Oleh: pondokquranhadis | Oktober 29, 2010

TABUNGAN WAKAF

No:.08ok8                                                         Tafsir Maudhu’ii kontemporer

TABUNGAN  WAKAF

(Oleh  Imam Muchlas)

I. S.2 Al-Baqarah 245

مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيرَةً وَاللَّهُ يَقْبِضُ وَيَبْسُطُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ( البقرة 245)

II. Artinya: Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan”(S.2 Al-Baqarah 245).

III  Tema dan sari tilawah

1.Allah mendorong manusia supaya beramal soleh Qardhan Hasan.

2.Siapa saja  yang berbuat baik  memerlukan biaya

3.Siapa yang mengeluarkan biaya untuk amal soleh dengan Qardhan Hasan mentaati perintah Allah dikatakan bahwa dia sudah memberi pinjaman kepada Allah.

4.Allah akan mengembalikan pinjaman itu berlipat ganda

5.Allah  menetapkan sedikit atau banyaknya rezeki manusia

6.Seluruh umat mansuia akan kembali kepada Allah.

IV,Masalah dan analisa jawaban

1.Apa yang disebut baik  dan apa yang disebut buruk?  Yang baik itu  ialah yang  menyenangkan manusia di dunia akhirat seluruh umat manusia secara abadi  selamalamanya, semua ini hanya Allah yang mengetahuinya.

2.Bagaimana  mengelola hubungan si kaya dengan si miskin? Orang yang mempunyai kelebihan rejeki supaya menolong mereka yang kekurangan membina kerja sama  dengan niat yang suci Lillahi Ta’ala

3.Apakah Allah  akan memberi balasan amal  baik itu  akan diberikan hanya di akhirat saja? Allah akan memberi pahala akhirat dan secara otomatis  amal baik itu akan memberi kesejahteraan makhluk di dunia sampai akhirat.

@ Ayat-ayat yang terkait

Al-Quran s2a245 tersebut diatas perlu dikaikan dengan s7320, s5a12 dan s57a18   berikut:

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَءَاتُوا الزَّكَاةَ وَأَقْرِضُوا اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًاوَمَا تُقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ مِنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِنْدَ اللَّهِ هُوَ خَيْرًا وَأَعْظَمَ أَجْرًا وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ (المزمل 20)

…..dan dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik. Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan) nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”(S.73 Al-Muzammil 20).

لَئِنْ أَقَمْتُمُ الصَّلَاةَ وَءَاتَيْتُمُ الزَّكَاةَ وَءَامَنْتُمْ بِرُسُلِي وَعَزَّرْتُمُوهُمْ وَأَقْرَضْتُمُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا لَأُكَفِّرَنَّ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَلَأُدْخِلَنَّكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ فَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ مِنْكُمْ فَقَدْ ضَلَّ سَوَاءَ السَّبِيلِ( الماءدة12)

……… sesungguhnya jika kamu mendirikan shalat dan menunaikan zakat serta beriman kepada rasul-rasul-Ku dan kamu bantu mereka dan kamu pinjamkan kepada Allah pinjaman yang baik sesungguhnya Aku akan menghapus dosa-dosamu. Dan sesungguhnya kamu akan Kumasukkan ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai. Maka barangsiapa yang kafir di antaramu sesudah itu, sesungguhnya ia telah tersesat dari jalan yang lurus”(S.5 Al-Maidah 12).

مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ وَلَهُ أَجْرٌ كَرِيمٌ 0الحديد 11)

“Siapakah yang mau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, maka Allah akan melipat-gandakan (balasan) pinjaman itu untuknya, dan dia akan memperoleh pahala yang banyak”(S.57 Al-Hadid 11)

إِنْ تُقْرِضُوا اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا يُضَاعِفْهُ لَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَاللَّهُ شَكُورٌ حَلِيمٌ( التغابن17)

“Jika kamu meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya Allah melipat gandakan (pembalasannya) kepadamu dan mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pembalas Jasa lagi Maha Penyantun”(S.64 At-Taghabun 17).

إِنَّ الْمُصَّدِّقِينَ وَالْمُصَّدِّقَاتِ وَأَقْرَضُوا اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا يُضَاعَفُ لَهُمْ وَلَهُمْ أَجْرٌ كَرِيمٌ(الحديد 18)

“Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipat gandakan (pembayarannya) kepada mereka; dan bagi mereka pahala yang banyak”(S.57 Al-Hadid 18)

V.Pendalaman dan penelitian

BAB  SATU

1. Qardhan Hasanan

(Amal Soleh)

Masalah ke-1:Apa yang disebut baik  dan apa yang disebut buruk?  Yang baik itu   menyenangkan dunia akhirat seluruh umat manusia secara abadi  selama-lamanya, semua ini hanya Allah yang mengetahui.

Amal soleh asal dari bahasa Arab, ‘Amalun Shalihun, ‘Amalun artinya perbuatan sedangkan Shalihun artinya tidak rusak alias baik. Kamus lain mengartikan Shalih artinya usaha memperbaiki, mengoreksi, membetulkan, membuat kondisi menjadi nyaman. Singkatnya amal soleh ialah perbuatan baik.

Para pakar Ilmu Etika sejak jaman Yunani sampai abad kita ini mengatakan bahwa yang disebut baik itu ialah sesuatu yang menyenangkan dan membawa bahagia seluruh umat manusia semua tempat dan segala jaman. Sedangkan yang mengetahui semua ini hanya Allah  sendiri  sehingga yang dikatakan BAIK itu ialah apa yang dikatakan baik oleh Allah sedangkan yang buruk ialah apa yang dikatakan buruk oleh Allah. Di dalam Al-Quran tidak kurang dari 64  ayat atau surat  Allah menekankan yang baik itu ialah Iman dan Amal Soleh.

Salah satu lahan amal soleh ialah memberi bantuan apa yang sangat diperlukan oleh orang lain dan usaha untuk mengelola pemberi bantuan ini dispekulasikan dapat dilakukan dengan membentuk suatu badan hukum yang menekankan niat

TOLONG MENOLONG TAQARRUB KEPADA  ALLAH. Usaha ini dapat diduga bisa diwujudkan dalam suatu lembaga yang kita namakan :

TABUNGAN  WAKAF

Tabungan Wakaf dengan pengertian menabung uang dengan niat yang suci melepaskan hak penguasaan pribadi atas sejumlah uang untuk diserahkan kepada Allah dan menjadi hak milik Allah,  Tabungan Wakaf didasarkan atas niat untuk  amal soleh sebagai usaha taqarrub kepada Allah. Dan prioritas pertama program Tabungan Wakaf  ialah amal soleh  untuk  pengentasan kemiskinan dan peningkatan kesejahteraan sosial dalam arti luas.  Dasar  pemikiran  wakaf ini berasal dari kisah berikut:

~ Ibnu Katsir dalam tafsirnya terbitan Daruth Thayyibah (1999:1h663) dalam membahas Qs2a245 di atas mencatat bahwa Abud Dahdah pada jaman Nabi Saw. menyerahkan 600 pohon kurma kepada Allah melalui  Nabi Saw. Ibnu Katsir mengaitkan ayat itu dengan Al-Quran s2a261 bahwa Allah akan menganugerahkan pahala amal soleh tersebut 700 kali lipat (jadi tabungan ini bunganya 70.000 % (bukan hanya 0,9 sampai 1,9% di semua Bank). Kemudian mengutip hadis  riwayat Ahmad berikut:

عَنْ أَبِي عُثْمَانَ النَّهْدِيِّ قَالَ أَتَيْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ فَقُلْتُ لَهُ إِنَّهُ بَلَغَنِي أَنَّكَ تَقُولُ إِنَّ الْحَسَنَةَ تُضَاعَفُ أَلْفَ أَلْفِ حَسَنَةٍ قَالَ وَمَا أَعْجَبَكَ مِنْ ذَلِكَ فَوَاللَّهِ لَقَدْ سَمِعْتُهُ يَعْنِي النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَذَا قَالَ أَبِي يَقُولُ إِنَّ اللَّهَ لَيُضَاعِفُ الْحَسَنَةَ أَلْفَيْ أَلْفِ حَسَنَةٍ( رواه احمد 7604 )

“Dari Abu Usman al-Hindi bahwa dia mendatangi Abu Hurairah dan mengatakan bahwa aku berkata kepadanya: ” Aku mendengar bahwa anda megatakan  amal soleh itu akan dilipatkan balasannya 1.000.000 kali lipat” Abu Hurairah menjawab: “Apa yang mengejutkan anda? Demi Allah benar-benar aku telah mendengar yaitu dari Nabi Saw seperti itu. Aku mendengar ayahku berkata: “Sungguh Allah memang akan melipat gandakan amal baik itu 1 000.000 kali lipat kebaikan”(HR Ahmad no.7604).

@ Makna  Qardhan hasanan

~ Ath-Thabari dalam tafsirnya (5h282) dalam membahas Al-Quran s2a245 di atas  mengatakan bahwa maksud ayat ini ialah perbuatan memberikan infaq  dari hartanya  untuk perjuangan Islam dengan niat suci mentaati perintah Allah mencari pahala yang sangat menjanjikan itu lalu perbuatan ini dinamakan memberikan pinjaman kepada Allah (Qardhan hasanan).

@ Ar-Razi dalam tafsrnya (3h399) dalam membahas Qs2a245 di atas mencatat bahwa yang dimaksud dengan “Pinjaman” kepada Allah itu ialah membayar infaq untuk perjuangan Islam seperti yang dimaksud Allah dalam Al-Quran s2a261 dengan  niat yang suci Lillahi Ta’ala, yaitu:

مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ( البقرة 261)

Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (kurnia-Nya) lagi Maha Mengetahui”(S.2 Al-Baqarah 261).

@ Tentang janji  Allah akan membalas amal baik itu 10 sampai 700 kali lipat itu ditekankan oleh Rasulullah Saw  termaktub dalam Shahih Bukhari no.6010, Muslim no.184, Ahmad no.2388, yaitu:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيمَا يَرْوِي عَنْ رَبِّهِ عَزَّ وَجَلَّ قَالَ قَالَ إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ ثُمَّ بَيَّنَ ذَلِكَ فَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً فَإِنْ هُوَ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ عَشْرَ حَسَنَاتٍ إِلَى سَبْعِ مِائَةِ ضِعْفٍ إِلَى أَضْعَافٍ كَثِيرَةٍ وَمَنْ هَمَّ بِسَيِّئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً فَإِنْ هُوَ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ سَيِّئَةً وَاحِدَةً (رواه البخاري 6010 ومسلم 184و واحمد 2388)

Artinya: “Dari Ibnu ‘Abbas r.a. bahwa Nabi Saw mengenai wahyu dari Allah ‘Azza wa Jalla,  beliau bersabda:

~ “Sesungguhnya Allah mencatat  amal baik dan perbuatan buruk, lalu dijelaskan siapa yang bertekad akan  beramal baik tetapi tidak jadi, maka Allah menencatat satu kebajikan yang sempurna.

~ Jika dia berniat beramal baik dan dia buktikan betul-betul nyata maka Allah mencatat disisi-Nya  10 kebajikan sampai 700 kali lipat.

~ Jika dia berniat berbuat buruk namun tidak jadi melakukannya maka Allah mencatat disisi-Nya satu amal baik yang sempurna.

~ Jika dia berniat buruk dan dilakukan betul-betul maka Allah mencatat atas dia  keburukan satu saja” (HR Bukhari no.6010, Muslim no.184 dan Ahmad no2388).

@ Sebagian ulama mengaitkan janji Allah akan membalas amal soleh  700 kali lipat itu kepada  orang yang membayar infaq  untuk Jihad fi Sabilillah yang disebut dalam Al-Quran s8a60, yaitu:

وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَءَاخَرِينَ مِنْ دُونِهِمْ لَا تَعْلَمُونَهُمُ اللَّهُ يَعْلَمُهُمْ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تُظْلَمُونَ( الانفال 60)

Artinya: “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan)”(S.8 Al-Anfal 60).

Perlu kita ingatkan disini bahwa ayat s8a60 di atas  ini  tidak menyebutkan  dengan tegas menyebutkan perang, maka dari itu ayat ini dapat kita terjemah dengan “Perjuangan Islam” dan lebih luas lagi ialah”Konfrontasi Kebudayaan” oleh Islam melawan budaya kafir, maka sungguh sangat luas sekali  makna “Perjuangan Islam” ini.

@Kitab Fafirru ila Allah (1h83)  mengaitkan Al-Quran s2a261 dengan s6a160 dan balasan 700 kali lipat  dari Allah tadi, yaitu:

مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا وَمَنْ جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ فَلَا يُجْزَى إِلَّا مِثْلَهَا وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ( الانعام 160)

Artinya: “Barang siapa membawa amal yang baik maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan yang jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan)'(S.6 Al-An’am 160).

@Kitab Shahih Ibnu Hibban terbitan  Muassasatur Risalah Bairut (1993:10h504) mencatat bahwa barang siapa Infaq fi Sabilillah maka pahalanya bisa  berlipat sampai 700 kali lipat ( Hadis Shahih).

@Ath-Thabari dalam Tafsirnya (5h282) dalam membahas Qs2a245 di atas mencatat bahwa yang dimaksud dengan menghutangi Allah ialah membayar uang dengan mengharap pahala dari Allah karena ketaatannya kepada Allah.

Jika seseorang  bemaksud  beramal soleh dengan cara menyerahkan dana sebagai wakaf kemudian  oleh pengurus dipinjamkan kepada siapa yang memerlukan dana. Maka pengurus wajib memelihara amanat WAKAF ini dengan cara meminjamkan dana  dan peminjam wajib mengembalikannya  sebagaimana mestinya dengan niat usaha keras untuk mengabadikan WAKAF itu supaya dapat mengalirkan pahala kepada orang yang  membayar tabungan wakaf tadi. Sehingga  yang namanya wakaf terjamin keabadiannya sebagai hak milik Allah.

Bagi orang yang menabung di Tabungan Wakaf maka uang tabungannya ini kita masukkan kedalam cakupan hadis Rasululllah Saw berikut:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ (رواه مسلم 3084 والترمذي 1297 والنسائ 3591 وابو داود 2494)

Artinya: “Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Saw. Bersabda: “Ketika seorang  manusia mati maka terputuslah amalnya kecuali tiga macam, yaitu Shadaqah Jariyah, ilmu yang bermanfaat  atau anak yang soleh yang mendo’akan kepada orang yang mati itu”(HR Muslim no.3084, Nasa`ii no.3591 dan Abu Dawud no.2491).

2. Yang suci dari dosa  hanya para nabi

Orang yang beriman yakin  bahwa Allah itu Al-Khaliq Maha Pencipta memiliki sifat Mutlak Maha Sempurna tidak  ada sifat negatif, sebaliknya  manusia adalah makhluk yang sifatnya tidak sempurna, bagaimanapun hebatnya pasti mempunyai kekurangan. Dan  sudah  dijelaskan oleh Rasulullah Saw bahwa umat manusia itu mempunyai sifat kekurangan yaitu SALAH disebut dalam hadis:

عَنْ أَنَسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ (رواه الترمذي 2423 وابن ماجه 4241)

Artinya: “Dari Anas bahwa Nabi Saw bersabda: “Semua anak Adam itu sering  berbuat salah dan sebaik-baik orang yang salah ialah bertaubat”(HR. Turmudzi no.2423 dan Ibnu Majah no.4241).Bertaubat itu ialah berjanji tidak akan berbuat salah lagi.

Dalam pepatah Jawa dikatakan: Manungso iku nggendong lali lan salah yang sangat mirip dengan pepatah Arab yang mengatakan  bahwa manusia itu tempat salah dan lupa ( اَلْاِنْسَانُ مَحَلُّ الخْطَََاءِ وَالنِّسْيَانِ). Yang suci dari dosa hanyalah para nabi, dikatakan bahwa para nabi itu Ma’shum artinya terjaga dari salah dan dosa, tidak ada manusia yang suci kecuali para nabi dan rasul demikian catatan para ulama seperti Ibnu  Jarir  ath-Thabari, Ibnu Katsir, Al-Qurthubi, Ar-Razi  yang mereka tulis dalam kitab tafsir mereka.

3. Timbangan Amal dan Maksiat

Allah sendiri menegaskan bahwa pahala amal soleh kelak di hari kiamat akan ditimbang dan diperbandingkan dengan dosa maksiat, yaitu termaktub dalam Al-Quran berikut:

وَالْوَزْنُ يَوْمَئِذٍ الْحَقُّ فَمَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ(8)وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ بِمَا كَانُوا بِآيَاتِنَا يَظْلِمُونَ(9)(الاعراف 7-8)(الاعراف 8-9)

Artinya: “Timbangan pada hari itu ialah kebenaran (keadilan), maka barangsiapa berat timbangan kebaikannya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan siapa yang ringan timbangan kebaikannya, maka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, disebabkan mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami”(S.7 Al-A’raf 8-9).

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ(7)وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ(8)(الزلزلة 7-8)

Artinya: “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula”(S.99 Az-Zalzalah 7-8)

( فَمَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَئِكَ هُمْ الْمُفْلِحُونَ وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينه فَأُولَئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسهمْ – إِلَى قَوْله – أَلَم تَكُنْ آيَاتِي تُتْلَى عَلَيْكُمْ فَكُنْتُمْ بِهَا تُكَذِّبُونَ ) (المؤمنون 102-103)

Artinya: “ Barangsiapa yang berat timbangan (kebaikan) nya, maka mereka itulah orang-orang yang dapat keberuntungan. Dan barangsiapa yang ringan timbangannya, maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka kekal di dalam neraka Jahannam”(S.23 Al-Mu`minun 102-103)

@ Ath-Thabari dalam Tafsirnya (12h454) dalam membahas Qs7a46 mencatat bahwa kelompok Al-A’raf jika melihat ke surga mengucapkan salamnya ketika melihat ke kiri ke neraka  mengucapkan رَبَّنَا لا تَجْعَلْنَا مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ )  (” Ya Tuhan kami, janganlah Engkau tempatkan kami bersama-sama orang-orang yang zalim itu”)

@Ibnu Katsir, Al-Qurthubi, Al-Baghawi, Al-Bahrul Muhith, Tafsir Ad-Durrul Mantsur dan semua ulama menyatakan bahwa berdasarkan  firman Allah dalam Al-Quran s7a46 maka semua menyatakan bahwa orang beriman jika amalnya lebih banyak dari dosa maksiatnya maka dia masuk surga.

Oleh karena itulah kita wajib berikhtiar bagaimana agar supaya amal soleh kita lebih banyak dari pada dosa maksiat kita caranya ialah dengan menabung  menyerahkan uang diwakafkan diserahkan kepada Allah kemudian  orang lain yang sangat memerlukannya dapat  meminjam dana  itu.

Tanpa hisab  dibandingkan dengan Ashabul A’raf

Allah sendiri menegaskan bahwa kelak di hari kiamat pahala amal soleh akan ditimbang dan diperbandingkan dengan dosa maksiat, yaitu termaktub dalam Al-Quran s7a6-9 di atas:

Artinya: “Timbangan pada hari itu ialah kebenaran (keadilan), maka barangsiapa berat timbangan kebaikannya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan siapa yang ringan timbangan kebaikannya, maka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, disebabkan mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami”(S.7 Al-A’raf 8-9)

@ Ibnu Hajar dalam kitabnya Fat hul Bari (21h63) mencatat dua ketentuan, yaitu:

~  Orang kafir itu tidak percaya kepada Allah sehingga tidak mempunyai amal soleh maka mereka akan masuk neraka tanpa hisab dan tidak ditimbang.

~  Orang  beriman yang  mempunyai amal soleh yang sangat banyak dan tidak mempunyai keburukan maka mereka juga masuk surga tanpa Hisab sebagaimana hadis-hadis tentang adanya 70.000 orang beriman masuk surga yang tidak dites tidak melalui Hisab, bahkan mereka akan melalui Shirathal mustaqim itu secepat kilat.

~ Ibnu Hajar  mencatat juga hadis yang diriwayatkan oleh Khaitsamah dan Ibnul Mubarak bahwa di hari kiamat amal soleh dan  maksiat akan ditimbang:

  1. i. Jika pahala amal solehnya lebih berat maka dia masuk surga.
  2. ii. Jika dosanya lebih berat maka dia masuk neraka.
  3. iii. Jika  amal solehnya sama  berat dengan dosa maksiatnya  maka dia tidak masuk surga tidak masuk neraka, dia disebut dengan  Al-‘A’raf tempatnya  di tengah-tengah antara surga dan neraka:

a) Jika melihat ke surga dia menangis menyesal;

b) Jika melihat ke neraka dia sangat senang sekali.

Dalam suatu kesempatan  Rasulullah Saw bersabda sebagaimana  termaktub dalam hadis yang cukup panjang terdapat kalimat berikut:

“Dari Abu Sa’id al-Khudriyyi bahwa Rasulullah Saw. bersabda: “Besuk di hari Kiamat Allah datang kepada manusia yang beriman dan berfirman (kepada malaikat):

َمَنْ وَجَدْتُمْ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ مِنْ خَيْرٍ فَأَخْرِجُوهُ فَيُخْرِجُونَ خَلْقًا كَثِيرًا (رواه (رواه مسلم 269 والبخاري 21-4321-6067 لترمذي 2478-2481)

Ssiapa yang di dalam hatinya  kamu dapati amal soleh walaupun seberat biji sawi, maka keluarkanlah dia  dari neraka, maka keluarlah satu jumlah yang sangat banyak semua masuk surga” Abu Sa’id  mempersilahkan mereka membaca  surat An-Nisa` 40:.

إِنَّ اللَّهَ لَا يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ وَإِنْ تَكُ حَسَنَةً يُضَاعِفْهَا وَيُؤْتِ مِنْ لَدُنْهُ أَجْرًا عَظِيمًا (النساء 40)

Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah, dan jika ada kebajikan sebesar zarrah, niscaya Allah akan melipat gandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar”(S.4 An-Nisa` 40) (HR Muslim no.269).

Semua ini dicatat oleh para ulama: Ibnu Katsir, Al-Qurthubi,  Al-Baghawi dan juga tafsir Al-Bahrul Muhith tafsir Ad-Durrul Mantsur.

~ Ibnu Hajar dalam Fat hul Bari (13h539) mengemukakan bandingan hadis riwayat Turmudzi no.1926 dan Abu Dawud no.4166 berikut:

عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَا مِنْ شَيْءٍ يُوضَعُ فِي الْمِيزَانِ أَثْقَلُ مِنْ حُسْنِ الْخُلُقِ وَإِنَّ صَاحِبَ حُسْنِ الْخُلُقِ لَيَبْلُغُ بِهِ دَرَجَةَ صَاحِبِ الصَّوْمِ وَالصَّلَاةِ (رواه الترمذي 1926 وابو داود 4166)

“Dari Abud Darda` bahwa Nabi Saw bersabda: “Tidak ada sesuatu yang lebih berat di dalam timbangan mengalahkan baiknya  budi perkerti. Sungguh orang yang berbudi baik  pasti akan mencapai derajatnya  orang puasa dan shalat”(HR Turmudzi no.1926 dan Abu Dawud no.4166).

5. Selamatkan diri dari api neraka

Disamping kita dapat masuk surga hanya karena selisih berat amal soleh seberat satu biji sawi mengalahkan dosa maksiatnya, maka Rasulullah lebih menegaskan lagi menyuruh kita semua umat Muhammad supaya menyelamatkan  diri dari api neraka itu wakaupun  hanya dengan  sedekah  satu biji kurma.

@ Ath-Thabari dalam tafsirnya (19h410) dalam membahas Qs26a214) mencatat bahwa Nabi Saw bersabda kepada Fathimah dan Shafiyah binti Abdul Muththalib : اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ= “Jagalah dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan satu biji kurma”

@Ibnu Katsir dari Tafsirnya (8h77)  dalam menfasirkan Qs59a18 mengaitkan hadis berikut:

عَنْ عَدِيَّ بْنَ حَاتِمٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ (رواه البخاري 1328)

Artinya: “Dari ‘Addi bin Hatim bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Jagalah dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan sacuil kurma”(HR Bukhari 1328 dan Muslim no.1689).

Para ulama mengaitkan hadis ini dengan Al-Quran s81a14, s36a12, S3a134, s99a7, s2a197, s21a39 dan Ar-Razi mengaitkannya dengan Qs2a195, artinya  janji Allah dan Rasulullah itu sangat meyakinkan kepada kita.

Jelas Rasulullah Saw. meminta  kepada  kita semua untuk menebus dosa atau menebus diri dari azab neraka dengan berbuat amal soleh walaupun hanya dengan SECUIL KURMA untuk menambah daya berat timbangan  amal baik mengalahkan perbuatan maksiat. Seseorang akan masuk surga walaupun selisih  batu timbangnya hanya sebesar satu biji sawi (sedekah dengan setugel kurma saja).

BAB  DUA

Hubungan Kaya Miskin

Masalah ke-2.Bagaimana  mengelola hubungan si kaya dengan si miskin? Jawab sementara: Orang yang mempunyai kelebihan rejeki supaya menolong mereka yang kekurangan melalui kerja sama  tukar menukar jasa dengan niat yang suci Lillahi Ta’ala

@ Kitab Al-Fshlu fil Milal (4h136) menyatakan bahwa semua dakwah mengajak berjuang kepada kebajikan hukumnya adalah wajib untuk memenuhi firman Allah dalam Al-Quran s5a2.

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ( الماءدة 2)

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya”(S.5 Al-Maidah 2).

@Kitab Majma’ul Anhar  fi Syarhi Muntaqal Abhar (7h51)  menyatakan bahwa menerima titipan dan menjaganya dengan baik adalah  termasuk  menolong dan memenuhi firman Allah dalam Qs5a2 di atas ini.

@Kitab Fatawa asy-Syabakatul Islamiyah (139h189) menyatakan bahwa  Imam Muhammad ‘Abdul Wahhab menyatakan bahwa memohon pertolongan kepada mayit hukumnya musyrik, meminta tolong kepada orang yang hidup dibolehkan sesuai dengan Al-Quran s28a15).

Dispekulasikan bahwa hubungan kaum milyuner dengan kaum proletar Insya Allah dapat diwujudkan dalam   bentuk pinjam meminjam menurut ukuran yang benar yang wajar, orang yang memiliki kelebihan melimpahkan kelebihannya kepada yang kekurangan dengan perhitungan yang benar dan ilmiah, yang sekiranya si peminjam dapat mengembalikannya dengan tepat.  Orang yang mempunyai kelebihan meminjamkan kelebihannya itu dia pinjamkan kepada Allah   yang wujudnya ialah memberikan pinjaman kepada orang yang kekurangan (Fakir miskin) melalui pernyataan WAKAF  berdasarkan firman Allah berikut:

مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيرَةً وَاللَّهُ يَقْبِضُ وَيَبْسُطُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُون البقرة َ 245)

“Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan”(s.2 Al-Baqarah 245).

# Ibnu Katsir dalam tafsirnya (7h37) saat menganalisa Al-Quran s49a10 mengaitkannya dengan hadis dibawah ini:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ(الحجرات 10)

Sesungguhnya orang-orang mu’min adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat”(S.49 Al-Hujurat 10).

@أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَخْبَرَناَُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يُسْلِمُهُ وَمَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِي حَاجَتِهِ وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرُبَاتِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ (رواه البخاري 2262 ومسلم 4677)

“‘Abdullah bin ‘Umar r.a. mengabarkan bahwa Rasulullah Saw. bersabda: “Orang Islam itu saudara orang Islam tidak boleh menzalimi dan tidak boleh dizalimi,  orang Islam tidak boleh  menyerahkan dia (kepada musuh). Barang siapa dalam keadaan menolong saudaranya maka Allah adalah yang menjamin keperluan dia, barang siapa suka melonggarkan kesempitan orang Islam lain dari deritanya maka adalah Allah yang melonggarkan dia dari derita kesulitan-kesulitannya di hari kiamat. Barang siapa menyelamatkan seorang Islam maka Allah menyelamatkan dia kelak di hari kiamat”(HR Bukhari no.2262 dan Muslim no.4677)

@عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ

+ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ (رواه مسلم 4867 والترمذي 1345)

Artinya: “Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Barang siapa yang melonggarkan kesempitan seorang yang beriman dari kesempitan kehidupan dunia, maka Allah akan melonggarkan dia kesempitan dari kesulitan di hari kiamat. Barang siapa memudahkan kesulitan seseorang maka Allah akan memudahkan dia dari kesempitan di dunia dan di akhirat.

+ Barang siapa menutupi (cacat) seorang Islam maka Allah akan meutupi keburukan dia di dunia dan di akhirat  Allah itu  menolong hamba  selama hamba menolong saudaranya Barang siapa melewati jalan perlu mencari ilmu maka Allah akan memudahkan kepadanya jalan ke surga “(HR Muslim no. 4867 dan Turmudzi no. 1345)

عَنْ عَامِرٍ قَالَ سَمِعْتُهُ يَقُولُ سَمِعْتُ النُّعْمَانَ بْنَ بَشِيرٍ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَرَى الْمُؤْمِنِينَ فِي تَرَاحُمِهِمْ وَتَوَادِّهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ كَمَثَلِ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى عُضْوًا تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ جَسَدِهِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى (رواه البخاري 5552 ومسلم 4685).

Artinya: “Dari ‘Amir dia bekata: “Aku mendengar Nu’man bin Basyir bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Anda melihat kemesraan dan kecintaan orang beriman serta kesetiaan mereka itu persis seperti badan yang satu, jika ada bagian yang sakit maka semua bagian tubuhnya akan merintih karenanya jaga tidak bisa tidur dan panas”(HR Bukhari no. 5552 dan Muslim 4685).

@عَنْ عَامِرٍ قَالَ سَمِعْتُهُ يَقُولُ سَمِعْتُ النُّعْمَانَ بْنَ بَشِيرٍ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَرَى الْمُؤْمِنِينَ فِي تَرَاحُمِهِمْ وَتَوَادِّهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ كَمَثَلِ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى عُضْوًا تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ جَسَدِهِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى (رواه البخاري 5552 ومسلم 4685).

“Dari ‘Amir dia bekata: “Aku mendengar Nu’man bin Basyir bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Anda melihat kemesraan dan kecintaan orang beriman serta kesetiaan mereka itu persis seperti badan yang satu, jika ada bagian yang sakit maka semua bagian tubuhnya akan merintih karenanya dengan jaga tidak bias  tidur dan panas”(HR Bukhari no. 5552 dan Muslim 4685).

@عَنْ أَبِي مُوسَى عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الْمُؤْمِنَ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا وَشَبَّكَ أَصَابِعَهٍُ(رواه البخاري 459 ومسلم 4684)

“Dari Abu Musa bahwa Nabi Saw bersabda: “Orang yang beriman kepada orang yang beriman itu persis seperti suatu bangunan yang satu memperkuat yang lain dan beliau menjalin jari-jarinya mempererat ikatannya”(HR Bukhari no.456 dan Muslim m no.4684).

Demikianlah  bentuk nyata bagaimana mengelola hubungan sosial antara si kaya dengan si miskin menurut  petunjuk Rasulullah Saw berdasarkan wahyu dari Allah. Alangkah indahnya masyarakat Islam  itu harusnya menjadi cita-cita yang harus juangkan  bersama.

BAB  TIGA

Wakaf  untuk kebahagiaan hidup

Masalah ke-3:.Apakah Allah  akan memberi balasan amal  baik itu  akan diberikan hanya di akhirat saja? Jawaban sementara: Allah akan memberi pahala akhirat dan secara otomatis  amal baik itu akan memberi kesejahteraan  hidup makhluk di dunia sampai akhirat.

Allah dalam beberapa tempat dalam Al-Quran menjanjikan kesejahteraan, kemakmuran dan kebahagiaan hidup di dunia jika umat manusia suka mentaati hidayah Allah, yaitu:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ()النحل 97)

Artinya: “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”(S.16 An-Nahl 97).

@ Ath-Thabari dalam tafsirnya (17h291) mencatat bahwa siapa yang tidak beramal soleh maka hidupnya akan sengsara.

@ Ibnu Katsir dalam tafsirnya (4h569) dalam membahas Qs41a30-32 dikaitkan dengan Qs16a97 mencatat bahwa hidup yang mentaati syari’at Allah akan bahagia di dunia- sampai akhirat dengan mengutip hadis  di bawah ini:

الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ(30) نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنْفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ(31)نُزُلًا مِنْ غَفُورٍ رَحِيمٍ(32)(فصلت 31-32)

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu”.Kamilah Pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan di akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”(S.41 Fushshilat 30-32)

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ (رواه مسلم 1246 والترمذي 2271)

Artinya: “Dari ‘Abdullah bin ‘Amr ibnil ‘Ash bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Sungguh berbahagialah orang yang Islam dan dianugerahi rejeki yang mantap serta  kepuasan yang diturunkan oleh Allah atas apa yang telah dianugerahkan kepadanya”(HR Muslim no.1246 dan Turmudzi no.2271).

@ Al-Qurthubi dalam Tafsirnya(10h174) mencatat bahwa hidup yang baik itu ialah mentaati aturan Allah siapa yang berpaling dari Allah maka hidupnya akan menderita sengsara.

@ Ar-Razi dalam Tafsirnya (7h387) saat  membahas Al-Quran s8a24  menyatakan bahwa siapa yang beriman dan tekun dalam agama Islam serta menghayati Al-Quran maka dia  akan mendapat ilmu untuk perjuangan mencari kesuksesan hidup. Allah akan memberi hidayah kepadanya menuju hidup yang haqiqi, jauh dari kebodohan. Di halaman lain (9h462) Ar-Razi menambahkan bahwa siapa yang  menepati syari’at Islam memilih yang mubah, yang sunat dan yang wajib  maka Allah akan membalas ketekunannya itu dengan hidup yang bahagia  sebagaimana dijanjikan Allah dalam Al-Quran s16a97:

Artinya: “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”(S.16 An-Nahl 97).

Perlu diingat bahwa iman merupakan syarat bagi amal soleh yang akan mendapat balasan dari Allah, maka orang kafir tidak mempunyai  amal soleh walaupun  dia merasa berbuat baik, tetapi baik menurut pikirannya sendiri.

Mengenai Hayatan Thayyibatan yang disebut-sebut Allah dalam Al-Quran s16a97 diatas maka hidup yang bahagia itu merupakan dampak dari amal soleh yang dapat  dirasakan di dunia sampai akhirat. Di halaman lain (10h484) Ar-Razi  mencatat bahwa Hayatan Thayyibatan atau hidup yang bahagia di dunia ini disinggung Allah dalam Al-Quran sampai 4 kali, yaitu s16a67,  s5a66, s7a96, s71a10-12 dan s72a16. Sebaliknya bahwa kafir itu  akan membawa dampak akibat derita sengsara diingatkan Allah dalam Al-Quran s2a61, yaitu:

وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ وَالْمَسْكَنَةُ وَبَاءُوا بِغَضَبٍ مِنَ اللَّهِ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَانُوا يَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ [ البقرة : 61 ]

Artinya: “Lalu ditimpakanlah kepada mereka nista dan kehinaan, serta mereka mendapat kemurkaan dari Allah. Hal itu (terjadi) karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah…”(S.2 Al-Baqarah 61).

@Pengaruh dari Hayatan Thayyibatan itu dampakya sampai alam kubur ditunjuk oleh hadis beriku:

حَدَّثَنَا أَبُو سَعِيدٍ الْخُدْرِيَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُسَلَّطُ عَلَى الْكَافِرِ فِي قَبْرِهِ تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ تِنِّينًا تَلْدَغُهُ حَتَّى تَقُومَ السَّاعَةُ فَلَوْ أَنَّ تِنِّينًا مِنْهَا نَفَخَ فِي الْأَرْضِ مَا أَنْبَتَتْ خَضْرَاءَ( رواه احمد10906 والترمذي 2384)(تنين=حية عطيم-

Artinya: ” Abu Sa’id  al-Khudriyyi mengatakan bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Ada 99 ular naga besar membelit orang kafir dalam kuburnya mengoyak-ngoyaknya sampai datang hari kiamat. Jika seandainya satu ekor ular tadi menyemburkan bisanya di bumi maka tidak dapat menumbuhkan tumbuhan hijau “(HR Ahmad no.10906 dan Turmudzi no.2384).

Dampak akibat dari perbuatan durhaka kepada Allah akan dirasakan  di akhirat  berupa azab kesengsaraan.

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى (طه 124)

Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”(S.20 Thaha 124).

@ Tafsir Ad-Durrul Mantsur (6h167) dalam membahas Qs16a97 mencatat yang dimaksud dengan Hayatan Thayyibatan ialah rejeki yang halal, pekerjaan yang baik dan amal soleh dan  hidup penuh kepuasan (Qana’ah).

@ Tafsir Fi Zhilalil Quran (4h488) menjelaskan makna dari lafal  Hayatan Thayyibatan itu ialah hidup yang tenang, percaya diri, damai, puas, tenteram, sehat, penuh ridho dan barokah Allah semua ini dapat dicapai dengan amal soleh.

Oleh karena itulah  selagi kita  yang  masih sempat  sayogyanya kita  berusaha keras untuk berbuat amal soleh dalam hal ini ialah menabung  dalam Tabungan Wakaf, walaupun hanya seharga satu butir kurma atau seberat biji bayam tetapi kontinu terus menerus, kita serahkan sejumlah uang kita serahkan kepada Allah menjadi milik Allah untuk membiayai proyek-proyek Jihad fi Sabilillah perjuangan Islam dan konfrontasi melawan budaya kafir. Kita renungkan firman Allah dengan sungguh-sungguh:

وَالْوَزْنُ يَوْمَئِذٍ الْحَقُّ فَمَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ(8)وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ بِمَا كَانُوا بِآيَاتِنَا يَظْلِمُونَ(9)(الاعراف 7-8)(الاعراف 8-9)

Artinya: “Timbangan pada hari itu ialah kebenaran (keadilan), maka barang siapa berat timbangan kebaikannya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan siapa yang ringan timbangan kebaikannya, maka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, disebabkan mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami”(S.7 Al-A’raf 8-9).

—===ooo0ooo===—

Lampiran

TABUNGAN    WAKAF

Telah tersiar berbagai masalah sosial dan berita-berita negatif yang bertentangan  dengan ajaran semua agama maupun  budaya bangsa yang beradab, mencakup perlawanan terhadap hukum Islam, merusak Hukum Tata Negara, bertentangan dengan Hukum moral, Hukum Ekonomi, Hukum Adat dan  berbagai macam aturan perundang-undangan.  Setiap hari berita-berita itu disuguhkan kepada kita oleh tayangan TV dan mass media elektronis modern   lain sepertinya  disengaja untuk menghancurkan nilai-nilai budaya Islami dan  sopan santun bangsa yang beradab.

Mayoritas masyarakat  Indonesia  masih mengaku beragama Islam, tetapi mereka  sudah  terbelenggu  dan dijerat oleh perkembangan budaya non muslim dan arus globalisasi karena minimnya ilmu ke-Islamannya maka mereka sangat mudah terjebak jatuh ke dalam  perangkap budaya kafir.

Dari sisi ekonomi  banyak masalah yang  memerlukan pemikiran kita misalnya seperti besarnya bagian rakyat Indonesia (41 juta orang)  masuk daftar orang yang hidup di bawah garis kemiskinan atau  menjadi penganggur tersembunyi dan 90% dari padanya adalah  beragama Islam.

Diperhatikan dari pandangan yang Islami maka ada beberapa petunjuk bagaimana mengatur dan mengatasi berbagai macam masalah hidup ini, yaitu:

~ Tidak ada manusia yang suci dari dosa kecuali para nabi. Junjungan kita Nabi Besar Muhammad Saw  pada jaman itu sudah menyatakan bahwa manusia itu  tempat  salah dan lupa (Hadis Turmudzi no.2423 dan Ibnu Majah 4241 ).

~ Hanya nabi dan rasul  yang suci dari dosa atau kesalahan, sebab  nabi dan rasul itu utusan Allah dan Allah terus menerus memberi petunjuk, mengawasi dan memberi peringatan atas kesalahannya kemudian meluruskan bagaimana sehatusnya. Hal ini dicatat oleh para ulama tafsir, Ath-Thabari, Ibnu Katsir, Al-Qurthubi, Ar-Razi dalam kitab tafsir mereka..

~ Kelak di hari Kiamat amal soleh manusia akan ditimbang diperbandingkan dengan  dosa maksiat mereka. Namun  Allah sudah memberi peraturan (Al-Quran s99a7-8) barang siapa yang amal solehnya  lebih banyak  mengalahkan dosa maksiatnya  maka seseorang akan  masuk surga sebaliknya siapa yang dosa maksiatnya lebih berat maka dia masuk neraka. Demikian juga Rasulullah Saw dalam hadis beliau bahwa barang siapa yang amal solehnya lebih berat akan msuk surga jika dosa maksiatnya lebih berat dalam timbangan itu dia masuk neraka.

~ Dicatat dalam hadis bahwa Rasulullah Saw bersabda barang siapa yang timbangan amal solehnya lebih berat walaupun hanya seberat satu dzarrah=seberat biji sawi mengalahkan dosa maksiatnya maka dia masuk surga.

~ Tercatat juga  bahwa  Rasulullah Saw  bersabda: “Selamatkanlah diri anda dari api neraka walaupun hanya dengan setugel  biji kurma”, senada dengan hadis  di atas, siapa yang amal solehnya lebih berat walaupun hanya setugel kurma  dia akan masuk surga.

~ Dalam Al-Quran s7a46-48 Allah berfirman bahwa orang yang amal solehnya persis sama dengan dosa maksiatnya maka dia  tidak masuk neraka dan tidak masuk surga, maka jika melihat penghuni surga dia akan menyesal serius, jika melihat penghuni neraka dia mengucapkan puji syukur kepada Allah.

Semua  ini sangat menggelitik pemikiran kita dan mengharapkan  jalan keluar dari ancaman neraka karena dosa maksiat kita sebab melanggar hukum Allah tidak taat kepada Rasulullah Saw  maka kita akan sangat terpuji dan Allah akan  mengangkat kita naik ke derajat yang tinggi jika seandainya kita dapat melakukan amal soleh menyumbangkan dana  perjuangan untuk menerapkan system kehidupan yang Islami. Dan akan sangat beruntunglah jika seandainya kita dapat menghimpun dana social dan dana abadi dengan mendirikan suatu lembaga sosial bernama TABUNGAN WAKAF   dengan  pokok-pokok pikiran sebagai berikut:

Yang dimaksud dengan Tabungan Wakaf ialah: “Menabung  sejumlah uang dengan menyerahkan uang itu menjadi milik Allah diserahkan  kepada Allah  menjadi Qardhan hasanan yang diminta oleh Allah dalam Al-Quran s2a245, s73a11&18, s5a12,s57a18 dan s64a17.

Dana ini sepenuhnya untuk perjuangan Islam – Jihad fi Sabilillah yang tercakup dalam rangka Konfrontasi kebudayaan Islam melawan kebudayaan kafir. Perjuangan Islam ini sangat luas sekali, maka salah satu lahan perjuangan Islam ialah mensukseskan program pengentasan kemiskinan dengan memberikan bantuan pinjaman uang bebas riba bebas bunga dari uang wakaf untuk modal usaha atau acara kehidupan orang Islam yang sangat penting memerlukan dana.

Siapa saja yang  ingin mengikuti gerakan Tabungan wakaf  maka dia  wajib mensucikan niat wakaf  menyerahkan uangnya itu Lillahi Ta’ala  memenuhi firman Allah di atas, kemudian dana ini akan  dikelola  oleh  pengurus yang mereka pilih dan berjanji akan memegang teguh amanat Allah.

Tabungan wakaf di sini dbentuk dengan niat akan mmenghimpun dana yang akan disalurkan menjadi  usaha pinjam meminjam dengan peminjam wajib mengembalikan pinjamannnya itu kepada Allah melalui pengurus Tabungan Wakaf paling lama 12 bulan.

Apa sebab  peminjam uang Tabungan Wakaf  wajib mengembalikan pinjamannya? Uang pinjaman  wajib dikembalikan sebabnya ialah bahwa uang yang dipinjam itu adalah  benda wakaf yang harus diabadikan supaya uang sebagai benda wakaf ini mengalirkan pahala mengalir terus-menerus kepada penabung sebagi orang yang mewakafkan hartanya. Bahkan  wakafnya itu menjadi  “Amal .Jariyah” sebagaimana dijanjikan oleh Rasulullah Saw dalam hadisnya:

Artinya: “Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Saw. bersabda: “Jika manusia mati maka terputuslah amalnya kecuali tiga macam, yaitu Shadaqah Jariyah, ilmu yang bermanfaat  atau anak yang soleh yang mendo’akan kepada orang yang mati itu”(HR Muslim no.3084, Nasa`i no.3591 dan Abu Dawud no.2491).

Siapa saja yang ingin mengikutui gerakan Tabungan wakaf terutama  mereka  para PEMINJAM  harus bernazar mewajibkan diri ikut berusaha bersama  mengembangkan  dan memperbesar modal  supaya bisa menambah berat timbangan amal solehnya di hari Kiamat kelak dan mungkin dapat lebih banyak memberi pinjaman kepada mereka yang sangat memerlukannya. Semua berusaha semampunya  yang penting ialah Lillahi Ta’ala, berapapun kecilnya  walaupun sebesar biji sawi (Mitsqala dzarratin).

Lebih  konkrit  lagi dapat kita bentuk suatu lembaga Tabungan Wakaf  sebagaimana   pasal-pasal Anggaran Dasar berikut:

 

TABUNGAN  WAKAF

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

Bab I

Nama, Identitas & Tempat Kedudukan

Pasal 1 Nama d an identitas

Nama  lembaga: Tabungan Wakaf ini dengan identitas bahwa Tabungan Wakaf merupakan suatu himpunan pribadi yang mempunyai  idealitas ingin  beribadah taqarrub kepada Allah melalui lembaga wakaf dengan cara menabung uang dana abadi milik Allah lalu disalurkan berupa bantuan melalui system  Simpan Pinjam dana keuangan guna usaha karya jasa dalam rangka mencari kehidupan yang lebih baik, lebih sejahtera bahagia dunia  akhirat. Dengan nama Wakaf maka diharapkan semua  yang terlibat dalam Tabungan Wakaf berusaha keras menjunjung tinggi amanat Allah berasal dari hak milik pribadi yang sudah diserahkan kepada Allah, bahwa harta kekayaan Tabungan Wakaf adalah MILIK  KEPUNYAAN ALLAH.

Bab II

Maksud,  tujuan  dan usaha

Pasal 2: Maksud dan tujuan

Maksud dan tujuan Tabungan Wakaf ialah menjunjung tinggi kalimat Allah dan mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya khususnya dalam bidang ekonomi kerakyatan sehingga dapat diwujudkan wilayah kehidupan  masyarakat yang adil makmur sejahtera bahagia  aman damai.

Pasal 3: Usaha

Untuk mencapai maksud  dan tujuan di atas, maka  Tabungan Wakaf bertekad untuk berusaha  melakukan  ikhtiar sebagai berikut:

 

 

1.Menggerakkan usaha menghimpun dana keuangan yang diniatkan sebagai Wakaf, yaitu melepaskan hak pemilikan atas sejumah harta atau dana untuk diserahkan sepenuhnya menjadi Hak Milik Allah, yang akan dikelola guna usaha pengentasan kemiskinan dan peningkatan kesejahteraan hidup yang Islami.

2.Menyalurkan dana Tabungan Wakaf kepada mereka yang memerlukannya sesuai dengan aturan yang dtetapkan oleh Tabungan Wakaf.

3. Pemasukan dan pngeluaran dana keuangan menganut sistem simpan pinjam, ex-pemilik dana sebagai penyimpan atau penabung pahala dan penerima dana sebagai peminjam.

4.Penerima dana merupakan pihak sebagai peminjam dalam arti dia wajib mengembalikan dana pinjamannya yang dapat diangsur sebagaimana diatur oleh Tabungan Wakaf ini.

Pasal  4 Sistem Simpan Pinjam

Sistem pemasukan dan pengeluaran diatur menurut  sistem simpan pinjam diatur secara Islami, yaitu:

  1. Pemberi dana disebut sebagai penabung pahala akhirat, melalui  pelepasan hak pemilikan atas sejumlah uang atau dana dengan tulus ikhlas berniat menyerahkan hak itu kepada Allah yang dijanjikan oleh Allah akan mendapat rahmat barokah  yang berlipat ganda 10 kali sampai  700 kali (bunganya  1000% sampai  70000 % dibayar oleh Allah).
  2. Penerima dana dinamakan peminjam yang berkewajiban mengembalikan pinjamannya yang dapat diangsur  maksimal  12 kali atau 12 bulan sesuai dengan peraturan simpan pinjam Tabungan Wakaf.
  3. Pinjam-meminjam  tidak menggunakan  sistem bunga atau riba, sehingga peminjam hanya mengembalikan sama dengan jumlah yang diterimanya.
  4. Semua anggota Tabungan Wakaf  berusaha keras  mengembangkan, memperbesar modal dengan cara  memasukkan atau mewakafkan dana (uang wakaf) menurut kemampuan dan kemauan masing-masing. Khusus peminjam hukumnya sunat muakkad mewakafkan dana atau uang  menurut  kemampuannya  dengan niat suci mengumpulkan tabungan pahala akhirat Lillahi Ta’ala sebagai  perwujudan rasa syukurnya kepada Allah dan mengejar  supaya di hari Kiamat besuk berat timbangan pahalanya lebih berat dari pada  dosa maksiat dia.

Bab III  Anggota

Pasal 4 Anggota

  1. 1. Anggota ialah semua peminat yang ingin menyimpan tabungan pahala akhirat dengan harapan akan mendapat  rahmat barokah  Allah dari wakafnya    dengan perlipatan 1000% sampai  70 000 % bunga yang  akan dibayar oleh Allah kelak di hari Kiamat.
  2. 2. Semua yang menyimpan tabungan pahala akhirat sekaligus juga para peminjam dana dari koperasi wakaf ini menjadi anggota Tabungan Wakaff.

Pasal 5 Struktur Organisasi

Koperasi wakaf  bernaung di bawah Departemen Agama sesuai dengan aturan hukum  yang Islami.

Organisasi kepengurusan Tabungan Wakaf disusun dengan lembaga Penasehat, Ketua/wakil, sekretaris/wakil, bendahara/wakil anggota dan staf ahli penelitian dan pengembangan.

Bab IV Keuangan

Pasal 8:  Dana-Pembiayaan

  1. 1. Dana keuangan diperoleh  dari penyimpan tabungan pahala akhirat (termasuk mereka yang menerima pnjaman dan dari Tabungan Wakaf).
  2. 2. Pahala akhirat hanya dapat diperoleh orang yang menabung Tabungan Wakaf dengan niat suci Lillah Ta’ala, bukan lembaga bukan organisasinya, sehingga penyerahan harus dilakukan oleh orang dengan nama diri sendiri yang jelas (Isteri harus dengan nama diri sendiri pribadi).
  3. 3. Dana dapat diperoleh juga dari Zakat, infaq,  shadaqah, wakaf, hibah atau wasiat yang diserahkan oleh pemilik hak atas dana peserta Tabungan Wakaf.  pahala akhirat hanys akan diterima oleh yang namanya ditulis dalam daftar yabungan Wakaf.

Bab V  Musyawarah

Pasal 7:  Pimpinan & Pengurus

1.Musyawarah Pimpinan sekurang-kurangnya terdiri dari  tiga unsur Ketua, Sekretaris, Bendahara dan Tim Ahli/Litbang.

2.Pimpinan, Tim Ahli,  Ketua dan Litbang dipilih oleh musywarah anggota

3.Pimpinan mewakili  urusan kedalam dan keluar Tabungan Wakaf

4.Pimpinan  dipilih untuk periode  5 tahun, semua anggota pimpinan dapat dipilih paling banyak dua kali periode.

Bab VI Aturan Peralihan

Pasal 10 Rincian Pedoman

  1. Hal-hal yang belum ada ketentuannya diatur oleh Musyawarah Pimpinan yang senada dengan Anggaran Dasar.
  2. 2. Dalam hal yang mendesak dapat dibuat aturan yang senada lebih dahulu dan disahkan kemudian oleh Musyawarah  menyusul.

Silahkan buka internet situs : http://pondoquranhadis.wordpress.com

Kirimkan naskah ke Email::pondokilmu7@gmail.com-Tlp:0318963843


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: