Oleh: pondokquranhadis | September 4, 2010

NAPAK TILAS ISRA` – MI’RAJ NABI

010-7-10                          Tafsir Tematis                                                  

Seperti  Isra`- Mi’raj Nabi

(Oleh Imam Muchlas)

وَتَوَكَّلْ عَلَى الْعَزِيزِ الرَّحِيمِ(217)الَّذِي يَرَاكَ حِينَ تَقُومُ(218)وَتَقَلُّبَكَ فِي السَّاجِدِينَ(219)إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ( الشعراء  217-222)

“Dan bertawakkallah kepada (Allah) Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang, Dan bertawakkallah kepada (Allah) Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang, Yang melihat kamu ketika kamu berdiri (untuk sembahyang),), dan (melihat pula) perobahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud. dan (melihat pula) perobahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud.Sesungguhnya Dia adalah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahu”(S.Asy-Syu’ara` 217-222).

Tema dan sari Tilawah

1. Takwa kepada Alllah itu berhati-hati   mencari selamat jangan  sampai keliru  jangan sampai menderita..

2. Jalan yang selamat ialah tawakkal atau pasrah sepenuhnya kepada  Allah .

3. Allah itu Maha Menang dan Maha Sayang penuh kasih;

4. Allah  itu Maha Melihat Nabi Saw dan para hamba yang sedang shalat

5. Allah melihat getaran hati Nabi dan para hamba waktu sujud.

6. Allah itu Maha Mendengar dan Maha Mrngetahui.

Masalah dan  analisa jawaban

1. Sebenarnya apakah makna Tawakkal itu? Tawakkal itu makanya ialah maksimalisasi penyerahan kepada Allah setelah berusaha sepenuhnya.

2. Bagaimana shalat yang  benar itu? Shalat yang benar ialah shalat yang  menetapi aturan Allah dan menepati tuntunan Nabi Saw.

3. Bagaimana nikmat shalat yang paling yang indah? Nikmat shalat  yang paling indah ialah jika shalat itu berhasil  mencapai perasaan betul-betul menghadap Allah seperti Nabi Saw waktu Isra` Mi’raj itu..

Pendalaman dan penelitian

BAB  SATU

Tawakkal

Masalah ke-1: Sebenarnya apakah makna Tawakkal itu? Tawakkal itu makanya ialah maksimalisasi penyerahan kepada Allah setelah berusaha sepenuhnya.

Tawakkal itu menyerahkan hasil seluruh usaha kita serahkan sepenuhnya kepada Allah sesudah mengerahkan segala tenaga untuk mencapai maksud yang dikehendaki, setelah memutar otak memeras keringat lalu menyerah kepada  Allah berhasil atau  gagalnya usaha. Jadi tawakkal itu tidak berarti menyerah kepada Allah tanpa usaha, zonder ikhtiar sama sekali tetapi tawakkal itu menyerah kepada Allah melalui .kerja keras dan berjuang mati-matian agar berhasil.

Rasulullah Saw sendiri menegaskan bahwa tawakkal itu wajib berbuat  dan mentaati hukum  alam yang sering diterjemahkan sebagai Hukum Sunnatullah  yang juga dinamakan Hukum Sebab Akibat.  Rasulullah Saw  bersabda menjawab pertanyaan seorang sahabat dalam hadis berikut:

حَدَّثَنَا الْمُغِيرَةُ بْنُ أَبِي قُرَّةَ السَّدُوسِيُّ قَال سَمِعْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ يَقُولُ قَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَعْقِلُهَا وَأَتَوَكَّلُ أَوْ أُطْلِقُهَا وَأَتَوَكَّلُ قَالَ اعْقِلْهَا وَتَوَكَّلْ (رواه الترمذي 2441)

“Telah menceriterakan kepada kita Al-Mughirah bin Abi Qurrah as- Sadusi bahwa Anas megatakan ada seseoang bertanya kepada Rasulullah Saw:”YaRasulullah: ”Apakah aku harus mengikat ontaku lalu aku tawakkal kepada Allah atau aku lepas saja onta itu lalu aku tawakkal? Beliau bersabda: “Cancanglah onta itu dan tawakkallah”(HR Turmudzi no.2441).

~Kitab Lisanul ‘Arab (11h734)  mencatat bahwa arti tawakkal kepada Allah ialah: menyerah dan mengungsi kepada Allah serta yakin bahwa Allah itu yang menanggung apa saja urusan manusia. Demikian juga hati begitu rela kepada putusan Allah sepenuhnya, menyerah kepada hukum Allah, menyandarkan diri kepada Allah.

~Ibnu Katsir (2ha09) mencatat tawakkal itu meyakini bahwa segala kekuatan itu ada di tangan Allah, maka apa yang dikehendaki Allah pasti terjadi. Kemudian mencukupkan apa saja kepada Allah, Allah itu yang menjaga manusia dari kejelekan maka segala  kebijakan Allah itu tidak keliru.

~Al-Kasysyaf (5h109) menambahkan bahwa Allah itu  serba benar terhadap seluruh makhluk

~Tafsir Al-Alusi (3h290)dalam menganalisa A-Quran s3a159 mengaitkannya dengan  hadis riwayat Tumudzi no.2441 di atas dan menambahkan bahwa:

Asli tawakkal itu ialah memperlihatkan diri sangat lemah lalu menggantungkan diri kepada siapa yang dapat menolong dan siapa yang dapat menutup keperluannya.

Semua manusia jika sudah jatuh terbelenggu dalam suatu masalah yang terlalu berat pasti timbul  naluri kepercayaan akan adanya kekuatan di atas akal, maka di saat itulah  instik  dan naluri-fitrah yang suci akan menyerah dan memohon pertolongan Allah. Jadi seluruh umat manusia sebenarnya  mengakui  adanya Tuhan dan berdo’a  memohon  pertolongan-Nya untuk  mengatasi masalah mencari jalan keluar dari  belenggu yang terlalu berat di luar daya kemampuanya. Oleh karena itulah  untuk setiap usaha dan ikhtiar harus selalu kita serahkan  berhasil tidaknya  terserah kepada Allah   namanya tawakkal. .

~Di halaman 76 juz 9 Al-Alusi mengaitkan perasaan ini  dengan Al-Quran s12a67 bahwa Nabi Ya’qub berpesan kepada putranya supaya  berusaha sungguh-sungguh dan berhati-hati mencari jalan yang paling selamat memasuki ibu kota negeri Mesir sambil tawakkal kepada Allah bahwa semua rencana manusia akan sangat tergantung kepada rahmat  Allah, senada dengan hadis Riwayat Turmudzi no.2441  tentang  keharusan berusaha itu..

@ Al-Biqa’i dalam tafsirnya (2h259) mengaitkan hadis Turmudzi 2441 tentang wajibnya berusaha itu dengan Qs4a102 dan s4a71 bahwa Perang-Sabil harus dilengkapi dengan persenjataan yang meyakinkan dan  tidak bertentangan  Hukum Alam  Sunnatullah tentang  Ilmu Sebab Akibat atau Ilmu Kosmologi..

~ Dalam tafsirnya juz 3 halaman 383 Al-Biqa’i, mengaitkan hadis Turmudzi 2441 itu dengan Qs60-63  bahwa jika pihak lawan meminta berdamai maka kita harus menerima  permintaan damai itu sambil tawakkal kepada Allah  jika lawan itu mugkin akan berbuat khianat.

~Tafsir Fi Zhilalil Quran (5h479) mengaitkan Al-Quan s30a5 dengan hadis Turmudzi 2441 itu mencatat bahwa Allah akan menolong siapa yang dikehendakinya melalui Ilmu Sebab Akibat sesuai dengan ilmu logika.

~Tafsir Haqqi (1h405) mengaitkan hadis Turmudzi 2441 tersebut dengan terkabulnya do’a berdasarkan  hadis riwayat Ahmad no.10709 berikut:

ِ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ وَلَا قَطِيعَةُ رَحِمٍ إِلَّا أَعْطَاهُ اللَّهُ بِهَا إِحْدَى ثَلَاثٍ إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ وَإِمَّا أَنْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنْ السُّوءِ مِثْلَهَا قَالُوا إِذًا نُكْثِرُ قَالَ اللَّهُ أَكْثَرُ(رواه احمد 10709)

“Dari Abi Sa’id al-Khudryiyi bahwa Nabi Saw bersabda: “Tidaklah seorang muslim yang berdoa dengan doa yang tidak untuk keburukan dan tidak untuk memutus tali kekeluargaan, kecuali Allah akan memberinya tiga kemungkinan; doanya akan segera dibalas, akan ditunda sampai di akhirat, atau ia akan dijauhkan dari keburukan yang semisal, ” para sahabat bertanya, “Jika demikian kita minta yang lebih banyak, ” beliau bersabda: “Allah memiliki yang lebih banyak”(HR Ahmad no.10709)

Kabulnya do’a adalah janji Allah yang benar asal memenuhi syarat yaitu iman dan menepati aturan hukum Allah.

Tawakkal adalah kesungguhan hati dalam bersandar kepada Allah Ta’ala untuk mendapatkan kemaslahatan serta mencegah bahaya, baik menyangkut urusan dunia maupun akhirat. Allah Ta’ala berfirman dalam Al-Quran s65a2 dan Rasulullah bersabda dalam hadis Bukhari 4197 sebagai berikut:

“Dan barangsiapa bertawa kepada Allah, niscaya Dia akan menjadikan baginya jalan keluar dan memberi rizqi dari arah yang tiada ia sangka-sangka, dan barangsiapa bertawakkal kepada Allah, maka Dia itu menjamin kecukupan baginya.” (S.65 Ath-Thalaq: 2-3) Imam Bukhari dalam Shahihnya no.4197  meriwayatkan hadis berikut:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ قَالَهَا إِبْرَاهِيمُ عَلَيْهِ السَّلَام حِينَ أُلْقِيَ فِي النَّارِ وَقَالَهَا مُحَمَّدٌ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ قَالُوا إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ (رواه البخاري 4197)ا

” Dari Ibnu ‘Abbas dia mengatakan: “Hasbunallah wa ni’mal wakil adalah ucapan Ibrahim a.s. ketika di lemparkan (Raja Namrud (Qs21a69) ke dalam api. (Lafal ini)Juga diucapkan oleh Nabi Muhammad Saw. ketika orang-orang kafir berkata; “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka”, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung”(Qs3a173)(HR Bukhari no.4197).

Contoh tawakkal  yang sederhana dari  burung

عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا يُرْزَقُ الطَّيْرُ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا (رواه الترمذي 2266 وابن ماجه 4154 واحمد 200وصححه الحاكم)

“Dari Umar bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Jika sekiranya kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakkal, pasti  Dia akan memberi rizki kepada kalian sebagaimana Dia memberi rizki terhadap burung, ia pergi dalam keadaan lapar (pagi) dan (sore)pulang dalam keadaan kenyang.” (HR Turmudzi no.2266, Ibnu Majahn  no. 4154,  Ahmad no.200 dan Al-Hakim menilainya shahih),

Hadis ini menjelaskan bahwa orang yang bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya, pastilah dia akan diberi rahmat rizki oleh Allah. Bahkan Allah itu menjamin rejeki seluruh makhluk di bumi ini, termaktub dalam Al-Quran sbb:

“Tiap-tiap yang melata di muka bumi ini sudah ditentukan Allah rezekinya. Dia mengetahui kediamannya dan tempat penyimpanannya.” (Hud: 6)

Selain ketenangan jiwa, maka tawakkal juga membuahkan sikap syaja’ah yatu keberanian.

Tawakkal yang  paling ideal

Takkal yang paling ideal ialah suatu perasaan mental yang  dapat meniru Rasulullah Saw ketika sedang terancam oleh pedang Da’tsur orang musyrik yang kejam sekali yang menggertak Rasulullah SAW. Yang baru bangun dari tidurnya.

-Ibnu Hajar dalam kitabnya Fathul Bari (11h464) waktu membahas hadis riwayat Bukhari no.3822 mencatat kisah Da’tsur, yaitu:

Suatu hari ketika Rasulullah Saw pulang dari perang  Dzaturriqa’ beliau istirahat di bawah sebuah pohon yang banyak durinya pedang beliau  digantungkan di pohon itu beliau tertidur. Tiba-tiba beliau terbangun  digertak dan  ditantang oleh Da’tsur yang memegang pedang terhunus sambil berkata: “Siapakah yang dapat melindungi  kau dari pedangku ini? Beliau mnjawab dengan sangat keras : “Allah”!!! Tiba-tiba pedang itu terjatuh sebab gemetarnya tangan Da’tsur maka pedang segera diambil oleh Rasulullah Saw , sekaligus ganti Rasul Saw menantang Da’tsur: “Siapakah yang melindungi kamu dari pedang ini? Da’tsur gemetar ketakutan  mengatakan tidak ada siapa-siapa yang melindunginya. Kemudian  beliau memerintahkan Da’tsur pergi dan beliau tidak berbuat apa-apa kepada Da’tsur dia pergi dengan selamat. Al-Waqidi menambahkan bahwa  Da’tsur kemudin masuk Islam bersama kaumnya. Tafsir Al-Bahrul Muhith (4h377) mengaitkan peristia ini dengan Al-Quran S.5 Al-Maidah 11.

“Hai orang-orang yang beriman, ingatlah kamu akan ni`mat Allah (yang diberikan-Nya) kepadamu, di waktu suatu kaum bermaksud hendak menggerakkan tangannya kepadamu (untuk berbuat jahat), maka Allah menahan tangan mereka dari kamu. Dan bertakwalah kepada Allah, dan hanya kepada Allah sajalah orang-orang mu’min itu harus bertawakkal”(S.5 Al-Maidah 11).

Kemenangan yang gilang gemilang banyak sekali dianugerahkan Allah kepada umat Islam berkat tawakkal. mereka kepada Allah. Semuanya ditangan Allah Swt. Madharat dan manfaat seluruhnya ada di dalam genggaman Allah.  Di dalam Al-Quran Allah berfirman:

“Siapa yang bertakwa kepada Allah, nescaya Ia jadikan baginya jalan keluar (dari kesulitan), dan akan diberikan rezeki dari jalan yang ia tidak duga-duga, kerana barangsiapa yang bertakwakkal kepada Allah, nescaya Ia jadi Pencukupnya. Sesungguhnya Allah itu telah adakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (Ath-Thalaq: 2-3)

Demikianlah hikmah dari tawakkal menghasilkan pelbagai rahmat anugerah Allah  seperti ketenangan, keberanian, kemenangan, pertolongan dan perlindungan Allah SWT serta keselamatan.

BAB  DUA

Shalat yang benar

Masalah ke-2:       Bagaimanakah shalat yang  benar itu? Shalat yang benar ialah shalat yang  menetapi aturan Allah dan menepati tuntunan Rasulullah Saw.

Agar supaya lebih mudah  memahami ketentuan dalam analisa jawaban masalah ke-3 itu bahwa maka shalat yang benar itu ialah menyembah Tuhan menurut aturan Tuhan yang dilaksanakan atau yang diperagakan oleh Rasul utusan Tuhan, menuru Al-Quran dan Sunnah Rasulullah Muhammad Saw.  Sehingga dapat kita bayangkan bahwa  para jamaah haji seluruh dunia yang datang ke Baitullah  di Makkah itu oleh pengurus Ta’mir Masjidil Haram misalnya ‘Abdurrahman as-Sudus menamakan jamaah haji itu dengan Dhuyufur Rahman artinya tamu-tamu Allah  menghadap Allah di rumah Allah (Baitullah)’.

Sebagai tamu Allah melalui pemerintah Saudi Arabia dengan aparatnya melarang keras  para jamaah haji itu melanggar peraturan penyelenggara acara ibadah haji. Salah satu larangannya ialah bahwa jamaah haji dilarang keras mengambil jalan di luar batas yang telah ditentukan. Di dalam musim haji jamaah haji dilarang pergi ke wilayah lain di luar aturan penyelenggara ibadah haji. Barang siapa melanggar mereka akan ditangkap lalu di masukkan ke dalam penjara Saudi Arabia. Yang penting ialah semua jamaah haji wajib tunduk taat kepada aturan Ibadah haji, ibadahnya sendiri tidak boleh dilakukan perbuatan  semau guwe tidak boleh bertingkah  menurut karangan sendiri, semua tingkah laku perbuatan harus menurut aturan Tuan Rumah Baitullah ialah Allah.

Bayangan itu  akan bertambah lebih jelas lagi pada gambaran jika kita akan bertamu menghadap  bapak kepala Desa, Bapak Camat, Bapak Bupati, Bapak Gubernur, Bapak Menteri sampai Bapak Presiden Kepala Negara, maka semua ini  tidak mungkin  cara bertamu itu  dengan menggunakan  aturan tamu, tetapi harus melalui sopan santun toto kromo menurut  pandangan  tuan rumah. Sebaliknya jika seorang pembesar atau  pejabat Negara  akan datang ke daerah-daerah  bawahannya  pasti akan menggunakan aturan yang dibuat oleh  pejabat atau penguasa itu, misalnya, jalan sekitar tempat yang akan dilewati presiden harus ditutup untuk umum dan sebagainya..

Cara untuk menghadap kepada atasan atau pejabat harus menggunakan  aturan sopan santun  tuan-rumah,  pejabat atau penguasa dan  semakin tinggi pejabat yang dituju makin  ketat peraturannya, semakin rendah  jabatan  sebagai tuan rumah akan semakin longgar peraturan  sopan santun untuk menghadapnya..

Shalat itu sebenarnya adalah  suatu acara seorang hamba untuk menghadap Allah tuan dari seluruh tuan di alam semesta ini. Shalat itu penuh dengan puji-sanjung dan do’a permohonan hamba kepada tuan. Maka dari itu seluruh acara shalat wajib mengikuti aturan, toto-krom, sopan santun  yang dibuat oleh Allah dengan  contoh yang diperagakan oleh Rasulullah Muhammad Saw melalui Al-Quran dan sunnah Rasullah  Saw.

Ternyata   perintah Allah untuk   shalat dalam Al-Quran itu hampir seluruhnya menggunakan  redaksi atau lafal:

اَِقيْمُوْا الصَّلَآةَ + اَقِمِ الصَّلاَةَ (Aqimush-Shalata, Aqimish shalata)  artinya “dirikanlah shalat”  Sedangkan  yang menggunakan lafal:

صََلُُّوْا- صَََلِّ Shallu atau shalli (Shalatlah). Hanya َQs108a2 dan S9a103..

Maka dengan perintah “dirikanlah shalat” ini maknanya menjadi sangat luas mencakup seluruh persiapan, sarana prasarana shalat harus dilaksanakan  sesuai dengan tuntunan dan hukum Allah sebagaimana yang dipraktekkan oleh Rasulullah Saw. Sementara kitab Al-Fiqhul Islami-Az-Zuhaili atau Fiqhus –Sunnah berdasarkan dalil-dalilnya dan terlalu banyak kitab-kitab  yang menjelaskan shalat menurut Al-Quran dan hadis.

A.Asas-dasar

Asas yang sangat mendasar shalat ialah iman dan takwa dengan berpegang teguh kepada ajaran Islam yang benar tidak menyimpang dari apa yang diridhoi oleh Allah dan mengikuti apa yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw ,  sebagaimana yang telah diperingatkan oleh Allah dalam Al-Quran  Berniat melulu mencari ridho Allah semata, Allah memperingatkan hal ini di dalam  Al-Quran S.48 Al-Fat-hu 29;  S.98 Al-Bayyinah 5 dan 8:

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta`atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus”(S.98 Al-Bayyinah 5).

“Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga `Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepadaNya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya”(S,98 Al-Bayyinah 8).

Para ulama sepakat bahwa dalam hal  ibadah, maka seluruh umat wajib mengikutinya secara  ketat tidak boleh menyelisihi tidak boleh  menambah atau mengurangi  maupun membuat model baru yang berbeda dengan  contoh tuntunan Rasulullah Saw.  Rasulullah Saw bersabda:

عَنْ أَبِي قِلَابَةَ قَالَ حَدَّثَنَا مَالِكٌ قال رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي)رواه البخاري 595)

“Dari Abu Qilabah dia  bahwa Nabi Saw bersabda: “Shalatlah kalian seperti kalian melihat aku shalat”)HR Bukhari no.595)

Bepegang-teguh kepada Sunnah Nabi Saw ini berlaku atas seluruh  jenis ibadah, semuanya tidak boleh lain kecuali  harus meniru atau mencantoh  cara ibadah Nabi Saw, beliau bersabda:

عَنْ ابْنِ جُرَيْجٍ أَخْبَرَنِي أَبُو الزُّبَيْرِ أَنَّهُ سَمِعَ جَابِرًا يَقُولُا رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَرْمِي عَلَى رَاحِلَتِهِ يَوْمَ النَّحْرِ وَيَقُولُ لِتَأْخُذُوا مَنَاسِكَكُمْ فَإِنِّي لَا أَدْرِي لَعَلِّي لَا أَحُجُّ بَعْدَ حَجَّتِي هَذِهِ (رواه مسلم  2286 والنسائ 3012)

“Dari Ibnu Juraij telah mengabarkan kepadaku Abu Zubair bahwa ia mendengar Jabir berkata; “Aku pernah melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melempar Jamrah dari atas kendaraan beliau pada hari Nahr (penyembelihan hewan kurban). Beliau bersabda: “Lakukanlah haji kalian, sebab aku tidak tahu, barangkali aku tidak berhaji lagi sesudah hajiku ini”(HR Muslim no.2286 dan An-Nasai 3012).

Bahkan secara integral Allah  memerintahkan umat Islam meniru  Rasulullah Saw menjadi contoh tauladan dalam seluruh segi kehidupan mereka. Allah berfirman dalam Al-Quran:

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”(S.33 Al-Ahzab 21).

Beberapa hal  yang penting   masalah shalat

~ Harus Suci

Shalat atau sembahyang  itu harus suci lahir batin, mulai dari air yang dipakai untuk wudhu atau mandi; Suci badan , pakaian sampai  tempat halat harus  bersih dan suci dari najis.  Perlu diingat bahwa “Suci” itu berbeda atau tidak persis sama; Suci itu  tidak najis, najis itu batasnya sudah ditetapkan oleh syari’at, bersuci artinya menghilangkan najis dan menghilangkan status-keadaan hadats, hadats kecil itu keluarnya sesuatu dari  perut, kentut, kencing, berak, kotoran dari dalam perut; Hadats besar ialah junub

~ Pakaian

Walaupun  syarat shalat itu pokoknya menutup aurat, tetapi berpakaian untuk shalat maka  harus pakaian yang baik, indah, penuh sopan dan terhormat. Allah berfirman dalam Al-Quran s7a31

“”Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah  tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan”(S.7 Al-A’raf 31)

~ Gerak dan tingkah laku

Semua gerak   dalam shalat harus sama persis dengan apa yang diwajibkan oleh Allah dan Rasulullah Saw.  maka gerak atau laku perbuatan yang keluar dari batas-batas tersebut akan merusak shalat  yang dapat membatalkan shalat, maka harus dijauhi.

~Bacaan shalat

Dalam mengucapkan  bacaan shalat harus diusahakan   sedapat mungkin yang jelas, baik dan benar, untuk Al-Fatihah dan surat-surat  juga harus diusahakan  memenuhi Ilmu Tajwid dengan catatan semua menurut kemampuan masing-masing. Setiap bacaan  dalam shalat wajib  berasal  dari Rasulullah Saw, maka penelitian untuk menguji  bacaan itu dari Rasulullah Saw apa tidak maka disana sudah  ada ilmu khusus yaitu Ilmu Mushthalahul Hadits, Ilmu Tarjihur Riwayat. Ilmu ini sekarang sudah dipermudah melalui  perangkat computer. Hampir seluruh hadis Nbi Saw sudah masuk program computer, sampai pernilaian atas seluruh hadis ini juga sudah masuk system  dalam program  digitalisasi hadis, salah satu CD (Compact Disk) yang cukup jeli dan teliti sangat lengkap ialah  CD Kutubut Tis’ah bahkan sudah di terjemah ke dalam bahasa Indonesia dengan nama CD Encyclopedia Hadis 9 Imam.

~ Jenis dan macam-macam shalat

Masalah  yang lebih  berat  lagi ialah soal berkaitan dengan jenis  dan macam-macam shalat. Seluruh bagian dan macam-macam shalat  wajib bersumber berasal dari  sunnah Rasul Saw. Bahkan  semua masalah  agama maka wajib bersumber berasal dari ajaran Rasulullah Saw. Beliau bersabda dalam hadis:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ(رواه البخاري 2499ومسلم 3242)

“Dari ‘Aisyah r.a. bahwa  Rasulullah Saw bersabda: “Siapa yang membuat perkara baru dalam urusan kami ini yang tidak ada perintahnya maka perkara itu tertolak”(HR Bukhari no.2499 da Muslim no,3242).

~Adab tata susila shalat

Oleh karena shalat itu peri laku menghadap dan menyembah Tuhan maka wajib seorang hamba merendah diri andap asor dalam menyembah  ini (Lihat AlQuran.s7a205; s6a63; s7a55). Dan tidak mendesak-desak Allah dalam memohon kepada Allah (Bukhari no.5865). Barpakaian yang sopan dan suci (Lihat Al-Quran .s7a31) Juga taqarrub=dedepe, pasrah bongkokan kepada Allah secara maksimal (Lihat Al-Quran s96a19; s40a44 dan Shahih Bukhari  no.6021. Demikian pula dengan suara yang lembut penuh hormat (Bukhari   no.5905). Khusyuk dalam sujud (Abu Dawud  no. 741;Ahmad  no. 9083) tidak berhenti dari Taqarrub kepada Allah  (Lihat. Al-Quran .s33a41; s2a152; Muslim no.558; Abu Dawud  no.17 ).

BAB  TIGA

Shalat bagaikan  Isra` Miraj Nabi.

Masalah ke-3: Bagaimana nikmat shalat yang paling indah? Nikmat shalat  yang paling indah ialah jika shalat itu berhasil  mencapai betul-betul perasaan menghadap Allah seperti Nabi Saw waktu Isra` Mi’raj itu.

1.. Hakikat shalat

Shalat yang tuma’ninah sangat khusyu’ itu hakikatnya merupakan pengalaman  ruhani naiknya  jiwa masuk  ke-alam Lahut ketuhanan, melalui renungan  pemikiran yang sangat mendalam untuk masuk ke alam yang paling tinggi, paling gaib, gaibnya Tuhan yang Maha Esa. Merenung yang sedalam-dalamnya bahwa  kita sedang menyembah dan membaca do’a kepada Allah, Allah itu asal segala sebab, Awal paling awal, Lebih dahulu  sebelum ada  apa-apa, .

Para ulama  mengemukakan  luapan perasaan  menggambarkan  nuansa  orang yang sedang shalat  yang sangat syahdu itu  dalam memahami  pernyatan bahwa shalat itu mi’raj-nya orang mukmin, yaitu:

~Kitab Al-Mufashshal (4h57) mencatat bahwa seseorang perlu shalat untuk       peningkatan  atau mi’rajnya ruhani karena shalat itu penuh kedamaian, kebahagiaan dan ketenangan.@Kitab Mausu’atu  Khuthabil Minbar (1h3446) mencatat bahwa shalat itu mi’raj-nya orang mukmin menghadap Allah yang Maha Pencipta.@ Majalah Al-Jami’atul Islamiyah (28h109) mencatat bahwa  shalat itu mi’raj-nya orang mukmin naik ke alam paling luhur, melaporkan amal, mengajukan do’ istighfar, memohon pertolongan dan kemampuan daya tahan. @ Kitab Mafatihul Ghaib (1h220) mencatat bahwa Nabi Muhammad Saw saat  mi’raj membaca At-Tahiyyat, maka shalat itu mi’raj-nya orang mukmin naik ke alam kemuliaan menghadap Allah . @ Kitab Tafsir Haqqi (12h267) mengaku bahwa shalat itu mi’raj-nya orang mukmin adalah sabda Nabi Saw. Yaitu naiknya ruh  menghadap kepada Allah. @Tafsir Haqqi (1h3) mencatat bahwa shalat itu mi’raj-nya orang mukmin menghayati keberadaannya  menghadap Allah, meninggalkan alam dunia-materi terlelap hanyut dalam samodra ketuhanan. @Tafsir Ath-Thabari (1h161) mengaitkan Qs1a5 إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ adalah suatu sikap merendah=Andap-asor’ @Tafsir Al_Baidhawi (1h7) menyatakan ayat ini merupakan maksimalisasi  penyembahan dan do’a permohonan. @Tafsir Ar-Razi (1h27)  mencatat bahwa Qs1a5 ini  menandakan manusia itu memerlukan pertolongan untuk menolak bahaya neraka dan memerlukan keselamatan kebahagiaan surga. @Tafsir Ar-Razi (1h161) mencatat bahwa shalat itu mi’raj-nya orang mukmin adalah sabda Nabi Saw, yaitu barang siapa  shalat saat  membaca Al-Fatihah maka nur cahya itu naik dari alam lahir ke alam maya,.@Tafsir n-Naisaburi (1h53) menyatakan bahwa shalat itu mi’raj-nya orang mukmin adalah sabda Nabi Saw. Sambil mengutip hadis Muslim no.598 dan Turmudzi no.2877.

2.   Mensucikan hati dari segala keinginan materi keduniaan

Dzikir dan wirid  yang sebenarnya ialah mengunggulkan sifat  Maha Esa Allah, amalan ini  harus dilandasi dengan hati yang  suci, bersih dari segala keinginan selain hanya mengabdi dan mencari ridho Allah. Sebagai  gambaran sucinya hati itu, maka  kitab Durratun Nashihin (tth:12) memuat catatan penting mengenai amalan puasa, maka Usman ibnu Hasan penyusun kitab ini  membagi puasa kita itu menjadi 3,

i. Puasa orang Awam, yaitu puasa seseorang  dengan mencegah diri dari apa yang membatalkan puasa, yang penting puasanya tidak batal.

ii.Puasa orang Khash, yaitu puasa  orang yang mencegah diri dari  segala dosa

iii.Puasa orang Khawashul-khawash, yaitu puasa seseorang  dengan mujahadah yang paling khusyu’, dengan hati yang suci,  bersih dari seluruh daya tarik makhluk apapun juga. Jadi akal pikirannya  semata-mata hanya   menuju Allah saja.

Untuk memahami   puasanya  orang Khawashul Khawash ini dapat dipermudah  jika kita  membayangkan  atas detik-detik ketika matahari, bumi, langit belum ada, benda, ruang, energi dan waktu belum ada, yaitu  peristiwa Purwaning dumadi, menjelang   penciptaan  alam semesta seperti yang dijelaskan oleh Prof.Baiquni  dan Al-Quran  S.76 Al-Insan ayat 1(di bawah) materi, ruang, cahaya, energi dan waktu belum ada.

Usaha untuk mensucikan hati ini dapat lebih serius lagi dengan  memilih kondisi dan situasi serta tempat yang sangat sunyi, sepi sekali di waktu malam yang  gelap gulita. tidak ada orang yang melihat, tidak ada suara, tidak ada cahaya, snada dengan  batyangan terhadap jaman paling awal ebelum b esebagaimana muansa saat-saat berikut:

1) Saat Nabi Zakariya berdo’a di tengah malam yang terlalu gelap tidak ada makhluk yang mengetahuinya, memohon anak keturunan penerus tugas kenabiannya.

2) Waktu Nabi Yunus berdo’a di dalam perut ikan.

3) Tujuh Pemuda Ashabul Kahfi  bersembunyi di dalam Guwa mengungsi menjauhi penguasa yang kafir.

4) Ketika Rasulullah Muhammad Saw  di dalam ‘Uzlah di Guwa Hira` beberapa bulan  menjelang turunnya wahyu Al-Quran yang pertama kali .

Ad 1. Nabi Zakariya  yang sudah sangat tua sangat bersedih hati merenungkan  nasib umat beliau  bagaimana setelah beliau wafat sedangkan beliau tidak mempunyai putera, sang isteripun sudah  usia lanjut. Maka puncak kesedihan ini ditumpahkan kepada Allah beliau mengaduh kepada Allah dan berdo’a dalam nuansa yang sunyi senyap dan gelap malam, memohon anak keturunn yang akan meneruskan warisan kenabian menunaikan  syari’at Allah di muka bumi.   Riwayat ini diabadikan oleh Allah dalam Al-Quran:

إِذْ نَادَى رَبَّهُ نِدَاءً خَفِيًّا(3)قَالَ رَبِّ إِنِّي وَهَنَ الْعَظْمُ مِنِّي وَاشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْبًا وَلَمْ أَكُنْ بِدُعَائِكَ رَبِّ شَقِيًّا(4)وَإِنِّي خِفْتُ الْمَوَالِيَ مِنْ وَرَائِي وَكَانَتِ امْرَأَتِي عَاقِرًا فَهَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ وَلِيًّا(5)يَرِثُنِي وَيَرِثُ مِنْ ءَالِ يَعْقُوبَ وَاجْعَلْهُ رَبِّ رَضِيًّا(6)(مريم 3-6)

Artinya: “Yaitu tatkala ia berdo`a kepada Tuhannya dengan suara yang lembut. Ia berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdo`a kepada Engkau, ya Tuhanku. Dan

sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang isteriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putera, yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya`qub; dan jadikanlah ia, ya Tuhanku, seorang yang diridhoi”(S.19 Maryam 3-6).

خَفِيًّا = سِرَّا لََمْ يَطَّلِعْ عَلَيْهِ الْخَلْقُ فِيْ جَوْفِ اللَّيْلِ Artinya: Kesunyian di dalam gelapnya malam  yang tidak ada makhluk mengetahuinya.

@ Ath-Thabari, Ibnu Katsir, Al-Qurthubi, Al-Baghawi, Al-Biqa’i, Baidhawi dan Suyuthi dalam tafsirnya mencatat bahwa Nabi Zakariya berdo’a di tengah malam, dengan   lembut yang paling syahdu di dalam Mihrab Masjid-nya  dalam nuansa gelap gulita, sunyi senyap, tidak ada apa-apa yang mengusik shalatnya  yang tumakninah berdo’a penuh khusyu’ dan syahdu – dedepe– taqarrub kepada Allah, suasana sangat rahasia, sunyi senyap tidak ada yang tahu kecuali Allah,.

@ Al-Bidhawi dalam tafsirnya (4h32) mencatat bahwa Nabi Zakariya waktu itu berusia  sekitar 85-99 tahun, isteri beliau dispekulasikan tidak jauh berbeda dengan usia Nabi Zakariya ini. Tetapi dalam lanjutan ayat di atas dicatat pertanyaan Nabi Zakariya bagaimana mungkin bisa mempunyai anak dirinya sudah sangat tua isterinya diduga mandul, kemudian dijawab oleh Allah bahwa tidak ada yang sesuatu yang bisa menolak qudrat-iradat   Allah dan  tidak lama kemudian lahirlah Nabi Yahya putera Nabi Zakariya ‘alaihis salam.

Ad 2. Nabi Yunus ketika kecewa sebab kaumnya tidak mau mengikuti dakwahnya maka beliau pergi dan waktu naik perahu, kapalnya oleng mengisyaratkan bahwa ada gejala  datangnya bahaya yaitu  perahu akan karam karena terlalu banyak penumpang. Dari pimpinan perahu ditetapkan bahwa  Nabi Yunus diputuskan harus meninggalkan perahu wajib terjun kelaut. Maka aneh bin ajaib begitu Nabi Yunus  terjun ke laut beliau  langsung masuk ke dalam mulut  seekor ikan raksasa Nabi Yunus menjadi penghuni perut ikan itu. Di dalam malam yang luar biasa gelapnya di dalam perut ikan di kedalaman laut terlalu dalam di waktu malam  ini Nabi Yunus berdo’a dicatat Al-Quran  ayat berikut:

وَذَا النُّونِ إِذْ ذَهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ أَنْ لَنْ نَقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ(87)(الانبياء)

Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (tidak menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: “Bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.”(S.21 Al-biya` 87).

Nabi Yunus berdo’a di dalam perut ikan, ikan itu di dalam laut yang sangat dalam, gelap gulita luar biasa.

ad 3. . Ashabul Kahfi

Ashabul Kahfi ialah 7 pemuda yang melakukan ‘uzlah dengan meninggalkan  tempat tinggalnya yang  dikuasai oleh kaum kafir dan    memaksakan faham kafir  kepada mereka.  Tujuh anak muda ini tetap memegang teguh iman tauhid yang dianutnya menjauhi ajaran kafir (Kaisar Dikyanus)  penyembah berhala.  ketujuh pemuda ini berusaha  hijrah mengungsi ke negeri lain dan dalam  perjalanannya kemudian mereka bermalam di sebuah Guwa. Tetapi tiba-tiba pintu guwa itu  tertutup dengan batu yang sangat besar, sehingga mereka tidak dapat keluar dari guwa itu.

Mereka tinggal dalam Guwa yang gelap luar biasa lebih-lebih di waktu malam, kemudian dengan khusyu’ dan tumakninah mereka berdo’a terus tidak henti-hentinya

رَبَّنَا ءَاتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا

“Wahai Tuhan kami berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)”.

Ad 4. Rasulullah Saw. sebelum menerima wahyu Al-Quran beliau ‘Uzlah (nenepi)  di dalam guwa Khira` sekitar 3 bulan. Dapat kita bayangkan bagaimana suasana guwa Khira` yang jauh dari perkampungan, bagaimana gelapnya jika  malam, tidak ada cahaya sama sekali,  beliau sendirian tidak ada orang sama sekali  di sana, Khadijah hanya di waktu siangnya mengantar bekal makan……………… Subhana Allah, Allahu Akbar.  Dalam kesunyian malam yang sangat gelap  ini beliau merenungkan keagungan Allah  dekat  menjelang turunnya wahyu Al-Quran dan dalam suatu malam beliau dapat menyaksikan impian yang benar (Ar-Ru`ya ash-Shadiqah)..

Dan sekitar tanggal 9 Rabi’ulawal tahun pertama Hijrah, setelah lolos dari kepungan kaum musyrikin beliau bersama Abu Bakar bersembunyi di dalam guwa Tsaur 3 malam, nyaris terjebak tentara musuh yang sudah sampai di dekat mulut guwa, sehingga Abu Bakar ketakutan luar biasa kawatir akan tertangkap dan terbunuhnya Nabi Saw. Maka peristiwa itu diabadikan di dalam  Al-Quran berikut:

إِلَّا تَنْصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُوا ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا فَأَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُ بِجُنُودٍ لَمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِينَ كَفَرُوا السُّفْلَى وَكَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ(40)(التوبة)

Artinya:  “Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita.” Maka Allah menurunkan ketenangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Allah menjadikan seruan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”(S.9 At-Taubat 40).

Inilah catatan wahyu dari Allah yang mencatat bagaimana  pengalaman para nabi dan hamba yang terpilih ketika munajat berdo’a kepada Allah dalam ‘UZLAH di kesnyuian malam yang terlalu gelap tidak ada apa-apa yang dapat dilihat, tidak ada sinar, tidak ada suara, tidak dapat melihat waktu dan tidak tahu arah tidak ada apa-apa kecuali Allah.  Dengan demikian kita dapat melakukan  tafakkur, merenungkan Al-Quran S.21 Al-Anbiya`30, S.41Fushshilat 11-12, S.65 Ath-Thalaq 12, S.11 Hud 7, S.35 Fathir 41 dan S.21 Al-Anbiya` 104 bahwa di jaman yang paling awal sebelum ada bumi langit matahari dan semua benda angkasa maka (a) tidak ada energi: (b) tidak ada materi, (c) tidak ada ruang, (d) tidak ada waktu.

3. Shalat Tahajjuj, Shalat Tasbih dan shalat malam

Shalat Tahajjuj, Shalat Tasbih dan shalat malam mana saja yang dilaksanakan pada waktu malam yang sangat gelap, tidak ada suara, tidak ada cahaya, tidak dapat melihat apa-apa tidak mengetahui  waktu, tidak ada apa-apa sama sekali kecuali gelap yang luar biasa maka  betul-betul kita  yakin bahwa yang ada   hanyalah  Allah  saja  yang serba Maha absolut Maha dengan sifat wajib 20 dan 99 nama yang baik (Al-Asmaul Husna),  Maha Esa-nya tidak mungkin dikurangi atau dibagi-bagi menurut teori akal manusia. Maka disanalah shalat itu terasa betul-betul sangat syahdu, tumakninah, khusyuk  seakan-akan kita melakukan mi’raj  ke langit ke-7  seperti    yang dialami oleh Rasulullah Saw  menghadap Allah Swt di  Sidratil Muntaha, memang sebetulnya shalat itu merupakan mi’raj orang beriman. Lebih-lebih jika kita  dalam  nuansa ini membaca Tasbih yang sudah diteliti oleh para ulama hadis (Muslim no.3985, Ibnu Majah no.1376, Turmudzi no.444, Ahmad no.1924) :

4. Berbisik dan dialog dengan Allah

Imam Muslim meriwayatkan hadis tentang  makna 3 hal, iman, islam dan ihsan. Dan khusus ihsan maknanya ialah menyembah Allah seolah-olah kita melihat Allah atau yakin bahwa Allah melihat kita (Shahih Bukhari no.10 atau muslim no.48). Kemudian hadis  Muslim no.598 menyatakan bahwa ketika hamba sedang membaca surat Al-Fatihah dengan  syahdu  maka Allah menjawab isi bacaan surat Al-Fatihah itu akan mengabulkan apa yang diminta:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَارِزًا يَوْمًا لِلنَّاسِ فَأَتَاهُ جِبْرِيلُ فَقَالَ

(1) مَا الْإِيمَانُ قَالَ الْإِيمَانُ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَبِلِقَائِهِ وَرُسُلِهِ وَتُؤْمِنَ بِالْبَعْثِ قَالَ

(2)  مَا الْإِسْلَامُ قَالَ الْإِسْلَامُ أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ وَلَا تُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَتُقِيمَ الصَّلَاةَ وَتُؤَدِّيَ الزَّكَاةَ الْمَفْرُوضَةَ وَتَصُومَ رَمَضَانَ قَالَ

(3) مَا الْإِحْسَانُ قَالَ أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ قَالَ مَتَى السَّاعَةُ قَالَ مَا الْمَسْئُولُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنْ السَّائِلِ وَسَأُخْبِرُكَ عَنْ أَشْرَاطِهَا

@ إِذَا وَلَدَتْ الْأَمَةُ رَبَّهَا@ وَإِذَا تَطَاوَلَ رُعَاةُ الْإِبِلِ الْبُهْمُ فِي الْبُنْيَانِ فِي خَمْسٍ لَا يَعْلَمُهُنَّ إِلَّا اللَّهُ ثُمَّ تَلَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ الْآيَةَ ثُمَّ أَدْبَرَ فَقَالَ رُدُّوهُ فَلَمْ يَرَوْا شَيْئًا فَقَالَ هَذَا جِبْرِيلُ جَاءَ يُعَلِّمُ النَّاسَ دِينَهُمْ قَالَ أَبُو عَبْد اللَّهِ جَعَلَ ذَلِك كُلَّهُ مِنْ الْإِيمَانِ (رواه البخاري48   ومسلم 10)

“Dari Abu Hurairah dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada suatu hari berada di hadapan manusia, lalu seorang laki-laki mendatanginya seraya berkata,

(1) ‘Wahai Rasulullah, apakah iman itu? ‘ Beliau menjawab, ‘Kamu beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-Nya, beriman kepada kejadian pertemuan dengan-Nya, beriman kepada para Rasul-Nya, dan kamu beriman kepada hari kebangkitan yang akhir’. Dia bertanya,

(2) ‘Wahai Rasulullah, apakah Islam itu? ‘ Beliau menjawab, ‘Islam adalah kamu menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, mendirikan shalat yang wajib, membayar zakat yang difardlukan, dan berpuasa Ramadlan.’ Dia bertanya lagi,

(3) ‘Wahai Rasulullah, apakah ihsan itu? ‘ Beliau menjawab, ‘Kamu menyembah Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, maka jika kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.’ Dia bertanya lagi,

‘Wahai Rasulullah, kapankah hari kiamat itu? ‘ Beliau menjawab, ‘Tidaklah orang yang ditanya tentangnya lebih mengetahui jawaban-Nya daripada orang yang bertanya, akan tetapi aku akan menceritakan kepadamu tentang tanda-tandanya; yaitu:

(Pertama) bila hamba wanita melahirkan tuan-Nya. Itulah salah satu tanda-tandanya.

(Kedua apabila penggembala kambing saling berlomba tinggi-tinggian dalam (mendirikan) bangunan.

Itulah salah satu tanda-tandanya dalam lima tanda-tanda, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah, ” kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wasallam membaca: ‘(Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim.Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakan-Nya besok.Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal) ‘ (Qs. Luqman: 34).

Kemudian laki-laki tersebut kembali pergi. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Panggil kembali laki-laki tersebut menghadapku’. Maka mereka mulai memanggilnya lagi, namun mereka tidak melihat sesuatu pun. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ini Jibril, dia datang untuk mengajarkan manusia tentang agama mereka’.” (HR Bukhari no48 dan Muslim no. 10).

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى قَسَمْتُ الصَّلَاةَ بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ

#فَإِذَا قَالَ الْعَبْدُ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى حَمِدَنِي عَبْدِي

# وَإِذَا قَالَ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِي

# وَإِذَا قَالَ مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ قَالَ مَجَّدَنِي عَبْدِي وَقَالَ مَرَّةً فَوَّضَ إِلَيَّ عَبْدِي

# فَإِذَا قَالَ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ قَالَ هَذَا بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ # فَإِذَا قَالَ اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ قَالَ هَذَا لِعَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ (وراه مسلم 598 والترمذي 2877)

“Dari  Abu Hurairah bahwa  Rasulullah bersabda: “Allah berfirman, “Aku membagi shalat antara Aku dengan hambaKu, dan hambaku mendapatkan sesuatu yang dia minta. 
#”Apabila seorang hamba berkata, 'Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam.' Maka Allah berkata, 'HambaKu memujiKu
#”Apabila hamba tersebut mengucapkan, 'Yang Maha pengasih lagi Maha Penyayang.' Allah berkata, 'HambaKu memujiKu.
# “Apabila hamba tersebut mengucapkan, 'Pemilik hari kiamat.' Allah berkata, 'HambaKu memujiku.' Selanjutnya Dia berkata, 'HambaKu menyerahkan urusannya kepadaKu.
# “Apabila hamba tersebut mengucapkan, 'Hanya kepadaMulah aku menyembah dan hanya kepadaMulah aku memohon pertolongan.' Allah berkata, 'Ini adalah antara Aku dengan hambaKu. Dan hambaKu mendapatkan sesuatu yang dia minta'. # “Apabila hamba tersebut mengucapkan, 'Berilah kami petunjuk jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat atas mereka, bukan jalan orang-orang yang Engkau murkai dan bukan pula orang-orang yang sesat.' Allah berkata, 'Ini untuk hambaKu, dan hambaKu mendapatkan sesuatu yang dia minta" (HR Muslim no. 598 dan Turmudzi no.2877)

Jika  kita membaca  Al-Quran  tentang kisah Nabi Musa a.s. terutama s20a11-46, s2a67-71, s4a164;

وَرُسُلًا قَدْ قَصَصْنَاهُمْ عَلَيْكَ مِنْ قَبْلُ وَرُسُلًا لَمْ نَقْصُصْهُمْ عَلَيْكَ وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَى تَكْلِيمًا  (النساء 164)

Dan (kami telah mengutus) rasul-rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu, dan rasul-rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka kepadamu. Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung”(S.4 An-sa` 164).

Ayat-ayat Al-Quran dan hadis-hadis tersebut di atas dapat difaham bahwa hamba  secara abstrak  seolah-olah dia dapat berbisik-bisik dengan Allah  terbayang misalnya dalam  ayat-ayat s20a17-25,  68-71 dan s2a68-71:

“Apakah itu yang di tangan kananmu, hai Musa? Berkata Musa: “Ini adalah tongkatku, aku bertelekan padanya, dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya”. Allah berfirman: “Lemparkanlah ia, hai Musa!” Lalu dilemparkannyalah tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat. Allah berfirman: “Peganglah ia dan jangan takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaannya semula, dan kepitkanlah tanganmu ke ketiakmu niscaya ia ke luar menjadi putih cemerlang tanpa cacad, sebagai mu`jizat yang lain (pula), untuk Kami perlihatkan kepadamu sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Kami yang sangat besar, Pergilah kepada Fir`aun; sesungguhnya ia telah melampaui batas”.

(S.20 17-25)

“Kami berkata: “Janganlah kamu takut, sesungguhnya kamulah yang paling unggul (menang). Dan lemparkanlah apa yang ada di tangan kananmu, niscaya ia akan menelan apa yang mereka perbuat. Sesungguhnya apa yang mereka perbuat itu adalah tipu daya tukang sihir (belaka). Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja ia datang”. Lalu tukang-tukang sihir itu tersungkur dengan bersujud, seraya berkata: “Kami telah percaya kepada Tuhan Harun dan Musa”. Berkata Fir`aun: “Apakah kamu telah beriman kepadanya (Musa) sebelum aku memberi izin kepadamu sekalian. Sesungguhnya ia adalah pemimpinmu yang mengajarkan sihir kepadamu sekalian. Maka sesungguhnya aku akan memotong tangan dan kaki kamu sekalian dengan bersilang secara bertimbal balik, dan sesungguhnya aku akan menyalib kamu sekalian pada pangkal pohon kurma dan sesungguhnya kamu akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih pedih dan lebih kekal siksanya”(S.20 Thaha 68-71*

Dan juga dalam Al-Quran s2a68-71  terkesan  bahwa Nabi Musa  begitu  dekatnya dengan Allah dalam  dialog atau tanya jawab. Kemudian dalam S.4 An-Nisa ` 164 dengan tegas  Allah menyatakan bahwa  Nabi Musa nabi yang diajak bicara oleh Allah.

5. Isra` Mi’raj Nabi Saw

Kesan yang  mungkin  dapat  kita peroleh  dari peristwa Isra`-Mi’raj Nab Saw ini dapat kita faham dari hadis  Rasulullah Saw  pernah bersabda bahwa shalat itu  mi’raj-nya orang beriman (ini menurut Tafsir Haqqi (12h267) dan Tafsir Ar-Razi (1h161)..Jadi dengan shalat Insya Allah  orang beriman akan memperoleh  sebagian  dari hikmahnya  Mi’raj Rasulllah Saw

Dari catatan hadis riwayat hadis Bukhari 2968, Muslim236, dan ulama lain diceriterakan bahwa Nabi Saw mi’raj-naik ke langit sampai  langit ke-VII.

*  Pada langit ke-I bertemu dengan N.Adam;Di  langit ke-II bertemu dengan N.’Isa dan Yahya; Pada langit ke-III bertemu dengan N.Yusuf;Di langit IV bertemu dengan N.Idris;Di langit ke-V bertemu dengan N.Harun;Di langit ke-VI bertemu dengan N.Musa;Di langit ke-VII bertemu denga N.Ibrahim;Dari langit ke-VII naik legi keBaitul Ma’mur dan paling tinggi di Sidratil Muntaha

Pada tingkat Sidratil Muntaha tanpa diantar oleh Jibril inilah Nabi Saw. menerima perintah shalat yang 5.

Al-Quran dan hadis – hadis tersebut di atas memberikan peringatan kepada kita bahwa Nabi Saw. telah memperoleh hikmah rahasia yang sangat  luhur. Nabi Saw. Melakukan Isra` dari Masjid ke Masjid, diliputi oleh nuansa ibadah sepenuhnya berjiwa agamis-Islami, mencakup keyakinan bahwa seluruh kehidupan alam semesta ini sepenuhnya dikendalikan oleh Allah.

5. Shalat itu mi’rajnya orang mukmin

Ikhtiar untuk membayangkan  shalat itu seperti Mi’raj Nabi Saw mungkin dapat dibantu dengan merenungkan dalam pikiran kita catatan yang ditulis oleh Prof.DR.Ahmad Baiquni MSc berikut:

Prof.DR Ahmad Baiquni MSc. seorang  ahli atom Indonesia pertama dalam bukunya Al-Quran & IPTEK (1994:12)  menjelaskan dengan menafsirkan ayat-ayat Al-Quran S.21 Al-Anbiya`30, S.41Fushshilat 11-12, S.65 Ath-Thalaq 12, S.11 Hud 7, S.35 Fathir 41 dan S.21 Al-Anbiya` 104  dengan catatan bahwa para ahli pikir Ilmu Fisika mengajukan teori tentang awal asal  usul alam semesta ini  ialah  dari  suatu padatan  berupa suatu titik singularitas fisis yang berisi calon seluruh maujud di jagad raya  meledakan maha dahsyat   (The Big Bang)  pada jaman azali. Dengan ledakan Maha Dahsyat ini kemudian secepat kilat terwujudlah  jagad raya bermilyar-milyar benda angkasa  dan galaxy, Bima Sakti dan sejenisnya. Baiquni mencatat  bahwa   peristiwa itu  menimbulkan 2 pernyataan, yang luar biasa pentingnya, yaitu:

1) Pada detik-detik saat terjadi “Ledakan Hebat-The Big Bang” itu semesta alam, energi, materi, ruang dan waktu keluar dari SATU TITIK calon alam semesta.

2) Sebelum peristiwa itu sendiri, maka  (a) tidak ada energi: (b) tidak ada materi, (c) tidak ada ruang, (d) tidak ada waktu.

Tetapi pernyataan ini harus kita (Penulis ini) menambah satu lagi, yaitu: no.3) Sebelum ada energi, belum ada materi, belum ada ruang dan belum ada waktu dahulu itu yang ada hanyalah yang menciptakan alam semesta yaitu  Allah yang Maha Esa Mutlak. Tidak ada apa-apa kecuali Allah لااله الاالله  tidak ada Tuhan selain Allah.

Alangkah nikmatnya jika seandainya kita dapat menghayati hadis Nabi Saw dalam riwayat Bukhari no.48 dan  Muslim  no.10 bahwa  yang namanya Ihsan itu ialah menyembah Allah seolah-olah melihat Allah atau dilihat oleh Allah.

Menghayati hadis Rasulullah Saw dalam hadis Bukhari  no.48-Muslim no.10 bahwa ketika kita shalat itu terasa betul    menyembah    Allah sungguh-sungguh Allah  seperti ada dihadapan kita terutama saat kita mengucapkan kata-kata:

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ = Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan Dan sangat terasa bahwa Allah melihat kita.

Ikhtiar ini  akan lebih mudah jika kita shalat  malam Tahajjuj di tempat yang sunyi senyap sama sekali dalam gelap gulita, tidak dapat melihat apa-apa, seperti apa yang dialami oleh Nabi Zakariya di Mihrabnya, Nabi Yunus dalam perut ikan, Ashabul Kahfi di guwa, dan seperti Rasulullah Saw dalam guwa Hira` ,tidak tahu jam berapa, tidak tahu arah, ataupun merasa berada di luar bumi, merasa MI’RAJ   berada di atas langit ke-7, tidak ada siapapun juga  yang mengetahui namun yang ada hanya Allah saja yang serba Mutlak Maha.  Sambil mengenang  riwayat Ira`-Mi’raj Nabi Saw  dari Masjidil Haram ke Masjidil Asha,  mi’raj ke langit bertemu dengan Nabi Adam, bertemu dengan Nabi’Isa dan Nabi Yahya, bertemu dengan Nabi Yusuf, bertemu dengan Nabi Idris, bertemu dengan Nabi Harun, bertemu dengan N.Musa, bertemu denga Nabi Ibrahim, naik lagi ke Baitul Ma’mur sendirian sampai ke Sidratil Muntaha.

Pada tingkat Sidratil Muntaha Nabi Saw tidak  diantar oleh Jibril  beliau menerima perintah shalat yang 5 dari Allah. Maka  kita matur kepada Allah (mengucapkan)Sami’na wa atha’na, kami tunduk taat melaksanakan perintah shalat tersebut sebagai  oleh-oleh Nabi Saw dari Isra`-mi’raj beliau, kita berbisik-bisik dengan Allah dalam shalat dengan penuh khidmat dan syahdu dan mengajukan puji dan do’a.  Wallah a’lam bish-shawab

Silahkan buka internet situs : http://pondoquranhadis.wordpress.com

Kirimkan naskah ke Email:pondokilmu7@gmail.com Tlp:o31896343


Responses

  1. 1. Mohon izin utk saya muat di “prmblurukidul”,spy bisa diakses lebih luas.2. Masalah taqwa,Seseorang yg sdh berusaha dg keras utk meraih taqwa tetapi msh terjerumus dlm kebathilan/pelanggaran, berusaha lebih keras lagi, masih terjerumus lagi, apakah usaha yg semacam itu tetap dihargai oleh Allah? atau dengan bahasa yg zakelyk, apakah itu kehendak Allah ?hal ini dikaitkan dg aliran ilmu kalam ” Jabariyah – Asy’ariyah – Qadariyah”.
    3. Ya Alloh Mendingan aku mati saat anak2,bolehkah? suwun

  2. kawan2 jg mengakses blog ini, kebanyakan memberi respon bagus,karena juga untuk disampaikan kepada khalayak yang lain


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: