Oleh: pondokquranhadis | Oktober 29, 2010

JALAN RAYA KE SURGA

(1)                                              Tafsir  Maudhu’i Kontemporer

Jalan Raya  ke Surga

(Imam Muchlas)

I.S.1 Al-Fatihah  6-7

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (6) صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ (7)(الفاتحة6-7)

II. Artinya

“Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan ni`mat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat(S.1 Al-Fatihah 6-7).

III. Tema dan Sari Tilawah

1. Orang yang beriman yakin  yang memberi hidayah  itu  Allah

2. Allah menyuruh kita orang yang beriman memohon hidayah-Nya.

3. Kita disuruh  berdo’a memohon diberi hidayah ke jalannya  orang yang telah mendapat nikmat Allah.

4.Orang yang beriman supaya mohon diselamatkan dari jalannya orang yang mendapat murka Allah dan sesat.

IV. Masalah dan analisa jawaban

1.  Bagaimana mencari jalannya orang-orang yang mendapat nikmat Allah itu?  Jawabnya: Jalan mencari nikmat Allah  itu ialah  mengikuti  jalannya para nabi, syuhada`, alim soleh dan orang siddiq.

2. Bagaimana  gambaran nikmat yang paling ideal yang dijanjikan Allah dalam Al-Quran itu? Jawabnya: Nikmat yang paling tinggi ialah surga, nikmat di surga itu tidak mungkin dapat dibayangkan seperti nikmat di dunia ini.

3. Bagaimana caranya mencari jalan yang  dapat menaikkan kita ke surga? Jawabnya: Jalan ke surga ialah mengucapkan kalimat La ilaha illa Allah  dengan keyakinan penuh hakikat maknanya kapanpun juga sampai detik-detik sakaratul maut.

V. Pendalaman dan penelitian

BAB  SATU

Orang yang mendapat nikmat

Kita semua dan seluruh umat manusia yang hidup di dunia ini mau tidak mau harus mempertahankan diri untuk hidup dan hidup terus, hidup yang lebih baik, hidup  yang  selamat, hidup yang sejahtera bahkan nikmat bahagia.

Sejak dahulu kala hampir  semua orang menyatakan bahwa hidup yang baik itu ialah hidup yang menyenangkan, bahkan sangat menyenangkan karena hidup terasa nikmat. MPR tahun 70-an dalam   beberapa TAP-nya memutuskan bahwa yang dimaksud dengan Pembangunan itu ialah  mengubah keadaan  yang jelek menjadi baik, keadaan  sekarang lebih baik dari pada kemarin dan selanjutnya menjadi hidup yang lebih baik lagi dan seimbang kebahagiaan dunia dengan akhirat.

Dari perkembangan pikiran dan polemik tentang apa yang dinamakan baik, maka menurut aliran  pendapat yang lebih dominan ialah bahwa apa yang disebut baik itu ialah sesuatu yang membawa kelezatan dan kenikmatan  yang paling tinggi, lahir-batin, yang dirasakan bersama-sama oleh jumlah orang yang sebanyak mungkin  (The greatest happines of the greatest number). Pendapat ini didukung oleh kaum filosuf mulai dari Epicuros Yunani sampai Jeremy Bentam (1832M) bahkan oleh ahli pikir Mu’tazilah sampai Muhammad ‘Abduh (`1905M).

Prof.Harun dalam bukunya Akal dan Wahyu (1986:78) juga  Muh.’Abduh dalam Risalatut Tauhid (1965:101), mencatat bahwa Ibnu Abi Hasyim seorang tokoh rasionalis Mu’tazilah menyatakan bahwa dengan akal melulu manusia tidak mampu mengetahui perbuatan yang mana yang baik itu secara rinci sekecil-kecilnya, untuk ini akal harus berlindung ke bawah  Ilmu Allah, yaitu wahyu. Maka menurut  Imam Al-Ghazali  yang disebut baik itu ialah ikut saja kepada Allah, yang disebut baik ialah apa yang dinamakan baik oleh Allah, yang jelek ialah yang dinilai jelek oleh Allah.

@ Catatan ulama tafsir

~ Tafsir Ath-Thabari (1h101) mencatat bahwa (Shirathal Mustaqim) jalan lurus dimaksud dalam S.1 Al-Fatihah 6-7 di atas  ini  ialah  taufiq dan hidayah, jalan yang benar sesuai dengan nikmat yang diterima oleh para nabi, orang-orang  siddiq dan para syuhada`,  berpegang teguh kitab  Allah yang sudah dirinci oleh Rasul Saw, para  khalifah 4 dan para ulama mujtahidin.  Sedangkan yang dinanamakan  Shirathal Mustaqim itu ialah jalan ke  surga. Bukan jalannya orang yang dimurkai Allah bukan  jalannya orang yang sesat.

~ Tafsir Ibnu Katsir (1h52) dan Tafsir Al-Qurthubi (1h193) menjelaskan bahwa  jalan yang dimaksud itu ialah jalannya orang yang diberi nikmat oleh Allah yang disinggung dalam Al-Quran (s4a66-69) bukan jalannya kaum Yahudi-Nasrani.

Maka yang paling baik itu ialah sesuatu yang memberi kenikmatan yang tertinggi lahir batin, yang dinikmati oleh semua orang, untuk segala jaman bahkan dunia sampai akhirat. Sehingga  nikmat yang sangat ideal tidak lain kecuali hidup bahagia di dunia dan bahagia di akhirat. Bahkan yang paling tinggi ialah kenikmatan yang diatas segala-galanya ialah nikmat bahagia  akhirat yaitu surga, Jannatun Na’im.

@ Bahagia di dunia

1. Nikmat   yang  tertinggi

Sebenarnya nikmat di dunia yang  paling tinggi itu ialah jabatan kenabian, sebab yang mengangkat ke atas jabatan ini ialah Allah dan Allah sendiri yang membimbing, memberi petunjuk, menjaga mereka dari kesalahan dan dosa, sehingga mereka itu dikatakan Ma’sum artinya suci dari dosa dan kesalahan, maka mereka  tidak pernah salah. Allah menyebutkan pangkat jabatan ini sebagai nikmat dari Allah disebutkan dalam Al-Quran s19a58 setelah Allah menyebut nama-nama  para nabi sejak Nabi Ibrahim dahulu  maka  Allah menyatakan   sebagai berikut:   :

أُولَئِكَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ مِنْ ذُرِّيَّةِ آدَمَ وَمِمَّنْ حَمَلْنَا مَعَ نُوحٍ وَمِنْ ذُرِّيَّةِ   إِبْرَاهِيمَ وَإِسْرَائِيلَ وَمِمَّنْ هَدَيْنَا وَاجْتَبَيْنَا إِذَا تُتْلَى عَلَيْهِمْ آيَاتُ الرَّحْمَنِ خَرُّوا سُجَّدًا وَبُكِيًّا  (مريم 58)

Artinya: “Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israel, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka bersungkur dengan bersujud dan menangis”(S.19 Maryam 58).

2.  Nikmat  anugerah  Allah kepada kaum Bani Israil

Memang sudah menjadi qodrat-iradat Allah, maka Allah memilih nabi dan rasul itu kebanyakan dari kaum Bani Israil. Tetapi kemudian kaum Bani Israil sombong mengaku diri menjadi umat yang paling dikasihi Allah kemudian  menghina bangsa-bangsa lain sampai melakukan  kekejaman berat dan sekarang melawan banyak keputusan PBB.

Allah telah memberi nikmat kepada kaum Bani Israil tercatat dalam  firman Allah berikut:

يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اذْكُرُوا نِعْمَتِيَ الَّتِي أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَأَنِّي فَضَّلْتُكُمْ عَلَى الْعَالَمِينَ (47)

Artinya: “Hai Bani Israel, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu dan (ingatlah pula) bahwasanya Aku telah melebihkan kamu atas segala umat (S.2 Al-Baqarah 47).

Para ulama tafsir  Ath-Thabari, Ibnu Katsir, As-Suyuthi, Al-Baidhawi mencatat bahwa Allah sudah memberi nikmat kepada nenek moyang kaum Bani Israil berupa kenabian, kitab suci, dipilihnya  para nabi dari kaum Bani Israil, demikian juga ketinggian ilmu dan  kerajaan serta Allah telah menyelamatkan mereka dari kezaliman Fir’aun, yaitu  di jaman dahulu kala,  ketika  mereka  itu masih penuh beriman dan suka beramal soleh.

3. Nabi yang mendapat fadhilah nikmat khusus

Nabi Sulaiman adalah seorang nabi, sekaligus seorang raja bahkan ilmu  dan wilayah kekuasaannya meliputi semua makhluk hewan dan manusia sampai makhluk halus, anugerah Allah kepada Nabi Sulaiman benar-benar luar biasa seperti yang   termaktub dalam Al-Quran s27a17-20, s34a10-12, s38a37, s21a82.

وَحُشِرَ لِسُلَيْمَانَ جُنُودُهُ مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ وَالطَّيْرِ فَهُمْ يُوزَعُونَ (النمل17)

Artinya; ” Dan dihimpunkan untuk Sulaiman tentaranya dari jin, manusia dan burung lalu mereka itu diatur dengan tertib (dalam barisan)  ( S.27 An-Naml 19).

Banyak orang bertanya: Bagaimanakah cara mencari hidup  bahagia di dunia dan bahagia di akhrat itu?

4. Ukuran baik-buruk menurut pemikiran manusia

Hukum Jahiliyah adalah hukum dari hasil pemikiran akal manusia yang jauh dari hidayah Allah, sehingga hukum itu sifatnya tidak universal, tetapi lokal, regional dan sementara, tidak berlaku  atas seluruh umat manusia, hukum ini hanya  menguntungkan kelompok yang membuat, diakui benar hanya oleh bagian tertentu  manusia, terbatas untuk periode tertentu dan tidak dapat diterapkan atas  wilayah lain di jagad raya ini.

Seperti terurai di atas para  filosuf meyakini bahwa  yang dinamakan baik itu ialah sesuatu yang menyenangkan memberi nikmat kepada semua orang, kapan saja dan dimanapun juga. Maka secara mutlak yang mengatahui sesuatu itu menyenangkan memberi nikmat kepada  seluruh umat manusia semua jaman dan seluruh jagad hanyalah Allah. Jadi aturan hukum buatan manusia itu hanya menyenangkan kepada siapa yang membuat, tidak menguntungkan orang lain, tidak cocok dengan waktu yang berbeda dan tidak sesuai dengan situasi-kondisi tempat wilayah lain, jadi aturan hukum buatan manusia yang bertentangan dengan hukum Allah, adalah aturan Hukum Jahiliyah.

5. Jalan mencari kenikmatan hidup di dunia

Banyak orang bertanya: Yang manakah jalan untuk mencari kenikmatan hidup di dunia itu? Bagi kita orang yang beriman tidak boleh tidak wajib memohon hidayah  dari Allah jalan hidup yang penuh nikmat dan bahagia itu.

Allah sudah memberi petunjuk kepada manusia bagaimana cara hidup yang lebih enak, sejahtera, nikmat bahagia untuk semua orang, bahagia yang maksimal untuk jangka yang paling lama. Untuk ini maka Allah sudah memilih nabi dan rasul utusan Allah. Az-Zuhaili dalam tafsir  Al-Munir mencatat bahwa nabi itu jumlahnya  124.000 dan rasul jumlahnya = 315,  dalam Al-Quran dan hadis  tercatat jumlahnya  = 25, yaitu: N.Adam sampai N. Muhammad Saw.

Bagaimana hidup yang penuh nikmat bahagia menurut petunjuk Allah, maka Allah berfirman:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ ( الاعراف  96)

Artinya: “Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya”(S.& Al-A’raf 96).

Kunci kesejahteraan dan kebahagiaan hidup di dunia ialah Imtaq (Iman dan Taqwa) yang dapat kita spekulasikan sebagai berikut:

(1) Iman meliputi rukun iman yang 6 dilengkapi dengan rukun Islam yang 5. Rukun Iman: Percaya kepada Allah, Malaikat, Kitab, Rasul, Hari Kiamat, Taqdir. Rukun iman harus dibuktikan dengan perbuatan yang intinya disusun dalam Rukun Islam ialah: Syahadat, Shalat, Zakat, Puasa, Haji,Hukum Mu’amalat dan Jinayat.

(2) Taqwa menurut Ar-Raghib (tth:569) asal dari  lafal Al-Wiqayah artinya menjaga diri dari derita atau sesuatu yang menyakitkan  dan menjauhkan diri dari noda ataupun dosa kepada Allah. Jika pengertian ini kita kembangkan dapat  menjadi Iptek yang konskwensi artinya ialah sangat berhati-hati jangan membuat bencana, yang menyakitkan diri sendiri lebih-lebih kepada  orang lain  bahkan arti Taqwa itu ialah sangat takut berbuat salah kepada siapa saja   dan takut berbuat dosa kepada Allah.

@ Perlu direnungkan bahwa Nabi itu Ma’shum disebut oleh:

~ Kitab Al-Wafi fil Wafayat (1h2686) yang menyatakan  tidak ada manusia yang Ma’shum (suci dari dosa dan salah) kecuali para nabi.

~ Kitab Subulus-Salam (1h240) mencatat bahwa Nabi Muhammad Saw  adalah Ma’shum (Suci dari dosa dan salah) sebab sudah dijamin diberi hidayah, dibimbing, diawasi oleh Allah (Qs48a1) disamping itu beliau selalu memohon ampunan Allah tidak kurang dari 70 kali setiap hari.

Takut berbuat salah sama dengan berlaku yang benar dapat disingkat menjadi IPTEK (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi) sebagai hasil penelitian ilmiah, yang sudah diuji para pakar, mencakup seluruh cabang disiplin ilmu,  ilmu-ilmu sosial, eksakta dan humaniora. Sesuatu itu benar jika diakui benar oleh semua orang, segala jaman, seluruh tempat. Sedangkan takut berbuat dosa maka harus berbuat dalam seluruh  gerak-gerik hidup yang diridhoi Allah dan selamat dari murka Allah. Sehingga taqwa itu ialah membuat diri menjadi sumber amal soleh, semua perbuatannya sangat menyenangkan sesama makhluk hidup,  betul-betul takut menyakitkan hati orang lain.

Setiap hari kita selalu berdo’a memohon hidayah Allah, ke  jalannya orang-orang yang sudah diberi nikmat oleh Allah jangan sanpai terjebak makin tersesat ke jalannya orang yang dimurkai Allah.

Sebetulnya tidak bisa dipisahkan antara cara mencari kebahagiaan dunia dan kebahagiaan akhirat itu, sebab tempat mencari kebagaiaan di akhirat itu ialah sekarang ini ketika manusia hidup di dunia. Maka jalan mencari kebahagaiaan hidup di dunia itu sekaligus juga menjadi jalan untuk mencari kebahagiaan di akhirat. Hukum yang dapat diangkat sebagai hukum yang universal  berlaku atas seluruh umat manusia dimana saja dan kapanpunn juga yaitu ajaran para nabi sejak Nabi Adam sampai Khatamul Anbiya` wal Mursalin Muhammad saw., namun untuk lebih mudahnya  kita ambil saja dari ajaran Nabi Musa yang dipegang teguh kaum Yahudi dan Nasrani juga, yaitu 10 Hukum Taurat yang masih tertulis dalam Bibel kaum Nasrani yaitu “Sepuluh Perintah Tuhan, Bibel Kitab Keluaran 20 ayat 1-17 yang juga  disebutkan Allah  termaktub dalam Al-Quran maupun  oleh hadis Nabi Saw, berikut:

وَلَقَدْ ءَاتَيْنَا مُوسَى تِسْعَ ءَايَاتٍ بَيِّنَاتٍ فَاسْأَلْ بَنِي إِسْرَائِيلَ إِذْ جَاءَهُمْ فَقَالَ لَهُ فِرْعَوْنُ إِنِّي   لَأَظُنُّكَ يَامُوسَى مَسْحُورًا(101) (الاسراء 101-102)

Artinya: “Dan sesungguhnya Kami telah memberikan kepada Musa sembilan buah mu`jizat yang nyata, maka tanyakanlah kepada Bani Israil, tatkala Musa datang kepada mereka lalu Fir`aun berkata kepadanya: “Sesungguhnya aku sangka kamu, hai Musa, seorang yang kena sihir” (S.17 Al-Isra` 101)

Masalah  9 ayat dalam s17a101  ini dijelaskan oleh Rasulullah Saw  dalam hadis  berikut:

3069  عَنْ صَفْوَانَ بْنِ عَسَّالٍ أَنَّ يَهُودِيَّيْنِ  أَتَيَا النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَأَلَاهُ عَنْ قَوْلِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ ( وَلَقَدْ آتَيْنَا مُوسَى تِسْعَ آيَاتٍ بَيِّنَاتٍ ) فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ(1) لَا تُشْرِكُوا بِاللَّهِ شَيْئًا(2) وَلَا تَزْنُوا (3)وَلَا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ(4) وَلَا تَسْرِقُوا (5)وَلَا تَسْحَرُوا(6) وَلَا تَمْشُوا بِبَرِيءٍ إِلَى سُلْطَانٍ فَيَقْتُلَهُ(7) وَلَا تَأْكُلُوا الرِّبَا (8)وَلَا تَقْذِفُوا مُحْصَنَةً(9) وَلَا تَفِرُّوا مِنَ الزَّحْفِ شَكَّ شُعْبَةُ (10) وَعَلَيْكُمْ يَا مَعْشَرَ الْيَهُودِ خَاصَّةً لَا تَعْدُوا فِي السَّبْتِ فَقَبَّلَا يَدَيْهِ وَرِجْلَيْهِ وَقَالَا نَشْهَدُ أَنَّكَ نَبِيٌّ قَالَ فَمَا يَمْنَعُكُمَا أَنْ تُسْلِمَا قَالَا إِنَّ دَاوُدَ دَعَا اللَّهَ أَنْ لَا يَزَالَ فِي ذُرِّيَّتِهِ نَبِيٌّ وَإِنَّا نَخَافُ إِنْ أَسْلَمْنَا أَنْ تَقْتُلَنَا الْيَهُودُهَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ (رواه الترمذي4010 والنسائ)

Artinya: “Dari Shafwan ibnu ’Assal bahwa  ada dua orang Yahudi yang seorang berbisik kepada rekannya:  “Mari kita menghampiri  Nabi ini mempertanyakan soal 9 ayat (dalam Al-Quran S.17 Al-Isra` 101); Kemudian keduanya mendekati Nabi Muhammad Saw. bersama-sama mempertanyakan bagaimana makna dari 9 ayat dimaksud. Maka beliau menjawab: “ Yang dimaksud dengan 9 ayat (dalam QS 17 Al-Isra` 101) itu ialah:(1)Jangan kamu musyrik; (2) Jangn kamu  berzina (3)  Jangan kamu membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah, kecuali di fihak yang benar; (4) Jangan kamu mencuri; (5) Jangan kamu berbuat sihir; (6) Jangan kamu membawa seseorang yang bersih kepada penguasa untuk dibunuh; (7) Jangan kamu memakan  riba; (8) Jangan kamu menuduh zina perempuan terhormat;(9)Jangan kamu melarikan diri dari perang sabil; (10)Khusus untuk kaum Yahudi wajib mentaati ibadah hari Sabtu.  Maka kedua orang Yahudi ini lalu mencium tangan Rasulullah Saw. dan sujud pada kaki beliau kemudian keduanya  menyatakan: “Kami bersaksi bahwa tuan adalah Nabi . Beliau bertanya: “Apa yang menghalangi anda untuk masuk Islam?” Mereka menjawab bahwa Nabi Dawud berdo’a jangan ada nabi diluar anak keturunan Dawud. Dan jika kami masuk Islam kami takut dibunuh oleh kaum Yahudi (HR At-Turmudzi no.3069 dan Nasai no.4010).

Dari sisi lain Al-Quran s2a177 menentukan yang  baik itu ialah watak dan sikap sbb:

(1) Beriman kepada Allah, Hari Akhir, Malaikat, Kitab-suci, Nabi.

(2) Infaq-sedekah dari harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang miskin, musafir dan orang yang meminta-minta serta memerdekakan   budak belian;

(3) Mendirikan salat dan menunaikan zakat;

(4) Menepati janji apabila  berjanji,

(5) Sabar-militan dalam kesempitan, dalam penderitaan dan dalam perjuangan.

Singkatnya kebahagiaan hidup di dunia dapat dicapai melalui dasar iman dan taqwa sesuai dengan tuntunan Al-Quran S.7 Al-A’raf 96 di atas.

Selama manusia beriman dan bertaqwa mereka akan mendapat rahmat barokah kebahagiaan, tetapi manusia yang kafir maka  akan mendapat azab Allah.

#Tafsir Ibnu Katsir (2h312) dalam menganalisa Al-Quran s7a96-99 dan dalam halaman lain (4h553) dalam menganalisa Al-Quran s72a11-17 mencatat  bahwa barang siapa istiqamah, tekun, sportip, disiplin, kontinu berpegang teguh kepada thariqat Allah Islam, Kitab Allah, serta Kebenaran, maka kepada yang bersangkutan Allah akan menganugerahkan kesejahteraan hidup berupa rejeki yang melimpah-limpah  termaktub dalam Al-Quran s5a66 terkait dengan s7a96 diatas itu.

@ Adapun mereka yang menyimpang dari Thariqat Allah, jika mereka menikmati kekayaan dunia maka ini namanya Istidraj artinya (Dilulu=Jowo), yaitu dimanja lalu disiksa dengan azab sebagaimana  yang termaktub dalam Al-Quran  s6a44, s23a55-56 berikut:.

Artinya: “Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa “(S.6 Al-An’am 44).

Artinya: “Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka itu (berarti bahwa) Kami bersegera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? Tidak, sebenarnya mereka tidak sadar”. (S.23 Al-Mu’minun 55-56),

#Tafsir Ath-Thabari (12h268) dalam menganalisa Al-Quran s72a16  mencatat bahwa siapa saja yang istiqamah dalam disiplin ilmu, Islam dan kebenaran maka kepadanya Allah akan menganugerahkan rejeki yang banyak, kemakmuran yang melimpah sesuai dengan Qs5a66 dan Qs7a96 di atas:

Artinya: “Dan sekiranya mereka sungguh-sungguh menjalankan (hukum) Taurat, Injil dan (Al Qur’an) yang diturunkan kepada mereka dari Tuhannya, niscaya mereka akan mendapat makanan dari atas mereka dan dari bawah kaki mereka. Di antara mereka ada golongan yang pertengahan. Dan alangkah buruknya apa yang dikerjakan oleh kebanyakan mereka”(S.5Al-Maidah 66).

#Tafsir Ad-Durrul Mantsur (3h505) dalam menganalisa Al-Quran s7a59-61 mencatat bahwa jika orang suka bertaqwa, yaitu takut kepada yang haram, maka kepada mereka Allah akan menganugerahkan rejeki dari langit dan dari bumi senada dengan Al-Quran S.7 Al-A’raf 96 tersebut.

#Fatawa Ibnu Taimiyah (16h54( dalam menganalisa Al-Quran s11a1 dikaitkan dengan A-Quran s72a16, s7a96, s5a66, s42a30, s4a79, s6a42 maka siapa yang tekun, disiplin, kontinu, tetap mempertahankan diri dalam thariqat kebenaran, maka kepadanya Allah pasti  menganugerahkan kenikmatan dari segala arah:

Artinya: “Dan bahwasanya: jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezki yang banyak)”(S.72 Al-Jinn 16)

BAB  DUA

Nikmat bahagia  di Akhirat

Hakikat kebahagiaan yang sebenar-benarnya  dan hidup bahagia yang paling tinggi adalah bahagia di akhirat puncaknya ialah  surga. Hidup bahagia di dunia diperselisihkan oleh 1001 pendapat manusia  yang paling primitif sampai para filosuf segala jaman. Sebagian mereka  menyatakan kebahagiaan ialah rasa lezat dan nikmat, tetapi lezat dan nikmat yang dinyatakan oleh seseorang akan dibantah oleh orang lain dengan menyatakan ada nikmat yang dia saksikan yang  belum ada di tempat lain. Orang Arab Baduwi menggambarkan sesuatu yang luar biasa dengan menyamakannya persis seperti kehebatan dan kemewahan kerajaan Nabi Sulaiman, sebagian dari padanya tergambar dalam Al-Quran berikut:

Artinya: Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung serta  piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tungku)”(S.34 Saba` 13).

Waktu Ratu Bilqis menyaksikan  istana Nabi Sulaiman dia terjebak oleh keindahan istana raja Sulaiman, tercatat dalam Al-Quran sebagai berikut:

Artinya:Dikatakan kepadanya: “Masuklah ke dalam istana”. Maka tatkala dia melihat lantai istana itu, dikiranya kolam air yang besar, dan disingkapkannya kedua betisnya. Berkatalah Sulaiman: “Sesungguhnya ia adalah istana licin terbuat dari kaca”. Berkatalah Bilqis: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan semesta alam”(S.34 Saba` 13).

Kiranya tidak ada kerajaan lain di dunia ini yang bisa mengalahkan kelebihan luar biasa  kerajaan Nabi Sulaiman itu. Jika perbandingan ini diterus-teruskan maka sebetulnya tidak akan ada habis-habisnya. Oleh karena itu filosuf ahli  Ontologi bernama Anselmn,  menyatakan bahwa tidak ada realitas yang sebenarnya selain realitas Tuhan. Jika kita  boleh meminjam filsafat Ontologi  ini  maka tidak ada kelezatan dan kenikmatan  manapun juga yang bisa mengalahkan kelezatan dan nikmatnya  surga Allah. Disinilah ternyata Rasulullah Saw. juga sudah menyatakannya dalam hadis shahih Bukhari-Muslim yang isinya ialah bahwa nikmat surga itu tidak mungkin dapat dibayangkan oleh panca indra manusia yang hidup di dunia.

#Tafsir Ath-Thabari  terbitan Al-Ma’rifah (1990:4/143) dalam menganalisa Qs3a195 mengutip hadis Nabi Saw. bahwa ketika dalam perjalanan Isra ` Mi’raj  beliau mendapat kesempatan untuk menyaksikan nikmatnya surga sehingga memang tidak  ada  bandigannya di dunia.

# Tafsir Ar-Razi  terbitan Daru Ihyait Turats (J10:129) dalam menganalisa Al-Quran s4a40 mencatat bahwa pahala surga itu tidak dapat digambarkan oleh akal manusia.

#Tafsir Ad-Durrul Mantsur terbitan Darul Fikri (1h426) dalam menganalisa Qs2a183  bahwa pahala orang yang berpuasa ialah surga disana nikmat hidangannya tidak terbayangkan oleh akal manusia. Dalam juz 4 halaman 234 dalam menganalisa Qs9a71  penulis tafsir Ad-Durr ini mencatat bahwa beberapa sahabat menanyakan kepada Rasulullah Saw. bagaimana gambarannya surga itu dan beliau menjawab bahwa  surga itu di sana ada 70 istana yakut merah, tiap istana ada 70 bangunan dari zamrud hijau, tiap bangunan ini ada 70 peraduan, dilengkapi dengan  hamparan kasur warna warni, tiap hamparan ada pelayan yang terlalu menyenangkan, tiap rumah ada 70 meja hidangan dari segala macam warna masakan, ada 70 muda-mudi yang siap melayani mereka maka orang yang beriman dipersilahkan untuk menikmatinya.

# Ibnu Abi Hatim meriwayatkan bahwa surga itu ada 100 tingkat, yang pertama dari perak, ke-2 dari emas, ke-3  dari mutiara, selebihnya 97 tingkat adalah penuh dengan kelezatan dan kenikmatan yang  tidak bisa dibayangkan oleh akal manusia.

#Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dari Ibnu ‘Umar bahwa di tingkat terbawah dalam surga itu satu orang dipersilahkan menikmati 1000 istana, jarak antar satu istana dengan istana yang satu lagi ada satu tahun perjalanan, yang terjauh seperti yang terdekat, tiap istana ada pelayan-pelayan  muda  siap memenuhi keperluan apa saja.

# Ibnu Abi Syaibah juga meriwayatkan bahwa istana dalam surga itu terbuat dari emas, perak, yakut, mutiara dan benda mulia lainnya.

#Masih tafsir Ad-Dur (6h549) dalam menganalisa Qs32a17  mencatat  bahwa Al-Hakim dan ulama  meriwayatkan hadis bahwa  memang termaktub di dalam Taurat ada suatu pernyataan bahwa Allah menyediakan surga untuk para  hamba yang  suka shalat malam dipersilahkan menikmati surga yang lezat dan nikmatnya tidak terbayangkan oleh manusia, para nabi, para malaikat yaitu cocok dengan Al-Quran s32a17 diatas  ini.

@Shahih Bukhari  terbitan Daru Ihyait Turats (6h645) mencatat hadis sebagai berikut:

3005 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اللَّهُ أَعْدَدْتُ لِعِبَادِي الصَّالِحِينَ مَا لَا عَيْنٌ رَأَتْ وَلَا أُذُنٌ سَمِعَتْ وَلَا خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ فَاقْرَءُوا إِنْ شِئْتُمْ فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ(السجدة الآية17:)(رواه البخاري ومسلم5052 )

Artinya: “Dari Abu Hurairah mengatakan bahwa Nabi Saw. bersabda: “Allah berfirman: “Aku sediakan untuk hamba-Ku surga yang mana mata tidak pernah melihatnya, telinga tidak pernah mendenganya, tidak  terbayangkan oleh hati manusia” Maka silahkan membaca Al-QuranSeorangpun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam ni`mat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan” (S.32 As-Sajdah 17) (HR Bukhari no. 30054 dan Muslim  no.5052)..

#Dalam halaman lain tafsir Ad-Durrul Mantsur terbitan Darul Fikri (1h426) dalam menganalisa AlQuran s2a183 mencatat bahwa Allah membuat hidangan dalam surga itu sesuatu yang tidak dapat dibayangkan oleh manusia. Dalam halaman  lain (4h234) penulis tersebut dalam menganalisa Al-Quran s9a71 mencatat bahwa para sahabat menanyakan kepada Rasulullah Saw. tentang  bayangan surga, beliau menjawabnya, surga itu istananya terdiri dari 70 bangunan yaqut  merah masing-masing ada 70 rumah zamrud hijau, tiap rumah ada 70 kamar, masing-masingnya ada 70 peraduan warna –warni, tiap peraduan dilayani pelayan yang sangat menyenangkan. Tiap rumah disediakan 70 bujang muda mudi,  70 meja hidangan, masing-masing hidangan terdiri dari 70 macam pilihan, semua disediakan kepada orang yang beriman.

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan hadis dari Salim bin ‘Amir bahwa Rasulullah Saw. menyatakan surga itu ada 100 tingkat, yang pertama bernuansa perak, ke-2 bernuansa emas, ke-3 bernuansa mutiara semerbak wangi,   seluruhnya tidak pernah terbayangkan oleh manusia.

#Tafsir Ar-Razi terbitan Daru Ihyait Turats (10h129) dalam menganalisa Al-Quran s4a66 mencatat bahwa pahala yang luar biasa itu tidak terbayangkan oleh hati manusia.

Lebih rinci lagi Allah menyebut dalam Al-Quran, ada yang dirinci panjang lebar dan ada yang pendek singkat, ayat yang menyebut-nyebut nikmat surga yang sedikit panjang ialah  sebagai berikut:

Artinya: “ dalam surga yang tinggi, tidak kamu dengar di dalamnya perkataan yang tidak berguna. Di dalamnya ada mata air yang mengalir. Di dalamnya ada tkhta-tahta yang ditinggikan, dan gelas-gelas yang terletak (di dekatnya), dan bantal-bantal sandaran yang tersusun, dan permadani-permadani yang terhampar”(S.88 Al-Ghasyiyah 11-16).

~ Artinya: “Maka Tuhan memelihara mereka dari kesusahan di  hari itu, dan memberikan kepada mereka kecerahan  wajah  dan kegembiraan hati.Di sana mereka duduk bertelekan di atas dipan, mereka tidak merasakan di dalam surga teriknya  matahari dan tidak pula merasakan dingin yang bersangatan. Dan naungan pohon-pohon surga itu dekat di atas mereka dan buahnya dimudahkan memetik semudah-mudahnya. Dan diedarkan kepada mereka bejana-bejana dari perak dan piala-piala yang bening laksana kaca, yaitu kaca-kaca  perak yang telah diukur mereka dengan sebaik-baiknya. Di dalam surga itu mereka diberi minum segelas  yang campurannya adalah jahe,  dari sebuah mata air surga yang dinamakan salsabil. Dan mereka dikelilingi oleh pelayan-pelayan muda yang tetap muda. Apabila kamu melihat mereka kamu akan membayangkannya bagaikan  mutiara yang bertaburan. Dan apabila kamu melihat dalam surga, niscaya kamu akan melihat berbagai macam keni`matan dan kerajaan yang besar. Mereka memakai pakaian sutera halus yang hijau dan sutera tebal dan dipakaikan kepada mereka gelang terbuat dari perak, dan Tuhan memberikan kepada mereka minuman yang bersih”(S.76 Al-Insan 11-21).

Gambaran nikmat surga terurai lebih panjang lagi termaktub dalam Al-Quran:(a) S.56 Al-Waqi’ah ayat 11 sampai 40 dan  ayat  89 sampai 96. (b) S.83 Al-Muthaffifin menyebutnya dalam ayat 22 s/d 28. (c) S.78 An-Naba’ menyebutnya dalam ayat  31 s/d 36 (d) S.69 Al-Haqqah menyebutnya dalam ayat 21-24.  (e)~ S.55 Ar-Rahman menyebutnya dalam ayat 46 s/d 78. (f) ~ S.52 Ath-Thur menyebutnya dalam ayat 17 s/d 27; (g) ~ S.44 Ad-Dukhan menyebutkannya dalam ayat 52 s/d 56,  (h) S.43 Az-Zuhruf menyebutkannya dalam ayat 52-56. (i) S.37 Ash-Shaffat  menyebutkannya dalam ayat 42s/d 52 dan demikian masih banyak sekali.

Kemudian   banyak orang bertanya: “Siapakah orang yang dapat masuk surga itu? Jawaban sementara ialah orang yang amal solehnya lebih banyak dari perbuatan dosanya.

BAB  TIGA

Jalan Raya ke Surga

Surga itu milik Allah, maka Allah sudah memberi petunjuk bagaimana  supaya  umat manusia itu bisa masuk surga, petunjuk Allah itu termaktub di dalam Al-Quran. Bahwa amal yang dapat memasukkan kita ke dalam surga dan karcis masuk surga  atau kunci surga ialah La ilaha illa Allah seperti yang disebut-sebut dalam beberapa kitab = مِفْتَاحُ الجَْنَّةِ لِااِلَهَ اِلَّاالله Kunci surga  ialah La ilaha illa Allah.

@ Penjelasan para ulama

~ Tafsir Ibnu Katsir (4h84) dalam menganalisa Al-Quran s39a73 mencatat bahwa pintu surga itu ada yang dinamakan pintu Ar-Rayyan yaitu pintu surga yang disediakan khusus untuk mereka yang  gemar berpuasa, tafsir ini mengutip hadis berikut:

1763 عَنْ سَهْلٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ فِي الْجَنَّةِ بَابًا يُقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَا يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ يُقَالُ أَيْنَ الصَّائِمُونَ فَيَقُومُونَ لَا يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ فَإِذَا دَخَلُوا أُغْلِقَ فَلَمْ يَدْخُلْ مِنْهُ أَحَدٌ ُ( رواه البخاري ومسلم 1947)

Artinya: “Dari Sahl r.a. bahwa Nabi Saw. bersabda: “Sungguh dalam surga itu ada sebuah pintu namanya “Rayyan” orang yang suka berpuasa masuk lewat pintu itu besuk di hari kiamat tidak ada seorangpun yang masuk lewat pintu itu selain orang yang suka berpuasa. Dipanggillah: “Mana orang yang suka berpuasa itu? Maka berdirilah mereka ini tidak ada seorangpun yang masuk lewat pintu itu selain orang yang suka berpuasa itu. Sesudah mereka ini masuk maka pintu Rayyan itu dikunci tidak ada seorangpun yang masuk dari pintu Rayyan itu” (HR Bukhri no.1763 dan Muslim 1647).

345حَدَّثَناَ عُمَرُ قَالَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ يَتَوَضَّأُ فَيُبْلِغُ أَوْ فَيُسْبِغُ الْوَضُوءَ ثُمَّ يَقُولُ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ إِلَّا فُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ الثَّمَانِيَةُ يَدْخُلُ مِنْ أَيِّهَا شَاءَ (رواه مسلم)

Artinya: ‘Umar menyatakan bahwa Rasulullah Saw. bersabda: “Siapa saja yang wudhu’ dan menyelesaikannya dengan sempurna lalu berdo’a: “ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ =Aku bersaksi sungguh tidak ada Tuhan kecuali Allah dan Muhammad itu hamba  utusan Allah”, maka dia tidak lain kecuali dibukakan pintu-pintu surga  yang delapan dipersilahkan dia masuk lewat mana saja yang dia kehendaki”(HR Muslim no. 345).

#Tafsir Ad-Durrul Mantsur (1h708) mengutip hadis sebagai berikut:

4 ٍ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِفْتَاحُ الْجَنَّةِ الصَّلَاةُ وَمِفْتَاحُ الصَّلَاةِ الْوُضُوءُ (رواه الترمذي)

Artinya: “Dari Jabir bin Abdillah r.a.bahwa Rasulullah Saw. Bersabda: “Kunci surga itu ialah shalat dan kuncinya shalat itu wudhu”(HR Turmudzi no.4).

~  Tafsir Ad-Durrul Mantsur (7h87) dalam menganalisa Al-Quran s37a13 berikut mencatat hadis:

َمَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَقِيلَ لِوَهْبِ بْنِ مُنَبِّهٍ أَلَيْسَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ مِفْتَاحُ الْجَنَّةِ قَالَ بَلَى وَلَكِنْ لَيْسَ مِفْتَاحٌ إِلَّا لَهُ أَسْنَانٌ فَإِنْ جِئْتَ بِمِفْتَاحٍ لَهُ أَسْنَانٌ فُتِحَ لَكَ وَإِلَّا لَمْ يُفْتَحْ لَكَ (رواه البخاري)

Artinya: “Barang siapa yang ucapan paling akhirnya  ialah La ilaha illa Allah…Wahab bin Munabbih ditanya: “Bukankah ucapan La ilaha illa Allah itu kunci surga? Dia menjawab: “Betul!  Tetapi tiap kunci itu ada geriginya, jika anda membawa kunci yang ada geriginya maka pintu surga itu dibuka untuk anda jika tidak membawanya ticak dibukakan pintu untuk anda”(HR Bukhari).

~ Kitab Fat-hul Bari (11h340) menjelaskan hadis Bukhari di atas ini bahwa kunci surga itu ialah Kalimah-Thayyibah “La ilaha illa Allah” namun kunci itu ada  geriginya, yaitu: ikhlas sebagai  isi hati dan cinta  kepada Allah  serta  tidak berbuat maksiat kepada Allah.

~ Tafsir Al-Qurthubi (1h3066) dalam menganalisa Al-Quran s15a93

Artinya: “Maka demi Tuhanmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua, tentang apa yang telah mereka kerjakan dahulu”(S.15 Al-Hijru 92-93). Al-Qurthubi  mencatat hadis Nabi Saw. berikut:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ” مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا الله ُمُخْلِصًا دَخَلَ الْجَنَةَ» قِيْلَ : يَا رَسُوْلَ الله ، وَمَا إِخْلَاصُهَا؟ قَالَ : أَنْ تُحْجِزَهُ عَنْ مَحَارِمِ الله ِ” رواه زيد بن أرقم) .

Artinya: “Rasulullah Saw.bersabda: “Barang siapa yang ucapannya yang terakhir “La ilaha illa Allah” dengan tulus dia masuk surga” Beliau ditanya: “Tulusnya itu bagaimana? Beliau menjawab:   “Dengan mencegah diri dari larangan Allah”(HR Zaid bin Arqam).

Ditambahkan di sana bahwa barang siapa dzikirnya mengalahkan perusahaan dan dagangannya seperti yang termaktub dalam Al-Quran s24a27, maka mereka ini masuk surga tanpa pemeriksaan zonder hisab. Al-Qurthubi menambahkan lagi : “Barang siapa yang sedikit tidur karena dzikir kepada Allah  maka dia-pun masuk surga tanpa pemeriksaan tidak ada hisab. (sebagaimana dijanjikan Allah dalam Al-Quran s32a16).

~ Tafsir Ath-Thabari  terbitan Al-Muassasatur Risalah (2000:20/465) dalam menganalisa Al-Quran s35a32 mencatat  bahwa sekelompok  umat manusia di hari kiamat diampuni, sebagian diperiksa dengan mudah yang lain masuk surga  tanpa pemeriksaan.

~ Tafsir Al-Lubab (13h195) dalam menganalisa s35a27-38 mencatat bahwa orang yang beriman di hari kiamat dibagi tiga, yaitu:

1) Orang-orang rangking  no.I,  masuk surga tanpa pemeriksaan.

2) Kelompok ke-II akan mendapat pemeriksaan dengan mudah.

3) Golongan ke-III, orang yang zalim maka dia harus menunggu   rahmat Allah.

Di  dalam  kitab ini  terdapat beberapa pendapat kaum Salafi sebagai berikut:

(a) Menurut Ibnu ‘Abbas  orang yang berhasil mencapai rangking no.1 itu ialah orang mu’min, mukhlis pahalanya lebih besar dari dosanya. Kelompok ke-2 orang-orang yang suka dipuji sehingga pahala amalnya sama berat dengan dosanya. Golongan ke-3 ialah orang yang zalim, mereka yang mengotori imannya dengan dosa-dosa besar.

(b) Ada ulama yang berpendapat : Rangking no.1 ialah mereka yang amal solehnya lebih berat timbangannya. Kelompok ke-2 ialah orang yang dosanya sama berat dengan amal baiknya. Golongan ke-3 itu ialah orang yang dosanya lebih berat dari amalnya.

©  Ulama lain berpendapat : Rangking no.1 ialah orang yang beriman dengan tauhid yang suci. Kelompok ke-2 ialah orang yang beriman  yang mencegah maksiat tetapi sangat terpaksa. Golongan ke-3 ialah orang yang luarnya baik tetapi hatinya  jahat.

(f)  Ada lagi ulama yang berpendapat: Rangking  no.1 ialah guru yang mengajar. Kelompok ke-2 ialah orang yang masih belajar. Golongan ke-3 itu orang yang berdosa besar..

(g) Ja’far ash-Shadiq berpendapat Rangking no.1 ialah orang yang tidak merasa terpaksa mentaati perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya. Kelompok ke-2 ialah orang yang masih mempunyai rasa takut azab, tetapi tidak sportif. Golongan ke-3 ialah orang yang membanggakan kemegahannya.

(h)  Abu Bakar al-Warraq berpendapat: Rangking no.1 ialah orang yang bertaubat Taubat Nashuha sangat tekun beribadah dan mujahadah. Kelompok ke-2 ialah orang yang mau bertaubat. Golongan ke-3 ialah orang yang berbuat  maksiat.

Kembali kepada masalah tiket masuk surga  atau kunci surga sebenarnya hal ini  sudah disebut-sebut Allah di dalam Al-Quran terlalu banyak. Namun ada yang disebut Allah  satu kali ada yang disebut berkali-kali di berbagai macam surat dan ayat. Sedangkan yang paling banyak disebutkan Allah dalam banyak surat dan ayat ialah bahwa kunci surga itu ialah iman dan amal  soleh, yaitu sebagai berikut:

~    Kira-kira ada 64 ayat Al-Quran yang menyebutkan bahwa kunci surga itu ialah iman dan amal soleh, misalnya s98a7:

إِنَّ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَهُمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ذَلِكَ الْفَوْزُ الْكَبِيرُ(البروج11)

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; itulah keberuntungan yang besar”(S.85 Al-Buruj 11).

Di bawah ini kita catat bagaimana rincian dari iman dan amal soleh  itu dan tanda-tanda orang yang mempunyai tiket masuk surga membawa kunci surga, yaitu:

~Satu unit dalam 13 ayat, yaitu S.25  Al-Furqan 63-76 orang yang mempunyai kunci surga itu  tanda-tandanya ialah :

1) Jika berjalan, jalannya wajar-wajar saja. 2) Jika berbicara sangat menyenangkan orang selalu membawa keselamatan. 3) Suka shalat sunat malam. 4) Selalu berdo’a dijauhkan dari neraka jahanam. 5) Tidak hidup boros tetapi sedang-sedang. 6)Tidak musyrik. 7) Tidak membunuh orang tanpa kebenaran. 8) Tidak berzina. 9) Suka bertaubat atas dosanya. 10) Suka beramal soleh. 11) Tidak bersumpah palsu. 12) Bersikap sopan.13) Menghormati Kitab Suci Al-Quran.14) Selalu berdo’a memohon anak keturunannya menjadi alim soleh.

~Satu ayat: S.33Al-Ahzab 35 menyebutkan  10 tanda, yaitu:    1)Muslim. 2)Mu`min. 3)Taat. 4)Jujur&benar .5)Militan. 6)Khusyu’ 7) Dermawan .8)Suka berpuasa. 9) Menjaga kehormatan. 10) Ahli Dzikir.

~Sebanyak 5 ayat S.13 Ar-Ra’du 19-24 menyebutkan 9 tanda, yaitu mereka yang berhasil menjadi golongan Ulul Albab, yaitu: 1) Menepati janjinya kepada Allah. 2) Tidak merusak kesepakatan. 3) Mentaati perintah Allah. 4) Takut berbuat salah kepada Allah. 5) Takut derita-azab Allah. 6) Militan, tegak, teguh, kokoh, kuat dalam perjuangan mencari ridho Allah. 7) Menegakkan shalat. 8) Menjadi dermawan dalam keadaan yang sepi maupun dimuka orang banyak. 9) Memerangi kejahatan dengan cara cara yang bijaksana.

~Satu unit 11 ayat, yaitu: S.23 Al-Mu`minun 1-11 ada 7 tanda :

1) Khusyu’ shalatnya. 2) Pibadi terhormat. 3) Menepati zakat.4) Tidak berbuat serong. 5) Menjaga amanat. 6) Menepati janji. 7)  Menjaga shalatnya.

~ Dicatat dalam 5 ayat, yaitu S.3 Ali ‘Imran 191-195 ada 4 tandanya:  1) Beramal soleh. 2) Hijrah. 3) Berani merelakan jiwanya dan berani menderita dalam Jihad fi Sabilillah. 4) Suka berdzikir, membaca dan merenungkan Al-Quran S.3 Ali ‘Imran 191-195.

~S.9 At-Taubat 100 bahwa kunci surga itu ialah yang paling duluan berhijrah atau menjadi penolong orang yang hijrah.

~S.28 Al-Qashash 83 tidak mencari pujian keduniaan tidak mencari keonaran dalam hidup bermasyarakat.

~S.4 An-Nisa` 114 menyebutkan : 1) Mendorong orang untuk menjadi orang yang suka sedekah, 2) Suka berbuat kebajikan dan keserasaian kedamaian sesama manusia. 3) Mencari ridho Allah.

~S.79 An-Nazi’at 41 menyebutkan : Takut kepada ancaman Allah dan kuat-kuat menahan hawa nafsunya.

~S.9 At-Taubah 20-22 dan juga S.9 At-Taubah 88-89 menyebutkan ada 3 tanda, yaitu: 1) Iman. 2) Hijrah. 3) Jihad dengan harta dan nyawa.

~Kitab Syarhu Qashidah Ibnul Qayyim terbitan Al-Maktabul Islami (1406:2/474) mencatat bahwa kunci surga itu Syahadat dengan tulus dan Tauhid yang suci dengan menunjuk hadis Bukhari dan Ahmad dari  Mu’adz bin Jabal  bahwa  kunci surga  itu ada 2 gerigi, yaitu menepati perintah dan meninggalkan larangan Allah.

@Persaingan dan Perlombaan

Istilah persaingan cenderung ke lahan komersial mencari keuntungan keduniaan, sedangkan perlombaan aslinya mencari yang terbaik-terdahulu. Dengan istilah kedua ini Allah sudah memerintahkan kepada kita orang yang beriman untuk berlomba dalam kebajikan, yaitu:

لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَكِنْ لِيَبْلُوَكُمْ فِي مَا ءَاتَاكُمْ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ(48)(الماءدة)

Artinya: “Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu”(Al-Maidah 48).

Allah sendiri yang memerintahkan kepada orang yang beriman wajib berlomba dalam kebajikan, bunyinya: Fastabiqul-Khairat dalam S.5 Al-Maidah 48 diatas dan juga disebut dalam QS.23 Al-Mu’minun 60-61.

Lafal Fastabiqul-Khairat dalam s5a48 dan s23a60-61  maksudnya ialah mengejar nilai sehingga memperoleh kedudukan  yang paling baik menurut  kitab Allah.

Maka di bawah ini kita catat penjelasan   mengenai makna lafal Fastabiqul-Khairat, yaitu:

Lafal فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ maknanya ialah berlomba-lomba meraih kemenangan nomer satu dalam kebajikan menurut pernilaian  Allah, berlomba untuk beramal soleh, taqarrub kepada Allah dengan penuh ketaatan. tekun mengikuti hidayah Allah

Jelas Allah  memerintahkan kepada orang beriman untuk berlomba mencari nilai terbaik, bahkan yang paling afdhol, yaitu nilai paling tinggi menurut pandangan Allah dan di bawah ini beberapa hadis  Rasul Saw.  Soal siapa yang paling  yang berhasil meraih rangking  no.1 bahkan paling afdhol, yaitu:

~ Hadis Bukhari no.2578 mencatat yang paling afdhol ialah orang yang  Mu’min, Mujahid fi Sabilillah dengan harta dan nyawa. Hadis Ahmad  no.16413, yang paling afdhol ialah orang beriman hijrah dan jihad. Hadis Muslim no.59 mencatat yang paling afdhol ialah orang yang lisan dan tangannya  membawa keselamatan orang banyak, bukan menyebarkan keresahan orang lain. Hadis Muslim  no.1972 mencatat yang paling afdhol ialah puasa Dawud. Hadis Bukhari no.2574  mencatat yang paling afdhol ialah shalat tepat pada waktunya, bakti kepada ibu bapak.

Jadi Iman dan Amal Soleh yang paling baik rangking no.1 menurut ukuran Allah ialah Iman dengan tauhid yang paling suci dan memberi kenikmatan yang paling tinggi, yang dirasakan oleh orang yang paling banyak jumlahnya, nikmat lahir batin, dunia akhirat. Mereka yang dapat mencapai tingkat tertinggi ini kelak akan  masuk surga tanpa tes tanpa Hisab. Subhanallah !

Silahkan buka internet situs : http://pondoquranhadis.wordpress.com

Kirimkan naskah ke Email::pondokilmu7@gmail.com-Tlp:0318963843


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: