Oleh: pondokquranhadis | Oktober 4, 2010

HUKUM PERKAWINAN I-II-III

AL-QURAN     BERBICARA

TENTANG

HUKUM   PERKAWINAN

JILID   I

(HUKUM PERKAWINAN)

O

L

E

H

IMAM MUCHLAS

2007

ABSTRAKS

Di dalam menciptakan manusia, Allah itu mengetahui apa yang diperlukan oleh manusia untuk  hidup dan hidup terus serta  hidup yang lebih baik lagi bahkan lebih dari itu bagaimana caranya supaya manusia dapat hidup bahagia di dunia dan bahagia di akhirat. Allah telah memberikan petunjuk ke arah  itu, tersimpan di dalam Kitab Suci Al-Quran. Berhubung dengan banyaknya hamba Allah yang tidak mempunyai kesempatan menikmati pendalaman isi Al-Quran tersebut maka sangat diperlukan usaha pembinaan masyarakat dan  mempersiapkan sarana atau prasarana yang bisa menghidup-suburkan semangat menjuju kesana.

Dalam bidang pembinaan hukum khususnya Hukum Islam di Indonesia, maka bisa dikemukakan ada dua teori, yaitu:

1)Teori Van den Berg bahwa pembinaan hukum Islam itu dimulai dari atas. Maksudnya bahwa oleh karena masyarakat Indonesia itu mayoritas beragama Islam maka hukum yang berlaku disitu ialah hukum  Islam. Sehigga perundang-undangan yang didasarkan atas Hukum Islam  ditetapkan dari atas disertai berbagai macam sanksi atas pelanggarnya.

2) Teori van Vollenhoven bahwa pembinaan hukum Islam itu harus dimulai dari bawah, yaitu bahwa hukum Islam tersebut lebih dahulu harus diresapi dan dibudayakan oleh masyarakat sehingga menjadi Hukum Adat Masyarakat.

Buku Al-Quran Berbicara tentang Hukum Perkawinan ini, merupakan suatu bahasan yang berusaha mengemukakan petunjuk  Al-Quran tentang  bagaimana  hidup berkeluarga  bagi kaum muslimin dan umat yang beriman untuk mencapai cita-cita mendirikan rumah tangga yang sejahtera bahagia dalam rangka pembinaan Hukum Nasional yang  berangkat dari perorangan, yang hendak berkeluarga, membentuk keturunan dan anak bangsa yang Islami, yang mendambakan kesejahteraan dan kebahagiaan yang  abadi di dunia sampai di akhirat.

Pembahasan dalam buku ini mencakup dasar cita-cita untuk berkeluarga, mulai dari memilih jodoh,  kedudukan wali, kedudukan anggota rumah tangga, yang satu terhadap yang lain, suami dengan isteri dan sebaliknyaa, antara bapak dengan anak atau ibu dengan anak dan sebaliknya, sampai kepada pemecahan masalah jika ditengah perjalanan hidup timbul masalah yang dikawatirkan akan menghambat atau mungkin akan membawa kerusakan  rumah tangga itu dan mungkin juga akan terjadi bagaimana jika kelak suatu hari datang kematian kepada salah satu  dari dua orang  suami isteri itu.

Jika kebetulan terjadi kematian salah seorang dalam rumah tangga ini maka timbullah masalah yang  berkenaan dengan harta warisan, oleh karena itulah dalam buku ini dikemukakan pula ketentuan Al-Quran  tentang Hukum Waris.

Adapun sistem penafsiran dalam penulisan ini ialah dengan Metode penafsiran Al-Quran Tematis Permasalahan. Metode penafsiran Al-Quran tematis permasalahan ialah suatu metode penafsiran Al-Quran yang berangkat dari judul dari suatu ayat Al-Quran, dari ayat diambil  tema dan sari tilawah, kemudian dianalisa dan dikembangkan melalui permasalahan yang berwujud pertanyaan yang diambil dari tema dan sari tilawah, pertanyaan dibatasi 2 – 3 soal yang lebih menukik kepada judul. Selanjutnya penafsiran terhadap ayat pokok dilakukan dengan cara  menjawab pertanyaan tersebut.

Sesuai dengan pedoman penafsiran Al-Quran, maka dalam usaha penafsiran ayat-ayat tentang perkawinan ini dilakukan dengan mengambil tafsiran dari Al-Quran sendiri dan dari hadis-hadis Rasul Saw. yang termuat di dalam kitab-kitab tafsir kemudian dilengkapi dengan pendapat para ulama berkaitan dengan masalah yang dibicarakan dan dimana perlu dikutip pula pendapat atau teori para pakar dari cabang disiplin ilmu yang terkait.

Buku yang ada di tangan pembaca ini merupakan tulisan bersambung dari penulis yang dimuat dalam berkala  bulanan  Majalah Pembangunan Agama atau MPA Departemen Agama Propinsi Jawa Timur (khususnya mulai Agustus 1998 sampai Maret 2002), sehingga   uraiannya disesuaikan dengan ruang atau halaman dari majalah tersebut, kepada peminat yang ingin memperdalam lebih jauh dipersilahkan menelusurinya ke rujukan dalam daftar kepustakaan di belakang.

—===ooo0ooo===—

TRANSLITERASI

Pemerintah telah menetapkan ejaan untuk penulisan-penulisan dalam bahasa Indonesia dan ternyata di sana banyak sekali kata atau istilah asing yang berasal dari luar bahasa Indonesia. yang masuk menjadi bahasa Indonesia. Kata-kata dan istilah asing yang sudah masuk kedalam bahasa Indonesia harus ditulis seperti apa yang tercetak di dalam Kamus Bahasa Indonesia yang diakui sah oleh Pemerintah, misalnya seperti musyawarah, masyarakat, haji, saleh, kisah.

Semua istilah dan kata-kata yang belum masuk kedqalam Kamus Bahasa Indonesia adalah kata-kata asing, harus ditulis menurut bunyi asli kata-kata asing itu dan menulisnya harus menggunakan cara menulis yang disebut transliterasi. Khusus untuk istilah dan kata-kata yang berasal dari bahasa Arab, maka di  buku ini ditulis menurut cara menulis penerbit AL-QURAN DAN TERJEMAHNYA  terbitan Departemen Agama dengan tambahan bahwa untuk huruf ح (H}) seperti nama-nama surat di dalam Al-Quran misalnya urat Al-Fa>tih}ah, ditulis dengan huruf H} dengan satu dibawah huruf ini. Dan tanda panjang menggunakan garis di atas huruf (A  atau I  atau U), huruf-huruf tersebut adalah sebagai berikut:

ث =  Ts ح =      H}

خ =      Kh د =        D

ذ =        Dz ز =      Z

ش =      Sy ص =    Sh

ض =     Dh ط =    Th

ظ =      Zh ع =      ‘

غ =      Gh ق =       Q

ك =       K

Untuk tanda baca panjang dipergunakan  garis pendek di atas huruf bunyi A, atau  I  atau  U, contohnya seperti   Zha>limi>n,   Dha>lli>n, Muna>fiqu>n, Bukha>ri>,  ‘Abdul Ba>qi>, Zuh}aili.

Kepada kaum terpelajar diersilahkan memilin transilterasi yang diminatinya, tidak telalu terikat oleh transiliterasi di atas itu.

-=o=-

PENGANTAR

Segala sesuatu karena Allah yang mempunyai sifat-sifat serba Maha dan absolut Maha yang terpuji di atas seluruh makhluk. Karena itulah hamba mengucapkan Al-Hamdu lillah segala puji bagi Allah, sebab karena rahmat Allah itulah maka penulis dapat mempersembahkan untaian dan uraian kata dalam buku ini. Rahmat dan salam semoga tercurahkan kepada Rasul junjungan kita Nabi  Muhammad Saw. yang telah membawa kita ke kebenaran Ilahi,  wahyu dari Allah Ta’ala lengkap dengan teori dan praktek hidayah Allah itu untuk kita orang-orang yang beriman.  Moga-moga rahmat dan ridho Allah itu dianugerahkan pula kepada para pemegang tali estafet hidayah itu yaitu para sahabat, tabi’im, tabi’it tabi’in wal mujahidin fi sabilillah sampai kepada kita  ini Amin.

Buku ini merupakan himpunan tulisan dalam rubrik Tafsir Maudhu’i yang bersanbung dalam majalah Mimbar Pembangunan Agama, Departemen Agama Proponsi Jawa Timur antara bulan Agustus 1998 sampai Maret 2002. Buku ini kami jadikan tiga jilid, Jilid I tentang perkawinan, Jilid II tentang perpisahan dan perceraian dan Jilid III tentang Hukum Waris. Naskah ini cukup panjang merayap dalam  menggapai  cita sampai dapat menjadi buku yang sekarang ini. Semua ini memang betul-betul  karena pertolongan Allah melalui pemeran karya dan jasa serta pemangku jabatan di masing-masing lembaga yang dilaluinya.

Penulis  sangat bersyukur dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada  penerbit yang memegang andil begitu besar dalam menyebar-luaskan  sumbangan pikiran penulis kepada para pembaca. Semoga semua yang mengambil andil dalam menyebarkan pemikiran dalam buku ini  dia termasuk dalam himpunan hamba Allah  yang mendapat anugerah rahmat-barokah Allah sebagai amal jariyah dia Amin.

Walaupun penulis sudah berusaha untuk memperbaiki naskah dan kandungan buku ini, namun tentu saja  masih banyak kekhilafan dan kekurangan. Maka oleh karena itu penulis memohon tegur sapanya dan mohon maaf, untuk ini penulis mohon para pembaca merujuk ke kitab dan buku sumbernya. Al-Haqqu min Rabbika fala takunanna minal mumtarin.

Sidoarjo 16 Rabiulawal  1428H

4 April 2007 M

Penulis

( Imam  Muchlas)

PENDAHU>LU>AN

1.NABI MUHAMMAD NABI PENUTUP

(Kha>>tamul Anbiya>“  wal Mursali>n)

Junjungan kita Nabi Besar Muhammad Saw. adalah Nabi  Penutup dan Penghabisan para rasul (S.33 Al-Ah}za>>b 40). Dengan demikian maka kitab Suci Al-Quran yang  dibawanya itupun juga menjadi  Kitab Suci terakhir, sehingga kitab itu berlaku  abadi bahkan bersifat universal atas seluruh umat manusia kapan saja  dan dimanapun juga mereka  berada, sebagaimana kita faham dari S.21 Al-Anbiya>` 107 , bahwa Rasulullah Saw. merupakan rahmat bagi  seluruh alam.

Sampai abad  21 ini umat Islam di dunia jumlahnya tidak kurang dari 1,2 milyar orang, yang terdiri dari berbagai macam suku bangsa, bahasa dan budaya yang tidak sama dengan bangsa, bahasa  maupun budaya Arab terutama ketika Al-Quran itu diturunkan dijaman peralihan dari jaman Jahiliyah ke jaman Islam  awal abad vii Masehi dahulu> itu. Namun kita yakin sebebar-benarnya mengenai  keunggulan mukjizat Al-Quran  yang tidak mungkin dikalahkan oleh agama manapun juga, khususnya masalah bahasa Arab- yang dipakai oleh Al-Quran.

2. Al-Quran mukjizat universal

Bahasa Arab Al-Quran itu sampai sekarang masih hidup, masih segar, mudah difaham dan sangat berbeda sekali dengan bahasa-bahasa Kitab suci agama selain Islam, bahasa asli dari kitab suci agama non Islam itu sudah mati  dan tidak dipakai oleh umat manusia lagi.  Prof. Hendon  dari Yale University sangat iri kepada keunggulan bahasa Arab Al-Quran yang sangat ajaib itu. Prof. Hendon itu berkata kepada HAMKA ketika beliau bulan Oktober 1952 yang lalu datang diundang ke kampus di New Haven itu. Prof Hendon berkata:          “Untung bagi tuan, Al-Quran mempunyai bahasa kitab suci yang asli  dan tetap”. Ketika itu Prof. Hendon sebagai ketua panitia dari 40 gereja, baru saja selesai menterjemahkan Kitab Suci Bibel yang menggunakan bahasa Inggris abad 17 jaman King James 1612M bahasa yang dipakai dalam kitab Bibel tadi  sudah mati, bahasa Inggris yang sudah tidak dipakai lagi oleh masyarakat, sehingga harus diterjemahkan ke bahasa Inggris 1952 itu (Hamka 1981:164). Perlu kita renungkan bagaimana  Bibel diterjemahkan dari bahasa Inggris ke dalam bahasa Inggris itu sendiri, dan kelak akan diterjemahkan lagi ke sekian kalinya ke bahasa Inggris lagi, demikian semua bahasa yang dipakai oleh Bibel di seluruh dunia???

Menurut keyakinan kita Al-Quran itu ialah lafal Arab yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. yang  dinukil  secara Mutawa>tir yang termaktub di dalam mushaf dari surat Al-Fa>tih}ah sampai surat An-Na>s yang membacanya adalah ibadah (Madku>r 1976:95). Dengan definisi ini maka apa yang diluar batasan ini  bukanlah Al-Quran. Sehingga seluruh terjemah Al-Quran ke bahasa non Arab (‘ajam) bukan Al-Quran dan isi terjemah tadi sepenuhnya tanggung jawab penterjemah sendiri. Dengan dasar itu pula maka para ulama mewajibkan penulisan naskah Arab asli disamping terjemahnya bagi siapa saja yang membuat terjemah Al-Quran, untuk menguji kebenaran terjemahan itu.

Az-Zarqa>ni> dalam Mana>hilul ‘Irfa>n (1988:2 \ 107) mencatat bahwa Al-Quran sudah diterjemahkan ke dalam 120 bahasa,  tahun 1143M diterjemah pertama kali ke bahasa Latin oleh Petrus Toltly sedangkan  terjemah ke bahasa Ingrris sesudah itu oleh George Sale kini sudah mengalami 34 kali cetak ulang.

Oleh karena jaman beredar, jarum jam  berputar,  sehingga bahasa dan budaya serta suku bangsa umat Muhammad Saw. sekarang ini banyak berbeda dibandingkan dengan bahasa dan budaya suku bangsa Arab waktu Al-Quran  diturunkan dahulu sebagaimana terurai diatas, maka terbukalah timbulnya kesulitan dan kemusykilan dalam memahami serta menghayati kitab suci Al-Quran itu. Maka dari itu para ulama dituntut  segera berusaha melakukan pengadaan buku tafsir  yang lebih praktis, pragmatis dan kontekstual dan usaha mewujudkan prasarana untuk membantu kaum muslimin mengatasi kesulitan dan memecahkan kemusykilan dalam mempelajari serta menghayati Al-Quran itu dalam nuansa yang sesuai  dengan bahasa dan budaya masyarakat Islam  khususnya masyarakat Indonesia.

3.Metode penafsiran Al-Quran

Al-Quran menggunakan bahasa Arab, sebab Nabi Muhammad Saw. dan masyarakat yang dihadapinya adalah orang Arab yang dalam sehari-harinya berbicara dalam bahasa Arab. ‘Umar Farru>kh (1984:79) menyatakan bahwa bahasa Arab yang berlaku pada masa turunnya Al-Quran itu adalah bahasa Arab dari jaman Jahiliyah, yaitu suatu tenggang waktu dari ratusan tahun sebelum Nabi Muhammad Saw. dilahirkan sampai beliau dibangkitkan menjadi nabi sehingga Nabi Muhammad Saw. hijrah ke Madinah. Sedangkan jaman sesudah Nabi Saw.hijrah ke Madinah  bukan lagi dinamakan jaman Jahiliyah, tetapi jaman Islam. Bahasa Arab yang dipergunakan sebagai bahasa kitab suci ialah bahasa Arab jaman Jahiliyah dan jaman Islam ini. Suatu mukjizat yang tidak mungkin ditandingi ialah bahwa bahasa Arab yang dipakai oleh Al-Quran itu sampai sekarang masih hidup, masih segar, masih mudah difahami secara umum.

Lebih jauh lagi maka bahasa Arab dalam Al-Quran dapat dibagi  dua, yaitu bagian yang Muh}kam dan bagian yang Mutasya>bih. Bagian yang Muh}kam ialah bagian yang isinya mudah difaham, maknanya jelas dan tegas bahkan tidak bisa diartikan lain. Sebaliknya bagian yang Mutasya>bih ialah bagian yang isinya tidak jelas, lebih sulit difaham karena mengandung makna lebih dari satu.

Sudah barang tentu bagian yang maknanya kurang jelas, sulit difahami ini usaha untuk memahaminya harus melalui bagian yang lebih jelas dan tegas tadi.

4. Orang yang berwenang menfasirkan Al-Quran

Adapun orang nomer satu yang paling berwenang menafsirkan Al-Quran ialah Rasulullah Saw. dan tafsirannya adalah paling benar  sebab belaiulah orang yang mendapat tugas khusus untuk menjelaskan seluruh kandungan Al-Quran itu kepada umatnya (S.16 An-Nah}l 44). Sedangkan orang kedua yang berwenang menafsirkan Al-Quran ialah para sahabat dan tafsiran yang paling mendekati kebenaran sesudah Rasul Saw. ialah para sahabat ini. Para sahabat merupakan orang yang kedua setelah Rasul Saw. sebab para sahabat itulah orang yang paling mengetahui Al-Quran, di mana suatu ayat Al-Quran diturunkan, kapan diturunkan, dalam situasi dan kondisi yang bagaimana waktu itu suatu ayat Al-Quran  diturunkan, sampai kepada siapa saja orang yang terlibat di dalam peristiwa saat ayat-ayat Al-Quran itu diturunkan. Dan para sahabat merupakan orang-orang yang langsung mendapat bimbingan dan asuhan dari Nabi Saw. jika dirasa kuang jelas mereka ini langsung menanyakan kepada Rasul dan secepatnya beliau jawab.

Menurut Adz-Dzahabi> (1961:1 \ 54) Rasulullah Saw.  sudah menjelaskan Al-Quran yang cukup untuk  umat di jaman itu tetapi  juga menjadi dasar landasan penafsiran bagi para ulama di jaman-jaman sesudah beliau. Jelas bagi kita bahwa bahasa dan budaya dari bangsa-bangsa pemeluk agama Islam sekarang di luar jazirah Arab sangatlah berbeda dengan suku bangsa, bahasa dan budaya umat Islam di jaman Rasulullah Saw. maupun jaman sahabat di atas.

5.Perkembangan tafsir dan penafsiran Al-Quran

Secara alami, para ulama  giat berusaha menafsirkan Al-Quran senada dengan bahasa dan  budaya masyarakat di mana para ulama itu hidup. Dari usaha penafsiran para ulama ini ditinjau dari asas landasan, metode analisa serta corak kecenderungan hati ulama tafsir itu terbagi kepada beberapa metode berikut:

A. Asas landasan penafsiran

Dilihat dari sumber pokok penafsiran, maka metode penafsiran Al-Quran itu ada 3, Bil-Ma`tsu>r, Bir-Ra`yi dan Bil-Isya>rah.

1.Tafsir Bil-Ma`tsu>r ialah usaha penafsiran Al-Quran yang sumber pokok untuk menafsirkannya itu mengambil dari Al-Quran sendiri atau dan hadis dengan tidak berdasarkan atas akal kecuali sedikit saja.

2.Tafsir Bir-Ra`yi, yaitu usaha untuk  menafsirkan Al-Quran berdasarkan penafsiran Al-Quran Bil-Ma`tsu>r kemudian dikembangakannya dengan ijtihad akal setelah ulama tersebut memenuhi syarat sebagai mufassir.

3.Tafsir Isya>ri>, yaitu usaha menafsirkan Al-Quran berdasarkan isyarat gaib yang diterima oleh ulama tafsir bersangkutan hasil dari keahlian dan kemampuan gaib yang dimilikinya secara sufi. An-Nuqra>syi> (1986:69) membagi metode ini hanya menjadi dua saja, yaitu: 1) Tafsir Al-Ma`tsu>r atau Tafsir Ar-Riwa>yah atau Tafsir An-Naqli>>. 2) Tafsir Ar-Ra`yi atau Tafsir Ad-Dira>yah atau Tafsir Al-’Aqli>.

Prof.DR. Abdul Jalal (1990:68) menyebut 3 macam ini,tetapi  yang nomer3 ialah Bil-Izdiwa>j, maksudnya ialah usaha menafsirkan Al-Quran dengan dasar campuran dari penafsiran Bil-Ma`tsu>r dengan Bir-Rayi.

B. Metode analisa

Diperhatikan dari cara melakukan analisa maka Al-Farma>wi> (1977:22) membagi cara para ulama menafsirkan Al-Quran itu menjadi 4 matode, yaitu Tah}li>li>, Ijma>li>, Muqa>rin dan Maudhu>‘i>.

1.Metode Tah}li>li>, yaitu usaha menafsirkan Al-Quran dengan tertib  mengikuti tertib urutan Mushh}af ‘Utsma>ni> ayat demi  ayat surat demi surat dan dianalisa dengan pendekatan dari berbagai macam cabang disiplin  ilmu, contohnya  seperti Tafsir Rawai’ul Bayan oleh Ash-Shabuni.

2.Metode Ijma>li>, yaitu usaha menafsirkan Al-Quran dengan mengemukakan banyak-banyak ayat atau suatu surat sesuai dengan tertib Mushh}af ‘Utsma>ni> kemudian ditafsirkan dengan pandangan global menyeluruh, contohnya seperti tafsir Fi> Zhila>lil  Qura>n oleh Sayyid Quthub.

3.Metode Muqa>rin, yaitu usaha menfasirkan Al-Quran dengan cara mengemukakan berbagai macam pendapat para ulama tafsir, lalu dianalisa dan ditetapkan  tafsiran yang mana yang dinilai lebih mendekati kebenaran, contohnya seperti tafsir Al-Qurthubi>.

4.Metode Maudhu>‘i>, yaitu usaha menfasirkan Al-Quran yang berangkat dari suatu judul dari Al-Quran, judul itu dibagi kedalam bab, sub-bab, pasal atau bagian yang lebih kecil lagi, lalu mencari ayat yang bisa diletakkan di bawah judul, sub judul, pasal atau rinciannya tadi, kemudian dianalisa dan ditafsirkan, contohnya seperti Ad-Dira>sa>t fit Tafsi>ril Maudhu>‘i> oleh Al-Alma>‘i>.

C. Corak warna tafsir dan kecenderungan mufassir

Setiap orang tidak terlepas dari pengaruh lingkungan ditempat dia dibesarkan, maka para ulama tafsir itupun sangat terpengaruh oleh situasi dan kondisi lingkungan yang membesarkan dia. Dari modal yang diterimanya dari masyarakat lingkungannya maka ulama tadi lalu membuat model atau pola tertentu dan kitab mereka juga  dapat dikelompokkan ke dalam kecenderungan diri ulama tersebut kepada apa yang sangat mempengaruhi dirinya bidang  keilmuan, aliran madzhab atau hobi-kesukaannya.

1) Kecenderungan kepada keilmuan

Ulama tafsir sebenarnya termasuk kelompok pakar yang menguasai keahlian beberapa cabang disiplin ilmu, tetapi karena ilmu itu sendiri juga mencakup bidang yang terlalu banyak, maka para ulama itupun dapat dibagi kepada bidang-bidang tertentu; Sehingga kitab tafsirnya juga dapat dikelompokkan kedalam bidang-bidang tertentu, yaitu: (1) Sastra. (2) Sosial kemasyarakatan. (3) Filsafat. (4) Tasawuf.  (5) Sciens atau keilmuan.

a) Tafsir Al-Adabi> atau tafsir Sastra, bahwa sebagian ulama tafsir ada yang sangat ahli  dalam bidang sastra, sehingga tafsirnya lebih didominasi ilmu bahasa dan sastra, misalnya Al-Kasysysa>f susunan Zamakhsyari>>.

b) Tafsir Sosial kemasyarakatan atau Al-Ijtima>‘i>, ulama tafsir yang ahli dalam ilmu sosiologi maka kitab tafsirnya akan lebih  banyak membahas ilmu sosiologi, misalnya tafsir Fi> Zhila>lil  Qura>n susunan Sayid Quthub atau Al-Mana>r susunan Rasyi>d Ridha> tafsiran dari Muh}ammamd ‘Abduh.

c). Tafsir Al-Falsafi>, ulama tafsir yang ahli dalam ilmu filsafat maka kitab tafsirnya akan banyak banyak membahas masalah filsafat, misalnya Tafsir Al-Kabi>r susunan Ar-Ra>zi>.

d) Tafsir Ash-Shu>fi>, yaitu tafsir yang disusun oleh ulama ahli tasawuf, suatu tafsir  yang didalamnya banyak memuat teori-teori tasawuf, misalnya seperti tafsir Al-Futu>h}a>tul Makkiyyah susunan Muh}yiddi>n ibnu ‘Arabi>.

2) Kecenderungan, kesukaan dan fanatisme

Kecenderungan bisa meningkat menjadi kesukaan dan puncaknya ialah fanatisme. Oleh karena para ulama tafsir itu memang dibesarkan menurut lingkungannya, maka para ulama tafsir banyak yang cenderung  mengikuti suatu aliran madzhab, sebagian lagi ada yang membela madzhab cukup keras, baik madzhab dalam Ilmu Kalam atau madzhab dalam Ilmu Fiqh:

~          Aliran madzhab Ilmu Kalam: Ahlus Sunnah, Mu’tazilah, Syi’ah, Murjiah, Khawa>rij. Ulama dari masing-masing madzhab itu sedikit atau banyak mereka akan mengemukakan pendapat madzhab dia sendiri dan mengabaikan pendapat madzhab aliran lain.

~          Aliran madzhab Ilmu Fiqh, yaitu madzhab-madzhab H}anafi>, Ma>liki, Sya>fi’i>, H}anbali>, Zha>hiri>. Para ulama tafsir dari suatu madzhab akan mewarnai tulisan dalam tafsirnya dengan corak warna yang  sesuai dengan madzhab alirannya.

Terhadap penafsiran itu semua, Muh}ammad ‘Abduh (tth: 49) memberikan peringatan, bahwa Al-Quran adalah awal segala sumber  syari’at Islam, Al-Quran adalah pangkal pijakan penetapan hukum dari hukum apapun juga. Sistem ini tergambar jelas dalam hadis jawaban Mu’a>dz atas pertanyaan Rasulullah Saw. suatu jawaban yang membuat beliau sangat puas bahwa Al-Quran adalah sumber pertama, jika tidak ada maka sumber kedua ialah Sunnah Rasul Saw. jika tidak ada maka sumber ketiga ialah Ijtihad akal. Maka dari itu sangat terlarang mendahulu>kan madzhab sebagai sumber pertama dan membuat Al-Quran yang nomer kedua. Dari itu pula maka tidak dibenarkan sama sekali perbuatan untuk memperkosa Al-Quran diarahkan dan ditundukkan ke bawah suatu madzhab.

D. Tafsir Tematis permaasalahan

Di dalam masyarakat Islam sudah tersebar banyak-banyak kitab tafsir khususnya tafsir sistem  konvensional yang menggunakan metode metode Tah}li>li>, Ijma>li> atau Muqa>rin. Akan tetapi  garis besar kurikulum atau silabi pelajaran Al-Quran yang diajarkan pada  lembaga-lembaga pendidikan di mana saja pada semua peringkat dari Taman Kanak-Kanak sampai Perguruan Tinggi, semua mengacu kepada materi atau judul tertentu. Oleh karena itulah buku yang ada di tangan pembaca ini mengikuti  metode Al-Maudhu>‘i>, yaitu penafsiran Al-Quran menurut klasifikasi judul dan lebih khusus lagi ialah Metode Penafsiran Al-Quran Tematis Permasalahan. Adapun  judul atau masalah untuk buku ini   ialah Hukum Perkawinan dan Hukum Waris.

Jadi penafsiran dalam buku ini menggunakan metode yang  diawali dengan memilih judul, kemudian mencari ayat yang diduga sesuai dengan judul yang sedang  dibahas, selanjutnya dilakukan penafsiran, melalui   pertanyaan yang bersumber dari tema dan sari tilawah ayat tersebut, sedangkan penafsirannya sendiri berupa jawaban atas pertanyaan tadi,  dengan menelusuri Al-Quran ayat mana yang diduga bisa menjawab masalah dan atau  mencari hadis untuk lebih melengkapi jawaban itu kemudian mencari sumber  lain jika jawaban tadi belum memuaskan.

——-0——

(1)

BERKELUARGA DAN BERKETURUNAN

I. S.16 An-Nah}l 72

وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَجَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ بَنِينَ وَحَفَدَةًوَرَزَقَكُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ أَفَبِالْبَاطِلِ يُؤْمِنُونَ وَبِنِعْمَةِ اللَّهِ هُمْ يَكْفُرُونَ (النحل 72)

II.Artinya:

Allah menjadikan bagi kamu isteri-isteri dari jenis kamu sendiri dan menjadikan bagimu dari isteri-isteri kamu itu, anak anak dan cucu-cucu, dan memberimu rezki dari yang baik-baik. Maka mengapakah mereka beriman kepada yang bathil dan mengingkari ni`mat Allah?”(S.16 An-Nah}l 72).

III.Tafsir dan analisa

A. Pengertian kata-kata

= مِنْ أَنْفُسِكُمْ  Dari diri-diri kalian maksudnya dari jenis kalian

= أَزْوَاجًا    Isteri-isteri

= حَفَدَةً   Anak-cuu

=َ الطَّيِّبَات      Yang baik, maksudnya yang lezat dan halal

=  الْبَاطِلِ    Yang tidak sah, maksudnya behala-berhala

B.Tema dan sari tilawah

Tema pokok yang menjadi  acuan untuk mempertajam analisa dapat dikemukakan sebaga berikut:

1.Allah  menciptakan manusia supaya hidup berkeluarga dan berketurunan.

2.Allah telah menciptakan jodoh untuk masing-masing mereka.

3.Allah juga telah mencipatakan sistem kelahiran keturunan  dari pasanban  suami isteri.

4.Untuk  semua itu Allah telah menyediakan bekal kehidupan dan rejeki  yang baik bagi masing-masing.

5.Sebagian manusia  memilih  yang bathil dan tidak mengakui bahwa semua rejeki  yang dinikamtinya itu dari Allah Ta’ala.

C. Masalah dan analisa

Untuk mempertajam pemahaman kita terhadap S.l6 An-Nah}l 72 di atas perlu kita mencari jawaban atas masalah yang timbul, terutama melalui pertanyaan-pertanyaan berikut:

1. Faktor apa yang menyebabkan seseorang belum atau tidak  kawin?

2. Bagaimanakah cara dan sikap suatu pasangan suami isteri yang tidak  dikaruniai   anak keturunan?

3. Apa sebab  sebagian manusia ada yang memilih jalan yang bathil dan tidak mengakui bahwa rejeki itu datang dari Allah Ta’ala?

D. Tinjauan dan pemikiran

Dalam kuliah Akademi Metafisika Yogyakarta,  dr Paryana mencatat bahwa  dorongan ingin berkeluarga dan keinginan untuk  mempunyai anak dalam diri manusia itu telah ada dari asalnya sejak sebelum lahir. Menurut Dr.Th.V. Wimmersma Greidanus ada 4 macam instink atau nafsu-nafsu yang dimiliki  mnusia, yaitu nafsu-nafsu harta, tahta, wanita dan agama. Maka nafsu wanita        ( Sexueel-Instink atau nafsu Eros ) inilah yang sangat erat terkait dengan makna yang terkandung dalam Al-Quran S.16An-Nah}l 72 di atas. Jadi nafsu ingin berkeluarga dan keinginan untuk mempunyai anak ini sudah menjadi ketentuan Allah Ta’ala dari awal kejadian manusia.  Disebabkan  karena sesuatu faktor menyebabkan  mereka menjadi singgel alias tidak mempunyai jodoh tidak dalam keadaan kawin.

1.Sebab-sebab mengapa seseorang membujang

Banyak faktor  yang menyebabkan mengapa seseorang tidak kawin atau tidak segera kawin alias membujang, namun yang lebih banyak terutama disebabkan  karena masalah pertanggung jawaban dan kesesuaian cita-cita, yaitu sebagai berikut:

a. Struktur pertanggung-jawaban kepemimpinan

Dalam suatu unit kelompok sosial tidak mungkin terdapat dua pucuk pimpinan. Jika ada suatu unit yang didalamnya terdapat dua pucuk pimpinan pasti akan timbul perebutan kekuasaan baik dalam waktu yang singkat jika perlu sampai masa yang lama, sehingga akhirnya akan tinggal satu saja pimpinan yang kekuatannya mengalahkan saingannya. Hal ini berlaku untuk unit yang paling kecil sampai unit yang paling tinggi. Allah berfirman dalam Al-Quran:

لَوْكَانَ فِيهِمَا ءَالِهَةٌ إِلَّا اللَّهُ لَفَسَدَتَا فَسُبْحَانَ اللَّهِ رَبِّ الْعَرْشِ عَمَّا يَصِفُونَ (الانبياء 22)

Artinya: Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai `Arsy daripada apa yang mereka sifatkan”(S.21 Al-Anbiya>’ 22).

Maka dari itu Allah sendiri menetapkan  bahwa suamilah yang ditunjuk untuk menjadi kepala rumah rangga, sebab Allah juga telah memberikan beberapa kelebihan  kepada kaum laki-laki sebagaimana yang ditentukan dalam Al-Quran berikut:

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ وَاللَّاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا(النساء 34)

Artinya: “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang ta`at kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan Nusyu>z-nya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar(S.4 An-Nisa>’ 34).

Ash-Sha>bu>ni> dalam Rawa>i’ul  Baya>n (tth: 1 / 467) menafsirkan S.4 An-Nisa>`34 ini menggambarkan struktur pertanggung-jawaban rumah tangga muslim itu bagaikan sebuah tubuh, suami sebagai kepala sedangkan isteri sebagai badannya. Dalam pada itu tidak boleh masing-masing menyombongkan diri terhadap yang lain, sebab masing-masing bagian betul-betul  saling memerlukan bagian yang satu kepada yang lain dan masing-masing bagian mempunyai tugas kewajiban  serta tanggung jawab  di bidangnya sendiri yang tidak mungkin dapat dikerjakan oleh yang lain.

b.Memilih jodoh

Upaya-upaya untuk membangun rumah tangga yang bahagia yang penuh  tanggung jawab sebagai yang didambakan oleh setiap pasangan    suami isteri terurai di atas harus dimulai dari sejak memilih  jodoh. Idealnya memilih jodoh itu harus menguatamakan nilai dan kwalitas jiwa  agama dan kemampuan bertanggung jawab sebagaimana dianjurkan oleh sunnah Rasul Saw. yaitu:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِي اللَّهم عَنْهم عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ (رواه البخاري 4700  ومسلم 2661)*

Artinya: “ Dari Abu> Hurairah R.A.dari Nabi Saw. beliau bersabda: “Wanita itu dinikah karena 4 faktor, karena harta, karena nasab keturunan, karena kecantikan dan karena agamanya. Maka utamakanlah ciri agamanya pasti anda bahagia” (HR.Bukha>ri>> no.4700 dan Muslim  hadis no.2661-Ad-Durr 1983: 1 / 616).

Soal agama ini Allah sangat keras membatasinya, maka oleh karena itu orang Islam di larang keras kawin dengan orang kafr, sebab orang kafir itu akan menyeret orang Islam ke dalam neraka kesengsaraan. Allah berfirman:

وَلَا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّى يُؤْمِنَّ وَلَأَمَةٌ مُؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ وَلَا تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِينَ حَتَّى يُؤْمِنُوا وَلَعَبْدٌ مُؤْمِنٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكٍ وَلَوْ أَعْجَبَكُمْ أُولَئِكَ يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ  وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِإِذْنِهِ وَيُبَيِّنُ ءَايَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ (البقرة 221)

Artinya: “Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mu’min lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mu’min) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mu’min lebih baik dari orang musyrik walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran”(S.2 Al-Baqarah 221).

c.Kemampuan beranggung jawab

Kemampuan bertanggung jawab merupakan faktor yang sangat penting dalam mendirikan rumah tangga yang bahagia. Rasulullah Saw. bersabda:

عَنْ  عَبْدِاللَّه قَالَ لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ  اسْتَطَاعَ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ      فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ (رواه البخاري4678  ومسلم2485 )*


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: