Oleh: pondokquranhadis | Oktober 2, 2010

MOHON MAAF LAHIR BATN

09Sep209Sep2                                          Tafsir Tematis Permasalahan

Mohon maghfirah&mohon maaf lahir batin

I. S.3 Ali ‘Imran 233-135

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ(133)الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ(134)وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ(135)(ال عمران135)

II. Artinya

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema`afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui”(S.3 Ali ‘Imran 133-135).

III, Tafsir dan Analisa

A.Tema & Sari Tilawah

Dari pengertian  dan jalinan kalimat S.3 Ali ‘Imran 133-134 di atas kiranya  dapat tema dan sari tilawahnya sebagai berikut:

1. Manusia itu  bersifat tidak sempurna, sehingga sering kali salah dan lupa

2. Maka dia harus selalu memohon ampun dan berdo’a bisa naik ke sorga

3. Sorga itu luasnya seluas jagad dan  disediakan untuk orang yang taqwa

4. Orang yang taqwa itu mempunyai beberapa sifat yaitu:

a.  Dermawan. suka memberi infaq dalam suka maupun duka

b.  Mampu menahan marah

c.  Bermurah hati, gampang memberi maaf siapa saja

d. Jika terjatuh berbuat kotor atau zalim cepat-cepat ingat kepada Allah

e. Suka memohon ampun atas dosa-dosanya

f. Dia ingat-ingat dan tidak mengulangi kesalahan yang pernah dilakukan

5. Allah itu  ridho kepada mereka yang berbuat baik dan hanya Allah yang         dapat memberi ampun dosa manusia

B.Masalah dan analisa jawaban

Dari tema dan sari tlawah tersebut diatas timbul beberapa soal yang tersembunyi di dalamnya  terutama pertanyaan-pertanyaan berikut:

1. Bagaiamana hukum orang yang salah dan bagaimana hukum orang lupa?

Jawaban sementara: Orang yang salah dapat dihukum sedangkan orang yang  lupa tidak dapat dihukum tetapi harus menanggung akibatnya.

2, Bagaimana usaha kita supaya mampu menahan marah yang memuncak?

Jawaban sementara: Cara menahan marah yang besar, dilatih dari usaha menahan marah yang ringan makin lama makin kuat menahan marah yang besar.

3. Bagaimana hukumnya memohon maaf dan memberi maaf?  Kesediaan bersedia memohon maaf dan memberi maaf  adalah suatu sikap yang benar-benar sangat berat, maka dari itu bersedia memohon maaf  dan orang yang suka memaafkan  itu sangat mulia sangat terpuji.

BAB  SATU

Masalah salah dan lupa

Pertanyaan no.1: Bagaimana hukum orang yang salah dan bagaimana hukum orang lupa?  Jawaban sementara: Orang yang berbuat salah dapat dihukum sedangkan orang yang  lupa tidak dapat dihukum tetapi harus menanggung akibatnya.

Allah sebagai khaliq  sersifat serba Maha sebaliknya semua makhluq khususnya manusia itu sifatnya tidak sempurna, sehingga sering lupa dan berbuat salah. Dalam pameo Jawa Wong iku nggendong lali lan salah dan para pakar mengatakan bahwa hasil pemikiran manusia itu tidak lain semua bersifat spekulatif dan hipotetis untung-untungan dan benarnya hanya sementara, ganti waktu dan tempat dapat dinilai salah dan tidak baik. Rasulullah Saw. bersabda:

2423  عَنْ أَنَسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ  (رواه الترمذي وابن ماجه 4241)

Artinya: “Dari Anas bahwa Nabi Saw. bersabda: “Setiap anak manusia itu pernah salah dan sebaik-baik orang yang bersalah itu ialah bertaubat”(HR Turmudzi no.2423 dan Ibnu Majah no.4241).

Ditinjau dari arahnya, masalah salah dan lupa itu  dapat dibagi dua, (1) Salah dan lupa kepada Allah. (2) Salah dan lupa kepada  sesama manusia.

~ Perbuatan “salah”  kepada Allah akan dihukum  oleh Allah kecuali jika  yang bersangkutan memohon maghfirah  dan Allah mengampuninya. Adapun perbuatan karena lupa, maka  dia  tidak dihukum oleh Allah

Rasulullah Saw. menyatakan bahwa orang yang tidak sadar, anak-anak dan orang sakit majnun tidak dapat dituntut pertanggung jawaban apa-apa, disebut dalam hadis berikut:

3378  عَنْ عَائِشَةَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلَاثٍ عَنِ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ وَعَنِ الصَّغِيرِ حَتَّى يَكْبُرَ وَعَنِ الْمَجْنُونِ حَتَّى يَعْقِلَ أَوْ يُفِيقَ (رواه النسائ وابو داود 3822)

Artinya: “Dari ‘Aisyah  bahwa  Nabi Saw.bersabda: “Ada tiga orang yang tidak dapat dihukum, yaitu: Orang tidur sampai dia bangun, anak kecil sampai dia dewasa dan orang gila sampai dia sadar atau sembuh”(HR Nasa`i no.3378 dan Abu Dawud no.3822).

6176  عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِي اللَّهم عَنْهم قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَكَلَ نَاسِيًا وَهُوَ صَائِمٌ فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ فَإِنَّمَا أَطْعَمَهُ اللَّهُ وَسَقَاهُ (رواه البخاري ومسلم 1952)

Artinya; “Dari Abu Hurairah bahwa  Nabi Saw. besabda: “Barang siapa makan tetapi lupa dia itu berpuasa maka hendaklah dia teruskan puasanya sempurna, yang memberi makan dan minum dia tidak lain kecuali Allah”(HR Bukhari no.6176 dan Muslim no.1952).

~Adapun seseorang yang berbuat salah kepada sesama manusia maka dia dihukum menurut  besar kecilnya kesalahan dia. Sedangkan perbuatan lupa pada dasarnya tidak dihukum, tetapi dia dapat dijerat hukum melalui pasal “kelalaian” yang mengakibatkan timbulnya korban yang diderita orang lain.

Dilihat dari sisi Ilmu Hukum  maka  negara sudah menetapkan berbagai macam hukum: Hukum Perdata, Hukum Pidana, Hukum Acara Perdata-Pidana, Hukum Dagang, Hukum Administrasi, Hukum Agama, Hukum Adat. Di sana sudah ada kodifikasi hukum, di dalamnya sudah ditetapkan jenis-jenis perbuatan hukum, pelanggaran dan ancaman hukumannya dengan sangat rinci  besar kecilnya hukuman orang yang terbukti bersalah. Dalam masalah pribadi diatur dalam Hukum Perdata dan dalam masalah yang mengakibatkan  korban orang banyak, negara dan bangsa diatur dalam Hukum Pidana. Hukum Acara  mengatur proses bagaimana menerapkan pasal-pasal dalam Hukum Perdata maupun Hukum Pidana. Lebih jeli lagi dalam masyarakat  berlaku juga Hukum Adat, suatu aturan Hukum  tidak tertulis tetapi dipatuhi oleh masyarakat yang bersangkutan. Hukum Adat mengatur bagaimana cara hidup bersama, bertetangga dan bermasyarakat mengenai hal-hal yang dianggap baik, yang pantas, yang patut menurut pernilaian masyarakat yang bersangkutan. Siapa yang melanggar akan mendapat hukuman misalnya dikucil dimusuhi dijauhi oleh masyarakat yang membuatnya. Ketua adat atau orang tua-tua merupakan penguasa Hukum Adat yang berwenang memutuskan jenis kesalahan dengan ancaman hukuman sampai proses penerapan hukumannya. Kemudian jika  Hukum Adat tersebut jika tidak bertentangan dengan Hukum Allah maka Hukum Adat itu boleh dilestarikan, orang Islam wajib mentaati hukum Allah.

Adat kebiasaan seseorang sebenarnya berasal dari satu tngkah  laku atau perbuatan, lalu diulang, diulang terus menerus sampai menjadi kebiasaan dan jika orang lain menirukannya terus menerus akhirnya menjadi adat kebiasaan masyarakat.    Dalam masalah adat kebiasaan ini Imam Ahmad meriwayatkan hadis sebagai berikut:

3418  عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ إِنَّ اللَّهَ نَظَرَ فِي قُلُوبِ الْعِبَادِ فَوَجَدَ قَلْبَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَيْرَ قُلُوبِ الْعِبَادِ فَمَا رَأَى الْمُسْلِمُونَ حَسَنًا فَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ حَسَنٌ وَمَا رَأَوْا سَيِّئًا فَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ سَيِّئٌ (روا احمد)

Artinya: “Dari ‘Abdullah bin Mas’ud bahwa Allah itu melihat hati para hamba lalu  melihat hati Muhammad Saw. adalah yang paling baik hatinya di atas para hamba. Lalu apa yang dipandang baik oleh kaum muslimin bagus maka bagus pula disisi Allah. Apa yang dinilai kaum muslimin jelek maka disisi Allah adalah jelek”(HR Ahmad no.3418)

BAB  II  Ikhtiar  menahan marah

Masalah yang kedua ialah: Bagaimana usaha kita supaya mampu menahan atau mengatasi soal marah yang memuncak? Jawaban sementara: Cara menahan atau mengatasi soal marah yang besar, dilatih dari usaha menahan marah yang ringan makin lama makin kuat menahan marah yang besar, lebih jeli adalah sebagai berikut:

~ Al-Ghazali dalam kitabnya Ihya`’Ulumiddin (3h139) memberikan 6 cara bagaimana kita mengendalikan gejala-gejala marah, yaitu:

(1)Hendaklah masing-masing kita berangan-angan dan sangat mendambakan fadhilah  anugerah Allah kepada siapa yang dapat “menahan marah” dengan melihat besarnya pahala padanya lalu kita  berniat menghentikan marah itu.

(2) Mengingat-ingat azab Allah kepada orang yang marah, marah itu dari setan.

(3) Waspada kepada bencana akibat dari kemarahan itu akibat  di dunia dan akhirat.

(4)Merenungkan jeleknya wajah ketika sedang marah diperbandingkan dengan waktu tidak marah lalu meneladani adat orang-orang yang bijaksana dan para nabi.

(5)Memikir dan meneliti dari mana sebab atau motif timbulnya kemarahan itu.

(6)Menyadari bahwa marah itu berasal dari keinginan hawa nafsu bujukan setan.

Dari niat dan ikhtiar  itu sangat mungkin sekali kemarahan itu dapat dikurangi, dapat dikendalikan dan dapat dikuasai lalu dihentikan dengan tegas ditutup rapat-rapat.

Musnad Ahmad  meriwayatkan hadis bahwa Ummu Salamah suatu waktu memohon bacaan do’a untuk menolak watak marah, maka beliau mengajarkan  do’a sebagai berikut:

اللَّهُمَّ رَبَّ مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ اغْفِرْ لِي ذَنْبِي وَأَذْهِبْ غَيْظَ قَلْبِي وَأَجِرْنِي مِنْ مُضِلَّاتِ الْفِتَنِ مَا أَحْيَيْتَنَا(رواه احمد 25364)

Artinya: “Ya Allah Tuahnnya Nabi Muhammad ampunilah dosaku dan hilangkanlah kemarahan hatiku serta selamatkanlah aku dari kesesatan fitnah yang Allah hidupkan pada kami” (HR Ahmad no.25364).

Dalam berdo’a ini supaya disertai gerak langkah merubah diri  misalnya:

1) Jika saat itu berdiri supaya duduk ;

2) Jika tadinya duduk supaya berbaring;

3) Jika masih belum sembuh hendaklah menempelkan diri ke tanah dengan sujud;

4) Jika dengan sujud belum juga reda kemarahannya hendaknya mengambil  air wudhu;

5) Jika dengan wudhu belum bisa meredam kemarahan maka  hendaknya mandi;

Perlu diingat bahwa dengan air itu mustinya bisa  meredam dan mematikan  nafsu kemarahan. Para ulama  meriwayatkan beberapa hadis soal bagaimana meredam kemarahan itu yang di dalamnya Rasulullah Saw. bersabda, yaitu:

4151  عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَنَا إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ وَهُوَ قَائِمٌ فَلْيَجْلِسْ فَإِنْ ذَهَبَ عَنْهُ الْغَضَبُ وَإِلَّا فَلْيَضْطَجِعْ  (رواه  ابوداود واحمد20386)*

Artinya: “Dari Abu Dzarr bahwa Rasulullah Saw. bersabda kepada kami: “Jika seseorang dari kalian marah sedang berdiri hendaklah dia duduk jika cukup dapat menghilangkannya, namun jika belum cukup maka hendaklah dia berbaring”(HR Abu Dawud no.4151)

»4152   عَنْ  عَطِيَّةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الْغَضَبَ مِنَ الشَّيْطَانِ وَإِنَّ الشَّيْطَانَ خُلِقَ مِنَ النَّارِ وَإِنَّمَا تُطْفَأُ النَّارُ بِالْمَاءِ فَإِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَتَوَضَّأْ (رواه ابوداود واحمد17302)

Artinya: “Dari ‘Athiyyah bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Faktor marah itu dari setan sedangkan setan itu diciptakan dari api padahal api itu dapat dimatikan hanya dengan air, oleh karena itu jika seseorang dari kalian marah hendaklah dia berwudhu`”(HR Abu Dawud no.4152 dan Ahmad 17302).

،2425 عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلِّمُوا وَيَسِّرُوا وَلَا تُعَسِّرُوا وَإِذَا غَضِبْتَ فَاسْكُتْ وَإِذَا غَضِبْتَ فَاسْكُتْ وَإِذَا غَضِبْتَ فَاسْكُتْ (رواه احمد)

Artinya: “Dari Ibnu ‘Abbas bahwa Rasulullah Saw. bersabda: “Mengajarlah kalian, mudahkanlah jangan mempersulit, jika anda marah maka diamlah jika anda marah maka diamlah jika anda marah maka diamlah (Tiga kali)”( HR Ahmad no. 2425).

3374  عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ رَضِي اللَّهم عَنْهم قَالَ اسْتَبَّ رَجُلَانِ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى عُرِفَ الْغَضَبُ فِي وَجْهِ أَحَدِهِمَا فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنِّي لَأَعْلَمُ كَلِمَةً لَوْ قَالَهَا لَذَهَبَ غَضَبُهُ أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ (رواه الترمذي)

Artinya: “Dari Mu’adz bin Jabal r.a. dia berkata: “Ada dua orang bertengkar didepan Rasulullah Saw. terlihat kemarahan itu pada wajah salah seorang dari mereka, lalu Nabi Saw. bersabda: “Aku sangat tahu ada suatu kalimat  siapa yang membacanya pasti akan hilang kemarahannya, yaitu kalimat Ta’awwudz:

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ “Aku berlindung kepada Allah dari setan yang diranjam” (HR. Turmudzi no.3374).

Rasulullah Saw. sangat mendambakan agar umat beliau mampu mengendalikan kemarahannya beliau bersabda:

5649 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِي اللَّهم عَنْهم أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ (رواه البخاري ومسلم 4723)

Artinya: “Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah Saw. bersabda: “Orang kuat itu bukan hebatnya kekuatan merobohkan lawan, tetapi orang kuat itu ialah orang yang kuat menguasai nafsu dirinya saat marah”(HR Bukhari no.5649 dan Muslim no.4723).

22035 عَنِ ابْنِ حَصْبَةَ أَوْ أَبِي حَصْبَةَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الصُّرَعَةُ كُلُّ الصُّرَعَةِ الصُّرَعَةُ كُلُّ الصُّرَعَةِ الرَّجُلُ يَغْضَبُ فَيَشْتَدُّ غَضَبُهُ وَيَحْمَرُّ وَجْهُهُ وَيَقْشَعِرُّ شَعَرُهُ فَيَصْرَعُهُ غَضَبُهُ(رواه احمد)

Artinya: “Dari ibnu Hasbah bahwa Rasulullah Saw. bersabda: “Semua perkelaian itu perkelaian, semua perkelaian itu perkelaian. Setiap orang yang marah dan naik pitam bertambah keras, wajahnya menjadi merah, rambutnya bergetar  maka kemarahannya itu menaklukkan dia”(HR Ahmad no.22035).

—4179عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْ جُرْعَةٍ أَعْظَمُ أَجْرًا عِنْدَ اللَّهِ مِنْ جُرْعَةِ غَيْظٍ كَظَمَهَا عَبْدٌ ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللَّهِ (رواه ابن ماجه)*

Artinya: “Dari Ibnu ‘Umar  bahwa Rasulullah Saw. bersabda: “Disisi Allah tidak ada satu teguk minuman yang paling besar pahalanya mengalahkan seteguk  minuman peredam kemarahannya karena mencari arah ridho Allah”(HR Ibnu Majah no.4179).

5651  عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِي اللَّهم عَنْهم أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْصِنِي قَالَ لَا تَغْضَبْ فَرَدَّدَ مِرَارًا قَالَ لَا تَغْضَبْ (رواه البخاري)

Artinya: “Dari Abu Hurairah r.a. bahwa ada seseorang yang menghadap memohon wasiat kepada Rasulullah Saw. “ Beliau bersabda: “jangan anda marah!!! “ Beliau ulang berkali-kali jangan anda marah”(HR Bukhari no.5651).

4147 عَنْ سَهْلِ بْنِ مُعَاذٍ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ كَظَمَ غَيْظًا وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يُنْفِذَهُ دَعَاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى رُءُوسِ الْخَلَائِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ اللَّهُ مِنَ الْحُورِ الْعِينِ مَا شَاءَ  (رواه ابوداود والترمذي 1944)

Artinya: “Dari Sahl bin Mu’adz dari ayahnya bahwa Rasulullah Saw. bersabda: “Barang siapa menghentikan marah padahal dia dapat melampiaskan marahnya, maka Allah memanggil dia menjadi penghulu para makhluq  di hari kiamat  sampai Allah memilih bidadari untuk dia  yang disukainya” (HR. Abu Dawud no.4147 dan Turmudzi no.1944)

@ Wajib menahan marah  tetapi juga wajib membela kebenaran

Salah satu dari 6 macam ikhtiar menahan kemarahan yang dikemukakan oleh Al-Ghazali di atas ialah supaya kita meneliti asal usul faktor yang menyebabkan diri marah.  Maka dalam halaman kitab Ihya` ‘Ulumiddin (3h44) Al-Ghazali membatasi sasaran dan asal penyebab kemarahan. Jika materi sasaran terhadap apa yang tidak disukai dan soal apa yang dibencinya itu memang ternyata sesuatu yang wajib dibela dan merupakan prinsip yang harus ditegakkan maka kemarahan melawan penyelewengan dan kesesatan ini hukumnya  bahkan  wajib  marah keras menentang penyimpangan dan kesesatan itu. Al-Ghazali  mencatat  bahwa para nabi sebagai manusia biasa  juga bisa marah, tetapi motivasinya ialah  menegakkan kebenaran, jadi bukan untuk melampiaskan kemarahan sembarangan tetapi pengendalian hawa nafsu secara logis masuk akal. Rasulullah Saw. bersabda dalam sebuah hadis:

4708 عَنْ سَالِمٍ مَوْلَى النَّصْرِيِّينَ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُولُا سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ اللَّهُمَّ إِنَّمَا مُحَمَّدٌ بَشَرٌ يَغْضَبُ كَمَا يَغْضَبُ الْبَشَرُ وَإِنِّي قَدِ اتَّخَذْتُ عِنْدَكَ عَهْدًا لَنْ تُخْلِفَنِيهِ فَأَيُّمَا مُؤْمِنٍ آذَيْتُهُ أَوْ سَبَبْتُهُ أَوْ جَلَدْتُهُ فَاجْعَلْهَا لَهُ كَفَّارَةً وَقُرْبَةً تُقَرِّبُهُ بِهَا إِلَيْكَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ (رواه مسلم)

Artinya: “Dari Salim maula Nasrhriyyin bahwa Abu Hurairah berkata: “Aku mendengar Rasulullah Saw. bersabda: “Ya Allah, aku Muhammad ini tidak lain kecuali manusia biasa bisa marah seperti halnya manusia marah, sedang aku sudah berjanji yang tidak akan aku ingkari, maka jika aku marah kepada orang beriman atau aku mengolok-olok dia atau aku memukulnya jadikanlah  perbuatanku itu tebusan dan pendekatan yang dapat melekatkan orang itu kepadaMu ya Allah di hari kiamat”(HR Muslim no.4708).

Bahkan Al-Quran menjadikan Nabi Muhammad Saw. menjadi contoh tauladan sikap keras dan tegas Nabi Saw. ini dalam menghadapi kaum kafir sebagaimana yang dipatrikan di dalam Al-Quran berikut:

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنْجِيلِ (29)(الفتح)

Artinya: “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka, kamu lihat mereka ruku` dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil,”(S.48 Al-Fat hu 29).

Jadi marah disertai tindakan yang keras dan tegas melawan musuh-musuh Allah hukumnya wajib, sebaliknya  kemarahan yang ditunggangi setan dan hawa nafsu hukumnya wajib ditahan keras-keras sama kerasnya dengan membela kebenaran dan keadilan Li I’la`I kalimatillahi hiyal ‘ulya.

BAB   III  Meminta maaf dan memberi maaf

Masalah no. 3 ialah: Bagaimana hukumnya memohon maaf dan  hukum  memberi maaf?  Kesediaan memohon maaf dan bermurah hati memberi maaf  adalah suatu sikap yang benar-benar sangat berat, maka dari itu bersedia memohon maaf  atau suka memaafkan  itu sangat mulia sangat terpuji di sisi Allah.  Berikut catatan para ulama yang mengaitkan kesediaan maaf memaafkan itu merupakan pergulatan  jiwa agama melawan nafsu keduniaan berupa harta tahta dan wanita.

(1) Tafsir Al-Bahrul Muhith terbitan Darul Fikri  dalam menafsirkan Al-Quran s4a95 mencatat hadis Nabi Saw. bahwa sepulang Nabi Saw. dari perang Tabuk th.9H yang terlalu berat itu beliau bersabda :

لَا يَسْتَوِي الْقَاعِدُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ غَيْرُ أُولِي الضَّرَرِ وَالْمُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فَضَّلَ اللَّهُ الْمُجَاهِدِينَ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ عَلَى الْقَاعِدِينَ دَرَجَةً وَكُلًّا وَعَدَ اللَّهُ الْحُسْنَى وَفَضَّلَ اللَّهُ الْمُجَاهِدِينَ عَلَى الْقَاعِدِينَ أَجْرًا عَظِيمًا(95)(النساء)

Artinya: “Tidaklah sama antara mu’min yang duduk (yang tidak turut berperang) yang tidak mempunyai uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar”(S.4 An-Nisa` 95).

قال عليه السلام: « رَجَعْنَا مِنَ الْجِهَادِ الْأَصْغَرِ إِلَى الْجِهَادِ الْأَكْبَرِ»

Artinya: “Nabi Saw. bersabda: “Kita pulang dari perang yang kecil-kecilan menuju ke  perang  yang besar” Maksudnya ialah perang melawan hawa nafsu.

(2) Tafsir Ar-Razi terbitan Daru Ihya`it Turats (11h192) dalam mefasirkan Al-Quran s4a95 juga mengutip hadis ini dengan catatan bahwa jihad dimaksud  dalam hadis ini bersifat mutlak mencakup jihad maksimalisasi usaha mengendalikan  nafsu-nafsu, mensucikan hati dan mengendalikan nafsu kepada harta yaitu bersungguh-sungguh mengarahkan diri melengahkan seluruh makhluk sebaliknya menumpahkan seluruh energi daya kekuatan hanya untuk mengabdi kepada  Allah melulu kemudian mengutip hadis : “Kita pulang dari perang yang kecil-kecilan menuju ke  perang  yang besar” tersebut di atas.

(3) Pada halaman lain (23h258)  dalam kitab tafsir Al-Kabir itu  Ar-Razi  menfasirkan Al-Quran (S.22 Al-Hajji 78) menjelaskan maksud jihad di dalam hadis itu ialah perang melawan musuh Allah dan menegakkan agama Islam bahkan lebih-lebih melawan hawa nafsu dikaitkan Al-Quran:

وَجَاهِدُوا فِي اللَّهِ حَقَّ جِهَادِهِ (الحج 78)

“Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya” (S.22 Al- Hajji 78).

Di sana  Ar-Razi mencatat juga bahwa meminta maaf dan memberi maaf itu merupakan jihad  mengalahkan lawan yang sangat berat dan menggambarkan  bahwa Abu Bakar itu dapat didudukkan sebagai contoh tauladan ke-ii setelah Rasulullah Saw. dalam berbagai macam  dan masalah dalam hal ini ialah soal meminta maaf dan memaafkan lalu mengaitkannya dengan hadis Nabi Saw: “Kita pulang dari perang yang kecil-kecilan menuju ke  perang  yang besar” tersebut diatas dan ayat-ayat berikut:

فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاصْفَحْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ(13)(الماءدة)

Artinya:  “…hendaklah mereka mema`afkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”(S.5 Al-Maidah 13).

وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ(22)( النور)

Artinya: “Dan hendaklah mereka mema`afkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”(S.24 An-Nur 22).

(4) Kitab Dalilul Falihin terbitan Darul Ma’rifah bab 13 juga  mengutip hadis “Kita pulang dari perang yang kecil-kecilan menuju ke  perang  yang besar” tersebut di atas. itu dan mencatat bahwa jihad itu keluar atau meninggalkan kecintaan dan kelezatan keduniaan demi untuk mencari ridho Allah ( Li I’la`i kalimatillahi hiyal ‘ulya).

Lebih lanjut Allah memuji siapa-siapa yang suka memaafkan orang sebagaimana termaktub dalam S.3 Ali ‘Imran 34 ((الْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ  )) lalu Nabi Saw. mengaitkannya dengan  ikhtiar pengendalian  nafsu.

(5) Tafsir Al-Qurthubi (4h206) mencatat bahwa Allah memuji orang yang suka memberi maaf ketika diri dalam  kemarahan  yang  memuncak.

Orang-orang yang kuat berhasil  menahan marah yang  sedang berkecamuk dispekulasikan mungkin tercakup dalam kelompok orang yang  masuk sorga tanpa hisab.

(6) Tafsir Ath-Thabari terbitan Al-Ma’rifah (22h88) dalam menafsirkan Al-Quran s35a32 mencatat bahwa orang yang bermurah hati suka memeri maaf ada kesempatan masuk surga tanpa hisab dengan mengutip hadis berikut:

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُوْدٍ أَنَّهُ قَالَ: هَذِهِ الْأُمَّةُ ثَلَاثَةُ أَثْلَاثٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: ثُلُثٌ يَدْخُلُوْنَ الْجَنَّةَ بِغَيْرِ حِسَابٍ، وَثُلُثٌ يُحَاسَبُوْنَ حِسَابًا يَسِيْرًا، وَثُلُثٌ يَجِيْئُوْنَ بِذُنُوْبٍ عِظَامٍ، حَتَّى يَقُوْلَ: مَا هَؤُلَاءِ؟ وَهُوَ أَعْلَمُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى، فَتَقُوْلُ الْمَلَائِكَةُ: هَؤُلَاءِ جَاؤُوْا بِذُنُوْبٍ عِظَامٍ إِلَاَّ أَنَّهُمْ لَمْ يُشْرِكُوْا بِكَ، فَيَقُوْلُ الرَّبُّ: أُدْخُلُوْا هَؤُلَاءِ فِيْ سَعَةِ رَحْمَتِيْ. وَتَلَا عَبْدُ اللهِ هَذِهِ الْآيَةَ: ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِيْنَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا( رواه ابن جرير).

Artinya: “Dari ‘Abdullah bin Mas’ud dia berkata: “Kelak di hari kiamat umat Muhammad akan terbagi menjadi 3 kelompok yang satu gelombang  akan masuk surga tanpa hisab; satu kelompok masuh ke dalam surga dengan gampang tetapi kelompok ke-tiga datang dengan dosa-dosa besar, sampai ada yang bertanya: “Bagaimana  dengan mereka ini? “Allah Maha Mengetahui” Maka malaikat menyatakan” “Inilah mereka yang datang dengan  membawa dosa-dosa besar tetapi mereka tidak musyrik. Kemudian Allah berfirman: Masukanlah mereka ke bawah rahmat-Ku. Semua ini dikaitkan dengan Al-Quran s35a32”(HR “Abdu ibnu Humaid).

أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ وَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ذَلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ(32)(فاطر)

Artinya: “Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan di antara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar”(S.35 Fathir 32).

Orang yang berhasil menahan marah itu memang mentaati firman Allah s42a37 dan hadis Nabi Saw. di bawah ini:

وَالَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَائِرَ الْإِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ وَإِذَا مَا غَضِبُوا هُمْ يَغْفِرُونَ(37)(الشوري)

Artinya: “dan (bagi) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji, dan apabila mereka marah mereka memberi ma`af”(S.42 Asy-Syura 37)

وَرَوى أَنَسٌ عَنِ النَّبيِّ صلى الله عليه وسلم أَنَّهُ قَالَ: «إِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ نَادِ مُنَادٍ مَنْ كَانَ أَجْرُهُ عَلَى اللهِ فَلْيَدْخُلِ الْجَنَّةَ فَيُقَالُ مَنْ ذَا الَّذِيْ أَجْرُهُ عَلَى اللهِ فَيَقُوْمُ الْعَافُوْنَ عَنِ النَّاسِ يَدْخُلُوْنَ الْجَنَّةَ بِغَيْرِ حِسَابٍ (رواه ابن جرير)

Artinya: “Dari Anas bahwa Nabi Saw. bersabda; “Kelak pada hari kiamat ada orang yang memanggil-manggil siapa yang mempunyai pahala disisi Allah hendaklah masuk ke dalam surga: “Wahai siapa  yang mempunyai pahala disisi Allah ? Kemudian bangkitlah orang yang suka memaafkan orang lain masuk ke dalam surga  tanpa di hisab”(HR Ibnu Jarir  ath-Thabari)

Akan tetapi melihat situasi dan kondisinya maka Nabi Saw.dalam melawan kekufuran bertindak tegas dan keras, dicatat dalam Al-Quran tersebut diatas:

Artinya: “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka”(S.48 Al-Fat hu  29).

(7) Tafsir Al-Qurthubi (4h2mencatat bahwa pemberian maaf itu terjadi  kepada seseorang yang mestinya mendapat hukuman lalu dimaafkan dan tidak jadi diterapkan hukuman kepadanya. Allah memuji orang yang suka memberi maaf ketika kemarahan sedang memuncak sebagaimana uraian  tersebut dalam Al-Quran berikut:

}وَإِذَا مَا غَضِبُوا هُمْ يَغْفِرُونَ(37) [ الشورى]

Artinya: “dan apabila mereka marah mereka memberi ma`af”(S.42 Asy-syura 37).

Allah memerintahkan orang yang beriman agar  suka memaafkan orang disebut dalam beberapa ayat:s7a199, s42a43, s5a13, s24a22:

{خُذِ العَفْوَ وَأْمُرْ بِالعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الجَاهِلِينَ(الاعراف 199)

Artinya: “ …dan apabila mereka marah mereka memberi ma`af”(S.7 Al-A’raf 199)

} وقوله: {وَلَمَنْ صَبَرَ وَغَفَرَ إِنَّ ذٰلِكَ لَمِنْ عَزْمِ الأُمُورِ(الشوري 43)

Artinya: “Tetapi orang yang bersabar dan mema`afkan sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan”(S.42 Asy-Syura 43).

} وقوله: {فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاصْفَحْ إِنَّ الله يُحِبُّ المُحْسِنِينَ (الماءدة 13

Artinya: “…maka maafkanlah mereka dan biarkanlah mereka, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik”(s.5 Al-Maidah 13).

} وقوله: {وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلاَ تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ الله لَكُمْ (النور 22)

Artinya: “Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat (nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka mema`afkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (S.24 An-Nur 22).

@ Watak “Santun”lebih mulia dari menahan marah Alangkah indahnya jika seandainya kita dapat menerapkan isi kandungan hadis Nabi Saw. yang menyatakan bahwa watak santun itu lebih mulia dari hanya  sekadar menahan marah, yaitu mengalahkan orang yang memutus tali persahabatan malah disambung, mengalahkan orang yang menentang derma malah diberi sedekah, mengalahkan orang yang mencaci maki dengan senyum menawan melemahkan nafsu marahnya. Sebab menahan marah itu merupakan awal menuju kemampuan menahan marah dan memerlukan mujahadah usaha keras menumpahkan daya kemampuan diri, ibarat mencari ilmu sebagai jalan untuk belajar. Watak santun ini sangat dipuji oleh Rasulullah Saw. dengan sabda berliau:

15065 عَنْ سَهْلِ بْنِ مُعَاذِ  عَنْ أَبِيهِ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ أَفْضَلُ الْفَضَائِلِ أَنْ تَصِلَ مَنْ قَطَعَكَ وَتُعْطِيَ مَنْ مَنَعَكَ وَتَصْفَحَ عَمَّنْ شَتَمَكَ (رواه احمد)

Artinya: “Dari Sahl bin Mu’adz dari ayahnya bahwa Rasulullah Saw. bersabda: “Fadhilah yang paling tinggi ialah orang yang menyambung kasih atas orang yang memotong hubungan dengan anda, memberi darma orang yang menentang anda  dan santun kepada orang yang mencaci maki anda”(HR Ahmad no.15065).

16810  عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ قَالَ أَتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ لِي يَا عُقْبَةُ بْنَ عَامِرٍ أَمْلِكْ لِسَانَكَ وَابْكِ عَلَى خَطِيئَتِكَ وَلْيَسَعْكَ بَيْتُكَ (رواه احمد)

Artinya: “Dari ‘Uqbah bin ‘Amir bahwa dia menghadap Rasulullah Saw. beliau berbersabda padaku: “ Wahai ‘Uqbah bin ‘Amir kuasailah lidahmu tangisilah kesalahanmu, luaskanlah rumahmu  untukmu”(HR Ahmad no.16810).

~ Kitab Ihya` (2h152) Al-Ghazali mencatat bahwa orang yang beriman itu bisa saja marah tetapi cepat ridho lalu Al-Ghazali dalam kitab ini menunjuk ayat 7 surat Al-Mumtahanah dan mengaitkannya dengan hadis Turmudzi no.1920 yaitu:

عَسَى اللَّهُ أَنْ يَجْعَلَ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَ الَّذِينَ عَادَيْتُمْ مِنْهُمْ مَوَدَّةً وَاللَّهُ قَدِيرٌ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ ( الممتحنة7)

Artinya: “Mudah-mudahan Allah menimbulkan kasih sayang antaramu dengan orang-orang yang kamu musuhi di antara mereka. Dan Allah adalah Maha Kuasa. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”(S.60 Al-Mumtahanah 7).

1920 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ( أُرَاهُ رَفَعَه)ُ قَالَ أَحْبِبْ حَبِيبَكَ هَوْنًا مَا عَسَى أَنْ يَكُونَ بَغِيضَكَ يَوْمًا مَا وَأَبْغِضْ بَغِيضَكَ هَوْنًا مَا عَسَى أَنْ يَكُونَ حَبِيبَكَ يَوْمًا مَا  (رواه الترمذي)

Artinya: “Dari Abu Hurairah bahwa Nabi Saw, bersabda: “Cintailah kekasihmu dengan rendah hati mungkin suatu waktu orang tersebut menjadi orang yang kamu benci dan marah kepadanya. Dan bencilah kamu kepada  orang yang kamu benci mungkin suatu waktu orang tersebut menjadi kekasihmu”(HR. Ahmad no.1920).

Maksudnya  bahwa cinta dan benci atau dendam harus selalu diwaspadai dan ingat betul-betul  bahwa orang yang dicintai itu suatu waktu mungkin berubah menjadi orang yang dibenci, sebaliknya orang yang  sangat dibenci tersebut  suatu saat mungkin berubah menjadi kekasih.

Ibnu Hajar menyatakan bahwa hadis-hadis yang menyuruh kita suka memberi maaf itu tidak mutlak melarang manusia berbuat marah,  namun siapa marah supaya ditahan untuk menjauhi dampak negatif. Rasulullah Saw. bersabda:

5649  عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِي اللَّهم عَنْهم أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ (رواه البخاري ومسلم 4723)

Artinya: “Dari Abu Hurairah  r.a. bahwa Rasulullah Saw.bersabda: “Orang yang hebat itu bukanlah orang yang dapat menjatuhkan lawan, tetapi orang kuat itu ialah orang yang dapat mrnguasai diri saat marah”(HR. Bukhari no.5649 dan Muslim no.4723).

Insya Allah apa yang terurai di atas sudah terrekam dalam adat tradisi masyarakat Indonesia melalui adat Halal Bihalal.

@ Halal bihalal mohon maaf lahir batin

Halal bi halal sudah menjadi adat masyarakat Indonesia sejak lama dan menjadi tradisi bangsa Indonesia seluruh lapisan masyarakat.            Halal bi halal identik dengan istilah  Legolilo legolegowo maksudnya ialah bahwa selurtuh uneg-uneg sudah ditumpahkan dari seseorang kepada orang yang ada dihadapannya, sudah mohon maaf lahir batin segala salah dan khilaf.

Selanjutnya alangkah indahnya jika  kita mampu menyempatkan waktu untuk melihat dengan merenungkan sungguh-sungguh kata-kata mutiara dari para ulama berkaitan dengan Hari Raya Idul Fitri, yaitu bahwa Hari Idul Fitri itu mengandung  beberapa makna dan rahasia yang sangat dalam, melalui nama-nama bagi hari besar ini yaitu:

(1) يَوْمُ السَّخَاءِ وَالصَّدَقَاتِ=Semangat bersedekah dan berderma

Hari Raya Idul Fitri merupakan suatu hari yang  semua hati dipenuhi rasa hendak berlomba untuk memberikan suguhan  dan hidangan setiap orang yang berkunjung ke rumah kita;

(2) يَوْمُ الْاِفْطَارِ= Lebaran, selesai ibadah puasa, sudah tidak berpuasa

Hari Raya Idul Fitri merupakan suatu hari yang haram berpuasa bagi seorang Islam. Namun sayogyanya kita meneruskan berpuasa pada hari kedua dan seterusnya sebagai hari puasa Syawal yang ditutup  dengan bodho kopat pada hari tanggal 8 Syawal sesudah hari Raya. Hanya saja bagi kitapun boleh-boleh saja berpuasa Syawal itu selain hari-hari kedua smpai ke tujuh Syawal, bebas kontinu tiap hari atau berselang seling harinya, pokoknya puasa Syawal itu 6 (enam) hari dan nilainya disisi Allah dijumlah dengan puasa Ramadlan  satu bulan sama dengan puasa setahun kira-kira  360 hari.

(1) يوْمُ الْاِكْرَامِ وَالضِّيَافَةِ=Hari  bertamu dan memuliakan tamu

Hari Raya Idul Fitri merupakan suatu hari bagi kaum muslimin ingin sekali untuk dapat memuliakan kepada tamu sanak famili agar sudi  berkunjung  dan akan  menyambut tamu dengan penuh hormat.

(2) يوْمُ الْحَلَالِ= Hari dilonggarkan apa yang dalam puasa dilarang menjadi halal

Hari Raya Idul Fitri merupakan hari kebebasan kaum muslimin dari larangan-larangan melakukan sesuatu yang membatalkan puasa. Bulan Syawal kita tidak wajib berpuasa, tetapi  hanya sunat berpuasa Syawal 6 hari atau puasa-puasa sunat yang lain.

(3) يَوْمُ الْغُفْرَانِ وَالْعَفْوِ= Hari puro-ingapuro, saling maaf memaafkan atas segala kesalahan

Hari Raya Idul Fitri juga merupakan hari penuh  maaf, bahkan satu sama lain saling bermaaf-maafan. Hari –hari  di bulan Syawal ini merupakan suatu hari yang sangat bahagia terutama  bagi mereka yang lebih tua usia atau dituakan karena kedudukannya. Yang lebih muda atau yang disamakan padanya sowan-sowan kepada yang lebih tua untuk menghaturkan punjung: Ngaturaken sembah pangabekti kawulo dumateng panjenengan, sedhoyo kalepatan nyuwun gunging sih pangapunten, lan nyuwun dongo pangestu. Yang tua memanjatkan doa semoga selamat sejahtera bahagia pada anak cucu sanak keluarga semua.

(4) يَوْمُ الصِّلَّةِِِ بَيْنَ الْاِخْوَانِ Hari nyambung sih, nggathukkake balung pisah antar sanak saudara

Bagi mereka yang mempunyai kelebihan kesempatan, waktu dan kelonggaran, maka hari raya Idul Fitri  merupakan suatu kesempatan yang paling indah dapat mengunjungi sanak keluarga, yang lama tak bersua. Sehingga dengan demikian sempat kunjung-mengunjung sebagai tamu, menumpahkan isi hati dan uneg-uneg yang mengganjal dalam hati dengan demikian maka terjalinlah hubungan  yang lebih mesra lagi, mungkin  sebelumnya terjadi konsleteng yang cukup serius.

(5) يَوْمُ الطَّيِّبِ وَالطَّهْرِ= Hari berseri muka bersih dan hati nan suci.

Hari Raya Idul Fitri juga merupakan hari  penuh  ceria, semua kita menyempatkan diri memanfaatkan waktu untuk berhias dan berdandan dengan pakaian yang indah-indah dengan model-model yang paling ngetren mutaakhir. Sebagian lagi memanfaatkan pakaian yang  lama jarang  keluar, pakaian yang hanya dipertontonkan di hari-hari yang istimewa seperti ini.

(6) يَيَوْمُ الزِّيْنَةِ= Hari  yang sangat indah, sesudah tirakat dan menahan  hawa nafsu& segala derita

Hari Rya ini pula merupakan hari untuk mempersaksikan hiasan dan perhiasan yang sejak dulu tidak diperbaiki, sekarang semua berusaha untuk  menghias rumah dan peralatan rumah yang indah mempesona.

(7) يَوْمُ الْفَرَحِ وَالسُّرَوْرِ Hari gembira muka yang cerah  pandangan yang penuh optimis

Pokoknya Raya hari ini adalah hari  yang cerah wajah ceria penuh gembira, sebagai hari yang sukses berhasil melewati ujian-ujian terutama ujian mental.

(8) يَيَوْمُ الْاِخْبَارِ وَالْاِسْتِخْبَارِ Hari saling kabar mengabarkan

Jaman kita masih berada di tahun-tahun 1946 hari raya Bodho Syawal itu dirayakan sampai 7 hari lamanya dengan cara melakukan sejarah (ziarah) atau sowan-sowan tidak terbatas hanya keluarga sendiri saja tetapi  semua orang yang dianggap sebagai orang tua baik dari segi kedudukan maupun dari segi umur.  Yang jelas  banyak keluarga atau sanak famili  itu yang datang dari kota-kota atau daerah yang sangat jauh. Sehingga kedatangannya itu sendiri sudah merupakan suatu kesempatan yang sangat penting. Dan yang lebih penting lagi ialah  dalam silaturrahmi itu timbul tanya jawab kabar kinabaran kulak werto adol keprungon, bagaimana situasi dan kondisi di masing-masing tempat atau kota .

(9) . َيوْمُ الشُّوْرَي Hari Raya  adalah hari REUNI  DAN   SILATURRAHMI  Keluarga Besar anak cucu dari suatu trah atau suatu wangsa satu orang nenek moyang. Senada dengan keluarga-keluarga besar di tempat lain hari-hari ini mereka juga banyak yang membuat upacara Reuni yang disebut TRAH mengumpulkan anggota keluarga yang sak gotrah, memlihara dan mempertahankan trahing kusumo, rembessing madu bagi keluarga ningrat dan bangsawan dari suatu suku bangsa.

Dalam Reuni ini bisa dirembug apa saja yang menjadi kepentingan bersama anggota  keluarga besar, anak dari keturunan keluarga besar. Maka hari raya ini disebut dengan hari penuh musyawarah.

Semua ini Insya Allah   tercakup dalam firman Allah dalam Al-Quran dan hadis terurai  di atas.

Silahkan buka internet situs : http://pondoquranhadis.wordpress.com

Kirimkan naskah ke Email::pondokilmu7@gmail.com-Tlp:0318963843

—===ooo0ooo===-


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: