Oleh: pondokquranhadis | September 2, 2011

BERBISIK-CURHAT KRPADA ALLAH

 

011(8)23                                                                                                      Tafsir Tematis Kontemporer

 

Berbisik-bisik Curhat kepada Allah

(Imam Muchlas)

 

I. Al-Quran S.2 Al-Baqarah 186

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ (البقرة 186)

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo`a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”(S.2 Al-Baqarah 186).

@. Latar belakang turunnya Q.s2a186

Latar belakang turunnya Qs2a186: Dari Ash-Shalt dari ayah dari kakeknya  bahwa seseorang dari pelosok dusun bertanya kepada Nabi Saw tentang di mana Tuhan itu jauh atau dekat, jika dekat dia akan berbisik-bisik saja apabila jauh dia akan berteriak-teriak kepada Tuhan. Kemudian Allah menurunkan Al-Quran S.2 Al-Baqarah 186 bahwa  Allah itu dekat dan mengabulkan  do’a hamba (HR Ibnu  Abi Hatim  juz 6halaman 309 dan Tsiqat Ibnu Hibban juz 8 halaman 436).

II. Tema dan sari tilawah

  1. Pada dasarnya seluruh umat manusia itu mengakui dan percaya adanya Tuhan.
  2. Pengakuan dan kepercayaan mereka itu sesuai kadar  situasi dan kondisi  mereka masing-masing.
  3. Sebagian manusia  belum mengetahui sifat-sifat  Tuhan yang benar, sehingga mempertanyakan apakah Tuhan itu dekat atau jauh.
  4. Oleh karena itu Allah menjawab bahwa Allah itu dekat dan mengabulkan do’a permohonan hamba yang berdo’a kepada Allah.
  5. Secara logika wajarlah bahwa  keseimbangan itu adalah hukum  yang berlaku umum seluruh permasalahan, mencakup soal bahwa do’a itu akan dikabulkan Allah jika  hamba yang berdo’a itu sendiri  memenuhi permintaan Allah
  6. Hukum kesimbangan ini akan lebih menjamin terwujudnya hukum  kebenaran yang sesungguhnya.

III.Masalah dan  analisa jawaban

       Dari  banyaknya masalah maka yang mendesak ialah:

1. Bagaimana nasib mereka yang tidak  mengetahui sifat Allah yang benar? Jawaban sementara: Allah akan memperhatikan  situasi dan kondisi masing-masing hamba-Nya.

2. Apa saja sifat-sifat Allah yang wajib kita ketahui dan kita yakini? Jawaban sementara: Allah itu mempunyai sifat wajib 20 dan Al-Asmaul Husna 99 macam yang merupakan sifat Allah juga.

3.  Bagaimana ikhtiar kita agar supaya kita sebagai makhluk yang sangat lemah memenuhi  permintaan Allah dalam Al-Quran S.2 Al-Baqarah 186 di atas. Jawaban sementara: Ikhtiar untuk memenuhi Qs3a185 di atas ialah  dengan sepenuhnya taqarrub  atau mendekatkan diri sungguh-sungguh kepada Allah memohon kasih sayang Allah yang Maha Rahman..

IV.Pendalaman dan penelitian

BAB  SATU

Agama Islam itu universal

 @Masalah ke-1: Bagaimana nasib mereka yang tidak  mengetahui sifat Allah yang benar? Jawaban sementara: Allah akan memperhatikan  situasi dan kondisi masing-masing hamba-Nya.

  Orang yang beriman dalam situasi dan kondisi  normal wajib melaksanakan  syari’at Islam  sepenuhnya menurut  hokum sebagaimana ketentuan dari Allah dan Rasulullah Saw.  Tetapi kepada mereka yang  berada dalam situasi dan kondisi tertentu Allah  dab Rasul Saw telah memberkan rukhsh-keringanan tertentu.

         Berdasarkan  beberapa nash Al-Quran dan hadis yang memberi keringan kepada orang beriman  seimbang dengan situasi dan kondisi mereka dalam berbagai  bidang tersebut maka  nasib kaum yang betul-betul belum pernah mendengar dakwah Islam  diduga  kemungkinan Allah akan memberi rahmat tertentu atau menempatkan mereka sebagaimana nasib Ashabul A’raf  Al-Quran S.7 Al-A’raf 45-48 terurai  di bawah ini.

Orang-orang yang beriman tetapi karena situasi dan kondisi tertentu mereka mendapat rukhshah khusus, yaitu:

(1)Shalat bagi musafir  boleh di-jamak dan Qashar, jika sakit shalat dapat dilakukan sesuai dengan situasi dan kondisi seseorang mungkin berdiri, boleh duduk, , bahkan semampunya. Hadis  Rasulullah Saw. HR Bukhari no.1050.

(2)Puasa bagi musafir, sakit atau keadaan tertentu dapat dihutang atau diganti dengan  bentuk-bentuk tertentu, Al-Quran s.2 Al-Baqarah 183.

(3)Zakat diwajibkan  kepada  orang yang memiliki harta  dalam ukuran tertentu (nishab), kepada mereka yang tidak memiliki harta dalam jumlah yang ditentukan maka tidak diwajibkan zakat atas  dia, bahkan mungkin malah berhak menerima zakat.

5563  عَنْ أَبِي بُرْدَةَِ عَنْ  أَبِيه قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ صَدَقَةٌ قَالُوا فَإِنْ لَمْ يَجِدْ قَالَ فَيَعْمَلُ بِيَدَيْهِ فَيَنْفَعُ نَفْسَهُ وَيَتَصَدَّقُ قَالُوا فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ أَوْ لَمْ يَفْعَلْ قَالَ فَيُعِينُ ذَا الْحَاجَةِ الْمَلْهُوفَ قَالُوا فَإِنْ لَمْ يَفْعَلْ قَالَ فَيَأْمُرُ بِالْخَيْرِ أَوْ قَالَ بِالْمَعْرُوفِ قَالَ فَإِنْ لَمْ يَفْعَلْ قَالَ فَيُمْسِكُ عَنِ الشَّرِّ فَإِنَّهُ لَهُ صَدَقَةٌ (رواه البخاري ومسلم 1676)

“Dari Sa’id bin Abu Burdah bin Abu Musa Al Asy’ari dari Ayahnya dari Kakeknya dia berkata; Nabi Saw bersabda: “Wajib bagi setiap muslim untuk bersedekah.” Para sahabat bertanya; “Bagaimana jika ia tidak mendapatkannya? ‘ Beliau bersabda:: ‘Berusaha dengan tangannya, sehingga ia bisa memberi manfaat untuk dirinya dan bersedekah.’ Mereka bertanya; ‘Bagaimana jika ia tidak bisa melakukannya? ‘ Beliau bersabda: ‘Menolong orang yang sangat memerlukan bantuan.’ Mereka bertanya; ‘Bagaimana jika ia tidak bisa melakukannya? ‘ Beliau bersabda: ‘Menyuruh untuk melakukan kebaikan atau bersabda; menyuruh melakukan yang ma’ruf’ dia berkata; ‘Bagaimana jika ia tidak dapat melakukannya? ‘ Beliau bersabda: ‘Menahan diri dari kejahatan, karena itu adalah sedekah baginya”(HR Bukhari no.5563 dan Muslim no.1676)

(4) Ibadah haji  diwajibkan kepada  yang memenuhi syarat rukun, bekal dan kesehatan. Yang tidak mampu naika haji dapat diganti dengan amalan lain , Al-Quran S.3 Ali ‘Imran 97.  Dan. Nabi  Saw bersabda:

1422  عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِي اللَّهم عَنْهم قَالَ سُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْأَعْمَالِ أَفْضَلُ قَالَ إِيمَانٌ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ قِيلَ ثُمَّ مَاذَا قَالَ جِهَادٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ قِيلَ ثُمَّ مَاذَا قَالَ حَجٌّ مَبْرُورٌ (رواه البخاري1422 ومسلم118)*

“Dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu berkata; Ditanyakan kepada Nabi Shallallahu’alaihiwasallam: “‘Amal apakah yang paling utama?”. Beliau menjawab: “Iman kepada Allah dan rasulNya”. Kemudian ditanya lagi: “Kemudian apa?” Beliau menjawab: “Al Jihad fii sabiilillah”. Kemudian ditanya lagi: “Kemudian apa lagi?” Beliau menjawab: “Hajji mabrur”(HR Bukhari no.1422 dan Muslim no.118)

          Dari sisi lain Islam adalah agama universal  artinya Islam  berlaku dan  menjamin  kehidupan  seluruh umat manusia, dimana saja dan kapanpun juga.

A Hak wanita sama dengan pria

Wanita dan pria mempunyai hak yang sama di dalam pahala dan  ibadah. Al-Quran S.33 Al-Ahzab 35.

B. Wanita dan pria menanggung kewajiban yang sama.

Allah berfirman bahwa wanita dan pria  tugasnya sama Al-Quran S.60 Al-Mumtahanah 12.

C. Islam untuk seluruh umat manusia  dan segala bangsa

Syari’at Islam   berlaku  secara universal. Nabi Saw bdersabda:

3193 عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطَبَ النَّاسَ يَوْمَ فَتْحِ مَكَّةَ فَقَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَذْهَبَ عَنْكُمْ عُبِّيَّةَ الْجَاهِلِيَّةِ وَتَعَاظُمَهَا بِآبَائِهَا فَالنَّاسُ رَجُلَانِ بَرٌّ تَقِيٌّ كَرِيمٌ عَلَى اللَّهِ وَفَاجِرٌ شَقِيٌّ هَيِّنٌ عَلَى اللَّهِ وَالنَّاسُ بَنُو آدَمَ وَخَلَقَ اللَّهُ آدَمَ مِنْ تُرَابٍ قَالَ اللَّهُ ( يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ ) (رواه الترمذي)*

“Dari Ibnu Umar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam berkhutbah saat penaklukkan Makkah, beliau bersabda: "Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah telah menghilangkan kebanggaan jahiliyah dan pengagungan terhadap nenek moyangnya dari kalian. Manusia terbagi dua; baik, bertakwa, mulia bagi Allah dan keji, sengsara, hina bagi Allah. Manusia adalah anak cucu Adam dan Allah menciptakan Adam dari tanah. Allah berfirman: "Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal." (Al Hujuraat: 13) Abu Isa berkata: Hadits ini gharib, kami hanya mengetahuinya dari hadits Abdullah bin Dinar dari Ibnu Umar dari jalur sanad ini. Abdullah bin Ja'far dilemahkan oleh Yahya bin Ma'in dan lainnya. Abdullah bin Ja'far adalah ayah Ali bin Al Madini. Abu Isa berkata: Dalam hal ini ada hadits serupa dari Abu Hurairah dan Ibnu Abbas”(HR Turmudzi no.3193 dan  Ahmad no 22391).

D. Pahala berlaku atas seluruh orang yang beriman

Islam tidak membeda-bedakan kasta, strata, tingkat, derajat , seluruhnya  adalah sama-sama wajib mengabdi kepaqda Allah, diantaranya ialah:

(1) Keringan  dalam  bidang  jihad, Al-Quran S 9 At-Taubat 91-92 dan Hadis  Bukhari 267.

(E) Yang tidak mampu  berperang tidak diwajibkan. bisa dipenuhi dalam bentuk lain beramal sodaqah

Nabi Saw menjelaskan masalah ini bahwa yang kaya dapat membayar zakat yang miskin sesuai dengan kondisi mereka:

1181 عَنْ أَبِي ذَرٍّ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلَامَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْيٌ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنَ الضُّحَى(رواه مسلم وابو داود 1092)

“Dari Abu Dzarr dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: "Setiap pagi dari persendian masing-masing kalian ada sedekahnya, setiap tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, dan setiap tahlil adalah sedekah, setiap takbir sedekah, setiap amar ma'ruf nahyi mungkar sedekah, dan semuanya itu tercukupi dengan dua rakaat dhuha”(HR Muslim no.1181 dan Abu Dawud no. 1092).

(2)Penerima pahala tidak dibatasi untuk orang kaya

         Rasulullah Saw. sendiri menetapkan bahwa orang yang modalnya air mata pahalanya sama dengan yang modalnya besar dan  hebat atau kaya raya, berkorban  nyawa:

 4071عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِي اللَّهم عَنْهم أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجَعَ مِنْ غَزْوَةِ تَبُوكَ فَدَنَا مِنَ الْمَدِينَةِ فَقَالَ إِنَّ بِالْمَدِينَةِ أَقْوَامًا مَا سِرْتُمْ مَسِيرًا وَلَا قَطَعْتُمْ وَادِيًا إِلَّا كَانُوا مَعَكُمْ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَهُمْ بِالْمَدِينَةِ قَالَ وَهُمْ بِالْمَدِينَةِ حَبَسَهُمُ الْعُذْرُ (رواه البخاري)

Artinya: “Dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah Saw. suatu hari pulang dari perang Tabuksaat dekat Madinah beliau bersabda: “Sungguh di kota ada beberpa orang  yang mana  betul-betul pada  setiap kalian menempuh suatu perjalanan, setiap kalian menyeberang lembah sungguh mereka itu beserta kalian” Mereka bertanya: “Ya Rasulullah mana mungkin mereka di dalam kota?” Beliau bersabda: “Mereka terhalang”(HR Bukhari no.4071 dan Muslim no.3534 ).

Ada 7 sahabat yang sangat  miskin  tidak terangkut untuk maju ke medan perang  dan tertinggal  lalu  mereka menangis. Dan menurut riwayat Ahmad no.12409 Rasul Saw beliau bersabda: “Mereka betul-betul bersekutu pahala dengan kalian” yang dapat kita terjemahkan: Pahalanya dibagi bersama antara mereka dengan 7 orang sahabat itu.         

Ats-Tsa’alibi mencatat bahwa QS9a91-92 turun berkaitan dengan ‘Abdullah, ‘Abdurrahman, ‘Uqail, Nu’man, Suwaid dan Sinan=6 orang mereka semua  pernah  ikut dalam perang Khandaq. Al-Qurthubi mencatat = 7 orang.

@ Tafsir Ibnul Jauzi, mencatat ada  3 sebab mengapa tidak berangkat perang Tabuk, yaitu: tidak mempunyai kendaraan, tidak mempunyai bekal dan  tidak mempunyai sepatu.

Nilai universal  dalam  syari’at Islam

           Target tujuan syari’at Islam ada 3, menciptakan setiap pribadi menjadi sumber amal soleh, keadilan atas seluruh umat dan kecukupan kebutuhan hidup manusia secara universal (Maslahah yang hakiki)

           Maslahah yang hakiki ialah suatu sistem kehidupan bermasyarakat  yang serba terpenuhi jaminan hidup yang 5 macam, yaitu:1.Terjaminnya kelangsungan syari’at Tuhan, suatu kehidupan yang berjiwa agama; 2.Terjaminnya hak hidup setiapi nsan;3.Terjaminnyahakpemilikanatashartakekayaan;4.Teraminnyaperkembanganakalyangsehat;5.Terjaminnya hak  berkeluarga danberketurunan.

@  Ashabul A’raf

            Ashabul A’raf ialah sejumlah umat manusia yang kelak  tidak masuk surga juga tidak masuk neraka, mereka menangis  jika melihat surga tetapi berbesar hati ketika melihat neraka, disebut dalam Al-Quran S.7 Al-A’raf 45-48.

            Masalah   bagaimana nasib mereka yang  memang betul-betul belum  pernah mendengar dakwah Islam maka dapat diduga bahwa Allah akan menentukan Qudrat-Iradat-Nya  kepada mereka apakah akan mendapat azab neraka atau mendapat rahmat yang lain,misalnya seperti kaum Ashabul A’raf itu.

 

BAB  DUA

Sifat  Allah

@Masalah ke-2:. Apa saja sifat-sifat Allah yang wajib kita ketahui dan kita yakini? Jawaban sementara: Allah itu mempunyai sifat wajib 20, sifat Mustahil 20 dan Al-Asmaul Husna 99 macam yang merupakan sifat Allah juga.

  1. I.                   Sifat wajib bagi Allah                                                                            

Ahli pikir dan tokoh Multazilah Allah itu hanya mempunyai satu sifat yaitu Mutlak Maha Esa, sedangkan ulama   Asy’ariyah  Allah itu mempunyai sifat 20, yaitu: 1). Wujud : Artinya Ada. 2). Qidam : Artinya Sedia yang terbahagi kepada empat bagian :3). Baqa’ : Artinya Kekal, 4). Mukhalafatuhu Ta’ala Lilhawadith. Artinya : Bersalahan Allah Ta’ala dengan segala yang baharu.5). Qiyamuhu Ta’ala Binafsihi : Artinya : Berdiri Allah Ta’ala dengan sendirinya 6). Wahdaniyyah. Artinya : Esa Allah Ta’ala pada zat, pada sifat & pada perbuatan.7). Al – Qudrah : Artinya : Kuasa qudrah Allah SWT.8). Iradah : Artinya : Menghendaki Allah Ta’ala.9). ‘Ilmu :  Artinya : Allah Maha Mengetahui 10). Hayat . Artinya : Hidup Allah Ta’ala..11). Sama’ : Artinya : Mendengar Allah Ta’ala.12). Bashar : Artinya : Melihat Allah Ta’ala .13) .Kalam : Artinya : Berkata-kata Allah Ta’ala.14). Kaunuhu Qadiran : Artinya : Keadaan Allah Ta’ala Yang Berkuasa Mengadakan Dan Mentiadakan.15).Kaunuhu Muridan : Artinya : Keadaan Allah Ta’ala Yang Menghendaki dan menentukan tiap-tiap sesuatu.16).Kaunuhu ‘Aliman : Artinya : Keadaan Allah Ta’ala Yang Mengetahui akan Tiap-tiap sesuatu.17).Kaunuhu Hayyun : Artinya : Keadaan Allah Ta’ala Yang Hidup.18).Kaunuhu Sami’an : Artinya : Keadaan Allah Ta’ala Yang Mendengar akan tiap-tiap yang Maujud.19).Kaunuhu Bashiran : Artinya : Keadaan Allah Ta’ala Yang Melihat akan tiap-tiap yang Maujudat ( Benda yang ada ).20).Kaunuhu Mutakalliman : Artinya : Keadaan Allah Ta’ala Yang Berkata-kata.             .                                                                                    II. Sifat Mustahil artinya tidak mungkin;                .                                                           Wajib atas tiap-tiap mukallaf mengetahui sifat-sifat yang mustahil bagi Allah yang menjadi lawan daripada dua puluh sifat yang wajib baginya. Maka dengan sebab itulah di nyatakan di sini sifat-sifat yang mustahil satu-persatu :  1).  ‘Adam; berarti “Tidak ada”.   2).  Huduth; berarti “Baharu”.  3).  Fana’; berarti “Binasa”. 4).  Mumathalatuhu Lilhawadith; berarti “Menyerupai makhluk”. 5).  Qiyamuhu Bighayrih; berarti “Berdiri dengan yang lain”. 6).  Ta’addud; berarti “Bberbilang-bilang”. 7).  ‘Ajz; berarti “Lemah”. 8).  Karahah; berarti “Terpaksa”. 9).  Jahl; berarti “jahil/Bodoh”.. 10).  Maut; berarti “Mati”. 11).  Samam; berarti “Tuli”. 12).  ‘Ummy; berarti “Buta”. 13).  Bukm berarti “Bisu”. 14).  ‘Ajizan; berarti “keadaannya Yang lemah”. 15).  Karihan; berarti “keadaannya Yang terpaksa”. 16).  Jahilan; berarti “keadaannya Yang jahil/bodoh”. 17).  Mayyitan; berarti “keadaannya Yang mati”. 18).  Shammum; berarti “keadaannya yang tuli”. 19).  A’ma; berarti “keadaannya Yang buta”. 20).  Abkam; berarti “keadaannya Yang bisu”

III. Asmaul Husna    Secara  singkat Al-Quran menyebutkan nama-                                                                                 nama Allah itu:

       

هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ(22)هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ(23)هُوَ اللَّهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى يُسَبِّحُ لَهُ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ(الحشر 22-24)                                                                                                                                             

Dia-lah Allah Yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dia-lah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Dia-lah Allah Yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala keagungan, Maha Suci, Allah dari apa yang mereka persekutukan. Dia-lah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Nama-Nama Yang Paling baik. Bertasbih kepada-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”(S.59 Al-Hasyr 22-24).                                                                                              

 ِAsmaul Husna selengkapnya adalah sebagai berikut      :                                          .    1)Yang Maha Pemurah;       2.  Yang Maha penyayang;3. Yang Maha Kuasa;4.  Yang Maha Suci;5. Yang Maha Sejahtera;6.  Yang memberikan rasa aman;7.  Yang Maha Memelihara;8.  Yang Maha Perkasa;9.  Yang Maha Memaksa;10. Yang Memiliki kebesaran;
11. Yang Maha Mencipta;12. Yang Maha Melepaskan;13.Yang menciptakan rupa makhluk;14. Yang Maha Mengampuni;15. Yang Maha Perkasa;16. Yang Maha Pemberi Karunia;17. Yang Maha Pemberi Rizki;18.Yang Maha Pembuka;19.Yang Maha Mengetahui Segalanya;20.Yang Maha Menyempitkan kenikmatan;21.Yang Maha Melapangkan Rizki;22. Yang Maha Merendahkan makhluknya;23. Yang Meninggikan Martabat makhluknya;24. Yang Maha Memuliakan makhluknya;25. Yang Maha Menghinakan makhluknya;26. Yang Maha Mendengar;27. Yang Maha-Melihat;28.Yang Maha menetapkan;29. Yang Maha Adil;30. Yang Maha penyantun;31. Yang Maha Mengetahui Segala Rahasia;32. Yang Maha Penyantun, lembut;33. Yang Maha Agung dari segalanya;34. Yang Maha pengampun;35. Yang Maha Membalas jasa atas amal baik hamba-Nya;36. Yang Maha Tinggi;37. Yang Maha Besar;38. Yang Maha Menjaga; 39. Yang Maha Memelihara;40. Yang Maha PembuatPerhitungan;41., Yang memiliki segala keagungan;42. Yang Maha Mulia;43. Yang Maha Mengawasi;44. Yang Maha Mengabulkan;45. Yang Maha Luas;46. Yang Maha Bijaksana;47. Yang Maha Pengasih;48. Yang Maha Mulia;49. Yang Maha Membangkitkan;50.Yang Maha Menyaksikan;51. Yang Maha Benar;52., Yang Maha Memelihara;53. Yang Maha Kuat;55. Yang Maha Melindungi;56. Yang Maha Terpuji;57. Yang Maha Menghitung dan mengetahui jumlah dan ukuran segala sesuatu;58., Yang Maha Memulai;59. Yang Maha Mengembalikan kehidupan makhluk-Nya;60. Yang Maha Menghidupkan;61. Yang Maha Mematikan;62. Yang Maha Hidup;63.Yang Maha Mandiri;  64. Yang Maha Menemukan apa yangdikehendaki;65.YangMahaMulia;66.YangMahaEsa/Tunggal;67.YangMahaEsa;68.YangMahadibutuhkan;69YangMahaKuasa;70.Al-Muqtadir, Yang Maha Berkuasa;71.  Yang Maha Mendahulukan;72.  Yang Maha Mengakhirkan; 73. Yang Maha Permulaan;74. Yang Maha Akhir;75.  Yang Maha Nyata;76.  Yang Maha Ghaib;77. Yang Maha Memerintah; 78.  Yang Maha Tinngi;79.  Yang Maha Derma;80.  Yang Maha Menerima Taubat hamba-Nya;81.  Yang Maha Penyiksa;82. Yang Maha Pemaaf;83.  Yang Maha Pengasih;84. Malikul Mulk, Yang Maha Merajai Kerajaan;85.  Yang Maha Memiliki kebesaran dan kemuliaan;86.  Yang Maha Adil;87.  Yang Maha Pengumpul;88.  Yang Maha Kaya;89.  Yang Maha Berkecukupan;90. Yang Maha Mencegah;91.  Yang Maha Pemberi Derita;92. Yang Maha Pemberi Manfaat;93. Yang Maha Bercahaya;94. Yang Maha Memberi Petunjuk;95.  Yang Maha Pencipta;96. Yang Maha Kekal;97. Yang Maha Pewaris;98. Yang Maha Pandai;99. Yang Maha Sabar.

@// KEUTAMAAN ASMAUL HUSNA

Rasulullah Saw bersabda, “Allah mempunyai 99 nama, seratus kurang satu; barang siapa memahaminya akan masuk surga.” (Shahiih Bukhaari, Shahiih Muslim). Tentunya dalam memahaminya tidak hanya dengan ucapan saja tetapi juga dengan perbuatan dan tingkah laku kita

 

BAB  TIGA

Curhat kepada Allah

Masalah ke-3.  Bagaimana ikhtiar kita agar supaya kita sebagai makhluk yang sangat lemah memenuhi  permintaan Allah dalam Al-Quran S.2 Al-Baqarah 186 di atas: Jawaban sementara: Ikhtiar untuk memenuhi Qs3a185 di atas ialah  sungguh-sungguh taqarrub  atau mendekatkan diri sedekat-dekatnya kepada Allah melalui sifat Rahman Rahim-Nya memohon kasih sayang Allah.

Shalat nabi Saw  sangat khusyuk dan lama sekali

        @Tafsir Al-Baghawi (5h116) dalam menganalisa Qs17a79 (sebagaimana tercantum d awal makalah diatas) mencatat hadis bahwa Abu Salamah bertanya kepada ‘Aisyah tentang shalat Nabi Saw dijawab bahwa  beliau shalat dibulan Ramadhan dan semua bulan di luar Ramadhan tidak lebih dari 11 rakaat, (4+4+3 rakaat), tetapi jangan tanya  khusyuk dan lamanya luar biasa

عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّهُ سَأَلَ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا كَيْفَ كَانَتْ صَلَاةُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي رَمَضَانَ فَقَالَتْ مَا كَانَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلَا فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي ثَلَاثًا فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَتَنَامُ قَبْلَ أَنْ تُوتِرَ قَالَ يَا عَائِشَةُ إِنَّ عَيْنَيَّ تَنَامَانِ وَلَا يَنَامُ قَلْبِي (رواه البخاري 1874)

“Dari Abu Salamah bin ‘Abdurrahman bahwasanya dia bertanya kepada ‘Aisyah radliallahu ‘anha tentang cara shalat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di bulan Ramadhan. Maka ‘Aisyah radliallahu ‘anha menjawab: “Tidaklah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam (melaksanakan shalat malam) di bulan Ramadhan dan di bulan-bulan lainnya lebih dari sebelas raka’at, Beliau shalat empat raka’at, maka jangan kamu tanya tentang bagus dan panjangnya kemudian Beliau shalat empat raka’at lagi dan jangan kamu tanya tentang bagus dan panjangnya, kemudian Beliau shalat tiga raka’at. Lalu aku bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah anda tidur sebelum melaksanakan witir?” Beliau menjawab: “Wahai ‘Aisyah, sesungguhnya kedua mataku tidur, namun hatiku tidaklah tidur” (HR Bukhari no.1874 dan Muslim no.1219).

@Tafsir Al-Khazin (4h275) dalam menganlisa Qs17a77-79 tersebut mencatat hadis bahwa Nabi Saw karena lamanya sampai kaki beliau bengkak:

عَنْ الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى حَتَّى انْتَفَخَتْ قَدَمَاهُ فَقِيلَ لَهُ أَتَكَلَّفُ هَذَا وَقَدْ غَفَرَ اللَّهُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ فَقَالَ أَفَلَا أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا (رواه مسلم 5044 (

“Dari Al Mughirah bin Syu’bah nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam shalat hingga kedua kaki beliau bengkak, dikatakan pada beliau: Apa Tuan memaksakan ini padahal Allah telah mengampuni dosa yang terlalu dan yang dikemudian. Beliau menyahut: “Apakah aku tidak menjadi hamba yang bersyukur?”)HR Muslim no.5044 dan Bukhari n0.377).

عَنْ حُذَيْفَةَ قَالَ صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ لَيْلَةٍ فَافْتَتَحَ الْبَقَرَةَ فَقُلْتُ يَرْكَعُ عِنْدَ الْمِائَةِ ثُمَّ مَضَى فَقُلْتُ يُصَلِّي بِهَا فِي رَكْعَةٍ فَمَضَى فَقُلْتُ يَرْكَعُ بِهَا ثُمَّ افْتَتَحَ النِّسَاءَ فَقَرَأَهَا ثُمَّ افْتَتَحَ آلَ عِمْرَانَ فَقَرَأَهَا يَقْرَأُ مُتَرَسِّلًا إِذَا مَرَّ بِآيَةٍ فِيهَا تَسْبِيحٌ سَبَّحَ وَإِذَا مَرَّ بِسُؤَالٍ سَأَلَ وَإِذَا مَرَّ بِتَعَوُّذٍ تَعَوَّذَ ثُمَّ رَكَعَ فَجَعَلَ يَقُولُ سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيمِ فَكَانَ رُكُوعُهُ نَحْوًا مِنْ قِيَامِهِ ثُمَّ قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ ثُمَّ قَامَ طَوِيلًا قَرِيبًا مِمَّا رَكَعَ ثُمَّ سَجَدَ فَقَالَ سُبْحَانَ رَبِّيَ الْأَعْلَى فَكَانَ سُجُودُهُ قَرِيبًا مِنْ قِيَامِهِ قَالَ وَفِي حَدِيثِ جَرِيرٍ مِنْ الزِّيَادَةِ فَقَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ (رواه مسلم 1291 والترمذي 243 والنسائي 999)

Dan telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Numair dan Abu Mu’awiyah -dalam jalur lain- Dan telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Harb dan Ishaq bin Ibrahim semuanya dari Jarir mereka semua dari Al A’masy -dalam jalur lain- telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair -dan lafazh ini adalah darinya- telah menceritakan kepada kami bapakku telah menceritakan kepada kami Al A’masy dari Sa’id bin Ubaidah dari Al Mustaurid bin Al Ahnaf dari Shilah bin Zufar dari Hudzaifah ia berkata; Pada suatu malam, saya shalat (Qiyamul Lail) bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu beliau mulai membaca surat Al Baqarah. Kemudian saya pun berkata (dalam hati bahwa beliau) akan ruku’ pada ayat yang ke seratus. Kemudian (seratus ayat pun) berlalu, lalu saya berkata (dalam hati bahwa) beliau akan shalat dengan (surat itu) dalam satu raka’at. Namun (surat Al Baqarah pun) berlalu, maka saya berkata (dalam hati bahwa) beliau akan segera sujud. Ternyata beliau melanjutkan dengan mulai membaca surat An Nisa` hingga selesai membacanya. Kemudian beliau melanjutkan ke surat Ali Imran hingga selesai hingga beliau selesai membacanya. Bila beliau membaca ayat tasbih, beliau bertasbih dan bila beliau membaca ayat yang memerintahkan untuk memohon, beliau memohon, dan bila beliau membaca ayat ta’awwudz (ayat yang memerintahkan untuk memohon perlindungan) beliau memohon perlindungan. Kemudian beliau ruku’. Dalam ruku’, beliau membaca: “SUBHAANA RABBIYAL ‘AZHIIM ” Dan lama beliau ruku’ hampir sama dengan berdirinya. Kemudian beliau membaca: “SAMI’ALLAHU LIMAN HAMIDAH” Kemudian beliau berdiri dan lamanya berdiri lebih kurang sama dengan lamanya ruku’. Sesudah itu beliau sujud, dan dalam sujud beliau membaca: “SUBHAANA RABBIYAL A’LAA ” Lama beliau sujud hampir sama dengan lamanya berdiri. Sementara di dalam hadits Jarir terdapat tambahan; Beliau membaca: “SAMI’ALLAHU LIMAN HAMIDAH RABBANAA LAKAL HAMDU, Ya Tuhan kami bagi-Mu segala puji(HR Muslim no.1291 dan Turmudzi no.243

عَنْ حُذَيْفَةَ قَالَ صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ لَيْلَةٍ قَالَ فَافْتَتَحَ الْبَقَرَةَ فَقَرَأَ حَتَّى بَلَغَ رَأْسَ الْمِائَةِ فَقُلْتُ يَرْكَعُ ثُمَّ مَضَى حَتَّى بَلَغَ الْمِائَتَيْنِ فَقُلْتُ يَرْكَعُ ثُمَّ مَضَى حَتَّى خَتَمَهَا قَالَ فَقُلْتُ يَرْكَعُ قَالَ ثُمَّ افْتَتَحَ سُورَةَ آلِ عِمْرَانَ حَتَّى خَتَمَهَا قَالَ فَقُلْتُ يَرْكَعُ قَالَ ثُمَّ افْتَتَحَ سُورَةَ النِّسَاءِ فَقَرَأَهَا قَالَ ثُمَّ رَكَعَ قَالَ فَقَالَ فِي رُكُوعِهِ سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيمِ قَالَ وَكَانَ رُكُوعُهُ بِمَنْزِلَةِ قِيَامِهِ ثُمَّ سَجَدَ فَكَانَ سُجُودُهُ مِثْلَ رُكُوعِهِ وَقَالَ فِي سُجُودِهِ سُبْحَانَ رَبِّيَ الْأَعْلَى قَالَ وَكَانَ إِذَا مَرَّ بِآيَةِ رَحْمَةٍ سَأَلَ وَإِذَا مَرَّ بِآيَةٍ فِيهَا عَذَابٌ تَعَوَّذَ وَإِذَا مَرَّ بِآيَةٍ فِيهَا تَنْزِيهٌ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ سَبَّحَ (رواه احمد 22175)

“Dari Hudzaifah bin Al Yaman berkata; Aku shalat bersama Nabi Shallallahu 'alaihi wa salam pada suatu malam. Beliau memulai dengan surat Al Baqarah, beliau membacanya hingga sampai penghujung ayat seratus, aku berkata; Setelah ini pasti beliau melakukan ruku', beliau terus membaca hingga sampai ayat duaratus, aku berkata; Setelah ini pasti beliau melakukan ruku', beliau terus membaca hingga sampai khatam, aku berkata; Setelah ini pasti beliau melakukan ruku', lalu beliau membaca surat 'Aali 'Imraan hingga mengkhatamkannya, aku berkata; Setelah ini pasti beliau melakukan ruku', lalu beliau membaca surat An Nisaa`, beliau membacanya kemudian ruku'. Saat ruku' beliau membaca: SUBHAAANA RABBIYAL 'ADHIIM. Berkata Hudzaifah bin Al Yaman: Lamanya beliau ruku' beliau sama seperti saat berdiri, lalu beliau sujud seperti lamanya saat ruku'. Saat sujud beliau membaca: SUBHAANA RABBIYAL A'LAA. Bila beliau membaca ayat rahmat, beliau berdoa, bila membaca ayat adzab beliau meminta perlindungan dan bila ada ayat penyucian untuk Allah 'azza wajalla beliau bertasbih”(HR Ahmad  no.22175)*Lamanya rukuk dan sujud seimbang dengan lamanya brerdiri.

@Tafsir Al-Khazin (4h275) dalam menganlisa Qs17a77-79 mencatat

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُومُ مِنْ اللَّيْلِ حَتَّى تَتَفَطَّرَ قَدَمَاهُ فَقَالَتْ عَائِشَةُ لِمَ تَصْنَعُ هَذَا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَقَدْ غَفَرَ اللَّهُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ قَالَ أَفَلَا أُحِبُّ أَنْ أَكُونَ عَبْدًا شَكُورًا فَلَمَّا كَثُرَ لَحْمُهُ صَلَّى جَالِسًا فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَرْكَعَ قَامَ فَقَرَأَ ثُمَّ رَكَعَ(واه البخاري 4460,  1062 ومسلم 5044))

“Dari Aisyah radliallahu ‘anha bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melaksanakan shalat malam hingga kaki beliau bengkak-bengkak. Aisyah berkata: Wahai Rasulullah, kenapa Anda melakukan ini padahal Allah telah mengampuni dosa anda yang telah berlalu dan yang akan datang? Beliau bersabda: “Apakah aku tidak suka jika menjadi hamba yang bersyukur?” Dan tatkala beliau gemuk, beliau shalat sambil duduk, apabila beliau hendak ruku’ maka beliau berdiri kemudian membaca beberapa ayat lalu ruku’(HR Bukhari no.4460, 1062 dan Muslim no.5044).

         Senada dengan Sabab Nuzul –Latar Belakang Turunnya Al-Quran S.2 Al-Baqarah 186 tercantum di awal bab makalah ini bahwa  seorang dari dusun  bertanya jika Tuhan itu dekat maka dia akan  berbisik-bisik dengan Tuhan. Dan dijawab oleh Allah bahwa  Tuhan itu dekat. Maka Rasulullah Saw juga bersabd Allah itu tidak tuli, lemahkan suara do’a :

عَنْ أَبِي مُوسَى الْأَشْعَرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكُنَّا إِذَا أَشْرَفْنَا عَلَى وَادٍ هَلَّلْنَا وَكَبَّرْنَا ارْتَفَعَتْ أَصْوَاتُنَا فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ ارْبَعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ فَإِنَّكُمْ لَا تَدْعُونَ أَصَمَّ وَلَا غَائِبًا إِنَّهُ مَعَكُمْ إِنَّهُ سَمِيعٌ قَرِيبٌ تَبَارَكَ اسْمُهُ وَتَعَالَى جَدُّهُ (رواه البخاري 3883 ومسلم 4873)

“ Dari Abu Musa Al Asy’ari r’a ia berkata; “Ketika Rasulullah Saw melihat orang-orang menuruni lembah sambil mengeraskan suara bertakbir, Allahu Akbar, Allahu Akbar laa ilaaha illallah (Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, tidak ada ilah yang berhak disembah selain Allah), maka Rasulullah Saw bersabda: “Rendahkanla suara kalian, karena kalian tidak menyeru kepada Dzat yang tuli dan Dzat yang ghaib. Sesungguhnya kalian menyeru Dzat yang Maha Mendengar lagi Maha Dekat dan Dia selalu bersama kalian” (HR Bukhari no.3883 dan Muslim no.4873)

          Melihat  nyata-nyata bahwa Rasulullah Saw shalat Qiyamul Lail baik di bulan Ramadhan maupun seluruh malam di luar Ramadhan, shalatnya  terlalu lama terlalu khusuk, membaca surat Al-Baqarah, surat An-Nisa` dan surat Ali ‘Imran  dalam SATU RAKAAT  shalat malam beliau. Demikian lamanya shalat beliau  dalam shalat malam ini bukan hanya dalam berdiri saja tetapi mencakup rukun-rukun  dalam rukuk dan sujudnya yang lain, maka   disana  terdapat hadis-hadis yang dapat  meneladani sedikit  dari  contoh shalat malam beliau salah satunya ialah Shalat Qiyamul Lail dengan membaca 300 Tasbih dalam shalat yang  kemungkinan  kita semua  masih mampu melaksanakannya dan karena  amalan 300 Tasbih ini maka shalat ini dinamakan Shalat Tasbih sebagaimana uraian berikut:

*Curhat kepada Allah*

@Qiyamul Lail:

1.Persiapan : Bangun jam o1.45 siap-siap bersuci dsb.

2.I’tikaf: Masuk Masjid mencari tempat yang paling aman dari suara dan sinar, tidak ada yang mengetahui dirinya kecuali Allah. * catatan(1)

 

3.Shalat Iftitah: 2 rakaat: Rakaat ke-1 membaca Alfatihah+surat 97 Al-Qadar, memohon pahala 1000 bulan . Rakaat ke-2 membaca Alfatihah +surat 110 An-Nashr, memohon pertolongan dan berhasil  mengejar  cita-cita *(catatan 2).

 

4.Shalatul Lail /Tahajjuj 8 rakaat dibagi 2, yaitu 4 rakaat+4 rakaat

 –(A) Empat rakaat-I membaca Tasbih 300 kali sebelum gerak berganti rukun dibagi 4, tiap rakaat 75 kali: Berdiri 15x,Ruku’10x,I’tidal:10x,Sujud 10x,Duduk 10x,Sujud 10x,Duduk 10x-yaitu……*(catatan3)

 

    ~Rakaat ke-1 membaca Alfatihah+S.19 Maryam 1-9 memohon penerus perjuangan mencapai cita-cita Jihad fi Sabilillah dalam arti yang luas, lalu membaca Tasbih lengkap 15 kali, sambil mengingat kembali dosa dan kesalahan sejak remaja dahulu.

   ~Rakaat ke-2 membaca Alfatihah+surat 26 Asyu’ara`69-85 memohon kesembuhan dari penyakit jasmani dan rohani, sambil ber-Tawashshul anamalan yang berat pernah dilakukan,

   ~Rakaat ke-3 membaca Alfatihah+surat 81 Atakwir 15-29 memohon taufiq dan ridho Allah supaya keinginan cita2nya  aesuai dengan Qudrat-Iradat Allah, sambil mengenang nikmat dari Allah yang pernah dirasakan,tidak mungkin diri dapat menggapainya  sampai berhasil.

   ~Rakaat ke-4 membaca Alfatihah + surat 55 Arrahman 1-17 memohon sih-kawelasan (belas kasihan Allah) atas semua rencana,program dan target sehingga dapat diselesaikan, sambil mengadu bahwa Allah itu Maha Besar tidak ada yang menyamai. Setelah Salam sujud lagi.

 

5. Sujud membaca do’a didahului dengan shalawat dan hamdalah serta do’a yang dirasakan paling bagus….. lalu curhat, mencurahkan seluruh uneg-uneg seluruh isi hati kesusaha, kesedihan, penderitaan, sakit yang terlalu berat, masalah yang melanda diri, keluarga, sanak kerabat, tetangga, kaum muslimin dan mukminin semua.

 

–(B) Empat rakaat kedua, Shalatullail-Tahajjuj  tidak dengan bacaan Tasbih dengan bacaan:

   ~Rakaat ke-1 membaca Alfatihah+surat 17 Al-Isra` 78-82 mohon rahmah-barokah obat-hati dari bacaan Al-Quran .

   ~ Rakaat ke-2 membaca Alfatihah+surat 20 Thaha 25-35 mohon kemuhadahan dalam menghadapi tugas dan ujian yang paling berat, agar tidak menyimpang dari dzikir memuji Allah.

   ~ Rakaat ke-3 membaca Alfatihah+surat  59 Al-Hasyr 22-24 mohon rahmah-barokah  yang terucap karena Allah adalah serba Maha dan  Mutlak Maha Sempurna.

   ~ Rakaat ke-4 membaca Alfatihah+ surat  35-41 mohon kepada Allah yang Maha Mendengar isi hati yang tersembunyi dan yang terucap mohon kabulnya do’a  untuk diri, ibu-bapak dan seluruh kaum musimin mukminin.

 

6. Shalat Witir 3 rakaat:

   ~ Rakaat ke-1 membaca Alfatihah+ surat 87 Al-A’la dengan memuji Allah itu Maha Suci tidak ada kekurangan apapun juga.

   ~  Rakaat ke-2 membaca Alfatihah + Al-Kafirun mengaku diri  manjadi seorang-hamba yang mukmin bukan orang kafir.

   ~  Rakaat ke-3 membaca Alfatihah + S. 112 Al-Ikhlash, menyerah diri kepada Allah  apapun yang akan dianugerahkan Allah kepada diri ini, karena Allah itu tempat bergantung semua masalah.

 

7.Jika masih  ada kesempatan  setelah membaca Tasbih 3 kali, membaca Alfatihah dengan memohon pertolongan Allah, surat Al-‘Alaq mohon keselamatan dari semua  keburukan dan kejahatan apa saja dan Al-Ikhlash menyerahkan segala urusan kepad Allah  lalu surat 33 Al-Ahzab 56 mohon rahmah barokah apa saja, lalu Shalawat 21x  memohon apa yang masih ketingalan yang belum  disebut sebelumnya.

*(catatan 4) Semua bacaan Al-Fatihah dan surat-surat tersebut di atas sesuai dan meneladani shalat Rasulullah dalam hadis

=========================o========================

*(catatan 1)

Pengertian  Malam:

 Aslinya malam itu ialah suatu keadaan yang gelap-pekat, sunyi senyap,  tidak ada suara, tidak ada sinar, semua  makhluk pada tidur semua. Nuansa demikian juga dirasakan oleh orang-orang pelaku sejarah: Nabi Zakariya, Nabi Yunus, Ashabul Kahfi bahkan Rasulullah Saw sebelum diutus menjadi nabi saat beliau ‘Uzlah di

guwa Khira`   dan ketika dikejar kaum musyrikin beliau bersembunyi 3 malam di dalam guwa Tsaur, ini dicatat dalam Al-Quran dan disinggung oleh hadis di bawah ini:

عَنْ عَلِيٍّ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ فِي الْجَنَّةِ غُرَفًا تُرَى ظُهُورُهَا مِنْ بُطُونِهَا وَبُطُونُهَا مِنْ ظُهُورِهَا فَقَامَ أَعْرَابِيٌّ فَقَالَ لِمَنْ هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ لِمَنْ أَطَابَ الْكَلَامَ وَأَطْعَمَ الطَّعَامَ وَأَدَامَ الصِّيَامَ وَصَلَّى لِلَّهِ بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ لَا نَعْرِفُهُ إِلَّا مِنْ حَدِيثِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ إِسْحَقَ وَقَدْ تَكَلَّمَ بَعْضُ أَهْلِ الْحَدِيثِ فِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ إِسْحَقَ هَذَا مِنْ قِبَلِ حِفْظِهِ وَهُوَ كُوفِيٌّ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ إِسْحَقَ الْقُرَشِيُّ مَدَنِيُّ وَهُوَ أَثْبَتُ مِنْ هَذَا وَكِلَاهُمَا كَانَا فِي عَصْرٍ وَاحِدٍ (رواه الترمذي 1907)

Telah menceritakan kepada kami Ali bin Hujr, telah menceritakan kepada kami Ali bin Mushir dari Abdurrahman bin Ishaq dari An Nu’man bin Sa’d dari Ali ia berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya di surga terdapat kamar-kamar yang mana bagian luarnya terlihat dari bagian dalam dan bagian dalamnya terlihat dari bagian luarnya.” Lantas seorang arab baduwi berdiri sambil berkata, “Bagi siapakah kamar-kamar itu diperuntukkan wahai Rasululullah?” Nabi menjawab: “Untuk orang yang berkata benar, yang memberi makan, dan yang senantiasa berpuasa dan shalat pada malam hari diwaktu manusia pada tidur.” Berkata Abu Isa: Ini merupakan hadits gharib yang tidak kami ketahui kecuali dari haditsnya Abdurrahman bin Ishaq dan sebagian ahli hadits telah mengomentari Abdurrahman bin Ishaq dari segi hapalannya, dia berasal dari Kufah. Adapun Abdurrahman bin Ishaq Al Qurasyi dia berasal dari Madinah dan hapalannya lebih kuat dari yang tadi, dan keduanya hidup sezaman”(HR Turmudzi no.1907).

~ Nabi Zakariya dalam kesedihan memohon  penerus perjuangan Jihad fi Sabilillah, beliau berdo’a dalam Mihrab  dlam nuansa sunyi senyap, gelap gulita, termaktub dalam Al-Quran:

إِذْ نَادَى رَبَّهُ نِدَاءً خَفِيًّا ذِكْرُ رَحْمَةِ رَبِّكَ عَبْدَهُ زَكَرِيَّا()إِذْ نَادَى رَبَّهُ نِدَاءً خَفِيًّا           ( مريم 23)

“(Yang dibacakan ini adalah) penjelasan tentang rahmat Tuhan kamu kepada hamba-Nya, Zakariya, yaitu tatkala ia berdo`a kepada Tuhannya dengan suara yang lembut”(S.19 Maryam 2-3)

~ Nabi Yunus  berdo’a dalam gelap pekat luar b iasa   dalam  perut ikan yang berada di dasar laut. Tercatat dalam Al-Quran:

وَذَا النُّونِ إِذْ ذَهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ أَنْ لَنْ نَقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ( الانبياء 87)

“Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: “Bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.”(S.21 Al-Anbiya` 87).

Maka Allah mendorong kita semua untuk bangun malam shalat Tahajjuj, maka Allah menjanjikan suatu kemuliaan:

وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَى أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا( الاسراء79)

Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu: mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji”(S.17 Al-Isra` 79).

~ Anak remaja Ashabul Kahfi  berdo’a di dalam Guwa  dalam gelap sekali sampai  tertidur  selama 350 tahun, tercatat dalam Al-Quran:

إِذْ أَوَى الْفِتْيَةُ إِلَى الْكَهْفِ فَقَالُوا رَبَّنَا ءَاتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا(الكهف10)

“Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu: mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji”(S.17 Al-Isra` 79).

~ Ketika Rasulullah Saw dikejar-kejar  kaum musyrikin dalam rangka hijrah beliau maka beliau istirahat di dalam Guwa Tsaur selama 3 malam, diabadikan Allah dalam Al-Quran:

إِلَّا تَنْصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُوا ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا فَأَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُ بِجُنُودٍ لَمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِينَ كَفَرُوا السُّفْلَى وَكَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ( التوبة 40)

“(Ingatlah) tatkala pemuda-pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua lalu mereka berdo`a: “Wahai Tuhan kami berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)””(S.18 Al-Kahfi 10).

 

ِ*(catatan 2)

Al-Quran S.97 Al-Qadar sangat menjanjikan pahala 1000 bulan.Sedangkan Qs110 mencatat kemenangan besar Nabi Saw merebut Kota Makkah.

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ(3)تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ(القدر4)

“Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan”(S.97 Al-Qadar 3-4)

إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ (النصر 1)

“Apabila telah ating pertolongan Allah dan kemenangan.”(S.110 An-Nashr 1)

*(catatan3)

Kitab Mushannaf ‘Abdur Razzaq (3h124) mencatat bahwa hadis shalat Tasbih dishahihkan oleh Shahih Ibnu Khuzaimah (2h223); Imam Al-Albani menyatakan Hasan karena ada hadis musyahid yang memperkuat riwayat Sunan Abu Dawud itu; Kitab Subulus-Salam.

# Ibnu Khuzaimah (4h442)  dalam shahihnya no.1149 meriwayatkan hadis shalat Tasbih melalaui jalur ‘Ikrimah-Ibnu ‘Abbas.

# Kitab Tanzihusy-Syari’ah (2h106) Abu Dawud  mengatakan hadis yang paling shahih dari shalat Tasbih ialah yang diterima oleh Ibnu Ma’in, Nasa`i, Ibnu Hibban, (Bukhari mentakhrij dalam bab Qiraat).

Sebaliknya Al-‘Uqaili menyatakan tidak ada yang shahih tidak ada yang hasan terutama nama Shidqah bin .Yazid, Musa bin ‘Abdul ‘Aziz dan Musa bin ‘Abdul Aziz yang dinilai Tsiqqah oleh Ibnu Ma’in, Nasa`i, para ulama menilai shahih atau hasan.

            Yang menilai shahih atau menilai hasan Ibnu Mandah, Al-Khathib, As-Sam’ani, Abu Musa  al-Madini, Abul Hasan al-Mufadhdhal, Al-Mundziri, Ibnush-Shalah, An-Nawawi, As-Subki.

     Ad-Dailami  mengataan  bahwa shalat Tasbih memuji hadis  itu shahih, demikian juga Daraquthni, Baihaqi, Muslim, Al-Hakim. Ibnu Hajar. Daraquthni meriwayatkannya yang nilainya hasan. ‘Abdul ‘Aziz bin Abi Dawud mengatakan siapa ynag ingin masuk surga harus shalat Tasbih.

# Kitab Minhajus Sunnah (7h238) mencatat Shalat Tasbih ada 2 masalah, yang lebih kuat ialah dusta,  Ahmad bin Hanbal mengatakannya makruh karena hadisnya cacat, pengikut madzhab Maliki,  Hanafi, Syafi’i,  melainya mustahap.

# Kiab Syarhus Sunnah (3h439) menukil hadis Tasbih riwayat Abu Dawud  yang berumber dari ‘Ikrimah dari Ibnu ‘Abbas dengan fadhilahnya. Ibnul Mubarak ditanya soal shalat Tasbih mengatakan bacaan Tasbih sebelum dan sesudah Al-Fatihah masing-masing 15 kali sebelum berdiri tidak usah, tetapi 300 kali harus dipenuhi.

# Al-Ba’its  ‘ala Inkaris Sunnah (1h66) membolehkan membaca ayat dan Tasbih banyak-banyak di dalam shalat berdasarkan hadis .shalat.

#Dikutip pula bahwa slata Tasbih dinamakan Shalat Ar-Raghaib yang disyari’atkan  karena banyaknya sunat yang disukai.

#Dalam Shahih Ibnu Khuzaimah (2h223) tercatat no.1216 hadis shalat Tasbih bersumber dari Ibnu ‘Abbas. Imam Al-Albani menyatakannya Dha’if, tetapi ada musyhid yang memperkuat dari Sunan Abu Dawud.

# Al-Mustadrak Al-Hakim  (3h214) no.1140 meriwayatkan hadis itu melalui sumber Anas bin Malik  dari Ummu Sulaim melalui sanad ini shihih menurut syarat Muslim dengan musyahidnya lewat Al-Yamaniyyin. Di halaman lain (1h462) no.1191 mencatat hal yang sama.

# Sunan Baihaqi  al-Kubra (3h51) no.680 meriwayatkan hais tentang 10 rakaat shalat Tathawwu’ -Nabi Saw  dan shalat Tasbih yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas. (10 rakaat, yaitu:4 seebelum Zhuhur, 2sesudahnya, 4 sebelum ‘Ashar).

# Kitab Mushannaf ‘Abdur Razzaq (3h124) mencatat bahwa hadis shalat Tasbih dishahihkan atau hasan oleh Ibnu Mandah, Al-Hakim, Al-Mundziri, Ibnush Shalah.

       Yang menyatakan mustahab ialah ulama Syafi’iyah berdasarkan hadis dari Ibnu ‘Abbas dengan mutabi’ oleh  hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Rahawaih, Ibnu Khuzaimah, Al-Hakim, karena ada Mutab i’ yang diriwayatkan oleh Ath-Thabrani, Abu Nu’aim, Ath-Thabrani lewat Abul Jauza` dan Daraquthni  dengan 6 jalur.

#KItab Al-Fawaidul Majmu’ah tulisan Ay-Syaukani (1h19) meriwayatkan hadis shalat Tasbih jalur Al’Abbas diriwayatkan oleh Daraquthni marfu’ lewat Ibnu ‘Abbas dan Abu Rafi’, Ad-Dailami juga meriwayatkannya.

# Ibnu Hajar menilai ( لَا بَأسَ) “Tidak ada masalah”

#Kitab Shahihut Targhib wat-Tarhib (1h165) menilai hadis shalat Tasbih melalui jalur ‘Ikrimah-Ibnu ‘Abbas Shahih li Ghairihi (HR Abu Dawud, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, Al-Hafizh mengatakan hadis telah diriwayatkan melalui jalur yang banyak oleh Jamaah dari Sahabat yang dinilai shahih. Muslim bin Hajjaj mengatakan bahwa tidak ada yang lebih baik dari pada jalur lewat Ibnu ‘Abbas-‘Ikrimah ini.

# Kitab Shahih&Dha’if Sunan Turmudzi (1h481) ada tercatat dua jalur: 1) Dari Anas – Ummu Sulaim. 2) Ibnu ‘Abbas-Abu  Rafi’  maka Imam Al-Albani menilai hasan.

# Kitab  Tanzihusy Syari’ah (2h107) mencatat bahwa Adz-Dzahabi yang sanadnya lewat Ibnu ‘Abbas bernilai hasan*).

*(catatan 4)

Bacaan  surat-surat dan do’a setiap membaca surat tersebut senada dan meniru Rasulullah Saw dalam hadis berikut:

أَنَّ عَاصِمَ بْنَ حُمَيْدٍ يَقُولُ سَمِعْتُ عَوْفَ بْنَ مَالِكٍ يَقُولُ قُمْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبَدَأَ فَاسْتَاكَ وَتَوَضَّأَ ثُمَّ قَامَ فَصَلَّى فَبَدَأَ فَاسْتَفْتَحَ مِنْ الْبَقَرَةِ لَا يَمُرُّ بِآيَةِ رَحْمَةٍ إِلَّا وَقَفَ وَسَأَلَ وَلَا يَمُرُّ بِآيَةِ عَذَابٍ إِلَّا وَقَفَ يَتَعَوَّذُ ثُمَّ رَكَعَ فَمَكَثَ رَاكِعًا بِقَدْرِ قِيَامِهِ يَقُولُ فِي رُكُوعِهِ سُبْحَانَ ذِي الْجَبَرُوتِ وَالْمَلَكُوتِ وَالْكِبْرِيَاءِ وَالْعَظَمَةِ ثُمَّ سَجَدَ بِقَدْرِ رُكُوعِهِ يَقُولُ فِي سُجُودِهِ سُبْحَانَ ذِي الْجَبَرُوتِ وَالْمَلَكُوتِ وَالْكِبْرِيَاءِ وَالْعَظَمَةِ ثُمَّ قَرَأَ آلَ عِمْرَانَ ثُمَّ سُورَةً ثُمَّ سُورَةً فَعَلَ مِثْلَ ذَلِكَ  (رواه النسائي 1120 وابوداود 739)

Bahwa ‘Ashim bin Humaid berkata; aku mendengar ‘Auf bin Malik berkata; “Aku pernah bangun bersama Nabi Saw, lalu beliau mulai bersiwak dan berwudhu. Kemudian beliau berdiri dan shalat. Beliau mengawali shalatnya dengan membaca surat Al Baqarah. Beliau tidak melewati ayat tentang rahmat kecuali beliau berhenti dan memohon (rahmat). Beliau juga tidak melewati ayat tentang adzab kecuali beliau berhenti dan berlindung darinya. Kemudian beliau ruku’ hingga ia tenang dalam keadaan ruku’ seukuran berdirinya, sambil membaca: ‘Subhana dzil jabaruuti wal malakuuti wal kibriyaai wal ‘adzamati (Maha Suci Dzat yang mempunyai hak memaksa dan kekuasaan, serta yang memiliki kesombongan dan keagungan) ‘ saat ruku’. Lantas beliau Shallallahu’alaihiwasallam sujud seukuran ruku’nya tadi dengan membaca: ‘Subhana dzil jabaruuti wal malakuuti wal kibriyaai wal ‘adzamati’. Kemudian beliau membaca surat Ali ‘Imran, kemudian surat lainnya, dan beliau juga melakukan hal yang sama – di rakaat berikutnya”(HR An-Nasa`I no.1120 dan Abu Dawud no.739)

Silahkan buka internet situs : http://pondoquranhadis.wordpress.com

Kirimkan naskah ke Email::pondokilmu7@gmail.com-Tlp:0318963843

 


Kategori

%d blogger menyukai ini: