Oleh: pondokquranhadis | Mei 18, 2013

Tugas Wajib Umat Islam

Al-Quran S.21 Al-Anbiya` 107
وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِي الزَّبُورِ مِنْ بَعْدِ الذِّكْرِ أَنَّ الْأَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصَّالِحُونَ(105)إِنَّ فِي هَذَا لَبَلَاغًا لِقَوْمٍ عَابِدِينَ(106)وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ(-الانبياء105-107-)
Artinya
105. Dan sungguh telah Kami tulis di dalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lohmahfuz, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hamba-Ku yang saleh. 106. Sesungguhnya (apa yang disebutkan) dalam (surat) ini, benar-benar menjadi peringatan bagi kaum yang menyembah Allah). 107. Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.”(S.21 Al-Anbiya` 105-107).
Tema dan sari tilawah
~Allah telah menetapkan bahwa hamba Allah yang alim soleh akan mendapat anugerah kehidupan yang baik di dunia.
~Itulah ketetapan Allah yang wajib diperhatikan sungguh-sungguh oleh para hamba yang mengabdi kepada Allah.
~Rasulullah Muhammad Saw diutus Allah membawa rahmat untuk seluruh alam. Maka umat Muhammad wajib meneruskan dakwah Rasulullah Saw ini.
Masalah dan analisa jawaban
Masalah ke~1: Bagaimana kedudukan orang yang tidak taat kepada ketetapan Allah itu? Jawaban hipotetis: Orang yang tidak taat dan ingkar kepada ketetapan Allah maka dia tidak akan mendapat hak seperti hak orang yang alim soleh.
Masalah ke~2: Apa yang dimaksud dengan lafal Ash-Shalihun & Rahmatan dalam Al-Quran S.21 Al-Anbiya` 105-107 tersebut di atas? Jawabana hipotetis: Ash-Shalihun ialah orang yang baik dan rahmatan itu ialah nikmat.
Masalah ke~3: Apa dan bagaimana tugas umat Muhammd Saw sebagai penganut agama Islam yang diajarkan oleh Rasulullah Muhammad Saw itu? Jawaban hipotetis: Orang Islam sebagai penganut ajaran Rasulullah Muhammad Saw wajib mewujudkan realisasi ajaran yang membawa rahmat atas sekuruh alam, yaitu membuat dan membina setiap warga menjadi sumber amal soleh, menegakkan keadilan bagi seluruh umat dan mengejar maslahah yang hakiki untuk sesama hidup.
Pendalaman dan analisa jawaban
BAB SATU
Orang yang ingkar kepada aturan Allah
Masalah ke~1: Bagaimana kedudukan orang yang tidak taat kepada ketetapan Allah itu? Jawaban hipotetis: Orang yang tidak taat dan ingkar kepada ketetapan Allah tidak mendapat hak seperti hak orang yang alim soleh.
@Tafsir Adhwa`ul Bayan (22h234) dalam menganalisa Qs21a107
{وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ}. mencatat bahwa makna ayat ini ialah bahwa Nabi Muhammad Saw tugasnya ialah mewujudkan nuansa seluruh alam itu hidup yang nikmat penuh rahmat, sejahterat, bahagia, tercukupi segala kebutuhan hidup dunia akhirat.
~ Barang siapa yang mengingkari dan tidak mentaati dakwah Rasul Saw itu maka dia akan kehilangan hak bagian dari rahmat yang sangat besar itu.
Kita bayangkan bahwa jika Allah menganugerahkan nikmat, yang mengalir deras, memenuhi kebutuhan, kesejahteraan para penghuni alam, yang berlangsung mengalir terus, kemudian jika ada orang yang malas atau mogok bekerja atau enggan beramal maka dia akan kehilangan kesempatan yang sangat mahal sekali sehingga nasibnya akan jatuh ke dalam penderitaan; Allah berfirman:
أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ بَدَّلُوا نِعْمَةَ اللَّهِ كُفْرًا \وَأَحَلُّوا قَوْمَهُمْ دَارَ الْبَوَارِ(28)جَهَنَّمَ يَصْلَوْنَهَا وَبِئْسَ الْقَرَارُ(29)وَجَعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا لِيُضِلُّوا عَنْ سَبِيلِهِ قُلْ تَمَتَّعُوا فَإِنَّ مَصِيرَكُمْ إِلَى النَّارِ(30)(ابراهيم 8230-)
Artinya:
“28. Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang telah menukar nikmat Allah dengan kekafiran dan menjatuhkan kaumnya ke lembah kebinasaan?,
29. yaitu neraka Jahanam; mereka masuk ke dalamnya; dan itulah seburuk-buruk tempat kediaman.
30. Orang-orang kafir itu telah menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah supaya mereka menyesatkan (manusia) dari jalan-Nya. Katakanlah: Bersenang-senanglah kamu, karena sesungguhnya tempat kembalimu ialah neraka”S.14 Ibrahim 28-30),
Sebagian ulama mengatakan bahwa orang kafir azabnya mungkin ditunda sampai waktu yang ditentukan olehAllah.
@Az-Zuhaili dalam tafsirnya (17h147) ketika membahas Qs21a105 tersebut di atas mencatat bahwa Allah sudah menurunkan Syari’at Islam dengan tauhid yang suci, keadilan yang hakiki, membela yang benar dan iman yang shahih, semua itu serba rahmat, dan ihsan, menuju kepada peradaban yang benar, menentang kezaliman, melawan kekafiran, mencegah laku jijik-kotor, mungkar dan melanggar hukum Allah, memerangi kezaliman, kebodohan maupun keterbelakangan,
Di dalam Al-Quran tercatat bahwa Nabi Ibrahim a.s. berhasil lulus ujian Allah dengan sempurna lalu beliau dianugerahi kedudukan yang terhormat oleh Allah. Maka Nabi Ibrahim berdo’a memohon anugerah itu juga diberikan kepada anak keturunannya. Maka dijawab oleh Allah bahwa orang yang berbuat zalim tidak berhak atas anugerah itu.
وَإِذِ ابْتَلَى إِبْرَاهِيمَ رَبُّهُ بِكَلِمَاتٍ فَأَتَمَّهُنَّ قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا قَالَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي قَالَ لَا يَنَالُ عَهْدِي الظَّالِمِينَ ( البقرة 124 )
“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata: “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku”. Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang-orang yang lalim”(S.2 Al-Baqarah 124).
Orang yang zalim ialah orang yang tidak mau menjunjung tinggi agama Islam dan tidak menghormati hukum Allah:
إِنَّا أَنْزَلْنَا التَّوْرَاةَ فِيهَا هُدًى وَنُورٌ يَحْكُمُ بِهَا النَّبِيُّونَ الَّذِينَ أَسْلَمُوا لِلَّذِينَ هَادُوا وَالرَّبَّانِيُّونَ وَالْأَحْبَارُ بِمَا اسْتُحْفِظُوا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ وَكَانُوا عَلَيْهِ شُهَدَاءَفَلَا تَخْشَوُا النَّاسَ وَاخْشَوْنِ وَلَا تَشْتَرُوا بِآيَاتِي ثَمَنًا قَلِيلًا وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ(44)وَكَتَبْنَا عَلَيْهِمْ فِيهَا أَنَّ النَّفْسَ بِالنَّفْسِ وَالْعَيْنَ بِالْعَيْنِ وَالْأَنْفَ بِالْأَنْفِ وَالْأُذُنَ بِالْأُذُنِ وَالسِّنَّ بِالسِّنِّ وَالْجُرُوحَ قِصَاصٌ فَمَنْ تَصَدَّقَ بِهِ فَهُوَ كَفَّارَةٌ لَهُ وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ(45) (الماءدة 44-45 )
Artinya:
44”Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh para nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barang siapa yang tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.
45. Dan telah Kami tetapkan terhadap mereka di dalamnya (At Taurat) bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka-luka (pun) ada kisasnya. Barang siapa yang melepaskan (hak kisas) nya, maka melepaskan hak itu (menjadi) penebus dosa baginya. Barang siapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim”( S.5 Al-Maidah 44, 45).
Mereka yang tidak mau mentaati Hukum Allah adalah orang yang zalim (ayat 45), dinamakan kafir dalam ayat 44 dan disebut orang yang fasiq dalam ayat 47 syrat Al-Maidah.
Zalim artinya salah, kafir itu ialah tidak percaya kepada Allah dan fasiq itu ialah orang sudah mengerti aturan tetapi sengaja melanggar aturan atau hukum Allah itu. Masing-masing akan mendapat azab dari Allah mungkin di dunia tetapi yang jelas ialah nanti di akhirat,
BAB DUA
Makna Ash-Shalihun dan Rahmatan
Masalah ke~2: Apa yang dimaksud dengan lafal Ash-Shalihun & Rahmatan dalam Al-Quran S.21 Al-Anbiya` 105-107 tersebut di atas? Jawabana hipotetis: Ash-Shalihun ialah orang yang baik dan rahmatan itu ialah nikmat.
I. Makna lafal Ash-Shalihuna
@Ar-Raghib dalam Kitab Al-Mufradat (1h587) mencatat bahwa lafal Shalaha adalah lawan kata Fasada (Ash-Shalaahu X Al-Fasaadu) artinya baik lawannya ialah rusak; Yang berarti rusak atau jelek disebut Allah dalam Al-Quran(s9a102, s7a56;
وَءَاخَرُونَ اعْتَرَفُوا بِذُنُوبِهِمْ خَلَطُوا عَمَلًا صَالِحًا وَءَاخَرَ سَيِّئًا عَسَى اللَّهُ أَنْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ( االتوبة 102)
“Dan (ada pula) orang-orang lain yang mengakui dosa-dosa mereka, mereka mencampur baurkan pekerjaan yang baik dengan pekerjaan lain yang buruk. Mudah-mudahan Allah menerima tobat mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”(S.9 At-Taubat 102).
وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا إِنَّ رَحْمَةَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ( الاعراف 56)
“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik”(S.7 Al-A’raf 56).
Makna Al-Fasadu artinya rusak dalam arti luas mencakup semua aspek kehidupan, hukum, ekonomi, sosial, politik dan budaya serta kepercayaan.
Adapun lafal Ishlah artinya ialah menghilangkan penyebab yang merusak, sama dengan reparasi, yaitu memperbaiki apa yang kurang tepat sebagaiaman disebut Al-Quran dalam s47a2, s33a71, s46a15;
a) “Allah menghapus kesalahan-kesalahan mereka dan memperbaiki keadaan mereka(s47a2. ) {وأصلح بالهم}
b) “Allah memperbaiki amalan-amalanmu (s33a71
={ويصلح لكم أعمالكم} [الأحزاب/71])
c) “Berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku (s46a15)= {وأصلح لي في ذريتي} [الأحقاف/15]،
@Kitab Al-Mausu’atul Fiqhiyah (23h283) juga mengartikan lafal Shalaah ialah tidak rusak, maksudnya ialah serba baik dari berbagai aspek, tidak membingungkan, tidak mencurigakan, tidak bohong, tetapi istiqamah mantap, tekun, tenang damai, serba positif. Dalam bidang agama istilah Ash-Shalahu artinya ialah menunaikan yang wajib dan sunat, suci dari dosa.
Jadi lafal Ash-Shalihuna dalam QS.21 Al-Anbiya` 105-107 itu I artinya ialah orang-orang atau suatu kaum yang alim soleh.
II.Makna lafal Rahmatan
Menurut Ar-Raghib dalam kitabnya Al-Mufradat (1h391) lafal Ar-Rahmatu itu artinya ialah halus perasaan, sensitif sangat perasa yang memaksa hati untuk berbuat ihsan. (Ihsan ialah kebaikan hati yang besarnya sama dengan cinta, kasih sayang seorang ibu kepada anak bayinya).
~ Jika Rahmatun itu dari Allah ialah anugerah nikmat, kelezatan dan keutamaan bagi seluruh makhluk, tetapi rahmatun oleh manusia hanya perasaan halus, belas kasih kepada sesamanya.
Rasuluillah Saw bersabda:
عَنْ أَبِي سَلَمَةَ قَالَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنَا اللَّهُ وَأَنَا الرَّحْمَنُ خَلَقْتُ الرَّحِمَ وَشَقَقْتُ لَهَا مِنْ اسْمِي فَمَنْ وَصَلَهَا وَصَلْتُهُ وَمَنْ قَطَعَهَا بَتَتُّهُ ( رواه الترمدي( 1830)
“Dari Abu Salamah bahwa Abdurrahman berkata: ‘Aku telah mendengar Rasulullah bersabda: “Allah Tabaraka wa Ta’ala berfiman: ‘Akulah Allah, dan Aku adalah Ar Rahman. Aku telah menciptakan kasih sayang yang Aku ambilkan dari nama-Ku. Maka siapa yang menyambungnya, Aku akan menyambungnya, dan siapa yang memutuskannya, maka Aku akan memutuskan kasih sayang-Ku darinya”(HR Tirmidzi no.1830 dan Abu Dawud no.1444 dinilai shahih oleh Al-Hakim).
# Lafal Rahmatun disini mengandung 2 aspek, yaitu: 1) Berhalus budi. (2) Berbuat kebajikan kepada obyek sasarannya; Senada dengan lafal Rahman dan Rahim; Seperti tertulis di atas lafal Rahman hanya milik Allah sebab nikmat itu dirasakan oleh seluruh makhluk, sedangkan lafal Rahim bisa dimiliki oleh manusia yaitu berbuat kebajikan yang sangat banyak, contohnya sifat watak Rasulullah Saw yang tercatat dalam Al-Quran s9a128);
لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ( التوبة 128)
“Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin”(S.9 At-Taubat 128)
@Pada halaman ini Ar-Raghib mengartikan lafal Ar-Rahimu ialah rahim kandungan dalam perut perempuan. Lalu dipinjam artinya menjadi “dekatnya hubungan keluarga karena hubungan darah yang berasal dari satu wadah “Rahim” sebagaimana disebut-sebut dalam Al-Quran s18a81.
@Kitab I’anatul Mustafid (2h148) dalam membahas Qs21a107
{وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ(107)} mencatat bahwa makna lafal “Rahmatan” disini ialah nikmat dari Allah melalui makhluk-Nya lalu dikaitkan dengan Qs93a11“{وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ(الضحي 11)}
“Dan terhadap nikmat Tuhanmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur)”( S.93 Adh-Dhuha11).
@Kitab Tadzkiratul Mu`nisi (h343) dalam membahas Qs21a107 ini mengatakan bahwa Nabi itu diutus Allah untuk menyebarkan kasih sayang bukan menyebar permusuhan sesuai dengan hadis Nabi Saw berikut:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ادْعُ عَلَى الْمُشْرِكِينَ قَالَ إِنِّي لَمْ أُبْعَثْ لَعَّانًا وَإِنَّمَا بُعِثْتُ رَحْمَةً (رواه مسلم 4704)
“Dari Abu Hurairah dia berkata; “Seseorang pernah berkata; ‘Ya Rasulullah, do’akanlah untuk orang-orang musyrik agar mereka celaka! ‘ Mendengar itu, Rasulullah Saw menjawab: ‘Sesungguhnya aku diutus bukan untuk menjadi pelaknat, tetapi aku diutus sebagai rahmat”(HR Muslim no.4704).
@Ibnul Manzhur dalam kamusnya Lisanul ’Arab (1h651) menjelaskan bahwa lafal Rahamatun maknanya sangat luas sekali sebagaimana diisyaratkan Allah dalam hadis bahwa bukti adanya rahmat itu ialah bahwa kehalusan hati orang yang bersangkutan dapat mengalahkan rasa marah sekaligus mendahulukan kasih sayang: Conoth jni tercatat dalam hadis Bakhari-Muslim:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا قَضَى اللَّهُ الْخَلْقَ كَتَبَ فِي كِتَابِهِ فَهُوَ عِنْدَهُ فَوْقَ الْعَرْشِ إِنَّ رَحْمَتِي غَلَبَتْ غَضَبِي (رواه البخاري 2955 ومسلم 4939”]
“Dari Abu Hurairah r.a. berkata, Rasulullah Saw bersabda: “Ketika Allah menetapkan penciptaan makhluq, Allah menulis di dalam Kitab-Nya, yang berada di sisi-Nya di atas -‘Arsy (yang isinya): “Sesungguhnya rahmat-Ku mengalahkan kemurkaan-Ku”(HR Bukhari no.2955 dan Muslim no.4939).
#Dalam halaman 662 Ibnul Manzhur mengaitkan isitilah Rahmatan ini dengan firman Allah Qs7a56:
وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا إِنَّ رَحْمَةَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ ( الاعرالف 56 )
“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah itu amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik”(S.7 Al-a’Raf 56).
Dan rahmat itu terwujud melalui perbuatan Ihsan; Menurut Az-Zajjaj bahwa Rahmat itu satu makna dengan ampunan dan maaf bahwa kebajikan itu turun bagaikan hujan yang deras.
#Dalam halaman (3h238) Ibnul Manzhur mncatat bahwa lafal Syahid itu aslinya ialah mati dalam Perang Sabil lalu diperluas mencjadi kasih sayang untuk mereka yang menjadi korban dari perjuangan kemanusiaan (HAM) disabdakan oleh Rasulullah Saw dalam hadis beliau:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بَيْنَمَا رَجُلٌ يَمْشِي بِطَرِيقٍ وَجَدَ غُصْنَ شَوْكٍ عَلَى الطَّرِيقِ فَأَخَّرَهُ فَشَكَرَ اللَّهُ لَهُ فَغَفَرَ لَهُ ثُمَّ قَالَ الشُّهَدَاءُ خَمْسَةٌ الْمَطْعُونُ وَالْمَبْطُونُ وَالْغَرِيقُ وَصَاحِبُ الْهَدْمِ وَالشَّهِيدُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ (رواه البخاري 615 ومسلم 3538)
“Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ketika seorang laki-laki berjalan pada suatu jalan dan menemukan dahan berduri lalu ia membuangnya maka Allah menyanjung dia dan mengampuni dosanya.” Kemudian beliau bersabda: “Orang yang mati syahid itu ada lima; orang yang mati karena penyakit kusta, orang yang mati karena sakit perut, orang yang mati kerena tenggelam, orang yang mati karena tertimpa reruntuhan dan orang yang terbunuh di jalan Allah”(HR Bukhari no.615 dan Muslim no 3538).
Makna Rahamatan lil ‘Alamin رحمةً للعالمين
@ Asy-Sya’rawi (h5960) dalam membahas Qs21a107) mencatat bahwa Rasul Muhammad Saw diutus untuk seluruh alam secara universal sampai hari kiamat( فجاءتْ رحمةً للعالمين جميعاً؛ ), sedangkan nabi-nabi sebelumnya hanya diutus untuk kaumnya sendiri.
Adapun lafal (العالمين ) artinya ialah umum selain Allah terdiri dari malaikat, jin, manusia, hewan, tumbuh2an dan benda semua materi, sebagaimana tercatat dalam hadis-hadis berikut:
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا أَوْ يَزْرَعُ زَرْعًا فَيَأْكُلُ مِنْهُ طَيْرٌ أَوْ إِنْسَانٌ أَوْ بَهِيمَةٌ إِلَّا كَانَ لَهُ بِهِ صَدَقَةٌ ) رواه البخاري 2152 ومسلم 2904)
“Dari Anas bin Malik r.a. berkata; Rasulullah Saw bersabda: “Tidakl lain seorang muslim yang bercocok tanam atau menanam satu tanaman lalu tanaman itu dimakan oleh burung atau menusia atau hewan kecuali menjadi perbauatan ini menjadi shadaqah baginya”. (HR Bukhari no.2152 dan Muslim no2904).
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ عُذِّبَتْ امْرَأَةٌ فِي هِرَّةٍ حَبَسَتْهَا حَتَّى مَاتَتْ جُوعًا فَدَخَلَتْ فِيهَا (رواه البخاري 2192 ومسلم 4160)
“Dari ‘Abdullah bin ‘Umar r,a. bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Ada seorang wanita disiksa azab sebab dia mengurung seekor kucing hingga mati kelaparan lalu wanita itupun masuk neraka”. Nafi’ berkatah”(HR Bukhari no.2192 dan Muslim no.4160))
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بَيْنَا رَجُلٌ يَمْشِي فَاشْتَدَّ عَلَيْهِ الْعَطَشُ فَنَزَلَ بِئْرًا فَشَرِبَ مِنْهَا ثُمَّ خَرَجَ فَإِذَا هُوَ بِكَلْبٍ يَلْهَثُ يَأْكُلُ الثَّرَى مِنْ الْعَطَشِ فَقَالَ لَقَدْ بَلَغَ هَذَا مِثْلُ الَّذِي بَلَغَ بِي فَمَلَأَ خُفَّهُ ثُمَّ أَمْسَكَهُ بِفِيهِ ثُمَّ رَقِيَ فَسَقَى الْكَلْبَ فَشَكَرَ اللَّهُ لَهُ فَغَفَرَ لَهُ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَإِنَّ لَنَا فِي الْبَهَائِمِ أَجْرًا قَالَ فِي كُلِّ كَبِدٍ رَطْبَةٍ أَجْرٌ تَابعه ) رواه البخاري 2190 ومسلم 4162)
“Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Ada seorang laki-laki yang sedang berjalan lalu dia merasakan kehausan yang sangat sehingga dia turun ke suatu sumur lalu minum dari air sumur tersebut. Ketika dia keluar didapatkannya seekor anjing yang sedang menjulurkan lidahnya menjilat-jilat tanah karena kehausan. Orang itu berkata: “Anjing ini sedang kehausan seperti yang aku alami tadi”. Maka dia (turun kembali ke dalam sumur) dan diisinya sepatunya dengan air dan sambil menggigit sepatunya dengan mulutnya dia naik keatas lalu memberi anjing itu minum. Kemudian dia bersyukur kepada Allah maka Allah mengampuninya”. Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah kita akan dapat pahala dengan berbuat baik kepada hewan?” Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Terhadap setiap makhluq bernyawa diberi pahala”(HR Bukhari no.2190 dan Muslim no.4162). Inilah makna Rahmatan lil ‘Alamin itu.
Lebih dari itu maka Nabi Muhammad itu diutus untuk seluruh umat manusia dimana saja kapanpun juga (Sedangkan selain beliau tidak diutus kecuali kepada kaumnya sendiri). Allah berfirman:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ (سبأ 28)
“Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui”(S.34 Saba` 28).
إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ بِالْحَقِّ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَإِنْ مِنْ أُمَّةٍ إِلَّا خَلَا فِيهَا نَذِيرٌ( فاطر24)
“Sesungguhnya Kami mengutus kamu dengan membawa kebenaran sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan. Dan tidak ada suatu umat pun melainkan telah ada padanya seorang nabi pemberi peringatan”(S.35 Fathir 24).
وَلِكُلِّ أُمَّةٍ رَسُولٌ فَإِذَا جَاءَ رَسُولُهُمْ قُضِيَ بَيْنَهُمْ بِالْقِسْطِ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ( يونس 47)
“Tiap-tiap umat mempunyai rasul; maka apabila telah datang rasul mereka, diberikanlah keputusan antara mereka dengan adil dan mereka (sedikit pun) tidak dianiaya”(S.10 Yunus 47).
BAB TIGA
Tugas-Wajib Umat Islam
Masalah ke~3: Apa dan bagaimana tugas umat Muhammd Saw sebagai penganut agama Islam yang diajarkan oleh Rasulullah Muhammad Saw itu? Jawaban hipotetis: Orang Islam sebagai penganut ajaran Rasulullah Muhammad Saw wajib mewujudkan realisasi ajaran beliau yang membawa rahmat atas seluruh alam itu, yaitu membuat dan membina setiap insan itu menjadi sumber amal soleh, menegakkan keadilan secara integral bagi seluruh umat dan mengejar maslahah yang hakiki untuk semua anak Adam.
Tujuan Syari’at Islam ialah mengambil maslahah dan mencegah madharat, artinya mengambil yang bagus sekaligus membuang yang jelek atau dengan istilah yang lebih terkenal ialah Amar ma’ruh Nahi munkar”, yaitu mengajak kepada kebagusan melawan kejahatan. Difahamkan dari nash Al-Quran S.21 Al-Anbiya` 107 dan berbagai macam riwayat hadis, maka Syari’at Islam datang dari Allah ditujukan untuk menjadi rahmat seluruh alam. Sehingga siapa yang mengikuti syarai’at Islam dengan tekun dia akan hidup bahagia di dunia sampai akhirat, sebaliknya siapa yang menyimpang dari ajaran syari’at Islam maka dia akan hidup sengsara dan menderita di dunia atau akhirat.
Dari nash Al-Quran S.21 Al-Anbiya‘ 107 dan berbagai macam nash, maka Abu Zahrah dalam kitabnya Ushulul Fiqh (1958:289) menyebutkan ada 3 target tujuan utama dari Syari’at Islam, yaitu:
(1)Pembinaan jiwa agar supaya setiap pribadi dapat menjadi sumber kebajikan dan mengalirkan amal-soleh untuk orang lain, sama sekali tidak membuat masalah tidak membawa penderitaan atau kesengsaraan kepada sesama hidup.
(2)Menegakkan dan membela keadilan yang merata bagi seluruh umat manusia di hadapan hukum;
(3)Menyelenggarakan suatu kehidupan masyarakat yang penuh maslahah yang hakiki.
Maslahah yang hakiki ialah suatu sistem kehidupan bermasyarakat yang serba terpenuhi jaminan hidupnya yang 5 macam, yaitu:
(1) Terjaminnya kelangsungan syari’at Tuhan dengan suatu kehidupan yang berjiwa agama.
(2) Terjaminnya hak (nyawa) untuk hidup setiap insan.
(3) Terjaminnya hak pemilikan atas harta kekayaan.
(4) Terjaminnya perkembangan akal yang sehat.
(5) Terjaminnya hak berkeluarga dan berketurunan.
Asy-Syathibi dalam Kitabnya Muwafaqat (tth:2 \ 8) menyatakan bahwa jaminan terpenuhinya tujuan Syari’at Islam tersebut dalam pelaksanaannya melalui tiga peringkat, yaitu:
i. Sangat mendesak (Adh-Dharuriyat), yaitu kebutuhan hidup yang benar2 sangat diperlukan, jika tidak terpenuhi akan membayakan hidupnya
ii.Diperlukan (Al-Hajiyat) Yaitu kebutuhan hidup yang melengkapi kebutuhan pokok.
iii.Pelengkap (At-Tahsiniyat), yaitu kebutuhan hidup yang sifatnya meningkatkan taraf kehidupan naik menjadi lebih baik lebih sempurna.
Setiap manusia dalam hidupnya ingin mencari hidup, hidup terus, hidup yang lebih baik lagi, hidup yang bahagia, terpenuhi segala kebutuhan hidupnya dengan sempurna, selamat dari penderitaan dan kesengsaraan.
Jika kita renungkan sejarah umat manusia secara antropologis-sosiologis, maka sejarah mencatat data dan fakta kehidupan jaman batu, jaman batu tulis, jaman huruf Hiroqlif, jaman Ibroni Purba, jaman Yunani Purba, Jaman Jomakjujo sampai jaman pertengahan, jaman sekarang, jaman modern ……jaman pencakar langit, jaman pesawat angkasa luar, jaman globalisasi, jaman canggihnya peralatan elektronis, CD-DVD, HP, Twitter, Tablet, Komputer, Internet mesin yang mampu menterjemahkan suatu uraian dari suatu bahasa diterjemah ke dalam 40 mcam bahasa semua bangsa (termasuk Bahasa Arab) Subhana Allah, Allahu Akbar!!!
Kebutuhan hidup manusia secara universal (Human needs)
Allah menciptakan makhluk itu disertai dengan ukuran angka tertentu dari berbagai macam seginya. Maka Allah menciptakan manusia ini disertai dengan resep dan ukuran apa saja yang diperlukan oleh manusia secara universal, agar supaya mereka tetap dapat melangsungkan kehidupannya dan memenuhi kebutuhannya serta dapat hidup secara lebih baik makin lagi. Termasuk para nabi dan rasul ; Allah berfirman demikian juga Rasulullah Saw sendiri bukan malaiakt tetapi sebagai manusia sama dengan kita semua beliau juga memerlukan kecukupan kebutuhan yang bersifat universal (Human Needs) itu; Firman Allah:
وَقَالُوا مَالِ هَذَا الرَّسُولِ يَأْكُلُ الطَّعَامَ وَيَمْشِي فِي الْأَسْوَاقِ لَوْلَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مَلَكٌ فَيَكُونَ مَعَهُ نَذِيرًا ( الفرقان 7)
“Dan mereka berkata: “Mengapa rasul ini memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar? Mengapa tidak diturunkan kepadanya seorang malaikat agar malaikat itu memberikan peringatan bersama-sama dengan dia?”(S.25 Al-Furqan 7);
وَمَا أَرْسَلْنَا قَبْلَكَ مِنَ الْمُرْسَلِينَ إِلَّا إِنَّهُمْ لَيَأْكُلُونَ الطَّعَامَ وَيَمْشُونَ فِي الْأَسْوَاقِ وَجَعَلْنَا بَعْضَكُمْ لِبَعْضٍ فِتْنَةً أَتَصْبِرُونَ وَكَانَ رَبُّكَ بَصِيرًا( الفرقان 20)
“ Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu, melainkan mereka sungguh memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar. Dan Kami jadikan sebahagian kamu cobaan bagi sebahagian yang lain. Maukah kamu bersabar?; dan adalah Tuhanmu Maha Melihat””( S.25 Al-Furqan 20).
Rasulullah Saw bersabda dalam sebuah hadis:
أَنَّ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ جَاءَ ثَلَاثَةُ رَهْطٍ إِلَى بُيُوتِ أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْأَلُونَ عَنْ عِبَادَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا أُخْبِرُوا كَأَنَّهُمْ تَقَالُّوهَا فَقَالُوا وَأَيْنَ نَحْنُ مِنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ قَالَ أَحَدُهُمْ أَمَّا أَنَا فَإِنِّي أُصَلِّي اللَّيْلَ أَبَدًا وَقَالَ آخَرُ أَنَا أَصُومُ الدَّهْرَ وَلَا أُفْطِرُ وَقَالَ آخَرُ أَنَا أَعْتَزِلُ النِّسَاءَ فَلَا أَتَزَوَّجُ أَبَدًا فَجَاءَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَيْهِمْ فَقَالَ أَنْتُمْ الَّذِينَ قُلْتُمْ كَذَا وَكَذَا أَمَا وَاللَّهِ إِنِّي لَأَخْشَاكُمْ لِلَّهِ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ لَكِنِّي أَصُومُ وَأُفْطِرُ وَأُصَلِّي وَأَرْقُدُ وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي (رواه البخاري 4675 ومسلم 2487)
“Bahwa Anas bin Malik r.a. berkata; “Ada tiga orang mendatangi rumah isteri-isteri Nabi Saw dan bertanya tentang ibadah Nabi Saw. Dan setelah diberitakan kepada mereka, sepertinya mereka merasa hal itu masih sedikit bagi mereka. Mereka berkata, “Ibadah kita tak ada apa-apanya dibanding Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bukankah beliau sudah diampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan juga yang akan datang?” Salah seorang dari mereka berkata, “Sungguh, aku akan shalat malam selama-lamanya.” Kemudian yang lain berkata, “Kalau aku, maka sungguh, aku akan berpuasa Dahr (setahun penuh) dan aku tidak akan berbuka.” Dan yang lain lagi berkata, “Aku akan menjauhi wanita dan tidak akan menikah selama-lamanya.” Kemudian datanglah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada mereka seraya bertanya: “Kalian berkata begini dan begitu. Ada pun aku, demi Allah, adalah orang yang paling takut kepada Allah di antara kalian, dan juga paling bertakwa. Aku berpuasa dan juga berbuka, aku shalat dan juga tidur serta menikahi wanita. Barangsiapa yang benci sunnahku, maka bukanlah dari golonganku” (HR Bukhari no.4675 dan Muslim no. 2487).
أَنَّ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ جَاءَ ثَلَاثَةُ رَهْطٍ إِلَى بُيُوتِ أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْأَلُونَ عَنْ عِبَادَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا أُخْبِرُوا كَأَنَّهُمْ تَقَالُّوهَا فَقَالُوا وَأَيْنَ نَحْنُ مِنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ قَالَ أَحَدُهُمْ أَمَّا أَنَا فَإِنِّي أُصَلِّي اللَّيْلَ أَبَدًا وَقَالَ آخَرُ أَنَا أَصُومُ الدَّهْرَ وَلَا أُفْطِرُ وَقَالَ آخَرُ أَنَا أَعْتَزِلُ النِّسَاءَ فَلَا أَتَزَوَّجُ أَبَدًا فَجَاءَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَيْهِمْ فَقَالَ أَنْتُمْ الَّذِينَ قُلْتُمْ كَذَا وَكَذَا أَمَا وَاللَّهِ إِنِّي لَأَخْشَاكُمْ لِلَّهِ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ لَكِنِّي أَصُومُ وَأُفْطِرُ وَأُصَلِّي وَأَرْقُدُ وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي (رواه البخاري 4675 ومسلم 2487)
:”Bahwa Anas bin Malik r.a. berkata; Ada tiga orang mendatangi rumah isteri-isteri Nabi dan bertanya tentang ibadah Nabi Saw. Dan setelah diberitakan kepada mereka, sepertinya mereka merasa hal itu masih sedikit bagi mereka. Mereka berkata, “Ibadah kita tak ada apa-apanya dibanding Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bukankah beliau sudah diampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan juga yang akan datang?” Salah seorang dari mereka berkata, “Sungguh, aku akan shalat malam selama-lamanya.” Kemudian yang lain berkata, “Kalau aku, maka sungguh, aku akan berpuasa Dahr (setahun penuh) dan aku tidak akan berbuka.” Dan yang lain lagi berkata, “Aku akan menjauhi wanita dan tidak akan menikah selama-lamanya.” Kemudian datanglah Saw kepada mereka seraya bertanya: “Kalian berkata begini dan begitu. Ada pun aku, demi Allah, adalah orang yang paling takut kepada Allah di antara kalian, dan juga paling bertakwa. Aku berpuasa dan juga berbuka, aku shalat dan juga tidur serta menikahi wanita. Barangsiapa yang benci sunnahku, maka bukanlah dari golonganku”(HR Bukhari no.4675 dan Muslim no.2487)
Maka sebenarnya Tujuan Syari’at Islam bukan hanya mempersoalkan masalah ibadah saja tetapi tujuan Syari’at Islam menyeluruh mencakup kebuthan hidup unaiversal dunia dan akhirat bagi seluruh umat manusia.
Para ahli sosiologi-antropologi telah mengadakan penelitian mengenai kebutuhan hidup manusia secara universal siapa saja dimanapun juga kapanpun jamannya, yaitu:
1. Ralph Piddington dalam bukunya “An Introduction to Social Anthropology” (1950:221) mencatat kebutuhan manusia secara universal (Human Needs) ada tiga kategori, yaitu sebagai berikut:
i. Kebutuhan primer
Kebutuhan primer ialah kebutuhan yang sama antara manusia dengan makhluk hewan, yaitu:
(1)-Makan, minum, bernafas
(2)-Membersihkan diri, istirahat, ketahanan diri dari serangan atau cuaca, demikian juga kesehatan
(3)-Pemenuhan hawa nafsu seks/birahi dan anak keturunan
ii.Kebutuhan sekunder
Kebutuhan sekunder atau kebutuhan sosial terdiri dari:
(1)-Pengembangan kebudayaan dan pendidikan
(2)-Menggerakkan kegiatan bersama, berkomunikasi dengan sesama
(3)-Kepuasan akan pemilikan atas harta kekayaan
(4)-Terselenggaranya ketertiban sosial, hukum dan adat
iii.Kebutuhan integratip
(1) Kebutuhan integratip ini sangat berkaitan dengan soal perasaan moral, kepercayaan dan kesempurnaan hidup.
(2)Melakukan kegiatan ritual keagamaan (Magico religious system)
(3)Kebutuhan akan hiburan, permainan dan kepuasan dalam bidang seni serta keindahan.
2..Abraham Maslow dalam bukunya “Motivation and Personality” (1954:15) mengemukakan ada 5 kategori kebutuhan hidup manusia secara universal itu, yaitu:
i.Kebutuhan dasar jasmani.
ii.Kebutuhan akan ketertiban dan keamanan.
iii.Kegiatan bersama dan rasa sosial.
iv.Mencari kehormatan dan penghargaan.
v.Mengejar puncak kepuasan dan kesempurnaan.
Jelas manusia itu memerlukan jaminan keamanan, dijauhkan dari rasa takut, terjaminnya ketenangan, pengayoman dan berkembangnya rasa kebersamaan sosial, keteraturan-sistematis, tercapainya kepuasan dan kesempurnaan serta berkembangnya faham keagamaan, tercakup dalam tiga kebutuhan hidup manusia secara universal, primer, sekunder dan integratip.
Oleh karena itulah Allah mengutus rasul-Nya untuk memberi petunjuk dan membimbing manusia ke jalan hidup yang dapat memenuhi segala kebutuhan hidupnya secara universal, menjamin kesejahteraan dan kebahagiaan yang abadi, dunia akhirat.
Kembali kepada masalah: Ash-Shalihun (Baik) dan Rahmatan (Nikmat) pada Bab Dua di atas, maka para ahli pikir mungemukakan teori mereka tentang masalah apa yang dinamakan BAIK ini, yaitu:
Titus dalam bukunya Persoalan-persoalan Filsafat (1979:139) mencatat teori Jeremy Bentham (1532M)dan John Stuart Mill (1873M) bahwa yang disebut baik yang terbaik ialah sesuatu yang memberi kelezatan(nikmat) yang maksimal kepada jumlah yang terbesar, The Greatest happiness of the greatest numbers, kelezatan jasmani maupun rohani yang bersifat universal. Tetapi jauh sebelum mereka maka Al-Ghazali (1111M) yang baik itu ialah mengikuit ketentuan Allah, apa yang dipandang baik oleh Allah itulah yang baik dan sebaliknya yang buruk ialah yang dipandang buruk oleh Allah, sebab Allah itu Maha Mengetahui secara mutlak mana sesuatu yang akan membawa kepada kenikmatan yang hakiki bahagia untuk seluruh umat mausia secara universal siapa saja, dinamapun berada dan kapanpun juga bahkan di dunia sampai akhirat kelak.
Pokoknya semua umat manusia setelah diutusnya Nabi Muhammad Saw menjadi Khatamul Anbiya` wal Mursalin nabi terakhir dan rasul penghabisan adalah umat Muhammd, khususnya umat Islam wajib mewujudkan realisasi dakwah Nabi Muhammad Saw bahwa Islam itu menjadi ((رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ )) Rahmatan lil ‘alamin sebagaimana sudah dijabarkan oleh para ulama dan pakar Sosiologi-antropologi, yaitu:
Kenikmatan, kelezatan dan kebahagiaan yang maksimal atas seluruh alam, yang bersifat jasmani dan rohani dan universal setiap penghiuni alam, dimana saja dan kapanpun juga dunia akhirat, dengan mengabdi penuh taat kepada Allah dan Rasulullah Saw.
رَبِّ اجْعَلْ هَذَا بَلَدًا ءَامِنًا وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ مَنْ ءَامَنَ مِنْهُمْ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ
“Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezeki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari kemudian. “*Qs2 Al-Baqaarah 126..
Internet: https://pondokquranhadis.wordpress.com Email:pondokilmu7@gmail.com
Internet:http://imam-muchlas.blogspot.com,Email:h.imam.muchlas.@gmail.com


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: