Oleh: pondokquranhadis | Mei 15, 2010

Moralitas Pimpinan-Skala dan Ukurannya

010-4-30                                                       Tafsir Tematis Kontemporer

Moralitas Pimpinan – Skala    dan   Ukurannya

Al-Quran S.38 Shad 26:

يَادَاوُدُ إِنَّا جَعَلْنَاكَ خَلِيفَةً فِي الْأَرْضِ فَاحْكُمْ بَيْنَ النَّاسِ بِالْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعِ الْهَوَى فَيُضِلَّكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنَّ الَّذِينَ يَضِلُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ بِمَا نَسُوا يَوْمَ الْحِسَابِ( ص26)

“Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan benar dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan”(S.38 Shad 26)

Tema dan sari tilawah

1. Allah mengangkat Nabi Dawud menjadi khalifah  Allah di bumi

2. Tugas khalifah ialah menegakkan hukum atas  umat manusia.

3. Khalifah itu dilarang memuja nafsu sesat keluar dari jalan Allah

4. Barang siapa yang sesat dari jalan Allah akan celaka berat

5. Celaka berat sebab lupa kepada hari kiamat hari perhitungan.

Masalah dan analisa jawaban

1. Apa makna dari istilah ” Benar dan tidak mengikuti hawa nafsu” dalam Al-Quran S.38 Shad 26  itu? Jawaban sementara: Yang dimaksud istilah “Benar dan tidak mengikuti hawa nafsu” tersebut dapat dispekulasikan dengan istilah takwa.

2, Apakah syarat-syarat untuk menjadi khalifah-pimpinan umat itu? Jawaban sementara: Syarat seseorang untuk menjadi khalifah pimpinan umat itu ialah menjunjung tinggi Aturan Allah dan Sunnah Rasul Saw sebagai  hukum yang bersifat universal, siapa saja, dimanapun berada dan jaman kapanpun juga.

3, Apakah banyaknya jumlah kwantitas pemilih dalam Pemilu dapat menjamin kebenaran universal apakah tidak? Jawaban sementara: Universal itu mencakup semua subyek segala wilayah dan seluruh waktu, sehingga jumlah subyek atau banyaknya pemilih  tidak menjamin kebenaran maka belum mewakili  untuk semua wilayah dan seluruh jaman.

BAB  SATU

Benar dan Baik

Masalah ke-1: Apa makna dari istilah “benar dan tidak mengikuti hawa nafsu” dalam Al-Quran S.38 Shad 26  itu? Jawaban sementara: Yang dimaksud istilah “Benar dan tidak mengikuti hawa nafsu” tersebut dapat dispekulasikan dengan istilah benar dan baik sedangkan istilah ini dapat disingkat lagi menjadi satu kata yaitu TAKWA.

Istilah Takwa asal dari bahasa Arab “Taqwa”  mashdar atau kata bendanya ialah Wiqayatun. Menurut Ar-Raghib (tth:569) Al-Wiqayatu artinya berhati-hati jangan sampai keliru jangan salah lalu terjerumus ke lubang sehingga menderita sakit atau apa saja dan dari lafal ini terbentuk lafal Taqwa arti kata ini secara syar’i ialah berhati-hati jangan sampai berbuat  dosa sekalifus menjaga diri dengan cara melakukan perintah dan  meninggalkan larangan Allah (baca Al-Quran s76a11; s44a56; s13a34; s66a6; s7a36; s16a128; s39a73; s4a1; s3a102; s39a24; s14a50;    s39 a24) .

Berhati-hati menjaga diri dari bahaya dan dosa dengan melakukan perintah sekaligus meninggalkan larangan Allah ini  jika boleh maka seyogyanya kita soroti rumusan ini secara analistis dengan kacamata filsafat dari sudut definisi  BENAR  dan BAIK,  sebagai berikut:

  1. Hakikat kebenaran

Seperti yang sering-sering penulis kemukakan di beberapa tulisan di bawah ini kita renungkan kembali soal berkenaan dengan Hakikat kebenaran dan nilai Baik yang hakiki, yaitu:

Sejak jaman dahulu kala ahli pikir sudah membahas tentang apa yang dikatakan benar dan apa yang tidak benar itu. Hal ini sudah beberapa kali kami haturkan makalah penulis, yaitu:

@  Kebenaran ditinjau dari sumber datangnya pernyataan itu bertingkat-tingkat  yang paling bawah dalam arti yang paling lemah dikalahkan oleh kebenaran yang  lebih tinggi atau yang lebih kuat karena lebih mendekati kebenaran:

  1. i. Kebenaran indrawi (Pengetahuam)

Kebenaran indrawi, yaitu info yang datang dari hasil tangkapan  pancaindera, akan  dinilai benar jika dia sesuai dengan data faktual  dan bila alat inderanya dalam keadaan sehat , bekerja dengan normal. Sehingga jika alat indera itu sakit atau kerjanya tidak normal, maka hasil penginderaan itu tidak dijamin kebenarannya.

ii. Teori ilmiah

Jika info hasil dari penginderaan itu memang benar kemudian dikembangkan lagi melalui penelitian dengan menepati Ilmu Metodologi Penelitian Ilmiah sehingga teori ini berlaku umum atas semua kasus, bahkan sudah diuji dihadapkan kepada suatu majelis ilmiah misalnya di S-1, S-2, S-3, maka info atau pernyataan tersebut dinilai benar. Selanjutnya jika dikonfrontasikan terhadap kebenaran inderawi, maka Teori Ilmiah lebih kuat mengalahkan kebenaran hasil tangkapan yang sifatnya inderawi. Tetapi jika Ilmu Metodologi Penelitian Ilmiah atau Proses ujiannya tidak menepati sistem ilmiah, maka dia diragukan kebenarannya alias lemah kurang benar atau memang tidak benar.

iii.Filsafat

Definisi filsafat yang perlu kita pegang ialah definisi dari Sidi Ghazalba (1990:24) bahwa filsafat itu ialah usaha mencari kebenaran dari kebenaran untuk kebenaran tentang segala sesuatu yang dimasalahkan dengan berpikir secara radikal, sistematis dan universal. Oleh karena itu kebenaran filsafat itu tingkatnya lebih tinggi dan lebih kuat mengalahkan kebenaran teoritis ilmiah, asalkan  kebenaran filsafat itu memang hasil dari kebenaran ilmiah lalu dikembangkan lagi benar-benar dilakukan dengan renungan yang sangat radikal, sistematis dan universal. Maksudnya sampai tuntas kepada ujung paling akhir, teratur, logis dan berlaku umum atas seluruh umat manusia, di semua tempat dan di segala waktu, menepati sistem filsafat dialektika, logika dan epistimilogi. Dengan demikian  maka kebenaran filsafat lebih kuat mengalahkan kebenaran teori ilmiah lebih-lebih  yang inderawi.

iv..Kebenaran wahyu

  1. 1. Bagi para  pemeluk agama, maka ketiga kebenaran inderawi, teori ilmiah maupun   filsafat itu dinilai sebagai  hasil kerja otak manusia, sehingga pernilaian itu tidak lepas dari sifat manusia yang spekulatip, untung-untungan dan hipotetis artinya benar sementara selama belum ada koreksi, jika timbul koreksi atau pembatalan maka kebenaran inderawi, ilmiah dan filsafat tadi termasuk info yang kurang  benar tidak absolut, tidak mutlak.

Lebih-lebih jika kita ingat bahwa manusia itu dicptakan Tuhan sesudah terciptanya semua benda angkasa bersama bumi, semua benda langit timbul dari titik singularitas (Big Bang). Baiquni  dalam bukunya Al-Quran &Iptek (1994:39) mencatat bahwa bumi  dan semua planet ini asal dari titik singularitas nyala api yang turun menjadi dingin sampai 1000 trilyun derajat C  di bawah nol dalam waktu 10 pangkat  minus 35 sekon yang tiba-tiba  berubah dari nyala api menjadi benda-materi tetapi dengan sangat mendadak sekali dalam jangka waktu 10 pangkat minus 34 sekon tiba-tiba  suhunya naik 1000 trilyun-trilyun derajat, maka kontan meledak lalu terbentuklah jagad raya  yang tersusun dalam tata surya yang berserakan di langit. Bumi mengambil bentuk dirinya sekitar 4,5 m (Empat setengah milyar) tahun yang silam. Bumi sendiri dari panas yang takterhingga turun menjadi dingin dengan pelan-pelan.

Keith Wicks dalam buku Bintang dan Planet (1977:22) mencatat bahwa bumi terbentuk sekitar 4.600 juta tahun silam, lalu organism tumbuh  pada 3000 juta tahun yang lalu. Info ini dilengkapi oleh Christopher Maynard dalam buku Planet Bumi (1974:40) yang mencatat perkembangan bumi dan isinya, maka manusia utama Austrolopithecus dan manusia Peking merupakan binatang pertama yang menyerupai manusia muncul sekitar 100.000 tahun yang lalu  kemudian kira-kira 35.000 sebelum Masehi manusia Austrolopithecus tersebut digantikan oleh manusia Oro Magnon yang menjadi nenek moyang manusia sekarang ini. Padahal proses majunya kebudayaan manusia dari jaman batu sampai jaman internet ini memerlukan sekian ribu tahun. Singkatnya daya kemampuan otak manusia itu terlalu jauh di bawah Ilmu Tuhan yang Maha Kuasa Maha Pencipta seluruh makhluk.

Oleh karena itulah maka kebenaran yang mutlak hanyalah kebenaran wahyu sebagai ilmu  Allah Taala mutlak Maha Benar mengalahkan  kebenaran inderawi, teori ilmiah dan fisafat.

Untuk ini Allah berfirman di dalam Al-Quran, yaitu:

Artinya: Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu. Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu(S.2 Al-Baqarah 147-148).

  1. 2. Kita sebagai  umat Muh}ammad Saw.  harus beriman kepada peringkat  sumber  hukum yang benar menurut ajaran Islam, sebagaimana  Al-Qura>n S.4 An-Nisa> 59 dan hadis Mua>dz ibnu Jabal di bawah ini, maka  tingkat-tingkat kebenaran hukum itu adalah sebagai berikut:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا (النساء 59)

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, ta`atilah Allah dan ta`atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya(s.4 An-Nisa 59).

Rasulullah  Swa. bersabda di dalam  hadis berikut:

عَنْ رِجَالٍ مِنْ أَصْحَابِ مُعَاذٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَ مُعَاذًا إِلَى الْيَمَنِ فَقَالَ كَيْفَ تَقْضِي فَقَالَ أَقْضِي بِمَا فِي كِتَابِ اللَّهِ قَالَ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِي كِتَابِ اللَّهِ قَالَ فَبِسُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِي سُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَجْتَهِدُ رَأْيِي قَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَفَّقَ رَسُولَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (رواه الترمذي1249 وابوداود3119)*

Artinya: Dari orang-orang teman dekat Muadz  memberitakan bahwa Rasulullah Saw. telah mengutus Muadz ke Yaman, maka beliau bertanya: Bagaimana engkau memutuskan  perkara ? Muadz menjawab: Aku  menetapkan sesuatu berdasarkan Al-Quran Beliau bertanya: Jika di dalam Al-Quran itu tidak diketemukan keputusannya? Muadz menjawab: Aku tetapkan berdasarkan Sunnah Rasulillah Saw. Beliau bertanya: Jika di dalam Sunnah Rasul Saw. tidak diketemukannya bagaimana? Muadz menjawab: Aku berijtihad  dengan akalku. Beliau bersabda: Segala puji bagi Allah yang telah memberi taufik kepada Muadz  utusan Rasulullah Saw(HR. Turmudzi  no.1249 dan Abu Dawud  no.3119).

Dari semua  catatan tersebut di atas  maka ternyata kebenaran itu bertingkat-tingkat  dari yang tertinggi sampai yang paling rendah maka   kebenaran  yang lebih  tinggi mengalahkan  kebenaran yang di bawahnya  sebaliknya kebenaran yang tingkat rendah tidak dapat mengalahkan apa yang  benar tingkat  di atasnya berturut-turut sampai yang paling tinggi. Khusus bagi orang yang beriman, tingkat-tingkat kebenaran itu tersusun sebagai berikut:

  1. i. Kitabullah Al-Qura>n, kebenarannya bersifat mutlak tidak terkalahkan

ii. Sunnah Rasul Saw. maka  nabi dan rasul itu dijamin oleh Allah beliau itu  Mashum artinya suci dari kesalahan dan dosa, maka kebenarannya satu tingkat di bawah Kitabullah. Memang  nabi dan rasul itu mendapat hidayah, penjagaan dan koreksi ketat dari Allah sendiri

iii.Ijtihad akal, ijtihad artinya betul-betul berpikir  sangat mendalam, ketat  sekali menjunjung  tinggi hukum berpikir berusaha keras mencari kebenaran. Hasil ijtihad disini mencakup kitab-kitab fiqh bahkan semua buku-buku dari seluruh cabang disiplin ilmu dalam Ilmu Pengetahuan dan Tehnologi (IPTEK) sampai kepada ilmu filsafat sekaligus.

Dari peringkat dan prioritas kebenaran yang pertama  sampai terakhir terurai di atas, maka usaha untuk mencari ukuran yang benar dan tidak benar itu  tidak lain kecuali mengikuti aturan Allah yang mempunyai sifat  Absolut Maha, lebih-lebih mengenai soal-soal alam gaib soal apa yang ada  dibalik alam yang  serba inderawi ini tidak ada jalan lain kecuali akal itu harus mencari penjelasan dari wahyu dari Allah Azza wa Jalla. Seluruh umat manusia wajib berpegang teguh kepada Al-Qura>n dan Sunnah Rasul utusan Allah.

B. Pengertian baik dan tidak baik serta  ukurannya

Dari jaman Yunani kuno teori Epicuros, jaman pertengahan teori Jeremy Bentham, John Stuart Mill, sampai aliran rasionalis Islam Mutazilah, Ibrahim al-Nazzam (845M): bahkan Muh}ammad Abduh (1905M) dapat disimpulkan bahwa yang disebut baik itu ialah sesuatu yang membawa manusia kepada kelezatan dan kebahagiaan, sebaliknya yang disebut buruk itu ialah sesuatu yang membawa akibat yang tidak enak dan menyengsarakan manusia.

Manusia karena mempunyai  akal dan perasaan hati maka timbullah bermacam-macam pendapat mengenai ukuran baik-dan tidak baik, yaitu sebagai berikut:

(1)Penganut teori Darwin berpendapat bahwa yang baik itu  ikut yang kuat

(2)Pengikut teori Sosiologi berkata bahwa yang baik itu ikut orang banyak.

(3)Sebagian pemikir menyatakan bahwa yang baik itu ialah apa yang timbul dari alam bawah sadar dari pengalaman yang lewat.

(4)Di sisi lain ada orang yang berpendapat bahwa yang baik itu ialah apa yang sesuai dengan tempat, jaman dan nuansa kehidupan.

(5)Suatu aliran lagi berfaham bahwa yang baik itu ialah yang disukainya sebaliknya yang tidak baik itu ialah yang tidak disukai Like and dislike.

(6)Aliran Utilitarianisme mengatakan bahwa yang baik itu ialah yang enak. John Stuart Mill (1873M) memperbaiki teori ini menyatakan bahwa yang terbaik ialah yang enak maksimal, yang memberi nikmat kepada orang sebanyak-banyaknya, nikmat lahir dan batin.

(7)Madzhab teori idealis menyatakan bahwa baik dan buruk itu mengukurnya melalui 3 nilai, yaitu kebenaran, kebaikan dan keindahan. Namun  bagaimanapun idealnya suatu ukuran, semua itu tetap bersumber dari akal manusa dan tidak ada satupun manusia di alam ini  yang sempurna, sehingga ketiga nilai yang  mereka ajukan inipun bersifat spekulatip untung-untungan dan hipotetis artinya nilai sementara  yang sewaktu-waktu akan berobah atau menjadi salah..

Titus dalam bukunya Persoalan-persoalan Filsafat (1979:139) mencatat teori Jeremy Bentham dan John Stuart Mill sudah memperbaiki teori Utilitarianisme di atas bahwa yang terbaik ialah  sesuatu yang memberi kelezatan yang maksimal kepada jumlah yang terbesar, The Greatest happiness of the greatest numbers, kelezatan jasmani maupun rohani dan bersifat universal.

@ Yang paling  ideal yaitu bahwa yang baik itu ialah yang enak, lezat, menyenangkan, memuaskan mutlak universal membawa manusia kepada kelezatan yang tertinggi, kepuasan untuk semua orang,  segala tempat dan seluruh jaman. Manusia tidak mungkin mengetahui manakah sesuatu yang memberikan kelezatan yang paling tinggi, yang juga dinikmati oleh semua orang, segala tempat dan seluruh jaman.

Hampir seluruh umat manusia percaya bahwa Tuhan itu adalah Dzat yang mempunyai kelebihan di atas semua makhluk, Tuhan itu tidak dapat dikalahkan segala seginya oleh makhluk apapun juga, Tuhan adalah Dzat yang Maha Mengetahui, secara mutlak apa dan mana saja sesuatu yang akan membawa manusia  kepada kelezatan, kesejahteraan, kebahagiaan seluruh umat manusia, segala tempat seluruh jaman.

Oleh karena itulah maka menurut Al-Ghazali(1111M)  yang baik itu ialah mengikuti ketentuan Allah, apa yang dipandang baik oleh Allah itulah yang baik dan sebaliknya yang  buruk ialah yang dipandang buruk oleh Allah, sebab Allah itu Maha Mengetahui secara mutlak mana sesuatu yang akan membawa kepada kenikmatan  yang hakiki  bahagia untuk seluruh umat mausia secara universal siapa saja, dinamapun  berada dan kapanpun juga  bahkan di dunia sampai akhirat kelak.

Allah itu Mutlak Maha Mengetahui mencakup apa saja yang dikerjakan oleh orang seorang maupun masyarakat, sebaliknya manusia dan masyarakat tidak mengetahui akibat dari perbuatan mereka apakah sesuatu itu akan membawa diri kepada  hidup yang selamat sejahtera, bahagia lahir batin untuk semua orang semua bangsa segala tempat abadi untuk selama-lamanya. Maka dari itu  Allah mengirim nabi dan rasul utusan-Nya guna  membimbing umat manusia untuk mengikuti petunjuk Tuhan ke arah hidup yang selamat, sejahtera bahagia dunia akahirat. Dan nabi terakhir ialah Muh}ammad Saw. sedangkan umat yang langsung dihadapi oleh beliau ialah masyarakat Arab yang  terikat  dan terbelenggu oleh Adat Kebiasaan Arab Ja>hili>yah, suatu adat yang lebih banyak menyeret manusia kepada jalan hidup yang tidak baik akan membawa kepada  penderitaan dan kesengsaraan hidup  orang seorang maupun umat manusia.

Secara logika pengertian tentang benar dan baik itu ialah benar dan baik yang bersifat universal, yaitu bahwa benar itu tidak membawa penderitaan sedangkan baik itu ialah yang menyenangkan. Benar dan baik yang universal ialah yang menyenangkan  tidak mrmbawa derita apa-apa yang dirasakan oleh seluruh umat, di mana saja kapanpun juga.

Menurut Zakki Muba>rak dalam bukunya Al-Akhlaq Indal Ghazali (1924:139), maka  tidak ada yang mengetahui hakikat yang baik dan benar secara universal itu kecuali hanya Allah saja. Maka dari itu yang baik dan benar itu ikut saja kepada Allah, mana yang baik dan mana yang benar ikut menurut Allah dan menilai sesuatu itu buruk dan salah ikut saja menurut ukuran Allah.

Salah satu tokoh yang dipilih oleh Allah untuk mernjadi pemimpin itu ialah Nabi Ibrahim termaktub dalam Al-Quran s2a124:

وَإِذِ ابْتَلَى إِبْرَاهِيمَ رَبُّهُ بِكَلِمَاتٍ فَأَتَمَّهُنَّ قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا قَالَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي قَالَ لَا يَنَالُ عَهْدِي الظَّالِمِينَ( البقرة124)

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata: “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku”. Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang-orang yang zalim”(S.2 Al-Baqarah 124).

@Ath-Thabari dalam tafsirnya (2h20) mencatat bahwa Nabi  Ibrahim memohon agar anak keturunannya dapat menjadi pemimpin umat juga maka Allah menjawab bahwa orang yang zalim tidak boleh menjadi pemimpin umat.

BAB DUA

Persyaratan Calon Pimpinan

Masalah ke-2: Apakah syarat-syarat untuk menjadi khalifah-pimpinan umat itu? Jawaban sementara: Syarat seseorang untuk menjadi khalifah pimpinan umat itu ialah menjunjung tinggi  Aturan Allah dan Sunnah Rasul Saw sebagai  hukum yang bersifat universal, siapa saja, dimanapun berada dan jaman kapanpun juga.

Seimbang dengan banyak sedikitnya anggota yang dipimpim, makin sedikit jumlah yang dipimpin maka syarat pemimpin lebih sederhana atau sifat pokok saja  sebaliknya makin besar jumlah yang dipimpin maka persyaratan calon pimpinam itu makin bertambah rinci bertambah jeli.

Hampir semua surat lamaran untuk menjadi pegawai atau pejabat suatu instansi kenegaraan ataupun swasta pasti harus dilampiri Surat Keterangan Kelakuan Baik, maka Menteri Dalam Negeri mengusulkan untuk menambahkan persyaratan kualifikasi bagi pasangan bakal calon Kepala Daerah khususnya tidak cacat moral (Asusila).   Usulan ini mendapat reaksi pro-kontra, sebagian menerima dan sebagian menolak.

Pihak  yang menolak usulan kualifikasi moral ini selain alasan tertentu maka ada dua alasan, yaitu soal HAM dan Demokrasi.

~ UU HAM No 39 tahun 1999 yang menyatakan bahwa HAM adalah seperangkat hak yang melekat pada hakikat keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan YME dan merupakan anugerah-Nya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi dan dilindungi oleh negara, hukum-atas kebijakan pemerintah dan setiap orang demi kehormatan serta perlindungan harkat ataupun martabat manusia. Berdalih atas dokumen ini disimpulkan bahwa sesungguhnya semua orang mempunyai hak politik untuk dipilih maupun untuk memilih. Bahkan EM (Balon Kepda Sidoarjo)  menyatakan “Seorang Pelacur sekalipun berhak untuk menjadi Balon Kepala Daerah”.

~ Tentang Demokrasi, menurut penganut faham ini demokrasi itu  intinya  bahwa suara terbanyak itulah pemenang Pemilihan. Demokrasi sering diartikan sebagai pameo “Dari   rakyat untuk rakyat oleh rakyat” maka perlu pemaeo ini direnungkan lebih jauh khususnya oleh kaum muslimin, sebab suara terbanyak itu sesungguhnya tidak memuat persyaratan “Benar dan Baik” sebagaimana  terurai di Bab Satu  di atas dan jika ditelusuri lebih dalam maka faham Suara Terbanyak sebagai Pemenang adalah acuh tidak acuh atau Cuweg kepada nilai-nilai agama (khususnya Islam), lebih lanjut diuraikan di Bab Tiga di bawah.

Di bawah ini kita perhatikan bagimana teori pemilihan pimpinan terutama persyaratan  kualitas moral calon:

~  Kitab Farqun Mu’asharah (1h209) mencatat  bahwa persyaratan calon kepala pemerintahan ialah: Ahli agama bahkan agamawan tus paling takwa.

~ Menurut Imam Al-Ghazali maka calon itu harus orang yang mendapat Hidayah  Allah dan Wirai (Orang  yang bersih)

~ Sistem kenegaraan Islam menurut Al-Maududi bahwa Konsep Kenegaraan bukan demokrasi, melainkan teokrasi artinya kekuasaan di tangan Tuhan maka umat Islam melaksanakan kekuasaan itu sesuai dengan syariat Tuhan (Teo-demokrasi).

~ Az-Zuhaili tentang  syarat-syarat untuk menjadi Kepala pemerintahan harus mampu menerapkan tugas memimpin urusan dunia dan  akhirt, artinya mengurus perpolitikan negara dan agama.

~  Kitab Lawami’ul Anwaril Bahiyyah (2h423) mencatat persyaratan pimpinan pemerintahan itu ialah beragama  Islam dan tidak cenderung belas kasih kepada pelaku  kesesatan dan kekufuran

~ UUD 1945 pasal 6 menentukan bahwa  syarat menjadi calon   presiden ialah: Kemampuan jasmanai dan rohani mengemban tugas kewajiban sebagai kepala pemerintahan.

~ Menurut UU no.32 Tahun 2004 Pasal 33  bahwa syarat calon   Kepala Daerah  harus bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa;

~  Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2005 syarat- calon Kepala Desa harus  Bertakwa kepada Tuhan YME

Lebih rinci  lagi syarat-syarat pimpinan pemerintahan adalah sebagai berikut:

1) Kitab Farqun Mu’asharah (1h209) mencatat persyaratan calon presiden ialah: a) Ahli/agamawan tus paling takwa. b) Kuat Jasamani rohani penuh semangat militant  pembrani. c) Suci bersih dari godaan hawa nafsu maksiat. d) Suci dari dosa besar walaupun sudah taubat. e) Terpilih dengan suara bulat seluruh lapisan masyarakat. f) Tidak terikat oleh suku bangsa dan darah keturunan.

2) Syarat-syarat  kepala negara menurut  Ibnu Khaldun(1332M):

a)Dipilih oleh Ahlul Halli Wal-Aqdi (Parlemen). b)Wawasan luas. c)Adil. d)Mampu. e)Sehat. f)Keturunan Quraisy.

3) 3)  Syarat-syarat  kepala negara menurut  Imam Ghazali (1111M)

a) Dewasa. b) Berakal sehat. c)Baligh. d) Sehat jasmani. e) Merdeka. f) Laki -laki. g) Keturunan Quraisy. h) Panca-indra normal. i) Kuasa penuh.j) Penuh Hidayah. k) Wawasan yang luas. l) Wara (Suci hati).

4) Menurut Al Maududi (1979M) syarat-syarat pemerintahan Islam:
~~@ a) Sistem kenegaraan Islam bukan demokrasi, melainkan teokrasi artinya kekuasaan Tuhan diberikan kepada umat Islam diterapkan sesuai dengan syari
at Tuhan (Teo-demokrasi);
b)Pemerintah dipilih dan dibentuk oleh Umat Islam dengan menegakkan prinsip Syuro; c)Kekuasaan negara dilakukan oleh legislatif, eksekutif, dan yudikatif;

~@ Syarat kepala Negara: a) Islam; b)Laki-laki; c)Dewasa;   d)Sehat jasmani; f)Sholeh; g)Komitmen terhadap Islam;
~@ Syarat Anggota Majelis Syuro (Parlemen): a) Islam; b)Laki-laki; c)Dewasa; d)Sehat Jasmani: e)Sholeh; f)Cakap menterjemahkan dan  menerapkan hukum syari
ah.         .
~@Dalam negara Islam, terdapat 2 kewarganegaraan : Muslim dan dzimmi (nonmuslim)

5) Az-Zuhaili dalam Al-Fiqhul Islami (8h301) tentang  syarat-syarat untuk menjadi Kepala pemerintahan ialah: (a) Islam. (b) Merdeka. (c) Laki-laki. (d) Dewasa. (e) Berakal sehat. (f) Sanggup menerapkan tugas memimpin urusan dunia dan  akhirt.

6) Persyaratan menjadi kepala daerah menurut UU Nmor 32 tahun 2004Pasal 33

(a) Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa; (b) Setia dan taat kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Pemerintah yang sah; (c) tidak pernah terlibat dalam kegiatan yang mengkhianati Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 yang dinyatakan dengan surat keterangan ketua Pengadilan Negeri;  (d) Berpendidikan sekurang-kurangnya Sekolah Lanjutan Tingkat Atas dan/atau sederajat; (e) Berumur sekurang-kurangnya tiga puluh tahun; (f) Sehat jasmani dan rohani;          (g) Nyata-nyata tidak terganggu jiwa/ingatannya; (h) Tidak pernah dihukum penjara karena melakukan tindak pidana;         (i) tidak sedang dicabut hak pilihnya berdasarkan keputusan Pengadilan Negeri;  (j) Mengenal daerahnya dan dikenal oleh masyarakat di daerahnya; (k) Menyerahkan daftar kekayaan pribadi; (l) Bersedia dicalonkan menjadi Kepala Daerah.

BAB  TIGA

Jumlah terbanyak tidak menjamin kebenaran

Masalah ke-3: Apakah banyaknya jumlah pemilih dalam Pemilu dapat menjamin kebenaran universal apakah tidak? Jawaban sementara: Universal itu mencakup semua subyek segala wilayah dan seluruh waktu, sehingga jumlah subyek atau banyaknya pemilih  tidak menjamin kebenaran belum mewakili  semua orang, segala tempat dan seluruh jaman maka adagium “Vox populi vox dei” itu tidak benar, yaitu sebagai berikut:

  1. 1. Vox populi, vox dei ?

Inilah ungkapan dalam bahasa Latin artinya “Suara rakyat adalah suara Tuhan”.

Latar belakang munculnya adagium ini ialah karena keresahan rakyat terhadap  kezaliman Raja Louis XIV dari Prancis (1643-1715M), yang ngobral omongan “Letat cest moi“artinya: Negara itu adalah saya dan  Raja adalah wakil Tuhan, kemudian  rakyat melakukan reaksi membalasnya dengan ucapan”Vox populi vox dei” suara rakyat adalah suara Tuhan!!!  Karena adagium ini  ucapan spontan tanpa pemikiran sama sekali,  maka adagium ini harus dikoreksi bahkan ditolak. Pameo yang sangat mirip ialah semboyan bangsa Inggri: “Right or wrong my country” =Benar atau salah pokoknya untuk negaraku (Orang lain tidak berhak apa-apa?).

  1. 2. Suara rakyat BUKAN Suara Tuhan

Bukti bahwa suara mayoritas rakyat bukanlah suara Tuhan ialah sebagai berikut:

1. Mayoritas umat manusia pada zaman nabi Nuh AS menentang dakwah Nabi Nuh a.s., akhirnya mereka dihancurkan Allah dengan banjir besar, ini bukti bahwa suara mayoritas rakyat malah bertentangan dengan khendak Tuhan Allah.

2. Mayoritas umat manusia pada zaman nabi Isa AS menentang dakwah Nabi Isa a.s. itupun bukti bahwa suara mayoritas rakyat malah bertentangan dengan kehendak  Tuhan

3. Mayoritas umat manusia pada zaman nabi Muhammad SAW menentang dakwah Nabi Muhammad SAW, itu bukti bahwa suara mayoritas rakyat malah bertentangan dengan hukum Tuhan.

4. Dalam pemilu 1955, mayoritas rakyat Indonesia memilih partai sekuler, cuweg meremehkan perintah agama padahal orang yang mempunyai sedikit ilmu saja sudah tahu bahwa sekulerisme itu bertentangan dengan aturan hukum Tuhan, itu bukti lagi  bahwa suara rakyat bahkan menentang firman Tuhan.

5. Mayoritas penduduk dunia saat ini adalah kafir atau musyrik, data ini juga  bukti bahwa suara terbanyak menentang Tuhan.

6. Berbagai negara yang penduduknya muslim, banyak partai sekuler yang memenangkan pemilu, padahal partai sekuler itu adalah golongan yang menolak berlakunya hukum Islam di negeri mereka, semua itu bukti bahwa suara terbanyak rakyat malah melawan kehendak Tuhan.

7. Banyak sekali orang yang berbuat maksiat dan dosa di muka bumi, ini bukti lagi bahwa suara mayoritas rakyat di muka bumi malah memusuhi Tuhan.

Allah telah menyebutkan ayat-ayat yang menyatakan tidak senangnya Tuhan kepada banyaknya jumlah dan mayoritas  manusia tetapi kufur dan durhaka kepada Tuha. Allah berfirman :

1) Sesungguhnya Allah mempunyai karunia terhadap manusia tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur. (QS. Al Baqarah : 243)

2) Tapi kebanyakan manusia tidak menyukai kecuali mengingkari(nya). (Al Isra : 89)

3) Sesungguhnya hari kiamat pasti akan datang, tidak ada keraguan tentangnya, akan tetapi kebanyakan manusia tiada beriman. (QS. Al Ghafir : 59)

4) Dan sebagian besar manusia tidak akan beriman walaupun kamu sangat menginginkannya. (QS. Yusuf : 103)

5) Itulah agama yang lurus tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (QS. Yusuf : 40)

6) Sesungguhnya Kami benar-benar telah membawa kebenaran kepada kamu tetapi kebanyakan di antara kamu benci pada kebenaran itu. (QS. Az Zukhruf : 78)

7) Dan sebagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain). (QS. Yusuf : 106)

8) Katakanlah : Segala puji bagi Allah, tetapi kebanyakan mereka tidak memahami(nya). (QS. Al Ankabut : 63)

وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ(الانعام 116)

“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)“(S.6 Al-An’am 116)

  1. 3. Jumlah terbanyak itu tidak menjamin kebenaran&kebaikan

Menurut penganut faham suara terbanyak bahwa “Demokrasi” itu adalah pemerintahan rakyat, dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Suara terbanyak rakyat adalah  pemegang kekuasaan tertinggi menurut  penganut faham demokrasi, maka  inilah faham yang sangat  bertentangan dengan syariat dan akidah Islam. Allah berfirman bahwa yang harus dijunjung tinggi ialah “kebenaran dan kebaikan” menurut ukuran Allah:

“Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang kafir” [Al-Maidah : 44]

“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah ? “[As-Syura : 21]

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman sebelum mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan”.[An-Nisa : 65]

“Tak ada seorang pelindungpun bagi mereka selain daripada-Nya; dan Dia tidak mengambil seorangpun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan keputusan” [Al-Kahfi : 26]

Suara terbanyak dalam faham demokrasi itu merupakan undang-undang manusia yang mendewa-dewakan fahamnya sendiri (Thaghut), padahal kita diperintahkan agar supaya mengunggulkan hukum Allah mengalahkan hulum apapun juga. Allah berfirman:

” (Oleh karena itu) barangsiapa yang mengingkari thagut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.” [Al-Baqarah : 256]

إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ يَقُصُّ الْحَقَّ وَهُوَ خَيْرُ الْفَاصِلِينَ (الانعام 57)

“Tidak ada hukum lain kecuali hukum Allah. Dia menerangkan yang sebenarnya dan Dia Pemberi keputusan yang paling baik”(S.6 Al-An’am 57).

Yusuf al-Qaradhawi mengatakan: Demokrasi adalah faham yang diimport dari luar Islam dan tidak ada hubungannya dengan Islam, demokrasi itu adalah aliran bahwa ukuran “benar&bai” itu ditetapkan oleh suara mayoritas dan meyakini suara terbanyak merupakan pemegang kekuasaan politik pemerintahan dan penyelesaian semua masalah, karena mereka memilih yang “benar&baik” itu ialah suara terbanyak. Sehingga suara terbanyak itulah pendapat yang harus diterapkan meskipun terkadang pendapat itu salah atau tidak baik.

Sedanghkan  Islam tidak mengunggulkan pihak mayoritas, terbanyak tetapi Islam melihat kepada pokok permasalahan itu “benar apa salah, baik apa tidak baik” meskipun hanya didukung oleh satu suara atau bahkan sama sekali tidak ada seorang pun yang membelanya; Bahkan Islam  menolak yang salah dan yang buruk meskipun satu suara melawan 99 orang dari 100 orang anggota.

Allah berfirman dalam Al-Quran bahwa jumlah yang banyak tidak menjamin kemenangan, bahkan angka yang sedikit asal militan menegakkan hukum Allah  akan mendapat rahmat anugerah Allah:

لَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ فِي مَوَاطِنَ كَثِيرَةٍ وَيَوْمَ حُنَيْنٍ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنْكُمْ شَيْئًا وَضَاقَتْ عَلَيْكُمُ الْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُمْ مُدْبِرِينَ (التوبة 25)

“Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para mu’minin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu di waktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlahmu, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfa`at kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari ke belakang dengan bercerai-berai”(S.9 At-Taubat 25)

قَالَ الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُمْ مُلَاقُو اللَّهِ كَمْ مِنْ فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللَّهِ وَاللَّهُ مَعَ لصَّابِرِينَ( البقرة 249)

“Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata: “Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar”(S.2 Al-Baqarah  249).

4. Perbandingan majelis Syura dengan demokrasi.

1. Syura adalah aturan Allah sedangkan demokrasi itu aturan buatan orang kafir.

2. Syura itu kedudukannya  sebagai  bagian dari agama  dalam Islam sedangkan demokrasi adalah aturan sendiri  manusia.

3. Di dalam institusi Syura ada Ahlul Halli wal Aqdi artinya ialah orang-orang yang di dalamnya ialah yang memiliki wewenang atau hak bermusyawarah dari kalangan ulama, fuqaha` spesialis ahli. Sedangkan dalam sistem demokrasi dasarnya ialah siapa yang dipilih oleh jumlah terbanyak.

4. Dalam aturan demokrasi semua orang sama posisinya, misalnya : Orang alim dan bertakwa sama posisinya dengan seorang pelacur, orang yang soleh sama derajatnya dengan orang yang tidak bermoral; Dalam Syura  maka yang takwa itu terhormat.

5.Untuk mencari kebenaran dalam mengadu dalil maka diselesaikan melalui institusi Tarjih, yaitu pengujian dalil adu potensi kekuatan sahih tidaknya masing-masing dalil.

Allah berfirman tentang sumber hukum dan tingkat kompetensinya:

Hai orang-orang yang beriman, ta`atilah Allah dan ta`atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”(S.4 An-Nisa` 59)                   .
Maka apakah patut Kami menjadikan orang-orang Islam itu sama dengan orang-orang yang berdosa (orang kafir)? Mengapa kamu (berbuat demikian), bagaimanakah kamu mengambil keputusan? (QS. Al Qalam : 35-36)

Maka apakah orang yang beriman seperti orang yang fasik (kafir)? Mereka tidak sama. (QS. As Sajdah : 18)

5.      Perbandingan Ijmak dengan Suara  Rakyat Terbanyak

Kitab Jam’ul Jawami’ (1h176) mencatat bahwa Ijmak itu ialah kesepakatan ulama` mujtahidin terhadap suatu masalah sesudah wafat Rasul Saw. Ijmak itu kesepakatan oleh para ulama mujtahidun saja tidak ada unsur dari umat lain, Ijmak ini merupakan suatu kesepakatan yang bulat utuh menyeluruh srhingga  jika keputusan yang   tidak diterima secara  menyeluruh oleh semua anggota maka tidak dapat dinamai Ijmak.

Abu Zahrah dalam Ushul Fiqh-nya(1958h167) mencatat bahwa para ulama sepakat kepada catatan bahwa  tidak ada Ijmak yang diputus oleh seluruh anggota kecuali Ijmak sahabat, sebab di jaman sahabat  semua mujtahid masih dapat  berkumpul di dalam satu sidang dan seluruhnya tidak berbeda pendapat. Sesudah jaman sahabat maka para ulama tidak mungkin bertemu di satu tempat dan sulit sekali menyatukan pendapat sepakat kepada materi putusan sidang, tidak dapat disatukan sebab dunia Islam sudah terpencar di seluruh dunia dengan berbagai macam suku bangsa maupun situasi dan kondisi yang sangat berbeda masing-masing mereka.

Ibnu Hazmin dalam kitab Maratibul Ijma’ sependapat dengan uraian di atas mencatat  bahwa Ijmak  itu adalah suatu kesepakatan yang demikian  bulatnya sedangkan kemungkinan seperti  itu hanya terjadi pada jaman sahabat saja. Sebagian ulama menyatakan bahwa Ijmak dinilai shahih jika tidak diketemukan perbedaan pendapat. Syarat sahnya Ijmak ialah 1) Pernilaian Ijmak ini tingkatnya Mutawatir(Tidak mungkin salah); 2) Tidak diketemukan perbedaan pendapat. Kepada mereka yang menyelisihi Ijma’ terancam oleh firman Allah S.4 An-Nisa` 115 .

: وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيراً (النساء: 115)

“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu’min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasinya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali”(S.4 An-Nisa` 115)

Kitab Manhaju Ahlis Sunnah  bab Ush.Fiqh(tth:26) membagi Ijmak menjadi beberapa bagian  dan yang penting disini ialah Ijmak Qath’ii artinya tidak boleh diingkari karena tersiarnya bunyi  materi Ijmak berkekuatan Mutawatir disaksikan hampir semua orang dan Sharikh sangat jelas, kemudian Ijmak Zhanni artinya relatif sebab tersiarnya secara Ahad, tersiarnya tidak terlalu luas.

Jadi Ijmak yang sebenarnya ialah suatu kesepakatan seluruh ulama Mujtahidin, jika terjadi perbedaan namanya bukan Ijmak. Sehingga Ijmak yang sesungguhnya inilah yang disepakati semua ulama sebagaimana Ijmak sahabat di jaman Khalifah ‘Umar, para mujtahidun dapat bertemu di satu tempat dan semua sepakat kepada putusan mereka. Ijmak yang demikian mempunyai kedudukan hukum yang setingkat dengan hadis Mutawatir dan menjadi dalil hukum  dalam Syari’at Islam .

Dasar hukum Ijmak ialah Firman Allah dalam  Al-Quran: S.4 An-Nisa` 115; S.2 Al-Baqarah 143;  S.3 Ali ‘Imran 110; S.4 An-Nisa` 59 dan hadis-hadis berikut:

عَنِ الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي ظَاهِرِينَ حَتَّى يَأْتِيَهُمْ أَمْرُ اللَّهِ وَهُمْ ظَاهِرُونَ (رواه البخاري 6767 ومسلم 3545)

Dari Al-Mughirah bin Syu’bah bahwa Nabi Saw bersabda: “Tidak henti-hentinya suatu kelompok umatku selalu membantu sampai titik darah penghabisan dan mereka menang”(HR Bukhari no.6767 dan Muslim 3535).

عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ شِبْرًا فَقَدْ خَلَعَ رِبْقَةَ الْإِسْلَامِ مِنْ عُنُقِهِ (رواه ابو داود 4131 واحمد )20580*

“Dari Abu Dzarr bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Barang siapa memisahkan diri dari jamaah walaupun hanya sejengkal, maka sungguh dia telah memutuskan tali ikatan  Islam dari lehernya”(HR Abu Dawud no.4131 dan Ahmad 20580).

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ يَرْوِيهِ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ رَأَى مِنْ أَمِيرِهِ شَيْئًا فَكَرِهَهُ فَلْيَصْبِرْ فَإِنَّهُ لَيْسَ أَحَدٌ يُفَارِقُ الْجَمَاعَةَ شِبْرًا فَيَمُوتُ إِلَّا مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً (رواه البخاري 6610 ومسلم 3438)*

“Dari Ibnu ‘Abbas r.a.bahwa Nabi Saw bersabda: “Barang siapa melihat sesuatu masalah yang tidak disukainya pada diri pimpinan hendaklah dia bersabar, sungguh seseorang yang memisahkan diri dari jamaah walauppun hanya sejengkal lalu mati maka tidak lain dia  kecuali matinya mati Jahiliyah”(HR Bukhari no.6610 dan Muslim no.3438)

@ Kitab Ma’rijul wushul (1h21) mencatat bahwa ‘Umar mengirim surat kepada Syuraih, jika di dalam Al-Quran dan hadis tidak diketemukan dalil boleh mengambil putusan ulama alim soleh Ibnu Mas’ud menyebut nomer 3 dengan Ijmak ulama.

@ Kitab Al-Ihkam-Ibnu Hazmin (4h542) mencatat bahwa Ijmak itu hanya terjadi pada jaman sahabat ditambahkannya bahwa ‘Umar menyatakan pendapat yang tidak ada dalam Al-Quran dan hadis saat itu seluruh sahabat hadir dan tidak satu orangpun yang memungkiri ‘Umar.Dan Ijmak itu kaidah Hanifiyyah untuk mencari kebenaran tidak boleh menyalahi Sunnah. Beliau bersabda:

عَنِ ابْنِ جُرَيْجٍ قَالَ أَخْبَرَنِي أَبُو الزُّبَيْرِ أَنَّهُ سَمِعَ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ يَقُولُا سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي يُقَاتِلُونَ عَلَى الْحَقِّ ظَاهِرِينَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ (رواه البخاري 225)*

“Dari Ibnu Juraij bahwa Abuz-Zubair dan Jabir mendengar Rasulullah Saw bersabda: “Ada satu himpunan umatku yang tidak henti-hentinya perang membela yang benar sampai hari kiamat menang “(HR Bukhari no.225).

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا (النساء 65)

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman  mereka menjadikan kamu sebagai  hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya”(S.4 An-Nisa` 65).

Pokoknya Ijmak yang benar ialah putusan yang berdasarkan dalil Al-Quran dan Sunnah Rasul serta tidak mungkin Ijmak bertentangan dengan nash Al-Quran dan Sunnah.

Adapun demokrasi suara yang menang ialah yang memperoleh 50% tambah satu, suara mayoritas ialah 75% dari jumlah anggota.

Adapun yang dinamakan  universal disini ialah dasar hukum Ijmak yaitu Al-Quran dan Sunnah bahwa kedua asas landasan inilah yang mempunyai  daya kekuatan benar dan baik secara universal berlaku terhadap seluruh umat manusia dimana saja dan kapanpun juga. Wallahu a’lam bis-shawab.

Silahkan buka internet situs: https://pondokquranhadis.wordpress.com

Kirimkan Naskah ke-Email:pondokilmu7@gmail.com

Tlp:0318963843-HP.085855705814

…………………………………………………………………………………………….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: