Oleh: pondokquranhadis | Oktober 3, 2010

TIDAK TERPILIH

010-10-3                                                                         Tafsir Tematis  Kontemporer

Tidak terpilih

(Imam  Muchlas)

Pengantar

Dalam perlombaan hidup terjadi persaingan, adu kekuatan, perebutan pengaruh, perebutan pasar, perlombaan  mana sasaran yang dipilih orang paling banyak, apa dan bagaimana mutu yang dipilih orang banyak. Lebih tinggi lagi siapa  calon pemimpin yang akan dipilih oleh pemilih yang paling banyak, dalam bidang ekskutip, yudikatip ataupun legislatip, mulai dari peringkat terbawah sampai tingkat paling tinggi.

Ternyata pilihan itu sangat tergantung oleh  situasi dan kondisi para pemilih, sangat terikat oleh kelompok masyarakat yang memilih, sangat terkait dengan bendera yang diunggulkan oleh orang banyak.  Tetapi bagaimanapun  jiwa masyarakat pemilih itu bermacam-macam selera dan faham alirannya, tetapi  secara universal seluruh umat manusia itu mempunyai kebutuhan yang sama yang disebut Human Needs, kebutuhan hidup secara universal, singkatnya sandang pangan papan, kesehatan, keselamatan dari bahaya dan sakit serta kebutuhan hidup yang lebih tinggi, senang, aman, damai, tertib, teratur, bahagia.

Oleh karena itu bagamanapun kecilnya jumlah tetapi jika nilai jasa dan karya memenuhi  kebutuhan hidup yang universal , Human needs ini  pasti akan laku dijual bahkan laris dipilih pembeli atau pemilih yang paling banyak, walaupun pemilih itu  kumpulan penjahat sekalipun.

Maka dari itu  jika gambar yang ditampakkan keluar,   slogan, sandiworo, atau dagelan yang digembar-gemborkan katanya baik tetapi hatinya jahat, maka dalam  perlombaan  jual menjual akhirnya  tidak juga laku keras, atau bahkan tidak ada yang membeli.

Di bawah ini  kita coba  bagaimana Islam mengatur  jual beli, pilih memilih kebutuhan hidup  manusia yang bermacam-macam sifat dan seleranya itu sebagai berikut: Allah berfirman:

إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْقُرْءَانِ وَمَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُمْ بِهِ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ(111)التَّائِبُونَ الْعَابِدُونَ الْحَامِدُونَ السَّائِحُونَ الرَّاكِعُونَ السَّاجِدُونَ الْآمِرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّاهُونَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَالْحَافِظُونَ لِحُدُودِ اللَّهِ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ(112))(التوبة 111112)

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar. Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang memuji (Allah), yang melawat, yang ruku`, yang sujud, yang menyuruh berbuat ma`ruf dan mencegah berbuat mungkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan gembirakanlah orang-orang mu’min itu “(S.9 At-Taubat 111-112).

Tema dan sari tilawah

1. Allah membeli diri-diri dan harta orang beriman dibayar dengan surga yang paling indah.

2. Dagangan yang dibeli oleh  Allah dari orang beriman ialah semangat  Jihad fi Sabilillah mereka

3. Setandar harga ini sudah ditetapkan Allah dan ditulis dalam kitab Allah Taurat, Injil    dan  al-Quran.

4. Maka dari itu kobarkan semangat jihad orang beriman untuk mempertinggi  harga jual itu.

5.  Barang siapa  berjihad   mempertinggi mutu dagangan mereka dengan perjuangannya maka dia akan sukses besar dan bahagia.

Masalah dan analisa jawaban

1. Bagaimana gambaran  surga itu  dalam hidup di dunia sekarang? Jawaban: Surga dunia dapat kita rasakan berupa, hidup bahagia,masyarakat sejahtera aman damai, kehidupan yang adil makmur menurut hukum Allah.

2. Bagaimanakah cara mempertinggi harga jual  kita agar dagangan kita laku  dijual mahal kepada Allah?  Jalan untuk mengejar harga jual supaya lebih mahal ialah  berjuang di dunia ini dengan maksimal sepenuh kemampuan kita memperjuangkan agama Allah kepada seluruh umat manusia.

3. Bagaimana jika dagangan kita tidak laku atau dibeli dengan harga murah? Jika dagangan kita tidak laku atau dihargai murah, maka kita harus berusaha keras  maksimalisasi Jihad   fi Sabilillah berjuang menjunjung tinggi agama Allah lebih sungguh-sungguh lagi kemudian tawakkal menyerah sepenuhnya kepada Allah.

Pendalaman dan penelitian

BAB  SATU

Jihad  dalam Islam

Masalah ke-1: Bagaimana gambaran  surga itu  dalam hidup di dunia sekarang? Jawaban: Surga dunia dapat kita rasakan berupa hidup bahagia, masyarakat sejahtera aman damai, kehidupan yang adil makmur menurut Hukum Allah.            Cita-cita hidup yang sejahtera-bahagia, masyarakat aman damai, adil makmur menurut Hukum Allah inilah yang dinamakan Jihad fi Sabilillah.

Hidup yang penuh nikmat bahagia menurut Hukum Allah,  ialah kehidupan sesuai dengan firman di dalam Al-Quran berikut:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ ( الاعراف 96)

Artinya: “Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya”(S.7 Al-A’raf 96)

Kunci kesejahteraan dan kebahagiaan hidup di dunia ialah Imtaq (Iman dan Taqwa) yang dapat kita spekulasikan sebagai berikut:

(1) Iman meliputi rukun iman yang 6 dilengkapi dengan rukun Islam yang 5. Rukun Iman:  ialah: Percaya kepada Allah, Malaikat, Kitab, Rasul, Hari Kiamat, Qadha`-Qadar. Rukun Iman harus dibuktikan dengan perbuatan yang intinya disusun dalam 5 Rukun Islam yaitu: Syahadat, Shalat, Zakat, Puasa, Haji, Hukum –hukum Mu’amalat,  dan Jinayat.

(2) Taqwa menurut Ar-Raghib (tth:569) asal dari  lafal Al-Wiqayah artinya menjaga diri dari derita atau sesuatu yang menyakitkan  dan menjauhkan diri dari noda dan dosa kepada Allah. Jika pengertian ini kita kembangkan dapat  menjadi Iptek yang konskwensi artinya ialah sangat berhati-hati jangan membuat bencana, yang menyakitkan diri sendiri lebih-lebih kepada  orang lain  bahkan arti Taqwa itu ialah sangat takut berbuat salah kepada siapa saja   dan takut berbuat dosa kepada Allah. Takut berbuat salah sama dengan berlaku yang benar dapat disingkat menjadi IPTEK (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi) sebagai hasil penelitian ilmiah, yang sudah diuji para pakar perguruan tinggi, mencakup seluruh cabang disiplin ilmu,  ilmu-ilmu sosial, eksakta dan humaniora. Sesuatu itu benar jika lulus dalam ujian alami diakui benar oleh semua orang segala jaman, seluruh tempat di dunia. Sedangkan takut berbuat dosa artinya berbuat dalam seluruh  gerak-gerik hidup yang mendapat ridho Allah, yaitu selamat dari murka Allah. Sehingga taqwa itu ialah membuat diri menjadi sumber amal soleh, semua perbuatannya sangat menyenangkan sesama makhluk hidup,  betul-betul takut menyakitkan hati orang lain siapa saja dimanapun berada  dan kapanpun juga.

Setiap hari kita selalu berdo’a memohon hidayah Allah, yaitu  jalannya orang-orang yang sudah diberi nikmat oleh Allah jangan sampai terjebak makin tersesat ke jalannya orang yang dimurkai Allah.

Sebetulnya tidak bisa dipisahkan antara cara mencari kebahagiaan dunia dan kebahagiaan akhirat itu, sebab tempat mencari kebagaiaan di akhirat itu ialah sekarang ini ketika kita hidup di dunia. Maka jalan mencari kebahagaiaan hidup di dunia itu sekaligus juga menjadi jalan untuk mencari kebahagiaan di akhirat. Hukum yang dapat diangkat sebagai hukum yang universal  berlaku atas seluruh umat manusia dimana saja dan kapanpunn juga yaitu ajaran para nabi sejak Nabi Adam sampai Khatamul Anbiya` wal Mursalin Muhammad saw., namun untuk lebih mudahnya  kita ambil saja 10 Hukum dalam  Taurat, Injil   Al-Quran. Di dalam Bibel kaum Nasrani tertulis “Sepuluh Perintah Tuhan” Bibel Kitab Keluaran 20 ayat 1-17  disebut Allah   dalam Al-Quran maupun  oleh Nabi Saw, dalam hadis  sbb:

وَلَقَدْ ءَاتَيْنَا مُوسَى تِسْعَ ءَايَاتٍ بَيِّنَاتٍ فَاسْأَلْ بَنِي إِسْرَائِيلَ إِذْ جَاءَهُمْ فَقَالَ لَهُ فِرْعَوْنُ إِنِّي   لَأَظُنُّكَ يَامُوسَى مَسْحُورًا(الاسراء 101  )

Artinya: “Dan sesungguhnya Kami telah memberikan kepada Musa sembilan buah mu`jizat yang nyata, maka tanyakanlah kepada Bani Israil, tatkala Musa datang kepada mereka lalu Fir`aun berkata kepadanya: “Sesungguhnya aku sangka kamu, hai Musa, seorang yang kena sihir” (S.17 Al-Isra` 101)

Dalam hal ini  ketika Rasulullah Saw  ditanya oleh kaum Yahudi beliau bersabda  tercatat sebagai berikut:

عَنْ صَفْوَانَ بْنِ عَسَّالٍ أَنَّ يَهُودِيَّيْنِ  أَتَيَا النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَأَلَاهُ عَنْ قَوْلِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ ( وَلَقَدْ آتَيْنَا مُوسَى تِسْعَ آيَاتٍ بَيِّنَاتٍ ) فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ(1) لَا تُشْرِكُوا بِاللَّهِ شَيْئًا(2) وَلَا تَزْنُوا (3)وَلَا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ(4) وَلَا تَسْرِقُوا (5)وَلَا تَسْحَرُوا(6) وَلَا تَمْشُوا بِبَرِيءٍ إِلَى سُلْطَانٍ فَيَقْتُلَهُ(7) وَلَا تَأْكُلُوا الرِّبَا (8)وَلَا تَقْذِفُوا مُحْصَنَةً(9) وَلَا تَفِرُّوا مِنَ الزَّحْفِ شَكَّ شُعْبَةُ (10) وَعَلَيْكُمْ يَا مَعْشَرَ الْيَهُودِ خَاصَّةً لَا تَعْدُوا فِي السَّبْتِ فَقَبَّلَا يَدَيْهِ وَرِجْلَيْهِ وَقَالَا نَشْهَدُ أَنَّكَ نَبِيٌّ قَالَ فَمَا يَمْنَعُكُمَا أَنْ تُسْلِمَا قَالَا إِنَّ دَاوُدَ دَعَا اللَّهَ أَنْ لَا يَزَالَ فِي ذُرِّيَّتِهِ نَبِيٌّ وَإِنَّا نَخَافُ إِنْ أَسْلَمْنَا أَنْ تَقْتُلَنَا الْيَهُودُهَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ (رواه الترمذي3069 والنسائ 4010)

Artinya

: “Dari Shafwan ibnu ’Assal bahwa  ada dua orang Yahudi yang seorang berbisik kepada rekannya:  “Mari kita menghampiri  Nabi ini mempertanyakan soal 9 ayat (dalam Al-Quran S.17 Al-Isra` 101); Kemudian keduanya mendekati Nabi Muhammad Saw. bersama-sama mempertanyakan bagaimana makna dari 9 ayat dimaksud. Maka beliau menjawab: “ Yang dimaksud dengan 9 ayat (dalam QS 17 Al-Isra` 101) itu ialah:(1)Betul-betul jangan kamu musyrik; (2) Jangan kamu  berzina (3)  Jangan kamu membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah, kecuali di fihak yang benar; (4) Jangan kamu mencuri;; (5) Jangan kamu berbuat sihir; (6) Janang kamu membawa seseorang yang bersih kepada penguasa untuk dibunuh; (7) Jangan kamu memakan  riba; (8) Jangan kamu menuduh zina perempuan terhormat;(9)Jangan kamu melarikan diri dari perang sabil; (10)Khuusus untuk kaum Yahudi wajib mentaati ibadah hari Sabtu.  Maka kedua orang Yahudi ini lalu mencium tangan Rasulullah Saw dan sujud pada kaki beliau kemudian keduanya  menyatakan: “Kami bersaksi bahwa tuan adalah Nabi . Beliau bertanya: “Apa yang menghalangi anda untuk masuk Islam?” Mereka menjawab bahwa Nabi Dawud berdo’a jangan ada nabi diluar anak keturunan Dawud. Dan jika kami masuk Islam kami takut dibunuh oleh kaum Yahudi (HR At-Turmudzi no.3069 dan Nasai no.4010).

Jadi yang dimaksud dengan  9 ayat dalam Al-Quran Al-Isra` 101 Hadis Rasul Saw, dan Taurat serta Injil itu ialah:

(1)Larangan syirk, menyembah makhluk, materi, manusia dll. (2) Larangan berzina.

(3) Larangan membunuh orang tanpa hak.

(4) Larangan mencuri

(5) Larangan berbuat sihir.

(6) Larangan membuat rekayasa jahat terhadap orang yang bersih tidak bersalah.

(7) Larangan makan riba.

(8) Larangan menuduh zina orang yang baik-baik.

(9) Larangan melarikan diri dari perjuangan atau Perang Sabil.

(10) Khusus bagi kaum Yahudi larangan meninggalkan ibadah hari Sabtu. (No.10 tidak berlaku bagi umat Muhammad Saw.).

Dari sisi lain Al-Quran s2a177 menentukan pengertian  baik itu ialah watak dan sikap sbb:

(1) Beriman kepada Allah, Hari Akhir, Malaikat, Kitab-suci, Nabi.

(2) Memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang yang meminta-minta serta  memerdekakan  hamba sahaya,

(3) Mendirikan salat dan menunaikan zakat;

(4) Menepati janji apabila berjanji,

(5) Sabar-militan dalam kesempitan, dalam penderitaan dan dalam perjuangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.

Singkatnya kebahagiaan hidup di dunia harus dapat dicapai melalui dasar iman dan taqwa sesuai tuntunan Al-Quran S.7 Al-A’raf 96 di atas.

Selama manusia beriman dan bertaqwa mereka akan mendapat rahmat barokah kebahagiaan, tetapi manusia yang kafir maka  akan mendapat azab Allah

#Tafsir Ath-Thabari (12h268) menyatakan bahwa siapa yang istiqamah dalam Islam dan kebenaran maka Allah akan menganugerahkan air yang banyak, keluasan rejeki, kemakmuran yang melimpah sesuai dengan Al-Quran s5a66 dan s7a96).

#Tafsir Ibnu Katsir (2h312) dalam menganalisa Al-Quran s7a96-99 mencatat bahwa barang siapa istiqamah, tekun, sportip, disiplin, kontinu berpegang teguh kepada thariqat Allah agama Islam, Kitab suci, Kebenaran, maka Allah akan menganugerahkan kepada mereka kesejahteraan, rejeki yang melimpah mengingat Al-Quran s5a66 terkait dengan s7a96 tersebut.

@ Adapun mereka yang menyimpang dari Thariqat Allah, jika mereka menikmati kekayaan keduniaan maka namanya Istidraj (Di los=Jowo) dimanjakan lalu disiksa seperti yang termaktub dalam Al-Quran  s6a44 dan s23a54-56:

Artinya: “Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa “(S.6 Al-An’am 44).

Artinya: “Maka biarkanlah mereka dalam kesesatannya sampai suatu waktu. Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka itu (berarti bahwa), Kami bersegera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? Tidak, sebenarnya mereka tidak sadar(S,23 Al-Mu`minun 54-56).

#     Tafsir Ibnu Katsir (4h553) dalam menganalisa Al-Quran s72 a11-17 mencatat sbb:

Artinya: “Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang saleh dan di antara kami ada (pula) yang tidak demikian halnya. Adalah kami menempuh jalan yang berbeda-beda”(S.72 Al-Jinn 11). “Dan bahwasanya: jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezki yang banyak)(S.72 Al-Jinn 16).

Barang siapa istiqamah, tekun, sportip, disiplin, kontinu berpegang teguh kepada thariqat (Islam, Kitab suci, Kebenaran) Allah akan menganugerahkan kesejahteraan, rejeki yang melimpah (Qs5a66) terkait dengan s7a96.

#Tafsir Ad-Durr (3h505) dalam menganalisa Al-Quean  s7a59-61 mencatat sbb: bahwa jika mereka bertaqwa, yaitu takut kepada yang haram, maka Allah akan menganugerahkan rejeki dari langit dan dari bumi (Qs7a96).

#      Kitab Fatawa Ibnu Taimiyah (16h54( dalam menganalisa  Al-Quran s11a1 mrncatat sebagai berikut:

كِتَابٌ أُحْكِمَتْ ءَايَاتُهُ ثُمَّ فُصِّلَتْ مِنْ لَدُنْ حَكِيمٍ خَبِيرٍ( 1)

dikaitkan dengan s72a16, s7a96, s5a66, s42a30, s119, s4a79, s6a42 menyatakan bahwa barang siapa yang tekun, disiplin, kontinu tetap mempertahankan diri dalam thariqat Allah pasti Allah akan menganugerahkan kenikmatan kepada mereka dari segala arah.

BAB  DUA

Maksimalisasi Perjuangan

Masalah ke-2.  Bagaimanakah cara mempertinggi harga jual  kita agar barang dagangan kita laku  dijual mahal kepada Allah?  Jalan untuk mengejar harga jual supaya lebih mahal ialah  berjuang di dunia ini dengan maksimal sepenuhnya kemampuan kita memperjuangkan agama Allah untuk  kemanusiaan sesuai dengan ajaran semua nabi dan rasul utusan Allah.

Kita  dapat merenungkan bagaimana semangat jihad kaum muslimin di jaman  awal  yang ditulis dengan tinta emas oleh para ulama dalam kitab mereka ketika menfasirkan Al-Quran s9a81-92 berikut:

لَيْسَ عَلَى الضُّعَفَاءِ وَلَا عَلَى الْمَرْضَى وَلَا عَلَى الَّذِينَ لَا يَجِدُونَ مَا يُنْفِقُونَ حَرَجٌ إِذَا نَصَحُوا لِلَّهِ وَرَسُولِهِ مَا عَلَى الْمُحْسِنِينَ مِنْ سَبِيلٍ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ()وَلَا عَلَى الَّذِينَ إِذَا مَا أَتَوْكَ لِتَحْمِلَهُمْ قُلْتَ لَا أَجِدُ مَا أَحْمِلُكُمْ عَلَيْهِ تَوَلَّوْا وَأَعْيُنُهُمْ تَفِيضُ مِنَ الدَّمْعِ حَزَنًا أَلَّا يَجِدُوا مَا يُنْفِقُونَ (التوبة 91-92)

Artinya:

Tiada dosa (lantaran tidak pergi berjihad) atas orang-orang yang lemah, atas orang-orang yang sakit dan atas orang-orang yang tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan, apabila mereka berlaku ikhlas kepada Allah dan Rasul-Nya. Tidak ada jalan sedikitpun untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, dan tiada (pula dosa) atas orang-orang yang apabila mereka datang kepadamu, supaya kamu memberi mereka kendaraan, lalu kamu berkata: “Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu”, lalu mereka kembali, sedang mata mereka bercucuran air mata karena kesedihan, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan”(S.9 At-Taubat 91-92 ).

Kitab Al-Mausu’atul Fiqhiyah (2h1057) menyatakan bahwa Jihad itu ialah maksimalisasi pengerahan daya upaya untuk menjunjung tinggi agama Allah dan giat konfrontasi melawan musuh Allah.

Jihad secara Syar’i ialah perang melawan orang kafir namun lebih rincinya Jihad sebenarnya  lebih luas dari pada Perang Sabil . Ibnul Qayyim menyatakan bahwa Jihad itu fardhu ‘Ain melalui hati, lisan, harta, tangan. Dan Jihad yang paling berat ialah Jihad melawan hawa nafsu, melawan setan dan orang fasiq.  Jihad melawan setan ialah perang melawan godaan setan untuk ini jihad  dilakukan dengan kekerasan, dengan harta, dengan lisan dan  dengan hati.

Jihad dalam arti Perang Sabil hukumnya Fardhu Kifayah, artinya kewajiban itu jika sudah ada orang yang melaksanakannya maka orang lain tidak berdosa jika tidak ikut melaksanakannnya. Tetapi jika sama sekali tidak ada orang yang melaksanakan kewajiban itu maka semua orang menanggung dosa dan azab Allah. Lebih-lebih  jika musuh sudah datang maka  haram orang Islam melarikan diri, jika mereka melarikan diri  sebab  negeri mereka  akan dikuasai oleh  musuh Allah.

Ibnu Taimiyah menyatakan bahwa sebelum Perang Sabil maka orang Islam wajib melakukan dakwah lengkap dengan  metodologinya  dan dengan dalil yang rasional, logis dan   usaha apapun yang mungkin.

Allah membuat syari’at Jihad untuk mensucikan ajaran Tauhid-monoteisme dari ajaran  menyembah patung  berhala (politeisme), melawan kaum kafir, melawan kezaliman dan  perampasan hak.

Menurut Ibnu Taimiyah Jihad dimulai dengan dakwah Islam sebab Perang Sabil itu tujuannya ialah memerangi kekufuran dan kemusyrikan untuk  mentaati agama  Allah, jika target tujuan ini sudah  terpenuhi maka tidak ada Perang Sabil dan dengan  hukum Wajib Kifayah maka hukum ini dikalahkan oleh  wajib ‘Ain  artinya yang wajib ‘Ain harus dimenangkan  lebih dahulu.

Dalam perang Sabil maka pasukan Islam diharamkan  membunuh anak-anak, orang perempuan, pendeta, orang tua, orang jompo,  orang sakit, orang buta. Kepada mereka ini tidak boleh dipungut jizyah  sebagai permohonan perlindungan hukum oleh orang-orang yang  tidak  mau  masuk Islam.

Az-Zuhaili dalam Al-Fiqhul Islami (1989:J6h413) menjelaskan bahwa       Jihad fi Sabilillah hukumnya wajib atas orang yang beragama Islam, siapa yang tidak mentaatinya akan menderita, terhina dan dikuasai oleh musuh Islam serta azab dari Allah. Hal ini dapat ditelusuri dalam Al-Quran banyak ayat dalam  banyak surat seperti firnan Allah berikut:

وَمَا لَكُمْ لَا تُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ وَالْوِلْدَانِ الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَخْرِجْنَا مِنْ هَذِهِ الْقَرْيَةِ الظَّالِمِ أَهْلُهَا وَاجْعَل لَنَا مِنْ لَدُنْكَ وَلِيًّا وَاجْعَل لَنَا مِنْ لَدُنْكَ نَصِيرًا(75)الَّذِينَ ءَامَنُوا يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ كَفَرُوا يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ الطَّاغُوتِ فَقَاتِلُوا أَوْلِيَاءَ الشَّيْطَانِ إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا( النساء7576)

Artinya: “Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdo`a: “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekah) yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau! Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu, karena sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah”(S.4 An-Nisa` 75-76).

Dan ada 3 faktor yang dapat menetapkan Jihad menjadi wajib ‘Ain  yaitu: (1) Pertempuran dengan musuh sudah berkobar, maka semua warga wajib melawan musuh (Qs8a45). (2) Jika musuh  sudah masuk ke negeri muslim maka seluruh orang Islam wajib melawan musuh itu. (3) Perintah komando perang oleh pimpinan pemerintahan Islam (Qs9a38) maka umat wajib mentaati perintah ini.

Para ulama membuat syarat atas  orang yang wajib maju perang sabil, yaitu: (1) Islam; (2) Baligh; (3) Berakal; (4) Merdeka; (5) Laki-laki; (6) Mempunyai bekal; (7) Tidak ada alasan yang kuat  (‘udzur) untuk tidak berangkat.    Sebaliknya ada 10 alasan tidak wajibnya seseorang maju perang,  yaitu: (1) Buta; (2)  Pincang; (3) Sakit; (4)  Sakit kronis; (5)tTua bangka; (6) Lemah; (7) Melarat; (8) Anak-anak; (9) Wanita; (10)Budak belian.

Penulis Kutubul Fiqh (7h1) mencatat bahwa karena  terlalu pentingnya Jihad maka sebagian ulama memasukkan Jihad sebagai rukun Islam yang ke-6 bukan hanya 5, dasarnya ialah firman Allah Al-Quran s2a216, s9a111, s8a45, s9a38, s459  dan hadis berikut dan hadis-hadis lainnya:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ مَاتَ وَلَمْ يَغْزُ وَلَمْ يُحَدِّثْ بِهِ نَفْسَهُ مَاتَ عَلَى شُعْبَةٍ مِنْ نِفَاقٍ (رواه مسلم 3533)

Artinya: “Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Saw. bersabda: “Barang siapa mati tidak berperang sabil dan dirinya tidak berbicara soal ini maka matinya mati fasiq”(HR Muslim no.3533).

Jihad merupakan amal yang paling tinggi nilainya dan paling mahal  di hadapan Allah dicatat dalam hadis Rasulullah Saw  dalam  Shahih Bukhari no.2578, no25, no.118-no.2574  Muslim no.3501, no.120, Ahmad no.16413. Dalam  hadis-hadis ini Jihad dinilai sebagai amal yang paling afdhol

أَنَّ أَبَا سَعِيدٍ الْخُدْرِيَّ رَضِي اللَّهم عَنْهم  قَالَ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ النَّاسِ أَفْضَلُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُؤْمِنٌ يُجَاهِدُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ قَالُوا ثُمَّ مَنْ قَالَ مُؤْمِنٌ فِي شِعْبٍ مِنَ الشِّعَابِ يَتَّقِي اللَّهَ وَيَدَعُ النَّاسَ مِنْ شَرِّهِ (رواه البخاري 2578 ومسلم 3501)

Artinya: “Sungguh Abu S’id r.a  berkata: “Ditanyakan kepada Rasulullah Saw.:”Siapakah manusia yang paling afdhol? Beliau bersabda: “Orang mu’min yang berjihad fi Sabilillah dengan jiwa dan hartanya” Mereka bertanya: “Kemudian siapa lagi? Beliau  menjawab: “Orang mu’min yang  hidup bermasyarakat dalam kelompoknya bertaqwa kepada Allah dan menjauhi kejahatan kepada orang banyak”(HR Bukhari 2578, Muslim 3501).

~Kitab Fatawa-Ibnu Taimiyah (J7h5) menukil hadis tentang amal yang  termasuk  sangat afdhol ialah Jihad fi Sabilillah, yaitu:

عَنْ عَمْرِو بْنِ عَبَسَةَ قَالَ قَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الْإِسْلَامُ قَالَ أَنْ يُسْلِمَ قَلْبُكَ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَأَنْ يَسْلَمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِكَ وَيَدِكَ قَالَ فَأَيُّ الْإِسْلَامِ أَفْضَلُ قَالَ الْإِيمَانُ قَالَ وَمَا الْإِيمَانُ قَالَ تُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْبَعْثِ بَعْدَ الْمَوْتِ قَالَ فَأَيُّ الْإِيمَانِ أَفْضَلُ قَالَ الْهِجْرَةُ قَالَ فَمَا الْهِجْرَةُ قَالَ تَهْجُرُ السُّوءَ قَالَ فَأَيُّ الْهِجْرَةِ أَفْضَلُ قَالَ الْجِهَادُ قَالَ وَمَا الْجِهَادُ قَالَ أَنْ تُقَاتِلَ الْكُفَّارَ إِذَا لَقِيتَهُمْ قَالَ فَأَيُّ الْجِهَادِ أَفْضَلُ قَالَ مَنْ عُقِرَ جَوَادُهُ وَأُهْرِيقَ دَمُهُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ عَمَلَانِ هُمَا أَفْضَلُ الْأَعْمَالِ إِلَّا مَنْ عَمِلَ بِمِثْلِهِمَا حَجَّةٌ مَبْرُورَةٌ أَوْ عُمْرَةٌ (رواه احمد16413)

Artinya: “Dari ‘Amr bin ‘Abasah bahwa seseorang bertanya: “Ya Rasulullah apakah Islam itu?   Beliau bersabda: “Islam ialah hatimu menyerah kepada Allah ‘Azza wa Jalla, lidah dan tanganmu membawa keselamatan kepada orang Islam” Dia bertanya: “Yang bagaimanakah Islam yang afdhol itu? Beliau menjawab: “IMAN” Dia bertanya Apakah iman itu? Beliau menjawab: “” Percaya kepada Allah, Malaikat, Kitab, Rasul dan hari kebangkitan sesudah mati” Dia bertanya lagi: “Yang bagaimanakah iman yang paling afdhol? Beliau menjawab: “Hijrah” Dia bertanya: “Apakah hijrah itu? Beliau menjawab: “Hendaklah kamu meninggalkan kejahatan” Dia bertanya: “Hijrah yang bagaimanakah hijrah yang afdhol itu? Beliau menjawab: “Jihad” Dia bertanya: Apakah jihad itu? Beliau menjawab: “Jihad itu ialah “Berjuang, menyerang orang kafir jika kamu ketemu”Dia bertanya: “Jihad yang mana yang paling afdhol? Beliau menjawab: “Jihad yang paling afdhol ialah jihad yang kedermawanannya tercurah dan juga tercurah darahnya”   Kemudian Rasulullah Saw. bersabda: “Ada dua amalan yang paling afdhol, kecuali jika ada yang menyamainya, yaitu haji mabrur atau ‘umrah” (HR Ahmad no.16413)(Lihat juga Al-Fatwa-Ibnu Taimiyah: Juz7,halaman 5).

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ أَيُّ الْعَمَلِ أَفْضَلُ فَقَالَ إِيمَانٌ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ قِيلَ ثُمَّ مَاذَا قَالَ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ قِيلَ ثُمَّ مَاذَا قَالَ حَجٌّ مَبْرُورٌ (رواه البخاري25 ومسلم 118)

Artinya: “Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Saw. ditanya: “Manakah amal yang paling afdhol? Beliau menjawab: “Beriman kepada Allah dan Rasul-Nya” Beliau ditanya lagi: “Kemudian yang mana ? Beliau menjawab: “Jihad fi Sabilillah” Beliau ditanya lagi: “Kemudian yang mana? Beliau menjawab: “Haji mabrur”(HR Bukhari no.25, Muslim no118).

عَنْ أَبِي عَمْرٍو الشَّيْبَانِيِّ قَالَ قَالَ عَبْدُاللَّهِ بْنُ مَسْعُودٍ رَضِي اللَّهم عَنْهم سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ الْعَمَلِ أَفْضَلُ قَالَ الصَّلَاةُ عَلَى مِيقَاتِهَا قُلْتُ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ ثُمَّ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ قُلْتُ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَسَكَتُّ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَوِ اسْتَزَدْتُهُ لَزَادَنِي (رواه البخاري2574 ومسلم120)

Artinya: “Dari Abu ‘Amr Asy-Syaibani bahwa ‘Abullah bin bin Mas’ud RA bertanya kepada Rasulullah Saw.:  “Ya Rasulullah amal yang manakah yang paling afdhol? Beliau menjawab: “Shalat pada waktunya” Aku bertanya: “Kemudian apa? Beliau menjawab: “Berbakti kepada kedua orang tua” Lalu bertanya: “Selanjutnya mana? Beliau menjawab: “Jihad fi Sabilillah” Maka aku berdiam tidak bertanya lagi kepada Rasulullah Saw. jika aku meminta tambah pasti beliau menambahi aku lagi”(HR. Bukhari no. 2574, Muslim no.120).

@ Tafsir Ar-Razi (5h347) mengambil Al-Quran S.4 An-Nisa` 95-96 sebagai janji Allah bahwa amal yang paling afdhol ialah Jihad fi Sabilillah. Di halaman lain (8h155) Ar-Razi mengambil S.9 At-Taubat 111 sebagai janji Allah kepada mereka yang giat Jihad fi Sabilillah, dengan mengutip kisah 70 orang sahabat yang dahulu ikut Bai’atul ‘Aqabah.

——————————————————————————————————–

Nb. Keterangan: Kitab Shahih Muslim (4h2120) meriwayatkan  bahwa Bai’atul ‘Aqabah itu 2 kali, yang pertama dikiuti oleh 12 orang sahabat yang ke-2 diikuti oleh 70 orang sahabat semua dari golongan Anshar mereka bersumpah setia akan menolong dan membela mati-matian Rasulullah Saw. Hadis ini juga  diriwayatkan oleh Bukhari no.4066 .

—————————————————————————————-

Ada sejumlah 10 orang yang yang tidak memenuhi persyaratan hukum wajib jihad, sehingga mereka ini tidak wajib berangkat Jihad bahkan dalam perang Sabil mereka ini haram dibunuh,  yaitu orang-orang yang lemah, anak-anak, orang sakit, orang cacat, orang tua.

Pertanyaannya ialah: Bagaimana caranya orang Islam yang termasuk lemah, miskin, sakit atau  buta  yang  sangat ingin sekali dapat memperoleh derajat yang sangat tinggi disisi Allah seperti mereka yang dapat ikut Jihad fi Sabilillah?

Orang-orang   yang tidak bisa  ikut  Perang Sabil, tetapi mereka ini sangat ingin sekali untuk mendapat   derajat yang sangat tinggi nilainya disisi Allah,   ikhtiar agar supaya  mereka ini dapat memperoleh  pahala yang dijanjikan Allah  itu,  maka mereka  itu harus berusaha keras dan maksimal mengerahkan daya kemampuan dirinya untuk melakukan  amal usaha yang mungkin dikerjakan dengan daya  yang kesungguhannya jika  diukur  sama dengan apa yang dibuktikan  oleh 7 orang sahabat yang diabadikan oleh Al-Quran dalam S.9 At-Taubat 92 yang dikaitkan dengan Riwayat Sabab Nuzulnya dicatat oleh para ulama terurai di alinea berikut.

Dan Insya Allah yang disebut Jihad ialah menumpahkan  segala daya kemampuan seperti  yang dikatakan oleh  Ibnul Qayyim di atas bahwa menumpahkan daya kemampuan dengan  hati, lisan, harta atau badan jasmani. Jika seseorang tidak sungguh-sungguh tidak maksimal dalam  usahanya maka  tidak dapat dinamakan Jihad   sehingga dia tidak akan mendapat pahala yang sama dengan mereka yang maju dalam Perang Sabil bersabung nyawa, luka berat, tangan  atau anggota badan terkena sabetan pedang musuh leher hampir putus itu. Maka  walaupun tidak ikut dalam kecamuknya perang, tetapi  usahanya sudah sama dengan mereka yang terlalu berat megap-megap hampir mati, inilah ukuran pahalanya  menjadi sama, harga jualnya kepada Allah sama..

Siapa hamba yang ingin taqarrub kepada Allah caranya  ialah tidak mendengarkan apa-apa kecuali mendengarkan firman Allah, tidak melihat lain kecuali melihat hanya Allah, tangan tidak bergerak dan kaki tidak berjalan dan  semua anggota dirinya kecuali  hanya untuk tunduk taat kepada Allah., lebih lanjut termaktub dalam Al-Quran  Qs16a78 dan  Qs67a23-24 s67a19.

@ Tafsir Al-Khazin (8h51) dalam membahas Qs10a62-63 bahwa kekasih Allah itu tidak takut apa-apa dan tidak ada rasa kawatir sama sekali lalu mengaitkannya dengan s33a38:

أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ () الَّذِينَ آَمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ ( يونس 62–62 )

Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.”(S.10 Yunus 62-63)

مَا كَانَ عَلَى النَّبِيِّ مِنْ حَرَجٍ فِيمَا فَرَضَ اللَّهُ لَهُ سُنَّةَ اللَّهِ فِي الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلُ وَكَانَ أَمْرُ اللَّهِ قَدَرًا مَقْدُورًا()الَّذِينَ يُبَلِّغُونَ رِسَالَاتِ اللَّهِ وَيَخْشَوْنَهُ وَلَا يَخْشَوْنَ أَحَدًا إِلَّا اللَّهَ وَكَفَى بِاللَّهِ حَسِيبًا() [ الأحزاب : 38 39-]

“Tidak ada suatu keberatanpun atas Nabi tentang apa yang telah ditetapkan Allah baginya. (Allah telah menetapkan yang demikian) sebagai sunnah-Nya pada nabi-nabi yang telah berlalu dahulu. Dan adalah ketetapan Allah itu suatu ketetapan yang pasti berlaku, (yaitu) orang-orang yang menyampaikan risalah-risalah Allah, mereka takut kepada-Nya dan mereka tiada merasa takut kepada seorang (pun) selain kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai Pembuat Perhitungan”(S.Ahzab 38-39)

Nama sahabat yang disebut Al-Quran s9a91-92.

~~Tafsir Al-Qurthubi (1967,Juz 8,h.228) mencatat nama-nama mereka yang dimaksud oleh Rasulullah Saw. dalam hadis  Bukhari no.2627 dan  Ibnu Majah no.2755 namanya ialah: Salim, ’Ulbah, Abu Laila, ‘Amru ibnul Humam, ‘Abdullah ibnul Mughaffal, Al-Harami, ‘Irbadh ibnu Sariyah. Ma’qil, Shakhr, ‘Abdullah bin Ka’ab,  Tsa’labah,  semua adalah  orang-orang  yang  sangat melarat, tidak mempunyai bekal sama sekali.  Peristiwa bahwa mereka tidak ias berangkat dan menangis ini diabadikan Allah di dalam Al-Quran S9 At-Taubah 91-92 diatas.

عَنْ أَنَسٍ رَضِي اللَّهم عَنْهم أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ فِي غَزَاةٍ فَقَالَ إِنَّ أَقْوَامًا بِالْمَدِينَةِ خَلْفَنَا مَا سَلَكْنَا شِعْبًا وَلَا وَادِيًا إِلَّا وَهُمْ مَعَنَا فِيهِ حَبَسَهُمُ الْعُذْرُ (رواه البخاري2627 )*

Artinya: “Dari Anas R.a. bahwa Nabi Saw. dalam suatu peperangan beliau bersabda: Beberapa orang di kota Madinah kita tinggalkan, kita tidak berjalan sedikitpun, kita tidak menempuh lembah melainkan mereka itu menyertai kita ini mereka terhalang oleh suatu halangan-‘udzur (HR Bukhari  no.2627). Menurut riwayat Ibnu Majah berbunyi sebagai berikut:

عَنْ جَابِرٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ بِالْمَدِينَةِ رِجَالًا مَا قَطَعْتُمْ وَادِيًا وَلَا سَلَكْتُمْ طَرِيقًا إِلَّا شَرِكُوكُمْ فِي الْأَجْرِحَبَسَهُمُ الْعُذْرُ(رواه ابن ماجه2755)

Artinya: “Dari Jabir dia berkata: “(Ketika Rasulullah Saw. kembali dari perang Tabuk menjelang masuk kota Madinah) beliau bersabda: “di Madinah ada beberapa orang  yang mana tidak ada satu lembah yang anda tempuh,   tidak ada satu jalan yang anda lewati, kecuali mereka  itu bersekutu pahala dengan anda sekalian”. Para sahabat bertanya: “Bukankah mereka itu  berada di dalam kota?” Beliau bersabda: “Betul mereka itu di Madinah terhalang oleh ‘udzur”(HR. Ibnu Majah no. 2755).

BAB  TIGA

Jihad dan   tawakkal yang hakiki

Masalah ke-3:  Bagaimana jika dagangan kita tidak laku atau dibeli tetapi dengan harga murah? Jika dagangan kita tidak laku atau dihargai murah, maka kita harus berusaha berjuang sungguh-sungguh mengejar ketinggalan nilai dan bertawakkal yang sebenar-benarnya maksimalisasi jihad   berjuang  keras menjunjung tunggi agama Allah lebih sungguh-sungguh lagi kemudian tawakkal menyerah sepenuhnya kepada Allah.

@Tafsir Ath-Thabari  (7h346) dalam membahas Al-Quran s3a159 mencatat  bahwa jika  keputusan sudah ditetapkan memang hati sudah mantap, maka kita semua harus tawakkal, yaitu sesudah berusaha dengan maksimal, kemudian betul-betul rela kepada qadha` qadar Allah, tidak menggantungkan kepada pendapat atau pertolongan makhluk, pasrah bongkokan kepada hukum Allah suka maupun tidak suka.

@ Tafsir ArRazi (4h447) dalam menganalisa Qs3a159 di atas mencatat ada beberapa masalah:

1) Jika suatu keputusan sudah kita tetapkan dalam suatu sidang maka untuk seluruh masalah kita sama sekali tidak boleh menggantungkan diri kepada bunyi putusan itu, tetapi wajib menyerah sepenuhnya kepada pertolongan, pengawasan, penjagaan dan pengayoman  Allah,

2) Tidak benar bahwa tawakkal itu  menolak akal dan pendapat dalam msyawarah, tetapi  tawakkal itu melikat realitas kenyataan lahir masalah yang dihadapi, kemudian   menyerahkan perkembangannya kepada Allah khususnya  masalah yang di balik rahasia alam indrawi..

@Tafsir Ibnu Katsir (2h150) dalam masalah ini mengaitkan ayat itu dengan ayat berikutnya dan s3a126 sebelumnya.

إِنْ يَنْصُرْكُمُ اللَّهُ فَلا غَالِبَ لَكُمْ وَإِنْ يَخْذُلْكُمْ فَمَنْ ذَا الَّذِي يَنْصُرُكُمْ مِنْ بَعْدِهِ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ(ال عمران 160)

“Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mu’min bertawakka”(S.3 Ali ‘Imran 160).l.

وَمَا النَّصْرُ إِلا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ )آل عمران:126(

“”Dan Allah tidak menjadikan pemberian bala-bantuan itu melainkan sebagai khabar gembira bagi (kemenangan) mu, dan agar tenteram hatimu karenanya. Dan kemenanganmu itu hanyalah dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”(S.3 Ali ‘IMran 126)..

Jelasnya Allah  menawarkan  usaha perdagangan atau barter bahwa Allah  akan membeli atau  menukar semangat berkorban Jihad fi Sabilillah dengan jiwa-raga dan harta orang-orang yang beriman ditukar dengan  ampunan dan surga yang paling indah bahkan pertolongan serta sukses  yang luar biasa di dunia, dijanjikan Allah dalam Al-Quran S.61 ash-Shaff 10-13 berikut:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى تِجَارَةٍ تُنْجِيكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ()تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ()يَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَيُدْخِلْكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ عَدْنٍ ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ()وَأُخْرَى تُحِبُّونَهَا نَصْرٌ مِنَ اللَّهِ وَفَتْحٌ قَرِيبٌ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ()(الصف 10-13)

“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam surga `Adn. Itulah keberuntungan yang besar. Dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman”(S.61 ash-Shaff 10-13)

Tawakkal yang ideal

Tawakkal  yang sangat ideal  ialah berusaha  dengan mengerahkan segala tenaga sepenuhnya jihad dan ijtihad meniru Rasulullah Saw. dalam beribadah dan berjuang menegakkan syari’at Tuhan di bumi sebagaimana niat  yang demikian kuat juga oleh  Abu Bakar, Umar, ‘Abdurrahman bin ‘Auf dkk, maupun 7 orang sahabat terurai di atas sampai  3 orang sahabat yang bertekad akan puasa terus tidak henti-hentinya, shalat malam selama-lama mungkin, tidak akan kawin hanya ingin taqarrub kepada Allah tercaatat dalam hadis di bawah ini dapat kita renungkan kisah para sahabat dalam usahanya meniru  Rasulullah Saw  tercatat dalam hadis sebagai berikut:

عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ عَنْ أَبِيهِ قَال سَمِعْتُ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ يَقُولُ أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ نَتَصَدَّقَ فَوَافَقَ ذَلِكَ عِنْدِي مَالًا فَقُلْتُ الْيَوْمَ أَسْبِقُ أَبَا بَكْرٍ إِنْ سَبَقْتُهُ يَوْمًا قَالَ فَجِئْتُ بِنِصْفِ مَالِي فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا أَبْقَيْتَ لِأَهْلِكَ قُلْتُ مِثْلَهُ وَأَتَى أَبُو بَكْرٍ بِكُلِّ مَا عِنْدَهُ فَقَالَ يَا أَبَا بَكْرٍ مَا أَبْقَيْتَ لِأَهْلِكَ قَالَ أَبْقَيْتُ لَهُمْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ قُلْتُ وَاللَّهِ لَا أَسْبِقُهُ إِلَى شَيْءٍ أَبَدًا قَالَ هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ (رواه الترمذي 3604 وابن ابو داود 1429)

“Dari Zaid bin Aslam dari ayahnya bahwa ‘Umar bin Khaththab mengatakan Rasulullah Saw memerintahkan kepada  kami untuk bersedekah,  kebetulan aku mempunyai dana  itu lalu aku berkata : “Hari ini aku mendahului Abu Bakar jika aku lebih dahulu satu hari, kemudian aku bawa separuh hartaku” Maka Rasulullah  Saw bertanya: “Apa yang anda tinggalkan  dana untuk keluarga anda? Aku mengatakan: ” Separuhnya sama dengan  sedekah itu” Menyusul Abu Bakar menyerahkan seluruh dana miliknya. Lalu Rasulullah Saw bertanya: “Ya Abu Bakar apa yang anda tinggalkan untuk keluarga anda”  Dia menjawab: “Aku tinggalkan mereka terserah kepada Allah dan Rasulullah” Aku berkata: “Demi Allah aku sama sekali tidak dapat mendahului Abu Bakar selama-lamanya ” (HR Turmudzi  no 3604 dan Abu Dawud no. 1429).

أَنَّ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ جَاءَ ثَلَاثَةُ رَهْطٍ إِلَى بُيُوتِ أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْأَلُونَ عَنْ عِبَادَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا أُخْبِرُوا كَأَنَّهُمْ تَقَالُّوهَا فَقَالُوا وَأَيْنَ نَحْنُ مِنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ قَالَ أَحَدُهُمْ أَمَّا أَنَا فَإِنِّي أُصَلِّي اللَّيْلَ أَبَدًا وَقَالَ آخَرُ أَنَا أَصُومُ الدَّهْرَ وَلَا أُفْطِرُ وَقَالَ آخَرُ أَنَا أَعْتَزِلُ النِّسَاءَ فَلَا أَتَزَوَّجُ أَبَدًا فَجَاءَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَيْهِمْ فَقَالَ أَنْتُمْ الَّذِينَ قُلْتُمْ كَذَا وَكَذَا أَمَا وَاللَّهِ إِنِّي لَأَخْشَاكُمْ لِلَّهِ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ لَكِنِّي أَصُومُ وَأُفْطِرُ وَأُصَلِّي وَأَرْقُدُ وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي(رواه البخاري 4675 ومسلم 2487)

Artinya: “Bahwa Anas bin Malik mengatakan: “Ada tiga orang menghadap kepada isteri-isteri Nabi Saw.menanyakan bagaimana ibadah Nabi Saw.  Setelah diberitahu maka mereka sangat menyesal hati, lalu mereka mengatakan bagaimana kami-kami ini dibanding dengan ibadah Nabi Saw yang sudah diampuni dosanya  yang sudah lewat dan yang akan datang. Maka yang satu berkata: “Aku akan shalat malam terus menerus selama-amanya” Yang satu  berkata: “Aku akan berpuasa tahunan tidak  akan lowong puasa” Yang satu lagi berkata: “Aku akan menjauhi wanita maka aku tidak akan kawin selama-lamanya”. Kemudian Rasulullah Saw datang kepada mereka lalu bertanya: “Apakah kalian ini yang telah berkata macam-macam itu!!! Demi Allah aku ini adalah orang yang paling takut kepada Allah diantara kalian dan akulah orang paling takwa kepada Allah di antara kalian. Tetapi aku ini berpuasa namun juga tidak terus berpuasa dan akupun shalat tetapi aku juga tidur, akupun juga  mengawini wanita. Oleh karena itu barang siapa tidak suka kepada sunnahku maka dia bukan umatku”(HR Bukhari no.4675 dan Muslim no.2487).

Untuk sekarang tawakkal yang sangat ideal maka dapat kita renungkan Kuliah Subuh Ustadz Yusuf Mansur di TPI tiap hari Selasa dan Rabu jam 4.30-5.30 pagi dengan tema haikmah rahasia Sedekah, bahwa sedekah itu pendorong kabulnya do’a bahkan jika perlu mencari Silahkan hutang sebanyak-banyaknya untuk sedekah.

buka internet situs : http://pondoquranhadis.wordpress.com

Kirimkan naskah ke Email::pondokilmu7@gmail.com-Tlp:0318963843

oooooooooooooooooooooooooooooo0oooooooooooooooooooooooooooo


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: