Oleh: pondokquranhadis | Oktober 5, 2011

HOMOHOMINI LUPUS

011(9)7 Tafsir Tematis Kontemporer

Homo homini lupus Sesuk sing tak pangan Sopo?

Sesuk sing tak pangan opo?

(Imam Muchlas)

Pengantar

Homo homini lupus merupakan pameo bangsa Barat dan kaum kapitalis, kolonial di jaman dahulu, maksud Homo homini lupus ialah bahwa kata Thmas Hobbes manusia itu persis serigala terhadap manusia lainnya. Jika diterjemah ke bahasa Jawa (Kata sindiran dari artis Waljinah):“Sesuk sing tak pangan sopo? (Besuk pagi siapa yang akan aaya terkam)Padahal di mukanya banyak orang melarat yang sambat “Sesuk sing tak pangan opo? (Besuk pagi yang saya apa?) Kata sindiran Waljinah ini maknanya ialah bahwa di dalam suatu jaman ketika orang sudah tidak mempunyai perasaan belas kasihan kepada sesama maka jiwa mereka adalah egoistis, Moto duwiten, jiwa mereka dikuasai oleh nafsu serakah, terlalu mementingkan dirinya sendiri, tidak peduli nasib orang lain, mereka tidak mempunyai rasa kasih sayang kepada sesama. Seorang yang kaya maka bau masakannya saja yang sampai kepada tetangganya yang sangat melarat, yang hanya menelan air liurnya sendiri kepengin merasakan masakan yang sangat lezat si kaya itu tetapi tidak tercapai. Beberapa pakar Ilmu Jiwa mengibaratkan mereka yang jiwanya Egoistis itu seperti kanak-kanak umur 1-s/d- 6 tahun maka jiwanya dikuasai oleh nafsu egois ini, AKU-nya terlalu besar; Dalam bahasa Arab namanya Ananiyyun artinya semua diaku sebagai milik dirinya sendiri, bahkan wataknya suka makan dan makan apa saja. Dalam tafsir Ibnu Katsir (5h287) Tafsir At-Thabari (J18h308) tercatat bahwa ketika bayi Musa menarik jenggot Fir’aun hampir saja Fir’aun membunuh bayi Musa, tetapi dengan cepat Nyonya Fir’aun mencegahnya dan meminta Fir’aun menawarkan kepada bayi Musa bara api bersama-sama dengan mutiara. Maka jadilah dan ternyata bayi Musa memilih bara api, sehingga Nyonya Fir’aun membuktikan bahwa bayi Musa tidak bersalah, jangan dibunuh, sehingga bayi Musa selamat dari ancaman bunuh Fir’aun. Inilah salah satu gejala atau tanda bahwa bayi itu jiwanya masih egoistis, suka makan apa saja, semua serba milik dirinya sendiri, mobilku, rumahku, ibuku, mainanku, aku-aku semua aku!!!. Jiwa egoististis ini jika menguasai orang banyak maka timbul kelompok faham materialisme, kapitalis, feodalistis, kolonialis, penjajah dan penjarah harta bangsa yang dijajah maka dengan kata lain.(Thomas Hobbes mengemukakan teori) Homo momini lupus, manusia itu bagaikan serigala suka memakan hak manusia lain, menjadi pengisap darah, menjadikan orang lain sebagai obyek-sasaran pemerasan untuk mengumpulkan harta kekayaan sebanyak-banynya. Sampai Waljinah juga menirukan ucapan orang – orang seperti itu: “Sesuk sing taka pangan sopo?” Dalam bidang perdagangan pameo ini berkembang lebih kejam: Masing-masing pengusaha berusaha menjatuhkan dan membunuh perusahaan lain, konkurensi, persaingan bebas sehingga dia ingin dirinya sendiri yang berkuasa penuh tidak ada yang mangalahkannya. Maka dapat diduga kiranya mereka yang melakukan perbuatan Homo homini lupus, atau mereka yang memakan siapa saja dan memakan apa saja (koruptor) memakan hak rakyat dan hak Allah itu adalah mereka yang tidak mau membayar zakat, infaq atau sodaqoh.

Alangkah indahnya jika kita merenungkan isi Al-Quran berikut: Al-Quran 51 Adz-Dzariyat 15-22

إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ()ءَاخِذِينَ مَا ءَاتَاهُمْ رَبُّهُمْ إِنَّهُمْ كَانُوا قَبْلَ ذَلِكَ مُحْسِنِينَ()كَانُوا قَلِيلًا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ()وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ(18)وَفِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ لِلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ(1الذاريات)

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada di dalam taman-taman (surga) dan di mata air-mata air, sambil mengambil apa yang diberikan kepada mereka oleh Tuhan mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat baik; Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam; Dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah). Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bahagian”(S.51 Adz-Dzariyat 15-19).

Tema dan sari Tilawah

1.Orang yang bertakwa hidupnya bahagia penuh nikmat dari Allah 2.Dalam hidupnya waktu di duniamereka banyak sekali karya jasanya kepada orang banyak.

3.Mereka mengurangi tidur khusus untuk berlama-lama dzikir dan istighfar, mohon ampun kepada Allah.

4.Mereka darmawan sangat banyak amalnya karena di dalam harta mereka tersimpan hak milik kaum dhu’afa, fakir miskin yang datang meminta dan kaum dhu’afa` yang dating meminta.

Masalah dan analisa jawaban

~ Masalah ke-1. Bagaimana pengertian nikmat bahagia terkait dengan sikap takwa seseorang? Jawaban sementara: Nikmat -bahagia itu letaknya di dalam hati dan sangat berbeda bagi masing-masing pribadi mengenai faktor apa yang membuat dirinya bahagia. Adapun orang yang bertakwa itu marasa bahagia karena telah berhasil memperoleh ridho Allah dari amal soleh yang telah mereka kerjakan.

~ Masalah ke-2: Apa yang dimaksud dengan hak milik kaum dhu’afa` yang tersimpan di dalam tumpukan harta orang-orang yang kaya? Hak milik kaum dhu’afa` dimaksud dalam Qs51a19 itu ialah bagian zakat yang wajib dibayar oleh orang kaya kepada mereka yang berhak, yaitu kaum fakir, miskin, orang yang tercekik hutang, budak, orang muallaf dan sebagainya.

~ Masalah ke-3: bagaimana hukumnya jika seorang yang wajib membayar zakat, tetapi tidak menunaikan kewajiban itu? Orang yang sudah wajib zakat tetapi enggan membayar zakat dapat dituduh dia itu merampas harta hak milik mereka yang wajib diberi bagian zakatnya.

Pendalaman dan penelitian

BAB SATU

Takwa itu membawa bahagia

~ Masalah ke-1. Bagaimana pengertian bahagia terkait dengan sikap takwa seseorang? Jawaban sementara: Bahagia itu letaknya di dalam hati dan sangat berbeda bagi masing-masing pribadi faktor apa yang membuat dirinya bahagia. Orang yang bertakwa itu marasa puas, legolegowo setelah berhasil dapat membahagiakan orang lain dan memperoleh ridho Allah dari amal yang telah dikerjakan.

Kunci nikmat dan kebahagiaan hidup di dunia ialah situasi dan kondisi IMTAQ dan IPTEK (Iman dan Taqwa serta logis ilmiah) yang dapat kita spekulasikan sebagai berikut:

(1) Iman meliputi rukun iman yang 6 dilengkapi dengan rukun Islam yang 5.

Rukun Iman: ialah Percaya kepada Allah, Malaikat, Kitab, Rasul, Hari Kiamat, Qadha`-Qadar. Rukun iman harus dibuktikan dengan perbuatan yang intinya disusun dalam Rukun Islam ialah: Syahadat, Shalat, Zakat, Puasa, Haji,Hukum Mu’amalat, Jinayat.

Dan tumbuh jiwa yang Ihsan dari jiwa yang suci yaitu mengabdi kepada Allah dengan penuh keyakinan Allah itu mengamati kita.

(2)Makna Taqwa dalam rangkaian IMTAQ&IPTEK Arti menurut bahasa dan arti menurut Istilah

@ Taqwa menurut Ar-Raghib (tth:569) asal dari lafal Al-Wiqayah artinya menjaga diri dari derita atau sesuatu yang menyakitkan dan menjauhkan diri dari noda dan dosa kepada Allah.

Jika pengertian ini kita kembangkan dapat menjadi IPTEK yang konskwensi artinya ialah sangat berhati-hati jangan membuat bencana, yang menyakitkan diri sendiri lebih-lebih kepada orang lain bahkan arti Taqwa itu ialah sangat takut berbuat salah kepada siapa saja dan takut berbuat dosa kepada Allah. Takut berbuat salah sama dengan berlaku yang benar dapat disingkat menjadi IPTEK (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi) sebagai hasil penelitian ilmiah, yang sudah diuji para pakar, mencakup seluruh cabang disiplin ilmu, ilmu-ilmu sosial, eksakta dan humaniora.

Sesuatu itu benar jika diakui benar oleh semua orang segala jaman, seluruh tempat. Sedangkan takut berbuat dosa artinya berbuat dalam seluruh gerak-gerik hidup itu mendapat ridho Allah, yaitu selamat dari murka Allah.

Yang paling ideal Taqwa itu ialah menjaga diri dari hal-hal yang dimurkai Allah, menjaga diri dari azab Allah, sebaliknya menjaga diri agar supaya diri mendapat rahmat dan ridho Allah. Sehingga taqwa itu ialah membuat diri menjadi sumber amal soleh, semua perbuatannya sangat menyenangkan sesama makhluk hidup, betul-betul takut menyakitkan hati orang lain. Lebih jeli lagi sungguh-sungguh menjaga dan membela yang benar dan yang baik, menyenangkan orang banyak. Jadi menurut istilah arti Taqwa itu ialah menjaga diri dari derita sakit karena adanya perbuatan salah dan azab sebab berbuat salah kepada Allah azab di dunia dan di akhirat; sebaliknya menepati Rukun Iman, Rukun Islam dan Ihsan dengan cara tunduk patuh kepada hukum Allah, sesuai dengan hadis Nabi Saw:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا بَعَثَ مُعَاذًا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَلَى الْيَمَنِ قَالَ إِنَّكَ تَقْدَمُ عَلَى قَوْمٍ أَهْلِ كِتَابٍ فَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ عِبَادَةُ اللَّهِ فَإِذَا عَرَفُوا اللَّهَ فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ قَدْ فَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِي يَوْمِهِمْ وَلَيْلَتِهِمْ فَإِذَا فَعَلُوا فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ فَرَضَ عَلَيْهِمْ زَكَاةً مِنْ أَمْوَالِهِمْ وَتُرَدُّ عَلَى فُقَرَائِهِمْ فَإِذَا أَطَاعُوا بِهَا فَخُذْ مِنْهُمْ وَتَوَقَّ كَرَائِمَ أَمْوَالِ النَّاسِ(رواه البخاري 1365 ومسلم 28

 “Dari Ibnu ‘Abbas radliallahu ‘anhuma bahwa ketika Nabi Shallallahu’alaihiwasallam mengutus Mu’adz radliallahu ‘anhu ke negeri Yaman, Beliau berkata,: “Kamu akan mendatangi Ahlul Kitab, maka hendaklah da’wah yang pertama kali lakukan kepada mereka adalah mengajak mereka untuk ber’ibadah kepada Allah. Jika mereka telah mengenal Allah, maka beritahukanlaAh bahwa Allah mewajibkan atas mereka shalat lima waktu sehari semalam. Dan jika mereka telah melaksanakannya, maka beritahukanlah bahwa Allah telah mewajibkan atas mereka shadaqah (zakat) dari harta mereka yang akan diberikan kepada orang-orang faqir dari mereka. Jika mereka telah menaatinya, maka ambillah dari mereka (sesuai ketentuannya) dan peliharalah kesucian harta manusia”(HR Bukhari no.1365 dan Muslim no.28).

 

BAB  DUA

Hak milik kaum dhu’afa`

~ Masalah ke-2: Apa yang dimaksud dengan hak milik kaum dhu’afa`  yang tersimpan di dalam tumpukan  harta  orang-orang yang  kaya di dalam Al-Quran S.51 Adz-Dzariyat 19 tersebut di atas? Hak milik kaum dhu’afa` dimaksud dalam Qs51a19 itu ialah bagian zakat yang wajib dibayar oleh orang kaya  kepada mereka yang berhak.

          Secara sederhana semua orang Islam mengetahui apa yang disebut Rukun Iman dan Rukun Islam. Rukun Iman ialah percaya kepada Allah, malaikat, nabi, kitab suci, takdir dan hari kiamat. Rukun Islam ialah syahadat, shalat, zakat, puasa dan  haji.

         Zakat merupakan salah satu Rukun Islam artinya orang Islam yang telah memenuhi ketentuan Hukum Zakat itu dia wajib  membayar zakat dari harta yang ada di tangannya.

Nash Al-Quran yang lebih lengkap menyinggung syari’at zakat, secara umum ialah s6a141. S.2 Al-Baqarah 267, S. 98 Al-Bayyinah ,(S.87 Al-A’la 14, S.9 At-Taubat 103, S.51 Adz-Dzariyat 19 dan beberapa hadis Nabi Saw;

HukumZakat

        Zakat itu hukumnya wajib atas orang Islam. Adapun  jenis harta yang wajib dizakati ialah ternak, hasil bumi, emas dan perak, harta perdagangan dan kekayaann lain dengan beberapa syarat tertentu. Di samping itu ada zakat  fitri (zakat fitrah) wajib ditunaikan oleh orang Islam yang mempunayi kelebihan rezeki satu hari Hari Haraya ‘Idul Fitri K.l. 2,7 kg bahan makanan setiap satu jiwa yang ada di saat  1 Syawal.

 

 

1. Syarat rukun Zakat       

  Zakat diwajibkan atas orang Islam, baligh, berakal, merdeka, milik sendiri, hartanya mencapai satu nishab), cukup satu tahun, kecuali hasil bumi dan harta temuan (durian runtuh) tidak harus menunggu satu haun,

2.Macam-macam Harta dan ukuran Nishabnya

          Para ulama sudah merumuskan angka-angka nishab dan zakatnya masing-masing,yaitu-

(a) Unta 5 ekor unta zakatnya 1 ekor kambing atau tiap-tiap 40 ekor unta zakatnya 1 ekor unta yang berumur 2-3 tahun.

(b) Sapi atau kerbau  tiap-tiap 40 ekor sapi/kerbau zakatnya seekor anak sapi atau kerbau betina yang berumur 2-3 tahun.

(c) Kambing  jika  jumlahnya mencapai  120 ekor maka tiap 40 ekor kambing zakatnya 1 ekor kambing berumur 2-3 tahun.

(d) Emas 93,4 gram, perak 624 gram zakatnya 2,5%. Barang temuan(durian runtuh, harta yang datang secara tiba-tiba) zakatnya 20%. Ukuran nishabnya sama dengan emas (93,4 gram).

(e) Emas 93,4 gram, perak 624 gram, dirham 200, dinar 20 dinar semua zakatnya 2,5%.

(f) Harta Perdagangan.

Jika barang perdagangan dalam satu tahun nilainya seharga nishab emas (93,4 kg), maka barang perdagangan tersebut wajib dikeluarkan zakatnya 2,5%nya berdasarkan hadis Rasulullah Saw sebagai berikut :

(g)  Zakat Hasil Bumi

      Buah-buahan seperti kurma, biji-bijian yang mengenyangkan seperti beras, gandum, jagung dan yang semisalnya  wajib dizakati jika sudah mencapai nishabnya (= 691,2 kg ). Zakat buah-buahan dan biji-bijian tidak perlu haul (satu tahun) tetapi dikeluarkannya pada waktu panen.

     Prof. Dr. Yusuf Qardhawi  seorang ulama kaliber dunia yang mewakili ulama kontemporer itu membagi al-amwal az-zakawiyah atau harta yang wajib dizakati ada sembilan kategori, 1. ternak, 2. Emas dan perak, 3. Perdagangan, 4. Hasil bumi,  5. Madu dan produksi hewani, 6. Barang tambang dan hasil laut, 7. Investasi pabrik, gedung, dan lain-lain, 8. Pencaharian, jasa dan profesi, 9. Saham dan obligasi..

         Dalil  tentang zakat hasil bumi ialah firman Allah :

وَهُوَ الَّذِي أَنْشَأَ جَنَّاتٍ مَعْرُوشَاتٍ وَغَيْرَ مَعْرُوشَاتٍ وَالنَّخْلَ وَالزَّرْعَ مُخْتَلِفًا أُكُلُهُ وَالزَّيْتُونَ وَالرُّمَّانَ مُتَشَابِهًا وَغَيْرَ مُتَشَابِهٍ كُلُوا مِنْ ثَمَرِهِ إِذَا أَثْمَرَ وَءَاتُوا حَقَّهُ يَوْمَ حَصَادِهِ وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ( الانعام141)

Dan Dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung, pohon korma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya), dan tidak sama (rasanya). Makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila dia berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan dikeluarkan zakatnya); dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan”(S.6 Al-An’am 141)

~ Nishab zakat hasil tanaman adalah sebanyak lima kwintal (5 wasaq), sebagaimana hadits Rasulullah SAW :

      Dari Abu Said Al-Khudri ra, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda : “Tidak ada zakat pada barang seperti tanaman dan biji-bijian yang kurang dari 5 wasaq.” (HR. Al-Bukhari).

 عَنْ عَمْرِو بْنِ يَحْيَى الْمَازِنِيِّ عَنْ أَبِيهِ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا سَعِيدٍ الْخُدْرِيَّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْسَ فِيمَا دُونَ خَمْسِ ذَوْدٍ صَدَقَةٌ مِنْ الْإِبِلِ وَلَيْسَ فِيمَا دُونَ خَمْسِ أَوَاقٍ صَدَقَةٌ وَلَيْسَ فِيمَا دُونَ خَمْسَةِ أَوْسُقٍ صَدَقَةٌ (رواه البخاري 1355 ومسلم 1625)

“Dari 'Amru bin Yaha Al Maziniy dari bapaknya berkata; Aku mendengar Abu Sa'id Al Khudriy berkata; Nabi Saw  telah bersabda: "Tidak ada zakat pada unta dibawah lima ekor, tidak ada zakat harta dibawah lima wasaq dan tidak ada zakat pada hasil tanaman dibawah lima wasaq"(HR Bukhari no.1355 dan Muslim no.1625).

عَنْ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ أَبِيهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فِيمَا سَقَتْ السَّمَاءُ وَالْعُيُونُ أَوْ كَانَ عَثَرِيًّا الْعُشْرُ وَمَا سُقِيَ بِالنَّضْحِ نِصْفُ الْعُشْرِ)رواه البخاري 1388(

"Dari Salim bin 'Abdullah dari bapaknya r.a. dari Nabi Saw  bersabda: "Pada tanaman yang diairi dengan air hujan, mata air, atau air tanah maka zakatnya sepersepuluh, adapun yang diairi dengan menggunakan tenaga maka zakatnya seperduapuluh”(HR Bukhari no.1388).

Dalam hal dinar dan dirham  hadis riwayat  Abu Dawud no.1342 mencatat  ketentuan sebagai berikut:

 عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ( بِبَعْضِ أَوَّلِ هَذَا الْحَدِيثِ) قَالَ فَإِذَا كَانَتْ لَكَ مِائَتَا دِرْهَمٍ وَحَالَ عَلَيْهَا الْحَوْلُ فَفِيهَا خَمْسَةُ دَرَاهِمَ وَلَيْسَ عَلَيْكَ شَيْءٌ يَعْنِي فِي الذَّهَبِ حَتَّى يَكُونَ لَكَ عِشْرُونَ دِينَارًا فَإِذَا كَانَ لَكَ عِشْرُونَ دِينَارًا وَحَالَ عَلَيْهَا الْحَوْلُ فَفِيهَا نِصْفُ دِينَارٍ فَمَا زَادَ فَبِحِسَابِ ذَلِكَ قَالَ فَلَا أَدْرِي أَعَلِيٌّ يَقُولُ فَبِحِسَابِ ذَلِكَ أَوْ رَفَعَهُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَيْسَ فِي مَالٍ زَكَاةٌ حَتَّى يَحُولَ عَلَيْهِ الْحَوْلُ إِلَّا أَنَّ جَرِيرًا قَالَ ابْنُ وَهْبٍ يَزِيدُ فِي الْحَدِيثِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْسَ فِي مَالٍ زَكَاةٌ حَتَّى يَحُولَ عَلَيْهِ الْحَوْلُ   (رواه ابو داود 1342)

”Dari Ali ra.. dari Nabi Saw (dengan sebagian permulaan hadits ini) berkata: “Maka bila engkau memiliki dua ratus dirham, dan telah mencapai haul maka padanya terdapat zakat lima dirham, dan engkau tidak berkewajiban apapun yaitu pada emas hingga engkau memiliki dua puluh dinar. Maka apabila engkau memiliki uang dua puluh dinar dan telah mencapai haul maka padanya zakat setengah dinar, kemudian selebihnya sesuai dengan perhitungan tersebut”.{ Zuhair berkata: “Aku tidak tahu apakah Ali mengatakan; sesuai dengan perhitungan tersebut atau ia merafa'kannya (menisbatkan perkataan kepada Rasulullah shallAllahu wa'alaihi wa sallam) kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam” }. Dan tidak ada zakat pada harta hingga masuk satu haul. Hanya saja Jarir berkata; Ibnu Wahb menambahkan dalam hadits tersebut dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam; tidak ada zakat pada harta hingga masuk satu haul”(HR Abu Dawud no. 1342.

Zakat Profesi

Zakat Profesi adalah zakat penghasilan bila telah mencapai nisab. misalnya pegawai negeri atau swasta, konsultan, dokter, notaris, akuntan, artis, dan wiraswasta.

Dalil wajibnya zakat profesi ialah Al-Quran S.2 Al-Baarah 267 dan QS. 9:103:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَنْفِقُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَلَا تَيَمَّمُوا الْخَبِيثَ مِنْهُ تُنْفِقُونَ وَلَسْتُمْ بِآخِذِيهِ إِلَّا أَنْ تُغْمِضُوا فِيهِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ(البقرة 267)

Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu nafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji”(S.2 Al-Baaqarah 267).

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ( التوبة 103)

Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan mendo`alah untuk mereka. Sesungguhnya do`a kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”(S.9 At-taubat 103).

وَفِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ لِلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ(1الذاريات1519 )

“Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bahagian”(S.51 Adz-Dzariyat 15 dan S.70 Al-Ma’araij 25).

Di dalam harta mereka ada kewajiban zakat yang tertentu untuk orang miskin yang meminta-minta maupun orang  yang miskin yang malu meminta”.

         Pembahasan mengenai zakat profesi sulit dijumpai uraian yang rinci berbeda dengan ketentuan zakat yang lain. Tetapi tidak  berarti hasil profesi bebas dari wajibnya zakat, karena zakat secara hakikatnya adalah pungutan terhadap kekayaan golongan yang memiliki kelebihan harta untuk diberikan kepada golongan yang kekurangan.

Waktu pembayaran zakat

~   Abu Hanifah, Malik dan ulama moderat, seperti Muh Abu Zahrah dan Abdul Wahab Khalaf  menghitung waktunya mulai dari awal sampai akhir harta itu diperoleh, kemudian setelah mencapai  satu tahun penghasilan itu dijumlah dan kalau sudah sampai nisabnya maka wajib dibersihkan dengan membayar zakatnya.

~  Berbeda sedikit dengan Abu Hanifah di atas maka Yusuf Qardhawi tidak mensyaratkan haul, tetapi zakat dikeluarkan langsung ketika mendapatkan harta tersebut. Qardhawi mengqiyaskan zakat profesi dengan Zakat Pertanian yang wajib dibayar pada setiap waktu panen,  yaitu saat menerima penghasilan.

~ Wajibnya zakat profesi merujuk kepada wajibnya  zakat hasil bumi maka pendapatan yang dibandingkan adalah pendapatan selama setahun. Tetapi penghasilan profesi dari segi wujudnya berupa uang. maka perhitungannya lebih dekat dihitung dengan emas. Maka oleh karena itu angka-angka zakat profesi diqiyaskan dengan zakat emas atau perak, yaitu 2,5% dari seluruh penghasilan kotor. Hadits yang menyatakan kadar zakat emas dan perak adalah:

“Bila engkau memiliki 20 dinar emas, dan sudah mencapai satu tahun, maka zakatnya setengah dinar (2,5%)” (HR. Ahmad, Abu Dawud dan Al-Baihaqi).

Menurut Yusuf Qardhawi perhitungan zakat profesi dibedakan menurut dua cara:

~ Bagi mereka yang diluaskan rezekinya oleh Allah zakatnya dari 2,5% dari penghasilan kotor seara langsung, baik dibayarkan bulanan atau tahunan..

~ Bagi mereka yang penghasilannya pas-pasan zakatnya dihitung setelah dipotong dengan kebutuhan pokok, zakatnya 2,5% dari gaji setelah dipotong dengan kebutuhan pokok.                             . 

4.Mustahiq Zakat , orang atau lembaga yang memiliki hak zakat

Mustahiq adalah subyek atau orang-orang yang berhak menerima zakat harta, terdiri dari delapan golongan. Sebagaimana firman Allah SWT :

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَاِبْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ (التوبة 60)

“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berutang, untuk jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”(S.9 At-Taubat 60).

(1)Orang fakir, yaitu orang yang tidak ada harta untuk keperluan hidup sehari-hari dan tidak mampu untuk bekerja dan berusaha.

(2)Orang miskin, yaitu orang yang penghasilan sehari-harinya tidak mencukupi kebutuhan hidupnya.

(3)‘Amil, yaitu orang-orang yang bertugas mengumpulkan dan membagi-bagikan zakat kepada orang yang berhak menerimaknya. ‘Amil dapat disebut juga panitia.

(4)Muallaf, yaitu orang yang baru masuk Islam dan imannya masih lemah.

(5)Hamba sahaya (budak), yaitu orang yang belum merdeka.

(6)Gharim, yaitu orang yang mempunyai banyak hutang sedangkan ia tidak mampu untuk membayarnya.

(7)Sabilillah, yaitu orang atau lembaga yang berjihad fi Sabilillah.

(8)Ibnu Sabil, yaitu orang yang kehabisa bekal dalam perjalanan (musafir).

@ Catatan

Yang dinamakan fakir ialah orang yang hampir tidak memiliki apa-apa sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan pokok hidupnya.
Yang dinamakan  miskin ialah orang yang memiliki harta namun tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar untuk hidup. Dari mereka banyak mustahik yang menjaga ’’harga diri’’ mereka, dan tidak mau meminta-minta, disebut dengan al-mahrum (QS Al-Dzariyat, 51:19, al-Maíarij, 70:25).

          Dengan  catatan ini maka harta kekayaan  yang belum dibayar zakatnya sama dengan  menyembunyikan harta hak milik penerim zakat tersebut di atas.

 5.  Orang yang tidak berhak menerima zakat.

Orang-orang yang tidak berhak menerima zakat terdapat 5 golongan,yaitu: :

1. Orang kaya, disebut-sebut Rasulullah Saw dalam hadis beliau dalam riwayat Turmudzi no.589.

  
2. Orang yang kuat yang mampu berusaha untuk mencukupi kebutuhannya
3. Orang yang tidak beragama Islam
4. Orang yang nafkahnya ditanggung oleh pembayar zakat, seperti  orang  tua, kakek, nenek, anak, istri, suami dari orang yang berzakat0, 

5. Keturunan atau keluarga Rasulullah SAW
Rasulullah Saw  bersabda:

“Dari Abdullah bin Amru dari Nabi Saw beliau bersabda: "Orang yang kaya tidak berhak menerima zakat demikian juga orang yang memiliki anggota badan yang sempurna". (perawi) berkata: “Jika dia orang yang kuat, namun dia sangat membutuhkan, serta tidak memiliki apapun, maka dia diberi bagian zakat”(HR Turmudzi no.589, Abu Dawud 1392 dan Ahmad no.6507).
         Sabda Rasulullah SAW:“Dari Abu Hurairah. Ia berkata, “Pada suatu hari Hasan Bin Ali (cucu Rasulullah) telah mengambil sebuah kurma dari kurma zakat, lantas dimasukkan ke mulutnya. Rasulullah SAW bersabda (kepada cucu beliau), jijik, jijik, buanglah kurma itu! Tidak tahukah kamu bahwa kita (keturunan Muhammad) tidak boleh mengambil sedekah (zakat)?”
(Riwayat Muslim).
         Bagi kita yang penghasilan atau usaha-usaha yang menghasilkan rejeki belum mencapai nishab (difinisi kaya) maka akan sangat terpuji jika seandainya kita berusaha belajar atau berlatih membayar zakat  bahkan mungkin angka-angkanya sangat mirip dengan angka mereka yang wajib berzakat. Kita yang mungkin belum termasuk muzakki (orang yang wajib membayar zakat) tetapi  sudah belajar dan melatih diri membayar jumlah sebagaimana yang berlaku atas mereka yang kaya, maka kita mendapat  nilai sangat tinggi di hadapan Allah, sebagaimana para buruh yang terdaftar dalam daftar Muzakki Masjid Al-Falah Surabaya itu, (Kami teringat kepada Mbok Nah di pelosok desa, seorang tukang nutu, tukang matun, sebagai PRT, tetapi selalu membayar zakat fitrah setiap tahun). 

Kedua: Amalan Sunat sangat terhormat

         Secara moral siapa saja yang memiliki harta sebelum mencapai nishab dan suka membayar zakatnya menurut ukuran nishab zakat, maka amalan ini sungguh sangat terpuji dan pahalanya lebih besar mengalahkan  pahala pemilik harta yang sudah mencapai nishab. Dengan kata lain orang yang tidak kaya yang suka membayar jumlah yang senada dengan zakat orang kaya  sungguh sangat terhormat mengalahkan amalan zakat orang yang kaya yang wajib berzakat. Orang yang suka melaksanakan amalan sunat akan lebih  luhur budinya mengalahkan orang yang hanya melaksanakan amalan wajib saja.

         Orang yang suka bekerja keras berjuang dengan militan pahalanya jauh sangat tinggi diatas perbuatan mereka yang bermalas-malas, duduk-duduk emoh berjuang, malas beribadah, malas beramal soleh, mungkin hanya melaksanakan yang wajib saja atau bahkan tidak sama sekali.

          Di dalam etika zakat, infaq dan bersedekah ialah melepaskan hak milik  yang sangat dicintainya sehingga  dalam hati tersembunyi  rasa berat sekali untuk melepaskannya. Allah dn Rasul Saw  telah memberikan petunjuk dalam Al-Quran dan hadis:

          Allah berfirman dalam Al-Quran s4a95 berikut:

يَسْتَوِي الْقَاعِدُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ غَيْرُ أُولِي الضَّرَرِ وَالْمُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فَضَّلَ اللَّهُ الْمُجَاهِدِينَ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ عَلَى الْقَاعِدِينَ دَرَجَةً وَكُلًّا وَعَدَ اللَّهُ الْحُسْنَى وَفَضَّلَ اللَّهُ الْمُجَاهِدِينَ عَلَى الْقَاعِدِينَ أَجْرًا عَظِيمًاالنساء95)

Artinya: “Tidaklah sama antara mu’min yang duduk (yang tidak turut berjuang) yang tidak mempunyai ‘uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad (berjuang) dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat (lebih tinggi). Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar”(S.4 An-Nisa` 95).

وَمَا لَكُمْ أَلَّا تُنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلِلَّهِ مِيرَاثُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ لَا يَسْتَوِي مِنْكُمْ مَنْ أَنْفَقَ مِنْ قَبْلِ الْفَتْحِ وَقَاتَلَ أُولَئِكَ أَعْظَمُ دَرَجَةً مِنَ الَّذِينَ أَنْفَقُوا مِنْ بَعْدُ وَقَاتَلُوا وَكُلًّا وَعَدَ اللَّهُ الْحُسْنَى وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌمَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ وَلَهُ أَجْرٌ كَرِيمٌ(الحديد 11)

Artinya: “Dan mengapa kamu tidak menafkahkan (sebagian hartamu) pada jalan Allah, padahal Allah-lah yang mempusakai (mempunyai) langit dan bumi? Tidak sama di antara kamu orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sebelum penaklukan (Mekah). Mereka lebih tinggi derajatnya daripada orang-orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sesudah itu. Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka (balasan) yang lebih baik. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. Siapakah yang mau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, maka Allah akan melipat-gandakan (balasan) pinjaman itu untuknya, dan dia akan memperoleh pahala yang banyak”(S.57 Al-Hadid 10-11).

          (1) Tafsir Al-Qurthubi  terbitan Darul Kutub al-‘Ilmiyah (J11h121) menfasirkan Al-Quran s19a59 mencatat bahwa orang beriman harus berusaha memperbaiki amal yang wajib dan yang sunat sehingga dia memperoleh tambahan (nilai plus). Allah berfirman dalam hadis Qudsi:

  عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ قَالَ مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ (رواه البخاري6021)

Artinya: “Dari Abu Hurairah dia berkata: “Rasulullah  bersabda: “Sungguh  Allah berfirman: “Barang siapa memusuhi  kekasih-Ku maka benar-benar Aku umumkan perang kepadanya. Ada hamba-Ku yang taqarrub-mendekatkan diri kepada-Ku dengan suatu amalan yang menyenangkan Aku lebh dari apa yang Aku tentukan untuk dia. Ada hamba-Ku yang tidak henti-hentinya taqarrub-mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunat, sehingga Aku mencintai dia, jika Aku sudah mencintai dia, maka Aku menjadi pendengarannya dia mendengar dengan pendengaran itu, Aku menjadi pengelihatannya dia melihat dengan pengelihatan itu, aku menjadi tangannya dia berbuat dengan tangan itu, Aku menjadi kakinya, dia berjalan dengan kaki itu. Sungguh jika dia memohon kepada-Ku pasti Aku kabulkan, jika dia memohonan perlindungan-Ku maka dia pasti Aku lindungi”(HR Bukhari no.6021).

BAB  TIGA

Memakan  harta orang miskin

~ Masalah ke-3: Bagaimana hukumnya jika seorang yang wajib membayar zakat, tetapi tidak menunaikan kewajiban itu? Jawaban seentara: Orang yang sudah wajib zakat tetapi enggan membayar zakat  dapat dituduh dia itu merampas harta hak milik mereka yang berhak wajib diberi bagian zakat.

        Allah sendiri yang menetapkan bahwa di dalam gudang kekeayaan orang kaya tersimpan hak-milik orang miskin, baik yang datang meminta-minta maupun yang berdiam diri tidak  datang meminta-minta (S.51 Adz-Dzariyat 19).

 

@ Ancaman Allah terhadap mereka yang menolak membayar zakat

o@Ancaman  terhadap  Orang Yang Tidak Mengeluarkan Zakat

            Mereka yang  terikat wajibnya  zakat, tetapi tidak mau menunaikan kewajiabnnya itu diancam oleh azab Allah:

وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَبْخَلُونَ بِمَا ءَاتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ هُوَ خَيْرًا لَهُمْ بَلْ هُوَ شَرٌّ لَهُمْ سَيُطَوَّقُونَ مَا بَخِلُوا بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلِلَّهِ مِيرَاثُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ( ال عمران 180)

“Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan adalah buruk bagi mereka, kelak harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak dilehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala (warisan) yang ada di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Ali’Imran : 180). 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْحُمَّى كِيرٌ مِنْ كِيرِ جَهَنَّمَ فَنَحُّوهَا عَنْكُمْ بِالْمَاءِ الْبَارِدِ (رواه الترمذي 2938 والنسائ  2398)

Dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi saw. bersabada, “Barangsiapa yang diberi harta oleh Allah, lalu tidak menunaikan zakatnya, maka pada hari kiamat kelak hartanya itu dibentuk seperti ular, yaitu dijadikan ular yang botak kepalanya berumur panjang, memiliki dua buah taring di rahangnya. Ular besar itu dikalungkan di lehernya lalu mematuk kedua pipinya dan kedua rahangnya dengan terus – menerus. Kemudian ular itu berkata, “Saya adalah simpananmu dan saya adalah hartamu dahulu (yang tidak kamu keluarkan zakatnya). “Kemudian Beliau membaca ayat, “WALAA YAHSABANNAL LADZIINA YABKHALUUNA BIMAA AATAAHUMULLAHU MIN FADHLIH (sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunianya, menyangka…)” (Shahih: Shahih Nasa’i no: 2938  dan An-Nasa`I no. 2398) dan Fathul Bari III: 2327 dan Fathul Bari III : 268 no:1403).

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِنَّ كَثِيرًا مِنَ الْأَحْبَارِ وَالرُّهْبَانِ لَيَأْكُلُونَ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلَا يُنْفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ(34)يَوْمَ يُحْمَى عَلَيْهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ فَتُكْوَى بِهَا جِبَاهُهُمْ وَجُنُوبُهُمْ وَظُهُورُهُمْ هَذَا مَا كَنَزْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ فَذُوقُوا مَا كُنْتُمْ تَكْنِزُونَ ( التوبة 34-35)

“Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat), siksa yang pedih, pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka jahanam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka, (lalu dikatakan) kepada mereka, “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu.” (At-Taubah: 34-35).

Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Setiap pemilik emas dan perak yang tidak mengeluarkan zakatnya, pasti bila hari kiamat akan dibentangkanlah untuknya papan (lempengan-lempengan) dari api, lalu dipanaskan di neraka Jahanam lantas lambung, kening dan punggungnya disetrika dengannya. Setiap kali dingin, disetrika lagi (begitu seterusnya). Pada (masa) di mana mana matahari sama dengan lima puluh ribu tahun (lamanya). Hingga diputuskan (ketetapan) di antara hamba-hamba, sehingga akan ditampakkan jalannya. Mungkin ke surga dan mungkin (juga) ke neraka.” Ada yang bertanya, “Ya Rasulullah, lalu bagaimana dengan zakat unta?” Jawab Beliau saw., “Dan begitu ada pemilik unta yang tidak menunaikan haknya. Dan, diantara haknya ialah perah susunya pada hari ketika susunya penuh pasti bila hari kiamat tiba lemparlah tanah dataran rendah untuk gerombolan unta yang tidak dikeluarkan zakatnya itu. Gerombolan besar unta itu hadir (di kawasan yang sudah tersiapkan), di satu kelompokpun dari gerombolan besar unta yang absen, merka menginjak-injak pemiliknya dengan tapak kakinya dan menggigitnya dengan mulutnya. Setiap dikelompok pertama selesai melaluinya, dilanjutkan dengan kelompok selanjutnya dan begitulah seterusnya), pada (masa) yang satu hari sama dengan lima puluh ribu tahun. Hingga diputuskan (ketetapan) diantara hamba-hamba, sehingga dilihatlah jalannya; mungkin ke surga dan mungkin (juga) ke neraka,” (Shahih: Shahihul Jami’us Shaghir no: 5729, Muslim II:680 no: 987, dan ‘Aunul Ma’bud V: 75 no: 1642). 

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ دَاوُدَ بْنِ سُفْيَانَ وَسَلَمَةُ قَالَا حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ سَالِمٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ عُمَرُ إِنِّي إِنْ لَا أَسْتَخْلِفْ فَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يَسْتَخْلِفْ وَإِنْ أَسْتَخْلِفْ فَإِنَّ أَبَا بَكْرٍ قَدْ اسْتَخْلَفَ قَالَ فَوَاللَّهِ مَا هُوَ إِلَّا أَنْ ذَكَرَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبَا بَكْرٍ فَعَلِمْتُ أَنَّهُ لَا يَعْدِلُ بِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحَدًا وَأَنَّهُ غَيْرُ مُسْتَخْلِفٍ  (رواه النسائ 2399 وابو داود 1414)

 

Hukum Orang Yang Mencegah Membayar Zakat

Dalam Fiqhus Sunnah I: 281, Syaikh Sayyid Sabiq menulis, “Zakat adalah salah satu amalan fardhu yang telah disepakati ummat Islam dan sudah sangat terkenal sehingga termasuk dharurriyatud din (pengetahuan yang pokok dalam agama), yang mana andaikata ada seseorang mengingkari wajibnya zakat, maka dinyatakan keluar dari Islam dan harus dibunuh karena kafir. Kecuali jika hal itu terjadi pada seseorang yang baru masuk Islam, maka dimaafkan karena belum mengerti hukum-hukum Islam.”

Menurut Sayyid Sabiq, “Adapun orang-orang yang enggan membayar zakat, namun meyakininya sebagai kewajiban, maka ia hanya berdosa besar karena enggan membayarnya, tidak sampai keluar dari Islam. Dan, penguasa yang sah berwenang memungut zakat tersebut darinya dengan paksa”.

          Jika ada suatu kaum yang mau mengeluarkannya, namun mereka tetap meyakini akan kewajiban mengeluarkan zakat, dan mereka memiliki kekuatan dan pertahanan. Maka mereka harus diperangi karena sikapnya hingga sadar membayarnya. Karena ada hadits Nabi saw. yang mengatakan, “Saya diperintahkan untuk memerangi mereka, kecuali bila mereka sudah mengikrarkan syahadat bahwa tiada Ilah (yang patut diibadahi) selain Allah dan Muhammad adalah Rasul utusan-Nya, menegakkan shalat, dan membayar zakat. Bila mereka sudah melaksanakan hal itu, maka darah mereka dan harta kekayaan mereka memperoleh perlindungan dari saya, kecuali oleh karena hak-hak Islam lain, yang dalam hal ini perhitungannya diserahkan kepada Allah.” (Muttafaqun’alaih : Fathul Bari I: 75 no: 25, dan ini lafadnya, Muslim I:53 no:22).

Dari Abu Hurairah r.a. ia bercerita, “Tatkala Rasulullah saw. wafat, maka yang terpilih menjadi khalifah adalah Abu Bakar, dan telah kufur (murtad) orang yang kufur (murtad) dari sebagian oran-orang Arab, maka Umar berkata (kepada Abu Bakar,pent), “Bagaimana engkau berani memerangi orang-orang itu, sedangkan Rasulullah saw. telah menegaskan, “Tiadalah Ilah (yang patut diibadahi), kecuali Allah? Barang siapa yang sudah mengikrarkannya, maka dia telah memelihara darah dan kekayaannya dari saya, kecuali dengan haknya, sedangkan perhitungan terhadap mereka diserahkan sepenuhnya kepada Allah?” Ia (Abu Bakar) menjawab “Wallahi, saya akan memerangi siapa saja yang membeda-bedakan antara zakat dan shalat, karena zakat adalah kewajiban dalam harta. Wallahi, andaikata mereka tidak mau lagi memberikan seekor anak kambing yang dahulunya mereka berikan kepada Rasulullah, maka pasti saya memerangi oleh karena itu, “Jawab Umar, “Wallahi, tidak lain kecuali hati Abu Bakar betul-betul sudah dilapangkan oleh Allah untuk perang tersebut, maka saya pun tahu bahwa dialah yang benar!” (Shahih: Fathul Bari III: 626 no: 1933-1400, Muslim I:51 no:20, ‘Aunul Ma’bud IV: 414 no: 1541, dan Nasa’i V:14 dan Tirmidzi IV:117 no:2734).

.

 أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ لَمَّا تُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَانَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَكَفَرَ مَنْ كَفَرَ مِنْ الْعَرَبِ فَقَالَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ كَيْفَ تُقَاتِلُ النَّاسَ وَقَدْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَقُولُوا لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ فَمَنْ قَالَهَا فَقَدْ عَصَمَ مِنِّي مَالَهُ وَنَفْسَهُ إِلَّا بِحَقِّهِ وَحِسَابُهُ عَلَى اللَّهِ فَقَالَ وَاللَّهِ لَأُقَاتِلَنَّ مَنْ فَرَّقَ بَيْنَ الصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ فَإِنَّ الزَّكَاةَ حَقُّ الْمَالِ وَاللَّهِ لَوْ مَنَعُونِي عَنَاقًا كَانُوا يُؤَدُّونَهَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَقَاتَلْتُهُمْ عَلَى مَنْعِهَا قَالَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فَوَاللَّهِ مَا هُوَ إِلَّا أَنْ قَدْ شَرَحَ اللَّهُ صَدْرَ أَبِي بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فَعَرَفْتُ أَنَّهُ الْحَقُّ  (رواه البخاري 1312 ومسلم 29)

“Bahwa  Abu Hurairah radliallahu 'anhu berkata; Setelah Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam wafat yang kemudian Abu Bakar radliallahu 'anhu menjadi khalifah maka beberapa orang 'Arab ada yang kembali menjadi kafir (dengan enggan menunaikan zakat). Maka (ketika Abu Bakar radliallahu 'anhu hendak memerangi mereka), 'Umar bin Al Khaththab radliallahu 'anhu bertanya: "Bagaimana anda memerangi orang padahal Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam telah bersabda: "Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka mgucapkan laa ilaaha illallah. Maka barangsiapa telah mengucapkannya berarti terlindunglah dariku darah dan hartanya kecuali dengan haknya sedangkan perhitungannya ada pada Allah". Maka Abu Bakar Ash-Shidiq radliallahu 'anhu berkata: "Demi Allah, aku pasti akan memerangi siapa yang memisahkan antara kewajiban shalat dan zakat, karena zakat adalah hak harta. Demi Allah, seandainya mereka enggan membayarkan anak kambing yang dahulu mereka menyerahkannya kepada Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam, pasti akan aku perangi mereka disebabkan keengganan itu". Berkata, 'Umar bin Al Khaththab radliallahu 'anhu: "Demi Allah, ketegasan dia ini tidak lain selain Allah telah membukakan hati Abu Bakar Ash-Shidiq radliallahu 'anhu dan aku menyadari bahwa dia memang benar"(HR Bukhari no.1312 dan Muslim no.29).

عَنْ عَمْرِو بْنِ مُعَاذٍ الْأَنْصَارِيِّ قَالَ إِنَّ سَائِلًا وَقَفَ عَلَى بَابِهِمْ فَقَالَتْ لَهُ جَدَّتُهُ حَوَّاءُ أَطْعِمُوهُ تَمْرًا قَالُوا لَيْسَ عِنْدَنَا قَالَتْ فَاسْقُوهُ سَوِيقًا قَالُوا الْعَجَبُ لَكِ نَسْتَطِيعُ أَنْ نُطْعِمَهُ مَا لَيْسَ عِنْدَنَا قَالَتْ إِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَا تَرُدُّوا السَّائِلَ وَلَوْ بِظِلْفٍ مُحْرَقٍ (رواه احمد 26180)

"Dari Amru bin Mu'adz Al Anshari berkata, "Sungguh, seorang peminta-minta berhenti di depan pintu mereka, lantas neneknya, Hawwa', berkata kepadanya, "Berilah ia kurma." Mereka berkata, "Kami tidak memilikinya." Hawwa' lalu berkata, "Berilah ia minum sawiq." Mereka berkata, "Aku heran denganmu, bagaimana kami disuruh untuk memberinya makan dari sesuatu yang kami tidak memilikinya." Hawwa` berkata, "Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Janganlah kamu menolak peminta walaupun dengan secuil daging panggang”(HR Ahmad no.26180).

أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ يُحَدِّثُ بِهِ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ قَالَ رَجُلٌ لَأَتَصَدَّقَنَّ بِصَدَقَةٍ فَخَرَجَ بِصَدَقَتِهِ فَوَضَعَهَا فِي يَدِ سَارِقٍ فَأَصْبَحُوا يَتَحَدَّثُونَ تُصُدِّقَ عَلَى سَارِقٍ فَقَالَ اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ عَلَى سَارِقٍ لَأَتَصَدَّقَنَّ بِصَدَقَةٍ فَخَرَجَ بِصَدَقَتِهِ فَوَضَعَهَا فِي يَدِ زَانِيَةٍ فَأَصْبَحُوا يَتَحَدَّثُونَ تُصُدِّقَ اللَّيْلَةَ عَلَى زَانِيَةٍ فَقَالَ اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ عَلَى زَانِيَةٍ لَأَتَصَدَّقَنَّ بِصَدَقَةٍ فَخَرَجَ بِصَدَقَتِهِ فَوَضَعَهَا فِي يَدِ غَنِيٍّ فَأَصْبَحُوا يَتَحَدَّثُونَ تُصُدِّقَ عَلَى غَنِيٍّ قَالَ اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ عَلَى زَانِيَةٍ وَعَلَى سَارِقٍ وَعَلَى غَنِيٍّ فَأُتِيَ فَقِيلَ لَهُ أَمَّا صَدَقَتُكَ فَقَدْ تُقُبِّلَتْ أَمَّا الزَّانِيَةُ فَلَعَلَّهَا أَنْ تَسْتَعِفَّ بِهِ مِنْ زِنَاهَا وَلَعَلَّ السَّارِقَ أَنْ يَسْتَعِفَّ بِهِ عَنْ سَرِقَتِهِ وَلَعَلَّ الْغَنِيَّ أَنْ يَعْتَبِرَ فَيُنْفِقَ مِمَّا أَعْطَاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ)رواه النسائ 2476)

“Bahwa Abu Hurairah menceritakannya dari Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wa Sallam, beliau bersabda: "Seorang berkata; 'Sungguh aku benar-benar akan bersedekah! ' Lalu ia keluar dengan membawa sedekahnya dan memberikannya kepada seorang pencuri, maka mereka membicarakannya; 'Seorang pencuri diberi sedekah.' Ia berdoa; 'Ya Allah, segala puji hanya bagi-Mu terhadap seorang pencuri. Sungguh aku benar-benar akan bersedekah.' Lalu ia keluar dengan membawa sedekahnya dan memberikannya kepada seorang wanita yang berzina, maka mereka membicarakannya; 'Malam ini seorang wanita yang berzina diberi sedekah'. Dia berdoa; 'Ya Allah, segala puji hanya bagi-Mu terhadap seorang wanita yang berzina. Sungguh aku benar-benar akan bersedekah'. Lalu ia keluar dengan membawa sedekahnya dan memberikannya kepada orang kaya, maka mereka membicarakannya; 'Seorang kaya diberi sedekah.' Dia berdoa; 'Ya Allah, segala puji hanya bagi-Mu terhadap seorang wanita yang berzina, seorang pencuri dan seorang yang kaya'. Lalu orang tersebut dibawa dan dikatakan kepadanya dalam mimpinya; 'Sedekahmu sungguh telah diterima. Adapun seorang wanita yang berzina, barangkali ia akan menjauhkan diri dari perzinaannya; barangkali seorang pencuri akan menjauhkan diri dari pencuriannya; dan barangkali orang yang kaya akan mengambil pelajaran, lalu ia menginfakkan apa yang Allah -Azza Wa Jalla- telah berikan kepadanya'(HR An-Nasa`i 2476)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ رَجُلٌ لَأَتَصَدَّقَنَّ اللَّيْلَةَ صَدَقَةً فَأَخْرَجَ صَدَقَتَهُ فَوَضَعَهَا فِي يَدِ زَانِيَةٍ فَأَصْبَحُوا يَتَحَدَّثُونَ تُصُدِّقَ اللَّيْلَةَ عَلَى زَانِيَةٍ وَقَالَ لَأَتَصَدَّقَنَّ اللَّيْلَةَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْرَجَ صَدَقَتَهُ فَوَضَعَهَا فِي يَدِ سَارِقٍ فَأَصْبَحُوا يَتَحَدَّثُونَ تُصُدِّقَ اللَّيْلَةَ عَلَى سَارِقٍ ثُمَّ قَالَ لَأَتَصَدَّقَنَّ اللَّيْلَةَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْرَجَ الصَّدَقَةَ فَوَضَعَهَا فِي يَدِ غَنِيٍّ فَأَصْبَحُوا يَتَحَدَّثُونَ تُصُدِّقَ اللَّيْلَةَ عَلَى غَنِيٍّ فَقَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى سَارِقٍ وَعَلَى زَانِيَةٍ وَعَلَى غَنِيٍّ قَالَ فَأُتِيَ فَقِيلَ لَهُ أَمَّا صَدَقَتُكَ فَقَدْ تُقُبِّلَتْ أَمَّا الزَّانِيَةُ فَلَعَلَّهَا يَعْنِي أَنْ تَسْتَعِفَّ بِهِ وَأَمَّا السَّارِقُ فَلَعَلَّهُ أَنْ يَسْتَغْنِيَ بِهِ وَأَمَّا الْغَنِيُّ فَلَعَلَّهُ أَنْ يَعْتَبِرَ فَيُنْفِقَ مِمَّا آتَاهُ اللَّهُ (رواه احمد 7933)

" Dari Abu Hurairah, dia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam Bersabda: "Seorang laki-laki berkata; 'Aku benar-benar akan mengeluarkan sedekah pada malam ini, ' maka ia pun memberikan sedekahnya kepada seorang wanita pelacur hingga pada pagi harinya orang-orang berkata; 'Semalam ia telah memberikan sedekahnya kepada seorang pelacur.' Kemudian ia berkata; 'Aku benar-benar akan mengeluarkan sedekah pada malam ini, ' maka ia memberikan sedekahnya kepada seorang pencuri hingga pada pagi harinya orang-orang berkata; 'Semalam ia telah memberikan sedekah kepada seorang pencuri.' kemudian ia berkata; 'Aku benar-benar akan mengeluarkan sedekah pada malam ini, ' maka ia memberikan sedekahnya kepada orang yang kaya, hingga pada pagi harinya orang-orang berkata; 'Semalam ia telah memberikan sedekahnya kepada orang kaya.' Lalu laki-laki tersebut berkata; 'Alhamdulillah aku telah memberikan sedekah kepada seorang pelacur, seorang pencuri dan seorang yang kaya.'" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam Bersabda: "Kemudian ada orang yang datang dan dikatakan kepadanya; "Adapun sedekahmu sungguh telah diterima, bagi pelacur itu semoga dengan sedekah tersebut ia memohon ampun dan menjaga kehormatannya, dan bagi pencuri semoga dengan sedekah tersebut ia merasa cukup dengannya, sedangkan bagi orang kaya itu semoga dengan sedekah tersebut ia mengambil pelajaran darinya lalu menginfaqkan apa yang telah diberikan oleh Allah kepadanya."(HR Ahmad 7933)

        Dari ayat ini dapat dibayangkan bahwa mereka yang enggan membayar zakat dari hartanya maka si kaya ini dapat dimasukkan menjadi pemakan harta  hak milik orang miskin, lebih-lebih mereka yang  memeras  keringat  orang miskin melalui pembayaran upah buruh yang  di bawah standar atau mereka yang membungakan uang  kepada  peminjam tetapi  wajib mengembalikannya dengan bunga jika terlambat membayar maka bunganya bertambah-tambah, berlipat ganda maka diduga  si kaya ini terjebak ke dalam istilah pengisap darah  orang miskin.

           Allah juga menekankan ancaman azab yang berat kepada mereka yang menumpuk-numpuk harta secara bakhil, kikir  emoh membayar zakat:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِنَّ كَثِيرًا مِنَ الْأَحْبَارِ وَالرُّهْبَانِ لَيَأْكُلُونَ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلَا يُنْفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ( التوبة 34)

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebahagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan yang batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih”(S.9 At-taubat 34).

وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَبْخَلُونَ بِمَا ءَاتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ هُوَ خَيْرًا لَهُمْ بَلْ هُوَ شَرٌّ لَهُمْ سَيُطَوَّقُونَ مَا بَخِلُوا بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلِلَّهِ مِيرَاثُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ (ال عمران 180)

Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”(S.3 Ali ‘Imran 180)

 

حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ الْحَكَمُ بْنُ نَافِعٍ أَخْبَرَنَا شُعَيْبُ بْنُ أَبِي حَمْزَةَ عَنْ الزُّهْرِيِّ حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُتْبَةَ بْنِ مَسْعُودٍ أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ لَمَّا تُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَانَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَكَفَرَ مَنْ كَفَرَ مِنْ الْعَرَبِ فَقَالَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ كَيْفَ تُقَاتِلُ النَّاسَ وَقَدْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَقُولُوا لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ فَمَنْ قَالَهَا فَقَدْ عَصَمَ مِنِّي مَالَهُ وَنَفْسَهُ إِلَّا بِحَقِّهِ وَحِسَابُهُ عَلَى اللَّهِ فَقَالَ وَاللَّهِ لَأُقَاتِلَنَّ مَنْ فَرَّقَ بَيْنَ الصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ فَإِنَّ الزَّكَاةَ حَقُّ الْمَالِ وَاللَّهِ لَوْ مَنَعُونِي عَنَاقًا كَانُوا يُؤَدُّونَهَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَقَاتَلْتُهُمْ عَلَى مَنْعِهَا قَالَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فَوَاللَّهِ مَا هُوَ إِلَّا أَنْ قَدْ شَرَحَ اللَّهُ صَدْرَ أَبِي بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فَعَرَفْتُ أَنَّهُ الْحَقُّ (وراه البخاري 1312 زمسلم 29)

Telah menceritakan kepada kami Abu Al Yaman Al Hakam bin Nafi’ telah mengabarkan kepada kami Syu’aib bin Abu Hamzah dari Az Zuhriy telah menceritakan kepada kami ‘Ubaidullah bin ‘Abdullah bin ‘Utbah bin Mas’ud bahwa Abu Hurairah radliallahu ‘anhu berkata; Setelah Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam wafat yang kemudian Abu Bakar radliallahu ‘anhu menjadi khalifah maka beberapa orang ‘Arab ada yang kembali menjadi kafir (dengan enggan menunaikan zakat). Maka (ketika Abu Bakar radliallahu ‘anhu hendak memerangi mereka), ‘Umar bin Al Khaththab radliallahu ‘anhu bertanya: “Bagaimana anda memerangi orang padahal Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam telah bersabda: “Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka mgucapkan laa ilaaha illallah. Maka barangsiapa telah mengucapkannya berarti terlindunglah dariku darah dan hartanya kecuali dengan haknya sedangkan perhitungannya ada pada Allah”. Maka Abu Bakar Ash-Shidiq radliallahu ‘anhu berkata: “Demi Allah, aku pasti akan memerangi siapa yang memisahkan antara kewajiban shalat dan zakat, karena zakat adalah hak harta. Demi Allah, seandainya mereka enggan membayarkan anak kambing yang dahulu mereka menyerahkannya kepada Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam, pasti akan aku perangi mereka disebabkan keengganan itu”. Berkata, ‘Umar bin Al Khaththab radliallahu ‘anhu: “Demi Allah, ketegasan dia ini tidak lain selain Allah telah membukakan hati Abu Bakar Ash-Shidiq radliallahu ‘anhu dan aku menyadari bahwa dia memang benar”(HR Bukhari 1312 dan Muslim 29).

BAB  TIGA

Memakan  harta orang miskin

~ Masalah ke-3: Bagaimana hukumnya jika seorang yang wajib membayar zakat, tetapi tidak menunaikan kewajiban itu? Jawaban seentara: Orang yang sudah wajib zakat tetapi enggan membayar zakat  dapat dituduh dia itu merampas harta hak milik mereka yang berhak wajib diberi bagian zakat.

        Allah sendiri yang menetapkan bahwa di dalam gudang kekeayaan orang kaya tersimpan hak-milik orang miskin, baik yang datang meminta-minta maupun yang berdiam diri tidak  datang meminta-minta (S.51 Adz-Dzariyat 19).

 

@ Ancaman Allah terhadap mereka yang menolak membayar zakat

o@Ancaman  terhadap  Orang Yang Tidak Mengeluarkan Zakat

            Mereka yang  terikat wajibnya  zakat, tetapi tidak mau menunaikan kewajiabnnya itu diancam oleh azab Allah:

وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَبْخَلُونَ بِمَا ءَاتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ هُوَ خَيْرًا لَهُمْ بَلْ هُوَ شَرٌّ لَهُمْ سَيُطَوَّقُونَ مَا بَخِلُوا بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلِلَّهِ مِيرَاثُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ( ال عمران 180)

“Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan adalah buruk bagi mereka, kelak harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak dilehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala (warisan) yang ada di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Ali’Imran : 180). 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْحُمَّى كِيرٌ مِنْ كِيرِ جَهَنَّمَ فَنَحُّوهَا عَنْكُمْ بِالْمَاءِ الْبَارِدِ (رواه الترمذي 2938 والنسائ  2398)

Dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi saw. bersabada, “Barangsiapa yang diberi harta oleh Allah, lalu tidak menunaikan zakatnya, maka pada hari kiamat kelak hartanya itu dibentuk seperti ular, yaitu dijadikan ular yang botak kepalanya berumur panjang, memiliki dua buah taring di rahangnya. Ular besar itu dikalungkan di lehernya lalu mematuk kedua pipinya dan kedua rahangnya dengan terus – menerus. Kemudian ular itu berkata, “Saya adalah simpananmu dan saya adalah hartamu dahulu (yang tidak kamu keluarkan zakatnya). “Kemudian Beliau membaca ayat, “WALAA YAHSABANNAL LADZIINA YABKHALUUNA BIMAA AATAAHUMULLAHU MIN FADHLIH (sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunianya, menyangka…)” (Shahih: Shahih Nasa’i no: 2938  dan An-Nasa`I no. 2398) dan Fathul Bari III: 2327 dan Fathul Bari III : 268 no:1403).

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِنَّ كَثِيرًا مِنَ الْأَحْبَارِ وَالرُّهْبَانِ لَيَأْكُلُونَ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلَا يُنْفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ(34)يَوْمَ يُحْمَى عَلَيْهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ فَتُكْوَى بِهَا جِبَاهُهُمْ وَجُنُوبُهُمْ وَظُهُورُهُمْ هَذَا مَا كَنَزْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ فَذُوقُوا مَا كُنْتُمْ تَكْنِزُونَ ( التوبة 34-35)

“Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat), siksa yang pedih, pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka jahanam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka, (lalu dikatakan) kepada mereka, “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu.” (At-Taubah: 34-35).

Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Setiap pemilik emas dan perak yang tidak mengeluarkan zakatnya, pasti bila hari kiamat akan dibentangkanlah untuknya papan (lempengan-lempengan) dari api, lalu dipanaskan di neraka Jahanam lantas lambung, kening dan punggungnya disetrika dengannya. Setiap kali dingin, disetrika lagi (begitu seterusnya). Pada (masa) di mana mana matahari sama dengan lima puluh ribu tahun (lamanya). Hingga diputuskan (ketetapan) di antara hamba-hamba, sehingga akan ditampakkan jalannya. Mungkin ke surga dan mungkin (juga) ke neraka.” Ada yang bertanya, “Ya Rasulullah, lalu bagaimana dengan zakat unta?” Jawab Beliau saw., “Dan begitu ada pemilik unta yang tidak menunaikan haknya. Dan, diantara haknya ialah perah susunya pada hari ketika susunya penuh pasti bila hari kiamat tiba lemparlah tanah dataran rendah untuk gerombolan unta yang tidak dikeluarkan zakatnya itu. Gerombolan besar unta itu hadir (di kawasan yang sudah tersiapkan), di satu kelompokpun dari gerombolan besar unta yang absen, merka menginjak-injak pemiliknya dengan tapak kakinya dan menggigitnya dengan mulutnya. Setiap dikelompok pertama selesai melaluinya, dilanjutkan dengan kelompok selanjutnya dan begitulah seterusnya), pada (masa) yang satu hari sama dengan lima puluh ribu tahun. Hingga diputuskan (ketetapan) diantara hamba-hamba, sehingga dilihatlah jalannya; mungkin ke surga dan mungkin (juga) ke neraka,” (Shahih: Shahihul Jami’us Shaghir no: 5729, Muslim II:680 no: 987, dan ‘Aunul Ma’bud V: 75 no: 1642). 

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ دَاوُدَ بْنِ سُفْيَانَ وَسَلَمَةُ قَالَا حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ سَالِمٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ عُمَرُ إِنِّي إِنْ لَا أَسْتَخْلِفْ فَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يَسْتَخْلِفْ وَإِنْ أَسْتَخْلِفْ فَإِنَّ أَبَا بَكْرٍ قَدْ اسْتَخْلَفَ قَالَ فَوَاللَّهِ مَا هُوَ إِلَّا أَنْ ذَكَرَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبَا بَكْرٍ فَعَلِمْتُ أَنَّهُ لَا يَعْدِلُ بِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحَدًا وَأَنَّهُ غَيْرُ مُسْتَخْلِفٍ  (رواه النسائ 2399 وابو داود 1414)

 

Hukum Orang Yang Mencegah Membayar Zakat

Dalam Fiqhus Sunnah I: 281, Syaikh Sayyid Sabiq menulis, “Zakat adalah salah satu amalan fardhu yang telah disepakati ummat Islam dan sudah sangat terkenal sehingga termasuk dharurriyatud din (pengetahuan yang pokok dalam agama), yang mana andaikata ada seseorang mengingkari wajibnya zakat, maka dinyatakan keluar dari Islam dan harus dibunuh karena kafir. Kecuali jika hal itu terjadi pada seseorang yang baru masuk Islam, maka dimaafkan karena belum mengerti hukum-hukum Islam.”

Menurut Sayyid Sabiq, “Adapun orang-orang yang enggan membayar zakat, namun meyakininya sebagai kewajiban, maka ia hanya berdosa besar karena enggan membayarnya, tidak sampai keluar dari Islam. Dan, penguasa yang sah berwenang memungut zakat tersebut darinya dengan paksa”.

          Jika ada suatu kaum yang mau mengeluarkannya, namun mereka tetap meyakini akan kewajiban mengeluarkan zakat, dan mereka memiliki kekuatan dan pertahanan. Maka mereka harus diperangi karena sikapnya hingga sadar membayarnya. Karena ada hadits Nabi saw. yang mengatakan, “Saya diperintahkan untuk memerangi mereka, kecuali bila mereka sudah mengikrarkan syahadat bahwa tiada Ilah (yang patut diibadahi) selain Allah dan Muhammad adalah Rasul utusan-Nya, menegakkan shalat, dan membayar zakat. Bila mereka sudah melaksanakan hal itu, maka darah mereka dan harta kekayaan mereka memperoleh perlindungan dari saya, kecuali oleh karena hak-hak Islam lain, yang dalam hal ini perhitungannya diserahkan kepada Allah.” (Muttafaqun’alaih : Fathul Bari I: 75 no: 25, dan ini lafadnya, Muslim I:53 no:22).

Dari Abu Hurairah r.a. ia bercerita, “Tatkala Rasulullah saw. wafat, maka yang terpilih menjadi khalifah adalah Abu Bakar, dan telah kufur (murtad) orang yang kufur (murtad) dari sebagian oran-orang Arab, maka Umar berkata (kepada Abu Bakar,pent), “Bagaimana engkau berani memerangi orang-orang itu, sedangkan Rasulullah saw. telah menegaskan, “Tiadalah Ilah (yang patut diibadahi), kecuali Allah? Barang siapa yang sudah mengikrarkannya, maka dia telah memelihara darah dan kekayaannya dari saya, kecuali dengan haknya, sedangkan perhitungan terhadap mereka diserahkan sepenuhnya kepada Allah?” Ia (Abu Bakar) menjawab “Wallahi, saya akan memerangi siapa saja yang membeda-bedakan antara zakat dan shalat, karena zakat adalah kewajiban dalam harta. Wallahi, andaikata mereka tidak mau lagi memberikan seekor anak kambing yang dahulunya mereka berikan kepada Rasulullah, maka pasti saya memerangi oleh karena itu, “Jawab Umar, “Wallahi, tidak lain kecuali hati Abu Bakar betul-betul sudah dilapangkan oleh Allah untuk perang tersebut, maka saya pun tahu bahwa dialah yang benar!” (Shahih: Fathul Bari III: 626 no: 1933-1400, Muslim I:51 no:20, ‘Aunul Ma’bud IV: 414 no: 1541, dan Nasa’i V:14 dan Tirmidzi IV:117 no:2734).

.

 أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ لَمَّا تُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَانَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَكَفَرَ مَنْ كَفَرَ مِنْ الْعَرَبِ فَقَالَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ كَيْفَ تُقَاتِلُ النَّاسَ وَقَدْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَقُولُوا لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ فَمَنْ قَالَهَا فَقَدْ عَصَمَ مِنِّي مَالَهُ وَنَفْسَهُ إِلَّا بِحَقِّهِ وَحِسَابُهُ عَلَى اللَّهِ فَقَالَ وَاللَّهِ لَأُقَاتِلَنَّ مَنْ فَرَّقَ بَيْنَ الصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ فَإِنَّ الزَّكَاةَ حَقُّ الْمَالِ وَاللَّهِ لَوْ مَنَعُونِي عَنَاقًا كَانُوا يُؤَدُّونَهَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَقَاتَلْتُهُمْ عَلَى مَنْعِهَا قَالَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فَوَاللَّهِ مَا هُوَ إِلَّا أَنْ قَدْ شَرَحَ اللَّهُ صَدْرَ أَبِي بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فَعَرَفْتُ أَنَّهُ الْحَقُّ  (رواه البخاري 1312 ومسلم 29)

“Bahwa  Abu Hurairah radliallahu 'anhu berkata; Setelah Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam wafat yang kemudian Abu Bakar radliallahu 'anhu menjadi khalifah maka beberapa orang 'Arab ada yang kembali menjadi kafir (dengan enggan menunaikan zakat). Maka (ketika Abu Bakar radliallahu 'anhu hendak memerangi mereka), 'Umar bin Al Khaththab radliallahu 'anhu bertanya: "Bagaimana anda memerangi orang padahal Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam telah bersabda: "Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka mgucapkan laa ilaaha illallah. Maka barangsiapa telah mengucapkannya berarti terlindunglah dariku darah dan hartanya kecuali dengan haknya sedangkan perhitungannya ada pada Allah". Maka Abu Bakar Ash-Shidiq radliallahu 'anhu berkata: "Demi Allah, aku pasti akan memerangi siapa yang memisahkan antara kewajiban shalat dan zakat, karena zakat adalah hak harta. Demi Allah, seandainya mereka enggan membayarkan anak kambing yang dahulu mereka menyerahkannya kepada Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam, pasti akan aku perangi mereka disebabkan keengganan itu". Berkata, 'Umar bin Al Khaththab radliallahu 'anhu: "Demi Allah, ketegasan dia ini tidak lain selain Allah telah membukakan hati Abu Bakar Ash-Shidiq radliallahu 'anhu dan aku menyadari bahwa dia memang benar"(HR Bukhari no.1312 dan Muslim no.29).

عَنْ عَمْرِو بْنِ مُعَاذٍ الْأَنْصَارِيِّ قَالَ إِنَّ سَائِلًا وَقَفَ عَلَى بَابِهِمْ فَقَالَتْ لَهُ جَدَّتُهُ حَوَّاءُ أَطْعِمُوهُ تَمْرًا قَالُوا لَيْسَ عِنْدَنَا قَالَتْ فَاسْقُوهُ سَوِيقًا قَالُوا الْعَجَبُ لَكِ نَسْتَطِيعُ أَنْ نُطْعِمَهُ مَا لَيْسَ عِنْدَنَا قَالَتْ إِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَا تَرُدُّوا السَّائِلَ وَلَوْ بِظِلْفٍ مُحْرَقٍ (رواه احمد 26180)

"Dari Amru bin Mu'adz Al Anshari berkata, "Sungguh, seorang peminta-minta berhenti di depan pintu mereka, lantas neneknya, Hawwa', berkata kepadanya, "Berilah ia kurma." Mereka berkata, "Kami tidak memilikinya." Hawwa' lalu berkata, "Berilah ia minum sawiq." Mereka berkata, "Aku heran denganmu, bagaimana kami disuruh untuk memberinya makan dari sesuatu yang kami tidak memilikinya." Hawwa` berkata, "Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Janganlah kamu menolak peminta walaupun dengan secuil daging panggang”(HR Ahmad no.26180).

أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ يُحَدِّثُ بِهِ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ قَالَ رَجُلٌ لَأَتَصَدَّقَنَّ بِصَدَقَةٍ فَخَرَجَ بِصَدَقَتِهِ فَوَضَعَهَا فِي يَدِ سَارِقٍ فَأَصْبَحُوا يَتَحَدَّثُونَ تُصُدِّقَ عَلَى سَارِقٍ فَقَالَ اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ عَلَى سَارِقٍ لَأَتَصَدَّقَنَّ بِصَدَقَةٍ فَخَرَجَ بِصَدَقَتِهِ فَوَضَعَهَا فِي يَدِ زَانِيَةٍ فَأَصْبَحُوا يَتَحَدَّثُونَ تُصُدِّقَ اللَّيْلَةَ عَلَى زَانِيَةٍ فَقَالَ اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ عَلَى زَانِيَةٍ لَأَتَصَدَّقَنَّ بِصَدَقَةٍ فَخَرَجَ بِصَدَقَتِهِ فَوَضَعَهَا فِي يَدِ غَنِيٍّ فَأَصْبَحُوا يَتَحَدَّثُونَ تُصُدِّقَ عَلَى غَنِيٍّ قَالَ اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ عَلَى زَانِيَةٍ وَعَلَى سَارِقٍ وَعَلَى غَنِيٍّ فَأُتِيَ فَقِيلَ لَهُ أَمَّا صَدَقَتُكَ فَقَدْ تُقُبِّلَتْ أَمَّا الزَّانِيَةُ فَلَعَلَّهَا أَنْ تَسْتَعِفَّ بِهِ مِنْ زِنَاهَا وَلَعَلَّ السَّارِقَ أَنْ يَسْتَعِفَّ بِهِ عَنْ سَرِقَتِهِ وَلَعَلَّ الْغَنِيَّ أَنْ يَعْتَبِرَ فَيُنْفِقَ مِمَّا أَعْطَاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ)رواه النسائ 2476)

“Bahwa Abu Hurairah menceritakannya dari Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wa Sallam, beliau bersabda: "Seorang berkata; 'Sungguh aku benar-benar akan bersedekah! ' Lalu ia keluar dengan membawa sedekahnya dan memberikannya kepada seorang pencuri, maka mereka membicarakannya; 'Seorang pencuri diberi sedekah.' Ia berdoa; 'Ya Allah, segala puji hanya bagi-Mu terhadap seorang pencuri. Sungguh aku benar-benar akan bersedekah.' Lalu ia keluar dengan membawa sedekahnya dan memberikannya kepada seorang wanita yang berzina, maka mereka membicarakannya; 'Malam ini seorang wanita yang berzina diberi sedekah'. Dia berdoa; 'Ya Allah, segala puji hanya bagi-Mu terhadap seorang wanita yang berzina. Sungguh aku benar-benar akan bersedekah'. Lalu ia keluar dengan membawa sedekahnya dan memberikannya kepada orang kaya, maka mereka membicarakannya; 'Seorang kaya diberi sedekah.' Dia berdoa; 'Ya Allah, segala puji hanya bagi-Mu terhadap seorang wanita yang berzina, seorang pencuri dan seorang yang kaya'. Lalu orang tersebut dibawa dan dikatakan kepadanya dalam mimpinya; 'Sedekahmu sungguh telah diterima. Adapun seorang wanita yang berzina, barangkali ia akan menjauhkan diri dari perzinaannya; barangkali seorang pencuri akan menjauhkan diri dari pencuriannya; dan barangkali orang yang kaya akan mengambil pelajaran, lalu ia menginfakkan apa yang Allah -Azza Wa Jalla- telah berikan kepadanya'(HR An-Nasa`i 2476)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ رَجُلٌ لَأَتَصَدَّقَنَّ اللَّيْلَةَ صَدَقَةً فَأَخْرَجَ صَدَقَتَهُ فَوَضَعَهَا فِي يَدِ زَانِيَةٍ فَأَصْبَحُوا يَتَحَدَّثُونَ تُصُدِّقَ اللَّيْلَةَ عَلَى زَانِيَةٍ وَقَالَ لَأَتَصَدَّقَنَّ اللَّيْلَةَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْرَجَ صَدَقَتَهُ فَوَضَعَهَا فِي يَدِ سَارِقٍ فَأَصْبَحُوا يَتَحَدَّثُونَ تُصُدِّقَ اللَّيْلَةَ عَلَى سَارِقٍ ثُمَّ قَالَ لَأَتَصَدَّقَنَّ اللَّيْلَةَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْرَجَ الصَّدَقَةَ فَوَضَعَهَا فِي يَدِ غَنِيٍّ فَأَصْبَحُوا يَتَحَدَّثُونَ تُصُدِّقَ اللَّيْلَةَ عَلَى غَنِيٍّ فَقَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى سَارِقٍ وَعَلَى زَانِيَةٍ وَعَلَى غَنِيٍّ قَالَ فَأُتِيَ فَقِيلَ لَهُ أَمَّا صَدَقَتُكَ فَقَدْ تُقُبِّلَتْ أَمَّا الزَّانِيَةُ فَلَعَلَّهَا يَعْنِي أَنْ تَسْتَعِفَّ بِهِ وَأَمَّا السَّارِقُ فَلَعَلَّهُ أَنْ يَسْتَغْنِيَ بِهِ وَأَمَّا الْغَنِيُّ فَلَعَلَّهُ أَنْ يَعْتَبِرَ فَيُنْفِقَ مِمَّا آتَاهُ اللَّهُ (رواه احمد 7933)

" Dari Abu Hurairah, dia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam Bersabda: "Seorang laki-laki berkata; 'Aku benar-benar akan mengeluarkan sedekah pada malam ini, ' maka ia pun memberikan sedekahnya kepada seorang wanita pelacur hingga pada pagi harinya orang-orang berkata; 'Semalam ia telah memberikan sedekahnya kepada seorang pelacur.' Kemudian ia berkata; 'Aku benar-benar akan mengeluarkan sedekah pada malam ini, ' maka ia memberikan sedekahnya kepada seorang pencuri hingga pada pagi harinya orang-orang berkata; 'Semalam ia telah memberikan sedekah kepada seorang pencuri.' kemudian ia berkata; 'Aku benar-benar akan mengeluarkan sedekah pada malam ini, ' maka ia memberikan sedekahnya kepada orang yang kaya, hingga pada pagi harinya orang-orang berkata; 'Semalam ia telah memberikan sedekahnya kepada orang kaya.' Lalu laki-laki tersebut berkata; 'Alhamdulillah aku telah memberikan sedekah kepada seorang pelacur, seorang pencuri dan seorang yang kaya.'" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam Bersabda: "Kemudian ada orang yang datang dan dikatakan kepadanya; "Adapun sedekahmu sungguh telah diterima, bagi pelacur itu semoga dengan sedekah tersebut ia memohon ampun dan menjaga kehormatannya, dan bagi pencuri semoga dengan sedekah tersebut ia merasa cukup dengannya, sedangkan bagi orang kaya itu semoga dengan sedekah tersebut ia mengambil pelajaran darinya lalu menginfaqkan apa yang telah diberikan oleh Allah kepadanya."(HR Ahmad 7933)

        Dari ayat ini dapat dibayangkan bahwa mereka yang enggan membayar zakat dari hartanya maka si kaya ini dapat dimasukkan menjadi pemakan harta  hak milik orang miskin, lebih-lebih mereka yang  memeras  keringat  orang miskin melalui pembayaran upah buruh yang  di bawah standar atau mereka yang membungakan uang  kepada  peminjam tetapi  wajib mengembalikannya dengan bunga jika terlambat membayar maka bunganya bertambah-tambah, berlipat ganda maka diduga  si kaya ini terjebak ke dalam istilah pengisap darah  orang miskin.

           Allah juga menekankan ancaman azab yang berat kepada mereka yang menumpuk-numpuk harta secara bakhil, kikir  emoh membayar zakat:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِنَّ كَثِيرًا مِنَ الْأَحْبَارِ وَالرُّهْبَانِ لَيَأْكُلُونَ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلَا يُنْفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ( التوبة 34)

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebahagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan yang batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih”(S.9 At-taubat 34).

وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَبْخَلُونَ بِمَا ءَاتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ هُوَ خَيْرًا لَهُمْ بَلْ هُوَ شَرٌّ لَهُمْ سَيُطَوَّقُونَ مَا بَخِلُوا بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلِلَّهِ مِيرَاثُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ (ال عمران 180)

Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”(S.3 Ali ‘Imran 180)

 

حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ الْحَكَمُ بْنُ نَافِعٍ أَخْبَرَنَا شُعَيْبُ بْنُ أَبِي حَمْزَةَ عَنْ الزُّهْرِيِّ حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُتْبَةَ بْنِ مَسْعُودٍ أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ لَمَّا تُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَانَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَكَفَرَ مَنْ كَفَرَ مِنْ الْعَرَبِ فَقَالَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ كَيْفَ تُقَاتِلُ النَّاسَ وَقَدْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَقُولُوا لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ فَمَنْ قَالَهَا فَقَدْ عَصَمَ مِنِّي مَالَهُ وَنَفْسَهُ إِلَّا بِحَقِّهِ وَحِسَابُهُ عَلَى اللَّهِ فَقَالَ وَاللَّهِ لَأُقَاتِلَنَّ مَنْ فَرَّقَ بَيْنَ الصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ فَإِنَّ الزَّكَاةَ حَقُّ الْمَالِ وَاللَّهِ لَوْ مَنَعُونِي عَنَاقًا كَانُوا يُؤَدُّونَهَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَقَاتَلْتُهُمْ عَلَى مَنْعِهَا قَالَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فَوَاللَّهِ مَا هُوَ إِلَّا أَنْ قَدْ شَرَحَ اللَّهُ صَدْرَ أَبِي بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فَعَرَفْتُ أَنَّهُ الْحَقُّ (وراه البخاري 1312 زمسلم 29)

Telah menceritakan kepada kami Abu Al Yaman Al Hakam bin Nafi’ telah mengabarkan kepada kami Syu’aib bin Abu Hamzah dari Az Zuhriy telah menceritakan kepada kami ‘Ubaidullah bin ‘Abdullah bin ‘Utbah bin Mas’ud bahwa Abu Hurairah radliallahu ‘anhu berkata; Setelah Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam wafat yang kemudian Abu Bakar radliallahu ‘anhu menjadi khalifah maka beberapa orang ‘Arab ada yang kembali menjadi kafir (dengan enggan menunaikan zakat). Maka (ketika Abu Bakar radliallahu ‘anhu hendak memerangi mereka), ‘Umar bin Al Khaththab radliallahu ‘anhu bertanya: “Bagaimana anda memerangi orang padahal Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam telah bersabda: “Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka mgucapkan laa ilaaha illallah. Maka barangsiapa telah mengucapkannya berarti terlindunglah dariku darah dan hartanya kecuali dengan haknya sedangkan perhitungannya ada pada Allah”. Maka Abu Bakar Ash-Shidiq radliallahu ‘anhu berkata: “Demi Allah, aku pasti akan memerangi siapa yang memisahkan antara kewajiban shalat dan zakat, karena zakat adalah hak harta. Demi Allah, seandainya mereka enggan membayarkan anak kambing yang dahulu mereka menyerahkannya kepada Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam, pasti akan aku perangi mereka disebabkan keengganan itu”. Berkata, ‘Umar bin Al Khaththab radliallahu ‘anhu: “Demi Allah, ketegasan dia ini tidak lain selain Allah telah membukakan hati Abu Bakar Ash-Shidiq radliallahu ‘anhu dan aku menyadari bahwa dia memang benar”(HR Bukhari 1312 dan Muslim 29).

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ(

Silahkan buka internet situs : http://pondoquranhadis.wordpress.com

Kirimkan naskah ke Email::pondokilmu7@gmail.com-Tlp:0318963843

 

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ(

Silahkan buka internet situs : http://pondoquranhadis.wordpress.com

Kirimkan naskah ke Email::pondokilmu7@gmail.com-Tlp:0318963843


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: