Oleh: pondokquranhadis | Januari 27, 2011

BERDO’A DAN BERUSAHA

011(1) 9                                                                                         Tafsir  Tematis   Kontemporer

BERDO’A DAN BERUSAHA

Al-Quran S.2 Al-Baqarah 186

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ (البقرة 186)

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo`a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi kehendak- Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”(S.2 Al-Baqarah 186).

Tema dan sari tilawah

  1. 1. Allah itu menciptakan manusia sebagai hamba-hamba Nya..
  2. 2. Secara instinktif manusia itu ingin mencari Tuhan padahal Allah itu sangat dekat kepada para manysia hamba Allah.
  3. 3. Allah itu Maha Sempurna memiliki segala-galanya, sedangkan manusia itu makhluk yang mempunyai kekurangan
  4. 4. Karena sifat yang serba kurang itu manusia berdo’a memohon  penutup untuk memenuhi kebutuhannya.
  5. 5. Allah akan mengabulkan do’a permohonan para hamba dengan syarat jika mereka suka beriman dan memenuhi perintah Allah.
  6. 6. Jika hamba beriman dan memenuhi perintah Allah maka mereka akan berada dalam kebenaran.

Masalah dan ama;isa jawaban

  1. 1. Apa yang dimaksud dengan istilah “qarib”atau sangat dekat Allah kepada para hamba itu?Jawaban sementara: Allah sangat dekat itu maknanya ialah bahwa Allah itu adalah Dzat yang  serba Maha artinya tidak dapat dibatasi volume, jarak, waktu dalam  segala sifat-Nya.
  2. 2. Bagaimana  maksud Falyastajibu li wal yu`minu bi beriman dan memenuhi perintah di  dalam ayat itu? Jawabana sementara: Agar do’a permohonan kepada Allah itu mustajab maka manusia harus memenuhi firman Allah melalui Al-Quran.
  3. 3. Apakah makna “Yarsyudun” dalam ayat itu? Jawaban sementara: Yarsyudun artinya berada  dalam kebenaran maksudnya   bahwa mengikuti sepenuhnya firman Allah itu sama dengan menekuni kebenaran yang hakiki sebab Al-Quran adalah ilmu  dari Allah yang Maha Benar.

Pendalaman dan  penelitian:

BAB SATU

Dzat yang tidak terbatas

Masalah ke-1: Apa yang dimaksud dengan istilah “qarib”atau sangat dekat Allah kepada para hamba itu?Jawaban sementara: Allah sangat dekat itu maknanya ialah bahwa Allah itu adalah Dzat yang  serba Maha artinya tidak dapat dibatasi  oleh tempat, volume, jarak, waktu dalam  segala sifat-Nya.

@ Ilmu indrawi dan ilmu gaib

Alam dapat dibagi dua, alam lahir indrawi dan alam gaib. Alam indrawi ialah semua keadaan yang dapat ditangkap dengan panca indra lahir. Alam gaib ialah keadaan yang tidak dapat disaksikan oleh indra lahir manusia.

~ Alam indrawi dapat dijadikan obyek penelitian, karena dapat dibuat catatan tentang angka ukuran volume-besarnya  2 dimensi,  3 dimensi, ukuran gerak kecepatan, temperature panas, dinginnya atau semua keadaan yang dapat diukur dengan angka.

Dari keadaan  alam yang indrawi telah ditemukan teori dan metode serta cara mencari kebenaran bahwa yang dianggap benar itu sesuatu  teori yang dapat dibuktikan  oleh semua orang, kapan saja dan dimanapun juga  terbukti kebenarannya melalui sidang-sidang skripsi S-1, tesis S-2 dan disertasi S-3. Sebagian pedoman untuk mencari kebenaran ilmu ini ialah Ilmu Metodologi Penelitian Ilmiah. Dan metode ini sudah berlaku di semua perguruan tinggi dan universitas di mana saja.

Keadaan atau ilmu gaib mempunyai ketentuan  lain yang sangat berbeda dengan ilmu indrawi, Ilmu gaib itu sangat rahasia, tidak dapat dijangkau oleh pancaindra, tidak bisa disaksikan tidak  dapat diuji oleh subyek-pribadi orang lain.  Sehingga suatu keadaan dari ilmu gaib itu tidak dapat dibawa ke Pengadilan, misalnya seperti  perbuatan santhet, sihir, hantu, gendhruwo , setan, jin penghuni alam gaib.

Dalam Islam Allah itu  mempunyai 20 sifat, yang no.3 ialah Mukhalafatul lil hawaditsi artinya Allah itu tidak sama dengan makhluk dalam seluruh sifat 20 sampai  99 nama dalam Asmaul husna. Maka dari itu  apa yang  termaktub dalam Al-Quran S.2 Al-Baqarah 186 dalam judul di atas jelas bahwa Allah itu dekat tidak seperti  istilah dekat dalam hukum alam indrawi.

Orang-orang Arab di jaman awal yang ilmunya sangat sederhana itu  merasa kesulitan memahami sifat Allah, maka mereka bertanya kepada Nabi Saw seperti riwayat hadis  yang dikutip oleh As-Suyuthi dalam tafsirnya Ad-Durrul Mantsur (2h260) berikut: Ibnu Jarir bahwa pada suatu hari orang banyak bertanya kepada Rasululklah Saw : “Ya Rasulullah apakah Tuhan itu dekat apakah jauh, jika dekat kami akan berbisik jika jauh kami akan bersuara keras” Maka turunlah Al-Quran s.2 Al-Baqarah 186 tersebut di atas.

Analisa para ulama:

Bagaimana gambaran sifat-sifat Allah dalam hal ini Al-Quran s2a186, maka di sana terdapat beberapa analisa sebagai berikut:

@ Tafsir Ad-Durrul Mantsur (3h704) dalam membahas s2a186 mengaitkannya  dengan beberapa ayat yang senada dan hadis-hadis Nabi Saw  yang  menekankan kepada segi-segi:  tertentu:

~Ssyarat  terkabulnya do’a s65a2,  s65a3;

~Kesediaan merelakan sesuatu yang dicintainya s2a245;

~Berpegang erat-erat keyakianan kepada Allah (s3a101) :

“….. orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat. barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar.Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu”(S.65 Ath-Thalaq dan S.65 Ath-Thalaq 3)._

“Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan”(S.2 Al-Baqarah 245).

“Bagaimanakah kamu (sampai) menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kamu, dan Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kamu? Barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus”(S.3 Ali “Imran 101)l

# عن كعب بن مالك قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : أَوْحَى اللهُ إِلَى دَاوُدَ : يَا دَاوُدُ مَا مِنْ عَبْدٍ يَعْتَصِمْ بِيْ دُوْنَ خَلْقِيْ أَعْرِفُ ذَلِكَ مِنْ نِيَّتِهِ فَتَكَيَّدَهُ السِّمَوَاتُ بِمَنْ فِيْهَا إِلَّا جَعَلْتُ لَهُ مِن بَيْنِ ذَلِكَ مَخْرَجًا وَمَا مِنْ عَبْدٍ يَعْتَصِمْ بِمَخْلُوْقٍ دُوْنِيْ َأَعْرِفُ مِنْهُ نِيَّتَهُ إِلَّا قُطِّعَتْ أَسْبَابُ السَّمَاءِ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَأَسْخَتِ الْهَوَاءُ مِنْ تَحْتِ قَدَمَيْهِ (أخرجه ابو  تمام في فوائده  (الدر المنثور 3 / 704-705)

“Dari Ka’ab bin Malik dia mengatakan: “Rasulullah Saw  bersabda: “Allah memberi wahyu kepada Dawud a.s.: “Wahai Dawud  hamba yang yakin betul-betul kepada-Ku (Allah) tidak keliru kepada makhluk ciptaan-Ku, Aku tahu  dari niatnya, ketika digoyang oleh penghuni langit maka pasti Aku beri dia jalan keluar (way out). Barang siapa percaya kepada makhluk bukan Aku(Allah) yang Aku tahu dari niat dalam hatinya maka tidak lain kecuali pasti Aku putus  tali langit dari mukanya dan kemauan nafsunya di bawah kakinya” (HRAbu Tamam-Ad-Durr4ul Mantsur j3h704).

# عَنْ مَعْقِلِ بْنِ يَسَارٍ قَالَ : قَالَ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم : يَقُوْلُ رَبَّكُمْ : يَا اِبْنَ آدَمَ تَفَرَّغْ لِعِبَادَتِيْ أََمْلْأ قَلْبَكَ غِنًى وَأَمْلَأُ يَدَيْكَ رِزْقًا (أخرجه الحاكم وصححه)

“Dari Ma’qil bin Yasar bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Allah berfirman:”Wahai anak Adam tumpahkan tenagamu untuk beribadah kepada-Ku pasti hatimu  Aku  penuhi dengan kekayaan dan tanganmu  Aku penuhi dengan rizki”(HR Al-Hakim dalam Shahihnya).

@Tafsir Ar-Razi (1h776) dalam memahami Qs2a186 mencatat arti Qarib tidak mengandung arti ruang dan volume, tetapi dekat dalam hal ilmu dan hafalan. Maksudnya ialah: Allah itu tidak terkait dengan tempat atau arah qiblat. Dalam j1h777 Ar-Razi mencatat bahwa jika diartikan Allah menghadap, Allah mendengar do’a kepada hamba yang berdo’a, maka dapat diterima.

@Tafsir Ibnu Katsir (1h506) dalam hal ini mengaitkannya dengan hadis:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِي اللَّه عَنْه قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلَإٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ بِشِبْرٍ تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا وَإِنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً (رواه البخاري 6856  ومسلم 4832-)*

“Dari  Abu  Hurairah  r.a. bahwa Nabi Saw bersabda: “Allah berfirman: “Aku berada di dugaan hamba-Ku terhadap  Aku dan Aku menyertai dia  jika dia dzikir kepada-Ku. Jika dia dzikr dalama dirinya Aku mengingat dia dalam diri-Ku, jika dia dzikir kepada-Ku dalam sidang Aku mengingat di dalam  satu jengkal  maka aku mendekat dia  satu hasta, jika dia mendekat Aku satu hasta  maka Aku mendeka dia  satu depa,jika dia dating menghadap Aku berjalan maka Aku hadis kepada dia dengan lari”(HR Bukhari no.6856 da Muslim no.4832). Hadis yang senada diriwayatkan oleh Ibnu Majah no.3782 dan Ahmad no.10545).

{ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُمْ مُحْسِنُونَ } [النحل: 128]،

“Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan”(S.16 An-Nahl 128).

قَالَا رَبَّنَا إِنَّنَا نَخَافُ أَنْ يَفْرُطَ عَلَيْنَا أَوْ أَنْ يَطْغَى(45)قَالَ لَا تَخَافَا إِنَّنِي مَعَكُمَا أَسْمَعُ وَأَرَى(46) [طه:45- 46]

“Berkatalah mereka berdua: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami khawatir bahwa ia segera menyiksa kami atau akan bertambah melampaui batas. Allah berfirman: “Janganlah kamu berdua khawatir, sesungguhnya Aku beserta kamu berdua, Aku mendengar dan melihat” (S.20 Thaha 45-46).

عَنْ أَبِي مُوسَى قَالَ كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي غَزَاةٍ فَجَعَلْنَا لَا نَصْعَدُ شَرَفًا وَلَا نَعْلُو شَرَفًا وَلَا نَهْبِطُ فِي وَادٍ إِلَّا رَفَعْنَا أَصْوَاتَنَا بِالتَّكْبِيرِ قَالَ فَدَنَا مِنَّا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ ارْبَعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ فَإِنَّكُمْ لَا تَدْعُونَ أَصَمَّ وَلَا غَائِبًا إِنَّمَا تَدْعُونَ سَمِيعًا بَصِيرًا ثُمَّ قَالَ يَا عَبْدَاللَّهِ بْنَ قَيْسٍ أَلَا أُعَلِّمُكَ كَلِمَةً هِيَ مِنْ كُنُوزِ الْجَنَّةِ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ (رواه مسلم 6120 )*

Dari Abu Musa bahwa dia bersama Rasulullah Saw dalam suatu peperangan, maka setiap naik pendakian, tiap naik ke dataran yang tinggi, setiap turun ke lembah kami  tidak lain kecuali memperkeras suara meneriakkan bacaan Takbir. Lalu Rasulullah Saw bersabda: “Wahai sahabat semua rendahkan suara kalian, sebab kalian tidak berdo’a kepada Dzat yang tuli bukan yang gaib tetapi kalian berdo’a kepada Dzat yang Maha Mendengar Maha Melihat”(HR Muslim no.6120)Dalam Shahih Bukhari no.4874 ada tambahan: “Kalian berdo’a kepada Allah yang lebih dekat dari pada leher onta kalian”(HR Bukhari no.4874

Makna dari nas tersebut ialah bahwa Allah sangat memperhatikan do’a hamba yang berdo’a tidak melengahkannya sama  sekali bahkan Allah itu Maha Mendengar do’a hamba supaya mereka suka berdo’a juga Allah itu tidak melupakannya.

BAB  DUA

Berdo’a dan  berusaha

Masalah ke-2:Bagaimana pula maksud Falyastajibu li wal yu`minu bi beriman dan memenuhi perintah di  dalam ayat itu? Jawabana sementara: Agar do’a permohonan kepada Allah maka manusia harus memenuhi firman Allah Al-Quran.

Lebih mudahnya ialah bahwa  berdo’a kepada Allah itu harus dilandasi keyakinan iman kepada Allah dan memenuhi kehendak Allah yang termaktub di dalam Al-Quran, karena cara melakukan kominikasi, dialog dan memanjatkan do’a atau permohonan kepada Allah tidak ada  jalan kecuali mengikuti kehendak Allah sebagaimana tersirat di dalam firman-Nya yaitu Al-Quran. Sedangkan penjelasan dan praktek memenuhi kehendak Allah dalam firman-Nya  itu sudah ditegaskan Allah sendiri di dalam firman itu harus melalui praktek dan peragaannya persis seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw.

Adapun  garis besar  isi firman Allah Al-Quran itu dapat kita perhatikan dari  hasil analisa para ulama, sebagian dari padanya ialah sebagai tertera di bawah ini.

Isi kandungan Al-Quran

Ibnu Jari>r Atgh-Thabari  menyatakan bahwa Al-Qura>n itu tidak mungkin  dapat dijangkau  dan  tidak dapat dihitung  keajaibannya  dan  menurut As-Suyu>thi> dalam Al-Itqa>n (1973 ii/h129) Al-Qura>n itu isinya mencakup segala sesuatu. Menurut Ibnul ‘Arabi>>> bahwa Al-Qura>n itu paling sedikit mengandung 77.450 macam disiplin ilmu.

Walaupun demikian Al-Qura>n jika diperhatikan dari isi kandungannya semua itu dapat dikelompokkan ke dalam beberapa pokok garis besar. Pendapat yang lebih sederhana, maka menurut Tengku Hasbi dalam Sejarah dan Pengantar  Ilmu Tafsi>r—(1955, h.99) bahwa garis  besar isi Al-Qura>n itu dapat dibagi tiga, yaitu:

1) Akidah      2) Syari’ah atau hukum            3) Akhlak

Masing-masing dari ketiga pokok  ini dapat dibagi kedalam cabang, ranting yang  sekecil-kecilnya, yaitu:

Ad 1 Akidah, dibagi 6, menjadi rukun iman yang enam, yaitu iman kepada  6 perkara, yaitu: a) Allah; b) Malaikat; c) Kitab; d)Rasul;e) Hari Kiamat; f) Qadha`-Qadar.

Kemudian tiap rukun tersebut dibagi dan dibagi lagi sampai bab, sub bab, pasal, cabang,  ranting  yang sekecil-kecilnya.

Ad 2 Syari’ah atau hukum dibagi menjadi 8, yaitu:1) Ibadat,  dibagi menjadi 14 nomer;  2) Al-Ah}wa>l Syah}siyah,  dibagi menjadi 14 nomer;  3) Mu’a>mala>t Madaniyah, dibagi menjadi 22 nomer; 4) Mu’a>mala>t Ma>liyah, dibagi 4 nomer;  5) ‘Uqu>ba>t, dibagi menjadi 10 nomer;  6) Mukha>shama>t, dibagi menjadi 6 nomer;  7) Ah}ka>m Dustu>riyah; dibagi 6 nomer;  8) Ah}ka>m Duwaliyah atau Hukum Internaasional.

Kemudian masing-masing nomer di atas  dipecah lagi kepada permasalahan yang terkait padanya demikian rinci sampai yang sekecil-kecilnya.

Ad 3 Akhlak dapat dibagi menjadi beberapa nomer: a)  Hubungan hamba dengan Tuhan, dapat dibagi kedalam bab-bab dalam Ilmu Tasawuf. b) Hubungan antara manusia dengan sesama manusia, dibagi ke bab-bab  dalam Ilmu Akhlak, adab mendidik diri, adab dengan bapak-ibu, anak isteri, saudara, famili,tetangga, atasan, bawahan, guru, pimpinan, umat seagama, penganut agama lain, adab dengan sesama umat manusia. c) Hubungan manusia dengan semua makhluk, mencakup ilmu pengetahuan, tehnologi dan filsafat;

Selanjutnya masing-masing dibagi kepada sub judul sampai bagiannya yang paling rinci.

Kiranya dapat dikelompokkan ke dalam bidang Al-Akhlaq ialah apa yang dihimpun oleh  Afzalurrahman dalam bukunya Quranics Science diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh HM Arifin   telah terkumpul ayat-ayat yang cenderung dapat dimasukkan ke dalam IPTEK  maka terdapat  lebih dari 30 cabang  disiplin ilmu, yaitu:

(1) Hukum Kausalitas; (2) Kosmologi; (3) Astronomi; (4) Fisika; (5)Matematika;(6)Sejarah;(7)Geografi;(8)Geologi;(9)Mineralogi;(10)Bilogi; (11) Botani (12)Zologi; (13)Ekonomi; (14)Pertanian; (15) Perkebunan; (16) Irigasi;(17) Perdagangan; (18) Arkeologi; (19) Arsitektur; (20) Psikologi; (21)Edukasi; (22)Industri; (23) Leadership; (24) Psikiatri; (25)Sosiologi; (26)Seksologi; (27) Phisiologi ; (28)Kimia;(29)  Kedokteran;(30) Farmakologi.

Ke-30 macam cabang disiplin ilmu di atas dan seluruh cabang disiplin ilmu  semua mempunyai hukum atau teori masing-masing, misalnya Hukum atau teori  Ekonomi, Hukum atau resep Kedokteran, teori Ilmu Kimia, hukum atau teori Matematika dan semua ada aturan yang dihasilkan oleh cabang disiplin ilmu semua bidang tersebut. Para pakar dan para ulama menamakan hukum-hukum dari semua cabang disiplin ilmu ini disebut Hukum Alam atau Sunnatullah.

Oleh karena itu  kita semua siapa saja yang berdo’a  harus memenuhi firman Allah yaitu Al-Quran menepati ketentuan Hukum dari ke-30 cabang disiplin ilmu tersebut yaitu bekerja keras untuk mengejar cita-cita, keinginan, program dan rencananya itu dengan sungguh-sungguh mentaati hukum alam khususnya teori-teori yang terkait dengan obyek yang direncanakan atau tujuan yang ingin dicapai. Dengan berdo’a sekaligus bekerja keras usaha mengejar hasil maksimal apa yang dicita-citakan ini  jika dirinya berasil sukses maka keberkasilannya  adalah logis-ilmiah bahkan Qurani sesuai dengan 30 macam cabang disiplin ilmu dalam Al–Quran tersebut di atas.

Perlu kita ingat bahwa Allah itu tidak langsung membuat meja-kursi, tidak membuat computer sendiri, Allah tidak membuat pesawat  challenger dan pesawat-pesawat ulang-alik ke Saturnus dan angkasa sejenisnya. Semua ini yang membuat adalah manusia sedangkan  Allah itu yang menciptakan asal-usul bahan dasar, memberi kemudahan, ketepatan, rahmat-barokah untuk manusia dalam membuat alat perlengkapan hidup dalam kerangka usaha mengembangkan kemajuan kebudayaan dan peradaban.

Keberhasilan besar yang tercapai secara logis ilmiah ini dampaknya akan sangat bagus  positif dan bersih tidak mengakibatkan efek yang negativ bahkan sebaliknya akan memicu berbagai macam kegiatan yang cocok dengan logika bahkan ilmiah dapat diuji dalam siding-sidang ujian skripsi, tesis atau disertasi S-1,S-2,S-3 berikutnya. Lebih serius  lagi tidak menimbulkan faham-faham yang menjurus ke  lembah kekufuran dan kemusyrikan menentang ajaran Islam.

Jika manusia yang bukan nabi-utusan Allah  mendapat sukses berhasil membuat  suatu kejutan, kehebatan, keajaiban  atau sesuatu yang luar biasa tanpa usaha, tidak melalui kerja keras tidak menurut Hukum Alam atau Sunnatullah  tersebut maka akan timbul perbuatan-perbuatan negative bahkan akan menjerumuskan  orang  itu sendiri bahkan orang banyak  menjadi musyrik  menyebabkan  orangnya menjadi sombong orang banyak akan taajub kemudian mendewa-dewakan  dia menjadi  dukun  Sekti Mondroguno dosa paling besar.

@Tafsir Al-Kasyfu wal Bayan (2h76) mencatat adab tata krama berdo’a katamya: “Berdo’a itu harus memenuhi adab sopan santun dan syarat rukunnya supaya do’a siapa yang memenuhi ketentuan ini do’anya akan terkabul. Ibrahim bin Adham seorang pemikir teori Ittihad dalam Ilmu Tasawuf berkata:Penuh ketaatan kepada Allah, itba’ ikut Rasulullah Saw. Mengamalkan isi Al-Quran, bersyukur atas nikmat Allah, mencari surga, menjauhi jalan ke neraka, melawan keras setan, menyiapkan diri kematian mengingat alam kubur, menjauhi  celaan manusia.

Tercatat pesan Ibrahim: Bagaimana mungkin dikabulkan Allah  do’a jika anda percaya kepada Allah tetapi tidak mentaati firman Allah, anda beriman kepada Rasul tetapi tidak mentaati Sunnah Rasul, anda beriman kepada kitab suci Al-Quran tetapi tidak mengamalkan isi ajaran Al-Quran, anda menikmati rizki-mikmat dari Allah tetapi tidak berterima kasih bersyukur kepada Allah; anda mengakui adanya surga tetapi tidak mencari jalan ke sana, anda mengakui adanya neraka  tetapi tidak suka melarikan diri dari neraka, anda mengakui adanya setan tetapi tidak melawan setan, anda mengakui adanya malaikatul maut tetapi tidak mempersiapkan diri menghadapinya, banyak orang diusung ke dalam kubur tetapi anda tidak  suka meminggalkan kejelekannya bahkan sibuk mencari aib kejelekan orang lain”

Jika direnungkan lebih jauh lagi umpamanyanya do’a itu ditaruh di alat timbang maka do’a  disebelah kiri dan kabulnya do’a disebelah kanan maka antara  do’a dengan kabulnya do’a itu harus seimbang, beratnya sama antara kedua sisi.

Orang berdo’a itu dapat dibayangkan seperti penjual melihat pembeli, penjualnya ialah orang yang berdo’a  sedangkan pembelinya ialah Allah.  Dapat dilihat di  berbagai macam arena bagaimana ramainya orang menawarkan dagangannya agar dibeli atau diborong sekaligus. Maka para penjual berusaha keras memperbaiki mutu dagangannya agar mengalahkan dagangan penjual yang lain, ditingkatkan terus mutu, kelengkapan, kelebihannya supaya dapat mengalahkan  saingannya.

Ternyata Allah sendiri yang mengibaratkan  masalah harapan harga jual amalan hamba kepada Allah dan berapa penawaran harga itu oleh Allah, sebagaimana diuraikan dalam Al-Quran:

إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْقُرْءَانِ وَمَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُمْ بِهِ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ(111)التَّائِبُونَ الْعَابِدُونَ الْحَامِدُونَ السَّائِحُونَ الرَّاكِعُونَ السَّاجِدُونَ الْآمِرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّاهُونَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَالْحَافِظُونَ لِحُدُودِ اللَّهِ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ(التوبة 112 )

Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar. Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang memuji (Allah), yang melawat, yang ruku`, yang sujud, yang menyuruh berbuat ma`ruf dan mencegah berbuat mungkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan gembirakanlah orang-orang mu’min itu”(S.9 At-Taybat 111-112).

Walaupun ayat ini lebih fokus kepada perang sabil tetapi di jaman millennium-3 ini yang disebut  Perang Sabil itu sulit dilakukan sebab manusia sudah bercampur baur, bukan hanya antara orang beriman dengan orang kafir tetapi, dijaman perang Shifain tahun ke 36 hijriyah saja sudah pernah terjadi perang  antar sahabat sendiri Sayyidina ‘Ali dengan Mu’awiyah, maka sekarang lebih banyak  variasinya.

Dalam ayat ke-112 Surat At-Taubat di atas malah sudah jelas disebutkan  dagangan yang kita jual kepada Allah itu ialah sikap bertaubat, ibadah, puji-pujian kepada Allah, ruku’ sujud bahkan masalah AMAR MA’RUF NAHI MUNKAR  bidang ini terlalu luas jangkauannya, mencakup  pencerahan peradaban seluruh sudut kebudayaan dalam kehidupan manusia menjadi  medan ajang perang=Jihad fi Sabilillah.

Dari catatan di atas, maka sebenarnya do’a itu wajib dibarengi dengan  amal soleh dengan Jihad fi  Sabilillah bahkan  siap berkorban apa saja, harta ataupun nyawa agar supaya do’a kita terkabul dengan balasan yang sangat besar sekali dari Allah surga Jannatun Na’im.

@ Kita wajib berhati-hati

Apabila  suatu ketika  do’a kita dikabulkan oleh Allah seketika itu juga  persis apa yang kita mohon, maka kita wajib berhati-hati, harus kita renungkan lebih dalam melalui pertanyaan berikut:

  1. Apakah dagangan kita (jihad yang kita kerjakan) itu memang sama harganya dengan imbalan yang dikabulkan Allah yang  kita mohon?
  2. Apakah  kabulnya do’a itu memang  melulu rahmat dari Allah bukan ditimbang  diperhitungkan dengan jerih payah kita?
  3. Apakah Allah hendak menguji kita  amal soleh-ibadah kita sesudah terkabul akan berkurang makin malas? Dan soal-soal yang lain.

Yang paling berbahaya dari terkabulnya do’a yang terwujud seketika dan persis seperti yang kita kehendaki bahayanya ialah munculnya rasa sombong dari kita, sebab sombng itu walaupun sekecil dzarrah akan melemparkan kita terperosok jatuh ke lembah kemusyrikan yang mengetahui isi hati kita hanya Allah. Sebab  siapa saja yang memperoleh kelebihan baik materi maupun bukan materi maka dia  akan mudah sekali berlaku sombong karena kemampuan, kecakapan, keahlian, kekayaan, maka seseorang mudah sekali memandang orang lain kalah ilmu, kalah kaya, kalak ayu, kalah macam-macam disbandingkan orang yang memiliki kelebihan itu.

Islam sangat keras sekali menentang  kepercayaan atau sikap-sikap yang mendekati syirk. Rasulullah bersabda:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً قَالَ إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ (رواه  مسلم 131)*

“Dari ‘Abdullah bin Mas’ud bahwa Nabi Saw bersabda: “Tidak masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat sikap sombong walau hanya sebesar biji sawi. Maka seorang sahabat bertanya: “Bukhankah orang itu senang atas bajunya  bagus, alas kakinya bagus? Beliau menjawab: “Allah itu Maha Bagus, senang kepada yang bagus, sedangkan sombong itu menentang kebenaran dan menghina orang lain”(HR Muslim no.131).

Lebih berbahaya lagi jika seseorang memperoleh kelebihan materi atau ilmu lebih cepat, lebih hebat, sangat aneh luar biasa maka orang lain akan berbuat musyrik dengan cara memuji-muji, mengangkat tinggi-tinggi dengan mendewa-dewakan seseorang  lalu menyiarkannya sebagai orang yang mempunyai ilmu gaib, dukun tiban, dukun sakti, orang pinter, orang tuwa melalui jopomontro. jampi-jampi, membakar kemenyan dll.  Demikian juga mereka yang mengaku kyai, haji dan gelar-gelar kesaktian  yang mempunyai kekuatan gaib, dapat mengobati penyakit klas berat, dapat memberi barokah sehingga pasien cepat mendapat jodoh, segera mempunyai anak bahkan ada suatu majalah atau media lain memuat begitu banyak iklan orang-orang yang mengaku pinter ini. Dalam masyarakat banyak penganut berbagai macam kepercayaan, orang-orang yang  mencampur agama dengan ilmu kebatinan, ilmu gaib, ilmu sihir, ilmu santhet, ilmu ramal, ilmu kasekten……dst.

Al-Quran menuduh sebagian kaum Yahudi dan Nasrani  telah mengangkat pimpinan agama mereka selain Nabi ‘Isa dan mengunggulkannya terlalu tinggi  setingkat tuhan, setengah tuhan, sepertiga tuhan, wakil tuhan mereka  yang dapat memberikan ampunan Tuhan kepada siapa yang memintanya. Allah berfirman:

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ (التوبة 31)

Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan”(S.9 At-Taubat 31).

قُلْ يَاأَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ ( ال عمران64)

“Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”(S.3 Ali ‘Imran 64).

Oleh karena itu orang yang beriman wajib meneliti dirinya dan membersihkan diri dari sifat sombong bagi mereka yang memiliki kelebihan sesuatu, ilmu, kekayaan, kecantikan,  jabatan, khususnya dalam risalah ini  siapa yang berdo’a yang dikabulkan Allah kontan seketika persis apa yang diminta maka kita wajib merenung diri jangan sampai tumbuh sifat takabur dan dosa lain dalam dirinya.

Memang  Allah Maha Bijaksana  dalam mengabulkan do’a para hamba tergambar dalam hadis Turmudzi berikut:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْ رَجُلٍ يَدْعُو اللَّهَ بِدُعَاءٍ إِلَّا اسْتُجِيبَ لَهُ فَإِمَّا أَنْ يُعَجَّلَ لَهُ فِي الدُّنْيَا وَإِمَّا أَنْ يُدَّخَرَ لَهُ فِي الْآخِرَةِ وَإِمَّا أَنْ يُكَفَّرَ عَنْهُ مِنْ ذُنُوبِهِ بِقَدْرِ مَا دَعَا مَا لَمْ يَدْعُ بِإِثْمٍ أَوْ قَطِيعَةِ رَحِمٍ أَوْ يَسْتَعْجِلْ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَكَيْفَ يَسْتَعْجِلُ قَالَ يَقُولُ دَعَوْتُ رَبِّي فَمَا اسْتَجَابَ لِي قَالَ أَبمو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ (رواه الترمذي 3531) *

“Dari Abu Hurairah  bahwa Rasulullah Saw bersabda: ” do’a seseorang yang memohon kepada Allah dengan suatu do’a tidak lain kecuali dikabulkan mungkin disegerakan baginya di dunia, mungkin disimpan untuk dia di hari kemudian,  mungkin diampuni dosanya seimbang dengan do’anya selama dia tidak berdo’a dengan dosa atau memutus tali kasih maupun meminta disegerakan” Beberapa sahabat bertanya: “Bagaimana mungkin meminta dipercepat,  Ya  Rasulullah? Beliau bersabda: “Yaitu jika anda berkata: “Aku sudah berdo’a kepada Tuhan tetapi tidak dikabulkan do’aku”(HR Turmudzi no. 3531).

Hadis Turmudzi no.3531 kiranya dapat kita kembangkan pemahamannya bahwa sebenarnya jika do’a kita telah memenuhi syarat maka Insya Allah dikabulkan Allah dengan tiga jalan, yaitu:

  1. i. Mungkin Allah mengabulkan do’a itu kontan, persis seperti apa yang kita mohon.
  2. ii. Mungkin Allah mengabulkan do’a untuk waktu yang paling tepat.

iii. Mungkin Allah mengabulkannya dalam bentuk lain yang tepat.

Semua harus kita kembalikan kepada Allah bahwa Allah itu sangat bijaksana sekali dalam menentukan wujud kabulnya do’a kita. Di saat-saat inilah kita renungkan seberapa berat bobot  iman kita, lebih yakin kita kepada kebijakan Allah maka hati menjadi tenang  lebih tenteram tumakninah mungkin  kita akan diberi anugerah Allah sifat bijak dan sabar. Apakah do’a kita terkabul, atau diganti dalam bentuk apa bahkan kapan Allah akan meluluskan permohonan kita itu, Allah itu sangat bijaksana sekali.

Dengan keyakinan ini maka kita merasa wajib  berdo’a terus menerus tidak pernah berhenti, karena mengingat kepada do.a Nabi Ibrahim  ada yang dikabulkan Allah  melalui  tenggang waktu yang terlalu lama tidak nurang dari 4000 tahun. Ibrahim berdo’a:s2a29

رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ ءَايَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ( البقرة 129 )

“Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Qur’an) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”(S.2 Al-Baqarah 129).

Do’a Nabi Ibrahim ini terkabul  maka Allah mengutus junjungan kita Nabi Besar Muhammad Saw sebagai nabi penutup  rasul   terakhir.

BAB  TIGA

Jalan yang benar

Masalah ke-3: Apakah makna lafal  “Yarsyudun” dalam ayat itu? Jawaban sementara: Yarsyudun artinya memilih jalan yang  benar yaitu bahwa   mengikuti sepenuhnya firman Allah  Al-Quran itu sama dengan menekuni kebenaran mutlak menurut ilmu Allah. Lebih rincinya adalah sebagai berikut.

Dalam berbagai judul tulisan sudah penulis kemukakan bahwa ilmu manusia yang diperoleh dari panca indra, teori dan filsafat itu tidak lepas dari sifat manusia bagaimanapun cerdasnya maka ilmunya itu adalah spekulatif dan hipotetis

Spekulatif artinya untung-untungan jika benar yang lumayan kalau salah ya celaka sperti terjadinya peristiwa kekeliruan yang paling kecil  memasukkan benang ke lubang jarum sampai  kesalahan tehnis yang paling besar di dunia misalnya: Pesawat ulang-alik Challenger hancur 73 detik setelah takeoff 28 Januari 1986 kerugian $5.5 M; Pesawat Ulang-alik Columbia meledak  Februari 2003 kerugian $13 Miliar.    Kecelakaan termahal dalam sejarah meledaknya reactor atom Chernobyl $200 Miliar terjadi ]26 April 1986.

Hipotetis ialah sesuatu itu dianggap benar relative sementara maka jika belakangan diketemukan data dan fakta baru yang mengoreksi kekeliruan pendapat lama maka yang benar ialah yang baru datang belakangan. Misalnya  ujian-ujian yang dilakukan oleh semua perguruan tinggi mulai dari Skripsi S-1, Tesis S-2 dan Disertasi S-3 maupun semua hasil penelitian ilmiah di dunia sifatnya adalah sementara.  Masih dapat kita ingat bahwa ada teori yang dianggap benar  ribuan tahun ternyata salah.Misalnya beberapa waktu sebelum kalender tahun Masehi, dikatakan bahwa bumi itu datar maka pada awal  kalender Masehi dianggap salah, bahwa bumi itu pusat tata surya dianggap benar ribuan tahun pada tahun 1580 dianggap salah yang benar ialah matahari itu pusat tata surya semua benda langit mengelilingi matahari.

Analisa para ulama

Di bawah ini tercatat analisa para ulama tafsir mengenai makna dari lafal “yarsyudun” yaitu sebagai berikut:

@Tafsir Al-Bahrul Muhith (1h467) mencatat bahwa lafal Yarsyudun maknanya ialah mereka mendapat  hidayah ke jalan yang lurus  dikaitkan dengan Al-Quran surat Al-Fatihah ayat 6 Shirathal mustaqim. Para ulama menafsirkan Shirathal mustaqim yang ditunjuk oleh Abu Hayyan dari Andalusia ini ditafsirkannya sebagai “Jalan ke surga”yaitu jalannya para nabi, syuhada` dan orang soleh sebagaimana disebut-sebut Allah dalam Al-Quran S4 An-Nisa` 69.

Abu Hayyan juga menunjuk ayat lain yaitu s43a43,s67a22 untuk memperjelas makna Yarsyudun tersebut. Istilah Yarsyudun memang mempunyai kedekatan makna dengan Shirathal Mustaqim, jalan yang lurus.

Penafsiran atas lafal  Yarsyudun seperti tafsir Al-Bahrul Muhith tersebut merupakan makna yang didukung oleh tafsir-tafsir Ruhul Bayan, Al-Khazin,  Al-Bahrul Madid, At-Tahrir wat Tanwir, Al-Qurthubi.

Dari sisi lain Ar-Raghib dan Ar-Razi mempunyai catatan sendiri, yaitu:

@Ar-Raghib (1h196) mengartikan Art-Rusydu= menunjuk Al-Quran s2a256, s4a6, s21a61, s18a22.

لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لَا انْفِصَامَ لَهَا وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ( البقرة 256 )

“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”(S’2 Al-Baaqarah 256)

وَابْتَلُوا الْيَتَامَى حَتَّى إِذَا بَلَغُوا النِّكَاحَ فَإِنْ ءَانَسْتُمْ مِنْهُمْ رُشْدًا فَادْفَعُوا إِلَيْهِمْ أَمْوَالَهُمْ(النساء 6)

“Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin. Kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya”(S.4 An-Nisa` 6).

وَلَقَدْ ءَاتَيْنَا إِبْرَاهِيمَ رُشْدَهُ مِنْ قَبْلُ وَكُنَّا بِهِ عَالِمِينَ (الانتياء 51)

“Dan sesungguhnya telah Kami anugerahkan kepada Ibrahim hidayah kebenaran sebelum (Musa dan Harun), dan adalah Kami mengetahui (keadaan) nya”(S.21 Al-Anbiya` 51).

قَالَ لَهُ مُوسَى هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَى أَنْ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا ( الكهف 66)

“Musa berkata kepada Khidhr: “Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?”(S.18 Al-Kahfi 66)

Tafsir As-Samarqandi (1h159)  mengartikan Yarsyudun =lawan dari Dhalalah(sesat)

@Tafsir Ar-Razi (1h781) memberikan makna lafal “Yarsyudun” petunjuk ke luhuran Islam lahir batin dunia akhirat dengan menunujuk  ayat pendukung s4a6;

وَابْتَلُوا الْيَتَامَى حَتَّى إِذَا بَلَغُوا النِّكَاحَ فَإِنْ ءَانَسْتُمْ مِنْهُمْ رُشْدًا فَادْفَعُوا إِلَيْهِمْ أَمْوَالَهُمْ (النساء6)

“Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin. Kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya. mereka. (S.4 An-Nisa` 6).

وَلَكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ أُولَئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ( الحجرات7).

:Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalangan kamu ada Rasulullah. Kalau ia menuruti (kemauan) kamu dalam beberapa urusan benar-benarlah kamu akan mendapat kesusahan tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus”(S.49  Al-Hujurat 7).

Dari  analisa para ulama dan pakar yang lain maka tafsir dari Al-Quran S.2 Al-Baqarah 185-186 pokoknya  ialah bahwa berdo’a kepada Allah yang paling selamat ialah  BERDO’A DAN  BERUSAHA  artinya berdo’a sekaligus kerja keras sesuai dengan Hukum Alam (Sunnatullah)  yang termaktub dalam firman Allah mencakup  bidang Akidah, Syari’ah, Akhlaq bahkan hukum-hukum  rumusan dari semua cabang disiplin ilmu sekitar 30 macam cabang disiplin yang tersimpan dalam Al-Quran tersebut di atas.

Wallahu a’lamu bish-shawab

Silahkan buka internet situs : https://pondokquranhadis.wordpress.com

Kirimkan naskah ke Email:  pondokilmu7@gmail.com-Tlp:0318963843

 

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: