang beriman itu ialah taat pertama kepada Allah kemudian taat kepada Rasul utusan Allah.

2.Taat kepada selain Allah ialah yang ketiga  dengan syarat  selama dia taat kepada Allah dan taat  kepada  Rasulullah.

3.Jika terjadi perbedaan pendapat diantara orang yang beriman maka maka way out-jalan keluarnya ialah melalui  sistem  ketaatan kepada Allah dan Rasulullah.

4.Cara inilah jalan penyelesaian yang paling ideal bagi orang yang beriman kepada Allah dan hari kiamat. Maka  orang yang tidak beriman memilih jalan yang tidak baik (dimurkai Allah).

Masalah dan analisa jawaban

        Dari masalah yang sekian banyak maka  yang mendesak ialah:

  1. 1.      Apakah pedoman  dan pegangan hukum  orang yang tidak beriman kepada Allah dan Rasulullah itu? Jawaban sementara: Pedoman dan pegangan hukum kaum kafir yang tidak beriman kepada Allah ialah logika akal atau hawa nafsu.

2.Apakah kelebihan Hukum Allah dan Rasulullah dibanding dengan logika dan hawa nafsu itu? Jawaban sementara: Kelebihan Hukum Allah dan Rasul yaitu Al-Quran dan Hadis ialah keduanya mengandung mukjizat  yang tidak dapat dijangkau oleh akal dan logika.

3.Bagaimana way out-jalan keluar yang ideal penyelesaian perselisihan menurut Allah dan Rasulullah itu? Jawaban sementara: Jalan keluar dimaksud ialah  mengikuti tertib urutan dan skala prioritas ketaatan kepada kebenaran yang tertinggi  bertingkat-tingkat sampai yang paling rendah yang ada dalam system Hukum Allah dan Rasulullah.

Pendalaman dan penelitian

BAB  SATU

Antara   iman  dengan kafir  

Masalah ke-i: Apakah pedoman  dan pegangan hukum  orang yang tidak beriman kepada Allah dan Rasulullah itu? Jawaban sementara: Pedoman dan pegangan hukum orang kafir atau orang yang tidak beriman kepada Allah  itu ialah  akal atau hawa nafsu.

Pembahasan maslah ini kita coba melalui  soal agama bahwa agama  itu dibagi dua, yaitu agama langit dan agama budaya, bahwa Agama langit ialah agama yang berasal dari Wahyu dari Allah sedangkan  agama budaya ialah agama hasil pemikiran  akal manusia.

A. Agama langit khususnya agama Islam itu didasarkan atas Rukun Iman yang 6, Rukun Islam yang 5 serta Al-Aklaqul Karimah semua dari Wahyu dari Allah yang diturunkan kepada Rasul Utusan Allah. Kebenarannya adalah mutlak universal, berlaku atas seluruh umat, segala tempat dan semua jaman, sebab wahyu Allah itu adalah ilmu Allah yang Mutlak,  Maha Benar.

B.Agama Budaya ditemukan oleh manusia melalui akal dan perasaan manusia sedangkan akal  manusia itu terlalu terikat oleh sifat hipotetis-spekulatif, artinya penemuan hasil  pemikiran akal dan perasaannya itu adalah sementara dan untung-untungan tidak berlaku universal tetapi bersifat relative waktu tertentu, tempat tertentu dan manusia tertentu, salah satu contohnya ialah Agama Yahudi yang berlaku hanya untuk orang Yahudi  atau bangsa Israil demikian juga agama yang dicampur-campur dari wahyu dengan budaya hasil pemikiran akal (Sinkretisme)

Perbandingan  antara Agama langit dan Agama budaya

       Adapun perbedaan ciri-ciri agama langit dan ciri agama budaya ada 6, yaitu sebagai berikut:

=================================================================

No. !                Agama Langit (Samawi)                     !                  Agama  Budaya

——————————————————————————————————————

1.    ! Disiarkan oleh nabi atau rasul dari Allah       ! Tidak mempunyai nabi atau rasul

2.    ! Berpedoman kitab suci wahyu dari Allah       ! Tidak mempunyai kitab dari Allah

3     ! Sistem kehidupan mengikuti aturan Allah      !  Sistem kehidupan diatur oleh akal

4     ! Manusia tidak dapat mengubah agama           !  Agama ditetapkan oleh manusia

5     ! Agama tidak luntur karena kritik akal           !  Agama berubah sebab kritik akal    

6     ! Konsep agama serba monoteistis                ! Konsep agama bersifat politeistis

Agama langit  Khususnya Islam mempunyai 6 ciri, yaitu:

i. Disiarkan oleh nabi atau rasul utusan Tuhan (S.2 Al-Baqarah 151)

كَمَا أَرْسَلْنَا فِيكُمْ رَسُولًا مِنْكُمْ يَتْلُو عَلَيْكُمْ ءَايَاتِنَا وَيُزَكِّيكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُعَلِّمُكُمْ مَا لَمْ تَكُونُوا تَعْلَمُونَ (البقرة 151)

      “Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan ni`mat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah (As Sunnah), serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui”(S.2 Al-Baqarah 151)

ii.  Mempunyai kitab suci yang dibawa oleh nabi atau rasul utusan Tuhan (S.42 Asy-Syura 17);

اللَّهُ الَّذِي أَنْزَلَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ وَالْمِيزَانَ وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّ السَّاعَةَ قَرِيبٌ (الشوري 17)

“Allah adalah yang menurunkan kitab dengan (membawa) kebenaran dan (menurunkan) neraca (keadilan). Dan tahukah kamu, boleh jadi hari kiamat itu (sudah) dekat?(S.42 Asy-Syura 17)

iii. Sistem kehidupan takluk dan mengarah kepada sistem dalam agama(S.17 Al-Isra` 81)

وَقُلْ جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا (الاسراء81)

     “Dan katakanlah: “Yang benar telah datang dan yang bathil telah lenyap”. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap”(S.17 Al-Isra` 81).

iv. Mentalitas penganutnya tidak dapat mengubah agama, tetapi agama mengubah mentalitas penganut (S.23 Al-Mu`minun 71);

وَلَوِ اتَّبَعَ الْحَقُّ أَهْوَاءَهُمْ لَفَسَدَتِ السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ بَلْ أَتَيْنَاهُمْ بِذِكْرِهِمْ فَهُمْ عَنْ ذِكْرِهِمْ مُعْرِضُونَ (المؤمنون 71)

     “Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan mereka tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu”(S.23 Al-MU’minun 71)

v. Kebenaran prinsip agama tidak luntur oleh kritik akal karena ajaran agama tersebut tidak bertentangan dengan akal(S2 Al-Baqarah 147);

الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ (البفرة 147)

    “Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu”(S.2 Al-Baqarah 147)

vi.Konsep agama serba monoteis, serba esa (S.112 Al-Ikhlash 1-4).

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ(1)اللَّهُ الصَّمَدُ(2)لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ(3)وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ (الاخلاص1-4)

     “Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa, Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia”(S.112 Al-Ikhlash 1-4)

           Agama Islam adalah agama langit (Agama Samawi), dengan nabinya Muhammad dan kitab sucinya ialah Al-Quran. Sedangkan Agama Yahudi dan Nasrani menurut pandangan Islam k4eduanya  berasal dari agama langit, tetapi dalam perkembangannya agama Ahli Kitab Yahudi-Nasrani ini mengalami erosi longsoran lahan  agama budaya. Kaum Yahudi mengangkat Nabi ‘Uzair menjadi Anak Tuhan dan Kaum Nasrani mengangkat Nabi ‘Isa  diangkat menjadi Tuhan Anak, Kitab Bibel-Kitab Perjanjian Lama dan Kitab Perjanjian Baru  menampung  rembesan teori dari luar wahyu.

Agama Islam

          Pedoman pokok dalam agama Islam ialah  Rukun Iman dan  Rukun Islam serta Al-Akhlaqul Karimah maka kepada mereka yang memenuhi Rukun Iman yang 6, yaitu percaya kepada Allah, Malaikat, Kitab Suci, Rasul, Hari Kiamat dan Qadha` qadar; Rukun Islam yang 5, ialah Syahadat, Shalat,  Zakat, Puasa dan Haji beserta Al-Akhlaqul Karimah, atau berbut Ihsan; Maka  orang yang tidak memenuhi Rukun Iman dan Rukun Islam serta Al-Akhlaqul Karimah namanya bukan orang beriman juga  tidak beragama Islam maka lebih ekstrimnya ialah kafir. Rasulullah Saw bersabda dalam hadis:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا بَارِزًا لِلنَّاسِ فَأَتَاهُ رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الْإِيمَانُ قَالَ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكِتَابِهِ وَلِقَائِهِ وَرُسُلِهِ وَتُؤْمِنَ بِالْبَعْثِ الْآخِرِ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الْإِسْلَامُ قَالَ الْإِسْلَامُ أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ وَلَا تُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَتُقِيمَ الصَّلَاةَ الْمَكْتُوبَةَ وَتُؤَدِّيَ الزَّكَاةَ الْمَفْرُوضَةَ وَتَصُومَ رَمَضَانَ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الْإِحْسَانُ قَالَ أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنَّكَ إِنْ لَا تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ (رواه مسلم 10 والبخاري 48)

         “Dari Abu Hurairah dia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pada suatu hari berada di hadapan manusia, lalu seorang laki-laki mendatanginya seraya berkata, 'Wahai Rasulullah, apakah iman itu? ' Beliau menjawab, 'Kamu beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-Nya, beriman kepada kejadian pertemuan dengan-Nya, beriman kepada para Rasul-Nya, dan kamu beriman kepada hari kebangkitan yang akhir. Dia bertanya, 'Wahai Rasulullah, apakah Islam itu?  Beliau menjawab, Islam adalah kamu menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, mendirikan shalat yang wajib, membayar zakat yang difardlukan, dan berpuasa Ramadlan. Dia bertanya lagi, 'Wahai Rasulullah, apakah ihsan itu? ' Beliau menjawab, 'Kamu menyembah Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, maka jika kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.”(HR Muslim no.10 dan Bukhari no.48)

Memperhatikan berbagai macam nash dalam Al-Quran dan hadis maka mereka yang tidak beriman tidak beragama Islam itu adalah orang yang mengikuti ajakan syaitan atau meniru perbuatan syaitan, semau guwe berbuat dosa yang sangat besar  sampai   imannya copot atau hilang, akibatnya nyaris  dia  dinamakan kafir.

@Dalam Majmu’ Fatawa (1h93) Ibnu Taimiyah menyatakan bahwa iman itu lawannya ialah kufur, senada dengan  hadis Bukhari no.15 Muslim no.60 berikut:

عَنْ أَنَسٍ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ فِي قَلْبِهِ مَنْ كَانَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَمَنْ كَانَ يُحِبُّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إلَّا لِلَّهِ (رواه البخاري 15 ومسلم 60)

“Dari Anas bin Malik dari Nabi Saw, beliau bersabda: "Tiga perkara yang apabila ada pada diri seseorang, ia akan mendapatkan manisnya iman: Menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih dicintainya dari pada selain Allah dan Rasulullah keduanya. Jika ia mencintai seseorang, dia tidak mencintainya kecuali karena Allah "(H.Bukhari no.15 dan Muslim no.60).

@Dalam Majmu’ Fatawa (2h125) itu Ibnu Taimiyah menyatakan bahwa orang Mu`min itu terus-menerus  selama hidup sampai mati selalu menepati (Jawa=Nuhoni) ikrar yang diucapkannya  itulah orang mu`min-muslim, sebaliknya seseorang dapat dinamakan kafir karena perbuatannya melawan ikrar peryataan beriman itu.

@ Dalam Kitab Al-Wasith (1h804) Sayyid Thanthawi mencatat hadis bahwa Ibnu ‘Umar bertanya kepada Rasulllah ٍSaw.

  الإِيمانُ يَزيدُ وَيَنْقُص  ؟ قَالَ : نَعَمْ . يَزِيْدُ حَتَّى يُدْخِلُ صَاحِبَهُ الْجَنَّةَ وَيَنُْقُصُ حَتَّى يُدْخِلَ صَاحِبَهُ النَّارَ(الوسيط لسيد طنطاوي (ج 1 / ص 804)

“Iman itu bertambah dan berkurang? Beliau menjawab: “Betul, iman itu bertambah sampai mengangkat dia naik ke surga dan berkurang sampai menjatuhkan dia masuk ke neraka”( Sayyid Thanthawi  dalam Kitab Al-Wasith (1h804); Kitab Al-Wajiz fi ‘Aqidatis Salaf (1h91) mencatat tambahan bahwa: Iman bertambah sedangkan berkurang sebabnya ialah karena seseorang meninggalkan amal.

            Secaraq  logika    bahwa iman itu bertambah dan berkurang maka jika iman itu berkurang terlalu banyak dan imannya berkurang terus sampai habis maka orang  yang demikian ini tidak mempunyai iman yang ada hanya tinggallah kafirnya.

           Dan lebih tegas lagi  Rasulullah Saw menetapkan bahwa orang  yang berbuat maksiat, berzina, mencuri, mabuk-mabukan  adalah copot imannya, jadi imannya lepas, imannya hilang, lenyap tidak ada bekasnya. Beliau bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَزْنِي الزَّانِي حِينَ يَزْنِي وَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلَا يَشْرَبُ الْخَمْرَ حِينَ يَشْرَبُ وَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلَا يَسْرِقُ حِينَ يَسْرِقُ وَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلَا يَنْتَهِبُ نُهْبَةً يَرْفَعُ النَّاسُ إِلَيْهِ فِيهَا أَبْصَارَهُمْ حِينَ يَنْتَهِبُهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ (رواه البخاري 2295 ومسلم 86)

“Dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seorang pezina tidak mempunyai iman ketika sedang berzina, dan seorang peminum khamar tidak mempunyai iman ketika sedang minum-minum dan seorang pencuri tidak mempunyai iman ketika sedang mencuri dan seorang yang merampas hak orang agar pandangan manusia tertuju kepadanya tidak mempunyai iman ketika dia merampasnya (HR Bukhari no.2295 dan Muslim no.86).

           Dari pandangan ini maka dapat dipastikan bahwa orang yang imannya copot adalah kafir. Maka orang kafir itu pedoman dan pegangan hokum mereka ialah akal dan hawa nafsu, tidak percaya kepada kitab suci dan rasul utusan Allah. Padahal  akal dan perasaan manusia atau budaya itu  selalu berubah-ubah dan berbeda-bedaa bagi setiap kelompok masyarakat sejak budaya Mesir purba, Yunani Purba, Persi purba sampai  jaman  pesawat ruang angkasa challenger, sputnik, naik ke bulan dan planit penghuni angkasa luar lainnya. Dan  Hukum Internasional buatan UNO, PBB bahkan semua organisasi manusia  selalu berubah karena   selalu dilanggar oleh manusia sendiri.

           Itulah pedoman dan pegangan hukum amnsuia yang tidak beriman atau tidak beragama Islam agama yang diridhoi Allah.

BAB  DUA

Perbandingan wahyu dengan akal

         Masalah ke-ii: Apakah kelebihan firman Allah dan hadis Rasulullah (Al-Quran dan Hadis) dibanding dengan logika dan hawa nafsu itu? Jawaban sementara: Kelebihan aturan Allah yaitu Al-Quran dan Hadis Rasulullah ialah bahwa keduanya menyimpan Mukjizat  yang tidak dapat dijangkau oleh akal dan logika.

Al-Quran  itu wahyu dari Allah dan hadis itu bersumber dari wahyu dari  Alla juga.

       Usaha untuk  melihat  dan memahami  bagaimana LOGIKA  dan bagaimana MUKJIZAT,  kita coba memahaminya dari  soal kebenaran, tingkatan kebenaran dari yang paling rendah sampai yang paling tinggi, yaitu sebagai berikut:

      Jika diteliti dengan cermat ternyata yang disebut benar itu bertingkat-tingkat, yaitu, benar tingkat rendah, tingkat menengah dan tingkat tingi.  Yang paling bawah kebenarannya dikalahkan oleh yang lebih tinggi, yang tinggi tidak dapat dikalahkan oleh yang bawah, yang paling tinggi  tidak mungkin dapat dikalahkan oleh yang ada di  bawahnya.

       Lebih dalam lagi  kebenaran itu  harus diteliti melalui tiga dimensi:

(1)  Jumlah  saksi:Suatu kebenaran yang hanya diakui oleh satu orang akan dikalahkan oleh kebenaran yang diakui oleh dua orang atau yang lebih banyak bahkan  yang  diakui oleh semua orang.(2) Luas tempat: Kebenaran yang diakui di dalam satu kelompok satu tempat dikalahkan oleh kebenaran  yang diakui oleh  seluruh tempat, kebenaran lokal dikalahkan oleh kebenaran yang diakui oleh seluruh tempat regional, nasional bahkan internasional seluruh  jagad.(3) Lamanya waktu:   Dari sisi waktu, maka kebenaran yang  diakui benarnya hanya suatu masyarakat, local dan SEBENTAR akan dikalahkan oleh kebenaran yang diakui seluruh umat manusia seluruh jagad satu bulan satu tahun, atau satu abad bahkan oleh diakui selama- abadi-universal.

          Di samping  factor jumlah, tempat dan waktu maka kebenaran juga sangat ditentukan oleh sumber kebenaran  dalam menemukan  tingkat kebenaran, yaitu:

(1) Sumber Kebenaran: Dari sisi sumber ilmu kebenaran dibagi menjadi 4 tingkat, yaitu:

i. Pengetahuan (knowledge), bahwa suatu ilmu yang diperoleh hanya melalui alat indra melulu dikalahkan oleh pengetahuan yang diperoleh ilmu.  

ii.Ilmu  (Sience) atau teori yaitu pengetahuan yang dikembangkan melalui metodologi penelitian ilmiah yang diuji dengan ilmu metodologi penelitian ilmiah dan inipun dikalahkan oleh filasafat. iii.Filsafat, yaitu suatu teori hasil dari pengetahuan yang dikembangkan secara metodologis ilmiah maksimal dan diteruskan dengan berpikir  sedalam-dalamnya,  teratur, sistematis, bebas, radikal, universal. Tetapi kebenaran tingkat pengetahuan, teori (sience) bahkan filsafat ini adalah bersifat hipotetis (sementara) dan spekulatif (untung-untungan); Sehingga kebenaran yang hakiki sempurna 100% sepenuhnya mutlak adalah kebenara wahyu. (iv).Wahyu; wahyu ialah ilmu Allah yang diturunkan kepada manusia utusan Allah. Kebenaran wahyu itu mutlak sebab tidak ada manusia yang sempurna, sehingga  pengetahuan, teori dan filsafat hasil  akal manusia itu tidak sempurna, kebenaran semua tingkat pengetahuan-indrawi, teori ilmiah dan filsafat  produks akal manusia ini  tidak lepas dari sifat akal manusia yang spekulatif-untung-untungan, hipotetis benar sementara.

Maka pengetahuan, ilmu dan filsafat semua  dikalahkan oleh wahyu sebagai ilmu Tuhan yang Maha Sempurna, kekal-abadi selama-lamanya, yang mana sebagian dari ilmu Allah  berwujud wahyu yang diberikan kepada para nabi dan rasul.

Kebenaran yang mutlak itu ialah Ilmu Allah

      Para filosuf mengajukan teori diantaranya ialah:

(1)Anselm (1109M) seorang teolog ahli filsafat Italia, menyatakan bahwa Tuhan itu adalah suatu wujud yang tidak mungkin dikalahkan dalam segala seginya.            

(2)Thomas Aquinas (1274M), seorang teolog dan ahli filsafat Katholik mengemukakan  teori Hukum Kausalitas bahwa apa saja yang ada di alam ini pasti disebabkan oleh sebab sebelumnya dari sebelumnya, dari sebelumnya lagi  yang tidak henti-hentinya, tetapi  sebab dan akibat ini sampailah  kepada sebab pertama yang tidak ada sebab sebelumnya, ialah dzat mutlak yaitu Tuhan dan sebelum Tuhan tidak ada sebab. Maka   suatu wujud yang tidak ada sebab sebelumnya itulah  yang disebut Tuhan kata Thoman Aquinas.

(3) W.R. Matthews menyatakan bahwa melihat keteraturan yang sistematis, tertib yang  sangat tepat dari suatu titik abstrak berkembang ke titik-titik berikutnya sebagai proses jalannya lalu lintas alam semesta kehidupan seluruh makhluk yang dapat disebut sebagai Hukum Alam selama 15  atau 18 milryad tahun ini, maka Matthews yakin  pasti ada Dzat yang merencanakan, menciptakan  dan mengawasi jalannya Hukum Alam ini, maka Matthews meyakini adanya sesuatu dzat  yang merencanakan, menciptakan dan mengawasinya itu tidak lain tidak bukan  kecuali    Tuhan dalam Islam disebut Allah.

         Secara sederhana maka yang dinamakan juara itu hanya satu,  puncak itu hanya satu, top itu hanya satu, ranking atau derajat  yang paling tinggi itu  hanya satu, maka yang Maha Mutlak itu hanya satu Tuhan yang Maha Esa Mutlak yaitu  Allah. Maka Allah menurunkan wahyu kepada  para nabi dan rasul.

@Mukjizat itu dari Allah

       Wahyu itu sebagian dari Ilmu Allah dan sebagian dari Ilmu Allah itu diturunkan kepada rasul utusan Allah dan sebagai bukti seorang manusia itu diutus oleh Allah  maka  dia diberi mukjizat. Mukjizat itu bukan perbuatan yang dibuat oleh manusia siapapun juga,  sepenuhnya dibuat oleh  Allah. Sedangkan  Muhammad adalah rasul yang terakhir, demikian juga wahyu yang sudah dibukukan menjadi kitab suci  adalah Al-Quran, kitab suci  yang terakhir.

         Setiap nabi atau rasul diberi Mukjizat  oleh Allah dan Mukjizat Rasulullah Saw yang bersifat UNIVERSAL  berlaku atas seluruh umat, dimana saja kapanpun juga ialah Al-Quran.

         Al-Quran adalah himpunan wahyu dari Allah yang diturunkan Allah kepada Rasulullah Saw melalui malaikat Jibril dan untuk memperagakan  isi ajaran Al-Quran dalam kehidupan manusia maka Al-Quran diwujudkan dalam bentuk praktik pribadi Rasulullah  yang dinamakan hadis Nabi Saw bahkan  pribadi Muhammad itu dapat dinamakan Al-Quran berjalan  yang menjelaskan Al-Quran dengan sangat gamblang. Oleh karena itulah  Al-Quran dan As-Sunnah atau hadis  ini tidak mungkin dapat dipisahkan, maka Rasulullah Saw  bersabda:

عَنْ الْمِقْدَامِ بْنِ مَعْدِي كَرِبَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ أَلَا إِنِّي أُوتِيتُ الْكِتَابَ وَمِثْلَهُ (رواه ابوداود 3988)

“Dari Al Miqdam bin Ma'di Karib dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Ketahuilah, sesungguhnya aku diberi Al -Qur'an dan yang semisal bersamanya (As Sunnah)(HR Abu Dawud no.3988)

Al-Quran dan hadis menjadi bukti dan mukjizat Rasulullah Saw dapat kita renungkan data dan fakta berikut:

 

 

A. Al-Quran

            Akurasi dan Otentisitas Al-Quran ada 30 juz, 114 surat, berisi  6236  ayat, 77.943 buah kalimat, 325 345 huruf tidak dapat ditandingi oleh kitab-kitab agama Non Islam manapun dengan merenungkan data dan fakta berikut:

(1) Keabadian dokumen dan sastra-bahasa Arab Al-Qutan tersimpan dalam tulisan dan hafalan kaum muslimin seluruh dunia sejak awal turun mulai  tgl. 17 Ramadlan tahun ke-satu Kenabian (Bi’tsah) bertepatan dengan tanggal 6 Agustus 610 M  sampai sekarang.

         As-Suyuthi mencatat dalam Al-Itqan (1973I\50)    bahwa sahabat yang hafal Al-Quran yang gugur-mati syahid di jaman awal  dalam pertempuran di  Bi`ru Ma’unah saja ada70  orang. Al-Qurthubi menambahkan bahwa sejumlah 70 sahabat  itu pula yang gugur syahid dalam perang Yamamah. Muhammad Ali ash-Shabuni dalam At-Tibyan (1980:47)   mencatat bahwa para sahabat yang hafal Al-Quran yang gugur mati syahid  di dalam pertempuran di Yamamah dan Bi`ru Ma’unah jumlahnya 140 orang sahabat. Sehingga orang yang hafal Al-Quran yang masih  hidup di jaman itu  pasti jauh lebih  banyak berlipat ganda jumlahnya.

           Selanjutnya Al-Quran dihafalkan oleh kaum muslimin seluruh dunia dalam suka dan dalam duka  secara berjamaah atau sendirian bahkan di dalam  shalatnya  orang Islam wajib menghafal beberapa bagian isi Al-Quran. Kemudian dalam Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) maka hafalan  Al-Quran ini dilombakan  secara local,  sampai yang tingkat nasional dan internasional.

          Surat kabar Jawa Post 7 Agustus 2011 mencatat bahwa melalui Pimpinan Dahlan Iskan maka  PLN Pusat pada hari kemarin (6 Agustus 2011) menyelenggarakan amalan menghafal Al-Quran oleh 1000-1500  penghafal (Ahlul Quura` wal Huffazh)  mengkhatamkan hafalan Al-Quran  30 Juz dalam satu hari  dan acara ini akan dijadikan tradisi setiap Ramadhan yang akan datang.

           As-Suyuthi dalam Al-Itqan  (1973:1/70)    mencatat  bahwa Al-Quran itu berisi  77.943 buah kalimat, 6236 ayat, sampai sekarang masih utuh-lengkap.

            Dengan meledaknya kemajuan tehnologi elektronika, khususnya sistem komputerisasi tulis menulis dan dokumentasi, maka sekarang Al-Quran (mencakup Ilmu Tafsirnya)  bukan hanya disimpan di dalam alat tulis, tetapi  Al-Quran dan ‘Ulumu Quran itu sudah disimpan dalam bentuk CD-DVD, HP. Internet. sehingga bunyi  dengan lagunya dan tulisan sekaligus dapat diuji oleh siapapun juga kapan saja di seluruh dunia.

          Abu Bakar Atjeh dalam bukunya Sejarah Al-Quran (1956:25) mengutip catatan bahwa para ulama sudah menghitung isi Al-Quran dan bagian-bagiannya bahkan sampai huruf-hurufnya. Tercatat di sana bahwa Al-Quran itu terdiri dari 325.345 huruf, yang paling banyak ialah huruf alif, yaitu 48.772, yang paling sedikit ialah huruf Zha` yaitu 842 huruf. Rincian jumlah hurufnya  sebagai berikut:

          Jumlah  huruf isi Al-Quran=325 345 huruf (Alif48772h,zha`842h)

Alif 48772h 

 Ba`  =11 428h

  Ta` = 3205h

Tsa` = 2404h

Jim=3422h           

  Ha`  =   4130h  

Kha` =  2505 h   

Dal=5978h

Dzal =4930h 

  Ra` = 12246h    

 Zay  =   1680h      

  Sin  =  5996h

 Syin = 2115h    

   Shad = 2037h         

      Dhat=1682h               

 Tha` =  1274h      

Zha`=    842h

Ain = 9417h

Ghain =1217h

  Fa=  8419h

Qaf   =  6613h         

  Kaf =10552h          

 Lam =33520h         

  Mim= 26955h   

Nun=45190h            

 Wawu =2586h        

Ha`= 1670h            

LamAlif=1970h    

Ya` = 4919h

——————

——————-

——————–

      Al-Quran itu seluruhnya terjaga tersimpan betul-betul sangat ketat dan suci dari perbuatan tangan-tangan kotor, Al-Quran tetap terjaga dari makna  yang paling halus sampai materi yang terlihat oleh indera kasar dan  memang  Allah sendiri yang menjaganya, Allah telah  befirman:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ (الحجر9)

Artinya: “ Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya” (S 15 Al-Hijr 9)      

(2)  Faktor Bahasa Arab Al-Quran

   Bahasa Arab Al-Quran ternyata telah lolos dari ujian revolusi dan evolusi perkembangan bahasa selama ribuan tahun. Al-Quran sejak diturunkan tgl. 6 Agustus tahun 610 M sampai sekarang masih segar dapat difahami isinya, bahkan  tata bahasa atau gramatika bahasa Arab sendiri  harus merujuk  standar nilai sastranya kepada bahasa Arab Al-Quran. Bahasa manusia seluruh dunia tidak dapat mengalahkan kelebihan bahasa Arab Al-Quran dari jaman Jahiliyah sampai sekarang ini.

         Prof.DR. Hamka pada tahun 1952 di Yale University-Amerika, melihat sendiri dengan mata kepala hasil kerja panitya penterjemah Kitab Bibel bahasa Inggris jaman King James 1612M disamping kitab-kitab Bibel yang berusia 200-600 tahun bahkan 800 tahun sebab bahasanya sudah kuno tidak dapat difahami lagi, harus diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris sekarang (1952). Penterjemahannya dilakukan dengan steman jumlah suara, jika dijumpai kemusykilan, maka  jumlah suara anggota panitya yang banyak dinyatakan menang, biar salah-pun jadilah dianggap suci, tidak ambil pusing. Kepada buku Pelajaran Agama Islam tulisan Hamka (1961,h.164) ini dapat ditambahkan bahwa  dampak akibat wafatnya suatu bahasa kitab suci, sehingga jika dibuat kamus bahkan Encycolpedinya, maka kamus/ensiklopedi  ini harus dirombak total  diselaraskan dengan bahasa dari bahasa yang sudah mati ke dalam bahasa yang masih hidup.

          Masignon seorang filosuf Prancis telah mengagumi keunggulan sastra Arab Al-Quran yang dikutip oleh Yusuf Musa dalam Al-Quran wal Falsafah (1966/4) dia  berkata (terjemahnya) sebagai berikut:

    “Al-Quran itu jauh berbeda dengan syair dan qashidah, yaitu bahwa Al-Quran mengemukakan  qashidah sekaligus filsafat dan berbagai metode pembuktian Ilmu Filsafat”..

(3) ‘Ulumul Quran menjadi benteng kebenaran Al-Quran

         ‘Ulumul Quran ialah ilmu-ilmu yang terkait dengan Al-Quran, As-Suyuthi dalam Al-Itqan (1973:I\7) mencatat 80 macam disiplin ilmu ‘Ulumul Quran bahkan jika dikembangkan lagi 80 ini bisa menjadi 300 cabang disiplin ilmu. TM.Hasbi mengambil 16 pokok ilmu ini, intinya ialah ilmu yang menjaga kebenaran Al-Quran dengan sangat ketat sekali mencakup hal-hal berikut:

a) Jumlah isi Al-Quran, juz.surat, ayat, klimat, kata-ata sampai hurufnya, bahkan bunyi (fonetik) tiap huruf;

b) Cara membaca  dengan makhraj yang fasih setiap huruf, keterikatan bacaan bertemunya dua huruf  seluruh bunyi bacaan kata-kata, kalimat dan ayatnya.

c) Arti kata, kalimat, maksud ungkapannya, skala prioritas cara memilih arti yang paling jelas sampai yang paling tersembunyi.

d) Data kronologis turunnya ayat, materi ayat yang turun, detik-detik turunnya, tempat, situasi dan kondisi, siapa-siapa terlibat dalam peristiwa turunnya, relevansi-keterkaitan antar kalimat, ayat dan surat.

e) Skala prioritas sumber hukum, metode penelitian dalil hukum (Istidlal) menurut AlQuran.

f) Metode pengujian riwayat penafsiran, fungsi dan peringkat kedudukan riwayat penafsiran terhadap ayat, hikmah rahasia, semua peristiwa yang terkait dan seluruh masalah yang sangat rumit dan jeli sekali berkaitan dengan  Al-Quran.

       Seluruh ilmu-ilmu yang terkait dengan Al-Quran ini sudah ditulis lengkap sekali, sejak jaman pembukuan Al-Quran di masa khalifah Usman (25H=646M), makin lama makin teliti makin jeli. Semua ilmu-ilmu tersebut pada awalnya disusun dengan menggunakan sistem ilmu hadis, yaitu penelitian atas  data dari sumber primer dan sumber  skunder, sampai setiap penyambung (estafet) perantara dari sumber primer, dari guru kepada murid, muridnya lagi, muridnya lagi dan semua yang terlibat dalam estafet jalannya berita (data) itu telah diteliti oleh ulama ahli hadis Bukhari, Muslim, Turmudzi, Nasai, Abu Dawud, Ibnu Majah,  sangat cermat sekali. Semua itu telah dibukukan dan dirangkum oleh para ulama dalam kitab-kitab ‘Ulumul Quran oleh As-Suyuthi, Az-Zarkasyi, Az-Zarqani, Al-Qaththan, Shubhi Shalih dan lain-lain sekarang  seluruh cerita, data dan fakta yang terkait dengan Al-Quran ‘Ulumul Quran Ilmu Tafsir di atas sudah disimpan dalm CD, DVD, HP. Internet dapat diuji oleh siapa  saja di manapun juga  di seluruh  dunia.

      Jika kemudian muncul suatu kitab yang dimaksudkan untuk menandingi Al-Quran, seperti The True Furqan dan yang lain, maka dia  harus diuji melalui ilmu-ilmu  dari ‘Ulumul Quran dengan  80 sampai 300 macam disiplin ilmu tersebut di atas bagaimana bobot-nilainya.

         Oleh karena itu  Dr.A.Shorrosh, penulis Quran palsu itu harus menulis 80-300 cabang disiplin ilmu terkait dengan The True Furqan karangannya itu dengan bobot-nilainya harus  persis seperti 80-300 cabang ‘Ulumul Quran, untuk membuktikan dan menunjukkan data riwayat hadis yang shahih berkaitan dengan turunnya 77 surat dari The True Furqan karangan DR. A.Shorosh itu, bagaimana turunnya, waktunya kapan, tempatnya di mana, siapa yang menyaksikan, siapa yang terlibat, bagaimana situasi dan kondisi saat itu, arti kata, ayat, kalimat, prioritas pemilihan makna, metode pengujian dalil, relevansi tafsir antar ayat dan surat dan semua rincian  ilmu-ilmu dari ‘Ulumul Quran  minimal 80-300 macam disipilin ilmu yang telah dibukukan oleh para ulama yang telah dicetak dan diterbitkan serta  tersimpan dalam gedung-gedung perpustakaan besar di seluruh dunia.

B. Hadis            

           Hadis itu ialah semua ucapan, perbuatan dan keadaan Nabi Muhammad Saw  Dan  ahli sejarah mencatat bahwa hadis Nabi Saw itu sudah ditulis oleh para  ulama sejak kebangkitan beliau beliau menjadi nabi, makin lama makin teratur, sistematis  bahkan hadis itu sudah diteliti dari segala seginya benar-benar sangat jeli sekali dan terlalu rumit. Hadis sudah dipisah dan dipilah sekaligus dibukukan kedalam cabang disiplin ilmu hadis (khususnya dalil mana yang dimenangkan dari dalil yang dikalahkan) rinci  sekali sangat mengagumkan.

.  Prof.Hasbi dalam bukunya Sejarah&Pengantar Ilmu Hadis mencatat ringkasan Ilmu-Hadis  ini,  

(1).Sejarah semua orang yang mempunyai andil dalam  menyebarkan hadis khususnya faktor yang menjadi ukuran shahih sampai yang menyebabkan tidak shahihnya hadis.

(2).Data-dan fakta yang menaikkan bobot shahih dan cacat yang menurunkan nilai hadis yang disampaikan.

(3).Catatan tentang cacat-celanya hadis walaupun sangat tersembunyi  cacatnya yang menurunkan nilai shahih menjadi tidak shahih atau ditolaknya suatu hadis.

(4).Arti kata dan kalimat yang jarang terdengar yang sulit dimengerti.

(5).Catatan  tentang hadis yang lebih dulu dari mana yang datang atau terjadi lebih akhir, sehingga yang belakang lebih kuat dari yang lebih awal.

(6).Ilmu tentang metode atau cara mengkompromikan antar beberapa hadis dengan takhshishul ‘am, taqyidul mutlaq.

(7).Ilmu tentang pemecahan atas perubahan  bunyi redaksi lafal atau nama yang jumbuh, terbalik bunyi atau huruf dalam suatu hadis.

(8).Ilmu tentang sejarah, latar belakang, situasi&kondisi saat  terjadinya suatu hadis.

(9).lmu tentang istilah, kata-kata, gelar yang dibuat  ulama hadis bagi ahli dalm ilmu hadis.

          Dari  penerapan ilmu-ilmu tersebut maka  tercatat  datanya adalah  sebagai berikut:

a.Jumlah  perawi sebagai sumber pertama riwayat hadis

 Hadis yang  lebih banyak sumber pertama yang menyaksikan riwayat hadis itu didahulukan mengalahkan  yang sedikit sumber  atau saksinya  riwayat itu, yaitu:

  1).Mutawatir, yaitu hadis yang sumber pertama dan saksinya berjumlah  banyak sekali,  sehingga kebenarannya benar-benar sangat meyakinkan secara maksimal.

  2).Masyhur , yaitu hadis yang sumber pertama atau saksinya berjumlah kurang sedikit dari jumlah dari yang ada dalam hadis yang Mutawatir di atas

  3).Mustafidh, yaitu hadis yang sumber pertamanya tiga orang tidak lebih namun masih di bawah hadis Masyhur

  4)’Aziz, yaitu hadis yang sumber pertamanya berjumlah dua orang

  5). Fard atau Gharib, yaitu hadis yang sumber pertamanya hanya satu orang saja tidak ada saksinya sama sekali.

        Dari uraian diatas, maka dapat difaham bahwa sumber yang hanya satu orang dikalahkan oleh sumber yang dua orang, yang dua orang dikalahkan oleh sumber yang tiga orang, bertingkat-tingkat. Maka hadis Fard atau Gharib dikalahkan oleh hadis ‘Aziz, yang ‘Aziz dikalahkan oleh hadis Mustafidl dan yang Mustafidl dikalahkan oleh hadis Masyhur dan yang tidak dapat dikalahkan ialah hadis Mutawatir  dalam  kedudukannya  untuk  dalil   amal ibadah  dalam Islam.

 

b. Nilai pribadi dan proses penyebaran hadis

        Diperhatikan dari sisi nilai kebenarannya, tertib urutan dan  proses penyebarannya, maka   nilai hadis itu dibagi  sebagai berikut:

 1).  Shahih

       Hadis Shahih  ialah suatu hadis yang memenuhi 5 syarat, bersambung-sambung sanad-nya kepada Nabi Saw., tidak bertentangan dengan hadis yang lebih kuat, bersih dari cacat, semua perawinya terpuji atau adil, kuat ingatannya.

2). Hasan

Hadis Hasan Hasan ialah suatu hadis sedikt kurang memenuhi syarat hadis Shahih, ada perawinya yang kurang kuat ingatannya, tetapi bersambung-sambung sanadnya kepada Nabi Saw., tidak bertentangan dengan hadis yang lebih kuat, bersih dari cacat, semua perawinya terpuji atau adil.

3). Dha’if

     Hadis Dha’if ialah hadis yang tidak memenuhi syarat-syarat hadis Shahih dan tidak memenuhi syarat-syarat hadis Hasan.  Maka Hadis Dha’if dikalahkan oleh hadis Hasan, yang Hasan dikalahkan oleh hadis Sahih.

       Kedua hadis Hasan atau hadis Dha’if, bisa naik meningkat derajatnya, dari Hasan menjadi Shahih  atau dari Dha’if menjadi Hasan, jika dari jalan lain dapat ditutup  apa yang menjadi kekurangannya. Hadis Hasan yang naik menjadi hadis Shahih dinamakan Hadis Shahih Lighairihi. Hadis Dha’if  yang naik derajatnya menjadi hadis Hasan disebut hadis Hasan Lighairihi.

       Ibnu Hajar dalam Kitabnya Nuz-hatun Nazhar menyatakan ada 10 sifat yang menyebabkan suatu hadis ditetapkan sebagai hadis Dha’if , yaitu jika perawinya  pemberi atau penerima hadis itu terkena sifat-sifat berikut::

1). Dusta.2) Tertuduh dusta. 3).Banyak keliru. 4) Lengah terhadap hafalannya. 5) Berwatak fasiq. 6) Keliru faham, 7) Berbeda dengan perawi yang lebih kuat. 8) Tidak diketahui identitas dirinya.9) Bid’ah dalam  I’tiqad;10) Hafalannya lemah (TM.Hasbi, Pokok2 Dirayah 1958, h.73

c. Subyek sumber yang diriwayatkan

              Shahih tidaknya suatu hadis juga diuji dari nilai terhormatnya pribadi orang yang diberitakan   didalam hadis, maka skala prioritas nilai hadis itu harus dilihat dari sisi  materi  isi  hadis itu sehingga sekala prioritas yang didahulukan  harus urut dan tertib sebagai berikut:

1) Hadis Marfu`  artinya  subyek yang diberitakan itu ialah     Muhammad Rasulkullah  Saw.

  2).  Hadis Mauquf artinya  subyek yang diberitakan itu ialah sahabat.

  3).  Hadis maqthu` artinya subyek yang diberitakan itu ialah tabi`in, belum pernah ketemu Nabi Muhammad Saw.

       Hadis Marfu‘ dimenangkan  dan mengalahkan  hadis Mauquf dan Maqthu‘ kemudian hadis Mauquf dimenangkan dan mengalahkan hadis Maqthu‘ 

         Orang-orang Yahudi dan Nasrani yang sudah masuk Islam bisa dikelompokkan kedalam peringkat sahabat atau tabi’in sesuai dengan periode dan generasi mereka..     

d.  Peringkat kwalitas periwayatan

             Jika kita dihadapkan kepada banyaknya hadis, maka hadis yang lebih kuat harus didahulukan,  mengalahkan hadis yang kurang kuat. Untuk ini ada beberapa cara memilih  hadis yang lebih kuat mengalahkan yang lemah,  caranya ialah sebagai berikut:

1). Jumlah sumber pertama yang langsung menerima dari Rasul Saw.  atau dari sahabat yang lebih banyak jumlahnya atau dengan kata lain hadis yang saksinya lebih banyak didahulukan mengalahkan yang  sumber pertaman dan saksinya  itu hanya sedikit.

2). Mendahulukan yang lebih kuat hafalan orang-orang yang  memberi dan yang menerima riwayat hadis itu mengalahkan rangkaian nama-nama pemberi atau penerima riwayat yang sering lupa atau yang hafalannya lemah.

3). Mendahulukan orang yang disepakati tingginya  kehormatan pribadi dari pada yang tidak disepakati para ulama terhadap keluhuran kepribadiannya.

4). Mendahulukan  riwayat  dari  orang yang membawa riwayat hadisnya  itu sudah dewasa mengalahkan hadis dari yang pembawa riwayatnya  yang belum  dewasa.

   5). Mendahulukan hadis yang mana sumber pertamanya itu terlibat dalam peristiwa timbulnya riwayat hadis yang diberitakan itu mengalahkan hadis yang sumber pertamyanya tidak ikut terlibat di dalamnya.

             Demikian seterusnya masih banyak sekali cara memilih dan menelusuri skala prioritas  sumber yang  dimenangkan sekaligus  mengalahkan hadis dan riwayat yang  lemah, dalam hal ini dapat dipertajam lebih menukik sangat rumit sekali dianalisa oleh para ulama, yaitu:

Para ulama sudah merumuskan sistem pemilihan hadis dengan peringkat dari yang paling kuat atau Al-Arjah}  sampai yang Al-Marjuh }  yang paling lemah. Klasifikasi dan kategorisasi peringkat hadis ini dirumuskan dari penelitian yang betul-betul sangat jeli terlalu rumit.

~Al-Ghazali dalam kitabnya Al-Mustashfa (1971;524) menunjuk ada 42 segi yang harus dipertandingkan antara dua macam hadis yang diteliti kelebihan kebenaran Shahih tidaknya.

-Ar-Razi dalam kitabnya Al-Mahshul-Fi’Ilmil Ushul (1979:ii \ 552) mengemukakan 100 segi yang harus diadu kekuatan hukum antar riwayat masing-masing  hadis yang dipertandingkan.

~Al-’Amidi, dalam kitabnya Al-Ihkam fi Ushulil Ahkam mengajukan 117 segi yang harus diadu kekuatan hukumnya dari tiap-tiap hadis yang dipertandingkan.

~Asy-Syaukani, dalam Irsyadul Fuhul  (1937;276) mengajukan 153 segi yang harus diadu kekuatan hukumnya atas tiap hadis yang akan dinilai.

~ Mhuhamma Jawad Mughnih (1975:441) dan As-Suyuthi (1972:202) berbeda lagi

      Pada intinya penelitian itu mengarah kepada segi-segi berikut: 1) Sanad. 2) Matan. 3) Arah hukum. 4) Klausul dari luar. 5) Metode Qiyas.

       Penelitian tersebut dapat dipelajari lebih jeli di dalam kitab-kitab Al-Ghazali, Ar-Razi, Al-Amidi, Asy-Syaukani dalam bab “Tarjih” dan semua ini perlu dilakukan demi mencari kebenaran dalil  yang menjadi pegangan dalam  diskusi atau debat dalil mana yang harus ditaati lebih dahulu dari pada  dalil yang mendapat pernilaian prioritas belakangan karena dalilnya kalah kuat..

Data riwayat hadis

~ Bukhari sendiri mengambil dari hafalannya yang berjumlah 60.000 hadis shah}ih dan 200.000 hadis Dha’if setelah melalui wawancara atau pertemuan beliau dengan  sejumlah rijalul H}adits berpuluh-puluh ribu orang yang terkait dengan pelaku estafet beri/terima data  hadis yang ditelitinya.  Setelah diteliti dengan sangat mendalam  maka tinggal 7.562 hadis kemudian  ditulis dalam kitab shahihnya. Dalam halaman pertama kitabnya Bukhari menulis:

مَا كَتَبْتُ فِيْ كِتَابِ الصَّحِيْحِ حَدِيْثًا اِلَّا اغْتَسَلْتُ قَبْلَ  ذَلِكَ وَصَلَّيْتُ ركْعتتَيْنِ

Aku tidak menulis suatu hadis dalam kitab shahihku kecuali setelah    aku bersuci sebelumnya (Al-Khathib-Ushulul hadits l975, h.310).

~ Muslim berhasil menyaring dari 300.000 hadis tinggal 6000 hadis dan dipilih dipilah menjadi 3.033 yang ditulis dalam kitabnya.

~ Abu Dawud telah menyaring 4800 dari 500.000 hadis yang diteliti.

~ Imam Turmudzi, Nasa`i, Abu Dawud, Ibnu Majah, Ahmad, Malik dan  para ulama hadis lainnya juga telah melakukan penelitian yang sama  terhadap jumlah yang terlalu banyak hadis lalu dipilih sesuai dengan ukuran masing-masing  mereka.

     Dalam kaitannya dengan Tafsir Al-Quran maka sudah tentu data hadis untuk menafsirkan Al-Quran itu juga dipilih data yang lebih akurat-sahih melalui sekala prioritas nilai-nilai yang berlaku dalam Ilmu Mushthalahul Hadis, mulai dari yang Mutawatir, dari yang sahih berturut-turut bergeser lengser ke tingkat di bawahnya.

        Dengan Ilmu Musthalahul Hadits ini maka seluruh riwayat hadis diteliti dengan sangat ketat sekali yang akhirnya 9 ulama  berhasil membukukan kitab hadis yang memuat teks riwayat hadis sebanyak 62.418  buah teks hadis dengan rincian sebagai berikut:

No.! Nama peneliti !     Th. W     !   Jml-Hadis     !          Keterangan

1   ! Bukhari           ! 256H=869M!  7.562 buah   

2   ! Muslim            !261H=874M!   3.033 buah   

3   ! Turmudzi        ! 279H=892M!   3.956 buah  

4.  ! Nasai               !303H=915M!    5.758 buah  

5   ! Abu Dawud     !275H=888M!    5.274 buah  

6.  ! Ibnu Majah      !273H=886M!    4.341 buah  

7   ! Ahmad             !241H=854M!  27.100 buah  

8   ! Malik b.Anas  ! 179H=795M!    1.891 buah  

9   ! Darimi             ! 181H=799M!    3.503 buah  

                                          Jumlah= 62.418 buah!     

@Tingkat shahihnya hadis dari sisi Kitab, para ulama menetapkan:

  1. i.        Shahih tertinggi ialah Shahih Bukhari-Musli .
  2. ii.       Shahih kedua  ialah Shahih Bukhari.
  3. iii.    Shahih ketiga ialah Shahih  Muslim.
  4. iv.    Shahih keempat ialah hadis yang dishahihkan oleh lain yang memenuhi syarat-syarat Bukhari dan Muslim.
  5. v.      Shahih kelima ialah hadis yang dishahihkan oleh ulama lain yang memenuhi syarat Bukhari.
  6. vi.    Shahih keenam hadis yang dishahihkan oleh ulama lain yang memenuhi syarat Muslim.
  7. vii.  Shahih ketujuh ialah hadis yang dishahihkan oleh lain di bawah syarat-syarat tersebut diatas.

Sesuai dengan tingkat-tingkat ini maka skala prioritas ketaatan ialah mentaati hadis yang shahih tertinggi mengalahkan ketaatan kepada hadis tingkat-tingkat di bawahnya, bergeser ke tingka shahih dibawah lagi dan seterusnya.

      Sistem dan metode  sekala prioritas pemilihan dalil ini  diisyaratkan oleh Al-Quran S.4 An-Nisa` 59, S.2 Al-Baqarah 147, S.3 Ali ‘Imran 60,  S.6 Al-An`am 114, S.10 Yunus 94 melalui penafsiran para ulama tafsir.

        Inilah  Al-Quran dan hadis bersama Ilmu Tafsir dan Ilmu Hadis yangterurai di atas kita yakini sebagai Mukjizat Rasulullah Muhammad Saw,   dua buah kitab yang tidak mungkin dibuat atau ditandingi oleh tulisan  siapapun umat manusia seluruh jaman yang dapat mengalahkan  bobot Mukjizat Al-Quran dan hdis  ini. Maka Rasulullah Saw bersabda:

عَنْ مَالِك أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ (رواه مالك 1395 والوجيز في عقيدة السلف الصالح أهل السنة والجماعة  ج 1 / ص 123 و الحاكم في المستدرك  ، وصححه الألباني   )

“Dari Malik Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Telah aku tinggalkan untuk kalian, dua perkara yang kalian tidak akan sesat selama kalian berpegang teguh dengan keduanya; Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya”(HR Malik no.1395).

BAB  TIGA

Cara yang ideal  guna Penyelesaian Perselisihan

Masalah ke-3: Bagaimana way out-jalan keluar yang ideal guna penyelesaian perselisihan menurut Allah dan Rasulullah itu?

Yang dimaksud dengan jalan penyelesaian perselisihan yang ideal menurut Allah dan Rasulullah, kembali kepada Al-Quran dan hadis itu ialah  menepati tertib urutan dan skala prioritas ketaatan kepada kebenaran yang tertinggi  bertingkat-tingkat sampai yang paling rendah yang ada dalam sistem Hukum Allah dan Rasulullah, artinya memilih ketaatan dan kesetiaan yang tidak dapat ditawar TAAT  kepada Allah dan Rasulullah  mengalahkan ketaatan dan kesetiaan kepada siapapun juga selain Allah dan Rasulullah, lebih jeli-lebih rinci adalah sebagai berikut:

1. Mentaati  Allah dan Rasulullah Saw,: Mentaati  Allah dan Rasulullah Saw mengalahkan ketaatan kepada pemimpin kaum muslimin-mukminin; Allah berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا( النساء 59)

“Hai orang-orang yang beriman, ta`atilah Allah dan ta`atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”(S.4 An-Nisa` 59).

2. Skala prioritas ketaatan ; Skala prioritas ketaatan  dari yang tertinggi  sampai yang rendah, yaitu:

i.    Mentaati  sistem Hukum dalam Al-Quran.

ii. .Kemudian  jika di dalam Al-Quran tidak dijelaskan maka dicari  sistem  hukum  dalam hadis atau As-Sunnah.

iii. Jika  dalam Al-Quran dan hadis  tidak diketemukan ketetapan hukum dimaksud maka baru bergeser ke-ketaatan  prioritas ketiga yaitu mengikuti sistem hukum  yang dibuat oleh atasan atau pemimpin kaum mukminin-muslimin, sebagaimana yang difaham dari hadis Rasulullah Saw. berikut:

عَنْ أُنَاسٍ مِنْ أَهْلِ حِمْصَ مِنْ أَصْحَابِ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا أَرَادَ أَنْ يَبْعَثَ مُعَاذًا إِلَى الْيَمَنِ قَالَ كَيْفَ تَقْضِي إِذَا عَرَضَ لَكَ قَضَاءٌ قَالَ أَقْضِي بِكِتَابِ اللَّهِ قَالَ فَإِنْ لَمْ تَجِدْ فِي كِتَابِ اللَّهِ قَالَ فَبِسُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فَإِنْ لَمْ تَجِدْ فِي سُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَا فِي كِتَابِ اللَّهِ قَالَ أَجْتَهِدُ رَأْيِي وَلَا آلُو فَضَرَبَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَدْرَهُ وَقَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَفَّقَ رَسُولَ رَسُولِ اللَّهِ لِمَا يُرْضِي رَسُولَ (رواه ابوداود 3119والترمذي 1249 واحمد 2100)

“Dari beberapa orang penduduk Himsha yang merupakan sebagian dari sahabat Mu'adz bin Jabal. Bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ketika akan mengutus Mu'adz bin Jabal ke Yaman beliau bersabda: "Bagaimana engkau memberikan keputusan apabila ada sebuah peradilan yang dihadapkan kepadamu?" (1) Mu'adz menjawab,)"Saya akan memutuskan menggunakan Kitab Allah." Beliau bersabda: "Seandainya engkau tidak mendapatkan dalam Kitab Allah?" (2) Mu'adz menjawab, "Saya akan kembali kepada sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam." Beliau bersabda lagi: "Seandainya engkau tidak mendapatkan dalam Sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam serta dalam Kitab Allah?" 
(3) Mu'adz menjawab, "Saya akan berijtihad menggunakan pendapat saya, dan saya tidak akan mengurangi." Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menepuk dadanya dan berkata: "Segala puji bagi Allah yang telah memberikan petunjuk kepada utusan Rasulullah untuk melakukan apa yang membuat senang Rasulullah." Telah menceritakan kepada kami Musaddad telah menceritakan kepada kami Yahya dari Syu'bah telah menceritakan kepadaku Abu 'Aun dari Al Harits bin 'Amru dari beberapa orang sahabat Mu'adz dari Mu'adz bin Jabal bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tatkala mengutusnya ke Yaman… kemudian ia menyebutkan maknanya”(HR Abu Dawud no.3119, Turmudzi no.1249 dan Ahmad no.2100).
3. Ketaatan kepada atasan atau pemimpin: Ketaatan kepada atasan atau pemimpin kaum muslimin mukminin dibolehkan dengan syarat TIDAK  MAKSIAT tidak  durhaka kepada Allah dan Rasul sesuai dengan sabda Nabi Saw:

عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ حَقٌّ مَا لَمْ يُؤْمَرْ بِالْمَعْصِيَةِ فَإِذَا أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلَا سَمْعَ وَلَا طَاعَةَ (رواه البخاري 2735 ومسلم 3424)

“Dari Ibnu 'Umar radliallahu 'anhuma dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bahwa  Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Mendengar dan taat adalah haq (kewajiban) selama tidak diperintah berbuat maksiat. Apabila diperintah berbuat maksiat maka tidak ada (kewajiban) untuk mendengar dan taat"(HR Bukhari no.2735 dan Muslim no.3424)
@ Pernyataan beberapa tokoh Ulama Salaf:
~ Khalifah Abu Bakar: Kitab Siratu Ibnu Hisyam (2h661) mencatat
Pidato Pelantikan Abu Bakar saat dilantik menjadi  khalifah sebagai  kepala negara; Dalam pidatonya  itu Abu Bakar menekankan kepada wajibnya  taat seluruh rakyat kepada Allah dan Rasul mengalahkan ketaatan itu kepada diri Khalifah (Abu Bakar); Beliau menyatakan:
 أَيّهَا النّاسُ فَإِنّي قَدْ وُلّيت عَلَيْكُمْ وَلَسْت بِخَيْرِكُمْ فَإِنْ أَحْسَنْت فَأَعِينُونِي ؛ وَإِنْ أَسَأْت فَقَوّمُونِي (سيرة ابن هشام - (ج 2 / ص 661) )
“Wahai saudara seklian benar-benar aku terpilih menjadi khalifah atas kalian semua sedangkan aku bukanlah yang terbaik atas kalian, maka jika seandainya berbuat baik bantulah aku dan jika aku berbuat salah luruskanlah aku" 
@ Ibnu Taimiyah dalam kitabnya Fatawa (4h281) mencatat pernyataan Imam Madzhab yang Empat; semua senada dengan ketentuan tersebut di atas tidak boleh taqlid kepada Imam Madzhab mereka”:

 i. Imam Abu Hanifah menyatakan:

هَذَا رَأْيِي وَهَذَا أَحْسَنُ مَا رَأَيْت ؛ فَمَنْ جَاءَ بِرَأْيٍ خَيْرٍ مِنْهُ قَبِلْنَاهُ( مجموع فتاوى ابن تيمية – (ج 4 / ص 281)

“Inilah pendapatku dan ini yang lebih baik dari pendapatku namun jika ada orang  lain mempunyai pendapat  yang  lebih baik dari pendapatku maka kita terima  pendapatnya”

ii. Imam Malik berkata:

إنَّمَا أَنَا بَشَرٌ أُصِيبُ وَأُخْطِئُ فَاعْرِضُوا قَوْلِي عَلَى الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ.

 “Aku ini manusia biasa, aku bisa benar bisa salah, hadapkanlah pendapatku ini kepada  Al-Quran dan As-Sunnah”

iii.. Imam Syafi’ie  berkata:

إذَا صَحَّ الْحَدِيثُ فَاضْرِبُوا بِقَوْلِي الْحَائِطَ

 “Jika  suatu hadis  dinilai shahih, maka lepaskanlah pendapatku itu ke dinding”.

iv. Imam Ahmad ibnu Hanbal menyatakan:

لَا تُقَلِّدُونِي وَلَا تُقَلِّدُوا مَالِكًا وَلَا الشَّافِعِيَّ وَلَا الثَّوْرِيَّ وَتَعَلَّمُوا كَمَا تَعَلَّمْنَا

“Janganlah kalian taqlid kepadaku, janganlah taqlid kepada Imam Malik dan jangan taqlid kepada Imam Syafi’ie ataupun Imam Ats-Tsauri, tetapi belajarlah kalian  seperti halnya kami-kami ini belajar”.

@ Ibnu Taimiyah dalam kitabnya Fatawa (4h281) juga mencatat jawaban pertanyaan suatu masalah katanya:

 “Alhamdu Lillah jelas dalam Al-Quran, As-Sunnah dan Ijmak bahwa sungguh Allah Swt. sudah menetapkan bahwa semua makhluk  wajib mentaati Allah dan Rasulullah Saw  dan mereka tidak wajib taat kepada  seseorang tanpa batas melaksanakan  perintah dan larangan dia walau bagaimanapun  tingginya kelebihan dia,  kecuali taat kepada Rasulullah Saw…. sebab tidak ada  manusia yang suci (ma’shum) kecuali para nabi dan  rasul utusan Allah.

4.  Rajih-Marjuh  dalam Ilmu Tarjih

         Akurasi dan Otentisitas Al-Quran yang  30 juz, 114 surat, berisi  6236  ayat, 77.943 buah kalimat, 325 345 huruf  dengan cabang disiplin Ilmu ‘Ulumul Quran-nya tidak dapat ditandingi oleh kitab-kitab agama Non Islam manapun juga.

Bahwa kaum muslimin-mukminin wajib taat kepada dalil Al-Quran dan hadis yang lebih kuat mengalahkan dalil yang kurang kuat bertingkat-tingkat sampai yang paling lemah bahkan  dha’if atau hadis palsu. Tingkat-tingkat ketaatan ini sebagian telah disusun para ulama fiqh dengan peringkat:             :
Wajib, Sunat, Mubah, Makruh  dan Haram.

i.     Yang wajib harus dilaksanakan.

ii.   Yang sunnah lebih baik diamalkan.

iii. Yang mubah boleh dikerjakan boleh tidak.

iv.Yang Makruh lebih baik ditinggalkan;

v. Yang Haram dilarang keras dikerjakan.

       Maka hukum wajib sampai haram ini diterapkan dalam prioritas kuat  sampai lemahnya dalil al-Quran sebagaimana diterangkan oleh Abu Zahrah dalam Ushul-Fiqh (tth:90) dari dalil

(1) Al-Muhkam (2) Al-Mufassar (3)An-Nash (4).Azh-Zhahir (5)Al-Khafiyyu 6) Al-Musykilu (7) Al-Mujmal.(8)Al-Mutasyabih.

           Demikian juga dengan dokumen Hadis dengan Ilmu Hadis-nya yang telah  menyiimpan dalam dokumen  yang terlalu lengkap, (1) Bukhari(256H=869M mengambil dari 60.000 hadis sha}ih dan 200.000 hadis Dha’if  disaring tinggal 7.562 hadis ditulis dalam kitab shahihnya; (2)Muslim  menyaring dari 300.000 hadis dipilih menjadi 3.033 ditulis dalam kitab  shahihnya; (3)Abu Dawud menyaring  dari 500.000 hadis  tinggal 4800 hadis.(4) Imam Turmudzi, Nasa`i, Abu Dawud, Ibnu Majah, Ahmad, Malik dan  ulama lainnya juga demikian.

Maka hukum fiqh dari wajib sampai haram itu diterapkan dalam sistem hukum hadis, yaitu hadis yang paling kuat dimenangkan  mengalahkan yang lemah sebagaimana terurai dalam Bab II di atas.yang bertingkat-tingkat nilainya:

  1. i.        Jumlah sumber dan saksi 1).Mutawatir, 2).Masyhur 3).Mustafidh 4)’Aziz, 5). Fard atau Gharib.

ii.    Bobot kebenarannya: 1).  Shahih.   2). Hasan.  3). Dha’if      

iii.    Subyek sumber yang diriwayatkan

1) Hadis Marfu`  2).  Hadis Mauquf 3) Hadis maqthu’     

iv.   Peringkat kwalitas jalur penyebaran hadis (1) Al-Arjah}  sampai   yang (2)Al-Marjuh sebagaimana yang telah diteliti oleh Al-Ghazali 42 segi Ar-Razi 100 segi Al-’Amidi 117 Asy-Syaukani 153 segi.

          Para ulama  memikul kewajiban  menunjukkan  dan menjelaskan  skala prioritas ketaatan mengamalkan dan  memegang teguh  dalil yang  mana  yang didahulukan mengalahkan dalil yang dipersilahkan boleh memilih mengamalkan.

           Dispekulasikan  bahwa jika seandainya  terjadi perbedaan pendapat  mengenai sesuatu  masalah maka untuk mencari jalan keluar (way out) menyelesaikannya ialah mentaati kebenaran    sistem Hukum Al-Quran dan sistem Hukum  Hadis itu.

            Demikian kiranya maksud firman Allah s4a59:

“Hai orang-orang yang beriman, ta`atilah Allah dan ta`atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”(S4 An-Nisa` 59).

Wallahu a’lam bish-shawab

Silahkan buka internet situs : http://pondoquranhadis.wordpress.com

Kirimkan naskah ke Email::pondokilmu7@gmail.com-Tlp:0318963843


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: