Oleh: pondokquranhadis | Oktober 29, 2010

SHALAT TASBIH

(3)                                                                                                Tafsir   Maudhu’i Kontemporer

Shalat  Tasbih

(Oleh Imam Muclas)

I. S.33 Al-Ahzab 41-42

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا(41)وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا(42)(الاحزاب 41-42)

II. Artinya:

“Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang”(S.33 Al-Ahzab 41-42).

III. Tema dan sari Tilawah

  1. Allah memerintahkan kepada orang yang beriman untuk dzikir yang sebanyak-banyaknya.
  2. Allah memerintah kepada orang beriman supaya bertasbih pagi dan sore.

IV. Masalah dan analisa

  1. Bagaimna pengertian dzikir dan pengamalannya? Dzikir itu ialah mengingat Allah dan dzikir yang sebanyak-banyaknya itu ialah terus menerus ingat kepada  Allah .
  2. Bagaimana pengertian Tasbih kepada Allah itu? Tasbih itu ialah meyakinkan diri bahwa Allah itu Maha Suci dari sifat dan apa saja yang tidak sesuai dengan Allah Tuhan yang Maha Esa.
  3. Bagaimanakah sesungguhnya Shalat Tasbih itu?  Shalat Tasbih itu  termaktub dalam  hadis Nabi Saw. yang bersumber dari  Ibnu ‘Abbas dan sahabat yang lain. Banyak  ulama hadis menilai hadis ini shahih tetapi ada beberapa ulama menilainya dha’if.

V. Pendalaman dan penelitian

BAB SATU

Dzikir kepada Allah

Masalah pertama: Bagaimna pengertian dzikir dan pengamalannya? Jawabnya: Dzikir itu ialah mengingat Allah dan dzikir yang sebanyak-banyaknya itu ialah dzikir yang  terus menerus.

TM Hasbi mengutip pernyataan Fat-hul Bari al-Hafizh  bahwa dzikir itu ialah  segala lafal yang diucapkan sebagai jalan untuk mengingat dan mengenang Allah. Maka Hasbi melengkapinya bahwa dzikir itu menyebut  Allah dengan membaca Tasbih, Tahlil, Tahmid, Taqdis, Takbir, Hauqalah, Hasbalah, Basmalah, Al-Quran atau Do’a yang Ma`tsur dari Rasulullah Saw.

# Al-Baidhawi dalam tafsirnya (1h378) mencatat bahwa dzikir dalam Al-Quran s33a41 di atas ialah ucapan Taqdis, Tahmid dan Tahlil. Abus Su’ud (I7h106) dalam menafsirkan Qs33a41  mencatat bahwa dzikir disitu ialah Tahlil, Tahmid, Tamjid, Taqdis dalam segala situasi dan kondisi tidak terbatas.  Tafsir Ad-Durrul Mantsur terbitan Darul Fikri (1993:6/619) dalam menganalisa Qs33a41 mencatat bahwa Dzikir dalam ayat itu  dilakukan baik dalam berdiri, duduk, berbaring, siang-malam, di darat di laut dalam pelayaran, dalam perjalanan, di rumah, waktu kaya, ketika melarat, saat sehat, di dalam sakit, secara rahasia dan terang-terangan serta dalam seluruh keadaan. Tafsir Fat hul Qadir (4h408) dalam hal ini  mencatat bahwa dzikir tersebut berupa bacaan Tahlil, Tahmid, Tamjid, Tasbih, Takbir dan shalat. Tafsir Al-Baghawi (1h359) dalam soal ini  mencatat bahwa  dzikir itu dilakukan siang, malam, di darat, di laut, waktu sehat, saat sakit, diam, keras terang-terangan.

Dzikir yang sesungguhnya bukan hanya dengan ucapan  lisan, tetapi dzikir itu mengingat Allah dalam seluruh keadaan, dimana saja dan dalam kondisi badan bagaimanapun juga berdasarkan sabda Rasulullah Saw. dalam hadis berikut:

(1) عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ أَيُّ الْعِبَادِ أَفْضَلُ دَرَجَةً عِنْدَ اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ قَالَ الذَّاكِرُونَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتُ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمِنْ الْغَازِي فِي سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ لَوْ ضَرَبَ بِسَيْفِهِ فِي الْكُفَّارِ وَالْمُشْرِكِينَ حَتَّى يَنْكَسِرَ وَيَخْتَضِبَ دَمًا لَكَانَ الذَّاكِرُونَ اللَّهَ أَفْضَلَ مِنْهُ دَرَجَة (رواه الترمذي 3298 واحمد 11295)

Artinya: “Dari Abu Sa’id  al-Khudriyyi bahwa Rasulullah Saw.ditanya tentang siapa hamba yang paling afdhol disisi Allah di hari kiamat kelak. Beliau   bersabda: “Orang laki-laki maupun perempuan yang dzikir kepada Allah banyak-banyak” Aku bertanya: “Ya Rasulullah bagaimana dzikir orang yang dalam Perang Sabil?” Beliau menjawab: “Jika memenggal orang kafir dan orang musyrik dengan pedangnya sampai babak belur memerah penuh darah maka  ini betul-betul orang yang dzikir tingkat-derajatnya yang paling luhur”(HR Turmudzi no.3298 dan Ahmad no.11295)

(2) عَنْ سَهْلِ بْنِ مُعَاذٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ رَجُلًا سَأَلَهُ فَقَالَ أَيُّ الْجِهَادِ أَعْظَمُ أَجْرًا قَالَ أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى ذِكْرًا قَالَ فَأَيُّ الصَّائِمِينَ أَعْظَمُ أَجْرًا قَالَ أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى ذِكْرًا ثُمَّ ذَكَرَ لَنَا الصَّلَاةَ وَالزَّكَاةَ وَالْحَجَّ وَالصَّدَقَةَ كُلُّ ذَلِكَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى ذِكْرًا فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ لِعُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ يَا أَبَا حَفْصٍ ذَهَبَ الذَّاكِرُونَ بِكُلِّ خَيْرٍ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجَلْ(رواه احمد 15061)

Artinya: “Dari Sahl bin Mu’adz dari ayahnya bahwa seseorang bertanya kepada   Rasulullah Saw. : “Manakah jihad yang paling besar pahalanya” Beliau menjawab: “Ialah orang yang paling banyak dzikir kepada Allah Maha Berkah Maha Tinggi” Dia bertanya lagi: “Puasa yang manakah yang besar pahalanya  menurut Allah Maha Berkah Maha Tinggi?  Beliau  bersabda: ” Ialah orang yang paling banyak dzikir kpada Allah Maha Berkah Maha Tinggi” Lalu Rasulullah Saw. bersabda kepada kami:”Shalat, Zakat, Haji, Shadaqah,  semua itu  ialah orang yang paling banyak dzikir kpada Allah Maha Berkah Maha Tinggi”. Kemudian Abu Bakar berkata kepada ‘Umar r.a.:  “Wahai ayahnya Hafsh: “Orang yang dzikir itu orang yang pergi menuju  kepada seluruh kebajikan” Rasulullah  Saw bersabda menyambung: “Betul sekali” (HR. Ahmad no. 15061).

Dalam pengertian  pertama dzikir  itu ialah ucapan Tasbih, Tahlil, Tahmid, Taqdis, Takbir, Tamjid, Hauqalah, Hasbalah, Basmalah, Al-Quran atau Do’a yang Ma`tsur dari Rasulullah Saw.

Ucapan Tasbih ialah mengucapkan Subhana Allah (=Allah Maha Suci), Tahlil ialah mengucapkan La ilaha illa Allah (=Tidak ada Tuhan kecuali Allah), Tahmid ialah mengucapkan Alhamdu lillah (=Segala puji bagi Allah), Taqdis ialah mengucapkan Al-Quddus (=Allah Maha Bersih), Takbir ialah mengucapkan Allahu Akbar (=Allah itu Maha Besar), Tamjid ialah mengucapkan Al-Majid (=Allah Maha Mulia), Hauqalah ialah mengucapkan La haula wala quwwata  illah billahil ‘Aliyyil ‘Azhim (=Tidak ada daya tidak ada kekuatan kecuali dengan daya kekuatan Allah yang Maha Tinggi Maha Agung) , Basmalah ialah mengucapakan Bismillahir Rahmanir Rahim (= Dengan nama Allah yang Maha Murah Maha Pengasih), sedangkan Al-Quran maksudnya ialah membaca bagian dari  Al-Quran mana saja dan do’a yang Ma`tsur ialah do’a yang diajarkan oleh Rasulullah Saw.  Antara lain Rasulullah Saw bersabda dalam sebuah hadis:

عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدَبٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحَبُّ الْكَلَامِ إِلَى اللَّهِ أَرْبَعٌ سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ لَا يَضُرُّكَ بِأَيِّهِنَّ بَدَأْتَ (رواه مسلم 3985 واحمد 19248)

Artinya: “Dari Samurah bin Jundub bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Kalimat yang paling disenangi Allah ada 4, yaitu:Maha Suci Allah, Segala puji bagi Allah, Tidak ada Tuhan kecuali Allah, Allah Maha Besar, maka tidak akan mempersulit kalian dengan lafal yang mana saja dari ke-4 kalimat itu dimulai”(HR Muslim no.3985 dan Ahmad no.19248).

Bacaan Tasbih, Tahmid, Tahlil, Takbir dan Hauqalah terkumpul  menjadi satu berbunyi:

سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ لاحَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ

# Dzikir yang paling afdhol

Dzikir yang paling afdhol ialah membaca Kalimah Thayyibah “La ilah illa Allah. Raulullah Saw. bersabda dalam hadis beliau:

3305 حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِبْرَاهِيمَ بْنِ كَثِيرٍ الْأَنْصَارِيُّ قَال سَمِعْتُ طَلْحَةَ بْنَ خِرَاشٍ قَال سَمِعْتُ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ رَضِي اللَّهم عَنْهممَا يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ أَفْضَلُ الذِّكْرِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَفْضَلُ الدُّعَاءِ الْحَمْدُ لِلَّهِ (رواه الترمذيابن ماجه 3790)*

Artinya: “Musa bin Ibrahim bin Katsir al-Anshari mengatakan bahwa Thalhah  bin Khirasy mendengar dari Jabir bahwa Rasulullah Saw. bersabda: “Dzikir yang paling afdhol ialah La ilaha illa Allah; Do’a yang paling afdhol ialah Alhamdu lillah”(HR Turmudzi no.3305 dan Ibnu Majah no.3790).

# Tempat, situasi dan kondisi yang  dapat mnambah syahdunya       nuansa   dzikir.

Tempat yang dapat mendorong do’a angat syahdu  ialah:

1.Di bukit Shafa-Marwah (Hadis Nasa`i no.2924).

2.Di padang ‘Arafah (Hadis Bukhari no.4159)’.

3.Di waktu thawaf (Hadis Nasa`i no.2865).

4.Tanggal 10 Dzulhijjah (Hadis Ahmad no.5189).

5. Dzikir  itu sodaqah  dan  mendapat pahala(HR.Muslim 1181;1674)

6. Dalam malam yang gelap gulita, tidak ada suara, tidak ada cahaya, tidak

dilihat oleh siapapun juga, seperti ketika Nabi Saw. ‘uzlah di guwa Khira`

selama 6 bulan menjelang menerima wahyu yang pertama atau ketika Nabi Saw istirahat dalam guwa sebelum hijrah ke Madinah dikejar orang kafir.

#Dzikir atau wirid dengan  membaca Al-Quran

Berdasarkan firman Allah  dalam Al-Quran s4a59 bahwa skala prioritas panutan dan ketaatan itu yang teritnggi ialah taat kepada Allah, lalu taat kepada Rasulullah Saw, kemudian kepada ulama mujtahidin, baru lebih rendah, lebih rendah lagi.

Dengan demikian maka bacaan lafal yang paling tinggi nilainya ialah Al-Quran lalu Hadis Rasul Saw, kemudian  tulisan para ulama mujtahidin baru setelah itu tulisan dan pendapat tokoh agama Islam  dibawahnya.

Dzikir kepada Allah dengan membaca Al-Quran dan merenungkan isinya diamalkan dengan membaca Al-Quran sebelum, sesudah atau di luar  shalat dan di rumah atau saat I’tikaf di dalam masjid. Silahkan para pencinta memilihnya sesuai dengan maksud ayat yang cocok dengan situasi dan kondisi  kita sendiri, menurut sempit dan longgarnya waktu, dengan mengingat pernyataan Rasulullah Saw.dalam hadis-hadis beliau sebagai berikut:

(1) Surat Al-Fatihah dan S.2 Al-Baqarah 285-286, berdo’a dengan membaca  ayat- ayat tersebut dijanjikan terkabul   (Lih. Bukhari  no.1339);

(2) Surat Al-Falaq dan An-Nas, isinya luar biasa (Lih.Bukhari  no.2827, Muslim 1348);

(3) Surat Al-Ikhlash nilainya sama dengan 1/3 Al-Quran(Lihat Bukhari  no.6826;

(4) Surat   An-Nashr nilainya sama dengan ¼ AlQuran (Lih. Turmudzi no. 2820).

(5) Surat Al-Kafirun nilainya sama dengan ¼ Al-Quran; (Lih. Turmudzi  no.2820).

(6) Surat  Zulzilat  nilainya sama dengan  ¼  Al-Quran (Lih. Turmudzi no.2820).

(7) S.2 Al-Baqarah 255(Ayat Kursi), sebagai do’a mengusir setan (Lih. Bukhari   no. 3033).

(8) Membaca S.18 Al-Kahfi ayat 1-10, bisa terjauh dari godaan      Dajjal (Lih.Muslim  hadis no.1342); Surat Al-Kahfi membawa ketenteraman (Lih.Bukhari  no.3345, Muslim 1325)

(9) S.9 At-Taubat 129 dibaca 9 kali Allah akan mencukupi keperluan dia (Lih.Abu Daud  no. 4418)

(10) S.59 al-Hasyr 22-23-24 dibaca 3 kali, maka dia dido’akan oleh banyak sekali malakat (Lih.Turmudzi  no.2846 dan Ahmad  no.19419)

(11) Rasulullah Saw menjadi beruban karena menekuni Surat Hud, Al-Waqi’ah, Walmursalat, ‘Amma Yatasaalun dan At-Takwir telah (Lih.Turmudzi  no.3219), Walmursalat dibaca Nabi Saw waktu Maghrib (Lih.Bukhari  no.721 dan Muslim  no.704)

(12) Surat Yasin dibacakan kepada   orang mati (Lih.Abu Dawud  no.2714 dan Ibnu Majah  no.1438)

(13) Surat Al-Fat hu paling disukai Nabi Saw. (Lih.Bukhari  no.3859)

(14) Membaca surat Al-Jum’at dan Al-Munafiqun saat shalat Jum’at  (Lih.Muslim  no. 1451)

(15) Surat Yasin nilainya sama dengan 1/10 Al-Quran(Lih.Turnudzi  no.2812)

(13) Surat-surat Musabbihat lebih baik dari bacaan 1000   ayat disunatkan dibaca sebelum tidur (Lih.Turmudzi  n.2845, Abu Dawud  no.4398).(Surat-surat Musabbihat ialah Al-Isra`, Al-Hadid, Al-Hasyr, Ash-Shaf, Al-Jum’at, At-Taghabun dan Al-A’la

(14) S.2 Al-Baqarah 255 (Ayat Kursi) dan s.40 Al-Ghafir 1-3 dijaga oleh malaikat (Lih.Turmudzi  no.2804 dan Darimi  no.3252)

(15) S.30 Ar-Rum 13 menutup amalan yang tertinggal (Lih.Abu Dawud  no.4414)

(18) Setiap malam Nabi Saw.membaca surat Al-Isra` dan Az-Zumar, (Lih Ahmad  no.24380)

(19) Surat Al-Isra`, Al-Kahfi dan Maryam, merupakan harta simpanan  dan pembebas (Lih.Bukhari  no.5339).

(21) Surat Qaf,dibaca tiap  Jum’at (Lih.Muslim  no.1440)

@ Al-Quran itu menjadi penolong hamba di Hari Kiamat (Lih.Muslim  no.1337)

@ Orang yang membaca Al-Quran didampingi oleh  para malaikat (HR.Bukhari   no.4556 dan Muslim 1329)

@ Jamaah  yang membaca dan merenungkan isi Al-Quran akan diliputi rahmat Allah dan dijaga para malaikat (HR.Muslim no.4867)

@ Bacaan Al-Quran 10; 100 atau 1000 ayat Al-Quran mengandung anugerah Allah yang sangat besar (HR. Abu Dawud  no1190 dan Darimi  no.3326).

@ Yang membaca 1000 ayat Al-Quran , dia akan bersanding dengan para nabi, orang2 shiddiq, syuhada` dan shalihin(HR Ahmad  no.15058)

@ Yang sibuk dzikir dan membaca Al-Quran akan dianugerahi sesuatu yang paling afdhol (Lih.Turmudzi  no.2850 dan Darimi no.3222).

@ Surat Al-Fatihah itu surat yang paling istimewa (Lih.Bukhari  no.4280);

@ Surat Al-Baqarah, dapat mengusir setan(Lih.Muslim   no.1300);

@ Surat Al-Baqarah dan Ali ‘Imran penuh barokah(Lih. Muslim no. 1337).

Dzikir dengan  membaca do’a

Sesuai dengan  dasar landasan diatas bahwa bacaan dszikir dan do’a yang paling tinggi nilainya ialah ayat dan do’a dari Al-Quran lalu dari hadis Rasul Saw, kemudian  tulisan para ulama mujtahidin baru setelah itu tulisan dan pendapat tokoh agama Islam  dibawahnya. Maka dzikir dengan membaca do’a diamalkan dengan cara sebagai berikut:

@ Tata tertib  dalam berdo’a

1. Merendah diri-Andap asor (Lih.Qs7a205;s6a63;s7a55)

2. Tidak mendesak keras meminta  segera terkabul      (Lih.Bukhari no.5865)

3.  Barpakaian yang sopan dan suci (Lih.Qs7a31)

4. Taqarrub=dedepe, pasrah bongkokan kepada Allah secara maksimal (lih.Qs96a19; S40a44;Bukhari  no.6021 )

5.  Dengan suara yang sopan penuh hormat (Lih.Bukhari  no.5905).

6. Dalam sujud (Lih.Muslim  no.4733;Nasai  no.1125;Abu Dawud  no. 741;Ahmad  no. 9083)

7. Tidak berhenti dari Taqarrub kepada Allah  (Lih. Q.s33a41; s2a152; Muslim     no.558; Abu Dawud   . no.17) .

8.  Berdo’a dengan do’a para nabi dan orang ‘alim soleh di dalam Al-Quran, yaitu Al-Quran nomer surat (s) dan nomer ayat (a)  berikut:

(a) Do’a N.Adam:s7a23;

(b)Do’a N.Nuh:s71a28;

(c)Do’a N.Ibrahim:s6a79;s26a83-85;s2a126-127;s14a35-38;a40-41; s37 a 100;

(d)Do’a N.Luth:s26a169;

(e)Do’a N.Yusuf :s12a101;

(f)Do’a N.Musa s28a21-22; s28a24;  s7a151; s7a155-156; s20a25-35;

(g)N.Dawud dan Do’a N.Sulaiman:s27a15;

(h)Do’a N.Sulaiman: s27a19;

(i)Do’a N.Yunus: s21a87;

(j)Do’a Ashabulkahfi: s18a10;

(k)Do’a Nabi  Muhammad-Saw:  s17a80; s23a118; s23a97-98; s21a112;

(l)Do’a para ’Alim-soleh: s2a201; s3a8; s3a147; s25a65-66; s25a74; s59a10.

@ Dzikir dengan berdo’a

Dzikir  yang paling syahdu, nikmatnya masuk ke relung-relung kalbu ialah di malam yang sangat gelap sekali, ketika  kita mengajukan do’a permohonan  yang sangat pribadi, mencurahkan seluruh isi hati, mengadukan segala derita dan kekurangan, mengingat dosa dan kekeliruan kita kepada Allah, lalu memohon ampun, kemudian memohon taufik dan hidayah-Nya bagaimana menghadapi ujian hidup ini.

Semua makhluk tidak ada yang sempurna, yang Maha Sempurna hanyalah Allah sendiri. Sebagai makhluk yang tidak sempurna, manusia mempunyai kekurangan masing-masing, kemudian   disebabkan karena  adanya kekurangan itu maka manusia memerlukan pertolongan Allah untuk memenuhi kekurangannya itu. Manusia harus berusaha sungguh-sungguh untuk memperoleh pertolongan guna memenuhi keperluannya, caranya ialah dengan kerja keras secara lahiriyah, riil-konkrit dan usaha secara rohaniyah yaitu dengan berdo’a memohon kepada Allah yang mempunyai kelebihan dan yang Maha Sempurna yang Maha Kuasa. Permohonan atau do’a kita itu akan terkabul jika kita itu mempunyai hubungan yang sangat dekat dengan yang memiliki segala kelebihan, yaitu Allah ‘Azza wa Jalla. Usaha mencari hubungan yang sangat dekat dengan Allah itu disebut TAQARRUB.

Adapun usaha bagaimana agar supaya kita dapat  menjadi hamba yang mempunyai hubungan yang dekat dengan  Allah caranya ialah dengan melakukan amalan yang sangat disukai dan diridhoi oleh Allah, jika kita berusaha keras untuk  selalu melakukan apa yang disukai Allah dengan sebenar-benarnya terutama saat-saat sujud dalam shalat, maka  Allah akan menaruh belas kasih bahkan jatuh cinta kepada kita.

3293 عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الدُّعَاءُ مُخُّ الْعِبَادَةِ (رواه الترمذي)

Artinya: “Dari Anas ibnu Malik dari Nabi Saw. Beliau bersabda: “Do’a itu sungsumnya ibadah”(HR Turmudzi no.3293).

Alangkah indahnya jika kita suka shalat malam dan menumpahkan isi hati setulus-tulusnya dalam sujud dan menghaturkan do’a permohonan sebanyak mungkin sehingga sampai puncaknya ialah suatu waktu Allah  jatuh kasihan sampai jatuh cinta kepada kita. Jika Allah sudah jatuh cinta maka apa saja yang kita mohon pasti dikabulkan bahkan sampai Allah akan memanjakan kita. Kemungkinan ini bukan omong kosong sebab  Allah sendiri yang berjanji untuk ini seperti yang  diterangkan oleh Nabi Saw. Dalam  hadis Qudsi berikut:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ قَالَ مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ (وراه البخاري)*

Artinya: “Dari Abu Hurairah dia berkata: “Rasulullah  bersabda: “Sungguh  Allah berfirman: “Barang siapa memusuhi  kekasih-Ku maka benar-benar Aku umumkan perang kepadanya. Ada hamba-Ku yang taqarrub-mendekatkan diri kepada-Ku dengan suatu amalan yang menyenangkan Aku lebih dari apa yang Aku tentukan untuk dia. Ada hamba-Ku yang tidak henti-hentinya taqarrub-mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunat, sehingga Aku mencintai dia, jika Aku sudah mencintai dia, maka Aku menjadi pendengarannya dia mendengar dengan pendengaran itu, Aku menjadi pengelihatannya dia melihat dengan pengelihatan itu, aku menjadi tangannya dia berbuat dengan tangan itu, Aku menjadi kakinya, dia berjalan dengan kaki itu. Sungguh jika dia memohon kepada-Ku pasti Aku kabulkan, jika dia memohonan perlindungan-Ku maka dia pasti Aku lindungi”(HR Bukhari no.6021).

@ Adab tata susila berdo’a

Bagaimana usaha kita agar supaya do’a kita itu dikabulkan Allah, sudah tentu harus mengikuti tata cara yang  disukai Allah melalui penjelasan dari Rasul Saw.utusan Allah, yaitu:

A.. Asas   dasarnya

Asas yang sangat mendasar agar do’a kita  dikabulkan  Allah  ialah:

1.Tidak menyimpang dari apa yang diridhoi Allah maupun petunjuk Rasul Saw ,  sesuai dengan peringatan Allah dalam S.5 al-Maidah 72, S.18 al-Khafi 110.

2.Tidak durhaka dan tidak maksiyat kepada Allah, sesuai dengan firman Allah S.49 Al-Hujurat 7; S.11 Hud 63.

3.Berniat melulu mencari ridho Allah semata, Allah memperingatkan hal ini di dalam  S.48 Al-Fat-hu 29;  S.98 Al-Bayyinah 8;  S.27 An-Naml 19;  S.92 Al-Lail 29-21; S.89 Al-Fajri 27-30; S.2 Al-Baqarah 207; S.4 An-Nisa` 114; S.6 Al-An’am 52 .

4.Dengan tulus ikhlas Lillahi Ta’ala menjiwai seluruh kehidupan, Allah memperingatkan kita di dalam  S.40 Ghafir 65; S.98 Al-Bayyinah 5  S.39 Az-Zumar 11-14; S.7 Al-A’raf 29.

B. Persiapan sebelumnya

Beberapa waktu sebelum mengamalkan suatu do’a harus disiapkan  beberapa amalan berikut:

~Tidak  mengkonsumsi makanan yang haram, sesuai dengan petunjuk      Rasul Saw. dalam hadis Muslim no.1686

~Berpuasa 3 hari, tanggal 13-14-15 bulan Qomariyah atau  Senin-Kamis atau Puasa Dawud, sehari puasa sehari tidak berpuasa mengikuti petunjuk Rasul Saw. dalam hadis shahih Bukhari no.1842 dan Muslim no.1962.

~Tawashul melalui perbuatan amal soleh, bersedekah dan  beramal  banyak-banyak oleh kita yang berdo’a dan tidak boleh menerima upah  berdo’a atau tanda jasa apapun juga, demikian petunjuk dari Rasul Saw. dalam hadis Bukhari no.2063 dan Mulim no.4962.

C. Waktu yang paling afdhol untuk berdo’a

Walaupun ada beberapa  waktu yang lebih afdhol untuk berdo’a akan tetapi  yang paling afdhol ialah pada waktu malam ketika sujud, sebagaimana  firman Allah dan sabda Nabi Saw.  berikut:

وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَى أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا(79)(الاسراء)

Artinya: “Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu: mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji”(s.17 Al-Isra` 79).

744 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ (رواه مسلم والنسائ 1125)

Artinya: “ Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Saw. besabda: “Jarak yang paling dekat seorang hamba dengan Tuhannya ialah saat ketika dia di dalam sujud, maka banyak-banyaklah kalian memohon”(HR. Muslim  no.744,Nasa`i  no.1125)

Sesuai dengan janji Allah dan Rasul Saw. tersebut dalam uraian di atas, sebenarnya semua  do’a  kita itu akan dikabulkan Allah, hanya saja Allah Maha Mengetahui  dan Maha Bijaksana, apakah diberikan seketika  kontan apa yang kita mohon atau materi apakah yang paling tepat untuk diberikan sehingga tidak persis seperti apa yang kita sebut dalam do’a, bahkan Allah Maha Mengetahui waktu yang paling tepat kapan harus diberikan diganti dengan yang lebih afdhol materi atau waktunya (HR Turmudzi no.3531, Ahmad no.19709).

D. Memulai do’a

Dalam mengajukan do’a permohonan maka harus kita dahului dengan puji-pujian kepada Allah sebagai berikut:

1.. Membaca surat Al-Fatihah lebih dahulu(Bukhari no.4280, Muslim no.1339)

2. Shalawat kepada Nabi Saw.(Lihat Al-Quran s3356,Turmudzi o.448)

3.Membaca Hamdalah, puji-pujian kepada Allah(Turmudzi 3398,Nasa`i no.1267)

4.Bertaubat mohon ampun kepada Allah(Lihat Al-Quran 7a23; s66a8)

5.. Membaca Asma`ul Husna (Lihat Al-Quran:s17a110;s20a8 dan Hadis Bukhari CD no.3429)

6. Membaca tasbih dan Takbir(Lihat.Al-Quran.s87a1-3 )

E.Isi kandungan do’a

Permohonan yang sangat disukai Allah ialah do’a yang isinya sebagai berikut:

1 Tidak mengandung dosa (Lihat Al-Quran:s60a12;s49a7;s85a9-Bukhari  no.5865;Muslim  no. 4916)

2. Demi kebaikan bukan  keburukan(s47a22);

3. Tidak memutuskan tali silaturahim dengan siapa saja(Lihat Al-Quran:s47a22-Ahmad no.10709)

F.. Do’a sederhana

Berikut do’a  harian yang sederhana dapat dibaca  sewaktu-waktu

1- اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ

2- رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

3-لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ الْحَلِيمُ الْكَرِيمُ سُبْحَانَ اللَّهِ رَبِّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ الْحَمْدُ   لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ أَسْأَلُكَ مُوجِبَاتِ رَحْمَتِكَ وَعَزَائِمَ مَغْفِرَتِكَ وَالْغَنِيمَةَ مِنْ كُلِّ بِرٍّ وَالسَّلَامَةَ مِنْ كُلِّ إِثْمٍ لَا تَدَعْ لِي ذَنْبًا إِلَّا غَفَرْتَهُ وَلَا هَمًّا إِلَّا فَرَّجْتَهُ وَلَا حَاجَةً هِيَ لَكَ رِضًا إِلَّا قَضَيْتَهَا يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ

(4) رَبَّنَا اصْرِفْ عَنَّا عَذَابَ جَهَنَّمَ إِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًا()إِنَّهَا سَاءَتْ مُسْتَقَرًّا وَمُقَامًا

(5) رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

(6) رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ  ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ

(7) رَبَّنَا ءَاتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

(8) سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ()وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ()وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Arti bacaan do’a no.1-10 di atas

(1) Ya Allah Engkaulah Tuhanku. Tidak ada Tuhan kecuali Engkau, Engkau telah menciptakan aku dan aku adalah hamba-Mu yang senantiasa dalam genggaman-Mu serta dalam ketetapan-Mu tidak ada kemampuan bagiku. Aku mengadu kepada-Mu dengan nikmat-Mu atas aku. Dan aku mengadu kepada Engkau dengan dosaku, maka ampunilah aku, karena tidak ada yang dapat mengampuni dosa kecuali Engkau, aku berlindung pada-Mu dari kejahatan yang telah aku perbuat (HR Bukhari no.5842 dan Muslim no.1288).

(2) “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi”(S.2 Al-Baqarah 201)

(3) Tidak ada Tuhan kecuali Allah yang Penyantun yang Maha Mulia, Maha Suci Allah Tuhan Pemilik ‘Arsy  yang  agung. Segala puji kepunyaan Allah seru sekalian alam. Aku mohon rahmat-Mu yang sudah Engkau tetapkan, hasrat kuat  aku memohon   ampunan-Mu dan kebagusan banyak-banyak serta keselamatan dari seluruh dosa,  Janganlah Engkau membiarkan  dosa tetap padaku melainkan  engkau ampuninya, janganlah Engkau membiarkan  kesusahan  tetap padaku melainkan Engkau lenyapkannya Dan janganlah ada keinginan yang Engkau ridhoi melainkan Engkau tetapkan padaku, wahai Tuhan yang Maha Kasih Sayang” (Turmudzi no.441, Ibnu Majah no. 1374).

(4) “Ya Tuhan kami, jauhkan azab Jahannam dari kami, sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal”.Sesungguhnya Jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman”(S.25 Al-Furqan 65)

(5) “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati kami, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa” (S.25 Al-Furqan 74)

(6)“Wahai Tuhanku, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapakku kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil dan ampunilah sekalian orang-orang mu’min pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)”(S.17 Al-Isra` 24).

(7) “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka” (S.2 Al-Baqarah 201)

(8) Maha Suci Tuhanmu Yang mempunyai keperkasaan dari apa yang mereka katakan. Dan kesejahteraan dilimpahkan atas para rasul. Dan segala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian alam (S 37 Ash-Shaffat 180-182)

BAB  DUA

Pengertian Tasbih dan masalahnya

Masalah kedua:Bagaimana pengertian Tasbih kepada Allah itu? Tasbih itu ialah meyakinkan diri bahwa Allah itu Maha Suci dari sifat dan apa saja yang tidak sesuai dengan Allah Tuhan yang Maha Esa. Lebih mendalam  lagi adalah uraian berikut:

@ Kitab Nailul Authar (12h504) mencatat bahwa yang dimaksud dengan Tasbih  ialah semua lafal zikir, namun  suatu shalat karena banyaknya bacaan Tasbih maka shalat ini dinamakan  shalat Tasbih, kemudian salah satu dari hikmahnya Tasbih ialah bahwa siapa yang suka membaca  Tasbih dan Tahmid 100 kali sehari maka yang bersangkutan akan  diampuni Allah walau sebanyak buih semua lautan. Rasulullah Saw bersabda dalam hadis:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ قَالَ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ فِي يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ حُطَّتْ خَطَايَاهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ(رواه البخاري 5936)

Artinya: “Dari Abu Hurairah r.a. sungguh Rasulullah Saw.bersabda: “Barang siapa membacaسُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِه =100 kali sehari maka dia dihapus dosa-dosanya walaupun sebanyak buih semua lautan”(HR Bukhari no.5936)(Dalam  shahih Muslim terdapat isi hadis lafal ini:

لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Lafal Tasbih  dengan Taqdis  sangat sulit dibedakan artinya, kedua lafal ini mempunyai makna bahwa Allah itu Maha Suci, sebagaimana yang dijelaskan oleh ulama ahli bahasa berikut:

~ Menurut Ibnul Manzhur dalam Kitab Lisanul ‘Arab (2h470) maka makna Tasbih ialah meyakinkan diri bahwa Allah itu Maha Suci,  suci dari teman, dari anak bahkan suci dari seluruh apa yang tidak layak untuk Allah.

@Kitab Tajul ‘Arus (1h406) mencatat lafal Taqdis(Al-Quddus) artinya ialah suci dari cacat bersih dari kekurangan tetapi  Maha Berkah.

@ Ibnul Atsir dalam Kitab An-Nihayah (4h42) mencatat bahwa lafal Al-Quddus artinya sangat suci, bersih dari cacat. Dan lafal Tasbih itu mencakup semua Dzikir, Tahmid, Tamjid, segala puji bagi Allah. Berdo’a dengan membaca nama-nama Allah maka betul-betul dia sudah taat, memuji kepada Allah dia akan mendapat pahala dari Allah.

BAB  TIGA

Shalat  Tasbih

Masalah ketiga: Bagaimanakah sesungguhnya Shalat Tasbih itu?   Untuk membahas masalah ini lebih dahulu harus diperhatikan landasan dasar pengamalan atas dzikir dan shalat Tasbih, yaitu:

ATasbih umum

Al-Quran Surat 33 Al-Ahzab 41-42 menekankan bahwa Allah memerintahkan kepada kita orang beriman supaya dzikir dan tasbih sebanyak-banyaknya.

Asas  yang pertama  untuk Tasbih sebagai  bacaan dzikir ialah ayat pokok yang dibahas dalam makalah ini dan hadis terkait, yaitu:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرً()وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا(الاحزاب 41-42)

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebu nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang”(S.33 Al-Ahzab 41-42).

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ثَقِيلَتَانِ فِي الْمِيزَانِ حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ     ( رواه البخاري 5927 ومسلم 6870 والترمذي3389وابن ماجه3796و احمد6870)

# Artinya: “Dari Abu Hurairah bahwa Nabi Saw bersabda: “Dua kalimat yang sangat ringan diucapkan lisan yang sangat berat dalam timbangan yang sangat disukai Allah  yang Maha Pemurahialah lafal:

ُسبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ

“Maha Suci Allah dan Maha Agung, Maha Suci Allah dengan pujian”

(HR Bukhari no.5927, Muslim no.6870, Turmudzi 3389, Ibnu Majah no.3796 dan Ahmad no.6870).

B.Shalat Tasbih

Dibawah ini terurai Shalat Tasbih  sebagai amalan  I’tikaf di dalam Masjid, lebih-lebih dalam Taqarrub di bulan Ramadhan.

~ Jalur sanad hadis Shalat Tasbih

Hadis Shalat Tasbih   itu cukup panjang dan memerlukan sedikit pembacaan kritis  untuk memahamiya dan ada  beberapa jalur (Sanad), yaitu:

@ Dari Anas ibnu Malik, bahwa Ummu Sulaim pagi-pagi menghadap   kepada Nabi Saw. bertanya mengenai bacaan  yang diucapkan di dalam Shalat Tasbih dan dijawab oleh Rasulullah Saw sebagaimana terurai di dalam hadis di bawah ini (HR Turmudzi no.443).

# عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِلْعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ يَا عَبَّاسُ يَا عَمَّاهُ أَلَا أُعْطِيكَ أَلَا أَمْنَحُكَ أَلَا أَحْبُوكَ أَلَا أَفْعَلُ لَكَ عَشْرَ خِصَالٍ إِذَا أَنْتَ فَعَلْتَ ذَلِكَ غَفَرَ اللَّهُ لَكَ ذَنْبَكَ أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ وَقَدِيمَهُ وَحَدِيثَهُ وَخَطَأَهُ وَعَمْدَهُ وَصَغِيرَهُ وَكَبِيرَهُ وَسِرَّهُ وَعَلَانِيَتَهُ عَشْرُ خِصَالٍ أَنْ تُصَلِّيَ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ تَقْرَأُ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَسُورَةٍ فَإِذَا فَرَغْتَ مِنْ الْقِرَاءَةِ فِي أَوَّلِ رَكْعَةٍ قُلْتَ وَأَنْتَ قَائِمٌ سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ خَمْسَ عَشْرَةَ مَرَّةً ثُمَّ تَرْكَعُ فَتَقُولُ وَأَنْتَ رَاكِعٌ عَشْرًا ثُمَّ تَرْفَعُ رَأْسَكَ مِنْ الرُّكُوعِ فَتَقُولُهَا عَشْرًا ثُمَّ تَهْوِي سَاجِدًا فَتَقُولُهَا وَأَنْتَ سَاجِدٌ عَشْرًا ثُمَّ تَرْفَعُ رَأْسَكَ مِنْ السُّجُودِ فَتَقُولُهَا عَشْرًا ثُمَّ تَسْجُدُ فَتَقُولُهَا عَشْرًا ثُمَّ تَرْفَعُ رَأْسَكَ مِنْ السُّجُودِ فَتَقُولُهَا عَشْرًا فَذَلِكَ خَمْسَةٌ وَسَبْعُونَ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ تَفْعَلُ فِي أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ إِنْ اسْتَطَعْتَ أَنْ تُصَلِّيَهَا فِي كُلِّ يَوْمٍ مَرَّةً فَافْعَلْ فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَفِي كُلِّ جُمُعَةٍ مَرَّةً فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَفِي كُلِّ شَهْرٍ مَرَّةً فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَفِي عُمُرِكَ مَرَّةً(رواه ابن ماجه 1376 والترمذي 444)

Artinya: ” Dari Ibnu ‘Abbas bahwa Rasulullah Saw. bersabda kepada Al-‘Abbas bin Abi Muththalib: “Duhai paman maukah anda aku beri, maukah anda aku beri, maukah anda aku beri hadiah, maukah aku lakukan 10 masalah  untuk anda, jika anda lakukan semua itu Allah akan memberi ampun dosa   anda  yang awal, yang akhir, yang lama , yang baru, yang  tidak  disengaja  atau karena  sengaja, dosa  yang  kecil,  dosa  yang besar, yang  dirahasiakan        dan  yang  tampak  jelas. 10 masalah  itu  ialah: Shalatlah  4  rakaat  dalam  tiap  rakaat  membaca  surat Al-Fatihah dan  surat lain setelah itu  pada    rakaat  pertama  masih  dalam  keadaan  berdiri  membaca:

سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَر

sebanyak 15 kali, lalu ruku’ ketika ruku’ membcaca Tasbih itu 10 kali, kemudian ketika I’tidal  bangkit dari ruku’  bacalah Tasbih 10 kali    selanjutnya menyungkur sujud waktu sujud ini bacalah Tasbih 10 kali, seterusnya duduk diantara dua sujud membaca Tasbih 10 kali, dilanjutkan sujud lagi membaca Tasbih 10 kali, sesudah itu duduk kembali (sebelum berdiri) membaca Tasbih 10 kali. Sehingga jumlahnya menjadi 75 kali        bacaan Tasbih setiap satu rakaat, lakukanlah demikian ini dalam  4 rakaat.  Jika anda bisa maka  lakukanlah setiap hari satu kali, jika tidak dapat lakukanlah  satu minggu sekali, jika tidak mampu maka lakukankalah satu bulan satu    kali,   jika tidak kuat maka lakukanlah satu kali seumur hidup”(HR Ibnu Majah no.1376 dan Turmudzi no.444).

Kitab Talkhishul Khabir (2h8) mencatat hadis Shalat Tasbih itu nilainya Hasan, An-Nawawi menilainya sebagai Mustahab diamalkan.

@Tafsir Ath-Thabari (12h374) dalam membahas Al-Quran s73a2-4 dan s76a26 mencatat bahwa yang dimaksud dengan لَيْلًا طَوِيلًا “Bagian yang panjang di malam hari” itu ialah Shalat dan Tasbih ketika sujud membaca tasbih  berlama-lama selama mungkin  waktu   malam. Allah b erfirman:

قُمِ اللَّيْلَ إِلَّا قَلِيلًا(2)نِصْفَهُ أَوِ انْقُصْ مِنْهُ قَلِيلًا(3)أَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْءَانَ تَرْتِيلًا(4) المزمل : 2 – 4 )

Artinya: “bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikitt atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al Qur’an itu dengan perlahan-lahan.”(S.73 Al-Muzammil 2-4)

وَمِنَ اللَّيْلِ فَاسْجُدْ لَهُ وَسَبِّحْهُ لَيْلًا طَوِيلًا(الانسان (الانسان 26)

Artinya: “Dan pada sebagian dari malam, maka sujudlah kepada-Nya dan bertasbihlah kepada-Nya pada bagian yang panjang di malam hari”(S.76 Al-Insan 26).

@ Tafsir Ath-Thabari (8h182) mencatat bahwa 7 pemuda Ashabul Kahfi sangat bersedih lalu shalat, berpuasa, membaca hamdalah, tasbih,tahlil, takbir, menangis, mengaduh kepada Allah, di dalam gua yang gelap gulita luar biasa.

@  Di halaman lain (8h229) Ath-Thabari mencatat bahwa lafal

الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ وَالْبَاقِيَاتُ dalam Al-Quran s18a46 di sana  itu maknanya ialah bacaan Tasbih, Tahmid, Tahlil, Takbir dan Hauqalah, sebagaimana Tasbih yang terkenal itu.

@ Kitab Nailul Authar (12h504) mencatat bahwa lafal zikir  tersebut dimuka ialah shalat Tasbih dan di dalam halaman lain (2h322) Nailul Authar juga mencatat  Shalat Tasbih itu disyari’atkan untuk diamalkan oleh orang yang beriman.

~ Memilih  tempat Shalat Tasbih

Jika Shalat Tasbih dilaksanakan di masjid boleh langsung  Shalat  Tasbih dapat juga didahului dengan Shalat Tahiyyatul Masjid. Jika diniatkan Shalat Tahajjuj maka  diawali dengan Shalat Iftitah 2 rakaat yang ringan lalu shalat 11 rakaat, yang di dalam 4 rakaatnya  membaca 300 kali Tasbih persis Shalat Tasbih terurai di atas.

Jika Shalat Tasbih  dilakukan  di rumah masing-masing tidak di masjid maka tidak ada shalat Tahiyyatal Masjid, namun  shalat Tahajjuj atau Shalat Tasbihnya  sama seperti terurai dimuka, yaitu:

1.  Shalat Tasbih  dilaksanakan  4 rakaat

2. Tiap rakaat setelah membaca surat Al-Fatihah dan surat atau setelah bacaan rukuk, sujud, duduk lalu membaca Tasbih

سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ

3.a.Ketika berdiri sesudah membaca Surat Al-Fatihah  dan Surat selain Al-Fatihah  membaca  Tasbih 15 kal.

b.Waktu Rukuk setelah membaca bacaan ruku’ lalu  membaca  Tasbih  10 kali.

c.Waktu I’tidal setelah membaca bacaan I’tidal lalu membaca  Tasbih  10 kali.

d.Waktu Sujud  membacaba  bacaan sujud lalu membaca Tasbih  10 kali.

e.Waktu Duduk antara dua sujud setelah membaca  bacaan duduk lalu membaca Tasbih 10 kali.

f.Waktu Sujud kedua setelah  bacaan sujud lalu membaca  Tasbih  10 kali.

g.Waktu bangkit dari sujud sebelum berdiri atau sesudah membaca Tahiyat, lalu mrmbaca Tasbih 10 kali

Rakaat ke-1 membaca tasbih 15+10+10+10+10+10+10=75 kali tasbih, Rakaat ke-2=75, rakaat ke-3=75,rakaat ke-4=75, maka 4 rakaat jumlahnya 75 X 4= 300 kali. Bacaan setelah membaca  Tasbih terakhir rakaat kedua dan ke-empat ditutup dengan membaca Hauqalah:

لاحَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ

“Tidak ada daya tidak ada kekuatan kecuali dengan Allah

yang Maha Menang Maha Bijaksana”

C. Waktu shalat Tasbih

Dari sumbernya tidak diperoleh ketentuan waktu untuk shalat Tasbih, disana hanya ditentukan bahwa kita diseru untuk shalat Tasbih setiap hari, jika tidak dapat maka seminggu sekali, jika tidak bisa maka setahun sekali, jika tidak bisa maka selama hidup satu kali saja.

Namun mengingat hikmah rahasia yang  tersimpan di dalam shalat Tasbih, sebaiknya shalat Tasbih dipilih diamalkan pada waktu malam, terutama pertigaan terakhir malam.

Saat yang paling baik untuk mengamalkan Shalat Tasbih ialah di dalam Shalat  Qiyamul Lail atau dalam Shalat Tahjjuj dengan membaca Tasbih yang dimaksud tersebut di dalam 4 rakaat  dalam Shalat Tahajjuj itu dengan cara yang termaktub dalam hadis  Ibnu Majah no.1376-Turmudzi  no. 444  termaktub di atas  itu.

Praktik pelaksanaan Shalat Tasbih  sebaiknya  diamalkan  di dalam  Shalatul Lail jika dilakukan sesudah  tidur namanya Shalat Tahajjuj. Shalat Tasbih betul-betul sangat  tepat  yaitu memenuhi hadis shahih dengan usaha  keras meniru  bagaimana Nabi Saw  melakukan Shalatul Lail, yang bagusnya maupun lamanya jangan anda tanyakan, sebagaimana terurai dalam hadis berikut:

عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّهُ أَخْبَرَهُ أَنَّهُ سَأَلَ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا كَيْفَ كَانَتْ صَلَاةُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي رَمَضَانَ فَقَالَتْ مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلَا فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي ثَلَاثًا (رواه البخاري 1079 ومسلم 1219 والترمذي 403 وابو داود 1143 واحمد 22944)

Artinya: “Dari Abu Salamah bin ‘Abdirrahman yang mengatakan bahwa dia bertanya kepada ‘Aisyah r.a. tentang bagaimana shalat Rasulullah Saw dalam bulan Ramadhan. ‘Aisyah mengatakan”Rasulullah Saw dalam bulan Ramadhan tidak juga di bulan lain tidak menambah lebih dari sebelas rakaat. Beliau shalat 4 rakaat maka jangan anda tanyakan tentang bagusnya dan lamanya, lalu shalat 4 rakaat jangan anda tanyakan bagusnya dan lamanya, kemudian shalat 3 rakaat”(HR Bukhari no.1079, Muslim no.1219, Turmudzi 403, Abu Dawud no.1143 dan Ahmad no 22944).

Untuk meniru  lamanya Rasulullah Saw  shalat kiranya  dapat  kita membaca  dalam Shalatul Lail  itu surat yang panjang dan bacaan Tasbih  sebanyak 75 dalam satu rakaat atau 300 kali dalam 4 rakaat.

C Amalan I’tikaf

Seperti apa yang sudah diuraikan dimuka, maka dalam Shalat Tasbih sayogyanya dilaksanakan di masjid dengan I’tikaf. Sehingga perlu dipersiapkan  pendahuluan yang dapat menambah nikmatnya  shalat ini, yaitu sebagai  berikut:

(1) Wudhu sebelum tidur (Hadis Turmudzi  no.3493);

(2) Hampir tidur membaca surat Al-Ikhlash,  Falaq bin Nas lan Ayat Kursi (Hadis Bukhari  no.3033,Muslim  no.782);

(3) Berniat akan bangun malam untuk  shalat malam(Nasa‘i no.1765, Ibnu Majah no.1334);

(4) Membaca  do’a dan berniat untuk shalat malam: بِاسْمِكَ أَمُوتُ وَأَحْيَا (Hadis.Bukhari  no.5837);

(5) Bangun dari tidur membaca do’a الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُوْرُ

(HR. Bukhari 5837):

(6) Menyiapkan diri kebelakang, bersuci dan persiapan lain, lalu melihat ke langit membaca ayat Al-Quran s3a190-200 (Hadis Bukhari  no.4204)

~  I’tikaf    dengan  shalat Malam di masjid

~ Dasar&dalil I’tikaf ialah Al-Quran dan hadis Nabi Saw.

Artinya ” ….janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri`tikaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa”(S.2 Al-Baqarah 187).

Hadis Bukhari  no.1886,  Muslim  no.2004 mencatat  bahwa Nabi Saw  I’tikaf  di malam 10 malam terakhir bulan Ramadhan sampai akhir usia.

Sebagian ulama mensyaratkan I’tikaf harus dirangkai dengan puasa, tetapi jumhur ulama tidak mensyaratkan puasa untuk I’tikaf berdasarkan hadis Bukhari no.1901 dan  Muslim no.3128).

# Dzikir dalam I’tikaf

I’tikaf ialah berdim diri di dalam masjid dalam keadaan suci dari hadats untuk dzikir merenung, mawas diri, mencari  kesucian hati, taqarrub  kepada Allah, Lillahi Ta’ala yang setulus-tulusnya.

~ Adab  I’tikaf

Adapun  amalan dalam I’tikaf ialah:

(1) Masuk masjid niyat I’tikaf  Lillahi Ta’ala(HRBukhari:no.4614)

(2)-a)Waktu masuk masjid dengan  kaki kanan lebih dulu   dengan          membaca  Basmalah   dan do’a:اللَّهُمَّ افْتَحْ لِي أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ ;

-b)Ketika keluar dari masjid  dengan kaki kiri dulu dengan membaca do’a إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ (HR Muslim  no.1165);

(3) Shalat Tahiyyatul Masjid  2 rakaat (HR Bukhari  no. 1097, Muslim  no.1166)

(4) Menekuni amal Ibadah Shalat, Tilawatil Quran, Dzikir, berdo’a, Tafakkur, Mudzakarah. Dan Shalat Tasbih termasuk di dalam  I’tikaf itu.

~ Shalat Tasbih di masjid

Dasar&dalil I’tikaf ialah Al-Quran dan hadis Nabi Saw. ialah seperti terurai dalam  bab di atas, dibawah naungan  Al-Quran S.2 Al-Baqarah 187, Hadis Bukhari  no.1886,  Muslim  no.2004 dan hadis Turmudzi no.444 yang dinilai  shahih oleh Imam Al-Albani, Ibnu Huzaimah, Baihaqi, Abu Dawud, An-Nasa`i, Thabrani.

Ulama Maliki mensyaratkan I’tikaf harus dirangkai dengan puasa, tetapi Hanafi, Syafi’i dan Hanbali tidak mensyaratkan puasa untuk I’tikaf berdasarkan hadis Bukhari no.1901 dan  Muslim no.3128).

~ Dzikir dalam I’tikaf

I’tikaf ialah berdim diri di dalam masjid dalam keadaan suci dari hadats untuk dzikir merenung, mawas diri, mencari  kesucian hati, taqarrub  kepada Allah, Lillahi Ta’ala yang setulus-tulusnya.

Adab dan amalan I’tikaf

Adapun  amalan dalam I’tikaf ialah:

(1) Masuk masjid niyat I’tikaf  Lillahi Ta’ala(HRBukhari:no.4614)

(2).a)Waktu masuk masjid dengan  kaki kanan lebih dulu   dengan       membaca  Basmalah   dan do’a:اللَّهُمَّ افْتَحْ لِي أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ ;

b)Ketika keluar dari masjid  dengan kaki kiri dulu dengan membaca do’a إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ (HR Shahih Muslim  no.1165);

(3) Shalat Tahiyyatul Masjid  2 rakaat (HR Bukhari  no. 1097, Muslim  no.1166)

(4) Menekuni amal Ibadah Shalat, Tilawatil Quran, Dzikir, berdo’a, Tafakkur, Mudzakarah Ilmu. Dan Shalat Tasbih termasuk di dalam  amalan I’tikaf itu.

D.  Rahmat dan Fadhilah  Shalat Tasbih

Hadis Abu Dawud no.1105 meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw mengajarkan Shalat Tasbih kepada paman beliau Al-‘Abbas  dan menambahkannya barang siapa mengamalkan amalan Shalat Tasbih ini maka dosanya diampuni Allah mulai dari yang awal, yang akhir, yang dahulu, yang belakangan, yang tidak sengaja, yang sengaja, yang kecil, yang besar, yang sembunyi-sembunyi, yang terang-terangan. Shalat Tasbih ini supaya dilaksanakan  setiap hari, jika tidak bisa  maka sekali   seminggu, jika tidak bisa  maka  sekali sebulan, jika tidak bisa  maka sekali setahun dan jika tidak bisa  maka selama hidup satu kali.

Hadis Ibnu Majah no.1377 meriwayatkan  bahwa Nabi Saw mengajarkan Shalat Tasbih kepada ‘Abdullah bin ‘Amr ditambahkan bahwa dosa yang paling besar diatas dunia akan dimpuni Allah, waktu siang atau malam. Hadis diriwayatkan juga melalui Al-Mustamir, maupun lewat Rauh bin Musayyab serta Ja’far bin Sulaiman  berasal dari Ibnu ‘Abbas.

E. Taqarrub kepada Allah

Bagi yang keberatan nama Shalat Tasbih, maka pengamalan Shalat Tasbih ini kiranya dapat dilakukan dengan membaca 300 kali Tasbih  tersebut persis seperti cara shalat Tasbih di atas dalam 4 rakaat dari  shalat Qiyamul-Lail atau Tahajjuj.

Pengamalan ini sama dengan ikhtiar kita untuk meniru shalat malam Nabi Saw berdasarkan hadis Bukhari no.1079,Muslim no.1219 di atas.  Beliau shalat malam terlalu lama dan sangat baik sekali.  Bahkan pengamalan ini  sangat dekat dengan cara mentaati perintah Allah dalam Al-Quran s76a26 bahwa kita diperintahkan oleh Allah untuk membaca Tasbih sebanyak-banyaknya di waktu malam.

Sehingga dengan demikian kita akan terhindar  dari  perbedaan pendapat padahal  hadis Turmudzi no.444 yang menjadi dalil shalat Tasbih. itu diterima dan dinilai  shahih oleh Imam Al-Albani, Ibnu Huzaimah, Baihaqi, Abu Dawud, An-Nasa`i, Thabrani terurai di bab di atas.

Jika Shalat Tasbih dilakukan tersendiri landasan dalilnya ialah hadis Turmudzi yang melalui jalur Ibnu Abbas.  Dan perlu dicatat disini bahwa Imam Ibnu Daqiqil ‘Id dalam kitabnya Syarah Al-Arba’in (1h3) mencatat bahwa para ulama sudah sepakat bolehnya melakukan amalan dalam Fadhailul A’mal berdasarkan hadis yang kurang shahih. Demikian juga An-Nawawi mencatat dalam halaman awal kitabnya Arba’in bahwa  memang Imam Ahmad, Ibnul Mubarak, Sufyan ats-Tsauri menyatakan  boleh kita  mengamalkan hadis Dha’if dengan syarat tidak Maudhu’ (palsu), tidak terlalu dha’if dan ada payung landasan  atau dalil yang lebih kuat. Padahal hadis Shalat Tasbih tersebut sudah dinilai shahih  oleh 6 ulama hadis dan dibawah lindungan Al-Quran s33a41-42  dan s76a26.

Semua ini tercakup dalam ikhtiar kita untuk I’tikaf  jika kita laksanakan di dalam masjid dengan  Taqarrub mendekatkan diri kepada Allah, melalui shalat malam, dzikir, membaca Tasbih, Tahmid, Tahlil, Hauqalah dan Takbir serta berdo’a  dalam gelap malam yang sangat syahdu itu.

F. Shalat  di kesunyian malam

Taqarrub dengan  cara Shalat Tasbih atau Shalat Malam akan sangat syahdu jika dilakukan di dalam masjid dengan  membayangkan  diri  naik ke langit yang sangat tinggi di alam maya jika dilaksanakan dalam gelap gulita terlalu sepi, tidak ada cahaya, tidak ada suara, tidak ada apa-apa, tidak ada siapapun juga kecuali Allah yang Maha Esa Mutlak dalam 20 sifat wajib mencakup  99 nama Allah Al-Asmaul Husna. Nabi Yunus membaca  Tasbih (Qs21a87) dalam perut ikan raksasa dalam gelap malam, dibawah laut yang paling dalam, Nabi Saw. melakukan dzikir di guwa Khira`berbulan-bulan lamanya menjelang wahyu pertama turun dan juga ketika beliau berangkat hijrah (Qs9a40), Nabi Zakariya  berdo’a  sangat serius dalam keadaan sunyi senyap (Qs19a3).

@ Renungan filosufis

Secara filsafat dapat direnungkan disini bahwa Prof.DR Baiquni MSc. seorang  ahli atom Indonesia pertama dalam bukunya Al-Quran & IPTEK   menafsirkan Al-Quran S.21 Al-Anbiya`30, S.41Fushshilat 11-12, S.65 Ath-Thalaq 12, S.11 Hud 7, S.35 Fathir 41 dan S.21 Al-Anbiya` 104  dengan catatan sebagai berikut;    bahwa secepat kilat sesudah jaman azali, terwujudlah suatu padatan  berupa suatu titik singularitas fisis yang berisi calon seluruh maujud di jagad raya ini. Kemudian secepat kilat pula terjadilah letusan maha dahsyat atau dentuman hebat The Big Bang yang melontarkan  pecahannya ke segala penjuru dan segera terbentuklah  alam semesta, bumi dan langit lengkap dengan seluruh apa yang ada di langit. Kemudian  berkembang terus sampai terbentuklah lebih dari 100 milyar galaxy, Bima Sakti dan sejenisnya. Baiquni mencarat  bahwa  dari peristiwa itu  menimbulkan 2 pernyataan, yaitu:

~ Alam, energi, materi, ruang dan waktu keluar dari SATU TITIK calon alam semesta.

~ Sebelum peristiwa itu sendiri, maka (a) tidak ada energi: (b) tidak ada materi, (c) tidak ada ruang, (d) tidak ada waktu.

Tetapi harus kita tambah satu lagi, yaitu: Sebelum ada energi, belum ada materi, belum ada ruang dan belum ada waktu dahulu itu yang ada hanyalah yang menciptakan alam semesta yaitu  Allah yang Maha Mutlak. Tidak ada apa-apa sama  sekali  kecuali Allah لااله الاالله  tidak ada Tuhan selain Allah, tidak ada Yesus, tidak ada TRI TUNGGAL, tidak ada Trimurti, tidak ada Brahma-Wisnu-Syiwa, tidak ada Budha Gotama, tidak ada Dewa-Bathara, belum orang-orang yang disembah-sembah manusia, tidak ada wali tidak ada orang kramat, tidak ada orang sekti modroguno, tidak ada oknum-oknum yang dipuja didewa-dewakan, belum ada berhala, tidak ada setan, demit, gendruwo, ilu-ilu, banaspati, wedon, kuntil anak, makhluk halus apa saja. Dan manusiapun  juga belum ada sama sekali, sebab manusia diciptakan dari tanah, tanah dari bumi, bumi belum ada karena alam semesta semua belum ada.  Allah berfirman::

هَلْ أَتَى عَلَى الْإِنْسَانِ حِينٌ مِنَ الدَّهْرِ لَمْ يَكُنْ شَيْئًا مَذْكُورًا(1)(الانسان)

Artinya: “Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?”(S.76 Al-Insan 1)

Jika Shalat Tahajjuj, Shalat Tasbih dan shalat malam mana saja bilamana  dilaksanakan pada waktu malam yang sangat gelap, tidak ada suara, tidak ada cahaya, tidak dapat melihat jam, tidak ada waktu, tiak ada apa-apa sama sekali kecuali gelap yang luar biasa maka  betul-betul kita  yakin bahwa  hanya Allah ada  yang Maha Mutlak serba Maha dengan sifat wajib 20 dan 99 nama yang Maha Tunggalnya tidak mungkin dikurangi atau dibagi-bagi menurut teori akal manusia. Maka disanalah shalat terasa betul-betul sangat syahdu, tumakninah, khusyuk  seakan-akan mi’raj seperti    yang dialami oleh Rasulullah Saw  menghadap Allah Swt di  Sidratil Muntaha, memang shalat merupakan mi’raj orang berimn. Insya Allah.

Silahkan buka internet situs : http://pondoquranhadis.wordpress.com

Kirimkan naskah ke Email::pondokilmu7@gmail.com-Tlp:0318963843


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: