Oleh: pondokquranhadis | Oktober 17, 2010

The History of The Qur’anic Text

From Revelation to Compilation Sejarah Teks

Al-Quran Dari Wahyu Sampai Kompilasinya

Prof. Dr. M.M al A’zami

PENGANTAR PENERBIT

Alhamdulillah, segala puji dan syukur tidak terhingga penerbit sampaikan kehadirat Allah dengan terbitnya buku “Sejarah Teks Al-Qur’an Sejak Turunnya Wahyu Hingga Kompilasi, Kajian Perbandingan dengan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru” karya Prof. Dr. Muhammad Mustafa Al-A’zami. Buku karya cendekiawan kelahiran Mau, India ini bisa dikatakan sebagai sebuah karya yang monumental. Suatu kerja ilmiah yang dibangun tanpa emosional, mengundang pihak mana pun untuk mengkaji buku ini pada saat serangan terhadap Al-Qur’an menjadi sesuatu yang umum. Dalam kajian yang komprehensif ini, Prof. A’zami, memaparkan pen­jelasan yang mendalam dan unik mengenai pemeliharaan kesucian Al-Qur’an sepanjang sejarah, seperti halnya mengkaji banyak tuduhan yang d’ilontarkan kepadanya. Prof. A’zami juga berhasil mengukuhkan Al-Qur’an sebagai satu­satunya pedoman tertinggi kaum Muslimin, baik sebagai petunjuk dan sebagai bacaan paling suci. Dengan menggunakan metode perbandingan, beliau melakukan investigasi sejarah Perjanjian Lama dan Baru, seluruh kepercayaan Yahudi-Kristen yang mencakup the Dead Sea Scroll (Naskah Laut Mati), dan mengungkap suatu kejutan dari hampir setiap bagian Kitab Injil. Seluruh hasil kerja keras ilmiah ini memberikan kepada kita sebuah kesimpulan bahwa Al-Qur’an adalah sebuah anugerah, gagasan agung untuk membangkitkan pikiran, sejarah mulia untuk menggerakkan jiwa, kebenaran universal untuk menghidupkan suara hati, dan perintah langsung yang tepat bagi manusia untuk membebaskan dirinya. Dengan buku ini Prof. A ‘zami menempatkan dirinya di garda depan sebagai ulama terkemuka pembela kemurnian dan kautentikan Al-Qur’an di tengah-tengah upaya serius kaum orientalis menggempur Al-Qur’an. Prof. A’zami membuktikan bahwa Al-Qur’an adalah Kalamullah, mukjizat abadi hingga akhir zaman. Selama empat belas abad kaum Muslimin berhasil menjaga Al-Qur’an terhadap perubahan, menghafal setiap ayatnya dan merenungkan tiap-tiap bagiannya. Akhirnya, selain syukur ke hadirat Ilahi, penerbit juga berharap semoga bisa mendorong kaum Muslimin untuk selalu antusias dan istiqamah ber­pedoman kepada Al-Qur’an PENGANTAR: PROF. DR. MUHAMMAD KAMAL HASSAN REKTOR UNIVERSITAS ISLAM INTERNATIONAL MALAYSIA (UIIM) Buku yang ada di tangan anda, penulisnya, Profesor Muhammad Mustafa al-‘Azami, sudah lama saya kenal. Kepeduliannya terhadap karya negatif pihak Orientalis menjadi fokus perhatiannya sejak awal. Beliau salah seorang ilmuan terkemuka yang memiliki latar belakang pendidikan Timur dan Barat. Di dunia Islam beliau dikenal sebagai seorang ilmuan kenamaan di bidang ilmu hadith. Tentunya tidak seperti kebanyakan ilmuan lain, yang biasanya, setelah ditraining dalam institusi pendidikan Barat, merasa silau dan bahkan muji-muji ketinggian budaya dan sistem kajian Islam mereka tanpa daya analisis dan kritis. Justru sebaliknya, risalah Ph.D-nya yang diajukan pada Cambridge, secara lugas membahas kekeliruan pihak Orientalis dalam memahami asal usul ilmu hadith yang begitu unik. Penguasaannya terhadap sumber keislaman khususnya dalam bidang ilmu hadith ini telah mengantar beliau ke pentas international dalam bidang studi Islam. Rasanya, sangat tepat Yayasan Raja Faesal yang bermarkas di Riyadh, Saudi Arabia, telah menganugrahkan kepadanya Hadiah Malik Faesal atas karya-karya di bidang ilmu hadith yang beliau geluti  sejak dulu. Penulis merasa betapa pentingnya mengcounter pendapat Orientalis yang seringkali mengelirukan dengan menggunakan argumentasi ilmiah. Karya ini sangat penting untuk disimak apalagi dalam cuaca akademis pasca pemerintahan Soeharto yang banyak diwarnai polarisasi pemikiran yang begitu beragam yang, kadang-kadang, cenderung destruktif terhadap kesucian ajaran Islam. Kami merasa prihatin atas imbas pemikiran Orientalis yang semakin mekar dan ini pula yang mengilhami pemikiran kami menugaskan empat ilmuan asal negeri ini, Dr. Sohirin M. Solihin, Dr. Anis Malik Thoha, Dr. Ugi Suharto dan Lili Yulyadi, yang tengah bertugas sebagai staf pengajar pada universitas kami untuk menterjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia. Dalam pemantauan kami, pihak Orientalis sedang mengalihkan perhatian begitu besar terhadap perubahan pemikiran Islam di Indonesia yang sudah bermula sejak awal tahun 1980-an. Karya-karya ilmuan Muslim yang mengikuti jejak Orientalis seperti Hassan Hanafi, Nasr Hamid Abu Zaid, Muhammad Arkoun, dan lainnya cukup mampu menarik minat di kalangan ilmuan Muslim. Buku ini membahas, antara lain, berbagai kritikan yang dilontarkan pihak Orientalis tentang Al-Qur’an dari berbagai dimensi pemikiran. Tudingan terhadap perbedaan susunan surah-surah, sistem bacaan yang berbeda, kelainan mushafpara sahabat dengan mushaf ‘Uthmani, semuanya dibahas secara lugas dalam mematahkan hujjah yang seringkali didewakan pihak Orientalis. Nuktah-nuktah kritikan Orientalis ditangkis oleh penulis dengan menyentuh akar permasalahan dari kesalahan sumber-sumber yang mereka pakai dan kejahilan terhadap sistem studi Islam yang dipoles dengan kajian mereka terhadap kitab suci orang Barat (The Bible) yang, katanya, betul-betul rapuh dan tidak representatif Yang lebih menarik lagi, beliau mampu mengetengahkan pendapat yang meyakinkan tentang asal usul penulisan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru yang betul-betul, kata beliau, meragukan dan jauh berbeda dengan ke­utuhan kitab suci Al-Qur’an yang terpelihara sejak diturunkannya. Bukti-bukti yang dipakai bukan dilandasi oleh sikap emosional melainkan dilacak dari sumber-sumber ilmiah dan otoritatif guna membuktikan kepalsuannya. Jika kita telusuri, nampak kekentalan komitmen penulis terhadap ajaran Islam sebagai landasan berfikir, prilaku, budaya, dan konstitusi. Nampak juga beliau ingin meletakkan pendapatnya sebagai bamper dalam menghadapi se­gala bentuk serangan negatif pihak Orientalis terhadap Al-Qur’an dan ajaran­Nya. Salah satu cara yang efektif, begitu kata penulis, Orientalis ingin me­nyihir para ilmuan Muslim agar mau menerapkan sistem studi Islam dari sisi pandangan Barat dalam mengkaji Alkitab (The Bible). Nampaknya, penulis benar-benar geram dan apa pun rencana pihak Orientalis terhadap Al-Qur’an, tidak dapat dihadapi dengan slogan kosong seperti yang biasanya dipakai oleh sementara kelompok yang kebesaran semangat tanpa mempelajari segi-segi kelemahan agama dan budaya pihak lain dari sumber yang autentik. Saat pihak Orientalis menuding kelemahan kompilasi Al-Qur’an, pengaruh ajaran Judeo-Christian terhadapnya, dan Muhammad sebagai imposter, penulis menangkis semua tuduhan dengan menguak asal usul Alkitab (The Bible) yang penuh kerancuan. Hujah-hujah yang dipakai sangat signifikan bagi yang berminat menggali lebih dalam tentang sejarah Perjanjian Baru (PB) dan Perjanjian Lama (PL). Jika di awal tahun 1980an Maurice Buccaile sempat menyajikan kajian ilmiah Kitab Suci Al-Qur’an, di mana kebenarannya sengaja ingin ditutup-tutupi oleh dunia Barat, konstribusi Mustafa al-‘A,zami adalah pembuktian ilmiah atas dasar sumber-sumber Barat tentang kerancuan Alkitab dan agenda tertentu pihak Orientalis yang dimanfaatkan oleh kepentingan Barat sebagai senjata ampuh dalam menundukkan kembali dunia Islam sebagai slavery baru. Barangkali sementara pihak ada ber­pendapat tidak perlu mengangkat permasalahan seperti ini demi mempererat kerjasama Timur dan Barat: Islam dan Kristen. Nampaknya sikap ‘Azami sengaja ingin mendemonstrasikan bagaimana pihak Orientalis menghujat tentang kompilasi Al-Qur’an melalui metode pendekatan sistem studi agama Barat yang ingin dipaksakan dalam kajian Al-Qur’an. Kami harap karya ini dapat memberi sumbangan yang berarti dalam memenuhi khazanah keilmuan Islam sebagai panduan hidup seperti diharap oleh pengarangnya. Kuala Lumpur, Maret 2005 PROF. DR. MUHAMMAD KAMAL HASSAN DAFTAR-ISI : PENGANTAR PENERBIT PENGANTAR REKTOR U I I M KATA PENGANTAR I. SEJARAH TEKS AL-QUR’AN BAB 1   : PENDAHULUAN BAB 2   : SEKILAS TENTANG SEJARAH ISLAM DI MASA SILAM BAB 3   : WAHYU & NABI MUHAMMAD SAW BAB 4   : PENGAJARAN AL-QUR’AN BAB 5   : REKAMAN & PENYUSUNAN AL-QUR’AN BAB 6   : KOMPILASI TULISAN AL-QUR’AN BAB 7   : MUSHAF ‘UTHMANI BAB 8   : PERKEMBANGAN ALAT PEMBANTU BACAAN MUSHAF ‘UTHMANI BAB 9   : SEJARAH TULISAN ARAB KUNO BAB 10 : TULISAN & EJAAN BAHASA ARAB DALAM AL-QUR’AN BAB 11 : PENYEBAB MUNCULNYA RAGAM BACAAN BAB 12 : METODE PENDIDIKAN MUSLIM BAB 13 : APA YANG DISEBUT IBN MAS’UD & TUDUHAN RAGAM BACAAN II. SEJARAH KITAB-KITAB SUCI BIBLIKAL BAB 14 : SEJARAH AWAL AGAMA YAHUDI: SELAYANG PANDANG BAB 15 : PERJANJIAN LAMA & PERUBAHANNYA BAB 16 : SEJARAH AWAL KRISTEN: SELAYANG PANDANG BAB 17 : PERJANJIAN BARU: PENGARANG YG ANONIM & PERUBAHANNYA III. KAJI ULANG RISET ORIENTALIS BAB 18 : ORIENTALIS & AL-QUR’AN BAB 19 : BEBERAPA MOTIVASI ORIENTALIS: KAJIAN SUBYEKTIVITAS BAB 20 : ULASAN & PENUTUP BIOGRAFI *) Nb. Mohon  maaf beberapa gambar tidak dapat disalin disini.. KATA PENGANTAR Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang Buku ini mencakup pengenalan ringkas tentang sejarah Al-Qur’an dari segi penulisan dan koleksinya. Barangkali muncul pertanyaan dari kalangan pembaca mengapa sepertiga isi buku ini mengupas Kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru segala. Apa ada kaitannya dengan sejarah A1-Qur’an. Kami berharap pertanyaan ini dapat terungkap secara rinci melalui bab-bab yang menyentuh akar permasalahan. Sebenarnya fikrah penulisan tentang koleksi dan pemeliharaan Al-Qur’an yang demikian unik telah mengusik pikiran kami sejak tiga setengah tahun yang silam. Buku yang sedang Anda baca ini, kami kerjakan bersamaan dengan tulisan lain tentang Metodologi Studi Keislaman. Tulisan Toby Lester (seorang wartawan) yang dimuat di The Atlantic Monthly bulan Januari, 1999, berusaha mengacaukan pikiran yang sedemikian parah di kalangan umat Islam dan telah membakar semangat konsentrasi penulisan. la mengatakan, “Kendati umat Islam percaya Al-Qur’an sebagai kitab suci Allah yang tak pernah ternoda dari pemalsuan mereka, tak mampu mengemukakan pendapat secara ilmiah.” Tantangan ini mengemuka dan kami merasa terpanggil menghadapinya dengan mengupas tentang metode penelitian yang layaknya dipakai oleh ilmuwan di masa silam dalam menerima teks Al-Qur’an yang benar dan sikap penolakan mereka terhadap pemalsuan. Hal ini pula yang menyebabkan terjadinya pengulangan yang tak terelakkan dari beberapa materi buku ini. Karena sebagian besar ilmuwan, seperti dikutip oleh T. Lester, terdiri dari kaum Yahudi dan Kristen, maka kesimpulan kami akan dirasa tepat guna mengadakan pembedahan secara tuntas terhadap Kitab Perjanjian Baru dan Perjanjian Lama sebagai studi banding. Dengan cara ini diharap dapat membantu para pembaca dalam menyikapi perbedaan pendapat antara cendekiawan muslim dan para orientalis secara objektif dan kritis. Dengan memberi penekanan pendapat tentang transformasi teks ­Al-Qur’an seutuhnya secara lisan, kalangan orientalis berusaha menepis sejarah penulisan dan kompilasinya di masa Muhammad . (Banyak di antara mereka yang menepis anggapan bahwa hasil kompilasi di masa khalifah Abu Bakr dan sebagian yang lain lebih dapat menerima upaya yang dilakukan oleh ‘Uthman. Hanya selisih lima belas tahun setelah wafatnya Rasulullah dengan distribusi naskah Al-Qur’an ke pelbagai wilayah Dunia Islam. Dengan melihat rentang masa dan kekeliruan yang amat mendasar, kalangan orientalis berusaha memaksakan pendapat tentang kemungkinan terjadinya kesalahan yang menyeruak ke dalam teks Al-Qur’an di masa itu. Herannya, pa:a ilmuwan Kitab Injil selalu menganggap benar sejarahnya, meskipun beberapa Kitab Perjanjian Lama ditulis berdasarkan transformasi lisan setelah berselang delapan abad lamanya.1 Perhatian utama kaum orientalis tercurah pada aspek naskah bahasa Arab dengan menyentuh segi-segi kelemahannya, kendati hanya setengah abad setelah wafatnya Rasulullah dalam penyusunan naskah tulisan dan meng­hilangkan asal usul yang memiliki dwimakna. Mereka menuduh periode ter­sebut sebagai distorsi penting terjadinya pemalsuan teks asli, kendati dengan cara ini mereka menolak anggapan sebelumnya tentang keberadaannya secara lisan yang pada hakikatnya, orang-orang pada masa itu telah menghafal Al­Qur’ an dan bahkan memiliki naskah tertulis. Oleh karena itu, “naskah yang tidak lengkap” tidak memberi pengaruh sedikit pun dalam rentang masa lima puluh tahun. Sebaliknya naskah bahasa Yahudi, yang mengalami transmisi saat kembalinya orang Yahudi itu dari Babilonia ke bumi Palestina sejak masa penawanan, sama sekali tanpa bukti ilmiah dan hal demikian berlaku selama dua ribu tahun hingga terjadinya kontak dengan orang-orang Arab Muslim yang memacu mereka dalam hal tersebut. Adanya anggapan bahwa selisih waktu lima puluh tahun sebagai pembuktian hancurnya naskah Al-Qur’an dan kemungkinan adanya keragu-raguan, sangat tidak masuk akal. Di waktu yang sama Kitab Perjanjian Lama mengalami kesenjangan masa transmisi lisan selama dua abad. Melalui argumentasi dan bukti-bukti yang meyakinkan, pada masa itu terdapat Mushaf Hijazi sejak abad awal Hijriah (akhir abad ke-7 dan permulaan abad ke-8 Masehi). 2 Selain itu, juga terdapat bukti kuat adanya beberapa bagian naskah AI-Qur’an yang ditulis pada permulaan abad pertama. Menolak anggapan akan nilai lembaran tulisan itu, para orientalis beranggapan bahwa mereka terlambat dalam membuktikan teks Al-Qur’an yang bersih dari noda hitam. Mereka lebih senang mengikuti anggapan serta pendapat yang tak dapat dipertanggung jawabkan.3 Dengan membandingkan kesempurnaan naskah tertua yang ditulis pada pertnulaan abad ke-11 Masehi,4 dan naskah Kitab Injil bangsa Yunani yang ditulis pada abad.ke-10 Masehi,5 tampaknya sikap dan perhatian seperti itu tidak dapat diterapkan di sini. Ketidaksesuaian sikap terhadap Al-Qur’an di satu sisi, dan Kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru di sisi lain, dapat diterapkan jika sekiranya kita hendak membuat penilaian terhadap nilai keutuhan Al-Qur’an. Praktik yang telah mapan sejak lahirnya sejarah literatur keislaman mem­beri isyarat bahwa setiap teks keagamaan (hadith, tafsir, fiqh dll.) transmisinya hanya dapat dilakukan oleh mereka yang pernah belajar langsung dari penulis dan kemudian mengajarkan pada generasi berikutnya. Transmisi secara utuh selalu dipertahankan guna memberi peluang pada kita agar dapat menatap secara tajam terhadap asal usul tiap buku yang berkaitan dengan hukum Islam,6 sekurang-kurangnya pada permulaan abad pertama-suatu metode pembuktian kesahihan yang tidak mungkin tersaingi oleh siapa pun hingga saat ini.7 Jika kita hendak menerapkan prinsip dasar sistem transmisi literatur Muslim pada semua buku apa saja yang tersedia guna membuktikan keabsahan pengarang­nya merupakan hal yang tak mungkin dapat dilakukan. Selain Kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru ditulis tanpa nama, bagaimanapun, tradisi keilmuan Barat merasa lebih senang memberi legitimasi sejarah daripada sistem mata rantai transmisi, yang senantiasa dipandang dengan sikap ragu dan kurang memadai. Setelah kami teliti kedua metode Muslim dan Barat, hasil yang ada kami serahkan sepenuhnya pada para pembaca untuk memberi kata kunci mana di antara keduanya yang lebih masuk akal. Yahudi dan Kristen tidak diragukan lagi merupakan agama, seperti ter­catat dalam sejarah. Hanya saja sikap keragu-raguan muncul dalam hal penulisan Kitab Perjanjian lama dan Perjanjian Baru. Tentunya jawaban itu tidak dapat dikemukakan secara sederhana. Pada mulanya Kitab Perjanjian Lama dianggap sebagai karya wahyu Ilahi, namun pada masa berikutnya dianggap sebagai karya Nabi Musa. Teori terakhir mengatakan bahwa beberapa sumber (lebih dari seribu tahun) bertambah akan adanya lima kitab karya Nabi Musa.8 Siapa sebenarnya para penulis gurem itu? Bagaimana sikap kejujuran dan akurasi mereka? Sejauh mana dapat tepercaya pengetahuan mereka tentang ke­jadian-kejadian yang terlibat di dalamnya? Adakah mereka ikut berperan dalam peristiwa yang terjadi? Dan sejauh manakah buku-buku yang tersedia dari peristiwa yang ada dapat sampai ke tangan kita? Dari fakta yang dapat dilacak, semua Kitab Perjanjian Lama muncul ke atas pentas lalu tenggelam beberapa ratus tahun kemudian sebelum muncul kembali secara tiba-tiba.9 Kemudian kitab-kitab itu kembali tenggelam tanpa bekas selama beberapa abad, yang kemudian tiba-tiba ditemukan kembali. Coba bandingkan cerita sejarah ini dengan ribuan manusia berjiwa saleh yang hidup mengelilingi Nabi Muhammad dan berperan secara aktif di saat perang dan kedamaian, di kala susah dan senang, semuanya terlibat dalam proses dokumentasi tiap ayat Al-Qur’an dan hadith. Sejarah hidupnya membentuk rangkaian peristiwa yang tajam – a poignant chronicle -kendati para orientalis kebanyakan menolak dan menganggap masalah ini sebagai cerita fiktif di mana menurut pendapat Wansbrough laksana percontohan “kedamaian sejarah”, tanpa menyadari apa yang sebenarnya telah terjadi. Sementara itu, para ilmuwan lain secara aktif terlibat dalam penghapusan riwayat keagamaan mereka karena semata-mata menginginkan sesuatu yang baru di mana dapat kami sajikan secara sekilas cerita penyaliban Jesus. Pendapat Yahudi ortodoks-menegaskan, Menurut Kitab Talmud, Jesus dieksekusi melalui pengadilan para rahib karena pemujaan terhadap berhala, yang menyebabkan orang Yahudi membuat berhala lain serta menghina otoritas para rahib agama Yahudi. Semua sumber klasik agama Yahudi mengatakan penyaliban Jesus di­lakukan dengan senang hati guna menanggung rasa tanggung jawab, sedangkan menurut cerita dalam Talmud bangsa Romawi sama sekali tidak disebut.10 Sebagai tambahan terhadap serangkaian pelecehan seks terhadap Jesus, Talmud mempertegas bahwa sanksi hukuman yang diberikan di dalam neraka adalah ditenggelamkan ke dalam tempat najis yang mendidih..11 Ironisnya, Kitab Perjanjian Baru dan Kristiani modern melenyapkan semua sumber itu kendati tersebut dalam Talmud. Apakah arti definisi kesucian jika perubahan secara sengaja dilakukan baik dari segi kata-kata maupun nada yang dibuat pada kitab suci pada saat ini dan seterusnya?12 Dan apa yang sedang berlaku untuk dijadikan latar belakang permasalahan, bagaimana mungkin beberapa kalangan intelektual dapat menerima Yahudi dan Kristen sebagai agama sejarah saat mereka menolak hal yang sama terhadap agama Islam?13 Pokok permasalahan di sini bukan masalah Islam atau apa yang dikatakan oleh sumber-sumber keislaman melainkan bagaimana seorang Muslim me­mandang keimanan mereka dan bagaimana yang dikehendaki oleh para peneliti orientalis dalam melihat permasalahan. Beberapa tahun yang silam Profesor C.E Bosworth, salah seorang editor ensiklopedi Islam yang diterbitkan oleh J. Brill, menyampaikan kuliah di Universitas Colorado. Ketika ditanya mengapa para intelektual Muslim yang mendapat pendidikan di Barat tidak pernah diikutsertakan kontribusinya pada ensiklopedi yang menyangkut berbagai masalah mendasar (seperti Al-Qur’an, hadith, jihad, dll.), dia menjawab bahwa karya ini ditulis oleh para penulis Barat untuk orang Barat. Jawaban tersebut kendati mungkin setengahnya benar, kenyataannya karya tersebut bukanlah semata-mata untuk kalangan masyarakat Eropa. Untuk itu pantas kiranya dicatat apa yang ditulis oleh Edward Said dalam karya ilmiahnya yang berjudul Orientalism: “Mereka tidak dapat mewakili diri sendiri melainkan mereka harus diwakili.” -KarlMarx.14 Di sini Marx sedang mengutarakan pikirannya pada kaum tani Prancis, akan tetapi upaya membungkam contoh besar pihak lain dengan sebuah anak kalimat dan melempar beban representasi secara keseluruhan pada pihak luar tidak dapat dianggap sebagai cerita novel. Poin terakhir sebelum menyudahi kata pengantar ini. Saat penelitian tertentu menghasilkan sebuah teori, dunia akademi mencatat bahwa ia mesti dihadapkan pada sistem tes yang amat mendasar. Jika ternyata gagal maka harus diadakan perubahan atau diuji kembali dan bahkan mungkin dicampak­kan. Sangat disayangkan pengajian tentang Islam dikotori oleh teori yang menyakitkan yang meningkat pada salah satu titik yang hampir menjadi fakta kasar, kendati mereka gagal pada beberapa langkah yang dilakukan. Kedua contoh berikut akan memberi penjelasan. @Professor Wensinck memberi komentar terhadap hadith terkenal tentang kelima rukun Islam: Islam dibangun atas lima fondasi: Memberi kesaksian tiada tuhan me­lainkan Allah, mendirikan shalat, membayar zakat, puasa bulan Rama­dhan, dan menunaikan ibadah haji ke Baitullah.15 Ia memandangnya sebagai hal yang palsu karena mencakup kalima shahada (memberi kesaksian bahwa tiada tuhan melainkan Allah). Menurutnya, para sahabat Nabi Muhammad mengenalkan kalima tersebut setelah bertemu dengan orang-orang Kristen dari Suriah yang kemudian memberi kesaksian keimanan. Dari itu, katanya lagi, ia mencuri ide itu dari orang Kristen untuk membangun salah satu faktor penting dari rukun Islam. Dihadapkan pada persoalan bahwa kalima shahada merupakan bagian dari tashahud dalam shalat harian, Wensinck membuat teori baru selain mengadakan modifikasi teori sebelumnya: bahwa standard shalat dibuat setelah wafatnya Nabi Muhammad.16 Barangkali, teori selanjutnya masih diperlukan mengingat Wensick tidak memberi penjelasan adanya teori kalima dalam adhan () dan iqama (),17 demikian pula halnya ia tidak memberi penjelasan bila kedua kalima tersebut diperkenalkan ke dalam Islam. Contoh kedua yang kami kemukakan di sini adalah Goldziher, di mana ia membuat sebuah teori bahwa munculnya perbedaan qira’at () dalam Al-­Qur’an disebabkan konsonan teks yang digunakan pada naskah Al-Qur’an terdahulu. Dengan mengangkat beberapa contoh guna menunjukkan validitas pemikirannya, ia mengelak untuk menyebut ratusan contoh di mana teori yang ia bangun telah gagal-kendati ia tak pernah berhenti mencari popularitas di tengah sementara kelompoknya.18 Upaya sungguh-sungguh telah dilakukan dalam membuat atau melaku­kan pekerjaan ini sedang faedah sebagai seorang ilmuwan hanya berlaku pada orang-orang biasa. Jika terdapat bagian di mana yang terdahulu terdapat pengulangan atau yang kemudian dipahami oleh beberapa orang saja, hal ini karena mempertahankan penggunaan perantara yang menyenangkan dirasa kurang memungkinkan. Sehubungan dengan terjemahan ayat-ayat Al-Qur’an bahasa Inggris, sebenarnya tidak terdapat terjemahan Al-Qur’an ke dalam bahasa itu secara seragam dalam buku ini, kendati sebagian besar ayat-ayat yang diterjemahkan mengacu pada terjemahan Yusuf Ali atau Mohammad Asad. Terjemahan­terjemahan tersebut sering mengalami perubahan dan kadang-kadang ditulis kembali tergantung sejauh mana kejelasan yang kami temukan dalam upaya terjemahan yang asli. Hal ini tidak membuat kekhilafan mengingat Al-Qur’an itu ditulis dalam bahasa Arab, sedang tugas penerjemah semata untuk menghilangkan beberapa arti yang tak jelas dalam teks. Hasil terakhir bukanlah Al-Qur’an melainkan semata-mata terjemahan (seperti adanya bayang-bayang adalah karena disebabkan bayangan itu sendiri), dan selama tidak ada kesalahan dalam mencatat atau pengambilan di luar konteks, maka tidak dirasa perlu mengikuti terjemahan tertentu. Pembaca dapat melihat bahwa secara umum kami menggunakan ungkapan-ungkapan kebesaran atau doa setelah menyebut beberapa nama seperti (suatu ungkapan menunjukkan kebesaran) setelah menyebut nama Allah, (shalawat dan salam kepadanya) setelah menyebut nama Muhammad, (salam untuknya) setelah menyebut nama-nama lain dari para Nabi seperti Ibrahim, Isma’il, Musa, ‘Isa dll.), atau (semoga Allah melimpahkan rahmat dan ridha-Nya) setelah menyebut nama sahabat. Tujuan saya adalah untuk menjaga keserasian naskah sebisa mungkin, dengan harapan para pembaca di kalangan umat Islam dapat memasuki sisipan ungkapan itu ke dalam teks secara benar dan sesuai. Beberapa intelektual Muslim terkemuka seperti Imam Ahmad bin Hanbal mengikuti cara yang sama, kendati para penulis berikutnya menganggap lebih tepat guna menambahkan ungkapan-ungkapan seperti itu secara lebih detail ke dalam teks, seperti pandangan mata mampu menem­patkan penglihatan secara tepat sesuai dengan nalurinya. Sebuah catatan dan peringatan. Keimanan seorang Muslim memerlukan adanya kepercayaan tangguh tentang keaslian dan kesalehan perilaku semua Nabi Allah. Di sini kami hendak mencatat dari sumber-sumber bukan orang Islam di mana sebagian mereka tak segan-segan merujuk kepada Tuhan mereka, Jesus sebagai pelaku zina ataupun homoseksual, Nabi Dawud sebagai perencana zina, dan Nabi Sulaiman sebagai pelaku syirik. (Ya Allah, betapa tidak adilnya kata-kata seperti itu.) Sebagaimana kurang praktis memasukkan satu catatan bilamana kami menukil ide-ide murahan seperti itu, namun kami cukup dengan memperjelas sikap umat Islam di mana kata-kata seperti itu tidak memantulkan penghormatan di mana umat Islam mempertahankan tanpa syarat dan melakukan pembelaan pada semua Nabi-Nabi Allah. Pada akhirnya, dalam menulis buku ini kami selalu berusaha memilih pendapat terbaik yang representatif dalam memberi penjelasan kasus permasalahan dan menghindari pembicaraan bertele-tele tentang semua pendapat yang ada dan hal ini, barangkali, akan memberi minat pada para pembaca secara umum. Kami harap para pembaca akan terus menelusuri halaman-halaman berikut yang kami tawarkan. Kami merasa berkewajiban, dengan segala senang hati, menyebut beberapa nama dari negeri Yaman. Tanpa bantuan, ketja sama, serta izin yang mereka berikan rasanya tidak mungkin dapat memfotokopi naskah AI-Qur’an kuno dari San’a’. Mereka adalah Sheikh ‘Abdullah bin Husain al-Ahmar, Sheikh al-Qadi Isma’il al-Akwa’ (yang telah memperlakukan sebagai ke­sayangan seorang ayah), Dr. Yusuf Muhammad ‘Abdulllah, al-Ustadh ‘Abdul Malik al-Maqhafi, dan Nasir al-‘Absi (di mana dengan segala kebaikannya mereka memfotokopi naskah). Semoga Allah membalas kebaikan mereka dunia dan akhirat. Kami harus mengakui jasa baik Khuda Buksh Library, Patna, dan juga Salar Jung Meseum, Hyderabad (terutama Dr. Rahmat ‘All) di mana telah mengizinkan pemanfaatan materi yang begitu luas, dan Dr. Wiqar Husain dan Abu Sa’d Islahi dari Raza Library, Rampur, yang telah menyedikan slides berwarna dari beberapa naskah tertentu. Rasanya masih banyak lagi yang perlu diberi kata penghargaan secara khusus. Yayasan Raja Faisal (King Faisal Foundation) yang telah menominasi­kan saya sebagai profesor tamu pada Princeton University, dan juga Princeton Seminary yang telah menyediakan kaleidoskop yang kaya dengan bahan penulisan buku ini, orang-orang di Mushaf Madinah yang telah membantu mencetak teks Al-Qur’an secara akurat. Terima kasih juga kami sampaikan pada Madani Iqbal Azmi dan juga pada Tim Bowes atas bantuan mereka dalam penyusunan naskah ini, dan kepada Muhammad Ansar yang telah menyiapkan indeks, Ibrahim al-Sulaifih sebagai pembantu luar biasa selama penulisan buku ini, dan kepada Prof. Muhammad Qutb, Dr. ‘Adil Salahi, Br. Daud Matthews, Dr. ‘Umar Chapra, Sheikh Jamal Zarabozo, Br. Hashir Faruqi Sheikh Iqbal Azmi, ‘Abdul Basil Kazmi, ‘Abdul Haq Muhammad, Sheikh Niham Ya’cubi, Dr. ‘Abdullah Subayh, Haroon Shirwani, dan juga tnasih banyak lagi yang terlibat dalam proofreading naskah dan memberi masukan-masukan yang sangat berharga. Kami juga harus menyampaikan rasa terima kasih sedalam-dalamnya atas bantuan yang tak terhingga dalam upaya penulisan buku terutama kepada anak saya yang pertama `Aqil atas bantuari yang tak putus dalam menyiapkan naskah, sistem transliterasi, pengumpulan bibliografi, dan pada anak perem­puan saya, Fatimah, dalam membantu memfotokopi dan anak lelaki saya yang lebih muda, Anas, yang perlu mendapat penghargaan sepenuhnya dalam mem­buat naskah bahasa Inggris sehingga menjadi lebih balk dan jelas. Penghargaan khusus saya sampaikan pada istriku yang telah berlapang dada selama lebih kurang lima puluh tahun membina rumah tangga dan mengalami penderitaan dan pengorbanan yang telah ia alami dengan kesabaran yang luar biasa dan selalu menunjukkan sikap ceria. Semoga Allah membalas kebaikan dan kemurahan hati mereka. Pada akhirnya, rasa syukur yang teramat dalam kami sampaikan kepada Allah Yang Mahakuasa yang telah memberi kemudahan dan keistimewaan dalam mengarungi penulisan. Jika terdapat kekhilafan dalam buku ini adalah semata-mata dari saya pribad19 dan apa pun yang menggembirakan-Nya adalah semata-mata dalam rangka memuji kebesaran-Nya. Kami berdoa mudah­mudahan Dia berkenan menerima karya ini sebagai upaya ikhlas karena-Nya. Buku ini pada dasarnya diselesaikan di Riyad, Saudi Arabia, pada bulan Safar 1420 A.H./Mei 1999. Pada tahun-tahun berikutnya mengalami revisi sewaktu saya berada di beberapa kota di luar negeri (Timur Tengah dan Eropa). Salah satunya di al-Haram as-Sharif, Mekah, pada Ramadan 1420 A.H./ Desember 1999, dan revisi terakhir dilakukan di Riyad, Dhul-Qi’dah 1423 A.H./Januari 2003.M.M. al-‘Azami                     . Catatan kaki 1. Meskipun keberadaan transmisi secara lisan itu sendiri masih dipertanyakan. Harap dilihat pada bab ke-15. 2. Saya berusaha, jika memungkinkan, menggunakan istilah C.E (common era) sebagai ganti dari istilah A.D (Anno Domini), yang memberi pengertian tentang ‘tahun ketuhanan’. 3. M. Minovi dalam artikelnya yang berjudul “Outline History of Arabic Writing”, beranggapan bahwa bagian tulisan Al-Qur’an yang terdapat pada abad pcrmulaan hijriyah dianggap scbagai pemalsuan ataupun anggapan dugaan. (A. Grohmann, “The Problem of Dating Early Qur’ans”, Dcr Islam, Band 33, Sep. 1958, hlm. 217). 4. Dalam ucapannya, A.B. Beck dalam kata pengantar terhadap Leningrad Codex, “The Leningrad Codex adalah Naskah Hebrew Bible yang paling sempurna … Hanya dalam naskah lain yang dianggap “paling sempurna” Hebrew Bible dari segi tradisi penulisan. Aleppo Codex, dianggap satu abad lebih dulu…. Hanya saja, Aleppo Codex ternyata sekarang terdapat fragmentasi dan tidak tertulis tanggal, sedangkan Leningrad Codex lebih sempurna dan tertanggal 1008 atau 1009 C.E.” (“Introduction to the Leningrad Codex”, in The Leningrad Codex: A Facsimile Edition, W.B. Eerdmans Publishing Co., 1998, hlm. ix-x). Untuk lebih jclas dapat dilihat dalam buku ini him. 238-40. 5. Menurut B.M. Metzger, “…salah satu naskah Injil tertua dalam Bahasa Yunani di tulis oleh seorang pemimpin gereja bernama Michael pada tahun 6457/A.D.949). Sekarang terdapat pada perpustakaan Vatican (no.354).” (The Text of the New Testament: Its Transmission, Corruption, and Restoration, 3rd enlarged edition, Oxford Univ. Press, 1992, h1m.56). Untuk lebih jelas harap dilihat pada hlm. 285-6. 6. Hukum Islam. 7. Hal ini dapat dilihat pada bab ke-12. 8. Umat Islam mempercayai bahwa Kitab Taurah dan Zabur keduanya sebagai wahyu Tuhan namun kemudian hilang dan terjadi penyimpangan. Hanya sedikit saja di antara Kitab Perjanjian Lama yang ada sekarang dianggap asli kendati dalam kenyataan banyak tercecer dari seluruh naskah yang ada. Memberi Pengakuan sebagai sesuatu yang asli dirasa agak sulit menerimanya. Sebagai ukuran mesti memiliki kesamaan dengan ajaran yang terkandung di dalam AI-Qur’an dan as-Sunnah. 9. Lihat Kings hlm. 14-16. 10. Israel Shahak, Jewish History, Jewish Religion, Pluto Press, London, 19977, pp.97-98. Sedangkan Kitab Suci Al-Qur’an menafikan adanya penyaliban (Q 4:157), ia tidak mencatat anggapan Yahudi tentang penyaliban Jesus. 11.  Ibid, h1m.20-21. 12. Untuk lebih jelas harap dilihat pada buku ini h1m.291-2. 13. Andrew Rippen, “Literary analysis of Qur’an, Tafsir, and Sira: The Methodologies of John Wansbrough”, in R.C. Martin (ed.), Approaches to Islam in Religious Studies, Univ. of Arizona Press, Tuscon, 1985, hlm. I51-52. 14. Edward Said, Orientalism, Vintage Books, New York, 1979, hlm. xiii. 15. Muslim, Sahih, al-Iman:22. Kata al-bayt’ mengisyaratkan pada Masjid al-Haram di kota suci Mekah. 16. A.J. Wensinck, Muslim Creed, Cambridge, 1932, hlm. 19-32. 17. Terdapat dua panggilan bagi umat Islam dalam shalat lima waktu. Pertama adhan dan yang kedua iqama (sebelum shalat dilakukan). 18. Untuk lebih jelas dalam diskusi ini, harap dilihat pada bab ke-11. 19. “Allah tidak menghendaki adanya kitab yang bebas dari kesalahan kecuali Kitab-Nya sendiri.” “ Hai orang-orang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. “1 …………………………………………………………………….. Petunjuk, Kesenangan dan Keindahan. Bagi seorang yang beriman Kitab Suci Al-Qur’an akan melebihi segalanya: denyut keimanan, kenangan di saat mengalami kegembiraan dan penderitaan, sumber realitas ilmiah yang tepat, gaya lirik yang indah, khazanah kebijaksanaan serta munajat. Ayat-ayatnya menghiasi mulai dinding toko buku hingga ruang tamu, terukir dalam ingatan tua dan muda, serta gaungya terdengar di keheningan malam dari atas menara masjid di seluruh dunia. Namun demikian, Sir William Muir (1819-1905) tetap memberi pernyataan, “Islam sebagai musuh peradaban, kebebasan, clan kebenaran seperti dunia telah mengakuinya.”2 Tak ada manusia lain yang ber­sikap toleransi kecuali menebar rasa benci dan curiga terhadap A1-Qur’an sejak abad-abad silam hingga kini seperti dilakukan oleh para ilmuwan, penginjil, hingga para politikus musiman. Dikotomi seperti itu sangat menyakitkan hati umat Islam dan juga membingungkan kalangan non-Muslim yang pada giliran­nya akan membenarkan anggapan bahwa setiap kelompok akan menghina kitab suci orang lain. Di mana bukti dan faktanya? Dihadapkan pada pokok pembicaraan yang teramat luas lagi sensitif dan penuh pemikiran yang perlu pertimbangan, saya menjelajah ke mana-mana yang pada mulanya, kemudian membuahkan hasil, berawal dari sebuah artikel yang ditulis oleh seseorang yang namanya tak pernah saya dengar sebelumnya. Apakah Al-Qur’an itu? Artikel utama terbitan Januari 1999 yang dimuat di Atlantic Monthly, mengangkat asal usul keaslian dan integritas Al-Qur’an.3 Kualifkasi pengarang, Toby Lester, seluruhnya seperti tertulis dalam majalah memberi isyarat bahwa la tidak belajar Islam kecuali dari pengala:nan selama tinggal di Yaman dan Palestina beberapa tahun kendati hal ini tidak me­nunjukkan tanda-tanda untuk menghalangi karena tampaknya ia belajar sungguh-sungguh dalam membuat perdebatan. la mengatakan, Keilmuan Barat tentang Al-Qur’an biasanya terjadi dalam bentuk pernyataan permusuhan secara terbuka antara Kristen dan Islam. Ilmuwan Kristen dan Yahudi khususnya menganggap Kitab Suci Al-Qur’an ada dalam lingkaran perubahan…4 Setelah mengupas kecaman William Muir terhadap Al-Qur’an, T. Lester, menjelaskan bahwa dulu para ilmuwan Soviet melihat Islam berdasarkan sikap keragu-raguan ideologi. N.A. Morozov misalnya, dengan mudah memberi alasan bahwa “hingga masa Perang Salib tidak dapat dibedakan dengan agama Yahudi dan hanya setelah masa itu ia memiliki ciri khas tersendiri sedang Muhammad dan para Khalifah pertama tidak lebih dari tokoh dalam cerita bohong.”5 Pendapat ini dapat memberi isyarat pada pihak lain bahwa pendekatan yang dilakukan T. Lester karena semata-mata akademik: suatu keingintahuan seorang wartawan dalam memberi laporan secara jujur. Dalam satu wawancara dengan harian ash-Sharq al-Awsat 6 ia menolak anggapan akan adanya niat jahat, perasaan marah, perilaku salah terhadap umat Islam dan bahkan bersikeras ingin mencari kebenaran. Tetapi tak bisa dimungkiri bahwa ia telah menguras tenaga dalam mengumpulkan sumber informasi dari kelompok yang antitradisi dan menyeru perlunya penafsiran ulang terhadap Kitab Suci umat Islam. Secara jelas ia mengutip pendapat Dr. Gerd R. Joseph Puin, perihal pemulihan kepingan kertas kulit naskah Kitab Al-Qur’an yang terdapat di San’a’, Yaman, yang saya lihat baru-baru ini di mana la dan kelompoknya pantas mendapat acungan jempol. Sekarang, seorang pekerja penjilidan buku yang dapat melakukan tugasnya dengan balk tentang matematika yang teramat kompleks, tidak secara otomatis sama derajatnya dengan pakar matematika karena jasanya dalam tnengatur halaman-halaman yang ada. Di sini J. Puin dikelompokkan sebagai ahli tentang sejarah Al-Qur’an secara keseluruhan, “Begitu banyak kaum Muslimin beranggapan bahwa Al-Qur’an merupakan kata-kata Tuhan yang tidak pernah mengalami perubahan,” begitu kata Dr. Puin. “Mereka sengaja mengutip karya naskah yang menunjukkan bahwa Bible memiliki sejarah dan tidak langsung turun dari langit, namun hingga sekarang AI-Qur’an berada di luar konteks pembicaraan ini. Satu-satunya cara menggempur dinding penghalang ini adalah mengadakan pembuktian bahwa Qur’an juga memiliki sejarah. Beberapa kepingan kertas kulit yang ada di San’a akan dapat membantu upaya ini.”7 Referensi lain yang digunakan T. Lester adalah Andrew Rippin, seorang profesor di bidang kajian agama-agama dari Universitas Calgary yang menjelaskan, “Bacaan yang berlainan dan susunan ayat-ayat kesemuanya teramat penting. Semua orang sependapat akan masalah ini. Naskah-naskah ini menyebut bahwa sejarah teks Al-Qur’an di masa lampau melebihi dari sebuah pertanyaan terbuka dari apa yang lazim dianggap orang banyak: teks itu tidak tetap dan memiliki kekurangan otoritas dari anggapan yang ada. “8 Secara pribadi saya melihat pendapat Prof. Rippin sangat membingungkan. Di satu sisi sejak masa Nabi Muhammad, para sahabat mengakui adanya perbedaan bacaan. Sangat tidak beralasan untuk dikatakan sebagai penemuan baru. Di sisi lain, bukan Puin sekali pun (sejauh yang saya pahami) beranggapan telah menyingkap perbedaan-perbedaan susunan ayat Al-Qur’an dalam naskah, kendati pendapatnya tentang Al-Qur’an sejalan dengan aliran revisi modern yang mengatakan, “Pemikiran saya adalah bahwa Al-Qur’an tidak lebih dari naskah cocktail yang tidak semuanya dapat dipahami di zaman Nabi Muhammad sekalipun.” Begitu kata Puin. “Banyak di antaranya yang mungkin seratus tahun lebih tua dari Islam itu sendiri. Kendati dalam tradisi ke­ islaman terdapat informasi silang yang amat besar, termasuk dasar agama Kristen; seseorang dapat menyerap seluruh antisejarah Islam dari mereka jika ia menghendaki.” Patricia Crone memberi pembelaan tujuan-tujuan pemikiran seperti ini. “Al-Qur’an tak ubahnya sebagai satc kitab suci dengan satu sejarah seperti agama lain-hanya saja kita tidak memahami sejarah ini dan cenderung ingin membangkitkan teriakan protes saat kita mengkajinya.’ 9 Kalangan orang Arab selalu beranggapan bahwa Al-Qur’an sebagai kitab yang memiliki keunikan lagi indah sampai para penyembah berhala di kota Mekah merasa haru melihat susunan liriknya dan mereka tidak mampu menciptakan seperti itu.10 Mutu seperti ini tidak dapat menghalangi orang­orang seperti Puin melempar penghinaan seperti itu. “Al-Qur’an menyatakan bahwa ini adalah ‘mubeen’, atau ‘jelas’,” katanya. “Tetapi jika Anda perhatikan, Anda akan catat bahwa tiap lima kalimat atau yang sederhana saja tidak dapat dimengerti. Tentunya orang­orang Islam dan juga sebagian orientalis berkata lain, tetapi fakta menunjukkan bahwa seperlima Al-Qur’an tidak dapat dipahami.”11 G.R. Puin mengumbar ucapannya tanpa memberi contoh dan saya telah kehabisan langkah dalam melacaknya di mana letak seperlima Al-Qur’ an yang tidak dapat dimengerti. Lebih lanjut ia menyebut bahwa kesediaan menerima pemahaman seperti itu bermula secara sungguh-sungguh pada abad kedua puluh.12 la merujuk pada tulisan Patricia Crone dengan mengutip pendapat R.S. Humphreys,13 yang kemudian diakhiri dengan pendapat Wansbrough. Serangan utama dari tulisan Wansbrough ingin menciptakan pendapat tentang dua masalah penting. Pertama, Al-Qur’an dan hadith disebabkan oleh berbagai pengaruh komunitas lebih dari dua abad. Kedua, doktrin ajaran Islam mengikuti cara pemimpin agama Yahudi. Tampaknya Puin sedang membaca kembali karyanya di saat sekarang, karena teorinya berkembang begitu lambat dalam kalangan terbatas di mana “umat Islam melihatnya sebagai sikap penyerangan yang menyakitkan.”14 Para pembaca tentu mengenal siapa Cook, Crone dan Wansbrough sejak seperempat abad, wajah baru muncul dari kalangan ini adalah Dr. Puin, yang penemuannya dijadikan rujukan utama dalam karya Lester yang begitu panjang. Beberapa naskah Al-Qur’an di atas kertas kulit dari Yaman merujuk pada dua abad pertama Islam. Terungkap sedikit namun mampu membangkitkan minat melakukan penyimpangan terhadap standar naskah Al-Qur’an. Penyelewengan seperti ini, kendati tidak mengherankan para ahli sejarah naskah Al-Qur’an, pada hakikatnya sangat mengganggu perasaan dan kepercayaan di kalangan Muslim orthodoks yang mempunyai anggapan bahwa Al-Qur’an yang sampai ketangan kita, hingga hari ini, masih dalam bentuknya yang sempurna, tanpa batas waktu, dan kata-kata Tuhan yang tidak pernah berubah. Pada dasarnya upaya kaum sekuler dalam upaya penafsiran ulang terhadap Al-Qur’an-sebagian berdasarkan fakta akan adanya kulit kertas naskah yang ada di Yaman15 sebagai gangguan dan serangan terhadap kalangan Islam sebagaimana rencana pengadaan reinterpretasi Kitab Injil dan kehidupan Jesus yang akan mengganggu dan merupakan penyerangan terhadap kalangan Kristen konservatif. Upaya reinterpretasi sekuler seperti itu, sangat kuat dan-sebagaimana demonstrasi sejarah renaissance dan reformasiakan mengarah terhadap lahirnya perubahan sosia] secara mendasar. Al-Qur’an, bagaimana pun, di saat sekarang merupakan naskah yang paling berpengaruh dari segi pemikiran ideologi.16 Seluruh permasalahan yang ada di hadapan kita adalah seperti berikut:

  • Kitab suci Al-Qur’ an dianggap sebagai naskah yang paling berpengaruh secara ideologi.
  • Kalangan umat Islam melihat Al-Qur’an sebagaimana orang-orang Kristen memandang Kitab Injil kalamullah yang tidak pernah berubah. Fragmentasi naskah Al-Qur’an yang terdapat di Yaman dapat membantu upaya-upaya kalangan sekuler dalam mengadakan reinterpretasi Al­Qur’ an.
  • Kendati merupakan sikap ofensif terhadap sejumlah besar umat Islam, reinterpretasi ini dapat menjadi impetus ‘dorongan’ perubahan sosial secara mendasar seperti yang dialami oleh agama Kristen beberapa abad yang silam.
  • Perubahan-perubahan ini dapat dilakukan dengan menunjukkan bahwa Al-Qur’an pada dasarnya sebagai naskah cair (fluid text) di mana saat masyarakat Islam memberi kontribusi dan secara bebas menata kembali apa yang telah disusun beberapa abad sebelumnya, dapat memberi isyarat bahwa Qur’an tidak lagi suci, dan bahkan telah sesat.

Sebagian besar rujukan yang digunakan T. Lester dan nama-nama yang dikutip kebanyakan dari kalangan ini: Gerd R. Joseph Puin, Bothmer, Rippin, R. Stephen Humphreys, Gunter Lulling, Yehuda D. Nevo, Patricia Crone, Michael Cook, James Bellamy, William Muir, Lambton, Tolstove, Morozov dan Wansbrough. la juga berupaya meyakinkan munculnya cuaca segar di mana dunia Islam mulai menunjukkan langkah positif terhadap gerakan revisionism. Dalam kategori ini ia menyebut nama-nama seperti Nasr AN Zaid, Taha Husain, ‘All Dushti, Muhammad ‘Abdu, Ahmad Amin, Fazlur Rahman, dan akhirnya Muhammad Arkoun dan pesannya yang begitu gencar dalam memerangi pikiran konservatif.l7 Sedang aliran pemikiran dari kalangan ilmuwan tradisional semua dicampakkan, kecuali nama Muhammad ‘Abdu yang kontroversial dimasukkan ke dalam daftar. Akan tetapi, apakah sebenarnya aliran revisionisme itu? Di sini, T. Lester gagal memberi definisi terperinci, maka di sini izinkanlah saya memberi peluang Yehuda Nevo, salah satu sumber utama yang ia kutip membantu mendefinisikannya: Pendekatan kaum “revisionis” sama sekali bersifat monolitik … (akan tetapi mereka) bersatu dalam menolak validitas sejarah pada sejumlah masalah semata-mata berdasarkan fakta-fakta yang diserap dari sumber literatur Muslim. Informasi yang mereka peroleh hendaknya diperkuat dengan data-data kasar yang masih ada… Sumber-sumber tertulis harus diteliti dan dihadapkan dengan bukti dari luar dan jika terdapat silang di antara keduanya, yang kedua harus diberi prioritas lebih.18 Karena bukti dari luar sangat diperlukan dalam memberi pengesahan pendapat setiap Muslim, maka tidak adanya bukti kuat akan membantu penolakan anggapan dan memberi pernyataan secara tidak langsung tentang permasalahan yang tidak pernah terjadi. Karena tidak adanya bukti yang dikehendaki di luar pendapat tradisional, maka akan jadi bukti positif dalam memperkuat hipotesis terhadap sesuatu yang tidak pernah terjadi. Contoh nyata adalah kurangnya bukti di luar literatur Muslim, di mana berdasarkan fakta yang ada semua orang Arab sudah memeluk agama Islam saat terjadi penaklukan kota Mekah.19 Hasil pendekatan revisionis tidak lain ingin menghapus sejarah Islam secara menyeluruh dan pemalsuan terhadap yang lain di mana peristiwa seperti munculnya berhala di kota Mekah sebelum Islam, permukiman Yahudi di Madinah, dan kemenangan umat Islam terhadap Byzantin atau imperium Byzantin di Syria semuanya ditolak. Pada dasarnya, gerakan revisionisme memandang bahwa berhala yang ada di Mekah sebelum Islam semata-mata penjelmaan khayal dari budaya keberhalaan yang berkembang di sebelah selatan Palestina.20 Masalah sentral yang perlu mendapat penjelasan di sini adalah adanya tujuan pasti di balik penemuan yang ada. Hal tersebut bukan muncul secara vacum atau terjadi dengan tanpa rencana di atas pangkuan para Ilmuwan. Mereka merupakan gagasan dari sebuah ideologi dan arena politik yang dibuat secara terselubung di balik kemajuan penelitian akademik.21 Berbagai upaya pengaburan ajaran Islam dan Kitab Sucinya bermula sejak lahirnya agama tersebut, kendati strategi di balik itu mengalami peru­bahan sesuai dengan tujuan yang dikehendaki. Sejak agama Islam lahir hingga abad ke tiga betas hijriah atau abad ke tujuh dan ke delapan hingga abad ke tiga betas setelah hijriah (dari abad ketujuh hingga delapan betas Masehi), tujuan utamanya adalah bagaimana memberi proteksi kuat agama Kristen dalam menghadapi arus kemajuan agama ini di Irak, Suriah, Palestina, Mesir, Libya dll. Salah satu contoh nyata dari masa ini adalah Yohannes dari Damascus (35­133 hijriah./675-750 Masehi), Peter The Venerable (1084-1156 Masehi), Robert of Ketton (1084-1156 Masehi), Raymond Lull (1235-1316 Masehi), Martin Luther (1483-1546 Masehi), Ludovico Marraci (1612-1700 Masehi). Mereka memperalat pena dengan cara yang tidak sederhana menghendaki sikap ketololan dan pemalsuan. Dipicu oleh semangat perubahan politik yang menguntungkan dan dimulainya penjajahan sejak abad kedelapan belas hingga seterusnya, tahap kedua penyerangan terhadap agama Islam menunjukkan perubahan sikap setelah melihat banyak orang masuk Islam atau sekurang­kurangnya munculnya rasa bangga dan penentangan yang lahir dari kepercayaan mereka terhadap Allah. Abraham Geiger (1810-1874) termasuk pada masa kedua. Disertasinya berjudul What hat Mohammaed aus den Judettum aufgenommen? (‘Apa yang diambil oleh Muhammad dari agama Yahudi?’) merupakan upaya menguak pencarian pengaruh tersembunyi terhadap Al-Qur’an yang menyebabkan lahirnya buku-buku dan artikel yang tak terhingga jumlahnya dengan tujuan hendak memberi anggapan seperti halnya Kitab Injil yang palsu dan penuh kesalahan. Bab-Bab berikut akan menampilkan nama-nama lain yang jadi pelopor periode ke dua, seperti Noldeke (1836-1930), Goldziher (1850-1921), Hurgonje (1857-1936), Bergstrasser (1886-19330, Tisdall (1859-19280, Jeffery (d.1952) dan Schact (1902-1969). Kelompok ketiga bermula dari pertengahan abad ke-20 sejak berdirinya negara Israel, secara aktif berupaya melenyapkan ayat-ayat Al-Qur’an yang mengutuk kebiadaban perilaku kaum Yahudi. Di antara pengikut aliran ini adalah Rippin, Crone, Power, Calder dan, tidak ketinggalan juga Wansbrough. Teori mereka menyebut bahwa Al-Qur’an dan hadith merupakan produksi masyarakat yang selama dua abad secara fiktif dinisbahkan pada seorang Nabi Arab berdasarkan prototype yang dilakukan oleh orang Yahudi yang tentunya merupakan pendekatan paling keji dalam menepis AI-Qur’ an dari statusnya yang suci. Beberapa dasawarsa-dasawarsa yang silam mulai menyaksikan pen­dewasaan kedua kelompok terakhir dengan agak cepat dalam menggunakan cara-cara yang agak fair dalam menyerang Al-Qur’an yang dikemas melalui kontekstualisasi budaya, di mana dianggap sebagai basil dari masa tertentu yang sudah usang dari sebuah kitab yang berlaku bagi semua ruang dan waktu. Islam tradisional tidak begitu gamang jika disebut bahwa wahyu merefleksikan milieu saat ia diturunkan… Akan tetapi Islam tradisional tidak pernah membuat lompatan dari suatu pemikiran bahwa kitab yang berkaitan dengan masyarakat di mana ia diwahyukan pada sebuah gejala yang merupakan produk masyarakat itu sendiri. Bagi sebagian besar umat Islam di dunia modern, gerakan penting apa pun dari sebuah aliran pemikiran tak mungkin jadi pilihan dalam waktu dekat.22 Pendapat itulah yang menyulut inspirasi Nasir Abu Zaid (seorang yang telah dinyatakan murtad oleh pengadilan tinggi Mesir yang menurut Cook, sebagai “Muslim sekuler”23), di mana keyakinan utama tentang Al-Qur’an sebagai berikut, Jika teks Al-Qur’an adalah risalah yang ditujukan kepada orang Arab pada abad ke tujuh, maka tentu dibuat formulasi dengan suatu cara yang secara spesifik berdasarkan sejarah sesuai dengan bahasa dan kultur yang ada. Jika demikian halnya, maka, Al-Qur’an dibentuk sesuai dengan susunan kemanusiaan (a human setting). la merupakan produk kebudayaan’, suatu ungkapan yang sering dipakai Abu Zayd, yang dinyatakan di depan Mahkamah kasasi yang menempatkan ia sebagai orang kaflr.24 Pendekatan Al-Qur’an melalui pendapat tekstual tampak cukup lunak bagi yang merasa belum kenal; Bagaimana mungkin bahaya dari konsep pemikiran sebagai pendekatan secara ‘semantik’ dan linguistik tekstual ter­hadap Al-Qur’an? Perhatian utama bukanlah kajian terhadap teks itu sendiri dan perkembangan evo]usinya, melainkan bagaimana bentuk struktur Al­Qur’an diambil dari literature bahasa Arab di abad ke-7/ke-8.25 Berbicara tentang ilmuwan Kitab Injil seperti Van Buren, Professor E.L. Mascall menjelaskan, “(ia) menemukan dasar-dasar petunjuk tentang seku­larisasi Kristen dalam aliran filsafat yang biasanya dikenal dengan analisis dari segi bahasa.”26 Jika hal yang demikian dimaksudkan pada analisis bahasa kajian Kitab Injil, apakah motif lain dalam mengaplikasikan pendekatan ini terhadap kajian Al-Qur’an? Hal ini di luar bidang dari apa yang dapat diterima oleh kalangan umat Islam, strategi lain adalah keinginan mengubah naskah suci Al-Qur’an melalui terjemahan bahasa sehari-hari yang kemudian mengangkatnya sederajat dengan bahasa Arab asli. Dengan cara demikian masyarakat Muslim, di mana tiga perempatnya bukan Arab, akan dapat mengalami keterputusan dari wahyu Allah yang sebenarnya. Adalah sangat tidak tepat antara bahasa Arab Al-Qur’an dan bahasa setempat pada tingkat pendidikan dasar. Ketegangan semakin runyam setelah melihat fakta bahwa gerakan modernitas bermaksud menguatkan perhatian dalam mencerdaskan kitab suci di kalangan sebagian besar orang-orang yang beriman. Seperti dikatakan oleh tokoh nasionalis Turki, Ziya Gokalp (w.1924), “Suatu negeri di mana di sekolah-sekolah mengajar Al-Qur’an pada setiap orang dalam bahasa Turki merupakan fakta bahwa tiap orang tua dan muda dapat mengenal perintah Tuhan.”27 Setelah menjelaskan usaha sia-sia yang dilakukan oleh Turki dalam mengubah Al-Qur’ an dengan bahasa mereka, Michael Cook menyimpulkan, Kini dunia Muslim non-Arab menunjukkan sedikit tanda-tanda ingin mengikuti pemikiran bahasa kitab sehari-hari menurut cara yang terjadi pada abad ke enam belas yang dilakukan oleh orang-orang Protestan atau pada abad kedua puluh seperti yang dilakukan oleh orang-orang Katolik.28 Jika semua upaya penipuan dalam keadaan serbamentok, jalan terakhir seperti ditegaskan oleh Cook: Di kalangan masyarakat Barat modern, terdapat aksiomatik di mana kepercayaan agama orang lain (kendati, tentu saja, tidak semua orang ter­motivasi oleh perilaku keagamaan) harus diberi sikap toleransi dan bahkan dihormati. Tentunya akan dianggap sebagai langkah keliru dan picik untuk menyatakan pendapat keagamaan orang lain sebagai hal yang salah dan agama sendiri adalah benar… Anggapan akan kebenaran mutlak dalam masalah keagamaan sudah ketinggalan zaman dan tak mungkin dapat diharap lagi. Namun demikian, hal ini merupakan gejala yang mengemuka di kalangan Islam tradisi seperti dialami oleh kalangan Kristen tradisi, hanya saja di abad-abad terakhir terasa lebih dominan di kalangan Islam.29 Cook mengemukakan pendapatnya dalam tulisan yang berjudul “Sikap toleransi terhadap kepercayaan – orang lain”, kendati yang dipaparkan menyentuh masalah universalisme. Dalam melihat sikap toleransi, Islam mempertahankan kejelasan ajarannya dalam mengatur hak-hak non-Muslim dan merupakan hal yang sangat terkenal. Serangan Cook tidak lain ingin menumbuhkan sikap keragu-raguan dan relativisme: suatu gejala penyamaan semua agama karena berpikir sebaliknya berarti mengkhianati diri sendiri sebagai sikap berpikir bodoh dan provincialisme’kampungan’. Sebenarnya, ini sistem perangkap yang lebih mudah bagi kalangan kontemporer Muslim yang tak terdidik secara balk. Sebagai akibat dari pikiran ini, “Terdapat kesepakatan dalam menolak segala bentuk rencana pembedaan antara non-Muslim, ilmu pengetahuan, dan kesarjanaan Muslim di masa sekarang mengenai sistem kajian Al-Qur’an.”30 Sekarang muncul metode baru di kalangan ilmuwan Barat dalam menyerang tradisi buku-buku tafsir31 menuntut pembaruan segalanya. Dengan alasan hak tersendiri dalam menafsirkan kitab suci, kebanyakan orientalis menepis pendapat ulama Islam terdahulu dengan “alasan bahwa-karena tertipu oleh suatu anggapan bahwa Al-Qur’an sebagai kitab suci-mereka sudah barang tentu tidak dapat memahami isi teks yang ada dengan baik seperti para sarjana Barat memahaminya secara liberal.32 Basetti-Sani dan Youakim Moubarac keduanya ngototbahwa tafsiran AI-Qur’an mesti dibuat sejalan dengan ukuran kebenaran agama Kristen, suatu pernyataan yang mendapat acungan jempol dari W.C, Smith and Kenneth Cragg.33 Sebagai seorang pemimpin Gereja Anglican, Cragg menekankan agar umat Islam menghapus semua ayat yang diturtmkan di Madinah (dengan penekanan di bidang politik dan hukum) guna mempertahankan esensi ayat-ayat Makkiyyah yang secara umum lebih menyentuh masalah keesaan Tuhan (monotheism) di mana ayat Madaniyyah dianggap meremehkan nilai ketuhanan dari esensi pernyataan tiada tuhan melainkan Allah .34 Konsep pemikiran ini bermaksud hendak “menggoyang” orang-orang yang lemah iman dan was-was dengan memperalat senjata “sikap sinis” kaum orientalis yang selalu menghujat serta menolak kitab asli yang mereka warisi agar semakin mudah menerima ideologi Barat. Artikel yang ditulis Toby Lester dapat dianggap sebagai kartu baru menggunakan fragmentasi Qur’an Yaman sebagai umpan. Pada dasarnya Dr. Puin menolak semua penemuan yang dinisbatkan T. Lester kepadanya dengan menepis beberapa perbedaan ejaan dan perkataan. Berikut adalah sebagian dari surat asli Dr. Puin yang ditulis untuk Qadi Ismail al-Akwa’ beberapa saat setelah muncul tulisan Lester­dengan terjemahannya.35 Gambar 1.1  Sebagian dari surat asli Dr. Puin kepada al-Qadi al-Akwa’ Hal yang sangat penting, puji syukur pada Allah bahwa fragmentasi mushaf dari Yaman tidak berbeda dengan yang terdapat di berbagai museum dan perpustakaan di tempat lain dengan beberapa penjelasan yang tidak mengena dengan Al-Qur an, kecuali beberapa perbedaan dalam ejaan kata-kata. Hal ini merupakan suatu yang dikenal di kalangan luas bahwa seperti Qur’ an yang diterbitkan di Cairo: kata Ibrahim tertulis ( ) menjadi Ibrhm ( ) Qur’an juga ditulis ( ) menjadi Qrn ( ) Simahum tertulis( ) menjadi Simhum ( ) etc. Lihat teks gambar No. 1.1 hlm. 12. Dalam fragmentasi Al-Qur’an kuno yang terdapat di Yaman, tidak dituliskannya huruf alif merupakan gejala umum. Hal ini dapat menurunkan nilai perdebatan yang ada serta melenyapkan kekaburan jaringan licik di sekitar penemuan Dr. Puin membuat sebagai topik bahasan yang tidak perlu mengundang spekulasi lebih jauh.36 Marilah ambil perumpamaan sekiranya penemuan itu benar, lantas bagaimana tanggapan kita? Di sini kita dihadapkan pada tiga permasalahan: (1). Apakah Al-Qur’ an itu? (2). Jika seluruh naskah tidak ada atau sebagian ditemukan saat sekarang maupun yang akan diklaim sebagai Al-Qur’an tapi berbeda dari yang ada di tangan kita, apa pengaruhnya terhadap teks Al-Qur’ an sekarang? (3). Siapa yang berhak memegang otoritas Al-Qur’an, dalam hal penulisan tentang agama dan sejarahnya? Ini semua akan diperjelas dalam tulisan ini guna mendobrak bukan saja jawaban-jawaban yang diperlukan melainkan juga logika penentu sikap mereka                       : a). Al-Qur’an adalah kalamullah, risalah terakhir untuk umat manusia, diwahyukan pada Rasul terakhir, Muhammad, yang meruang dan sewaktu. la terpelihara di segi keaslian bahasa tanpa perubahan, tambahan, maupun pengurangan. b). Tak akan ada penemuan Qur’an, baik secara fragmentasi maupun seluruhnya, yang berlainan dari teks yang ada di seluruh dunia. Jika ada, maka tidak akan dianggap sebagai Al-Qur’an, karena satu syarat utama penerimaannya mesti sesuai dengan teks yang digunakan dalam mushaf ‘Uthmani.37 c). Tentu saja siapa pun tak berhak melarang seseorang menulis tentang Islam, akan tetapi hanya seorang Muslim yang taat memiliki wewenang yang sah melakukan tugas tersebut dan bahasan lain yang ada hubung­annya. Mungkin pihak lain menganggap hal ini sebagai prasangka; tetapi siapakah yang tak bersikap demikian? Di luar kalangan Islam tidak dapat mengklaim sikap netral karena tulisan mereka sengaja ingin mengalihkan pikiran orang lain. Apakah ajaran Islam dapat menerima atau tidak ter­gantung kepercayaan masing-masing dan setiap penafsiran dari pihak Kristen, Yahudi, atheis, atau orang Islam yang tidak mau menjalankan Shari’atnya harus ditolak secara tegas. Saya dapat tambahkan jika tiap pandangan yang disukai bertentangan dengan dasar ajaran Nabi Muhammad saw. balk secara eksplisit mau pun sebaliknya, ia mesti ditolak dan hal ini berlaku bagi tulisan seorang Muslim yang taat sekalipun dapat ditepis sekiranya tidak ada gunanya. Bentuk selektivitas seperti ini berlaku sejak masa keemasan pemerintahan Ibn Sirin (w.110 H./728 M.) Ilmu ini merupakan agama Anda, maka hendaknya berhati-hati dari mana Anda mengambil agama.38) Mungkin pihak lain menganggap umat Islam tidak memiliki alasan kuat dalam merespons metode keilmuan orang lain. Masalahnya, bagi orang Islam berlandaskan sepenuhnya pada keimanan bukan asal akal-akalan. Di sini saya perlu mengemukakan pendapat dalam menyikapi penemuan mereka dalam bab-bab berikut. Awalnya akan saya ceritakan beberapa bagian sejarah Islam sebagai titik awal memasuki kajian lebih dalam mengenai Al-Qur’an. Phillip Hitti, dalam karyanya yang berjudul, Sejarah Bangsa Arab, menyebut: n”Kendati istilah semi tmuncul belakangan di kalangan masyarakat Eropa, hal tersebut biasanya dialamatkan pada orang-orang Yahudi karena yang terkonsentrasi di Amerika. Sebenarnya lebih tepat ditujukan pada penduduk bangsa Arab yang, lebih dari kelompok manusia lain, telah mendapat ciri bagsa Semit secara fisik, kehidupan, adat istiadat, cara berpikir dan bahasa. Orang-orang Arab masih tetap sama sepanjang pen­catatan sejarah.”9 Hampir semua hipotesis asal-usul kesukuan lahir dari kajian di bidang bahasa mengambil sumber informasi dari Kitab Perjanjian Lama,10 yang kebanyakan tidak bersifat ilmiah serta didukung oleh bukti sejarah yang akurat. Misalnya, Kitab Perjanjian Lama memasukkan bangsa lain yang pada hakikat­nya bukan bangsa Semit seperti Alamite dan Ludim, di waktu yang sama tidak mengikutsertakan beberapa bangsa Semit lain seperti Funisia dan Kanaan.11 Melihat pendapat yang beragam, saya lebih cenderung menerima bahwa kaum Semit muncul dari kalangan bangsa Arab. Menjawab pertanyaan siapa sebenarnya bangsa Semit dan siapa yang bukan, Bangsa Arab dan Israel memiliki keturunan asal usul serumpun melalui Nabi Ibrahim.12 ii. Nabi Ibrahim dan Kota Mekah Dalam waktu yang ditetapkan dalam sejarah, Allah memberi karunia kepada Nabi Ibrahim seorang putra, Isma’il, pada usia lanjut. Ibunya, Siti Hajar, seorang hamba yang dihadiahkan Pharos kepada Sarah. Kelahiran Isma’il membuat Sarah cemburu luar biasa di mana ia meminta agar Ibrahim memutus hubungan persaudaraan wanita tersebut dengan putranya.13 Melihat adanya perselisihan dalam keluarga, ia membawa Siti Hajar dan Isma’il ke tanah Mekah yang tandus, lembah yang amat panas dan tak berpenduduk, serta ke­kurangan makanan dan minuman. Saat mulai tinggal, Siti Hajar melempar pan­dangan pada tanah kosong yang ada di sekelilingnya dengan perasaan tak menentu disertai pertanyaan kepada Ibrahim apakah ia telah meninggalkan mereka. la tak menjawab. Lalu ia bertanya adakah ini perintah Allah? Ibrahim lalu mengiyakan. Mendengar jawaban itu ia berkata, “Jika demikian halnya, Tuhan tak akan membuat kita sia-sia.” Pada akhirnya, air Zamzam menyembur dari dalam tanah gersang membasahi kaki si kecil, Isma’il. Mata air itulah yang membuat tempat itu sebagai permukiman yang dihuni pertama kali oleh kabilah Jurhum.14 Beberapa tahun kemudian Nabi Ibrahim, saat mengunjungi putranya, memberi tahu tentang sebuah pandangan pemikiran: “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama­sama Ibrahim, Ibrahim berkata, ‘Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka Pikirkanlah apa pendapatmu!’ Ia menjawab, ‘Hai bapakku, kerjakanlah apa yang dipertanyakan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang­orang yang sabar.’ Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis (nya), (nyatalah kesabaran kedua­nya). Dan saya panggilah dia, ‘Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu,’ sesungguhnya demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar­benar sesuatu ujian yang nyata. Dan kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.”15 Nabi Ibrahim dan Isma’il menerima perintah ketuhanan guna membangun tempat suci pertama di muka bumi sebagai tempat menyembah Allah, “Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.”16 Bakkah sebuah ungkapan kata lain dari kota Mekah, dari atas batu itulah ayah dan putranya memusatkan perhatian pada pembangunan Ka’bah yang suci dengan sikap ketakwaan seorang yang telah menghadapi cobaan yang sangat berat dan mampu menghadapinya karena `inayah Allah. Setelah menyelesaikan bangunan itu, Nabi Ibrahim lalu berdoa, “Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur. “17 Tidak lama kemudian doa yang disemburkan mulai membuahkan hasil dan Mekah tidak lagi terpencil; kehidupan semakin berkembang dengan adanya tempat suci Allah, air zamzam, dan penduduknya mulai menuai kesuburan. Kemudian menjadi pusat lintas perdagangan ke Suriah, Yaman, Ta’if, dan Najd,18 dan penyebab utama di mana dari masa ke masa, para kaisar dari Aellius Gallus hingga Nero ingin menyebarkan pengaruh di persinggahan penting kota Mekah dengan mencurahkan segala upaya guna mencapai tujuan tersebut.19 Tampaknya terdapat pula gerakan kependudukan lain di semenanjung Arab. Perlu dicatat, di sana terdapat para pengungsi bangsa Yahudi, beberapa abad kemudian, memperkenalkan agamanya pada masa pengasingan orang­orang Babilonia. Mereka kemudian menetap di Yathrib (Madinah sekarang), Khaebar, Taima’, dan Fadak pada tahun 587 sebelum masehi dan tahun 70 Masehi.20 Suku bangsa Nomad terus mengalami perubahan. Suku bangsa Tha ‘liba dari keturunan Qahtan juga tinggal di Madinah. Di antara anak cucu keturunan mereka adalah kabilah Aws dan Khazraj, yang kemudian ke duanya lebih dikenal sebagai kaum al-Ansar’21 (pendukung utama Nabi Muhammad). banu Harithah, yang kemudian dikenal sebagai banu Khuza’a, tinggal di Hejaz menggantikan penduduk sebelumnya, banu Jurhum,22 yang kemudian menjadi pemelihara Baitullah atau Ka’bah di Mekah. Merekalah yang harus memikul tanggung jawab karena melahirkan sistem keberhalaan.23 Bani Lakham, kabilah lain dari Qahtan, menetap di Hira (Kufa, sekarang Irak) di mana mereka mendirikan sebuah negara kecil sebagai penahan antara Jazirah Arabia dan Persia (200-602 masehi).24 Bani Ghassan menetap di Suriah sebelah bawah dan mendirikan kerajaan Ghassan, sebuah negeri penahan antara Byzantin dan Arab, yang berakhir hingga tahun 614 masehi.25 Bani Tay menduduki daerah pegunungan Tayy sedang ban! Kinda menetap di pusat Arab.26 Gambaran secara umum dari semua kabilah tersebut merupakan jalur keturunan Nabi Ibrahim melalui Nabi Isma’il.27 Bab ini tidak dimaksudkan hendak memberi gambaran tentang kota Mekah sebelum Islam, sekadar pendahuluan akan adanya hubungan nenek moyang anggota keluarga Nabi Muhammad. Untuk mempersingkat, saya akan mengungkap dan melacak kelahiran Qusayy, para kakek Nabi Muhammad. iii. Qusayy Sebagai Penguasa Kota Mekah Ratusan tahun sebelum kelahiran Nabi Muhammad Qusayy. dikenal sebagai orang yang amat cerdas, perkasa serta memiliki kemampuan administrasi yang tinggi dan mencuat dalam jajaran pentas politik kota Mekah. Mengambil faedah dari kepentingan Byzantin di Mekah waktu itu, la minta pertolongan mereka dalam menguasai kota Mekah dengan mengesampingkan pengaruh Byzantin dengan tidak menghiraukan kepentingan wilayah mereka.28 Gambar 2.1: Asal usul keturunan Qusayy secara singkat.29 Qusayy menikahi Hubba bint Hulail, putri kepala Suku Khuza’i di Mekah; kematiannya memberi peluang menaiki tahta kekuasaan dan menye­rahkan pemeliharaan kota Mekah pada anak cucu keturunannya.30 Kabilah Quraish terpencar ke seluruh wilayah yang pada akhirnya semua memasuki kota Mekah dan menyatu di bawah komando kepemimpinannya.31 iv. Mekah: Sebuah Masyarakat Kabilah Meski disebut sebagai kota negara, city-state, Mekah tetap merupakan masyarakat kesukuan hingga akhir penaklukannya pada masa Nabi Muhammad. Sistem kependudukan masyarakat dibangun menurut kabilah dimana anak-anak dari satu suku dianggap saudara yang memiliki pertalian hubungan darah. Seorang Arab tidak akan dapat memahami pemikiran negara kebangsaan melainkan dalam konteks sistem kesukuan (kabilah), “Adalah hubungan negara kebangsaan yang mengikat keluarga ke dalam kesukuan,sebuah negara yang didasarkan pada hubungan darah daging seperti halnya negara kebangsaan yang dibangun di atas garis keturunan. Adalah hubungan kekeluargaan yang mengikat semua individu ke dalam negara dan kesatuan. Hal ini dianggap sebagai agama kebangsaan dan hukum perundangan-undangan yang telah mereka sepakati.”32 Setiap anggota merupakan asset seluruh kabilah di mana munculnya se­orang penyair kenamaan misalnya, ahli perang pemberani, orang terkenal dalam kebaikan dalam satu kabilah, akan membuat kehormatan dan nama baik seluruh garis keturunannya. Di antara tugas utama tiap pendukung kesukuan adalah mempertahankan bukan saja terhadap anggotanya melainkan setiap mereka yang secara sementara seperti tamu-tamu yang hadir di bawah bendera kabilah. Memberi proteksi pada mereka merupakan suatu kehormatan yang dicapai. Oleh karena itu, kota Mekah sebagai kota kenegaraan selalu siap menyambut setiap pendatang menghadiri perayaan, melakukan ibadah haji,33 atau pun sekadar lewat dengan rombongan berunta. Memberi pelayanan permintaan ini memerlukan keamanan dan fasilitas yang memadai, dan, oleh karena itu institusi kemudian dibangun di kota Mekah (di mana beberapa di antaranya oleh Qusayy sendiri):34 seperti Nadwa (lembaga perkotaan), Mashura (dewan nasihat), Qiyada (kepemimpinan), Sadana (adminstrasi kota suci), Hijaba (pemeliharaan Ka’bah), Siqaya (pengadaan air minum buat para jemaah haji), Imaratul-bait (pemeliharaan kesucian Ka’bah), Ifa`da (mereka yang berhak memberi izin pada orang pertama yang melangkah dalam acara perayaan), Ijaza, Nasi (institutsi penyesuaian kelender), Qubba (membuat tenda mengumpulkan sumbangan bagi mengatasi keadaan darurat, A’inna (pemegang kendali kuda), Rafada (pajak untuk membantu para jemaah haji yang miskin), Amwal muhajjara (sedekah untuk kesucian), Aysar, Ashnaq (pembuat perkiraan pertanggungan jawab keuangan) Hukuma (pemerintahan), Sifarah (kedutaan), `Uqab (penentuan standar), Liwa (panji) dan Hulwan-un­nafr (mobilisasi kesejahteraan). Tugas berat ini menjadi tanggung jawab anak cucu keturunan Qusayy. Keturunan ‘Abdul-Dar misalnya mengambil alih tugas pemeliharaan Ka’bah, balai kelembagaan, dan hak-hak mengangkat panji pada semua staf pada saat peperangan.35 ‘Abd-Manaf mengatur hubungan luar negeri dengan penguasa Romawi, dan pangeran Ghassan. Hashim (putra lelaki ‘Abd-Manaf) mengadakan perjanjian dan dikatakan telah menerima perintah dari kaisar memberi kekuasaan pada orang Quraish untuk melakukan perjalanan melalui Suriah dalam keadaan aman.”36 Hashim dan kelompoknya tetap mempertahankan tugasnya sebagai kepala pengaturan makanan dan minuman untuk para jamaah haji. Kekayaannya telah memberi peluang melayani para jamaah haji dengan kebesaran seorang pangeran.37 Sewaktu melakukan misi perdagangan ke Madinah, Hashim terpikat oleh seorang wanita bangsawan suku Khazarite, Salma bint ‘Amr. la menikah dan kembali bersamanya ke Mekah, namun saat dalam keadaan hamil ia memilih kembali ke Madinah dan melahirkan seorang putra, bernama Shaiba di sana. Hashim meninggal di Gaza pada saat melakukan misi perdagangan,38 dan memberi kepercayaan pada saudaranya, Muttalib, guna memelihara putranya39 yang saat itu, masih bersama sang ibu. Saat melakukan perjalanan ke Madinah, Muttalib berselisih paham dengan janda Hashim tentang penjagaan pemuda Shaiba, yang pada akhirnya ia berada pada pihak yang menang. Dengan kembali bersama paman dan keponakannya ke Mekah, orang salah pengertian dan mengira anak lelaki itu sebagai hamba Muttalib. Oleh sebab itu, nama julukan Shaiba menjadi ‘Abdul-Muttalib.40 Setelah meninggal pamannya, ‘Abdul-Muttalib, mewarisi tugas Siqaya (pengadaan air minum buat para jamaah haji) dan Rafada (pengumpul bantuan keuangan untuk para jamaah haji miskin).41 Setelah menemukan kembali sumur zamzam yang mata airnya terbenam dan sudah terlupakan di bawah himpunan pasir beberapa tahun lamanya, ia memperoleh kehormatan dan ketinggian menjadi gubernur kota Mekah. Beberapa tahun sebelumnya ia pernah nazar bahwa jika ia diberi sepuluh orang putra, ia akan mengorbankan satu di antara mereka demi sebuah patung berhala. Sekarang, setelah diberi v. Masa Qusayy Hingga Muhammad keberkahan dengan sejumlah putra seperti dikehendaki, ‘Abdul-Mutallib berupaya memenuhi janjinya dengan meminta pendapat Azlam42 agar memilih siapa di antara mereka yang hendak dikorbankan. Nama anak termuda (yang paling digemari), ‘Abdullah, ternyata itu yang muncul. Pengorbanan ke­munisaan dianggap suatu yang tidak disenangi di kalangan orang Quraish, maka ia mengontak juru sihir yang, menurut ramalan, ‘Abdullah akan ditukar dengan seekor unta. Azlam kembali dihubungi, dan nilai nyawa anak muda itu ditaksir dengan harga seratus unta. Karena luapan kegembiraan melihat peristiwa tersebut ‘Abdul-Muttalib membawa putranya, ‘Abdullah, ke Madinah untuk mengunjungi beberapa kerabatnya. Di sanalah `Abdullah mengawini Amina, sepupu perempuan Wuhaib yang merupakan tuan rumah dan memiliki asal usul keturunan kabilah (saudara laki-laki Qusayy mendirikan kabilah bani Zuhra dari suku Wuhaib). ‘Abdullah menikmati kedamaian dalam keluarga beberapa lama sebelum memulai misi perdagangan ke Syria. Malangnya sepanjang perjalanan jatuh sakit. la kembali ke Madinah dan meninggal dunia di saat Amina mulai kehamilan Muhammad. vi. Kondisi Keagamaan di Jazirah Arabia Menjelang masa kenabian Muhammad, Jazirah Arab tidak merasa akrab melihat semua bentuk reformasi keagamaan. Sejak berabad-abad penyem­bahan patung berhala tetap tak terusik, baik pada masa kehadiran permukiman kaum Yahudi maupun upaya-upaya Kristenisasi yang muncul dari Syria dan Mesir. William Muir, dalam bukunya, The Life of Mahomet, beralasan bahwa kehadiran kaum Yahudi atau keberadaan mereka membantu menetralisasi tersebarnya ajaran Injil melalui dua tahap. Pertama, dengan memperkuat diri sendiri di sebelah utara perbatasan Arab, dan untuk itu, mereka membuat penghalang, barrier, antara ekspansi Kristen ke utara dan penghuni kaum berhala di sebelah selatan. Kedua, para penyembah berhala bangsa Arab telah melakukan kompromi dengan agama Yahudi dalam memasukkan cerita legendaris guna menghabisi permintaan aneh-aneh agama Kristen.43 Saya tak dapat menerima teori pendapat ini sama sekali. Menurut pengakuan bangsa Arab, sebenarnya, sisa-sisa keagamaan monoteistik Nabi Ibrahim dan Isma’il yang telah diubah oleh khurafat dan kebodohan. Cerita yang biasanya dimiliki oleh kaum Yahudi dan orang Arab umumnya merupakan hasil keturunan nenek moyang bersama. Ajaran Kristen abad ke-7 itu sendiri tenggelam dalatn perubahan dan mitos palsu dan terperangkap dalam stagnasi secara total. Dulunya Bangsa Arab yang mengikuti agama Kristen bukan disebabkan oleh sikap persuasif melainkan akibat kekejaman kekuasaan politik.44 Tak ada kekuatan yang dapat melumpuhkan para penyembah berhala bangsa Arab di mana kemusyrikan mencengkeram begitu kuatnya. Lima abad lamanya upaya Kristenisasi mem­buahkan hasil nihil. Perpindahan terhadap agama Kristen hanya terbatas pada ban! Harith dari Najran, bani Hanifa dari Yamama, dan beberapa bani Tayy di Tayma’.45 Dalam masa lima abad, sejarah tidak mencatat adanya satu insiden apa pun yang menyangkut sikap penyiksaan para misionaris Kristen. Di sini sarigat berbeda dari nasib yang dialami oleh pengikut Muhammad sejak awal pertama di Mekah di mana kristenisasi dipandang sebagai suatu hal yang menyusahkan dan mendapat sikap toleran, sebaliknya Islam dianggap sebagai suatu yang membahayakan terhadap institusi keberhalaan bangsa Arab. ————————.— 1. Jawad ‘Ali, al-Mufassal fI Tarikh al-Arab Qabl al-Islam, i.:569. 2. Ibid. i:230-31. 3. Ibid. i:231-232. 4. Ibid. i:235. 5. Ibid. i:235. 6. Ibid. i:238. 7. Ibid. i:232-233. 8. Ibid. i:238. 9. M. Mohar ‘A17, Siratan-Nabi,jilid.lA, hlm.30-31, dikutip dari buku P.K. Hitti, History of the Arabs, hlm.8-9. 10. Jawad ‘All, al-Mufassal, i:223. 11Ibid, i:224. 12. Ibid. i:630. Kitab Perjanjian Lama menjelaskan bahwa Bangsa Arab dan Yahudi sama-sama keturunan Shem, putra Nuh. 13. Versi James , Genesis 21:10. 14. Al_Bukhari, Sahih, al-Anbiya’. hadith no.3364-65 (dengan komentar Ibn Hajr). 15. Qur’an 37:102-107. 16. Qur’an, 14:37. 17. Qur’an, 14:37. 18. M. Hamidullah, “The City State of Mecca”, Islamic Culture, jilid.l2 (1938), hIm.258. 19. Ibid. Mengambil pendapat Lammens dalam karyanya, La Meqque a La Vielle de L’Hegire (hlm. 234, 239) serta lainnya. 20. Jawad ‘Ali, al-Mufassal fi Tarikh al-‘Arab Qabl al-Islam, i:658, Ibid., i: 614-18 memuat informasi yang amat penting tentang pemukiman Bangsa Yahudi di Yathrib dan Khaibar. 21. M. Mohar ‘Ali, Sirat an-Nabi, jilid.1A, hlm. 32. 22. Ibid., jilid.1A, hlm.32. 23. Ibn Qutaiba, al-Ma’arif, hIm.640. 24. M. Mochtar ‘Ali, Sirat an-Nabi, jilid.lA, hlm.32. 25. Ibid., jilid.1A, hlm..32. 26. Ibid., jilid.1A, hlm.32. 27. Ibid., jilid.1A, p.32. 28. Ibn Qutaiba, al-Ma’arif, hlm.640-41. Imperium Byzantin memiliki prospek baru dalam memperpanjang pengaruhnya terhadap kota Mekah beberapa generasi kemudian saat seorang penduduknya, Uthman ibn al-Huwairith dari kabilah Asad, memeluk agama Kristen. Rajanya meletakkan tahta kebesarannya di kepala dan mengirimkannya (dia) memasuki Mekah dengan ditemani oleh Usase, minta penduduk Mekah menerimanya sebagai raja. Akan tetapi kabilah mereka sendiri menolaknya. (The City State of Mecca, hlm.256-7, dikutip oleh as-Suhaili (Raudul unf, i:146) dan lainnya. 29. Ibn Hisham, Sira, jilid.l-2, hlm. 1-2, hlm. 105-108. Untuk tanggal seperti tampak dalam tabel, harap dilihat pada karya Nabia Abbott, The Rise of the North Arabic Script and Its Kuranic Development, with a full Description of the Kuran Manuscripts in the Oriental Institute, The University of Chicago Press, Chicago, 1938, hlm. 10-11. Abbott menyebut ketidak setujuannya di antara kaum orientalis tentang tahun. 30. lbn Hisham, Sira, ed. By M. Saqqa, 1. al-Ibyari dan ‘A. Shalabi, 2nd edition, Mustata al-Babi al-Halabi, publishers, Cairo, 1375 (1955), jilid.1-2, hlm. 117-8. Buku ini dicetak dalam dua bagian, bagian pertama terdiri atas dua jilid, dan bagian kedua terdiri dari jilid 3-4. Halaman dari kedua bagian tersebut tertulis kata terus-menerus. 31. Ibn Qutaiba, al-Ma’arif, hlm.640-41. 32. Ibn Hisham, Sira, jilid.3-4, hlm.315. 33. Saat itu Ka`bah dikelilingi ratusan patung berhala. 34. The City State of Mecca, hlm.261-276. 35. William Muir, The Life of Mahomet, 3rd edition, Smith, Elder, & Co., London, 1894, hlm. xcvii 36. Ibid. hlm. xcvii. 37. Ibid. hlm. xcvi. 38. Ibn Hisham, Sira, jilid.1-2, hlm. 137. 39. Ibid. hlm. 1-2, hlm. 137. 40. Ibid. hlm. 1-2, hlm. 137. 41. Ibid. hlm. 1-2, p.142. 42. Sistem pengambilan calon (kandidat) dilakukan secara random dengan menggunakan anak panah ketuhanan yang disimpan di bawah proteksi tuhan tertentu. 43. William Muir, The Life of Mohomet, hlm. Ixxii-Ixxxiii. 44. Ibid., hlm. lxxxiv. Pendapat ini terasa benar karena sejak beberapa masa ketika Kristen mulai melangkah disebabkan kekejman penjajahan (by dint of Colonialist coercion. 45. Ibid., hlm. xxxiv-lxxxv BAB 2 : SEKILAS TENTANG SEJARAH ISLAM DI MASA SILAM The History of The Qur’anic Text  hal 24 – 37 2. Masa Kenabian Muhammad (53 Sebelum Hijrah -11 Setelah Hijrah/571-632 Masehi.)46 Mengungkap kehidupan Nabi dalam Islam adalah pekerjaan yang cukup luas, seorang dapat menulis buku berjilid jilid yang dapat disajikan bagi ka­langan yang berminat. Tujuan dalam bagian buku ini sedikit lain. Dalam bab-bab berikut kita akan mengupas beberapa nabi dari kalangan Israel, termasuk Nabi Isa dan kita hendak mengungkap sikap oposisi orang-orang Israel dan penye­lewengan yang begitu cepat terhadap ajaran ketuhanan. Di sini, dalam melihat kembali jalan yang telah ditempuh oleh penulis lain, saya sekadar memaparkan uraian singkat guna melengkapi referensi tentang Nabi Musa dan Nabi Isa. i. Kelahiran Muhammad Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya bahwa `Abdullah, ayah Muhammad, wafat saat Amina sedang hamil. Muhammad dilahirkan dalam keadaan serbapelik. la hadir dari keluarga miskin namun cukup terpandang di masyarakat. Beberapa saat kemudian ibunya juga meninggal dunia dan men­jadi anak yatim sejak usia enam tahun. la mulai bekerja sebagai penggembala kambing di kota Mekah di dataran bumi yang tandus itu.47 Mengikuti jejak tradisi kehidupan orang Quraish, ia pun terjun ke dunia bisnis. Sikap integritas dan keberhasilannya sebagai pedagang, ia berhasil meraih simpati Khadijah seorang janda tua, cerdik, lagi kaya. Kemudian ia menikahinya.48 Muhammad amat terkenal memiliki sikap kejujuran dan integritas di seluruh kota Mekah dalam semua masalah. Pendapat Ibn Ishaq mengatakan, “Sebelum turunnya wahyu, orang-orang Quraish telah memberi label sebagai satu-satunya orang tepercaya (al-amin).49 ii. Muhammad Manusia Tepercaya Datang masa yang amat tepat ketika orang Quraish merasa perlu mere­novasi Ka’bah. Mereka bekerja sama di mana setiap anggota suku mengum­pulkan batu-batu untuk membangun kembali sebagian struktur ada. Ketika konstruksi itu sampai pada peletakan batu hitam (Hajar al-aswad) perselisihan semakin memanas. Setiap sub-kesukuan ingin mendapat kehormatan me­letakkan batu hitam itu pada sudutnya sampai titik puncaknya mereka membuat aliansi di mana bentrokan fisik semakin tak terelakan. Abu Umayya, sesepuh di kalangan bangsa Quraish, mendesak agar orang pertama yang memasuki pintu gerbang tempat suci ditunjuk sebagai juri dan semua dapat menerima pendapat ini. Orang pertama yang masuk pintu gerbang tidak lain adalah Muhammad. Ketika orang Quraish melihat, mereka berkomentar, “Kini hadir orang kepercayaan dan kita semua senang melihat ia bertindak sebagai hakim. Di sini Muhammad tiba.” Ketika ia diberitahukan akan adanya perselisihan, ia meminta sehelai kain. Kemudian ia mengambil batu hitam itu dan meletakkan di atasnya dan meminta setiap kepala suku memegang bagian ujung penjuru kain dan mengangkat bersama-sama. Semua melakukannya dan saat mereka sampai pada titik batu hitam la (Muhammad) mengangkat dan meletakkannya dengan tangan sendiri. Dengan penyelesaian perselisihan yang memuaskan semua pihak, konstruksi bangunan berjalan tanpa ada gangguan yang lain.50 iii. Muhammad Utusan Allah Dengan diberkahi sikap ideal dan benci terhadap segala jenis pemberhalaan, Muhammad tidak pernah sujud di depan patung erang Quraish ataupun ikut serta dalam ritual kemusyrikan. Selain ia hanya menyembah Tuhan Yang Esa, cara berpikir yang baik, dan keadaan buta huruf menye­babkan la tak tahu-menahu praktik keagamaan Kristen maupun Yahudi. Kemudian sewaktu mulai menunjukkan tanda-tanda kematangan menerima tugas kenabian, Allah mempersiapkan tugas ini secara bertahap. Pertama, ia melihat kebenaran sebuah mimpi.51 la melihat batu memberi hormat padanya,52­selain itu pernah mendengar Malaikat Jibril namanya dari langit,53 dan ia melihat cahaya bersinar.54 ‘A’isha melaporkan bahwa pendahuluan kenabian Muhammad adalah kesempurnaan impiannya: dalam masa enam bulan ia melihat mimpi begitu akurat menjelma seperti kenyataan. Kemudian, ketika wahyu pertama turun sewaktu menyendiri di Gua Hira’, Malaikat Jibril muncul di depannya dan berkali-kali minta agar membaca. Saat melihat sikap dan penjelasan Muhammad bahwa ia seorang buta huruf, Jibil tetap ngotot hingga akhirnya dapat menirukan ayat-ayat pertama dari Surah al-‘Alaq;55 Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpa! darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”56 Inilah pertama kali diturunkannya wahyu dan permulaan dari Kitab Al-Qur’an. Suatu yang di luar dugaan pada usia empat puluh, Allah memanggil Muhammad dengan risalah sederhana tetapi jelas berupa pengakuan (‘Tidak ada tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan-Nya’). Dengan ini ia telah diberi mukjizat abadi yang dapat memuaskan akal pikiran, penawan hati yang mampu menggugah kembali jiwa jiwa yang tak berdaya yaitu berupa Kitab Suci Al-Qur’an. iv. Abu Bakr Menerima Islam Abu Bakr ibn Quhafa merupakan orang pertama di luar keluarga Nabi Muhammad. yang menerima Islam yang kemudian diberi gelar as-Siddiq. la seorang pedagang terkemuka dan disegani yang kemudian menjadi seorang sahabat setianya. Pada suatu hari ia bertanya pada Muhammad, ‘Adakah betul apa yang dikatakan orang Quraish tentang engkau wahai Muhammad, bahwa mengganggu tuhan-tuhan mereka, menghina cara berpikir kita dan tak percaya pada tata perilaku yang dilakukan bapak-bapak kita terdahulu?’, tanya Abu Bakr. Muhammad menjawab, “Saya seorang Nabi Allah dan utusan-Nya, saya diutus untuk menyampaikan risalah-Nya. Saya memanggil ke jalan Allah yang benar. Karena kebenaran ini aku mengajakmu mengikuti jalan Allah, Tuhan Yang Esa yang tidak ada menyamai-Nya, agar tidak menyembah kecuali Dia, dan memberi pertolongan pada mereka yang menaati perintah-Nya.” Kemudian ia membaca beberapa ayat-ayat Al-Qur’an yang menawan hatinya dan kemudian menyatakan menerima agama Islam.57 Selain sebagai seorang pedagang kenamaan, Abu Bakr punya makna tersendiri di hati orang Quraish. Dengan inisiatif sendiri menyampaikan risalah ini, ia mulai mengajak pihak lain mengikuti jejaknya terutama orang-orang kepercayaan yang sering berjumpa di pusat perdagangan. Banyak di antara mereka yang mengikuti, di antaranya az-Zubair bin al-‘Awwam, ‘Uthmam bin ‘Affan, Talhah bin `Ubaidillah, Sa’ad bin Abi Waqqas dan ‘Abdul-Rahman bin ‘Auf. Abu Bakr menjadi pembela utama Nabi Muhammad dan memiliki keimanan yang prima dalam kondisi serbasulit sekalipun. Dalam hal perj alanan Nabi Muhammad ke Bait al-Maqdis (Jerusalem), beberapa pengikutnya tidak dapat menerima secara rational kejadian tersebut yang mengakibatkan se­bagian mereka murtad. Para kafir Mekah mengambil kesempatan ini mem­bujuk Abu Bakr membelot dari keyakinannya. Adakah ia masih percaya bahwa Muhammad telah melakukan perjalanan di malam hari ke Jerusalem dan kembali ke Mekah sebelum fajar? la menjawab, “Tentu saya percaya. Saya percaya terhadap sesuatu yang lebih dianggap aneh oleh kalian, yaitu sewaktu Muhammad memberitahukan menerima wahyu dari langit.”58 v. Nabi Muhammad Berdakwah secara Terbuka Setelah tiga tahun lamanya berdakwah secara rahasia, Nabi Muhammad dapat perintah Allah agar menyebarkan pesan-pesan dakwah terang-terangan. “Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik.”59 Pada tahap awal, Nabi Muhammad melihat keberhasilan dakwahnya karena para pembesar dan kepala suku tidak ada di kota Mekah. Saat kembali, mereka mulai membuat perhitungan dan menyadari akan bahaya agama baru ini. Mereka mulai melakukan penindasan terhadap masyarakat Muslim yang baru lahir. Beberapa rakyat kecil mulai dipaksa kembali menerima tata cara kehidupan semula sedang lainnya tetap bertahan pada kepercayaan agama baru. Dari hari ke hari kekejaman semakin meningkat dan Nabi Muhammad setelah lebih kurang dua tahun dalam penindasan minta mereka yang tak tahan menghadapi ujian agar hijrah ke Habashah.60 Memasuki kejadian tahun ke lima kenabian, mereka yang menerima usulan untuk hijrah berjumlah kurang dari dua puluh orang.61 Hijrah kedua dimulai tidak lama setelah melihat meningkatnya penindasan pihak orang-orang kafir yang ingin mencabut akar pemikiran Islam dari lubuk hati mereka.62 Melihat kegagalan strategi yang mereka lakukan, orang-orang kafir mulai mengambil langkah baru. vi. Tawaran Pihak Quraish kepada Muhammad Dengan masuk Islamnya Hamzah (salah satu paman Nabi Muhammad) merupakan titik klimaks bahaya yang dirasakan oleh pihak Quraish. ‘Utba bin Rabi’a, seorang kepala suku melihat Muhammad melakukan shalat di Masjid al-Haram sendirian dan memberitahukan kepada lain, “Saya akan pergi me­nemui Muhammad mengemukakan beberapa usulan yang mudah-mudahan ia dapat menerimanya. Kita akan tawarkan apa saja yang la mau dan kita akan membiarkan ia dalam keadaan selamat.” ‘Utba pergi menemuinya dan berkata, “Wahai saudara sepupuku, anda adalah satu di antara kita, keturunan kabilah termulia serta memiliki asal usul keturunan yang amat terpandang. Anda hadir di tengah para pengikut dengan membawa masalah yang amat besar yang mengakibatkan pecahnya masyarakat. Engkau caci maki tatanan hidup, menghina tuhan-tuhan dan agama mereka dan anda anggap keturunan mereka sebagai kafir. Sekarang dengar apa yang hendak saya tawarkan dengan harapan anda akan dapat menerima salah satu darinya.” Nabi Muhammad setuju ‘Utba meneruskan ucapannya, “Wahai saudara sepupu saya, jika sekiranya anda menghendaki-dengan apa yang anda bawa-harta kekayaan, kita akan mengumpulkan seluruh kekayaan dan menganugerahkan pada anda sehingga anda terlihat sebagai orang terkaya; jika sekiranya anda menghendaki kedudukan, saya akan mengangkat engkau pemimpin saya dan tak akan ada keputusan apa pun yang hendak dibuat tanpamu; jika anda menghendaki kekuasaan, saya akan membuatmu sebagai seorang raja; dan jika yang ada padamu ternyata merupakan roh jahat, seperti yang anda lihat tetapi tak mampu menghindar, saya akan mencari pakar peruwatan dan menggunakan seluruh harta kekayaan demi penyembuhan penyakitmu. Biasanya setiap roh jahat ada saja seorang ahli penyembuhnya.” Setelah mendengar penuh sabar dan perhatian, Nabi Muhammad mulai menjawab, “Sekarang dengarlah dari saya: “Haa Miim. Diturunkan dari Tuhan Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui, yang membawa berita gembira dan yang membawa peringatan, tetapi kebanyakan mereka berpaling (darinya) maka mereka tidak (kamu) mendengarkan. Mereka berkata, ‘Hati kami berada dalam tutupan (yang menutupi) apa yang kamu seru kami kepadanya dan di telinga kami ada sumbatan dan di antara kami dan kamu ada dinding, maka bekerjalah kamu; sesungguhnya kami bekerja (pula).’ “63 Nabi Muhammad meneruskan bacaan sementara ‘Utba mendengar penuh perhatian sehingga sampai pada sepotong ayat yang memerintahkan sujud dan ia melakukannya. Nabi Muhammad kemudian berkata, “Anda telah mendengar apa yang telah kubacakan dan selanjutnya terserah sikap anda.”64 vii. Boikot Kaum Quraish terhadap Muhammad dan Sukunya Melihat kegagalan persuasi yang dilancarkan kepada Muhammad, para dedengkot Quraish menempuh cara lain. Mereka mendekati Abu Talib, sesepuh yang paling disegani dan sekaligus paman dan sumber proteksi baginya. la meminta agar Muhammad berhenti mencaci tuhan orang lain, mengutuk keturunan, dan agama nenek moyang mereka. Abu Talib diutus menyampaikan pesan mereka. Melihat sikap pamannya yang semakin goyah dalam mem­belanya, Muhammad menjawab, “Wahai pamanku, demi Allah, jika mereka meletakkan matahari di tangan kanan dan bulan di sebelah kiri memaksa saya agar meninggalkan tugas ini, saya akan tak akan menyerah. sehingga Allah memberi kemenangan ataupun aku binasa karena-Nya.” Mendengar ucapannya, Abu Talib menoleh ke belakang sambil mengusap air mata. Tersentuh oleh ucapannya, ia meyakinkan dan tidak akan mundur sedikit pun dari pembelaan. Beberapa saat kemudian, sebagian anggota suku ban! Hashim dan al-Muttalib tidak mau meninggalkan Muhammad dan menyerahkannya meskipun mereka sama-sama menyembah berhala seperti lazimnya orang Quraish. Dengan kegagalan saat itu, para pembesar Quraish mengeluarkan menyatakan pemboikotan terhadap ban! Hashim dan al-Muttalib yang antara lain, perkawinan dan semua bentuk transaksi perdagangan sesama orang-orang Quraish agar diputus sampai pada keperluan sehari-hari tidak disediakan. Kekejaman yang me­matikan itu berlangsung selama tiga tahun di mana Nabi Muhammad dan seluruh pengikutnya menderita kelaparan luar biasa tanpa makanan di tengah padang pasir tanpa tumbuh-tumbuhan.65 viii. Sumpah Setia ‘Aqaba Satu dasawarsa perj alanan dakwah, Nabi Muhammad mendapat beberapa ratus pengikut yang sabar dan tahan menghadapi segala penindasan. Pada masa itu pula agama ini dapat menyentuh telinga dan hati sebagian penduduk Madinah, yang letaknya lebih kurang 450 kilometer dari utara kota Mekah. Orang-orang Islam dari wilayah itu berkunjung ke Mekah tiap musim haji yang jumlahnya selalu bertambah sehingga pada akhirnya bertemu dengan Nabi Muhammad secara diam-diam di‘Aqaba,dekatMinadi malam hari guna menyampikan sumpah dan janji setia diktat berikut,66 Gambar 2.2: Situs tempat Sumpah Setia ‘Aqaba di buat (Sebuah Masjid tua Menghiasi tempat tersebut). (1). Tidak akan menyekutukan Allah; (2). Menaati Nabi Muhammad dalam semua kebaikan; (3). Tidak akan mencuri; (4). Menjauhi perbuatan zina; (5). Menjauhi perbuatan maksiat, dan (6). Tidak akan mengumpat orang lain. Tahun berikutnya dengan jumlah lebih besar (lebih dari tujuh puluh termasuk wanita) kembali menemui Nabi Muhammad di musim haji mengundang beliau hijrah ke Madinah. Pada malam itu mereka mengucapkan sumpah setia yang ke dua kali dengan sedikit penambahan ungkapan kata­kata;67 hendak memberi proteksi pada Nabi Muhammad seperti halnya mereka memproteksi keluarga mereka. Dengan undangan ini kaum Muslim yang merasa tertindas dapat menemukan jalan keluar, sebuah perjalanan di mana akan mendapat sambutan hangat dari penduduknya. ix. Upaya Pembunuhan Nabi Muhammad Setelah sanksi ekonomi yang amat kejam itu berjalan tiga tahun, sebagian masyarakat Muslim cenderung menerima tawaran dan sebagian mulai berhijrah. Menyadari akan gerak yang mungkin dilakukan oleh Nabi Muhammad ke utara menuju Madinah hanya akan memperlambat konfrontasi yang tak mungkin terelakan. Demi tercapainya tujuan, para pembesar Quraish menya­dari akan waktu yang tepat untuk mengakhiri permusuhan dengan kesepakatan menghabisi nyawa Nabi Muhammad Setelah mencium upaya itu, Allah memerintahkan Muhammad agar segera bergegas hijrah ke Madinah secara rahasia. Tak ada seorang pun yang tahu akan rencana ini kecuali All, Abu Bakr, serta keluarganya. Nabi Mu­hammad minta agar ‘Ali tinggal sementara karena dua alasan. Pertama sebagai upaya diversi, Ali diminta menginap di tempat tidur Rasulullah persis dengan cara-cara yang dil’akukan Nabi Muhammad dengan mengenakan kain selimutnya. Hal ini dimaksudkan sebagai trick bagi mereka yang sedang menunggu. Kedua, upaya pengembalian citra bahwa orang-orang masih menaruh harapan pada Nabi Muhammad guna memelihara tuhan-tuhan mereka sebagai keper­cayaan sikapnya masih belum ada seorang pun yang mampu menyaingi.68 x. Muhammad di Madinah Menghindari upaya pembunuhan, berkat rahmat dan izin Allah, Nabi Muhammad berhijrah ditemani sahabat setianya, Abu Bakr, bersembunyi selama tiga hari di Gua at-Thur yang gelap.69 Madinah diwarnai upacara kebesaran saat beliau tiba pada bulan rabi ‘al-awwal, di mana seluruh jalan penuh dengan luapan ekspresi kegembiraan pantun dan syair. Dengan berakhirnya segala penindasan, Nabi Muhammad tidak lama kemudian mulai membangun sebuah masjid sederhana yang cukup luas dan mampu menampung banyak para penuntut ilmu, tamu-tamu, dan para pelaku ibadah tiap hari dan shalat Jumat. Jauh sebelumnya, sistem perundang-undangan telah dirancang yang mengatur hubungan tanggung jawab kaum pendatang dari Mekah dan penduduk Madinah terhadap orang lain, negara Islam yang baru lahir, sesama orang Yahudi, dan kedudukan serta tanggung jawab mereka terhadap masyarakat dan negara. Ini merupakan sistem perundang-undangan pertama yang tertulis dalam sejarah dunia:70 Madinah terdiri dari sebagian beberapa suku orang Yahudi. Aus dan Khazraj adalah suku terbesar di antara yang ada. Kedua suku itu terikat tali hubungan darah, kendati tak serasi dan sering kali terlibat dalam konflik bersenjata. Orang-orang Yahudi selalu berubah sikap yang mengakibatkan keretakan di antara mereka. Kedatangan Nabi Muhammad telah mengobarkan minat pemeluk agama baru ke setiap rumah suku Aus dan Khazraj, seperti halnya situasi politik yang semakin jelas dengan terciptanya perundang­undangan baru di mana Nabi Muhammad sebagai pemegang kekuasaan tertinggi dan sekaligus sebagai pemimpin umat Islam dan juga bangsa Yahudi. Bagi mereka yang tidak suka memihak pada Nabi Muhammad dianggap kurang bijak untuk melakukan oposisi terbuka, dan bagi mereka sikap bermuka dua menjadi hal yang rutin. Orang-orang munafik berupaya menyakiti Nabi Muhammad dan pengikutnya melalui berbagai cara dan dengan penuh semangat yang tak terpatahkan sepanjang kehidupan beliau. Permusuhan secara terang-terangan antara umat Islam dan orang kafir Arab dan keberadaan orang Yahudi, telah menyulut terjadinya beberapa per­tempuran besar dan kecil. Peperangan yang besar, antara lain, seperti Perang Badardi bulan Ramadan dua tahun setelah hijrah,71 Perang Uhud yang terjadi pada bulan Shawwal, tahun ke-3 setelah hijrah; Perang Khandaq di bulan Shawwal, tahun ke-5 setelah hijrah; Perang Ban! Quraiza, tahun ke-5 setelah hijrah; Perang Khaebar, Rabi al-Awwal tahun ke-7 setelah hijrah, Perang Mu’ta, Jumad al-Awwal tahun ke-8 setelah hijrah, penaklukan kota Mekah (Fathu Makkah), pada bulan Ramadan tahun ke-8 setelah hijrah, Perang Hunain dan Ta’if, pada bulan Shawwal tahun ke-8 setelah hijrah, tahun pendelegasian72, dan Perang Tabuk pada bulan Rajab tahun ke-9 setelah hijrah. Kendati musuh-musuh Nabi Muhammad dalam peperangan pada umum­nya terdiri dari para penyembah berhala, pada hakikatnya termasuk juga orang­orang Yahudi dan Kristen yang beraliansi dengan kekuatan kafir Quraish dalam melakukan oposisi terhadap orang Islam. Saya sebut beberapa kejadian dari peperangan ini bukan hendak memperpanjang pembahasan melainkan sekadar perbandingan merebaknya agama Islam di bawah kepemimpinan Nabi Muhammad dan sikap kacau bangsa Israel dalam pengembaraan di masa Nabi Musa dan perjuangan dua belas utusan peserta Nabi Isa.73 xi. Awal Pecahnya Perang Badar Nabi Muhammad mendengar berita bahwa kafilah besar melewati rule dekat kota Madinah di bawah komando kepemimpinan Abu Sufyan. Nabi Muhammad berusaha menghadangnya namun sempat Abu Sufyan mencium jejak itu dan akhirnya mengubah rute perjalanan dengan mengirim seorang utusan ke Mekah agar menambah jumlah personal. Pasukan tempur dengan seribu tentara dan tujuh ratus unta serta pasukan kuda dipersiapkan atas saran Abu Jahl, suatu pertunjukan kekuatan raksasa yang hendak menggempur kota Madinah. Setelah menerima mata-mata tentang kafilah serta perubahan rule perjalanan dan pasukan militer Abu Jahl, Nabi Muhammad membuat pe­ngumuman minta saran sahabafiya. Abu Bakr berdiri secara terhormat sikap terhormat yang kemudian diikuti oleh Umar. Kemudian al-Miqdad bin ‘Amr berkata, “Wahai Nabi Allah, pergilah ke mana Allah memberitahukan anda dan kita akan bersamamu. Demi Tuhan, saya tidak akan berkata seperti ban! Israil74 kepada Nabi Musa, pergi bersama tuhanmu dan perangilah sedang kami akan duduk melihatnya,”75 Demi Tuhan yang telah mengutusmu dengan kebenaran, jika sekiranya engkau hendak membawa saya pada suatu tempat bernama Bark al-Ghimad76 saya akan berperang sampai mati bersamamu melawan mereka sehingga engkau dapat menguasainya.” Kata-katanya terdengar oleh Nabi Muhammad dan ia berterima kasih dan berdoa kepadanya. Lalu ia mengatakan, “Berilah aku nasihat wahai manusia sekalian,” yang dimaksud adalah kaum Ansar. Ada dua alasan di belakang ini: (a). Mereka sebagai anggota masyarakat mayoritas; dan (b). Ketika kaum Ansar memberi janji setia di ‘Aqaba, mereka menjelaskan bahwa mereka tidak berhak mendapat keselamatan sehingga ia memasuki daerah mereka. Saat itu mereka berjanji akan memberi proteksi sebagaimana mereka proteksi pada para keluarganya. Oleh karena itu, Nabi memberi perhatian jangan jangan mereka meliliatnya dengan sikap setengah hati terhadap penyerangan tentara Abu Jahl yang begitu kuat saat masih ada di luar perbatasan kota Madinah. Saat Nabi Muhammad mengutarakan kata-kata seperti itu, Sa’d bin Mu’adh berkata, “Demi Allah, mungkin yang dimaksud adalah kami?”. Nabi menjawab, “Tentu, tanpa diragukan lagi.” Kami percaya pada engkau, kami teguh terhadap kebenaranmu, kami bersaksi bahwa apa yang engkau dakwahkan adalah benar dan kami telah memberi sumpah setia untuk mendengar dan menaatinya. Oleh karena itu, pergilah ke tempat mana pun yang engkau kehendaki dan kami akan tetap bersamamu. Demi Tuhan yang telah mengutusmu dengan kebenaran, jika engkau menyeberangi lautan ini sekalipun, saya akan tetap mengarungi lautan dan tak akan ada seorang pun yang menunggu-nunggu di belakang. Kita tidak gentar sedikit pun menghadang musuh-musuhmu di esok hari. Kita cukup berpengalaman dan terlatih dan dapat dipercaya dalam pertempuran. Barang­kali akan lebih baik saat Allah mengizinkan kita membuat presentasi sesuatu yang akan membuat engkau senyum, maka ajaklah menerima rahmat Allah.77 Nabi Muhammad, semakin yakin setelah diberi masukan oleh ucapan dari Sa’d dan kemudian siap menuju Badr dengan pasukan sebanyak 319 orang, dua ratus pasukan kuda dan tujuh puluh pasukan unta. Di sanalah mereka menghadang kekuatan tentara Quraish: seribu orang (enam ratus memakai baju tem­pur anti peluru, seratus pasukan kuda dan ratusan pasukan unta.78 Pada hari terakhir karunia Allah tampak terang pada pihak tentara Muslim, dimana musuh-musuh kafir menderita kekalahan telak dan negara Islam mulai mencapai tingkat kedewasaan menjadi kekuatan yang terkenal di Semenanjung Arab. xii. Terbunuhnya Khubaib bin ‘Adil al-Ansari Khubaib, seorang budak Muslim Safwan bin Umayya hendak dieksekusi di depan khalayak sebagai sikap balas dendam terhadap kematian ayahnya yang gugur sewaktu Perang Badr. Orang-orang berkumpul hendak menyaksi­kan peristiwa itu. Di antara mereka adalah Abu Sufyan, yang menghujani berbagai makian terhadap Khubaib saat membawa keluar untuk dihabisi nyawanya, “Saya bersumpah karena tuhan Khubaib, adakah anda meng­inginkan Nabi Muhammad hadir di tempat ini untuk kita penggal lehernya dan anda akan kami bebaskan hidup bersama keluarga? Khubaib menjawab, “Demi Tuhan, saya tidak akan mau melihat Nabi Muhammad hadir di sini dan saya lebih suka melihat ia menduduki kekuasaan daripada saya harus duduk di tengah keluarga.” Abu Sufyan berkata sumbar, “Saya tidak pernah melihat seseorang mencintai orang lain seperti mereka mencintai Muhammad.” Kemudian Khubaib dicincang anggota tubuhnya satu per satu sekecil biji gandum dan darah mengalir dari tiap penjuru sebelum ia dihabisi.79 xiii. Penaklukan Kota Mekah Menurut persyaratan Perjanjian Hudaibiyyah (6 A.H.), semua suku diberi pilihan antara mengikuti Nabi Muhammad atau orang Quraish sesuai kehendak mereka. Suku Khuza’a memilih bergabung dengan Nabi Muhammad, sedang­kan banu Bakr bergabung dengan pihak Quraish. Bani Bakr, mengkhianati perjanjian dengan bantuan pihak Qurasih menyerang suku Khuza’a. Orang­orang suku Khuza’a menuju tempat suci Ka’bah dengan menyalahi tata cara yang telah disepakati tanpa jaminan keamanan. Mereka mengeluh menuntut keadilan. Nabi Muhammad menawarkan pada pihak Quraish dan ban! Bakr tiga pilihan, di mana yang terakhir meminta agar perjanjian Hudaibiyyah dibatalkan. Dengan sikap sombong, pihak Quraish mengambil pilihan ke-3. Setelah menyadari akan ketidakbijaksanaan pilihan, Abu Sufyan menemui Rasulullah minta agar perjanjian itu diperbarui akan tetapi kembali dengan tangan hampa. Nabi Muhammad bersiap-siap melakukan serangan ke Mekah dan seluruh kabilah yang telah mengucapkan sumpah setia pada umat Islam diminta bergabung pada pasukannya. Dua puluh satu tahun lamanya orang Quraish me’lakukan berbagai penindasan, penyiksaan, dan kekejaman terhadap umat Islam. Roda kini berputar dan mereka sepenuhnya menyadari arti persiapan yang dilakukan Rasulullah dan rasa cemas menghantui setiap rumah. Dengan pasukan sebanyak sepuluh ribu, Nabi Muhammad menuju Mekah pada hari ke sepuluh Ramadan, tahun ke-8 hijrah. Mereka melakukan camping di suatu tempat bernama Marr Az-Zahran dan orang Quraish memahami akan fakta ini. Nabi Muhammad bukan hendak mengejutkan pihak musuh dan tidak pula menghendaki terjadinya pertumpahan darah. la hanya menghendaki pihak Quraish menyadari sepenuhnya akan situasi sebelum mengambil pilihan perang yang tak berarti. Sementara Abu Sufyan dan Hakim bin Hizam mulai melakukan tugas mata-mata ketika mereka bertemu dengan ‘Abbas, paman Nabi Muhammad. ‘Abbas menasihati agar ia masuk Islam. Islamnya Abu Sufyan berarti pembuka jalan akan kemenangan tanpa pertumpahan darah. Kemudian Abu Sufyan menuju Mekah dan memekik suara tangis dengan lantangnya, “Wahai orang Quraish, inilah Muhaminad telah hadir ke tempat kalian dengan pasukan yang tak mungkin kalian mampu melawan. Siapa hendak mengungsi di rumah Abu Sufyan la akan selamat, siapa yang ingin mengunci pintu rumah sendiri, juga selamat. Siapa yang masuk tempat suci Mekah juga selamat.” Nabi Muhammad kembali ke tempat asal kelahirannya, sebuah kota yang membuat ia sengsara beberapa tahun menghadapi kekejaman dan siksaan. Sekarang pasukan tentara dapat memasuki Mekah tanpa darah setetes pun. Perlawanan kecil-kecilan terlihat di sana sini sedang Nabi Muhammad berdiri di depan pintu Ka’bah memberi kata sambutan dengan diakhiri seruan, “Wahai orang Quraish, apa yang ada di benak hati kalian tentang apa yang hendak saya lakukan terhadap kamu semua?” Mereka semua menjawab, “O, saudaraku yang mulia dan anak terhormat saudaraku! Saya tak mengharapkan sesuatu, kecuali rasa belas kasihmu.” Lalu la menjawab, Pergilah kalian dengan bebas merdeka!”80. Itulah grasi ampunan yang la demonstrasikan pada tiap penduduk Mekah yang telah melakukan penyiksaan terhadap umat Islam selama dua puluh tahun.81 Dalam masa sepuluh tahun semua Jazirah Arab sejak dari Aman hingga ke Laut Merah, dari sebelah selatan Suriah ke Yaman jatuh di bawah kekuasaan umat Islam. Hanya satu dasarwarsa setelah Nabi Muhammad hijrah ke Madinah, la bukan saja seorang Nabi yang melaksanakan perintah ke­tuhananan, melainkan juga seorang pemimpin yang tak ada bandingannya di seluruh semenanjung Arab yang mampu menyatukan mereka pertama kali dalam sejarah. 46. Sistem kalender Kristen dibuat atas asas praduga. Dibuat berdasar model kalender Arab, hal ini tidak pernah menjclma dalam penggunaan secara umum sehingga, sekurang-kurangnya, sepuluh abad setelah kelahiran Jesus berlalu mengalami perubahan-perubahan (modifications). Kalender Gregoria seperti yang digunakan sekarang bermula dari tahun 1582 C.E./990 A.H. kctika diadopsi oleh negara-negara Katolik pada masa itu atas keputusan dari Pope Gregory XIII, dalam Papal Bull (?) pada tanggal 24 Februari 1582. (Lihat Khalid Baig, “The Millennium Bug” , Impact International, London, jilid.30, no. 1, Januari 2000, hlm. 5) Penulis modern mengetengahkan tahun ke belakang secara fiktif, yang hanya membuat permasalahan barn dalam menentukan tahun kejadian. 47. Al-Bukhari, Sahih, Ijara:2. 48. Ibn Hisham, Sira, jilid 1-2, hlm. 187-189. 49. Ibid. jilid.1-2, hlm. 197. 50. Ibid. jilid.1-2, hlm. 196-7. 51. Ibn Hajar 52. Muslim, Sahih, Fada’i1:2:2, hlm. 1782. 53. ‘Urwah bin az-Zubair, al-Maghazi, kompilasi dilakukan oleh by M.M. al-A’zami, Maktab al-Tarbiya al-‘Arabiyyah Liduwal al-Khalij, 1st edition, Riyad, 1401 (1981), hlm.100. 54. Ibn Hajar, Fathul Bari, i:23. 55. Sara 96, lihat al-Bukhari, Sahih, Bad’ al-Wahy. 56. Qur’an, 96:1-5. 57. Ibn Ishaq, as-Seyr wa al-Maghazi, versi Ibn Bukair, hlm.139. Di sini Abu Bakr dengan pertanyaannya tidak berarti bahwa Nabi Muhammad pernah mengikuti cara-cara orang kafir. Ini semata-mata berarti, ‘Adakah anda mengutuk secara terbuka?’ 58.  Ash-Shami, Subul al-Huda, iii: 133. 59. Qur’an 15:94-95. 60. ‘Urwah, al-Maghazi, hlm.104. 61.  Ibn Hisham, Sira, jilid 1-2, hlm.322-323; Ibn Sayyid an-Nas, ‘Uyun al-Athar, i:l 15. 62. ‘Urwah, al-Maghazi, hlm.l 11. 63. Qur’an, 41:1-5. 64. Ibn Hisham, Sira, jilid.l-2, hlm. 293-94. Dalam terjemahan baik yang tersebut di sini maupun di tempat lainnya, kami merujuk pada karya terjemahan Guillaume. 65. Ibn Hisham, Sira, jilid.l-2, hlm. 350-51; Ibn Ishaq, as-Seya wa al-Maghazi, versi Ibn Bukair, hlm.,154-167. 66. Ibn Hisham, Sira, jilid.l-2, hlm. 433. 67. Ibid. jilid 1-2, hlm. 442. 68. Ibid. jilid.1-2, hlm.485. 69. Ibid. jilid.1-2, hlm.486. 70. M. Hamidullah, the First Written Constitution in the World, Lahore, 1975. 71. S.H. (Setelah Hijrah) sebagai kalender umat Islam. Hal ini dibuat sejak kekuasaan khalifah ke-2, ‘Umar (dan bahkan kemungkinan lebih dulu), yang dimulai sejak hijrah Nabi Muhammad ke Madinah. 72. Kendati tidak terjadi peperangan, saya memasukkannya karena ia menandai penerimaan secara besar-besaran dan hangat penerimaan orang kafir Arab terhadap Islam. Ghazwa berarti mengeluarkan energi untuk memasarkan Islam dan tahun pendelegasian merupakan contoh yang menggembirakan tentang Kabilah Arab yang mendatangi Nabi Muhammad, dan membantu penyebaran agama Islam dengan mau memeluknya secara sukarela. 73. Harap dilihat bab ke-14 dan 16. 74. Anak cucu Israel. 75. Qur’an, 5:24. 76. Sebuah tempat di Yaman. Orang lain menyebut sebagai “farthest stone”. Terlepas betul maupun salah ia berarti “sejauh anda dapat pergi”. 77. Ibn Hisham, Sira, jilid.l-2, hlm.614-5. 78. Mahdi Rizqallah, as-Sira, hlm.337-9. 79. ‘Urwah, al-Maghazi, hlm.177. Khubaib dan Zaid ditawan pada incident yang sama dan keduanya menjadi shahid di Tan’im. Menurut karya Ibn Ishaq (Ibn Hihsam, Sira, jilid 3-4, h1m.172 bahwa jawaban ini berkaitan dengan Zaid. 80. Ibn Hisham, Sira, jilid 3-4, hlm.389-412. 81. Bosworth Smith berkata, ‘Jika ia menggunakan pelindung muka (masker) secara keseluruhan, ia dalam semua peristiwa telah membuangnya. Sekarang merupakan timing yang tepat untuk memuaskan ambisinya dan mengenyangkan nafsu penghabisan bukan malah melalap rasa dendam. Adakah terdapat hal seperti itu di tempat lain? Baca sejarah masuknya Nabi Muhammad ke kota Mekah di waktu yang sama lihat cerita Marius Sulla saat memasuki Roma. Kami akan dalam posisi yang tepat menghargai keluhuran budi dan sikap modernisasi Nabi Muhammad di Jazirah Arabia. @6@BAB 2 SEKILAS TENTANG SEJARAH ISLAM DI MASA SILAM The History of The Qur’anic Text  hal 37 – 42 3. Meninggalnya Nabi Muhammad Dan Kepemimpinan Abu Bakr i. Abu Bakr Menangani Gerakan Pemurtadan Meninggalnya Nabi Muhammad pada tahun ke-11 hijrah telah me­ngantarkan Abu Bakr sebagai pewaris negara Islam yang sedang mekar. Pada masa kegemilangan Nabi Muhammad, beberapa orang munafiq seperti Musailama al-Kadhab,82 memproklamasikan diri sebagai seorang nabi baru.83 Dengan me­ninggalnya Nabi Muhammad, pemurtadan terjadi di sebagian besar wilayah Madinah.84 Beberapa kepala suku yang merasa kehilangan kedudukan selama kehidupan Nabi Muhammad mengikuti jejak Musailama ngaku-ngaku sebagai nabi baru, seperti Tulaiha bin Khuwailid dan seorang wanita yang mengaku sebagai nabi, seperti Sajah binti al-Harith bin Suwaid, pengikut agama Kristen.85 Keadaan sedemikian ruwet sehingga ‘Umar menyarankan agar Abu Bakr melakukan sikap kompromis untuk sementara waktu dengan mereka yang tak mau membayar zakat. la bersikeras clan menolak pendapat itu dan bahkan mengatakan, “Demi Allah, dengan sikap pasti, saya akan perangi setiap yang memutus shalat dari bayar zakat suatu keharusan bagi tiap orang kaya. Demi Allah, jika terdapat seutas benang pengikat- sebuah kosakata yang digunakan untuk mengikat kaki unta-yang telah ditentukan oleh Rasulullah untuk dikeluarkan zakat sedang mereka menolaknya, saya akan perangi perkara yang demikian.”86 Abu Bakr berdiri sendiri dalam mempertahankan pendapat laksana gunung raksasa yang tak mungkin tergoyahkan sehingga tiap orang memihak padanya. Dalam mengatasi penyelewengan, Abu Bakr bergegas ke Dhul-Qassa, yang berjarak lebih kurang enam mil dari kota Madinah.87 Beliau memanggil seluruh pasukan militer yang ada dan membagi-bagi ke dalam sebelas resimen dilengkapi seorang komandan terkemuka pembawa panji pada setiap bagian dengan tujuan tertentu. Khalid bin al-Walid ditugaskan mengatasi Tulaiha bin Khuwailid; `Ikrima putra Abu Jahl bersama Shurahbil untuk mengatasi Musailama; Muhajir putra Abu Umayyah ditugaskan menghadapi sisa-sisa kekuatan al-Aswad al-Ansari dan Hadramout; Khalid bin Sa’id bin al-‘As diberi tugas mengatasi al-Hamqatain di perbatasan Syria, ‘Amr bin al-‘As diberi tugas mengatasi Quza’ ah dan lainnya; Hudhaifa bin Mihsin al-Ghalafani ditugaskan ke Daba di Teluk Aman; `Arfaja bin Harthama ke Mahara; Turaifa bin Hajiz kepada ban! Sulaim; Suwaid bin Muqarrin pada Tahama di Yaman; al-‘Ala’ bin al-Hadrami diberi tugas ke Bahrain; dan Surahbil bin Hasana ke daerah Yamama dan Quda’a.88 Di antara itu semua, barangkali. peperangan terbesar yang paling sengit adalah terjadi di Yamama melawan Musailama dengan jumlah pasukan melebihi empat puluh ribu di mana memiliki hubungan antarsuku terbesar di wilayah itu. Ikrima pada mulanya diutus mengatasinya namun karena kemampuan yang terbatas ia dikirim ke wilayah lain. Shurahbil, yang ditugaskan membantu ‘Ikrima, diberitahukan agar menunggu kehadiran komandan baru, Khalid bin al-Walid, yang akhirnya menewaskan pasukan militer Musailama yang begitu mengagumkan. Setelah penumpasan para pemberontak dan kembalinya semenanjung Arab di bawah pengawasan tentara Muslim, Abu Bakr menugaskan Khalid bin al-Walid menuju Irak.89 Di sana mampu mengalahkan tentara Persia di Ubulla, Mazar, Ullais (pada bulan Safar tahun ke-12 Hijrah/bulan Mei tahun 633 Masehi). Walujah disulap menjadi sungai banjir darah (pada bulan yang sama), Amghisia, dan Hira (Dhul Qi’da pada tahun ke-12 Hijrah/Januari tahun 634 Masehi),90 tempat la mendirikan pusat pertahanan.91 Setelah Hira ia melaju ke Anbar (tahun 12 Hijrah/di musim semi tahun 633 Masehi) dan menemukan kota pertahanan dilindungi oleh parit-parit. Persyaratan perdamaian dapat diterima, akan tetapi ia terus menuju ‘Ain at-Tamr melintasi padang pasir selama tiga hari ke arah barat Anbar.92 Di sana terdapat musuh campuran antara orang Persia dan orang-orang Kristen Arab yang sebagian mereka pengikut seorang wanita yang mengaku menjadi nabi, bernama Sajah;93 dalam per­tempuran pasukan Kristen berperang lebih ganas dibanding tentara Persia. Keduanya kalah dan kota itu jatuh ke tangan kekuasaan umat Islam. ii. Pasukan Militer Menuju Suriah Ditaklukkannya semenanjung Arab di akhir tahun ke-12 Hijrah (633 Masehi.), Abu Bakr berencana menaklukkan Suriah. Dua pilihan komandan pertama, Khalid bin Said bin al-‘As diikuti oleh ‘Ikrima bin Abu Jahl, berhasil secara memadai. Kawasan itu dibagi empat zon dengan komandan militer masing-masing: Abu ‘Ubaidah bin al-Jarrah bertanggung jawab atas daerah Hims (di bagian Barat Suriah sekarang); Yazid bin Abi Sufyan bertanggung jawab atas Damaskus; ‘Amr bin al-‘As bertanggung jawab atas Palestina dan Sharhabil bin Hasana terhadap Jordania. Musuh-musuh Romawi bertindak serupa membuat empat resimen. Abu Bakr kemudian mengubah strategi dan memerintahkan empat orang jendral agar bergabung bersama dan meminta Khalid bin al-Walid mengambil langkah cepat menuju Suriah membawa separuh pasukan yang ada dan bertindak sebagai panglima militer. Di sana ia mendapat kemenangan yang luar biasa se­dang di tempat lain tentara Muslim melaju cepat menghadapi musuh-musuhnya. 4. Negara-Negara dan Provinsi yang ditaklukkan pada Masa Kepemimpinan ‘Umar dan ‘Uthman

  • Yarmuk atau Wacusa, 5 Rajab, tahun ke-13 Hijrah/Sept. 634 Masehi;
  • Peperangan Qadisiya, Ramadan, tahun ke-14 Hijrah/Nov. 635 Masehi.
  • Ba’alback, 25 Rabi Awwal, tahun ke-15 Hijrah/636 Masehi;
  • Hims dan Qinnasrin ditaklukan pada tahun ke-15 Hijrah/636 Masehi;
  • Palestina dan Quds (Jerusalem) dikuasai pada Rabi II, tahun ke-16 Hijrah/637 Masehi;
  • Panaklukan Madian, tahun ke-I5 hingga ke-16 Hijrah/636-7 Masehi;
  • Jazira (Ruha, Raqqa, Nasibain, Harran, Mardien) sebagian besar penduduknya terdiri orang Kristen, ditaklukkan pada tahun ke-18 hingga ke­20 Hijrah/639-40 Masehi;
  • Penaklukan Persia: Nehavand, ke-19 hingga ke-20 Hijrah/640 Masehi;
  • Mesir (tidak termasuk Iskandariya) pada tahun ke-20 Hijrah/640 Masehi;
  • Iskandariyya pada tahun ke-21 Hijrah/641 Masehi;
  • Barqa (Libya) pada tahun ke-22 Hijrah /643 Masehi;
  • Tripoli (Libya) pada tahun ke-23 Hijrah/643 Masehi;
  • Cyprus, pada tahun ke-27 Hijrah /647 Masehi;
  • Armenia, pada tahun ke-29 Hijrah /649 Masehi;
  • Dhat as-Sawari, pada tahun ke-31 Hijrah /651 Masehi;
  • Azerbaijan, Deulaw, Marw (Merv), dan Sarakhs, pada tahun ke-31 Hijrah/651 Masehi;
  • Kirman, Sijistan, Khurasan, dan Balkh, juga pada tahun ke-31 Hijrah/651 Masehi.

Setelah memerintah selama 395 tahun, tirai dinasti Sasanid jatuh ke tangan bangsa yang baru berusia tiga dasawarsa yang masih belum memiliki pengalaman administrasi dan peperangan yang dapat dibanggakan. Hal ini tidak mungkin terjadi melainkan bagi umat Islam yang memiliki keimanan kepada Allah, Rasul-Nya, clan ketinggian agama-Nya. Menurut Prof Hamidullah,94 daerah yang ditaklukkan selama 35 tahun setelah Hijrah (di akhir kekuasaan ‘Uthman) dibagi sebagai berikut: Daerah yang dikuasai sejak Masa Nabi Muhammad

Masa Nabi Muhammad hingga tahun 11 hijriah 1,000,000 mil 2
Abu Bakr as-Siddiq tahun 11-13 hijriah 200,000 mil 2
Umar bin al-Khattab tahun 13-25 hijriah 1,500,000 mil 2
‘Uthman bin ‘Affan tahun 25-35 hijriah 800,000 mil 2
Jumlah 3,500,000 mil 2

Gambar 2.3: Perbatasan Negara Islam pada akhir khalifah ketiga (35 hijriahl655 Masehi); perbatasan sewaktu rasulullah wafat tertulis warna hijau (lht. Map) Nabi Musa dan kedua belas suku bangsa Israel berkelana di Gurun Sinai selama empat puluh tahun tidak lebih dari seratus mil sebagai siksaan karena tidak mengindahkan perintah Allah ; dalam masa yang singkat pasukan tentara Islam mampu menaklukkan tiga setengah juta mil persegi yang sekarang disebut dengan daerah Timur Tengah. 5.Kesimpulan Di samping luasnya wilayah teritorial yang telah ditaklukkan oleh pasuk­an tentara Muslim, baik melalui peperangan maupun deputasi (pengutusan), Nabi Muhammad wafat mewariskan dua harta pusaka umat Islam: Kitab suci Al-Qur’an dan Sunnah.95 Tugas mulia dilanjutkan oleh ribuan sahabat yang secara pribadi mengenal, tinggal, dan makan bersama beliau serta mengalami pedihnya rasa lapar, tanpa menghunus mata pisau pada pihaknya. Mereka telah berikrar janji setia dalam menghadapi berbagai kepentingan hidup tiap saat tanpa perasaan gentar sedikit pun. Kita hanya dapat menduga jumlah mereka yang kecil dan kita dapat membaca pengikut pasukan Musailama yang sebanyak empat puluh ribu hanyalah selusin di antara mereka yang terlibat dalam pertempuran dan menderita kekalahan tak berdaya. Adalah tidak mungkin mereka menghadang enam ratus ribu pasukan tempur melintasi lautan beserta Nabi Musa, seperti tercatat dalam cerita exodus,96 akan tetapi jumlah besar seperti itu hanya berkelana tak menentu di sekitar gurun pasir di bawah terik matahari. Sedangkan para sahabat nabi mampu menuai berkah kemenangan yang luar biasa. Selama penjagaan dengan begitu ketat terhadap agama baru, seluruh sistem manajemen dibangun di atas fondasi Al-Qur’an dan Sunnah sehingga penyelewengan tidak diberi peluang berkembang: Lingkungan yang seperti itu membuktikan sikap setia terhadap pemeliharaan teks kitab umat Islam dalam bentuknya yang asli, seperti yang hendak kita lihat berikutnya. @7@BAB 3 : WAHYU DAN NABI MUHAMMAD The History of The Qur’anic Text  hal 43 – 48 Dari sejarah Islam kita akan melihat jejak risalah Nabi Muhammad, sifat dan kaitannya dengan ajaran para nabi terdahulu. Allah swt. menciptakan umat manusia dengan satu tujuan agar menghambakan diri kepada-Nya, meski la tidak memerlukan seseorang agar menyembah karena tidak akan menambah arti kebesaran-Nya. Tata cara penyembahan tidak diserahkan pada individu, namun secara eksplisit dijelaskan oleh para nabi dan rasul-Nya. Melihat bahwa semua rasul menerima tugas dari Pencipta yang sama, inti risalah tetap sama saja, hanya beberapa penjelasan praktis yang mengalami perubahan. Nuh (Noah), Ibrahim (Abraham), Isma’il (Ishamel), Ya’cub (Jacob), Ishaq (Isaac), Yusuf (Joseph), Dawud (David), Sulaiman (Solomon), `Isa (Jesus), dan banyak lagi yang tak terhitung, Allah mengutus dengan risalah yang ditujukan kepada masyarakat tertentu dan berlaku pada masa tertentu pula. Dalam perjalanan mungkin saja terjadi penyimpangan yang membuat pengikutnya menyembah berhala, percaya pada klenik dan khurafat, dan melakukan upaya pemalsuan. Kehadiran Nabi Muhammad, dengan risalah yang tidak tersekat dalam batas kebangsaan dan waktu tertentu, suatu kepercayaan yang tidak akan mungkin dihapus karena untuk kepentingan umat manusia sepanjang zaman. Islam menganggap kaum Yahudi dan Nasrani sebagai “ahli kitab”. Ketiga agama ini memiliki kesamaan asal usul keluarga dan secara hipotesis menyembah tuhan yang sama, seperti dilakukan oleh Nabi Ibrahim dan kedua putranya, Isma’il dan Ishaq. Berbicara masalah agama, tentu kita dihadapkan pada peristilahan yang umum kendati kata-kata itu tampak mirip, bisa jadi memiliki implikasi yang berlainan. Misalnya, Kitab suci Al-Qur’an menjelas­kan secara rinci bahwa segala sesuatu di alam ini diciptakan untuk satu tujuan agar menyembah Allah, tetapi dalam mitologi Yahudi semua alam ini dicipta­kan untuk menghidupi anak cucu bani Israel saja.1 Selain itu, nabi-nabi ban! Israel dianggap terlibat dalam membuat gambaran tuhan-tuhan palsu (Aaron) dan bahkan dalam skandal perzinaan (David), sedangkan Islam menegaskan bahwa semua nabi-nabi memiliki sifat kesalehan. Sementara, konsep trinitas dalam agama Kristen-dengan anggapan Jesus seperti terlihat dalam gambaran ajaran gereja sama sekali bertentangan dengan keesaan Allah dalam ajaran Islam. Kita akan paparkan sifat kenabian dalam ajaran Islam yang akan jadi dasar utama adanya perbedaan nyata antara Islam dan kedua agama itu yang mengalami pencemaran dari konsep monoteisme dan akan kita jelaskan bahwa Allah %%% menentukan ajaran ideal untuk seluruh alam raya dalam bentuk wahyu terakhir. 1 . Pencipta dan Beberapa Sifat-Nya Jelas bahwa kita tidak menciptakan diri kita sendiri dan tak ada makhluk mana pun yang mampu menciptakan dirinya dari sesuatu tanpa wujud perantara. Untuk itu, Allah . menjelaskan dalam kitab suci Al-Qur’an,  “Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)?”2 Semua makhluk berasal dari Sang Pencipta, “(Yang memiliki sifat-sifat yang) demikian itu ialah Allah Tuhan kamu; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia; Pencipta segala se­suatu, maka sembahlah Dia; dan Dia adalah Pemelihara segala sesuatu.”3 “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.”4 Allah sebagai Pencipta adalah Mahaunik dan tidak ada menyerupai-Nya. Dia tiada dilahirkan clan satu-satunya Tuhan, “Katakanlah, ‘Dialah Allah, Yang Maha Esa, Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala urusan. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia’.”5 Dia Maha Pemurah, Pengasih, dan Penyayang. Dia membalas semua kebaikan dan menerima tobat orang yang benar-benar menyesali perbuatannya. la memberi ampunan pada siapa yang ia Kehendaki clan tidak akan memberi ampunan pada setiap menyekutukan-Nya clan akan mati dalam keadaan dosa yang tak terampuni. “Katakanlah, ‘Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Se­sungguhnya Allah mengampuni dosa-2 semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’”6 “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.”7 i. Tujuan Penciptaan Manusia Allah mencipta manusia semata-mata agar menghambakan diri kepada-Nya, “Dan Aku tidak menciptakan jin & manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.”8 Dengan memberi makan, air minum, tempat tinggal, reproduksi keturun­an, dan banyak lagi lainnya yang berkaitan dengan kehidupan manusia, me­nurut Islam, dapat ditransformasikan sebagai amal ‘ibadah jika disertai niat memberi pelayanan terhadap Allah. ii. Jejak Risalah Para Nabi Dalam jiwa manusia, Allah meniupkan sifat naluri yang mengantarkan penghambaan kepada-Nya sejauh tidak ada campur tangan pihak luar.9 Guna mengatasi kemungkinan adanya pengaruh luaran, Allah swt. mengutus para rasul dari masa ke masa agar terhindar dari penyembahan berhala atau pun khurafat dan membimbing manusia pada penyembahan yang benar. “….dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul.”10 Allah sebagai Sang Pencipta membersihkan para utusan-Nya dari segala bentuk perilaku jahat serta memberi kebaikan budi. Mereka sebagai model per­contohan dan memerintahkan semua pihak agar mengikuti jejak kepe­mimpinannya dalam menghambakan diri pada Allah swt.. Esensi risalahnya takmengenal batas waktu sepanjang sejarah. “Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya, ‘Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku’.“11 Semua risalah para nabi adalah, “Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepada-Ku.”12 Ungkapan singkat “tiada tuhan melainkan Allah”adalah kata kunci yang menyatukan semua para nabi sejak Nabi Adam hingga Muhammad. Kitab AI­Qui an menyebut tema ini berulang kali meminta perhatian khususnya Yahudi dan Nasrani. 2. Rasul Terakhir Di daerah tandus lagi panas, Mekah, Nabi Ibrahim pernah bermimpi bahwa seorang dari bangsa Nomad akan tinggal di lembah tandus itu yang akan menggembirakan Sang Pencipta: “Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab (AI-Qur’an) dan Al-Hikmah (As­Sunnah) serta menyucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.”13 Dan waktu yang telah ditentukan, di tempat yang tandus ini, Allah mengabulkan doa yang disemburkan Nabi Ibrahim lahirnya nabi terakhir untuk seluruh kemanusiaan. “Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”14 “Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi pe­ringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.”15 “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.”16 Sebagaimana yang Allah kehendaki, tibalah seorang penggembala kam­bing buta huruf diberi tugas menerima, mengajar, dan menyebarkan wahyu hingga berakhirnya sejarah: suatu beban yang lebih berat dari apa yang telah diberikan pada para rasul sebelumnya. 1. Lihat kutipan pada permulaan bab-bab ke-14 dan 15. 2. Qur’an, 52: 35. 3. Qur’an, 6: 102. 4. Qur’an, 95: 4. 5. Qur’an, 112: 1-4 6. Qur’an, 39: 53. 7. Qur’an, 4: 48. 8. Qur’an, 51: 56. 9. Hal ini dijelaskan dari hadith Nabi yang berbunyi, “Tiada seorang pun yang lahir namun diciptakan pada sifat yang sebenarnya (Islam). Adalah kedua orang tua yang membuatnya menjadi Yahudi atau Kristen atau Majusi…”(Muslim, Sahih, diterjemahkan ke dalam Bahsa Inggris oleh Abdul Hamid Siddiqi, Sh. M. Ashraf, Kashmiri Bazar – Lahore, Pakistan, hadith no. 6423). 10. Qur’an, 17:15. 11. Qur’an, 21:25 12. Qur’an, 26:108. Lihat juga pada surah yang sama pada ayat-ayat seperti no. 110, 126, 131, 144, dan 150. 13. Qur’an 2: 129 14. Qur’an 33: 40. 15. Qur’an 34: 28. 16. Qur’an 21:107 @8@BAB 3 : WAHYU DAN NABI MUHAMMAD The History of The Qur’anic Text  hal 48 – 53 3. Nabi Muhammad Menerima Wahyu Tentang diturunkannya wahyu AI-Qui an dapat dilihat pada ayat 185 surah al-Baqarah, “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) AI-Qur’an sebagai pet “Sesungguhnya telah Kami menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Dalam rentang masa dua puluh tiga tahun, Kitab suci Al-Qur’an diturunkan secara bertahap memenuhi tuntutan situasi dan lingkungan yang ada. Ibn ‘Abbas (w. 68 hijriah), seorang ilmuwan terkemuka di antara sahabat rasul mempertegas bahwa Al-Qur’an an diturunkan ke langit terbawah (bait al-`izzah) dalam satu malam yang kemudian diturunkan ke bumi secara bertahap sesuai dengan keperluan.17 Penerimaan wahyu Al-Qur’an ada di luar jangkauan penalaran akal manusia. Selama empat belas abad yang silam tak ada seorang rasul yang muncul, dan dalam memahami fenomena wahyu kita wahyu itu sampai padamu?” Beliau menjawab, “Kadang-kadang seperti bunyi lonceng, dan itu sesuatu paling dahsyat yang sampai pada saya, kemudian lenyap dan saya dapat mengulangi apa yang dikatakan. Kadang-kadang Malaikat hadir dalam jelmaan manusia dan berkata padaku dan saya dapat memahami apa yang dikatakan.”19 ‘A’isha menuturkan, “Sungguh aku pernah melihat Nabi saat wahyu turun kepadanya di mana pada hari itu beliau merasa kedinginan sebelum wahyu berhenti dan dahinya penuh keringat.”20 Ya’la pernah sekali bercerita pada `Umar tentang keinginannya melihat Nabi Muhammad menerima wahyu. Pada kesempatan lain ‘Umar memanggil dan ia menyaksikan Nabi Muhammad wajahnya kemerahan, bernapas sambil ngos-ngosan. Lalu tampak sembuh (dari gejala itu).’21 Zaid bin Thabit menjelaskan, “Ibn Um-Maktum mendatangi Nabi Muhammad saat beliau mendiktekan ayat ini, ‘takakan sama di antara orang-orang yang beriman yang duduk (tanpa kerja)’.22 Saat mendengar ayat tersebut Ibn Um-Maktum berkata, ‘O Nabi Allah, adakah berarti saya mesti ikut ke medan perang (jihad).’ Dia seorang yang buta. Kemudian Allah mewahyukan (ayat peringatan) kepada Nabi Muhammad. Saat kakinya berada di atas kakiku, begitu beratnya dan saya khawatir kakiku terasa akan putus.”23 Terdapat perubahan psikologis terhadap Nabi Muhammad selama menerima wahyu akan tetapi dalam semua waktu cara berbicara dan lainnya tetap seperti biasa. la tidak pernah tahu bila dan di mana wahyu itu akan sampai, seperti tampak dalam semua kejadian. Di sini saya berikan dua contoh sebagai bukti. Dalam masalah beberapa orang-orang mengumpat tentang istri rasul, ‘A’isha, mereka menuduh melakukan perbuatan tak terpuji dengan seorang sahabat. Nabi Muhammad tidak menerima wahyu seketika. Sebenarnya, beliau cukup pedih merasakan penderitaan selama sebulan karena berita gosip yang menimpa sebelum Allah memberi penjelasan tentang kesuciannya: “Dan mengapa kamu tidak berkata, di waktu mendengar berita bohong itu, ‘Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita mengatakan ini. Mahasuci Engkau (Ya Tuhan kami), in] adalah dusta yang besar.’ “24 Sementara dalam masalah Ibn Um-Maktum (keberatan melakukan jihad karena buta), Nabi Muhammad menerima wahyu secara spontan: “Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak turut berperang) yang tidak mempunyai uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya.”25 i. Permulaan Wahyu dan Mu`jizat Al-Qur’an 26 Peranan Nabi Muhammad dipersiapkan secara bertahap, suatu masa yang penuh kebimbangan dalam melihat berbagai kejadian dan visi pandangan yang ada, juga ikut ambil bagian dalam mempersiapkan kematangan jiwanya dimana Jibril berulang kali hadir memperkenalkan diri.27 Pertama kali muncul di depan Nabi Muhammad saat ia berada di Gua Hira, Jibril minta membaca dan beliau mengatakan tak tahu. Malaikat mengulangi permintaannya tiga kali dan ia menjawab dalam keadaan serbabingung dan ketakutan sebelum mengetahui kenabian yang tak terduga dan pertama kali mendengar Al-Qur’an : “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhan mulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan peran­taraan kalam.”28 Dikejutkan oleh perasaan dengan melihat sesuatu yang tak pernah terlintas dalam pikiran tentang tugas tersebut, Nabi Muhammad kembali dalam keadaan gemetar menemui Khadijah minta agar dapat menghibur dan mengembalikan ketenteraman jiwanya. Sebagai seorang Arab, tentu ia paham susunan ekspresi syair dan prosa, akan tetapi tak terlintas di otak sama sekali tentang ayat-ayat wahyu Al-Qur’an yang ia terima. Sesuatu yang tak pernah terdengar sebelumnya serta susunan kata-kata yang tak ada bandinganya. Al-Qur’an sebagai mukjizat terbesar yang pertama ia terima. Pada suatu waktu di tempat yang berbeda, Nabi Musa diberi mukjizat-sinar cahaya memancar dari tangan, tongkat menjadi ular raksasa sebagai tanda kenabiannya. Berbeda dengan peristiwa yang dialami Nabi Muhammad dari gua dalam sebuah gunung, Malaikat meminta si buta huruf agar membaca. Mukjizatnya bukannya seekor ular naga, benda logam, kemahiran menyembuhkan penyakit, menghidupkan kembali orang yang sudah mati, melainkan kata-kata ajaib yang tak pernah terlintas di telinga siapa pun. ii. Nabi Muhammad dan Pengaruh Bacaan Al-Qur’an terhadap Orang Kafir Perjalanan waktu juga mengambil bagian penting persiapan Nabi Muhammad dalam mengenalkan ajaran Islam pada kenalan terdekat. Allah swt. membesarkan hatinya agar membaca ayat-ayat Al-Qur’an di keheningan malam. “Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk shalat) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah AI-Qur’an itu dengan perlahan-lahan.”29 Sekarang hendak kita telusuri efek yang begitu dalam dari bacaan Al­ Qur’an, seperti yang dialami para pemuja patung berhala. Ibn Ishaq menulis: Muhammad bin Muslim bin Shihab az-Zuhri bercerita bahwa Abu Sufyan bin Harb, Abu Jahl bin Hisham, dan al-Akhnas bin Shariq bin ‘Amr bin Wahb ath-Thaqafi (sekutu kaum bani Zuhra) suatu malam jalan jalan mencuri dengar bacaan AI-Qur’an an Nabi Muhammad di rumahnya. Tiap tiga orang dalam kelompok berusaha memilih tempat yang safe dan tak seorang pun di antara mereka mengetahui keberadaan yang lain. Setelah fajr mereka bubar dan satu sama lain bertemu saat kembali ke rumah. Sebagai anggota komplotan, masing-masing menceritakan peng­alaman, “Jangan engkau ulangi lagi perbuatan ini, nanti akan terkesima.” Mereka pulang dan malam berikutnya kembali mencuri dengar, dan bercerita pengalaman satu sama lain di waktu fajr. Pada malam ke tiga, mereka kumpul pada pagi hari sambil berkata, “Kita tak akan meninggalkan tempat kecuali setelah berikrar sungguh-sungguh tak akan mengulang lagi.” Setelah berjanji mereka bubar. Beberapa saat kemudian dengan membawa tongkat, al-Akhnas pergi ke rumah Abu Sufyan dan menanyakan apa yang telah mereka dengar dari Nabi Muhammad. Abu Sufyan menjawab, “Demi Allah, aku mendengar sesuatu yang saya tidak dapat memahami artinya dan entah apa yang mereka maksudkan.” Al-Akhnas berkata, “Persoalannya sama seperti yang saya alami”. Kemudian ia pergi mendatangi rumah Abu Jahl menanyakan hal yang sama. la menjawab, “Apa sebenarnya yang saya dengar, kami dan suku kabilah ‘Abd Manaf selalu kompetisi dalam meraih ketinggian keduduk­an di tengah masyarakat. Mereka memberi makan orang miskin dan kami juga melakukan hal yang sama. Mereka terlibat menyelesaikan persoalan orang lain, demikian juga kami. Mereka menunjukkan sikap murah hati terhadap orang lain, kami juga mengikutinya. Kami berpacu seperti dua pasukan yang melangkah sama cepatnya. Tiba-tiba mereka menyatakan, ‘Kami memiliki seorang nabi yang telah menerima wahyu dari langit.’ Bila, kita hendak memiliki hal seperti itu? Saya bersumpah, tak mungkin pernah percaya padanya dan tak mungkin pula aku memanggilnya sebagai orang jujur.”30 Di samping kebencian yang luar biasa dari pihak orang kafir, Nabi Muhammad tetap meneruskan bacaan dan jumlah para pencuri dengar semakin bertambah dan herannya, setiap orang amat khawatir perbuatan mencuri dengar AI-Qur’an akan terungkap oleh orang lain.31 Nabi Muhammad dengan penentangnya pernah diminta berdebat tentang keesaan Allah karena AI-Qur’an bukan ciptaan manusia, cukup sebagai bukti secara akal tentang wujud keesaan Allah swt.. Namun demikian, karena bacaan yang awalnya dari keheningan malam clan berubah menjadi pada siang-hari dan didengar oleh orang banyak, maka rasa kekhawatiran orang Mekah semakin menjadi jadi. Melalui pendekatan yang cepat dan bijak, sekelompok orang Quraish mendatangi al-Walid bin al-Mughira, orang yang cukup bergengsi di ma­syarakat. Lalu ia menyampaikan pendapatnya di depan mereka, “Waktu pertunjukan telah tiba dan wakil-wakil bangsa Arab akan hadir menemui Anda. Mereka ingin mendengar tentang teman anda, setuju sajalah pada satu pendapat tanpa perselisihan di mana tak akan seorang pun di antara kita bercerita bohong pada yang lain.” Mereka berkata, “Berikan pendapat anda tentang dia (Muhammad),” dan ia menjawab, “Tidak, lebih baik anda bicara dan saya mendengar.” Maka berkata, “la tidak lebih dari seorang peramal.” Al-Walid menjawab, “Demi Tuhan, dia bukan itu, dia bukannya seorang yang pandai membuat irama pantun, seperti juru ramal.” Kalau demikian halnya, ia ter­pengaruh oleh seorang peramal.” “Bukan, ia bukan orang seperti itu. Kami me­lihat sendiri tidak ada gerak-gerik tak karuan maupun jampi jampi, seperti juru ramal.” “Jika demikian, ia seorang penyair.” “Bukan, dia bukan itu, kami mengerti semua syair dan permasalahannya. Jika demikian halnya ia mungkin tukang sihir.” “Bukan, kami telah melihat tukang sihir dan hasil kerjanya. Di sini (Muhammad) tidak pernah meludah-ludah, seperti juru sihir dan mengikat­ikat tali buhul.” “Jika demikian, lantas apa yang pantas hendak kita sebut, Wahai Abu `Abd Shams?” la menjawab, “Demi Tuhan, kata-katanya indah, akarnya seperti pohon kurma yang dahannya sangat berguna, dan semua apa yang anda katakan akan dikenal sebagai cerita palsu. Yang mungkin mendekati kebenaian adalah seperti yang anda sebut ia seorang sahir pembawa risalah yang memisahkan seseorang dari ayah, saudara, atau pun istri, dan keluarganya.”32 Hal serupa dapat kita lihat Abu Bakr, ia membangun sebuah masjid di Mekah di sebelah rumah tempat ia menjalankan shalat tiap waktu dan membaca Al-Qur’an. Orang-orang kafir menemui Ibn Addaghinna, orang yang memberi perlindungan pada Abu Bakr, minta agar tak lagi membaca AI-Qur’an karena banyak kaum wanita dan anak-anak yang mencuri dengar bacaan dan ternyata mudah terpengaruh.33 17. As-Suyuti, al-Itqan, i: 117. 18. Banyak kejadian yang dapat dijelaskan namun tidak dapat dipahami seluruhnya oleh seseorang dengan pengalaman yang terbatas tak akan mungkin tahu caranya. Contoh sederhana seperti menjelaskan sebuah daratan tanah dan tentang wama pada seorang buta atau menjelaskan suara nyanyian burung pada mereka orang budeg. Mereka mungkin saja memahami beberapa penjelasan, akan tetapi tidaklah seluruhnya seperti seseorang yang diberi pendengaran dan penglihatan. Demikian juga penjelasan tentang wahyu dan apa yang dirasakan oleh Nabi Muhammad saat menerimanya pada orang-orang di luar kita, suatu pemahaman di luar jangkauan otak kita. 19. Al-Bukhari, Sahih, Ba’d al-Wahy: 1. 20. Ibid, Bad’ al-Wahy: 1. 21. Muslim, Sahih, Manasik: 6. 22. Qur’an, 4: 95. 23. Al-Bukhari, Sahih, Jihad: 30. 24. Qur’an, 24:16. 25. Qur’an, 4: 95. 26. Pada halaman berikutnya saya akan melihat ke belakang sejenak berhubungan beberapa kejadian dari tahun-tahun pertama kerabian. Hat ini berbeda dari pandangan biografi pada hal sebelumnya di mana focus perhatian kita tercurah seluruhnya pada AI-Qur’an. 27. Ibn Hajar, Fathul Bad, viii: 716. 28. Qur’an, 96: 1-5. 29. Qur’an, 73:1-0. 30. Ibn Hisham, Sira, jilid.1-2, hlm. .315-16. 31. Ibn Ishaq, as-Seyr wa al-Maghazi, hlm..205=6. 32. Ibn [shaq, as-Syerwa al-Maghazi, Editor Suhail Zakkar, hlm. 151; Ibn Hisham, Sira,jilid .l­2, hlm. .270-71. 33. Ibn Hisham, Sira, jilid .1-2, hlm. 373, al-Baladhuri, Ansab, i: 206 @9@BAB 3 : WAHYU DAN NABI MUHAMMAD The History of The Qur’anic Text  hal 54 – 58 4. Peranan Nabi Muhammad terhadap Al-Qur’an Al-Qur’an secara konsisten menggunakan kosa kata tala, yutla, atlu, tatlu, yatlu etc. Kita dapat baca ayat-ayat tersebut dalam 2: 129, 2: 51, 3: 164, 22: 45, dan 62: 2 serta banyak lagi lainnya. Kesemuanya memberi isyarat akan peranan Nabi Muhammad  dalam mengenalkan wahyu ketuhanan ke seluruh masyarakat. Namun demikian bacaan saja dirasa belum cukup jika tak disertai perintah. Tanggung jawab Nabi Muhammad terhadap kalamullah dapat dilihat dalam ayat-ayat berikut, di mana pertama dapat dilihat dalam doa Nabi Ibrahim, “Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan me­ngajarkan kepada mereka AI-Kitab (AI-Qur’an) dan hikmah serta menyucikan mereka.”34 “Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul diri golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah….”35 “Sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan menyucikan kamu dan mengajarkan agama kamu al-kitab dan al-hikmah…. “36 “Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al-Qur’an karena hendak cepat-cepat (menguasainya). Sesungguhnya atas tanggungan Kami mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila _Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian, sesungguhnya atas tanggungan Kamilah pen­jeiasannya.”37 Ayat-ayat tersebut menunjukkan kepedulian Nabi Muhammad dalam merekam hafalan AI-Qur’an. Beliau tampak tergesa-gesa dalam melalap hafalan sebelum senyap, lidahnya sibuk mengikuti kalimat berikutnya. Ia diberi peringatan untuk tidak perlu tergesa-gesa karena semua ayat akan me­rasuk ke dalam hati, Allah   berjanji akan memelihara Al-Qur’an sepanjang masa.. 5. Silih Berganti Membaca Al-Qur’an Bersama Malaikat Jibril Dalam memelihara ingatan Nabi Muhammad secara konstan, Malaikat Jibril berkunjung kepadanya setiap tahun. Hal ini dapat dilihat dalam hadith-hadith berikut: Fatima berkata, “Nabi Muhammad memberitahukan kepadaku secara rahasia, Malaikat Jibril hadir membacakan Al-Qur’an padaku dan saya membacakannya sekali setahun. Hanya tahun ini la membacakan seluruh isi kandungan Al-Qur’an selama dua kali. Saya tidak berpikir lain ke­cuali, rasanya, masa kematian sudah semakin dekat.”38 Ibn ‘Abbas melaporkan bahwa Nabi Muhammad berjumpa dengan Malaikat Jibril setiap malam selama bulan Ramadan hingga akhir bulan, masing-masing membaca Al-Qur’an silih berganti.39 Abu Huraira berkata bahwa Nabi Muhammad dan Malaikat Jibril mem­baca Al-Qur’an bergantian tiap tahun, hanya pada tahun kematiannya mereka membaca bergantian dua kali.40 Ibn Mas’ud melaporkan serupa dengan di atas, dengan tambahan, “Mana­kala Nabi Muhammad dan Malikat Jibril selesai membacanya, lalu mem­beri giliran saya membaca untuk Nabi Muhammad dan beliau memberi penghargaan akan keindahan bacaan saya.”41 Nabi Muhammad, Zaid bin Thabit, dan Ubayy bin Ka’b membaca secara bergiliran setelah sesi terakhir dengan Malaikat Jibril.42 Nabi Muhammad juga membaca di depan Ubbay dua kali dalam tahun kematiannya.43 Tiap hadith di atas memberi penjelasan bacaan Malaikat Jibril dan Nabi Muhammad dengan menggunakan istilah Mu’arada.44 Tugas Nabi Muhammad terhadap wahyu teramat padat: beliau sangat instrumental dalam penerimaan ketuhanan (divine reception) sebagai pe­ngawas ketepatan kompilasi, memberi keterangan yang diperlukan, pemacu masyarakat luas dalam pengenalan dan penyebarluasan, dan sebagai mahaguru para sahabat. Tentunya Allah tidak perlu turun ke bumi menjelaskan ayat ini dan hal itu dengan keterangan, ‘ adalah tugas Kami untuk menjelaskan “bukan­nya, “ini tugasmu Muhammad untuk memberi penjelasan,” berarti Allah mem­beri letigimasi sepenuhnya akan kefasihan Nabi Muhammad pada seluruh ayat­ayatnya, bukan melalui perkiraan, melainkan sebagai inspirasi Allah sendiri. Adalah sama benarnya dalam masalah kompilasi AI-Qur an. Demikian pula setelah menghafalnya, tugas membaca, kompilasi, pengajaran, dan penerangan menyatu dalam tugas utama sepanjang kenabian, tugas yang beliau laksanakan penuh kesetiaan mendapat persetujuan Allah swt. dalam upaya yang ia lakukan. Perhatian utama dalam bab-bab mendatang mencakup tiga masalah penting yang pertama, antara lain, penjelasan tentang wahyu, literatur sunnah Nabi Muhammad di mana keseluruhannya me­rupakan penjelasan Al-Qur’an, serta penyatuan beliau terhadap seluruh ajaran ke dalam praktik kehidupan sehari-hari. 6. Beberapa Catatan tentang Klaim-Klaim Orientalis Beberapa penulis dari kalangan orientalis membuat teori miring tentang Al-Qur’an. Noldeke misalnya, menganggap bahwa Nabi Muhammad pernah lupa tentang wahyu sebelumnya, sedang Rev. Mingana menegaskan bahwa Nabi Muhammad maupun masyarakat Muslim tidak pernah menganggap Al-Qur’an secara berlebihan, kecuali setelah meluasnya negara Islam. Mereka, sekurang-kurangnya mempunyai pikiran bahwa kemungkinan ada gunanya memelihara ayat-ayat Al-Qur’an bagi generasi mendatang. Melakukan pen­dekatan terhadap permasalahan yang ada dari sudut pandang akal semata ada­lah tidak cukup untuk menolak anggapan itu. Sebenarnya pendekatan logika seperti ini terlepas apakah seseorang percaya bahwa Muhammad seorang Nabi atau tidak, dengan segala caranya beliau tetap akan berbuat semampu mungkin mempertahankan apa yang dianggap sebagai kalamullah. Jika beliau seorang rasul sungguhan, per­masalahan akan semakin jelas: pemeliharaan kitab Al-Qur’an merupakan tugas suci, seperti telah kita sebut sebelumnya, Kitab suci Al-Qur’an merupakan mukjizat terbesar dan pertama yang diturunkan dengan bukti bahwa tak ada orang lain yang menulisnya. Maka, menolak mukjizat ini dengan melihat adanya bukti nyata bahwa beliau sebagai Nabi Allah adalah sikap seorang jahil. Tetapi apa yang mungkin terjadi jika misalnya, sekadar alasan dalam perdebatan, Muhammad pura-pura mengaku nabi atau katakanlah Al-Qur’an sebagai rekayasa beliau, adakah beliau mampu menghasilkan sesuatu yang berlainan dari yang ada sekarang? Tentu saja tidak: beliau akan tetap mem­pertahankan keyakinan. Karena melakukan hal yang sebaliknya berarti peng­akuan terhadap penipuannya. Tak akan ada pemimpin setinggi apa pun yang akan mampu membayar kesalahan yang teramat fatal. Apakah seseorang menelantarkan Muhammad dalam kelompok nabi ataupun berpura-pura, perilaku perbuatannya terhadap Al-Qur’an tampaknya telah mengundang sikap cemburu pihak lain. Teori apa pun yang menganggap akan adanya sedikit perbedaan sama sekali tak dapat diterima akal. Jika seorang ahli teori mengajukan rasa ketidakpuasan penjelasan mengapa Nabi Muhammad bertindak sangat mengenaskan dan mengorbankan kepenting­annya demi perintah Allah, maka teori itu tidak lebih dari cerita yang tidak berdasarkan pada fakta. 7. Kesimpulan Hafalan, pengajaran, rekaman, kompilasi, dan penjelasan: kesemuanya, seperti telah kita demonstrasikan, merupakan tujuan utama dari misi Nabi Muhammad dan daya tarik Al-Qur’an an yang orang-orang kafir pun selalu mencuri-dengar dengan penuh perhatian. Dalam bab-bab berikut kami akan menjelaskan lebih mendalam lagi sikap kehati-hatian Nabi Muhammad dan masyarakat Muslim tempo doeloe memberi keyakinan bahwa Al-Qur’an muncul dan beredar dalam bentuknya yang asli tanpa perubahan. Sebelum halaman ini kita akhiri, mari kita alihkan mata kita ke zaman sekarang guna mengadakan taksiran mengapa Al-Qur’an berhasil diajarkan di masa kita. Umat Islam sedunia berjalan melalui satu periode yang amat suram dalam sejarah, suatu masa di mana harapan dan keimanan tampak begitu sulit tak menentu dari hari ke hari. Banyak umat Islam dengan jumlah yang tak terhitung-ratusan ribu dalam kelompok usia, jenis kelamin, dan benua yang komitmen menghafal Al-Qur’an seluruhnya. Bandingkan kitab Injil yang diterjemahkan seluruhnya maupun sebagian ke dalam ribuan bahasa dicetak dan dibagi-bagi dalam jumlah yang amat bear dengan dana yang dapat menempatkan negara-negara dunia ketiga merasa malu meliriknya. Dengan upaya ini, kitab Injil boleh dianggap laris di mana banyak orang berminat membeli, akan tetapi hanya segolongan kecil yang berminat membaca.45 Sikap masa bodoh berjalan lebih jauh dari yang mungkin seseorang dapat bayangkan. Pada tanggal 26 Januari tahun 1997, harian The Sunday Times menurunkan hasil penelitian yang dilakukan oleh seorang koresponden, Rajeev Syal dan Cherry Norton tentang Sepuluh Perintah Tuhan. Secara random jejak pendapat dari dua ratus ribu anggota pastor Kristen Anglican mengungkap bahwa dua pertiga dari pendeta wakil Paus Inggris tidak dapat mengungkapkan isi kandungan sepuluh perintah tuhan. Hal ini bukan saja terjadi pada orang Kristen biasa, melainkan para pendetanya. Moralitas dasar orang Yahudi dan Kristen tidak lain sekadar gugusan kata-kata dalam kertas sedang Qur’an di pihak lain, dihafal seluruhnya oleh ratusan ribu, diterjemahkan ke dalam lebih kurang 9000 baris.46 Gambaran lebih terang tentang pengaruh yang mendalam dari Al-Qur’ an dan keberhasilan misi pendidikan Nabi Muhammad tidak dapat diterka oleh siapapun. 34. Qur’an, 2:129. 35. Qur’an, 3: 164. 36. Qur’an, 2: 151. 37. Qur’an, 75: 16-19. 38. Al-Bukhari, Sahih, Fada’il Al-Qur’an, : 7. 39. Al-Bukhari, Sahih, Saum: 7. 40. Al_Bukhart , Sahih, Fada’il Al-Qur’an : 7. 41. At_Tabari, at-Tafsir, i: 28. Sanadnya dianggap lemah. 42. A. Jeffery (ed.), Muqaddimatan, hlm. 227. 43. Ibid, hlm.74; juga Tahir al-Jaza’iri, at-Tibyan, hlm. 126. 44. Mu’rada (khat) dari sumber kata-kata Mufa’ala (khat) yang berarti dua orang terlibat dalam aksi yang sama. Misalnya, muqatala (khat) berarti berkelahi satu sama lain. Oleh karena itu, Ma’arada menunjukkan bahwa Jibril membaca satu kali dan Nabi Muhammad mendengarnya. Demikian pula sebaliknya. Praktik umum seperti ini terns berjalan hingga saat ini. Hanya beberapa di antara para sahabat nabi sebenarnya ada yang ikut serta bersama antar Jibril dan Nabi Muhammad seperti `Uthman (Ibn Kathir, Fadail, vii :440), Zaid bin Thabit, dan `Abdullah bin Mas’ud). 45. Hal ini dapat dilihat pada kutipan Manfred Barthel pada hlm. 329 catatan no. 65. 46. Dalam abad ketiga pertama atau keempat masehi, ordinasi seorang diakonia atau kepastoran menghendaki bahwa calon itu diharuskan menghafal beberapa bagian dari kitab suci mereka, meskipun persyaratan itu berbeda antara satu uskup dengan uskup lainnya. Beberapa tetap ngotot untuk menghafal Kitab Injil Yohannes. Sedang yang lainnya menawarkan satu tawaran antara dua puluh dari Kitab Zabur (Psalm) atau surat-surat Paulus. Ada yang menghendaki lebih agar menghafal kedua-duanya (Zabur dan dua surat Paulus) lht. Bruce Metzger, The Text of the New Testament, hlm. 87, catatan kaki no.1). Persyaratan tersebut berlaku bagi para pemimpin gereja agar menghafal beberapa bagian dari Injil dan surat-surat Paulus. Bandingkan dengan menghafal seluruh isi teks oleh anak-anak Muslim? @9@BAB 4 : PENGAJARAN AL-QUR’AN The History of The Qur’anic Text  hal 59 – 70 Ayat pertama yang diwahyukan pada Nabi Muhammad adalah, “Bacalah atas nama Tuhanmu yang telah menciptakan.1 Tak ada bukti bahwa Nabi Muhammad pernah belajar seni menulis dan umumnya orang sepakat bahwa ia buta huruf sepanjang hayat. Sepotong ayat di atas memberi isyarat bukan tentang persoalan buta huruf, melainkan penting­nya pendidikan yang sehat bagi masyarakat di masa mendatang. Nabi Muhammad mencurahkan segala upaya yang mungkin dapat dilakukan dalam pengembangan pendidikan, manfaat serta imbalan para pelajar dan juga sanksi hukum bagi pengekang ilmu pengetahuan. Abu Huraira melaporkan bahwa Nabi Muhammad pernah bersabda, “Siapa yang memilih jalan pencarian ilmu pengetahuan, Allah akan membuka baginya jalan menuju surga.2 Sebaliknya beliau memberi peringatan, “Siapa yang ditanya ilmu yang telah dikuasai lalu ia sembunyikan, orang itu akan dililit api neraka di hari Kiamat.3 Nabi Muhammad minta para ilmuwan dan yang masih belum berbudaya agar kerja sama menasihati mereka yang tidak pernah belajar, dan kaum cendekiawan agar mau mengembangkan ilmunya pada para jiran.4 Penekanan diberikan pada setiap yang memiliki keahlian karya tulis di mana dalam sebuah hadith ditegaskan agar mengambil peran laksana seorang ayah pada anak.5 Nabi adalah pelopor pendidikan gratis di mana saat `Ubada b. as-Samit menerima hadiah dari seorang pelajar (dengan niatan untuk kepentingan Islam), Nabi Muhammad menegurnya, “Jika mau menerima lilitan api neraka di leher anda, maka ambilah hadiah itu.6 Non-Muslim pun juga diberi tugas mengajar membaca di masa kehidup­an rasul. Uang tebusan tahanan Perang Badar juga berlainan. Beberapa di antara mereka mendapat tugas mengajar menulis pada anak-anak.7 1. Hadiah Belajar, Mengajar, dan Membaca Al-Qur’an Nabi Muhammad tidak pernah menyia-nyiakan upaya dan keinginan masyarakat dalam mempelajari Kalamullah:

  1. a. ‘Uthman bin ‘Affan melaporkan bahwa Nabi Muhammad pernah ber­sabda, “Yang terbaik di antara kamu sekalian ada]ah yang mempelajari Al-Qur’an kemudian mengajarkan pada orang lain.”8 Kata-kata yang sama juga dilaporkan oleh `Ali bin Abi.Talib.9
  2. b. Menurut Ibn Mas’ud Nabi Muhammad memberi komentar, “Siapa yang membaca satu huruf Kitab Allah la akan diberi imbalan amal saleh, dan satu amal saleh akan mendapat pahala sepuluh kali lipat. Saya tidak mengatakan alif lam mim sebagai satu huruf melainkan alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf.”10
  3. c. Di antara pahala seketika bagi yang mempelajari Al-Qur’an adalah peng­hargaan umat Islam agar bertindak sebagai imam shalat, suatu kedudukan penting yang secara khas diberikan di awal permulaan Islam. ‘A’isha clan Abu Mas’ud al-Ansari melaporkan sabda Nabi Muhammad, “Seorang yang be]ajar yang memiliki hafalan terbanyak hendaknya menjadi imam sha]at.11 Amir bin Salima al-Jarmi bercerita bahwa orang-orang dari suku bangsanya menemui Nabi Muhammad menyatakan diri hendak masuk Islam. Sebelum berangkat mereka bertanya, “Siapa yang akan mengimami shalat kita?” Beliau menjawab, “Orang yang menghafal Qur’an, atau mempelajarinya lebih banyak.12 Pada detik-detik akhir kehidupan Rasulullah, kedudukan imam shalat diberikan pada Abu Bakr setiap hari. Hal ini merupakan penghormatan agung saat penentuan khalifah umat Islam.
  4. d. Segi positif lainnya adalah penyebab kemungkinan para Malaikat ber­sama kita. Usaid bin Hudair sedang membaca Al-Qur’an bagian terakhir di satu malam di mana seekor kudanya melompat-lompat ketakutan. Saat ia berhenti, seekor kuda All pun terdiam, dan saat membaca, kuda itu me­lompat-lompat kembali. Kemudian ia berhenti karena khawatir anaknya terinjak. Saat ia berdiri dekat kuda, ia melihat sesuatu seperti tenda meng­gantung di awang-awang penuh lampu-lampu bersinar menjulang ke langit dan kemudian menghilang. Hari berikutnya, la pergi menemui Nabi Muhammad menceritakan kejadian malam itu. la memberitahukan agar terus-menerus membacanya dan Usaid bin Hudair menjawab bahwa ia berhenti karena demi keselamatan anaknya, Yahya. Kemudian Nabi Muhammad berkata, ‘Mereka adalah para Malaikat sedang mendengar dan mestinya anda terus membacanya, sebenarnya orang lain bisa melihat di pagi hari karena tidak akan bersembunyi dari mereka.”13
  5. e. Ibn ‘Umar meriwayatkan, “Kecemburuan hanya dibenarkan dalam dua hal: seorang yang telah menerima ilmu Al-Qur an dan membacanya di siang dan malam hari dan orang yang diberi karunia kekayaan Allah serta membantu orang lain di malam dan siang hari.”14
  6. f. ‘Umar bin al-Khattab menjelaskan bahwa Nabi Muhammad bersabda, “Melalui Kitab ini, Allah meninggikan beberapa orang dan merendahkan yang lain diantara kita.”15
  7. g. Yang lebih tua di antara orang buta huruf menghafal Al-Qur’an dengan susah payah di mana pikiran dan jiwanya merasa lemah. Mereka tidak tertolak mendapat keberkahan apa pun jua karena pahala besar dijanjikan bagi mereka yang mendengar Al-Qur’an saat dibacakan. Ibn ‘Abbas pernah berkata bahwa siapa yang mendengar satu ayat Al-Qur’an akan mendapat cahaya di Hari Kiamat.16
  8. h. Adalah sangat memungkinkan bahwa seseorang yang tidak mampu menghafal dengan balk untuk membaca dari hafalannya bisa jadi terasa sedikit malas dalam mencari naskah tertulis. Untuk itu Nabi Muhammad menjelaskan, “Bacaan seseorang tanpa bantuan mushaf, berhakmendapat pahala sebanyak seribu tingkat sedang bacaan dengan menggunakan mushafakan mendapat pahala dua kali lipat menjadi dua ribu.17
  9. i. Dalam menjelaskan tentang kebaikan orang-orang yang menghafal ‘Abdullah bin ‘Amr memberitahu bahwa Nabi Muhammad berkata, “Seseorang yang mencurahkan hidupnya untuk Al-Qur’an akan diminta di hari kiamat naik ke atas untuk membaca dengan hati-hati seperti yang ia lakukan selama di dunia di mana ia akan masuk surga lamanya setelah bacaan ayat terakhir.18
  10. j. Bagi yang bermalas-malasan melihat kepentingan ini, Nabi Muhammad menentangnya dengan sebuah peringatan. Ibn ‘Abbas menceritakan bahwa Nabi Muhammad pernah bersabda, “Seorang yang tak berminat terhadap AI-Qur’an laksana rumah yang telah hancur.19 Dan beliau mencela penghafal Al-Qur’an lalu melupakan dianggap dosa besar dan menasihati agar selalu mengulanginya. Abu Musa al-Ash’ari mem­beritahukan bahwa Nabi Muhammad bersabda, “Segarkan pengetahuan anda tentang Al-Qur’an dan saya bersumpah dengan Nama Allah di mana nyawa Muhammad ada di tangan-Nya bahwa hal ini lebih penting untuk menghindari seekor binatang unta yang kakinya diikat.”20
  11. k. Al-Harith bin al-A’war menceritakan apa yang terjadi setelah Nabi Muhammad wafat.

“Sewaktu melewati masjid, secara tak sengaja saya melihat orang­orang terlibat pembicaraan bisik-bisik. Kemudian saya menemui ‘Ali menceritakan hal itu. Beliau bertanya apakah itu benar dan saya memberi konfirmasi. Kemudian ia berkata, ‘Saya mendengar penjelasan Nabi Muhammad yang menyebut, Perselisihan pasti akan terjadi.’ Saya ber­tanya pada beliau bagaimana cara menghindari hal itu. Beliau menjawab, “Kitab Allah adalah satu-satunya cara karena ia mencakup apa-apa yang terjadi sebelum kamu, berita masa depan setelah ini serta keputusan tentang masalah-masalah yang mungkin terjadi di antara kamu sekalian. la merupakan pemisah dan bukan bahan lelucon. Jika terdapat orang yang memiliki kekuasaan sengaja meninggalkan ajarannya, Allah akan mem­buat perpecahan, dan siapa yang mencari petunjuk dari sumber lain, Allah akan mengantarkan ke jalan kesesatan. Kitab suci Al-Qur’an me­rupakan tall pengikat dari Allah yang tahan uji, peringatan bijak, jalan lurus di mana dengannya keinginan tak mungkin meleset pada kesesatan, lidah tak akan menjadi galau, dan kaum cendekiawan pun tak akan mampu memahami secara sempurna. Al-Qur’an tidak akan pernah usang karena diulang-ulang dan tak akan seorang yang rakus ilmu akan berhenti mengkajinya. la adalah sesuatu yang makhluk jin tidak segan mengeluar­kan kata pujian saat mendengarnya, ‘Kami telah mendengar bacaan indah yang memberi petunjuk pada yang benar dan kami percaya terhadapnya,’ bagi orang yang membaca akan selalu berkata yang benar dan bagi yang bertindak menurut ajarannya akan menuai keberkahan hidup, seorang penegak hukum menurut ajarannya akan berbuat adil, dan siapa yang mengajak orang lain, ia akan memanggil ke jalan yang lurus.”21 Masalah berikutnya kita akan meresapi secara mendalam bagaimana Nabi Muhammad berhasil dalam mencapai tujuan pengajaran Al-Qur’an kepada umat Islam. Ini akan dapat terungkap dengan baik sekiranya kita membagi bahasan ke dalam situasi di zaman Mekah dan Madinah. 2. Zaman Periode Mekah i. Nabi Muhammad Sebagai Guru Al-Qur’an Sebagian kitab suci Al-Qur’an diturunkan di Mekah; imam as-Suyuti mendaftar urutan terperinci tentang surah-surah yang diturunkan.22 Al-Qur’an dapat bertindak sebagai alat petunjuk bagi jiwa yang kalut di mana terbukti kehidupan seorang penyembah patung berhala akan selalu merasa tidak puas, pengembangannya yang awalnya melakukan penindasan terhadap masyarakat Muslim menyebabkan mereka mengadakan kontak dengan Nabi Muhammad.

  1. 1. Orang pertama di luar jalur keturunan keluarga Nabi Muhammad yang masuk Islam adalah Abu Bakr. Nabi Muhammad mengajak masuk Islam dengan membaca beberapa ayat Al-Qur’an.23
  2. 2. Kemudian Abu Bakr membawa teman-teman terdekat menemui Nabi Muhammad, seperti `Uthman bin ‘Aff-an, `Abdur-Rahman bin ‘Auf, az­Zubair bin al-‘Awwam, Talha, dan Sa’d bin Abi Waqqas. Nabi Muhammad mengenalkan agama baru dengan membacakan ayat-ayat AI­Qur’an dan yang menyebabkan mereka masuk Islam.24
  3. 3. Abu ‘Ubaidah, Abu Salama, `Abdullah bin al-Arqam dan ‘Uthman bin Maz’zun menemui Nabi Muhammad bertanya tentang hal ihwal Islam. Nabi Muhammad menjelaskan dengan membaca Al-Qur’an dan kemudian mereka menerima Islam.25
  4. 4. Ketika ‘Utba bin Rabi’a pergi menemui Nabi Muhammad membawa usulan atas nama orang Quraish, menawarkan rayuan dengan harapan ia dapat meninggalkan misinya, Nabi Muhammad dengan sabar menunggu sebelum ia menjawab dan kemudian berkata, “Sekarang dengarkan ucapan saya,” dan kemudian la membaca beberapa ayat sebagai respons terhadap tawaran mereka.26
  5. 5. Beberapa orang Kristen dari Ethiopia mengunjungi Nabi Muhammad ke Mekah menanyakan tentang Islam. Beliau menjelaskan pada mereka dengan membaca Al-Qur’an dan mereka masuk Islam.27
  6. 6. As’ad bin Zurara dan Dhakwan pergi dari Madinah ke Mekah menemui ‘Utba bin Rabi’a tentang persaingan kehormatan ketika mereka mendengar berita Nabi Muhammad. Mereka berkunjung dan mendengar bacaan AI-Qur’an, dan akhirnya masuk Islam.28
  7. 7. Sewaktu musim haji Nabi Muhammad menemui delegasi dari Madinah. Beliau menjelaskan tentang rukun Islam dan membaca beberapa ayat Al-­Qur’an. Semuanya masuk Islam.29
  8. 8. Pada bai’ah ‘aqabah kedua Nabi Muhammad, lagi-lagi, membaca Al-Qur’an 30
  9. 9. Nabi Muhammad membaca untuk Suwaid bin Samit di Mekah.31

10. ‘Iyas bin Mu’adh menuju Mekah mencari aliansi kekuatan dengan pihak Quraish. Nabi Muhammad mendatangi dan membacakan AI-Qur’an.32 11. Rafi bin Malik al-Ansari merupakan orang pertama yang membawa Sarah Yusufke Madinah.33 12. Nabi Muhammad mengajarkan pada tiga orang sahabat tentang Sarah Yunus, Taha, dan Hal-ata secara berurutan.34 13. Ibn Um Maktum menemui Nabi Muhammad meminta beliau membaca Al-Qur’an.35 ii. Para Sahabat Sebagai Guru

  • Ibn Ma’ud adalah orang pertama dari sahabat yang mengajarkan Al-Qur’an di Mekah.36
  • Khabbab mengajar AI-Qur’an pada Fatima (saudara perempuan ‘Umar bin Khattab) dan suaminya, Sa`id bin Zaid.37
  • Mus’ab bin ‘Umair dikirim oleh Nabi Muhammad ke Madinah sebagai guru mengaji Al-Qur’an.38

iii. Hasil Kebijaksanaan Pendidikan pada Periode Mekah Arus kegiatan pendidikan di Mekah berjalan tanpa dapat- dihalangi kendati berhadapan dengan berbagai hambatan dan siksaan yang dikenakan secara paksa dari masyarakat; sikap tegas merupakan bukti yang meyakinkan akan keterikatan dan rujukan mereka terhadap Kitab Allah. Para sahabat selalu menanamkan ayat-ayatnya pada kabilah mereka melewati batas lembah kota Mekah yang dapat memperkuat tumbuhnya keislaman sebelum berhijrah ke Madinah. Berikut adalah beberapa contoh yang mereka lakukan:

  • Saat Nabi Muhamamd sampai ke Madinah, beliau diperkenalkan dengan Zaid bin Thabit, anak lelaki berusia sebelas tahun yang telah menghafal sebanyak enam belas Sarah Al-Qur’an.39
  • Barra menjelaskan bahwa ia sudah mengenal seluruh Sarah al-Mufassal (al-Mufassal terdiri dari Sarah al-Qaf hingga akhir seluruh Al-Qur’an) sebelum Nabi Muhammad sampai ke Madinah.40
  • Akar utama ajaran Al-Qur’an berkembang ke berbagai masjid di mana melalui dinding temboknya bergema suara AI-Qur’an yang dibacakan sebelum Nabi Muhammad menetap di Madinah. Menurut al-Waqidi, masjid pertama yang diberkahi bacaan Al-Qur’an adalah masjid bani Zuraiq41

3. Periode Madinahi. Nabi Muhammad Sebagai Maha Guru Al-Qur’an

  • Begitu sampai di Madinah, Nabi Muhammad membuat Suffa di dalam masjid yang berfungsi sebagai tempat belajar pemberantasan buta huruf, dengan menyediakan makanan, dan tempat tinggal.

Lebih kurang sembilan ratus sahabat menerima tawaran tersebut.42 Saat Nabi Muhammad mengajarkan Al-Qur’an, yang lainnya seperti ‘Abdulah bin Sa`id bin al-‘As, `Ubada bin as-Samit, dan Ubay bin Ka’b mengajar­kan dasar-dasar penting membaca and menulis.43 Ibn ‘Umar sekali memberi pujian, “Nabi Muhammad membaca pada kita dan jika beliau membaca ayat sajadah yang menyuruh bersujud, beliau mengucapkan Allahu Akbar lalu sujud.44 Banyak di antara para sahabat menjelaskan bahwa Nabi Muhammad membaca surah seperti itu kepada mereka secara pribadi termasuk orang­orang terkemuka, seperti Ubayy bin Ka’b, ‘Abdullah bin Salam, Hisham bin Hakim, ‘Umar bin Khattab, dan Ibn Mas’ud.45 Beberapa utusan sampai ke Madinah dari luar daerah dan diberikan pada orang setempat untuk memberi perlindungan bukan saja di bidang pangan dan penginapan, melainkan juga dalam hal pendidikan. Nabi Muhammad bertanya pada mereka guna mengetahui tingkat pelajaran mereka.46 Setiap diberi wahyu, Nabi Muhammad cepat-cepat membacakan ayat yang baru beliau terima kepada semua sahabat dan kemudian membacakan kepada para wanita dalam pertemuan terpisah.47 ‘Uthman bin Abi al-‘As selalu ingin belajar Al-Qur’an dengan Nabi Muhammad dan jika tidak menemuinya, beliau mendatangi rumah Abu Bakr.48 ii. Dialek yang digunakan oleh Nabi Muhammad dalam Mengajarkan Al-Qur’an di Madinah Adalah fakta yang cukup kuat bahwa sekalipun manusia berbicara bahasa namun tetap mengalami perbedaan dialek yang mencolok dari satu satu tempat ke tempat lain. Dua orang misalnya, kendati tinggal di New York dari kultur dan sosio-ekonomi yang berlainan akan memiliki aksen yang berbeda. Demikian juga orang-orang yang tinggal di London akan berbeda dengan mereka yang tinggal di Glasgow atau Dublin. Dalam hal bahasa Inggris, terdapat perbedaan sistem ejaan Amerika dan Inggris clan mungkin saja ter­dapat kesamaan dalam ejaan namun berbeda dalam intonasi. Marilah kita amati situasi negara-negara Arab masa kini dalam peng­gunaan kata-kata qultu ( saya bicara) sebagai satu permasalahan, Orang Mesir mengungkapkan dengan kata ult, diganti dengan u dari kosakata q. Orang Yaman mengatakan dengan ungkapan gultu kendati dalam menulis kata­kata semua orang Arab akan mengatakannya secara identik. Contoh lain: seorang bernama Qasim akan disebut oleh orang Teluk Parsi dengan istilah Jasim; orang yang sama mengganti j dengan y, maka kata-kata rijal (orang lelaki) bisa berubah menjadi raiyyal dalam ungkapan. Di Mekah mayoritas Muslim memiliki latar belakang budaya yang beragam. Karena Islam berkembang melewati batas kesukuan dan mencakup seluruh Jazirah Arab, berbagai aksen terjadi kontak satu sama lain. Pengajaran Al-Qur’an pada suku yang berbeda pun dirasa perlu dan mengharuskan mereka meninggalkan dialek asli secara keseluruhan dan meninggalkan dialek Arab Quraish di mana Qur’an diwahyukan, rasanya suatu masalah yang dirasa sulit untuk dilakukan. Guna memfasilitasi masalah tersebut, Nabi Muhammad mengajarkan mereka AI-Qur’an dengan dialek mereka. Dalam satu kesempatan dua orang atau lebih dari suku yang berbeda boleh juga belajar Al-Qur’an dalam dialek mereka, jika dirasa perlu. iii. Para Sahabat sebagai Pengajar Al-Qur’an ‘Abdullah bin Mughaffal al-Muzani mengatakan bahwa saat seorang Arab hijrah ke Madinah, Nabi Muhammad menugaskan seseorang dari kaum Ansar pada individu dengan mengatakan: biarkan la memahami Islam dan mengajarkannya tentang Al-Qur’an. “Hal yang sama terjadi pada diri saya,” katanya, “sebagaimana saya dipercaya karena pada salah satu dari orang Ansar yang telah membuatku paham agama dan mengajarku Al-Qur’an.”49 Bukti nyata menunjukkan bahwa para sahabat secara aktif ambil bagian dalam kebijaksanaan, seperti pada periode Madinah. Riwayat berikut mewakili, seperti biasa, hanya sebagian dari petikan bukti-bukti yang ada pada kita.

  • ‘Ubada bin as-Samit mengajarkan AI-Qur’an pada masa kehidupan Nabi Muhammad.50
  • Ubbay juga mengajarkan Al-Qur’an pada masa kehidupan Nabi Muhammad di Madinah51, sehingga secara terus-menerus ia mengajar seorang buta di rumahnya.52
  • Abu Sa’id al-Khudri menjelaskan bahwa ia duduk dengan sekelompok imigran dari Mekah sewaktu seorang qari’ membaca untuk mereka.53
  • Sahl bin Sa`id al-Ansari berkata, “Nabi Muhammad mendatangi kita sewaktu kami membaca bergantian…”54
  • `Uqba bin `Amir memberi komentar, “Nabi Muhammad hadir pada kami sewaktu kami berada di dalam masjid mengajar satu sama lain tentang Al-Qur’ an.”55
  • Jabir bin ‘Abdullah berkata, “Nabi Muhammad mengunjungi sewaktu kami membaca Al-Qur’an. Kumpulan kami terdiri dari orang-orang Arab dan juga bukan Arabs.56
  • Anas bin Malik kemonetar, ‘Nabi Muhammad datang kepada kita se­waktu kami membaca, diantara kita terdapat orang-orang Arab dan bukan Arab, kulit hitam dan kulit putih.57
  • Bukti tambahan menunjukkan bahwa para sahabat melawat sampai di luar kota Madinah bertindak sebagai instruktur:
  • Mu’adh bin Jabal dikirim ke Yaman.58
  • Dalam perjalanan menuju Bir’ Ma’una, sekurang-kurangnya empat puluh kalangan para sahabat yang dikenal sebagai pengajar Al-Qur’an dibunuh.59
  • Abu ‘Ubaid dikirim ke Najran.60
  • Wabra bin Yuhannas mengajar Al-Qur’an in San’a’ (Yaman) kepada Um-Sa`id bint Buzrug semasa kehidupan Nabi Muhammad.61

4. Hasil Kegiatan Pendidikan: Huffaz Samudra kesempatan mempelajari Kitab Suci yang berjalan bersama gelombang manusia yang terlibat dalam penyebarannya, ternyata membuahkan banyak para sahabat yang secara cermat menghafal Al-Qur’an. Banyak diantara mereka yang kemudian dibunuh di Yamama dan Bir Ma’una, dan nama mereka dalam banyak hal, telah lenyap dari buku sejarah. Dari bukti yang ada menunjukkan hanya nama-nama mereka yang masih hidup, yang kemudian meneruskan pengajaran di Madinah dan wilayah yang tertaklukan oleh kekuasaan Islam. Hal ini meliputi antara lain: Ibn Mas’ud,62 Abu Ayyub,63 Abu Bakr as-Siddiq,64 Abu ad-Darda,65 Abu Zaid,66 Abu Musa al-‘Ash’ ari,67 Abu Huraira,68 Ubayy bin Ka’b,69 Um-Salama,70 Tamim al-Dari,71 Sa’d bin Mundhir,72 Hafsa,73 Zaid bin Thabit,74 Salim dari suku Hudhaifa ,75 Sa’d bin ‘Ubada,76 Sa’d bin ‘Ubaid al-Qari,77 Sa’d bin Mundhir,78 Shihab al-Qurashi,79 Talha,80 ‘A’isha,81 ‘Ubada bin Samit,82 ‘Abdullah bin Sa’ib,83 Ibn ‘Abbas,84 ‘Abdullah bin ‘Umar,85 ‘Abdullah bin ‘Amr,86 ‘Uthman bin ‘Affan,87 ‘Atta bin Markayud (orang Parsi tinggal di Yaman),88 ‘Uqba bin ‘Amir,89 ‘All bin Abi Talib,90 ‘Umar bin al-Khattab,91 ‘Arm- bin al-‘As.92 Fudala bin ‘Ubaid,93 Qays bin Abi Sa’sa’a,94 Mujamma’ bin Jariya,95 Maslama bin Makhlad,96 Mu’adh bin Jabal,97 Mu’adh Abu Halima,98 Um-Warqah bin ‘Abdullah bin al-Harith,99 dan ‘Abdul Wahid.100 5. Kesimpulan Sejarah tidak selalu bersahabat dengan Kitab suci. Injil asli Nabi ‘Isa (Jesus), sebagaimana akan kita lihat kemudian, telah lenyap sejak awal clan diganti dengan karya penulis yang tidak memiliki hubungan keilmuan dengan sumber pertama; demikian pula dengan kitab perjanjian lama yang telah mengalami penderitaan begitu kronik karena tidak adanya perhatian. Hal itu sama sekali bertentangan dengan kitab Al-Qur’an yang diberkahi dengan penyebaran yang begitu cepat ke seluruh Jazirah Arab sejak kehidupan Nabi Muhammad, yang disebarkan oleh para sahabat yang secara langsung men­dapat pengajaran dari Nabi Muhammad sendiri. Adanya para huffaz memberi saksi atas kesuksesan dalam hal ini. Ada pertanyaan adakah penyebarannya sama sekali secara verbal? Kita telah jelaskan bahwa kompilasi Al-Qur’an secara tertulis merupakan perhatian utama Nabi Muhammad %% Bagaimana beliau melakukan tugas ini? Hal ini akan terjawab dalam bab berikut. 1. Qur’an, 96: 1. 2. Abn Khaithama, al-‘llm, hadith no. 25. 3. At-Tirmidhi, Sunan, al-Ilm: 3, 4. AI-Haitami, Majma az-Zawa’id, i:164 5. Al-Kattani, at-Taratib al-Idariya, ii: 239, mencatat apa yang ditulis oleh ad-Durr al-Manthur, Abu Nu’aim dan ad-Dailami. 6. Ibn Hanbal, Musnad, vi: 315. 7. Ibn Sa’d, Tabaqat, ii: 1-4. Juga lihat Ibn Hanbal, Musnad, i: 247. 8. Al-Bukhari, ix: 74, no.5027-8; Abu Dawud, Sunan, hadith no.1452; Abu ‘Ubaid, Fada’il, h1m.120-124. 9. Abu ‘Ubaid, Fada’il, hlm. 126. 10. At_Tirmidhi, Sunan, Fa,da’il AI-Qur’an :16. Juga lihat Abu ‘Ubaid, Fada’il, hlm. 16. 11. Abu ‘Ubaid, Fada’il, hlm. 92; at-Tirmidhi, Sunan, hadith no.235; Abu Dawud, Sunan, hadith no.582-584. 12. Abu ‘Ubaid, Fada’il, hlm. 91; al-Bukhari, Sahih, no.8: 18; Abu Dawud, Sunan, no.585-587. 13. Muslim, Sahih, terjemahan bahasa Inggris oleh Siddiqi hadith no. 1742. Harap dilihat juga hadith no. 1739-1740. 14. Abu `Ubaid, al-Fada’il, hlm.126; al-Bukhari, Sahih, Tawhid:46, Muslim, Sahih, Salat al­Musafirin, no.266: at-Tirmidhi, Sunan, no. 1937. 15. Abu ‘Ubaid, Fa,da’il, hlm.126; al-Bukhari, Sahih, Tawhid:46, Muslim, Sahih, Salat al­Musafirin, no.266; at-Tirmidhi, Sunan, no. 1937. 16. Abu ‘Ubaid, Fadail, hlm. 62: al-Faryabi, Fa,da’il, hlm. 170. 17. As-Suyuti, al-Itqan, i:304, dicatat dalam al-Tabari dan al-Baihaqi dalam Shu’ab al-Iman, diceritakan oleh ath-Thaqafi. 18.  Abu Dawud, Sunan, hadith no.1464; at-Tirmidhi, Sunan, no. 2914; al-Faryabi, Fada’il, hadith no. 60-1. 19. At_Tirmidhi, Sunan, bab Fada’il AI-Qur’an, hadith no.2913. 20. Muslim, Sahih, terjemahan bahasa Inggris, oleh Siddiqi no.1727. Lihat juga hadith no.1725. 21. Muslim, Sahih, teqemahan bahasa Inggris oleh Siddiqi, no. 1727. Juga dapat dilihat pada no. 1725. 22. At-Tirmidhi, Sunan, Fa,da’il Al-Qur’an :14, hadith no.2906. 23. Ibn Ishaq, as-Seyar wa al-Maghazi, edited by Suhail Zakkar, hlm.139. 24. Ibid, hlm.140. 25. Ibid, 143. 26. Ibn Hisham, Sira, jilid l-2, h1m.293-94. 27. Ibn Ishaq, as-Seyar wa al-Maghazi, ed. By Zakkar, hlm.218. 28. Ibn Sa’d, Tabaqat, iii/2:138-39. 29. Ibn Hisham, Sira, jilid 1-2, hlm. 428. 30. Ibid., jilid 1-2, hlm.427. 31. Ibid. 32. Ibid. 33. Al_KattanI , at-Taratib al-Idariya, i: 43-4. 34. Ibn Wahb, al-Jam `i fi Mum Al-Qur’an, h1m.271. Surah-surah tersebut tertulis dalam no. 10, 20, dan 76. 35. Ibn Hisham, Sira,jilid 1-2, hlm.369. 36. Ibn Sa’d, Tabaqat, iii/1:107; Ibn Ishaq, as-Seyar wa al-Maghazi, diedit oleh Zakkar, hlm.186. 37. Ibn Ishaq, as-Seyar wa al-Maghaz, diedit oleh Zakkar, hlm. 181-84. 38. Ibn Hisham, Sira, jilid 1-2, hlm. 434. 39. Al_Hakim, al-Mustadrak, iii: 476. 40. lbn Sa’d, Tabaqat, iv/2: 82. 41. An_Nuwairi, Nihayatul Arab, xvi: 312. 42. AI-Kattani, at-Taratib al-Idariya, i:476-80. Menurut Qatada (61-117 A.H) jumlah orang ­orang yang belajar mencapai sembilan ratus dan ulama lain menyebut hanya empat ratus. 43. AI-Baihaqi, Sunan, vi: 125-16. 44. Muslim, Sahih, Masajid:104. 45. Al_Baihaqi , Sunan, vi: 125-126. 46. Ibn Hanbal, Musnad, iv: 206. 47. Ibn Ishaq, as-Seyar wa al-Maghazi, diedit oleh Zakkar, hlm.147. 48. AI-Baqilani, al-lntisar, versi yang telah diperluas, hlm.69. 49. Al-Baqilani, al-Intisar, versi yang diperluas, hlm. 69. 50. Al-Baqilani , Sunan, vi: 125; Abu `Ubaid, Fada’il, hlm. 206-7. 51. Abu ‘Ubaid, Fada’il, hlm. 207 52. Ibid, hlm.208. 53. Al_Khatib, al-Faqih, ii: 122. 54. Abu ‘Ubaid, Fada’il, hlm. 68, al-Faryabi, Fada’il, hlm. 246. 55. Abu ‘Ubaid, Fada’il, hlm. 69-70. 56. Al Faryabi, Fada’il, hlm. 244. 57. Ibn Hanbal, Musnad, iii: 146; juga agar dilihat al-Faryabi, Fada’il, hlm. 58. AI-Khalifa, Tarikh, i: 72; ad-Dulabi, al-Kuna, i:19. 59. AI-Baladhuri, Ansab, i: 375. 60. lbn Sa’d, Tabaqat, iii/2: 299. 61. Ar_Razi, Tarikh Madinat San’a’, hlm. 131. 244-45. 62. Adh-Dhahabi, Seyar al-`Alam an Nubula’, ii: 245; Ibn Hajar, Fathul Bari, ix: 52. 63.  Ibn Hajar, Fathul Bari, ix: 53. 64. Ibn Hajar, Fathul Bari, ix: 52, al-Kattani , at-Taratib al-Idarlya, i: 45-46. 65. Ibn Habib, al-Muhabbar, hlm. 286; an-Nadim, al-Fihrist, hlm. 27, ad-Dulabi, al-Kuna, i: 31­2; al-Kattani , at-Taratib al-Idariya, i: 46. 66. Ibn Sa’d , Tabaqat, ii/2:112. 67. Ibn Hakar, Fathul Bari :ix: 52. 68.  Al-Katani, at-Taratib al-Idariya I : 45; Ibn Hajar, Fathul Bari, ix: 52. 69. Al-Bukhari, Sahih, hadith nos.5003, 5004, Ibn Habib, al-Muhabbar, hlm. 86, an-Nadim, al­Fihrist, hlm. 27; adh-Dhahabi, Tabaqat al-Qutra’, hlm. 9. 70. Ibn Hajar, Fathul Bari, iX: 52, mencatat pendapat Abu ‘Ubaid. 71. I Hajar, Fathul Bari, ix: 52. 72. AI-Kattani , at- Taratib al-ldariya, i: 45; Ibn Hajar, Fathul Bari, ix: 52. 73. Ibn Hajar, Fathul Bari, ix:52, as-Suyuti, al-Itqan , i: 202. 74. Ibn Sa’d, Tabaqat, ii/2:112, al-Bukhari, Sahih, hadith no.5003, 5004; Ibn Habib, al­ Muhabbar, hlm. 86; an-Nadim, al-Fihrist, hlm. 27, adh-Dhahabi, seyar al-‘Alam an-Nubala’, ii: 245, 318. 75. Ibn Hajar, Fathul Bari, ix: 52; al-Kattani, at-Taratib al-Idariya, i: 45. 76. Ibn Hajar, Fathul Bari, ix: 52. 77. Ibn Habib, al-Muhabbar, hlm. 286; al-Hakim, Mustadrak, ii: 260; an-Nadim, al-Fihrist, hlm. 27, adh-Dhahabi, Tabaqat al-Qurra’, hlm. 15; Ibn Hajar, Fathul Bari, ix: 52, as-Suyuti, al-Itqan, i: 202. 78. Ibn Hajar, Fathul Bari, ii, ii: 159, al-Kattani , at-Tartib al-Idariya , i: 46. 79. Ibn Hajar, al-Isaba, ii: 159, al-Kattani , at-Taratib al-Idariya, i: 46. 80. Ibn Hajar, Fathul Bari, ix: 52, al-Kattani, at-Taratib al-Idanya, i: 46. 81. Ibn Hajar, Fathul Bari, ix: 52, al-Kattani , at-Taratib al-Idariya, i: 45. 82. Ibn Hajar, Fathul Bari, ix: 52-53. 83. Ibn Hajar, Fathul Bari, ix: 52, al-Kattani , at-Taratib al-Idariya, i: 45. 84. Ibn Kathir, Fada’il al-Qur’an, hlm.7, 471; Ibn Hajar, Fathul Bari, ix: 52. 85. Ibn Hajar, Fathul Bari, ix: 52, as-Suyuti , al-Itqan , i: 202, adh-Dhahabi, Tabaqat al-Qurra’, hlm. 19. 86.  Ibn Hajar, Fathul Bari, ix: 52. 87. Ibn Hajar, Fathul Bari, ix: 52; as-Suyuti , al-Itqan , i: 203; adh-Dhahabi, Tabagat al-Qurra’, hlm. 19. 88. Ibn Hibban, Thiqat, hlm.286, ar-Razi, Tarikh Madinat San`a, hlm.337. 89. Ibn Hajar, Fathul Bari, ix: 52, as-Suyuti, al-Itqan, i: 203, adh-Dhahabi, Tabaqat al-Qurra’, hlm. 19. 90. An Nadim, al-Fihrist, hlm. 27; Ibn Hajar, Fathul Ban, ix: 13, 52, adh-Dhahabi, Tabaqat al­Qurra’, hlm.19. 91. Al-Kattani, at-Taratib al-Idariya, i:45; Ibn Hajar, Fathul Bari, ix:52; as-Suyuti, al-Itqan, i:202. 92. Ibn Hajar, Fathul Bari, ix: 52. 93. As_Suyuti , al-Itqan , i: 203; Ibn Hajar, Fathul Bari, ix:52. 94. As-Suyuti , al-Itqan, i: 203; Ibn Hajar, Fathul Bar, ix: 52. 95. Ibn Hajar, Fathul Bari, ix: 52, al-Kattani , at-Taratib al-Idariya, i: 46. 96. Ibn Hajar, Fathul Ban, ix: 52; as-Suyuti , al-itqan, i: 202. 97. Al-Bukhari, Sahih, hadith nos.5003, 5004; Ibn abb, al-Muhabbar, hlm. 286; adh-Dhahabi, Tabaqat al-Qurra’, hlm. 19; an-Nadim, al-Fihrist, hlm. 27; Ibn Hajar, Fathul Bari, ix:52 98. Ibn Hajar, Fathul Bari, ix: 52.’ 99. Ibn Hajar, Fathul Bari, ix: 52; as-Suynti, al-Itqan, i: 203-4; al-Kattani, at-Taratib al-Idariya, i: 47. 100. Ibn Wahb, al-Jami’ fi ‘ulum al-Qur’an, hlm. 263. @@10@@BAB 5 : REKAMAN DAN PENYUSUNAN AL-QUR’AN The History of The Qur’anic Text  hal 71 – 76  1. Selama Periode Mekah Kendati diwahyukan secara lisan, Al-Qur’an sendiri secara konsisten menyebut sebagai kitab tertulis. Ini memberi petunjuk bahwa wahyu tersebut tercatat dalam tulisan. Pada dasarnya ayat-ayat Al-Qur’an tertulis sejak awal perkembangan Islam, meski masyarakat yang baru lahir itu masih menderita berbagai permasalahan akibat kekejaman yang dilancarkan oleh pihak kafir Quraish. Berikut cerita `Umar bin al-Khattab sejak ia masuk Islam yang akan kita pakai sebagai penjelasan masalah ini: Suatu hari ‘Umar keluar rumah menenteng pedang terhunus hendak melibas leher Nabi Muhammad. Beberapa sahabat sedang berkumpul dalam sebuah rumah di bukit Safa. Jumlah mereka sekitar empat puluhan termasuk kaum wanita. Di antaranya adalah paman Nabi Muhammad, Hamza, Abu Bakr, ‘All, dan juga lainnya yang tidak pergi berhijrah ke Ethiopia. Nu’aim secara tak sengaja berpapasan dan bertanya ke mana ‘Umar hendak pergi. “Saya hendak menghabisi Muhammad, manusia yang telah membuat orang Quraish khianat terhadap agama nenek moyang dan mereka tercabik-cabik serta ia (Muhammad) mencaci maki tata cara kehidupan, agama, dan tuhan-tuhan kami. Sekarang akan aku libas dia.” “Engkau hanya akan menipu diri sendiri `Umar, katanya.” “Jika engkau menganggap bahwa ban! `Abd Manaf mengizinkanmu menapak di bumi ini hendak memutus nyawa Muhammad, lebih baik pulang temui keluarga anda dan selesaikan permasalahan mereka.” `Umar pulang sambil bertanya-tanya apa yang telah menimpa ke­luarganya. Nu’aim menjawab, “Saudara ipar, keponakan yang bernama Sa`id serta adik perempuanmu telah mengikuti agama baru yang dibawa Nabi Muhammad. Oleh karena itu, akan lebih baik jika anda kembali menghubungi mereka.” `Umar cepat-cepat memburu iparnya di rumah, tempat Khabba sedang membaca Surah Taha dari sepotong tulisan Al-­Qur’an. Saat mereka dengar suara ‘Umar, Khabba lari masuk ke kamar kecil, sedang Fatima mengambil kertas kulit yang bertuliskan Al-Qur’ an dan diletakkan di bawah pahanya… 1 Kemarahan ‘Umar semakin membara begitu mendengar saudara­saudaranya masuk Islam. Keinginan membunuh orang yang beberapa saat sebelum itu la tuju semakin menjadi jadi. Masalah utama dalam cerita ini berkaitan dengan kulit kertas bertulisan Al-Qur’an, Menurut Ibn ‘Abbas ayat­ayat yang diturunkan di Mekah terekam dalam bentuk tulisan sejak dari sana,2 seperti dapat dilihat dalam ucapan az-Zuhri.3 ‘Abdullah bin Sa’d bin ‘Abi as­Sarh, seorang yang terlibat dalam penulisan Al-Qur’an sewaktu dalam periode ini,4 dituduh oleh beberapa kalangan sebagai pemalsu ayat-ayat Al-Qur’an (suatu tuduhan yang seperti telah saya jelaskan sama sekali tak berdasar).5 Orang lain sebagai penulis resmi adalah Khalid bin Sa’id bin al-‘As di mana ia menjelaskan, “Saya orang pertama yang menulis ‘Bismillah ar-Rahman ar­Rahim’ (Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang).6 Al-Kattani mencatat peristiwa ini: Sewaktu Rafi` bin Malik al-Ansari menghadiri baiah al-‘Aqaba, Nab! Muhammad menyerahkan semua ayat-ayat yang diturunkan pada dasawarsa sebelumnya. Ketika kembali ke Madinah, Rafi` mengumpulkan semua anggota sukunya dan membacakan di depan mereka.7 2. Selama Periode Madinah i. Penulis Wahyu Nabi Muhammad Pada periode Madinah kita memiliki cukup banyak informasi termasuk sejumlah nama, lebih kurang enam puluh lima sahabat yang ditugaskan oleh Nabi Muhammad bertindak sebagai penulis wahyu. Mereka adalah Abban bin Sa’id, Abu Umama, Abu Ayyub al-Ansari, Abu Bakr as-Siddiq, Abu Hudhaifa, Abu Sufyan, Abu Salama, Abu ‘Abbas, Ubayy bin Ka’b, al-Arqam, Usaid bin al-Hudair, Aus, Buraida, Bashir, Thabit bin Qais, Ja` far bin Abi Talib, Jahm bin Sa’d, Suhaim, Hatib, Hudhaifa, Husain, Hanzala, Huwaitib, Khalid bin Sa’id, Khalid bin al-Walid, az-Zubair bin al-`Awwam, Zubair bin Arqam, Zaid bin Thabit, Sa’d bin ar-Rabi`, Sa’d bin `Ubada, Sa’id bin Sa`id, Shurahbil bin Hasna, Talha, `Amir bin Fuhaira, `Abbas, `Abdullah bin al-Arqam, `Abdullah bin Abi Bakr, `Abdullah bin Rawaha, `Abdullah bin Zaid, `Abdullah bin Sa’d, ‘Abdullah bin ‘Abdullah, ‘Abdullah bin ‘Amr, ‘Uthman bin ‘Affan, Uqba, al­’Ala bin ‘Uqba, ‘All bin Abi Talib, ‘Umar bin al-Khattab, ‘Amr bin al-‘As, Muhammad bin Maslama, Mu’adh bin Jabal, Mu’awiya, Ma’n bin ‘Adi, Mu’aqib bin Mughira, Mundhir, Muhajir, dan Yazid bin Abi Sufyan.8 ii. Nabi Muhammad Mendiktekan AI-Qur’ a Saat wahyu turun, Nabi Muhammad secara rutin memanggil para penulis yang ditugaskan agar mencatat ayat itu.9 Zaid bin Thabit menceritakan sebagai ganti atau mewakili peranan dalam Nabi Muhammad, la sering kali dipanggil diberi tugas penulisan saat wahyu turun.10 Sewaktu ayat al-jihad turun, Nabi Muhammad memanggil Zaid bin Thabit membawa tinta dan alat tulis dan kemudian mendiktekannya; ‘Amr bin Um-Maktum al-A’ma duduk menanyakan kepada Nabi Muhammad, “Bagaimana tentang saya? Karena saya sebagai orang yang buta.” Dan kemudian turun ayat, “ghair uli al-darar”11 (bagi orang­orang yang bukan catat).12 Tampaknya tak ada bukti pengecekan ulang setelah mendiktekan. Saat tugas penulisan selesai, Zaid membaca ulang di depan Nabi Muhammad agar yakin tak ada sisipan kata lain yang masuk ke dalam teks.13 iii. Tradisi Penulisan Al-Qur’an di Kalangan Sahabat Praktik yang biasa berlaku di kalangan para sahabat tentang penulisan AI­Qur’an, menyebabkan Nabi Muhammad melarang orang-orang menulis sesuatu darinya kecuali Al-Qur’an, “dan siapa yang telah menulis sesuatu dariku selain Al-Qur’an, maka la harus menghapusnya.”14 Beliau ingin agar Al-Qur’an dan hadith tidak ditulis pada halaman kertas yang sama agar tidak terjadi campur aduk serta kekeliruan. Sebenarnya bagi mereka yang tak dapat menulis selalu hadir juga di masjid memegang kertas kulit dan minta orang lain secara suka rela mau menuliskan ayat Al-Qur’an.15 Berdasarkan kebiasaan Nabi Muhammad memanggil juru tulis ayat-ayat yang baru turun, kita dapat menarik anggapan bahwa pada masa kehidupan beliau seluruh Al-Qur’an sudah tersedia dalam bentuk tulisan. 3. Susunan Al-Qur’an i. Susunan Ayat ke dalam Surah Diakui secara umum bahwa susunan ayat dan surah dalam Al-Qur’an memiliki keunikan yang luar biasa. Susunannya tidak secara urutan saat wahyu diturunkan dan subjek bahasan. Rahasianya hanya Allah Yang Mahatahu, karena Dia sebagai pemilik kitab tersebut. Jika seseorang akan bertindak sebagai editor menyusun kembali kata-kata buku orang lain misalnya, mengubah urutan kalimat akan mudah memengaruhi seluruh isinya. Hasil akhir tidak dapat diberikan pada pengarang karena hanya sang pencipta yang berhak mengubah kata-kata dan materi guna menjaga hak-haknya. Demikian halnya Kitab Allah, karena Dia sebagai pencipta tunggal clan Dia sendiri yang memiliki wewenang mutlak menyusun seluruh materi. Al­Qur’an sangat tegas dalam masalah ini: “Sesungguhnya atas tanggungan Kami mengumpulkan (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacanya maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian, sesungguhnya atas tanggungan Kami menjelaskannya.”16 Maka guna menjelaskan isi kandungan ayat-ayat itu, Allah menugaskan Nabi Muhammad sebagai penerima mandat. Dalam hal ini Al-Qur’ an memberi penjelasan, “Dan Kami telah turunkan kepada engkau (Muhammad) berupa peringatan agar engkau menjelaskan kepada manusia apa-apa yang telah diturunkan pada mereka.”17 Hak istimewa ini, Allah berikan wewenang atau hak otoritas pada Nabi Muhammad agar memberi penjelasan pada umatnya.18 Hanya Nabi Muhammad, melalui keistimewaan dan wahyu ketuhanan, yang dianggap mampu menyusun ayat-ayat ke dalam bentuk keunikan Al-Qur’an sesuai kehendak dan rahasia Allah. Bukan komunitas Muslim secara kolektif dan bukan pula perorangan memiliki legitimasi kata akhir dalam menyusun Kitab Allah. Kitab Al-Qur’an mencakup surah-surah panjang dan yang terpendek terdiri atas 3 ayat, sedangkan paling panjang 286 ayat. Beberapa riwayat menyebutkan bahwa Nabi Muhammad memberi instruksi kepada para penulis tentang letak ayat pada setiap surah. `Uthman menjelaskan baik wahyu itu mencakup ayat panjang maupun satu ayat terpisah, Nabi Muhammad selalu memanggil penulisnya clan berkata, “Letakkan ayat-ayat tersebut ke dalam surah sepetrti yang beliau sebut.”19 Zaid bin Thabit menegaskan, “Kami akan kumpulkan Al-Qur’an di depan Nabi Muhammad.”20 Menurut `Uthman bin Abi al-‘As, Malaikat Jibril menemui Nabi Muhammad memberi perintah akan penempatan ayat tertentu.21

  • ’Uthman bin AM al-‘As melaporkan bahwa saat sedang duduk bersama Nabi Muhammad ketika beliau memalingkan padangan pada satu titik dan kemudian berkata, “Malaikat Jibril menemuiku dan meminta agar menempatkan ayat ini:

22 pada bagian surah tertentu.23

  • AI-Kalbi melaporkan dari Abu Sufyan tentang Ibn ‘Abbas tentang ayat, “Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah.”24.
  • Ia menjelaskan, “Ini adalah ayat terakhir yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad. Malaikat Jibril turun dan minta meletakannya setelah ayat ke dua ratus delapan puluh dalam Surah al-Baqarah.”25
  • Ubbay bin Ka’b menjelaskan, “Kadang-kadang permulaan surah itu diwahyukan pada Nabi Muhammad, kemudian saya menuliskannya, dan wahyu yang lain turun pada beliau lalu berkata, “Ubbay! Tulislah ini dalam surah yang menyebut ini dan itu.’ Dalam kesempatan lain wahyu diturunkan pada beliau dan saya menunggu perintah yang hendak diberi­kan sehingga beliau memberi tahu tempat yang sesuai dari suatu ayat.26
  • Zaid bin Thabit memberi penjelasan, “Sewaktu kami bersama Nabi Muhammad mengumpulkan Al-Qur’an kertas kulit beliau berkata, “Mudah-mudahan Sham mendapat berkah”27 Kemudian beliau ditanya, ‘Mengapa demikian wahai Nabi Allah?’ Beliau menjawab, ‘Karena para Malaikat yang Maha Rahman telah melebarkan sayap mereka kepada­nya.”28 Dalam hadith ini kita catat Nabi Muharnmad selalu melakukan pengawasan dalam pengumpulan dan susunan ayat-ayat Qur’an
  • Kita dapat melihat bukti yang sangat jelas bahwa bacaan surah dalam shalat lima waktu. Tidak boleh bacaan umum menyalahi urutan ayat-ayat yang telah disepakati dan tidak pernah terjadi peristiwa shalat berjamaah akan adanya perbedaan pendapat dengan imam tentang urutan ayat-ayat baik di masa Nabi Muhammad maupun sekarang. Nabi Muhammad kadang-kadang membaca satu surah sampai habis pada shalat jum’ah.29

Bukti lain dapat dilacak dari beberapa hadith yang mengatakan kepada sahabat telah mengenal permulaan dan akhiran surah-surah yang ada.

  • Nabi Muhammad memberi komentar kepada ‘Umar, “Akhir ayat-ayat dari Surah an-Nisa’ akan dianggap cukup buatmu (dalam menyelesaikan masa]ah warisan). 30
  • Abu Mas’ud al-Badri memberi laporan bahwa Nabi Muhammad bersabda, ‘Ayat terakhir dari Surah al-Baqarah dapat mencukupi bagi siapa saja yang membaca di waktu malam.31
  • Ibn `Abbas mengingatkan, “Sewaktu saya bermalam di rumah, Maimuna (istri Nabi Muhammad), saya mendengar beliau terbangun dari tidur lalu membaca sepuluh ayat terakhir dari Surah `Ali ‘Imran.”32
  • —————————-

1. Ibn Hisham, Sira, vol.l-2, hlm. 343-46. 2. Ibn Durais, Fada’il AI-Qur’an, hlm. 33. 3. Az-Zuhri, Tanzil AI-Qur’an, 32; Ibn Kathir, al-Bidaya v: 340, Ibn Hajar, Fathul Bari, ix: 22. 4. Ibn Hajar, Fathul Bari, ix: 22. 5. Untuk lebih jelas, harap dilihat M.M. al-A’zami, Kuttab an-Nabi, Edisi ke-3, Riyad, 1401 (1981), hlm.83-89. 6. As-Suyuti, ad-Dur al-Manthur, i: 11. 7. Al-Kattani, al-Tarat76 al-Idariya, 1: 44, dengan mengutip pendapat Zubair bin Bakkar, Akhbar al-Madina. 8. Untuk lebih jelas harap dilihat M.M, A’zami, Kuttab an-Nabi. 9. Abu ‘Ubaid , Fada’il, hlm. 280; Lihat juga Ibn Hajar, Fathul Bari, ix: 22, mencatat pendapat `Uthman dengan merujuk pada Sunan at-Tirmidhi, an-Nasa’i, Abu Dawud, dan al-Hakim dalam al­Mustadrak. 10. Ibn AM Dawud, al-Masahif, hlm.3; Lihat juga al-Bukhari, Sahih, Fada’il Al-Qur’an: 4. 11. Qur’an, 4: 95. 12. Ibn Hajar, Fath al Bari , ix: 22; as-Sa’ati, Minhat al-Ma’bud, ii: 17. 13. As-Suli, Adab ul-Kuttab, hlm. 165; al-Haithami, Majma` az-Zawaid, i: 52. 14. Muslim, Sahih, az-Zuhd: 72; juga lihat Ibn Dawud, al-Masahif, hlm. 4. Untuk lebih terperinci dapat dilihat M.M. al-A’zami, Studies in Early Hadith Literature, American Trust Publications, Indiana, 198768, hlm. 22-24. 15. Lihat al-Baihaqi, Sunan al-Kubra, vi: 16. 16. Qur’an, 75: 17-19. 17. Qur’an, 16:44. 18. Sebagaimana tersebut sebelumnya, dalam hal ini Sunnah nabi berfungsi sebagai penegasan terhadap Al-Qur’an di mana baik secara lisan mau pun praktik di bawah asuhan atau bimbingan Allah ft. Tak ada seorang pun yang dapat memiliki hak wewenang untuk menolak posisinya yang benar. 19. Lihat at-Tirmidhi, Sunan, no.3086; juga al-Baihaqii ii: 42, Ibn Hanbal, Musnad, i: 69, Abu Dawud, Sunan, i: 290; al-Hakim, al-Mustadrak, i:221, Ibn Hajar, Fathul Biri, ix: 22; Lihat juga Abu ‘Ubaid, Fada’il, hlm. 280. 20. Lihat at-Tirmidhi, Sunan, Manaqib:141, no.39 Lihat at-Tirmidhi, Sunan, Manaqib:141, no.39. Lihat at-Tirmidhi, Sunan, Manaqib:l41, no.3954; Ibn Hanbal, Musnad, v:185; al-Hakim, a!­Mustadrak, ii: 229. 21. As-Suyuti, al-ltqan, i: 173. 22. Qur’an, 16: 90. 23 Ibn Hanbal, Musnad, iv: 218, no. 17947; Lihat juga as-Suydti, a!Itqan, i:173. 24. Qur’an, 2: 281. 25 Al-Baqilani, al-lntisar, hlm. 176. 26. Ibid. hlm. 176. 27. Syam adalah Suria, Yordania, dan Lebanon (Sekarang). 28. Al-Baqilani, al-lntisar, hlm. 176-7. 29. Muslim, Sahih, Jumu’a: 52. 30. Muslim, Sahih, al-Fara’id: 9. 31.  Al-Bukhari, Sahih, Fada’il AI-Qur’an:10. 32. Al-Bukhari, Sahih, al-Wudu’:37; Muslim, Sahih, Mufassirin,    no. 182. Untuk lebih jelasnya harap dilihat Muslim, Kitab al-Tamyiz, diedit oleh M.M. al-A’zami, hlm. 183-5. —————–o0o——————— @@11@@BAB 5 : REKAMAN DAN PENYUSUNAN AL-QUR’AN The History of The Qur’anic Text  hal 77- 82 ii. Penyusunan Surah Beberapa sumber menuduh bahwa mushaf33 yang digunakan Ubay bin Ka’b dan Ibn Mas’ud memperlihatkan kelainan dalam susunan surah berdasarkan pada aturan universal. Akan tetapi kita tidak melihat sumber lain adanya perbedaan dalam perintah meletakkan ayat-ayat dalam surah tertentu. Keunikan susunan Al-Qur’an memberi peluang tiap surah berfungsi sebagai satuan bebas, independen unit, di mana tidak terdapat kronologi atau sumber cerita lain yang masuk ke dalam naskah. Oleh sebab itu, tiap perubahan dalam urutan surah dianggap tidak benar. Adanya perbedaan itu (jika benar ada), isi kandungan risalah tetap terjamin. Adanya variasi susunan ayat-ayat merupakan masalah lain. Kita bersyukur tak ada mushaf yang berlainan dan tak ada seorang pun yang dapat menerima perubahan. Para ulama sepakat bahwa mengikuti susunan surah dalam AI-Qur’ an bukan suatu kemestian, baik dalam shalat, bacaan, belajar, pengajaran maupun hafalan.34 Setiap surah berdiri sendiri dan tidak ada satu pun yang turun ke­mudian dapat mengklaim memiliki legalitas lebih besar dari yang sebelumnya; kadang-kadang ayat yang telah dimansukh terdapat dalam sebuah surah di mana yang berikutnya tercatat sebagai nasikh atau pengganti. Sebagian umat Islam mulai menghafal AL-Qur’an dari surah pendek (no. 114, 113, …) dan begitu seterunya ke belakang. Nabi Muhammad pernah membaca Surah al­Baqarah, an-Nisa’, dan kemudian ‘Ali-`Imran (surah No.2, 4, 3), secara berun­tun dalam satu raka’at,35 tidak seperti yang kita lihat dalam susuan Al-Qur’an. Sejauh yang saya ketahui, tak ada hadith yang menyebutkan bahwa Nabi Muhammad membuat ketetapan melarang umatnya mengambil surah tertentu secara tidak berurutan. Pendapat yang berbeda dapat disimpulkan sebagai berikut:

  1. 1. Susunan semua surah seperti yang ada, selalu merujuk pada Nabi Muhatnmad sendiri.36 Ini pendapat yang saya ikuti. Pendapat lain mengatakan terdapat perbedaan susunan dalam mushaf yang dimiliki beberapa sahabat seperti Ibn Mas’ud dan Ubayy bin Ka’b) yang lain dari mushaf yang ada di tangan umat Islam.37
  2. 2. Sementara kalangan ada yang berpendapat bahwa seluruh Qur’an (susun­annya) diatur oleh Nabi Muhammad kecuali surah no.9, yang dilakukan oleh `Uthman.38
  3. 3. Pendapat lain menganggap susunan semua surah dibuat oleh Zaid bin Thabit, `Uthman, dan sahabat lainnya. Al-Baqillani cenderung menerima pendapat ini.39
  4. 4. Ibn ‘Atiyya mendukung pendapat bahwa Nabi Muhammad menyusun beberapa surah dan lainnya diserahkan pada para sahabat beliau.40

iii. Susunan Surah Dalam Beberapa Mushaf Pendapat para ulama mengatakan bahwa susunan surah yang ada sekarang identik dengan Mushaf ‘Uthmani.41 Setiap orang yang berkeinginan mengopi Al-Qur’an secara keseluruhan diharuskan mengikuti urutan yang ada, dan bagi yang hendak mengopi surah tertentu, mengikuti susunan seperti yang tampak pada Mushaf ‘Uthmani tidaklah wajib. Sebuah analogi dapat diambil saat saya bepergian naik pesawat; di mana saya ingin membawa pekerjaan namun ingin mengangkut satu jilid tebal dalam bag, maka saya hanya mengopi sebagian yang saya perlukan selama perjalanan. Di masa lampu mushaf ditulis di atas kertas kulit, dan biasanya lebih berat timbangannya dari kertas biasa. Maka mushaf seluruhnya mencapai beberapa kilogram berat. Kita memiliki beberapa contoh AI-Qur’ an yang tertulis dalam kaligrafi besar dan satu mushaf lengkap akan melebihi satu meter panjangnya. Gambar 5.1: Sebuah manuskrip kulit dari Yaman, ukuran 18 x 13 cm: Jasa baik dari Museum Arsip Nasional Yaman Gambar 5.2.: Manuskrip kulit lainnya dari Yaman, ukuran 13 cm x 8 cm: Jasa baik dari Museum Arsip Nasional Yaman. Melihat mushaf yang dicetak oleh penerbit Raja Fahd di Madinah sebagai standard ukuran utama, ia akan dapat mencapai enam ribu halaman (lebih kurang 9000 baris). Hal yang sangat menarik, semua naskah dalam kertas kulit seperti terlihat pada gambar 5.2 hanya setengah baris dari mushaf cetakan Madinah. Artinya seluruh mushaf jika tertulis dalam ukuran itu akan memerlukan 18,000 halaman. Kaligrafi berjilid-jilid tentu saja jarang didapat, akan tetapi secara umum hal itu menunjukkan bahwa yang disebut mushaf terdiri dari banyak surah. Semua rak buku di perpustakaan di seluruh dunia akan dipenuhi bagian­bagian dari mushaf tertulis. Daftar di bawah ini sekadar beberapa contoh yang terdapat di satu perpustakaan, the Salar Jung museum di Hyerabad, India.42

No. Manuskrip No. Surah Susunan Surah Tanggal43
244 29 36, 48, 55, 56, 62, 67, 75, 76, 78, 93, 94, 72, 97, dan 99 – 114. ± awal abad ke-11
246 16 62 ( 8 ayat pertama saja ), 110, 1, 57, 113, 56, 94, 114, 64, 48, 47, 89, 112, 36, 78 dan 67. naskah ± awal abad ke-10 dan akhir abad ke-11
247 10 1, 36, 48, 56, 67, 78,109, dan 112-114
248 9 73, 51, 67, 55, 62, 109, dan 112-114 1076 H. (= 1666 M.)
249 9 17, 18, 37, 44, 50, 69, 51, 89 dan 38 1181 H.(= 1767 M.)
250 9 20, 21, 22, 63,dan 24 – 28 ± awal abad ke-12
251 8 6, 36, 48, 56, 62, 67, 76 dan 78 ± awal abad ke 11
252 8 1, 6, 18, 34, 35, 56, 67 dan 78 ± awal abad ke-11
255 8 1, 36, 48, 55, 67, 73, 56 dan 78 ±  awal abad ke-14
253 8 36, 48, 56, 62, 67, 71, 73 dan 78 ± akhir abad ke-11
254 7 1, 55, 56, 62, 68, 73 dan 88 ± akhir abad ke-12
256 7 36, 48, 78, 56, 67, 55 dan 73 ± awal abad ke-11
257 7 36, 48, 78, 67, 56, 73 dan 62 ±  pertengahan abad ke-11
258 7 18, 32, 36, 48, 56, 67 dan 78 ± akhir abad ke-11
259 7 18, 36, 37, 48, 56, 67 dan 78 ± akhir abad ke-11
260 7 36, 48, 56, 67, 78, 55 dan 62 ± akhir abad ke-12
261 7 36, 48, 78, 56, 67, 55 dan 73 ± akhir abad ke-13
262 6 1, 36, 48, 56, 67 dan 78 ± 1115 H (= 1704 M)
263 6 36, 48, 55, 56, 67 dan 68 ± 1278 H. (= 1862 M)
264 644 1, 36, 48, 56, 78 dan 67 ± akhir abad ke-10
265 645 18, 36, 71, 78, 56 dan 67 ± akhir abad ke-13
266 6 36, 55, 56, 62, 63 dan 78 ± 989 H. (= 1581 M)
267 5 36, 48, 56, 67 dan 78 ± 1075 H.(= 1664 M)
268 5 36, 48, 56, 67 dan 78 ± 1104 H.(= 1692 M.)
270 5 36, 48, 56, 67 dan 78 ± 1106 H.(= 1694 M.)
271 5 36, 48, 67, 72 dan 78 ± 1198 H.(= 1783 M.)
272 5 36, 48, 56, 67 dan 78 ± 1200 H.(= 1786 M.)
273 5 36, 48, 55, 56 dan 67 1237 H.
275 5 36, 78, 48, 56 dan 67 ± 626 H. (= 1228 M.)
279 5 36, 48, 56, 67 dan 78 Di salin oleh Yaqut al­ Musta’simi
280 5 1, 6, 18, 34 dan 35 ± 1084 H.(= 1673 M.)
281 5 36, 48, 56, 59 dan 62 ± awal abad ke-10
282 5 1, 6, 18, 34 dan 35 ± awal abad ke-10
284 5 6, 36, 48, 56 dan 67 ± akhir abad ke-10
296 5 18, 36, 44, 67 dan 78 ± awal abad ­ke 12
308 4 6, 18, 34 dan 35 ± akhir abad ke-9
310 4 6-9 ± akhir abad ke-12

Dari sini kita akan dapat mengambil kesimpulan bahwa barangsiapa hendak menulis sebagian mushaf dapat dilihat pada perpustakaan tempat surah yang ada disusun, seperti yang dapat dilihat pada tabel. 4. Kesimpulan Dengan memahami keperluan dokumentasi tiap ayat, masyarakat Muslim yang telah mencapai urutan huffaz telah membuat sistem hafalan sebagai penangkal pengaruh yang merusak. Pada periode Mekah dengan laju pe­nindasan yang begitu kuat tidak mampu memunahkan Al-Qur’ an yang pada akhirnya, umat Islam menikmati kemajuan di Madinah baik yang melek huruf maupun yang buta ikut ambil bagian dalam menghafal AI-Qur’an. Di tengah mereka (bangsa) tersebut tinggal rasul terakhir (Muhammad) yang men­diktekan, menjelaskan, menyusun ayat melalui inspirasi ketuhanan dengan status privilege (hak istimewa) dirinya, seluruh ayat Al-Qur’an di dalamnya menjadi sempurna. Bagaimanakah teks suci ini kemudian dipelihara setelah wafatnya Nabi Muhammad %%% dan bagaimana bangsa itu mencurahkan segala upaya memelihara keutuhan Al-Qur’ an, ini merupakan fokus utama dalam bab berikut. 33. Secara harfiyyah arti pengumpulan kertas di sini adalah kertas kulit (parchments) yang tertulis di atasnya ayat AI-Qur’an, lihat hlm.84-85. 34. Al_Baqilani, al-lntisar, hlm. 167. 35. Muslim, Sahih, Musafirin, no.203. 36. Lihat as-Suyuti, al-Itqan, i:176-77; Lihat juga Abu Dawiid, Sunan, no.786. 37. Lihat bab ke 13, yang secara khusus membicarakan mushaf Ibn Mas’ud. 38. As-Suyuti, al-Itqan, i:177. Mengutip pendapat al-Baihaqi, Madkhal. Lihat juga Abu Dawud, Sunan, no.786. 39. Al_Baqiani, al-Intisar, hlm.166. 40. lbn ‘Atiyya, al-Muharrar, al-Wajiz, i:34-35. 41. Lihat bab ketujuh. 42. Muhammad Ashraf, A Catalogue of Arabic Manuscripts in Sa/ah Jung Museum & Library, hlm. 166-234. 43. Beberapa mushaf tertulis tanggal penulisan sedang yang lain tanpa tanggal. 44. Enam Surah dengan beberapa doa menurut akidah Syiah 45. Sebagai tambahan kepada beberapa doa berdasarkan akidah Syiah @@12@@BAB 6 : KOMPILASI TULISAN AL-QUR’AN The History of The Qur’anic Text  hal 83 – 95 Meski Nabi Muhammad telah mencurahkan segala upaya yang mungkin dapat dilakukan dalam memelihara keutuhan Al-Qur’an, beliau tidak me­rangkum semua surah ke dalam satu jilid, sebagaimana ditegaskan oleh Zaid bin Thabit dalam pernyataannya, “Saat Nabi Muhammad wafat, Al-Qur’an masih belum dirangkum dalam satuan bentuk buku.1 Di sini kita perlu memperhatikan penggunaan kata ‘pengumpulan’ bukan ‘penulisan’. Dalam komentarnya, al-Khattabi menyebut, “Catatan ini memberi isyarat akan kelangkaan buku tertentu yang memiliki ciri khas tersendiri. Sebenarnya, Kitab Al-Qur’an telah ditulis seutuhnya sejak zaman Nabi Muhammad. Hanya saja belum disatukan dan surah-surah yang ada juga masih belum tersusun.”2 Penyusunan Al-Qur’an dalam satu jilid utama (master volume) boleh jadi merupakan satu tantangan karena nasikh mansukh yang muncul kemudian dan perubahan ketentuan hukum maupun kata-kata dalam ayat tertentu memerlukan penyertaan ayat lain secara tepat. Hilangnya satu format halaman akan sangat merendahkan penyertaan ayat-ayat yang baru serta surahnya karena wahyu tidak berhenti untuk beberapa saat sebelum Nabi Muhammad wafat. Dengan wafatnya Nabi Muhammad berarti wahyu ber­akhir untuk selamanya. Tidak akan terdapat ayat lain, perubahan hukum, serta penyusunan ulang. Ini berarti kondisi itu telah mapan dalam waktu yang tepat guna memulai penyatuan Al-Qur’an ke dalam satu jilid. Tidak ada keraguan yang dirasakan dalam pengambilan keputusan dan kebijaksanaan dan bahkan telah memaksa masyarakat mempercepat pelaksanaan tugas ini. Allah swt. memberi bimbingan para sahabat dalam memberi pelayanan terhadap Al­Qur’an sebagaimana mestinya memenuhi janji pemeliharaan ‘ selamanya terhadap Kitab-Nya, “Sesungguhnya kamilah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya kami benar-benar memeliharanya.”3 1. Kompilasi AI-Qur’an Semasa Kekuasaan Abu Bakr i. Penugasan Zaid bin Thabit dalam Mengompilasikan Al-Qur’an Zaid melaporkan, Abu Bakr memanggil saya setelah terjadi peristiwa pertempuran al­Yamama yang menelan korban para sahabat sebagai shuhada. Kami melihat saat ‘Umar ibnul Khattab bersamanya. Abu Bakr mulai berkata,” ‘Umar baru saja tiba menyampaikan pendapat ini, ‘Dalam pertempuran al-Yamama telah menelan korban begitu besar dari para penghafal Al­Qur’an (qurra’),4 dan kami khawatir hal yang serupa akan terjadi dalam peperangan lain. Sebagai akibat, kemungkinan sebagian Al-Qur’an akan musnah. Oleh karena itu, kami berpendapat agar dikeluarkan perintah pengumpulan semua Al-Qur’an.” Abu Bakr menambahkan, “Saya kata­kan pada ‘Umar, ‘bagaimana mungkin kami melakukan satu tindakan yang Nabi Muhammad tidak pernah melakukan?’ ‘Umar menjawab, ‘Ini merupakan upaya terpuji terlepas dari segalanya dan ia tidak berhenti menjawab sikap keberatan kami sehingga Allah memberi kedamaian untuk melaksanakan dan pada akhirnya kami memiliki pendapat serupa. Zaid! Anda seorang pemuda cerdik pandai, dan anda sudah terbiasa menulis wahyu pada Nabi Muhammad, dan kami tidak melihat satu kelemahan pada diri anda. Carilah semua Al-Qur’an agar dapat dirang­kum seluruhnya.” Demi Allah, Jika sekiranya mereka minta kami me­mindahkan sebuah gunung raksasa, hal itu akan terasa lebih ringan dari apa yang mereka perintahkan pada saya sekarang. Kami bertanya pada mereka, ‘Kenapa kalian berpendapat melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad?’ Abu Bakr dan ‘Umar bersikeras mengatakan bahwa hal itu boleh-boleh saja dan malah akan membawa kebaikan. Mereka tak henti-henti menenangkan rasa keberatan yang ada hingga akhirnya Allah menenangkan kami melakukan tugas itu, seperti Allah menenangkan hati Abu Bakr dan ‘Umar.5 Setelah diberi keyakinan Zaid dapat menerima tugas berat sebagai pengawas komisi,6 sedang ‘Umar, sahibul fikrah, bertindak sebagai pembantu khusus. ii. Jati Diri Zaid bin Thabit Sejak usianya di awal dua puluh-tahunan, di masa itu, Zaid diberi ke­istimewaan tinggal berjiran dengan Nabi Muhammad dan bertindak sebagai salah seorang penulis wahyu yang amat cemerlang. Dia salah satu di antara para huffaz clan karena kehebatan jati diri itulah yang mengantarnya sebagai pilihan mumtaz untuk melakukan tugas tersebut. Abu Bakr as-Siddiq mencatat kualifikasi dirinya sebagai berikut:

  1. 1. Masa muda Zaid menunjukkan vitalitas dan kekuatan energinya.
  2. 2. Akhlak yang tak pernah tercemar menyebabkan Abu Bakr memberi pengakuan secara khusus dengan kata-kata, ‘Kami tak pernah memiliki prasangka negatif pada anda.’
  3. 3. Kecerdasannya menunjukkan pentingnya kompetensi dan kesadaran.
  4. 4. Pengalamannya di masa lampau sebagai penulis wahyu.7
  5. 5. Satu catatan tambahan dari saya (pengarang) tentang kredibilitasnya, Zaid salah seorang yang bernasib mujur di antara beberapa orang sahabat yang sempat mendengar bacaan Al-Qur’an Malaikat Jibril bersama Nabi Muhammad di bulan Ramadan.8

iii. Instruksi Abn Bakr terhadap Zaid bin Thabit Izinkan kami sejenak memberi ulasan singkat tentang satu masalah yang pernah dikemukakan di hadapan Abu Bakr semasa menjadi khalifah. Sekali waktu seorang nenek menghadap minta penjelasan tentang hak waris dari seorang cucu yang telah meninggal dunia. Beliau menjawab bahwa bagian seorang nenek dari cucu tidak disebut dalam Al-Qur’an dan tidak pula beliau ingat bahwa Nabi Muhammad pernah memberi penjelasan akan hal itu. Dengan minta konfirmasi para hadirin, Abu Bakr menerima jawaban al-Mughira yang, saat itu, berdiri mengatakan bahwa beliau hadir saat Nabi Muhammad mengatakan bahwa bagian seorang nenek adalah satu per enam (1/6). Abu Bakr bertanya pada yang lain barangkali ada orang yang tak sepaham dengan al-Muhgira di mana Muhammad bin Maslama menegaskan secara pasti. Guna menyelesaikan tanpa sikap keragu-raguan, ini berarti Abu Bakr pernah minta pengesahan sebelum berbuat sesuatu terhadap penjelasan al-Mughira.9 Dalam hal ini Abu Bakr (dan seterusnya ‘Uthman seperti hendak kita lihat), semata­mata mengikuti perintah Al-Qur’an mengenai kedudukan para saksi: “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. … Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki di antaramu. Jika tak ada dua orang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika orang lupa maka seorang lagi mengingatkannya. Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil…. “10“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. … Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki di antaramu. Jika tak ada dua orang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika orang lupa maka seorang lagi mengingatkannya. Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil…. “10Hukum kesaksian memainkan peranan penting dalam kompilasi AI­Qur’an (juga dalam metode ilmu hadith), dan merupakan bagian penting dari instruksi Abu Bakr pada Zaid bin Thabit. Ibn Hajar melanjutkan, “Abu Bakr mengatakan pada ‘Umardan Zaid, “Duduklah di depan pintu gerbang Masjid Nabawi. Jika ada orang membawa (memberi tahu) anda tentang sepotong ayat dari Kitab Allah dengan dua orang saksi, maka tulislah.”11 Ibn Hajar memberi komentar tentang apa yang dimaksud oleh Abu Bakr perihal saksi: Sepertinya apa yang dimaksud dengan dua saksi berkaitan erat dengan hafalan yang diperkuat dengan bukti tertulis. Atau, dua orang memberi kesaksian bahwa ayat Qur’an telah ditulis di hadapan Nabi Muhammad. Atau, berarti agar mereka memberi kesaksian bahwa ini merupakan salah satu bentuk yang mana Qur’an diwahyukan. Tujuannya adalah agar menerima sesuatu yang telah ditulis di hadapan Nabi Muhammad bukan semata-mata berlandaskan pada hafalan seseorang saja.12 Saya lebih cenderung menerima pendapat kedua menyangkut penerimaan materi (ayat Al-Qur’an) berdasarkan bukti sumpah di hadapan dua orang saksi lain bahwa mereka telah menulis ayat di depan Nabi Muhammad. Pendapat ini diperkuat oleh pendapat Ibn Hajar yang mana “Zaid tidak mau menerima sesuatu materi tulisan yang akan dapat dipertimbangan kecuali dua orang sahabat menyaksikan bahwa orang itu menerima ayat Al-Qur’an seperti di­perdengarkan oleh Nabi Muhammad sendiri.”13 Menurut pendapat Profesor Shauqi Daif, Bilal bin Rabah jalan-jalan mengelilingi kota Madinah melakukan pengecekan tiap sahabat yang hadir dan memiliki ayat-ayat Al-Qur’an yang ia tulis setelah menerima apa yang diper­dengarkan oleh Nabi Muhammad sendiri.14 iv. Cara Zaid bin Thabit Menggunakan Materi tulisan Al-Qur’an Cara yang biasa dipakai dalam menyatukan naskah agar seorang perumus kalimat (editor) mengadakan perbandingan dengan naskah lain dari hasil kerja yang sama kendati, biasanya tidak semua naskah memiliki nilai yang setaraf. Dalam memberi penjelasan terhadap tingkatan naskah yang paling dapat di pertanggungjawabkan dengan yang tak memiliki harga nilai, Bergstraser mem­buat beberapa ketentuan penting sebagai berikut,

  1. 1. Naskah yang lebih awal biasanya lebih dapat terjamin dan tepercaya dari naskah yang muncul kemudian.
  2. 2. Naskah yang sudah diubah dan dibetulkan oleh penulis melalui proses perbandingan dengan naskah induk, lebih tinggi tingkatannya dari ma­nuskrip-manuskripyang tidak ada perubahan.15
  3. 3. Jika naskah asli masih ada, naskah lain yang ditulis dari naskah itu akan hilang nilainya.16

Blachere dan Sauvaget kembali menegaskan tentang poin ketiga: Jika naskah asli masih terdapat di tangan pengarang, atau salah satu naskah yang telah mengalami perubahan masih ada, maka nilai naskah-naskah lain akan dinafikan17 Demikian juga, tidak adanya naskah asli dari seorang pengarang, duplikat lain, dengan adanya naskah induk, hendaknya dibuang dan tidak di­pertimbangkan. Gambar 6. 1: Garis pohon untuk sebuah teks tulisan pengarang Anggaplah urutan manuskrip mengikuti skema pohon seperti di atas. Pertimbangkan dua dari sistem skenario yang ada:

  • Katakanlah bahwa penulis naskah asli hanya menghasilkan satu edisi buku di mana tidak ada edisi kedua atau perubahan pada edisi pertama. Maka ketiga naskah berikut tidak termasuk: (1). Buku yang ditulis sendiri (seluruh naskah yang ditulis oleh pengarang), (2). Satu manuskrip yangditulis dari naskah pengarang ash misalnya ditulis oleh A); dan (3) manuskrip lain yang muncul kemudian (mungkin ditulis oleh L). Maka sangat jelas bahwa yang kedua dan ketiga dianggap tak ada gunanya clan tidak dapat dipertimbangkan sewaktu mengadakan penyuntingan dari naskah yang ada, karena tak ada di antara mereka yang memiliki tingkat­an yang sama dengan naskah asli tulisan tangan dari pengarang pertama.
  • Satu lagi, andaikan ada satu edisi buku. Kemudian naskah tulisan ash bagaimanapun tidak ditemukan, penyunting harus memakai tiga manus­krip lain. Dua manuskrip ditulis oleh murid-murid si pengarang asli, kita sebut saja A dan B. Manuskrip ketiga X dikopi dari B. Maka X di sini tidak ada harganya. Penyunting harus berdasarkan seluruhnya kepada A dan B, dan tidak boleh membuang salah satu darinya karena kedua­duanya mempunyai nilai yang sama.

Demikianlah prinsip-prinsip penting kajian kritis naskah dan edisi penerbitan yang dikembangkan oleh pihak orientalis di abad kedua puluh. Ternyata empat belas abad yang silam, Zaid telah melakukan kegiatan persis seperti teori yang mereka buat. Sejak Nabi Muhammad menapakkan kaki di bumi Madinah, adalah merupakan titik permulaan kegiatan intensif penulisan. Banyak di antara para sahabat memiliki ayat-ayat Al-Qur’an yang mereka salin dari kertas kulit milik kawan-kawan serta para jiran. Dengan membatasi terhadap ayat-ayat yang disalin di bawah pengawasan Nabi Muhammad, Zaid meyakinkan bahwa semua materi yang beliau teliti memiliki tingkatan yang sama dan hal yang demikian memberi jaminan mutlak atas ketelitian yang dicapai. Setelah menghafal Al-Qur’an dan menulis banyak semasa duduk ber­satna Nabi Muhammad, ingatan atau hafalan Zaid hanya dapat dikomparasikan dengan materi yang sama, bukan dengan naskah kedua atau ketiga.18 Maka arti itu, sikap keras Abu Bakr, `Umar dan Zaid atas materi dari tangan pertama dengan dua orang saksi dimaksudkan agar memberi dukungan anggapan clan guna memberi jaminan ada status yang sama. Di dorong oleh semangat yang meluap dari para pelakunya proyek tersebut berkembang menjadi upaya sebenarnya yang dilakukan oleh masyarakat:

  • Kalifah Abu Bakr mengeluarkan undangan umum (atau seseorang dapat dianggap sebagai dekrit) guna memberi peluang pada setiap orang yang mampu untuk ikut berpartisipasi.
  • Proyek tersebut dilakukan di dalam masjid Nabi Muhammad, sebagai .pusat berkumpul.
  • Dalam memberi respons terhadap instruksi seorang khalifah, ‘Umar berdiri di depan pintu gerbang masjid mengumumkan pada setiap orang yang memiliki tulisan ayat Al-Qur’an yang dibacakan oleh Nabi Muhammad agar membawanya ke masjid. Bilal juga mengumumkan hal yang sama ke seluruh lorong jalan jalan di kota Madinah.

v. Zaid bin Thabit Memanfaatkan SumberHafalan Ini kelihatan jelas bahwa perhatian ditumpukan kepada ayat yang tertulis, sumber utama tulisan yang ditemukan-baik di atas kertas kulit, papan-papan kayu, atau daun-daun ( ) dst.-tidak hanya diverifikasi dengan hanya melalui tulisan-tulisan yang lainnya saja tetapi juga melalui hafalan para sahabat yang belajar langsung dari Nabi saw. Dengan meletakkan dasar-dasar persyaratan yang begitu ketat dalam penerimaan baik dari segi tulisan maupun hafalan, maka kesamaan status akan lebih terjamin. Dalam keadaan apa pun Zaid bin Thabit selalu merujuk pada hafalan orang lain: “Al-Qur’an saya kumpulkan dari berbagai bentuk kertas kulit, potongan tulang, dan dari dada para penghafal.” Dalam hal ini az-Zarakhasi memberi ulasan, Keterangan ini telah menyebabkan kalangan tertentu menganggap bahwa tak ada seorang pun yang hafal seluruh Al-Qur’an pada zaman kehidupan Nabi Muhammad. Melihat anggapan Zaid bin Thabit dan Ubayy bin Ka’b yang seperti itu, maka anggapan di atas tidak dapat dipertahankan dan, hal ini merupakan sebuah kekeliruan. Apa yang dimaksud Zaid pada dasarnya ia hanya mencari ayat-ayat tertulis dari berbagai sumber yang masih tercecer untuk dicocokkan dengan apa yang telah dihafal – para huffaz. Dengan cara demikian, tiap orang berpartisipasi dalam proses pengumpulan. Tak ada orang siapa pun yang memiliki sebagian ayat ke­mudian tak diikutsertakan. Demikian juga tak seorang pun memiliki alasan untuk menyatakan sikap prihatin tentang ayat-ayat yang dikum­pulkan dan tak seorang pun melakukan komplain bahwa naskah yang dikumpulkan hanya dari beberapa pilihan orang tertentu.19 Ibn Hajar memberi perhatian secara khusus terhadap keterangan yang diberikan Zaid, “Saya dapati dua ayat terakhir dalam Surah al-Bara’h hafalan ada pada Abu Khuzaima al-Ansari,” membuktikan bahwa tulisan yang ada pada Zaid serta hafalannya dianggap tidak mencukupi. Segala sesuatunya memerlukan pengesahan.20 Lebih lanjut In Hajar mengatakan, Abu Bakr tidak memberi wewenang padanya agar menulis kecuali apa yang telah tersedia dalam bentuk tulisan berupa kertas kulit. Itu adalah sebab utama Zaid tidak mau memasukkan ayat terakhir dari Sarah al­Bara’ah sebelum ia sampai dengan membawa bukti suatu ayat yang telah tertulis (dalam bentuk tulisan), kendati ia mempunyai banyak sahabat yang dengan mudah untuk dapat mengingat kembali secara tepat dari hafalan mereka. vi. Keaslian Al-Qur’an: Masalah Dua Ayat Terakhir Surah Bara’ah Kata-kata tawatur ( ) merupakan ungkapan umum dalam lexicon Islam. Misalnya, Al-Qur’an telah dialihkan melalui kata mutawatiratau naskah tertentu dibangun dengan sistem mutawatir. Kata tawatur ditujukan pada pengumpulan informasi dari berbagi sumber dan perbandingan di mana jika sebagian besar menyetujui suatu bacaan, maka hal yang demikian memberi keyakinan akan keaslian bacaan itu sendiri. Selama tidak ada kesepakatan ilmiah tentang jumlah saluran atau perorangan yang diperlukan dalam men­capai tingkat tawatur, masalah utamanya adalah bagaimana mendapatkan ketentuan mutlak dan persyaratan untuk mencapai tujuan ini boleh jadi berbeda menurut ruang, waktu, serta lingkungan yang ada. Para ilmuwan biasanya tetap berpegang pada pendapat bahwa sekurang-kurangnya mesti terdapat se­tengah lusin sumber riwayat yang lebih dikehendaki di mana dengan adanya jumlah yang lebih besar kemungkinan pemalsuan akan semakin mengecil dan lebih rumit. Kembali pada Sarah al-Bara’ah, di , mana dua ayat terakhir diberi pengesahan dan dimasukkan ke dalam mushaf, semata-mata berdasar atas kulit kertas dari Khuzaimah (serta saksi-saksi yang jadi kemestian), yang diperkuat dengan hafalan Zaid bin Thabit dan beberapa huffaz lainnya. Akan tetapi dalam hal kualitas sebagai kitab Al-Qur’an, bagaimana kita dapat menerima satu naskah kulit kertas dan beberapa hafalan para sahabat sebagai alasan tawatur yang dapat diterima? Anggaplah, jika dalam ruangan kelas berukuran kecil di depan dua atau tiga mahasiswa seorang guru besar membaca sebuah sya’ir pendek dari hafalannya dan setelah itu langsung tiap orang menanyakan beberapa mahasiswa tentang itu. Jika bacaan mereka sama, maka, kita memiliki kepastian secara mutlak bahwa hal itu seperti apa yang diajarkan sang guru besar. Sama juga halnya dengan ayat-ayat atau sumber-sumber yang ditulis dan dihafal, dengan syarat tidak ada kolusi di antara mereka (pemain), dan ini apa yang saya gambarkan secara empiris dalam kelas tadi. Begitu juga dengan masalah Surah al-Bara’ah di mana tidak ada perselisihan tentang sumber­sumber yang ada, walaupun ada perselisihan itu relatif sangat kecil, men­jadikan dasar yang cukup memadai untuk kepastian. Dan guna meng-counter kekhawatiran konspirasi terdapat argumentasi logis: kedua ayat tersebut tidak memiliki sesuatu yang baru secara teologis, tidak membicarakan tentang sebuah pemujaan famili tertentu, dan tidak pula memberi informasi tentang sesuatu yang tak terdapat dalam Al-Qur’an. Adanya konspirasi menciptakan ayat-ayat seperti itu sangat tidak masuk akal karena tidak ada kepentingan yang tampak yang mungkin lahir dari upaya pemalsuan.22 Dalam suasana seperti ini di mana Allah swt. secara pribadi menjamin sikap kejujuran para sahabat terhadap Kitab Suci-Nya, maka kita dapat menarik kesimpulan akan adanya tawatur yang cukup dalam menentukan keputusan akhir ayat-ayat tersebut. vii. Penyimpanan Suhuf dalam Arsip Kenegaraan Setelah tugas terselesaikan, kompilasi Al-Qur’an disimpan dalam arsip kenegaraan di bawah pengawasan Abu Bakr.23 Kontribusinya seperti yang kita dapat simpulkan adalah penyatuan fragmentasi Al-Qur’an dari sumber pertama, kemudian ia menjelajah ke seluruh kota Madinah dan menyusunnya untuk transkripsi penulisan ke dalam satu jilid besar (master volume). Kompilasi ini disebut dengan istilah suhuf. la merupakan kata jamak suhuf ( : secara literal artinya, keping atau kertas) dan saya percaya ini mempunyai arti yang berbeda dengan kata tunggal Mushaf yang sekarang menunjukkan sebuah naskah tulisan Al-Qur’an). Sebagai kesimpulan, segala upaya Zaid adalah penyusunan semua surah dan ayat secara tepat, dan kemungkinan besar sebagai seorang putra Madinah dia menggunakan script dan ejaan Madinah yang umum atau konvensional (Tetapi tampaknya ukuran kepingan-kepingan kertas yang digunakan untuk menulis Al-Qur’an tidak sama sehingga menjadikan tumpukan kertas itu tidak tersusun rapi. Oleh karena itu, dinamakan Suhuf Hanya lima belas tahun kemudian, saat Kalifah ‘Uthman berupaya mengirim naskah­naskah Al-Qur’an ke pelbagai wilayah kekuasaan umat Islam dari hasil kemenangan militer telah memperkuat tersedianya kertas kulit bermutu tinggi dan ia mampu memproduksi kitab Al-Qur’an dalam ukuran kertas yang sama yang kemudian lebih dikenal sebagai Mushafs. 2. Peranan `Umar dalam Pengenalan Kitab Suci AI-Qur’an Dengan menunjuk ‘Umar sebagai penerus khalifah, setelah Abu Bakr wafat di atas tempat tidur, sebelumnya dia telah memberi kepercayaan terhadap penerusnya tentang mushaf-mushaf yang ada.24 Di samping adanya berbagai kemenangan dalam pertempuran yang menentukan, ‘kekuasaan ‘Umar diwarnai pengembangan Al-Qur’an secara pesat melintasi batas semenanjung Arab. Beliau mengutus sekurang-kurangnya sepuluh sahabat ke Basra guna mengajarkan Al-Qur’an,25 demikian pula ia mengutus Ibn Mas’ud ke Kufa.’26 Ketika ‘Umar diberitahukan tentang adanya orang lain di Kufa yang men­diktekan Al-Qur’an pada masyarakat melalui hafalan, ‘Umar naik pitam seperti kegilaan. Saat menemukan orang tersebut yang tidak lain adalah Ibn Mas’ud, beliau ingat akan kemampuannya, kemudian merasa tenang dan dapat me­redam kembali sikap emosinya. Berita penting lainnya adalah mengenai pengenalan ajaran Al-Qur’an di Suriah. Yazid bin Abu Sufyan, penguasa Suriah, mengadukan masalah pada ‘Umar tentang orang-orang Muslim yang memerlukan pendidikan Al-Qur’an dan juga keislaman. la mendesak agar ‘Umar dapat mengutus para dosen, kemudian ‘Umar memilih tiga orang sahabat melakukan tugas tersebut yang masing-masing terdiri dari Mu’adh, ‘Ubada, dan Abu Darda. ‘Umar meminta mereka untuk terus menuju Hams yang setelah mencapai tujuan, salah satu dari mereka agar pergi ke Damaskus dan tempat lain di Palestina. Saat penduduk setempat merasa puas dengan tugasnya di Hims, Abu ad-Darda’ meneruskan perjalanan ke Damaskus, sedangkan Mu’adh ke Palestina dengan meninggalkan ‘Ubada di belakang. Mu’adh meninggal dunia setelah itu dan Abu ad­ Darda’ tinggal di Damaskus beberapa waktu lamanya dan dapat membuat halaqah yang sangat masyhur dengan mahasiswa asuhannya melebihi 1600 orang.27 Dengan membagi murid-murid ke dalam sepuluh kelompok, ia menugaskan seorang instruktur secara terpisah pada tiap kelompok dan melakukan inspeksi keliling dalam memantau kemajuan mereka. Bagi mereka yang telah lulus tingkat dasar, dapat mengikuti bimbingan langsung beliau agar murid yang lebih tinggi tingkatnya merasa lebih terhormat belajar bersama Abu ad-Darda’ dan berfungsi sebagai guru tingkat menengah.28 Metode yang sama dipraktikkan di tempat lain, Abu Raja’ al-Ataradi menyatakan bahwa Abu Musa al-Ash’ari membagikan murid-murid ke beberapa kelompok di dalam Masjid Basra,29 dalam bimbingannya yang hampir mencapai 300 orang.30 Di ibu kota, `Umar mengutus Yazid bin ‘Abdullah bin Qusait untuk mengajar AI-Qur’an di kalangan orang Badui,31 dan melantik Abu Sufyan sebagai inspektur untuk suku mereka agar mengetahui sejauh mana mereka sudah belajar.32 Dia juga menunjuk tiga sahabat yang lainnya di Madinah untuk mengajar anak-anak dengan setiap orangnya digaji lima belas dirham per bulan,33 dan setiap murid (termasuk orang dewasa) dinasihati untuk diajarkan lima ayat yang mudah.34 Setelah ditikam oleh Abu Lu’lua (seorang hamba sahaya Kristen dari Persia)35 di akhir tahun 23 hijrah, `Umar menolak untuk menunjuk seorang khalifah, dan membiarkannya kepada masyarakat untuk memilihnya dan pada waktu itu Suhuf diamanahkan kepada Hafsa, mantan istri Nabi Muhammad saw.. 3. Kesimpulan Pengabdian Abu Bakr sendiri terhadap AI-Qur’an sangat mengagumkan, dia sangat memperhatikan instruksinya tentang dua saksi untuk membangun otentisitas,36 dan mempraktikkan peraturan ini dalam kompilasi AI-Qur’an itu sendiri. Walhasil, walaupun ditulis di atas kertas yang tidak sempurna dan berbeda ukuran, ini telah menunjukkan keikhlasan dalam usahanya semampu mungkin untuk memelihara Al-Qur’an (kalamullah). Kemenangan yang berarti melebihi batas padang pasir Arab mendorong kemajuan pendidikan Islam sampai ke Palestina dan Suriah; Pemerintahan ‘Umar telah mengembangkan sekolah-sekolah untuk menghafal Al-Qur’an di dua negeri padang pasir kering dan tanah bulan sabit yang subur dan kaya. Tetapi perhatian pada zaman khalifah ‘Uthman clan usaha-usaha Zaid bin Thabit sebagai orang yang memulai mengkompilasikan Al-Qur’an dan tidak berhenti dengan wafatnya Abu Bakr. @@13@@BAB 7 : MUSHAF ‘UTHMANI The History of The Qur’anic Text  hal 97 – 105 Selama pemerintahan `Uthman, yang dipilih oleh masyarakat melalui bai’ah () yang amat terkenal sebagai khalifah ketiga, umat Islam sibuk melibatkan diri di medan jihad yang membawa Islam ke utara sampai ke Azerbaijan dan Armenia. Berangkat dari suku kabilah dan provinsi yang beragam, sejak awal para pasukan tempur memiliki dialek yang berlainan dan Nabi Muhammad , di luar kemestian, telah mengajar mereka membaca AI-Qur’an dalam dialek masing-masing, karena dirasa sulit untuk meninggalkan dialeknya secara spontan. Akan tetapi sebagai akibat adanya perbedaan dalam menyebutkan huruf Al-Qur’an mulai menampakkan kerancuan dan perselisihan dalam masyarakat. 1. Sikap ‘Uthman terhadap Perselisihan Bacaan Hudhaifa bin al-Yaman dari perbatasan Azerbaijan dan Armenia, yang telah menyatukan kekuatan perang Irak dengan pasukan perang Suriah, pergi menemui ‘uthman, setelah melihat perbedaan di kalangan umat Islam di beberapa wilayah dalam membaca Al-Qur’an-Perbedaan yang dapat mengan­cam lahimya perpecahan. “Oh khalifah, dia menasihati, ‘Ambillah tindakan untuk umat ini sebelum berselisih tentang kitab mereka seperti orang Kristen dan Yahudi.’ “1 Adanya perbedaan dalam bacaan Al-Qur’an sebenarnya bukan barang baru sebab ‘umar sudah mengantisipasi bahaya perbedaan ini sejak zaman pemerintahannya. Dengan mengutus Ibn Mas’ud ke Irak, setelah ‘umar diberitahukan bahwa dia mengajarkan AI-Qur’an dalam dialek Hudhail2 (sebagaimana Ibn Mas’ud mempelajarinya), dan ‘umar tampak naik pitam: AI-Qur’an telah diturunkan dalam dialek Quraish ( ), maka ajarkanlah menggunakan dialek Quraish, bukan menggunakan dialek Hudhail.3 Dalam masalah ini komentar Ibn Hajar dirasa sangat penting. “Bagi kalangan umat Islam bukan Arab yang ingin membaca Al-Qur’an,” katanya. “pilihan bacaan yang paling tepat adalah berdasarkan dialek Quraishi (  ). Sesungguhnya dialek Quraish merupakan pilihan terbaik bagi kalangan Muslim bukan Arab (sebagaimana semua dialek Arab sama susahnya bagi Mereka).4 Hudhaifa bin al-Yaman mengingatkan khalifah pada tahun 25 H dan pada tahun itu juga ‘Uthman menyelesaikan masalah perbedaan yang ada sampai tuntas. Beliau mengumpulkan umat Islam dan menerangkan masalah perbedaan dalam bacaan AI-Qur’an sekaligus meminta pendapat mereka tentang bacaan dalam beberapa dialek, walaupun beliau sadar bahwa beberapa orang akan menganggap bahwa dialek tertentu lebih unggul sesuai dengan afliasi kesukuan.5 Ketika ditanya pendapatnya sendiri beliau menjawab (sebagaimana diceritakan oleh ‘Ali bin Abi Talib), “Saya tahu bahwa kita ingin menyatukan manusia (umat Islam) pada satu Mushaf (dengan satu dialek) oleh sebab itu tidak akan ada perbedaan dan perselisihan” dan kami menyatakan “sebagai usulan yang sangat baik).”6 Terdapat dua riwayat tentang bagaimana ‘uthman melakukan tugas ini. Sam di antaranya (yang lebih masyhur) beliau membuat naskah mushaf semata-mata berdasarkan kepada Suhuf yang disimpan di bawah penjagaan Hafsa, bekas istri Nabi Muhammad saw. riwayat kedua yang tidak begitu terkenal menyatakan, ‘uthman terlebih dahulu memberi wewenang pengum­pulan Mushaf dengan menggunakan sumber mana, sebelum membandingkannya dengan Suhuf yang sudah ada. Kedua-dua versi riwayat sepaham bahwa Suhuf yang ada pada Hafsa memainkan peranan penting dalam pembuatan Mushaf ‘Uthmani. 2. ‘Uthman Menyiapkan Mushaf Langsung dari Suhuf Berdasarkan pada riwayat pertama `Uthman memutuskan berupaya dengan sungguh-sungguh untuk melacak Suhuf dari Hafsa, mempercepat menyusun penulisan, dan memperbanyak naskah. AI-Bara’ meriwayatkan, Kemudian ‘Uthntan mengirim surat kepada Hafsa yang menyatakan. “Kirimkanlah Suhuf kepada kami agar kami dapat membuat naskah yang sempurna dan kemudian Suhuf akan kami kembalikan kepada anda.” Hafsa lalu mengirimkannya kepada ‘Uthman, yang memerintahkan Zaid bin Thabit, `Abdullah bin az-Zubair, Sa’id bin al-‘As, dan ‘Abdur­Rahman bin al-Harith bin Hisham agar memperbanyak salinan (duplicate) naskah. Beliau memberitahukan kepada tiga orang Quraishi, “Kalau kalian tidak setuju dengan Zaid bin Thabit perihal apa saja mengenai Al-Qur’an, tulislah dalam dialek Quraish sebagaimana AI­Qur’an telah diturunkan dalam logat mereka.” Kemudian mereka berbuat demikian, dan ketika mereka selesai membuat beberapa salinan naskah `Uthman mengembalikan Suhuf itu kepada Hafsa…7 3. ‘Uthman Membuat Naskah Mushaf Tersendiri i. Pelantikan Sebuah Panitia yang Terdiri dari Dua belas Orang untuk Mengawasi Tugas Ini Riwayat kedua adalah pendapat yang agak rumit dan kompleks. Ibn Sirin, (w. 110 H.) meriwayatkan, Ketika ‘Uthman memutuskan untuk menyatukan Al-Qur’an, dia mengumpulkan panitia yang terdiri dari dua belas orang dari kedua-dua suku Quraish dan Ansar. Di antara mereka adalah Ubayy bin Ka’b dan Zaid bin Thabit.8 Identitas dua betas orang ini bisa dilacak melalui beberapa sumber. AI­Mu’arrij as-Sadusi menyatakan, “Mushaf yang baru disiapkan diperlihatkan pada (1) Sa’id bin al-‘As bin Sa’id bin al-‘As untuk dibaca ulang;”9 dia menambahkan (2) Nafi’ bin Zubair bin `Amr bin Naufal.10 Yang lain termasuk (3) Zaid bin Thabit, (4) Ubayy bin Ka’b, (5) ‘Abdullah bin az-Zubair, (6) ‘Abrur-Rahman bin Hisham, dan (7) Kathir bin Aflah.11 Ibn Hajar menyebutkan beberapa nama lain: (8) Anas bin Malik, (9) ‘ Abdullah bin ‘Abbas, dan (10) Malik bin Abi ‘Amir.12 Dan al-Baqillani menyebutkan selebihnya (11) ‘Abdullah bin `Umar, dan (12) `Abdullah bin ‘Amr bin al-‘As.13 ii. Penyusunan Sebuah Naskah Sendiri (Otonom) ‘Uthman memercayakan pada dua belas orang di atas tadi untuk mengurusi tugas ini dengan mengumpulkan dan menabulasikan AI-Qur’an, yang ditulis di atas kertas kulit pada zaman Nabi Muhammad   Sejarawan ulung, Ibn `Asakir (w. 571 H.) menyebutkan dalam bukunya History of Damascus (sejarah Damaskus): Dalam ceramahnya ‘Uthman mengatakan, “Orang-orang telah berbeda dalam bacaan mereka, dan saya menganjurkan kepada siapa saja yang memiliki ayat-ayat yang dituliskan di hadapan Nabi Muhammad   14 hendaklah diserahkan kepadaku.” Maka orang-orang pun menyerahkan ayat-ayatnya, yang ditulis diatas kertas kulit dan tulang serta daun-daun, dan siapa saja yang menyumbang memperbanyak kertas naskah, mula­mula akan ditanya oleh `Uthman, “Apakah kamu belajar ayat-ayat ini (seperti dibacakan) langsung dari Nabi sendiri?” Semua penyumbang menjawab disertai sumpah,15 dan semua bahan yang dikumpulkan telah diberi tanda atau nama satu per satu yang kemudian diserahkan pada Zaid bin Thabit.16 Malik bin AN ‘Amir mengaitkan, Saya salah seorang dari mereka yang menulis Mushaf (dari sumber yang tertulis), dan jika ada kontroversi mengenai ayat-ayat tertentu mereka akan bertanya, “Dari mana si penulis (di kertas kulit ini)? Bagaimana Nahi Muhammad   mengajar dia tentang ayat ini secara tepat?” Dan mereka akan meringkas tulisan, dan meninggalkan sebagian tempat kosong dan mengirimkannya kepada orang itu disertai pertanyaan untuk mengklarifikasi tulisannya.17 Oleh karena itu, naskah Mushaf independen itu muncul secara bertahap, dengan ke dua belas orang itu mengesampingkan semua ayat yang tidak pasti dalam ejaan konvensional, agar supaya ‘Uthman dapat melihatnya secara pribadi.18 Abu `Ubaid mencatat beberapa masalah yang ada. Salah satu yang tidak pasti contohnya dalam hal ejaan at-tabut, di mana menggunakan `t’ terbuka (maftuhah) ( ) atau tertutup (marbutah) (). Hani al-Barbari, seorang langganan ‘Uthman, meriwayatkan: Saya bersama ‘Uthman tatkala panitia sedang sibuk membanding­bandingkan Mushaf. Dia mengutus saya agar menemui Ubayy bin Ka’b dengan tulang balm kambing yang bertulisan tiga kata yang berbeda dari tiga stirah yang berbeda-beda (masing-masing dari 2:259, 30:30, dan 86:17), memintanya agar mengecek kembali ejaan-ejaannya. Lalu Ubayy menuliskannya (dengan ejaan yang sudah diubah). iii. ‘Uthman Mengambil Suhuf dari ‘A’ishah Sebagai Perbandingan ‘Umar bin Shabba, meriwayatkan melalui Sawwar bin Shabib, melaporkan: Saya masuk ke kelompok kecil untuk bertemu dengan Ibn az-Zubair, lalu saya menanyakan kepadanya kenapa ‘Uthman memusnahkan semua naskah kuno AI-Qur,an…. Dia menjawab, “Pada zaman pemerintahan ‘Umar ada pembual bicara yang telah mendekati Khalifah memberitahukan kepadanya bahwa orang-orang telah berbeda dalam membaca AI-Qur’an. ‘Umar  menyelesaikan masalah ini dengan mengumpulknn semua salinan naskah AI-Qur’an dan menyamakan bacaan mereka, tetapi menderita yang sangat fatal akibat tikaman maut sebelum beliau dapat melakukan upaya lebih lanjut. Pada zaman pemerintahan ‘Uthman orang yang sama datang untuk mengingatkannya masalah yang sama di mana kemudian ‘Uthman memerintahkan untuk membuat Mushaf tersendiri (independent). Lalu dia mengutus saya menemui bekas istri Nabi Muhammad %%% , ‘A’ishah, agar mengambil kertas kulit (suhuf) yang Nabi Muhammad %%% sendiri telah mendiktekan keseluruhan Al-Qur’an. Mushaf yang dikumpulkan secara independent kemudian di dibandingkan dengan Suhuf ini, dan setelah melakukan koreksi terhadap kesalahan-kesalahan yang ada, kemudian ia menyuruh agar semua salinan naskah Al-Qur’an dimusnahkan.23 Walaupun riwayat ini dianggap lemah menurut ukuran para ahli hadith (traditionist), tapi ada gunanya dalam menyebutkan riwayat ini yang mene­rangkan pengambilan Suhuf yang ada di bawah pengawasan atau penjagaan ‘A’ishah.24 Riwayat di bawah ini bagaimanapun menguatkan riwayat sebelumnya. Ibn Shabba meriwayatkan dari ‘Harun bin ‘Umar, yang mengaitkan bahwa, Ketika ‘Uthman hendak membuat salinan (naskah) resmi, dia meminta ‘A’ishah agar mengirimkan kepadanya kertas kulit (Suhuf) yang dibacakan oleh Nabi Muhammad %%%. yang disimpan di rumahnya. Kemudian dia menyuruh Zaid bin Thabit membetulkan sebagaimana mestinya, pada waktu itu beliau merasa sibuk dan ingin mencurahkan waktunya mengurus masyarakat dan membuat ketentuan hukum sesama mereka.25 Begitu juga [bn Ushta (w. 360 H./ 971 M.) melaporkan di dalam al­ Masahif, dalam penyelesaian masalah pembuatan naskah AI-Qur an tersendiri dengan menggunakan sumber utama, ‘Uthman mengutus seseorang ke rumah ‘A’ishah agar mengambil Suhuf Dalam usaha ini beberapa kesalahan telah terjadi dalam Mushaf yang kemudian ditashih sebagaimana mestinya.26 Dan riwayat-riwayat ini kita tahu bahwa ‘Uthman menyiapkan salinan Mushaf independent berdasarkan secara keseluruhannya pada sumber-sumber primer termasuk tulisan-tulisan sahabat ditambah dengan Suhuf dari ‘A’ishah.27 iv. ‘Uthman Mengambil Suhuf dari Hafsa Guna MelakukanVerifikasi Ibn Shabba melaporkan, Zaid bin Thabit berkata, “Ketika saya melakukan revisi Mushaf ‘Uthmani (Mushaf yang dibuat sendiri) saya temukan kekurangan satu ayat  kemudian saya mencarinya di kalangan kaum Muhajirin dan Ansar (Karena mereka itu yang menulis AI-Qur’an pada zaman Nabi Muhammad saw.), sehingga saya mendapatkannya dari Khuzaimah bin Thabit al-Ansari. Kemudian saya menuliskannya… Lalu saya merevisinya sekali lagi dan tidak menemukan sesuatu (yang meragukan). `Uthman kemudian mengutus menemui Hafsah minta agar meminjamkan Suhuf yang dipercayakan pada dirinya; Hafsah lalu memberikan setelah `Uthman berjanji pasti atau bernazar hendak mengembalikan. Dalam perbandingan kedua ayat ini, saya tidak melihat adanya perbedaan. Kemudian saya kembalikan pada ‘Uthman dan penuh kegembiraan, dia menyuruh orang-orang membuat duplikat naskah dari Mushaf itu.” Jadi pada waktu itu naskah yang dibuat sendiri (independen) telah dibandingkan dengan Suhuf resmi yang sejak semula ada pada Hafsah. Seseorang bisa jadi keheran-heranan mengapa khalifah ‘Uthman bersusah payah mengumpulkan naskah tersendiri (otonom) sedang akhimya juga dibandingkan dengan Suhuf juga. Alasannya yang paling mendekati kemungkinan barangkali sekadar upaya simbolik. Satu dasawarsa sebelumnya ribuan sahabat, yang sibuk berperang melawan orang-orang murtad di Yamamah dan di tempat lainnya, tidak bisa berpartisipasi dalam kompilasi Suhuf Untuk menarik lebih banyak kompilasi bahan-bahan tulisan, naskah ‘Uthman tersendiri (independen) memberi kesempatan kepada sahabat yang masih hidup untuk melakukan usaha yang penting ini. Dalam keterangan di atas, tidak terdapat inkonsistensi di antara Suhuf dan Mushaf tersendiri (independen), dan dari dua kesimpulan yang luas ini terdapat: pertama, sejak awal teks AI-Qur’an sudah benar-benar kukuh dan tidak cair (sebagaimana sementara menuduh) dan rapuh sehingga abad ketiga; dan kedua, Metodologi yang dipakai dalam kompilasi AI-Qur’an pada zaman kedua pemerintahan sangat tepat dan akurat. 1. AI-Bukhari, Sahih, hadith no. 4987; Abu ‘Ubaid, FadA’il, hlm. 282. terdapat banyak lagi laporan tentang masalah ini. 2. Salah satu suku mayoritas di daratan Arabia pada zaman itu. 3. Ibn Hajar, Fathul Bari, ix: 9, Kutipan Abu Dawud 4. lbid, ix: 27 5. Lihat Abi Dawud, al -Masahif, hlm. 22. Dalam kejadian ini banyak perbedaan pendapar telah diberikan dalam menentukan tahun yang sebenar dari tahun 25-30 Hijrah. Saya mengadopsi pendirian Ibn Hajar. Lihat as Suyuti, al-Itqan, I : 170. 6. Ibn Abi Dawud, al-Magahif, hlm. 22. Lihat juga Ibn Hajar, Farhul Bari, x: 402. 7. Ibn Hajar, Fathul Bari, ix: ii, hadith no. 4987; Ibn Abi Dawud, al-Masahif, hlm. 19-20; Abu ‘Ubaid, Fada’il, hlm. 282 8. Ibn Sa’d, Tabaqat, iii/2:62. perlu dicatat bahwa Ibn Sirin menggunakan kata (mengumpulkan). 9. AI-Mu’arrij as-Sadusi, Kitab Hadhfin min Nasb Quraish, hlm. 35. 10. Ibid,hlm 42. 11. Ibn Abi Dawud, al-Masahif, hlm. 20, 25-26. 12. lbn Hajar, Fathur Bari, ix 19. 13. AI-Baqillani, al-Intisar (ringkasan), hlm. 358. 14. Penjelasan yang cukup detail tentang salah satu Mushaf pribadi (lihat hlm. 100-2) yang mengemukakan bahwa kedua belas orang tersebut terbagi kepada Iebih dari satu kelompok, yang setiap dari mereka membaca (mendiktekan) dan bekerja secara independen. 15. Ibn Manzur, Mukhtasr Tarikh Dimashq, xvi: 17l-2; lihat juga Ibn Abi Dawud, al-Masahif, hlm. 23-24. 16. A. Jeffery (Penyunting), Muqaddimatan, hlm. 22. Tanda (seperti nama penulis) mungkin bisa disimpulkan dari pernyataan Malik di kutipan selanjutnya. 17. Ibn Abi Dawud, al-Masahif, hlm. 21-22 18. Ibn Abi Dawud, al-Masahif, hlm. 19, 25. 19. Qur’an 2:259. 20. Qur’an 30:30 21. Qur’an 86:17 22. Abu ‘ Ubaid, Fada’il, hlm. 286-7. 23. Ibn Shabba, Tarikh al-Madinah, hlm. 990-991; lihat juga as-Suyuti, al-Itqan, ii:272, Mengutip buku Ibn Ushta, al-Masahif. 24. Salah satu perawi di riwayat ini sangat rendah reputasinya ( %%% : matruk). 25. Hat Shabba, Tarikh al-Madinah, hlm. 997 26. As-Suyuti, al-Itqan, ii: 272 27. Ini boleh disimpulkan dalam hadith berikut ini yang diriwayatkan oleh al-Bukhari, @@14@@BAB 7 : MUSHAF ‘UTHMANI The History of The Qur’anic Text  hal 105 – 110 4. Penentuan dan Pendistribusian Mushaf ‘Uthmani i. Naskah Terakhir Dibacakan di Depan Para Sahabat Suhuf yang dariHafsa, lalu,“dibacakan kepada sahabat di depan ‘Uthman.”29 Dengan selesainya pembacaan itu, dia mengirimkan duplikat naskah Mushaf untuk disebar luaskan ke seluruh wilayah negara Islam. Perintah ‘Uthman yang umum kepada orang­orang “Tulislah Mushaf” terkesan bahwa dia menghendaki para sahabat mem’buat duplikat naskah Mushaf untuk kegunaan mereka masing-masing. ii. Jumlah Naskah Mushaf yang Telah disahkan Berapakah banyak Naskah yang telah dibagi-bagikan oleh ‘Uthman? Menurut beberapa laporan, ada empat: Kufah, Basra, dan Suriah, yang satu lagi disimpan di Madinah; Riwayat lain menambahkan Mekah, Yaman dan Bahrain. Ad-Dani lebih cenderung menerima laporan (riwayat) pertama.30 Profesor Shauqi Daif percaya bahwa delapan naskah telah dibuat, karena ‘Uthman mengambil satu untuk din sendiri.31 Untuk menguatkan pendapat ini, kita tahu bahwa Khalid bin Ilyas telah membuat perbandingan antara Mushaf yang disimpan ‘Uthman dan yang disediakan untuk Madinah,32 oleh karena itu, delapan tempat untuk naskah mushaf kelihatannya lebih masuk akal. AI­Ya’qubi, seorang sejarawan Syi’ah, berkata bahwa ‘Uthman mengirim Mushaf ke Kufah, Basra, Madinah, Mekah, Mesir, Suriah, Bahrain, Yaman, dan al­Jazirah, kesemuanya itu adalah sembilan.33 Ini sebagai bukti bahwa selama proses penyiapan naskah Mushaf ini, beberapa orang menulis beberapa naskah lagi untuk kegunaan mereka masing-masing. Studi tentang salah satu naskah yang tidak resmi akan dipaparkan pada halaman 100-2 (tlg. sesuaikan) iii. ‘Uthman Membakar Seluruh Manuskrip yang Lain Dengan selesainya tugas ini, tinta di atas naskah terakhir telah kering, dan duplikat naskah pun telah dikirimkan, maka tidak dirasa perlu lagi adanya fragmentasi tulisan Al-Qur’an bergulir di tangan orang-orang. Oleh karena itu, semua pecahan tulisan (fragmentasl) Al-Qur’an telah dibakar. Mus’ab bin Sa’d menyatakan bahwa masyarakat dapat menerima keputusan ‘Uthman; setidak­nya tak terdengar kata-kata keberatan.34 Riwayat lain mengukuhkan kesepakatan ini, termasuk Ali bin Abi Talib berkata, iv. ‘Uthman Mengirim Pembaca Al-Qur’an dilengkapi DenganMushaf Tiada naskah yang dikirim tanpa seorang qari’ (Pembaca). Ini termasuk Zaid bin Thabit ke Madinah, ‘Abdullah bin as-Sa’ib ke Makkah, al­ Mughirah bin Shihab ke Suriah, ‘Amir bin ‘Abd Qais ke Basra dan Abu ‘Abdur-Rahman as-Sulami ke Kufah. ‘Abdul-Fattah “Setiap ilmuwan (‘ulama’) ini membacakan kepada masyarakat kota masing-masing menurut tata cara seperti apa yang mereka pelajari secara autentik, bermacam-macam riwayat sampai ke Nabi Muhammad , sehingga riwayat-riwayat yang ada satu dengan lainnya sama dan sesuai dengan kerangka konsonan Mushaf. Cara bacaan yang sampai hanya melalui satu jalur (atau mencakup ayat-ayat yang telah dimansukh sewaktu Nabi Muhammad   masih hidup) kesemuanya dihilangkan atau dikesampingkan. Pengiriman para pembaca dilengkapi dengan Mushaf berarti membatasi kemungkinan-kemungkinan bahwa yang sesuai dengan skrip konsonan (yang diakui) hanya terbatas pada hal-hal yang telah dinyatakan autentik dan mendapat pengukuhan atau pengakuan … Pengiriman seorang ulama dengan sebuah Mushaf oleh karenanya, menerangkan bahwa bacaan yang betul adalah berdasarkan sistem belajar secara langsung dengan guru yang jalur transmisinya sampai ke Nabi Muhammad , tidak hanya tergantung kepada skrip atau ejaan yang umum dipakai.”37al-Qadi berkata: Naskah Mushaf `Uthmani yang terdahulu hanya terdapat huruf-huruf konsonan (karakter), tidak ada huruf vokal (baris) dan titik,38 seperti digambarkan pada gambar 7.1 diambil dari salah satu Mushaf yang ditulis dalam skrip Hejazi.39 Naskah ini bisa dibaca salah dalam berbagai macam cara.40 Di dalam melakukan pengumpulan yang kedua, tujuan pertama ‘Uthman adalah ingin menutup semua celah-celah perbedaan dalam bacaan Al-Qur’an; hanya dengan mengirim Mushaf atau mengirimkannya sekalian dengan seorang pembaca akan memberikan kebebasan juga untuk menggunakan satu cara bacaan, yang akhirnya bertentangan dengan penyatuan yang dikehendaki oleh ‘Uthman di dalam masyarakat. Oleh karena itu, adanya kesatuan secara total yang ada pada teks AI-Qur’an di seluruh dunia selama empat belas abad, di pelbagai negara dengan warna-warni sekte yang ada, merupakan bukti keberhasilan ‘Uthman yang tak mungkin tersaingi oleh siapa pun dalam menyatukan umat Islam pada satu teks. Gambar 7.1: Contoh Mushaf terdahulu yang ditulis dalam skrip Hejazi. Perlu dicatat tidak ada kerangka titik. Kehormatan Museum Arsip Negara Yaman. v. Perintah ‘Uthman dengan Mushaf yang Dikirimkan 1. ‘Uthman memerintahkan agar semua Mushaf milik pribadi yang berbeda dengan Mushaf miliknya harus dibakar, jika gagal dalam menghapuskan Mushaf-Mushaf ini maka akan dapat memicu munculnya perselisihan kembali. Anas bin Malik melaporkan,

Mengirimkan setiap pasukan tentara Muslim dengan satu Mushaf, lalu ‘Uthman menginstruksikan mereka agar membakar semua naskah Mushaf yang berbeda dengan Mushafnya (‘Uthmani).

Pernyataan Anas hanya merupakan satu skenario dari sekian banyak yang lain. Menurut riwayat lain, `Uthman memerintahkan untuk membakar atau merobek-robek semua naskah yang terdahulu.42 Dalam riwayat lain, dengan menghapus tintanya. Abu Qilaba menyatakan, “‘Uthman menulis surat ke setiap pusat (center), ‘Saya… telah menghapus apa yang saya miliki (naskah), sekarang hapuslah kepunyaan kalian’.”43 Suatu ketika, satu delegasi dari Irak pergi menuju Madinah dan mengunjungi anak Ubayy, untuk memberitahukan bahwa mereka berjalan dengan susah payah hanya untuk melihat Mushaf Ubayy. Dia menjawab bahwa ‘Uthman sudah mengambilnya. Dia pikir mungkin dia enggan menjawab, lalu mereka bertanya lagi dan temyata dia mengulangi jawaban yang sama.44 Ibn Hajar berkata walaupun sebagian besar laporan menggunakan kata at-tahriq ( : bakar), semua kemungkinan harus dipertimbangkan. Nasib setiap pecahan tulisan naskah tergantung kepada tiap individu yang memiliki: apakah hendak di hapus, dibakar, atau dirobek-robek.45 Saya percaya ada kemungkinan lain. Beberapa orang mungkin memilih untuk membandingkan Mushaf pribadi mereka dengan Mushaf ‘Uthmani dan, saat terlihat adanya perbedaan, mereka mengubahnya. Pemyataan ‘Abdul-A’la bin Hakam al-Kitabi memberi ciri-ciri seperti berikut ini,. “Ketika masuk ke rumah Abu Musa al-Ash’ari, saya menjumpai dia ditemani oleh Hudaifa bin al-Yamn sedang ‘Abdullah bin Mas’ud di atas lantai… Mereka berkumpul mengelilingi Mushaf yang dikirim oleh ‘Uthman, dengan membawa Mushaf mereka masing-masing secara teratur untuk membetulkannya berdasarkan kepada Mushaf `Uthmani. Abu Musa berkata kepada mereka, ‘Apa saja yang kamu dapat dalam Mushaf saya dan terdapat pada Mushaf `Uthmani (tambahan), maka jangan dibuang, dan jika anda jumpai ada yang tertinggal dari Mushaf saya, maka tuliskanlah.”46 2. Perintah kedua `Uthman adalah agar tidak membaca sesuatu yang bertentangan dengan skrip Mushaf ‘Uthmani. Kesepakatan sebagian besar (unanimous) untuk mengubah semua naskah telah melahirkan skrip dan ejaan Mushaf ‘Uthmani sebagai standard baru; dan sejak saat itu setiap Muslim yang belajar Al-Qur’an harus sesuai dengan teks Mushaf ‘Uthmani. Apabila ada orang yang belajar bertentangan dengan Mushaf ‘Uthmani, maka dia tidak boleh membaca atau mengajarkannya dengan cara yang berbeda.47 Jadi apa yang dia bisa lakukan? Solusi yang paling mudah, dia menghadiri group pembaca yang resmi, untuk mempelajari AI-Qur’an berdasarkan kepada kondisi yang telah disediakan dan mendapatkan hak keistimewaan untuk mengajar dan membaca. Kesuksesan ‘Uthman yang tidak ada bandingannya dalam masalah ini adalah bukti positif bahwa upaya yang dilakukan telah memperharum suara masyarakat. ———-=— 29. Ibn Kathir, Fada’il, vii: 450. 30. Ad-Dani, al-Muqni, hlm. 9; lihat juga Ibn Kathir (yang cenderung tujuh), Fada’il, vii: 445. 31. Shauqi Daif, Kitab as-Sab’a of lbn Mujahid, pendahuluan, hlm. 7. 32. Lihal hIm.110-112. 33. Al-Ya’qubi, Tarikh, ii: 170 34. Abu ‘Ubaid, Fada’il, hlm. 284; ad-Dani, al-Muqni’, hlm. 18. 35. Ibn Abi Dawud, al-Masahif, hlm. 22; lihat juga hlm. 12, 23 . 36. ‘Abdul-fattah al-Qadi, “al-Qira’at fi Na ar al-Mustashriqin wa al-Mulhidin’, Majallat al­Azhar, vo1.43/2, 1391 (1971). hlm. 175. 37. Salinan dalam bahasa Inggris (Indonesia) bukan kata demi kata, tetapi hanya dimaksudkan untuk menyampaikan poin-poin tentang riwayat. 38. Untuk gambaran yang Iebih detail tentang titik, lihat hlm. 150-156. 39. Beberapa Mushaf ‘Uthmani yang resmi pertama kali ditulis dalam skrip Hejazi dalam jumlah yang banyak. Banyak sekali sifat-sifat Mushaf ‘Uthmani di seluruh dunia (lihat hlm 315-8..). Dan sangat tidak mungkin untuk menkonfirmasikan atau menolak klaim Mushaf ‘Uthmani, sedangkan salinan itu sendiri tidak menyatakan apa-apa tentang hal ini, sifat-sifat seperti itu mungkin merefleksikan bahwa sebenarnya salinan itu disalin dari salah satu Mushaf yang dikirim oleh ‘Uthman. 40. Salah satu tuduhan adalah Mushaf ‘Uthmani yang tidak ada titik menyebabkan timbulnya perbedaan-perbedaan dalam bacaan Al-Qur’an. Lihat bab II untuk kajian lebih lengkap dalam masalah ini. 41. Ibn Abi Dawud, al-Masahif, hlm. 19-20; lihat juga al-Bukhsri, Sahih, Bib Jam’i Al-Qur’an, hadith no. 4987; Ibn Kathir, Fada’il, vii: 442. 42. Ibn Hajar, Fathul Bari, ix: 20. 43. Ibid, ix: 21 44. Ibn Abi Dawud, al-Masahif, hlm. 25. 45. Ibn Hajar, Fathul Bari, ix: 21. 46. Ibn Abi Dawud, al-Masahif, hlm. 35 47. Konsep ini akan lebih dijelaskan di dalam diskusi selanjutnya (bab 12) @@15@@BAB 7 : MUSHAF ‘UTHMANI The History of The Qur’anic Text  hal 110 – 114 5. Studi Tentang Mushaf ‘Uthmani Keyakinan bahwa Al-Qur’an adalah Kalamullah, dan sebagai sumber utama hukum perundang-undangan dan petunjuk untuk semua makhluk, merupakan dasar kepercayaan setiap Muslim. Pada zaman ‘Uthman, rasa kebanggaan terhadap Al-Qur’an itulah yang mendorong untuk mulai meneliti Mushaf secepatnya, melawat ke semua tempat yang menerima naskah dan melakukan pemeriksaan kata demi kata (huruf demi huruf), guna menyingkap perbedaan antara naskah-naskah yang telah dia kirim. Banyak karya tulis yang menyentuh tentang masalah ini, akan tetapi saya akan membatasi hanya kepada satu masalah. Khalid bin Iyas bin Shakr bin Abi al-Jahm, dalam meneliti Mushaf milik `Uthman sendiri, mencatat bahwa naskah itu berbeda dengan Mushaf Madinah pada dua belas tempat.48 Untuk memberi gambaran tentang perbedaan ini, saya susun dalam table berikut ini .49 Dengan jelas, naskah `Uthman miliki pribadi sama seperti Mushaf yang ada di tangan kita sekarang.53 Sedangkan dalam Mushaf Madinah terdapat sedikit perbedaan yang boleh kita simpulkan seperti berikut: (1) satu tambahan dalam ; (2) Tidak ada dalam ; (3) tidak ada dalam ; (4) ada dua dalam  ; (5) tidak ada   dalam ; (6) satu tambahan dalam ; (7) sebagai ganti … dan seterusnya. Semua perbedaan, yang hampir tiga belas huruf dalam 900 baris, tidak memengaruhi arti setiap ayat dan tidak membawa alternatif lain kepada arti semantik. Mereka juga tidak bisa disifatkan sebagai sikap tidak hati-hati. Zaid bin Thabit memegang teguh prinsip bahwa dalam setiap penemuan bacaan dalam berbagai naskah diperlukan kesahihan, dan status yang sama (equal status), dan kemudian meletakkannya dalam naskah yang berbeda.54 Memasukkan kedua-dua bacaan dalam halaman yang bersebelahan ini hanya akan membuat kebingungan; maka salah satu altematif adalah menempatkan salah satu dari bacaan itu di tepi untuk menunjukkan ayat yang kurang autentik. Dengan menempatkan bacaan-bacaan itu pada naskah yang berbeda maka dia mengakomodasikannya berdasarkan kesamaan istilah (equal term). Pendekatan modern dalam mengkritik teks menghendaki agar ketika perbedaan muncul antara dua manuskrip yang sama statusnya, penyunting meletakkan salah satu darinya dalam bodi teks sedangkan yang lainnya diletakkan dalam catatan kaki. Metode ini walaupun bagaimana tidak adil, karena hal ini dapat mengurangi nilai naskah ke dua. Skim Zaid tampak lebih adil; dengan menyediakan beberapa naskah maka dia mengesampingkan kesimpulan bahwa bacaan ini atau itu lebih tinggi, dan memberikan penilaian pada setiap naskah secara adil.55 Banyak ilmuwan yang telah menguras waktu dan tenaga mereka dalam membandingkan Mushaf ‘Uthmani, melaporkan apa yang mereka dapatkan dengan ikhlas dan tidak menyembunyikan apa pun walau sedikit Abil Uarda, seorang sahabat terkenal, telah bekerja keras tentang perkara ini sebelum dia meninggal dunia pada dekade yang sama dengan pengiriman Mushaf, dan meninggalkan istrinya (janda) untuk menyampaikan penemuannya.56 Untuk memudahkan, saya telah menambah daftar tambahan.57 Tetapi penemuan mereka, ketika semuanya dikumpulkan sungguh sangat mengejutkan. Semua perbedaan yang terdapat dalam Mushaf Mekah, Madinah, Kufah, Basra, Suriah, dan Naskah induk Mushaf ‘Uthmani, melibatkan satu huruf, seperti: … dst. Kecuali hanya adanya (dia) dalam satu ayat yang artinya tidak terpengaruhi. Perbedaan ini tidak lebih dari empat puluh huruf terpisah di seluruh Mushaf enam ini. Akhirnya kita bisa mengklarifikasikan bahwa kajian ilmuwan terdahulu ini hanya berlandaskan pada naskah Mushaf resmi, yang dikirim oleh ‘Uthman, atau duplikat naskah yang dibuat dan disimpan oleh para sahabat yang terkenal dan Ilmuwan ahli Al-Qur’an. Kajian mereka bukan penyelidikan tentang naskah pribadi yang disimpan oleh masyarakat luas (yang jumlahnya mencapai ribuan), karena Mushaf yang resmi itulah yang dijadikan sebagai ukuran (standar) dan bukan sebaliknya. i. Studi Tentang Mushaf Malik bin Abi ‘Amir al-Asbahi.Di sini kita akan buat perbandingan antara Mushaf ‘Uthmani dan yang lainnya, naskah individu yang disimpan oleh ilmuwan yang terkenal. Malik bin Anas (94-179 H. / 712-795 M.) ketika Mushaf ini diserahkan ke muridnya58 dan menceritakan sejarahnya; Mushaf ini kepunyaan kakeknya, Malik bin Abi `Amir al-Asbahi (w. 74 H /693 M), murid Khalifah ‘Umar,59 yang menulisnya pada waktu ‘Uthman menyiapkan Mushafnya.60 Murid-murid Malik bin Anas mencatat sebagian ciri-cirinya:

  • Mushaf dihiasi dengan perak
    • Ia mengandung pemisah surah tinta berwarna hitam sepanjang penyambung yang dihiasi seperti rantai memanjang sepanjang garis.
    • Ia juga mempunyai pemisah ayat dalam benluk titik.61

Sesuai dengan penemuan ini, murid-murid itu membandingkan Mushaf Malik di satu sisi dengan Mushaf Madinah, Kufah, Basra, dan naskah utama Mushaf ‘Uthmani di sisi lainnya. Mushaf Malik, menurut mereka, berbeda dengan Mushaf Kufah dan Basra (dan Naskah utama Mushaf ‘Uthmani) dalam delapan tanda (karakter) dan dengan Mushaf Madinah hanya empat. Perbedaan ini disimpulkan di bawah ini.62 Dari carta ini kita catat bahwa Mushaf Malik tetap identik (sama) dengan Mushaf Madinah sampai surah 41; dari surah 42 dan berikutnya, Mushafnya sama dengan Mushaf ‘Uthmani, Kufa, dan Basra. Menjabat sebagai salah satu anggota panitia dua betas yang menuliskan Mushaf ‘Uthmani, Malik juga pada waktu yang sama menulis Mushaf ini untuk digunakan oleh dirinya sendiri. Menimbang daftar di atas tadi, kita dapat menyimpulkan bahwa dia telah kerja bersama-sama dengan kelompok yang menyiapkan Mushaf Madinah. Setelah selesai lima per enam Mushaf itu, dia pindah ke kelompok yang menyiapkan Mushaf Kufah dan Basra. Oleh karena itu, satu per enam sama dengan Mushaf ‘Uthmani, Kufah, dan Basra. Ini membolehkan kita melihat beberapa pendapat tentang penyiapan naskah resmi: ini adalah usaha tim yang sebagian didiktekan dan sebagian lagi ditulis. Poin yang lebih menarik, menurut pendapat saya, inisiatif dan kecerdasan individu yang menulis naskah pribadinya. Kita tidak tahu secara betul bagai­mana naskah pribadi ini ditulis; dalam pernyataan yang ditulis oleh Ibn Shabba, “‘Uthman memerintahkan orang-orang untuk menulis Mushaf ” Ini bisa diartikan bahwa masyarakat diberikan dorongan untuk menulis naskah untuk digunakan oleh mereka masing-masing. Mushaf Malik bin Abi ‘Amir al-Asbahi mempunyai pemisah surah dan ayat, sedangkan Mushaf ‘Uthmani tidak. Kekurangan ini mungkin dengan sengaja sebagai taktik bagi Khalifah, mungkin untuk meyakinkan bahwa teks Al-Qur’an bisa diberi lebih dari satu’cara pemisahan ayat, atau sebagai masalah tambahan dalam menghadapi orang yang mau membaca dengan sendiri tanpa ada bimbingan seorang guru yang diakui. Banyak ilmuwan yang berpendapat bahwa sebuah mushaf tua yang ada tanda pemisah ayat dan surah semestinya ditulis setelah Mushaf ‘Uthmani, tetapi dengan diberikan contoh ini kita bisa melihat bahwa itu tidak semestinya benar. 48. Sebenarnya Mushaf Madinah telah musnah pada saat pertempuran yang mengakibalkan terbunuhnya ‘Ulhman. ibn Shabba, Tarikh al-Madinah, hLm. 7-8). Lalu bagaimana beberapa ilmuwan bisa memeriksa Mushaf yang disimpan di Madinah? Jawabannya ada dua segi. Pertama, Abu Darda’, seorang sahabat terkenal, yang meninggal pada tahun yang sama dengan ‘Uthman, menjelaskan kajian secara detail atau Mushaf yang dikirim oleh ‘Uthman termasuk Mushaf yang disimpan di Madinah. Penemuannya, terdaftar sebelum Mushaf Madinah hilang, berguna sebagai model untuk ilmuwan berikutnya. (untuk contoh, lihat Abu’ ubaid, Fada’il, film 330-2.). Kedua, (mungkin ini lebih  penting) ilmuwan-ilmuwan ini, yang tidak lagi bisa menganalisis Mushaf Madinah contohnya, selalu mengatakan dalam tulisannya bahwa mereka telah memeriksa “Mushaf orang-orang Hejaz (Arab bagian Barat).” Artinya, apa yang mereka periksa adalah duplikat asli Mushaf Madinah, yang dibuat oleh para sahabat yang terkenal atau ilmuwan-ilmuwan untuk kegunaan pribadi masing-masing sebelum Mushaf itu hilang (lihat buku ini, teks di bawah tabel hlm. 111). Dengan cara ini mereka bisa mengesampingkan fakta kehilangan mushaf, dan melakukan analisis teksnya secara detail. 49. Ibn Abi Dawud, al-Masahif hlm. 37-38, 41. Informasi yang sama tetapi melalui riwayat lain; lihat juga Abu ‘Ubaid, Fada’il, hlm. 328-9. 50. Berdasarkan kepada riwayat Hafs dari ‘Asim (mewakili salah satu [qira’ah sab’ah] tujuh bacaan yang sepakat diterima oleh pembaca Al-Qur’an yang authoritatif). 51. Lihat Ibn Mujahid, Kitab as-Sab’a, hlm. 390. Ibn Kathir, Nafi, dan ibn ‘omir membaca ( ) sebagai mana ditemui di Mushaf Makkah, Madinah dan Suriah. Sedangkan Abu ‘Amr membaca: ( ) sebagaimana ditemui di Mushaf Basra dan Kufa. 52. Dalam kolom ini ada kesalahan, didalam dua kolom pertama kelihatannya perlu dibetulkan. Saya telah mencoba untuk membetulkannya. Wa Allah A’lam. 53. Saya maksudkan riwayar Hafs dari ‘ Asim. 54. Abu ‘Ubaid, Fada’il, hlm. 333; lihat juga ad-Dani, al-Muqni, hlm. 118-9. 55. Ini juga adalah metodologi para muhaddithin (ahli hadith) yang terdahulu. Dalam membandingkan beberapa naskah hadith yang sama manuskripnya, mereka baik menyebutkan satu naskah tanpa merujuk kepada perbedaan, atau menyebutkan semua perbedaan didalam teksnya sendiri daripada menempatkan catatan di tepi. Contohnya dalam Sahih muslim, hadith tentang salat no. 245 hanya menunjukkan riwayat Ibn Numair; tiga hadith sebelumnya (salat no. 242), dan menyediakan semua riwayat yang berbeda dan meletakkannya dalam teks utama. 56. Lihat Abu ‘Ubaid, Fada’il, hlm. 330. 57. Lihat contohnya Abu ‘Ubaid, Fada’il, hlm. 328-333; lihat juga ad-Dani, al-Muqni, hlm. 112-4. 58. Ini termasuk Ibn al-Qesim, Ashhab, ibn Wahb, Ibn ‘Abdul-Hakam, dan lain-lain. 59. Ibn Hajar, Taqrib at-Tahzib, hlm. 517, entri no. 6443. 60. ad_Dani, al-Muhkam, hlm. 17 61. Contoh pemisah surah dan ayat dari beberapa mushaf disediakan di bab yang akan datang. Di samping itu, saya peroleh pernyataan ini dari A. Grohmann, “Saya menyarankan bahwa untuk pemisah surah mereka diambil dari manuskrip Greek atau Suriah, yang ditulis dipermulaan… ” ( A. Grohmann, “The problem of Dating Early Qur’an”, Der Islam, Band 33, Heft 3, hlm. 228-9). Ini merupakan mengada-ada dan memudahkan bagaimana kesungguhan Orientalis dalam mengutangi budaya orang lain kepada keberhasilan setiap Muslim-sampai pada masalah sekecil mungkin seperti memisahkan satu ayat dari ayat berikutnya dengan sebuah titik! 62. Ad-Dani, dalam bukunya al Muqni, hlm. 116) menyebutkan empat perbedaan antara Mushaf Malik dan Madinah, dan “selebihnya Mushaf Malik berdasarkan pada Mushaf madinah sebagaimana dijelaskan oleh Isma’il bin Ja’far ad-Madani”. Oleh karena itu, dalam menyiapkan carta saya telah memanfaatkan karya al-Madani. (lihat Abu ‘Ubaid, Fada’il, hlm. 328-9; ad Dani, al-Muqni, hlm. 112-4) 63. Berdasarkan kepada riwayat Hafs dari ‘Asim. 64. Lihat Ibn Mujahid, Kitab as-Sab’a, hal. 390. Ibn Kathir, Nafi, dan ibn ‘Amir membaca: ( ) sebagai mana ditemui di Mushaf Makkah, Madinah dan Suriah. Sedangkan Abu ‘Amr membaca: ( ) sebagaimana ditemui di Mushaf Basra dan Kufa. 65. Dalam kolom ini kelihatannya ada kesalahan. Daftar itu ( yang aslinya disediakan oleh ad-Dani untuk menunjukkan perbedaan antara Mushaf Malik dan Madinah) mengandungi ayat ini juga, tetapi tidak menunjukkan perbedaan diantara kedua Mushaf. Selagi teks ini tetap dicetak, walau bagaimanapun saya harus menyimpulkan bahwa kata itu dalam Mushaf Malik seharusnya 48. Sebenarnya Mushaf Madinah telah musnah pada saat pertempuran yang mengakibalkan terbunuhnya ‘Ulhman. ibn Shabba, Tarikh al-Madinah, hLm. 7-8). Lalu bagaimana beberapa ilmuwan bisa memeriksa Mushaf yang disimpan di Madinah? Jawabannya ada dua segi. Pertama, Abu Darda’, seorang sahabat terkenal, yang meninggal pada tahun yang sama dengan ‘Uthman, menjelaskan kajian secara detail atau Mushaf yang dikirim oleh ‘Uthman termasuk Mushaf yang disimpan di Madinah. Penemuannya, terdaftar sebelum Mushaf Madinah hilang, berguna sebagai model untuk ilmuwan berikutnya. (untuk contoh, lihat Abu’ ubaid, Fada’il, film 330-2.). Kedua, (mungkin ini lebih  penting) ilmuwan-ilmuwan ini, yang tidak lagi bisa menganalisis Mushaf Madinah contohnya, selalu mengatakan dalam tulisannya bahwa mereka telah memeriksa “Mushaf orang-orang Hejaz (Arab bagian Barat).” Artinya, apa yang mereka periksa adalah duplikat asli Mushaf Madinah, yang dibuat oleh para sahabat yang terkenal atau ilmuwan-ilmuwan untuk kegunaan pribadi masing-masing sebelum Mushaf itu hilang (lihat buku ini, teks di bawah tabel hlm. 111). Dengan cara ini mereka bisa mengesampingkan fakta kehilangan mushaf, dan melakukan analisis teksnya secara detail. 49. Ibn Abi Dawud, al-Masahif hlm. 37-38, 41. Informasi yang sama tetapi melalui riwayat lain; lihat juga Abu ‘Ubaid, Fada’il, hlm. 328-9. 50. Berdasarkan kepada riwayat Hafs dari ‘Asim (mewakili salah satu [qira’ah sab’ah] tujuh bacaan yang sepakat diterima oleh pembaca Al-Qur’an yang authoritatif). 51. Lihat Ibn Mujahid, Kitab as-Sab’a, hlm. 390. Ibn Kathir, Nafi, dan ibn ‘omir membaca ( ) sebagai mana ditemui di Mushaf Makkah, Madinah dan Suriah. Sedangkan Abu ‘Amr membaca: ( ) sebagaimana ditemui di Mushaf Basra dan Kufa. 52. Dalam kolom ini ada kesalahan, didalam dua kolom pertama kelihatannya perlu dibetulkan. Saya telah mencoba untuk membetulkannya. Wa Allah A’lam. 53. Saya maksudkan riwayar Hafs dari ‘ Asim. 54. Abu ‘Ubaid, Fada’il, hlm. 333; lihat juga ad-Dani, al-Muqni, hlm. 118-9. 55. Ini juga adalah metodologi para muhaddithin (ahli hadith) yang terdahulu. Dalam membandingkan beberapa naskah hadith yang sama manuskripnya, mereka baik menyebutkan satu naskah tanpa merujuk kepada perbedaan, atau menyebutkan semua perbedaan didalam teksnya sendiri daripada menempatkan catatan di tepi. Contohnya dalam Sahih muslim, hadith tentang salat no. 245 hanya menunjukkan riwayat Ibn Numair; tiga hadith sebelumnya (salat no. 242), dan menyediakan semua riwayat yang berbeda dan meletakkannya dalam teks utama. 56. Lihat Abu ‘Ubaid, Fada’il, hlm. 330. 57. Lihat contohnya Abu ‘Ubaid, Fada’il, hlm. 328-333; lihat juga ad-Dani, al-Muqni, hlm. 112-4. 58. Ini termasuk Ibn al-Qesim, Ashhab, ibn Wahb, Ibn ‘Abdul-Hakam, dan lain-lain. 59. Ibn Hajar, Taqrib at-Tahzib, hlm. 517, entri no. 6443. 60. ad_Dani, al-Muhkam, hlm. 17 61. Contoh pemisah surah dan ayat dari beberapa mushaf disediakan di bab yang akan datang. Di samping itu, saya peroleh pernyataan ini dari A. Grohmann, “Saya menyarankan bahwa untuk pemisah surah mereka diambil dari manuskrip Greek atau Suriah, yang ditulis dipermulaan… ” ( A. Grohmann, “The problem of Dating Early Qur’an”, Der Islam, Band 33, Heft 3, hlm. 228-9). Ini merupakan mengada-ada dan memudahkan bagaimana kesungguhan Orientalis dalam mengutangi budaya orang lain kepada keberhasilan setiap Muslim-sampai pada masalah sekecil mungkin seperti memisahkan satu ayat dari ayat berikutnya dengan sebuah titik! 62. Ad-Dani, dalam bukunya al Muqni, hlm. 116) menyebutkan empat perbedaan antara Mushaf Malik dan Madinah, dan “selebihnya Mushaf Malik berdasarkan pada Mushaf Madinah sebagaimana dijelaskan oleh Isma’il bin Ja’far ad-Madani”. Oleh karena itu, dalam menyiapkan carta saya telah memanfaatkan karya al-Madani. (lihat Abu ‘Ubaid, Fada’il, hlm. 328-9; ad Dani, al-Muqni, hlm. 112-4)                                                 . 63. Berdasarkan kepada riwayat Hafs dari ‘Asim. 64. Lihat Ibn Mujahid, Kitab as-Sab’a, hal. 390. Ibn Kathir, Nafi, dan ibn ‘Amir membaca                                     : ( ) sebagai mana ditemui di Mushaf Makkah, Madinah dan Suriah. Sedangkan Abu ‘Amr membaca: ( ) sebagaimana ditemui di Mushaf Basra dan Kufa. 65. Dalam kolom ini kelihatannya ada kesalahan. Daftar itu ( yang aslinya disediakan oleh ad-Dani untuk menunjukkan perbedaan antara Mushaf Malik dan Madinah) mengandungi ayat ini juga, tetapi tidak menunjukkan perbedaan diantara kedua Mushaf. Selagi teks ini tetap dicetak, walau bagaimanapun saya harus menyimpulkan bahwa kata itu dalam Mushaf Malik seharusnya .66. Ibn Shabba, Tarikh al-Madina, hlm. 1002. .66. Ibn Shabba, Tarikh al-Madina, hlm. 1002. ———–=– @@16@@BAB 7 : MUSHAF ‘UTHMANI The History of The Qur’anic Text  hal 114 – 121  6. Al-Hajjaj dan Kontribusinya Kepada Mushaf Setelah Khalifah ‘Uthman, kita sekarang bisa mengalihkan pandangan kita ke al-Hajjaj bin Yusuf ath-Thaqafi (w. 95 Hijrah), Gubernur Irak pada zaman Khalifah Umayyah dan seorang yang cukup terkenal dengan kejahatannya. Keberanian, pemerintahan tangan besinya telah menjadi simbol kebenaran dalam sejarah Irak. Yang ironisnya dia juga berperan dalam pengabdian kepada Al-Qur’an, walaupun dia tidak kurang musuh dalam hal ini. Ibn Abi Dawud mengutip ‘Auf bin Abi Jamila (60-146 Hijrah) menyatakan bahwa al-Hajjaj mengubah Mushaf ‘Uthmani dalam sebelas tempat.67 Penelitian mengungkapkan bahwa ‘Auf, walaupun seorang jujur, mempunyai kecenderungan kepada shi’ah dan anti Umayyah.68 AI-Hajjaj, salah satu pemimpin pasukan tentara Umayyah yang terkuat, mempunyai target dalam kepemimpinannya; semua laporan yang dibuat oleh musuh harus dilihat sebagai sesuatu yang berbahaya. Tambah lagi Mu’awiyah (pemimpin pertama kerajaan Umayyah) memerangi ‘Ali atas tuduhan kasus pembunuhan `Uthman, dan ini membuat al-Hajjaj mengubah Mushaf `Uthmani khususnya yang tidak bisa dipercayai, yang ia akan menjelekkan Khilafah Ummayyah. Apa pun juga kebenarannya, di bawah ini daftar kata-kata yang telah, dituduhkan, diubah oleh al-Hajjaj.69 Jauh sebelum ‘Auf bin Abi Jamila menuduh al-Hajjaj, ilmuwan-ilmuwan telah berdebat tentang naskah Mushaf ‘Uthmani yang resmi dan dengan teliti membandingkannya huruf demi huruf; perbedaan yang disebutkan oleh ilmuwan-ilmuwan terdahulu tidak sesuai dengan perbedaan yang disebutkan oleh `Auf. Mushaf yang dibuat oleh ‘Uthman tidak terdapat titik,70 dan hingga pada zaman al-Hajjaj, titik tidak digunakan di mana-mana. Ada beberapa kata di tabel alas tadi, yang jika titiknya dibuang, tetap sama identiknya.71 Kemudian jika tidak ada titik dan kerangka huruf sama, bagaimana dia bisa memodifikasi kata-kata ini?72 Tidak ada satu pun yang diklaim ada perubahan mengandung makna lain ayat tersebut, dan tuduhan itu sendiri (berdasarkan kepada yang di atas) kelihatannya tidak berdasar.73 Kasus di bawah ini, disebutkan oleh Ibn Qutaib, mungkin memberikan clue (indikasi) kepada interpretasi lain. Berdasarkan laporan ‘Asim al-Jahdari, al-Hajjaj menunjuk dia, Najiya bin Rimh, dan ‘All bin Asma` untuk memeriksa Mushaf dengan tujuan untuk menyobek semua mushaf yang berbeda dengan Mushaf `Uthmani. Pemilik Mushaf seperti itu akan mendapatkan kompensasi 60 dirham.74 Beberapa Mushaf seperti ini mungkin bisa tidak dirusak, setelah dibetulkan dengan menghapuskan tinta lama dan menuliskan lagi di kertas kulit yang kosong. Beberapa orang mungkin salah menginterpretasikan perbuatan ini seperti usaha al-Hajjaj untuk mengubah Al-Qur’an. Setelah kepimpinan ‘Uthman, al-Hajjaj juga mendistribusikan naskah­naskah Al-Qur’an ke beberapa kota. ‘Ubaidillah bin ‘Abdullah bin ‘Utbah menyatakan bahwa Mushaf Madinah disimpan di Masjid Nabi saw. dan dibaca setiap pagi.75 Pada waktu masyarakat berkecamuk tentang pembunuhan ‘Uthman, seseorang melarikan Al-Qur’an secara diam-diam. Muhriz bin Thabit melaporkan dari bapaknya (yang menjadi salah satu penjaga keamanan al-Hajjaj) bahwa al-Hajjaj menyuruh membuat beberapa Mushaf,76 dan salah satunya dikirimkan ke Madinah. Keluarga `Uthman sangat sedih, tetapi ketika mereka diminta untuk terus menyimpan Mushaf yang original, yang mungkin bisa dibaca lagi, mereka mendeklarasikan bahwa Mushaf itu telah rusak ( ) pada hari pembunuhan ‘Uthman. Muhriz diinformasikan bahwa Naskah utama Mushaf ‘Uthmani masih ada kepunyaan cucu laki-lakinya, Khalid bin. ‘amr bin ‘Uthman, tetapi kita pikir bahwa yang dikirim oleh al­ Hajjaj dijadikan bacaan umum di Masjid Nabi pengganti Mushaf asli. Berdasarkan kepada as-Samhudi, yang mengutip Ibn Zabala, Al-Hajjaj mengirimkan Al-Qur’an ke kota-kota besar, termasuk Mushaf besar dikirimkan ke Madinah, dan ia merupakan Mushaf yang pertama yang dikirimkan ke kota-kota. Ibn Shabba berkata, Dan ketika (Pemerintahan Abbasiyyah) al-Mahdi menjadi khalifah, dia mengirimkan satu lagi Mushaf ke Madinah, yang dibaca sampai se­karang. Mushaf al-Hajjaj sudah dipindahkan dan disimpan di kotak sebelah mimbar.78 Peranan al-Hajjaj terhadap Al-Qur’an bukan saja meneruskan pengiriman Mushaf Abu Muhammad al-Himmani melaporkan bahwa al-Hajjaj ketika mengumpulkan huffaz dan orang-orang yang professional dalam membaca kitab suci, dia ikut duduk bersama dengan mereka, karena dia juga salah seorang daripada mereka, dia meminta mereka untuk menghitung jumlah tanda (karakter) di dalam Al-Qur’ an. Ketika sudah selesai, mereka sepakat pada jumlah yang sampai sekitar 340,750 karakter. Keinginannya untuk mengetahui jauh lebih dalam, dia kemudian menemukan karakter apa yang ada di tengah ­tengah Al-Qur’an, dan jawabannya adalah dalam surah 18 ayat 19, karakter, daiam . Kemudian dia menanyakan di mana satu pertujuhnya Al-Qur’ an, dan jawabannya; satu pertujuh pertama dalam surah 4 ayat 55 karakter dalam ; kedua dalam surah 7 ayat 147 karakter dalam ; ketiga dalam surah 13 ayat 35; keempat dalam surah 22 ayat 35; kelima dalam surah 33 ayat 36; keenam dalam surah 48 ayat 6 dan ketujuh terakhir dalam bagian seterusnya. Tujuan dia kemudian untuk menemukan satu pertiga bagian seterusnya. Tujuan dia kemudian untuk menemukan tempat satu pertiga dan satu perempat Al­Qur’an.79 Al-Himmani menyebutkan bahwa al-Hajjaj membuat follow up kemajuan panitia setiap malam; semuanya memakan waktu empat bulan.80 Al-Munaggid menulis bahwa dia menjumpai sebuah Mushaf di Topkapi Sarayi (Istanbul), no. 44, yang catatannya menunjukkan bahwa Mushaf itu ditulis oleh Hudaij bin Mu’awiyah bin Maslamah al-Ansari untuk ‘Uqbah bin Nafi` al-Fihri pada tahun 49 H.. Dia ragu tentang tanggal, salah satu alasannya dikarenakan kertas folio 3b yang mengandung statistik huruf alfabet yang ada dalam seluruh Al-Qur’an. Menurut argumentasi dia, analisis statistik me­rupakan perhatian umat Muslim yang tinggi pada tahun pertama Hijrah.81 Menurut pendapat saya, keraguan al-Munaggid di dalam memberikan inisiatif al-Hajjaj dalam masalah ini, adalah tidak sah. Komputer kita mengandung naskah teks AI-Qur’an tanpa tanda di atas dan di bawah; dengan bantuan program penghitung karakter, kita dapatkan 332,795 karakter. Kita tidak tahu metodologi al-Hajjaj: apakah tashdid juga dihitung satu karakter? Bagaimana dengan alif yang dibaca dan tidak ditulis (seperti )? Walaupun ada kekurangan tentang ini, figure (jumlah yang didapatkan) komputer kita pun hampir sama dengan apa yang ditemukan oleh panitia al-Hajjaj yang lebih dari tiga belas abad, menunjukkan bahwa empat bulan yang intensif ini betul-betul terjadi. 7. Mushaf di Pasaran Pada awalnya, menurut Ibn Mas’ud, seseorang yang menginginkan satu naskah Mushaf akan datang kepada sukarelawan (volunteer) secara mudah dan meminta bantuannya;82 Pendapat ini didukung oleh All bin Husain (w. 93 H.) yang berpendapat bahwa Mushaf tidak boleh diperjualbelikan, dan bahwa seseorang akan mengambil kertasnya sendiri ke mimbar dan meminta sukarelawan untuk menuliskannya. Seorang penulis sukarelawan kemudian akan mengerjakannya, secara bergantian, hingga tugas itu selesai.83 Ketika Muhil bertengkar dengan Ibrahim an-Nakha’i tentang masyarakat yang memerlukan Mushaf untuk dibaca, Ibrahim menjawab, “Beli kertas dan tinta, dan minta bantuan sukarelawan.”84 Tetapi dengan jumlah umat Islam yang membengkak sampai meliputi daratan Saudi Arabia, permintaan pada naskah Al-Qur’an meningkat, mendesak penulis sukarelawan untuk menulis lebih gigih lagi dan menjadikan fenomena baru: naskah dibayar. Fenomena ini menimbulkan dilema teologi, tentang legitimasi upah seseorang yang mengabdi kepada Kalamullah. Seseorang mungkin boleh menjual barang kepunyaannya, banyak alasan, jadi atas dasar apa Al-Qur’an boleh dijual sedang itu bukan kepunyaan seseorang, tetapi kepunyaan sang pencipta? Mayoritas ilmuwan tidak setuju dengan naskah yang dibayar dan memperkenalkan Mushaf sebagai komoditas pasar, di antara mereka adalah Ibn Mas’ud (w. 32 H.), ‘Alqamah (w. 60 H, Masruq (w. 63 H.), shuraih (w. 80 H,) Ibrahim an-Nakha’i (w. 96 H.), abu Milaz (w. 106 H.) dan yang lainnya,85 Sedangkan ibn al-Musayyib (w. 90 H.) berbicara keras melawan pendapat ini.86 Walau bagaimanapun, ada beberapa orang yang mencoba menenangkan kritikan teman koleganya dengan menyebutkan bahwa bayaran itu bukan untuk kalam Allah, tetapi untuk tinta, kertas dan juga tenaga; memperhatikan jumlah sukarelawan yang sangat sedikit sekali, mereka itu seperti Ibn ‘Abbas (w. 68 H.), Sa’id b. Jubair (w. 95 H.) dan Ibn al-Hanafiyyah (w. 100 H.) tidak berpendapat jual beli Mushaf adalah sesuatu yang tidak menyenangkan.87 Terjadi perdebatan juga ada dalam masalah merevisi Mushaf dan membetulkan tulisan yang salah di dalam Mushaf, yang mulanya tugas sukarelawan, kemudian diserahkan ke tangan pengoreksi yang dibayar. Sa’id b. Jubair, Satu ketika menawarkan sebuah Mushaf kepada Musa al-Asadi, meminta untuk dia membaca, mengoreksi kesalahan-kesalahan dan itu untuk dijual.88 Orang yang mengikuti argumentasi mereka yang terdahulu, Ibrahim an-Nakha’i dan yang lainnya, tidak menyetujui akan pembayaran untuk merevisi, walaupun sesudah itu Ibrahim dalam masalah tertentu mengubah sikapnya.89 ‘Amr bin Murrah (w. 118 H.) menyatakan bahwa hamba sahaya adalah yang pertama kali berinisiatif untuk melakukan bisnis jual beli Mushaf.90 Contohnya hamba sahaya Ibn ‘abbas memberikan harga 100 dirham untuk menulis (menyalin) Al-Qur’an.91 Jual beli Mushaf mulai muncul pada zaman pemerintahan Mu’awiyyah, menurut Ibn Mijlaz, yang tepatnya pada awal pertengahan abad pertama Hijrah.92 Perkembangan jual beli ini mengakibatkan adanya toko yang special menjual Mushaf; jika mereka lewat ke sebuah toko seperti itu, Ibn ‘Umar (w. 73 H.) dan Salim bin ‘Abdullah (w. 106 H.) akan mengatakannya sebagai “Jual beli yang menakutkan (a dreadful trade).”93 sedangkan Abu al-‘Aliya (w. 90 H.) menginginkan siksaan bagi orang-orang yang menjual beli Al-Qur’an.94 Trend yang lebih berpengaruh adalah perpustakaan umum. Mujahid (20­103 S.H.) melaporkan bahwa Ibn Abi Laila (w. 83 H) mendirikan perpustakaan yang hanya mengandung kitab suci Al-Qur’an, di mana orang-orang akan berkumpul dan membacanya.95 ‘Abdul-Hakam bin ‘Amr al-Jumahi mendirikan beberapa bangunan seperti perpustakaan pada pertengahan abad pertama hijrah, rumah Kurrasat ( : kertas ) tentang subjek yang tersusun ditambah beberapa permainan, dan di sini orang-orang menggunakan fasilitas untuk membaca dan bersukaria dengan percuma.96 Beberapa sumber menyebutkan perpustakaan lain kepunyaan Khalid bin Yazid bin Mu’awiyah;97 mungkin ada perpustakaan lain yang informasi detailnya tidak sampai kepada kita.98 Perubahan yang dilakukan beberapa kali pada Mushaf untuk menyebarkannya di kalangan masyarakat, tidak memengaruhi pembacaan dan arti ayat. ‘Uthman sendiri mungkin tahu dengan beberapa aspek fenomena ini; keputusannya untuk tidak memberikan tulisan vokal dan tidak menggunakan pemisah ayat dan titik ini berarti sebagai peringatan bagi orang yang menghafal Al-Qur’an sendiri tanpa bimbingan yang tepat. Tetapi dengan waktu berjalan (yang tidak terlalu lama) memasukkan titik dan pemisah ayat menjadi biasa (normal). Oleh karena itu, marilah kita selidiki semua implikasi ini di dalam beberapa bab berikut ini. 8. Kesimpulan Usaha ‘Uthman yang sungguh-sungguh jelas tampak berhasil dan dilihat dari dua cara: pertama, tidak ada Mushaf di provinsi Muslim kecuali Mushaf ‘Uthmani yang telah menyerap ke darah daging mereka; dan kedua, Mushaf atau kerangka teks Mushafnya dalam jangka waktu empat belas abad tidak bisa dirusak. Sesungguhnya manifestasi Kitab Suci Al-Qur’an adalah benar-benar ajaib; interpretasi yang lain tidak berhasil. Khalifah berikutnya, mungkin meneruskan usaha nenek moyangnya, mengutus dan terus mengirim naskah Mushaf yang resmi, tetapi tidak ada naskah yang dikirim yang bertentangan dengan standar universal Mushaf ‘Uthmani. Sampai hari ini terdapat banyak Mushaf yang dinisbatkan langsung kepada ‘Uthman, artinya bahwa Mushaf-mushaf tersebut asli atau kopian resmi dari yang asli. Inda Office Library (London), dan di Tashkent (dikenal dengan Mushaf Samarqand). Mushaf-mushaf ini ditulis pada kulit, bukan kertas, dan tampak sejaman.99 Teks-teks kerangkanya cocok satu sama lainnya dan sama dengan Mushaf-mushaf dari abad pertama hijrah dan setelahnya, sampai pada mushaf-mushaf yang digunakan pada masa kita ini.100 —-==—- 67. Ibn AM Dawud, al-Masahif, hlm. 117. 68. Ibn Hajar, Tarikh at-Tahzib, hlm. 433, no entri. 5215 69. Ibn Abi Dawud, al-Masahif, hlm. 117 – 8. 70. Untuk mendiskusikan kemungkinan kenapa ‘Uthman memilih untuk tidak memberikan titik,. rujuk Bab 9 dan 10. 71. Seperti dan . Sama juga dengan contoh 3 dan 4. 72. Seperti contoh no 1 daftar , kita sebelum ini menyebutkan bahwa ejaan Mushaf `Uthmani diputuskan untuk kalimat ini: KHAT 73. Ini mungkin dilakukan perubahan dalam naskah pribadi, seperti kasus ‘Ubaidullah bin Ziyad, yang menstandarkan ejaan (orthography) di dalam naskahnya sendiri ( lihat buku ini hlm. 133). Betulkah al-Hajjaj telah membuat perubahan kepada Mushaf ‘Uthmani, Baik masyarakat atau orang elite dalam kekuasaan tidak akan diam. Lagi-lagi Abbasiyyah, penerus kerajaan Umayyah, akan mengeksploitasi perbuatan itu untuk dapat dukungan. 74. Ibn Qutaiba, Ta’wil Mushkil Al-Qur’an, hlm. 51. 75. Ibn Shabba, Tarikh al-Madinah, hlm. 7; juga, Ibn Qutaiba Ta’wil Mushkil Al-Qur’an, hlm. 51. 76. Dia berbuat demikian untuk mengakomodasi jumlah Muslim yang makin banyak yang terjadi antara periode ‘Uthman dan periodenya (lebih dari setengah abad) yang menjadikan permintaan (demand) kepada Mushaf lebih banyak. Kita tidak ada informasi berapa banyak jumlahnya atau ke mana saja dikirimkan. 77. As-Samhudi, Wafa’ al-Wafa , I:668, sebagaimana dikutip oleh al-Munaggid, Etudes de Palaegrapgie Arabe, Beirut, 1972, hlm. 46. 78. Ibn Shabba, Tarikh al-Madinah, hlm. 7-8. 79. Ibn Abi Dawud, al-Masahif, hlm. 119-120. 80. Ibid, hlm. 120. 81. S. al-Munaggib, Etudes De Paleograpie Arabe, hlm. 82-83. 82. Ibn Abi Dawud, al-Masahif, hlm. 160 83. Ibid, hlm. 166 84. Ibid, hlm. 169. 85. Ibn Abi Dawud, al-Masahif, hlm. 160,166,169,175; lihat juga Ibn Abi Shaiba, Musannaf, iv: 292 86. Ibn Abi Dawud, al-Masahif, hlm. 166. 87. Ibn Abi Shaiba, Musannaf, iv: 293; lihat juga Ibn Abi Dawud, al-Masahif, hlm. 175. 88. Ibn Abi Dawud, al-Masahif, hlm. 175-76. 89. Ibid, hlm. 157, 167,169. 90. Ibid, hlm. 171 91. Al-Bukhari, Khalq Afal al-‘Ibad, hlm. 32. 92. Ibn Abi Dawud, al-Masahif, hlm. 175. 93. Ibid, hlm. 159, 165; lihat juga Ibn Abi Shaiba, Musannaf, iv: 292. 94. lbn Abi Dawud, al-Masahif, hlm. 169. 95. Ibn Sa’d, Tabaqat, iv:75; lihat juga Ibn Abi Dawud, al-Masahif, hlm. 151. 96. ql_Aifahani, al-Aghani, iv:253. 97. Bertentangan dengan pernyataan Krenkow (“Kitabkhana”, Encyclopaedia of Islam, Edisi pertama, iv: 104), Perpustakaan ini kemungkinan didirikan oleh orang-orang Ibn Abi Laila dan ‘abdul­Hakam bin `Amr al-Jumahi, dan oleh karena itu tidak ada perpustakaan sebelum ini. 98. M.M. al-‘Azami, Studies in Early Hadith Literature, hlm. 16-17. 99. M. Hamidullah, Khutabat Bahawalpur, International Islamic University, Islamabad, 1985, hlm. 26. 100. Meskipun tetap merupakan salah satu kekayaan tertulis yang agung di dunia, sayang sekali Mushaf Samarqand ini tidak lagi murni. Keterikatan kaum orientalis pada Mushaf ini begitu menggebu-gebu sehingga S. Pissareff, pada tahun 1905, berikhtiar untuk menerbitkan edisi faksimil. Sebelum melakukan itu ia menebali tulisan-tulisan yang telah kabur karena masa pada lembaran­lembaran itu dengan tinta baru, sebagai proses memperkenalkan perubahan-perubahan yang terjadi pada teks. Jeffery dan Mendelsohn mengklaim bahwa “sementara beberapa kesalahan akibat ketidaktahuan telah terjadi di sana-sini dalam proses penebalan (dengan tinta baru) tersebut, tidak ada dasar yang cukup untuk menuduh adanya perubahan yang disengaja.” [“The Orthography of the Samarqand Qur’an Codex”, Journal of the America Oriental Society, vol. 62, 1942, hlm. 1761 Apapun tujuan ­tujuan Pissareff, teks Mushaf ini telah rusak. ———=——— @@17@@BAB 8 : PERKEMBANGAN ALAT PEMBANTU BACAAN DALAM MUSHAF ‘UTHMANI The History of The Qur’anic Text  hal 123 – 128 Sebelum membahas masalah yang lebih kompleks dalam ilmu tulisan Arab kuno (Arabic paleography) dan sistem tanda titik dalam bab yang akan datang, di sini kita hendak mengupas secara ringkas beberapa alat bantu visual dan perkembangan estetika yang dimasukkan oleh para penulis ke dalam Mushaf. 1. Tanda Pemisah Surah Pada awalnya naskah Mushaf ‘Uthmani tidak mempunyai pemisah surah, permulaan tiap surah dapat diketahui dari ungkapan kalimat: yang biasanya ditulis dengan jarak sedikit lebih senggang. Hal ini kita dapat kita saksikan dalam sample di bawah ini. Gambar 8.1: Sebuah Mushaf abad pertama Hijrah di dalam skrip Hejazi. Sumber: Masahif San’a, papan 4. Beberapa naskah yang tak resmi yang ditulis bersamaan dengan Mushaf ‘Uthmani, pemisah surah untuk pertama kali dapat kita lihat secara selayang pandang melalui pengenalan sebuah ornament sederhana. Biasanya ungkapan kalimat KHAT itu yang selalu tampak tertulis. Contohnya dalam Mushaf Malik bin Abi ‘Amir.1 Gambar 8.2: Sebuah Mushaf abad pertama Fiijrah di dalam skrip flejazi. Sumber: Masahif San `a, papan gambar 11. Mushaf ini tidak diikuti dengan pengenalan nama surah, dalam warna yang berbeda, tetapi masing-masing tetap mempertahankan bentuk ornament dan kata-kata Gambar 8.3: Sebuah Mushaf terakhir abad pertama atau awal abad ke dua hijrah, sebuah ornament yang diikuti dengan nama surah (dalam tinta emas) memisahkan surah yang lain. Jasa Baik dari Museum Arsip Nasional Yaman. Gambar 8.3: Sebuah Mushaf terakhir abad pertama atau awal abad ke dua hijrah, sebuah ornament yang diikuti dengan nama surah (dalam tinta emas) memisahkan surah yang lain. Jasa Baik dari Museum Arsip Nasional Yaman. 2. Pemisah Ayat Mushaf Samarqand (juga dikenal sebagai Mushaf Tashkent), dinisbatkan ke ‘Uthmani, yakni bahwa kemungkinan la merupakan kopian dari aslinya. Nam­paknya mushaf tersebut ditulis oleh beberapa tangan yang diantaranya meng­hapus pemisah-pemisah ayat. Gambar 8.4: Mushaf Tashkent. Sumber: al-Munaggid, Etudes, hlm. 5 Gambar 8.5: Lembaran lain dari Mushaf Tashkent (Samarqand). Sebelumnya, pemisah ayat yang panjang disisipkan. Tidak tampak ada­nya penggunaan cara tertentu yang ditetapkan. Setiap penulis bebas meng­gunakan pilihan sendiri. Ketiga contoh yang saya kemukakan, semua diambil dari Mushaf yang ditulis dalam skrip Hejazi (tahun pertama Hijrah). Dalam contoh pertama, pemisah ayat berbentuk dua kolom dari setiap tiga titik; dalam contoh kedua, berbentuk garis dan empat titik, dalam contoh ketiga, titik yang berbentuk segitiga. Gambar 8.6: Mushaf abad pertama Hijrah dengan pemisah ayat dalam bentuk titik kolom. Sumber: Musahif San’a, papan 3 (hlm. 61 Gambar 8.7: Sebuah Mushaf abad pertama Hijrah dengan pemisah ayat dalam benruk empat titik honisontal. Sumber: Musahif San’a, papan 3 (hlm. 60). Gambar 8.7: Sebuah Mushaf abad pertama Hijrah dengan pemisah ayat dalam benruk empat titik honisontal. Sumber: Musahif San’a, papan 3 (hlm. 60). Gambar 8.8: Sebuah lagi Mushaf abad pertama Hijrah dengan pemisah ayat dalam bentuk segi tiga Jasa baik dari Museum Arsip Nasional Yaman.. Gambar 8.8: Sebuah lagi Mushaf abad pertama Hijrah dengan pemisah ayat dalam bentuk segi tiga Jasa baik dari Museum Arsip Nasional Yaman. Kemudian hiasan selanjutnya digunakan dalam bentuk ciri khusus umuk setiap ayat kelima dan / atau kesepuluh. Gambar 8.9: Sebuah Mushaf abad kedua Hijrah dengan tanda khusus pada setiap ayat  kesepuluh (baris kedua dari atas). Jasa baik dari Museum Arsip Nasional Yaman Mushaf penting yang lain, yang ditulis oleh seorang ahli kaligrafi Ibn al­ Bawwab dan tertanggal 391 H/1000 M. disimpan pada Chester Beatty. Dalam Mushaf ini ada beberapa tanda khusus untuk setiap ayat kelima dan kesepuluh, dan selanjutnya ditulis kata-kata.. seperti sepuluh, dua puluh, tiga puluh, dan seterusnya. Gambar 8.10: Mushaf ini dari ahad ketiga Hijrah, mempunyai tanda untuk setiap ayat kelima (baris ketiga dari atas dalam bentuk satu titik berwarna emas) dan tanda lainnya pada setiap ayat kesepuluh (baris ketiga dari bawah).  Semua ayat  yang lain dipisahkan oleh bentuk segitiga. Dicetak ulang dengan ijin perpustakaan Inggris, Manuskrip Or. 1397, F 15b 3. Kesimpulan Dalam bab yang lalu kita telah jelaskan sikap kepedulian al-Hajjaj dalam pencarian letak satu per tiga, satu per empat, dan satu per tujuh Al-Qur’an. Tidak lama kemudian sekitar abad pertama Hijrah, Mushaf dikelompokkan ke dalam tujuh bagian yang disebut manazil (). Pengelompokan ini sengaja dibuat untuk orang yang hendak menyelesaikan bacaan seluruh Mushaf dalam waktu satu minggu. Pada abad ketiga Hijrah muncul kesimpulan lain yang mengelompokkan Al-Qur’an ke dalam tiga puluh bagian ( Juz’ ) bagi mereka yang ingin menghabiskan tadarus dalam waktu satu bulan. Pembagian ini adalah sebagai perkembangan kajian yang dilahirkan oleh al-Hajjaj dan telah berfungsi sebagai alat yang bermanfaat untuk sernua orang yang mau memakainya. Bermacam-macam batasan, seperti menggunakan tinta emas dan per­kembangan yang lainnya, sudah digunakan menurut selera kemampuan setiap penulis. Tetapi ini semuanya hanya seni, tidak seperti pemisah surah dan ayat betul-betul merupakan alat bantu yang tidak akan kita bedah di sini. Banyak lagi alat bantu lainnya, dalam bentuk titik dan tanda diakritikal (di atas dan di bawah), dan ini memengaruhi terhadap sistem pengajaran Al-Qur’an untuk orang bukan Arab di seluruh dunia Islam. Alat-alat bantu ini, dan beberapa kontroversi pendapat para orientalis akan kita bongkar dalam bab berikutnya. 1. Untuk lebih detail lagi lihat film. 113-114. —–o=—- @@18@BAB 9 : SEJARAH ILMU TULISAN ARAB KUNO The History of The Qur’anic Text  hal 129 – 142 Pembaca yang merasa kehausan ilmu mungkin bakal bertanya mengapa tulisan Arab kuno (palaeography) dan ejaan (orthography), yang tampaknya tidak ada kaitan dengan topik bahasan dapat menyelusup ke dalam buku ini? Jawaban akan semakin dapat dirasakan sekiranya kita kupas terlebih dulu definisi palaeography dan orthography. palaeography biasanya ditujukan pada kajian dokumen zaman dulu, walaupun saya gunakan di sini dalam artian lebih terbatas: kajian tentang skrip sebuah bahasa dengan fokus penekanan pada ejaan konvensional. Kebanyakan teori yang bergulir tentang palaeography Arab, berkaitan dengan asal-usul dan perkembangannya yang berakar pada kitab Injil; di mana saya hanya akan membahas bagian yang menarik dan tidak akan memberi peluang terlalu luas dalam buku ini. Tetapi teori ini mempunyai pengaruh kepada keutuhan Al-Qur’an semenjak mereka menyatakan bahwa bahasa Arab tidak mempunyai huruf alfabet di zaman Nabi Muhammad saw. (Mingana) bahwa perbedaan bacaan pada ayat-ayat tertentu – disebabkan kesalahan pada sistem ilmu tulisan Arab kuno palaeography (Goldziher); dan bahwasanya naskah Al-Qur’an itu ditulis dalam skrip Kufi pada abad kedua dan ketiga hijrah, tidak ada pada abad pertama hijrah (Gruendler). Guna menangkis argumentasi ini kita perlu membuktikan bahwa Kitab Suci Al­Qur’an masih tetap tak ternodai 1. Latar Belakang Sejarah Karakter Bahasa Arab Asal usul karakter bahasa Arab sifatnya masih spekulatif, dan tidaklah mengejutkan sama sekali tatkala para Orientalis membuat rekayasa teori tentang masalah ini. Hal yang sangat menyedihkan teori mereka sangat rapuh dan tidak tahan uji. Beatrice Gruendler, pengarang sebuah kajian tentang perkembangan skrip bahasa Arab, menyatakan bahwa semua skrip Arab berasal dari alfabet Funicia, karena Bahasa Arab tampaknya yang paling jauh terisolasi. Perubahan drastis dalam susunan spatial memberi isyarat bahwa kemungkinan skrip bahasa Nabatean atau Syriak menjadi perantara perkem­bangan skrip bahasa Arab. Theodor Noldeke, pada tahun 1865, mengakui bahwa skrip Nabatean memberi pengakuan terhadap yang pertama me­mengaruhi perkembangan skrip Arab Kufi; setelah itu banyak orang yang mengikuti pendapatnya, di antaranya M.A. Levy, M. de Vogue, J. Karabacek dan J. Euting. Tetapi setengah abad kemudian kesepakatan pendapat tersebut mulai pudar ketika J. Starcky membuat teori bahwa bahasa Arab berasal dari tulis­an bahasa Syriak yang berbentuk meruncing (Syriac Cursive).1 Di lain pihak, kita lihat teori Y. Khalil an-Nami mengatakan bahwa, “Hijaz adalah merupa­kan tempat kelahiran evolusi tulisan (script) Arab bagian Utara, bukan daerah­daerah lain, termasuk Hirah.”2 Mengenai sebab mengapa Gruendler tak peduli dengan teori ketiga, sepenuhnya hal ini saya serahkan pada untuk menilainya. Di antara misi Orientalis ada beberapa yang beranggapan bahwa umat Islam bangsa Arab tidak memiliki sistem tulisan sejak zaman kehidupan Nabi Muhammad saw.. Kata-kata Professor Mingana menyebut,Ketololan kami tentang bahasa Arab pada awal perkembangannya sama seperti ketidaktahuan kita secara pasti apakah memiliki huruf alfabet sendiri sewaktu di Mekah maupun Madinah. Jika bentuk tulisan itu menjelma di dua tempat (Mekkah dan Madinah), itu mesti memiliki kesamaan dengan karakter Estrangelo (contohnya Syriak) atau Hibru.3 Nabia Abbott kemudian secara partial lebih unggul dalam hipotesis ini,Studi tentang manuskrip Arab Kristen menunjukkan fakta yang menarik bahwa beberapa manuskrip kuno ini lebih menunjukkan pengaruh karak­ter Estrangelo, walaupun tidak secara langsung melalui orang Nestorian, dari segi bentuk skripnya yang cenderung lebih mirip. Manuskrip yang lain… menunjukkan pengaruh Jacobit serto. Kemudian perbandingan antara beberapa manuskrip-manuskrip Arab Kristen kuno dengan manuskrip Al­Qur’ an Kufi kontemporer menunjukkan adanya beberapa kesamaan skrip.4 Bagaimana pun tidak semuanya seperti yang terlihat. Menurut Abbott, “Manuskrip Arab Kristen tertua adalah dari tahun 876,”5 yakni 264 hijrah. `Awwad bahkan menyebut adanya manuskrip yang lebih awal lagi, yang ditulis pada tahun 253 H./867 M.6 Manuskrip Arab Kristen yang tertua ditemukan pada kedua pertengahan abad ketiga hijrah. Secara literal, ada ratusan kalau tidak ribuan manuskrip Al-Qur’ an yang terdapat pada periode ini; perban­dingan antara manuskrip yang ratusan ini dengan satu atau dua contoh Estrangelo (Syriak) dan akhirnya beranggapan bahwa Syriak memengaruhi AI­Qur’an benar-benar merupakan ilmu miskin kalau ingin menyebutnya sebagai ilmu. Di atas segalanya, saya ingin menambahkan bahwa skrip Syriak tahun 250 hijrah (kecil tajam dan tidak lurus ke depan) secara umum tidak sama dengan semua huruf Arab pada periode itu yang cenderung bengkok dengan satu garis lurus. Seseorang mungkin bertanya kenapa Abbott menghindari peng­gunaan dokumentasi Arab dan manuskrip Al-Qur’an yang muncul pada abad pertama hijrah yang relatif banyak membanjir di rak-rak buku perpustakaan. Kita tinggalkan Syriak, budaya lain yang dianggap telah memengaruhi tulisan Arab kuno palaeography adalah Nabatean. Menurut Dr. Jum’a, telaah kajian menyeluruh yang dilakukan oleh para ilmuwan yang memiliki otoritas, membuktikan bahwa bahasa Arab telah mengambil tulisan mereka dari Nabatean; di dalarn masalah ini dia mengutip sejumlah ilmuwan seperti Abbott dan Wilfinson.7 Dalam menganalisis sebuah tulisan tangan, mata uang, dan manuskrip Muslim yang tertua, dan dibandingkan dengan tulisan-tulisan Arab sebelum Islam, kemudian setelah itu membandingkannya dengan tulisan Nabatean, Abbott menyimpulkan bahwa skrip Arab yang digunakan di awal permulaan Islam adalah pakembangan tulisan Arab sebelum Islam yang secara langsung merupakan pengaruh dari perkembangan skrip Nabatean Aramaik yang muncul pada awal permulaan abad masehi.8 Gambar 9.1: Route penyebaran awal skrip Arab Utara yang dimungkinkan oleh Abbott. Sumber: Abbott, The rise of the North Arabic Script, hlm. 3. Menyantap semua fakta yang ada tampaknya terasa terlalu banyak dalam memenuhi kepuasan para ilmuwan, Disadan mau pun tidak, teori-teori yang ada dibangun berdasarkan kepada penilaian yang sangat subjektif dan sikap pandangan saling memusuhi pada keberhasilan bahasa Arab Ilmuwan Muslim yang matianatian mcmbela pcndapat xpcni ini hanyalah mengikuti teori keilmuwan Barat tanpa memiliki kebebasan analisis. Guna memberi klarifikasi pendapat saya, gambar 9:11 menunjukkan sebagian peta Abbott dalam menjelas­kan inskripsi (tulisan tangan) yang ada. Inilah tempat lima inskripsi dalam buku Abbott, papan gambar 1. yang menjadi dasar kesimpulan skrip Arab berasal dari skrip Nabatean:

1. Inskripsi Nabatean di atas batu Fihc Umm al-lim:il, tahun 250 M..9
2. Inskripsi Arab Imru’ al-Kais, Namarah, 32% M.
3. Inskripsi Arab dari Zabad, 512 M
4. Inskripsi Arab di Harran, 568 M
5. Inskripsi Arab di Umm al-Jimal, abad ke 6.

Di sini kita hanya memiliki satu inskripsi yang disebut Nabateean (dari Umm al-Jimal) sedangkan empat lagi dalarn tulisan Arab, termasuk inskripsi bahasa Arab yang satu lagi di tempat yang sama. Salah satu inskripsi Arab terdapat di Zabad, sangat dekat ke Allepo di sebelah utam Suriah; satu lagi di Namarah, tznggara Damaskus; ketiga dan keempat dari sebzlah utara Ma’an, ketika menjadi ibu kota Nabatean. Jadi bagaimana inskripsi Arab bisa ter­bentang dengan sendirinya dari utara Suriah rnasuk ke Saudi Arabia, me­motong terus ke tanah Nabatean sendiri?.. Saya ragu bahwa di sana ada bahasa yang diketahui oleh pemakainya sebagai bahasa Nabatean, sebagaimana saya akan tunjukkan kemudian. 2. Studi Dokumentasi dan Inskripsi Arab Kunoi. Garis Yang Samar Antera Bahasa Nabatean dan Inskripsi Arab. Di antara ilmuwan terdapat perbedaan pandangan secara umum tentang apa yang menjadi tulisan Nabatean atau inskripsi Arab. Ada sebagian ilmuwan yang menyebutkan inskripsi yang terakhir sebagai inskripsi Nabatean hanya melihat teman kolega yang merevisinya sebagai inskripsi Arab, dan contoh di bawah akan dapat memberi gambaran tentang hal ini. 1. Inskripsi dua bahasa Nabatean dan Greek di atas batu Fihr, Umm al-1ima1, bertanggalkan 250 M. Cantincau, Abbott dan Gruendler semua mengikuti pendapat Linmann, yang menyebutnya sebagai inskripsi Nabatean.10 Gambar 9.2: Inskripsi dua bahasa Greek-Aramaik di atas batu Fihr, Umm al Jimal. 250 masehi. Sumber Cantineau, Le Nabateen, ii :25. 2.Batu nisan Raqush di Mada’in Saleh, bertanggalkan 162 tahun setelah Bosra (sesuai dengan tahun 267 M.). Kedua-duanya cantineau dan Gmendler mencantumkan srbagai “teks Nabatean”,11 walaupun akhimya memberi pengakuan, “Teks itu sangat bemilai untuk para peneliti Arab. O’Conner memaparkannya sebagai gabungan nyrntrik antara Nabatean dan Arab …. Blau memberi label sebagai perbatasan dialek dan Diem menganggap sebagai bagian dari Nabatean-Hejazi”.12 Dalam tulisan mereka 1989, Healy dan Smith dengan senang menyebut sebagai dukumcntasi Arab tertua.13

  1. 1. Gambar 9.3: Batu Raqush yang telah mengalami reinterpretasi baru-baru ini, Inskripsi Arab tertua, kira-kira tahun 267 M sama dengan bacaan Healey dan Smith (baris demi baris). Perlu dicatat terdapat kesimpulan Thamudi yang ditulis secara vertical ke kanan. Sumber al-Atlal, vol. xii, papan gambar 46 dan hlm. 105 (bagian bahasa Arab

Salah satu nuktah penting adalah bahwa inskripsi ini memuat tanda titik di atas huruf dhal, ra’ dan shin. Inskripsi Imru’ al-Kais di Namarah (100 km ke arah barat selatan Damas­kus), tercatat 223 tahun setelah Bosra (c. 328 M.). Sedangkan Gruendler menganggapnya sebagai inskripsi Nabatean.14 Yang lain termasuk Cantineau dan Abbott memperlakukannya sebagai inskripsi Arab.15

  1. 2. Gambar 9.4: Inskripsi Arabnya Imru’ al-Kais, Namarah, sesuai dengan pada tahun 328 Masehi, Sumber: Cantineau, Le Nabateen, ii: 49.

Dari sample ini kita berkeyakinan bahwa menentukan pembagian garis lintas pemisah antara tulisan Arab dan apa “yang disebut.” inskripsi Nabatean sangat kabur; kini dengan adanya reinterpretasi terhadap batu nisan Raqush sebagai teks Arab, la telah menjelma sebagai inskripsi Arab tertua. Persamaan yang jelas di antara tiga inskripsi ini adalah karena skripnya. Itu semua adalah Inskripsi-Nabatean. ii. Dengan Bahasa Apa Orang Nabatean Berbicara Di besar di Mekah sejak dini dari zaman kanak-kanaknya, Isma’il, putra tertua Ibrahim, lahir dari kalangan suku Jurhum dan menikah dua kali dari kalangan mereka. Suku ini berbicara Bahasa Arab,16 dan demikian pula tak diragukan lagi Isma’il berbicara dengan bahasa yang sama. Bahasa Arab Jurhum kemungkinan kehilangan daya tarik lalu mereka memolesnya dengan bahasa Arab Quraish yang mendahuluinya hampir sekitar dua ribu tahun; Ibn Ushta mencatat pernyataan Ibn ‘Abbas bahwa yang pertama-tama membuat aturan grammar dan alfabet bahasa Arab tak ada orang lain melainkan Isma’il.17 Allah kemudian menugaskan Isma’il sebagai Nabi dan Rasul,18 untuk mengajak umatnya menyembah Allah, mendirikan shalat dan membayar zakat kepada orang miskin.19 Oleh karena itu, Allah mengutus rasul dalam bahasa kaumnya sendiri,20 maka Isma’il juga sudah pasti berdakwah dalam bahasa Arab. Keturunannya diakui bahwa Nabi Isma’il diberi karunia dua belas putra,21 di antaranya Nebajoth/Nabat: dilahirkan dan dididik di sekitar Jazirah Arab yang semestinya mereka juga menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa ibu. Putra-putranya memelihara risalah ayah dengan menggunakan skrip Arab; sudah pasti mereka tidak mengubah skrip apa pun yang dipakai di Palestina (tanah air Ibrahim), semenjak dua generasi ini sudah berada dan hidup di Saudi Arabia. Ketika Nabat kemudian berhijrah ke arah utara, dia semestinya membawa alfabet dan bahasa Arab bersamanya. Dan keturunan inilah yang akhirnya mendirikan dinasti Nabatean (600 Sebelum Masehi-50 Masehi).22 Mengomentari terhadap keabsahan beberapa karakter bahasa Arab yang tidak terwakili dalam bahasa Armaik, Gruendler menyatakan, “Karena para penulis teks Nabatean berbicara bahasa Arab, dan adanya hubungan mesra di antara kedua-dua bahasa (penulis-penulis ini) dapat menemukan persamaan bahasa Nabatean dalam ejaan kata-kata Arab (orthography) yang kedengar­annya janggal.”23 Secara langsung dinyatakan bahwa skrip dan bahasa Nabatean sebenarnya adalah bentuk bahasa Arab. Jika Orang Nabatean berbicara dalam bahasa Arab, lantas siapa yang memberinya nama bahasa Nabatean? Apakah ada bukti bahwa mereka me­nyebut bahasa mereka sebagai bahasa Nabatean? Atau mungkin ini diambil dari kecenderungan yang sama dalam memberi label kepada umat Islam sebagai “Muhamaddan (pengikut Muhammad),” Islam sebagai “Muham­madanism (ajaran Muhammad),” dan Al-Qur’an sebagai “Turkish Bible (Bible Orang Turki)”? Jika apa yang disebut skrip Nabatean sudah dinyatakan sebagai “Arabic (bahasa Arab)” atau “Nabatean Arabic” (sebagaimana kita kadang­kadang berbicara dalam bahasa “Arab Mesir” atau “Inggris Amerika”), lalu semua kajian harus mengambil giliran yang berbeda dan diharapkan akan lebih tepat lagi untuk mencapai tujuan itu. Bahasa Arab dan tulisannya dalam bentuk primitifnya, itulah yang melahirkan bahasa Nabatean dan kemungkinan besar muncul sebelum bahasa Syriak. iii. Bahasa Arab Kuno Memiliki Alphabet yang Jelas Mengalihkan perhatian kita terhadap hipotesis Dr. Mingana yang me­nuduh bahwa bahasa Arab kuno tidak mempunyai alfabet, saya akan men­jelaskan beberapa perkembangan inskripsi tingkat tinggi yang membuktikan fakta sebaliknya. Ada beberapa inskripsi Arab dari abad 6 masehi yang menyerupai tulisan Arab (palaeography) yang digunakan pada abad pertama hijrah/abad ketujuh masehi; Contoh-contoh yang saya berikan akan mem­perlihatkan kemajuan mulai dari sini sampai pada zaman Islam. Inskripsi tiga bahasa sebelum Islam dalam bahasa Arab, Yunani, dan Syriak di Zabad, Suriah Utara, bertanggalkan 512 M.24 Gambar 9.5: Sebuah inskripsi tiga bahasa (hanya Arab yang ditunjukkan) sebelum Islam di Zabad, 512 M. Sumber: al-Munaggib, Etude, hlm. 21. Inskripsi bahasa Arab lainnya sebelum Islam di Jabal Asis, 150 km ke tenggara Damaskus. Ini bertepatan dengan kira-kira tahun 528 M.25 Gambar 9.6: Sebuah inskripsi Arab lainnya sebelum Islam di Jabal Asis, 528M. Sumber: Hamidullah, Six Originaux, hlm. 60. Han-an, Inskripsi bahasa Arab sebelum Islam, kira-kira tahun 568 M.26 Gambar 9.7: Inskripsi Arab sebelum Islam di Harran, kira-kira tahun 568 Masehi. Sumber: al-Munaggid, Etudes, hlm. 21. Inskripsi Islam di atas Jabal Sala’, Madinah. Menurut Hamidullah ini kemungkinan besar tertulis dalam ukiran pada waktu perang Khandaq, kira-kira tahun 5 Hijrah/626 Masehi.27

  1. 1. Gambar 9.8: Inskripsi Islam kuno di atas Jabal Sala ‘, kira-kira tahun 5 Hijrah. Sumber: Hamidullah, Six Originaux, hlm. 64.
  2. 2. Surat Nabi untuk al-Mundhir bin Sawa,28 Gurbenur al-Ahsa’, kira-kira tahun 8-9 hijrah. Lihat gambar 9.9.
  3. 3. Surat Nabi saw. untuk Hiraql (Heraclius),29 Raja Byzantin. Lihat gambar 9.10.

Ini cukup untuk membantah pernyataan Rev Mingana tentang alfabet bahasa Arab kuno. Gambar 9.9: Surat Nabi  untuk al-Mundhir (perlu dicatat segel Nabi   di sebelah kiri bawah). Diterbitkan dengan izin Majalah Aksyion Turki Gambar 9.10: Surat Nabi Muhammad  untuk Kiraql, Raja Byzantin, Sumber Kamidullah, Six Originaux, hlm. 149. iv. Kemunculan Beberapa Skrip dan Masalah Penanggalan Mushaf Kufi Terbentang dari Azerbaijan dan Armenia di sebelah utara sampai ke Yaman di sebelah Selatan, dari Libya dan Mesir dari sebelah barat sampai Iran di sebelah timur, wilayah teritorial negara Islam menerima hubungan komu­nikasi dari pemerintahan pusat Madinah dengan perantaraan bahasa Arab.30 Perubahan yang cepat pada skrip Arab seperti kita jumpai karakter garis tajam dan bulat tersambung (seperti tidak lurus) berkembang bersama dengan perkembangan skrip Hejazi pada tingkat awalnya. Seperti contoh, batu al-Hejri (Gambar 9.11) tahun 31 hijrah, yang dikelompokkan oleh beberapa ilmuwan sebagai skrip Kufi31 (garis tajam) dan papyrus tahun 22 hijrah (disimpan di perpustakaan Nasional Austria, Gambar 10.3) dalam bentuk bulat bersambung. Masalah skrip Arab ini sangat luas dan di luar pembahasan ini, tetapi sebagai­mana sebagian Orientalis telah membuat orang bingung tentang Al-Qur’an yang ditulis dalam skrip Kufi, maka saya akan memberikan contoh tertentu tentang skrip ini.

  1. 1. Batu nisan dari Aswan (Mesir Selatan) dengan inskripsi tahun 31 H.32 Prof. Ahmad menganggap sebagai inskripsi Kufi yang tertua.33
  2. 2. Gambar 9.11: Batu tulis di Mesir Selatan, tahun 31 H. Sumber: Hamidullah, Six originaux, hlm. 69.
  3. 3. Inskripsi dalam skrip Kufi dekat Ta’ if (sebelah timur kota Mekah), menuliskan doa, tulisan tahun 40 H.34
  4. 4. Gambar 9.12: Inskripsi )(01 -yang menarik, tahun 40 H., dengan bagan asli. Sumber: Al-Atlal, vol. l, Papan 49. Dicetak kembali dengan izin mereka.
  5. 5. Inskripsi ini mungkin bisa diterjemahkan seperti ini, “Rahmat dan Barakah Allah dilimpahkan kepada ‘Abdur-Rahman bin Khalid bin. Al­’As, ditulis pada tahun 40 hijrah.”
  6. 6. Dam (bendungan) Mu’awiyyah dekat Ta’if dengan inskripsi Kufi yang tidak dihiasi,35 tahun 58 H.36
  7. 7. Ayat Al-Qur’an dalam skrip Kufi tahun 80 H. ditemukan di dekat Mekah.37
  8. 8. Gambar 9.13: Ayat AI-Qur’an da/am skrip Kufi tahun 80 hijrah, Sumber: ar-Rashid, kitabat Islamiyyah, hlm. 160.
  9. 9. Satu inskripsi dekat Mekah berdasarkan pada ayat Al-Qur’an38 dalam skrip Kufi tahun 84 Hijrah.39 Gambar 9.14: Inskripsi Kufi yang cantik, tahun 84 H. Sumber: Ar-Rashid, Kitabat Islamiyyah, hlm. 26.

Empat contoh tadi (gambar 9.119.14) berikut Iainnya40 memberi penegasan bahwa walaupun pada abad pertama hijrah, skrip Kufi telah mendapat tempat di seluruh negara Muslim (Mesir, Hejaz, Syria, Irak dst.). Inskripsi ini bertentangan dengan Gruendler, yang menyatakan bahwa semua Mushaf Kufi muncul pada abad kedua dan ketiga hijrah.41 Pada pertengahan abad pertama, slcrip ini sudah terkenal dan dipakai di seluruh dunia Islam, khususnya dalam uang logam,42 dan tidak masuk akal kenapa harus menunggu satu abad atau lebih sebelum digunakan dalam penulisan Mushaf Padahal, Mushaf Samarkand, yang dikatakan Mushaf ‘Uthmani (Pertengahan pertama abad pertama Hijrah) ditulis dalam skrip Kufi. 3. Kesimpulan Batu-batu Arab banyak dihiasi beberapa contoh skrip Arab sejak per­tengahan abad ketiga hijrah. Beberapa aspek primitif, bahasa Arab kuno tidak pernah menunjukkan bentuk bahasa Arab Nabatean itu sendiri sedangkan akar sejarahnya sampai pada zaman Ibrahim dan Ismail yang ada sebelum Aramaik. Seperti bahasa lain, tulisan dan ejaan bahasa Arab (palaeography dan ortho­graphy) terus berkembang. Perluasan wilayah teritorial Muslim menyebabkan perkembangan beberapa skrip Arab seperti Hejazi, Kufi dan tulisan yang di­sambung, dengan karakteristiknya masing-masing. Tidak ada satu skrip yang mendominasi lainnya, dan tidak terbatas pada suatu tempat. Dengan beberapa contoh skrip Kufi yang diambil dari inskripsi abad pertama hijrah, kita bisa membantah teori Mushaf Kufi yang hanya ditujukan pada abad kedua dan ketiga hijrah. —————————————=—————– 1. Beatrice Gruendler, The Development of the Arabic Script, Scholars Press, Atlanta, Georgia, 1993, hlm. 1. Argumentasi Starcky telah ditolak dengan detail (ibid, hlm. 2). 2. Nabia Abbott, The Rise of the North Arabic Script and its Kur’anic Development, with a full Description of the Kur’an Manuscripts in the oriental Institute, The University of Chicago Press, Chicago, 1938, him. 6 catatan kaki 36. 3. Mingana, “Transmission of the Kuran”, The Moslem World, vol. 7 (1917), hlm. 412. 4. Nabia Abbott, The rise of the North Arabic Script, hlm. 20. 5. Ibid. hlm. 20, Cat. Kaki 20. 6. K. ‘awwad, Aqdamul-Makhtutat al-‘arabiyyah fi Maktabat al-‘Alam, Baghdad, 1982, hlm. 65. 7. Ibrahim Jum’a, Dirasatun fi Tatawwur al-Kitabat al-Kufiyyah, 1969, hlm. 17. 8. N. Abbott, The rise of thc North Arabic Script, hlm. 16. 9. Menarik sekali dalam halaman 4 Abbot menamakan inskripsi yang sama: (inakripsi Greek- Aramit) “a Greek-Armaic inscription at Umm al-Jimal” 10. J Cantincau, Lc Nabateen, Ono Zeller, Osnabruck 1978, u:25 (diterbitkan Wang cdisi [9301; N. Abbott, The Rise of the North Arabic Script, Gambar 11-11: lihat juga R. Gniendler, The Development of the Arabic Scnp4 hlm. 10. 11. J. Cantineau Le Nabateen, 11 38-39, Ciruendler, The Development of the Arabic Scrim hlm, 10. 12. Gruendler The Development ofrhe Arabic Script, hlm. 10. 13. Lihat J.F. Ficulry dan G.R. Smith, “Jaussen-Savignac 17-the Earliset Dated Arabic Document (AD. 276):, a!-Ailal (the Journal of Saudi Arabian Archaeology). wl. zu, 1410 (1989) hlm. 77 Pengarang menyebutkan bahwa inskrip ini telah diklasifikasikan sebagai Icks Aramuk 1 ibid, hlm. 771. 14. Gruendler, The development of the Arabic Script, hlrtz’. TI-12. Mengarang mengklaim bahwa itu “Teks tertua yang masih ada di dalam bahasa Arab, walaupun itu masih menggunakan karakter Nabatean.” (Ibid, hlm. 11). 15. Cantineau, Le Nabateen, ii: 49-50 (Dibawa “Textes Arabes Archaiques’); Abbott, The Rise of the North Arabic script, Gambar (I-2). Mengutip Healey dan Smith , “… Dari waktu penemuannya (teks Namarah) telah ditetapkan sebagai Inskripsi Arab tertua” (“Jaussen-Savignac 17 – The earliest Dated Arabic Document (A-D. 276),” , al-Atlal, xii: 82). 16. Lihat al-Bukhari, Sahih, al-Anbiya’, hadith no. 3364; lihat juga Ibn Qutaiba, al-Ma’arif, hlm. 34. 17. As-Suyuti, al-Itqan, iv: 145, Mengutip Ibn Ushta. 18. Qur’an 2:135; 3: 84. 19. Qur’an 19: 54-55. 20. Qur’an 14: 40 21. King James Version, Genesis 25:12-18. 22. Ada beberapa pendapat yang beda mengenai asal muasal Nabatean. Menurut pendapat      Jawad ‘ali, “Nabatean adalah Arab yang lebih dekat dengan suku Quraish dan Hejazi daripada suku Arab bagian selatan. Kedua-dua suku ini mempunyai tuhan yang sama dan skrip mereka mempunyai kesamaan dengan skrip yang digunakan oleh penulis-penulis terdahulu untuk menuliskan Al-Qur’an. (Suriah dan Nabatean budayanya berbeda, dan orang Nabatean tidak tinggal di Suriah tetapi yang sekarang dikenal Jordan). Menurut Ahli sejarah, Nebajoth adalah Nebat atau Nabatean, anak tertua Isma’il. Fakta inilah yang menyebabkan Jawad ‘All menyimpulkan demikian. (Jawad ‘Ali, al­Mufassal fi Tarikh al-‘arab Qabl al-Islam, iii: 14). 23. Gruendler, The development of the Arabic Script, hlm. 125. (perkataan dalam Italic ditambahkan oleh penulis). 24. S. al-Munaggid, Etudes De Paleographic Arabe, hlm. 21; lihat juga Gruendler, The Development of the Arabic Script, hlm. 13-14. 25. M. Hamidullah, Six Originaux des Letters Diplomatiques du Prophete de L’Islam, Edisi Premiere, Paris 1986/1406, hlm. 13-14. 26. S. al-Munaggid, Etudes De Paleagraphie Arabe, hlm. 21. 27. M. Hamidullah, Six Originaux des Lettres Diplomatiques du Prophete de L’Islam, hlm. 62-5. 28. Topkapi Sarayi, barang no. 21/397. Lihat juga Hamidullah, Six Originaux des Letters Diplomatiques du Prophete de L’Islam, hlm. 111. Saya menerima keaslian surat ini dan juga surat yang dikirim ke Hiraql yang bersama dcngan surat-surat lain yang disahkan autentik oleh Hamidullah, sebagai seorang ahli sejarah. Di lain pihak Gruendler menyatakan, “Keaslian surat-surat ini diragukan, karena surat-surat ini tidak memaparkan skrip yang sama.” (The development of Arabic Script, hlm. 5, catatan kaki 16). Ini sama sekali bohong. Nabi saw. mempunyai lebih dari 60 penulis (lihat buku ini , hlm. 68? ), dan untuk mengharapkan tulisan tangan mereka sama satu-sama lainnya itu sia-sia. 29. M. Hamidullah, Six Originauz des Letters Diplomatigues du Prophete de L’Islam, hlm. 149. Perhatikan perbedaan dalam tulisan tangan antara surat ini dan surat sebelumnya, dikarenakan perbedaan penulis. 30. Lihat al-Anzami, “Nash’ at al-Kitaba al-Fiqhiyyah”, Dirasat, University of Riyad, 1398 (1978), ii: 13-24. 31. Walaupun saya menggunakan kata Kufi di sini dan di tempat lain, sebagaimana digunakan dalam lingkungan akademik, saya pribadi ada beberapa catatan tentang label ini. Walau bagaimanapun saya setuju dengan ilmuwan terdahulu yang menulis kaligrafi Mushaf, an-Nadim, menyebutkan lebih dari satu dozen style skrip (rasm al-khat) di mana Kufi hanya salah satu skrip. Mungkin ini susah untuk membedakan karakteristik setiap style kaligrafi, tetapi kelihatannya dunia akademik modern, dengan salah mengategorikan semua style di bawah skrip Kufi, telah mennyimplikasikannya dengan cara yang ngawur (lihat A. al-Munif, Dirasah Fanniya li MushafMubakkir, Riyad, 1418 (1998), hlm, 41-42). Menurut pendapat Ydsuf Dhunnun, kata Kufi sekarang dipakai untuk menunjukkan (dengan salah) semua skrip yang baris tajam yang asalnya dari dasar skrip al-Jalil (Ibid, hlm. 42). Lihat juga N: Abbott, The Rise of the North Arabic Script, hlm. 16. 32. Ibid, hlm. 69; lihat juga S. al-Munaggid, Etudes De Paleographie Arabe, hlm. 40. 33. A. ‘Abdur-Razzaq Aimad, “Nash’at al-Khat al-`arabi wa Tatawwurahu `ala al-Masahif’, Masahif San’a’, hlm. 32 (bagian Arab). Skrip itu kelihatan garis tajam tetapi saya tidak mau menyebutkannya Mill. Kota Knfa dan Basra terdapat di Irak sejak awal sejarah Islam; Kufa sendiri telah didirikan pada tahun 17 H. /638 M. oleh Sa’d b. Abi Waqqas. Kdfah sepertinya tidak disangka sebagai kota yang telah dibangun dari garis (begitu saja), lalu terkenal dengan nama skripnya ( seperti Kufi), mengekspornya sejauh Mesir selatan dan bisa menarik banyak pengikut seperti penulis di atas batu ini dalam kurun waktu hanya 14 tahun. 34. A.H. Sharafaddin, “Some Islamic Inscriptions discovered on the Darb Zubayda,” al-Atlal, vol. 1. 1397 (1977), hlm. 69-70. 35. Gruendler, The Development of the Arabic Script, hlm. 15-16 36. Lihat Gambar 10.5 dan Teks lainnya. 37. S. ar-Reshid, Kitabat Islamiyyah min Makkat al-Mukarramah, Riyad, 1416 (1915), hlm. 160-161. 38. Inskripsi ini bukan ayat Al-Qur’an tetapi diambil dari dua ayat Al-Qur’an yang berbeda (2:21 dan 4:1). Ini disebabkan kekeliruan dalam ingatan penulis. Mengutip Bruce Metzger, ” Ingatan (hafalan) bisa lupa dan keliru walaupun ketika seseorang mengutip kalimat yang sama … Contohnya tidak kurang dari Jeremy Taylor, yang mengutip teks “Except a man be born again he cannot see the kingdom ofGod (Dia tidak bisa melihat kerajaan Tuhan, kecuali seorang yang dilahirkan kembali,)” sembilan kali, tetapi dua kali dalam bentuk yang sama, dan tidak ada satu pun yang tepat”. (The texts of New Testament: Its transmission, corruption dan restoration, Edisi ketiga yang diperbesar, Oxford University Press, 1992, hlm. 88-89, catatan kaki no. 3). 39. S. at Reshid, Kitabat Islamiyyah min Makkat al-Mukarramah, hlm. 26-29. 40. Banyak sekali contoh-contoh Inskripsi Kdfi yang lain yang saya tidak sebutkan karena perimbangan ruangan dalam tulisan ini. Beberapa yang terkenal adalah (1) Inskripsi    _afnat al­Ubayyid dekat Karbala, Irak tahun 64 Hijrah (al-Munaggid, Etudes De Palegraphie Arabe, hlm. 104­5); (2) Inskripsi yang tertulis di atas papan yang terukir di tempat berlakunya peraturan Nabi Musa (Mosaic), Yerusalem, tahun 72 H. (Gruendler, The Development of the Asrabic Scripts, hlm. 17-18, 155-156); (3) Batu tanda jalan yang dibangun pada zaman pemerintahan Khalifah ‘Abdul Malik (65­86 Hijrah) (al-Munaggid, Etudes, hlm.134-35)                         .   . 41. Gruendler, The development ofthe Arabic Script, hlm. 134-35. 42. Khalifah ‘Abdul Malik menyatukan mata uang di seluruh dunia Islam pada tahun 77 Hijra/ 697 Masehi. (Stephen Album, A Checklist of Islamic Coins, Edisi ke dua, 1998, hlm. 5). Ini slogan uang logam asli dari emas, perak dan bermotokan AI-Qur’an, pada tahun yang mereka gunakan, dan dalam uang silver dan logam scmua dalam skrip Kufi. Ini berlaku sampai zaman keruntuhan Khalifah Umayyah pada tahun 132 hijrah. (“Islamic Coins-The Tutath Collection Part 1”, Spink, London, 25 Mei 1999. Sale no. 133) @@18@@ BAB 10 : TULISAN & EJAAN BAHASA ARAB DALAM AL-QUR’AN The History of The Qur’anic Text  hal 143 – 150 Kekeliruan yang menahun dan semakin banyak permasalahan yang di­hadapi negara-negara yang baru muncul mengakibatkan terjadinya perubahan secara dramatis dalam ketentuan ejaan, adanya mempertahankan keganjilan dari pengalaman masa lalu sedang ejaan lainnya akan jadi barang aneh atau kuno. Ini mengingatkan saya pada tahun 1965 ketika saya menyelesaikan program doktor saya di Cambridge. Saya ketemu dengan seorang mahasiswa muda dari Inggris yang mempelajari bahasa Arab untuk menjadi seorang ahli orientalis. Dia mengakui kesusahannya dalam mempelajari dan menguasai ejaan bahasa Arab, dan dia mendesak agar mengubah ejaan Arab ke skrip Latin-seperti halnya dengan bahasa Turki modern-yang membuatnya lebih mudah untuk dipahami. Saya menjawabnya dengan menyebtttkan kesusahan dalam suara a dalam bahasa Inggris, father, fat, fate, shape; dan u dalam put, but, penyebutan kata right dan write, dan bentuk kata kerja sekarang dan lampau read. Banyak lagi contoh yang bisa saya sebutkan dari pengalaman kesusahan saya dalam mempelajari bahasa Inggris sebagai bahasa ketiga. Dia beralasan bahwa ketidakteraturan ini disebabkan oleh beberapa kata dan sejarah perkembangannya, tetapi dia lupa untuk melihat bahwa bahasa Inggris tidak bisa dipertanyakan keanehan-keanehannya, dan begitu juga sama dengan apa yang terjadi dalam bahasa Arab. Di bawah ini saya beri contoh kata-kata yang secara random saya pilih (dan merupakan kata yang panjang lebar) dari perjanjian Inggris abad 17 Masehi, untuk menggambarkan perubahan ejaan yang terjadi dalam kurun waktu empat abad. The Boy of Bilson: or A True Discovery of the late notorious Impostures of  certaine Romish Priests in their pretended exorcisme, or expulsion of the Divell out of young boy, named William Perry, sonne of Thomas Perry Bilson, in the country of Stafford, Yeoman. Upon which occasion, hereunto is permitted A briefe Theological Discourse, by way of caution, for the more easie discerning of such Romish spirits; and inudging of their false pretensces, both in this and the like Practices. 1(Anak laki-laki Bilson: betul-betul penemuan seorang (yang sudah meninggal) yang terkenal dengan tukang tipu pendeta Romish dalam mantranya, atau pengusiran setan dari badan seorang anak bernama, Willian Perry, anak-laki-laki Thomas Perry Bilson di negara Safford, Yeoman. Dalam kejadian ini dibolehkan sedikit diskusi tentang teologi dengan hati-hati untuk memudahkan melihat roh Romish; dan meng­hukum kesalahannya, di dalam kasus ini atau kasus yang lainnya). Ejaan ini mungkin bisa ditertawakan dengan ukuran ejaan sekarang, tetapi sebenarnya sesuai dengan standar ejaan Inggris pada abad 17 M.. Dalam beberapa bahasa, karakter tertentu memiliki dua fungsi; dalam bahasa Latin,2 huruf i dan u kedua-duanya berfungsi sebagai vokal dan kon­sonan, dengan fungsi konsonan i berbunyi seperti y dalam kata yes. Dalam beberapa teks konsonan i ditulis dengan j. Dalam Latin juga, huruf b jika diikuti dengan s maka berbunyi p (contohnya abstuli = apstuli), dan itu juga sama dengan b dalam bahasa Inggris.3 Menarik sekali, huruf j hanya muncul baru­baru saja (pada abad 16 atau 17 Masehi) lama setelah media masa cetak di­temukan.4 Dalam bahasa Jerman, kita dapatkan vokal yang diubah menjadi tanda.yang ada titik di atas (umlaut) contohnya a, o, u, yang asalriya dieja masing-masing ae, oe, ue,5 Huruf b bisa berbunyi b dalam kata ball (ketika permulaan) atau berbunyi p dalam kata tap (ketika diakhir huruf atau suku kata), sedangkan d bisa berbunyi d atau t. Huruf g bisa berubah-ubah menjadi enam bunyi yang berbeda menurut dialek lokal. Fenomena yang sama terjadi dalam bahasa Arab. Beberapa suku me­nyebut kata  (hatta) dengan  (‘atta), dan (sirat) dengan (sirat), dan sebagainya, dan hal ini disebabkan oleh banyak perbedaan dalam bacaan yang terkenal. Sama juga huruf mempunyai dua fungsi sebagai konsonan dan vokal, sebagai mana dalam bahasa Latin. Masalahnya adalah bagaimana penulis dan penyalin Arab dulu (kuno) menggunakan tiga huruf ini memerlukan perhatian yang khusus. Metode mereka, walaupun kelihatan rada memusingkan bagi kita saat ini, namun cukup jelas bagi mereka. Dari pen­dahuluan singkat ini, sekarang kita hendak selidiki sistem ortografi (ejaan Arab) pada zaman awal Islam. 1. Gaya Tulisan pada Zaman Nabi Muhammad Di Madinah Nabi Muhammad mempunyai penulis yang banyak ber­asal dari beberapa suku dan tempat, yang sudah terbiasa dengan dialek dan ejaan yang berbeda-beda menurut adat masing-masing. Contohnya, Yahya berkata bahwa dia melihat surat yang dibacakan oleh Nabi Muhammad saw kepada Khalid bin Sa’id bin al-‘As yang memuat beberapa kejanggalan:. (kana) ditulis  (kawana), dan   (hatta) dieja 6 Dokumentasi yang lain, yang diserahkan Nabi saw. kepada Razin bin Anas as-Sulami, juga dieja  dengan7 Menggunakan dua y ( ) yang sudah lama berbeda dengan satu y, didapatkan dalam kata8 dan   (sudah jelas tidak menggunakan titik) pada surat-surat Nabi saw.9 Satu dokumentasi abad 3 hijrah meng­gambarkan beberapa surat dalam banyak cara.10Banyak sekali bukti-bukti mengenai perbedaan dalam gaya tulisan pada zaman permulaan-Islam. 2. Kajian tentang Ortografi (EJaan ) Mushaf ‘Uthman Telah banyak buku yang menyinggung tentang ejaan yang janggal dalam Mushaf ‘Uthmani, dengan lebih detail lagi khususnya dalam menganalisis contoh-contoh ejaan yang menyeleweng. Di antara beberapa bab dalam al­Muqni `, contohnya di bawah judul (heading), “Examination of Mushaf spellings where (vowels are) dropped or listed (Meneliti ejaan Mushaf Yang Vokalnya Dibuang Atau Disebutkan). (Sub judul): Examination of words where alif( I ) is dropped for abbreviation (Meneliti kata-kata yang ada alifnya dibuang untuk tujuan singkatan).” Ad-Dani mengutip Nafi bin Abi Nu’aim (70­167 Hijrah), pengarang asli, kemudian membuat daftar ayat-ayat yang di dalamnya ada alifyang dibaca tapi tidak ditulis:

Surah: ayat Ejaan yang digunakan dalam Mushaf ‘Uthman Bacaan yang sebenarnya
2:9
2:51
20:80

Saya pilih hanya tiga contoh ini saja, jika tidak demikian, dalam bukunya dapat menghabiskan lebih dari dua puluh halaman. Lebih dari itu, alif dalam Mushaf ‘Uthmani semuanya tidak terdapat pada kata dan (semuanya 190 tempat), kecuali dalam ayat 41:21 di mana ejaannya adalah .11 Membaca Mushaf mana saja yang diterbitkan oleh Kompleks Percetakan Raja Fahd di Madinah, saya telah memeriksa satu contoh ejaan yang janggal, dan sementara ini, dalam penelitian saya, saya tidak mendapatkan ejaan yang bertentangan dengan hasil tabulasi Nafi’.12 Dua vokal lagi yang bersamaan dengan huruf hamza juga menggambarkan kecenderungan perubahan yang dinamis yang tidak hanya terdapat pada Mushaf ‘Uthmani. Beberapa sahabat yang menulis naskah milik pribadi banyak yang memasuk­kan ejaan janggal yang kemungkinan disebabkan oleh perbedaan wilayah dalam masalah ejaan. Di sini ada dua contoh; a.‘Abdul-Fattah ash-Shalabi menemukan manuskrip AI-Qur’an klasik (tua) yang penulisnya menggunakan dua ejaan yang berbeda pada kata  (contohnya   dan   ) di halaman yang sama.13 b.Dalam koleksi perpustakaan Raza, Rampur, India, ada sebuah Mushaf yang ditulis dalam skrip Kufi yang dinisbatkan kepunyaan ‘All bin Abi Talib,. Kata   juga ditulis dengan  dan   ditulis dengan  Untuk lebih jelas, saya perlihatkan contoh   seperti di bawah ini.14 Gambar 10.1: sebuah Mushaf yang ditulis dalam skrip Kufi yang dinisbatkan kepunyaan ‘All bin Abu Talib,. Kata    ditulis dengan    (Baris ke tujuh dari atas) dan kata   juga ditulis dengan (baris keempat dari bawah). Penghargaan kepada Perpustakaan Raza,Rampur, India. Rampur Malik bin Dinar melaporkan bahwa ‘Ikrima membaca ayat 17:107 dengan fas’al (), walaupun tertulis fsl () Malik menenangkan akan hal ini dengan menyatakan bahwa itu sama dengan bacaan qal ( ) ketika kata itu ditulis ql ()15 yang merupakan kependekan umum di Mushaf Hejazi.16 Dengan adanya bacaan yang berdasarkan tradisi belajar secara lisan, adanya kekurangan seperti ini tidak akan menyebabkan kerusakan teks Kitab Suci. Kalau seorang guru membaca   (baca dengan qalu, alif di akhir tidak dise­butkan karena ada peraturan grammar tertentu) dan murid itu menuliskannya (mengikuti standard dia sendiri) tetapi membacakannya dengan betul seperti , lalu ejaan vokal yang janggal tidak mengandung pengaruh yang negatif. Ibn Abi Dawud meriwayatkan kejadian di bawah ini ” Yazid al-Farsi berkata, “‘Abaidullah bin Ziyad menambahkan dua ribu huruf ( ) dalam Mushaf Ketika al-Hajjaj bin Yusuf datang dari Basra dan diberi tahu tentang ini, dia meminta siapa orangnya yang mem­beritahukan tentang perubahan yang dibuat `Ubaidullah. Mereka men­jawab Yazid al-Farsi. Oleh karena itu, al-Hajjaj memanggil saya; Lalu saya pergi menemuinya dan saya tidak ragu bahwa dia akan mem­bunuhku. Dia menanyakan mengapa ‘Ubaidullah minta untuk menambah dua ribu huruf ini. Saya menjawab: Mudah-mudahan Allah memelihara anda ke jalan yang lurus; dia telah dibesarkan di Masyarakat tingkat bawah Basra (contohnya jauh dari lingkungan terpelajar, di suatu daerah di mana orang tidak merasakan citra kesusastraan dan keindahan). Ini yang saya sayangkan, karena al-Hajjaj berkata bahwa saya berbata benar dan silakan tinggalkan saya. Apa yang diinginkan oleh ‘Ubaidullah adalah hanyalah ingin meletakkan dasar ukuran ejaan dalam Mushafnya, menulis kembali kata-kata () menjadi () dan () menjadi() Seperti halnya perubahan tidak menyebabkan kehancuran teks melainkan justru menekankan beberapa huruf hidup (vowels) yang telah ditiadakan atau dibuang untuk penggunaan singkatan, al-Farsi meninggalkan persahabatan al­Hajjaj tanpa kesan negatif. Kembali merujuk kepada AI-Qur’an, kita menemukan bahwa kata-katal  tercatat sebanyak 331 kali, sedangkan   sebanyak 267 kali; jumlah seluruhnya ada 598 kata. Mengingat bahwa ‘Ubaidullah menambah ekstra dua alif di setiap ini maka mencapai sekitar 1,200 huruf ekstra. Jumlah dua ribu (sebagaimana disebutkan dalam riwayat itu) kemungkinan besar hanya kira-kira saja. Riwayat Ibn Abi Dawud mengalami kekurangan dan isnadnya pun lemah18 menyebabkan banyak ilmuwan yang menolak. Tetapi jika ternyata ini juga betul, apa yang menjadikan `Ubaidullah salah dalam membuat naskah pribadi tak ada tujuan lain kecuali hendak menjadikannya sesuai dengan kaidah ejaan yang berlaku, lain tidak. Contoh lainnya, kita akan mengalihkan per­hatian pada mushaf salinan Ibn al-Bawwab yang dibuat pada tahun 391 Hijrah / 1000 Masehi, yang saya telah bandingkan dengan mushaf cetakan Madinah pada tahun 1407 Hijrah/ 1987 Masehi. Di awal Surah al-Baqarah saja ada empat contoh ini. Kebiasaan sebagian besar Mushaf yang dicetak sekarang mengikuti sistem ejaan Mushaf ‘Uthmani; kata   (Malik) contohnya ditulis    (malik) mengikuti ejaan (ortografi) ‘Uthmani, walaupun alif kecil diletakkan pada mim untuk menjelaskan penyebutan bagi pembaca zaman sekarang. Sama juga dengan beberapa ayat yang masih mengeja   dengan 20 menunjukkan bahwa kependekan ini adalah berlaku pada zaman `Uthman dan dia juga mengizinkan untuk memasukkan kedua-duanya. Penerbit modern, dengan mendasarkan naskahnya kepada ortografi Mushaf ‘Uthmani yang resmi, telah menyediakan rujukan yang banyak tentang ketentuan ejaan yang berlaku pada zaman awal Islam (abad pertama hijrah). Ini sesungguhnya adalah merupakan pilihan terbaik bagi semua penerbit, di mana mereka memberikan manfaat untuk media masa cetak dan merupakan sifat pendidikan modern yang telah diberi ukuran serupa. Bagaimanapun keinginan untuk menyimpang dari ejaan Mushaf ‘Uthmani bukan hal baru lagi. Imam Malik (w. 179 H.) telah dihukum dua belas abad yang lalu karena fatwanya ( ) tentang apakah seseorang boleh menulis Mushaf dengan menggunakan kaidah ejaan (yang digunakan akhir-akhir ini); dia menolak pendapat itu, dan hanya menyetujuinya untuk anak sekolah saja. Di tempat lain juga ad-Dani (w. 444 H.) menyatakan bahwa semua ilmuwan dari sejak zaman Malik sampai zamannya sepakat dengan keyakinan yang sama.21 Imam Malik telah ditanya tentang huruf hidup (vowels) tertentu yang tidak dibaca di dalam Mushaf: dia tidak mau menghilangkannya. Abu `Amr (ad-Dani) memberi komentar bahwa ini merujuk pada tambahan huruf hidup yang tidak dibaca; waw dan alif, seperti waw dalam, alif dalam …, dan juga ya’ dalam … .” Ini menunjukkan bahwa imam Malik menentang untuk mengubah ejaan Mushaf secara resmi; sedangkan penulis Al-Qur’an pada zaman itu telah memilih memasukkan kaidah ejaan yang berbeda dalam naskah pribadi mereka, dalam pikirannya, ejaan ketentuan ini tidak pernah diterima sebelunmya atau menyetujui ortografi Mushaf ‘Uthmani ————————————-o0o———————————— 1. Peter Milward, Religious Controversies of the Jacobean Age( A Survey of Printed Sources), The Scholar Press, London, 1978. him. 197. Ini merupakan sebuah judul buku yang di terbitkan pada tahun 1622 M. Saya italic-kan kata-kata yang ejaannya berbcda dari standard ejaan sekarang. Perlu dicatat bahwa “judging” ditulis dengan “i” bukan”j”. 2. F.L. Moreland dan R.M. Fleischer, Latin,: An Intensive Course, hlm. 1 3. Ibid, hlm. 2 4. “Hos was Jesus Spelled?”, Biblical Archaeology Review, May/June 2000, vol. 26, no. 3, hlm. 66. 5.Harper’s Moderen German Grammar, London, 1960, hlm. Ix-xvi. 6. Untuk lebih detail, lihat Abi Dawnd, al-Masahif, hlm. 104. 7. Ibid, hlm. 105. 8. Qur’an 51:47. 9.  M. Hamidullah, Six Originaux Letters Du Prophete De L’Islam, hlm. 127-133. 10. Lihat pada diskusi tentang manuskrip Gharib al-Hadith dalam buku ini, hlm. 146-7. 11. Ad-Dani, al-Muqni’, hlm. 20-27. 12. Naskah yang saya gunakan, naskah yang sudah terkenal di seluruh dunia, tidak diragukan lagi salah satu percetakan Mushaf yang sangat berkualitas. Oleh karena itu, saya mengucapkan selamat dan terima kasih kepada pusat percetakan ini. 13. Ash-Shalabi, Rasm al-Mushaf, hLm. 72-73. Di dalam kasus yang sama, Mushaf  ‘Alqamah (w 60 H. / 679 M., dibawakan oleh IbrahIm an-Nakha`i (w 96 H.), mengeja alif kedua-duanya dalam bentuk tradisional dan dalam bentuk huruf ya’ – artinya kata-kata tertentu dengan alif bisa mempunyai dua bentuk yang saling bergantian (contoh : dan    ). Saya juga menemukan folio Mushaf abad pertama hijrah yang di dalam halaman yang sama, kata yang sama ditulis dalam dua cara. 14. Untuk contoh halaman lain dari Mushaf yang sama, lihat DR. W.H. Siddiqui dan A.S. Islahi, Hindi-Urdu Catalogue of the exhibitionheld of the celebration of the 50th Anniversary of India’s Independence dan 200 years of  Rampur Raza Library, 200, Papan gambar no. 1. 15. Lihat Ibn Abi Dawud, al-Masahif, hlm. 105 (teks yang dicetak sudah dibetulkan). Guru dan murid terikat untuk mengajar, belajar dan membaca secara lisan menurut riwayat (yang langsung sampai ke Nabi r) dan dalam batasan teks konsonan Mushaf ‘Uthmani. Kedua-dua baeaan Malik bin Dinar adalah betul pada teks konsonan dan hadith yang menjadi dasar bacaannya. 16. Untuk contoh lihat F. Deroche dan S.N. Noseda, Sources de la transmission manuscrite du texte coranique, Les manuscripts de’style higazi, volume 2, tome 1, Le manuscript Or. 2165 (f. 1 A 61) de la British Library Lesa, 2001, hlm. 54a. 17. Ibn Abi Dawud, al-Masahif, hlm. 117. Teks yang dicetak sudah dibetulkan. 18. Rantai saksi-saksi yang terlibat dalam penyebaran kejadian ini; untuk diskusi yang lebih detail lagi dalam sistem isnad secara umum, lihat bab 12. 19. Kata-kata ini, didalam Mushaf yang diterbitkan, mengandung alif kecil untuk membantu pembacaan. 20.  Lihat contohnya Qur’an 23:112, 23:114 dan 4324. 21. Ad-Dani, al-Muqni`, hlm. 19. beberapa ilmuwan menyarankan bahwa Mushaf harus ditulis berdasarkan kepada ejaan yang terpakai pada periodenya. Salah satu ilmuwan itu adalah”22 bin ‘abdus-Salam (az-Zarakhshi, Burhan, i: 379). Tulis yang lain tentang masalah ini termasuk: Ibn khaldun, yang menginginkan perubahan (Shatabi, Rasm al-Mushaf, hlm. 119); Hifni Nasif, yang menentang perubahan (ibid, hlm. 118). Majelis Fatwa al-Azhar, yang memutuskan untuk tetap dengan sistem ejaan lama (ibid, him 118); Jumhur Ulama panitia Saudi Arabia, yang memutuskan pada tahun 1979 untuk meneruskan sistem lama; dan sama juga kesepakatan telah dicapai di Liga Dunia Muslim (al-Finaisan (peny.), al-Badi`, Pendahuluan, hlm. 41). 22. Ad-Dani, al-Muqni`, hlm. 36. @@20@@BAB 10 : TULISAN & EJAAN BAHASA ARAB DALAM AL-QUR’AN The History of The Qur’anic Text  hal 150 – 158 3. Bagian Tanda Titik (Nuqat) dalam Mushaf Zaman Dulu Setelah kita mendiskusikan ejaan (ortografi) sekarang kita beralih pada masalah tulisan (palaeografi).23 Seperti dalam bab sebelumnya kita menelusuri palaeografi Arab dalam perspektif sejarah, sekarang kita hendak telusuri dalam konteks AI-Qur’an dan meneliti perkembangannya. Sebagian besar dari diskusi ini akan berputar di sekitar permasalahan nuqat (titik ) yang mempunyai dua makna pada zaman awal Islam:

  1. 1. Kerangka Tanda Titik: Ini adalah tanda titik yang terletak baik di atas atau di bawah guna membedakan huruf lain yang kerangkanya sama, seperti h (), kh (), dan j (). Ini disebut sebagai nuqat al-i jam (),  sistem ini sudah terkenal pada zaman Arab sebelum Islam atau setidaknya pada awal Islam­sebelum Mushaf ‘Uthmani, sebagaimana kita akan jelaskan di bawah ini.
  2. 2. Tanda Diakritikal (di bawah atau atas ) Ini dalam bahasa Arab disebut tashkil (seperti dammah, fathah, kasrah) atau nuqat al-i ‘rab ();24 Ini bisa berbentuk titik atau tanda yang konvensional yang dibuat oleh Abu al-Aswad ad-Du’ali (10 sebelum hijrah – 69 H./ 611 – 688 M.25

Kita akan diskusikan kedua-duanya dengan panjang lebar. i. Tulisan Arab Kuno dan Kerangka Tanda Titik Rasm al-Khat (lit. gambar skrip) Al-Qur’an dalam Mushaf ‘Uthmani tidak memuat tanda titik untuk membedakan karakter seperti b), t), dan seterusnya, dan juga tidak ada baris diakritikal (bawah, atas) seperti fathah, dammah, dan kasrah. Sebenarnya ada bukti kukuh yang menunjukkan bahwa konsep tanda titik ini bukan sesuatu yang baru untuk orang Arab, sudah diketahui sebelum Islam datang. Walaupun bagaimana tanda titik ini tidak ada pada Mushaf-Mushaf klasik. Apa pun juga alasan filosofisnya di kejadian ini,26 saya akan mengemukakan beberapa contoh untuk membuktikan bahwa palaeo­grafi (tulisan) Arab klasik mempunyai tanda titik untuk menemani kerangka sifat (huruf).

  1. 1. Batu nisan Raqush, Inskripsi Arab sebelum Islam yang tertua, tahun 267 M., mencatat tanda titik di atas huruf dhal, ra’ dan shin.27
  2. 2. Sebuah inskripsi, kemungkinan sebelum Islam, di Sakaka (Arab Utara), ditulis dalam skrip yang rada aneh:
  3. 3. Gambar 10.2: Inskripsi agak aneh ditemukan di Sakaka. Sumber: Winner dan Reed, Ancient Records from North Arabia, gambar 8. Dicetak ulang dengan izin penerbit.
  4. 4. Inskripsi itu (seperti kombinasi karakter antara Nabatean dan Arab)28 memuat tanda titik yang menggabung dengan huruf Arab berikut ini: n ()  b (), dan t ().
  5. 5. Dokumentasi dalam dua bahasa di atas kertas papyrus, tahun 22 H.,29 disimpan di Osterreichische Nationalbibliothek di Vienna Gambar 10.3: Sebuah dokumentasi dalam dua bahasa yang bertanggal dari Mesir. Sumber: Perpustakaan Nasional Austria, Koleksi kertas papyrus, P. Vindob. G 39726. Dicetak ulang dengan izin mereka.
  6. 6. Gambar 10.4: Baris terakhir dibaca: Bulan Jamad al-‘ula tahun 22 Hijrah dan ditulis oleh Ibn Hudaidah.
  7. 7. Dokumentasi ini mendapat sambutan sejak zaman pemerintahan Khalifah ‘Umar bin Khattab. Karakter Bahasa Arab di bawah ini mempunyai tanda titik: n (), kh (), dh (), sh (), dan z ().30
  8. 8. Sebuah inskripsi dekat Mekah, tahun 46 H., mencatat satu tanda titik di atas huruf b ().31
  9. 9. Dam Mu’awiyah dekat Madinah mempunyai satu inskripsi dengan memasukkan tanda titik di atas huruf t ().32
  10. 10. Dam Mu’awiyah yang lain. Ini dekat Ta’if dengan bertuliskan satu inskripsi bertanggalkan tahun 58 H.

Gambar 10.5: Inskripsi tahun 58 H.-di atas dam Mu’awiyah dekat Ta’if Karakter di bawah ini mempunyai tanda titik: ya), b (), n (), th (), kh (), f () dan t ().33 Sebagaimana tampak di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa sampai tahun 58 hijrah, huruf-huruf di bawah ini sudah diberi tanda titik guna membedakan huruf lain yang bentuknya sama: n ( ), kh (), dh (), sh (), z (), ya ( ), b ( ), th () f (), dan t (). Jumlah semuanya sepuluh karakter. Melihat pada tiga inskripsi pertama, yang ada sebelum Mushaf ‘Uthmani, kita menemukan bahwa titik-titik itu sudah diberi ukuran bentuk yang sama dengan apa yang digunakan sekarang ini. Muhammad bin ‘Ubaid bin Aus al-Gassani, sekretaris Mu’awiyah, menyatakan bahwa Mu’awiyah meminta dia untuk meletakkan beberapa tarqish () dalam dokumentasi tertentu. Menanyakan apa yang di­maksudkan dengan tarqish, dia diberitahukan, “Untuk memberi karakter pada tanda titik yang tepat.” Mu’awiyah menambahkan bahwa dia telah melakukan hal yang sama dengan satu dokumentasi yang dia telah tulis atas nama Nabi Muhammad saw.” Al-Gassani adalah seorang yang tidak dikenal di kalangan ahli hadith (traditionist), dan inilah yang melemahkan riwayatnya,35 tetapi kita tidak bisa mengurangi nilai kejadian ini yang merupakan fakta yang tak mungkin dibantah, yang membuktikan bahwa tanda titik telah digunakan pada Mushaf klasik. ii. Penemuan Tanda Diakritikal Sebagaimana tersebut di atas bahwa tanda diakritikal ini dalam Bahasa Arab disebut tashkil yang dibuat oleh Abu al-Aswad ad-Du’ali (w. 69 H./ 688 M.). Ibn Abi Mulaika melaporkan bahwa pada zaman pemerintahan `Umar, seorang Badui datang meminta seorang guru untuk membantu belajar Al­Qur’an. Seseorang mengajar sukarela (volunteer), tetapi kemudian melakukan kesalahan ketika mengajar yang menyebabkan ‘Umar memberhentikannya, membetulkan, dan kemudian menyuruh agar yang mengajar Al-Qur’an hanya orang yang mapan Bahasa Arabnya. Dengan kejadian itu ‘Umar tidak lagi bimbang dan kemudian minta Abu al-Aswad Du’ali untuk mengarang sebuah risalah tentang tata Bahasa Arab.36 Ad-Du’ali melaksanakan tugasnya dengan ikhlas, yang akhirnya dia menetapkan empat tanda diakritikal yang akan diletakkan pada ujung huruf tiap kata. Ini berbentuk titik-titik merah (untuk membedakannya dari kerangka tanda titik yang berwarna hitam), dengan setiap posisi titik memberikan arti pada tanda tertentu. Satu titik terletak sesudahnya, di atas, atau di bawah huruf menjadikan masing-masing dammah, Fathah, atau kasrah sebagaimana mesti­nya. Demikian halnya dengan titik yang terletak setelah, di atas atau di bawah huruf berbentuk dammah Tanween (dua dammah), Fathah tanween, atau kasrah tanween sebagaimana mestinya37 (sinopsis ini sedikit kelihatan adil pada ketentuan sebenarnya dan agak jelas). Pada zaman pemerintahan Mu’awiyah (w. 60 H. / 679 M.), dia menerima perintah untuk melaksanakan sistem tanda titik ke dalam naskah Mushaf, yang kemungkinan dapat terselesaikan pada tahun 50 H. / 670 M. Gambar 10.6: Contoh Mushaf yang ditulis dalam skrip Kufi, memuat kerangka tanda titik ad­ Du’ali. Jasa baik dari Museum Arsip Nasional Yaman. Skim (kerangka) ini kemudian diturunkan dari ad-Du’ali ke generasi penerusnya melalui usaha Yahya bin Ya’mar (w. 90 H./ 708 M.), Nasr bin `Asim al-Laithi (w. 100 H./718 M) dan Maimun al-Aqran, sampai kepada Khalil bin Ahmad al-Fraheedi (w. 170 H. / 186 M.) yang akhirnya mengubah corak (pattern) ini dengan menggantikan tanda titik merah berbentuk menyerupai karakter tertentu.38 Beberapa abad kemudian skim kerangka al­ Fraheedi menggantikan sistem sebelumnya. Setiap pusat (kota) kelihatannya pada awalnya mempraktikkan kaidah yang berlainan. Ibn Ushta melaporkan bahwa Mushaf Isma’il al-Qust, Imam Mekah (100-170 H. / 718-186 M.) memakai sistem tanda titik yang tidak sama dengan Mushaf yang digunakan oleh orang Irak,39 sedangkan ad-Dani men­catat bahwa ilmuwan San’a’ mengikuti kerangka lain.40 Sama juga, bentuk atau contoh yang digunakan orang Madinah berbeda dengan yang digunakan oleh orang Basra; pada ujung abad pertama hijrah bagaimanapun, kaidah orang Basra semakin meluas sehingga orang-orang Madinah pun mengadopsinya.41 Perkembangan berikutnya mulai memperkenalkan tanda titik warna-warni, setiap tanda diakritikal telah diberi warna yang berbeda. Gambar 10.7: Contoh Mushaf dalam skrip Kufi. Titik diakritikal warna-warni (merah, Hijau, kuning, dan Biru muda). Per1u dicatat juga pemisah ayat dan tanda kesepuluh ayat, sebagaimana telah disinggung dalam bab 6. Jasa Baik dari Museum Arsip Nasional Yaman. iii. Penggunaan Secara Paralel dari Dua Skema Tanda Diakritikal yang Berbeda Skim diakritikal Khalil bin Ahmad al-Fraheedi menyebar dengan cepat dalam pengenalannya bukan saja pada teks Al-Qur’an, jadi untuk tujuan mem­bedakan skrip dan tanda diakritikal yang digunakan untuk naskah Al-Qur’an selalu dijaga sehingga skrip dan tanda ini dibedakan dari skrip dan tanda yang digunakan pada buku-buku lain, walau bagaimanapun beberapa ahli kaligrafi secara perlahan sudah mulai menggunakan sistem diakritikal yang baru dalam Al-Qur’an.42 Saya beruntung sekali karena mempunyai beberapa buah gambar Al-Qur’an berwarna dari koleksi San’a’, di mana dengan perkembangan skim seperti ini akan mudah dijelaskan. Gambar 10.6 dan 10.7 (di atas) kemungkinan dari abad kedua hijrah sedang­kan di bawah ini adalah contoh skrip Al-Qur’an pada abad ketiga hijrah.43 Gambar 10.8: Contoh skrip AI-Qur’an pada abad ketiga hijrah. Perlu dicatat lagi tanda titik warna-warni. Jasa Baik dari Museum Arsip Nasional Yaman. Gambar berikut ini adalah contoh skrip yang bukan Al-Qur’an pada periode yang sama. Perbedaannya dapat dilihat dalam skrip dan dalam skim kerangka yang digunakan pada titik dan tanda diakritikal. Untuk contoh yang lain, lihat gambar 10.11 dan 10.12. Garnbar 10.9: Contoh skrip yang bukan Al-Qur’an, akhir abad kedua Hijrah. Perlu dicatat tanda diakritikal sama dengan skim al-Fraheedi. Sumber: A. Shakir (peny.) ar-Risalah of ash-Shafi’i, Kairo 1940, Papan gambar 6. 23. Sebagai peringatan: ortografi adalah ejaan yang konvensional, sedangkan palaeografi (dalam konteks ini) akan membahas tentang skrip sebuah bahasa, dengan bentuk hurufnya dan penempatan titik dan sebagainya. 24. Ini berarti untuk menggambarkan bunyi pendek vokal. Nama lain adalah al-haraka6 clan dalam bahasa Urdu ini disebut zair, zabar, paish…dst. 25. Ad-Dani, al-Muhkam, hlm. 6. Pengarang terkenal, ad-Dau’ali menulis karangannya tentang grammar (dan menemukan tashkil) sckitar tahun 20 H. / 640 M. 26. Untuk mendiskusikan motif ini lihat hlm. 107. Apakah ini disebabkan perbedaan dalam pembacaan Al-Qur’an bisa dilihat pada bab ke-11. 27. Untuk lebih detailnya, lihat 134. 28. F.V. Winnet dan W.L. Reed, Ancient Records from the North Arabia, University of Toronto Press, 1970, hlm. 11. 29. M. Hamidullah, Six Originaux des Letters Diplomatiques du Prophete de L’Islam, hlm. 44, 45; lihat juga S. al-Munaggid, Etudes De Paleographic Arabic, hlm. 102-103.,


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: