Oleh: pondokquranhadis | April 28, 2011

TAAJUB DAN TERPUKUL

011(3)26                                                                                               Tafsir Tematis Kontemporer

 

Ta’ajub danTerpukul

(Oleh:Imam Muchlas)

 

Al-Quran S.12 Yusuf 88-90

فَلَمَّا دَخَلُوا عَلَيْهِ قَالُوا يَاأَيُّهَا الْعَزِيزُ مَسَّنَا وَأَهْلَنَا الضُّرُّ وَجِئْنَا بِبِضَاعَةٍ مُزْجَاةٍ فَأَوْفِ لَنَا الْكَيْلَ وَتَصَدَّقْ عَلَيْنَا إِنَّ اللَّهَ يَجْزِي الْمُتَصَدِّقِينَ(88)قَالَ هَلْ عَلِمْتُمْ مَا فَعَلْتُمْ بِيُوسُفَ وَأَخِيهِ إِذْ أَنْتُمْ جَاهِلُونَ(89)قَالُوا أَئِنَّكَ لَأَنْتَ يُوسُفُ قَالَ أَنَا يُوسُفُ وَهَذَا أَخِي قَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَيْنَا إِنَّهُ مَنْ يَتَّقِ وَيَصْبِرْ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ(90((يوسف 88-90)

“Maka ketika mereka masuk ke (tempat) Yusuf, mereka berkata: “Hai Al Aziz, kami dan keluarga kami telah ditimpa kesengsaraan dan kami datang membawa barang-barang yang tak berharga, maka sempurnakanlah sukatan untuk kami, dan bersedekahlah kepada kami, sesungguhnya Allah memberi balasan kepada orang-orang yang bersedekah.” Yusuf berkata: “Apakah kamu mengetahui (kejelekan) apa yang telah kamu lakukan terhadap Yusuf dan saudaranya ketika kamu tidak mengetahui (akibat) perbuatanmu itu?”. Mereka berkata: “Apakah kamu ini benar-benar Yusuf?” Yusuf menjawab: “Akulah Yusuf dan ini saudaraku. Sesungguhnya Allah telah melimpahkan karunia-Nya kepada kami”. Sesungguhnya barangsiapa yang bertakwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik”(S.12 Yusuf 88-90).

I.   Tema dan sari tilawah

         Pada jaman dahulu Negeri Mesir  dilanda bahaya kelaparan, rakyatnya kesulitan memperoleh Sembilan bahan pokok khususnya pangan. Maka Yusuf sebagai penguasa negeri Mesir mengatur pembagian “Sembako” itu untuk rakyat, sehingga tiba gilirannya kakak-kakak Yusuf menghadap kepada Yusuf yang mengatur pembagian pangan.

 ~     Kakak-kakak Yusuf mengaduh: “Adu hai Al Aziz  yang mulia, kami dan keluarga kami telah ditimpa kesengsaraan dan kami datang membawa barang-barang yang tak berharga, maka mohon berikan bahan pangan untuk kami, dan bersedekahlah kepada kami, sesungguhnya Allah itu memberi balasan kepada orang-orang yang bersedekah.”

~ Yusuf berkata: “Apakah kalian mengetahui (kejelekan) apa yang telah kalian lakukan terhadap Yusuf dan saudaranya(Binyamin) ketika kalian  tidak mengetahui (akibat) perbuatan kalian itu?”.

~  Mereka berkata: “Apakah tuan  ini benar-benar Yusuf?”

~ Yusuf menjawab: “Akulah Yusuf dan ini saudaraku. Sesungguhnya Allah telah melimpahkan karunia-Nya kepada kami”.

II. Hikmah rahasia ayat Qs12a88-90

            Kisah Al-Quran S12 Yusuf  88-90 di atas mengandung pelajaran yang sangat mulia bagi kita semua, maka untuk itu kita renungkan  dan berusaha memetik hikmah rahasianya  melalui kacamata  berikut:

~ Pertama: Bagaimana perjalanan hidup Yusuf dari  kecil sehingga dapat berhasil menjadi pejabat puncak negeri Mesir itu? Jawaban sementara intinya ialah bahwa  Yusuf dan Binyamin adiknya telah mendapat perlakuan zalim dari kakak-kakaknya sesama putera Nabi Ya’qub. Dan setelah menjalani nasib sebagai budak belian  sampai hidup dalam penjaea    maka disebabkan keahliannya mengungkap ta’bir mimpi sang Raja, maka Yusuf dipercaya menjadi pejabat   puncak mengatur negeri menanggulangi bahaya kelaparan.

~ Kedua: Apa sebab kakak-kakak Yusuf melakukan penganiayaan kepada Yusuf? Jawaban sementara: Kakak-kakak itu berbuat zalim dan menyiksa Yusuf sebab iri dan dengki kepadanya  karena Yusuf sangat dicintai oleh  ayah mereka.

~ Ketiga: Bagaimana ikhtiar kita membuat hati tidak  dengki dendam dan tidak berbuat zalim? Jawaban sementara : Ikhitiar menjauhi  watak dengki dan perbuatan zalim itu ialah  dengan menanam dan menumbuhkan kesadaran bahwa dengki dan zalim itu perbuatan Jahiliyah harus dijauhi dan segera berbuat yang terpuji menyenangkan semua orang dengan niat yang suci tanpa pamrih Lillahi Ta’ala penuh taqwa dan amal soleh.

Pendalaman dan penelitian

 

 

BAB  SATU

Taajub, terpukul dan malu

~  Masalah ke-1: Bagaimana kisah Nabi Yusuf  dari kecil sampai menjadi penguasa negeri Mesir itu: Jawaban sementara: Yusuf waktu masih kecil bermimpi  ada 11 bintang, matahari dan bulan bersujud kepada dirinya, sehingga kasih sayang ayahnya tertumpah kepadanya. Maka kakak-kakaknya menyiksa Yusuf dimasukkahnya ke dalam sumur lalu dijual menjadi budak, tetapi akhirnya Yusuf menjadi orang nomer satu di negeri Mesir.

          Di bawah ini kita renungkan bahwa kita harus menjauhi watak  dengki, lalu berbuat zalim kepada siapa saja, sebab suatu waktu di hari lain sangat mungkin sekali  orang yang kita jadikan sasaran dengki kita orang yang kita perlakukan dengan zalim memperoleh rahmat dari Allah mendapat anugerah kelebihan di atas kita mungkin dalam bidang hukum, ekonomi, sodial, politik bahkan mungkin menjadi atasan kita. Sehingga keadaan menjadi terbalik dulunya dihina disiksa, dizalimi ternyata terakhir terbalik kita berada di bawah atau kalah, dia menjadi menang menjadi atasan.  Lebih  mendalam lagi adalah sebagai berikut.

          Pada jaman dahulu kala pada  suatu hari  waktu Yusuf  masih  kecil bermimpi melihat 11 bintang, matahari dan bulan bersujud kepada dirinya. Begitu mendengar kata-kata Yusuf ini maka bapaknya yakin bahwa Yusuf kelak akan menjadi orang terhormat sangat mulia. Oleh karena itu Nabi Ya’qub sebagai bapak  meminta Yusuf merahasiakannya jangan  sampai terdengar oleh saudara-saudaranya.  Jika mendengar maka mereka akan sangat mudah dibujuk setan untuk berbuat zalim kepada Yusuf (s12a4-7).Dan Nabi Ya’qub sangat cinta penuh kasih kepada Yusuf melebihi cinta bapak saudara-saudarnya. Sehingga  rasa cinta dan kasih sayang sang  bapak kepada anak yang diyakini akan menjadi orang besar kelak ini tidak dapat ditutup-tutupi. Kemudian timbullah rasa iri dan dengki mereka kepada Yusuf. Bahkan mereka merencanakan pembunuhan, namun kemudian diubah menjadi Yusuf dibuang dijauhkan dari  sang bapak mereka(s12a8-16).

              Mereka berupaya membawa Yusuf untuk dibuang kemudian sepakat mereka jatuhkan Yusuf  ke dalam sumur. Lalu mereka membuat rekayasa bahwa Yusuf telah  dimakan serigala sambil menangis mereka melaporkan laporan palsu kepada ayah mereka tunjukkan baju Yusuf yang telah  dicorengi dengan  darah binatang. Kebetulan Yusuf diketemukan oleh kafilah yang lewat, lalu dijual sebagai budak lalu oleh kafilah ini Yusuf dijual lagi di bawah harga dibeli oleh Qithmir seorang pejabat pemerintah Mesir. Yusuf mendapat rawatan yang sangat baik oleh Qithmir bahkan naik menjadi anak angkat (S12a16-18,19-22).

            Dalam pertumbuhannya Allah telah menganugerahkan kedudukan yang baik kepada Yusuf dan ilmu ta’bir mimpi serta ilmu hikmah. Di samping anugerah ilmu tersebut Allah telah menganugerahkan wajah dan tubuh yang sangat memikat hati. Maka  Zulaikha isteri Qithmir terhanyut oleh daya  tarik diri Yusuf, Zulaikha  membujuk Yusuf untuk berbuat serong dengan dia setelah  menutup pintu-pintu kamarnya. Sebagai anak muda nafsu birahi memang wajar sebenasrnya Yusuf juga sangat tertarik melakukan perbuatan ini tetapi segera mendapat peringatan Allah maka Yusuf dengan tegas menolak ajakan ini. Tiba-tiba tuan Qithmir datang saat membuka pintu dia  melihat adegan ini, tetapi dengan cepat Zulaikha berteriak”

“Apakah balasan terhadap orang yang bermaksud berbuat serong dengan istrimu, selain dipenjarakan atau (dihukum) dengan azab yang pedih?”

Teriakan Zulaikha ini disahut oleh Yusuf menjawab dia:

“Dia menggodaku untuk menundukkan diriku (kepadanya)”, dan seorang saksi dari keluarga wanita itu memberikan kesaksiannya: Jika baju gamisnya koyak di muka, maka wanita itu benar dan Yusuf termasuk orang-orang yang dusta.

 Dan jika baju gamisnya koyak di belakang, maka wanita itulah yang dusta, dan Yusuf termasuk orang-orang yang benar”

          Setelah Qithmir melihat baju Yusuf robek sebelah belakang maka Qithmir menunjuk Zulaikah telah berdusta. Berita heboh cinta Zulaikha kepada Yusuf segera tersebar kepada para kaum wanita, maka Zulaikha membela diri dan mengundang wanita-wanita itu lalu disuguhinya buah tangan dengan pisaunya mereka kagum luar biasa  seolah-olah mereka tersihir (terkena hipnotis) kelebihan eloknya diri Yusuf persis malaikat sampai mereka mengiris-iris tangan mereka bersama jamuan yang dipegangnya sampai tidak terasa.

     Kemudian Yusuf diancam oleh Zulaikha tetapi Yusuf memilih masuk penjara dari pada memenuhi nafsu Zulaikha itu. Kemudian dia masuk bersamaan itu masuk pula 2 anak muda (s12a33-42).  Di dalam  penjara dua anak muda itu meminta Yusuf mengungkapkan ta’bir impiannya, lalu Yusuf menerangkan takbir mimpi mereka ditambah dengan pelajaran agama. Kepada salah seorang  dari mereka Yusuf berpesan untuk melaporkan dirinya kepada raja, tetapi dia lupa, sehingga Yusuf tinggal di penjara cukup lama(s12a23-32).

          Pada suatu hari raja bermimpi lalu meminta ahli nujumnya mengungkap ta’bir   mimpinya itu  tetapi mereka  tidak mampu lalu meramlkan ta’bir mimpi raja dan meminta Yusuf untuk mengungkapkannya.  Dengan kelebihan ilmu ta’bir mimpi ini  dan setelah raja meneliti dengan jelas perkara Yusuf maka  hukumannya dicabut bahkan    Yusuf diangkat menjadi pejabat tinggi Negara yang dipercaya  mengatur kesejahteraan rakyat yang sedang dilanda bahaya kelaparan itu. Memang Allah memberikan anugerah yang sangat besar kepada Yusuf (s12a43-53,58,-69),

             Pada gilirannya kakak-kakak Yusuf datang ke ibu kota Mesir  mencari kebutuhan bahan pokok (pangan). Yusuf yang mengenal mereka meminta supaya Binyamin adiknya diajak bersama kemudian setelah Binyamin didatangkan ke sana dan melalui taktik Yusuf maka Binyamin ditahan tidak bisa kembali pulang (Binyamin masuk tahanan (s12a70-85).

.   Peristiwa tidak pulangnya Binyamin dan hilangnya Yusuf jaman dahulu maka Nabi Ya’qub menderita sedih luar biasa sehingga disebabkan karena kesedihan ini Nabi Ya’qub menjadi buta mata beliau (s12a86-88). Namun dalam hatinya yakin bahwa Yusuf dan Binyamin masih hidup. Sehingga beliau memerintahkan puteranya untuk mencari kedua Yusuf dan Binyamin itu  sampai ketemu tidak boleh berputus asa.

Taajub dan terpukul malu.

          Waktu putera-putera Nabi Ya’qub datang menghadap Yusuf terjadilah peristiwa yang tragis, yaitu pertemuan antara Yusuf dengan kakak-kakaknya yang dahulu menyiksa dan menzalimi Yusuf ternyata Yusuf berhasil menjadi Raja negeri Mesir.

~ Tafsir Bahrul ‘Ulum (2h207) mencatat bahwa ketika Yusuf menerima tamu yaitu kakak-kakaknya sendiri yang dia mengenal mereka tetapi mereka tidak mengenal Yusuf. Dalam menyambut mereka Yusuf  lalu mengeluarkan akte jual beli budak  yang ditulis                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                             Yahudza teringat akte yang dia tulis dengan tangannya  jaman dahulu itu, lalu terjadilah dialog antar kedua pihak                                                                                                                                                                                                                                                                             mereka  berkata:

“Kamilah yang menjual anak dalam akte ini yaitu waktu kami menggembala kambing di padang belantara” Lalu Yusuf berkata:”Anda telah berbuat zalim dan menjual anak orang merdeka dijual sebagai budak. Kemudian Yusuf memanggil algojo  dan memerintahkan untuk membunuh kakak-kakaknya itu semuanya. Maka mereka lalu  berteriak memohon kasihan: “Jika tuan tidak kasihan kepada kami, maka kasihanilah seorang tua bangka (ayahnya) beliau telah hampir berputus asa harap-harap cemas  membayangkan dapat bertemu  dengan anak satu-satunya? Oleh karena itu Yusuf lalu bertanya:

هَلْ عَلِمْتُمْ مَا فَعَلْتُمْ بِيُوسُفَ وَأَخِيهِ إِذْ أَنْتُمْ جَاهِلُونَ(89)قَالُوا أَئِنَّكَ لَأَنْتَ يُوسُفُ قَالَ أَنَا يُوسُفُ وَهَذَا أَخِي قَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَيْنَا إِنَّهُ مَنْ يَتَّقِ وَيَصْبِرْ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ(90) (يوسف 90 – 89)

“Yusuf berkata: “Apakah kamu mengetahui (kejelekan) apa yang telah kamu lakukan terhadap Yusuf dan saudaranya ketika kamu tidak mengetahui (akibat) perbuatanmu itu?”.

Mereka berkata: “Apakah kamu ini benar-benar Yusuf?”

 Yusuf menjawab: “Akulah Yusuf dan ini saudaraku. Sesungguhnya Allah telah melimpahkan karunia-Nya kepada kami”. Sesungguhnya barangsiapa yang bertakwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik”(S.12 Yusuf 89-90)

Mereka berkata: “Sungguh Allah telah memberikan anugerah kepada tuan sungguh kami ini salah besar dan maksiat kepada Allah atas perbuatan kami”

@Tafsir Ath-Thabari (16h245)  mencatat bahwa kakak-kakak Yusuf mengakui kesalahannya kepada Yusuf bahwa  jaman kanak-kanak dahulu telah berbuat zalim menyingkirkan Yusuf  dari bapak dan saudara-saudaranya.

@ Kitab Allubab (11h197) mencatat pandangan Zamakhsyari bahwa dengan memanggil Yusuf dengan istilah  Al-‘Aziz  maka berarti Yusuf adalah Sang Raja Mesir waktu itu sehingga kakak-kakak Yusuf sangat ta’ajub  mempertanyakannya dengan menyebut nama diri Yusuf bahkan Yusuf mengulanginya nama dirinya sendiri Yusuf. Hal ini mengingatkan mereka atas perbuatan dengki dan zalim mereka jaman dia masih kecil dahulu itu. Seakan-akan Yusuf dalam nuansa kebesaran kerajaan berkata:

(أَنَا الَّذِيْ ظَلَمْتُمُوْنِيْ عَلَى أَعْظَمِ الْوُجُوْهِ ، وَاللهُ أَوْصَلَنِيْ إِلَى أَعْظَمِ الْمَنَاصِبِ ، أَنَا ذَلِكَ الْعَاجِزَُ الَّذِيْ قَصَدْتُمْ قَتْلَهُ ، وَإِلْقَاِءِهِ فِيْ الْجُبِِّّ ، ثُمَََّ صِرْتُ كًمَا تَرَوْنَ – اللباب ج11ص197)

“Aku inilah Yusuf yang  kamu zalimi (dalam nuansa kebesaran sebagai raja),  Allah telah mengangkat aku ke tahta  kerajaan, ya aku ini dahulu anak yang lemah yang ingin kamu bunuh, kamu jatuhkan aku  ke dalam sumur sekarang aku menjadi  Raja Mesir yang  sedang kamu saksikan ini”(Allubab 11h197).

        Tafsir Az-Zuhaili (4h1130) mencatat setelah melalui proses tiga kalinya kakak-kakaknya bertemu dengan Yusuf:

i.    Pertama mengantri untuk memperoleh gandum.

ii.  Kembali membawa Binyamin ikut antri.

iii.Terakhir disuruh oleh ayahnya untuk mencari Yusuf dan  Binyamin sampai ketemu.

Maka akhirnya  Yusuf mulai menaruh belas kasihan sehingga bersedia memberi maaf  dan melonggarkan hatinya serta  siap menyambut kedatangan Nabi Ya’qub.

           Yusuf telah menerima anugerah Allah ilmu, bersifat luwes, berada di puncak kekuasaan, mempunyai  pandangan yang luas dan mendapat rahmat berupa risalah kenabian. Sebaliknya kakak-kakaknya telah mengakui semua kesalahan mereka maka Yusuf membuka diri, menyatakan tidak mengolok-olok tidak menjelek-jelekkan kesalahan mereka bahkan berdo’a memohonkan maghfirah Allah untuk mereka.

            Tafsir Bahrul ‘Ulum  (2h209) mencatat bahwa setelah saling bermaaf-maafan lalu Yusuf meminta agar supaya ayahnya yang sudah buta itu dikerukup dengan baju Yusuf untuk meringankan penderitaan beliau. Baju yang akan dikirim kepada ayahnya itu konon berasal dari surga dapat dibayangkan bahwa baju itu ialah baju yang dipakaikan oleh Jibril kepada Ibrahim sehingga  saat dibakar oleh raja Namrud maka  Ibrahim tidak merasa panas tetapi dingin myaman. Baju itu lalu disimpan oleh Ishaq dan sampai kepada Nabi Ya’qub yang oleh N.Ya’qub dipakaikan kepada Yusuf sehingga selamat dari  bahaya kematian di dalam sumur dulu itu. Maka baju inilah yang dikirim Yusuf dengan maksud untuk mengobati  kesedihan dan kebutaan mata Nabi Ya’qub.

           Yusuf memberikan bajunya itu kepada Yahudza yang dahulu telah mencorengi baju itu dengan darah hewan, dialah yang dahulu berbuat bohong kepada Nabi Ya’qub dan sekarang Yahudza lagi yang  membawa baju  tersebut sebagai obat kesedihan beliau ayahnya.

Ath-Thabari (16h259) dan Ar-Razi (9h111) mencatat bahwa Yahudza dialah yang  membawa baju Yusuf  yang dicorengi dengan darah palsu dan berbuat bohong kepada ayahnya di jaman dahulu mereka masih kecil, maka sekarang juga dialah yang membawa baju Yusuf yang membawa kegembiraan  dan membuktikan bahwa Yusuf masih hidup.

~Kitab Tafsir Ad-Durrul Mantsur (5h450)  dalam hal ini mencatat bahwa Nabi Ya’qub dapat mencium bau baju Yusuf dari jarak perjalanan 10 hari lamanya.

           Ibnu ‘Abbas menceriterakan bahwa ketika kafilah itu berangkat dari Mesir maka bertiuplah angin membawa bau baju Yusuf dari Mesir ke Kan’an tempat Nabi Ya’qub yang  jauhnya  sama dengan 10 hari perjalanan, sehingga  Nabi Ya’qub berkata telah menciun bau Yusuf dan tersirat keyakinannya bahwa Yusuf masih hidup, puncak kegembiraan itu  ialah ketika baju Yusuf ditelungkupkan ke wajah Nabi Ya’qub tiba-tiba kesedihan itu lenyap dan mendadak kebutaan mata beliau berubah menjadi awas kembali seperti dahulu berkat karena anugerah Allah.

          Tafsir Ath-Thabari (16h249) dalam membahas Al-Quran s12a94-96 mencatat bahwa jarak antara Kan’an tempat tinggal Nabi Ya’qub dengan ibu kota Mesir itu kira-kira 80 farsah. Di halaman  selanjutnya Ath-Thabari mencatat  bahwa Nabi Ya’qub terpisah dengan Yusuf itu lamanya ada  77 tahun.

Pada halaman 260 dalam juz 16 Ath-Thabari mencatat bahwa Nabi Ya’qub yakin, sungguh  impian Yusuf  di dalam usia kanak-kanak jaman dahulu itu memang benar  sekarang Yusuf terbukti menjadi Raja Mesir dan semua rakyat  sujud hormat kepada Yusuf termasuk keluarga Nabi Ya’qub. Sedangkan saudara-saudaranya tidak mempunyai perasaan  seperti itu.

            Ar-Razi dalam tafsirnya (9h111) mencatat detik-detik ketika baju Yusuf itu ditelungkupkan maka ayahnya sangat gembira sekali:

عَظُمَ فَرْحُهُ وَانْشَرَحَ صَدْرُهُ وَزَالَتْ أَحْزَانُهُ ، فَعِنْدَ ذَلِكَ قَوَّي بَصَرُهُ وَزالَ النُّقْصَانُ عَنْهُ(الرازي ج 9ص111)

Artinya: “Gembiranya begitu besar dadanya menjadi longgar dan lenyaplah kesedihan Nabi Ya’qub maka penglihatannya menjadi tajam tidak kurang suatu apa”( Ar-Razi  j9h111)

~Tafsir Ar-Razi (9h112) juga menggambarkan persiapan Nabi Yusuf menyambut kehadiran sang ayah, disambutnya dengan upacara kebesaran kerajaan, yaitu disiapkan 200 kendaraan lengkap dengan 4000 personil militer bersama dengan para pejabat tinggi kerajaan ditambah lagi sekitar  600.000 orang rakyat Mesir belum termasuk anak-anak dan orang-orang yang usia lanjut rakyat Mesir itu  berbondong-bondong mengelu-elukan Nabi Ya’qub dengan   72 orang anggota keluarganya. Rakyat yang mengelu-elukan Nabi Ya`qub ayah sang Raja itu teringat kepada Raja Fair’aun Raja terbesar Mesir. Tetapi protokol istana menyatakan bahwa  yang mereka rayakan itu upacara Yusuf menyambut  kedatangan Nabi Ya’qub.

Tafsir Ad-Durrul Mantsur (5h450) mencatat  bahwa begitu bertemu dengan ayahnya maka Yusuf segera merangkul sang ayah  dengan sangat mesra sekali.

     Kemudian Yusuf dan semua putera-putera Nabi Ya’qub bersujud kepada beliau  memohon ampun dan memohon agar ayah berdo’a memohonkan maghfirah dari Allah atas dosa-dosa mereka.

         

BAB  DUA

Dengki  dan  berbuat  zalim itu watak Jahiliyah

~ Masalah ke-2: Apa sebab kakak-kakak Yusuf melakukan penganiayaan dan zalim kepada Yusuf? Jawaban sementara: Kakak-kakak itu menyiksa Yusuf adiknya sebab iri dan dengki kepadanya  karena Yusuf sangat dicintai oleh  ayah mereka.

        Dengki dan zalim merupakan gejala-gejala watak dan perbuatan  Jahiliyah  alias perbuatan orang yang jiwanya dikuasai oleh rasa sentimen dan nafsu-nafsu negatif berbuat dengan tidak menggunakan akal pikiran yang sehat.

Kamus  Al-Munjid (1927:103)  mengartikan lafal Jahiliyyah berasal dari lafal Arab: Al-Jahlu artinya tidak mengerti; Ar-Raghib menjelaskan arti lafal Al-Jahlu itu ada 3 macam arti, yaitu: 1) Tidak mengerti; 2)Percaya kepada sesuatu yang tidak wajar; 3) Mengerjakan sesuatu  yang tidak benar. Ibnul Manzhur dalam kamusnya Lisanul ‘Arab (tth: xiii \ 137)  mencatat bahwa makna  lafal Al-Jahiliyyatu ialah keadaan orang-orang yang tidak mengenal Allah, Rasul dan Syari’at Tuhan.  Umar Farrukh (1984:53) menerangkan makna lafal Al-Jahiliyyatu bahwa lafal ini berasal dari kata-kata Al-Jahlu lafal ini adalah  lawan kata-kata Al-Hilmu. Sedangkan Al-Hilmu  ini artinya ialah sikap yang bijak, tidak terhanyut oleh luapan emosi dan sentimen. Dengan demikian makna lafal Jahiliyah  itu ialah suatu  sikap  watak yang tidak bijaksana dan tidak sabar bahkan terhanyut oleh luapan emosi yang tidak logis.

Kata Jahiliyah dalam kaitannya dengan masyarakat Arab,  yaitu masyarakat Arab  Jahiliyah  ialah masyarakat bangsa yang hidup di jaman yang dikuasai oleh suasana perselisihan, pertengkaran, permusuhan, peperangan, dengki-dendam, peri laku yang kejam, perbuatan yang zalim, yang serba kriminalistis, tidak menggunakan akal,  mendahulukan kepentingan pribadi dan golongan.

Ahmad Amin dalam bukunya Fajrul Islam (1975;69) memberikan pengertian Jahiliyah itu dari lafal Al-Jahlu artinya ialah sifat orang yang kurang akal, sombong dan fanatik, sehingga dia berbuat seperti  orang yang bodoh.

 Dalam  bait syair yang ke-53,  ‘Amru ibnu Kultsum seorang  penyair Atab jaman sebelum Islam yang dinukil oleh Az-Zauzani dalam kitabnya Syarhul Muallaqatis Sab’i (1958:127) kata-kata Jahiliyah itu  artinya ialah bodoh yang berbuat dengan perbuatan yang lebih bodoh lagi dengan emosi yang tidak masuk akal.

          Pengertian yang paling luas atas istilah Jahiliyah itu diberikan oleh Sayyid Muhammad Quthub dalam bukunya Jahiliyyatul Qarnil Isyrin (1978:20) bahwa yang dimaksud dengan istilah Jahiliyah itu ialah sifat yang tidak mengenal Allah dan menjauhi petunjuk Allah tidak dibatasi oleh waktu atau tempat, bahkan makna Jahiliyah itu mencakup segala perbuatan yang tidak mengenal Allah dan agama Allah  di mana saja kapanpun juga misalnya seperti sekarang ini.

              Berbuat  zalim dan kejam itu cenderung  menjadi adat kebiasaan orang Jahiliyah, adat demikian merupakan dampak dan sangat dipengaruhi oleh pandangan bahwa yang benar ialah pihak yang kuat. ‘Umar Farrukh dalam Tarikhul Jahiliyyati (1984:154) mencatat bahwa disebabkan karena pandangan bahwa yang benar ialah yang kuat, maka pihak yang kuat dengan semena-mena berbuat zalim dan menindas kaum yang lemah. Kemudian  perbuatan  zalim dan kejam itu dilakukan  oleh banyak pihak yang dengan berulang-ulang sehingga dapat dinilai sebagai adat kebiasaan mereka.

               Oleh karena itulah maka hadis-hadis riwayat latar belakang turunnya Al-Qura>n tentang proses jalannya perang dan watak pandangan Jahiliyah tersebut mendapat peringatan Allah. Peringatan Allah terhadap  adat  kebiasaan berbuat   zalim dan kejam ini melalui turunnya Al-Qura>n dalam catatan riwayat hadis-hadis Sababun Nuzu>l  berikut:

a.Periode Makkah

 1) Ibnu Abbas  memberitakan bahwa ketika Rasulullah Saw. membaca Al-Quran S.32 As-Sajdah, orang-orang Quraisy merasa terganggu, maka mereka berusaha untuk mencegah beliau dan menyikasanya. Tetapi tiba-tiba tangan mereka menjadi lemas tidak mampu bergerak dan mata mereka berubah menjadi kabur, sehingga mereka berbalik meminta tolong kepada Nabi Saw.Maka turunlah Al-Qura>n S.36 Ya>si>n 8-10

“Sesungguhnya Kami telah memasang belenggu di leher mereka, lalu tangan mereka (diangkat) ke dagu, maka karena itu mereka tertengadah. Dan Kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding (pula), dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat. Sama saja bagi mereka apakah kamu memberi peringatan kepada mereka ataukah kamu tidak memberi peringatan kepada mereka, mereka tidak akan beriman. Sesungguhnya kamu hanya memberi peringatan kepada orang-orang yang mau mengikuti peringatan dan yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah walaupun dia tidak melihatNya. Maka berilah mereka kabar gembira dengan ampunan dan pahala yang mulia Sama saja bagi mereka apakah kamu memberi peringatan kepada mereka ataukah kamu tidak memberi peringatan kepada mereka, mereka tidak akan beriman”.(HR Abu Nu’aim).

              2) Ibnu Abbas  memberitakan bahwa orang-orang Quraisy tidak mau masuk Islam karena ngeri dan takut dimusuhi oleh kaum musyrikin yang akan menculik dan memerangi mereka. Kemudian turun Al-Qura>n S.28 Al-Qashash 57 berikut:

  ”Dan mereka berkata: “Jika kami mengikuti petunjuk bersama kamu, niscaya kami akan diusir dari negeri kami”. Dan apakah Kami tidak meneguhkan kedudukan mereka dalam daerah haram (tanah suci) yang aman, yang didatangkan ke tempat itu buah-buahan dari segala macam (tumbuh-tumbuhan) untuk menjadi rezki (bagimu) dari sisi Kami?. Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui( HR.An-Nasa`i).

iii. Periode Makkah Penghabisan

         1) Zaid ibnu Aslam memberitakan bahwa Nabi Saw. kawatir dan beliau berwasiat kepada para sahabat jangan sampai sepeninggal beliau kelak terjadi permusuhan dan perang saudara, kemudian turun Al-Quran S.6 Al-An’am 65:

 “Katakanlah: “Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebahagian) kamu keganasan sebahagian yang lain. Perhatikanlah, betapa Kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami silih berganti agar mereka memahami (nya)” Ibnu Abi Hatim).

         2) Ammar ibnu Yasir  memberitakan bahwa kaum musyrikin telah menyiksa dirinya, ayah dan  Sumayyah ibunya sendiri, Suhaib, Bila>l, Khabba>b dan Sali>m. Kaum musyrikin telah menyiksa di luar batas peri kemanusiaan sebabnya karena  Ammar ibnu Yasir dan rombongan ini akan menyusul Nabi Saw. hijrah ke Madinah. Disebabkan karena terlalu beratnya siksaan mereka itu maka  Ammar ibnu Yasir  terpaksa mengucapkan kata-kata kufur atas tekanan kaum musyrikin itu. Kemudian turun al-Quran S.16 An-Nahl 106, berikut:

Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar”( HR. Ibnu Abi Hatim).

              3) Ibnu Abbas memberitakan bahwa beberapa orang yang masuk Islam belum mantap sebelum ikut  hijrah ke Madinah. Ketika berusaha untuk berhijrah itu mereka dicegat, diserang dan ditangkap, sebagian  dari mereka dapat menyelamatkan diri, tetapi  sebagian lagi   dibunuh. Maka turunlah Al-Quran S.16 A-Nahl 110, yaitu sebagai berikut:

“Dan sesungguhnya Tuhanmu (pelindung) bagi orang-orang yang berhijrah sesudah menderita cobaan, kemudian mereka berjihad dan sabar; sesungguhnya Tuhanmu sesudah itu benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”(HR Ath-Thabari).

b. Periode Madinah

            1) Dalam rangkaian peristiwa  orang-orang yang  berusaha untuk  ikut berhijrah ke Madinah kemudian disiksa oleh  orang-orang kafir dengan sangat  kejam, maka  turun Al-Quran S.29 Al-‘Ankabut 1-2.  Dalam rangkaian peristiwa semacam ini turun juga Al-Quran S.29 Al-’ Ankabut 10(HR. Bukhari).

            2) Ibnu Juraij memberitakan bahwa pada waktu perang Badar  Abu> Jahal sesumbar akan menyiksa pasukan Islam dengan kejam, tetapi rencana itu gagal malah pasukan Islam memperoleh kemenangan dalam perang Badar. Kemudian turun Al-Quran  S.68 Al-Qalam 17, yaitu sebagai berikut:

                “Sesungguhnya Kami telah menguji mereka (musyrikin Mekah) sebagaimana Kami telah menguji pemilik-pemilik kebun, ketika mereka bersumpah bahwa mereka sungguh-sungguh akan memetik (hasil) nya di pagi hari”(HR. Ibnu Abi Hatim)).

             3)  Di dalam perang Uhud (3H) di antara 70 orang korban yang mati syahid itu adalah Hamzah paman sendiri  Nabi Saw.  Maka Al-Wahidi  (1984:291) mencatat situasi bagaimana kejam dan  sadisnya  orang-orang kafir itu  membunuh pasukan Islam. Salah satunya ialah Hamzah, yaitu mereka belah perut Hamzah, mereka keluarkan isi perut itu, mereka potong telinga dan hidungnya. Bahkan Hindun binti ‘Utbah  mengiris-iris  “hati” dari isi perut Hamzah itu kemudian hati itu ditelan mentah-mentah oleh Hindun.  Nabi Saw. karena melihat sendiri bagaimana kejam dan sadisnya orang kafir itu, maka beliau dan kaum muslimin benar-benar sangat marah dan bersumpah akan membalas 70 kali lipat sebagai ganti satu orang Hamzah saja. Ubay ibnu Ka’ab memberitakan bahwa dalam perang Uhud  tahun 3 H ini ada 64 orang Anshar dan 6 orang kaum Muhajirin mati syahid. Karena itu Allah menurunkan al-Qura>n s.16 An-Nahl 126-127 sebagai berikut:

                  “Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar. Bersabarlah (hai Muh}ammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan”( HR. Turmudzi).

i. Periode Madi>nah Penghabisan

           Al-Qura>n S.9 At-Taubat 74 turun  terkait dengan beberapa macam peristiwa melalui beberapa riwayat hadis. As-Suyuthi (1983:4 \ 240) mencatat 6 buah hadis Sababun Nuzul, yang 5 buah hadis menggunakan huruf Fa` – Sababiyah. Salah satu  kisah terkait dengan peristiwa  turunnya Al-Qura>n S.9 At-Taubat 74 ialah bahwa ‘Ikrimah memberitakan bahwa Maula> Bani> Addi> telah membunuh seorang dari kaum Anshar, lalu Rasul Saw. memutuskan  agar pihak pembunuh membayar diyat  12.000 dirham kepada keluarga korban yaitu Maula> Al-Jula>s.. Kemudian turun Al-Quran S.9 at-Taubat 74, yaitu: “…..dan mereka tidak mencela (Allah dan Rasul-Nya), kecuali karena Allah dan Rasul-Nya telah melimpahkan karunia-Nya kepada mereka… ..”(HR.Ath-Thabari ).

    @  Qata>dah memberitakan bahwa Abdullah ibnu Ubay menghina Nabi Saw. dan menyamakan beliau sebagai anjing. Dia berkata kepada orang suku Aus:

َسمِّنْ كَلْبَكَ يَأْكُلُكَ   Artinya: “Gemukkan anjingmu nanti akan menerkam kamu”

tetapi ketika diusut  oleh Rasulullah Saw. dia  tidak mengakui nya bahkan bersumpah tidak mengakui. Maka turunlah Al-Quran S.9 At-Taubat 74 berikut:

Mereka (orang-orang munafik itu) bersumpah dengan (nama) Allah, bahwa mereka tidak mengatakan (sesuatu yang menyakitimu). Sesungguhnya mereka telah mengucapkan perkataan kekafiran, dan telah menjadi kafir sesudah Islam, dan mengingini apa yang mereka tidak dapat mencapainya; dan mereka tidak mencela (Allah dan Rasul-Nya), kecuali karena Allah dan Rasul-Nya telah melimpahkan karunia-Nya kepada mereka. Maka jika mereka bertaubat, itu adalah lebih baik bagi mereka, dan jika mereka berpaling, niscaya Allah akan mengazab mereka dengan azab yang pedih di dunia dan di akhirat; dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pelindung dan tidak (pula) penolong di muka bumi. (HR Ath-Thabari).

           Khusus mengenai  sifat dengki Rasulullah Saw bersabda dalam suatu hadis:

ِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ (رواه ابوداود 4257)*

Dari Abu Hurairah bahwa nabi Saw bersabda: “Jauhilah sikap dengki sebab sungguh perbuatan dengki itu menghabiskan  kebajikan persis seperti  api membakar kayu”(HR Abu Dawud no.4257).

BAB  TIGA

Jauhi sifat dengki dan perbuatan  zalim

~   Masalah ke-3: Bagaimana ikhtiar kita membuat hati tidak  dengki dendam dan tidak berbuat zalim? Jawaban sementara : Ikhitiar menjauhi  watak dengki dan perbuatan zalim itu ialah  dengan menanam dan menumbuhkan kesadaran bahwa dengki dan zalim itu perbuatan Jahiliyah harus dijauhi dan segera berbuat yang terpuji menyenangkan semua orang dengan niat yang suci tanpa pamrih Lillahi Ta’ala penuh taqwa dan amal soleh.

         Watak dengki dan perbuatan zalim itu menurut ilmu jiwa termasuk perbuatan  yang negative, sebaliknya amal soleh itu termasuk perbuatan yang positif.

          Dr Paryana dari AMY (Akademi Metafisika Yogya) dalam tulisannya Aplied psychology menyatakan bahwa jiwa itu ada dua macam, yaitu  jiwa positip dan jiwa negatip.          Jiwa itu bergetar terus menerus, getaran jiwa yang positip  menghasilkan pikiran-pikiran yang positip sedangkan  getaran jiwa yang negatip menghasilkan pikiran yang negatip.

~  Jiwa yang positip ialah jiwa yang membangun pikiran yang membawa  segala kesuksesan.   Semua pikiran yang bergelombang  dengan kecintan, kebahagiaan, kegembiraan, kesehatan dan keberuntungan serta keberhasilan itulah jiwa yang positip. Dengan kata lain maka yang disebut jiwa positip  itu ialah semua yang baik, jiwa negatip ialah yang jelek, buruk dan  jahat. Wajah dari jiwa yang positip akan memancarkan sinar yang menarik orang menjadi senang dan gembira. Jadi definisi BAIK itu ialah sesuatu yang menyenangkan diri dan menyenangkan semua orang di manapun juga dalam semua jaman. Sehingga diri dan seluruh masyarakat menjadi senang  dari apa yang positif  apa yang baik itu.

~  Sebaliknya jiwa yang negatip bergerak untuk merusak dan melawan kesuksesan dan kebajikan.      Semua pikiran yang jahat, merugikan orang banyak, dengki, irihati  dan kezaliman itu  menyusahkan orang banyak, menyedihkan, menyakiti orang lain, yang menyebabkan kemelaratan, mengakibatkan kegagalan,  ke-kelemahan, kemunduran semua ini adalah pikiran yang negatif. Dan ini akan menumbuhkan  perasaan orang lain menjadi  antipati, tidak senang, menimbulkan gerakan  untuk menentang, melawan pikiran-pikiran yang negatif itu. Jiwa yang negatip itu menampakkan  pandangan yang tidak menarik, , meresahkan, kebencian, menimbulkan pertengkaran dan perkelaian.

Kaum rasionalis Islam Mu’tazilah dam juga  Muhammad ‘Abduh  berpendapat bahwa yang disebut baik itu ialah sesuatu yang membawa manusia kepada kelezatan dan kebahagiaan, sebaliknya yang disebut buruk itu ialah sesuatu yang membawa akibat yang tidak enak dan menyengsarakan manusia. 

          Dan disebabkan karena manusia itu bersifat tidak sempurna hasil pikiran manusia yang indrawi, ilmiah dan filosfis itu sangat tergantung oleh  sifat manusia yang spekulatip kalau bejo ya untung jika salah ya celaka dan akal manusia itu juga  bersifat hipotetis artinya  bahwa selama belum ada bukti baru ya benar, tetapi jika ada bukti baru maka kebenaran tadi salah dan kalah dengan yang baru ini.

         Maka benar yang mutlak yang tidak dapat dikalahkan itu ialah ilmu Allah, untuk kita orang Islam ialah Al-Quran.

         Memang  Allah Ta’ala berkehendak agar supaya manusia dapat hidup dan hidup terus, hidup yang lebih baik lagi, makin lama makin baik, hidup yang selamat, jauh dari penderitaan, selamat dari kesengsaraan, hidup sejahtera serba  kecukupan  segala kebutuhan hidupnya secara universal,  aman sentosa, damai bahagia  untuk seluruh umat manusia, di mana saja dan kapanpun juga, kekal abadi, dunia akhirat maka  Allah memberi wahyu petunjuk hidup  supaya diikuti dan ditaatinya, maka dari itu  Allah mengirim nabi dan rasul utusan-Nya  sedangkan  nabi terakhir–rasul penghabisan ialah Nabi Muhammad Saw. Bertugas supaya  membimbing umat manusia untuk mengikuti petunjuk Allah Ta’ala ke arah hidup yang selamat, sejahtera bahagia dunia akhirat.

Perbandingan

JIWA  YANG POSITIP                                      !          JIWA YANG NEGATIP

1. Menggembirakan

1. Tidak  menyenangkan

2.Menyehatkan

2. Menyakitkan

3.Amal soleh

3. Jahat

4.Menguntungkan

4. Merugikan

5.Membawa ke-kecintaan

5. Kedengkian

6.Menyenangkan

6.Menyusahkan

7.Menghibur

7.Menyedihkan

8.Memperkaya

8. Menuju ke kemelaratan

9.Memperkuat

9.Mengarah ke kelemahan

10.Menghasilkan sukses

10.Mengakibatkan kegagalan

11.Yang memberi semangat

11.Jalan ke keputus asaan

12.Mendorong ke-kemajukan

12.Jalan ke kemunduran

13. Serba kebajikan

13. Semua kemaksiatan

Sayogyanya kita renungkan dampak akibat perbuatan yang disebabkan sifat dengki dan perbuatan zalim misanya saja jika  seseorang  memulai sesuatu urusan dengan marah-marah, ditengah jalan muring-muring di tempat kerja pikiran  tidak dapat berkonsentrasi, pikiran  tidak tenang,  kerjanya  jelek sekali, pulang  sampai di rumah mengamuk sepatu naik ke meja, memecah  kaca, almari  dirobohkan, memukul apa yang  ada di mukanya, siapa yang di rumah disiksa ………… maka tinggal tunggu  kiamat  dalam rumah itu, semua anggota isi rumah menjadi sedih, susah, sakit, TBC, darah tinggi, kanker,??????????               

 Usaha agar supaya kondisi kita dapat hidup dengan aman damai sejatera bahagia untuk diri dan orang lain secara menyeluruh semua orang ialah  bertakwa kepada Allah, menjauhi  perasaan iri, dengki dan menjauhi laku perbuatan  zalim serta laku perbuatan yang negatif sekaligus menggalakkan semangat tumbuhnya perasan kasih sayang maupun  amal soleh. Asas landasan ini namanya  takwa  kepada Allah Swt.

@Kitab Lisanul ‘Arab (15h401) mengartikan Taqwa itu laku perbuatan mencegah diri dari penyebab derita sakit yang menyerang, maka Taqwa sering diartikan takut maksudnya ialah takut berbuat salah takut terjerumus ke-dalam derita sakit.. Jadi Taqwa itu ialah menjadikan diri terjaga dari apa yang dikawatirkan dari apa yang ditakutkan akan mendatangkan derita, menjaga diri dari penyebab kehancuran dan bencana. Menurut pengertian syara’ taqwa itu menjaga diri dari perbuatan dosa, sedangkan dosa itu akan membawa diri masuk neraka. Takut terjerumus masuk jalan ke neraka caranya ialah  melakukan ketaatan dan melakukan amal soleh serta taqarrub kepada Allah.

       Taqwa menurut bahasa ialah usaha mencegah  semua yang salah dan negatip sekaligus berjuang menegakkan apa yang benar dan yang  positif. Dengan kata lain takwa itu berbuat baik dan benar meninggalkan yang buruk dan salah, Taqwa itu melakukan  amal soleh, amar ma’ruf nahi munkar, menjauhi perbuatan dosa kepada manusia dan dosa kepada Allah.

        Ditambahkan lagi bahwa taqwa ialah menjauhi perbuatan dosa, sedangkan dosa ialah sesuatu yang tidak diridhoi Allah. Sehingga Taqwa itu ialah melakukan perbuatan yang diridhoi Allah, jelas semua yang diridhoi Allah itu akan membawa bahagia seluruh umat manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan bahkan semua makhluk.

  Dari sisi lain Abu Zahrah dalam kitab Ushul Fiqh (1958:289) menyatakan bahwa target utama bahwa  Allah menurunkan syari’at Islam itu ada tiga target, yaitu:

1.Menciptakan tiap pribadi sebagai sumber amal soleh

2.Keadilan yang merata atas seluruh umat manusia

3.Terwujudnya kehidupan masyarakat yang penuh maslahah yang hakiki, yaitu  terjaminannya 5 macam kebutuhan hidup manusia secara universal atau Hak asasi Manusia (HAM) berikut:                i) Jaminan hidup dan hidup yang lebih baik lagi

-ii) Jaminan hidupnya syari’at Tuhan;

iii) Jaminan hak atas harta kekayaan:

iv)Jaminan atas hak pengembangan akal dan kebebasan berpikir;

v)Jaminan hak atas pengembangan  jenis dan keturunan.

           Jadi yang benar dan yang baik  itu ialah benar dan baik secara  logika ilmiah dan berdasarkan iman dan taqwa=IPTEK dan IMTAQ.

         Dengan  tekun memegang teguh prinsip  Iman, Islam dan Ihsan, penuh taqwa berhati-hati jangan sampai mencelakakan diri dan orang lain siapapun juga  jangan sampai diri sengsara atau menyengsarakan orang lain, jangan sampai berbuat dosa kepada makhluk, jangan berbuat dosa kepada Allah menepati 6 Rukun Iman,, 5 Rukun Islam dan  berwatak Akhlaq Karimah Allah maka hidup akan enak, senang, sejahtera bahagia, jasmani dan rohani.Wallahu A’lam bish shawab.

Silahkan buka internet situs : https://pondokquranhadis.wordpress.com

Kirimkan naskah ke Email:pondokilmu7@gmail.com-Tlp:0318963843


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: