Oleh: pondokquranhadis | Mei 6, 2012

STATUS ANAK DI LUAR NIKAH &ANAK ZINA

 

012-4-18                                                                                                Tafsir Tematis kontemporer

Internet:http://pondokquranhadis.wordpress.com

—Situs::http://imam-muchlas.blogspot.com,

 

Anak  di luar nikah dan Orang Tuanya

 

Al-Quran S.24 An-Nur 3 :

الزَّانِي لَا يَنْكِحُ إِلَّا زَانِيَةً أَوْ مُشْرِكَةً وَالزَّانِيَةُ لَا يَنْكِحُهَا إِلَّا زَانٍ أَوْ مُشْرِكٌ وَحُرِّمَ ذَلِكَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ (النور3)

 “Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang mukmin”(S.24 An-Nur 3).

Tema dan sari tilawah

  1. 1.      Allah menciptakan manusia  dibekali dengan instink atau nafsu keinginan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
  2. 2.      Salah satu instink manusia ialah nafsu pengembangan jenis melalui nafsu birahi.
  3. 3.      Semua nafsu sebagai faktor untuk memenuhi kebutuhan hidup harus disalurkan  dengan teratur serasai  sesuai dengan  nuansa kehidupan manusia di dunia.
  4. 4.      Namun setiap orang tidak sama  instink-nafsu yang diunggulkan, sehingga  terjadi persinggungan antar sistem dan aturan hidup manusia.
  5. 5.      Salah satu  benturan  antar sistem dan aturan hidup itu ialah banyaknya  pelaku  yang menyimpang melawan aturan hukum karena tekanan nafsu birahinya dengan  berbuat zina.
  6. 6.      Pezina pantasnya menikah dengan pezina atau orang nusyrik,   laki-laki maupun perempuan .
  7. 7.      Allah sudah menetapkan bahwa  orang yang beriman haram nikah  dengan pezina, laki-laki atau perempuannya.

Masalah dan analisa jawaban

1.Bagaimana syari’at  Islam  mengatur penyaluran hawa nafsu terutama nafsu birahi ini sebagai kebutuhan hidup manusia yang universal? Jawaban sementara: Guna mencapai kehidupan yang bahagia semua instink dan nafsu-nafsu itu manusia harus memenuhinya secara wajar, serasai dan mentaati hukum Syar’i.

2.Bagaimana  syari’at Islam mengatur hukum nikah bagi mereka yang pernah berbuat zina? Jawaban semenatara: Untuk negara yang merapkan Hukum Islam  maka pelaku zina dihukum jilid dan terhadap pelaku zina yang sudah pernah nikah (muhshan) dihukum rajam. Orang yang beriman haram menikah dengan pelaku zina atau orang musyrik. Terhadap pelaku zina yang beragama Islam dalam negara yang tidak menerapkan hukum Islam maka harus melihat situasi dan kondisi dalam  penerapan hukum yang berlaku.

3.Bagaimana hukum  anak yang lahir di luar nikah atau dari zina? Jawaban sementara: Seluruh anak Adam lahir dalam keadaan fitrah yang suci, maka anak yang lahir di luar nikah hukumnya tidak bersalah dan mempunyai hak yang sama dengan anak  dari pasangan nikah yang sah. Maka kedua pelaku zina laki-laki dan perempuan yang terlibat karena  melanggar hukum wajib dihukum dengan  semestinya.

Pendalaman dan penelitian

BAB  SATU

Nafsu birahi dan masalahnya

            Masalah ke-1:  Bagaimana syari’at  Islam  mengatur penyaluran hawa nafsu terutama nafsu birahi ini sebagai kebutuhan manusia yang universal? Jawaban sementara: Guna mencapai kehidupan yang bahagia            semua instink dan nafsu birahi itu oleh manusia harus dipenuhi secara wajar, serasi dan mentaati hukum Syar’i.

         Telah timbul sejak jaman dahulu masalah penyimpangan  perilaku manusia yang menyebal  dari hukum  Allah, khususnya dalam hukum perkawinan, yaitu masalah zina. Dan karena zina itu  suatu perbuatan yang sangat jelek maka Hukum Islam  menetapkan hukuman jilid kepada pelaku zina lebih-lebih zina Muhshan, dia harus dibelok atau ditanam separoh badan dilempari batu. Walaupun hukuman itu demikian berat tetapi masalah pelacuran terlalu sulit dicegah. Sebagai gambaran misalnya negara  R.I. walaupun mayoritas penduduknya beragama Islam tetapi Hukum Islam belum sepenuhnya diterapkan di Indonesia. Di samping berbagai macam kemajuan dalam bidang yang baik-baik, namun masalah pelacuran dan perzinaan ini masih banyak sekali  kesulitan pencegahannya, catatan data hasil survey dan penelitian para pakar menunjukkan fakta yang sangat memprihatinkan sekali.

     Sebagai dasar pembanding dengan negara Indonesia maka menurut statistik pendaftaran kelahiran anak luar nikah di Malaysia tercatat angka-angka anak yang lahir diluar nikah atau zina dalam tempoh 4 tahun 1999-2003 ada 30.978 anak tercatat sekitar  44% dari 70.430 anak yang lahir diluar nikah atau zina dari orang  ISLAM.  Rincian yang diteliti adalah sebagai berikut: Selangor = 12.836 orang; Perak = 9.788 orang; Kuala Lumpur =9.439 orang;Johor = 8.920 orang;Sabah = 8.435orang Negeri; Sembilan = 4.108 orang;Pahang = 3.677 orang;Kedah = 3.496 orang;Pulau Pinang = 3.412 orang;Melaka = 2.707 orang;Kelantan = 1730 orang;Perlis = 691 orang;Sarawak = 61 orang;Terengganu = 574 orang;JUMLAH = 70.430 orang 44%nya ialah 30,978 (http://www.topix.com)

           Kiranya  para peneliti R.I kurang banyak yang melakukan penelitian yang fokusnya  soal statistik anak yang lahir di luar nikah (Zina), sementara  lebih mudah kita  mencari data hasil penelitian  terebut di negeri Jiran. Walaupun demikian angka-angka  statistik dari Malaysia itu  dapat dijadikan spekulasi berapa besar angka-angka   statistik anak di luar nikah  (zina) itu di negeri RI kita, yaitu sebagai berikut:

              Meningkatnya budaya seks bebas di kalangan pelajar di negeri RI kita kini telah mengancam masa depan bangsa Indonesia. Bahkan perilaku seks pra nikah tersebut dari tahun ke tahun meningkat.

~~~Masri Muadz, Pimpinan Direkturat Remaja dan Perlindungan Hak-Hak dari BKKBN, menyatakan kasus budaya seks bebas tersebut menunjukkan peningkatan semakin miris.
~~Wimpie Pangkahila pada tahun 1996 melakukan penelitian terhadap remaja SMA di Bali hasilnya dari sampel 633 ada 18% perempuan   dan 27% laki-aki telah melakukan hubungan seks di luar nikah(zina).

~~Hasil riset Situmorang  tahun 2001 mencatat, bahwa 9% perempuan dan 27% laki-laki SMA yang diteliti di Medan sudah melakukan hubungan seks di luar nikah (zina).

~~SKRRI (Survei Kesehatan Reproduksi Remaja Indonesia) tahun 2002-2003, mencatat bahwa ada 34,7% pr, 30,9% lk remaja usia 14-19 tahun pernah berhubungan seks di luar nikah (zina). Sedangkan pada usia 20-24 tahun perempuan 48,6% dan laki-laki 46,5%  yang telah melakukan hal   yang sama.

~~Yayasan DKT Indonesia melakukan penelitian yang sama yang memfokuskan penelitiannya di empat kota besar dan berdasarkan norma yang dianut, maka ada 89% remaja tidak setuju adanya seks pra nikah(zina). Tetapi kenyataannya  yang terjadi di lapangan sangat berbeda, yaitu:

(1) Ada 82% remaja ang mempunyai teman yang melakukan hubungan  seks pra nikah(zina). (2) Terdapat 66% remaja punya teman yang hamil sebelum menikah(zina). (3) Remaja secara terbuka menyatakan melakukan seks pra nikah(zina).Persentase itu menunjuk  kepada realitas angka yang fantastis: Jabodetabek 51%, Bandung 54% Surabaya 47% dan Medan 52%.
~~ PKBI dalam penelitiannya tahun 2006, mencatat beberapa data (1) terkait dengan  kisaran umur yakni: bahwa anak usia 13-18 tahun telah melakukan hubungan  seks di luar nikah (zina).(2)Tercatat 60% tidak menggunakan alat atau obat kontrasepsi. (3) Ada 85% hubungan seks itu dilakukannya di rumahnya.

      Sementara merujuk kepada data Terry Hull dkk (1993) dan Utomo dkk (2001), PKBI menyebutkan terdapat 2,5 juta perempuan yang melakukan aborsi pertahun dan 27% atau sekitar 700 ribu remaja dan sebagian besar dengan aborsi  tidak aman, bahkan ada 30-35% aborsi yang mengakibatkan kematian ibu.

     Pada 2007 SKRRI melakukan penelitian kembali tercatat ada peningkatan yang drastis, yaitu: Bahwa perilaku seks pranikah remaja dan kehamilan yang tidak diinginkan (KTD) terus meningkat.

~~Temuan Lembaga Studi Cinta dan Kemanusiaan serta Pusat Penelitian Bisnis dan Humaniora (LSCK-PUSBIH) tahun 2008 lebih mengagetkan lagi. LSCK-PUSBIH melakukan penelitian terhadap sampel 1.660 mahasiswi di Yogyakarta. Hasilnya ialah bahwa 97,05% mahasiswi di Yogyakarta sudah hilang kegadisannya karena hubungan sek  di luar nikah (zian) dan 98 orang mengaku pernah melakukan-aborsi.

~~ Penelitian Komnas Perlindungan Anak (KPAI) di 33 Provinsi  selama 6 bulan  dari Januari sampai Juni 2008 menyimpulkan empat hal: (1) Ada 93,7% remaja SMP dan SMA pernah ciuman, genital stimulation (meraba alat kelamin) dan oral seks. (2) Tercatat  62,7% remaja SMP tidak perawan karena zina. (3) Terdapat 21,2% remaja mengaku pernah aborsi (http://id.shvoong.com)..

~~ Dari siaran TV terutama program  AA&Mamah DD kita menyaksikan banyaknya pertanyaan mencakup mereka yang terang-terangan berbuat zina (tanpa malu walaupun bertanya  hanya lewat fasebook).

      Membaca angka-angka tertera di atas dapat kita katakan bahwa delik-perilaku zina di wilayah  R.I. tersebar di mana-mana  dengan jumlah yang sangat banyak. Jika dilihat dari sisi siapa yang salah dengan melakukan delik melanggar hukum, maka jelas pelaku delik itu ialah perempuan dan laki-laki yang menyebabkan lahirnya anak hasil zina untuk mudahnya kita namakan ibu zina dan bapak zina.

      Jika di Malaysia dari pendaftaran penduduk pada  tahun 1999-2003 tercatat demikian banyak anak yang tidak tercantum nama  ayah yang diduga hasil hubungan seks di luar nikah, maka angka itu kiranya dapat menjadi ukuran berapa jumlah anak yang lahir diluar nikah  di Indonesia, sebagian kecil  karena ada sebab-sebab tertentu biarlah kita katakan saja jumlahntya jauh lebih banyak di luar bayangan kita  anak zina  yang belum dilakukan pendataannya itu. Lebih serius lagi dari perkiraan jumlah tersebut kita renungkan bagaimana hak dan kedudukan hukum anak lahir di luar nikah sekaligus bagaimana hukum bapak zina dan ibu zina?

           Hawa nafsu sebagai perangkat  untuk memenuhi  instink kebutuhan hidup secara universal itu memang harus dipenuhi secara wajar, serasai dan seimbang. Kita tidak boleh  mengunggulkan  salah satu desakan instink itu  secara  jumplang berat sebelah.

             Di jaman Rasul Saw  ada beberapa sahabat yang  bertekat  akan  melengahkan dan menterlantarkan  kebutuhan hidup dimaksud dengan cara  mengunggulkan  ibadah saja, tidak kawin, berpuasa terus menerus, ada yang akan  bersembahyang terus. Maka maksud mereka dilarang  oleh  Rasulullah Saw dalam sabdanya dalam hadis Bukhari-Muslim berikut:

أَخْبَرَنَا حُمَيْدُ بْنُ أَبِي حُمَيْدٍ الطَّوِيلُ أَنَّهُ سَمِعَ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ جَاءَ ثَلَاثَةُ رَهْطٍ إِلَى بُيُوتِ أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْأَلُونَ عَنْ عِبَادَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا أُخْبِرُوا كَأَنَّهُمْ تَقَالُّوهَا فَقَالُوا وَأَيْنَ نَحْنُ مِنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ قَالَ أَحَدُهُمْ أَمَّا أَنَا فَإِنِّي أُصَلِّي اللَّيْلَ أَبَدًا وَقَالَ آخَرُ أَنَا أَصُومُ الدَّهْرَ وَلَا أُفْطِرُ وَقَالَ آخَرُ أَنَا أَعْتَزِلُ النِّسَاءَ فَلَا أَتَزَوَّجُ أَبَدًا فَجَاءَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَيْهِمْ فَقَالَ أَنْتُمْ الَّذِينَ قُلْتُمْ كَذَا وَكَذَا أَمَا وَاللَّهِ إِنِّي لَأَخْشَاكُمْ لِلَّهِ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ لَكِنِّي أَصُومُ وَأُفْطِرُ وَأُصَلِّي وَأَرْقُدُ وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي (رواه البخاري 4675 ومسلم 2487)

Telah mengabarkan kepada kita Humaid bin Abu Humaid Ath Thawil bahwa ia mendengar Anas bin Malik r.a. berkata; Ada tiga orang mendatangi rumah isteri-isteri Nabi Saw. dan bertanya tentang ibadah Nabi Saw. Dan setelah diberitakan kepada mereka, sepertinya mereka merasa hal itu masih sedikit bagi mereka. Mereka berkata, ”Ibadah kita tak ada apa-apanya dibanding Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam, bukankah beliau sudah diampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan juga yang akan datang?” Salah seorang dari mereka berkata, ”Sungguh, aku akan shalat malam selama-lamanya.” Kemudian yang lain berkata, ”Kalau aku, maka sungguh, aku akan berpuasa Dahr (setahun penuh) dan aku tidak akan berbuka.” Dan yang lain lagi berkata, ”Aku akan menjauhi wanita dan tidak akan menikah selama-lamanya.” Kemudian datanglah Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam kepada mereka seraya bertanya: ”Kalian berkata begini dan begitu. Ada pun aku, demi Allah, adalah orang yang paling takut kepada Allah di antara kalian, dan juga paling bertakwa. Aku berpuasa dan juga berbuka, aku shalat dan juga tidur serta menikahi wanita. Barangsiapa yang benci sunnahku, maka bukanlah dari golonganku.”(HR Bukhari no.4675 dan Muslim no.2487)

 

         Para sosiolog-antropologi telah  melakukan penelitian dengan seksama bahwa harta, tahta, nafsu birahi dan agama itu memang menjadi kebuthan hidup manusia maka harus dipenuhi semua. Wimmesma Greidanus  seorang pakar Ilmu Jiwa senada dengan pakar sosiologi-antropologi di atas menyatakan  bahwa  agama itu termasuk kebutuhan hidup manusia secara universal, oleh karena itu harus dipenuhi juga dengan sebaik-baiknya.

 Allah berfirman di dalam Al-Quran s3a14:

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ(ال عمران 14)

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah  kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)(S.3 Ali ‘Imran 14).

 

BAB  DUA

Hukum zina & Hukum nikah mereka

                Masalah ke-2: Bagaimana  syari’at Islam mengatur hukum kepada pelaku zina dan hukum nikah dengan mereka? Jawaban sementara: Untuk negara yang menerapkan Hukum Islam  maka pelaku zina dihukum 100 jilid dan terhadap pelaku zina orang yang pernah nikah (muhshan) dihukum rajam. Orang yang beriman haram menikah dengan pezina tetapi dibolehkan pernikahan  antar mereka para pezina.

        Zina merupakan perbuatan yang diharamkan oleh semua agama dan  bangsa yang beradab, sehingga  siapa yang melanggar hukum wajib dihukum. Sedangkan jika  kemudian timbul masalah anak yang lahir dari perbuatan zina, maka si jabang bayi  tidak  wajar untuk menanggung derita dampak dari perbuatan yang melanggar hukum itu.

         Dari nash tersebut di atas maka dapat diambil pemahaman bahwa yang jelas salah ialah kedua manusia yang menyebabkan lahirnya bayi di luar nikah karena keduanya itulah orang yang melakukan delik pidana (jarimah) melanggar Hukum Allah dan semua hukum manusia mereka itu harus dihukum.

Allah berfirman  dalam Al-Quran S.24-An-Nur 2

الزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مِائَةَ جَلْدَةٍ وَلَا تَأْخُذْكُمْ بِهِمَا رَأْفَةٌ فِي دِينِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَلْيَشْهَدْ عَذَابَهُمَا طَائِفَةٌ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ ( النور 2)

Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan dari orang-orang yang beriman”(S.24 An-Nur 2).

     Menurut Hukum Islam kedua orang yang berbuat zina itu wajib dihukum, 100 jilid terhadap mereka yang belum nikah, hukum rajam dilempari batu sampai mati, atas mereka yang pernah nikah.

          Hukum Rajam itu sudah disyari’atkan Allah dalam agama Yahudi jaman Nabi Musa dan agama Nasrani jaman Nabi ’Isa a.s. Tercatat dalam Al-Quran S.17 Al-Isra` 101 dan hadis Nabi Saw yang dishahihkan oleh Al-Hakim dan At-Turmudzi dan juga secuil ayat itu masih tertulis dalam  Bibel sekarang, Kitab Keluaran 20 ayat 1-17.

Allah berfirman dalam Al-Quran  S.17 Al-Isra` 101- 102:

وَلَقَدْ ءَاتَيْنَا مُوسَى تِسْعَ ءَايَاتٍ بَيِّنَاتٍ فَاسْأَلْ بَنِي إِسْرَائِيلَ إِذْ جَاءَهُمْ فَقَالَ لَهُ فِرْعَوْنُ إِنِّي لَأَظُنُّكَ يَامُوسَى مَسْحُورًا(101)قَالَ لَقَدْ عَلِمْتَ مَا أَنْزَلَ هَؤُلَاءِ إِلَّا رَبُّ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ بَصَائِرَ وَإِنِّي لَأَظُنُّكَ يَافِرْعَوْنُ مَثْبُورًا(102)(الاسراء 101-102)

 Artinya:

“Dan sesungguhnya Kami telah memberikan kepada Musa sembilan buah mu`jizat yang nyata, maka tanyakanlah kepada Bani Israil, tatkala Musa datang kepada mereka lalu Fir`aun berkata kepadanya: “Sesungguhnya aku sangka kamu, hai Musa, seorang yang kena sihir”.Musa menjawab: “Sesungguhnya kamu telah mengetahui, bahwa tiada yang menurunkan mu`jizat-mu`jizat itu kecuali Tuhan Yang memelihara langit dan bumi sebagai bukti-bukti yang nyata: dan sesungguhnya aku mengira kamu, hai Fir`aun, seorang yang akan binasa”(S.17 Al-Isra` 101-102)

       Yang dimaksud dengan  9 ayat dalam ayat 101 Al-Isra` itu  dijelaskan oleh Rasulullah Saw  dalam hadis yaitu:

عَنْ صَفْوَانَ بْنِ عَسَّالٍ أَنَّ يَهُودِيَّيْنِ قَالَ أَحَدُهُمَا لِصَاحِبِهِ اذْهَبْ بِنَا إِلَى هَذَا النَّبِيِّ نَسْأَلُهُ فَقَالَ لَا تَقُلْ نَبِيٌّ فَإِنَّهُ إِنْ سَمِعَهَا تَقُولُ نَبِيٌّ كَانَتْ لَهُ أَرْبَعَةُ أَعْيُنٍ فَأَتَيَا النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَأَلَاهُ عَنْ قَوْلِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ ( وَلَقَدْ آتَيْنَا مُوسَى تِسْعَ آيَاتٍ بَيِّنَاتٍ ) فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ(1) لَا تُشْرِكُوا بِاللَّهِ شَيْئًا(2) وَلَا تَزْنُوا (3)وَلَا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ(4) وَلَا تَسْرِقُوا (5)وَلَا تَسْحَرُوا(6) وَلَا تَمْشُوا بِبَرِيءٍ إِلَى سُلْطَانٍ فَيَقْتُلَهُ(7) وَلَا تَأْكُلُوا الرِّبَا (8)وَلَا تَقْذِفُوا مُحْصَنَةً(9) وَلَا تَفِرُّوا مِنَ الزَّحْفِ شَكَّ شُعْبَةُ (10) وَعَلَيْكُمْ يَا مَعْشَرَ الْيَهُودِ خَاصَّةً لَا تَعْدُوا فِي السَّبْتِ فَقَبَّلَا يَدَيْهِ وَرِجْلَيْهِ وَقَالَا نَشْهَدُ أَنَّكَ نَبِيٌّ قَالَ فَمَا يَمْنَعُكُمَا أَنْ تُسْلِمَا قَالَا إِنَّ دَاوُدَ دَعَا اللَّهَ أَنْ لَا يَزَالَ فِي ذُرِّيَّتِهِ نَبِيٌّ وَإِنَّا نَخَافُ إِنْ أَسْلَمْنَا أَنْ تَقْتُلَنَا الْيَهُودُهَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ (رواه الترمذي4010 والنسائ 2657)

Artinya: “Dari Shafwan ibnu’Assal bhawa  ada dua orang Yahudi yang seorang berbisik kepada rekannya:  “Mari kita menghampiri  Nabi ini mempertanyakan soal 9 ayat (daalam Al-Quran S.17 Al-Isra` 101); Kemudian keduanya mendekati Nabi Muhammad Saw. bersama-sama mempertanyakan bagaimana makna dari 9 ayat dimaksud. Maka beliau menjawab: “ Yang dimaksud dengan 9 ayat (dalam QS 17 Al-Isra` 101) itu ialah:(1)Betul-betul jangan kamu musyrik; (2) Jangn kamu  berzina (3)  Jangan kamu membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah, kecuali di fihak yang benar; (4) Jangan kamu mencuri;; (5) Jangan kamu berbuat sihir; (6) Jang kamu membawa seseorang yang bersih kepada penguasa untuk dibunuh; (7) Jang kamu memakan  riba; (8) Jangan kamu menuduh zina perempuan terhormat;(9)Jangan kamu melarikan diri dari perang sabil; (10)Khuusus untuk kaum Yahudi wajib menataati ibadah hari Sabtu.  Maka kedua orang Yahudi ini lalu mencium yangan Rasulullah Saw dan sujud pada kaki beliau kemudian keduanya  menyatakan: “Kami bersaksi bahwa Tuan adalah Nabi . Beliau bertanya: “Apa yang menghalangi anda untuk masuk Islam?” Mereka menjawab bahwa Nabi Dawud berdo’a jangan ada nabi diluar anak keturunan Dawud. Dan jika kami masuk Islam kami takut dibunuh oleh kaum Yahudi” (HR At-Turmudzi no.4010 dan An-Nasa`i- no.2657).

         Kitab-kitab tafsir Al-Qurthubi (1967:10\335), Ibnu Katsir (1966\356), Az-Zuhaili-dalam Tafsir Al-Munir (1991\182), Al-Kasyasysaf (tth.2\468) mengutip hadis ini, bahkan  As-Suyuthi dalam Ad-Durrul Mantsur (1983:5\344) mencatat bahwa hadis ini diriwayatrkan oleh Ath-Thayalisi, Sa’id ibnu Mansur, Ibnu Abi Syaibah, Ahmad, At-Turmudzi, An-Nasa`i,  Ibnu Majah, Ibnu Mardawaih, Abu Nu’aim, Ibnu Jarir, Abu Ya’la,  Ibnu Abi Hatim, Al-Baihaqi, Ath-Thabrani, Ibnu Qani’,  dishahihkan oleh Al-Hakim  dan At-Turmudzi. Semua memperkuat  bahwa Hukum Rajam itu  menjadi Hukum Nabi Musa  dan  Nabi ‘Isa a.s.

        Kitab kaum Nasrani Bibel-Alkitab sekarang  ini masih menyimpan pasal sepuluh Hukum Taurat ini, sebagai Bibel Kaum Nasrani juga, termaktub dalam kitab Keluaran 20 ayat 1-17,  yang isinya ialah  Hukum Tuhan kepada penganut agama Nabi Musa yaitu:1)  Jangan ada Tuhan lain;2)Jangan menyembah berhala; 3) Jangan menyebut Tuhan dengan sia-sia; 4) Rayakan hari Sabtu; 5) Wajib Bakti kepada bapak ibu; 6) Jangan membunuh; 7) Jangan berzina; 8) Jangan mencuri; 9)Jangan berucap bohong;10) Jangan merebut milik sesama.

       Ketetapan Hukum Rajam  kepada pezina Ahli Kitab Yahudi dan Nasrani tersimpan dalam kitab Taurat pada jaman Nabi  Muhammad Saw yang dibawa oleh penganut Yahud saat itu dibuka di hadapan ’Abdullah bin Salam Tokoh Ahli Kitab yang masuk Islam bersama-sama dengan  Rasulullah  Muhammad Saw  Ketetapan ini  tercatat dalam  Kitab Shahih Bukhari-Muslim berikut:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ الْيَهُودَ جَاءُوا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرُوا لَهُ أَنَّ رَجُلًا مِنْهُمْ وَامْرَأَةً زَنَيَا فَقَالَ لَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا تَجِدُونَ فِي التَّوْرَاةِ فِي شَأْنِ الرَّجْمِ فَقَالُوا نَفْضَحُهُمْ وَيُجْلَدُونَ فَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ سَلَامٍ كَذَبْتُمْ إِنَّ فِيهَا الرَّجْمَ فَأَتَوْا بِالتَّوْرَاةِ فَنَشَرُوهَا فَوَضَعَ أَحَدُهُمْ يَدَهُ عَلَى آيَةِ الرَّجْمِ فَقَرَأَ مَا قَبْلَهَا وَمَا بَعْدَهَا فَقَالَ لَهُ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ سَلَامٍ ارْفَعْ يَدَكَ فَرَفَعَ يَدَهُ فَإِذَا فِيهَا آيَةُ الرَّجْمِ فَقَالُوا صَدَقَ يَا مُحَمَّدُ فِيهَا آيَةُ الرَّجْمِ فَأَمَرَ بِهِمَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرُجِمَا قَالَ عَبْدُ اللَّهِ فَرَأَيْتُ الرَّجُلَ يَجْنَأُ عَلَى الْمَرْأَةِ يَقِيهَا الْحِجَارَةَ )رواه البخاري 3363 ومسلم 3211)

“Dari Abdullah bin 'Umar radliallahu 'anhu bahwa orang-orang Yahudi mendatangi Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam lalu bercerita bahwa ada seseorang laki-laki dari kalangan mereka dan seorang wanita berzina. Lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bertanya kepada mereka; "Apa yang kalian dapatkan dalam Kitab Taurah tentang permasalahan hukum rajam?". Mereka menjawab; "Kami mempermalukan (membeberkan aib) mereka dan mencambuk mereka". Maka Abdullah bin Salam berkata; "Kalian berdusta. Sesungguhnya di dalam Kitab Taurat ada hukuman rajam. Coba bawa kemari kitab Taurat. Maka mereka membacanya saecara seksama lalu salah seorang diantara mereka meletakkan tangannya pada ayat rajam, dan dia hanya membaca ayat sebelum dan sesudahnya. Kemudian Abdullah bin Salam berkata; "Coba kamu angkat tanganmu". Maka orang itu mengangkat tangannya, dan ternyata ada ayat tentang rajam hingga akhirnya mereka berkata; "Dia benar, wahai Muhammad. Di dalam Taurat ada ayat tentang rajam". Maka Rasulullah Saw memerintahkan kedua orang yang berzina itu agar dirajam". Abdullah bin 'Umar berkata; "Dan kulihat laki-laki itu melindungi wanita tersebut agar terhindar dari lemparan batu"(HR Bukhari no.3363 dan Muslim no.3211).
 Pezina ang sudah dihukum rajam maka dia berhak dishalatkan:
عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ أَنَّ امْرَأَةً مِنْ جُهَيْنَةَ أَتَتْ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهِيَ حُبْلَى مِنْ الزِّنَى فَقَالَتْ يَا نَبِيَّ اللَّهِ أَصَبْتُ حَدًّا فَأَقِمْهُ عَلَيَّ فَدَعَا نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلِيَّهَا فَقَالَ أَحْسِنْ إِلَيْهَا فَإِذَا وَضَعَتْ فَأْتِنِي بِهَا فَفَعَلَ فَأَمَرَ بِهَا نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَشُكَّتْ عَلَيْهَا ثِيَابُهَا ثُمَّ أَمَرَ بِهَا فَرُجِمَتْ ثُمَّ صَلَّى عَلَيْهَا فَقَالَ لَهُ عُمَرُ تُصَلِّي عَلَيْهَا يَا نَبِيَّ اللَّهِ وَقَدْ زَنَتْ فَقَالَ لَقَدْ تَابَتْ تَوْبَةً لَوْ قُسِمَتْ بَيْنَ سَبْعِينَ مِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ لَوَسِعَتْهُمْ وَهَلْ وَجَدْتَ تَوْبَةً أَفْضَلَ مِنْ أَنْ جَادَتْ بِنَفْسِهَا لِلَّهِ تَعَالَى و حَدَّثَنَاه أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا عَفَّانُ بْنُ مُسْلِمٍ حَدَّثَنَا أَبَانُ الْعَطَّارُ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَبِي كَثِيرٍ بِهَذَا الْإِسْنَادِ مِثْلَهُ  (رواه مسلم 3209 والترمذي 1355)
”Dari 'Imran bin Hushain, bahwa seorang wanita dari Juhainah datang menghadap kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, padahal dia sedang hamil akibat melakukan zina. Wanita itu berkata, "Wahai Rasulullah, aku telah melanggar hukum, oleh karena itu tegakkanlah hukuman itu atasku." Lalu Nabi Allah memanggil wali perempuan itu dan bersabda kepadanya: "Rawatlah wanita ini sebaik-baiknya, apabila dia telah melahirkan, bawalah dia ke hadapanku." Lalu walinya melakukan pesan tersebut. setelah itu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam memerintahkan untuk merajam wanita tersebut, maka pakaian wanita tersebut dirapikan (agar auratnya tidak terbuka saat dirajam). Kemudian beliau perintahkan agar ia dirajam. Setelah dirajam, beliau menshalatkan jenazahnya, namun hal itu menjadkan Umar bertanya kepada beliau, "Wahai Nabi Allah, perlukah dia dishalatkan? Bukankah dia telah berzina?" beliau menjawab: "Sunnguh, dia telah bertaubat kalau sekiranya taubatnya dibagi-bagikan kepada tujuh puluh orang penduduk Madinah, pasti taubatnya akan mencukupi mereka semua. Adakah taubat yang lebih utama daripada menyerahkan nyawa kepada Allah Ta'ala secara ikhlas?" Dan telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami 'Affan bin Muslim telah menceritakan kepada kami Aban Aal 'Athar telah menceritakan kepada kami Yahya bin Abu Katsir dengan isnad seperti ini" (HR Muslim no.3209 dan Turmudzi no.1355).
       Hukuman Rajam dilaksanakan dengan menanam pelaku delik-jarimah zina itu separoh badan lalu dilempari batu sampai mati, sebagaimana tercatat dalam hadis berikut:

عَنْ مُجَالِدٍ حَدَّثَنَا عَامِرٌ قَالَ كَانَ لِشَرَاحَةَ زَوْجٌ غَائِبٌ بِالشَّامِ وَإِنَّهَا حَمَلَتْ فَجَاءَ بِهَا مَوْلَاهَا إِلَى عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فَقَالَ إِنَّ هَذِهِ زَنَتْ فَاعْتَرَفَتْ فَجَلَدَهَا يَوْمَ الْخَمِيسِ مِائَةً وَرَجَمَهَا يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَحَفَرَ لَهَا إِلَى السُّرَّةِ وَأَنَا شَاهِدٌ ثُمَّ قَالَ إِنَّ الرَّجْمَ سُنَّةٌ سَنَّهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَوْ كَانَ شَهِدَ عَلَى هَذِهِ أَحَدٌ لَكَانَ أَوَّلَ مَنْ يَرْمِي الشَّاهِدُ يَشْهَدُ ثُمَّ يُتْبِعُ شَهَادَتَهُ حَجَرَهُ وَلَكِنَّهَا أَقَرَّتْ فَأَنَا أَوَّلُ مَنْ رَمَاهَا فَرَمَاهَا بِحَجَرٍ ثُمَّ رَمَى النَّاسُ وَأَنَا فِيهِمْ قَالَ فَكُنْتُ وَاللَّهِ فِيمَنْ قَتَلَهَا ) (رواه احمد 931 والبخاري 6314)

“Dari Mujalid dari 'Amir berkata; Syarahah memiliki seorang suami yang pergi ke Syam, dan dia kemudian hamil, lalu walinya datang kepada Ali bin Abu Thalib Radli Allahu 'anhu dan berkata; "orang ini telah berzina, " dia pun mengakuinya. Maka Ali Radhiallah 'anhu menjilidnya pada hari Kamis seratus jilid dan merajamnya pada hari Jum'at, dan digalikan untuknya sampai sebatas pusarnya, saya saat itu menyaksikannya. Kemudian Ali Radhiallah 'anhu berkata; "Sesungguhnya rajam adalah sunah yang telah dilakukan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. jika ada seorang yang menyaksikan hal ini maka yang pertama kali harus melemparnya adalah saksi tersebut, kemudian dia bersakski terlebih dahulu, lantas mengikutkan persaksiannya dengan melemparkan batunya. Tetapi waniti ini telah mengakuinya, maka sayalah orang pertama yang akan melemparinya." Kemudian dia melemparinya dengan batu, dan orang-orang melemparinya juga dan saya termasuk di dalamnya. 'Amir berkata; "Demi Allah, saya termasuk orang yang ikut membunuh Syarahah”(HR Ahmad no.931 dan Bukhari no.6314 meriwayatkan dengan kalimat singkat).
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ مَاعِزَ بْنَ مَالِكٍ الْأَسْلَمِيَّ أَتَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي قَدْ ظَلَمْتُ نَفْسِي وَزَنَيْتُ وَإِنِّي أُرِيدُ أَنْ تُطَهِّرَنِي فَرَدَّهُ فَلَمَّا كَانَ مِنْ الْغَدِ أَتَاهُ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي قَدْ زَنَيْتُ فَرَدَّهُ الثَّانِيَةَ فَأَرْسَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى قَوْمِهِ فَقَالَ أَتَعْلَمُونَ بِعَقْلِهِ بَأْسًا تُنْكِرُونَ مِنْهُ شَيْئًا فَقَالُوا مَا نَعْلَمُهُ إِلَّا وَفِيَّ الْعَقْلِ مِنْ صَالِحِينَا فِيمَا نُرَى فَأَتَاهُ الثَّالِثَةَ فَأَرْسَلَ إِلَيْهِمْ أَيْضًا فَسَأَلَ عَنْهُ فَأَخْبَرُوهُ أَنَّهُ لَا بَأْسَ بِهِ وَلَا بِعَقْلِهِ فَلَمَّا كَانَ الرَّابِعَةَ حَفَرَ لَهُ حُفْرَةً ثُمَّ أَمَرَ بِهِ فَرُجِمَ قَالَ فَجَاءَتْ الْغَامِدِيَّةُ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي قَدْ زَنَيْتُ فَطَهِّرْنِي وَإِنَّهُ رَدَّهَا فَلَمَّا كَانَ الْغَدُ قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ لِمَ تَرُدُّنِي لَعَلَّكَ أَنْ تَرُدَّنِي كَمَا رَدَدْتَ مَاعِزًا فَوَاللَّهِ إِنِّي لَحُبْلَى قَالَ إِمَّا لَا فَاذْهَبِي حَتَّى تَلِدِي فَلَمَّا وَلَدَتْ أَتَتْهُ بِالصَّبِيِّ فِي خِرْقَةٍ قَالَتْ هَذَا قَدْ وَلَدْتُهُ قَالَ اذْهَبِي فَأَرْضِعِيهِ حَتَّى تَفْطِمِيهِ فَلَمَّا فَطَمَتْهُ أَتَتْهُ بِالصَّبِيِّ فِي يَدِهِ كِسْرَةُ خُبْزٍ فَقَالَتْ هَذَا يَا نَبِيَّ اللَّهِ قَدْ فَطَمْتُهُ وَقَدْ أَكَلَ الطَّعَامَ فَدَفَعَ الصَّبِيَّ إِلَى رَجُلٍ مِنْ الْمُسْلِمِينَ ثُمَّ أَمَرَ بِهَا فَحُفِرَ لَهَا إِلَى صَدْرِهَا وَأَمَرَ النَّاسَ فَرَجَمُوهَا فَيُقْبِلُ خَالِدُ بْنُ الْوَلِيدِ بِحَجَرٍ فَرَمَى رَأْسَهَا فَتَنَضَّحَ الدَّمُ عَلَى وَجْهِ خَالِدٍ فَسَبَّهَا فَسَمِعَ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَبَّهُ إِيَّاهَا فَقَالَ مَهْلًا يَا خَالِدُ فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَقَدْ تَابَتْ تَوْبَةً لَوْ تَابَهَا صَاحِبُ مَكْسٍ لَغُفِرَ لَهُ ثُمَّ أَمَرَ بِهَا فَصَلَّى عَلَيْهَا وَدُفِنَتْ (وراه مسلم 3208 وابو داود 3853)
“Telah  menceritakan kepada kita Abdullah bin Buraidah dari ayahnya, bahwa Ma'iz bin Malik Al Aslami pergi menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam seraya berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku telah menzhalimi diriku, karena aku telah berzina, oleh karena itu aku ingin agar anda berkenan membersihkan diriku." Namun beliau menolak pengakuannya. Keesokan harinya, dia datang lagi kepada beliau sambil berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku telah berzina." Namun beliau tetap menolak pengakuannya yang kedua kalinya. Lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengutus seseorang untuk menemui kaumnya dengan mengatakan: "Apakah kalian tahu bahwa pada akalnya Ma'iz ada sesuatu yang tidak beres yang kalian ingkari?" mereka menjawab, "Kami tidak yakin jika Ma'iz terganggu pikirannya, setahu kami dia adalah orang yang baik dan masih sehat akalnya." Untuk ketiga kalinya, Ma'iz bin Malik datang menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam untuk membersihkan dirinya dari dosa zina yang telah diperbuatnya. Lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pun mengirimkan seseorang menemui kaumnya untuk menanyakan kondisi akal Ma'iz, namun mereka membetahukan kepada beliau bahwa akalnya sehat dan termasuk orang yang baik. Ketika Ma'iz bin Malik datang keempat kalinya kepada beliau, maka beliau memerintahkan untuk membuat lubang ekskusi bagi Ma'iz. Akhirnya beliau memerintahkan untuk merajamnya, dan hukuman rajam pun dilaksanakan." Buraidah melanjutkan, "Suatu ketika ada seorang wanita Ghamidiyah datang menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam seraya berkata, "Wahai Rasulullah, diriku telah berzina, oleh karena itu sucikanlah diriku." Tetapi untuk pertama kalinya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tidak menghiraukan bahkan menolak pengakuan wanita tersebut. Keesokan harinya wanita tersebut datang menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sambil berkata, "Wahai Rasulullah, kenapa anda menolak pengakuanku? Sepertinya anda menolak pengakuan aku sebagaimana pengakuan Ma'iz. Demi Allah, sekarang ini aku sedang mengandung bayi dari hasil hubungan gelap itu." Mendengar pengakuan itu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sekiranya kamu ingin tetap bertaubat, maka pulanglah sampai kamu melahirkan." Setelah melahirkan, wanita itu datang lagi kepada beliau sambil menggendong bayinya yang dibungkus dengan kain, dia berkata, "Inilah bayi yang telah aku lahirkan." Beliau lalu bersabda: "Kembali dan susuilah bayimu sampai kamu menyapihnya." Setelah mamasuki masa sapihannya, wanita itu datang lagi dengan membawa bayinya, sementara di tangan bayi tersebut ada sekerat roti, lalu wanita itu berkata, "Wahai Nabi Allah, bayi kecil ini telah aku sapih, dan dia sudah dapat menikmati makanannya sendiri." Kemudian beliau memberikan bayi tersebut kepada laki-laki muslim, dan memerintahkan untuk melaksanakan hukuman rajam. Akhirnya wanita itu ditanam dalam tanah hingga sebatas dada. Setelah itu beliau memerintahkan orang-orang supaya melemparinya dengan batu. Sementara itu, Khalid bin Walid ikut serta melempari kepala wanita tersebut dengan batu, tiba-tiba percikan darahnya mengenai wajah Khalid, seketika itu dia mencaci maki wanita tersebut. Ketika mendengar makian Khalid, Nabi Allah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tenangkanlah dirimu wahai Khalid, demi dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya perempuan itu telah benar-benar bertaubat, sekiranya taubat (seperti) itu dilakukan oleh seorang pelaku dosa besar niscaya dosanya akan diampuni." Setelah itu beliau memerintahkan untuk menshalati jenazahnya dan menguburkannya”(HR Muslim no.3208 dan Abu Dawud no.3853).

Pernikahan dengan  pezina &  Hukum nikah mereka

         Berikut kita pelajari  pendapat beberapa ulama tafsir sebagai pangkal tolak untuk mencari  makna  yang tepat dari  Al-Quran s24a3 di atas, yaitu:

@Tafsir Ath-Thabari (19h96) menyatakan haram orang briman nikah dengan para pezina dan pada halaman berikutya  (19h101 mencatat  bahwa Al-Quran s24a3 ini dimansukh oleh Qs24a32. Kemudian kata Sa’id bin Musayyab dan Abu Ja’far makna nikah disini artinya ialah hubungan seks (wath`i) bukan akad nikah maka orang beriman haram berhubungan seks dengan pezina.

@Tafsir Ad-Durrul Mantsur (7h237) dalam hal ini mencatat riwayat Ibnu Abu Hatim dari Muqatil bahwa  ada orang-orang Anshar yang melarat mohon nasehat kepada Rasulullah Saw untuk menikahi Walidah ‘Abdullah bin Ubay dan Nasikah binti Umayyah atau  yang lain  para pelacur katanya mereka  memperoleh pendapatan di pasar cukup lumayan, maka turun ayat Qs24a3. Di halaman berikutnya tercatat bahwa nikah disini artinya berzina, padahal zina itu haram. Disana juga tercatat bahwa Martsad ibnu Abi Martsad membawa tawanan (’Annaq) dari Makkah mohon ijin kepada Nabi Saw.  di Madinah untuk menikahi ’Annaq yang dibawanya dari Makkah itu maka turun Qs24a3   yang melarang orang Islam  menikah dengan orang musyrik.

@Tafsir Ar_Razi (11h240)  dalam masalah ini mencatat bahwa hukumnya  sunat lebih utama orang beriman untuk menikah sama-sama dengan orang  beriman.

~Mujahid, ’Atha` dan Qatadah menyatakan bahwa hukum  dimaksud dalam Qs24a3 itu ialah bahwa hukum tersebut berlaku  pada awal Islam kemudian diabadikan setelah itu bahwa kaum yang terhormat (’Afifah) haram nikah dengan pezina.

~ Sementara itu timbul dua pendapat, yaitu: (1) Abu Bakar, ’Umar, ’Ali, Ibnu  Mas’ud   dan ’Aisyah menyatakan bahwa hukum itu berlaku terus. (2) Al-Jubba`i menyatakan bahwa hukum dalam Qs24a3 itu mansukh oleh Ijma’ sedangkan menurut Sa’id bin Musayyab yang menaskh-menghapusnya ialah Qs4a3 dan Qs24a 32.Namun pendapat kedua ini sangat lemah.

          Pendapat Abu Muslim bahwa lafal nikah dalam Qs24a3 artinya hubungan seks   itu  tertolak, sebab nikah menurut Al-Quran artinya mengawini dan tidak semakna jika pezina nikah dengan orang terhormat (’Afifah),

@Ibnul ’Arabi  dalam Ahkamul Quran (5h486) mencatat ada dua point, yaitu:

(1) Qs24a3 itu menurut Ibnu ’Umar dan Mujahid bahwa hukum dari ayat ini berlaku khusus untuk dua peristiwa, yaitu: (1) Pernikahan  Ummu Mahzul seorang pelacur  sebagai Sabab Nuzul ayat itu.

(2)Dan juga khusus untuk Martsad ibnu Martsad  saja yang akan menikahi ’Annaq pelacur dari Makkah, maka turun Al-Quran s24a3 di atas.

@ Para ulama sepakat mengenai hukum menikah dengan wanita yang hamil, yaitu: Bagi wanita yang  hamil dengan nikah yang sah atau nikah wath`i syubhat maka hukumnya haram  nikah sebelum dia melahirkan bayinya, demi menghormati garis darah keturunan janin dalam kandungan dia itu harus dipastikan nasabnya dengan iddah hamil, yaitu setelah perempuan itu melahirkan bayi dimaksud.

Namun terhadap masalah status perempuan yang hamil karena zina maka para ulama` sedikit berbeda:

 (1) Ulama` Malikiyah dan Hanbaliyah serta Abu Yusuf dari Hanafiyah melarang dia menikah sebelum melahirkan bayinya baik kawin dengan pezina ataupun orang yang  bukan pezina sebab hadis berikut menyangkut nikah mereka ini:

عَنْ أُمِّ حَبِيبَةَ بِنْتُ عِرْبَاضِ بْنِ سَارِيَةَ أَنَّ أَبَاهَا أَخْبَرَهَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى أَنْ تُوطَأَ السَّبَايَا حَتَّى يَضَعْنَ مَا فِي بُطُونِهِنَّ (رواه الترمذي 1489)

" Dari Ummu Habibah binti Irbadh bin Sariyah bahwa Bapaknya mengabarkan kepadanya, bahwa Rasulullah Saw melarang menggauli tawanan (wanita) hingga mereka melahirkan anak yang ada dalam perutnya." ”(HR Turmudzi no.1489).

(2) Ulama` Syafi’yah, Abu Hanifah dan Muhammad  membolehkan nikahnya perempuan hamil dari zina sebab larangan itu dimaksudkan untuk menghormati nikah yang sah bukan menghormati  ”benih-zina” karena nasab tidak boleh melalui zina sesuai dengan hadis  (( الْوَلَدُ لِلْفِرَاشِ وَلِلْعَاهِرِ الْحَجَرُ  )) Hadis Riwayat Bukhari no.2540  dan Muslim no.2645. Dalam nikah dengan wanita pezina  menurut Jumhur Ulama` tidak memerlukan syarat  ”Bertobat” untuk melakukan nikahnya.

@ Ulama` Hanabilah menetapkan syarat wajib bertobat lebih dahulu sebelum akad nikah dengan pezina  berdasarkan firman Allah dalam Al-Quran S.24 An-Nur 3 dan hadis  Ibnu Majah no.4240 berikut:

 “Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang mukmin”(S.24 An-Nur 3)

Dan  hadis:

عَنْ أَبِي عُبَيْدَةَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ أَبِيهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ التَّائِبُ مِنْ الذَّنْبِ كَمَنْ لَا ذَنْبَ لَهُ  )رواه ابن ماجه 4240)

“Dari Abu ‘Ubaidah bin Abdullah dari ayahnya dia berkata; “Rasulullah Saw bersabda: “Orang yang bertaubat dari dosa, bagaikan seorang yang tidak berdosa”(HR Ibnu  Majah no.4240 dan Baihaqi 10h154).

      Maka setelah bertobat  nikah mereka sama dengan pernikahan laki-laki dan perempuan yang tidak berzina.

      Para Fuqaha` sepakat  bahwa  nikahnya perempuan yang hamil dari zina dengan laki-laki bukan pezina maka laki-lakinya dilarang melakukan hubungan seks (Wath`i) dengan perempuan pezina  tersebut sebelum melahirkan  bayi (selesai ’iddah hamil) sesuai dengan sabda Rasulullah Saw  berikut:

 عَنْ رُوَيْفِعِ بْنِ ثَابِتٍ الْأَنْصَارِيِّ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ يَوْمَ حُنَيْنٍ قَالَ لَا يَحِلُّ لِامْرِئٍ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ أَنْ يَسْقِيَ مَاءَهُ زَرْعَ غَيْرِهِ يَعْنِي إِتْيَانَ الْحَبَالَى وَلَا يَحِلُّ لِامْرِئٍ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ أَنْ يَقَعَ عَلَى امْرَأَةٍ مِنْ السَّبْيِ حَتَّى يَسْتَبْرِئَهَا  (رواه ابو داود 1844)

“Dari Rufaifi' bin Tsabit Al Anshari, berkata: Aku dengar dari Rasulullah Saw. pada saat perang Hunain beliau bersabda: "Tidak halal bagi orang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir untuk menyiramkan airnya kepada tanaman orang lain -yaitu menggauli wanita-wanita yang sedang hamil", dan tidak halal bagi seseorang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir untuk menggauli wanita tawanan hingga ia membiarkannya mengalami haid” (HR Abu Dawud no.1844 dan Ahmad no,16378).

BAB  TIGA

Hukum  Anak di luar nikah

           Masalah ke-3:  Bagaimana  status hukum  anak yang lahir di luar nikah alias anak  zina? Jawaban sementara: Seluruh anak Adam itu ketika dilahirkan oleh ibunya adalah dalam keadaan fitrah yang suci, maka anak yang lahir di luar nikah yang sah hukumnya tidak bersalah dan dia mempunyai hak yang sama dengan anak  dari pernikahan yang sah. Oleh karena kedua pelaku zina laki-laki dan perempuan itu telah berbuat melanggar hukum maka keduanya  wajib dihukum dengan  semestinya.

           Firman Allah dalam Al-Quran S.24 An-Nur 3 secara leterlijk mengharamkan perkawinan  orang beriman dengan pezina. Tetapi  masalahnya ialah bagaimana  status anak yang lahir di luar nikah? Sebetulnya masalah ini menyangkut juga kepada  Nikah Fasid,  nikah  yang tidak sah, nikah  Mut’ah dan nikah dengan orang kafir, nikah yang ditengah jalan yang nersangkutan murtad, berubah agama serta nikah yang diharamkan oleh Allah.  Hanya saja  masalah yang lebih berat dan musykil ialah  anak yang lahir dari zina oleh bapak zina dengan ibu zina.

         Allah sudah memberikan asas yang sangat mendasar bahwa seluruh bayi manusia itu dilahirkan oleh ibunya  dalam keadaan fitrah yang suci, mencakup semua bayi orang Islam, orang kafir bahkan anak zina dari bapak-ibu zina.

@Fitrah yang suci

          Tentang fitrah yang suci ini Allah berfirman dalam Al-Quran          S. 30 Ar-Rum 30

Artinya :

     Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada Agama (Allah), (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”. (S.30 Ar-Rum 30).

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”(S.7 AlA’raf 172).

     Terkait dengan kandungan Al-Quran S.7 Al-A’raf 172 di atas ini maka manusia itu diciptakan Allah Ta’ala dalam keadaan fitrah yang suci, karena roh sebelum ditiupkan kepada janin dalam kandungan, dia telah mengucapkan ikrar dihadapan Allah bahwa dia kelak setelah lahir di dunia akan beragama tauhid menyembah hanya kepada Allah tidak musyrik sedikitpun juga.

          Ketetapan  fitrah yang suci ini sudah ada jauh sebelum munculnya teori Tabularasa. Madzhab Behaviorisme teori dari John Locke dan Francis Bacon si abad Pertengahan yang  berpendapat bahwa manusia itu lahir bersifat “netral” bukan baik dan bukan jahat persis selembar kertas putih (Tabularasa) yang bisa digambari atau ditulisi apa saja.

          Terhadap teori Tabularasa dari  John Locke atau Behaviorisme, maka sekitar tahun 610 — 532 M itu Al-Quran S.30 Ar-Rum 30 dan S.7 Al-A’raf 172  turun yang menyatakan bahwa manusia itu sudah mempunyai instink mencakup instink Religios. Walaupun demikian Rasulullah Saw. mengakui besarnya pengaruh lingkungan terhadap fitrah yang suci ini. Beliau bersabda dalam suatu hadis :

إِنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ كَانَ يُحَدِّثُ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ كَمَا تُنْتَجُ الْبَهِيمَةُ بَهِيمَةً جَمْعَاءَ هَلْ تُحِسُّونَ فِيهَا مِنْ جَدْعَاءَ ثُمَّ يَقُولُ أَبُو هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا الْآيَةَ (رواه البخاري 1270 ومسلم 4803)

Abu Hurairah r.a. menceritakan bahwa Nabi Saw. bersabda: “Tidak ada seorang anakpun yang terlahir kecuali dia dilahirkan dalam keadaan fithrah. Maka kemudian kedua orang tuanyalah yang akan menjadikan anak itu menjadi Yahudi, Nashrani atau Majusi sebagaimana binatang ternak yang melahirkan binatang ternak dengan sempurna. Apakah kalian melihat ada cacat padanya?”. Kemudian Abu Hurairah radliallahu ‘anhu berkata, (mengutip firman Allah QS Ar-Ruum: 30 yang artinya: (‘Sebagai fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu”)(HR Bukhari no.1270 dan Muslim no.4803).

          Dalam suatu hadis Qudsi Allah menerangkan bahwa manusia itu pada asalnya berjiwa agama, dia menyimpang karena tergoda oleh bujukan syaitan :

عَنْ عِيَاضِ بْنِ حِمَارٍ الْمُجَاشِعِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ ذَاتَ يَوْمٍ فِي خُطْبَتِهِ أَلَا إِنَّ رَبِّي أَمَرَنِي أَنْ أُعَلِّمَكُمْ مَا جَهِلْتُمْ مِمَّا عَلَّمَنِي يَوْمِي هَذَا كُلُّ مَالٍ نَحَلْتُهُ عَبْدًا حَلَالٌ وَإِنِّي خَلَقْتُ عِبَادِي حُنَفَاءَ كُلَّهُمْ وَإِنَّهُمْ أَتَتْهُمْ الشَّيَاطِينُ فَاجْتَالَتْهُمْ عَنْ دِينِهِمْ(رواه مسلم 5109)

 “Dari Iyadh bin Himar Al Mujasyi'i Rasulullah Saw. bersabda pada suatu hari dalam khutbah beliau: "Sesungguhnya Rabbku memerintahkanku untuk mengajarkan yang tidak kalian ketahui yang Ia ajarkan padaku pada hari ini: 'Semua harta yang Aku berikan pada hamba itu halal, sesungguhnya Aku menciptakan hamba-hambaKu dalam keadaan lurus semuanya, mereka didatangi oleh setan lalu dijauhkan dari agama mereka”(HR  Mudlim no.5109)

          Manusia dilahirkan di dunia ini dalam keadaan fitrah yang suci ini diperjelas dan dikuatkan oleh ayat-ayat ataupun hadis sebagai berikut :

Al-Qurn S.91 Asy-Syamsi 7 – 10 bahwa manusia pada mulanya suci dan beruntunglah yang tetap memelihara kesucian jiwanya.

وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا()فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا)قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا()وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا(الشمس 7-10)

“Demi jiwa dan penyempurnaannya, maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sungguh beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu dan sungguh merugilah orang yang mengotori jiwanya” (S. 91 Asy-Syamsi 7-10 )

-Rasulullah saw. pernah bersabda dalam sebuah hadis :

أَبَا حَازِمٍ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ حَجَّ لِلَّهِ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ (رواه البخاري 1424 ومسلم 2404)

“Abu Hazim berkata; aku mendengar Abu Hurairah r.a. berkata: “Aku mendengar Nabi Saw. bersabda: "Barangsiapa melaksanakan hajji lalu dia tidak berkata, -kata kotor dn tidak berbuat fasik maka dia kembali seperti hari saat dilahirkan oleh ibunya"(Suci dari dosanya)(HR Bukhari no.1424 dan Muslim no.2404).
حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ ابْنِ عَجْلَانَ عَنْ الْقَعْقَاعِ بْنِ حَكِيمٍ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ وَهُوَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ قَالَ هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ  (رواه الترمذي 3257 وابن ماجه 4234 واحمد 15465)
Dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu beliau bersabda: "Seorang hamba apabila melakukan suatu kesalahan, maka di titikkan dalam hatinya sebuah titik hitam dan apabila ia meninggalkannya dan meminta ampun serta bertaubat, hatinya dibersihkan dan apabila ia kembali maka ditambahkan titik hitam tersebut hingga menutup hatinya, dan itulah yang diistilahkan "Ar raan" yang Allah sebutkan: kallaa bal raana 'alaa quluubihim maa kaanuu yaksibuun.(QS. Almuthaffifin 14). Ia berkata; hadits ini adalah hadits hasan shahih” (HR Turmudzi no.3257, Ibnu Majah 4234( .

       Yang telah membuat jiwa menjadi kotor dan merusak kesucian jiwanya itu  ialah perbuatan-perbuatan buruk yang dilarang Tuhan.             Allah berfirman :

 “Awas, sungguh telah menutupi (menodai) hati mereka hal-hal yang mereka kerjakan” (S. 83 Tathfif 14)

-       Siapa saja  yang melakukan perbuatan dosa maka timbul titik hitam dalam hatinya, Rasul saw. bersabda sebagai berikut :

-      عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أُنَيْسٍ الْجُهَنِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ مِنْ أَكْبَرِ الْكَبَائِرِ الشِّرْكُ بِاللَّهِ وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ وَالْيَمِينُ الْغَمُوسُ وَمَا حَلَفَ حَالِفٌ بِاللَّهِ يَمِينَ صَبْرٍ فَأَدْخَلَ فِيهَا مِثْلَ جَنَاحِ بَعُوضَةٍ إِلَّا جُعِلَتْ نُكْتَةً فِي قَلْبِهِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ  (رواه الترمذي 2946 وااحمد 15465)

"Dari Abdullah bin Unais al Juhany ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya diantara dosa paling besar di antara dosa-dosa besar adalah mempersekutukan Allah, durhaka kepada kedua orang tua, sumpah yang menjerumuskan pelakunya ke neraka (palsu), dan sumpah yang dijadikan oleh seseorang untuk bersumpah karena terpaksa, dan ia menganggap (remeh) layaknya sayap seekor nyamuk, kecuali (sumpahnya) itu akan dijadikan noda hitam dalam hatinya sampai hari kiamat." Abu Isa mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih gharib”(HR Turmudzi no.2946 dan Ahmad no.15465).

Ajaran dosa warisan ditolak oleh Al-Quran

           Konsep fitrah manusia dalam agama Islam berbeda dengan ajaran dosa warisan dalam agama Kristen. Menurut ajaran Kristen seluruh umat manusia mewarisi dosa warisan dari N. Adam, menurut Kitab Bibel Surat Rum 5 ayat 12 bahwa dosa warisan dari Nabi Adam ini hanya bisa disucikan melalui kepercayaan kepada salib Yesus sebagai penebus dosa sesuai dengan  Al-Kitab  Rum 3 pasal 24.

          Dapat kita bandingkan bagaimana keterangan Al-Qur’an berkenaan dengan masalah peristiwa Adam memakan buah Kuldi ini yaitu sebagai berikut :

          Pada mulanya Allah menyuruh Adam dan Hawa untuk tinggal dalam surga tetapi tidak boleh mendekati pohon Kuldi (S.2 Al-Baqarah 25), lalu Iblis berhasil membujuk Adam sehingga Adam dan Hawa tertarik dan makan buah Kuldi itu maka Allah mempersalahkan keduanya dengan memberikan hukuman dan terbukalah auratnya, dengan cepat Adam menutupi dirinya dengan daun-daun surga, tercatat dalam firman Allah  (S. 7 Al-A’raf 20 – 22):.

         فَوَسْوَسَ لَهُمَا الشَّيْطَانُ لِيُبْدِيَ لَهُمَا مَا وُورِيَ عَنْهُمَا مِنْ سَوْآتِهِمَا وَقَالَ مَا نَهَاكُمَا رَبُّكُمَا عَنْ هَذِهِ الشَّجَرَةِ إِلَّا أَنْ تَكُونَا مَلَكَيْنِ أَوْ تَكُونَا مِنَ الْخَالِدِينَ()وَقَاسَمَهُمَا إِنِّي لَكُمَا لَمِنَ النَّاصِحِينَ()فَدَلَّاهُمَا بِغُرُورٍ فَلَمَّا ذَاقَا الشَّجَرَةَ بَدَتْ لَهُمَا سَوْآتُهُمَا وَطَفِقَا يَخْصِفَانِ عَلَيْهِمَا مِنْ وَرَقِ الْجَنَّةِ وَنَادَاهُمَا رَبُّهُمَا أَلَمْ أَنْهَكُمَا عَنْ تِلْكُمَا الشَّجَرَةِ وَأَقُلْ لَكُمَا إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمَا عَدُوٌّ مُبِينٌ (الاعراف 20-22)

“Maka syaitan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya dan syaitan berkata: “Tuhan kamu tidak melarangmu dari mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang yang kekal (dalam surga)”. Dan dia (syaitan) bersumpah kepada keduanya. “Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasehat kepada kamu berdua”,maka syaitan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya. Tatkala keduanya telah merasai buah kayu itu, nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. Kemudian Tuhan mereka menyeru mereka: “Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan kepadamu: “Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?”(S,7 Al-A‘raf 20-22).

“Kemudian Adam menerima petunjuk sebagaimana  tercatat dalam QS.2 Al-Baqarah 37. Dalam pada itu Adam ketika makan buah Kuldi tersebut terjadi karena lupa tidak sengaja disebut dalam QS. 20 Thaha 115. Maka Adam segera bertaubat memohon ampun seperti yang dilukiskan dalam Qs7a23 :

قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ(الاعراف 23)

          “Keduanya (Adam dan Hawa) berdo’a : “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan tidak memberi rahmat kepada kami tentulah kami termasuk orang-orang yang merugi” (S.7 Al-A’raf 23)

          Setelah Adam  dan Hawa bertaubat dan Allah menerima taubat keduanya serta mengampuni dosa keduanya kemudian Allah mengangkat Adam menjadi nabi. Termaktub dalam s20a122.

          “Kemudian Tuhannya memilih dia maka Dia menerima taubat Adam dan memimpinnya.(S 20 Thaha 122)..

          Jelas belum menjadi  nabi, Adam sudah suci dari dosa dan setelah menjadi  nabi  maka  Nabi Adam  itu ma’sum artinya suci dari salah dan  dosa. Oleh karena itu ketika Nabi Adam wafat tidak mungkin Bapak seluruh umat manusia itu mempunyai dosa yang ditinggalkan untuk diwariskan kepada seluruh umat manusia ini. Sebab melihat kesalahan Adam karena lupa, beliau dan ibu Hawa sudah bertaubat, taubatnya  sudah diterima Allah Ta’ala  dan sekaligus diampuni.

          Memang ajaran Islam tidak mengenal dosa warisan, dalam Islam tiap manusia bertanggung jawab hanya kepada kesalahannya sendiri-sendiri. Seseorang tidak akan menanggung hukuman siksa dari kesalahan atau dosa orang lain. Ini diulang-ulang berkali-kali ditegaskan Allah dalam Al-Quran dalam S.6 Al-An’am 164, S. 35 Fathir 18 atau dalam S.39 Az-Zumar 7.

          Lebih dari itu Allah tidak menerima tebusan dosa oleh seseorang untuk dosa orang lain (misalnya Nabi ‘Isa as menebus dosa umat manusia). Ini termaktub dalam Al-Quran S. 2 Al-Baqarah 48, 123, 254, S.3 Ali ‘Imran 91, S.57 Al-Hadid 15.  Memang orang-orang kafir mengangan-angankan kalau bisa mereka akan menebus dosanya dengan mengorbankan isteri, saudara, famili atau dengan siapa saja yang dapat dikorbankan (S70 Al-Ma’arij 11-14).

Masalah

Putusan Mahkamah Konstitusi no.46/PUU-VIII/2010

        UU no.1  Th. 1974 pasal 2 ayat (1) menetapkan bahwa nikah itu sah jika dilaksanakan menurut agamanya masing-masing. Dan pasal (2) juga menetapkan bahwa nikah yang sah itu harus dicatatkan kepada pegawai pencatat nikah yang berwenang:KUA.

        Yang menjadi masalah sekarang pasal pasal 43 ayat (1) dari UU no.1 th 1974 yang  menetapkan bahwa anak yang lahir  di luar nikah yang sah, maka anak hanya memiliki hubungan  keperdataan dengan ibu dan keluarga ibunya. Terhadap kedua  pasal 2(1)(2) dan pasal 43 (1)  dari UU/1/1974 ini terdapat banyak orang yang melanggarnya banyak pelaku yang nikahnya tidak memenuhi kedua pasal tersebut yaitu:

(a) Nikah yang tidak memenuhi hukum agama;

(b) Nikah yang tidak dicatatkan kepada pegawai yang berwenang yaitu KUA.

(c) Anak yang lahir di luar nikah yang sah (a) dan anak yang lahir dari Nikah yang tidak didaftarkan ke KUA atau nikah Sirri.

@ Masalah ke-1: Nikah yang sah ialah nikah yang dilaksanakan menurut agama UU/1/1974). Pertanyaanya ialah bagaimana status anak jika nikah itu tidak ada wali,  atau tidak ada saksi lebih-lebih  anak zina.

          Masalah ini adalah masalah ijthadi artinya mengikuti logika pemahaman oleh masing-masing ulama.

i. Jumhur ulama menyatakan bahwa status anak mengikuti nikah yang sah. Dasarnya ialah hadis((الولد للفراش))  dalam Shahih    Bukhari no.2540 dan Muslim no.2645.

ii. Jika tuan melakukan hubungan seks dengan budak perempuannya maka peristiwa ini sama dengan akad nikah, sehingga dia menjadi muhrim yang mengakibatkan untuk  selama-lamanya haram terjadinya nikah  sesama dengan muhrim ke atas dan kebawah ataupun ke samping (saudara, saudara orang tuanya, keponakan mereka..

Nasab  anak di luar nikah

      Dalil yang  menjadi pegangan  fihak-fihak yang berbeda faham hasil ijtihadnya   selain Al-Quran S.24 An-Nur 3 ialah hadis ini:

Anak zina tidak dinasabkan kepada yang menzinai

         Para ulama tidak membolehkan seseorang menasabkan kepada lelaki yang menzinai ibu bayi tersebut walaupun hukum lain membolehkanya. Maka secara syar’i, anak itu bukan anaknya karena tercipta dengan jalan zina yang haram itu. Rasulullah Saw bersabda dalam suatu hadis:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهَا قَالَتْ كَانَ عُتْبَةُ بْنُ أَبِي وَقَّاصٍ عَهِدَ إِلَى أَخِيهِ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ أَنَّ ابْنَ وَلِيدَةِ زَمْعَةَ مِنِّي فَاقْبِضْهُ إِلَيْكَ فَلَمَّا كَانَ عَامُ الْفَتْحِ أَخَذَهُ سَعْدٌ فَقَالَ ابْنُ أَخِي قَدْ كَانَ عَهِدَ إِلَيَّ فِيهِ فَقَامَ عَبْدُ بْنُ زَمْعَةَ فَقَالَ أَخِي وَابْنُ أَمَةِ أَبِي وُلِدَ عَلَى فِرَاشِهِ فَتَسَاوَقَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ سَعْدٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ ابْنُ أَخِي كَانَ عَهِدَ إِلَيَّ فِيهِ فَقَالَ عَبْدُ بْنُ زَمْعَةَ أَخِي وَابْنُ وَلِيدَةِ أَبِي فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هُوَ لَكَ يَا عَبْدُ بْنَ زَمْعَةَ الْوَلَدُ لِلْفِرَاشِ وَلِلْعَاهِرِ الْحَجَرُ ثُمَّ قَالَ لِسَوْدَةَ بِنْتِ زَمْعَةَ احْتَجِبِي مِنْهُ لِمَا رَأَى مِنْ شَبَهِهِ بِعُتْبَةَ فَمَا رَآهَا حَتَّى لَقِيَ اللَّهَ  (رواه البخاري 2540 ومسلم 1912)
“Dari 'Aisyah r.a., istri Nabi Saw berkata: "Sesunguhnya 'Utbah bin Abi Waqosh telah berjanji kepada saudaranya Sa'ad bin Abi Waqosh bahwa anak dari walidah (budak perempuan) Zam'ah dariku maka ambillah". Ketika tahun penaklukan kota Makkah, Sa'ad mengambilnya. Saad berkata: "Dia adalah anak saudaraku yang telah berjanji kepadaku tentang anak ini". Maka 'Abdu bin Zam'ah berdiri seraya berkata: "Saudaraku dan anak dari budak perempuan bapakku dilahirkan di atas tempat tidurnya (dilahirkan dari hasil pernikahan yang sah dengan suaminya). Maka keduanya mengadukan perkara itu kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Sa'ad berkata: "Wahai Rasulullah, dia adalah anak dari saudaraku yang telah berjanji kepadaku tentang anak ini". Kemudian 'Abdu bin Zam'ah berkata: "Saudaraku dan anak dari budak perempuan bapakku". Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berkata: "Dia itu menjadi milikmu wahai 'Abdu bin Zam'ah. Anak itu milik suami (yang menikah dengan sah) sedangkan untuk pezina baginya adalah batu (dirajam) ". Kemudian Beliau berkata kepada Saudah binti Zam'ah: "berhijablah (menutup diri) darinya" karena Beliau melihat adanya kemiripan anak tersebut dengan 'Utbah. Maka sejak itu pula ia tidak pernah melihat Saudah hingga meninggal" (HR  Bukhari no. 2540 dan Muslim no.2645).
Hadis Bukhari  no.2540-Muslim no.2645  ini telah menimbulkan dua pemahaman, yaitu:

         Jika dalam suatu peritiwa zina mengakibatkan  anak biologis, maka bagaimana status anak biologis ini; Jumhur ulama sepakat bahwa nasab anak tersebut diikatkan kepada ibunya, ini jelas. Tetapi para ulama`  berbeda pendapat terhadap masalah hubungan nasab kepada  bapak-zina:

(1) Ulama` Hanafiyah, Syafi’iyah, Hanabilah menyatakan bahwa anak tidak bisa diikatkan kepada bapak zina, dasarnya ialah hadis: الْوَلَدُ لِلْفِرَاشِ وَلِلْعَاهِرِ الْحَجَرُ  =“Anak itu milik pemilik kasur (suami) sedangkan lelaki pezina baginya adalah batu (dirajam). sebagaimana nasabnya dalam hadis Bukhari no.1219-Muslim 2645.

(2) Menurut Al-Hasan, Ibnu Sirin bahwa  nasab anak dan berlakunya hukum waris  diikatkan kepada bapak zina yang dihukum rajam itu, pendapat yang senada dinyatakan oleh Ibrahim, Ishaq, ’Urwah dan Sulaiman bin Yasar (Qalyubi 3h241 dan Al-Mughni 6h266)..

          Adapun soal wali nikah menurut jumhur walinya ialah wali Hakim, sebab wali hakim  itu seperti imam dalam shalat, harus suci dari noda.

       Pendapat yang berkembang dalam Tarjih PWM Jatim 22/4/2012, maka Ustadz Muammal Hamidy Lc menyatakan bahwa:

Bahwa berdasarkan hadis : ” الولد للفراش وللعاهر الحجر ” (=Bukhari no.2540-Muslim no.2645) karena di dalam matan hadis ini  Rasulullah Saw setelah melihat anak zina  itu persis sekali dengan ’Utbah (yang men-zinai budak tadi, maka beliau memerintahkan Saudah binti Zum’ah untuk berhijab (tanda bukan muhrim) terhadap anak tersebut. Dengan demikian maka   nasab anak zina dapat diikatkan kepada bapak zina, yaitu lelaki yang mengisi rahim rekan zinanya (ibu zina). Perintah  Rasulullah Saw kepada Saudah:

 ثُمَّ قَالَ لِسَوْدَةَ بِنْتِ زَمْعَةَ احْتَجِبِي مِنْهُ لِمَا رَأَى مِنْ شَبَهِهِ بِعُتْبَةَ فَمَا رَآهَا حَتَّى لَقِيَ اللَّهَ (رواه البخاري 2540 ومسلم 2645)

“(Dari 'Aisyah r.a.).... ”Kemudian beliau (Rasul Saw) bersabda kepada Saudah binti Zam'ah: "berhijablah (menutup diri) darinya" karena Beliau melihat adanya kemiripan anak tersebut dengan 'Utbah. Maka sejak itu pula ia tidak pernah melihat Saudah hingga meninggal"(HR Bukhari 2450 dan Muslim no.2645).

Ditambahkannya bahwa Ustadz A. Qadir Hasan dalam bukunya Kata Berjawab III halaman 72 menyatakan : Kalau sudah pasti anak itu dari bibit A maka A ini dengan sendirinya menjadi ayah anak (diluar nikah) itu dan mempunyai hak atas harta peninggalan si ayah ini.

- Pendapat yang senada dikemukakan oleh DR Sa’ad  Ibrahim MA, bahwa  nasab anak diluar nikah  diikatkan kepada bapak yang test DNA (Deoxiribo Nucleie Aaeid) jika Koefisien korelasi  dari bapak zina dengan anak biologis ini menujukkan angka satu (sempurna). Tercatat dari Dokter Nurud Dzalam bahwa  Test DNA  teknis akurasinay 100% artinya meyakinkan. Ariny anak biologis nasabnay diikatkan kepada Bapak Zina bersama Ibu zina sekaligus  ikatan keperdataanya terkait.

~ Pendapat yang ketiga diwakili oleh Prof. DR Saiful Anam,MA  bahwa SK Mahkamah Konstitusi no.46/PUU-VIII/2010 yaitu keputusan SK itu dapat diterapkan tidak sepenuhnya yaitu yang menjadi wilaah Hukum Syari’at harus dijunjung tinggi khususnya tantang nasab, hukum waris dan wali nikah sedangkan yang selain itu dapat diterapkan, yaitu perkawinan yang tidak/belum dicatatkan kepada pegawai yang berwenang KUA  untuk yang bersangkutan jika dia ingin memperoleh hak-haknya harus dimintakan Itsbatun Nikah (Pengukuhan Nikah) ke Pengadilan Agama  sesuai dengan UU  Th 1974 pasal  2(2).

Kepada mereka yang melanggar UU no1 Th  1974 dan semua  perundang-undangan yang  lain harus dilakukan Law  enforcement  yaitu harus dihukum.

Dan untuk ”Anak Biologis” maka bapak ”Biologis” wajib  bertanggung jawab menanggung  hak-hak anak berdasarkan UU no.23 Th 2002 hukum Perlindungan Anak.

         Berhubung  masalah anak di luar nikah atau tidak memenuhi persyaratan nikah yang sah dalam syari’at Islam  terutama masalah cabang dan ranting (Furu’iyah) yang dalilnya tidak bernilai  Mutawatir-Qath’yyud Dalalah, maka para ulama tidak  seragam pendapatnya, sehingga  yang harus diikuti ialah dalilnya bukan pendapat orang seorang.

رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

Wallahu a’lam

…………………………………………………o0o……………………………………………

 

 

 

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: